Nafsu Birahi Janda yang Ditinggal Suaminya

Cerita Sex - Rukiah, janda beranak tiga, Baru saja dicerai oleh suaminya. Dia bekerja sebagai pedagang keliling dengan membawa dagangannya. Awalnya beliau naik sepeda motor, hingga beliau bisa menyekolahkan dan menikahkan ketiga anaknya dan semua sudah berpisah dengannya. Berkat kerja kerasnya, beliau bisa membeli sebuah kendaraan beroda empat Suzuki Carry. Bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk membawa barang dagangannya.
Nafsu Birahi Janda yang Ditinggal Suaminya Nafsu Birahi Janda yang Ditinggal Suaminya
Nafsu Birahi Janda yang Ditinggal Suaminya

Setiap hari beliau pergi ke banyak sekali daerah sesuai harinya, mulai pasar senenan, pasar selasaan, pasar reboan, kamisan dan sebagainya. Hanya ahad beliau beristirahat dan bisa berleha-leha. Tapi juga tidak kalem betul alasannya yaitu tetap harus mempersiapkan barang dagangan yang berupa pakaian jadi untuk dijual keesokan harinya.

Sejak beliau menjanda dan anak-anaknya masih kecil-kecil, beberapa tetangga selalu mencibirnya. Janda genit lah, janda gatal lah. Harus hati-hati, alasannya yaitu Rukiah digambarkan akan mengganggu rumah tangga mereka. Rukiah ditakutkan akan menarik hati suami mereka, alasannya yaitu butuh uang atau butuh seka. Sakit sekali hati Rukiah mendengar gosip-gosip itu. Namun beliau tetap sabar dan sabar, walau dendam di dadanya semakin lama semakin berkarat.

Dalam usianya yang 40 tahun, beliau semakin matang dan dandanannya tetap cantik, beliau memang selalu menjaga dirinya tetap cantik. Rukiah selalu berpenampilan bersih alasannya yaitu beliau seorang pedagang, jadi harus selalu tampil dengan bersih dan rapi. Cemoohan semakin menjadi-jadi atas dirinya, namun Rukiah selalu menebar senyum, membuat tetangganya semakin kepanasan, terlebih setelah beliau membawa kendaraan beroda empat sendiri dan jikalau di rumah, beliau suka memakai daster yang sexy.

Ada para tetangga yang sama ibarat dia, menjanda alasannya yaitu dicerai oleh suami, bahkan ada yang alasannya yaitu suami mereka meninggal dunia. Satu-persatu mereka mulai mendekat pada Rukiah, alasannya yaitu kesusahan hidup. Dengan tajam, Rukiah sesekali menyindir juga. “Kenapa tidak bergenit-genit aja, Bu. Cari laki-laki di luar, bisa dapat duit!” kata Rukiah kepada Bu Neneng yang pernah mengatakan demikian kepadanya.

“Kan lebih enak menarik hati suami orang, dapat duitnya dapat kontolnya,” kata Rukiah pula kepada Bu Teteh, ketika Bu Teteh meminjam uang kepadanya. Ucapannya itu sengaja dikembalikan Rukiah sebagai imbalan sakit hatinya.

Akhirnya Bu Teteh belum juga mengembalikan uang pinjamannya. Atas kesepakatan bersama, anak Bu Teteh, Sabirin, yang gres saja selesai ujian SMA, menjadi pembantu Rukiah mengangkati barang-barang, memajang pakaian dan menutup dagangan. Kepada Sabirin akan diberikan gaji Rp. 15.000,- perhari plus dapat makan dan minum, sementara Rp. 10.000,- perhari dipotong untuk pembayar hutang Bu Teteh. Bu Teteh sangat setuju dengan usul itu dan Sabirin juga setuju.

Hari pertama, Sabirin sudah hingga di rumah Rukiah untuk membantu mengangkati barang-barang naik ke atas kendaraan beroda empat Suzuki Carry, kemudian mereka berangkat dan Sabirin harus menurunkan barang dan memajangnya. Setelah semua siap sesuai apa yang diajarkan Rukiah, Sabirin boleh duduk-duduk. Kaprikornus menurut Sabirin, kerjanya sangat enteng dan enak, dan dapat duit lagi.

Sabirin merasa enak dagang bersama Rukiah. Baru tiga hari mereka jalan bersama, kelihatan keduanya sudah semakin dekat dan semakin dekat. Rukiah mulai memancing mengucapkan kata-kata agak kotor dan menjurus porno. Mulanya Sabirin agak kikuk juga, lama kelamaan jadi biasa dan membalas dengan ucapan porno juga.

“Ah, kau hanya ngomong doang. Bisa-bisa kontolmu juga hanya sebesar kelingking,” pancing Rukiah lebih berani. Sabirin merasa terhina dan membuka resleting celananya, memamerkan kontolnya yang belum menegang penuh, sementara kendaraan beroda empat terus berjalan menuju pulang.

“Kalau hanya segitu gedenya, mana bisa saya puas kalau seandainya kau entot,” kata Rukiah sembari tertawa kecil.

“Ini kan belum digedein,” kata Sabirin.

“Coba digedein, saya mau lihat apa nanti bisa pas sama punyaku apa tidak,” pancing Rukiah pula.

