Showing posts with label Cerita sex. Show all posts
Showing posts with label Cerita sex. Show all posts

Kisah Ngentot Janda Penjaga Warung

Kisah Ngentot Janda Penjaga Warung
Kisah Ngentot Janda Penjaga Warung  - Sebuah kisah ngentot atau dongeng ML seorang cowok dengan seorang tante yang menjanda dan haus seks. Mereka bersetubuh kala warung sudah tutup. Bagaimana petualangan seks keduanya? Silahkan simak kisahnya berikut ini!

Namaku Otong (bukan nama sebenarnya), saya bekerja di sebuah perusahaan cukup populer di Jawa Barat, di sebuah kota yang sejuk, dan saya tinggal (kost) di tempat perkampungan yang bersahabat dengan kantor. Di tempat tersebut populer dengan gadis-gadisnya yang bagus & manis. Aku dan teman-teman kost setiap pulang kantor selalu menyempatkan diri untuk menarik hati cewek-cewek yang sering lewat di depan kost. Di sebelah kostku ada sebuah warung kecil tapi lengkap, lengkap dalam artian untuk kebutuhan sehari-hari, dari mulai sabun, sandal, gula, lombok, roti, permen, dsb itu ada semua. Aku sudah langganan dengan warung sebelah. Kadang jikalau sedang tidak membawa uang atau dikala belanja uangnya kurang saya sudah tidak sungkan-sungkan untuk hutang. Warung itu milik Ibu Ita (tapi saya memanggilnya Tante Ita), seorang janda cerai beranak satu yang tahun ini gres masuk Taman Kanak-kanak nol kecil. Warung Tante Ita buka pagi-pagi sekitar jam lima, terus tutupnya juga sekitar jam sembilan malam. Warung itu ditungguin oleh Tante Ita sendiri dan keponakannya yang SMA, Krisna namanya.

 Sebuah kisah ngentot atau dongeng ML seorang cowok dengan seorang tante yang menjanda dan Kisah Ngentot Janda Penjaga Warung

Seperti biasanya, sepulang kantor saya mandi, pakai sarung terus sudah stand by di depan TV, sambil ngobrol bersama teman-teman kost. Aku bawa segelas kopi hangat, plus singkong goreng, tapi rasanya ada yang kurang.., apa ya..?, Oh ya rokok, tapi sehabis saya lihat jam dinding sudah mengatakan jam 9 kurang 10 menit (malam), saya jadi ragu, apa warung Tante Ita masih buka ya..?, Ah.., saya coba saja kali-kali saja masih buka. Oh, ternyata warung Tante Ita belum tutup, tapi kok sepi.., “Mana yang jualan”, batinku.

“Tante.., Tante.., Dik Krisna.., Dik Krisna”, lho kok kosong, warung ditinggal sepi menyerupai ini, kali saja lupa nutup warung.

Ah kucoba panggil sekali lagi, “Permisi.., Tante Ita?”.

“Oh ya.., tungguu”, Ada bunyi dari dalam. Wah jadi deh beli rokok akhirnya.

Yang keluar ternyata Tante Ita, hanya menggunakan handuk yang dililitkan di dada, jalan tergesa-gesa ke warung sambil mengucek-ngucek rambutnya yang kelihatannya gres selesai mandi juga habis keramas.

“Oh.., maaf Tante, Saya mau mengganggu nich.., Saya mo beli rokok gudang garam inter, lho Dik Krisna mana?

“O.., Krisna sedang dibawa ama kakeknya.., katanya kangen ama cucu.., maaf ya Mas Otong Tante pake’ pakaian kayak gini.. gres habis mandi sich”.

“Tidak apa-apa kok Tante, sekilas mataku melihat tubuh yang lain yang tidak terbungkus handuk.., putih mulus, menyerupai masih gadis-gadis, gres kali ini saya lihat sebagian besar tubuh Tante Ita, soalnya biasanya Tante Ita selalu pakai baju kebaya. Dan lagi saya gres sadar dengan hanya handuk yang dililitkan di atas dadanya berarti Tante Ita tidak menggunakan BH. Pikiran kotorku mulai kumat.

Malam gini kok belum tutup Tante..?

“Iya Mas Otong, ini juga Tante mau tutup, tapi mo pake’ pakaian dulu?

“Oh semoga Saya bantu ya Tante, sementara Tante berpakaian”, kataku. Masuklah saya ke dalam warung, kemudian menutup warung dengan rangkaian papan-papan.

“Wah ngerepoti Mas Otong kata Tante Ita.., sini semoga Tante ikut bantu juga”. Warung sudah tertutup, kini saya pulang lewat belakang saja.

“Trimakasih lho Mas Otong..?”.

“Sama-sama..”kataku.

“Tante saya lewat belakang saja”.

Saat saya dan Tante Ita berpapasan di jalan antara rak-rak dagangan, badanku menubruk tante, tanpa diduga handuk epilog yang ujung handuk dilepit di dadanya terlepas, dan Tante Ita terlihat hanya mengenakan celana dalam merah muda saja. Tante Ita menjerit sambil secara reflek memelukku.

“Mas Otong.., tolong ambil handuk yang jatuh terus lilitkan di tubuh Tante”, kata tante dengan muka merah padam. Aku jongkok mengambil handuk tante yang jatuh, dikala tanganku mengambil handuk, kini di depanku persis ada pemandangan yang sangat indah, celana dalam merah muda, dengan background hitam rambut-rambut halus di sekitar vaginanya yang tercium harum. Kemudian saya cepat-cepat berdiri sambil membalut tubuh tante dengan handuk yang jatuh tadi. Tapi ketika saya mau melilitkan handuk tanpa kusadari burungku yang sudah berdiri semenjak tadi menyentuh tante.

