Showing posts with label Cerita Selingkuh. Show all posts
Showing posts with label Cerita Selingkuh. Show all posts

Cerita Ngentot Cewek Baru Dikenal Di Wisma

Cerita Ngentot Cewek Baru Dikenal Di Wisma - Kumpulan kisah sex terbaru, kisah ngentot janda, kisah seks tante, kisah mesum abg, kisah panas selingkuh, pemerkosaan perawan dan kisah bakir balig cukup akal hot lainnya yang diambil dari kisah aktual untuk menghibur pembaca Cerita Sex Bergambar. lihat juga bacaan sebelumnya yang tak kalah seru untuk di baca : Cerita Dewasa ABG SMU Ngentot Sama Om Om.

Cerita Ngentot Cewek Baru Dikenal Di Wisma

Cerita Sex - Entah bagaimana awalnya sepulang dari kantor saya tahu-tahu sudah berada di Stasiun Tanah Abang. Padahal rumahku di tempat Jakarta Timur. Waktu itu, Stasiun Tanah Abang lagi direnovasi. Kulihat seorang wanita sedang asyik menelepon dari telepon umum koin di dalam stasiun. Aku mendekat dengan tidak menyolok, seakan-akan saya antri mau menelpon. Kuamat-amati dari erat wanita tadi. Wajahnya bulat, rambut ikal sebahu, kulit agak gelap tapi bersih, tidak terlalu rupawan alias STD, badannya montok, kurasa sedikit overweight namun badannya kelihatan kencang, tinggi sekitar 163 cm, dada 34 B.
Cerita Ngentot Cewek Baru Dikenal Di Wisma Cerita Ngentot Cewek Baru Dikenal Di Wisma
Cerita Ngentot Cewek Baru Dikenal Di Wisma

Satu koin telah habis dan beliau memasukkan koin berikutnya. Ternyata hingga koin kedua habis beliau masih belum selesai berbicara. Dia menatapku dan memberi kode apakah saya punya koin dan beliau boleh minta koinku. Kuulurkan dua koin kembalian naik mikrolet tadi. Dia mengangguk dan dengan gerakan bibir beliau katakan terima kasih. Belum habis satu koin dariku tadi beliau sudah menutup pembicaraannya. Dikembalikannya satu koin kepadaku, tapi kutolak dengan kode tangan.

"Terima kasih koinnya" beliau membuka percakapan, "Silakan kalau mau telpon" lanjutnya.

"Tadinya sih memang mau telpon, tapi tiba-tiba saya ingat kalau orang yang kutuju lagi keluar kota" jawabku cari alasan. Aku memang tidak ada niat telepon, hanya alasannya kulihat beliau dari jauh agak OK makanya kudekati.

"Kelihatannya penting amat telponnya tadi, tapi sorry bukan saya mau tahu urusan orang" kataku.

"Iya, telpon ke adikku. Besok ada program keluarga, rame-rame sebulan sekali" jawabnya ramah.

"Ohh iya, saya Anto" kuulurkan tanganku.

"Ina" sahutnya pendek menyambut tanganku. Busyet, keras amat jabatan tangannya. Jangan-jangan kuli angkat stasiun pikirku.

Kami keluar dari ruangan stasiun dan berdiri di teras. Kembali basa-basi standar orang timur terjadi. Pertanyaan-pertanyaan baku menyerupai dari mana? Mau ke mana? Dengan siapa? Meluncur begitu saja. Kuamati sekali lagi dari atas ke bawah dengan cermat. Meskipun tidak terlalu cantik, kelihatannya OK juga kalau diajak bergumul di atas ranjang.

Kuberanikan diriku untuk mengajaknya ke wisma kecil di depan stasiun. Kupikir untung-untungan aja. Kalau beliau marah, ya tinggal aja. Kalau mau, itu beliau yang diharapkan.

"Ina mau ikut saya" tanyaku memancing.

"Ke mana?"

"Itu tuh ke depan situ " sambil tanganku menunjuk ke arah wisma.

