Showing posts with label Cerita Mesum Terbaru. Show all posts
Showing posts with label Cerita Mesum Terbaru. Show all posts

Baca Kumpulan Dongeng Sex Di Hamili Anak Tetangga

Baca Kumpulan Cerita Sex di Hamili Anak Tetangga - Namaku Lani, seorang ibu rumah tangga, umurku 36 tahun. Suamiku namanya Prasojo, umur 44 tahun, seorang pegawai di pemerintahan di Bantul. Aku senang dengan suami dan kedua anakku. Suamiku seorang pria yang gagah dan bertubuh besar, biasalah dulu ia seorang tentara. Penampilanku walaupun sudah terbilang berumur tapi sangat terawat, sebab adalah saya rajin ke salon dan fitnes dan yoga. Kata orang, saya mirip mirip Sandy Harun.

Tubuhku masih mampu dikatakan langsing, walaupun payudaraku termasuk besar, sebab adalah sudah punya anak dua. Anakku yang pertama bernama Rika, seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Dia sudah mau lulus SMA, yang kedua Sangga,masih sekolah SMA kelas 1. Rika walaupun tinggal serumah dengan kami juga lebih sering menghabiskan waktunya di tempat kosnya di tempat Gejayan.

Kalau si Sangga, sebab adalah pemuda remaja, lebih sering berkumpul dengan teman-temannya ataupun sibuk berkegiatan di sekolahnya. Semenjak tidak lagi sibuk mengurusi anak-anak, kehidupan seksku semakin renta justru semakin menjadi-jadi. Apalagi suamiku selain bertubuh kekar, juga orang yang sangat terbuka soal urusan seks. Akhir-akhir ini, setelah belum dewasa besar, kami berlangganan internet.

Aku dan suamiku sering browsing masalah-masalah seks, baik video, cerita, ataupun foto-foto. Segala macam gaya berhubungan tubuh kami lakukan. Kami bercinta sangat sering, minimal seminggu tiga kali. Entah mengapa, semenjak kami sering berseluncur di internet, gairah seksku semakin menggebu. Sebagai tentara, suami sering tidak ada di rumah, tapi jikalau pas di rumah, kami langsung main kuda-kudaan, hehehe. Sudah lama kami memutuskan untuk tidak punya anak lagi.

Tapi saya sangat takut untuk pasang spiral. Dulu saya pernah mencoba suntik dan pil KB. Tapi kini kami lebih sering pakai kondom, atau lebih seringnya suamiku ‘keluar’ di luar. Biasanya di mukaku, di payudara, atau bahkan di dalam mulutku.

Pokoknya kami sangat hati-hati supaya Sangga tidak punya adik lagi. Dan tenang saja, suamiku sangat ahli mengendalikan muncratannya, jadi saya tidak khawatir muncrat di dalam rahimku. Walaupun sudah dua kali melahirkan tubuhku termasuk sintal dan seksi.

Payudaraku masih cukup kencang sebab adalah terawat. Tapi yang jelas, bodiku masih semlohai, sebab adalah saya masih punya pinggang. Aku sadar, jikalau tubuhku masih tetap membuat para pria menelan air liurnya. Apalagi saya termasuk ibu-ibu yang suka pakai baju yang agak ketat. Sudah kebiasaan sih dari remaja.

Suamiku termasuk seorang pejabat yang baik. Dia ramah pada setiap orang. Di kampung ia termasuk pegawapemerintah yang disukai oleh para tetangga. Apalagi suamiku juga banyak bergaul dengan belum dewasa muda kampung. Kalau pas di rumah, suamiku sering mengajak belum dewasa muda untuk bermain dan bercakap-cakap di teras rumah.

Semenjak setahun yang lalu, di halaman depan rumah kami di bangun semacam gazebo untuk nongkrong para tetangga. Setelah membeli televisi baru, televisi lama kami, ditaruh di gazebo itu, sehingga para tetangga betah nongkrong di situ. Yang jelas, banyak bapak-bapak yang curi-curi pandang ke tubuhku jikalau pas saya bersih-bersih halaman atau ikutan nimbrung sebentar di tempat itu.

