Showing posts sorted by relevance for query ngentot-dengan-wanita-lain-didepan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query ngentot-dengan-wanita-lain-didepan. Sort by date Show all posts

Ngentot Dengan Perempuan Lain Didepan Istriku

Ngentot Dengan Perempuan Lain Didepan Istriku
CERITA DEWASA - Ngentot Dengan Wanita Lain didepan Istriku # Aku sudah Berkeluarga, tapi saya punya selingkuhan yang juga sangat kucintai. Aku sudah menganggap ia sebagai istriku saja. Karena itu saya akan memanggilnya dalam dongeng ini sebagai istriku. Dari dialog selama ini ia menyampaikan bahwa ia ingin melihatku ‘bercinta’ dengan perempuan lain. Akhirnya tibalah pengalaman kami ini.

 Ngentot Dengan Wanita Lain didepan Istriku  Ngentot Dengan Wanita Lain didepan IstrikuCERITA DEWASA - cerita sex, intim, dongeng x, dongeng sec, dongeng sekz, dongeng zex,cerita sesk, cerita bokep,cerita sek, kisah sek, rumah sek, dongeng tanteku, dongeng ml sama tante, dongeng tante2, dongeng ngesek tante, dongeng dengan tante, cerita ngesex sama tantecerita ngesex, dengan tante,cerita ngesek sama tante, dongeng sama tante, dongeng ngesek dengan tante,cerita ngeseks dengan tante, cerita selingkuh sama tante, cerita ml tante tante, cersex tante, cerita tante, ceritaseks, cerita Porno.

Siang di hari Sabtu itu terasa panas sekali, tiupan AC kendaraan beroda empat yang menerpa eksklusif ke arahku dan ‘istriku’ kalah dengan radiasi matahari yang tembus melalui kaca-kaca jendela
Aku sedang melaju kencang di jalan tol menuju arah Bogor untuk suatu keperluan bisnis. Seperti telah direncanakan, kubelokkan kendaraan beroda empat ke arah pom bensin di Sentul. sesudah tadi tak sempat saya mengisinya. Dalam setiap antrian kendaraan beroda empat yang cukup panjang terlihat ada gadis-gadis penjaja minuman berenergi. Sekilas cukup mencolok alasannya seragamnya yang cukup kontras dengan warna sekelilingnya.

Dari sederetan gadis-gadis itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih, cukup harmonis dengan warna-warni seragamnya. Ia terlalu manis untuk bekerja diterik matahari ibarat ini walaupun memakai topi. Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi jikalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sempat khawatir jikalau ia tidak berada di deretanku dan saya masih hanyut dalam banyak sekali terkaan tentangnya, saya tidak sempat bereaksi ketika ia mengangguk, tersenyum dan menunjukkan produknya. Akhirnya dengan wajah memohon ia berkata, “Buka dong kacanya..” Segera saya sadar dengan keadaan dan refleks membuka beling jendelaku. Istriku hanya memperhatikan, tidak ada komentar.
Meluncurlah kata-kata standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon pembeli. Suaranya yummy didengar, tapi saya tak menyimaknya. Aku malah balik bertanya, “Kamu ngapain kerja di sini?”

“Mom, kita kan masih perlu sekretaris, kenapa tidak ia aja kita coba.”
“Ya, boleh aja”, jawab istriku.
“Gimana mau?” tanyaku kepada gadis itu.
“Mau.. mau Mas”, katanya.
Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan perjalananku sesudah mengisi bensin hingga penuh. Istriku alhasil tahu jikalau maksudku yang utama hanyalah ingin ‘berkenalan’ dengannya. Ia sangat sepakat dan antusias.
Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan ia akan tiba menemui kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa dikala kemudian ia muncul dengan penampilan yang cukup rapi. Ia cepat sekali bersahabat dengan istriku alasannya ternyata berasal dari tempat yang sama adalah **** (edited), Jawa Barat. Tidak hingga setengah jam kami sudah merasa betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab. Ia sudah berani mendapatkan usulan kami untuk ikut menginap bersama. Ia sempat pamit sebentar untuk menyuruh sopir salah satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke saudaranya bahwa malam itu ia tidak pulang.

Setelah dongeng kesana-kemari alhasil dialog kami menjurus ke masalah seks. Setelah agak kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini ia mulai menimpali walau agak malu-malu. Singkat dongeng ia masih perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang ia belum begitu puas. Keingintahuannya terhadap problem seks termasuk agak tinggi, tapi pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak hirau taacuh dan agak kampungan walau berpendidikan cukup. Kami ceritakan bahwa dalam problem seks kami selalu terbuka, punya banyak koleksi photo pribadi, bahkan kali ini kami ingin menciptakan photo ketika ‘bercinta’.


“Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya”, ajak istriku.

“Nih kau pakai kimono satunya”, kata istriku sambil menyampaikan baju inventaris hotel. Sedangkan saya yang tidak ada persiapan untuk menginap alhasil hanya memakai kaos dan celana dalam. Ia dan istriku sudah merebahkan badannya di tempat tidur, kemudian saya menghampiri istriku eksklusif memeluknya dari atas. Kucumbu istriku dari mulai bibir, pipi, leher, dan buah dadanya. Istriku mengerang menikmatinya. Aku menghentikan cumbuanku sejenak kemudian meminta tamu istimewaku untuk mengambil photo dengan kamera digital yang selalu kami bawa. Tampak ia agak kikuk, kurang menguasai keadaan ketika saya menolehnya.

CERITA DEWASA - Setelah saya mengajarinya bagaimana memakai kamera yang kuberikan itu, kemudian kuteruskan mencumbu istriku. Dengan telaten kucumbu istriku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kini tamuku sepertinya sudah menguasai keadaan, ia dengan leluasa mengintip kami dari lensa kamera dari segala sudut. Akhirnya istriku mencapai klimaksnya sesudah liang senggamanya kumainkan dengan lidah, dengan jari, dan terakhir dengan batang istimewaku. Sedangkan saya belum apa-apa.

“Sekarang gantian Rin, kau yang maen saya yang ngambil photonya”, kata istriku.

“Ah Mbak ini ada-ada aja”, kata Rini malu-malu.
Sebagai laki-laki, saya sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa ia tidak menolak. Dalam keadaan telanjang lingkaran saya bangun dan eksklusif memeluk Rini yang sedang memegang kamera. Tangan kirinya ditekuk ibarat akan memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau malu. Kuraih kamera yang masih di tangan kanannya kemudian kuberikan kepada istriku.

Kini saya lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, kuciumi pipi dan lehernya, sedang tanganku terus menggerayang dari bahu hingga lekukan pantatnya. Pundaknya beberapakali bergerak merinding kegelian. Kedua tangannya sekarang ternyata sudah berani membalas memelukku. Kemudian saya memangkunya dan merebahkannya di tempat tidur. Kukulum bibir mungilnya, kuciumi pipinya, kugigit-gigit kecil telinganya, kemudian kuciumi lehernya punuh sabar dan telaten. Ia hanya mendesah, kadang menarik nafas panjang dan kadang badannya menggelinjang-gelinjang.
Tidak terlalu susah saya membuka kimononya, sejenak kemudian tampak pemandangan yang cukup mempesona. Dua bukit yang cukup segar terbungkus rapi dalam BH yang pas dengan ukurannya. Kulitnya putih, higienis dengan postur tubuh yang cukup indah. Sejenak saya menoleh ke bawah, tampak pahanya cukup menawan. Sementara itu onggokan kecil di selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah panorama keindahan.
Ia tidak menolak ketika saya membuka BH-nya, demikian juga ketika saya melepaskan kimononya melewati kedua tangannya. Kuteruskan permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. Seluruh titik di bab atasnya telah kutelusuri tidak ada yang terlewatkan, sekarang kedua bukti itu kuremas perlahan. Ia mendesah, “Eeehhh..”

Tatkala kukulum puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak, desahnya pun semakin terperinci terdengar. Kuulangi lagi cumbuanku dari mulai mengulum bibirnya, mencium pipinya, kemudian lehernya. Kemudian kuciumi lagi bukit-bukit indah itu, dan kemudian kupermainkan kedua puting susunya dengan lidahku. Gelinjangnya semakin terasa bergerak mengiringi desahannya yang terasa merdu sekali.

CERITA DEWASA - Petualanganku kuteruskan ke bab bawahnya. Ia mencegah ketika saya akan membuka CD-nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa. “Ya nggak usah dibuka” ujarku, “Aku elus-elus aja ya bab atasnya pakai punyaku”, bujukku. Ia tidak bereaksi, tapi saya eksklusif saja menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. Kupegang burungku sambil duduk mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian kuelus-eluskan burung itu ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup CD. Agak usang dengan permainan itu, alhasil mungkin alasannya ia juga penasaran, maka ia tidak menolak ketika kulepaskan CD-nya.

Kini kami sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa. Kuteruskan permainan burungku dengan lebih leluasa. Tak usang kemudian cairan kenikmatannya pun sudah meleleh menyatakan kehadirannya. Burungku pun lebih lancar menjelajah. Tapi alasannya lembahnya masih perawan agak susah juga untuk menembusnya.
Ketika kucoba untuk memasukkan burungku ke dalam lembah sorganya, tampak bibir-bibir kenikmatannya ikut terdorong bersama kepala burungku. Menyadari alam yang dilaluinya belum pernah dijamah, saya cukup sabar untuk melaksanakan permainan hingga lembah kenikmatannya betul-betul menerimanya secara alami. Gelinjang, desahan, dan lisan wajahnya yang sedang menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih percaya diri untuk tidak segera ejakulasi. Ia sudah tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Akhirnya kepala burungku berhasil menembus lubang kenikmatan itu.


Kuteruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi kepala burungku. Ia merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, alasannya itu saya yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalaupun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang diperolehnya. Selanjutnya kulihat burung yang beruntung itu lebih mendesak ke dalam. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh burungku ke tempatnya yang terindah.

Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, kuciumi pipinya sambil pantatku kugerakkan naik turun. Sementara burungku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Akhirnya seluruh berat badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu. Dan.., “Blesss….” seluruh burungku masuk ke dalam nirwana dunia yang indah. Ia mengerang, gerakan burungku pun segera kuhentikan hingga liang kewanitaannya menyesuaikan dengan situasi yang baru.


Cerita Dewasa di atas. Jangan lupa bookmark web hotbos.blogspot.com yah caranya klik CTRL+D secara bersamaan kemudian klik OK. - terima kasih.

3

Cerita Ngewe Suster Cantik Di Kamar Pasien

Sudah lebih dari 4 jam Tedi bersama 2 rekannya menunggu didepan pintu kamar UGD (Unit Gawat Darurat) sebuah rumah sakit di kota metropolitan. Rudi sobat mereka bersama pacarnya mengalami kecelakaan kendaraan beroda empat yang lumayan parah tadi pagi sehingga harus dirawat secara intensif di ruang UGD. Tedi dan 2 rekannya merasa berkewajiban untuk membantu sobat karibnya alasannya ialah pihak keluarga Rudi belum ada satupun yang muncul di rumah sakit. Rudi merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya berada di sebuah negara Eropa Timur sebagai staf kedutaan besar. Sedangkan keluarga-keluarga dekat Rudi masih belum tiba alasannya ialah tinggal di luar pulau Jawa menyerupai Pontianak, Tarakan dan Manado. Beruntunglah Rudi memiliki karib menyerupai Tedi dan 2 rekannya yang lain untuk mengurus keperluannya sewaktu dirawat di UGD.
 

Seorang perawat keluar dari ruang UGD dan menuju ke arah Tedi sambil membawa sebuah kertas di tangannya. “Mas, ini resep dokter yang harus segera dibelikan obatnya biar sobat Mas besok pagi dapat eksklusif disuntik dengan obat itu.”, ungkap perawat tersebut kepada 3 cowok yang sudah kelihatan lelah.
“Kira-kira di apotik rumah sakit ini obat itu ada nggak, Mbak?”, tanya seorang rekan Tedi.

“Kalau ada saya nggak akan minta tolong pada kalian”, jawab perawat singkat.

“Yuk, dicari!”, ajak Tedi pada 2 temannya.

“Sebentar Mas”, cegah perawat itu.

“Kalian yang mempunyai golongan darah sama dengan Rudi sebaiknya tinggal disini, jaga-jaga jikalau sobat kalian membutuhkan darah lagi dan persedian kami habis”, meneruskan keterangannya.
Akhirnya 3 cowok itu berembuk dan memutuskan biar Tedi saja yang mencari obat dan 2 temannya tetap tinggal.

Tedi mengeluh dalam hati sambil mengendarai mobil, “Cari apotik yang buka jam 1 pagi ini pasti susah, saya nggak seberapa hapal jalan Jakarta lagi”.

Setelah berkendaraan selama 10 menit jadinya ia menemukan sebuah apotik yang masih buka tapi setelah dimasukinya pegawai apotik tersebut menyatakan jikalau obat yang dicari Tedi tak ada. Kejadian tersebut berulang hingga 4 kali dengan alasan yang mirip, “obat itu habis”, “besok siang gres siap”, dan sebagainya. Demi sobat yang ketika ini tergolek di ranjang UGD, Tedi tak berputus asa meskipun tubuhnya sudah lelah dan ngantuk.

Tanpa berharap banyak Tedi memarkir mobilnya didepan apotik kecil di ujung jalan yang sempit. “Paling-paling nggak ada lagi”, pikir Tedy sambil menyerahkan resep obat yang dicarinya kepada pegawai apotik itu, seorang wanita berumur 30-an.

