Showing posts with label Cerita Dewasa. Show all posts
Showing posts with label Cerita Dewasa. Show all posts

Para Bidadari Dari Surga Part 2


Sambungan dari  Para Bidadari Dari Surga Part 1

Empat

Inayah Sipta Renata

“Kita mau kemana Mas?” Tanyaku, ketika Mas Anton membelokan mobilnya kekanan, bukan kekiri kearah rumahku.

“Kita makan bentar ya! Sekalian ada yang ingin Mas omongin sama kamu.”

“Penting ya Mas?”

Dia menoleh kearahku. “Bangeet!” Jawabnya tersenyum.

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah rumah makan terapung. Mas Anton segera memakirkan mobilnya, kemudian ia mengajakku nemilih daerah yang agak mojok, menghadap langsung kedanau.

Tak lama pelayan menghampiri kami, Mas Anton segera memesan bebek bakar beserta dua jus mangga.

“Emang Mas mau ngomong apa si?” Tanyaku bingung.

“Mas resah mau mulai dari mana.”

“Tumben, Mas grogi ya?” Godaku, ia tertawa renyah kemudian menggenggam erat tanganku.

“Gimana gak gerogi kalu di erat Mas ada bidadari secantik kamu.” Uh… ia lagi-lagi ngegombalin aku, tapi saya menyukainya.

“Berani?” Kuremas jemarinya dengan kuat. “Aku aduhin sama Mas Hasan loh!” Ancamku, tentu saja saya bercanda, saya tidak akan mengadukan perbuatannya, mau senakal apapun dirinya.

“Emang kau tega?” Balasnya.

Aku tersenyum, kemudian ketika saya hendak kembali menawarkan argumenku, pelayan tiba mengantarkan pesanan kami berdua.

Alhasil kami menghentikan obrolan kami, dan segera melahap habis kuliner yang ada di hadapan kami, sesekali saya mencuri pandang kearah Mas Anton, ia sangat berbeda dengan Suamiku yang lebih pendiam dan sangat baik. Kalau Mas itu Anton ini tipe cowok yang suka ngenggombal dan sangat nakal.

Kurang lebih setanga jam kemudian kami telah menyelsaikan makan malam kami, tapi kami tak langsung beranjak pergi.

Kami menghabiskan malam dengan mengobrol ringan, sesekali saya tertawa dan meringis ketika ia mulai kumat dan suka menggombaliku mirip biasanya. Tapi, ya… mirip yang kukatakan sebelumnya saya suka ketika ia menggombaliku, rasanya gimana gitu…

“Eh tadi katanya mau ngomong, emang kau mau ngomong apa?” Tanyaku teringat dengan perkatannya sebelumnya.

“Aku resah mau mulai dsri mana.”

“Udah santai aja, emang kau mau ngomongin soal apaan ni?”

“Kitakan udah lama kenal, dan lagi kita juga sudah punya pasangan masing-masing….” Dia diam sejenak, sambil menatap mataku.

Entah kenapa perasaanku jadi tak tenang. “Terus…!” Kataku tak sabar.

“Menurut kau salah gak, kalau saya jatuh cinta sama kamu. Ya… saya tau ini gila, tapi saya serius.” Dia semakin erat menggenggam tanganku.

“Maaf Mas, saya gak ngerti.” Kataku getir.

“Maafin Mas, kalau ucapan Mas ini membuat kau merasa tidak nyaman, Mas hanya ingin jujur dengan perasaan Mas ketika ini, semoga kau mau mengerti dan tidak membenci Mas.”

“Aku resah harus jawab apa Mas, kurasa Mas juga tau saya sudah bersuami, dan Mas juga sudah punya Istri, rasanya kita tidak mungkin bersatu.”

“Mas tidak meminta kau untuk menceraikan Suami kau Ina. Mas hanya ingin kau tau, kalau Mas sangat menyayangimu, dan berharap Mas bisa menjadi kekasihmu, walaupun itu hanya sebatas sebagai kekasih gelapmu. Mas tidak memita lebih.”

“Aku belum bisa jawab Mas.”

“Mas mengerti.” Ujarnya tersenyum. “Oh iya, Mas kemarin jalan-jalan gak sengaja melihat sesuatu yang menarik, Mas pikir kau pasti menyukainya, jadi Mas belikan ini untukmu.” Sambungnya, kemudian ia mengambil sesuatu di dalam sakunya.

Dia berjalan di belakangku, kemudian kulihat ia melingkarkan sesuatu di leherku.

Ini… kalung berlian, saya tau ini harganya pasti sangat mahal sekali. Oh… Mas Anton, kau begitu mengerti apa yang kuinginkan, berbeda dengan Suamiku, jangankan membelikanku perhiasan, menafkahiku saja ia sudah tidak mampu.

“Bagus banget Mas!”

“Kamu suka?” Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Sangat suka Mas!”

“Itu untukmu… Orang yang sangat Mas sayangi!” Katanya, kemudian ia mengecup pipiku.

###

Emi Sulia Salvina

Sekitar jam 12 malam, saya terbangun alasannya adalah ingin buang air kecil. Kulihat putra semata wayangku Toni masih terlelap, tampaknya ia sedang bermimpi indah.

Sebenarnya Toni anak yang baik, jangankan menyakiti manusia, menyakiti binatangpun ia tak mampu, tapi entah kenapa tadi pagi ia sangat emosional terhadap sepupunya Irwan. Bahkan ia sempat menuduh Kakaknya sendiri yang memukulinya.

Eehhmm… Aku pasti akan mencari tau penyebabnya kenapa ia bisa mirip ini.

Oh… iya namaku Emi Sulia Salvina usiaku ketika ini 35 tahun, sementara Suamiku Andre bekerja di Jakarta, biasanya ia pulang satu bulan sekali, bahkan tak jarang lebih lama dari itu.

Karena saya tipe wanita penakut, sehingga saya selalu meminta putraku untuk menemaniku tidur berdua di dalam kamarku, ketika Suamiku sedang tidak berada di rumah. Walaupun saya tau ketika ini Toni sedang beranjak remaja, tapi saya merasa lebih aman tidur bersamanya.

Aku turun dari daerah tidurku, kemudian mengambil kerudung rumahan berbahan kaos.

Perlahan saya melangkah keluar kamar semoga tidak membangunkan putraku. Selesai buang air kecil, kulihat tv di ruang keluarga masih menyala, terakhir yang menonton adalah putraku, kupikir ia pasti lupa mematikan tvnya. Tapi ketika langkah kakiku memasuki ruang keluarga, saya mlihat ada seseorang yang sedang menonton tv.

“Irwan… kau belum tidur?” Aku menghampiri Irwan yang sedang tiduran di sofa.

Melihat kedatanganku, Irwan buru-buru bangun. “Belum ngantuk Bunda.” Jawab Irwan, sembari menggeser posisi duduknya ketika saya hendak duduk.

Aku mendesah pelan. “Ini sudah jam dua malam, nanti besok kau bisa kesiangan!” Kataku mengingatkan dirinya. Jujur saja saya masih merasa bersalah terhadapnya atas sikap anakku tadi pagi, saya takut ia masih tersinggung dengan perkataan anakku.

“Sebenarnya saya berencana mau pulang Bun, mau bantu Ibu Bapak di kampung?”

“Loh… kok pulang, kau mau pindah sekolah?”

“Gak kok Bund, saya mau bantu Bapak aja di sawah, mereka mana ada uang Bun! Lagian sekolah di kampung jaraknya agak jauh Bunda.” Tuturnya, membuat hatiku miris mendengarnya.

“Kamu uda bosan sekolah?”

Dia tersenyum getir. “Iya gaklah Bunda, sekolah itu penting buat masa depan!” Jelasnya.

“Kenapa kau mau berhenti? Kamu masih murka sama anak Bunda?” Tanyaku, ia hanya diam berarti dugaanku benar. “Bunda juga tidak mengerti kenapa Toni bisa menuduh kau mirip itu, tapi yang pasti Bunda percaya sama kamu.” Jelasku, bagaimanapun caranya saya harus bisa membujuknya untuk tetap tinggal.

Dia menggeleng pelan. “Aku tidak murka sama Toni Bunda, saya mengerti kenapa Toni mirip itu, kalaupun saya berada di posisi yang sama mirip Toni, akupun juga pasti melaksanakan hal yang sama.” Jelasnya.

“Maksud kamu?”

“Toni cemburu sama Irwan.” Katanya, kemudian ia merebahkan kepalanya di pangkuanku, tapi saya hanya diam membiarkannya tiduran di pangkuanku. “Selama ini Toni selalu di manja, selalu mendapatkan perhatian lebih dari Bunda, tapi tiba-tiba mendadak saya hadir di keluarga ini, membuat ia resah kalau nanti saya mengambil Bunda darinya.” Aku mengangguk paham maksud perkatannya.

Wajar saja kalau ada kekhawatiran yang dirasakan anakku, alasannya adalah selama ini ia tidak punya saingan untuk mendapatkan perhatian dariku, tapi tiba-tiba Irwan hadir, dan sedikit banyak mungkin anakku mulai merasa terancam dengan kehadiran Irwan, tapi yang kusesalkan adalah caranya. Dia tidak perlu menuduh Irwan semoga di usir dari rumah ini, ia hanya bersikap sedikit lebi baik.

“Maafkan Toni ya Wan!”

“Toni sudah kuanggap mirip adikku sendiri.” Jawab Irwan, sembari tersenyum kepadaku.

“Berarti sudah tidak ada duduk kasus lagikan? Kamu bisa melanjutlan sekolah di sini, Bunda pasti merasa kesepian kalau kau pulang.” Kubelai rambutnya dengan perlahan, menerangkan kalau saya sangat menyayanginya.

“Maafkan Irwan Bunda, tapi…. Irwan juga kangen Ibu.”

“Kan ada Bunda di sini, walaupun Bunda bukan Ibu kandung kamu, tapi Bunda juga sangat menyayangi kamu, sama mirip Ibumu” Jelasku, kemudian kukecup lembut keningnya.

“Aku tau Bunda, selama ini rasa kangenku terobati setiap berada di erat Bunda, tapi ada satu kebiasan Irwan lakukan sama Ibu, dan itu tidak mungkin bisa saya dapatkan dari Bunda.” Aku merenyitkan dahiku.

“Apa itu sayang?”

“Irwan malu Bunda.”

“Kok malu, Bunda akan melaksanakan apapun asal kau mau tetap tinggal di rumah ini.” Kataku sembari tersenyum kepadanya.

“Janji Bunda tidak akan marah?”

“Janji!” Jawabku cepat.

“Jujur Bunda, walaupun saya sudah besar, tapi Ibu selalu memanjakanku, bahkan tak jarang memperlakukanku mirip balita, misalkan…” Dia menggantung ucapannya. “Setiap kali saya mau tidur, saya punya kebiasaan nenen sama Ibu!” Dia mengakhirnya dengan memalingkan wajahnya kekanan.

Astaga….! Anak sebesar ini masi suka nenen?

Entah kenapa saya jadi teringat dongeng sahabatku, kalau putra bungsungnya masi suka menciumi tekiaknya atau mengendus-endus tubuhnya, kalau ia melarang putranya melaksanakan itu, anaknya pasti ngambek gak mau makan dan sekolah.

Tapi usia anaknya ketika ini masih 9 tahun dan bisa maklumi, tapi Marwan?

“Jangan dongeng kesiapa-siapa ya Tan? Marwan malu kalau sampe ada orang lain yang tau, ini semoga menjadi rahasia kita berdua.” Aku mengangguk.

Entah kenapa ada perasaan kasihan melihat Irwan yang tampak menderita, di sisi lain saya bisa mengerti dan memaklumi kebiasaannya tersebut, tapi di sisi lain diriku menolak untuk mengganti posisi Ibu kandungnya yang terbiasa membiarkan Irwan menghisap payudarahnya walaupun anak ini sudah remaja.

Tapi Irwan sudah kuanggap mirip anak kandungku sendiri, apa salahnya kalau saya melaksanakan apa yang biasa di lakukan Ibunya, toh Irwan bukan anak yang nakal.

Tapi… tapi… Aaarrr… sial kenapa saya jadi deg-degkan mirip ini, ayo Emi cepat ambil keputusan, kau ingin Irwan pulang kekampung halamannya atau kau menginginkan Irwan tetap tinggal dirumahmu?.

Bagaimanapun juga ia bukan anak kandungku, dan bisa saja nanti ia terangsang? Aah… tidak mungkin, Irwan terlalu polos untuk terangsang, lagi pula kalau Irwan hingga pulang kekampung halamannya, apa yang harus kukatakan kepada Suamiku, bisa-bisa ia murka alasannya adalah saya di anggap tidak becus mengurus Irwan.

“Irwan!” Panggilku lirih.

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja saya membuka kancing gaun tidurku, kemudian dengan perlahan kuselampirkan serpihan atas gaunku kesamping pundakku sehingga saya yang tidak mengenakan bra ketika tidur mempertontonlan payudarahku di hadapannya.

Oh Tuhan… ini untuk kali pertama saya mempertontonkan payudarahku di hadapan anak laki-laki.

“Tante serius?”

“Iya Irwan, Tante serius kok…” Jawabku sembari tersenyum membelai rambutnya.

“Irwan boleh?” Dia menggantung kalimatnya.

Aku mengangguk, kemudian Irwan beranjak bangun duduk di sampingku. Dia menatapku tajam seakan tidak percaya dengan apa yang kulakukan.

Karena melihat Irwan bengong, saya jadi kesal sendiri. “Mau di lihat hingga kapan Wan?” Tanyaku sedikit menegurnya yang dari tadi menatap payudarahku dengan tatapan nanar.

“Ma… maaf Bunda!” Jawabnya.

Lalu ia mendekatkan wajahnya, dan sedikit kemudian payidarah ranumku berada di dalam mulutnya. Ooo… Tuhan! Rasanya sangat nikmat sekali ketika payudarahku berada di dalam mulutnya.

###

Inayah Sipta Renata

Perlahan kendaraan beroda empat yang di kendarai Mas Anton berhenti tepat di depan rumahku, kulihat di luar sana Suamiku sudah menungguku. Saat melihat kedatangan kendaraan beroda empat kami, Suamiku langsung berdiri tapi ia tidak menghampiriku, kulihat mimik wajahnya tampak sumringah ketika melihat kepulanganku bersama Mas Anton.