“Mas Otong.., burungnya berdiri ya..?”.

“Iya Tante.., ah jadi aib Saya.., habis Saya lihat Tante menyerupai ini mana harum lagi, jadi nafsu Saya Tante..”.

“Ah tidak apa-apa kok Mas Otong itu wajar..”.

“Eh ngomong-ngomong Mas Otong kapan mo nikah..?”.

“Ah belum terpikir Tante..”.

“Yah.., jikalau mo’ nikah harus siap lahir batin lho.., jangan kaya’ mantan suami Tante.., tidak bertanggung jawab kepada keluarga.., nah karenanya kini Tante harus bersetatus janda. Gini tidak enaknya jadi janda, malu.., tapi ada yang lebih menyiksa Mas Otong.. kebutuhan batin..”.

“Oh ya Tante.., terus gimana caranya Tante memenuhi kebutuhan itu..”, tanyaku usil.

“Yah.., Tante tahan-tahan saja..”.

Kasihan.., batinku.., andaikan.., andaikan.., saya diijinkan semoga memenuhi kebutuhan batin Tante Ita.., ough.., pikiranku tambah usil.

Waktu itu bentuk sarungku sudah berubah, agak kembung, rupanya tante juga memperhatikan.

“Mas Otong burungnya masih berdiri ya..?”.

Aku cuma megangguk saja, terus sangat di luar dugaanku, tiba-tiba Tante Ita meraba burungku.

“Wow besar juga burungmu, Mas Otong.., burungnya sudah pernah ketemu sarangnya belom..?”.

“Belum..!!”, jawabku bohong sambil terus diraba turun naik, saya mulai mencicipi kenikmatan yang sudah usang tidak pernah kurasakan.

“Mas.., boleh dong Tante ngeliatin burungmu bentarr saja..?”, belum sempat saya menjawab, Tante Ita sudah menarik sarungku, mudah tinggal celana dalamku yang tertinggal plus kaos oblong.

“Oh.., sampe’ keluar gini Mas..?”.

“Iya emang jikalau burungku lagi berdiri panjangnya suka melewati celana dalam, Aku sendiri tidak tahu persis berapa panjang burungku..?”, kataku sambil terus menikmati kocokan tangan Tante Ita.

“Wah.., Tante yakin, yang nanti jadi istri Mas Otong niscaya bakal seneng dapet suami kaya Mas Otong..”, kata tante sambil terus mengocok burungku. Oughh.., nikmat sekali dikocok tante dengan tangannya yang halus kecil putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa saya tahu, Tante Ita sudah melepaskan lagi handuk yang kulilitkan tadi, itu saya tahu alasannya yaitu burungku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang tidak terlalu besar itu.

“Ough.., Tante.., nikmat Tante.., ough..”, desahku sambil bersandar memegangi dinding rak dagangan, kali ini tante memasukkan burungku ke bibirnya yang kecil, dengan buasnya beliau keluar-masukkan burungku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot.., ough.., menyerupai terbang rasanya. Kadang-kadang juga beliau sedot habis buah salak yang dua itu.., ough.., sesshh.

Aku kaget, tiba-tiba tante menghentikan kegiatannya, beliau pegangi burungku sambil berjalan ke meja dagangan yang agak ke sudut, Tante Ita naik sambil nungging di atas meja membelakangiku, sebongkah pantat terpampang terang di depanku kini.

“Mas Otong.., berbuatlah sesukamu.., cepet Mas.., cepet..!”.

Tanpa basa-basi lagi saya tarik celana dalamnya selutut.., woow.., pemandangan begini indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu banyak. Aku jadi tidak percaya jikalau Tante Ita sudah punya anak, saya pribadi saja mejilat vaginanya, harum, dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Aku lahap rakus vagina tante, saya mainkan lidahku di clitorisnya, sesekali saya masukkan lidahku ke lubang vaginanya.

“Ough Mas.., ough..”, desah tante sambil memegangi susunya sendiri.

“Terus Mas.., Maas..”, saya semakin keranjingan, terlebih lagi waktu saya masukkan lidahku ke dalam vaginanya, ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.

Kemudian Tante Ita membalikkan badannya telentang di atas meja dengan kedua paha ditekuk ke atas.

“Ayo Mas Otong.., Tante sudah tidak tahan.., mana burungmu Mas.. burungmu sudah pengin ke sarangnya.., wowww.., Mas Otong.., burung Mas Otong jikalau berdiri dongak ke atas ya..?”. Aku hampir tidak dengar komentar Tante Ita soal burungku, saya melihat pemandangan demikian menantang, vagina dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, saya pribadi tancapkan burungku dibibir vaginanya.

“Aughh..”, teriak tante.

“Kenapa Tante..?”, tanyaku kaget.

“Udahlah Mas.., teruskan.., teruskan..”, saya masukkan kepala burungku di vaginanya, sempit sekali.

“Tante.., sempit sekali Tante.?”.

“Tidak apa-apa Mas.., terus saja.., soalnya sudah usang sich Tante tidak ginian.., ntar juga nikmat..”.

Yah.., saya paksakan sedikit demi sedikit.., gres setengah dari burungku amblas.., Tante Ita sudah menyerupai cacing kepanasan gelepar ke sana ke mari.