“Silakan tunggu dulu, saya carikan”, ucap wanita itu dengan sopan.

Dia mencek dengan komputernya, lalu masuk ke ruangan berdiding beling transparan yang terlihat penuh laci obat, keluar lagi dan terus masuk ke ruangan tertutup. Wanita itu keluar bersama seorang pria berumur 50-an dengan wajah masih ngantuk.

Sambil mengenakan beling matanya pria itu berkata pada Tedi, “Dik, obat ini agak langka, menyiapkannya butuh waktu 1 jam dan yang mampu menyiapkan cuma cabang kami yang berada di Depok. Sebaiknya adik eksklusif aja mendatangi kesana atau jikalau adik mau nunggu biar pegawai kami yang ngantar kesini, gimana?”.

Langsung dijawab Tedi, “Saya tunggu aja disini, Pak! Capek Pak saya putar-putar carinya! Berapa, Pak?”.

Dijawab oleh wanita disebelah pria itu, “Totalnya Rp 536.500,-“.

Dalam hati Tedi menggerutu, “Busyet, habis nih sisa gajianku!”.

Jam di dinding apotik menunjukkan setengah dua, hawa sejuk pagi masuk melalui jendela apotik membuat Tedi yang gres saja duduk beberapa menit di ruang tunggu menjadi ngantuk. Matanya yang agak sayu mulai menatap wanita yang sibuk di kounter apotik itu, sementara itu pegawai pria yang tadi sudah tak terlihat lagi. Dalam hati Tedi mulai berdialog dengan dirinya sendiri untuk menghilangkan kebosanan, “Kalau diperhatikan cewek itu cakep juga ya, rambutnya hitam panjang, kulitnya sawo matang, wajahnya menyerupai siapa? oh iya kayak penyanyi yang namanya Memes, tingkah lakunya anggun dan sopan, persis deh, bodinya juga kelihatan oke, bego sekali saya gres menyadarinya sekarang”.

Tatapan mata Tedi yang semula sayu menjadi berbinar-binar seolah memandang hidangan lezat sewaktu lapar. Rasa ngantuknya lenyap dalam keheningan ruangan apotik yang hanya ada ia dan pegawai wanita itu. Dengan mulai berkurangnya aktifitas pegawai wanita itu, ia mulai merasa jikalau sedang diperhatikan. Sedikit curi pandang ke arah Tedi, perasaannya terbukti benar. Pemuda langsing tinggi, 25-an tahun tapi lumayan ganteng yang duduk didepannya memandang ke arahnya tanpa berkedip. Tedi jadinya merasa jikalau tatapannya dirasakan oleh wanita itu.

Perhatian Tedi beralih ke barang-barang yang ada di outlet apotik itu. Bangkit dari tempat duduknya sambil membungkukkan tubuh ia melihat satu persatu barang dalam etalase kaca. Dengan penasaran pegawai wanita itu bertanya pada Tedi, “Mencari apa, Mas?”

“Hanya lihat-lihat kok Mbak!”, jawab Tedi, tapi pandangannya tertuju pada sederet kotak kondom dengan banyak sekali merk dan hal ini tak luput dari perhatian wanita itu.

Perhatian Tedi pada deretan kotan kondom itu begitu nampak alasannya ialah ia benar-benar lagi membandingkan kelebihan setiap merk kondom dengan lainnya melalui tulisan-tulisan yang ada pada kotaknya. Tanpa malu-malu Tedi bertanya pada pegawai wanita itu, “Mbak, yang merk “A” ini harganya berapa?” yang dijawab pula oleh wanita itu. “Kalau yang “B”?” “Kalau yang “C”?” Semua pertanyaan itupun dijawab oleh pegawai wanita itu. Dengan wajah resah Tedi menegakkan kembali badannya sambil mendekat ke arah pegawai itu. “Mbak, yang cantik yang mana?” tanyanya lirih dengan wajah lugu. Pegawai wanita itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya serta tersenyum malu. Dengan wajah kecewa tak memperoleh jawaban, Tedi membalikkan tubuh lalu keluar dari apotik itu dan mengambil kotak rokoknya dari sakunya.

Bersandar pada kusen pintu apotik, Tedi menikmati setiap sedotan asap rokoknya. Tanpa disadarinya pegawai wanita tadi sudah ada disampingnya dan mengagetkannya dengan permintaannya, “Mas, boleh minta rokoknya?” Bagai orang dihipnotis Tedi menghulurkan kotak rokok dan koreknya kepada wanita. Tedi merasa kaget campur resah dan heran menatap wanita disampingnya sedang menikmati sedotan pertama pada sebatang rokok.

“Nggak usah terdiam Mas, emangnya kenapa?”, tanya wanita itu.

“Ah, Nggak, nggak heran kok, sehari habis berapa Pak biasanya, Mbak?”, tanya Tedi sedikit menggoda.

“Saya merokok kadang kala aja kok, Mas!”, jawab wanita itu.

Setelah itu mereka mengobrol dekat kolam 2 orang yang telah lama berkenalan.

“Mas, tadi tanya soal kondom, apa sudah menikah?”, tanya wanita itu.

“Belum, makanya saya bertanya, Mbak sudah?”, jawab Tedi dan berbalik bertanya.

“Sudah 5 tahun”, jawab wanita sambil menunjukkan kekecewaan di wajahnya.

“Wah, sudah pengalaman dong, jadi menurut Mbak, sewaktu suami Mbak pakai kondom yang enak rasanya yang merk apa?”, tanya Tedi seakan hal itu menjadi teka-tekinya.

“Apa kau sudah punya pacar?”, tanya balik wanita itu.

Dengan menggelengkan kepala, Tedi menunduk aib seolah sadar bahwa ia menunjukkan keluguannya, lalu ia berusaha menutupinya dengan berkata, “Tapi gini-gini pengalamanku nggak kalah sama Mbak! cuman saya nggak pernah pakai kondom”

“Oh, ya? saya percaya kok”, sindir wanita itu.

“Kalau nggak percaya boleh dicoba!”, tantang Tedi.

Dengan wajah yang memerah dan tersenyum, wanita itu membuka pintu apotik lalu masuk kembali setelah membuang puntung rokoknya, meninggalkan Tedi seorang diri. Dengan menggeleng-gelengkan kepala Tedi merasa sangat tolol setelah menyadari jikalau ia gres saja mengeluarkan kata-kata yang paling kurang cendekia sepanjang pengalamannya berkenalan dengan cewek. Bahkan ketika ini ia belum mengetahui nama dan alamat wanita yang gres saja bercakap-cakap dengannya selama 30 menit. Sebuah hasil yang dapat menjatuhkan pamor yang dikenal teman-temannya sebagai seorang yang hebat memperoleh data wacana cewek dalam berkenalan.

Tak lama kemudian Tedi juga kembali masuk kedalam apotik dan mendapati pegawai pria apotik itu telah duduk dimeja counter. Merasa ingin buang air kecil, Tedi menanyakan letak toilet kepada pria itu. Sesuai petunjuk pria tadi, tedi memasuki lorong panjang dalam apotik itu dan jadinya menemukan kamar mandi setengah terbuka yang kelihatan sangat bersih. Dengan terburu-buru Tedi masuk dan eksklusif membuka resleting celana jeansnya dan segera mengeluarkan penisnya dari dalam CDnya lalu, “Ah.. Lega rasanya!”

Rupanya Tedi melupakan menutup pintu kamar mandi. Dan alasannya ialah lagi menikmati buang air kecil ia tak mencicipi jikalau di belakangnya sudah berdiri pegawai wanita tadi sambil mengamati bentuk dan ukuran penis Tedi yang lagi menyemburkan cairan urine kolam ujung selang. Setelah membersihkan penisnya dengan tissu yang ada disampingnya, ia terkejut setengah mati mencicipi pundaknya dipegang tangan halus dan punggungnya mencicipi geseran dengan 2 benda tumpul yang lunak. Menoleh ke belakang ia melihat wajah pegawai wanita tadi.

Dengan napas lega Tedi berkata, “Kukira hantu, hingga hampir pingsan rasanya!”.

“Aku mau buktikan ucapan Mas diluar tadi!”, ucap wanita itu sambil tangan kanannya bergerilya memegang pangkal penis Tedi.

Tanpa dikomando burung Tedi eksklusif mendongkak keatas memberi penghormatan atas rangsangan genggaman halus tangan wanita itu. Diikuti helaan napas yang dalam wanita itu menggeser-geserkan tempat vitalnya yang masih berada dibalik rok dan CDnya ke pantat Tedi. Dengan serta merta Tedi memutar adegan tubuhnya hingga berhadapan dengan wanita itu. Lepaslah genggaman wanita itu pada penis Tedi, tapi pantatnya jadi gantinya, diremas dan ditariknya kearah tubuh wanita itu. Dua bibir saling bertautan, cumbuan dibalas cumbuan, keduanya saling bercumbu dengan gairah yang luar biasa. Dua tangan Tedi menemukan pantat wanita itu dan meremasnya sambil menarik ketubuhnya.

Penis Tedi terhimpit dan bergesek dengan adegan depan rok wanita itu sempurna pada tempat sekitar alat vitalnya, sementara buah dadanya terhimpit dada Tedi. Di adegan bawah gesek menggesek 2 alat vital yang berlainan jenis menimbulkan efek yang semakin menjadi-jadi meskipun masih terhalang oleh rok dan CD wanita itu. Di adegan tengah dimana ukiran payudara yang semakin mengeras pada dada Tedi juga terhalang oleh BH, pakaian wanita itu dan kaos Tedi. Bagian ataslah yang gres bebas dari segala penghalang, pengecap Tedi masuk dalam mulutnya dan mengusap pengecap wanita itu dengan liarnya dan dibalas dengan sedotan dari lisan wanita itu, hal ini terjadi silih berganti sementara kedua bibir saling melekat satu sama lainnya.

Selang beberapa waktu terjadi genjatan senjata. Kedua pihak saling melepas halangan yang ada. Pakaian susukan wanita itu sekarang sudah terlepas semua kancing depannya hingga adegan depan tubuhnya terbuka bebas. Celana jeans dan CD Tedi juga sudah hingga kebawah, juga kaosnya yang benar-benar lepas tersampir di gagang pintu kamar mandi sempit yang tertutup. Wanita itu kemudian melingkarkan tangannya kebelakan untuk melepas kancing BHnya, Tedi memanfaat momen itu dengan berjongkok dan mencumbu perut wanita itu sambil melorotkan CD wanita itu hingga lepas. Bersamaan dengan lepasnya BH wanita itu, cumbuan bibir Tedi juga bertemu bibir vaginanya. Desahan dan erangannya merasuki otak Tedi, sedotan mulutnya pada vagina wanita itu diikuti dengan permainan pengecap di klitoris.

Kedua tangan bebas wanita itu segera menangkap dan menarik adegan belakang kepala Tedi ke arahnya hingga muka Tedi terhimpit diselakangannya. Sedotan lisan Tedi bertambah besar lengan berkuasa kolam pompa air yang lagi menyedot sumur. Sesekali wanita itu agak menjongkok dan dengan tarikan besar lengan berkuasa pada kepala Tedi hingga juluran pengecap Tedi dapat masuk kedalam lubang vaginanya yang paling dalam. Rangsangan hebat yang diberikan Tedi menghasilkan gelombang kejut pada wanita itu, denyut-denyut dinding vaginanya mengantarkan keluarnya cairan kental. Bergelinjang dalam keadaan berdiri membuatnya terhuyung lemas namun beruntung dinding kamar mandi itu telah dekat dengan punggungya hingga tersandarlah punggungnya di dinding. Dekapan Tedi setelah berdiri dari jongkoknya juga membantu wanita itu untuk tetap berdiri sambil bersandar pada dinding kamar mandi.

Dalam dekapan Tedi, mata wanita itu terpejam mencicipi kepuasan sesaat, payudaranya menempel pada dada Tedi yang berbulu tipis, dan napasnya yang tadinya terengah-engah mulai teratur kembali. Penis Tedi menempel ketat pada tempat kemaluan wanita itu hingga mencicipi kehangatan yang basah. Tedi mulai mencumbu lisan wanita itu dan sedikit demi sedikit diber jalan hingga pergumulan kedua lisan tak dapat dihindarkan kembali. Diikuti gerakan pinggul dan pantat, menyebabkan geseran penis Tedi pada bibir vagina wanita mulai terasa nikmatnya bagi kedua belah pihak. Lalu wanita itu membuat rangkulan tangan serta usapan di punggung dan belakang kepala Tedi.

Terprovokasi oleh rangsangan yang diberikan wanita itu, Tedi mulai sedikit berjongkok hingga ujung penisnya menempel adegan depan lubang vagina lalu dengan gerakan meluruskan kembali kakinya, naik dan masuklah seluruh batang kemaluannya kedalam liang kenikmatan wanita itu yang telah licin dengan tiba-tiba. Kaget oleh sentakan Tedi, keduanya melepaskan ciuman mulut, “Akh..!”, jerit wanita itu dengan lisan terbuka dan diikuti dengan desahan, “Ah.. ah.. ah..” ketika Tedi memompa batang kemaluannya kebawah dan keatas. Dua manusia berlainan jenis telah memulai kekerabatan sebadan sambil berdiri dalam kamar mandi apotik yang sempit.