Maklumlah, jikalau istilah kerennya, saya ini termasuk MILF, hehehe. Selain bapak-bapak, ada juga pemuda dan remaja yang sering bermain di rumah. Salah satunya sebab adalah gazebo itu juga dipergunakan sebagai perpustakaan untuk warga.

Salah satu anak kampung yang paling sering main ke rumah adalah Indun, yang masih SMP kelas 2. Dia anak tetangga kami yang berjarak 3 rumah dari tempat kami.

Anaknya baik dan ringan tangan. Sama suamiku ia sangat akrab, bahkan sering membantu suamiku jikalau lagi bersih-bersih rumah, atau membelikan kami sesuatu di warung. Sejak masih anak-anak, Indun dekat dengan belum dewasa kami, mereka sering main karambol bareng di gazebo kami. Bahkan kadang kala Indun menginap di situ, sebab adalah jikalau malam, gazebo itu diberi penutup oleh suamiku, sehingga tidak terasa dingin.

Pada suatu malam, saya dan suamiku sedang bermesraan di kamar kami. Semenjak sering melihat adegan blow job di internet, saya jadi kecanduan mengulum penis suamiku. Apalagi penis suamiku adalah penis yang paling gagah sedunia bagiku. Tidak kalah dengan penis-penis yang biasa kulihat di BF. Padahal dulu waktu masih pengantin muda saya selalu menolak jikalau diajak blowjob.

Entah kenapa kini di usia yang sudah pertengahan kepala tiga ini saya justru tergila-gila mengulum batang suamiku. Bahkan saya mampu orgasme hanya dengan mengulum batang besar itu. Tiap nonton film blue pun mulutku serasa gatal.

Kalau pas tidak ada suamiku, saya selalu membawa pisang jikalau nonton film-film gituan. Biasalah, sambil nonton, sambil makan pisang, hehehe. Malam itu pun saya dengan rakus menjilati penis suamiku. Bagi mas Prasojo, mulutku adalah vagina keduanya. Dengan berseloroh, ia pernah bilang jikalau bersama-sama ia sama saja sudah poligami, sebab adalah ia punya dua lubang yang sama-sama hotnya untuk dimasuki.

Ucapan itu ada benarnya, sebab adalah mulutku sudah hampir menyerupai vagina, baik dalam mengulum maupun dalam menyedot. Karena kami menghindari kehamilan, bahkan sebagian besar sperma suamiku masuk ke dalam mulutku. Malam itu kami lupa jikalau Indun tidur di gazebo kami.

Seperti biasa, saya teriak-teriak pada waktu penis suamiku mengaduk-aduk vaginaku. Suamiku sangat kuat. Malam itu saya sudah berkali-kali orgasme, sementara suamiku masih segar bugar dan menggenjotku terus menerus. Tiba-tiba kami tersentak, ketika kami mendengar bunyi berisik di jendela.

Segera suami mencabut batangnya dan membuka jendela. Di luar nampak Indun dengan wajah kaget dan gemetaran tertangkap lembap mengintip kami. Suamiku nampak murka dan melongokkan badannya keluar jendela. Indun yang kaget dan ketakutan meloncat ke belakang. Saking kagetnya, kakinya terantuk selokan kecil di teras rumah. Indun terjerembab dan terjungkal ke belakang. Suamiku tak jadi marah, tapi ia kesal juga.

“Walah, Ndun! Kamu itu ngapain?” bentaknya.
Indun ketakutan setengah mati. Dia sangat menghormati kami. Suamiku yang tadinya kesal pun tak jadi memarahinya. Indun gelagepan. Wajahnya meringis menahan sakit, sepertinya pantatnya terantuk sesuatu di halaman.

Aku tadinya juga sangat malu diintip anak ingusan itu. Tapi saya juga mengasihi Indun, bahkan mirip anakku sendiri. Aku juga sadar, bersama-sama kami yang salah sebab adalah bercinta dengan bunyi segaduh itu. Aku segera meraih dasterku dan ikut menghampiri Indun.

“Aduh, mas. Kasian dia, gak usah dimarahin. Kamu sakit Ndun?” Aku mendekati Indun dan memegang tangannya.
Wajah Indun sangat memelas, antara takut, sakit, dan malu.
“Sudah gak papa. Kamu sakit, Ndun?” tanyaku. “Sini coba kamu berdiri, mampu gak?”
Karena gemeteran, Indun gagal mencoba berdiri, ia malah terjerembab lagi. Secara reflek, saya memegang punggungnya, sehingga kami berdua menjadi berpelukan.