Sabirin mulai mengelus-elus kontolnya. Saat mengoper persneling, Rukiah sempat mengelus dan memegang kontol Sabirin, membuat Sabirin menjadi horny dan kontolnya semakin mengeras tajam.

“Nih, udah gede kan?” kata Sabirin bangga.

Rukiah melihat ke arah kontol itu dan berkata, “Apa tahan lama kalau dimasukin ke saya punya? Aku takut belum apa-apa, kau udah muntah… hihihi.” Rukiah semakin berani.

“Aku yakin pasti pas,” kata Sabirin menirukan iklan Pertamina. Keduanya tertawa.

“Aku ingin cepat hingga di rumah dan kau harus buktikan.” Rukiah mulai memberi ultimatum.

“Boleh. Siapa takut?” Sabirin menjawab tantangannya.

Rukiah tersenyum. Kalau ibu Sabirin mengejeknya mau merebut suaminya, kini malah anaknya yang akan beliau pakai. Rukiah pun mempercepat laju kendaraannya. Sebenarnya melihat batang Sabirin, beliau sendiri sudah berair dan horny. Begitu mendekati rumah, kendaraan beroda empat segera ia arahkan eksklusif ke garasi. Dia perintahkan Sabirin cepat membuka gerbang. Setelah kendaraan beroda empat masuk, Sabirin secepatnya menutup gerbang dan menutu pintu garasi. Sabirin pun bersiap-siap.

Mesin dimatikan, Rukiah eksklusif menyergap Sabirin, memeluknya, dan membisikkan sebuah kata ke indera pendengaran cowok itu. “Hayo, buktikan ucapanmu tadi!” kata Rukiah, lalu beliau menyerbu bibir Sabirin dengan mulutnya. Mereka berciuman, juga saling raba dan saling remas. Perlahan Rukiah melepas celana Sabirin, lalu melepas celana jeans yang dipakainya sendiri, sekaligus celana dalamnya. Mereka sudah setengah bugil. Dengan ganas Sabirin menidurkan Rukiah di lantai.

“Aku mau diapain?” Rukiah akal-akalan tak mengerti, walau dalam hatinya tersenyum. Sabirin membisu saja. Setelah Rukiah terlentang, Sabirin eksklusif menindihnya dari atas dan mengangkangkan kedua kaki Rukiah dengan kedua kakinya. Cepat beliau menusuk memek Rukiah. ”Ohhh…” Rukiah mendesah.

Tusukan Sabirin pada memek Rukiah semakin berpengaruh dan buas. Rukiah menandinginya, walau usianya sudah mendekati 40 tahun beberapa bulan lagi, tapi beliau juga tak mau melepaskan kenikmatan itu. Rukiah lebih buas lagi, hingga beliau cepat orgasme. Sabirin terus menggenjotnya dengan membabi buta, lalu beliau menyemprotkan spermanya beberapa kali di dalam memek Rukiah hingga Sabirin jadi lunglai dan lemas.

Rukiah tersenyum mengejek, walau bergotong-royong beliau sudah orgasme. Karena Sabirin masih pemula, beliau tidak mengetahui Rukiah sudah orgasme. “Kamu masih butuh latihan. Tapi kau sudah mulai hebat. Besok atau lusa kita ulangi sebagai latihanmu. Satu yang kau harus pegang, biar kau menjaga diam-diam ini dengan sebaik-baiknya,” kata Rukiah sembari memakai celananya dan memerintahkan pada Sabirin untuk memberesi barang-barang.

Sabirin mengerjakannya. Dia bergotong-royong puas sekali. Mendengar beliau harus latihan, beliau sedikit tersinggung juga. Selesai mengerjakan pekerjaannya, beliau pulang ke rumahnya yang tak berapa jauh dari rumah Rukiah.

Pagi-pagi sekali, Sabirin sudah berada di garasi kendaraan beroda empat rumah Rukiah. Dia mulai mencuci mobil, setelah mengisi air radiator dan mengecek segalanya sesuai apa yang diajarkan oleh Rukiah. Kain dagangan juga sudah dinaikkan ke dalam kendaraan beroda empat box untuk dibawa ke pasar. Hari ini mereka tidak akan pulang, alasannya yaitu pasar malam gres dimulai pukul 15.00 dan akan ditutup pukul 22.00 WIB. Sedang besoknya pagi-pagi sekali mereka akan berangkat ke kecamatan lain dan buka di sana. Kaprikornus malam ini mereka akan menginap di Hotel. Namun mereka harus cepat hingga di kecamatan itu guna membooking hotel, gres membuka pasar.

Setelah sarapan, mereka pun pergi menuju kecamatan. Hampir dua jam mereka dalam perjalanan hingga tiba di hotel melati yang bersih dan asri. Rukiah sudah terbiasa menginap di sana, hingga kenal dengan semua karyawan hotel. Rukiah pun memperkenalkan Sabirin sebagai anak kakaknya yang membantunya jualan.