“Augh.., Mas.., ouh.., Mas.., nikmat Mas.., terus Mas.., oughh..”.

Begitu juga aku.., walaupun burungku masuk ke vaginanya cuma setengah, tapi sedotannya oughh luar biasa.., nikmat sekali. Semakin usang gerakanku semakin cepat. Kali ini burungku sudah amblas dimakan vagina Tante Ita. Keringat mulai membasahi badanku dan tubuh Tante Ita. Tiba-tiba tante terduduk sambil memelukku, mencakarku.

“Oughh Mas.., ough.., luar biasa.., oughh.., Mas Otong..”, katanya sambil merem-melek.

“Kayaknya ini yang namanya orgasme.., ough..”, burungku tetap di vagina Tante Ita.

“Mas Otong sudah mau keluar ya..?”. Aku menggeleng. Kemudian Tante Ita telentang kembali, saya menyerupai kesetanan menggerakkan badaku maju mundur, saya melirik susunya yang bergelantungan alasannya yaitu gerakanku, saya menunduk dan kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Ita semakin mendesah, “Ough.., Mas..”, tiba-tiba Tante Ita memelukku sedikit agak mencakar punggungku.

“Oughh Mas.., saya keluar lagi..”, kemudian dari kewanitaannya saya rasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin terasa, saya dibentuk terbang rasanya. Ach rasanya saya sudah mau keluar, sambil terus goyang kutanya Tante Ita.

“Tante.., Aku keluarin dimana Tante..?, di dalam boleh nggak..?”.

“Terrsseerraah..”, desah Tante Ita. Ough.., saya percepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh burungku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya spermaku saya muntahkan dalam vagina Tante Ita, masih saya gerakkan badanku rupanya kali ini Tante Ita orgasme kembali, beliau gigit dadaku.

“Mas Otong.., Mas Otong.., hebat Kamu Mas”.

Aku kembali kenakan celana dalam serta sarungku. Tante Ita masih tetap telanjang telentang di atas meja.

“Mas Otong.., jikalau mau beli rokok lagi yah.., jam-jam begini saja ya.., nah jikalau sudah tutup digedor saja.., tidak apa-apa.., malah jikalau tidak digedor Tante jadi marah..”, kata tante menggodaku sambil memainkan puting dan clitorisnya yang masih nampak bengkak.

“Tante ingin Mas Otong sering bantuin Tante tutup warung”, kata tante sambil tersenyum genit. Lalu saya pulang.., gres terasa lemas sakali badanku, tapi itu tidak berarti sama sekali dibandingkan kenikmatan yang gres kudapat. Keesokan harinya ketika saya hendak berangkat ke kantor, dikala di depan warung Tante Ita, saya di panggil tante.

“Rokoknya sudah habis ya.., ntar malem beli lagi ya..?”, katanya penuh pengharapan, padahal pembeli sedang banyak-banyaknya, tapi mereka tidak tahu apa maksud perkataan Tante Ita tadi, akupun pergi ke kantor dengan sejuta ingatan kejadian kemarin malam.
3

Cerita Sex Kecanduan Ngentot

Cerita Sex Kecanduan Ngentot
Cerita Sex Kecanduan Ngentot - Hallo, nama saya Lilian. Saya mau bercerita ihwal pengalaman saya beberapa waktu yang lalu. Saya yaitu perempuan yang mempunyai hyperseksual yang dalam hal ini kecanduan akan kebiasaan sepongan (melakukan oral seks terhadap kemaluan pria). Sudah usang sekali saya waktu pertama kali menghisap kemaluan pria. Waktu itu umur saya 16 tahun. Dan sehabis insiden itu, saya sudah mendapatkan 2 kejantanan laki-laki lagi untuk saya sepong. Saya benar-benar tidak puas dengan tidak terpenuhinya keinginan saya untuk menghisap kemaluan pria. Masalahnya saya sering dipingit orang tua, apalagi ditambah dengan lingkungan sekolah saya yang merupakan sekolahan khusus cewek. Makara saya sering sakaw (menagih) kemaluan pria. Suatu malam, saya sudah benar-benar tidak tahan lagi. Buku dan VCD porno pun tidak sanggup memuaskan saya. Bahkan waktu saya melaksanakan masturbasi pun saya tetap merasa kurang puas.