Dadaku menyentuh lengannya, tentu saja ia mampu merasakan lembutnya gundukan besar dadaku, sebab adalah saya hanya memakai daster tipis yang sambungan, sementara di dalamnya saya tidak memakai apa-apa.

“Aduh sorri, Ndun” pekikku.
Tiba-tiba suamiku tertawa. Agak kesal saya melirik suamiku, kenapa ia menertawai kami.
“Aduh Mas ini. Ada anak jatuh kok malah ketawa”
“Hahaha.. lihat itu, Dik. Si Indun ternyata udah gede, hahaha…” kata suamiku sambil menunjuk selangkangan Indun. Weitss… ternyata mungkin tadi Indun mengintip kami sambil mengocok, sebab adalah di atas celananya yang agak melorot, batang kecilnya mencuat ke atas.

Penis kecil itu terlihat sangat tegang dan berwarna kemerahan. Malu juga saya melihat adegan itu, apalagi si Indun. Dia tambah gelagepan.

“Hussh Mas. Kasihan dia, udah malu tuh”, kataku yang justru menambah malu si Indun.
“Kamu suka yang lihat barusan, Ndun? Wah, hayooo… kamu nafsu ya lihat istriku?” goda suamiku.
Suamiku malah ketawa-ketawa sambil berdiri di belakangku. Tentu saja wajah Indun tambah memerah, walaupun tetap saja penis kecilnya tegak berdiri. Kesal juga saya sama suamiku. Udah gak menolonng malah mentertawakan anak ingusan itu.
“Huh, Mas mbok jangan godain dia, mbok tolongin nih, angkat dia”
“Lha ia khan sudah berdiri, ya tho Ndun? Wakakak” kata suamiku.

Aku sungguh tidak tega lihat muka anak itu. Merah padam sebab adalah malu. Aku kemudian berdiri mengangkang di depan anak itu, dan memegang dua tangannya untuk menariknya berdiri. Berat juga badannya. Kutarik kuat-kuat, kesannya ia terangkat.

Tapi gres setengah jalan, mungkin sebab adalah ia masih gemetar dan saya juga kurang kuat, tiba-tiba justru saya yang jatuh menimpanya. Ohhh… saya berusaha untuk menahan badanku supaya tidak menindih anak itu, tapi tanganku malah menekan dada Indun dan membuatnya jatuh terlentang sekali lagi. Bahkan kali ini, saya ikut jatuh terduduk di pangkuannya.

Dan…. ohhhh. Sleppp…. terasa sesuatu menggesek bibir vaginaku.
“Waa…!” saya tersentak dan sesaat galau apa yang terjadi, begitu juga dengan Indun, wajahnya nampak sangat ketakutan. “Aduuuhhh!” teriakku.

Sementara suamiku justru tertawa melihat kami jatuh lagi. Tiba-tiba saya sadar benda apa yang bergesekan dengan vaginaku, penis kecil si Indun! Penis itu menggesek wilayah sensitifku disamping sebab adalah vaginaku masih berair oleh persetubuhanku dengan suamiku, juga sebab adalah saya tidak mengenakan apa-apa di balik daster pendekku.
“Ohhhhh…. apa yang terjadi?” Pikirku.
Mungkin juga sebab adalah penis Indun yang masih imut dan lobang vaginaku yang biasa digagahi penis besar suami, risikonya sangat praktis diselipin batang kecil itu.

“Ohhh.. Masss???” desisku pada suamiku. Kali ini suamiku berhenti tertawa dan agak kaget.
“Napa, say?” tanyanya heran.
Kami bertiga sama-sama kaget, suamiku nampaknya juga menyadari apa yang terjadi. Dia mendekati kami, dan melihat bahwa kelamin kami saling bersentuhan. Beberapa dikala kami bertiga terdiam galau dengan apa yang terjadi. Aku merasakan penis Indun berdenyut-denyut.

