Showing posts with label Dengan. Show all posts
Showing posts with label Dengan. Show all posts

Kumpulan Cerita Dewasa Hubungan Antara Bos Dan Pembantu

Kumulan Cerita Dewasa - Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun kemudian dikala saya berumur 22 th. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi tinggi tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan china berumur 40th berjulukan berjulukan Jeany, ia mempunyai 2 orang anak berumur 5 dan 9 th.

Mulanya saya hanya tertarik alasannya orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup sanggup mengikuti gaya anak muda alias lumayan ‘gaul’ lah. Hampir setiap malam ia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon.

Suatu dikala Jeany akan ada peran dari kantornya ke Surabaya ia menelepon minta dijemput di Airport katanya, wah asyik nih saya sanggup ketemu sekalian sanggup ngobrol dan bercanda.

Pada dikala hari H ia telpon saya lagi ia bilang ia pake baju warna pink dan celana panjang hitam. Hmm sesampainya di airport saya bingung sekali waktu saya lihat-lihat di kedatangan airport yang pakai baju pink dan celana hitam cuman ada satu orang itupun kira-kira masih sekitar umur 30 th menurutku.

Aku beranikan diri untuk menyapa,
“Hmm selamat siang bu, ma’af ibu yang berjulukan Jeany?” dengan senyum yang manis ia langsung merespons,
“Apakabar Iwan”.

Saya langsung melongo alasannya melihat tampangnya yang masih manis dengan tubuh langsing tapi gemuk pada kepingan yang penting tentunya. Tiba-tiba jeany langsung mencium pipiku..
“Mmmuuaachh jangan pake ibu segala ya.. Panggil Jeany aja!”.

Wah-wah saya langsung rada horny.. He.. he..he.. Seharian saya antar ia keliling ke kantor klien-kliennya, setelah jam kerja usai, kita makan malam dan saya antar lagi ia ke airport.

Di perjalanan tiba-tiba ia minta berhenti di pinggir jalan. Saya tanya,
“Kenapa kok berhenti?” tanpa banyak bicara ia langsung mencium bibir saya dan membuka retsleting celana saya, penis saya langsung menegang tanpa basa-basi.

Sambil mengelus-elus batangku ia bergumam,

“Hmm mantap juga batang kau ini”
Ukuran penisku tidak terlalu besar sih sekitar 18 cm panjangnya, tapi berdasarkan Jeany, “helm proyek”-nya ini sanggup bikin nyesek.. He.. he.. he.. he..

Setelah puas melumat bibirku ia langsung menyedot batang kemaluanku yang dari tadi sudah menunggu hisapan lisan sexinya, tak ketinggalan lidahnya menjilat-jilat batang penisku, saya tak mau tinggal diam tanganku berusaha meremas dadanya yang cukup kenyal, tapi ia menepis, “Sudah deh kali ini agar Jeany yang kerja,”

ya.. saya pasrah saja sambil menikmati sedotan bibirnya, tak lama kemudian saya serasa melayang-layang dan kepala penisku serasa makin besar karenanya “Oughh.. ahh..” Crott!! Spermaku keluar di lisan Jeany, Dia makin absurd menyedot semua batangku masuk ke mulutnya seakan nggak mau ada spermaku yang lolos dari mulutnya. Kepala penisku masih berdenyut dikala jeany menyedotnya.

“Ahhmm yummy banget batang kamu, thank’s ya,” kata Jeany,
sambil tersenyum dan menciumku, ia sangat suka dengan penisku, sementara saya hanya sanggup diam dan masih terheran-heran melihat kebinalannya, “Ayo jalan, ntar ketinggalan pesawat nih.”
Tiba-tiba Jeany protes melihat saya hanya terdiam dan membiarkan celanaku terbuka. Pada dikala saya tiba di parkiran airport Jeany berkata, “Kamu masih utang lho sama aku”
“hmm…” saya hanya sanggup senyum sambil kali in saya yang mencium bibir sexy-nya.

Jeany memelukku erat, kami menyerupai pasangan kekasih aja.
Sebulan telah berlalu, kami tetap berhubungan via telepon, kekerabatan kami semakin akrab, kemudian saya tetapkan untuk pergi ke Jakarta untuk bertemu Jeany. Kebetulan anak-anaknya sedang liburan sekolah, sekalian saya bertugas mengajak anaknya jalan-jalan.

Saat tiba di Jakarta saya menginap di sebuah hotel yang cukup terkenal di daerah Senayan. Lalu kami bertemu dan jalan-jalan bersama kedua anaknya,
“Hmm sudah menyerupai keluarga aja nih” pikirku dan Jeany terlihat makin cantik, lebih manis dari sebelumnya.
Sepulang dari jalan-jalan, tiba-tiba anak Jeany yang berumur 7th meminta saya untuk menginap di rumahnya, agar kita sanggup main playstation berdua. Asyik juga nih pikirku, alasannya memang saya juga keranjingan main game. Saya dan Dodi (anak sulung Jeany) sudah 2 jam main playstation. Saat itu sudah jam 23.00, Dodi sudah mau tidur sementara Jeany masih sibuk membereskan kamar yang akan saya tempati.

Kelar main PS dengan Dodi, saya langsung mandi alasannya sejak tadi saya belum mandi. Selesai mandi saya lihat Jeany sudah selesai beres dan duduk di sofa ruang keluarga sambil nonton TV. Cantik sekali Jeany dikala itu, dengen baju tidur warna ungu, wah.. yang bikin saya deg-degan dadanya yang berukuran 34b menyembul dibalik gaunnya, dan setelah saya curi-curi pandang ternyata ia tidak memakai bra.



“Kamu masih hutang ama saya lho Wan”, jeany berkata begitu dengen senyum manisnya.
Ya saya langsung jawab aja,
“Iya deh pasti saya lunasin kok” wah kebeneran nih ngerasain vagina janda..
Hehehehe biarpun sudah umur 40-an tapi badannya sangat sexy alasannya memang hobbynya berenang.
“Kita sambil nonton bokep yuk Wan,” kata Jeany.

Sewaktu Jeany memasang VCD rada sedikit nungging, Hmm.. pahanya terlihat mulus den bagian pantatnya terlihat sangat bersih, saya tak tahan langsung aja saya samperin dan menjilat bagian pantatnya dari belakang hingga turun ke selangkangan.
“Ahh sayangg.. Sabar donk.. Aku sudah lama nggak diginiin” Jeany mendesah sambil kakinya gemetaran.
Aku gendong saja ke sofa terus saya ciumin bibrnya, Jeany merespons ciumanku dengan ganasnya,
“Jago juga nih ciumannya”, pikirku.

Sementara kedua tanganku mulai menyelusup ke dadanya yang sejak tadi membusung alasannya menahan nafas,
“Oughh ahh.. Terusin sayang,” desahnya.

Tangan jeany mulai berusaha meraih batang penisku yang sudah menegang dengan helm yang memerah,
“Eitt ini giliranku bayar hutang,” tanganku menepis tangan jeany dengan lembut, ia hanya tersenyum.
Sementara mulutku mulai menjilat-jilat puting jeany yang berwarna pink. Jemarinya mendekap erat kepalaku, sambil mendesah dan kakinya memeluk erat pinggulku,
“Suck my pussy baby” Jeany mendorong kepalaku ke arah vaginanya yang dari tadi cairannya membasahi dadaku.
Hmm asyik benar nih pikirku dalam hati. Saat saya mulai menyapukan lidahku dari kepingan bawah ke atas vaginanya saya merasakan cairan yang sangat nikmat yang saya impikan sejak pertama kali bertemu Jeany. Aku hisap clitorisnya ia makin mengejang dan saya merasakan vaginanya sperti menghisap bibirku.

“Ciuman ama bibir atau vagina sama enaknya nih,” pikirku.
“Oughh sayangghh enak,” gumamnya.
Lidahku mulai bergerak konstan di clitorisnya semakin cepat, pantatnya bergerak naik turun mengikuti irama lidahku, tiba tiba ia berteriak histeris.

“fish.. Ahh ahh oughh ah ahh ahh.. Iwann eghh.,” tubuh Jeany mengejang, tangannya menekan kepalaku ke vaginanya hingga hidung dan hampir semua wajahku lembap alasannya cairan vaginanya.
Nafasnya tersengal-sengal dadanya makin membusung (ini pengalaman pertamaku menjilat vagina, sekarang saya suka sekali menjilat vagina hingga lawan sex-ku mencapai titik puncak alasannya jilatanku). Aku jilati terus dan saya telan semua cairan vaginanya, rasanya yummy banget!!

Sementara nafas Jeany masih tersengal-sengal saya angkat kedua pahanya sehingga lobang pantatnya pas berada di bibirku. Aku jilati lagi sisa-sisa cairan yang meleleh di lobang pantat jeany sambil saya teruskan jilatanku ke atas dan turun lagi berulang-ulang. Tangan Jeany makin menekan kepalaku, saya makin menikmati permainan ini dan saya lihat kepala jeany menegadah menerangkan ia sangat menikmati jilatanku, hingga karenanya saya berbalik lagi menjilat kepingan lobang vaginanya yang masih berdenyut.

“Sayangghh terusinn saya hampir hingga lagi nihh,”gumamnya sambil menggerak-gerakan pantatnya.
Aku makin enjoy dengan rasa vaginanya yang menyerupai sayur lodeh.. Hehehehe. Aku hisap clitorisnya hingga karenanya ia mulai mengejang-ngejang..