Saya yang sehabis masturbasi, membuka jendela kamar saya yang berada di lantai 2 rumah saya. Waktu itu jam 23:30. Saya melihat jalanan di depan rumah sudah sepi sekali. Tiba-tiba pandangan gres gila saya mulai lagi. Saya dengan nekat, rahasia keluar rumah sambil bertelanjang tanpa sepengetahuan siapa pun yang ada di rumah lantaran semua sudah pada tidur. Saya hingga nekat melompat pagar dengan impian ada pemuda atau laki-laki yang melihat dan memperkosa saya. Apapun asal saya sanggup menghisap kemaluannya.
Di komplek saya memang sepi sekali pada jam-jam segitu. Saya sedikit menyesal juga, kenapa saya tidak keluar agak lebih sore. Agak cuek juga malam itu atau mungkin juga lantaran saya tidak menggunakan selembar pakaian pun. Di ujung jalan, saya melihat masih ada Mas Agus, tukang nasi goreng langganan saya yang masih berjualan. Langsung saya sapa dia.
“Mas Agus, nasi gorengnya dong..” pinta saya.
“Lho, Mbak Lili..? Ngapain malam-malam begini masih di luar? Ngga pake apa-apa lagi..” sahutnya sambil terheran-heran melihat saya yang tanpa sehelai benang pun di tubuh.
“Abis panas sih, Mas. Kok tumben masih jualan..?”
Mas Agus tidak menjawab. Tetapi saya tahu matanya tidak sanggup lepas dari payudaraku yang putih polos ini.
“Ngeliatin apa mas..?” kutanya.
“Ah ngga..” katanya gugup.
Lalu Mas Agus menyiapkan penggorengannya untuk memasak nasi goreng pesananku. Saya lihat ke arah celananya, saya tahu batang kemaluannya sudah berubah jadi bertambah besar dan tegang. Karena saya sudah tidak tahan lagi untuk segera menghisap kemaluannya, saya nekat juga. Saya jongkok sambil membuka ritsletingnya dan mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam CD-nya. Tidak pakai basa-basi, saya masukkan alat vitalnya Mas Agus ke dalam verbal saya. Saya jilat-jilat sebentar kemudian saya hisap dengan bibir. Saya yakin Mas Agus mencicipi bahagia yang tiada tara, menyerupai mendapatkan rejeki nomplok. Tidak hanya itu, saya juga menjilati dua telor Mas Agus. Memang agak bacin sih, tetapi saya benar-benar menikmati kejantanan Mas Agus yang kini beliau mulai bersuara, “Mmmh.. mmh.. uhh..”
Kira-kira 15 menit saya menikmati kemaluannya Mas Agus, tiba-tiba Mas Agus menyuruh saya untuk berdiri. Dia memelorotkan celana dan CD-nya sendiri hingga bawah dan menyuruh saya berbalik. Sekarang saya membelakangi Mas Agus. Mas Agus jongkok dan menjilati kemaluan saya. Saya eksklusif mencicipi kenikmatan yang jago sekali. Hanya sebentar beliau melaksanakan itu. Selanjutnya beliau bangun lagi dan memasukkan batang kejantanannya ke liang senggama saya. Kami berdua melaksanakan senggama sambil berdiri. Saya melakukannya sambil pegangan di gerobak nasi gorengnya. Saya sudah benar-benar merasa keenakan.
“Uuuh.. akkhh.. akkh.. akhh..” saya menjerit-jerit kegilaan, untung tidak ada yang mendengar.
“Mas, kalo udah mau keluar, bilang ya..” pinta saya.
“Udah mau keluar nih..” jawabnya.
Langsung saja saya melepaskan batang kejantanannya dari liang vagina saya dan jongkok di hadapan kemaluannya yang mengacung tegak. Tetapi sehabis saya tunggu beberapa detik, ternyata air maninya tidak keluar-keluar. Terpaksa saya kocok dan hisap lagi batang kejantanannya, saya jilati, dan saya gigit-gigit kecil. Setelah itu tibalah saatnya saya mendapatkan upah yang dari tadi saya sudah tunggu-tunggu, yaitu air maninya yang memang lezat.
“Crot.. crot.. crot..” semuanya saya minum menyerupai orang yang kehausan.
Langsung saja saya telan dan saya bersihkan kejantanannya dari air mani yang tersisa.
Bertepatan dengan itu, 2 laki-laki lewat di depan kami. Ternyata mereka yaitu bapak-bapak yang tinggal di komplek ini yang sedang meronda.
“Lho, Mas Agus lagi ngapain..?” kata seorang bapak di situ.
“Ah ngga pak.. mm.. ini Mbak Lily..” jawab Mas Agus malu-malu.
“Ini Om, saya habis ‘gituan’ sama Mas Agus..” saya jawab begitu nekat dengan impian 2 bapak ini juga mau memperkosa saya menyerupai yang telah saya lakukan dengan si penjuali nasi goreng.
Mereka keheranan setengah mati mendengar legalisasi saya itu.
“Adik ini tinggal dimana?” tanya salah satu dari mereka.
“Di sana, di blok F.” jawab saya.
“Ayo pulang sudah malam..!”
Dan saya pun diseret pulang. Saya takut setengah mati lantaran kalau hingga saya dibawa pulang, niscaya tertangkap berair sama orang renta dan saya bakal digantung hidup-hidup.
Di tengah jalan, saya beranikan diri berkata pada mereka, “Om, mau nyusu ngga..?”
“Jangan main-main kamu..”
“Ayolah Om.. saya tau kok, Om mau juga kan ngewe sama saya..?”
Mendengar itu, si Om eksklusif terangsang berat. Saya eksklusif mengambil kesempatan meraba-raba batang kejantanannya yang tegang.
“Ayo dong Om.. saya pengen banget lho..” saya bilang lagi untuk menegasakan maksud saya.
Bapak yang satunya lagi eksklusif baiklah dan berkata, “Ya udah, kita bawa ke pos ronda aja Pak Karim..” dan Pak Karim pun setuju.
Setibanya di sana, ternyata masih ada 3 orang lagi yang menunggu di sana, termasuk Bang Parli, hansip di komplek saya. Saya kegirangan sekali, bayangkan saya akan mendapatkan 6 batang kejantanan dalam semalam. Gila.. beruntung sekali saya malam itu. Setelah kami berenam ngobrol-ngobrol sebentar ihwal insiden antara saya dan Mas Agus, saya eksklusif memberanikan diri memperlihatkan kesempatan emas ini ke mereka, “Saya sebenernya pengen banget ngerasain barangnya bapak-bapak ini..”
Mereka eksklusif terlihat berangasan dan terangsang mendengar perkataan saya, dan saya jeas mengetahuinya. Saya suruh mereka berlima melepas celana dan CD mereka sendiri dan duduk di dingklik pos hansip itu. Mereka berbaris menyerupai menunggu dokter saja. Batang kemaluan mereka besar-besar juga. Saya eksklusif memulai dengan batang kejantanan yang paling kanan, yaitu senjata keperkasaannya Bang Parli. Saya hisap, saya gigit-gigit kecil, saya kocok di dalam verbal saya, dan saya jilati keseluruhan batangnya dan termasuk juga telurnya. Begitu juga pada batang keperkasaan yang kedua, ketiga, keempat, dan yang terakhir miliknya Pak Karim.
Setelah selesai, saya masih belum puas kalau belum meminum air mani mereka. Lalu saya duduki batang kejantananmya Bang Parli hingga masuk ke liang senggama saya. Saya kocok-kocok di dalam vagina saya. Sementara itu, Pak Karim dan satu bapak lainnya menjilati dan menghisap puting susu saya, sedangkan yang dua bapak lainnya menunggu giliran. 10 menit sehabis itu, saya sudah setengah tidak sadar, siapa yang menggenjot lubang senggama saya, siapa saja yang menghisap buah dada saya, batang kejantanan siapa saja yang sedang saya sepong, seberapa keras jeritan saya dan berapa kali saya sudah keluar lantaran orgasme. Ada pula saatnya ketika satu senjata kejantanan masuk ke lubang vagina saya, sedangkan satu senjata lagi masuk ke lubang anus saya sambil saya menghisap 3 batang kemaluan secara bergantian. Pokoknya saya sudah tidak sadar lagi. Karena mencicipi kenikmatan yang benar-benar tiada tara.
 Saya mau bercerita ihwal pengalaman saya beberapa  waktu yang kemudian Cerita Sex Kecanduan Ngentot
Untungnya mereka tidak mengeluarkan air maninya di dalam lubang kewanitaan saya, kalau tidak sanggup hamil nanti saya.. berabe dong..! Lagipula saya berniat meminum semua air mani mereka. Akhirnya ketika yang saya tunggu-tunggu, yaitu saatnya saya berjongkok di depan mereka dan mereka mengelilingi wajah saya sambil mengocok-ngocokkan barang mereka masing-masing. Sesekali saya masih juga menghisap dan menyedot kelima batang kejantanan itu dengan lembut.
Akhirnya, “Crot.. crot.. crot.. crot.. crot..” saya malam itu menyerupai mandi air mani. Saya merasa puas sekali.
Waktu pulang, saya diantarkan Bang Parli, si hansip. Ketika sudah hingga di depan rumah saya, sekali lagi Bang parli membuka ritsletingnya dan menyodokkan batang kejantanannya ke dalam lubang senggama saya. Saya melakukannya sambil nungging berpegangan ke pagar depan rumah saya. Selama 10 menit saya dan Bang parli melaksanakan senggama di depan pagar rumah saya. Air maninya kini terpaksa dikeluarkan di punggung saya. Saya tidak menyesal lantaran air maninya kali ini tidak terlalu banyak. Saya melompat pagar lagi, dan masuk ke kamar diam-diam. Sampai di kamar sudah jam 3 lebih. Badan saya seluruhnya malam itu bacin sperma. Saya eksklusif tidur tanpa mandi dahulu lantaran besoknya saya harus ke sekolah. Saya yakin mereka semua akan tutup verbal lantaran takut dengan istri mereka masing-masing
3