Wisma tersebut memang kelihatan bukan menyerupai tempat penginapan tapi lebih menyerupai kafe dengan kepingan bambu yang disusun sebagai dinding depan. Kelihatannya cukup bersih bagi sebuah hotel melati. Dan saya sangat yakin bahwa wisma tersebut dipakai untuk lembur "short time" bagi pasangan selingkuh ataupun pasangan cinta kilat yang ada di sekitarnya.

"Boleh aja" kesannya beliau menjawab setelah sekilas melihat ke arah wisma.

Kami masuk ke wisma dan membayar di kasir. Ternyata betul dugaanku, kamar wisma ini disewakan per jam. Kami masuk ke dalam kamar. Ina terlihat agak kaget ketika melihat isi kamar, sebuah ranjang single bed dan sebuah almari pakaian.

"Lho, kita mau ngapain di sini? Jangan macam-macam padaku" tanyanya menatapku.

"Lah, tadi katanya mau diajak ke sini, sekarang kok tanya lagi" sahutku tenang.

"Kukira tadi ini kafe, kau mau ngajak makan atau minum di sini. Ternyata.. " Ina kelihatannya mau protes.

"OK, saya nggak biasa maksa wanita. To the point saja, kita mau making love di sini, kalau keberatan ya kita cabut aja," kataku.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengatupkan bibirnya.

"Baiklah kalau begitu, saya juga tidak keberatan kalau kau ngajak ML sekarang. Makara apa sekarang?"

Ina merebahkan tubuhnya ke ranjang. Aku mengikuti menjatuhkan tubuhku di sampingnya.

"Tadinya kalau kau mau macem-macem kuhajar kamu. Aku atlet Tae Kwon Do dan pernah ikut seleksi daerah" katanya datar.

Situasi sudah aman terkendali. Kulihat dari nada bicaranya beliau udah jinak.

"Gak lah, kan tadi sudah kubilang saya nggak suka maksa orang".

Tanganku mulai bergerilya. Pertama-tama kuselusupkan tanganku kiriku dari bawah badannya dan memeluk pundak kirinya. Kuremas lembut dan kuelus-elus. Ina kelihatan makin kalem dan mulai menikmati. "Yess.. " sorakku dalam hati. Kami membisu beberapa saat.

"Berapa umurmu?" tanyaku memecah kesunyian.

"Kenapa emangnya?"

"Nggak pa-pa, kalau nggak mau kasih tau".

"Tiga puluh, kau berapa? Dua delapan?" tanyanya agak ragu.

"Belum, gres dua lima kok".

"Wajahmu kelihatan lebih bakir balig cukup akal dibanding umurmu, tadinya kusangka malahan seumurku".

"Kamu punya suami In?" tanyaku.

"Aku punya, tapi bukan suami resmi. Kami hidup bersama tanpa nikah. Dia kerja sebagai DJ di Mabes, saya waitress di tempat yang sama. Sekarang saya lagi ada dilema sama dia. Aku mau cari kontrakan sendiri ".

Kueratkan pelukanku seakan-akan ikut menanggung bebannya dan menunjukkan simpatiku. Ia melepaskan diri dari pelukanku dan bangun berdiri.

"Sebentar To, saya ke kamar mandi dulu".

Beberapa ketika kemudian terdengar bunyi siraman air. Ina keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi ranjang. Kupeluk beliau dari belakang, tanganku kulingkarkan di pinggangnya. Kusibakkan rambutnya, kucium dan kugigit tengkuknya dengan gigitan kecil. Berdasarkan pengalamanku dengan gigitan kecil di tengkuk, saya akan dapat menguasainya tanpa beliau merasa tertekan.

"Sebentar, saya buka dulu bajuku ya," Katanya sambil berdiri dan membuka kancing bajunya satu persatu.

Ia membuka baju dan kemudian celana panjangnya. Kini ia tinggal mengenalan pakaian dalam saja, semuanya berwarna hitam. Bra dan celana dalamnya dari materi transparan sehingga dapat kulihat puting dan padang rumput di bawah perutnya. Ada sedikit gumpalan lemak di perut dan pahanya.

"Ayo To, atau kau cuma mau lihatin saya terus" tangannya menarik tanganku.