Lobangku juga segera meresponnya, mengingat rasa tanggung setelah persetubuhanku dengan suamiku yang tertunda. Aku mencoba bangkit, tapi entah kenapa, kakiku jadi gemetar dan kembali selangkanganku menekan tubuh si Indun. Tentu saja penisnya melesak ke lobangku. Ohhh… saya merasakan sensasi yang biasa kutemui kala sedang bersetubuh.
“Ohhh…” desisku. Indun terpekik tertahan. Wajahnya memerah. Tapi saya merasakan pantatnya sedikit dinaikkan merespon selangkanganku. Slepppp… kembali penis itu menusuk dalam lobangku.
Yang mengherankan suamiku diam saja, entah sebab adalah ia kaget atau apa. Hanya saya lihat wajahnya ikut memerah dan sedikit membuka mulutnya, mungkin galau juga untuk bereaksi dengan situasi absurd ini.

Aku diam saja menahan napas sambil menguatkan tanganku yang menahan tubuhku. Tanganku berada di sisi kanan dan kiri si Indun. Sementara Indun dengan wajah merah padam menatap mukaku dengan panik. Agak mangkel juga saya lihat mukanya, panik, takut, tapi kok penisnya tetap tegang di dalam vaginaku. Dasar anak mesum, pikirku. Tapi absurd juga, saya justru merasakan sensasi yang absurd dengan adanya penis anak yang sudah kuanggap saudaraku sendiri itu dalam vaginaku.

Agak kasihan juga lihat mukanya, dan juga muncul rasa sayang. Pikirku, kasihan juga anak ini, ia sangat berangasan mengintip kami, dan juga apalagi yang dikawatirkan, sebab adalah penisnya sudah terlanjur dalam vaginaku. Aku melirik suamiku sambil tetap duduk di pangkuan si Indun. Suamiku tetap diam saja. Agak kesal juga saya lihat respon mas Prasojo. Tiba-tiba pikiran nakal menyelimuti.

Kenapa tidak kuteruskan saja persetubuhanku dengan Indun, toh penisnya sudah menancap di vaginaku. Apalagi jikalau lihat muka hornynya yang sudah di ubun-ubun, kasihan lihat Indun jikalau tidak diteruskan. Dengan nekat saya kembali menekan pantatku ke depan. Vaginaku meremas penis Indun di dalam. Merasakan remasan itu, Indun terpekik kaget. Suamiku mendengus kaget juga.

“Dik, aaa…paaaa yang kaulakukan?” kata suamiku gagap.
Aku diam saja, hanya saja saya mulai menggoyang pantatku maju mundur.
Suamiku termangu sekarang. Wajahnya mendekat melihat mukaku setengah tak percaya. Indun tidak berani lihat suamiku. Dia menatap wajahku keheranan dan penuh nafsu.
“Mas… saya teruskan saja ya, kasihan si Indun. Apalagi khan sudah terlanjur masuk, toh sama saja…” bisikku berani ke suamiku.
Aku tak mampu lagi menerka perasaan suamiku. Kecelakaan ini benar-benar di luar perkiraan kami semua. Tapi suamiku memegang pundakku, yang kupikir mengijinkan kejadian ini. Entah apa yang ada di pikiranku, saya tiba-tiba sangat ingin menyelesaikan nafsu si Indun.

Si Indun mengerang-erang sambil terbaring di rerumputan halaman rumah kami. Kembali saya memaju-mundurkan pantatku sambil meremas-remas penis kecil itu di dalam lobangku. Remasanku selalu bikin suamiku tak tahan, sebab adalah saya rajin ikut senam. Apalagi ini si Indun, anak ingusan yang tidak berpengalaman.