Sebuah kamar bersih, namun kisi-kisinya cukup bagus, dan tiupan angin dari laut membuat kamar itu menjadi sejuk. Mereka memasuki kamar dan segera meminta dua gelas kopi susu. Rukiah mandi sementara Sabirin menyiapkan segalanya, untuk jualan. Rukiah sengaja keluar hanya dililit handuk saja, hingga pangkal pahanya yang putih mulus dan pangkal teteknya terlihat jelas. Rukiah tahu kalau mata Sabirin meliriknya. Dia hening saja, mengambil pakaian dari tasnya, sebentar-sebentar membungkuk hingga bulu-bulu di selangkangannya terlihat samar-samar.

Sabirin ibarat kesetanan. Dia berdiri lalu menyergap Rukiah dengan buas. Rukiah akal-akalan terkejut, padahal hatinya sangat menginginkan itu. “Duh, kau kenapa, Sayang?” rayu Rukiah ibarat terkejut.

“Aku ngaceng,” jawab Sabirin pendek. Didorongnya Rukiah ke daerah tidur, lalu dilepasnya lilitan handuk dari tubuh wanita itu. Secara terang-terangan, Sabirin melihat sekujur tubuh Rukian dengan jelas. Liku-liku tubuh dan mulusnya tubuh yang putih itu, dengan tetek yang besar dan pentilnya yang besar dan hitam pula. Aroma sabun mandi masih semerbak wanginya, membuat nafsu Sabirin semakin menjadi-jadi. Cepat beliau lepas pakaiannya hingga bugil.

Saat Sabirin mau menindih tubuhnya, Rukiah menangkap kepala remaja itu dan diarahkannya kepala itu ke memeknya. “Jilatin dulu memekku, Sayang. Kamu berani nggak?” tantang Rukiah. Sabirin yang terbiasa nonton bokep, eksklusif menjilatinya dengan rakus. Rukiah juga mengarahkan tangan Sabitin untuk meremas-remas teteknya, kemudian Rukiah mengelus-elus kepala Sabirin dengan lembut, ibarat rasa sayang seorang ibu pada anaknya.

Setelah sekian lama Sabirin menjilati klitoris Rukiah, Rukiah pun menjemput orgasmenya. Ia menggapit kepala cowok itu kuat0kuat dikala dari dalam memeknya keluar lendir hangat yang sangat banyak, meleleh hingga membasahi paha dan bokongnya. Setelah mereda, segera dituntunnya Sabirin untuk menindih tubuhnya. Dengan sabar ia bimbing kontol Sabirin menuju ke lubang memeknya. Memek yang berair itu eksklusif dimasuki oleh kontol Sabirin begitu si cowok mendorong pinggulnya, dan dengan cepat mereka saling bergelut, memeluk dan saling jilat satu sama lain.

Sabirin dengan buasnya menggenjot tubuh Rukiah hingga tubuh keduanya dibanjiri oleh keringat. Suara keluar-masuk kontol Sabirin pada memek Rukiah membuat keduanya semakin bersemangat. “Duh, kau harus lebih berpengaruh lagi, Sayang. Harusss… harussss… Lebih berpengaruh lagi,” kata Rukiah pada Sabirin. Sabirin semakin ganas dan buas. Dia terus menggenjot memek Rukiah dengan ganas.

Tak lama keduanya saling berpelukan dengan eratnya dan keduanya terkulai setelah sperma Sabirin memenuhi ruang memek Rukiah. Saat itu Rukiah tersenyum puas, sembari membayangkan ibu Sabirin yang dulu suka menyindir-nyindirnya sebagai perempuan yang suka menarik hati suaminya. Kini Rukiah tidak hanya menarik hati suami orang, tapi justru sedang bersetubuh dengan seorang anak laki-laki tampan dan masih muda, anak yang pernah meremehkannya.

Seiring perjalanan waktu, Rukiah semakin sukses. Hartanya semakin banyak. Beberapa rumah di kompleks itu sudah beliau beli. Mobilnya juga sudah diganti, menjadi L-300 Pick Up, selain kendaraan beroda empat sedan pribadi tentunya. Dia dan Sabirin sudah berjalan hampir setahun.

Sabirin sudah bisa membawa kendaraan beroda empat dan hutang orangtuanya pun sudah lunas. Namun Sabirin tak mau meninggalkan pekerjaannya, alasannya yaitu selain dapat uang Rp. 25.000,- perhari, ia juga dapat makan, minum dan rokok, serta dapat seks juga tentunya. Terutama Seks yang membuat Sabirin tak mau meninggalkan juragannya, Rukiah. Kepadanya sudah diserahi peran baru, yakni membawa sebuah kendaraan beroda empat pick up lain dan berjualan. Tentu saja Rukiah menghitung berapa potong yang dibawa, kemudian berapa laku, lalu dihitung untungnya. Untuk belanja, Rukiah selalu sendiri, alasannya yaitu beliau tetap merahasiakan berapa harga pengambilan barang dan Sabirin hanya tahu menjual dengan harga tertentu.

Sabirin juga senang, kalau seharusnya beliau menjual pakaian seharga Rp. 25.000,- tapi bisa beliau jualkan Rp. 30.000,- atau Rp. 27.500,- maka keuntungan itu akan beliau ambil sendiri. Untuk itu, Sabirin yang diberikan kepercayaan, tidak mau meninggalkan Rukiah.