“Oughh enakk sayangku..” Kuku jemarinya terasa perih di belakang leherku.
Jeany mencapai titik puncak untuk kedua kalinya, tanpa menunggu-nunggu lagi saya tancapkan saja batang penisku yang dari tadi sudah menunggu untuk bersarang, Ternyata tak semudah itu, lobang vaginanya memang cukup sempit pertama kali hanya kepala penisku aja yang sanggup masuk, kemudian setelah saya keluarkan dan saya masukkan lagi beberapa kali akhirnya. BLESS..
“Eghh.. Enak banget Wan,” gumamnya Jeany langsung menciumi bibirku dengan penuh nafsu.
Aku mulai memompa vaginanya secara beraturan sambil menjilati puting susunya yang merah dan menegang, yummy benar vagina Jeany, pikirku.

Selama 15 menit saya memompa, perlahan tapi pasti vagina Jeany makin terasa makin menyempit, saya makin merasa enak.

“Ahh.. Ahh oughh” mendesah sambil tangannya mencengkeram pinggiran sofa.
Tiba-tiba cengkeramannya pindah ke punggungku sambil setengah berteriak Jeany mencapai titik puncak yang ketiga kalinya,
“Aghh ahh I LOVE THE WAY YOU fish ME!!” Aku makin mempercepat gerakanku..
Jeany makin menggila.

“fish.. fish.. fish ME.. Oughh ahh ahh,” Jeany benar meracau tak karuan, untung jarak kamar tidur dengan ruang tengah cukup jauh sehingga teriakannya tidak mengganggu tidur kedua anaknya.
Setalah Jeany menikmati sisa-sisa klimaksnya saya ciumin bibrnyai ia dan ia tersenyum,
“Thank’s ya, hutangmu lunas, tapi kau belum keluar sayangku,” ia berkata sambil membalikkan badannya dan kedua tangannya memegang sandaran sofa.

“fish me from behind,” ia mengarahkan penisku yang masih menegang ke arah lobang vaginanya yang sudah lembap kuyup.
Langsung aja saya pompa vaginanya alasannya saya sudah tak tahan ingin cepat-cepat keluar, gres sepuluh kali keluar masuk, Jeany mendesah berat dan vaginanya berdenyut menerangkan ia mencapai klimaksanya, badannya menyerupai kehilangan tenaga, saya tahan pantatnya sambil terus saya pompa vaginanya.

Denyutan vaginanya membuat saya merasa makin nikmat. Dengan mata sayu Jeany berkata,
“Keluarin di mulutku sayangku, saya haus spermamu”.
Aku tidak memperdulikan saya tetap focus mengejar kenikmatanku sendiri hingga karenanya saya akan mencapai puncak kenikmatan saya cabut penisku, dengan sigapnya jeany meraih batang penisku dan mengocok-ngocok di dalam mulutnya.
“Oughh.. Isepin penisku sayanghh ahh..” Crott!! Crott.. Crott..
Cairan spermaku meleleh di dalam mulutnya hingga keluar dari tepi bibir Jeany.

Tiba-tiba ada suara lenguhan yang cukup mengagetkanku
“ahh ahh ahh oughh..,” kami berdua terkaget-kaget dikala saya lihat pembantu Jeany yang berjulukan Dini sudah telentang sambil mengejang di lantai, jemarinya terlihat berada di dalam vaginanya, sementara bajunya sudah tidak karuan. Aku gres sadar jikalau permainan kami diperhatikan oleh pembantu yang kira-kira masih berumur 15 tahun. Namun badannya lumayan bongsor dan mulus, buah dadanya terlihat membusung indah sekali. Namanya Dini.

Ternyata Dini sudah memperhatikan permainan kita sejak tadi. Tanpa malu-malu lagi Jeany memanggilnya,
“Sini kamu!” sambil mukanya memerah Dini berjalan mendekat.
“Kamu ngapain?” tanya Jeany.

“Ya lihat Ibu sama Mas Iwan begituan,” jawabnya dengan lugu sambil melirik ke arah penisku yang masih tegak.
Jeany berbisik,
“Aku sudah cape nih, saya rela kok kau main sama Dini, tuh penis kau masih tegak,” sambil menciumku Jeany membisikkan hal yang benar-benar saya inginkan dan cukup mengejutkan bagiku.

Sambil menunjuk ke arah VCD bokep yang sedang beradegan anal, Jeany berkata kepada Dini,
“Kamu mau ngent*t menyerupai di TV itu ya Dini”
Dengan muka makin memerah Dini menjawab dengan perlahan dan gemetaran,

“Eng.. Engga bu, ma’afkan Dini”.
Dengan nada sedikit membentak Jeany memerintah,
“Pokoknya kau harus layani Mas Iwan hingga ia puas!! Siapa suruh ngelihat kita ngent*t sambil mainan vagina pula, isepin tuh penis Mas Iwan!”.

Sambil perlahan-lahan mendekat, tangan Dini yang masih terlihat lembap alasannya cairan vaginanya, meraih batang penisku, perlahan Dini mulai mengocok-ngocok sambil mengulum penisku.. Hmm yummy sekali bibr mungil Dini. Aku elus pipinya ia memandang ke arahku, saya tanya si Dini,
“Kamu sudah pernah ngent*t ya?”

Dengan senyum malu-malu Dini menjawab,
“Sudah Mas, dulu waktu Dini masih di kampung sama teman-teman”
“Hahh ama teman-teman?, rame-rame Donk?” saya bertanya kembali.
Dini hanya mengangguk kemudian melanjutkan kulumannya.

Aku lihat Jeany sudah terlelap kecapean. Tanpa sadar saya meremas-remas payudara Dini sambil memelintir putingnya. Dini mendesah menikmati sambil terus berusaha mengulum penisku. Dengan lugu Dini berkata,
“Mass ahh tolong donk dimulai, masukin Mass”.
Aku langsung mengangangkan kedua paha Dini dan Bless ternyata memang benar ia sudah tidak perawan lagi. Dini mendesah perlahan..
“Ouhh penis Mas besar sekali, gres kali ini saya ngent*t sama orang dewasa.”

Dini terus menggoyang-goyangkan pantatnya sambil meremas payudaranya sendiri. Wah..cukup pengalaman juga nih anak pikirku. Matanya terpejam sambil bibirnya mendesis menyerupai orang kebanyakan cabe..
“Ssshh ahh enakk Mass eghh.”

Tiba-tiba ia berusaha bangkit sambil mendorong badanku,
“Aku mau diatas mass ahh saya mau keluar”
Aku oke-in aja deh saya telentang, Dini berjongkok sambil menggoyangkan pantatnya, ia menciumi leherku saya remas remas kedua payudaranya yang ranum denga puting kecoklatan. Genjotannya semakin keras saya mengimbangi goyangan pantatnya, saya naik turunkan pinggulku juga. Dini mendesah tak karuan sambil rebah di dadaku.

“Ahh mass ahh ahh oughh saya keluar Mass ahh saya mau lagi Mass.. Ahh..,” bibirnya melumat bibirku penuh nafsu, ia bangkit dan menghadap tembok.

“Ayo Mass, kita main lagi, saya ingin dient*t sambil berdiri,” dengan sedikit mengangkat pantatnya saya lesakkan batang penisku ke dalam vaginanya.

Dini menoleh ke arahku dan ia cuman tersenyum sambil berkata,
“Boleh nggak yang menyerupai di TV Mas?”
Wah.. binal juga nih anak pikirku, dalam hati saya juga ingin ngent*t pantat nih, kebetulan.

Pantat Dini memang bagus banget kenyal dan bulat, saya makin nafsu melihatnya. Dini membimbing penisku masik ke lobang anusnya, oughh sempit banget rasanya tapi enak. Langsung aja saya dorong penisku keras keras,
“Arrghh oughh Mass enakk teruss mass”
Dini benar-benar sexy, bacin badannya yang wangi rada asem dikit membuatku semakin terangsang, saya jilatin punggung dan leher kepingan belakangnya sambil meremas payudaranya dari belakang. Gerakan bokongnya benar-benar menyerupai Inul penyanyi dangdut.. Hehehe. Sambil terus mendesah, Dini meraih tanganku dan dibimbingnye masuk ke lubang vaginanya yang banjir sejak tadi.

“Kocokin jarimu Mass di dalam vaginaku.. Ahh ahh oughh enakk!!”
Tiba-tiba pantatnya mengejang dan berdenyut (baru kali ini saya tahu kalau pantat dient*t juga sanggup klimaks)
“Ahh Mass keluarin di pantatku, Mass aoughh saya keluar Mass.. Oughh ahh ahh” Dini meremas-remas payudaranya sendiri.

Aku pompa pantatnya kencang-kencang alasannya denyutan anusnya saya nggak tahan sementara tanganku terus bergerak keluar masuk vaginanya. Dini menengadah ke atas sambil terus meremas-remas payudaranya dan..
“Ahh mass saya keluar lagi.. Ahh ahh..”

Mendengar desahannya saya makin bergairah dan kepala penisku semakin membesar mau bongkar muatan,
“Oughh Dini pantatmu enakk banget.. Ahh” Semprotan spermaku membasahi kepingan dalam anus Dini yang masih berdenyut.

Lutut Dini bergetar dan ia terkulai lemas di lantai, penisku juga mulai melemas, kami berpelukan kecapean. Benar-benar malam yang liar malam ini, waktu sudah memperlihatkan pukul 04.00 pagi.. Wah tidak terasa sudah hampir 5 jam saya bermain sex dengan dua wanita liar ini. Selama saya tinggal di rumah Jeany, tiap malam saya ngent*t dengannya dan paginya Dini selalu menyediakanku sarapan pagi dan ia tidak pernah memakai celana dalam, saya sarapan sambil ngent*t sama Dini. Hehehehe. Enakk tenan.