Mulut Tedi mulai menghisap adegan kiri leher wanita itu lalu sesekali pada indera pendengaran kirinya. Dengan berputarnya waktu dan banyak sekali rangsangan yang saling diterima keduanya, wanita itu semakin merasa lemas pada adegan kakinya alasannya ialah memaksakan diri untuk merengguk kepuasan meskipun telah berorgasme 2 kali. Akhirnya dengan tetap menyandarkan punggungya pada dinding kamar mandi ia meminta tangan Tedi untuk menahan pantatnya lalu mengaitkan kedua kakinya pada adegan belakang kaki Tedi. Sambil membopong wanita itu Tedi tetap melaksanakan pemompaan batang kemaluannya pada vagina wanita itu. Kekuatan Tedi ada batasnya, jadinya dilepaskannya kaki kanan wanita itu biar dapat menopang tubuh wanita itu sendiri. Dengan ajudan tetap memegang paha kiri wanita itu, Tedi mempercepat gerakan pompanya.

“Aduh Mas saya mau keluar lagi, ssh..”, ucap wanita itu sambil menggigit bibir atasnya.

Tedipun segera melepas beban yang sedari tadi ditahannya, penisnya berdenyut hebat dalam liang kenikmatan, menyemprotkan cairan sperma bagai semburan ular berbisa. Merasakan semburan cairan hangat dalam liangnya, wanita itu pun tak kuasa menahan orgasmenya. Keduanya saling berangkulan hingga penis Tedi keluar dari liang kenikmatan dalam keadaan kosong dan lemas. Diakhiri dengan saling ciuman bibir, keduanya membersihkan diri, mengenakan kembali pakaian yang lepas, dan keluar dari kamar mandi.

Tedi melihat waktu pada jam dinding apotik menunjukkan pukul 3 pagi dan setelah mendapatkan obat pesanannya yang gres tiba itu dari pegawai pria apotik itu, ia eksklusif keluar menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga hingga rumah sakit tempat kawannya dirawat. Kemudian ia menunjukkan obat serta kopi resepnya itu pada perawat jaga lalu duduk termenung di ruang tunggu sambil berusaha mengingat kejadian sensasional di apotik tadi. Lalu dari kejauhan lorong rumah sakit didepannya ia melihat Joni dan Rio, kedua kawannya, keluar dari sebuah ruangan dengan wajah suka cita, diikuti 2 perawat, yang seorang berumur 40-an dan satunya 20-an. Kedua perawat yang berjalan dibelakang Joni dan Rio terlihat sedang membetulkan seragamnya dan berusaha menutup kancing adegan atasnya. Pemandangan ini tak luput dari penglihatan Tedi.

Kira-kira apa yang telah dilakukan Joni dan Rio? Donor darah merah atau putih? Kenapa mereka kelihatan senang sekali? Itulah semua pertanyaan dalam benak Tedi.

Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, erita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
3

Erangan Nikmat Ngentot Wanita Berjilbab

Cerita Sex - Di kantorku ada seorang wanita berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Tingginya sekitar 165 cm dengan tubuh yang langsing. Kulitnya putih dengan lengsung pipit di pipi menambah kecantikannya, suaranya halus dan lembut. Setiap hari ia mengenakan baju gamis yang panjang dan longgar untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya, namun saya yakin bahwa tubuhnya pasti indah.

 pemerkosaan perawan dan dongeng cukup umur hot lainnya yang diambil dari kisah konkret untuk men Erangan Nikmat Ngentot Wanita Berjilbab
Namanya Fatma, ia sudah bersuami dan beranak 2, usianya sekitar 30 tahun. Dia selalu menjaga pandangan matanya terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya, dan bila bersalamanpun ia tidak ingin bersentuhan tangan. Namun kesemua itu tidak menurunkan rasa ketertarikanku padanya, bahkan saya semakin penasaran untuk bisa mendekatinya apalagi hingga bisa menikmati tubuhnya…., Ya…. Benar… Aku memang terobsesi dengan temanku ini. Dia betul-betul membuatku penasaran dan menjadi objek khayalanku siang dan malam di ketika kesendirianku di kamar kost. Aku bergotong-royong sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak yang masih kecil-kecil, namun anak dan istriku berada di luar kota dengan mertuaku, sedangkan saya di sini kost dan pulang ke istriku seminggu sekali. Kesempatan untuk bisa mendekatinya akhirnya datang juga,

Ketika saya dan ia ditugaskan oleh atasan kami untuk mengikuti workshop di sebuah hotel di kota Bandung selama seminggu.

Hari-hari pertama workshop saya berusaha mendekatinya biar bisa berlama-lama ngobrol dengannya, namun Dia benar-benar tetap menjaga jarak denganku, hingga pada hari ketiga kami mendapat peran yang harus diselesaikan secara tolong-menolong dalam satu unit kerja.

Hasil pekerjaan harus diserahkan pada hari kelima. Untuk itu kami bersepakat untuk mengerjakan peran tersebut di kamar hotelnya, karena kamar hotel yang ditempatinya terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tidur.

Sore harinya pada ketika tidak ada acara workshop, saya sengaja jalan-jalan untuk mencari obat perangsang dan kembali lagi sambil membawa makanan dan minuman ringan.

Sekitar jam tujuh malam saya mendatangi kamarnya dan kami mulai berdiskusi perihal peran yang diberikan. Selama berdiskusi kadang kala Fatma bolak-balik masuk ke kamarnya untuk mengambil bahan-bahan yang ia simpan di kamarnya, dan pada ketika ia masuk ke kamarnya untuk kembali mengambil materi yang dibutuhkan maka dengan cepat saya membubuhkan obat perangsang yang telah saya persiapkan.

Dan saya melanjutkan pekerjaanku seperti tidak terjadi apa-apa ketika ia kembali dari kamar. Hatiku mulai berbunga-bunga, karena obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya mulai bereaksi. Hal ini tampak dari deru napasnya yang mulai memburu dan duduknya gelisah serta butiran-butiran keringat yang mulai muncul dikeningnya. Selain itu pikirannyapun nampaknya sudah susah untuk focus terhadap peran yang sedang kami kerjakan Namun dengan sekuat tenaga ia tetap menampilkan kesan sebagai seorang wanita yang solehah, walaupun seringkali ucapannya secara tidak disadarinya disertai dengan desahan napas yang memburu dan mata yang semakin sayu.

Aku masih bersabar untuk tidak eksklusif mendekap dan mencumbunya, kutunggu hingga reaksi obat perangsang itu benar-benar menguasainya sehingga ia tidak bisa berfikir jernih. Setelah sekitar 30 menit, nampaknya reaksi obat perangsang itu sudah menguasainya, hal ini Nampak dari matanya yang semakin sayu dan nafas yang semakin menderu serta gerakan tubuh yang semakin gelisah.

Dia sudah tidak bisa lagi focus pada materi yang sedang didiskusikan, hanya helaan nafas yang tersengal diserta tatapan yang semakin sayu padaku. Aku mulai menggeser dudukku untuk duduk berhimpitan disamping kanannya, ia ibarat terkejut namun tak bisa mengeluarkan kata-kata protes atau penolakan, hanya Nampak sekilas dari tatapan matanya yang memandang curiga padaku dan ingin menggeser duduknya menjauhiku, namun nampaknya pengaruh obat itu membuat seperti badannya kaku dan bahkan seperti menyambut kedatangan tubuhku.

Setelah yakin ia tidak menjauh dariku, tangan kiriku mulai memegang tangan kanannya yang ia letakkan di atas pahanya yang tertutup oleh baju gamisnya. Tangan itu demikian halus dan lembut, yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pria selain oleh muhrimnya. Tangannya tersentak lemah dan ada usaha untuk melepaskan dari genggamanku, namun sangat lemah bahkan bulu-bulu halus yang ada di lengannya berdiri ibarat dialiri listrik ribuan volt. Matanya terpejam dan tanpa sadar mulutnya melenguh..

”Ouhh….”, tangannya semakin lembap oleh keringat dan tanpa ia sadari tangannya meremas tanganku dengan gemas.

Aku semakin yakin akan reaksi obat yang kuberikan… dan sambil mengutak-atik laptop, tanpa sepengetahuannya saya aktifkan aplikasi webcam yang dapat merekam acara kami di dingklik panjang yang sedang kami duduki dengan mode tampilan gambar yang di hide sehingga acara kami tak terlihat di layar monitor. Lalu tangan kananku menggenggam tangan kanannya yang telah ada dalam genggamanku, tangan kiriku melepaskan tangan kanannya yang dipegang dan diremas mesra oleh angan kananku, sehingga tubuhku menghadap tubuhnya dan tangan kiriku merengkuh pundaknya dari belakang. Matanya medelik marah dan dengan terbata-bata dan nafas yang memburu ia berkata

“Aaa…aapa..apaan….nih……Pak..?”

Dengan lemah tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kiriku dari pundaknya. Namun gairahku semakin meninggi, tanganku bertahan untuk tidak lepas dari pundaknya bahkan dengan gairah yang menyala-nyala wajahku eksklusif mendekati wajahnya dan secara cepat bibirku melumat gemas bibir tipisnya yang selama ini selalu menarik hati nafsuku. Nafsuku semakin terpompa cepat setelah mencicipi lembut dan nikmatnya bibir tipis Fatma, dengan penuh nafsu kuhisap besar lengan berkuasa bibir tipis itu.

“Ja..jangan …Pak Ouhmmhhh… mmmhhhh…”

Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.. karena bibirnya tersumpal oleh bibirku.

Dia memberontak.., tapi kedua tangannya dipegang erat oleh tanganku, sehingga ciuman yang kulakukan berlangsung cukup lama.

Fatma terus memberontak…, tapi gairah yang muncul dari dalam dirinya akhir efek dari obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya membuat tenaga berontaknya sangat lemah dan tak berarti apa-apa pada diriku. Bahkan semakin lama kedua tangannya bukan berusaha untuk melepaskan dari pegangn tanganku tapi seolah mencengkram erat kedua tanganku ibarat menahan nikmatnya rangsangan birahi yang kuberikan padanya, perlahan namun pasti bibirnya mulai membalas hisapan bibirku, sehingga terjadilah ciumannya yang panas menggelora, matanya tertutup rapat menikmati ciuman yang kuberikan.

Pegangan tanganku kulepaskan dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sehingga dadaku mencicipi empuknya buahdada yang tertutup oleh baju gamis yang panjang.

Dan kedua tangannyapun memeluk erat dan terkadang membelai mesra punggungku. Bibirku mulai merayap menciumi wajahnya yang cantik, tak semilipun dari permukaan wajahnya yang luput dari ciuman bibirku. Mulutnya ternganga… matanya mendelik dengan leher yang tengadah…

”Aahhh….. ouh…… mmmhhhh…. eehh… ke.. na.. pa….. begi..nii…ouhhh …”

Erangan penuh rangsangan keluar dari bibirnya disela-sela ucapan ketidakmengertian yang terjadi pada dirinya..

Sementara bibirku menciumi wajah dan bibirnya dan terkadang lehernya yang masih tertutup oleh jilbab yang lebar…, secara perlahan asisten merayap ke depan tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya..

”Ouhhh….aahhh…”

Kembali ia mengerang penuh rangsangan. Tangan kirinya memegang besar lengan berkuasa tangan kananku yang sedang meremas buahdadanya. Tetapi ternyata tangannya tidak berusaha menjauhkan telapak tanganku dari buahdadanya, bahkan mengarahkan jariku pada putting susunya biar saya mempermainkan putting susunya dari luar baju gamis yang dikenakannya

“ouh…ouh…ohhh…..”

Erangan penuh rangsangan semakin tak terkendali keluar dari mulutnya Telapak tanganku dengan intens mempermainkan buahdadanya…, keringat sudah membasahi gamisnya…, bahkan tangan kanannya dengan gemas merengkuh belakang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku serta menekan wajahku biar ciuman kami semakin rapat…

Nafasnya semakin memburu dengan desahan dan erangan nikmat semakin sering keluar dari mulutnya yang indah. Tangan kananku dengan lincah mengeksplorasi buahdada, pinggang dan secara perlahan turun ke bawah untuk membelai pingggul dan pantatnya yang direspon dengan gerakan menggelinjang menahan nikmatnya nafsu birahi yang terus menderanya. Tangan kananku semakin turun dan membelai pahanya dari luar gamis yang dikenakannya… dan terus kebawah hingga ke ujung gamis episode bawah. lalu tanganku menyusup ke dalam sehingga telapak tanganku bisa eksklusif menyentuh betisnya yang jenjang..

Ouhhh… sungguh halus dan lembut terasa betis mengagumkan ini, membuat nafsuku semakin membumbung tinggi, penisku semakin keras dan infeksi sehingga terasa sakit karena terhimpit oleh celana panjang yang kukenakan, maka secara tergesa-gesa tangan kiriku menarik sleting celana dan mengeluarkan batang penisku yang tegak kaku.

Dari sudut matanya, Fatma melihat apa yang kulakukan dan dengan mata yang terbelalak dan verbal ternganga ia menjerit pelan melihat penisku yang tegak kaku keluar dari dalam celana

”Aaaihhh…”.