Entah kenapa, saya menjadi merasa bersalah tehadap Suamiku alasannya telah membuatnya khawatir.

Saat saya ingin keluar mobil, tiba-tiba mirip ada sesuatu yang menghentikanku, seolah melarangku untuk segera keluar dari mobil. Aku mendesah pelan, kemudian kuputar tubuhku menghadap Mas Anton.

Maafkan saya Suamiku, tapi saya harus menjawab pernyataan cinta Mas Anton kini juga, di sini, di hadapanmu walaupun kau tidak akan melihat ataupun mendengar suaraku, tapi saya ingin kau tau kalau Istrimu kini bukan hanya milikmu seorang.

Segera saya memeluk Mas Anton kemudian mencium bibir Mas Anton.

Gila kau Ina…

Aku memanggut bibir Mas Anton sebentar kemudian saya kembali bersandar di jok mobilnya, seraya tersenyum malu-malu di samping Mas Anton.

Mas yang mengerti keadaanku sekarang, berani merangkulku, memandangi wajahku dengan jarak yang sangat dekat. “Jadi jawabannya?” Tanya Mas Anton sambil membuka satu persatu kancing pakaian dinasku hingga terlihat payudarahku yang tertutup bra.

Aku tak langsung menjawab, melainkan membuang muka kearah Suamiku yang di ikuti Mas Anton, selama beberapa detik kami menghadap kearah Suamiku. Lalu kami kembali berpandangan.

“Aku mau Mas!” Bisikku lirih.

Kemudian ia memanggut bibirku dan saya membalas pagutannya, sementara telapak tangannya menyelusup masuk kedalam behaku, meremas payudaraku secara langsung, membuatku merintih nikmat merasakan remasannya di payudarahku.

Aku semakin ganas membalas kumatannya, pengecap kami saling membelit nikmat, sementara tangannya semakin bergairah meremas payudarahku.

Rem?asannya terasa begitu nikmar, apa lagi ketika kulitnya yang bergairah menyentuh puttingku.

Maafkan saya Mas… Maafkan saya Suamiku, tapi caranya, perlakuannya membuatku merasa menjadi wanita yang sesungguhnya, bukan wanita baik-baik yang patuh terhadap Suaminya, maafkan Istrimu ini Mas.

Kami berciuman cukup lama hingga alhasil Mas Anton melepas pagutan kami ketika Suamiku mendekat.

Buru-buru saya membenarkan kancing seragam dinasku sebelum Suamiku tiba di samping kendaraan beroda empat Mas Anton. Segera saya membuka pintu kendaraan beroda empat Anton yang di sambut tatapan curiga dari Suamiku.

“Mas… Mbak… saya pulang dulu ya!” Pekik Mas Anton.

Kemudian kendaraan beroda empat yang ia kendarai menghilang di balik kegelapan malam.

###

LIMA

Inayah Sipta Renata

Hanya dengan mengenakan handuk saya keluar dari dalam kamar mandi, kulihat Suamiku sedang duduk bersandar diatas daerah tidur kami sambil memainkan hp. Dia sempat melihat kearahku yang sedang berjalan menuju meja riasku.

Aku mematut diriku di depan cermin, memandangi tubuhku dari pantulan yang ada di cermin.

Wajar saja kalau Mas Anton jatuh hati kepadaku, saya memang sangat cantik, kulit putih bersih, payudarah besar membulat. Sungguh saya begitu beruntung memiliki tubuh yang sempurna.

Dari pantulan cermin saya juga sanggup melihat Suamiku yang sedang asyik memandangiku, tapi ada satu hal yang membuatku tersenyum geli, ketika saya melihat dirinya yang sedang meremas penisnya sendiri. Duh… kalau di ingat-ingat sudah satu bulan ini saya tidak memberinya jatah.

“Pengen ya Mas?” Godaku.

Dia tersenyum kecut. “Bolehkan sayang.” Mohonnya dengan tatapan memelas.

“Mas sudah lupa sama perjanjian kita?” Tanyaku, kemudian saya beranjak dari kursi dan berjalan mendekati dirinya yang tampak kecewa.

Aku naik keatas pembaringan, kutatap wajah Suamiku yang sedang di landa birahi. Jujur saja, satu bulan tidak berhubungan badan, membuatku turut menderita, tapi saya harus menghukumnya semoga ia lebih giat lagi mencari pekerjaan.

Perlahan jemari lembutku menyentuh wajahnya, dengan sedikit menunduk saya mengecup mesrah keningnya. Kasihan kau Mas….

“Sampai kapan?” Tanyanya frustasi.

Aku tertegun sejenak. “Sampai Mas sanggup pekerjaan yang layak.” Jawabku datar.

“Kamukan tau, saya sudah berusaha, tapi memang belum rejekinya. Masak kau tega ngeliat Mas mirip ini setiap malam, punya Istri tapi tidak bisa di sentuh.” Rengutnya, rasanya saya ingin tertawa melihat ekspresinya yang terkadang kekanak-kanakan kalau ia tidak mendapatkan apa yang ia mau.

Baca Juga - Kumpulan Cerita Sex Ngentot Dengan Mama Tiriku

“Mas cintakan sama aku?” Ia mengangguk. “Mas sayangkan sama aku?” Ia kembali menunduk yakin. “Aku juga sangat mencintaimu Mas.” Lanjutku, kembali mengecup kening.

“Kalau begitu, izinkan saya menyentuhmu malam ini saja sayang!” Lagi ia merengek kepadaku mirip balita yang menginginkan susu.

“Ini demi kebaikan Mas, anggap saja ini sebagai motivasi buat Mas semoga giat bekerja!”

“Kamu jahat sayang.” Rajuknya.

Seperti biasanya kalau ia lagi ngambek, Suamiku akan memiringkan tubuhnya membelakangiku, tapi itu hanya sesaat tapi besok pasti baik lagi.

-Mas Anton
Ping
Baru sebentar udah kangeen ni…

Ya Tuhaan, Mas Anton bbm saya dan ia bilang kangen kepadaku.

-Aku
Baru juga tadi ketemunya.

-Anton
Brrti km gak kangen ya?

-Aku
Kasi tau gak ya….

-Anton
Ooo… jadi gitu ya… nanti cantiknya hilang loh.

Aku terkekeh pelan ketika membaca bbm terakhir darinya. Ada-ada saja Mas Anton ini…

-Aku
Biarin… Mas juga ya rugi

-Anto
Hahahaha…
Jadi kau kangen gak?

-Aku
Jujur… gak sabar nunggu hari besok

-Anton

Sama… Adek lagi apa?

-Aku
Lagi duduk aja ni, Mas Hasan lagi ngambek

-Anton
Ngambek, Hahaha….
Emang ngambek kenapa?

-Aku
Besok aja saya ceritaan Mas
Mas Anton lagi apa?

-Anton
Lagi mikirin kau bidadari syurgaku.

-Aku
Gombaaaal…

-Anton
Hahaha….
Gombal Maskan cuman buat kamu
Malam ini kau lagi pake apa?

-Aku
Ihk… Mas mesum  (Duh semenjak kapan saya jadi manja mirip ini.

-Anton
Gak boleh ya, habis kau ngegemesin sayang.

-Aku
Boleh kok Mas, malahan saya suka Mas gombalin.
Coba tebak saya pake apa? Kalau sayang pasti tau dong apa yang saya pake sekarang.

-Anton
Apa ya…
Kayaknya kau masi handukkan de?

Jleeek… tebakannya sangat tepat sekali, membuatku semakin mengaguminya.

-Aku
Kok bisa tau Mas (Kagetku)

-Anton
Hahaha….
Namanya juga cinta sayang
Btw, fotoin dong…

Deg… Aku terdiam sejenak, jujur saya memang sering memperlihatkan serpihan dadaku kepadanya, tapi lebih dari itu belum perna.

-Anton
Sayang….

Kulihat Suamiku masih memunggungiku, dengan perlahan saya turun dari pembaringan, kemudian berdiri di depan kaca besar yang menyatu dengan lemari pakaianku. Ayo Ina, ini demi orang yang kau sayangi….

Kuarahkan kamera kekaca lemariku yang memantulku lekuk tubuhku, lalu… Cekleek…

Fuuh… Kulihat hasilnya lumayan bagus, manis sangat seksi.

-Anton
Kamu murka sayang, kalau begitu tidak perlu. (Aku bukan murka Mas, tapi saya malu…)

Inayah Sipta Renata

Segera kukirimkan foto nakalku kepada dirinya, dan mengharapkan respon yang manis darinya, sebuah pujian darinya yang selama ini selalu membuatku melayang kelangit ke tujuh.

-Aku
Bukan murka Mas, tapi malu…

-Anton
Kenapa malu, kau seksi bidadari syurgaku.

Aku tersenyum membaca, Mas Anton memang paling cerdik memuji diriku.

Aku hendak kembali mengetikan sesuatu tanggapan untuknya, tapi tiba-tiba Suamiku sudah berada di belakangku. Buru-buru saya menyembunyikan hpku kebelakang punggungku. Bisa gawat kalau Mas Hasan hingga tau.

“Kamu bbman sama siapa sayang?” Tanyanya curiga kepadaku.

“Bukan siapa-siapa Mas, kini Mas tidur ya, ini sudah malam Mas.” Ujarku memerintahnya untuk segera tidur semoga saya bisa bebas berbbman dengan kekasih gelapku.

-Anton
Ping… (terdengar bunyi dari hpku)

“Coba Mas lihat.”

Aku menggeleng tegas. “Ini rahasi Mas, ngertiin saya ya Mas.”

“Kenapa si kok saya gak boleh lihat, ada yang kau rahasiain dari saya ya?” Katanya mulai emosi, saya meletakan hpku diatas meja kecil yang ada di samping lemari, kemudian saya menarik tangan Suamiku, mengajaknya duduk diatas daerah tidur.

Dia melengoskan wajahku, saya tau ia ngambek… Dan sumpah demi apapun, saya suka setiap kali ia merajuk alasannya adalah tidak mendapatkan apa yang ia mau dariku.

“Aku mau melihatnya.”

“Mas lagi emosi, saya gak mau ngomong sama Mas dulu, kini Mas tidur ya…” Perintahku kepadanya, ia bersungut kesal.

Lalu tanpa memperdulikan dia, saya mengambil hpku, dan membawanya keluar bersamaku dari dalam kamarku.

###

Elvina

Aku gres saja selesai memasak, dan ketika ini saya sedang menata kuliner diatas meja. Setelah semuanya siap, saya segera beranjak menuju kamar Mertuaku, hendak mengajak Mertuaku makan malam bersama.

Aku melangkah gontai menuju kamar Mertuaku, sesampainya di depan kamar Mertuaku, tiba-tiba saya tidak sengaja melihat Mertuaku yang sedang tiduran dalam keadaan telanjang bulat.

“Astaga…”

Mataku terbelalak, dadaku bergemuruh melihat tangan Mertuaku yang sedang turun naik memainkan penisnya, dan yang membuatku lebih kaget lagi, dan nyaris membuatku jantungan, dia… Mertuaku sedang menggenggam seutas kain berbentuk huruf V yang ia dekatkan kehidungnya.

Ternyata dugaanku selama ini benar, ia yang suka mencuri celana dalamku.

Mas… Tolong aku, apa yang harus kulakukan sekarang? Melabraknya… tidak… tidak… saya tak akan melakukannya, mungkin saya harus menunggu Suamiku pulang terlebih dahulu. Dan membicarakan duduk kasus ini dengannya.

“Eehmmpp… aroma memekmu yummy banget nduk, Oooohk…” Aku sangat tertegun melihat dirinya yang sedang menikmati celana dalamku.

Sambil meracau tak jelas, kulihat tangannya mengocok penisnya. Aku tau ia pasti sedang membayangkan tubuhku, menggagahiku mirip ia meniduri banyak pelacur. Tapi… Ahkk… Kenapa dengan diriku.

Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku semoga tak mengeluarkan suara.

Jujur saja, ukuran penis Bapak sangat besar, panjang dan gemuk, berbeda dengan milik Suamiku yang ternyata sangat kecil kalau mau di bandingkan dengan miliknya.

Aku jadi teringat dongeng sahabatku Aurel, ia memberikan semakin besar penis pasangan kita, maka rasanya akan jauh lebih nikmat, dan kita bisa mendapatkan orgasme berkali-kali dalam satu malam, dan lagi penis ukuran besar lebih tahan lama ketimbang yang berukuran kecil.

Apakah itu benar? Jujur saja saya tidak tau bagaimana rasanya orgasme, alasannya adalah setauku ketika Suamiku menyetubuhiku rasanya hanya geli dan sedikit nikmat.

Tapi kalau sekiranya benda sebesar itu masuk kedalam diriku, apakah bisa muat? Oh Tuhan… Apa yang telah kupikirkan, ini salah saya tak boleh membandingkan ukuran penis Suamiku dengan milik orang lain, apa lagi ini milik Mertuaku sendiri.

Aahkk… Kapan kau pulang Mas, Adek sudah gak tahan kau tinggal terus.

Kemudian mataku memicing ketika melihat tubuh Mertuaku bergetar, kemudian sedetik kemudian. “Aaaaarrr….” Creeeetss… Creetss…

Dari ujung kepala jamurnya, saya melihat lendir kental mirip susu keluar cukup tinggi dan sangat banyak sekali. Seumur-umur selama saya menikah gres kali ini saya melihat penis menembakan sperma hingga keatas dan sebanyak itu.

Milik Suamiku hanya meleleh keluar dan tak sebanyak milik Bapaknya.

Kulihat Mertuaku membersihkan spermanya dengan celana dalamku. Ooo… Tuhan, apakah diriku sebegitu cantiknya sehingga Bapak Mertuaku bisa menjadikanku sebagai objek onaninya.

Deg… Aku gres menyadari kesalahanku, ketika melihat Bapak Mertuaku berbalik dan mendapatkanku yang sedang mengentipnya bermasturbasi. Aku ingin lari tapi sudah terlambat, alasannya adalah Mertuaku sedang berjalan menghampiriku.