3

Kumpulan Cerita Seks Menikmati Tubuh Istri Karyawanku Di Kantor

Kumpulan Cerita Seks  - Hari itu salah seorang eksekutif perusahaan, Pak Freddy, sedang mengadakan resepsi pernikahan anaknya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan. Tentu saja akupun diundang, dan malam itu akupun meluncur menuju kawasan resepsi diadakan. Aku pergi bersama dengan Jason, temanku waktu kuliah di Amerika dahulu. Sesampainya di hotel tampak para permintaan sebagian besar membawa pasangannya masing-masing. Iri juga melihat mereka ditemani oleh istri dan anak mereka, sedangkan aku, lantaran masih bujangan, ditemani oleh si bule ini.

"Selamat malam Pak.." sapa seseorang agak mengagetkanku. Aku menoleh, ternyata Lia sekretarisku yang menyapaku. Dia tiba bersama tunangannya. Tampak sexy dan anggun sekali ia malam itu, disamping juga anggun.
Berbeda sekali jikalau dibandingkan ketika saya sedang menikmati tubuhnya,.. Liar dan nakal. Dengan gaun malam yang berdada rendah, belahan buah dadanya yang besar tampak menggoda. "Malam Lia" balasku. Mata Jason tak henti-hentinya menatap Lia, dengan pandangan kagum.

Lia hanya tersenyum manis saja dilihat dengan penuh nafsu ibarat itu. Tampak ia menjaga tingkah lakunya, lantaran tunangannya berada di sampingnya. Kamipun kemudian berbincang-bincang sekedarnya. Lalu akupun permisi hendak menyapa para permintaan lain yang datang, terutama para klienku. "Malam Pak Robert.." seorang perempuan anggun tiba-tiba menyapaku. Dia yaitu Santi, istri dari Pak Arief, manajer keuangan di kantorku. Mereka gres menikah sekitar tiga bulan yang lalu. "Oh Santi.. Malam" kataku "Pak Arief dimana?" "Sedang ke restroom.. Sendirian aja Pak?" tanyanya. "Sama teman" jawabku sambil memandangi ia yang malam itu tampak anggun dengan gaun malamnya dengan anggun. Belahan gaunnya yang tinggi memamerkan pahanya yang putih menggiurkan. Dadanya walaupun tak sebesar Lia, tampak membusung menantang.

"Makanya, cari istri dong Pak.. Biar ada yang nemenin" katanya sambil tersenyum manis. "Belum ada yang mau nih" "Ahh.. Bapak mampu saja.. Pasti banyak banget cewek yang mau sama bapak.. Kalau belum married saya juga mau lho.." jawabnya menggoda. Memang Santi ini rasanya punya perasaan tertentu padaku. Tampak dari cara bicaranya dan cara ia memandangku. "Oh.. Kalau saya sih mau lho sama kamu biarpun kamu sudah married" kataku sambil menatap wajahnya yang cantik. "Ah.. Pak Robert.. Bisa aja.." jawabnya sambil tersipu malu.

"Bener lho mau saya buktiin?" godaku "Janganlah Pak.. Nanti kalau ketahuan suamiku mampu gawat" jawabnya perlahan sambil tersenyum. "Kalau nggak ketahuan gimana.. Nggak apa khan?" rayuku lagi. Santi tampak tersipu malu. Wah.. Aku mendapatkan angin nih.. Memang saya sejak berkenalan dengan Santi beberapa bulan yang kemudian sudah membayangkan nikmatnya menyetubuhi perempuan ini. Dengan kulit putih, khas orang Bandung, rambut sedikit ikal sebahu, bibir tipis, dan masih muda lagi.

Dia gres berumur 24 tahunan."Gimana nih setelah kawin.. Enak nggak? Pasti masih hot y. "Godaku lagi. "Biasa aja kok Pak.. Kadang enak.. Kadang nggak.. Tergantung moodnya" jawabnya lirih. Dari jawabannya saya punya dugaan bahwa Pak Arief ini tidak begitu memuaskannya di atas kawasan tidur. Mungkin lantaran usia Pak Arief yang sudah berumur dibandingkan dengan dirinya yang masih penuh gejolak hasrat seksual perempuan muda. Pasti jarang sekali ia mengalami orgasme. Uh.. Kasihan sekali pikirku.

Tak lama Pak Ariefpun tiba dari kejauhan. "Wah.. Pak Arief.. Punya istri anggun begini kok ditinggal sendiri" kataku menggoda. Santi tampak senang saya puji ibarat itu. Tampak dari tatapan matanya yang haus akan kehangatan laki-laki tulen ibarat saya ini. "Iya Pak.. Habis dari belakang nih" jawabnya. Tatapan matanya tampak curiga melihat saya sedang mengobrol dengan istrinya yang jelita itu. Mungkin ia sudah dengar kabar akan ke-playboyanku di kantor. "Ok saya tinggal dulu ya Pak Arief.. Santi" kataku lagi sambil ngeloyor pergi menuju kawasan hidangan.

Aq punmenyantapnya nikmat. Maklum perutku sudah keroncongan, terlalu banyak basa-basi dengan para tamu permintaan tadi. Kulihat si Jason masih ngobrol dengan Lia dan tunangannya. Ketika saya mencari Santi dengan pandanganku, ia juga sedang mencuri pandang padaku sambil tersenyum. Pak Arief tampak sedang mengobrol dengan tamu yang lain.

Memang payah juga bapak yang satu ini, tidak mampu membahagiakan istrinya. Santi kemudian berjalan mengambil hidangan, dan akupun pura-pura menambah hidanganku. "San.. Kita terusin ngobrolnya di luar yuk" ajakku berbisik padanya "Nanti saya dicari suami saya gimana Pak.." "Bilang aja kamu sakit perut.. Perlu ke toilet. Aku tunggu di luar"Kataku sambil menahan nafsu melihat lehernya yang putih jenjang, dan lengannya yang berbulu halus Tak lama Santipun keluar ruangan resepsi menyusulku.

Kamipun pergi ke lantai di atas, dan menuju toilet. Aku berencana untuk bermesraan dengan ia di sana. Kebetulan saya tahu suasananya pasti sepi. Sebelum hingga di toilet, ada sebuah ruangan kOsong,, sebuah meeting room, yang terbuka. Wah kebetulan nih, pikirku. Kutarik Santi ke dalam dan kututup pintunya. Tanpa basa-basi lagi, saya cium bibirnya yang indah itu.

Santipun membalas bergairah. Tangankupun bergerak merambahi buah dadanya, sedangkan tanganku yang satu mencari kaitan retsleting di belakang tubuhnya. Kulepas gaunnya sebagian sehingga tampak buah dadanya yang ranum hanya tertutup BH mungil berwarna krem. Kuciumi leher Santi yang jenjang itu, dan kusibakkan cup BHnya kebawah sehingga buah dadanya mencuat keluar.

Langsung kujilati dengan rakus buah dada itu, saya hisap dan saya permainkan putingnya yang sudah mengeras dengan lidahku. "Oh.. Pak Robertt.." desah Santi sambil menggeliat. "Enak San.." "Enak Pak.. Terus Pak.." desahnya lirih. Tangankupun meraba pahanya yang mulus, dan hingga pada celana dalamnya. Tampak Santi sudah begitu kasar sehingga celananya sudah lembab oleh cairan kewanitaannya. Santipun kemudian tak sabar dan membuka kancing kemeja batikku. Dicium dan dijilatinya putingku..

Lalu terus ke bawah ke perutku. Kemudian ia berlutut dan dibukanya retsleting celanaku, dan tangannya yang lentik berbulu halus itu merogoh ke dalam mengeluarkan kemaluanku dari celana dalamnya. Memang kami sengaja tidak mau telanjang lingkaran lantaran kondisi yang tidak memungkinkan. "Ohh.. Besar sekali Pak Robert.. Santi suka.." katanya sambil mengagumi kemaluanku dari dekat. "Memang punya suamimu seberapa?" tanyaku tersenyum menggoda. "Mungkin cuma separuhnya Pak Robert.. Oh.. Santi suka.." katanya tak melanjutkan lagi jawabannya lantaran mulutnya yang mungil itu sudah mengulum kemaluanku.

"Enak Pak?" tanyanya sambil melirik badung kepadaku. Tangannya sibuk meremas-remas buah zakarku sementara lidahnya menjilati batang kemaluanku. "Enak sayang.. Ayo isap lagi" jawabku menahan rasa nikmat yang menjalar hebat. sementara kedua tangannya meremas-remas pantatku. Sangat sexy sekali melihat pemandangan itu. Seorang perempuan anggun yang sudah bersuami, bertubuh padat, sedang berlutut didepanku dengan pipi yang menggelembung menghisap kemaluanku. Terlebih ketika kemaluanku keluar dari mulutnya, tanpa menggunakan tangannya dan hanya menggerakkan kepalanya mengikuti gerak kemaluanku, Santi mengulumnya kembali.

"Hm.. tongkol bapak enak banget.. Santi suka tongkol yang besar begini" desahnya. Tiba-tiba terdengar bunyi handphone. Santipun menghentikan isapannya. "Iya Mas.. Ada apa?" jawabnya. "Lho Mas udah pikun ya.. Khan Santi tadi usah bilang.. Santi mau ke toilet.. Sakit perut.. Gimana sih" Santi berbicara kepada suaminya yang tak sabar menunggu. Sementara tangan Santi yang satu tetap meraba dan mengocok kemaluan atasan suaminya ini. "Iya Mas.. Mungkin salah makan nih.. Sebentar lagi Mas.. Sabar ya.." Kemudian tampak suaminya berbicara agak panjang di telpon, sehingga waktu tersebut digunakan Santi untuk kembali mengulum kemaluanku sementara tangannya masih memegang handphonenya.