Dari sorot matanya, tampak gairah yang semakin menyala-nyala ketika menatap penis tegakku. Belaian tangan kananku semakin naik ke atas…., ke lututnya, lalu…. Cukup lama bermain di pahanya yang sangat halus…., Fatma semakin menggelinjang ketika tangan kananku bermain di pahanya yang halus, dan mulutnya terus-terusan mengerang dan mengeluh nikmat

“ Euhh….. ouhhhh….. hmmmnnn…. Ahhhhh……”

Tanganku lalu naik menuju pangkal paha…., terasa bahwa episode cd yang berada tepat di depan vaginanya sudah sangat lembab dan basah. Tubuhnya bergetar jago ketika jari tanganku tepat berada di depan vaginanya, walaupun masih terhalang CD yang dikenakannya…, tubuhnya mengeliat kaku menahan rangsangan nikmat yang semakin menderanya sambil mengeluarkan deru nafas yang semakin tersengal

“Ouh….ouhhhh…”

Ketika tangan kananku menarik CD yang ia kenakan…., ternyata kedua tangan Fatma membantu meloloskan CD Itu dari tubuhnya. Kusingkapkan episode bawah gamis yang ia kenakan ke atas hingga sebatas pinggang, hingga tampak olehku vaginanya yang mengagumkan menawan, kepalanya kuletakan pada sandaran lengan kursi..,

kemudian pahanya kubuka lebar-lebar.., kaki kananku menggantung ke bawah kursi, sedangkan kaki kiriku terlipat di atas kursi. Dengan masih mengenakan celana panjang, kuarahkan penisku yang keluar melalui sleting yang terbuka ke lubang vagina yang merangsang dan sebentar lagi akan menawarkan berjuta-juta kenikmatan padaku.

Ku gesek-gesekan kepala penisku pada lipatan liang vaginanya yang semakin basah..

”Auw…auw….. Uuhhhh….. uuuhhh…. Ohhh ….”

Dia mengaduh dan mengeluh… membuatku bertanya-tanya apakah ia merasa kesakitan atau menahan nikmat, tapi kulihat pantatnya naik turun menyambut tabrakan kepala penisku seolah tak tabah ingin segera dimasuki oleh penisku yang tegang dan kaku…. Lalu dengan hentakan perlahan ku dorong penisku dan… Blessshhh….

Kepala penisku mulai menguak lipatan vaginanya dan memasuki lorong nikmat itu dan..

“AUW… AUW…. Auw… Ouhhh……uhhhh…… aaahhhh…”

Tanpa dapat terkendali Fatma mengaduh dan mengerang nikmat dan mata terpejam rapat…., rintihan dan erangan Fatma semakin merangsangku dan secara perlahan saya mulai memaju mundurkan pantatku biar penisku mengocok liang vaginanya dan menawarkan sensasi nikmat yang luar biasa.

Hal yang luar biasa dari Fatma ternyata ia terus mengaduh dan mengerang setiap saya menyodokkan batang penisku ke dalam vaginanya. Rupanya ia merupakan tipe wanita yang selalu mengaduh dan mengerang tak terkendali dalam mengekspresikan rasa nikmat seksual yang diterimanya. Tak berapa lama kemudian, tanpa dapat kuduga, kedua tangan Fatma merengkuh pantatku dan menarik pantatku kuat-kuat dan pantatnya diangkatnya sehingga seluruh batang penisku amblas ditelan liang vagina yang basah, sempit dan nikmat. Lalu tubuhnya kaku sambil mengerang nikmat

“Auuuww…. Auuuwww…… Auuuuuhhhh….. Aakkkhhhh…..”

kedua kakinya terangkat dan betisnya membelit pinggangku dengan telapak kaki yang menekan besar lengan berkuasa pantatku hingga gerakan pantatku agak terhambat dan kedua tangannya merengkuh pundakku dengan besar lengan berkuasa dan beberapa ketika kemudian tubuhnya kaku namun dinding vaginanya memijit dan berkedut sangat besar lengan berkuasa dan nikmat membuat mataku terbelalak menahan nikmat yang tak terperi

Lalu …. badannya terhempas lemah…, namun liang vaginanya berkedut dan meremas dengan sangat besar lengan berkuasa batang penisku sehingga menawarkan sensasi nikmat yang luar biasa.

Gairah yang begitu tinggi akhir rangsangan yang diterimanya telah mengantarnya menuju orgasmenya yang pertama. Keringat tubuhku membasahi baju membuatku tidak nyaman, sambil membiarkannya menikmati sensasi nikmatnya orgasme yang gres diperolehnya dengan posisi penisku yang masih menancap di liang vaginanya, saya membuka bajuku hingga bertelanjang dada tetapi masih mengenakan celana panjang.

Lalu secara perlahan saya mulai mengayun pantatku biar penisku mengocok liang vaginanya.

Rasa nikmat kembali menderaku akhir tabrakan dinding vaginanya dengan batang penisku. Perlahan namun pasti, pantat Fatma merespon setiap gerakan pantatku. Pinggul dan pantatnya bergoyang dengan erotis membalas setiap gerakanku.

Mulutnyapun kembali mengaduh mengekspresikan rasa nikmat yang kembali ia rasakan

“Auw…Auw… Auuuwww…. Ouhhh…. Aahhh…”

Rangsangan dan rasa nikmat yang kurasakanpun semakin menjadi-jadi. Dan erangan nikmatnyapun terus-menerus diperdengarkan oleh bibirnya yang tipis menggairahkan sambil kepala yang bergoyang kekiri dan ke kanan diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang kembali menderanya

“Auw…Auw… Auuuwww…. Oohhh… ohhh… oohhh…”

Erangan nikmat semakin tak terkendali dan seolah puncak kenikmatan akan kembali menghampirinya hal ini tampak dari gelinjang tubuhnya yang semakin cepat dan kedua tangannya yang kembali menarik-narik pantatku biar penisku masuk semakin dalam mengobok-obok liang nikmatnya dan kedua kakinya sudah mulai membelit pantatku. Namun saya mencabut penisku , dan hal itu membuat Fatma gelagapan sambil berkata terbata-bata

“Ke..napa…..di cabut…? Ouh…. Oh…”

Dengan sorot mata protes dan napas yang tersengal-sengal…

“Ribet ….”

Kataku, sambil berdiri dan membuka celana panjang sekaligus dengan CD yang kukenakan.

Lalu sambil menatapnya

“Gamisnya buka dong..!”

Dia menatapku ragu.., namun dorongan gairah telah membutakan pikirannya apalagi dengan penuh gairah ia melihatku telanjang bundar di hadapannya, maka dengan tergesa-gesa ia berdiri dihadapanku dan melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya…, mataku melotot menikmati pemandangan yang menggairahkan itu. Oohhh….

kulitnya benar-benar putih dan halus, penisku terangguk-angguk semakin tegang dan keras. Dia melepaskan gamis dan BHnya sekaligus, hingga dihadapanku telah berdiri bidadari yang sangat cantik menggairahkan dalam keadaan bundar menantangku untuk segera mencumbunya.

Dalam keadaan berdiri saya eksklusif memeluknya dan bibirku mencium bibirnya dengan penuh gairah…. Diapun menyambut ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya. Bibir dan lidahku menjilati bibir, pipi lalu ke lehernya yang jenjang yang selama ini selalu tertutup oleh jilbabnya yang lebar…. Fatma mendongakkan kepala hingga lehernya semakin mudah kucumbu… Penisku yang tegang menekan-nekan selangkangannya membuat ia semakin bergairah.

Dengan gemetar, tangannya meraih batang penisku dan mengarahkan kedepan liang vaginanya yang sudah sangat lembap dan gatal., kaki kanannya ia angkat keatas dingklik sehingga kepala penisku lebih mudah menerobos liang vaginanya dan blesshh….. kembali rasa nikmat menjalar di sekujur pembuluh nadiku dan mata Fatmapun terpejam mencicipi nikmat yang tak terperi dan dari mulutnyapun erangan nikmat

“Auw… Auww… Oohh….. akhhh….”

Kepalanya terdongak dan kedua tangannya memeluk erat punggungku. Lalu pantatku mulai bergerak maju mundur biar batang penisku menggesek dinding vaginanya yang sempit, lembap dan berkedut nikmat menyambut setiap tabrakan dan kocokan batang penisku yang semakin tegang dan bengkak. Diiringi dengan rintihan nikmat Fatma yang khas… …

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Sambil pantatku memompa liang vaginanya yang nikmat, kepala Fatma semakin terdongak ke belakang sehingga wajahku tepat berada didepan buahdadanya yang sekal dan montok, maka verbal dan lidahku eksklusif menjilati dan menghisap buah dada mengagumkan itu.. putting susunya semakin menonjol keras. Fatma semakin mengerang nikmat…

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Gerakan tubuh Fatma semakin tak terkendali, dan tiba-tiba kedua kakinya terangkat dan membelit pinggangku, kemudian ia melonjak-lonjankkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku sambil menjerit semakin keras …

”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”.

Kedua tanganku menahan pantatnya biar tidak jatuh dan penisku tidak lepas dari liang vaginanya sambil mencicipi nikmat yang tak terperi… Tak lama kemudian kedua tangannya memeluk erat punggungku dan mulutnya menghisap dan menggigit besar lengan berkuasa leherku. Tubuhnya kaku…., dan dinding vaginanya meremas dan memijit-mijit nikmat batang penisku. Dan tak lama kemudian

“AAAAUUUUWWWW………..Hhhooohhhh….”

Dia mengeluarkan jeritan dan keluhan panjang sebagai tanda bahwa ia telah mendapatkan orgasme yang kedua kali…

Tubuhnya melemas dan hampir terjatuh kalau tak ku tahan. Lalu ia terduduk di dingklik sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, badannya lembap oleh keringat yang bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya.

Tapi dibalik rasa lelah yang menderanya, gairahnya masih menyala-nyala ketika melihat batang penisku yang masih tegang mengangguk-angguk. Aku duduk disampingnya dengan nafas yang memburu oleh gairah yang belum terpuaskan. Tiba-tiba ia berdiri membelakangiku, kakinya mengangkang dan pantatnya diturunkan mengarahkan liang vaginanya biar tepat berada diatas kepala penisku yang berdiri tegak.

Tangan kanannya meraih penisku biar tepat berada di depan liang vaginanya dan … bleshhhh….

“AUUWW…. Auww…. Ahhhh…”

Secara perlahan ia menurunkan pantatnya sehingga kembali batang penisku menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan..

”Aaahhh……”

erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya. Lalu ia mulai menaik turunkan pantatnya biar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah..

Semakin lama gerakannya semakin melonjak-lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan, kedua tanganku memegang kedua buahdadanya dari belakang sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol. Kepalanya mulai terdongak dan menoleh kebelakang mencari bibirku atau episode leherku yang bisa diciumnya dan kamipun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan… lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku dan beberapa ketika kemudian kembali batang penisku mencicipi pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat

“AAAUUUUUWWWWW…….. Aaakkhhhh………”

Namun ketika ini, saya tidak memberi waktu padanya untuk beristirahat, karena saya merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak, karena napasku sudah tersengal-sengal tidak teratur, maka kuminta ia untuk posisi nungging dengan kaki kanan di lantai sedang kaki kiri di kawasan duduk dingklik sedangkan kedua tangannya bertahan pada kursi. Lalu kaki kananku menjejak lantai sedang kaki kiriku kuletakkan dibelakang Kaki kirinya sehingga selangkanganku tepat berada di potongan pantatnya yang putih, molek dan mengkilat oleh basahnya keringat. Tangan kananku mengarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang lembap dan semakin menggairahkan. Lalu saya mendorong pantatku hingga blessshhh….

“Auw… Auw… Ouhhhh….”

Kembali ia mengeluh nikmat ketika mencicipi batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang. Kugerakan pantatku biar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya. Fatma memaju mundurkan pantatnya menyambut setiap sodokan batang penisku sambil tak henti-henti mengerang nikmat..Ouh… ohhh…ayoo.. Pak…ayo… ohh…ouhh…” Rupanya ia mencicipi batang penisku yang semakin kaku dan infeksi yang menunjukan bahwa beberapa ketika lagi saya mencapai orgasme. Dia semakin agresif menyambut setiap sodokan batang penisku, hingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang dan pada suatu titik saya menancapkan batang penisku sedalam-dalamnya pada liang vaginanya yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat

“Auuuuwwwhhhhhhh…… Aakkhhh…….”

Dan diapun berteriak nikmat bersamaan denganku. Dan Cretttt…. Creeetttt… crettttt spermaku terpancar deras membasahi seluruh rongga diliang vaginanya yang nikmat…

Tubuh Fatma ambruk telungkup dikursi dan tubuhkupun terhempas di dingklik sambil memeluk tubuhnya dari belakang dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapaian… punggungku tersandar lemas pada sandaran dingklik sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Dan kuperhatikan Fatmapun tersungkur kelelahan sambil telungkup di atas kursi. Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang akhir pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Fatma yang lembap oleh keringat. Dan terbayang olehku betapa liarnya Fatma barusan pada ketika ia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya. Semua itu diluar dugaanku.

Aku tak menyangka Fatma yang demikian anggun dan lemah lembut bisa demikian liar dalam bercinta…… Mataku menyusuri seluruh tubuh Fatma yang bugil dan lembap oleh keringat….

Uhhh……. .. Tubuh itu benar-benar tepat …… Putih , halus dan mulus…. Beruntung sekali malam ini saya bisa menikmati tubuh mengagumkan ini.

Aku terus menikmati pemandangan mengagumkan ini, sementara Fatma nampaknya benar-benar kelelahan sehingga tak sadar bahwa saya sedang menikmati keindahan tubuhnya… Semakin saya memandangi tubuh mengagumkan itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku.

Dalam hati saya berbisik biar malam ini saya bisa menikmati tubuh Fatma sepuas-puasnya hingga pagi. Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa dan perlahan-lahan penisku mulai mengeras kembali….

Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah, dan bibirku menciumi pundaknya yang lembap oleh keringat…., namun nampaknya Fatma terlalu lelah untuk merespon cumbuanku, ia masih terlena dengan kelelahannya… mungkin ia tertidur kelelahan.