“Sudah lama nduk?” Tanyanya.

Aku mengangguk lemah. “Ma… Ma… Maaf… Eehmm… Anu…. itu… sudaah… sudah… siap!” Kataku gugup, sungguh saya tidak bisa mengendalikan diriku ketika ini.

Dia tersenyum hangat kepadaku. “Tidak perlu gugup mirip itu, tarik nafas, kemudian hembuskan.”

Aku diam sejenak kemudian menuruti perintahnya, tapi mataku tak bisa lipas memandangi benda besar yang ada di selangkangan. Sungguh luar biasa Bapak Mertuaku ini, padahal ia gres saja ejakulasi tapi penisnya tetap berdiri tegak.

“Makan malamnya sudah siap.” Kataku dengan satu tarikan nafas.

“Kebetulan Bapak sudah sangat lapar, oh iya… ini tolong kau letakan di keranjang kotor.” Deg… Nafasku tercekak ketika mendapatkan celana dalamku yang sudah ia nodai dengan spermanya.

Tanpa banyak bicara, saya segera pergi meninggalkan Mertuaku, sembari menahan malu dan sesak di dadaku.

####

Emi Sulia Salvina

“Ouughkk…”

Kepalaku mendongak keatas, ketika pengecap Irwan menari-nari di sekitar aurolaku. Sungguh sentuhan yang membuat seluruh sayrafku merespon, menghantarkan rasa nikmat di sekujur tubuhku, bahkan sedikit demi sedikit cairan cintaku meleleh membasahi celana dalamku.

Dengan lembut ia membuka mulutnya, memasukan payudarahku kedalam mulutnya sembari menatap mataku yang sayu.

Sulia Salvina

Tidaaaak… Aahkkk… ini namanya bukan nenen tapi ia mengulum dan menjilati payudarahku. Sial… Aku tidak tahan lagi, dia… Aahkk… puttingku di gigit kecil olehnya.

“Eehhmm… Wan! Eehkk….”

Aku mendesah lirih ketika ia menghisap puttingku dengan dangat kuat.

Tangan kananku melingkar di serpihan belakang kepalanya, sembari menjambak lembut kepalanya dan menekan wajahnya semoga mengulum payudarahku. Membuatku kini di landa berahi, apa lagi saya sudah lama di tinggal Suami.

“Waaa… Eehnmpp….”

Sluuupss…. Sluuppss…. Slupppss….

Dia menghisap puttingku, memainkan ujung lidahnya menyentil puttingku yang sentif, membuat puttingku mengeras nikmat.

Tubuhku melinting, cairan cintaku membanjir semakin banyak. Sungguh saya tidak menyangkah kuluman Irwan bisa membangkitkan birahiku, padahal ia masih remaja. Apa lagi ia berasal dari kampung terpencil, rasanya tidak mungkin kalau ia melakukannya dengan sengaja.

“Kenapa Bunda? sakit puttingnya saya hisap”

“Eh… gak apa-apa kok Wan cuman rasanya geli banget, Bunda gak tahan.

“Oooo,…”

“Tahan ya Bun!” Ujarnya, kemudian ia kembali mengulum puttingku. “Nenen Bunda enak, Irwan gak akan bosan kalau begini.” Celotehnya santai gak tau saya di sini sangat menderita.

Dekapan tanganku dikepalanya semakin kuat, membuat kulumannya terasa semakin nyata. Sementara tangan kanannya tanpa kusadari sudah berada diatas pahaku.

Dia menghisap putting payudarahku sembari memijit pahaku.

Lima menit kemudian Irwan berhenti mengulum payudarahku. Dia mengangkat kepalanya hingga mata kami berdua.

“Sudah selesai Wan?” Entah kenapa saya merasa sangat kehilangan.

Irwan menggeleng. “Boleh yang satunya lagi Bun? Biar adil….” Katanya, sembari menyingkap pakaianku yang menyembunyikan salah satu aset berharga milikku.

Belum sempat saya memberi jawaban, ia berpindah kesamping kiriku. Kemudian ia melaksanakan hal yang sama, memanjakan payudara kiriku dengan hisapan dan sapuan lidahnya di aurola dan puttingku.

Tubuhku semakin tak terkontrol, bahkan saya mengerang lebih keras. “Oohk… Wan, Aahkk… Aahkk… udah belum Wan?” Tanyaku mulai panik, alasannya adalah nafsuku yang semakin tidak bisa kukontrol.

Seakan mengabaikan ucapanku, ia semakin intens menghisap payudarahku, sementara tangan kirinya kini dengan lancang meraih payudarahku.

Dia meremas susuku, di barengi dengan sesekali memilin puttingku.

Aku berusaha menghentikan pergelangan tangannya, alasannya adalah saya tau ini sudah menjerumus kepelecehan seksual. Tapi sayang, saya mirip tak memiliki kekuatan untuk menyingkirkan tangan setannya yang sedang memilin puttingku.

Kedua kakiku semakin tidak tenang, kadang mengangkang kadang sangat merepat. “Aahkk… Waaaannn…. Aaaaaa….” Aku mulai histeris, rasanya sedikit lagi saya orgasme.

Kurasakan cairan cintaku sudah semakin tak terbentung, dan ketika orgasme itu hampir saja mendatangiku tiba-tiba dengan polosnya, tanpa merasa berdosa ia menghentikan kuluman dan remasannya di payudarahku secara bersamaan.

“Uda dulu Bun, makasi ya Bun…” Aku mengangah, kemudian ia pergi begitu saja.

Oh… Tuhan…..

###

Ema Salima Salsabila

ENAM
Trauma? Mungkinkah? Sepertinya tidak… saya sama sekali tidak merasakan stress berat sesudah apa yang menimpah diriku tadi pagi, malahan rasa itu… Aahkk… Kenapa Tuhan memberiku ujian yang begitu sangat berat, bahkan diiriku sendiri tak bisa melewatinya.

Tidak, saya salah! Bukankah Tuhan tidak akan memperlihatkan ujian yang melewati batas kapasitas umatnya? Apakah itu artinya saya bisa melewati ini semua? Entahlah…. semoga waktu yang menjawabnya.

“Kamu kenapa sayang?”

Aku menoleh kearah Suamiku. “Eh…” Hanya itu yang keluar dari bibir merahku.

Aku gres tersadar dari lamunanku sesudah orang yang paling kucintai di dunia ini menyentuh jemariku dengan tulus.

Aku harus besar lengan berkuasa menghadapi semua ini, bukan untuk diriku, melainkan untuk mereka yang saya cintai, Suamiku dan anak semata wayangku. Aku harus bisa tetap tersenyum bahagia di hadapan mereka seakan semuanya baik-baik saja.

“Umi lagi ngelamunin apa?” Tanya Putriku Asyifa.

Aku menggeleng pelan. “Gak ada sayang, kok makannya gak di habisin? Masakan Umi malam ini gak yummy ya?” Tanyaku sembari merenyitkan dahiku kepada mereka.

“Yang ada tu Umi, kenapa makannannya dari tadi cuman di sentuh doang tapi gak di makan?” Tembak Suamiku.

Kulihat isi di dalam piringku tak berkurang sedikitpun.

“Paling Umi kepikiran uang bulanan Bi?” Celetuk Putriku, nyaris membuatku tertawa. Bagaimana mungkin anak seusia dirinya mengerti uang bulanan. Sepertinya memang benar apa kata orang tempo dulu, anak zaman kini cepat gede.

“Hust… tau apa kau soal uang bulanan?” Sergah Suamiku, membuat Putriku tersenyum kecut.

“Udah ah… lanjut makan yuk.” Leraiku.

Tak terasa makan malam ini alhasil bisa kulalui mirip biasanya, walaupun jauh di lubuk hatiku ada sesuatu yang mengganjal perasaanku. Kejadian tadi pagi benar-benar banyak menyita pikiranku. Aku tidak menyangkah bisa mengalami hal mirip ini, di balik kesempurnaan yang kumiliki bersama keluarga kecilku.

Selesai makan, saya kembali kedapur sambil membawa piring kotor untuk di cuci.

Walaupun di rumah ini kami memiliki seorang pembantu rumah tangga, tapi untuk melayani keluargaku, saya jauh lebih suka melakukannya sendiri ketimbang meminta pinjaman Inem.

Dari wastafel tempatku mencuci ketika ini saya sanggup melihat Suami dan anakku yang sedang berebut menonton tv. Suamiku lebih suka menonton aktivitas informasi ketimbang sinetron, sementara anakku sebaliknya, ia menyui sinetron.

“Sibuk ya Bu?” Deg… “Jangan gugup, bersikaplah mirip biasanya semoga mereka tidak curiga.” Oh Tuhan, jangan lagi saya mohon.

Kurasakan sentuhan di pantatku dengan perlahan, jemari itu dengan nakalnya membelai pantatku, kemudian mencubit kecil pantatku, membuat panpatku bergetar nikmat. Kugigit bibirku menahan birahi yang tiba-tiba melanda diriku.

Stopp… Please… Don’t tuch Me… Aahkk… please, help me…

Kurasakan jemari tengahnya menekan selangkanganku, membuatku terpaksa menutup mulutku semoga tidak mengeluarkan bunyi erangan yang bisa di dengar mereka.

Baca Juga - Kumpulan Cerita Sex Nikmat Nya Ngentot Dengan Gadis Chinese

“Cukup, saya mohon!” Aku menoleh kebelakang kearah Ujang yang sedang menyeringai mesum kepadaku. Aahk… ia keterlaluan.

Tangan kirinya menyusup kepinggangku sementara tangan kanannya meremas pantat bulatku yang menggoda. “Sstt… di nikmatin aja ya Bu, jangan di lawan.” Gila… ia menyuruhku menikmati pelecehan ini.

“Jangan gila, di sini ada anak dan Suamiku.” Aku mendelik kesal.

Dia terkekeh mentertawakanku. “Lebih gila, lebih nikmat Bu.” Komentarnya enteng kepadaku. Apa ia menganggap saya sedang bercanda? Apa ia tidak mengerti kalau ketika ini saya sungguh sangat ketakutan.

Kurasakan perlahan gaun tidurku diangkat keatas, di sangkutkan di pinggangku.

“Ternyata Umi Ema cuman di luarnya saja alim, dan di dalamnya sungguh sangat nakal!” Komentarnya membuatku tersinggung.

Oh Tuhan, saya gres sadar kalau malam ini saya sengaja mengenakan g-string yang gres saja kubeli beberapa hari yang kemudian untuk menarik hati Suamiku malam ini. Bukannya sebaik-baik wanita adalah seorang wanita yang mau tampil seksi di hadapan Suaminya. Karena itulah alasannya malam ini saya berpenampilan sedikit nakal.

Tapi siapa yang menyangkah, tampilan nakalku malah kupersembahkan untuk laki-laki lain. Ohk… Maafkan saya Mas.

Aku tertunduk malu, tatkalah pembantuku dengan sengaja menarik g-striku keatas hingga talinya tenggelam diantara lipatan bibir vaginaku dan anusku. Parahnya lagi ia menggesek-gesekkan g-stringku, membuatku benar-benar tidak tahan.

Apa lagi ketika tali g-string itu menggesek clitoriskua, Ahkk… rasanya saya ingin segera di setubuhi olehnya.

“Memek Ibu sangat basah, sudah gak tahan ya.” Ledekan itu sangat menggangguku.

“Jangan di lanjutkan!” Aku memohon.

“Yakin?” Tanyanya.

Aku terdiam, entah kenapa mulutku terasa keluh. Ayolah Ema… hanya satu kalimat yang terdiri dari lima huruf, apa itu begitu sulit bagimu?

Satuku kakiku mundur kebelakang, dan di ikuti oleh kakiku yang lain, hingga saya tampak sedang menungging memamerkan keindahan pantat dan vaginaku di hadapan pembantuku.

Kamu sudah gila Ema, benar-benar sangat tidak waras… Lihat Suami ada di depanmu ketika ini.

“Indah sekali Bu.” Dia memujiku sambil mencubit pantat montokku.

Perlahan kurasakan ia membuka lipatan pantatku, menyibak tali g-stringku kesamping, sehingga anus dan lobang vaginaku menjadi tontonan yang sangat menarik baginya.

“Oughjkk…” Aku mendesah lirih.

Kurasakan ujung lidahnya menyapu vaginaku, kemudian naik keanusku, dan dari anusku turun kembali menuju vaginaku. Di sana lidahnya menggelitik lobang vaginaku, menghisap clitorisku, membuat tubuhku menggelinjang nikmat.

Sluuppss… Sluuuppss… Sluuppp… Slupps…. Sluppss…. Sluuppss….

Lidahnya kembali naik menuju anus, menjilati anusku, diringi dengan tusukan lembut di anusku.

“Aaaahkk… Jangaaaan…!” Erangku.

Cengkramanku di wastafel semakin erat, tatkala kurasakan kedua jarinya menyelusup masuk kedalam rongga vaginaku. “Aaaayyy…” Aku memekik dalam diam.

Ploppss… Plooppsd… Sluppss… Sluppss… Plooppss… Sluupps…. Sluups….

Kocokan yang di kombinasikan dengan jilatan di anusku, mengantarkanku terbang semakin tinggi, saya sudah tidak sanggup lagi menahan shawat syetan yang bersemayam di diriku, yang sedari tadi terus menggodaku.

Hoosstt…. Hoossstt…. Hoosstt…
Nafasku mulai memburu, kurasakan nikmat di seluruh tubuhkum

Sedikit lagi… Ya… hanya butuh waktu sedikit lagi sebelum saya benar-benar meledak. Orgasme yang selalu kunantikan sebentar lagi akan kudapatkan. “Aahkk….” Aku mengangkat wajahku.

Dan di ketika bersamaan, kulihat Suamiku beranjak dari sofa dan ia berjalan kearahku.

Kearahku? Oh tidak…

Please… jangan kesini Mas saya mohon, Aahkk… Aahkk… Jangaaaan Mas… kembalilah, Oohkk… Aku mohooon….

Dan ia semakin mendekatiku, semakin erat dan terus semakin dekat, hanya tinggal beberapa langkah lagi ia tiba di hadapanku, melihatku, Istrinya di cumbu oleh pembantunya… Aahkk…. Aku keluaaaar….