"Iya Mas.. Santi juga cinta sama Mas.." katanya sambil menutup telponnya. "Suamiku sudah nunggu. Tapi biarin aja deh ia nunggu agak lama, soalnya Santi pengin puas dulu". Sambil tersenyum badung Santi kembali menjilati kemaluanku. Aku sudah ingin menikmati kehangatan tubuh perempuan istri bawahanku ini. Kutarik tangannya semoga berdiri, dan akupun tiduran di atas meja meeting di ruangan itu. Tanpa perlu dikomando lagi Santi menaiki tubuhku dan menyibak gaun dan celana dalamnya sehingga vaginanya tepat berada di atas kemaluanku yang sudah menjulang menahan gairah.

Santi kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kemaluankupun menerobos liang vaginanya yang masih sempit itu. "Oh.. My god.." jeritnya tertahan. Kupegang pinggangnya dan kemudian saya naik-turunkan sehingga kemaluanku maju mundur menjelajahi liang nikmat istri anggun Pak Arief ini. Kemudian tanganku bergerak meremas buah dadanya yang bergoyang ketika Santi bergerak naik turun di atas tubuhku. Sesekali kutarik badannya sehingga buah dadanya bergerak ke depan wajahku untuk kemudian saya hisap dengan gemas.

"Ohh Pak Robertt.. Bapak memang jantan.." desahnya "Ayo Pak.. Puaskan Santi Pak.." Santi berkata sambil menggoyang-goyangkan badannya maju mundur di atas kemaluanku.Setelah itu ia kembali menggerakkan badannya naik turun mengejar kepuasan bercinta yang tak didapatkan dari suaminya. Setelah beberapa menit saya turunkan tubuhnya dan saya suruh ia menungging sambil berpegangan pada tepian meja.

Aku sibakkan gaunnya, dan tampak pantatnya yang putih menggairahkan hanya tertutup oleh celana dalam yang sudah tersibak kesamping. Kuarahkan kemaluanku ke vaginanya, dan langsung kugenjot dia, sambil tanganku meremas-remas rambutnya yang ikal itu. "Kamu suka San?" kataku sambil menarik rambutnya ke belakang. "Suka Pak.. Robert.. Suka..""Suamimu memang nggak mampu ya" "Dia lemah Pak.. Oh.. God.. Enak Pak.. Ohh" "Ayo bilang.. Kamu lebih suka ngent*tin suamimu atau aku" tanyaku sambil mencium wajahnya yang mendongak ke belakang lantaran rambutnya saya tarik. "Santi lebih suka dient*tin Pak Robert.. Pak Robert jantan..

Suamiku lemah.. Ohh.. God.." jawabnya. "Kamu suka tongkol besar ya?" tanyaku lagi "Iya Pak.. Oh.. Terus Pak.. Punya suamiku kecil Pak.. Oh yeah.. Pak Robert besar.. Ohh yeah oh.. God. Suamiku jelek.. Pak Robert ganteng. Oh god. Enakhh.." Santi mulai meracau kenikmatan. "Oh.. Pak.. Santi hampir hingga Pak.. Ayo Pak puaskan Santi Pak.." jeritnya. "Tentu sayang.. Aku bukan suamimu yang lemah itu.." jawabku sambil terus mengenjot ia dari belakang. Tangankupun sibuk meremas-remas buah dadanya yang bergoyang menggemaskan. "Ahh.. Santi hingga Pak.." Santi melenguh ketika gelombang orgasme menerpanya. Akupun hampir sampai. Kemaluanku sudah berdenyut- denyut ingin mengeluarkan laharnya.

Kutarik tubuh Santi hingga ia kembali berlutut di depanku. Kukocok-kocok kemaluanku dan tak lama tersemburlah spermaku ke wajahnya yang cantik. Kuoles- oleskan sisa-sisa cairan dari kemaluanku ke seluruh wajahnya. Kemudian Santipun mengulum dan menjilati kemaluanku hingga bersih. "Terimakasih Pak Robert.. Santi puas sekali" katanya ketika ia membersihkan wajahnya dengan tisu. "Sama-sama Santi. Saya hanya berniat membantu kok" jawabku sambil bergegas membetulkan pakaianku kembali. "Ngomong-ngomong, kamu bakir sekali blowjob ya? Sering latihan?" tanyaku. "Santi sering lihat di VCD aja Pak.

Kalau sama suami sih jarang Santi mau begitu. Habis nggak nafsu sih lihatnya" Wah.. Kasihan juga Pak Arief, pikirku geli. Malah saya yang mampu menikmati enaknya dioral oleh istrinya yang anggun jelita itu. "Kapan kita mampu melakukan lagi Pak" kata Santi mengharap ketika kami keluar ruangan meeting itu. "Gimana kalau minggu depan saya suruh suamimu ke luar kota jadi kita mampu bebas bersama?""Hihihi.. Ide bagus tuh Pak.. Janji ya" Santi tampak bangga mendengarnya. Kamipun kembali ke ruangan resepsi.

Santi saya suruh turun terlebih dahulu, gres saya menyusul beberapa menit kemudian. Sesampai di ruang resepsi tampak Jason sedang mencari aku. "Hey man.. Where have you been? I've been looking for you" "Sorry man.., I had to go to the restroom. I had stomachache" jawabku. Tak lama Santi tiba bersama Pak Arief suaminya. "Pak Robert, kami mau pamit dahulu.. Ini Santi nggak enak badan.. Sakit perut katanya" "Oh ya Pak Arief, silakan saja. Istri bapak anggun harus benar- benar dirawat lho.."

Santi tampak tersenyum mendengar perkataanku itu, sementara wajah Pak Arief menyampaikan rasa curiga. He.. He.. Kasihan, pikirku. Mungkin ia akan stress berat berat bila tahu saya gres saja menyetubuhi istrinya yang anggun itu. Tak lama saya dan Jason pun pulang. Sebelum pulang saya berpapasan dengan Lia, sekretarisku. Aku suruh ia untuk mendaftarkan Pak Arief Untk pembinaan ke singapura. Memang baru-baru ini saya mendapatkan tawaran pembinaan ke Singapore dari salah satu perusahaan. Lebih baik Pak Arief saja yang pergi, pikirku.

Toh memang ia yang mengerjakan pekerjaan itu di kantor, sedangkan saya hanya akan menolong istrinya yang anggun mengarungi lautan birahi selama ia pergi nanti. Tak sabar saya menanti minggu depan datang. Nanti akan saya ceritakan lagi pengalamanku bersama Santi bila saatnya tiba. Dengan tidak adanya batas waktu lantaran terburu-buru, tentu saya akan lebih mampu menikmati dirinya.


Cerita Dewasa, Kumpulan Crot, Bersetubuh Dengan Selingkuh, Kumpulan Curatan Rahasia, Cerita Malam Jumat, Cerita selingkuh dengan Teman,
3

Kumpulan Cerita Sex Anak Majikan Ngentot Dengan Pembantu Nya

Kumpulan Cerita Sex 2018 - Lima bulan sudah saya bekerja sebagai seorang pembantu rumahtangga di keluarga Pak Umar. Aku memang bukan seorang yang makan ilmu bertumpuk, hanya lulusan SD saja di kampungku. Tetapi lantaran niatku untuk bekerja memang sudah tidak sanggup ditahan lagi, kesannya saya pergi ke kota jakarta, dan beruntung sanggup memperoleh majikan yang baik dan sanggup memperhatikan kesejahteraanku.