Bu Salmah sudah benar-benar gulung tikar dan suaminya sudah pensiun dan mendapat tekanan darah tinggi alasannya yaitu hutang-hutangnya yang membludak. Selama masih jadi pejabat kecil, hidup mereka terlalu mewah. Kini semuanya sudah berakhir. Tanpa malu-malu, Bu Salmah mendatangi Rukiah, bercerita kalau anak bungsunya yang masih gres tiga bulan masuk SMP, tak mau pindah ke kampung. Dengan cucuran air mata, ia memohon pertolongan Rukiah biar menimbulkan Totok sebagai anak sendiri, walau hanya tamat SMP saja.

Dengan senyum, Rukiah menerimanya dan berjanji akan menyekolahkan Totok hingga tamat. Kalau perilaku Totok baik dan penurut, mungkin akan disekolahkan hingga SMA. Bukan main senangnya hati Bu Salmah. Mereka pun pindah ke kampung. Dalam penyerahan untuk diangkat jadi anak angkat, Bu salmah menasehati Totok biar menurut apa kata Bulik Rukiah. Totok pun mengiyakan dan berjanji. Sejal pagi itu, Totok pun tinggal bersama Rukiah.

Kembali Rukiah mengenang apa yang pernah dilakukan oleh Bu Salmah pada dirinya, sindiran, olok-olokan serta hinaan yang pernah beliau terima dari wanita itu. Haruskah Rukiah membalaskan dendamnya pada Totok? Bukankah Totok masih kelas 1 SMP dan gres berusia 13 tahun? Setelah berpikir lama, Rukiah alhasil mengambil keputusan, Totok akan beliau ajari ngeseks sebagai pelampiasan dendam lamanya terhadap Bu Salmah, biar Bu Salmah tahu rasa bagaimana olok-olokan masa lalunya, ternyata kini berakibat fatal. Anak bungsunya akan digarap oleh Rukiah.

Rukiah mengajak Totok menemaninya untuk berenang. Totok dibelikan celana renang yang sesuai dengan umurnya. Walau masih 13 tahun, Totok bertubuh tinggi, walau sedikit kurus. Saat berenang, Rukiah melihat kalau Totok boleh juga. Dia harus memperdaya bocah itu.

Malamnya, ia ajak Totok menemani dirinya nonton film semi BF. Rukiah sengaja tidak memakai bra dan selana dalam dikala memakai daster tipisnya. Totok disuruhnya memakai sarung dan kaos oblong saja, biar tidurnya enak dan tubuhnya bebas. Katanya, dikala tidur itulah terjadi pertumbuhan tubuh.

Mereka nonton mulai dari awal. Pada pertengahan, cuilan demi cuilan percintaan mulai terjadi, Ada cuilan cium-ciuman, raba-rabaan, termasuk cuilan isap tetek segala. Saat itu, Rukiah melirik Totok yang gelisah dan sebentar-sebentar memegang Anu-nya. Rukiah tersenyum. Segera dipeluknya Totok yang duduk di sebelah kirinya. Dengan cepat ia masukkan tangannya ke dalam kain sarung Totok.

“Wah, sotong-mu besar juga, Tok,” rayu Rukiah. Totok aib dan tersipu, ia berusaha melepaskan tangan Rukiah. Tapi dengan kasar Rukiah melepas kain sarung Totok, hingga tinggal celana dalam saja yang dikenakan bocah kurus itu. Totok masih malu-malu juga. Sekali sentak, celana dalam itupun juga sudah melorot ke bawah. Rukiah turun dari sofa dan jongkok di lantai, ia eksklusif memasukkan kontol Totok ke dalam mulutnya.

“Kamu membisu aja. Jangan berisik,” Rukiah merayu, namun setengah mengancam. Rukiah tahu bagaimana memperlakukan laki-laki sesuai dengan umurnya. Totok pun diam, menikmati kontolnya yang tengah dipermainkan Rukiah di dalam mulutnya. Dan tak lama ia mengejang dikala melepaskan spermanya di dalam lisan Rukiah beberapa kali.

“Wah, kau ternyata hebat juga.” kata Rukiah senang.

“Maafkan saya, Bulik. Saya…” Totok terbata.

“Udah, nggak perlu minta maaf. Kapan-kapan kita ulangi lagi, hingga kau merasa enak dan nyaman. Asal, kau jangan dongeng kepada siapapun juga, termasuk kepada ibumu,” rayu Rukiah yang juga bernada setengah mengancam.

“Iya, Bulik. Saya janji,” kata Totok.

Rukiah tersenyum. “Sudah, untuk seterusnya, kau tidur sama bulik saja. Kecuali ada tamu, gres kau tidur di kamarmu sendiri.”

Totok pun mengangguk.

Malam itu mereka tidur dengan aman-aman saja. Sebelum tidur, tentu saja Rukiah menelanjangi Totok dan dirinya, lalu mereka bersembunyi di bawah selimut dengan AC yang disetel sepoi-sepoi sejuk.

Begitulah, setiap malam mereka tidur bersama. Jika libur, Totok ikut membantu Rukiah ke pasar untuk berdagang. Selesai belajar, mereka nonton bareng dulu, kemudian mereka tidur. Tugas rutin Totok yaitu menetek, hingga Rukiah tertidur. Lama kelamaan netek itu bukan peran rutin lagi, malah Totok menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan.