Aku berdiri dan kuangkat kedua tanganku ke atas. Ia mengumam " Dasar manja". Tangannya kemudian membuka kancing bajuku dan menariknya hingga terlepas, lalu kemudian membuka ikat pinggangku dan kesannya menarik ritsluiting dan dengan perlahan ia menarik celanaku ke bawah. Kini kami sama-sama hanya mengenakan pakaian dalam saja.

"Kamu sering ke sini ya?" tanyanya. Sebuah pertanyaan standar lagi, dan rasanya beliau dan juga wanita lainnya pasti tahu jawabannya.

"Ah nggak" kataku.

"Nggak percaya, kok tahu ini sebuah wisma, padahal kelihatannya dari luar menyerupai kafe".

"Kamu nggak perhatikan sih. Ada kok papan namanya kecil di atas pintu masuk"

"Kamu masih perjaka?" ia bertanya lagi.

"Emangnya kenapa. Jujur saja saya nggak pemuda lagi?"

"Eehhngng, .. " Ia mendesah ketika lehernya kujilati dalam posisi berdiri.

Ina mendorongku ke ranjang dan menindihku. Tanganku bergerak kebelakang punggungnya membuka pengait bra-nya. Kini terbukalah dadanya di hadapanku. Buah dadanya besar dan kencang. Putingnya berwarna coklat dan keras.

Ina memainkan lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku. Bibirnya agak tebal dan kaku. Ina kurang mahir dalam berciuman bibir. Lidahnya memainkan lidahku. Aku tidak mau aktif, paling sesekali gantian mendorong lidahnya. Tangan kananku memilin puting serta meremas payudaranya.

Ina menggerakkan tubuhnya agak ke atas. Payudaranya pas sekali di depan mulutku. Segera kuterkam payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap pelan dan kugigit kecil.

"Aaacchh, Ayo Anto.. Teruskan Anto.. Teruskan". Ia mengerang..

Kemaluanku mengeras. Ina menekankan selangkangannya pada selangkanganku. Kemaluanku agak sakit kalau beliau terlalu keras menekanku. Puting dan payudaranya semakin keras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku, putingnya kumainkan dengan lidahku. Dadanya mulai naik turun dengan cepat membuktikan nafsunya mulai naik. Napasnya terputus-putus.

Tangan Ina menyusup di balik celana dalamku, kemudian mengelus, meremas, mengocok dan menggoyang-goyangkan meriamku. Ditariknya celana dalamku dan dilepaskannya ke bawah. Kini saya dalam keadaan bugil.

Ina menggerakkan bibirnya ke arah leherku, mengecup, menjilati leherku dan menggigit kecil daun telingaku. Hembusan napasnya terasa kuat. Dia mulai menjilati putingku dan tangannya bermain-main dengan bulu dadaku. Aku terangsang mahir sekali. Kugelengkan kepalaku untuk menahan rangsangan ini. Kupeluk pinggangnya kuat-kuat.

Tangannya lalu membuka celana dalamnya sendiri dan melemparkannya ke erat kaki. Tangan kiriku bermain di antara selangkangannya. Rambut kemaluannya tidak lebat dan tidak panjang. Kubuka bibir luar dan bibir dalam vaginanya. Jari tengahku masuk sekitar 2 cm dan menekan episode atas organ kewanitaannya menonjol menyerupai kacang. Setiap saya mengusapnya Ina mengerang tertahan. Aku tidak mau jariku terlalu masuk ke dalam, cukup hanya masuk satu ruas dan mengusap serta menekan dinding atas vaginanya. Aku pernah baca ihwal G-Spot, tapi saya juga tidak terlalu berharap untuk menemukannya pada wanita yang kukencani. Aku percaya bahwa setiap wanita punya titik rangsangan yang unik.

"Oouuhh.. Aaauhh.. Ngngnggnghhk"

Kulepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulutnya semakin ke bawah, menjilati bulu dada dan perutku. Tangannya masih bermain-main di kejantananku. Dengan bahasa tubuh kuisyaratkan biar beliau mau menghisap meriamku. Entah kenapa kali ini dengan Ina saya ingin sekali melaksanakan oral sex. Biasanya saya menyerahkan pada inisiatif lawan mainku. Dia hanya menggeleng dan bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku.