bu umar pernah berkata kepadaku bahwa beliau menerimaku menjadi pembantu rumahtangga dirumahnya lantaran usiaku yang relatif masih muda. Beliau tak tega melihatku luntang-lantung di kota besar ini. “Jangan-jangan kau nanti malah dijadikan wanita panggilan oleh para calo WTS yang tidak bertanggungjawab.” Itulah yang diucapkan beliau kepadaku.
Usiaku memang masih 18 tahun dan terkadang saya sadar bahwa saya memang lumayan cantik, berbeda dengan para gadis desa di kampungku. Pantas saja jikalau Ibu umar berkata begitu terhadapku.
Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, yaitu wacana perlakuan anak majikanku Mas Anto terhadapku. Mas Anto yaitu anak bungsu keluarga Bapak umar. Dia masih kuliah di semester 4, sedangkan kedua kakaknya telah berkeluarga. Mas Anto baik dan sopan terhadapku, hingga saya jadi aga segan bila berada di dekatnya. Sepertinya ada sesuatu yang bergetar di hatiku. Jika saya ke pasar, Mas Anto tak segan untuk mengantarkanku. Bahkan saat naik mobil saya tidak diperbolehkan duduk di jok belakang, harus di sampingnya. Ahh.. Aku selalu jadi merasa tak Enak. Pernah suatu malam sekitar pukul 20.00, Mas anto hendak membikin mie instan di dapur, saya bergegas mengambil alih dengan alasan bahwa yang dilakukannya pada dasarnya yaitu peran dan kewajibanku untuk sanggup melayani majikanku. Tetapi yang terjadi Mas Anto justru berkata kepadaku, “Nggak usah, Sarni. Biar saya saja, ngga apa-apa kok..”
“Nggak.. nggak apa-apa kok, Mas”, jawabku tersipu sembari menyalakan kompor gas.
Tiba-tiba Mas Anto menyentuh pundakku. Dengan lirih beliau berucap, “Kamu sudah capek seharian bekerja, Sarni. Tidurlah, besok kau harus bangkit khan..”
Aku hanya tertunduk tanpa sanggup berbuat apa-apa. Mas Anto kemudian melanjutkan memasak. Namun saya tetap termangu di sudut dapur. Hingga kembali Mas Anto menegurku.
“Sarni, kenapa belum masuk ke kamarmu. Nanti kalau kau kecapekan dan terus sakit, yang repot kan kita juga. Sudahlah, saya sanggup masak sendiri kalau hanya sekedar bikin mie menyerupai ini.”
Belum juga habis ingatanku saat kami berdua sedang nonton televisi di ruang tengah, sedangkan Bapak dan Ibu Umar sedang tidak berada di rumah. Entah kenapa tiba-tiba Mas Anto memandangiku dengan lembut. Pandangannya membuatku jadi salah tingkah.
“Kamu cantik, Sarni.”
Aku cuma tersipu dan berucap,
“Teman-teman Mas Anto di kampus kan lebih cantik-cantik, apalagi mereka kan orang-orang kaya dan pandai.”
“Tapi kau lain, Sarni. Pernah tidak kau membayangkan jikalau suatu saat ada anak majikan menyayangi pembantu rumahtangganya sendiri?”
“Ah.. Mas Anto ini ada-ada saja. Mana ada cerita menyerupai itu”, jawabku.
“Kalau kenyataannya ada, bagaimana?”
“Iya.. nggak tahu deh, Mas.”
Kata-katanya itu yang hingga saat ini membuatku selalu gelisah. Apa benar yang dikatakan oleh Mas Anto bahwa ia mencintaiku? Bukankah beliau anak majikanku yang tentunya orang kaya dan terhormat, sedangkan saya cuma seorang pembantu rumahtangga? Ah, pertanyaan itu selalu terngiang di benakku.
Tibalah saya memasuki bulan ke tujuh masa kerjaku. Sore ini cuaca memang sedang hujan meski tak seberapa lebat. Mobil Mas Anto memasuki garasi. Kulihat perjaka ini berlari menuju teras rumah. Aku bergegas menghampirinya dengan membawa handuk untuk menyeka tubuhnya.

“Bapak belum pulang?” tanyanya padaku.
“Belum, Mas.”
“Ibu.. pergi..?”
“Ke rumah Bude Mami, begitu ibu bilang.”
Mas Anto yang sedang duduk di sofa ruang tengah kulihat masih tak berhenti menyeka kepalanya sembari membuka bajunya yang rada basah. Aku yang telah menyiapkan segelas kopi susu panas menghampirinya. Saat saya hampir meninggalkan ruang tengah, kudengar Mas anto memanggilku. Kembali saya menghampirinya.
“Kamu tiba-tiba membikinkan saya minuman hangat, padahal saya tidak menyuruhmu kan”, ucap Mas Anto sembari berdiri dari tempat duduknya.
“Santi, saya mau bilang bahwa saya menyukaimu.”
“Maksud Mas Apa bagaimana?”
“Apa saya perlu jelaskan?” sahut Mas Anto padaku.
Tanpa sadar saya kini berhadap-hadapan dengan Mas Anto dengan jarak yang sangat dekat, bahkan sanggup dikatakan terlampau dekat. Mas Anto meraih kedua tanganku untuk digenggamnya, dengan sedikit tarikan yang dilakukannya maka tubuhku telah dalam posisi sedikit terangkat merapat di tubuhnya. Sudah pasti dan otomatis pula saya semakin sanggup menikmati wajah ganteng yang rada berair final guyuran hujan tadi. Demikian pula Mas Anto yang semakin sanggup pula menikmati wajah bulatku yang dihiasi bundarnya bola mataku dan mungilnya hidungku.
Kami berdua tak sanggup berkata-kata lagi, hanya saling melempar pandang dengan dalam tanpa tahu rasa masing-masing dalam hati. Tiba-tiba entah lantaran dorongan rasa yang menyerupai apa dan bagaimana bibir Mas Anto menciumi setiap lekuk mukaku yang segera sehabis hingga pada kepingan bibirku, saya membalas pagutan ciumannya. Kurasakan tangan MasAnto merambah naik ke arah dadaku, pada kepingan gumpalan dadaku tangannya meremas lembut yang membuatku tanpa sadar mendesah dan bahkan menjerit lembut. Sampai disini begitu campur aduk perasaanku, saya merasakan nikmat yang berlebih tapi pada kepingan lain saya merasakan nikmat yang berlebih tapi pada kepingan lain saya merasakan takut yang entah bagaimana saya harus melawannya. Namun campuran rasa yang demikian ini segera terhapus oleh rasa nikmat yang mulai sanggup menikmatinya, saya terus melayani dan membalas setiap ciuman bibirnya yang di arahkan pada bibirku berikut setiap lekuk yang ada di kepingan dadaku. Aku semakin tak kuat menahan rasa, saya menggelinjang kecil menahan desakan dan gelora yang semakin memanas.
Ia mulai melepas satu demi satu kancing baju yang kukenakan, sampailah saya telanjang dada hingga buah dada yang begitu ranum menonjol dan memperlihatkan diri pada Mas Anto. Semakin saja Mas Anto memainkan bibirnya pada ujung buah dadaku, dikulumnya, diciuminya, bahkan ia menggigitnya. Golak dan getaran yang tak pernah kurasa sebelumnya, saya kini melayang, terbang, saya ingin menikmati langkah berikutnya, saya merasakan sebuah kenikmatan tanpa batas untuk saat ini.
Aku telah mencoba untuk memerangi gejolak yang meletup kolam gunung yang akan memuntahkan isi kawahnya. Namun suara hujan yang kian menderas, serta situasi rumah yang hanya tinggal kami berdua, serta bisik goda yang saya tak tahu darimana datangnya, kesemua itu membuat kami berdua semakin larut dalam permainan cinta ini. Pagutan dan rabaan Mas Anto ke seluruh tubuhku, membuatku pasrah dalam rintihan kenikmatan yang kurasakan. Tangan Mas Anto mulai mereteli pakaian yang dikenakan, iapun telanjang bulat kini. Aku tak tahan lagi, segera ia menarik dengan keras celana dalam yang kukenakan. Tangannya terus saja menggerayangi sekujur tubuhku. Kemudian pada saat tertentu tangannya membimbing tanganku untuk menuju tempat yang diharapkan, dibagian bawah tubuhnya. Mas Anto dan terdengar merintih.
Buah dadaku yang mungil dan padat tak pernah lepas dari remasan tangan Mas Anto. Sementara tubuhku yang telah telentang di bawah tubuh Mas Anto menggeliat-liat menyerupai cacing kepanasan. Hingga lenguhan di antara kami mulai terdengar sebagai tanda permainan ini telah usai. Keringat ada di sana-sini sementara pakaian kami terlihat berserakan dimana-mana. Ruang tengah ini menjadi begitu berantakan terlebih sofa tempat kami bermain cinta denga penuh gejolak.
Ketika senja mulai datang, usailah pertempuran nafsuku dengan nafsu Mas Anto. Kami duduk di sofa, tempat kami tadi melaksanakan sebuah permainan cinta, dengan rasa sesal yang masing-masing berkecamuk dalam hati. “Aku tidak akan mempermainkan kamu, Sarni. Aku lakukan ini lantaran saya menyayangi kamu. Aku sungguh-sungguh, Sarni. Kamu mau mencintaiku kan..?” Aku terdiam tak sanggup menjawab sepatah katapun.