Gila !! Agus Membolehkan Saya Ngentot Rina Istrinya

Gila !! Agus Membolehkan Saya Ngentot Rina Istrinya
CERITA SEX - GILA !! Agus Membolehkan Aku Ngentot Rina Istrinya #  Kurasa tidak perlu saya ceritakan ihwal nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku kini sudah mendekati empat puluh tahun, bila dipikir-pikir seharusnya saya sudah punya anak, alasannya ialah saya sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya. Walaupun saya tidak begitu ganteng, saya cukup beruntung alasannya ialah menerima isteri yang menurutku sangat cantik. Bahkan sanggup dikatakan ia yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menjadikan kecemburuan para tetanggaku.

Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami ibarat saudara saja alasannya ialah hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.

Pada suatu malam, saya ibarat biasanya berkunjung ke rumahnya, sehabis ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya gres dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak alasannya ialah selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.

Waduh, gimana ini Gus..? Nggak lezat nih..!

Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak sanggup dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian. katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi sehabis kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya saya pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.

Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..? kata isteriku ketika kuajak.

Akhirnya saya aib juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan eksklusif tidur saja supaya besok cepat bangun. Paginya saya tidak bertemu Agus, alasannya ialah sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya saya hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika saya lewat, ia menanyaiku ihwal yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga saya eksklusif saja tidur.

Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang semenjak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, saya kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya bila sudah begini saya eksklusif menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin alasannya ialah sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa ialah pagi ini saya benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku ibarat kesetanan. Kemaluan Resty kujilati hingga tuntas, bahkan kusedot hingga isteriku menjerit. Edan, kok saya hingga segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.

Isteriku hingga terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty eksklusif memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan dikala itu. Sungguh, tidak sanggup kuceritakan.