Posisi kami yang berada di atas dingklik panjang ini membuatku kurang nyaman…, maka kuhentikan cumbuanku, kedua tanganku merengkuh tubuh mengagumkan Fatma dan dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih kubopong tubuh mengagumkan itu ke kamar.

Dengan penuh semangat saya membopong tubuh bugil Fatma kearah kamar.

Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi telentang. Fatma hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam. Aku duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh mengagumkan ini lebih seksama.

Semakin keperhatikan semakin terpesona saya akan kesempurnaan tubuh Fatma yang sedang telanjang bugil. Kulit yang demikian putih , halus dan mulus….. dengan episode selangkangan yang benar-benar sangat mengagumkan dan merangsang.

Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya.. Aku mengambil tissue yang ada di pinggir kawasan tidur dan mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.

Fatma menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..

”uhhh……”

Bibir dan lidahku terpengaruhi untuk menciumi dan menjilati batang paha Fatma yang demikian putih dan mulus. Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya. Seluruh permukaan kulit paha Fatma kuciumi dan jilati… tak ada satu milipun yang terlewat. Lambat laun gairah Fatma kembali terbangkitkan, mulutnya mendesis nikmat dan penuh rangsangan

“uhhh….. ohhhh… sssssttt…”

Sementara telapak tanganku bergerak lincah membelai dan mengusap paha, pantat, perut dan akhirnya meremas-remas buahdadanya yang montok. Erangannya semakin keras ketika saya memelintir putting susunya yang menonjol keras

“Euhh….. Ouhhh…. Auw…… Ahhh…”

Disertai dengan gelinjang tubuh menahan nikmat yang mulai menyerangnya. Penisku semakin keras dan saya mulai memposisikan kedua pahaku di bawah kedua pahanya yang terbuka, lalu mengarahkan penisku ke tepat di lipatan vaginanya yang lembap dan licin.

Kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatan vaginanya, tubuhnya semakin bergelinjang…., pantatnya bergerak-gerak menyambut penisku seperti tak tabah ingin ditembus oleh penis tegangku. Namun saya terus merangsang vaginanya dengan penisku…., ia semakin tak tabah …… tubuhnya semakin bergelinjang hebat.

Dan akhirnya ia berdiri dan mendorong tubuhku hingga telentang di atas kasur, ia eksklusif menduduki selangkanganku… mengangkat pantatnya dan tangannya dengan gemetar meraih penisku dan mengarahkan ke tepat liang vaginanya, lalu eksklusif menekan pantatnya dalam-dalam hingga……. Blessshhhh……. batang penisku eksklusif menerobos dinding vaginanya yang lembap namun tetap sempit dan berdenyut-denyut. Mataku nanar menahan nikmat…., napasku seperti terhenti menahan nikmat yang ku terima…

”Uhhhh…..”

Mulutku berguman menahan nikmat. Dengan mata terpejam menahan nikmat, Fatmapun mengaduh.

”Auuww…. OOhhhhhhh……”

Pantatnya ia diamkan sejenak mencicipi rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan ia menaik turunkan pantatnya hingga penisku mengocok-ngocok vaginanya dari bawah….. Erangan khasnya kembali ia perdengarkan

“Auw….. auw…. auw… euhhhh…..”

Semakin lama gerakan pantatnya semakin bervariasi…, kadang berputar-putar…. Kadang maju mundur dan terkadang ke atas ke bawah bagaikan piston sambil tak henti-hentinya mengaduh nikmat…

Gerakannya semakin lincah dan liar, membuat saya tak henti-hentinya menahan nikmat. Kembali saya terpana oleh keliaran Fatma dalam bercinta…., sungguh saya tak menyangka…..Wanita sholeh…., anggun dan lembut ini begitu liar dan lincah.

”Ouhhhh…. ouhhhh …”

Aku pun mengeluh nikmat menyahuti erangan nikmat yang keluar dari bibirnya yang tipis. Buahdadanya yang molek dan mengagumkan terguncang-guncang keras akhir gerakannya yang lincah dan membuatku tanganku terangsang untuk meremasnya, maka kedua buahdada itu kuremas-remas gemas. Fatma semakin mengerang nikmat

“Auw…. Auw….auhh….ouhhh…”

Lalu gerakannya semakin keras tak terkendali…, kedua tangannya mencengkram erat kedua tanganku yang sedang meremas-remas gemas buahdadanya…,, dan badannya melenting sambil menghentak-hentakkan pantatnya dengan keras hingga penisku masuk sedalam-dalamnya….

Dan akhirnya tubuhnya kaku disertai dengan jeritan yang cukup keras

“Aaaaakkhhhsssss………….”

Dan tubuhnya ambruk menindihku……. Namun dinding vaginanya berdenyut-denyut serta meremas-remas batang penisku…. Membuatku semakin melayang nikmat….

Ya…. Fatma gres saja memperoleh orgasme yang pertama di babak kedua ini…. Dengan tubuh yang lemas dan napas yang tersengal-sengal bagaikan orang sudah melaksanakan lari marathon bibirnya menciumi lembut pipiku dan berkata sambil mendesah…

”Bapak…. Benar-benar hebat….”

Lalu mengecup bibirku dan kembali kepalanya terkulai di samping kepalaku sehingga dadaku mencicipi empuknya dihimpit oleh buahdadanya yang montok.

Penis tegangku masih menancap dengan kokoh di dalam liang vaginanya, dan semakin lama denyutan dinding vaginanyapun semakin melemah… Kugulingkan tubuhnya hingga tubuhku menindih tubuhnya dengan tanpa melepaskan batang penisku dari jepitan vaginanya.

Tangan kananku meremas-meremas buah dadanya diselingin memilin-milin putting susu sebelas kiri, sementara bibirku menjilati dan menghisap-hisap putting susu sebelah kanan, sambil pantatku bergerak perlahan mengocok-ngocok vaginanya.

Perlahan namun pasti…, Fatma mulai menggeliat perlahan-lahan…, rangsangan kenikmatan yang kulakukan kembali membangkitkan gairahnya yang gres saja terpuaskan…

“Emmhhh…… euhhhh……… auh……..”

Dengan kembali ia mengerang nikmat… Pinggulnya bergoyang mengimbangi goyanganku…. Kedua tangannya merengkuh punggungku….

“Auw…. Auw…… ahhh….auhhh…”

Kembali ia mengaduh dengan bunyi yang khas, menunjukan kenikmatan telah merasuki dirinya… Goyang pinggulnya semakin lincah disertai dengan jeritan-jeritannya yang khas. Dalam posisi di bawah Fatma menampilkan gerakan-gerakan yang penuh sensasi… Berputar…., menghentak-hentak …, maju mundur bahkan gerakan patah-patah ibarat yang diperagakan oleh penyanyi dangdut terkenal. Kembali saya terpana oleh gerakan-gerakannya…. Yang semua itu tentu saja menawarkan kenikmatan yang tak terhingga padaku….. Sambil mengerang dan mengaduh nikmat…, tangannya menarik kepalaku hingga bibirnya bisa menciumi dan menghisap leherku dengan penuh nafsu. Gerakan pinggul Fatma sudah bermetamorfosis lonjakan-lonjakan yang keras tak terkendali, kedua kakinya terangkat dan membelit dan menekan pantatku hingga pantatku tidak bisa bergerak, Kedua tangannya menarik-narik pundakku dengan keras dengan mata terpejam dan gigi yang bergemeretuk.

Dan akhirnya tubuhnya kaku sambil menjerit ibarat yang yang disembelih…

”AAkkkkkhhhh…….”

Kembali Fatma mengalami orgasme untuk ke sekian kalinya…. Aku hanya terdiam tak bisa bergerak tapi mencicipi nimat yang luar biasa, karena walaupun terdiam kaku, namun dinding vagina Fatma berkontraksi sangat keras sehingga memijit dan memeras nikmat batang penisku yang semakin membengkak Tak lama kemudian tubuhnya melemas…., kedua kakinya sudah terjulur lemah Kuperhatikan napasnya tersengal-sengal…, Fatma menatap wajahku yang berada diatas tubuhnya.,

Lalu ia tersenyum seperti ingin mengucapkan terima kasih atas puncak kenikmatan yang gres ia peroleh….

Kukecup bibirnya dengan lembut… Tubuhku kutahan dengan kedua tangan dan kakiku biar tidak membebani tubuhnya, Sambil bibirku terus menciumi bibir, pipi, leher , dada, hingga putting susunya untuk merangsangnya biar gairahnya segera berdiri kembali…

Kuubah posisi tubuhku hingga saya terduduk dengan posisi kedua kaki terlipat dibawah kedua paha Fatma yang terangkat mengapit pinggangku. Buahdadanya yang mengagumkan dan lembap oleh keringat begitu menggodaku. Dan kedua tanganku terjulur untuk meremas-remas buah dada yang molek dan indah

“Euhh…. Euhhh…. “

Kembali tubuhnya menggeliat mencicipi gairah yang kembali menghampirinya. Sambil kedua tanganku mempermainkan buahdadanya yang montok…, pantatku kembali berayun biar penisku kembali mengaduk-ngaduk liang vagina Fatma yang tak henti-hentinya menawarkan sensasi nikmat yang sukar tuk dikatakan….

Hentakan pantatku semakin lama semakin keras membuat buah dadanya terguncang-guncang indah. Erangan nikmat yang khas kembali ia perdengarkan…. Kepalanya bergerak ke kanan dan kekiri ibarat dibanting oleh rasa nikmat yang kembali menyergapnya…

Pinggul Fatma mulai membalas setiap hentakan pantatku….., bahkan semakin lama semakin lincah disertai dengan lenguhan dan jeritan nikmat yang khas…. Kedua tanganku memegangi kedua lututnya hingga pahanya semakin terbuka lebar membuat gerakan pinggulku semakin bebas dalam mengaduk dan mengocok vaginanya.

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Erangan nikmat semakin meningkatkan gairahku…. Dan penisku semakin bengkak…. Dan ternyata dengan posisi ibarat membuat jepitan vagina semakin besar lengan berkuasa dan membuatku semakin nikmat. Dan tanpa dapat kukendalikan gerakanku semakin liar tak terkendali seiring dengan rasa nikmat yang semakin menguasai diriku… Fatmapun mengalami hal yang sama…, penisku yang semakin membengkak dengan gerakan-gerakan liar yang tak terkendali membuat orgasme kembali dengan cepat menghampirinya dan ia pun kembali menjerit-jerit nikmat menjemput orgasme yang segera tiba…

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Akupun merasa bahwa orgasme akan menghampiriku…., tanpa dapat kukendalikan gerakan sudah bermetamorfosis hentakan-hentakan yang keras dan kaku. Hingga akhirnya orgasme itu datang secara bersamaan dan kamipun menjerit secara bersamaan bagaikan orang yang tercekik.

“AAkkkkkkhhssss…………..”

Pinggul kami saling menekan dengan keras dan kaku sehingga seluruh batang penisku amblas sedalam-dalamnya dan beberapa ketika kemudian. Creetttt….creeettttt…. cretttt…..

Sperma kental terpancar dari penisku menyirami liang vagina Fatma yang juga berdenyut dan meremas dengan hebatnya… Tubuhkupun ambruk… ke pinggir tubuh Fatma yang terkulai lemah…., namun pantatku masih diatas selangkangan Fatma sehingga Penisku masih menancap di dalam liang vaginanya. Kami benar-benar kelelahan sehingga akupun tertidur dalam posisi ibarat itu….

Malam itu benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati tubuh Fatma sepuas-puasnya.. Entah berapa kali malam itu kami bersetubuh……., yang kutahu yakni kami selalu mengulangi berkali-kali…. Hingga hampir subuh…. Dan tertidur dengan pulasnya karena semua tenaga telah terkuras habis …

Pagi-paginya sekitar jam 6 pagi saya mendengar Fatma menjerit..

”Apa yang telah terjadi..? Kenapa bisa terjadi begini..?”

Lalu ia menangis tersedu-sedu sambil tiada henti mengucap istigfar…. Sambil tak mengerti mengapa kejadian semalam bisa terjadi.

Tak lama kemudian ia berkata padaku sambil menangis

“Sebaiknya bapak secepatnya meninggalkan kawasan ini…!”

katanya marah . Akupun keluar kamar memunguti pakaianku yang tercecer diluar kamar dan mengenakannya serta keluar dari kamarnya sambil membawa laptop dan kembali ke kamarku. Sedangkan Fatma terus menangis menyesali apa yang telah terjadi.

Sejak ketika itu selama sisa masa workshop, Fatma benar-benar marah besar padaku, ia memandangku dengan tatapan marah dan benci. Aku jadi salah tingkah padanya dan tak berani mendekatinya.

Dan hingga hari terakhir workshop Fatma benar-benar tidak mau didekati olehku. Setelah saya keluar dari kamar hotelnya, Fatma terus menangis menyesali apa yang telah terjadi. Dia tak habis mengerti mengapa gairahnya begitu tinggi malam tadi dan tak bisa ia kendalikan sehingga dengan mudahnya berselingkuh denganku.

Ingat akan kejadian semalam, kembali ia menangis menyesali atas dosa besar yang dilakukannya. Dia merasa sangat bersalah dikarenakan telah menghianati suaminya, apalagi pada ketika ia mengingat kembali betapa ia sangat menikmati dan puas yang tak terhingga pada ketika bersetubuh denganku….