Mas Anto menyeka butiran air bening di sudut mataku, kemudian mencium pipiku. Seolah beliau menyatakan bahwa hasrat hatinya padaku yaitu kejujuran cintanya, dan akan sanggup membuatku yakin akan ketulusannya. Meski saya tetap bertanya dalam sesalku, “Mungkinkah Mas Anto akan sanggup menikahiku yang hanya seorang pembantu rumahtangga?”
Sekitar pukul 19.30 malam, barulah rumah ini tak berbeda dengan waktu-waktu kemarin. Bapak dan Ibu umar menyerupai biasanya tengah menikmati tayangan jadwal televisi, dan Mas Anto mendekam di kamarnya. Yah, seolah tak ada bencana apa-apa yang pernah terjadi di ruang tengah itu.
Sejak permainan cinta yang penuh nafsu itu kulakukan dengan Mas Anto, waktu yang berjalanpun tak terasa telah memaksa kami untuk terus sanggup mengulangi lagi nikmat dan indahnya permainan cinta tersebut. Dan yang pasti saya menjadi seorang yang harus sanggup menuruti kemauan nafsu yang ada dalam diri. Tak peduli lagi siang atau malam, di sofa ataupun di dapur, asalkan keadaan rumah lagi sepi, kami selalu tenggelam hanyut dalam permainan cinta denga gejolak nafsu birahi. Selalu saja setiap kali saya membayangkan sebuah gaya dalam permainan cinta, tiba-tiba nafsuku bergejolak ingin segera saja rasanya melaksanakan gaya yang sedang melintas dalam benakku tersebut. Kadang saya pun melakukannya sendiri di kamar dengan membayangkan wajah Mas Anto. Bahkan saat di rumah sedang ada Ibu umar namun tiba-tiba nafsuku bergejolak, saya masuk kamar mandi dan memberi instruksi pada Mas Anto untuk menyusulnya. Untung kamar mandi bagi pembantu di keluarga ini letaknya ada di belakang jauh dari jangkauan tuan rumah. Aku melakukannya di sana dengan penuh gejolak di bawah guyuran air mandi, dengan lumuran busa sabun di sana-sini yang rasanya membuatku semakin saja menikmati sebuah rasa tanpa batas wacana kenikmatan.
Walau setiap kali usai melaksanakan hal itu dengan Mas Anto, saya selalu dihantui oleh sebuah pertanyaan yang itu-itu lagi dan dengan praktis mengusik benakku: “Bagaimana jikalau saya hamil nanti? Bagaimana jikalau Mas Anto malu mengakuinya, apakah keluarga Bapak Umar mau merestui kami berdua untuk menikah sekaligus sudi menerimaku sebagai menantu? Ataukah saya bakal di usir dari rumah ini? Atau juga pasti saya disuruh untuk menggugurkan kandungan ini?” Ah.. pertanyaan ini benar-benar membuatku seolah gila dan ingin menjerit sekeras mungkin. Apalagi Mas Anto selama ini hanya berucap: “Aku mencintaimu, Sarni.” Seribu juta kalipun kata itu terlontar dari ekspresi Mas Anto, tidak akan berarti apa-apa jikalau Mas Anto tetap diam tak berterus terang dengan keluarganya atas apa yang telah terjadi dengan kami berdua.
Akhirnya terjadilah apa yang selama ini kutakutkan, bahwa saya mulai sering mual dan muntah, yah.. saya hamil! Mas Anto mulai gugup dan panik atas bencana ini.
“Kenapa kau sanggup hamil sih?” Aku hanya diam tak menjawab.
“Bukankah saya sudah memberimu pil semoga kau nggak hamil. Kalau begini kita yang repot juga..”
“Kenapa mesti repot Mas? Bukankah Mas Anto sudah berjanji akan menikahi Sarni?”
“Iya.. iya.. tapi tidak secepat ini Santi. Aku masih mencintaimu, dan saya pasti akan menikahimu, dan saya pasti akan menikahimu. Tetapi bukan sekarang. Aku butuh waktu yang tepat untuk bicara dengan Bapak dan Ibu bahwa saya mencintaimu..”
Yah.. setiap kali saya mengeluh soal perutku yang kian bertambah usianya dari hari ke hari dan berganti dengan minggu, Mas Anto selalu kebingungan sendiri dan tak pernah mendapatkan jalan keluar. Aku jadi semakin terpojok oleh kondisi dalam rahim yang tentunya kian membesar.
Genap pada usia tiga bulan kehamilanku, keteguhkan hatiku untuk melangkahkan kaki pergi dari rumah keluarga Bapak umar. Kutinggalkan semua kenangan sedih maupun suka yang selama ini kuperoleh di rumah ini. Aku tidak akan menyalahkan Mas Anto. Ini semua salahku yang tak sanggup menjaga kekuatan dinding imanku.
Subuh pagi ini saya meninggalkan rumah ini tanpa pamit, sehabis kusiapkan sarapan dan sepucuk surat di meja makan yang isinya bahwa saya pergi lantaran merasa bersalah terhadap keluarga Bapak Umar.
Hampir setahun sehabis kepergianku dari keluarga Bapak umar, Aku kini telah menikmati kehidupanku sendiri yang tak selayaknya saya jalani, namun saya bahagia. Hingga pada suatu pagi saya membaca surat pembaca di tabloid terkenal. Surat itu isinya bahwa seorang perjaka Anto mencari dan mengharapkan isterinya yang bernama Sarni untuk segera pulang. Pemuda itu tampak sekali berharap sanggup bertemu lagi dengan si calon isterinya lantaran beliau begitu mencintainya.
Aku tahu dan mengerti benar siapa calon isterinya. Namun saya sudah tidak ingin lagi dan pula saya tidak pantas untuk berada di rumah itu lagi, rumah tempat tinggal perjaka bernama Anto itu. Aku sudah tenggelam dalam kubangan ini. Andai saja Mas Anto suka pergi ke lokalisasi, tentu beliau tidak perlu harus menulis surat pembaca itu. Mas Anto pasti akan menemukan calon istrinya yang sangat dicintainya. Agar Mas Anto pun mengerti bahwa hingga kini saya masih merindukan kehangatan cintanya. Cinta yang pertama dan terakhir bagiku.


3

Kumpulan Kisah Sex Nikmatnya Ngentot Dengan Kania Yang Sexy

Kumpulan Cerita Sex 2018 - Awalnya saya tidak pernah menduga kalau balasannya saya akan melaksanakan adegan menyerupai dalam dongeng ngentot, di saat usiaku baru menginjak 18 tahun. Saat ini saya masih duduk di kelas 3 bangku SMU, namaku Bima dari dulu saya memang banyak di dekati cewek baik di sekolah maupun di lingkungan rumahku. Namun saya tidak pernah menanggapi mereka alasannya yakni saya tidak suka untuk menjalin hubungan.

Pikirku dengan pacaran tidak akan membawa apa-apa, apalagi saya seorang gamer hampir setiap ada kesempatan saya selalu di depan gadgetku. Untuk main game dan itu yaitu hobiku sejak saya masih SMP sampai saat ini, meskipun penampilanku memakai kaca mata namun tidak membuatku terlihat cupu alasannya yakni dengan tinggi badan yang profesional di tambah bentuk badan yang lumayan atletis.

Akupun terlihat keren dan bukannya membanggakan diri sendiri, tapi memang sejak dulu saya sering di dekati cewek. Namun hatiku belum terbuka untuk melkaukannya, sampai balasannya akupun sering membuka situs dewasa, dengan seringnya membaca dongeng sex abg dan lainnya membuat saya terkadang ingin menikmatinya tapi saya masih belum mampu melakukannya alasannya yakni saya masih malu.
Pernah sekali saya membawa sahabat cewek ke kamarku, saat itu memang tidak ada orang di rumah.

Tapi saya hanya mencium pipinya dan melihat ia tertunduk malu akupun menjadi tidak berani melanjutkannya, apalagi saya dengar dari temanku si Beni kalau kita akan melaksanakan adegan menyerupai dalam dongeng ngentot mengalir saja tanpa harus ada yang memaksa itu baru nyaman dan begitu terasa.
Sampai balasannya akupun mengenal sosok cewek yang lebih anyir tanah dariku, Kania namanya ia sudah duduk di bangku kuliah. Sebenarnya akupun tidak begitu menyukai Kania namun alasannya yakni ia begitu agresif akupun tergiur padanya, tidak jarang Kania menyentuhku dengan cubitan kecil “Iiihh..lucunya kau Bim..” Katanya saat kami bertemu di sebuah cafe kawasan kami biasa makan.

Perkenalan kamipun berlanjut dan membuat saya semakin mengenalnya lebih bersahabat lagi, sampai pada suatu hari saya di ajak Kania ke rumah temannya. Sampai di sana ternyata ada empat orang cewek termasuk Kania, dan cuma saya perjaka diantara mereka. Kania dengan manja memperkenalkan saya sebagai pacarnya akupun hanya tersenyum di depan mereka, dan ada salah satu temannya yang mengodaku.

Tapi saya berlagak menyerupai perjaka yang sudah dewasa, padahal saya belum pernah sekalipun melaksanakan adegan menyerupai dalam adegan dongeng sex ngentot abg. Hingga balasannya saya di bawa masuk kedalam kamar sahabat Kania “Di dalam aja yuk BIm.. bentar lagi perjaka mereka pada datang..”Malas juga kalau harus ngbrol dengan sahabat perjaka Kania, yang notabene bukan sahabat selistingku.
Akupun masuk ke dalam kamar sahabat Kania, rupanya rumah itu memang di tempati cewek yang tadi ia perkenalkan padaku. Di dalam kamar itu Kania sibuk dengan gadgetnya alasannya yakni merasa di kacangin balasannya akupun merampas gadget yang ia pegang, ternyata Kania sedang membaca dongeng ngentot. Kini saya yang menjadi salah tingkah di depannya tanpa tahu harus berbuat apa, akupun mengembalikan hpnya.

Dia mendekat kemudian memelukku dari belakang “Kenapa..emangnya Bima belum pernah membaca hal ginian..” Akupun menjawab “Kata siapa..itu mah.. biasa dah saya baca..” Kataku dengan sombongnya “Kalau gitu Bima tahu dong caranya..” Glek.. mati aku, pikirku saat Kania berkata menyerupai itu, diapun mendekat dan wajahnya pas berada di depan wajahku.
 Perlahan ia lepas kaca mata yang saya pakai, kemudian ia mendaratkan bibirnya pada bibirku “Bima.. saya sayang kamu..” Kembali ia melumat bibirku dan kamipun berciuman dengan mesranya di dalam kamar itu, meski terdengar suara candaan sahabat Kania dari luar saya tidak perduli. Aku benar-benar terbuai dengan lumatan bibir Kania  yang menggairahkan.

Tangannya mulai meraba-raba tubuhku sampai ia temukan kontolku, perlahan namun pasti menggeliat juga kontolku di remasnya “Oooouuuggggggghhhhhh…… oooouuugggghhh… aaaaggggggghh… Kaniaaaaa… aaaagggghh…” Aku tidak berbuat apa-apa kecuali menikmati sentuhan tangannya pada kontolku, menyerupai dalam adegan dongeng ngentot yang sering saya baca.