Crrrreerrss…. Creeeettss…. Crreettss… Crreeettss… Seeeeeeerrrrrr…. Seeeeeeeerrrrrr…..

###

Elvina

Aku berlari kecil menuju kamarku, kemudian kuhempaskan tubuhku diatas daerah tidurku.

“Mas kapan kau pulang? Adek udah gak tahan lagi Mas….!” Bisikku lirih, menatap kosong langit-langit kamarku.

Terlintas kembali bayangan Mertuaku yang sedang onani dengan celana dalamku. Kulihat kembali celana dalam merahku yang tampak sangat lengket di kulit tanganku. Sperma Mertuaku terlihat begitu jelas, sanking banyaknya.

Aku sadar betul kalau Mertuaku bukanlah Bapak yang baik untuk kami anaknya, tapi kalau hingga terobsesi terhadap menantunya sendiri, itu sungguh di luar dugaanku.

Aku sungguh tidak menyangkah kalau diriku bisa menjadi obyek onaninya.

Kucoba melaksanakan hal yang sama mirip yang di lakukan Mertuaku. Kudekatkan celana dalam itu kehidungku, kemudian kuhiruf dalam-dalam aroma sperma Mertuaku yang menyengat, menusuk hidungku. “Aaahkk…” Apakah saya terangsang? Ehhmm… Mas saya kangen kamu.

Tangan kananku reflek membelai payudarahku sendiri, meremasnya dengan lembut sambil membayangkan kehadiran Suamiku.

Tidak… Aku bohong! Bukan Suamiku tapi Bapaknya, ya… bayangan Mertuaku yang sedang mengocok penisnya yang besar di depan mataku dengan eksprenya penuh gairah. Oohh… Enaak sekali Pak…

Kubuka satu persatu kancing piyamaku hingga kedua payudaraku menyembul keluar. Sambil menghirup celana dalamku bekas tumpahan sperma Mertuaku, saya megeplotasi payudarahku dengan remasan dan pilinan.

“Ouughkk Pak….!” Tubuhku mengejang.

Kujatuhkan celana dalam itu diatas wajahku, sementara tangan kananku kini ikut meremas payudarahku, memilin puttingku yang terasa semakin gatal.

Kontol itu… Aaahkk… Oohhkk… ia besaaar dan saya menginginkannya.

“Paak… Aahkk… Pak…!” Aku merengek nikmat.

Tangan kananku kini turun menuju selangkanganku, menyelusup masuk kedalam celana tidurku, kemudian kubelai bibir vaginaku dari luar celana dalamku yang ternyata sudah sangat basah, menerangkan kalau saya begitu terangsang.

Tubuhku menggeliat seiring dengan gosokan jemariku di clitorisku.

“Oouhhkk… Pakkk… Kotol Bapak besaaar… saya mau kontol Bapak… Aahkk… Aahkk…” Bayangan Mertuaku terasa semakin tajam, menghantuiku hingga saya hanya bisa mengerang.

Tak tahan, saya langsung melepas celanaku dan kemudian kembali kubelai bibir vaginaku, jemariku dengan mudahnya mencari cela lobang vaginaku yang licin. Dengan perlahan, kedua jariku menusuk masuk kedalam vaginaku.

Tubuhku tersentak tatkala kedua jariku bekerjasama mengocok vaginaku, sementara tangan kiriku kembali memegangi celana dalamku, menghirup dan menikmati aroma sperma Mertuaku yang sangat nikmat.

Kucoba memberanikan diri menjilati sperma Mertuaku yang ada di celana dalamku, dan ternyata rasanya asin dan gurih, saya menyukainya…

Semakin lama tubuhku semakin menggelinjang tak tertahankan, dan sedetik kemudian.

“Paaaak… Aku dapaaaaat!” Aku memekik diiringi dengan squirt yang kuraih.

“Hossstt… Hosstt… Hosstt…” Nafasku memburu.

Perlahan kubuka kedua bola mataku yang indah, kemudian kudapatkan sesosok laki-laki yang berdiri di ambang pintu kamarku sembari tersenyum.

Ooo ternyata ia Mertuaku….

Deg… Oh Tuhaan….

Aku pasti salah lihatkan? Tapi… Ah… Dia memang ada, dan sangat nyata…

“Udah selesai Nduk?” Dia menggodaku. “Tidurnya.” Sambungnya lagi.

Aku terdiam membisu, sungguh saya sangat malu sekaligus takut… Aku takut ia masuk dan memperkosaku mirip dongeng remaja yang perna kubaca di salah satu forum dewasa. Tapi apa ia benar-benar ingin memperkosaku.

“Loh kok malah bengong? Bapak lapar ni nduk, dari tadi Bapak nungguin kamu, ternyata kau malah mau tidur, sampe ngigaunya keras banget.” Jelasnya, membuat wajahku memerah menahan rasa malu.

“Iya maaf Pak! Aku ketiduran…” Oh ya… Tidur yang sangat yummy sepertinya.

Dia menyeringai tersenyum. “Ya udah yuk, temenin Bapak makan dulu, kau juga pasti belum makankan?” Ajaknya lagi, mirip sedang membujuk anak gadisnya.

Aku segera turun dari atas daerah tidurku dan buru-buru mengenakan kembali celanaku. Aku menghampirnya dengan wajah tertunduk, alasannya adalah rasa malu itu sangat menyiksa diriku, apa lagi melihat respon Mertuaku yang seakan tidak terjadi apapun barusan.

Aku berjalan mendahuluinya sementara ia melangkah di belakangku.

Sesampainya di meja makan, kulihat piringku sudah terisi nasi berikut dengan lauk pauknya. Memang harus kuakui Mertuaku ini sangat baik dan perhatian, tapi sayang… kelakuannya yang suka menyewa wanita penghibur dan berjudi terkadang membuatku kesal.

“Itu celana dalamnya gak mau kau letakin dulu Nduk?” Tegur Mertuaku. “Nanti susah megang sendoknya loh…” Lanjutnya membuatku nyaris mengalami gagal jantung.

Astagaa… bagaimana mungkin sedari tadi saya selalu menggenggam, membawa celana dalam bekas sperma Mertuaku ini.

###

Anayah Sipta Renata

Kugelengkan kepalaku dengan perlahan melihat kelakuan sahabatku Rini. Gadis itu melambaikan tangannya kepada seorang laki-laki yang sedang melaju pelan dengan mobilnya.

Kulihat jam di hpku sudah mengambarkan pukul dua dini hari. Jam segini teman prianya gres pulang.

Sebenarnya saya bukan tipe wanita yang suka ikut campur, tapi untuk urusan maksiat saya tidak bisa tinggal diam, walaupun saya tidak bisa mencegahnya dengan kedua tanganku, tapi setidaknya saya bisa menegurnya dan memberinya na yang bijak untuknya.

“Assalamualaikum Rin!”

“Loh belom tidur Bu Ustadza?” Dia memang paling suka memanggilku dengan kalimat Bu Ustadza, mungkin alasannya adalah saya terlalu sering menceramahi dirinya sehingga ia menjulukiku sebagai Ustadza.

Aku mendesah lirih. “Kebiasaan… Jawab salam dulu Rini yang cantik, gres nanya…” Jelasku, sembari tersenyum kecut.

“Hehehe… Walaikumsalam!” Huh… Aku menggeleng pelan.

“Aku gres bangun, mau ibadah malam! Siapa ia Rin? Ngapain ia kesini? Kok ia pulangnya malam banget Rin?” Cercaku dengan berbagai pertanyaan.

“Iihkk Ana nanyanya satu-satu dong.”

“Oke… Itu siapa?” Kataku mulai mengintrogasinya.

“Dia itu tamu sekaligus mucikariku yang baru. Namanya Anton, orangnya tajir habis.” Jawabnya enteng, sambil berlalu masuk kedalam kamarnya, saya mengikuti dirinya.

Lagi-lagi saya di suguhi pemandangan yang menjijikan, kulihat beberapa jenis dildo tergeletak di dalam kamarnya, dan bau yang menyengat tercium di hidungku.

Aku duduk dilantai kamarnya, sembari memperhatikan kamarnya yang berantakan.

“Kalian tadi habis ngapain?”

Dia nyengir kuda. “Masak kau tidak tau si Na!” Jawabnya, dengan mengulum senyumnya. Duh… anak ini benar-benar keterlaluan.

Tentu saja saya tau, alasannya adalah kamarku berdampingan dengan kamarnya.

“Mau hingga kapan kau kayak gini Rin?”

“Aku tidak tau Ana, tapi… kau taukan, saya tidak punya uang.” Lagi-lagi alasannya finansial, kenapa uang selalu menjadi alasan untuk berbuat dosa.

“Dengerin aku, Tuhan tidak akan membiarkan hambanya berada dalam kesulitan, asalkan hambanya mau berusaha, pasti akan ia beri jalan fasilitas untuk hambanya. Kamu bisa mencari uang dengan cara yang lebih halal.” Sebisa mungkin saya mencoba menainya.

“Kita berbeda Ana!”

“Apa bedanya Rin, kita sama-sama anak yatim piatu? Hanya saja saya mencari uang dengan cara yang halal, tapi kau malah memilih untuk melacurkan diri.” Kataku dengan nada tinggi, sungguh saya sangat kesal dengannya.

Seandainya saja kau tau Rin, sudah dari dulu saya ingin pergi dari rumah ini, mencari kontrakan gres yang lebih Agamis.

Tapi amanah Ibumu sebelum meninggal, membuatku terpaksa harus selalu berada di sampingmu, menjagamu semoga kembali kejalan yang benar, tapi kau selalu mengecewakanku.

“Sudalah Na, saya tidak mau berdebat… Tapi saya berharap kau masih mau menganggapku sebagai saudaramu.” Mohonnya.

“Tentu… selamanya akan tetap begitu.”

“Terimakasi Na… Maaf saya selalu membuatmu kecewa, tapi percayalah ketika ini saya belum bisa berhenti….” Dia memelukku dengan sangat erat, saya tau ini sangat berat baginya.

“Aku akan menunggumu!”

“Kamu teman yang baik, ah tidak… kau saudara yang baik, saya begitu beruntung memiliki teman mirip dirimu.” Dia tersenyum, dan senyuman itu selalu membuat hatiku luluh.

Suatu hari nanti, saya berharap kau mau berubah menjadi gadis yang polos mirip dulu.

####

Tamat ..........


Nantikan kisah selanjutnya yang akan membuat kau penasaran hingga tidak bisa tidur...

3

Baca Kumpulan Kisah Seks 2019 Istri Abang Tukang Bakso

Baca Kumpulan Cerita Seks Istri Abang Tukang Bakso - Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang yang gemar berada dalam sebuah komunitas atau perkumpulan. Baik yang positif (apalagi) yang rada negative. Hehe.

Gua ini orangnya supel. Suka wanita

Tapi, menyerupai halnya kebanyakan masyarakat urban, masyarakat kelas menengah ngehek, gua justru luput menjalin relasi dengan tetangga sekitar.



Gua gak tau siapa-siapa tetangga yang tinggal bahkan disebelah rumah gua sendiri. Tapi sebetulnya, selain alasannya yaitu yaitu memang gua yang kurang peduli juga alasannya yaitu yaitu sebelah rumah gua itu kontrakan rumah toko (ruko) yang penghuninya sering berganti seiring musim yang sedang terjadi.

Kalo musim hujan, biasanya ruko diisi sama tukang bakso. Kalo musim kemarau, diisi sama tukang cendol. Gua gak tau bakal diisi sama tukang apa kalo di Indonesia ada musim salju. Besar kemungkinan diisi sama tukang jamu.

Suatu hari, dirumah gua menggelar sebuah pertemuan yang dihadiri ratusan orang. Karena rumah gua gak cukup untuk menampung ratusan orang (rumah gua cuma cukup menampung 99 orang. Hehe) maka terpaksa harus menggelar tiker sampai keluar rumah, yaitu jalanan komplek yang sekaligus menjadi jalanan umum masyarakat sekitar menuju jalan raya utama.

Gua baru sampai rumah jam 8 malam dan cukup kaget melihat rumah gua kolam studio JKT48. Gua pikir omongan nyokap dipagi hari, “Nanti malem ada kegiatan dirumah..” cuma kegiatan rutin macem pengajian atau arisan warga, ternyata lebih dari pada itu.

Karena enggan, “permisi-permisi..” untuk masuk ke dalem rumah, gua pun hasilnya menunggu kegiatan selesai disebelah rumah. Diruko tukang jamu, eh, ruko tukang bakso.

Satu jam berlalu sambil ngobrol ngalor-ngidul sama kang bakso yang tau muka tapi tidak tau nama gua, begitu pun dengan gua sendiri. Akhirnya kami pun berkenalan. Dan hasilnya kang bakso yang bernama Mas Mujiono ini gua pake. Yakali!

Mas Muji, begitu biasa ia disapa, usianya hampir 50 tahun. Dia baru punya satu anak perempuan, namanya Ria. Usianya tak lebih dari 10 tahun. Sedang lucu-lucunya. Waktu gua ngobrol sama Mas Muji, Ria beberapa kali keluar masuk menggali perhatian gua yang sebelumnya, ketika pertama kali melihat dia, gua menggodanya. Anak kecil tau sendiri kalo digodain, maunya terus dan terus.

Karena tak kuat menahan kencing, gua pun meminta izin Mas Muji untuk pakai kamar mandinya. Mas Muji kemudian mempersilahkan gua sehabis sebelumnya masuk ke dalam. Besar kemungkinan ia sedang membersihkan kamar mandinya supaya “layak dipinjam”.

Ruko Mas Muji ini memiliki tiga ruangan/petak. Petak pertama tempatnya berjualan, petak kedua kamar tidur, dan petak terakhir dapur serta kamar mandi. Lebarnya 4 meter dan panjang 10 meter. Yang berminat ngontrak silahkan pm. Lah!

Saat masuk kedalam, menuju kamar mandi, ada istri Mas Muji, sedang menonton tv. Karena gua diantar Mas Muji, gua pun hanya sepintas kemudian melihat istrinya yang sedang ‘diusel-usel’ sama Ria.