Ya… dalam hatinya yang paling dalam, secara jujur Dia mengakui, bahwa malam tadi yakni pengalaman yang gres pertama kali dialami seumur hidupnya, dapat mencicipi kenikmatan orgasme yang berulang-ulang dalam satu malam, Dia hingga tidak ingat, entah berapa puluh kali ia mencapai puncak orgasme, alhasil ia mencicipi tulangnya bagaikan dilolosi sehingga terasa sangat lemah dan lunglai, habis semua tenaga terkuras oleh pertarungan semalam yang begitu sensasional. Dan hal itu belum pernah ia alami selama berumah tangga dengan suaminya.

Suaminya paling top hanya bisa mengantarnya menjemput satu kali orgasme bersamaan dengan suaminya, setelah itu tertidur hingga subuh dan itupun jarang sekali terjadi.

Yang paling sering yakni ia belum sempat menjemput puncak kenikmatan, suaminya sudah ejakulasi terlebih dahulu, meninggalkan ia yang masih gelisah karena belum mencapai puncak.

Dan peristiwa tadi malam, benar-benar istimewa karena ia bisa mencapai kenikmatan puncak yang melelahkan hingga berkali-kali. Ingat akan hal itu kembali ia menyesali diri…, kenapa ia mendapatkan kenikmatan bersetubuh yang luar biasa harus dari orang lain dan bukan dari suaminya sendiri…. Kembali ia menangis……

Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan bertobat atas dosa besar yang dilakukannya. Dan ia akan menjauhi diriku biar tidak terpengaruhi untuk yang kedua kalinya. Itulah sebabnya selama sisa waktu workshop, ia selalu menjauh dariku. Hari terakhir workshop, Fatma begitu bangga karena akan meninggalkan kawasan yang memberinya kenangan “buruk” ini dan Dia begitu merindukan suaminya sebagai pelampiasan atas kesalahan yang sangat disesalinya.

Sehingga begitu tiba di rumah, ia memeluk suaminya penuh kerinduan. Tentu saja suaminya sangat bahagia melihat istrinya datang setelah seminggu berpisah. Dan malamnya setelah bawah umur tidur mereka melaksanakan relasi suami istri.

Fatma begitu agresif tidak ibarat biasanya, ia demikian aktif mencumbu suaminya. Hal ini membuat suaminya abnormal sekaligus bahagia, aneh… karena selama ini suaminyalah yang meminta dan merangsangnya sedangkan Fatma lebih banyak mengambil posisi sebagai wanita yang menerima, tapi kali ini sungguh beda…

Fatma begitu aktif dan bergairah. Tentu saja perubahan ini membuat suaminya sangat bahagia, suaminya berfikir… gres seminggu tidak bertemu saja istrinya sudah demikian merindukannya sehingga melayani suaminya dengan sangat bergairah.

Dan akhirnya suaminyapun tertidur bahagia Namun, lain yang dialami suami, lain pula yang dialami oleh Fatma, malam itu Fatma begitu kecewa, Dia begitu agresif dan berharap untuk meraih puncak bersama suaminya, namun belum sempat ia mencapai puncak, suaminya telah hingga duluan.

Suaminya mengecup bibirnya penuh rasa sayang, sebelum akhirnya tertidur pulas penuh kebahagiaan, meninggalkan dirinya yang masih menggantung belum mencapai puncak. Fatmapun melamun…… Terbayang olehnya peristiwa di hotel, bagaimana ia bisa mencapai puncak yang luar biasa secara berulang-ulang.

“Uhhh……”

Tanpa sadar ia mengeluh Di bawah alam sadarnya ia berharap kapan ia dapat kembali mencicipi kepuasan yang demikian sensasional itu..? Namun buru-buru ia beristigfhar setelah sadar bahwa peristiwa itu yakni suatu kesalahan yang sangat fatal.

Namun….., kekecewaan demi kekecewaan terus dialami Fatma setiap kali ia melaksanakan hubngan suami istri dengan suaminya. Dan selalu saja ia membandingkan apa yang dialaminya dengan suaminya; dengan apa yang dialaminya waktu di hotel denganku.

Hal itu membuatnya tanpa sadar sering menghayalkan bersetubuh denganku pada ketika ia sedang bersetubuh dengan suaminya, dan hal itu cukup membantunya dalam mencapai kepuasan orgasme.

Dan tentu saja kondisi ibarat itu membuatnya tersiksa, tersiksa dikarenakan telah berkhianat terhadap suaminya dengan membayangkan pria lain pada ketika sedang bermesraan dengan suaminya. Semakin betambah hari, godaan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dariku semakin besar karena ia tidak bisa mendapatkannya dari suaminya. Dan akhirnya ia menjadi sering merindukanku. Tentu saja hal ini merupakan siksaan gres baginya.

Itulah sebabnya, satu bulan setelah peristiwa di hotel, Fatma tidak terlihat membenciku. Bahkan secara sembunyi-sembunyi ia sering memperhatikan dan menatapku dengan tatapan penuh kerinduan.

Dia tidak marah lagi bila didekati olehku, bahkan ia tersenyum penuh arti bila bertatapan denganku. Hal ini tentu saja membuatku bahagia Namun perubahan itu, tidak membuat tingkah lakunya berubah.

Tetap saja Fatma menampilkan sosok wanita berjilbab yang anggun dan sholehah. Hingga pada waktu istirahat siang, dimana rekan-rekan sekantor sedang keluar makan siang, Aku mendekati Fatma yang kebetulan ketika itu belum keluar ruangan untuk beristirahat dan dengan hati-hati saya berkata padanya

“Bu…, maaf saya atas kejadian waktu itu…!”

Aku berharap-harap cemas menunggu reaksinya…, namun akhirnya ia menjawab dengan tanggapan yang sangat melegakan,

“Sudahlah Pak, itu semua karena kecelakaan…, saya juga minta maaf…, karena tadinya menganggap, itu semua yakni kesalahan bapak…., setelah saya pikir…, sayapun bersalah karena membiarkan itu terjadi…”.

Dan selanjutnya sambil tersenyum manis, ia mohon ijin padaku untuk istirahat makan siang. Dan meninggalkan diriku di ruangan itu. Sejak ketika itu terjadi perubahan drastis atas sikapnya terhadapku, ia menjadi sering tersenyum manis padaku…, bisa diajak ngobrol olehku, bahkan kadang kala membalas kata-kata canda yang saya lontarkan padanya..

Tentu saja perubahan ini, menjadikan pikiran lain pada diriku…, Ya… pikiran untuk bisa kembali menikmati tubuhnya…., tapi bagaimana caranya…?

End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
3

Cerita Dewasa Ketagihan Dientot Sama Paman

Cerita Dewasa Ketagihan Dientot Sama Paman - Kumpulan kisah sex terbaru, kisah ngentot janda, kisah seks tante, kisah mesum abg, kisah panas selingkuh, pemerkosaan perawan dan kisah sampaumur hot lainnya yang diambil dari kisah faktual untuk menghibur pembaca Cerita Sex Bergambar. lihat juga bacaan sebelumnya yang tak kalah seru untuk di baca : Pengalaman Ngesex Pertama Kali yang Berkesan.

Cerita Dewasa Ketagihan Dientot Sama Paman

Cerita Sex - Cerita ku ini bermula ketika saya sedang memenuhi panggilan interview pekerjaan di pusat kota Surabaya, meski lulusan sebuah perguruan tinggi tinggi yang cukup ternama di Malang, namun berpuluh kali saya mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.
Cerita Dewasa Ketagihan Dientot Sama Paman Cerita Dewasa Ketagihan Dientot Sama Paman
Cerita Dewasa Ketagihan Dientot Sama Paman

Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya namun sudah ku anggap saudara sendiri alasannya ialah mereka cukup baik pada keluargaku dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan saya memanggil mereka Paman dan Bibi, hari itu kebetulan saya sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.

Oh ya.. namaku Rinelda. 24 tahun. Aku pernah menjadi Finalis Putri sebuah kontes kecantikan di malang, Aku pernah menikah tapi belum mempunyai anak alasannya ialah usia perkimpoianku gres berjalan 4 bulan dan sudah 3 bulan ini menjanda alasannya ialah suamiku sangat pencemburu risikonya ia menceraikan saya dengan alasan saya terlalu mudah bergaul dan gampang di ajak sahabat laki-lakiku.

Dari sahabat dan suami saya mendapat kebanggaan bahwa saya cantik, tubuh yang cukup sintal dengan tinggi 173 cm mulus dan 2 bongkahan Susu yang tak terlalu gede tapi untuk ukuran seorang janda tak mengecewakanlah, cocok dengan body ku yang cukup atletis. Soal sexs, dulu setiap ber “ah-uh” dengan suamiku saya merasa kurang, mungkin alasannya ialah gairah sex yang kumiliki sangat berpengaruh sehingga kadang kala suamiku yang merasa tak bisa memuaskan tempikku, meski saya bisa orgasme tetapi masih kurang puas!

Kulihat jam di tangan ku sudah menandakan pukul 16.15 menit, saya sedikit dongkol alasannya ialah seharusnya saya sudah dipanggil semenjak pukul 15.00 tadi, padahal saya sudah datang semenjak pukul 14.30 tadi. “He..eh” saya pun Cuma bisa menggerutu sambil mencoba untuk memahami bahwa saya butuh kerja untuk ketika ini.

“Hallo!” bunyi perempuan mengagetkan ku dari lamunan.
“Ya !” jawabku sambil berdiri. Sejurus saya memandang kearah perempuan itu, Cantik!
“Nona Rinelda ?” beliau bertanya sambilmengulurkan tangan mempersilahkan saya kembali duduk.

Beberapa ketika kami berbicara dan ku tahu namanya ialah Rifda, beliau memakai jam gede di tangan kanannya, dengan nama dan pakaian yang lumayan seksi mengingatkan ku pada sahabat SMP ku di Malang, ternyata beliau mengaku seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan dan sedang mencari model, setelah berbicara perihal diriku panjang lebar risikonya beliau berkata bahwa saya cocok untuk menjadi salah satu Modelnya. Akhirnya saya menerima kepastian esok hari saya akan bekerja, saya pun berjalan pulang dengan langkah seolah lebih ringan dari biasanya.

Sesampainya di jalan sebelum rumahku , sekedar anda tahu bahwa semenjak saya mencari kerja saya tinggal di rumah Bibi Tatik saudara dari Ibu ku. Ada beberapa anak muda bergerombol, ketika saya lewat di depannya, mereka menatapku dengan mata yang seperti mengikuti gerakan pantatku yang kata teman-teman ku memng mengundang mata lelaki untuk meremas dan mendekapnya.

“Wuih, kalau saya jadi suaminya ga tak bolehin beliau pake celana dalam !” Ucap salah satu dari mereka namun terdengar terperinci di telingaku.
“Rai mu ngacengan!” timpal temannya, disambut tawa teman-teman lainya.

Sampai di rumah pukul 18.30. saya eksklusif mandi untuk mengusir kepenatan dan panas yang hari itu kurasa sangat menyengat.
“Gimana hasil kau hari ini Rin?” ku dengar bunyi Bibi Tatik dari dalam kamarnya.
“Besok saya sudah mulai kerja Bibi?jawabku.” kerja yang benar jangan melawan sama atasan terima saja perintah atasan alasannya ialah mencari pekerjaan itu sulit dan yang penting kau suka dan menikmati apa yang kau kerjakan?kata-kata dan wejangan dari orang bau tanah pada umumnya namun ada poin tertentu yang terasa ganjil menurutku.

Sosok Bibi Tatik ialah Wanita yang dalam berbicara cukup seronok apalagi kalau berbicara dengan cowok di kampungnya sekitar 38 tahun an, cukup seksi dalam penampilannya, suaminya ialah seorang PNS di KMS, beliau pun juga tak kalah ngawur kalau berbicara yang berbau saru dengan Bibi atau teman-temannya. Tak berapa lama setelah ngobrol saya pun beranjak ke kamar,

Kamarku sendiri ialah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek. Sekitar pukul 22.30 an saya mendengar bunyi abnormal bercampur derit kursi menyerupai didongong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis, sejenak kuperhatikan secara seksama bunyi tersebut dan saya penasaran dengan bunyi tersebut.

Sedikit kubuka pintu kamarku, betapa kaget setelah mengetahui Bibi sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya sementara Paman di depannya sambil memegang kedua kaki Bibi pada bahu sedangkan pantat nya bergerak maju mundur..

“Och?u..o..” bunyi yang keluar dari ekspresi Bibi. Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya, badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana alasannya ialah gres kali ini saya benar-benar melihat hal ini live di depan mataku. Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu melaksanakan sambil duduk risikonya Paman menarik kontolnya dari dalam Tempik Bibi, Yak ampun ternyata kontol nya lumayan gede lebih gede dari pada milik mantan suamiku yang biasa mengocok isi tempikku, akhir-akhir ini saya sering nonton BF ketika Paman dan Bibi sedang kerja, pernah sekali saya hampir kepergok oleh Paman ketika saya sedang nonton BF sambil mempermainkan liang nikmatku, namun ternyata Paman tidak peduli dan mungkin mengetahui bahwa saya seorang wanita yang butuh kesenangan pada salah satu bab tubuhku, namun ketika itu Paman hanya tersenyum sambil mengambil sesuatu dari dalam kamarnya yang mungkin tertinggal dan segera pergi lagi.

Kusaksikan Bibi mengambil posisi menungging dengan kedua tangan nya memegang kursi di hadapannya “ayo mas cepet keburu tempiknya kering” pinta Bibi dengan bunyi yang pelan mungkin supaya orang luar tidak mendengar dan mengetahui tapi kenyataanya saya malah menyaksikan dan memperhatikan secara detil apa yang mereka perbuat. Kulihat kali ini Paman mengeloco kontolnya sebelum dimasukkan ke tempik yang sudah minta di jejeli tersebut.