Ketika kontolku membesar dan semakin panjang diapun menyuruhku untuk berbaring di atas kawasan tidur. Bagai kerbau yang sudah jinak saya mengikuti perintahnya, dan saya lihat Kania naik ke atas tubuhku dan ia mencoba memasukkan kontolku ke dalam memeknya, dan tidak butuh lama untuk melaksanakan hal itu, saya terbelalak saat pantatnya mulai bergoyang di atas tubuhku.

Aku begitu menikmatinya “Ooouuuuuggggghhh… aaaaaaaagggggghh…. aaaaaggggghh… Kaaaniiiiaaaa… aaaggghh.. teruuuuusss… sayaaaang…. aaaggggghhh..” Rasanya tidak mampu saya bayangkan, ternyata menyerupai ini kenikmatan yang di ceritakan Beni padaku, Kania semakin bergelinjangan bahkan ia memutar-mutar tubuhnya dan juga semakin dalam kontolku dalam
memeknya.

Diapun mendesah panjang sambil terus berpegangan pada dadaku “OOoouuggggghh… aaaaaaaggggghhh… ooooouuugggghh… aaaagggggghh.. sayaaaaang… aaaaagggghh..” Desahnya membuat saya semakin tidak mampu menahan kenikmatan, saya berusaha menahannya dengan cara memejamkan mataku. Karena dari tad saya tidak tahan juga melihat badan mulus kania yang terus bergoyang di atasku.

Tubuhnya sudah bersimbah keringat namun ia tetap menyerupai kuda binal yangterus bergerak layaknya dalam adegan dongeng ngentot “Oooouuuggggggghhhh… aaaaagggghh…. ooouuuggggghh.. aaaggghh..” Tiba-tiba saya merasa selangkanganku tidak mampu menahan kenikmatan, kontolku semakin mengeras dan balasannya memuncratkan sesuatu yang terasa hangat dari dalam.
Kania tsenyum ambil berbisik lirih di telingaku “OOoouuugggghh.. Bimaaa.. sayaang… saya puas…. sayaaang….” Dia tidak lag bergerak namun tetap di atas tubuhku, dan saya mendekapnya dengan erat, seakan tidak ingin melepasnya. Aku tahu kalau di luar teman-temannya pasti tahu apa yang kami lakukan, tapi saya tidak takut kalau sampai mereka menggoda kami, alasannya yakni saya benar-benar terpuaskan oleh kania.
3