Tiba-tiba, sebab adalah sensasi yang absurd ini, saya merasakan orgasme di dalam vaginaku. Jarang saya orgasme secepat itu. Aku merintih dan mengerang sambil memegang erat lengan suamiku. Banjir mengalir dalam lobangku. Otomatis remasan dalam vaginaku menguat, dan penis kecil si Indun dijepit dengan luar biasa.
Indun meringis dan mengerang. Pantatnya melengkung naik, dann…. croottttttttt………..
Cairan panas itu membanjiri rahimku. Aku mirip hilang kendali, semua tiba-tiba gelap dan saya diserbu oleh tornado kenikmatan…
“Ohhhhhhhhhh…”

Aku kemudian terkulai sambil menunduk menahan tubuhku dengan kedua tanganku. Nafasku terengah-engah tidak karuan. Sejenak saya diam tak tahu harus bagaimana. Aku dan suamiku saling berpandangan.
“Dik… Indun gak pakai kondom ..?” suamiku terbata-bata.
Kami sama-sama kaget menyadari bahwa percintaan itu tanpa pengaman sama sekali, dan saya telah mendapat aneka macam sperma dalam rahimku, sperma si anak ingusan. Ohhh… tiba-tiba saya sadar akan resiko dari persetubuhan ini. Aku dalam masa subur, dan sangat mampu jadi saya bakalan mengandung anak dari Indun, bocah SMP yang masih ingusan.

Pelan-pelan saya berdiri dan mencabut penis Indun dari vaginaku. Penis itu masih setengah berdiri, dan berkilat berair oleh cairan kami berdua. Aku dan suamiku mengehela nafas. Cepat cepat saya memperbaiki dasterku. Dengan gugup, Indun juga menaikkan celananya dan duduk ketakutan di rerumputan.
“Maa.. ma’af, Bu..” kesannya keluar juga suaranya.
Aku menatap Indun dengan wajah seramah mungkin. Suamiku yang kesannya pegang peranan.
“Sudahlah, Ndun. Sana kamu pulang, mandi dan cuci-cuci!” perintahnya tegas.
“Iya, om. Ma.. maaf ya Om” kata Indun sambil menunduk. Segera ia meluncur pergi lewat halaman samping.
“Masuk!” suamiku melihat ke arahku dengan bunyi agak keras.
Gemetar juga saya mendengar suamiku yang biasanya halus dan mesra padaku. Aduuh, apa yang akan terjadi?bKami berdua masuk ke rumah, saya tercekat tidak mampu memberikan apa-apa. Tiba-tiba pikiran-pikiran buruk menderaku, jangan-jangan suamiku tak memaafkanku.

Ohhh apa yang mampu kulakukan. Di dalam kamar tangisanku pecah. Aku tak berani menatap suamiku. Selama ini saya adalah istri yang setia dan senang bersama suamiku, tapi malam ini… tiba-tiba saya merasa sangat kotor dan hina. Agak lama suamiku membiarkanku menangis. Pada kesannya ia mengelus pundakku.
“Sudahlah bu, ini khan kecelakaan.”
Hatiku sangat lega. Aku menatap suamiku, dan mencium bibirnya. Tiba-tiba saya menjadi sangat takut kehilangan dia. Kami berpelukan lama sekali.
“Tapi mas… jikalau aku…… hamil gimana?” tanyaku memberanikan diri.
“Ah.. mana mungkin, ia khan masih ingusan. Dan jikalau pun Dik Idah hamil khan gak papa, si Sangga juga sudah siap jikalau punya adik lagi”, sanggah suamiku.

Jawaban itu sedikit menenangkan hatiku. Akhirnya kami bercinta lagi. Kurasakan suamiku begitu mengebu-gebu mengerjaiku. Apa yang ada di pikirannya, saya tak tahu, padahal ia barusan saja melihat istrinya disetubuhi anak muda. Sampai-sampai saya kelelehan melayani suamiku. Pada orgasme yang ketiga saya menyerah.
“Mas, keluarin di mulutku saja ya… saya tak kuat lagi” bisikku pada orgasme ketigaku ketika kami dalam posisi doggystye.
Suamiku mengeluarkan penisnya dan menyorongkannya ke mulutku. Sambil terbaring saya menyedot-nyedot penis besar itu. Sekitar setengah jam kemudian, mulutku penuh dengan sperma suamiku. Dengan penuh kasih sayang, saya menelan semua cairan kental itu.

#############
Hari-hari selanjutnya berlalu dengan biasa. Aku dan suamiku tetap dengan kemesraan yang sama. Kami mirip melupakan kejadian malam itu. Hanya saja, Indun belum berani main ke rumah.