“Ach?ack?sh” bunyi yang keluar dari ekspresi laki-laki tersebut. risikonya kulihat lagi serpihan itu dari belakang alasannya ialah mereka menmbelakangi kamarku. Ada yang berdenyut pada tempikku tanpa terasa tangan ku masuk ke dalam celana dalam yang kupakai, ku tekan pada itilnya “ahk” terasa geli dan benar terangsang tempikku kali ini. Aku tersenyum menerima pengalaman ini.

“Tempikmu… ue.nak .Tik pe… res… kontol ku” kata kata terputus dari Paman seolah tak kuasa menahan nikmat yang dirasakannya.
“Lebih cepat… mas… cep… at!” Bibi pun seakan mengharapkan serangan dari suaminya lebih mahir lagi.

“A… ach… saya keluar ma… s!” bunyi Bibi terdengar setengah berteriak.Wanita itu terlihat melemas tapi Paman tetap menggenjot dengan lebih giat kali ini tangan nya memegang pantat Bibi yang lingkaran mulus itu dan risikonya laki-laki itupun menekan kontolnya lebih dalam kearah tempik didepannya tersebut. Sambil menahan sesuatu.

Ketika konsentrasiku tertuju pada kontol dan tempik yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot Bibi menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum, ?hek?aku kaget setengah mati segera ku tutup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke kawasan tidurku, beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara resah dan takut alasannya ialah mungkin kepergok ketika mengintip tadi. Aku kecewa alasannya ialah tidak melihat bagaimana raut muka Paman ketika mencapai puncak kepuasan.

Terasa ada yang berair di selangkanganku ketika saya menyaksikan serpihan tadi, ?yah saya terangsang?terakhir kali saya mencicipi nikmatnya berburu nafsu dengan suamiku ialah hampir 4 bulan yang lalu.

Memang saya mudah terangsang kalau melihat hal-hal yang berbau porno. Sering kali saya melaksanakan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar dan memiliki batang kontol yang kokoh tegak berdiri dan risikonya saya memasukkan sesuatu ke dalam tempikku yang seolah lapar akan terjangan kontol laki-laki, tapi terkadang saya merasa ada yang kurang dan memang saya butuh kontol yang sebenarnya, Tanpa kupungkiri saya butuh yang satu itu. Kulihat jam didinding kamarku menandakan pukul 11.35, ya ampun besiok saya kan mulai kerja! Sialan gara-gara kontol dan tempik perang diruang tamu risikonya saya tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas apa? “ah sialan!” umpatku dalam hati.

Pukul 04.30 saya terbangun, ketika akan membuka pintu kamar saya teringat akan kejadian yang gres saya saksikan semalam, pelan-pelan kubuka ternyata tak kulihat orang diluar, saya eksklusif menuju dapur untuk memulai acara pagi, terkadang saya harus membantu memasakkan sarapan pagi dan menyapu lantai sebelum menjalankan altivitasku sendiri, saya merasa ialah suatu vyang lumrah alasannya ialah saya menumpang disini.

Aku berjalan melewati depan pintu kamar Bibi yang terbuka lebar, sekali lagi saya terhenyak kali ini saya menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali, kulihat senyum di bibir Bibi Tatik, tanda kepuasan atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.

Di kamar mandi saya kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku “terus terang cukup terangsang” apalagi kalau mengingat kontol yang gede milik Paman. “ahh” rupanya tangan ku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya, tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bab atasnya, “sialan!” pikirku dalam hati. Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu yang mulai mengusik alam pikiran ku.

Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku, kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti saya harus kerja keras di kantor.
“Jaga diri baik-baik Rin” kata Bibi sambil menepuk pundakku,
“Eh.. iya.. Bibi Rinel tahu kok” kataku sambil ngangguk. Kulihat Bibi gres keluar kamar dengan mengenakan handuk pada bab susu hingga atas lulutnya wajahnya tampak masih berseri meskipun tampak kecapean.

“Edan udah jam 7!” pekikku dalam hati.
“Bibi saya berangkat dulu” pamit ku.
“Yo ati-ati Nduk ingat ikuti dengan baik perintah atasan lakukan dengan baik tanpa banyak kesalahan?katanya sambil tersenyum padaku, senyum itu penuh makna sama menyerupai tadi malam.
“Enggeh Bibi… ” saya pun keluar rumah menuju kawasan kerjaku yang baru.

Dari depan kantor itu saya berjalan menuju pos sekuriti,
“Permisi” saya mendekati seorang sekuriti,
“Ada yang bias saya Bantu mbak?” Tanya nya dengan sopan. Tubuh yang lumayan atletis tangan yang kekar serta tonjolan di bawah perutnya cukup menantang dibalut celana yang agak ketat di bab pahanya.

“Ruangan Ibu Rifda dimana ya?” tanyaku.
“Bu Rifda Miranti? pasti sampeyan mbak Rinelda!” terlihat senyum dibibirnya masih dengan ramah dan sopan. Aku cuma mengangguk.

“Tunggu sebentar mbak” sambil mengangkat intercom di depannya, ketika beliau berbicara dengan seseorang saya melihat suasana sekeliling “Kok sepi ya?” tanyaku dalam hati.
“Sebentar lagi karyawan Ibu Rifda akan menemui mbak, silahkan menunggu” katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar. Ketika saya gres akan meletakkan pantatku saya melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini, tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran, kuperhatikan sekuriti tadi kulihat beliau berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku, tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita
“Rinelda?”
“Saya” jawabku sambil memalingkan muka kea rah datangnya bunyi tadi,
“Hai, kau mau kerja disini?” tanyanya lagi.

“Lho Agatha, kau kerja disini ya?” kataku sambil kenbali bertanya
“Tadi saya disuruh sama bu Rifda untuk menemui kamu, ayo ikut aku!” sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Rifda.

“Tunggu sebentar ya” kata Agatha. Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika beliau masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik, berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.

“Masuk Rin” Agatha membuka pintu lebih lebar. Ternyata didalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya ?nah ini beliau cewek gres yang saya dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Rinelda?kata bu Rifda sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.

“Rin, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kau dalam memakai barang mereka” saya segera mengambil kesimpulan bahwa mereka ialah desainer atau rekan kerja bu Rifda. Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,
“Rif, kami perlu kerja di dalam studio” kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera. Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.

“Tunggu sebentar ya Rin” kata bu Rifda sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha. Aku melamun sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut, ketika melewati ruangan yang gres di masuki oleh tiga gadis dan seorang lelaki tadi saya mendengar bunyi tertawa wanita kegelian dari dalamnya, ku coba untuk mendekat pada ruangan itu, saya semakin penasaran lerja macam apa kok suaranya seperti… Yah saya ingat bunyi itu menyerupai desahan Bibi Tatik semalam! Kucoba lebih bersahabat untuk mengetahuinya tapi… “Rin?” tiba-tiba Bu Rifda sudah berada di sampingku.

“Ada yang mau saya tunjukan padamu” katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya, tertulis didepan pintu ruangan tersebut.
“Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi??tanyaku dalam hati. Didalam ruangan itu terdapat banyak Foto diatas meja.

“Duduk Rin?katanya mengetahui saya sedang menunggu dipersilahkan.
“Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis?tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah selakangku. ?ah..ya..?dia menunjuk kearah belakangnya. Aku eksklusif bergerak ke sana, masuk kamar kecil itu saya eksklusif melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh??Suara khas air

yang keluar dari tempikku, ketika ku jongkok saya mendengar samara-samar bunyi laki-laki.
“Aah?uh?ya ?ayo..terus ?sedot?ah nah gitu dong? setelah itu terdengar bunyi wanita tertawa, segera lu ceboki tempikku, kuangkat kembali CD, sebentar saya melamun sambil mencari asal bunyi tadi, setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu rifda sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang bahwasanya pekerjaan disini, ketika ku berjalan mendekati meja bu Rifda kulihat wanita itu sedang berganti pakaian, kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan pantatnya lingkaran putih cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa beliau ialah wanita yang sempurna.

“Maaf bu” kataku,
“Oh tidak apa-apa kok Rin, bisa tolong ambilkan itu” katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya, “ini bu?” kulihat sebentar ini ialah baju yang sering dipakai oleh pemain drama luar negri “ah” saya teringat ketika saya melihatnya di sebuah film BF. Aku berikan padanya dan beliau memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.
“Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin alasannya ialah target penjualan kita ialah kaum Pria” kata nya sambil membenahi pakaianya,

“Hari ini ialah ketika dimana kau akan menjadi seorang entertainer menyerupai gadis-gadis diluar tadi” , saya mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya;
“Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?” tanyaku,
“Kenapa?” beliau balik bertanya,
“Kamu mau tahu peran dia?” katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,

“Tugas beliau ialah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya” katanya sambil menunjuk sebuah televise berukuran raksasa di belakangku, betapa kaget saya melihat apa yang terpampang dihadapanku, ternyata Agatha sedang bergumul dengan laki-laki di

sebuah ruangan kosong yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu, setengah tak percaya kembali kulihat kea rah bu Rifda, beliau hanya tersenyum sambil matanya berbinar-binar seolah berangasan alasannya ialah melihat kejadian di layer tersebut, saya segera mengetahui apa yang sedang dan akan kualami maka saya berjalan menuju pintu keluar, tapi apa yang ku dapat pintu itu terkunci! Aku menoleh kearah wanita itu tapi wanita itu hanya tersenyum sambil matanya tetap menyaksikan serpihan Agatha dan laki-laki itu dihadapanya.

“Kamu bisa berteriak kalau kau mau tapi itu tak akan berkhasiat alasannya ialah seluruh ruangan disini telah kedap jadi tak akan ada yang mendengar” katanya.
“Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu atau kalau tidak saya panggilkan satpam didepan supaya membuatmu diam?kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam. Aku pun telah paham bahwa saya tak bias berbuat apa-apa, ketika terduduk saya dihampiri oleh wanita itu dan tanpa kusadari beliau telah menarik tangan ku kebelakang dan mengikatnya dengan tangkas, saya berontak tapi tak bisa alasannya ialah kursi yang ku duduki besar dan berat, risikonya saya terdiam.

“Sudah kita nikmati saja tontonan yang disuguhkan sahabat SMP kau itu” katanya, sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak perihal aku, Agatha ialah temanku ketika duduk di dingklik SMP di Malang, beliau ialah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya sahabat cowok yang cukup banyak, dan beliau pun telah kehilangan keperawanannya ketika perayaan kelulusan di suatu program yang diadakan oleh teman-temannya,
“Kurang ajar, kenapa saya harus melewati hari yang menyerupai ini?” kataku dalam hati.

Dari layer raksasa dhadapanku kulihat Agatha sedang duduk di atas pria itu sambil menaik-turunkan pantatnya yang bahenol.
‘Oh… oh… ouh… ha… enak maass??tiba-tiba bunyi Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Rifda menikan volume pada remote controlnya.

“Ga seru kalau tidak ada suaranya ya Rin?” kata wanita itu namun saya tak mempedulikan kata-katanya. Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu, tapi bunyi yang menarik hati nafsu itu tetap terdengar.
“Setiap saya kesini… kurasa… tempik kau masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah” bunyi laki itu tersendat-sendat.

“Tapi kontol mas?kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…” bunyi Agatha tak terselesaikan.
?Jangan munafik Rin kau past terangsang kan?” lagi bunyi Rifda terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…
“Perempuan macam apa kau Rif?” kataku tapi tak kudengar tanggapan darinya yang kudengar hanya bunyi beliau sedikit tertawa.

Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak
“Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!” kali ini saya mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang ketika ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha, kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya sementara laki-laki itu menekan-nekan kontolnya yang besar itu maju-mundur ke arah tempik Agatha yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu, cukup lama mereka saling mengimbangi gerakan maju mundur itu satu sama lainnya, akhirnya…
“Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!” nampak Agatha telah mencapai puncak orgasme tubuhnya terlihat sedikit melemah namun si lelaki itu terus mengocok kontolnya yang masih menegang itu sambil tangannya memegang bongkahan pantat Agatha, saya sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di tempikku, seandainya tanganku tidak di ikat pasti saya sudah memegang itil kecil ku.

“Ackh… sh… oh… sh… ” nampaknya laki itu sudah memuntahkan pejunya di dalam tempik Agatha. Tiba-tiba Rifda mematikan layer tersebut dan berkata
“Gimana Rin, apa yang kau rasakan pada Tempikmu?” seolah mengetahui apa yang saya rasakan.

“Lepaskan! Aku mau keluar dari kawasan ini!” teriakku menutupi rangsangan yang saya rasakan.
“Keluar? sebentar, ada yang mau saya perlihatkan sama kamu!” lalu beliau menekan kembali remote di tangannya kea rah layer raksasa di dan… “ya ampun!” ternyata Bibi Tatik!
Mengenakan baju berwarna merah menantang menyerupai yang dipakai oleh Rifda, beliau sedang sibuk mengulum kontol seorang laki-laki disebuah ruangan yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus, ku lihat Pria itu memegang kepala Bibi supaya lebih cepat emutannya, sementara tangan kiri
Bibi mempermain kan tempiknya sendiri.