Mas.., kini Mas..! pinta isteriku memelas.
Akhirnya saya mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.

Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, Kok Mas tiba-tiba nafsu banget sih..?

Aku membisu saja alasannya ialah aib menyampaikan bahwa sebetulnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.

Sorenya Agus tiba ke rumahku, Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..? tanyanya sehabis kami berbasa-basi.

Maksudmu apa Gus..? tanyaku heran.
Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi ia melihat Mas dan Mbak Resty bergulat sehabis ngobrol dengannya.
Loh, saya heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, gres kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Agus eksklusif menambahkan, Nggak usah aib Mas, saya juga maniak Mas. katanya tanpa malu-malu.

Begini saja Mas, tanpa harus memahami perasaanku, Agus eksklusif melanjutkan, Aku punya ide, gimana bila nanti malam kita bikin acara..?

Acara apa Gus..? tanyaku penasaran.
Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?
Pesta apaan..? Gila kamu.
Pokoknya damai aja Mas, kau cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?

Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol ihwal masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak gila kurasakan. Aku tidak sanggup menjelaskan perasaan apa ini, mungkin imbas minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.

Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, saya mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa ibarat menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah mencicipi perasaan ibarat ini. Tidak berapa usang Resty sudah telanjang bulat, entah kapan saya menelanjanginya. Sesaat saya merasa bersalah, kenapa saya melaksanakan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.

Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini sanggup terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya saya sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.

Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul sehabis penutupnya terbuka.
Kegilaan apa lagi ini..? batinku.Seolah-olah Agus mengerti, alasannya ialah selalu saya perhatikan memperlihatkan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan verbal terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seperti tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.
Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan tubuh yang sedikit gemetar alasannya ialah memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya akulah yang melakukannya.

Perlahan-lahan jari-jemariku mendekati kawasan kemaluan Rini. Kuelus bab itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan perempuan sudah terasa, dan bab tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati-hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi bab yang berada di antara kedua paha Rini ini.

Peluklah saya Mas, tolonglah Mas..! erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.

Tetapi saya tidak melakukannya. Aku ingin menyampaikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh bab tubuh Rini yang memang betul-betul sempurna. Biasanya saya hanya sanggup melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi sanggup menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.

Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, verbal kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.

Sshh.., akh..! Rini menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan memakai dua jari, Rini mendesis.

Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap bab putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba-tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini kini berbaring miring, sementara saya berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan ia mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku kini yang bergetar hebat.

Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir saya tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan ibarat ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku ibarat membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seperti melaksanakan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.

Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, ia melenguh andal hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian saya kini yang menciumi kemaluannya. Kepalaku ibarat terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah-engah dan kemudian menjerit tertahan meminta supaya saya segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.


Selamat membaca, biar terhibur dengan Cerita Sex di atas. Jangan lupa bookmark web Video HotVideo SexVideo SeksVideo MesumVideo 17Video PornoVideo BugilVideo NgentotVideo BokepVideo DewasaVideo ABG, Film Bokep, Film Porno, Film Dewasa, Cerita Sex ‪, ‎Cerita 17 Tahun,‬ ‪‎Cerita Bokep‬, ‪‎Cerita Dewasa, ‎Cerita Hot‬, Cerita Hot‎Cerita Kenikmatan, ‎Cerita Ngentot, ‎Cerita Porno,‬ ‎Cerita Artis, ‎Cerita Tante‎Cerita Sex, ‎Cerita Ngentot, ‎Cerita Sex Dewasa, ‎Tante Girang, ‎Cerita Seks Tante, ‎Ngentot Memek, ‎Cersex‬, Cerita ‎Ngentot, ‎Cerita JandaCerita ABGCerita 17Cerita Mesum

Sumber : InternetPornografi



3

Aku Vs 3 Cewek Melati Mawar Dan Rani Ngesek Bersama

Aku Vs 3 Cewek Melati Mawar Dan Rani Ngesek Bersama
CERITA SEX - Aku VS 3 Cewek Melati Mawar Dan Rani Ngesek Bersama -  Namaku Irfan, saya seorang siswa SMU di salah satu besar yang cukup terkenal. Aku memang tidak mempunyai tampang yang cukup ganteng atau tubuh yang atletis. Tetapi saya cukup tidak mengecewakan untuk seorang perjaka tidak terlalu buruk dan termasuk biasa-biasa saja dalam hal penampilan.

cheerleader, alasannya untuk masuk dalam ekstra kurikuler tersebut diharuskan melewati seleksi yang cukup ketat. Selain itu cewek yang sanggup masuk ke dalam ekstra kurikuler tersebut ialah cewek-cewek yang mempunyai tubuh seksi, tampang yang bagus dan keberanian dalam menggunakan baju minim di depan umum, alasannya para anggotanya selalu mengenakan baju yang sangat seksi ketika mengadakan pentas.

Biasanya mereka hanya mengenakan tank-top atau kembel yang dipadukan dengan rok yang sangat mini atau dengan celana ketat yang super pendek. Secara tidak pribadi hal ini menciptakan para cewek yang sanggup masuk mempunyai pujian tersendiri alasannya berarti mereka telah dianggap sebagai cewek yang bagus dan seksi.
Para anggota dari cheerleader biasanya selalu cewek yang sangat centil dan matre. Karena itu sangatlah praktis bagiku untuk mengajak mereka jalan dan “bermain” dengan mereka atau hanya sekedar memegang-megang mereka. Memang predikat “perek” cukup menempel dalam setiap anggota cheerleader,walaupun tidak semua cewek tersebut gampangan, dan ada juga yang memang hanya cewek baik-baik dan mengikutinya alasannya menyukai tari modern, walaupun jumlahnya paling hanya 2 orang.
Seperti biasanya pada tahun ini cukup banyak cewek kelas 1 yang mau mencoba mengikuti ekstra kurikuler ini. Dan memang pada tahun ini cewek yang mengikutinya terlihat seksi-seksi dan tampang yang cantik. Seluruh anggota gres ini mempunyai payudara dan pantat yang besar.