Setelah selesai buang hajat, (yap, abis kencing, mendadak gua mau boker) gua pun keluar kamar mandi. Saat baru saja keluar dari area dapur memasuki area kamar tidur, Ria (kembali) ngajak bercanda. Dia sembunyi dibalik tembok, kemudian menyerupai mirip mengagetkan gua sembari memeluk sekitaran kaki dan paha gua sambil tertawa cekakakan.

Mas Muji yang sedang melayani pembeli terdengar memperingatkan buah hatinya itu untuk tidak mengganggu. Tapi apakah gua merasa terganggu? Tentu tidak. Kejadian itu gua manfaatkan untuk melihat dengan seksama sosok istri Mas Muji.

“Wow..” Gerak verbal gua ketika melihatnya. Istri Mas Muji kemudian meminta Ria untuk kembali anteng atau duduk dikasur. Gua sempat tersenyum dan menganggukkan kepala ketika saling menatap dengan istri Mas Muji. Dia pun balas tersenyum dan mengangguk.

Mas Muji ini tampaknya punya aji-ajian dari mbah dukun. Karena kalo dicari alasan logis wanita muda, cantik, dan bahenol macam istrinya ini mau ‘diajak’ susah menjalani hidup sama dia, gua gak nemuin.

Istrinya Mas Muji ini cuantik, rek!

Untuk bersanding sama lelaki umur 50 tahunan yang berprofesi sebagai kang bakso, istrinya malah mampu dibilang anggun banget.

Bukan bermaksud merendahkan tukang bakso, tapi wajarnya wanita anggun yang umurnya terpaut 20 tahun dengan seorang lelaki, cuma akan menikah sama kang korupsi, kang tender, atau kang-kang lainnya yang punya harta melimpah. Lah Mas Muji?

Nama istri Mas Muji ini tak lain dan tak bukan yaitu Teh Lilis. Dia dipanggil “Teh” alasannya yaitu yaitu lahir dan besar di … Ambon. What? Hehe.

Teh Lilis ini aseli Ciamis. Dia berkenalan dengan Mas Muji diarea wisata pantai daerahnya. Selang sebulan perkelanannya itu, Teh Lilis dilamar dan kemudian dinikahi kemudian dibojong Mas Muji ke Jakarta.

Ini yang tadi gua bilang kalo Mas Muji punya aji-ajian. Saat berkenalan dan hendak mempersunting Teh Lilis, usaha bakso Mas Muji hanyalah sekala gerobak dorong yang mana tidak memiliki pelanggan tetap. Mas Muji mengumpulkan keuntungannya berdagang selama lebih dari 10 tahun untuk menikah dan mencari peruntungan lebih besar dengan mengontrak toko, bahasa kitanya, mangkal. Agar punya pelanggan tetap dan usaha berkembang.

Laba selama 10 tahun itulah modal Mas Muji menemui orang renta Teh Lilis dan memboyongnya ke ibu kota. Kalo Mas Muji gak punya aji-ajian, rasanya orang renta Teh Lilis enggan menyerahkan buah hatinya yang anggun nan bahenol itu.

Sejarah singkat diatas, disponsori pribadi oleh Mas Muji sendiri (selain dugaan punya aji-ajian, tentu saja). Keabsahan dan keakuratannya terang terverifikasi serta mampu di pertanggungjawabkan. Ngok!

Tidak ada hal istimewa yang terjadi sehabis perkenalan dengan tetangga sebelah rumah gua ini. Semua kembali normal menyerupai biasanya, seiring selesainya kegiatan yang berlangsung dirumah gua. Janganlah kalian berharap gua pribadi doggiestlye sama Teh Lilis disaat Mas Muji menggodok gilingan baksonya, jangan! Semua berjalan menyerupai hari-hari sebelumnya.

Awal mula perkenalan pribadi gua sama Teh Lilis yaitu ketika gua hendak keluar rumah. Waktu itu gua memarkirkan kendaraan disebelah rumah atau lebih tepatnya didepan ruko Mas Muji alasannya yaitu yaitu lupa membawa pulpen. Ou, ouw. Jangan sepelekan pulpen. Googling, ‘lost your pen’ untuk keterangan lebih lanjut.

Karena masih pagi, warung Mas Muji masih tutup. Itu kenapa gua santai aja parkir didepan rukonya. Sekembalinya mengambil pulpen, gua ketemu Ria sama ibunya yang mau berangkat ke sekolah. Gua pun dengan nrimo tulus tanpa niat kotor mengajak mereka bareng.

Sebenarnya jarak antara area sekolahan sama rumah gua tidaklah jauh-jauh amat. Bahkan tidak lebih dari 2 km. Tapi atas dasar perputaran ekonomi, masyarakat sekitar rumah gua lebih menentukan naik ojek ketimbang jalan kaki. “Bagi-bagi rejeki..” begitu alasan dari keengganan berjalan kaki masyarakat urban ketika ini.

Teh Lilis awalnya sempat menolak alasannya yaitu yaitu mungkin aib atau segan. Tapi alasannya yaitu yaitu Ria pribadi setuju dan naik ke dalam kendaraan, Teh Lilis tak mampu berbuat apa-apa.

Teh Lilis tampak aib dan kaku, ia membatasi gerak Ria di dalam mobil. Gua sesekali mnggoda Ria dan meng-gpp-kan usaha Teh Lilis meredam tingkah random anaknya. “Gpp, Mba.. Ih, si Mba, kaya gak pernah kecil aja..”

“Bapaknya mana? Masih tidur ya?” Kata gua, bertanya pada Ria yang tampak antusias (mau gua sebut ‘norak’ ga tega) mencet-mencet dan melihat monitor didepannya. Ria hanya menjawab sepintas kemudian tanpa melihat kearah gua, “Iya..” katanya.

Teh Lilis yang menyadari tingkah anaknya menggelengkan kepala dan tersenyum malu. Karena anaknya tak menggubris, gua pun kemudian mengajak berbicara ibunya. Eaaa. Kalo kata pepatah, “Habis jatuh tertiban janda”

Kalo kata orang jawa, malahane.

“Mba, siapa namanya?”
“Lilis..”
“Aslinya juga satu tempat sama Mas Muji?”
“Oh, ngga. Saya mah dari Ciamis..”
“Ooh, urang sunda. Teteh, dong ya, manggilnya..”
“Hehe, iya..”

Lagi-lagi kalian jangan berharap gua pribadi akan meng-wot-kan Teh Lilis didalam mobil. Karena tak lama dari obrolan perkenalan diatas, kami tiba diarea sekolahan. Lagipula masih ada anak dibawah umur.

Setelah kami berpisah semuanya kembali normal menyerupai biasanya lagi. Tak ada niat kotor, tak ada pikiran mesum, meski bertemu dan bertukar senyum dengan Teh Lilis di hari-hari berikutnya.

Sampai akhirnya, awal mula kemesuman yang kalian tunggu-tunggu hadir juga.

Gua kedatangan tamu dari jauh, seorang sobat lama. Kolega gua dalam usaha membawa cewe-cewe mabuk ke dalam gubuk.

Namanya Udjo. Saat ini ia sudah tinggal diluar kota bersama istri, anak, dan ibu mertuanya. Sepaket.

Gua mengajak Udjo makan bakso ditempat Mas Muji alasannya yaitu yaitu enggan menambah kemacetan ibu kota diakhir pekan. Entah alasannya yaitu yaitu final pekan atau habis hujan, ruko Mas Muji kebanjiran pembeli.

“Alhamdulillah, ya Mas kebanjiran pembeli, bukan kebanjiran air got!” Kata gua, coba mencairkan raut sibuk Mas Muji sehingga membuatnya tertawa. Karena ramai, tentu saja, Teh Lilis membantu suaminya melayani pembeli.

Saat itulah, Udjo memberi kode dengan menyolek-nyolek paha gua. Semacam isyarat yang berbunyi, “Bro, Anjirr. Bininya cakep bener nih tukang bakso!”
Gua hanya tersenyum dan sesekali menghentikan colekan Udjo. “Lu kata gua sabun!” kata gua juga dalam bahasa isyarat. Isyarat laraswati

Gua sama Udjo pun terlibat obrolan tanpa bunyi ketika menunggu baksonya datang. Kalian tau macam mana obrolan tanpa suara, kan? Taulah, pasti. Haha.

Gua menyikut Udjo ketika ia mulai ekstrim memandang Teh Lilis yang entah sedang mengambil kembalian atau mencuci mangkok. “Lah, elu mah enak, mau ngeliatin ia pake muka mesum macam apa juga gak masalah. Gua, yang gak enak!” Kata gua ketika kembali berbincang dirumah.

“Tapi asli, bro. Itu tadi mbanya boleh tuh, asli. Lah, lakinya aja udah aut, bro!”
“Aut?” Tanya gua, gak ngerti.
“Iya, aut. Tua, bego!” Jawabnya menjelaskan sambil tertawa.

Gua pun tertawa dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tapi Udjo menyerupai sudah dirasuki iblis mesum piaraan gua sendiri. Dia berkata dengan begitu yakin, “Kalo gua jadi lu, bro. Gua sikat tuh bininya kang bakso! Asli!”
“Sikat, ndasmu sempal!” Balas gua menyudahi kemesuman yang ada.

Udjo benar-benar menginspirasi gua untuk menggagahi Teh Lilis. Dia seolah mengatakan gua keyakinan kalo Teh Lilis pasti mau diajak selingkuh. “Asli, pasti mau!” begitu kata Udjo, dengan keyakinan tingkat wali.

Dan, iblis pun menyusun situasi mesum untuk gua.

Malam itu gua sampe rumah sudah sangat larut, sekitar jam 1an. Gua ngeliat Teh Lilis sedang belanja diwarung klontong milik orang Madura, yang pernah gua tanya, “Buka 24 jam ya pak?” Dijawab, “Ngga, cuma sampe pagi kok..” Okee.. Makasih pak..

Setelah markir kendaraan, gua bergegas ke warung klontong itu yang jaraknya tak jauh dari rumah gua.

“Eh, Teh Lilis.. Belum tidur, Teh?”
“Oh, iyaa..” Jawabnya malas. Duh, gak ada peluang nih, batin gua.

“Beli apaan, Teh..” Tanya gua lagi.
“Hah? Ituh, tau nih, bapaknya Ria. Minta makan mie..” Jawabnya setengah terkejut. Teh Lilis tampak murung dan melamun. Gua memandanginya dengan seksama. Baru ngeliatin ia aja, dada gua udah berdebar. Kaki gua gemeter. Dan, yap! Iblis berbisik, “tuh bos, ia nyebut Mas Muji “Bapaknya Ria” bos, bukan “Suamiku”. Itu artinya mampu digoyang imannya, bos! Lanjut, bos!”

“Beli apa mas?” Tanya Teh Lilis? Bukan! Tanya orang Madura. Membuyarkan lamunan gua menatap Teh Lilis.

“Oh. Rokok pak.. Lupa saya. Sama kopi juga deh..”
“Seduh sekalian kopinya?”
“Gak usah, pak. Eh, tapi kalo airnya baru mendidih, boleh deh..”

Tak disangka, Teh Lilis ikut bicara.

“Jam segini malah mau ngopi, mas. Gak tidur emangnya?”
“Hehe, iya Teh. Masih ada kerjaan..”
“Emang, Mas kerjanya dimana?” Tanyanya lagi. Sambil bayar gua ngomong, “Kenapa? Teteh mau ikut? Hehe.” dengan pandangan menggoda. Teh Lilis sesaat kaget, kemudian tertawa.

“Duluan, Teh..” Kata gua, kemudian cabut dari warung. Teh Lilis masih menunggu belanjaannya. Dan tak lama, ia pun bergegas pulang.

Teh Lilis cuma berjarak 3 langkah dibelakang gua. Gua sengaja memperlambat jalan gua. Teh Lilis dilema, antara mau duluin gua atau ikutan jalan lambat. Dia milih opsi pertama, mungkin alasannya yaitu yaitu sudah ditungguin suaminya.

“Ayo, mas..” Katanya ketika berada disebelah gua sesaat mendahului.

“Oh, iya Teh..” Balas gua, sok hirau taacuh dengan akting mainan gejet. Dalam hati bergejolak, “minta-ngga-minta-ngga..” Akhirnya gua memilih, Ngga! Haha, cupu banget gua. Minta nomornya aja takut! Yaiyalah, takut. Bini orang, sob!

Tapi iblis punya rencana lain. Saat berada didepan ruko/rumah Teh Lilis, ia kembali bersuara sebelum masuk. Seolah mengatakan kode, kalo ia mau kok diajak selingkuh.

“Awas, Mas, kesandung! Hehe” godanya, yang melihat gua jalan sambil menatap layar gejet. Gua sok cool, menengok kearahnya dan hanya tersenyum. Ingin rasanya ngomong, “Teh, minta nomor teleponnya, Teh..” Tapi itu namanya main kotor. Kemungkinan didenger Mas Muji besar, jadi gua urung melakukannya.

Sampai kamar, gua menyusun rencana dan tidur. Kopi yang gua beli dan udah diseduh, yang hanya menjadi kamuflase itu pun tak tersentuh. “Biarlah jadi rejeki semut..” Batin gua, kemudian tidur.

***

Pagi-pagi sekali gua bersiap menjalankan aksi. Hemm, menyerupai apa aksi gua? Stay tune, gaes!

Pagi-pagi sekali gua sudah berada di area sekolahan tempat Ria sekolah.

Iblis benar-benar sudah menguasai diri gua. Entah dimana keberadaan malaikat.

Rencananya, gua akan mulai mendekatkan diri sama Teh Lilis ketika ia menunggu Ria. Dan, melihat umur Teh Lilis yang gak tua-tua amat, dugaan gua ia pasti gak akan ikut nunggu Ria sambil ngerumpi sama ibu-ibu lain yang juga mengantar anaknya.

Tapi dugaan tinggal dugaan. Teh Lilis ikut membaur dengan ibu-ibu. Iblis memberi celah dengan tidak adanya ibu-ibu yang berada di sekitar Teh Lilis yang gua kenal. Jadi, besar kemungkinan juga gak ada yang mengenal gua. Tinggal kemudian gua mencari celah untuk “dilihat” Teh Lilis.