Kumpulan Kisah Sex Aku Dan Kakak Ngentot Dengan Ibu Kandungku Sendiri

Kumpulan Cerita Sex 2018 - Sudah 2 minggu Papaku berada di luar kota alasannya yakni urusan kantornya. Aku dirumah tinggal bersama Mama (41 tahun), Adik perempuanku (12 tahun), dan Kakak laki-lakiku (20 tahun), sedangkan saya sendiri berumur 18 tahun.
Mamaku seorang perempuan yang sangat menarik, wajahnya cukup cantik, kulitnya mulus, tapi saya nggak pernah kepikiran untuk menyetubuhinya, sampai pada suatu siang, saya nggak kekampus, adikku masih disekolah, sedangkan kakakku ada dikamarnya.
“Ataa…kemari sebentar, sayang!” Terdengar bunyi mama memanggilku dari arah kamar mandi. Aku langsung bergegas kesana,
“Ada apa, mama?” Tanyaku.
“Sayang, tolong diputar kran air ini, keras sekali” Mama hanya mengenakkan handuk yang tidak terlalu lebar di tubuhnya. Paha mulusnya terlihat jelas, serta belahan dadanya yang indah nampak juga. Darahku sempat berdesir menyaksikan pemandangan itu.Aku langsung menuju keran air dan memutarnya, ternyata keran itu benar-benar keras. Aku mengerahkan semua tenagaku, dan akhirnya air memancar dengan deras sehingga mengenai sebagian pakaianku.
“Aku jadi berair nih mama” Kataku.
“Buka aja pakaian kamu, semoga nanti mama yang nyuciin” Aku langsung membuka pakaianku kecuali celana dalam yang saya kenakan.
“Itu juga kan basah, dibuka aja sekalian” Kata mama. Aku jadi malu telanjang didepan mama. Akhirnya saya melepaskan celana dalamku. Batang penisku setengah berdiri menggelantung di selangkanganku. Mama tersenyum,
“Wah, besar juga anu kamu” Wajahku memerah, mama kemudian melepas handuknya dan memberikannya padaku
“Nih keringin tubuh kau dengan ini”. Aku sangat terkejut, mama tidak memakai BH beliau hanya mengenakkan CD saja. Buah dadanya yang bundar indah terpamapang terperinci didapan mataku.
“Kok kau jadi terdiam begitu, belun pernah liat yang ginian yah?” Mukaku tambah merah. Mama kemudian membalikkan tubuhnya dan segera mandi dengan air yang memancar dari shower.
Aku belum beranjak sedikitpun.
“Nak, tolong punggung mama disabunin”. Aku mengambil sabun cair, dan mulai menggosokkan punggung mama. Aku rasakan kulit mama yang masih kencang dan lembut. Punggung mama yang mulus saya gosok namun mampu desebut membelai dari pada menggosok punggung mama.
Kami menghadap sebuah cermin besar yang ada dikamar mandi, sampai kepingan depan tubuh mama terlihat terperinci dengan payudara yang masih kencang dan besar juga putting payudara mama yang berwarna coklat renta namun sangan indah dan kontras dengan kulit mama yang putih. Mama memejamkan matanya menikmati usapanku. Jantungku berdetak keras tanda deras nya fatwa darah di dalam tubuhku yang membangkitkan hormon kejantananku dan juga nafsu yang semakin naik.
Dengan tangan yang agak gemetar saya mulai memutar gosokan tanganku di punggung mama agak ke dapan dan membelai kepingan sisi tubuh mama. Aku semakin tak dpat mengontrol nafsu dan libidoku. Jiwa ku bergejolak antara tidak atau lakukan untuk mulai merangsang mama. Namun pertahanan iktikad ku jebol juga. Aku dekatkan tubuhku yang bugil makin mendekat tubuh mama, dan saya dekatkan kepalaku ke leher mama. Lalu kemudian kuberanikan diri untuk muncium leher mama, tanganku mulai meremas buah dadanya.
“Jangan, sayang, ini mama kamu”. Tapi mama tidak berusaha untuk melemaskan diri. Aku terus meremas-remas buah dadanya. Aku rasakan buah dada mama yang kenyal dan empuk. Dengan sabun yang masih ada di telapak tanganku, buah dada mama terasa sangat licin namun saya sangat menikmati remasanku di payudara mama. Mama memejamkan matanya dan bibirnya mulai terbuka dan saya melihat mama menggigit bibir nya sendiri, mungkin mama juga menikmati perlakuan aku, anak kandung nya sendiri.
“Oohh..sshh..jangaann, Ataaa..”. Tiba-tiba mama sadar, ia berbalik kearahku, mukanya sangat marah dan.. “Plaakk” tangan kirinya menamparku. Aku dan mama kemudian diam seribu bahasa. Lalu mama bersuara..
“Apa yang kau lakukan tadi, kau mau menyetubuhi mama?”. Aku masih diam. Mama maju mendekatiku, saya jadi takut kalau mama akan menamparku lagi. Aku semakin tak karuan alasannya yakni ketakutan. Ingin rasanya saya langsung lari keluar dan tidak akan bertemu mama lagi, namun..
“Kalo kau mau begitu, baiklah, terus terang mama juga terangsang dan ingin merasakan batang penis kau ini, tapi jangan sampai orang lain tahu.” Mama berkata sambil memegang batang penisku yang sudah tegang.
Seperti mendengar petir di siang bolong..!! nafsu ku yang sudah tidak mampu saya kontrol akhirnya mendapatkan penyaluran nya dan gejolak jiwaku lepas sudah ketika mendengar perkataan mama tadi. Aku langsung memeluknya, ketika tubuh bugil ku bersentuhan dengan tubuh bugil mama yang berair seakan ada hentakan listrik di dalam tubuhku. Kulit tubuh mama yang lembut sekarang bersentuhan kulit tubuhku. Libido ku naik sampai puncakya. Dan entah apa yang mampu saya lukiskan dengan kata-kata ketika saya mencium bibir mama.
Bibir ku bersentuhan dengan bibirnya, ku cium dengan penuh nafsu, mama pun membalasnya dengan liar. “Mmmmmhh..mmmhhh”. Lidah kami saling beradu satu sama lain. Tubuh kami saling berhimpit, buah dada mama menekan di dadaku,terasa hangat dan sensasi yang mama berikan sangat indah dan nikmat. Penisku juga menekan kepingan bawah perut mama yang masih terbilang agak rata walaupun ada sedikit menggembung. Aku rasakan kehangatan tubuh mama walaupun tubuh kami dalam keadaan basah.Tangan mama megusap penisku.
Akh.. nikmatnya ketika jari-jemari mama yang panjang lemtik dan telapak tangan mama mengusap permukaan penisku yang makin keras dari pangkal sampai ujung kepala penis, sementara tanganku berada di buah dadanya. Aku remas dengan nafsu,namun saya ingin mama juga menikmati remasan anak nya pada buah dada mamanya, saya berusana meremasnya dengan lembut namun..
Mama kemudian turun kebawah kemudian jongkok, wajahnya sekarang berada tepat didepan batang penisku yang sudah tegang. Mama menjulurkan lidahnya kekepala pelirku dan akhirnya memasukkan batang penisku kemulutnya.
“Ooohh..sshh..eenaakk mama..maa”. Mama terus mengisap batang penisku. Lidahnya menjalar diseluruh permukaan batang sampai ke kantung zakar. Hangatnya rongga verbal mama sangat terasa di seluruh permukaan batang penisku. Mama memainkan pengecap nya di uah jakarku. Lidah mama menyentuh lubang penisku, kemudian turun sewrah dengan urat penisku, makin ke pangkalnya, kemudian mama megulum buah jakarku. Cerita Dewasa
Aku bergidik menahan dan merasakan kenikmatan itu, pengecap nya kemudian naik lagi menuju kepala penis dan ketika sampai di ujung penisku, mama dengan lahap memasukan lagi penisku ke dalam mulutnya dang kemudian menghisapnya dengan keras. Aku pegang kepala mama ku sambil membelai rambutnya dan agak sedikti menekan kepala mama ke selangkangan ku.
Nafasku makin teregah-engah, kemudian saya melihat ke bawah ke arah mama yang dengan nafsu dan cepat mengocok batang penisku di dalam mulutnya. Aku melihat ekspresi wajah mama yang elok dan terasa semakin elok ketika melihat ia mengulum dan mengocok penisku. Aku makin merasakan sensai itu ketika mama memandang saya kemudian berusaha terseyum walau penisku masih ada di dalam mulutnya.
“Sayaaang, kalo kau udah pengen keluar, keluarin aja, nanti mama telan” sahut mama sambil mengulum kepala penisku. Terlihat ludah mama membasahi seluruh permukaan penisku sampai terlihat mengkilat dan ada cairan yang sedikit kental yang menempel di antara bibir dan batang penisku.
Aku yang memang sangat menikmati perlakuan mama sudah tidak mampu menahan untuk orgasme. Sambil melanjutkan kocokan nya mama meremas pantat ku Aku kemudian menyemprotkan cairan spermaku… “Crot..crot..crot…” saya semprotkan semua air mani ku di dalam verbal mama. Sambil sedikit mengerang dan sedikit berteriak saya leaskan seluruh nafsu itu di dalam verbal mama ku yang cantik. Mama langsung menelan semuanya, semua calon cucu-cucunya mama telan habis.
Aku merasakan hisapan besar lengan berkuasa di penisku.terdengat bunyi “Glek..” ketika mama menelan semua cairan kental dari penisku. Lalu mama mengeluarkan penisku dari dalam mulutnya, mama mengusap bibirnya yang berair oleh spermaku dan kemudian melanjutkan mengulum penisku membersihkan sisa spermaku. Tubuhku seakan lemas, lutut ku seakan tidak mampu menahan lagi berat tubuh ini, penisku mulai melembek dan terasa agak linu di ujung nya tapi yang absurd biasanya kalau saya onani, sesudah saya menyemprotkan sperma.
Tak ada 1 menit penisku langsung lembek dan mengecil namun ketika ini mungkin kodisinya masih keras 80%, melihat itu mama kemudian tersenyum. Aku di biarkan oleh mamaku untuk beristirahat sebentar,namun tidak sampai 2 menit penisku mulai mengeras lagi, nafsu dan libido ku naik lagi melihat mama yang bugil. Mama kemudian berbaring dilantai,
“Naaakk, vagina mama di hisap yaa..!” Aku langsung membungkuk dan menjiati seluruh permukaan memeknya.Kelentitnya saya jilat dan kugigit-gigit. Aku mencium aroma khas kewanitaan mama yang mebuat nafsu ku tak terkendali lagi. Aku merasakan cairan vagina mama yang bening dan terasa nikmat dan gurih. Aku hisap lubang tempat saya lahir dulu, saya masukan pengecap ku ke dalam vagina mama yang lembut dan hangat itu. Vagina mama makin berair oleh cairan vagina mama dan juga oleh ludahku.
“Ssssshhhh…yeeeeeaaahh…teerruuss sayaaang” Tidak lama kemudian, mama sudah tidak tahan lagi, tubuhnya mengejang, pantatnya bergerak-gerak tak karuan.
“Ataa..sshh..mamaa sudah maauu keluaarr…sshh..ooh..yeeess” Cairan putih mengalir dari lubang senggamanya, saya langsung menelan seluruh cairan itu. Emh nikmat nya..
Tiba-tiba pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu terbuka, kakakku Rudi masuk, beliau sangat kaget melihat yang saya dan mamaku lakukan.
“Apa-apaan kalian, awas nanti saya adukan ke papa”
“Jangan, Rudi sayang, jangan dilaporin ama papa, kalo kau mau kau boleh ikut juga”. Kata mama Sementara saya hanya diam dan tak tahuapa yang harus lakukan.
“Boleh nih mam?” Rudi langsung melepaskan pakaiannya. Mama merubah posisinya. Dia sekarang nungging, kak Rudi berada didepannya, penisnya sedang dihisap mama. Kak Rudi terlihat menikmati isapan mama di batang penis nya. Aku berada dibagian pantat mama. Bongkahan pantatnya ku remas, batang penisku kumasukkan kedalam liang senggamanya. Liang itu masih terasa sempit.
“Oohh…yeess…mmhh…sshh”. mama mendesah ketika perlahan batang penisku masuk menusuk ke dalam vagina mami yang lembut dan hangat.Aku memaju-mundurkan pantatku. “Clook..clookk..clook” saya merasakan jepitan dan remasan otot vagina mami di batang penisku. Daging vagina mama yang lembu, berair dan licin semakin membuat gerakan keluar masuk penisku makin lancar. Sambil saya kocok penisku di dalam vagina mama, saya remas buah dada mama dari belakang dan juga saya cium kepingan belakang lehernya.
Aku remas pantat mama, saya belai tubuhnya yang maiknbasah oleh keringat. Aku pegang pinggang mama yang ramping sambil saya tarik seirama dengan gerakan tusukan penisku di dalam vagina nya. Mama tampak sangat menikmatinya. Kupompa penisku menghujam vagina mama. Pantatnya yang bahenol beradu dengan pangkal pahaku. Kupeluk mamaku dari belakang sambil terus bergoyang perlahan meremas payudaranya.
15 menit kemudian mama berbaring menyamping, kak Rudi menyetubuhi dari belakang. Pantat kak Rudi maju mundur, kaki kanan mama terangkat keatas, tangan mama mengocok-ngocok batang penisku. Suara erangan aku, rintihan nikmat kak rudi dan desahan mama memenuhi ruangan kamar mandi kami. Lalu, kak Rudi berbaring terlentang dilantai, mama naik diatas tubuhnya, penis kak Rudi berada diliang senggama mama, mama menaik turunkan pantatnya, sesekali mama membungkuk dan mereka saling mengulum di bibir.
“Maa, punyaku dimasukkan dimana niih” Tanyaku.
“Sini sayang masukkan di lubang pantat mama”. Kata mama sambil terengah-engah dan mendesah menikmati sodokan dari kak Rudi. Aku kemudian jongkok di belakang tubuh mama, saya pengang pinggulnya semoga pantat dan pinggul mama yang berputar dan bergoyang berhent, kak rudi tidak berhenti-hentiya meremas buah dada mama malah kadang mengulum putting payudara mama yang menbuat mama semakin keenakan. Aku kemudian memasukkan batang penisku ke lubang anus mama. Aku rasakan lubang anus mama yang sempit dan juga hangat, dan dengan batual ludah gerakan masuk-keluar penisku di anus mama menjadi lancar.
Mama sangat menikmati perlakuan kedua anak kandungnya itu. Terlihat dari ekspresi wajah mama, mama mendesah nikmat, mengerang dan menjerit pelan ketika kenikmatan yang mama rasakan makin memuncak. Nampak dicermin mama sedang disetubuhi oleh kedua anak laki-lakinya, posisi mama berada diantara saya dan kak Rudi.
“Sshh…sssshh..yeess..oohhyeee” celoteh mama yang makin tak kuasa menahan kenikmatan yang di berikan kedua anak kandung nya, dan benar tak lama tubuh mama tiba-tiba bergetar, bergidik dan diakhhiri desahan dan lengguhan panjang yang keluar dari verbal mama sampai tubuh mama abruk di atas tubuh kak Rudi. Kami yang menyadari mama telah orgasme mebiarkan beberapa ketika untuk mama menikmati orgasmenya sebelum kami lanjutkan gerakan penis kami masing-masing di dalam tubuh mama.
Beberapa menit kemudian saya dan kak Rudi sudah hampir orgasme.
“Sini sayang,” kata mama. Mama jongkok dilantai, saya dan Rudi berdiri dedepannya. Mama mengocok dan mengulum penis kami berdua secara bergantian. Dan akhirnya ‘Crot..crot..crot..’ kami berdua orgasme, cairan sperma kami memancar hampir bersamaan. Aku dan kak rudi menikmati ketika cairan kental dari penis kami muncrat dan memancar ke arah verbal mama.
“srluup…srllllp… ” Mama menelan habis cairan kami. Sebelum menelan habis cairan sperma kami berdua, mama memainkan dulu cairan sperma kami berdua di mulutnya dan memperlihatkan kepada kami ketika cairan putih kental itu memenuhi rongga verbal mama.
Memang tidak semua cairan sperma kak rudi dan saya mama telan ada sebagian yang menyebar di pipi mama. Lalu akhirnya mama kembali menelan calon-calon cucunya lagi. Mama membersihkan bibirnya dari sisa air mani kami berdua dengan mengusapkan tangan nya, kemudian kami berciuman.
Lalu kau bertiga mandi bersama-sama. Sampai sekarang kami bertiga sering bersetubuh. Kadang-kadang saya dan mama tanpa kak Rudi atau sebaliknya, tapi tanpa sepengetahuan papa.

3