Belum lagi mereka memang selalu ke sekolah dengan mengenakan baju ketat dan tipis dan mengenakan BH yang selalu berwarna mencolok menyerupai hitam, hijau, biru, kuning atau warna mencolok lainya yang menciptakan payudara mereka terlihat dengan jelasnya oleg setiap mata. Mereka juga selalu mengenakan rok yang pendeknya sekitar satu telapak tangan di atas lutut dan sangat ketat sehingga menawarkan pantat mereka yang besar.

Melihat para perawan baru yang tersedia saya menjadi ingin mencoba kenikmatan tubuh mereka. Ada 8 anggota gres yang masuk dari kelas 1 angkatan ini. Tapi yang paling menarik perhatianku ialah Melati dan Mawar (sebut saja begitu). Karena mereka mempunyai payudara yang besar dan pantat yang besar pula, belum lagi wajahnya yang cukup manis. Mawar ialah seorang cewek keturunan Arab dengan ukuran payudara 34B dan pantat yang padat.

Cewek ini ialah cewek yang paling merangsang di antara para anggota baik yang gres maupun yang lama. Melati ialah saorang cewek dengan payudara yang tidak terlalu besar dan itu pula dengan pantatnya kalau dibanding Mawa. Ukuran payudaranya hanya 32B, tetapi bodinya seksi dan yang paling menarik ialah wajahnya yang manis dan cantik. Ia ialah cewek keturuna Jawa.

Aku sangat berhasrat untuk menikmati tubuh keduanya, tetapi saya belum bersahabat dengan mereka. Sehingga saya meminta proteksi salah satu anggota cheerleader di angkatanku yang berjulukan Rani yang sebelumnya sudah sering saya nikmati tubuhnya, bahkan saya secara teratur bekerjasama dengannya alasannya memang kami berdua memilki nafsu yang sangat besar walaupun diluar itu kami juga sering melakukanya dengan pacar kami masing-masing.
Tanpa pikir panjang saya mengutarakanya ke Rani dan tentu saja Rani menyanggupinya, bahkan di luar dugaan Rani menantang saya untuk melakukannya sekaligus dengan mereka bertiga. Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini alasannya ini memang sensani yang belum pernah saya lakukan hanya sering saya bayangkan.
Entah dengan bujuk rayu apa yang dikatakan Rani kepada Melati dan Mawar sehingga mereka berdua mau malakukan itu. Rani menyuruh saya tiba ke villa Rani di puncak yang memang sudah sering kugunakan untuk menikmati tubuh Rani pada malam ahad itu juga tetapi dengan syarat saya tidak pernah membahas akad ini dengan Melati dan Mawar sebelum hari itu dan saya juga dihentikan mengatakannya kepada siapapun.

Akhirnya hingga juga hari yang sangat kunantikan. Sekitar jam 14:00 saya segera berangkat untuk menghindari kemacetan, tapi apa boleh buat saya tetap terjebak kemacetan dan saya hingga di villa itu jam 05:00 sore, padahal biasanya kalau tidak macet saya hanya mambutuhkan 1-2 jam untuk hingga ke villa tersebut. Sampai di sana, saya disambut oleh Rani yang pada hari pulang terlebih dahulu dari sekolah dengan Mawar dan Melati dengan alasan mereka sakit. Mereka berangkat terlebih dahulu untuk menghindari macet dengan menggunakan kendaraan beroda empat Rani.

Di sana saya pribadi masuk ke kamar yang terletak di lantai atas, di sana sudah terlihat Melati dan Mawar. Pada ketika itu mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang ketat dan tipis, Melati mengenakan BH berwarna biru langit, Mawar dengan warna kuning dan Rani sendiri mengenakan BH berwarna merah cerah. Penampilan mereka semakin meningkatkan gairahku yang sudah usang kupendam terhadap mereka. Tanpa basa-basi mereka pribadi mendorongku ke ranjang yang masih rapi dengan sprei putih.
Melati dan Mawar pribadi mendekatiku, sementara Rani mengambil handycam dan meminta ijinku untuk merekam adegan yang akan berlangsung, dan menyampaikan hanya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya tanpa ada maksud menyebarkannya. Aku mengiyakannya saja alasannya sudah sibuk dengan Melati dan Mawar.
Pada ketika itu Melati menciumiku dengan ganasnya dan Mawar mulai menyupang leherku. Tanganku segera beraksi, saya menggerayangi seluruh tubuh mereka berdua, terasa olehku kulit mereka yang halus di paha mereka. Pelan-pelan saya mulai membuka kemeja Melati dan mulai meremas kedua payudaranya di balik BH birunya.
Terasa olehku payudaranya yang halus dan empuk, kemudian saya mulai memuntir putingnya. Setelah itu saya juga membuka kemeja Mawar dan meremas payudaranya menyerupai halnya pada Melati. Aku juga mulai menjilat payudara mereka secara bergantian dan menghisapnya tanpa membuka BH mereka.
“Ahh.. ahh..” mereka berdua mulai mendesah ketika puting mereka kuhisap.
“Isep terus Den toked gue!” kata Melati.
Mawar pun memohon hal yang sama kepadaku, dan saya semakin bersemangat menghisap puting mereka.