“Eh… eh… e… gm… emph… !” bunyi wanita dilayar itu menyerupai menikmati kontol yang panjang dan besar di dalam mulutnya.
“Itu di rekam 2 hari yang lalu” kata Rifda menyerupai sedang menerangkan sesuatu padaku.
“Maksudmu?” tanyaku,
“Lihat dulu gres komentar sayang!” saya pun kembali menyaksikan serpihan di depanku itu, belum pernah saya menyaksikan orang yang saya kenal berbuat dengan orang lain menyerupai yang dilakukan oleh Bibi dan Agatha.

“Kontol mu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !” kali ini Bibi nampak gemas memegang kontol besar itu dengan kedua tangannya, kontol Pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik Paman yang kulihat semalam kelihatan kokoh berdiri dan lebih berotot apalagi kepala kontol Pria ini nampak besar dan mengkilap alasannya ialah sinar dari kamera, nampak sekali bahwa pria itu sangat menikmati emutan ekspresi Bibi, mendengar bunyi Bibi dan laki-laki itu saling ah..uh.. membuat saya jadi terangsang, saya jadi salah tingkah karenanya, ku toleh ke arah Rifda ternyata wanita itu sedang sibuk memasukan sesuatu kebawah tubuhnya kutahu beliau sedang mencari kenikmatan di tempiknya mengetahui saya melihatnya wanita itu mendekati saya dang menandakan sebuah tongkat kecil yang mirip… kontol!

“Kamu akan suka dengan yang menyerupai ini sayang” katanya sambil menarik kedua kakiku hingga saya terlentang di atas kursi besar itu.
“Tenang Rin, cari nikmatnya dulu ya” saya membisu dan tak terlalu banyak bergerak saya tak tahu mengapa saya membisu dengan perlakuan Rifda di hadapanku kali ini, Rifda mengosok-gosokkan kontol mainan itu ke arah selakanganku, saya menggelinjang geli karenanya, saya tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar! Dia membuka resleting celanaku, sekali lagi saya membisu saya terangsang terasa tempikku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu. Dengan tangkas Rifda sudah menarik ke bawah celana yang kupakai, diringi bunyi desahan nikmat yang disuarakan Bibi Tatik dari layer didepanku

“Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!” kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi tempik Bibi yang mengakang memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula bunyi ekspresi laki-laki itu berkecipak. Nampak bokong Bibi yang lingkaran itu diangkat supaya ekspresi laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya. Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa hambar ternyata Rifda telah sukses melepaskan CD ku.
“Wah ternyata Jembut kau tebal juga Rin” kata Rifda kemudian tangannya menyentuh ekspresi tempikku, terasa hangat tangannya, kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya, sudah kepalang berair kubiarkan apapun yang dikerjakannya,

Saat Rifda sedang sibuk meng emek-emek tempikku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan mennjadi sangat terang, dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini. Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.
“Rin, rupanya kau sudah mencicipi kenyamanan di ruangan ini” ternyata saya kenal bunyi laki-laki dari belakangku yah itu bunyi Paman! tanganku berusaha menutupi bab bawahku yang menganga alasannya ialah ulah Rifda.
“Sudah nikmati saja, toh saya tahu kau butuh yang menyerupai ini” kata Paman sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang. Kupegang dan tahu apa yang saya pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.

Aku membisu memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitar ku ketika ini, ketika kuterdiam ternyata Rifda berdiri di depanku dengan menggerakan pengecap ke bibir sambil memainkan celah tempiknya dan matanya menatap ke arah Paman, laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Rifda dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang pantat Rifda.
“Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon supaya tempiknya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !” kata Rifda sambil melihatku, tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut kontol Paman yang sudah mulai kembali menegang, sementara tangan Paman meremas-remas susu Rifda yang Cuma terbuka pada putingnya sementara saya tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.

“U… uh” kata Rifda gemas mengocok kontol di tangannya.
“Sudah, eksklusif aja masukin kontolmu pak!”

“Lho Rin, tempik Rifda sudah basah! Kamu ga pengin niih?” Kata Paman yang mempermainkan tangannya di sekitar tempik Rifda. Kusaksikan gerakan Rifda membalikkan badannya memnbelakangi tubuh Paman, dengan cukup sigap Paman segera menggiring batang kontol yang dipegangnya kearah tempik Rifda yang berada ditengah bongkahan pantat mulus Rifda yang sudah menganga alasannya ialah bibir tempiknya di kuak sendiri oleh tangan kanannya sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bab atasnya.
“Hrm ouch… masukin… te… rus… ah hingga men… tock pak!” kata Rifda sambil menarik pantat Paman supaya segera menekankan kontolnya lebih dalam.

Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak susu Rifda bergerak-gerak alasannya ialah gerakan tubuhnya sementara kontol Paman yang sedang berusaha memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.

“Ah?” kontol itu sudah karam kedalam tempik rifda Paman kemudian menarik kontolnya pelan-pelan tampak olehku buah pelir kontol itu menggelantung.
“Sabar ya Rif, sebentar… ” kata Paman sambil menoleh kea rah ku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata.”Tunggu giliranmu”.

“Betapa nikmat kalau kontol itu bersarang pada tempikku” kembali saya sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol. Aku mulai menggepit paha supaya tempikku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka, andai tangan ku tak terikat mungkin saya sudah melaksanakan sesuatu yang nikmat!

“Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!” teriakan nikmat Rifda sambil menggerakan bongkahan pantatnya kekiri ?kanan mengimbangi sentakan Paman.
“Plak… plak… ” bunyi benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak tempik Rifda yang diterjang kontol gede itu seolah bersorak senang.

Saat ku sedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit kutari tangan kananku dan terlepas! Sebentar saya resah apa yang harus kulakukan, namun diluar kesadaran ku ketika itu ternyata saya tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan mennghentikan ku, yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu. Aku butuh keprluan biologis itu! Aku butuh kontol yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya bukan menyerupai yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi! Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan Paman dab Rifda didepanku, Rifda nampak sangat menikmati genjotan Paman dari arah belakang.

‘Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !?
“Tempik nakal… nakal… nakal… ” kata Paman setiap kali si kontol menerobos tempik Rifda.
Kulihat tongkat mainan persis kontol yang diletakkan dimeja oleh Rifda, tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat Paman dan Rifda, kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada tempikku, tak kuhiraukan segalanya!

Aku tersenyum alasannya ialah saya merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku ketika ini, kali ini saya bermaksud memasukkan kontol mainan lembut ini pada liang tempikku dan…
“Eh… auch… ” bersamaan dengan sodokan Paman pada tempik Rifda setiap Paman menarik kontolnya kutarik pula mainan ini dari tempikku.Saat saya sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum, sambil berjalan beliau melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya. Kukeluarkan pelan-pelan kontol mainan dari dalam tempikku.

Aku membayangkan isi didalam celana itu ialah kontol besar menyerupai yang dirasakan oleh Agatha tadi, yang pasti akan memberi kenikmatan pada tempikku yang sangat merindukan kontol, kutatap matanya seolah saya memberinya ijin untuk segera menyerang tubuhku, saya sadar bahwa semua perbuatanku ketika ini akan direkam dan disebar luaskan, saya tak pedulikan itu saya Cuma butuh laki-laki ketika ini yang bisa membuatku menggelepar penuh kenikmatan! Ketika Rifda mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang kontol laki-laki itu.

“Tempikku… masih… cukup… ah..ah… untuk… kontolmu… auh… Rudi… say… ang… eh… ” Rifda berkata sambil menikmati sodokan Paman. Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan kontolnya kemulut Rifda.

“Ech… mpfh… Rud… empfh… di..kont… tol… ” tampak ekspresi Rifda menyerupai kewalahan menelan sebuah Pisang yang besar, saya segera berdiri dan menghampiri mereka, yaah saya tak rela kalau kontol dihadapanku ini akan di telan juga oleh tempik Rifda dan saya lagi-lagi jadi penonton, Rifda dan Paman tidak terlalu kaget melihatku.

“Oh… rupanya kau gres bisa lepas dari tali tadi ha… ha… ha!” Rifda tertawa setelah kontol dimulutnya terlepas setelah laki-laki berjulukan Rudi itu membalikkan diri padaku tampak kontol besar setengah mengacum itu mengarah padaku.
“Wao… ” Tanpa kuhiraukan si Rudi saya eksklusif jongkok didepannya dan bersiap mengulum Kontol idamanku itu.

“Lihat pak… ah… si… ja… ech… janda… tak tahan… juga… a yes… !” kata Rifda
seolah senang dengan apa yang kuperbuat, kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur, kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,
“Ach… ternyata bakir juga kau mempermain kan kontol dengan mulut.
“Oh… !” tangan Rudi mulai meremas pentil susuku yang mulai mengeras.

Aku memang bakir melaksanakan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu bahwa mulutku sangat mahir dal;am hal ciuman bibir dan mengulum kontolnya bahkan sering kali ketika oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.

“Ehm… ehm… ehm… ” Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini! “Oh… oh… ya… ouh… ” Rudi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala kontolnya, sambil menunjukkan Rudi kenikmatan kulihat Paman semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.

“Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… ” kata Rifda, matanya
merem-melek menahan sesuatu yang keluar dari dalam tempiknya. Saat Rifda mulai sedikit lemas ternyata Paman mengeluarkan kontolnya dan melihat kearah Rudi seolah mengetahui maksud Paman Rudi pelan-pelan menarik kontolnya dari mulutku, yah Paman menuju kearahku sedang Rudi menuju tubuh Rifda, saya ragu apakaha saya akan melakukannya dengan orang yang sudah saya anggap sebagai orang tuaku ini, namun Paman ternyata eksklusif menarik pantatku hingga tuibuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan kontolnya berada tepat didepan tempikku, mengetahui saya sudah terangsang dengan sekali tekan kontol Paman segera menerobos lobang tempikku sesaat terasa sakit

“Adu… h… pelan-pelan… dong Paman… !” Teriakku.
“Ah sorry Rin, lupa aku, tempik kau sudah lama tak terisi ya! Tahan sebentar ya… kau tahu ini ..enak..” kata Paman sambil menarik kontolnya dari dalam tempikku, saya merasa seluiruh isi tempikku tertarik.

“Pelan-pelan… ” kataku lagi, tapi ternyata Paman eksklusif menggenjot kontolnya itu keluar masuk. Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat
“Ah… a… ayou… lagi Paman… terus… sh… haa… ” yang kurasakan tempikku jebol
luar dalam namun ennaak sekali, sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang menyerupai ini, saya tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku. Saat sibuk menikmati sodokan kontol di tempikku sempat kulihat Rudi memompa pantatnya sementara Rifda mulutnya terbuka menahan nikmat yang akan beliau dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat sehingga memudahkan kontol gede milik Rudi mengobrak abrik isi tempiknya, tak berapa lama Rifda sudah memekik…

“Sudah Rud… aku… ah… !” tampak Rifda sudah mengalami orgasme yang keduanya. sementara kulihat muka Paman memerah menahan sesuatu
“Rin… torok… kamu… serr… et… saya tak… tahan… ah” Paman rupanya sudah menerima ganjaran alasannya ialah berani memasukan kontolnya ke milikku yang memang masih peret, beliau menarik kontolnya dan mengeluarkan pejunya pada Susuku dan wajahku
“Ah… ah… ” teriak Paman setiap kali cairan itu keluar dari kepala kontolnya.

“Ya… Paman… !” kataku kecewa, saya belum merasa orgasme! Tak kuhiraukan Paman sibuk dengan kontolnya yang mulai mengecil, ketika kumandang Rudi yang mengocok kontolnya sendiri beliau tersenyum padaku dan risikonya kontol yang cukup gede itu datang padaku, tangan Rudi memegang pantatku, saya tahu beliau ingin posisi anjing nungging, kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi, tak nerapa lama kontol Rudi sudah digesekgesekkan pada pantatku yang putih mulus,
“Ayoh Rud kau mau mencicipi menyerupai yang di rasakan Paman?” kataku nakal, saya tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti saya mendapatkannya ketika ini, risikonya Rudi pun memasukan kontolnya ke dalam tempikku.

“A… euh… ah… em… ya… ” kontol yang menerobos di bawahku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam tempikku. Pantas Rifda ekspresi Rifda tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.
“Eh… eh… eh… ” Rudi menekan maju mundur kontolnya sementara tangannya meremas susuku dan bibirnya mencium punggungku, cukup lama Rudi menggenjot tubuhku dari belakang, kini beliau memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya dengan mengangkat kaki kiriku beliau memasukan kontolnya dari depan

“Ya… h… he… he..lagi… lagi… ” nafasku terengah-engah menahan serangan Rudi yang belum pernah ku lakukan dengan mantan suamiku dulu. Sensansi yang luar biasa saya dapatkan dari laki-laki ini, sentakannya sangat mantab dan sodokkan kontolnya sangat luar biasa
“Rud… puaskan… puaskan… a.. ku… kontol… Ter… us… sh… ” kata-kataku tak terkontrol lagi alasannya ialah tempikku mencicipi hal yang sangat luar biasa dan belum pernah saya mencicipi yang menyerupai ini. Akhirnya saya merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…
“Aku… ae… kelu… ar Rud… ah..” Puas, saya puas! Jeritku dalam hati ini kontol yang saya harapkan setiap masturbasi, sementara Rudi tetap mengocok kontolnya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas supaya tak terjatuh,
“Pepek kamu… mem… mang… enak… ach” risikonya Rudi menarik kontolnya dari tempikku dan menyemprotkan Spermanya ke mukaku.
“Ah… hangat… enakkan… Rud?” tampaknya tempikku memuaskan Rudi.

Cahaya terang dari kamera yang merekam semua tadi tampak meng-close up muka ku yang tampak ceria!

End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
3