Secara perlahan namun pasti, Rukiah terus membimbing Totok untuk belajar. Belajar untuk sekolah, juga berguru ngeseks. Bagaimana cara menghisap tetek dan mempermainkannya dengan baik. Bagimana menjilati memek dengan baik serta mempermainkan klitorisnya. Mumpung Totok masih kecil, Totok juga diajari bagaimana ngentot duburnya dengan mengolesinya baby oil terlebih dahulu. Totok juga mengerti, kalau Rukiah capek, beliau eksklusif memijatnya. Totok pun senang alasannya yaitu beliau setiap pagi dapat jajan Rp. 5.000,- ke sekolah selain ongkos angkot.

Totok juga sudah mengerti, bila Rukiah menciumi dirinya dan menjilati lehernya, beliau juga harus meresponsnya. Sering pula, tengah malam, Totok horny. Dia akan menetek dan menjilati memek Rukiah, kemudian setelah berair dan Rukiah lama-kelamaan terbangun untuk memperlihatkan respons, Totok eksklusif menindih tubuh Rukiah dan mengentotnya dari atas. Totok sudah bisa mengatur permainan, padahal beliau gres tiga bulan bersama Rukiah.

Liburan semester, betapa senangnya perasaan Bu Salmah melihat anaknya berpakaian bagus, tubuhnya bersih, raportnya juga bagus. Saat datang menjenguknya, ia membawa buah tangan dari kampung hasil ladang suaminya yang diperoleh dari hasil korupsi semasa jadi pejabat kecil. Ayah Totok tak bisa ikut, alasannya yaitu penyakitnya semakin parah saja.

Masa liburan itulah Totok banyak membantu Rukiah jualan, dan Bu Salmah rela saja Totok tak pulang ke kampung biar bisa membantu Rukiah jualan.

Dendam membuat hidup Rukiah menjadi semakin semangat. Semangat bekerja keras, semangat juga untuk ngesek. Baginya ngesek yaitu hiburan yang menyenangkan, nikmat dan indah. Selain itu, nampaknya Rukiah juga mendapat kelainan jiwa. Dia hyperseks. Jika Totok dan Sabirin bisa melayaninya, mungkin Rukiah akan meminta jatah masing-masing empat kali sehari setiap orang. Tapi Rukiah berusaha untuka menahannya, biar pada puncaknya, beliau bisa menikmati mereka dengan tenang.

Buktinya, jikalau beliau menginginkannya, di atas kendaraan beroda empat beliau sudah bilang kepada Sabirin biar bersiap-siap. Begitu hingga di garasi, Sabirin sudah tahu apa tugasnya. Biasanya, Rukiah eksklusif menungging dan Sabiring eksklusif pula menusuk dari belakang memek Rukiah yang sudah berair alasannya yaitu horny. Sedangkan Totok yaitu kesayangan Rukiah, alasannya yaitu ukuran kontol Totok sangat pas untuk duburnya.

Bagaimana pula dengan kisah Bondan? Bondang yaitu adik laki-laki dari Bu Surti. Bu Surti dulu suka membagikan kabar burung dari rumah ke rumah di kompleks itu. Ada saja kabar burung ihwal Rukiah yang disebarkannya. Setelah suaminya menceraikannya, alasannya yaitu beliau kawin lagi, Bu Surti mulai diam. Jika berpapasan dengannya, Rukiah selalu tersenyum manis, sebaliknya malah Surti yang malu. Jika melihat Rukiah datang dari arah berlawanan, Surti selalu mengambil jalan pintas untuk menghindar.

Sore itu, nampaknya tak ada jalan lain. Ia harus mendatangi rumah Rukiah. Rukiah punya rumah sewa di belakang rumahnya. Bondan, adik kandung Surti, mau menikah. Untuk itu, beliau harus punya rumah kontrakan. Setelah harga sesuai, Surti pun berterima kasih. Besoknya, Bondan mulai membersihkan rumah dan melaksanakan pengecetan biar rumah kelihatan kinclong.

Rukiah datang memeriksa rumah yang sedang dicat. Dengan gaya genitnya, ia mulai merayu. Rukiah menanyakan segalanya dan segera mengetahui kalau usia Bondan gres 24 tahun. Dengan malu-malu, Bondan mengatakan kalau belum pernah gituan dengan gadis mana pun. Pernikahannya yaitu hasil perjodohan dengan family sendiri.

Rukiah segera tidak tinggal diam. Dia terus merayu dan merayu, hingga alhasil Bondan mau diajak ke rumahnya untuk beristirahat. Begitu memasuki pintu rumah, Rukiah mulai beraksi. “Kamu harus belajar, biar nanti tidak kikuk menghadapi istrimu,” kata Rukiah. Ia ingat betul, dikala dulu Bondan masih kecil, dikala cowok itu masih SMP, ia pernah ikut juga mendiskreditkan dirinya. Inilah dikala yang sempurna bagi Rukiah untuk membalas dendam.

Dia mulai memancing Bondan dengan duduk sembarangan. Diliriknya cowok itu, tampak Bondan sudah gelisah. Rukiah tersenyum, dalam hati ia bertekad, hari itu juga beliau harus dapat menggarap Bondan. Bondan yang tinginya berkisar 177 cm itu rasanya pas untuk memek Rukiah.