Melati mulai membuka kemeja yang saya kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga saya benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut hingga kesudahannya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan.

Mawar dan menelanjangi dia, sekitar 7 menit saya habiskan untuk merangsang dia, dengan cara menghisap payudaranya dan meremas-remasnya, saya juga menjilat klitorisnya. Terlihat dari wajahnya ia sangat menikmatinya dan sesekali mendesah alasannya foreplay yang kulakukan.
“Masukkin kontol loe dong Fan..! masa cuman bigini aja, gue udah nggak tahan..”
Aku menyuruhnya berpegangan ke pinggir daerah tidur dengan posisi menyerupai mau merangkak. Aku mau melaksanakan doggy style. Dia melakukannya dengan cepat, dan terlihat dua bongkah pantat yang mulus.
Aku melap keringat yang ada di kedua pantat tersebut dan meremas-remasnya. Aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, dan saya masukkan sedikit, saya pegang dengan berpengaruh kedua pahanya, dan secara tiba-tiba “Bless..” saya memasukkannya secara mendadak dan pribadi seluruhnya,
“Akhh.. akhh..” Mawar berteriak dengan sangat keras alasannya selaput daranya robek mendadak.
Ia meronta-ronta tetapi batang kemaluanku tetap di dalam liang kemaluannya, alasannya pahanya telah saya tahan dengan kuat. Tidak usang kemudian Mawar mulai tenang, dan saya mulai menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur secara pelan-pelan. Tak beberapa usang kemudian tampak Mawar mulai menikmatinya, saya pun semakin mempercepat gerakanku.
“Ahh, ahh, ahh..” Mawar mulai mendesah nikmat, tampak olehku dari beling besar di dinding bahwa wajahnya mulai menikmati batang kemaluanku.
Aku juga melihat adegan yang sering kulihat di film-film porno dari beling besar tersebut.
Semakin usang saya semakin mempercepat gerakkan maju-mundurku, dan Mawar pun mulai merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur berlawanan arah dengan apa yang saya lakukan, sehingga batang kemaluanku keluar-masuk dengan cepat dan sangat keras, “Bless, bless..” aku dan Mawar sangat menikmatinya.
Setelah melaksanakan doggy style selama kurang lebih sepuluh menit, saya mengganti gaya. Mawar tiduran menghadap ke samping sementara saya berlutut dan meletakkan paha kiri Mawar di atas pahaku sehingga Mawar sanggup melihat keluar-masuknya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya.
“Ahh, ahh, ahh,” Mawar terus mendesah selama saya setubuhi.
Tidak usang kemudian, “Ahh,” Mawar mengalami orgasmenya yang pertama, “Ahh,” ia terus mendesah, terasa cairan hangat mengalir dari liang kemaluannya sehingga memperlicin gerakan batang kemaluanku. Aku terus menyetubuhinya.
Mawar meminta untuk berganti gaya dengan gaya konvensional, yakni dengan ia berada di bawah. Aku menurutinya dan terus menyetubuhinya. Sekitar 4 menit kemudian,
“Ahh, ahh.. Fan.. gue udah mau keluar lagi..”
“Tahan sebentar! gue juga,” kataku.
Kupercepat gerakanku dan, “Ahh, ahh..” aku ejakulasi di dalam liang kemaluan Mawar, dan Mawar pun mengalami orgasmenya secara bersamaan.
“Ahh, ahh..” Mawar mendesah panjang, dan saya pun mengeluarkan batang kemaluanku.

Rani, saya mengganti gaya, kusuruh Rani berpegangan di kusen pintu dan melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya dan mulai menyetubuhinya kembali.
“Ahh, ahh,” Rani terus mendesah, sementara itu saya menopang punggungnya dengan kedua tanganku dan menghisap kedua paayudaranya selama menyetubuhinya.
“Ahh, ahh,” Rani terus mendesah, dan sesudah menyetubuhinya selama 15 menit, “Fan.., gue mau keluar,” dan..
“Ahh, ahh,” Rani mendesah panjang dan mengeluarkan cairan kewanitaannya dari dalam liang kemaluannya.


Selamat membaca, biar terhibur dengan Cerita Sex di atas. Jangan lupa bookmark web Video HotVideo SexVideo SeksVideo MesumVideo 17Video PornoVideo BugilVideo NgentotVideo BokepVideo DewasaVideo ABG, Film Bokep, Film Porno, Film Dewasa, Cerita Sex ‪, ‎Cerita 17 Tahun,‬ ‪‎Cerita Bokep‬, ‪‎Cerita Dewasa, ‎Cerita Hot‬, Cerita Hot‎Cerita Kenikmatan, ‎Cerita Ngentot, ‎Cerita Porno,‬ ‎Cerita Artis, ‎Cerita Tante‎Cerita Sex, ‎Cerita Ngentot, ‎Cerita Sex Dewasa, ‎Tante Girang, ‎Cerita Seks Tante, ‎Ngentot Memek, ‎Cersex‬, Cerita ‎Ngentot, ‎Cerita JandaCerita ABGCerita 17Cerita Mesum

Sumber : InternetPornografi

3