Ina kembali bergerak ke atas, tangan kirinya memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri mengeras. Badannya kurasakan memang kencang dan keras, maklum atlet. Kugulingkan badannya sehingga saya berada di atas. Kembali kami berciuman. Tapi memang Ina kurang bisa bermain dengan bibirnya sehingga ciuman kami juga tidak terlalu nikmat. Kuisap-isap puting susunya sehingga beliau mendesis dan memekik perlahan dengan bunyi sengau.

"SShh.. Ssshh .. Ngghh..

Perlahan lahan kuturunkan pantatku sambil memutar-mutarkannya. Penisku episode ujung lebih besar daripada pangkalnya. Kepala penisku digenggam dengan telapak tangannya, dan digesek-gesekkan di lisan vaginanya. Terasa hangat dan mulai berair. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya. Kuminta beliau untuk melepaskan tangannya dari penisku. Aku ingin memasukkan tanpa perlindungan tangan, hanya dengan daya ketegangan dan kekerasan penis. Ina merenggangkan kedua pahanya dan sedikit mengangkat pantatnya. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir luarnya hingga terasa keras sekali. Ina hanya merintih dan memohon padaku untuk segera memasukkannya semua.

"Ayolah Anto, please.. Pleasse.. "

Aku mencoba untuk menusuk lebih dalam, tetapi ternyata masih agak sulit. Akhirnya kukencangkan otot Kundaliniku dan kali ini.. Blleessh. Usahaku berhasil.

"Ouhh.. Ina ouhh," kini saya yang setengah berteriak.

Aku bergerak naik turun. Perlahan-lahan saja kugerakkan, sambil mencari posisi dan ketika yang tepat. Ina mengimbangi dengan memutar pinggulnya. Kepalanya mendongak ke atas dan bergerak ke kanan kiri. Kedua tanganku bertumpu menahan berat badanku. Ketika lendirnya sudah membasahi vaginanya kupercepat gerakanku. Kadang-kadang kubuat tinggal kepala penisku saja yang menyentuh lisan vaginanya.

Kuhentikan gerakanku, kurebahkan tubuhku di atasnya. Kini penisku kukeraskan dengan cara seakan-akan menahan kencing hingga terasa mendesak dinding vaginanya. Kutunggu reaksinya. Aku mengharap biar ia juga melaksanakan kontraksi dinding vaginanya. Ia hanya terpejam dan bola matanya memutih setiap penisku berkontraksi. Ternyata ia tidak terlatih untuk melaksanakan kontraksi otot kemaluannya. Beberapa ketika kami dalam posisi itu tanpa menggerakkan tubuh, hanya otot kemaluanku saja yang bekerja sambil saling berciuman dan memagut episode tubuh lawan main kami.

"Anto, .. Sedap.. Nikmat sekali.. Ooouuhh" desisnya sambil menciumi leherku.

Kuputar kaki kanannya melewati kepalaku sehingga saya berada di belakangnya. Kuputar tubuhnya lagi hingga saya menindihnya dalam posisi kami berdua tengkurap di ranjang. Dalam posisi ini gerakanku naik turunku menjadi bebas. Tangannya meremas-remas tepi ranjang. Kuciumi tengkuk dan lehernya. Ketika kucium lehernya di episode samping, kepalanya terangkat dan mulutnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya sebentar. Kuatur gerakanku dengan ritme pelan namun kutusukkan dengan dalam hingga kurasakan kepala penisku menyentuh lisan rahimnya. Ketika penisku menyentuh rahimnya Ina mengangkat pantatnya sehingga tubuh kami merapat.

Kupegang pinggulnya dan kutarik sehingga pantatnya terangkat ke belakang. Ina tahu keinginanku. Kepalanya ditaruh miring di atas bantal dan pantatnya menggantung dalam posisi nungging. Doggie Style!! Kupegang pinggulnya dengan kuat. Pantatku kugerakkan maju mundur dan terkadang memutar. Ina juga mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya maju mundur. Bunyi paha beradu memenuhi seluruh ruangan kamar. Kadang kujulurkan tanganku ke depan untuk memainkan payudaranya.