“Kamu ngaku saja, kalau kau sudah ngaceng,” kata Rukiah. Bondan tertunduk aib sebagai jawabannya.

“Ya sudah, kalau kau mau, saya bisa ajari kau bagaimana ngelakuin malam pertama,” kata Rukiah. Lagi-lagi Bondan tertunduk.

Saat itulah Rukiah mengambil inisiatif, walau bergotong-royong Bondan juga sudah horny. Didatanginya dingklik Bondan dan dipeluk tubuh cowok itu dari belakang, lalu diciumnya pipi Bondan bertubi-tubi.

“Tante, nanti tertangkap tangan gimana?” tanya Bondan takut-takut.

“Kalau bukan kau yang beritahu, mana mungkin ada yang tahu,” kata Rukiah sembari membalik tubuh Bondan setelah dibimbingnya untuk berdiri. Mereka pun berhadap-hadapan.

Rukiah menarik tali daster yang terikat ringan di kedua bahunya, daster itu pun eksklusif melorot jatuh ke lantai. Rukiah juga melepaskan Branya dan menyodorkan pentil teteknya ke lisan Bondan, setelah terlebih dahulu tengkuk Bondan ditariknya mendekat hingga cowok itu membungkuk alasannya yaitu tubuhnya yang terlalu tinggi.

Desah nafas Bondan mulai tak beraturan. Dia menyedot-nyedot pentil tetek Rukiah dengan penuh nafsu. Rukiah membalas dengan meraba kontol Bondan dan melorotkan celana dalam serta celana bocah itu. Dalam waktu singkat, keduanya sudah telanjang bulat.

Rukiah pun jinjit biar tubuhnya bisa setidaknya menyamai tubuh Bondan. Rukiah mencicipi ada benda yang menggelitik-gelitik perutnya. Kontol Bondan rupanya sudah keras betul, Rukiah berusaha menarik hati biar Bondan yang meminta untuk dimasukkan penisnya.

Bukan undangan yang terjadi. Bondan ternyata gelap mata. Dengan kasar, beliau mengangkat tubuh semok Rukiah ke atas meja makan dan menelentangkannya, kemudian dikangkangkannya kedua paha wanita itu, lalu ditusuknya memek Rukiah keras-keras. Memek yang sudah berair kuyup itu dimasukinya dengan kasar. Rukiah mencicipi kehangatan yang luar biasa dalam rahimnya. Perlakukan kasar Bondan justru membuat Rukiah sangat menikmati. Tak pernah Sabirin apalagi Totok dan suaminya memperlakukannya ibarat ini.

Setelah semua kontolnya tenggelam, dengan berpengaruh Bondan mulai mengocoknya dalam rahin Rukiah, membuat tubuh Rukiah bergoyang-goyang mengagumkan karenanya. Bondan yang berdiri bebas di lantai, membuatnya semakin mudah untuk menusuk-nusuk memek Rukiah. Rukiah merintih-rintih dan menikmati semua bacokan kasar itu.

“Sayang… kau hebat sekali. Puasin aku, Sayang…” Rukiah seakan menghiba-hiba. Bondan terus memompanya tanpa memperlihatkan jawaban. Baginya bekerja lebih baik daripada berbicara, dan menikmati lebih enak daripada menusuk tanpa dinikmati.

“Kalau kau bisa memuaskan aku, saya akan kurangi kontrak rumahmu seperempatnya,” kata Rukiah. Bondan pun semakin bersemangat. Dia terus menusuk memek Rukiah semakin cepat dan cepat, kontolnya terus keluar-masuk di memek sempit Rukiah hingga Rukiah menjepitkan kedua kakinya ke pinggang Bondan sembari melepas cairan cinta dari dalam tubuhnya.

”Huuuuuuhhhhhh…!!” Rukiah menggumam nikmat. Bondan terus saja memompanya tanpa henti, sepertinya tiada rasa lelah bagi cowok itu dan tiada rasa puas. Dari tubuhnya mengalir keringat dan otot-otot tubuhnya kelihatan mengkilap.

Dengan sebuah tekanan yang kuat, Bondan pun melepaskan spermanya beberapa kali ke dalam lubang Rukiah yang teramat dalam itu. Rukiah termangu tak bisa mengucapkan apa-apa selain menikmati saja. Bondan membiarkan kontolnya tetap berada dalam memek Rukiah, walau pun spermanya mulai meleleh keluar dari celah memek itu.

Setelah kontolnya mengecil dan terlepas, Bondan cepat memakai kembali pakaiannya. Rukiah tersenyum dan menyatakan, ”Kamu hanya harus membayar uang kontrakan dua per tiga dari harga yang sudah ditetapkan, sebagai hadiah percintaan kita.”

Bondan pun tersenyum senang. Setelah pindah rumah, beberapa malam kemudian, ia mengirimkan SMS kepada Rukiah. ”Memek tante lebih nikmat daripada memek istriku.”