Mulai dari bersiul kearah Teh Lilis, sampai melambai-lambaikan tangan, ia tetap tak sadar keberadaan gua. Tiba-tiba saja ide muncul ketika melihat bocah sd keluar dari salah satu kelas (bukan kelasnya Ria), gua pribadi mengiming-imingin jajanan dan mengantarnya kembali ke kelas mirip gua yaitu sodaranya.

Teh Lilis sedikit kaget melihat keberadaan gua. Gua mengangguk dan tersenyum kearahnya. Setelah si bocah masuk kelas, gua menghampiri Teh Lilis.

“Nganter? Siapa?” Katanya, membuka pembicaraan.
“Oh, iya. Keponakan Teh..”
“Oohh..” Responnya sambil beranjak dari tempat duduk hendak membeli jajanan.

Gua sih yakin kalo ia cuma ngasih peluang ke gua, semacem kode minta ditelanjangin. Atau minimal ini settingan iblis.

“Nungguin sampe pulang, Teh?” Tanya gua. Dia gak gak menjawab, hanya mengangguk. Raut wajahnya tampak risih. Seketika gua bagai tersambar petir. “Anjir, gua cuma kegeeran nih..” Batin gua.

“Teh..” Sapa gua lagi. Pantang menyerah.
“Iya..” Jawabnya, masih dengan raut wajah risih dan cenderung was-was. Gua pribadi menyodorkan hp dan minta nomor teleponnya. Dang! Hp gua gak direspon.

Tapi ia malah bilang, “Nomor Mas aja berapa?” sambil mengeluarkan hpnya dan gua pun pamit duluan sehabis mengatakan nomor hp.

Gua sih ga yakin ia bakal ngontek gua, tapi atas dasar positive thinking untuk kelakuan negative, gua menunggu kontak Teh Lilis. Tak sampai satu jam, ada pesan masuk ke hp gua.

“Ada apa ya, Mas? Maaf, saya risih ngobrol ditempat umum. Takut dikira macem-macem. Lilis.”

Hhhuuaaa.. Teh Lilis. Macam orang dulu aja ngirim Short Messages Service. Hehe

“Hehe, kalo gitu saya Teh yang minta maaf. Ga ada apa-apa Teh, mau kenal aja. Mau ngobrol-ngobrol. Kalo smsan gini masih risih ga, Teh? Hehe”

Baca Juga - Gejolak Birahi Mamang si Tukang Sayur

“Ya kalo sms gini ga risih. Kan gak ada yang liat. Mau kenal? Kan udah kenal. Ngobrol kok sama ibu-ibu sih Mas, sama yang masih gadis aja atuh.”

“Duh, Teh. Kalo sama gadis mah ribet Teh, ambekan. Dikit2 ngambek. Hehe. Teh Lilis tiap hari nungguin Ria?”

“Yah Mas, ibu-ibu juga sering ngambek kok. Namanya juga perempuan. Heee. Iya, tiap hari nungguin. Mas tadi anter anaknya ponakan? Kok baru liat.”

“Hehe, ngga Teh. Sebenernya cuma alesan buat ketemu Teteh aja ”

“Hmm. Mas, tolong jangan nelepon saya yah klo saya lagi dirumah. Takut bapaknya Ria tau nanti malah nyangka macet-macet.”

Pesan terakhir Teh Lilis gak gua bales, tapi gua berinisiatif pribadi meneleponnya. Teh Lilis terasa begitu segan dan risih ketika mendapatkan telepon gua. Tapi meski begitu, ia juga tak memadamkan percikan untuk digoda. Gua sebagai lelaki normal yang abstrak tentu saja tak melewatkan peluang begitu saja.

Gua mencoba membuatnya nyaman berbicara sama gua. Pelan-pelan Teh Lilis mulai ‘biasa’ dan enjoy dalam berbicara. Sesekali ia bercerita juga bertanya. Nah, kedua hal tersebut yaitu koentji sebuah pedekate berhasil atau tidak.

Akhirnya Teh Lilis menyudahi obrolan via telepon itu alasannya yaitu yaitu jam pulang Ria sudah tiba. Gua longok jam tangan, ‘pukul 09:50 WIB’.

Diakhir obrolan gua sempet ngomong, “Kalo lagi suntuk sms saya aja, Teh. Siapa tau malah tambah suntuk..” seraya tertawa. Teh Lilis juga tertawa lepas ketika menutup teleponnya.

Gua pulang kerumah waktu bencong pun belum dandan. Pikiran gua dipenuhi strategi-strategi menelanjangi Teh Lilis.

Dan sepertinya, Teh Lilis ini memang minta ditelanjangi. Dia sms gua gak lama sehabis gua sampai rumah.

“Tumben Mas jam segini udah pulang? Gak jalan-jalan dulu sama pacarnya? Lagi marahan ya.. Hehehe”

Gua sempat kaget mendapati sms Teh Lilis, alasannya yaitu yaitu pas gua liat sebelum masuk rumah, Teh Lilis lagi momong Ria di dekat Mas Muji. Mas Muji sendiri sedang melayani pembeli yang gak banyak-banyak amat dan gak sedikit juga.

“Hehe, mampu aja Teteh. Lagi nonton tv apa masih di depan Teh? Tadi saya lihat kan Teteh di depan.”

“Iya, lagi nonton tv. Udah ga di depan, banyak pembeli. Lagi sekalian nidurin Ria.”

“Nidurin Ria? Mau juga dong Teh, ditidurin. Ahahaha. Becanda, Teh. Loh, banyak pembeli kok gak bantuin Mas Muji?”

“Hmm. Untung cuma becanda. Bantuin kok, tapi sambil nonton tv. Heee.”

“Owgitu..”

Biajingan, gua keabisan ide sampe cuma begitu doang bales smsnya. ‘Owgitu..’ Sms macam apa itu? Macem lagi wasapan atau bbman aja. Padahal di sms tersedia 140 karakter. Eh, bener apa ngga ya? Bodo, ah. Haha.

Tapi ditengah keputusasaan balesan sms gua, Teh Lilis memainkan perannya.

“Besok nganter lagi Mas?”

“Nganter, bareng aja Teh.”

“Gak ah. Ngerepotin.”

“Yah, Teh. Timbang gitu aja ngerepotin.”

“Heeeehe. Boleh deh kalo gak ngerepotin.”

“Eh, sebenernya emang ngerepotin sih Teh. Kecuali kalo abis nganter trus Teteh nungguin Ria-nya diluar sama saya, baru gak ngerepotin.”

“Hmm. Keluar kemana Mas?”

“Gak usah jauh-jauh Teh. Biar jam setengah sepuluh udah sampe sekolahan lagi. Kemana aja, yang penting mampu ngobrol-ngobrol.”

“Gak ah. Takut ada yang liat Mas.”

“Ya kalo gitu, kita pergi ketempat yang gak ada orang liat. Hehe.”

“Mas mampu aja. Udahan dulu ya, Mas. Jangan sms lagi.”

Huhu. Yes!

07:00 WIB

Besoknya, menyerupai yang sudah dismskan semalem, gua nganter Ria dan Teh Lilis dengan bergaya mirip gak janjian.

Teh Lilis sempat bertanya, “Keponakannya mana Mas?” waktu perjalanan ke sekolah. Tapi gak gua jawab, alasannya yaitu yaitu pun ia nanya dengan raut wajah menggoda. Jiguri.

Setelah sampai sekolahan, Teh Lilis mengantar Ria ke kelas. Gua kemudian meneleponnya, memberitau kalo gua nunggu diseberang jalan utama sekolahan. Teh Lilis hanya membalas dengan suara, “Hmm.. He’em.. Iya. Iya. He’em..”

07:30 WIB

Tak sampai 20 menit, Teh Lilis sudah masuk ke dalam kendaraan beroda empat yang gua parkir di minimarket. Gua sedang berada di dalam membeli ‘perlengkapan perang’.

Mobil sengaja menyala dan gak gua kunci, Teh Lilis menjalankan semua perintah gua. Nice.

“Kemana Mas?” Tanya Teh Lilis waktu gua baru masuk mobil.

“Kemana ya?” Kata gua sambil memandanginya dari atas sampai bawah, tanpa ada gangguan sedikitpun. Muka Teh Lilis seketika memerah. Kemudian memalingkan pandangannya.

Teh Lilis hanya memakai celana piama. Celana tidur dipadu dengan daster sedengkul dan jaket. Badannya yang bahenol terlihat dari balik pakaian yang berbahan lemas itu. Meski jaket blazernya coba menutupi.

Gua mulai pembangkang dengan menyentuh belahan rusuknya. Teh Lilis reflek bergoyang. Sekali, dua kali, sampai hasilnya Teh Lilis menghadap gua, kemudian meraup wajah gua. Seperti sedang menampar, tapi tanpa tenaga.

“Bajingan, berani nyentuh gua nih ibu-ibu..” Batin gua. Gua pun pribadi memanfaatkan dengan memegang tangannya. Teh Lilis membeku. Gua berdebar tak karuan.

“Yang penting, cabut dulu aja Teh dari sini..” Kata gua kemudian sambil keluar parkiran dan gas pol entah kemana.

Dijalan, gua menimang-nimang tempat tujuan. Teh Lilis gak banyak bicara, cenderung sedikit grogi. Raut wajahnya juga tampak khawatir. Entah khawatir gua apa-apain atau khawatir perbuatan nekatnya ini tertangkap berair Mas Muji.

07:50 WIB

Di depan gerbang hotel, gua berhenti dan memandang Teh Lilis. Satu, dua, tiga detik, Teh Lilis tak kunjung memandang balik. Gua menggoyangkan jari di lingkaran stir.

Teh Lilis memandang balik. Raut wajahnya bukan sekedar bertanya “Ngapain berhenti didepan hotel?” tapi juga, “..Kalo mau masuk, ya masuk.”

Gua tersenyum lebar. Teh Lilis menghembuskan nafas panjang. Iblis berdendang dijok belakang. Malaikat terbelenggu didalem bagasi.

***

08:00 WIB

“Mas ngapain kita kesini?” Tanya Teh Lilis ketika sudah duduk dibibir kasur hotel.

“Ngapain ya Teh enaknya? Hehe. Ngobrol aja Teh..” Jawab gua sambil merebahkan tubuh dikasur. Teh Lilis membelakangi gua.

“Kan, kalo ngobrol disini gak bakal ada yang liat Teh..”

Teh Lilis sesekali menengok kebelakang, melihat posisi pewe gua. “Sini, Teh, nontonnya sambil rebahan. Kaya waktu saya pertama ngeliat Teteh, kan lagi nonton tv sambil tiduran gini..” Goda gua.

Teh Lilis kembali menengok dan tertawa malu. “Saya duduk, sih waktu itu. Gak tiduran. Dibilangin bapaknya Ria, mau ada yang numpang kamar mandi.”

Didalam kamar, hampir selama setengah jam, hanya gua habiskan dengan ngobrol gak jelas. Sama-sama malu. Sama-sama grogi. Tapi lambat laun, Teh Lilis mulai santai dan berkeliling kamar hotel.

Duduk dimeja rias. Ke kamar mandi. Buka-buka kulkas dan baca majalah. Sesekali mendekat ke arah gua untuk bertanya sesuatu yang ada dikamar hotel. Gua pun justru larut dengan menyia-nyiakan waktu yang ada sambil glesoran dikasur.

Madep kanan, madep kiri, tungkerep, telentang. Glesoran gak karuan.

Sampai hasilnya gua bertanya sesuatu, “Eh, Teh. Kok umurnya mampu beda jauh sih sama Mas Muji?”

Teh Lilis yang sedang duduk didepan meja rias sambil baca majalah kemudian berdiri. Mukanya seketika kesal. “Saya mau balik ke sekolahan, Mas..” Katanya.

Doh, ngambek!

Teh Lilis kemudian berjalan menuju pintu, gua pribadi beranjak dari kasur dan menahannya.

Kemudian gua minta maaf kalo ada sesuatu yang menyinggung. Teh Lilis tak bergeming. Gua sedikit menarik tangannya. Yang terjadi kemudian sungguh diluar perkiraan.

Gua hanya menarik tangannya pelan untuk mendapatkan perhatiannya yang sebelumnya enggan memandang gua. Tapi reaksi Teh Lilis menyerupai baru saja di uppercut Muhammad Ali.

Dia merobohkan badannya yang secara otomatis menimpa tubuh gua yang kemudian terjatuh dikasur.

Sesaat kami saling pandang. Kedua tangan Teh Lilis berada didada gua, sedikit menopang tubuhnya.

Gua kemudian melingkarkan tangan gua dibadannya. Teh Lilis tak bereaksi. Masih memandangi gua. Gua salah tingkah. Muka Teh Lilis sedikit berubah menjadi sangat serius. Sesekali ia memejam.

Kemudian gua meraih kedua tangannya. Badan Teh Lilis sepenuhnya menindih tubuh gua. Payudaranya yang bahenol mendarat sempurna didada gua. Muka Teh Lilis makin berubah ketika gua menggoyangkan badannya. Bibirnya bergerak-gerak menyerupai ingin melumat atau berkata sesuatu.

Gua melepaskan jaket blazzernya. Ariel sudah tegangan tinggi. Kaki Teh Lilis lurus diatas gua.

Gua kemudian meremas bokongnya supaya kakinya terbuka. Dan, yap, Teh Lilis mengangkang diatas gua dengan wajah horny.

Ariel yang sudah tegangan tinggi terasa bersentuh dengan belahan vagina Teh Lilis. Gua menggoyangkan pinggul naik-turun sambil meremas bokongnya. Sebentar saja, Teh Lilis sudah mengikuti irama goyangan.

“Sssstttt..” Desisnya sambil memejamkan mata. Giginya menyerupai sedang menggigit sesuatu. Gua makin kencang meremas bokongnya.

Tiap gua remas dan bergoyang, Teh Lilis berdesis sambil mengatur nafas. “Sssssttt..”

Tangan gua masuk ke dalam celana piamanya. Mudah saja buat gua alasannya yaitu yaitu hanya berbahan kolor. Setelah didalam celana, tangan gua gak meremas bokongnya, tapi pribadi menyentuh vaginanya dari atas.