"Plok.. Plok plok plok.. "

"Anto.. Ayo lebih cepat lagi.. Ayoo"

Kupercepat gerakanku dan Ina juga mengimbanginya. Kulirik jam dinding. Sudah setengah jam lebih kami bertempur. Kupikir sebentar lagi akan kutuntaskan permainan ini.

"Lebih cepat lagi, oohh.. Aku mau keluar aacchhkk.. "

Akupun merasa ada yang mau terlepas dari laras meriamku. Aku selalu mau mencapai puncak dalam posisi konvensional. Kucabut meriamku dan kugulingkan lagi tubuhnya kembali dalam posisi konvensional. Tidak mungkin dalam posisi doggie style kembali ke konvensional tanpa mencabut penis. Kumasukkan kembali penisku dengan perlahan dan dengan ketegangan yang penuh. Ina memelukku erat. Kakinya membelit pahaku, matanya terpejam, kepalanya terangkat.

Kuubah gerakanku, kugerakkan dengan pelan dan ujung penisku saja yang masuk beberapa kali. Dan kemudian kutusukkan sekali dengan cepat hingga seluruh batang terbenam. Matanya semakin sayu dan gerakannya semakin ganas. Aku menghentikan gerakanku dengan tiba-tiba. Payudaranya sebelah kuremas dan sebelah lagi kuhisap kuat-kuat. Tubuh Ida bergetar "Ayo jangan berhenti, teruskan.. Teruskan lagi " pintanya.

Aku merasa wanita ini hampir mencapai puncak. Kugerakkan lagi pantatku dengan gerakan yang cepat dan dalam. Bunyi menyerupai kaki yang berjalan di tanah becek makin keras bercampur dengan bunyi desah napas yang memburu

"Crrok crok crok.. ".

"Ayolah Anto, saya mau kelluu.. ".

Gerakan pantatku semakin cepat dan akhirnya

"Sekarang.. Sayang.. Sekarang..!!"

Tubuhnya menegang, dinding vaginanya berdenyut kuat, napasnya tersengal dan tangannya memukuli punggungku. Kukencangkan otot perut dan kutahan, terasa menyerupai ada fatwa yang mau keluar. Aku berhenti sejenak dalam posisi kepala penis saja yang masuk vaginanya, kemudian kuhunjamkan cepat dan dalam.

Crot Crott.. Crott, beberapa kali spermaku kutembakkan. Kami saling berteriak tertahan untuk menyalurkan rasa kepuasan.

"Yess.. Achh.. Auuhhkk".

Pantatnya naik menyambut hunjamanku dan tubuhnya gemetar, pelukan dan jepitan kakinya semakin erat hingga saya merasa sesak, denyutan di dalam vaginanya terasa berpengaruh sekali meremas kejantananku. Beberapa ketika kami berdiam untuk memulihkan tenaga. Kucabut meriamku dan kami membersihkan diri.

"Kamu OK In, hanya satu kekuranganmu. Kurang romantis dan kurang lihai bermain bibir" kataku memuji sekaligus mengkritik.

"Yach, memang itulah kemampuanku" jawabnya.

"Di dalam arena pertandingan mungkin saya babak belur kena tendanganmu, tapi di atas ranjang jangan coba-coba, kau tahu sendiri hasilnya kan? Makanya jangan macam-macam denganku " kataku bercanda.

Kami keluar dari hotel dan pulang tolong-menolong alasannya kebetulan rumah kami searah. Setelah itu kami masih sering bikin kesepakatan untuk berkencan. Pernah sekali kukerjain beliau di kamar kontrakannya di lantai II, sementara yang punya rumah tinggal di lantai I. Lucunya ketika masih dalam keadaan bugil dan berhimpitan beliau dipanggil alasannya ada telepon buatnya. Kubilang terima dulu telponnya deh, tapi beliau bilang biar saja, lagi tanggung katanya. Sampai kesannya waktu kami berpisaHPun beliau masih belum mahir untuk melaksanakan french kiss. Erangannya ketika kami bercinta selalu membuat adrenalinku berpacu. Satu hal keistimewaannya yaitu kenikmatan yang luar biasa ketika doggie style.

End by Kumpulan Cerita Sex Bergambar - Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017.
Sumber http://www.ceritasex2017.com/
3