Rukiah pun tersenyum puas, ’Kau tak akan puas dengan isterimu. Aku akan memuaskanmu, bila kau juga memuaskanku,’ batin Rukiah. Akhirnya, dalam seminggu, Bondan harus melayani Rukiah sebanyak tiga kali. Mungkin saja jatah isterinya dua kali seminggu tak tepenuhi, alasannya yaitu tenaga Bondan habis dikuras sebelumnya.

Jika ada kesempatan, Rukiah eksklusif meng SMS Bondan, dan secepat kilat Bondan datang, kemudian melayani Rukiah. Bondan merasa beruntung alasannya yaitu bisa mendapatkan seks dari Rukiah, tapi sesungguhnya beliau tidak tahu kalau beliau yaitu kuda tunggangan bagi Rukiah. Terlebih Bondan dan isterinya sudah punya hutang sebanyak tiga juta yang harus dibayar cicil tanpa bunga. Bunganya, Bondan cukup memuaskan nafsu Rukiah, sebagai mana yang diinginkan oleh janda cantik itu.

Kejadian itu terus berlangsung hingga muncullah Sularto, demikian nama kakek itu. Umurnya sudah 69 tahun. Walau sudah tua, tubuhnya masih kelihatan berotot. Sularto yaitu ayah dari Bu Ningsih yang mulutnya ibarat burung betet. Masih pagi sekali sudah nyindir. Siang nyindir, sore nyindir, malam juga nyindir. Mau sholat nyindir, usai sholat juga nyindir. Pokoknya jantung Rukiah terpacu terus karenanya.

Tak ada perempuan yang bisa melawan Bu Ningsih bila bertengkar. Mungkin memeknya lebih lebar dari mulutnya, membuat beliau bisa merepet-repet terus menerus. Pet-pet-pet…

Suaminya tertangkap menjual narkoba dan pengadilan menghukumnya 7 tahun penjara. Sebelumnya beliau yakin sekali, petugas bisa disuap, hinga beliau menjual semua hartanya. Setelah semua harta terjual kecuali rumah, masih juga beliau dihukum 7 tahun penjara. Ningsih pun merepet-repet, Udah dikasih uang, tetep aja dijatuhi hukuman berat. Dasar negara ini sudah tidak beres. Dasar koruptor, dasar setan, dasar iblis dan sejuta makian lainnya. Baginya pengedar dan bandar narkoba itu mungkin sama dengan malaikat, hingga beliau bisa memaki-maki orang lain.

“Bu Rukiah, katanya Ibu mau mengecat rumah ya?” tanya Bu Ningsih suatu hari.

“Kenapa Bu?” balas Rukiah.

“Kalau memang mau ngecat rumah, biar bapak saya aja yang ngecet. Dia andal mengecet rumah lho, Bu.”

“Kalau harganya cocok, ok lah…” kata Rukiah.

Mulailah lisan jeber Ningsih bermain. “Ooaalah bu, bu… Sama tetangga aja kok sombong. Baru minta kerjaan ngecat aja kok sombong sekali?”

“Kalau begitu, silahkan cari objekan lain. Cat aja rumah orang lain,” kata Rukiah lembut namun tajam di balik senyumnya.

“Bukan begitu, Bu… kan lebih baik dikasih aja sama tetangga.” kata Bu Ningsih.

“Tergantung bagaimana negosiasinya,” kata Rukiah.

“Gak usah nege-negeoan lah, Bu. Boleh gak?” nada bunyi Ningsih meninggi.

“Kalau tidak mau memang kenapa?” kata Rukiah tak kalah sengit.

“Bukan begitu, bu… Boleh dong? Iya ya?” Ningsih melembut.

“Kalau harganya cocok, kenapa tidak? Itu pun harus bagus, kalau tidak, saya pasti komplein,” kata Rukiah.

“Alaaahh… sombong banget sih.”

“Kalau sombong kenapa? Apa gak boleh saya sombong?” Rukiah mulai marah.

“Ya sudah, bicara saja sama bapakku,” Ningsih mengalah. Pertemuan itu alhasil menyepakati harga dan Totok diminta membeli cat sesuai ukuran dan warna.

Sularto pun mulai membuat tangga-tangga. Yang dicet lebih dulu cuilan atas. Sebagai duda, Sularto kelihatannya masih berpengaruh lahir batin. Rukiah tersenyum. Dia akan buat kontol bapak Ningsih itu merepet di dalam memeknya. Mereka naik ke lantai atas dan Ningsih ingin masuk ke dalam rumah Rukiah.

“Maaf bu, ini rumah saya. Ibu gak boleh sembarangan masuk. Ibu di luar saja,” kata Rukiah ketus sambil menatap tajam Ningsih.

“Alaaahh… gres rumah begini aja,” kata Ningsih sambil membalikkan tubuhnya dan pergi.

“Besok belilah rumah yang lebih besar dari rumah ini,” kata Rukiah tak kalah tajamnya.

Setelah mengunci pintu gerbang, Rukiah mengganti pakaiannya dengan daster mini tanpa bra dan celana dalam. Hari ini juga beliau harus menuntaskan Sularto, atau tidak untuk selamanya. Dendamnya pada Ningsih harus terlampiaskan. Saat menaiki tangga ke lantai atas, Rukiah sengaja ibarat melompat-lompat biar dasternya yang mengembang itu terangkat-angkat, dan pantatnya yang mulus bisa dilihat oleh Sularto. Benar saja, jakun Sularto naik turun dan Rukiah melihatnya.