Teh Lilis pribadi mencengkram wajah dan melumat bibir gua. “Eemmm…” Desah gua.

Sambil berciuman, saling melahap satu sama lain, gua menarik-narik kancut Teh Lilis. Teh Lilis bergeliat sambil menggoyangkan sendiri pinggulnya. “Sssssttt…hhuuu..” Desahnya kali ini.

Gua kemudian mulai meremas payudaranya. Teh Lilis memberi ruang dengan sedikit mengangkat tubuhnya yang berada diatas gua. Sebentar saja, gua pribadi membuka tali branya dan mengangkat daster serta branya.

Payudara bahenol Teh Lilis menggantung diatas wajah gua. Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan dikasur. Setelah menikmati aroma tubuhnya, gua mulai mengulum puting payudara Teh Lilis.

Dari payudara yang satu, ke yang lain. Secara adil gua kulum dan remas payudaranya. Teh Lilis menggoyangkan badannya ketika gua sedang melahap salah satu payudaranya.

08:40 WIB

Sambil menjilati putingnya, gua kembali meremas bokongnya.

Teh Lilis makin menikmati kebejatannya. Dia membuka celananya pake satu tangan dengan gerakan yang dinamis, tanpa mengganggu gua yang sedang melahap payudaranya. “Ssssttt.. Aahh..” Desahnya.

Gua kemudian membalikkan badan. Teh Lilis telentang sambil bergeliat ketika gua melepas celana. “Dasternya, buka Teh..” Kata gua ketika hendak menjilati vaginanya yang masih tertutup. Teh Lilis membuka dasternya dan tapi kemudian menarik wajah gua dan mengatakan ciuman dahsyat. Dia mencium sambil menyedot.

Gua memasukkan tangan ke dalam kancutnya dan menyentuh vaginanya. Teh Lilis makin melumat bibir gua. Lalu gua memaikan jari dimulut vaginanya. Basah!

Vagina Teh Lilis sudah berair ketika gua melepaskan kancutnya, dan ketika hendak menjilati, lagi-lagi ia menarik kepala gua. Gua pun hasilnya hanya mengocok vaginanya dengan jari sambil menjilati payudaranya. “Aaaahhhh.. Sssttt.. Aaaauuggghh..” Desahnya.

Kemudian gua memasukkan satu lagi jari ke dalam vaginanya. Teh Lilis mengerang sambil mencengkaram leher gua. Gua melepaskan cengkramannya sambil mempercepat gerakan jari mengocok vaginanya.

Baca Juga - Menjadi Pemgantin Muridku

Untuk mendapatkan hasil maksimal, gua menegakkan dudukan badan. Yang tadinya sedikit membungkuk mengulum payudara, menjadi duduk tegap disamping tubuh Teh Lilis yang bergeliat keenakan.

Pemandangan dari sini yaitu yang terbaik ketika sesi porplei, bro.. Haha. You, know lha.

Teh Lilis tak mampu menyembunyikan raut wajah aib bercampur nafsu ketika gua sengaja mengocok vagina sambil memperhatikannya. “Enak, Teh..” Kata gua.

Entah pertanyaan bodoh macam apa itu. Sialnya, itu pertanyaan yang sering diajukan lelaki ketika sedang mengatakan nikmat ke wanita yang sesang dieksekusi.

Teh Lilis menutupi wajahnya dengan bantal ketika tak kuasa mendesah. Dia mendesah dibalik bantal. Gua pribadi menyingkirkan bantal. Wajah Teh Lilis tampak sudah tak perduli. Dia benar-benar menikmati gerakan jari-jari gua.

“Aaahhh, aaakkhhh, hhhaaaahhh..” Desahnya sambil meremas salah satu payudaranya. Payudara yang lain, gua bantu meremas.

Sesaat gua bertanya-tanya. “Ini orang udah punya anak kok pentilnya masih bagus?” Sambil memilin dan meremas buah dadanya.

Sesekali gua kembali melumat pentil dan payudaranya. “Aaaakkkhhh…” Desahnya, panjang. Kemudian gua makin cepat mengocok vaginanya. Teh Lilis coba merangkul leher gua, tapi tak mampu alasannya yaitu yaitu gua menghindar. Ia kemudian mencengkram sprei kasur dengan kedua tangan yang berada diatas kepalanya. Melihat pemandangan menyerupai itu, gua makin semangat mengocok.

Akhirnya Teh Lilis memuncratkan cairan dari vaginanya. Badannya bergeliat tak karuan. Ia menahan gerakannya sambil mengatur nafas.

09:05 WIB

Teh Lilis terkujur lemas dengan tubuh sedikit miring. Kedua kakinya menutup vaginanya.

Gua kemudian mengeluarkan Ariel dan mendekatkan ke wajahnya. Gua ‘memukul-mukul’ wajah Teh Lilis dengan pentungan hansip itu. Lalu mulai menggerayangi mulutnya. Teh Lilis urung membuka mulut, ia tampak sedang masih mengumpulkan tenaga.

Gua terus berusaha sambil kembali meremas payudaranya. Lalu membuka kakinya yang menutupi vagina. Teh Lilis kembali terlentang dengan posisi sedikit mengangkang. Gua mengatakan sentuhan-sentuhan ringan ke sekujur badannya.

Kemudian sehabis menjilati payudaranya, gua menciumi belahan pahanya. Posisi gua masih dengan Ariel yang berada di wajah Teh Lilis. Gua kemudian merebahkan tubuh disamping dengan posisi terbalik. 69!

Dengan posisi menyamping, gua mulai melumat vagina Teh Lilis. Dia pribadi meremas Ariel. Lalu gua mengangkat badannya menindih tubuh gua dalam posisi sempurna 69.

Gua menjilati vagina Teh Lilis yang terasa asin. Teh Lilis urung melahap Ariel sampai gua memasukkan satu jari kedalam vaginanya. “Oouugghh..” Desahnya, kemudian melahap Ariel.

Ariel terasa hangat dan basah.

Bokong Teh Lilis bergerak-gerak diatas wajah gua. Vaginanya sempurna berada dimulut gua. Sementara Ariel keluar masuk mulutnya.

Teh Lilis makin menikmati tugasnya. Sesekali ia menyedot Ariel dalam-dalam, kemudian menjilati dan mengulum bola dragonbol. “Ahhh, enak teh..” Kata gua. Kali ini bukan pertanyaan, ini pernyataan.

Teh Lilis tiba-tiba menegakkan badannya.

Sambil mengocok Ariel, ia merangkak naik dan mengurung Ariel kedalam vaginanya. Jleb!

“Aahh, Fak!” Respon gua, tak menyangka ia pribadi ke topik utama.

Teh Lilis membelakangi gua dengan kedua tangan memegang sandaran punggung kasur. Ariel terlihat timbul tenggelam dari bokong Teh Lilis yang gua liat dari belakang.

Gua memegang bokong Teh Lilis, membantunya bergerak naik-turun, maju-mundur. “Sssssstttt, mmaaasss… Aaahhhh” Desah desis Teh Lilis yang makin cepat menggenjot.

Lalu gua bangun dari tidur dan memeluk Teh Lilis dari belakang. Sambil meremas payudaranya, gua menciumi punggungnya.

Teh Lilis makin beringas, ia merangkul gua dengan posisi membelakangi. Nikmat sekali. Lalu Teh Lilis meminta berciuman, dengan senang hati gua melayaninya. Kedua tangan Teh Lilis yang setengah merangkul leher gua, membuat ketiaknya tampak menggairahkan. Sesekali gua mengatakan kecupan ke ketiaknya.

Meski tidak harum, tapi juga tidak bau. Yang penting, tidak ada bulunya!

09:18 WIB

Badan Teh Lilis yang bahenol tak mampu gua tahan lebih lama berada diatas paha gua.

Gua lalu* memintanya berdiri, dan mengambil posisi doggy tanpa melepas Ariel yang betah didalam vagina Teh Lilis.

Teh Lilis bangun dengan lututnya, masih dengan posisi membelakangi gua.

Gua sedikit membungkukkan punggungnya, sambil meremas payudara. Teh Lilis bergeliat ketika lehernya gua kecup-kecup.

“Keluarin didalem, Teh?” Tanya gua ketika bergerak lambat menikmati ciuman.

“Jangan dikeluarin dulu..” Bisiknya, manja.

Gua kemudian menghadapkan wajahnya kearah jam dinding sambil melumat bibirnya.

Dia yang paham maksud gua kemudian mendorong bokong gua supaya masuk lebih dalam. Gua kemudian berakselerasi tingkat tinggi.

“Plak! Plak! Plak!” Suara yang keluar, diikuti desahan Teh Lilis, “Aaakkhhh, aaaaakkhh, Maasss.. Sssttt..”

Tak butuh lama dari serangan terakhir, Ariel memuntahkan ludah naga didalam vagina Teh Lilis.



“Oouugghhh…” Desah gua, panjang.

Teh Lilis pribadi membenamkan wajahnya dikasur dengan posisi nungguing. Tampak sperma gua secara perlahan keluar dari dalam vagina Teh Lilis. “Sssstttt.. Hhhaaaahhh..” Desisnya.

Setelah tampaknya sperma sudah banyak yang keluar, Teh Lilis merobohkan badannya, tidur tungkerep.

Lalu bersuara pelan, “Ria udah saya titipin sama temen. Nanti pribadi saya jemput dirumahnya..”

Cie “Aku”


3

Baca Kumpulan Cerita Seks Obsesi Pada Penis Muda

Cerita Toket Gede, Cerita Memek Basah, Cewe Bening, Toket Gede,
Baca Kumpulan Cerita Seks - Semenjak persetubuhan liarku dengan Indun di acara keberangkatan Ibunya, acara seksual kami semakin intens dan menjadi. Dengan dalih mengantarkan masakan ke rumah Indun yang dikala itu tinggal seorang diri di rumahnya, berkali-kali kami melakukannya. Seluruh penjuru rumahnya telah menjadi saksi biksu aksi terlarang kami, ruang tamu, dapur, kamar tidur orang tuanya dan bahkan kamar mandi. Hanya balkon dan halaman saja yang tidak menjadi medan pertempuran kami berdua. Ya, saya belum cukup abnormal dengan melakukannya di kawasan terbuka.

Kegilaan itu berujung pahit, saya seakan terobsesi dengan penis muda milik Indun, hal itu membuatku melupakan kewaspadaanku terhadap janin yang kukandung. Benar saja, dua bulan kemudian saya mengalami pendarahan hebat yang mengakibatkan keguguran.

Suamiku, Prasojo tampak kecewa dengan keguguranku, namun ia menawarkan kesabarannya dengan terus berada di sampingku selama masa pemulihannku. Ia benar-benar suami yang baik dan itu mengakibatkan rasa bersalah di dalam benakku. Ya, saya telah mengkhianati suamiku, sebuah perselingkuhan dengan anak yang umurnya terpaut cukup jauh, bahkan belum dapat dikatakan dewasa. Kadang penyesalan dan rasa bersalah itu terasa begitu besar, hingga membuatku menangis sendiri. Suamiku benar-benar sosok yang bertanggung jawab, mungkin keguguranku ialah jawaban dari Tuhan, mungkin inilah caraNYA mengingatkan atas kelalaianku.

Dan sekali lagi dalam hidupku, saya bersumpah setia kepada suamiku.

Indun sendiri seolah mengerti dengan keadaan yang terjadi, ia sering tiba mengunjungiku, suamiku telah menganggapnya mirip anak sendiri. Beberapa kali terlihat suamiku mengobrol bersama Indun, memberinya beberapa pesan yang tersirat tanpa mengetahui bahwa Indun lah Ayah dari janin dalam kandunganku, sekaligus penyebab utama keguguranku.

“Bu Lani…” lamunanku buyar kala Indun meraih tanganku lembut. Aku menoleh dan tersenyum ke arahnya.

“Kita harus menghentikan ini, Ndun…,” ujarku lirih, tak ingin terdengar oleh suami dan anak-anakku yang mungkin ada di rumah. “Ini semua salah.”

“Maafkan Indun, Bu…” Indun menundukkan pandangannya.

“Bukan salahmu, Ibu yang lebih bersalah dalam hal ini, Ndun,” kubelai rambut Indun dengan lembut. “Lupakan apa yang sudah terjadi dan belajarlah dari pengalaman,” entah dari mana saya dapat mendapat kalimat bijak mirip itu, mungkin kalimat itu sejatinya untuk diriku sendiri.

Indun mengangguk lemah, “Baik Bu,” ujarnya seraya tetap menunduk. Tidak lama kemudian saya melihat sosok suamiku memasuki ruangan.

“Kamu nggak dicari Ibumu, Ndun? Sudah hampir maghrib lho,” Suamiku berkata pada Indun seraya tersenyum lembut.

“Eh… iya Om, ini Indun mau pamit,” jawab Indun tanpa berani menatap mata suamiku.

“Inget pesen Om tadi, berguru yang pinter, masa depanmu masih panjang,” suamiku memberi pesan yang tersirat kepada Indun.

“Siap, Om,” Indun beranjak berdiri dan menoleh ke arahku. “Bu, Indun pulang dulu, mari Om,” ujarnya sopan.

“Hati-hati di jalan Ndun,” jawabku.
Sejak hari itu Indun secara intens tiba ke rumah untuk melihat keadaanku, kulihat ia sudah mampu berbaur dengan Rika dan Sangga, anak-anakku. Suamiku pun menyambutnya dengan baik. Seiring membaiknya keadaanku, suamiku meminta ijin padaku untuk kembali ke kawasan dinasnya. Anak keduaku Sangga juga meminta ijin untuk kost di kawasan yang tidak jauh dari sekolahnya sedang Rika memilih untuk menemaniku di rumah, kebetulan dikala itu Rika sedang liburan.

“Mi, hari ini sop ayam ya?” Rika menanyakan sajian untuk makan siang yang hendak dipersiapkannya. Anak gadisku ini benar-benar telah tumbuh menjadi gadis yang mandiri, tidak hanya kepiawaiannya dalam mengurus rumah, namun kecantikan dan postur tubuhnya juga telah terbentuk indah. Rupanya ia mengikuti kebiasaanku yang rajin berolahraga untuk menjaga bentuk tubuh.