Begitu hingga di lantai atas, Rukiah eksklusif menggenggam burung Sularto dari balik celananya. “Sudah lama puasa, pasti sedang mau-maunya ini!” kata Rukiah genit. Sularto terkejut juga diperlakukan demikian, namun beliau tidak bisa menolak dikala Rukiah menekan tubuhnya ke dinding dan menurunkan celananya dengan cepat hingga burung hitam legamnya yang sudah mulai ngaceng eksklusif terlompat keluar. Rukiah segera mengulumnya hingga menjadi keras. Setelah keras, semua celana Sularto ia lepas.

“Hayo, Pak, masukin kontolmu ke memekku. Pasti kontolmu merasa puas,” kata Rukiah dengan kasar tanpa tedeng aling-aling. Ditariknya tubuh Sularto sambil Rukian menelentangkan diri di lantai. Sularto yang sudah lama tidak ngentot, ibarat kerbau dicucuk hidungnya, eksklusif menindih tubuh mulus janda cantik itu. Rukiah segera menuntun kontol Sularto biar cepat masuk ke dalam lubang memeknya.

Terhenyak juga Rukiah menghadapi kontol besar yang berurat itu. “Kalau kau bisa memuaskan nafsuku, upahmu akan saya tambahi,” katanya.

Mengangguk mengerti, Sularto segera memompa memek berair Rukiah dengan penuh nafsu. Dia berupaya biar Rukiah bisa puas. Pompaan demi pompaan Sularto diimbangi oleh Rukiah dengan goyangan erotis dari bawah. Rintihannya membuat Sularto semakin bernafsu, sementara desah nafas Sularto membuat Rukian semakin bersemangat. Mereka terus menerus saling goyang dan saling hisap hingga alhasil terjadi lelehan lendir dan tembakan sperma di alat kelamin keduanya. Baik Rukiah maupun Sularto benar-benar merasa puas.

Sejak dikala itu, selama dua ahad Sularto bekerja di rumahnya, pagi-pagi sekali, sebelum jualan, Rukiah minta dientot lebih dulu oleh Sularto, gres kemudian beliau bekerja. Setelah dientot, Rukiah keluar dan mengunci gerbang biar Ningsih tak bisa masuk. Dia dendam sekali pada wanita itu. Pada dikala ngentot dengan Sularto, dendamnya kepada Ningsih membuat Rukiah semangat untuk ngentot dan dientot.

“Kenapa sih saya tak bisa masuk ke rumah Bu Rukiah, saya kan hanya pengen melihat bapakku bekerja,” kata Ningsih memprotes dikala mereka bertemu.

“Rahasia dong…” balas Rukiah dengan genitnya.

“Bapakku itu orang alim tahu. Tak mungkin siapa pun bisa menggodanya!” kata Ningsih membanggakan bapaknya.

“Oh yaa?” kata Rukiah mengedipkan matanya. “Alim ulama, kalee…” tambah Rukiah genit pula.

Dia pun masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sebelah Sabirin. Dalam mobil, beliau mulai ngomong yang dibuat-buat. ”Dasar perempuan tolol. Mana mungkin saya mau menarik hati bapaknya yang renta bangka busuk tanah itu. Ningsih itu tidak tahu, kalau saya punya pacar yang namanya Sabirin, iya kan sayang?” kata Rukian pada Sabirin, genit. Sabirin pun tersenyum.

Mereka melaju meninggalkan rumah menuju pasar daerah jualan. Baru saja mereka hingga ke pasar, mereka dapat kabar kalau Pak Sularto jatuh dari atas rumah dan kepalanya pecah, lalu meninggal dunia. Dalam percakapan antara Sabirin dengan tetangga yang menyaksikan peristiwa itu, katanya Sularto itu keletihan, tapi dipaksakan terus memanjat, alhasil jatuh dan mati.

Rukiah terkejut mendengar isu itu. Tapi dibaliknya beliau tersenyum, alasannya yaitu tadi pagi beliau memaksa Sularto mengentotnya dua kali. Mungkin itu yang membuat Sularto jadi keletiha. Hari itu, mereka tak jadi membuka dagangan. Mereka eksklusif pulang untuk menghadiri pemakaman Sularto. Semua orang memuji Rukiah alasannya yaitu Rukiah mau menanggung semua biayanya. Sebaliknya orang menyalahkan Ningsih yang memaksa Bapaknya cari makan, padahal sudah tua. Rukiah hanya tersenyum saja dan pulang ke rumahnya. Di rumah, beliau sudah disambut oleh Totok dan malamnya mereka tidur pulas berdua sehabis ngentot tiga kali.

Cerita sex, dongeng dewasa, dongeng abg dewasa, dongeng mesum abg, dongeng tante sex, dongeng ngentot, dongeng seks sedarah, dongeng bokep, sex ditempat umum, dongeng sex anak, dongeng sex hot, dongeng hot janda, dongeng sex ibu, dongeng sex sedarah, dongeng sex terbaru, dongeng hot dewasa, dongeng remaja tante, dongeng remaja panas, dongeng sex mesum. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
Previous
Next Post »
0 Komentar