“Biar mami bantu masak ya?” jawabku seraya berusaha bangkit dari tidurku.

“Lhoo nggak usah,” Rika bergegas mendekat dan dengan lembut membaringkanku. “Dokter bilang, Mami harus istirahat total selama satu bulan penuh. Tidak boleh beraktivitas APAPUN,” Rika mengingatkan dengan gayanya yang sok tua, membuatku tertawa geli melihatnya.

“Perasaan yang tidak boleh oleh dokter itu aktifitas berat deh, bukan apapun.”

“Ambil amannya aja Mi, aktifitas APAPUN,” Rika menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di hadapanku. “Lagipula, Rika dibantu sama Indun kok, dia cukup cekatan juga dalam duduk masalah dapur.”

“Oh, ya sudah kalo Rika sudah ada yang membantu,” ujarku sambil tersenyum. “Adikmu nggak pulang ke rumah? Ini kan hari minggu?”

“Tadi telepon sih pulang Mi, Oh itu dia!” Rika berujar dikala mendengar bunyi mesin sepeda motor memasuki pekarangan rumah. “Ya udah, Rika masak dulu ya Mi?”

Aku tersenyum mengangguk, Rika lantas melangkah keluar dan menutup pintu kamar. Ia benar-benar telah menjadi gadis remaja yang dapat diandalkan, pikirku.

Jarum jam dinding kamarku menawarkan pukul dua belas siang dikala saya terbangun, rupanya saya sempat tertidur beberapa jam setelah meminum obat pertolongan dokter. Obat yang diberikan padaku memang mengandung zat penenang, biasanya saya meminumnya di pagi hari dan terbangun dikala sore menjelang. Namun sepertinya kondisi badanku sudah cukup besar lengan berkuasa sehingga tidak perlu tertidur selama itu lagi.

Kurasakan kering di tenggorokanku, rupanya itu yang membuatku terbangun, saya duduk dan meraih gelas yang terletak di atas meja kamarku, kosong… sepertinya Rika lupa mengisi gelas itu, dispenser air mineral di kamarku juga sudah habis.

“Rika… Sangga…,” saya memanggil nama kedua anakku, namun hanya bunyi kering yang lemah keluar dari bibirku. Tenggorokanku terasa sangat kering hingga saya tak dapat bersuara lantang. Tidak ada pilihan lain, saya beranjak dari kawasan tidurku dan melangkah pelan menuju dapur.

Lantunan musik reggae kesukaan Sangga terdengar melantun dari ruang tengah rumahku, sepertinya di sanalah mereka berkumpul. Aku berjalan melewati ruang tengah namun saya tidak menemukan siapa-siapa di sana. Mungkin mereka masih sibuk memasak, tanpa banyak berpikir kulanjutkan langkahku menuju dapur.

Tidak ada siapa-siapa di dapur. Aku mengambil gelas dan mengisinya dengan segelas air mineral. Air itu terasa sangat segar mengalir di tenggorokanku yang kering. Saat hendak kembali, saya melewati panci tertutup yang masih ada di atas kompor, kutengok isinya, sepanci sop ayam tersedia di dalamnya. Rupanya aktifitas masak mereka telah selesai. Sayup-sayup kudengar bunyi seseorang dari halaman belakang, akupun melongok ke jendela namun tak ada siapapun di sana. Benakku mulai berpikir ihwal hal-hal mistis, membuatku jadi merasa ketakutan sendiri. Akupun melangkah kembali ke kamarku.

Dak…dak…

Suara benda keras beradu terdengar samar dikala saya melewati kamar Rika yang tertutup. Kuhentikan langkahku dan memasang indera pendengaranku tajam-tajam, mencoba menangkap sumber bunyi diantara lantunan lagu reggae yang diputar cukup nyaring.

Dak…dak… emhh…

Suara benturan itu terdengar lagi, kali ini diikuti lenguhan seseorang, saya tidak dapat memastikan apakah itu lenguhan pria atau wanita. Yang jelas, bunyi itu berasal dari dalam kamar Rika. Aku menggengam gagang pintu kamar untuk membukanya.

“Pelan… Dik… Ahh…”

Sebuah bunyi yang kini terang terdengar mengurungkan niatku membuka pintu. Kali ini jelas, itu bunyi Rika. Suaranya terdengar berbaur dengan nafas yang memburu, ya… ada nafas yang terdengar memburu, apa yang Rika lakukan di dalam sana?

“Ohh Mbak… gini enak??”

Kudengar bunyi pria dari dalam kamar. Aku mengenal bunyi itu, Sangga, anak keduaku. Apa yang tengah dilakukan kakak-beradik itu? Suara mereka seperti… apakah mereka tengah bersenggama?!. Kulayangkan pandanganku ke sekitar dan menemukan sebuah kursi plastik kecil, kuletakkan kursi itu di depan pintu dan beranjak naik ke atasnya, mencoba mengintip dari ventilasi di atas pintu. Aku tak mengerti apa yang kini sedang kulakukan, ini rumahku dan mengapa saya malah mengintip? Entah, toh tetap saja saya naik dan mengintip.

Apa yang saya lihat dari ventilasi di atas pintu kamar itu sangat mengejutkanku. Rika, anak gadisku tampak menghadap ke arah dinding kamarnya, tubuhnya telanjang bundar tanpa sehelai benangpun. Punggungnya merunduk sedang kakinya masih berdiri terbuka, payudara kencangnya tampak terayun-ayun ke depan, mata indahnya terpejam, bibir mudanya setengah terbuka dan sesekali mengeluarkan erangan-erangan erotis, bercampur baur dengan nafasnya yang memburu. Ekspresi wajahnya… menggambarkan kenikmatan yang tengah menderanya.

“Dik.. Ahh…,” Rika menengadahkan wajahnya, tubuh indahnya terdorong-dorong seiring kencangnya sodokan yang diterimanya dari belakang. Ah! Aku hampir saja melewatkan sosok perjaka yang kini asyik menyetubuhi putriku, tubuh perjaka itu tampak cukup berisi, ia sama telanjangnya dengan Rika, asisten perjaka itu menarik pundak kanan Rika, membuat punggung anak gadisku sedikit menekuk ke atas sedang tangan kiri perjaka itu mencengkeram lekuk pinggul Rika. Rambut perjaka itu… Oh Tuhan! Dia anakku Sangga!. Rika tengah disetubuhi dari belakang oleh adik kandungnya sendiri!.


Persetubuhan sedarah itu membuatku berdesir, harusnya saya menghentikan kegilaan yang terjadi di rumahku ini tapi entah mengapa saya seolah tertahan tak berdaya. Kurasakan gejolak dalam diriku, apakah saya menikmati apa yang kulihat? Oh… seluruh tubuhku terasa merinding geli melihat bagaimana batang kejantanan Sangga keluar masuk liang kewanitaan kakaknya dengan cepat dan pasti, ukuran penisnya cukup besar, tidak berbeda jauh dengan milik Prasojo suamiku, Ayah kandungnya.

“Ahh… Mbak… enak banget…,” Sangga melenguh sembari menusuk-nusukkan penisnya ke dalam tubuh Rika. “Ahh… empot terus Mbak….,” ia memejamkan matanya sambil terus meningkatkan ayunan pinggulnya.

“Iya… Shhh… Dik… Mbak mau…,” Rika mengepalkan tangannya dan memukul-mukul dinding. “Teruss Dik… Mbak.. mau… OOuuhhh!”

Tubuh Rika terdorong oleh hentakan keras adiknya hingga menempel rapat ke dinding, mampu kulihat anak gadisku itu mengejan beberapa dikala matanya terpejam, ia menggigit bibir bawahnya dikala tubuhnya terus saja mengejan dihimpit oleh dinding dan tubuh telanjang adik kandungnya. Ya, saya tahu apa yang Rika alami, wajahnya terlihat memerah, ia tengah orgasme.

“Keluar Mbak?” tanya sanggah tanpa melepaskan penisnya. Rika hanya mengangguk lemah dengan nafas tersengal-sengal. Sangga lantas menarik penisnya lepas dan membalik tubuh Rika. Aku mampu melihat bulir-bulir keringat di sekujur tubuh mulus dan kencang Rika. Membuat tubuh montok anak gadisku itu tampak berkilau dan menggairahkan.

“Ahh..,” lenguhan kembali terdengar dari bibir muda Rika kala penis Sangga kembali memasuki tubuhnya, kali ini mereka melakukannya dengan posisi berhadap-hadapan. Sangga melumat bibir Rika dengan ganas, merapatkan tubuhnya hingga buah dada Rika menempel di dada telanjangnya. Kulihat Sangga kembali menggerakkan pinggulnya, kembali menyetubuhi kakak kandungnya yang kini terhimpit antara dinding dan tubuh adik kandungnya.

Kupikir posisi itu cukup sulit untuk melaksanakan persetubuhan dengan tempo kencang, namun sekali lagi perkiraanku salah. Sangga dengan piawai memompa tubuh Rika kencang-kencang, membuat Rika terlonjak-lonjak final sodokan penisnya.

“Ah… saya keluar mbak…,” ujar Sangga di sela-sela pompaan penisnya.

Disini seharusnya saya menghentikan mereka! Namun sekali lagi saya hanya terdiam, lutut dan lidahku seolah kelu dan tak mau mendapat perintah dari nalar ku. Aku hanya berharap Sangga tidak mengeluarkan benihnya di dalam tubuh Rika, saya berharap Rika masih punya cukup nalar untuk tidak membiarkan adik kandungnya menghamilinya.

Harapanku sirna dikala kulihat Sangga melesakkan dalam-dalam penisnya dan menggeram, tubuhnya mengejan beberapa saat, menunjukan ia mencapai ejakulasinya. Oh tidak! Apa yang akan terjadi dengan keluarga ini jikalau Rika mengandung anak dari adik kandungnya sendiri. Oh Tuhan! Aku merutuk dan meratap dalam hati.

Kulihat mereka terdiam untuk sejenak, sebelum Sangga mencabut penisnya. Untunglah! Aku bersyukur dalam hati dikala melihat Sangga melepaskan sesuatu dari penisnya, rupanya ia menggunakan kondom. Untunglah masih ada nalar dalam diri anak-anakku.

Tubuh telanjang Rika merosot lemas hingga ia berjongkok di atas lantai, kulihat ia masih mengatur nafasnya. Tubuhku masih saja terasa merinding dan kewanitaanku kini terasa lembab. Apa yang salah dengan diriku? Mengapa tubuhku membuktikan bahwa saya menikmati mmengintip persetubuhan sedarah yang dilakukan kedua anak kandungku. Ini salah! Ini benar-benar salah!.

“Ayo mbak.”

Suara seorang pria membuyarkan lamunanku, bukan… itu bukan bunyi Sangga, saya mengenal bunyi itu… itu bunyi Indun! Dan benar saja, kulihat Indun sedang membantu Rika berdiri dan membaringkan tubuh telanjang anak gadisku ke atas kasur. Kulihat Indun yang juga telah telanjang menarik kedua kaki Rika hingga terjuntai di tepi ranjang, kulihat Indun menggesek-gesekkan penisnya yang telah ereksi ke sepanjang bibir kewanitaan anak gadisku.

Dan sekali lagi Rika melenguh dikala penis Indun, bocah SMP kelas tiga itu memasuki tubuh sintalnya. Rika hanya terbaring pasrah dikala Indun menggoyang, meremas dan menghisap buah dadanya, Sesekali Rika tampak ikut bergoyang. Berarti sedari tadi Sangga dan Rika melaksanakan persetubuhan di hadapan Indun dan kini Indunlah yang menikmati tubuh anak gadisku.

Seketika itu pening menyerang kepalaku, terlebih lagi dikala saya melihat Sangga naik ke atas ranjang, masih dalam keadaan tanpa busana dan penis yang belum tegang. Kulihat Sangga, putraku mengarahkan penisnya ke bibir Rika, kakak kandungnya.

Aku bergegas turun dan berjalan tertatih menuju kamarku, berbaring dan bersembunyi di balik selimutku. Kepalaku terasa pening, tubuhku gemetar, lututku terasa lemas dan kewanitaanku telah basah. Kupejamkan mataku dan berusaha mengusir bayangan terakhir dari apa yang kulihat, bayangan tubuh indah anak gadisku, Rika yang tengah mengulum penis Sangga, adik kandungnya, dikala vaginanya disodok oleh penis Indun. Ah! Seharusnya saya tidak mengawali semua ini…. Seharusnya persetubuhanku dengan Indun tak pernah terjadi.


Sore itu saya baru saja selesai menurunkan pakaian dari jemuran di belakang rumah, sudah enam bulan berlalu sejak saya melihat hal terlarang yang seharusnya dapat saya hentikan. Kadang saya masih merasa miris mengingat apa yang kulihat, namun saya tetap berusaha tampil tegar, seolah saya tidak pernah melihat insiden itu. Rika kini telah kembali ke kesibukan kuliahnya, begitu pula dengan Sangga yang tak lagi tinggal di rumah. Indun? Bocah tetanggaku itu sudah jarang sekali terlihat, sepertinya ia menyadari kursi yang saya tinggalkan begitu saja di depan pintu kamar Rika.

Kudengar bunyi mesin sepeda motor memasuki pekarangan rumah. Kulihat Rika datang, mengenakan kemeja berwarna coklat khaki dan celana jeans ketat, dengan rambut panjang hitam yang tergerai indah membuatnnya tampak sangat anggun.

“Lho, tumben nih pulang? Kan belum hari minggu?” sapaku dikala ia mencium tanganku. “Mbak mau dimasakin apa buat makan malam?” tawarku
padanya.

“Mi…,” Rika memanggilku lirih, pandangan wajahnya merunduk, seolah telah melaksanakan sebuah kesalahan. Seketika itu firasat buruk menyergapku. “Aku hamil…,” ucapnya lemah.

Aku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku. Kabar yang dibawa anak gadisku bagai petir yang menyambar di siang bolong.

“Siapa Ayahnya? Pacarmu?” tanyaku menyelidik.



“Bukan,” Rika menggeleng lemah. “Ayahnya… Indun.”

Dan seketika itu saya kehilangan kesadaranku.


3