Agak kangen juga kami dengan anak itu. Sebenarnya rumah kami dekat dengan rumah Indun, tapi saya juga belum berani untuk melihat keadaan anak itu. Hanya saja saya masih sering ketemu ibunya, dan sering iseng-iseng nanya keadaan Indun. Katanya sih ia baik-baik saja hanya kini lagi sibuk persiapan mau naik kelas 3 SMP.

Seminggu sebelum bulan puasa, Indun datang ke rumah mengantarkan selamatan keluarganya. Wajahnya masih kelihatan malu-malu ketemu aku. Aku sendiri dengan riang menemuinya di depan rumah.
“Hai Ndun, kok kamu jarang main ke rumah?” tanyaku.
“Eh, iya bu. Gak papa kok Bu”, jawabnya sambil tersipu.
“Bilang ke mamamu, makasih ya”
“Iya bu”, jawab Indun dengan canggung. Dia bahkan tak berani menatap wajahku. Entah kenapa saya merasa kangen sekali sama anak itu. Padahal ia terang masih anak ingusan, dan bukan type-type anak SMP yang populer dan gagah kayak yang jago-jago main basket. Jelas si Indun tidak terlalu gagah, tapi ukuran sedang untuk anak SMP. Hanya badannya memang tinggi.

“Ayo masuk dulu. Aku buatin minum ya” ajakku.
Indun tampak masih agak malu dan takut untuk masuk rumah kami. Siang itu suamiku masih dinas ke Kulonprogo. Anak-anak juga tidak ada yang di rumah. Kami bercakap-cakap sebentar ihwal sekolahnya dan sebagainya. Sekali-kali saya merasa Indun melirik ke badanku. Wah, gak tahu kenapa, saya merasa senang juga diperhatiin sama anak itu badanku. Waktu itu saya mengenakan kaos agak ketat sebab adalah barusan ikut kelas yoga bersama ibu-ibu Candra Kirana. Tentunya dadaku terlihat sangat menonjol. Akhirnya tidak begitu lama, Indun pamit pulang. Dia kelihatan lega sikapku padanya tidak berubah setelah kejadian malam itu.

Hingga pada bulan selanjutnya saya tiba-tiba gelisah. Sudah hampir lewat dua minggu saya belum datang bulan. Tentu saja kejadian waktu itu membuatku bertambah panik. Gimana jikalau benar-benar jadi? Aku belum berani bilang pada Mas Prasojo. Untuk melakukan test saja saya sangat takut. Takutnya jikalau positif.

Hingga pada suatu pagi saya melakukan test kehamilan di kamar mandi. Dan, deg! Hatiku mirip mau copot. Lembaran kecil itu memberikan jikalau saya positif hamil!!! Oh Tuhan!
Aku benar-benar kaget dan tak percaya. Jelas ini bukan anak suamiku. Kami selalu bercinta dengan aman. Dan terang sesuai dengan waktu kejadian, ini adalah anak Indun, si anak SMP yang belum cukup umur. Aku benar-benar bingung. Seharian saya tidak mampu berkonsentrasi. Pikiranku berkecamuk tidak karuan. Bukan saja sebab adalah saya tidak siap untuk punya anak lagi, tapi juga bagaimana reaksi suamiku, bahwa saya hamil dari pria lain. Itulah yang paling membuatku bingung.

Hari itu saya belum berani untuk memberi tahu suamiku. Dua hari berikutnya, justru suamiku yang merasakan perbedaan sikapku.
“Dik Lani, ada apa? Kok sepertinya kurang ?” tanyanya penuh perhatian.
Waktu itu kami sedang tidur bedua. Aku tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Yang kulakukan hanya memeluk suamiku erat-erat. Suamiku membalas pelukanku.
“Ada apa sayang?” tanyanya.

Badan kekarnya memelukku mesra. Aku selalu merasa tenang dalam pelukan pria perkasa itu. Aku tidak berani menjawab. Suamiku memegang mukaku, dan menghadapkan ke mukanya. Sepertinya ia menyadari apa yang terjadi. Sambil menatap mataku, ia bertanya, “benarkah?”
Aku mengangguk pelan sambil menagis, “aku hamil, mas…”
Jelas suamiku juga kaget. Dia diam saja sambil tetap memelukku. Lalu ia menjawab singkat’
“besok kita ke dokter Merlin”. Aku mengangguk, kemudian kami saling berpelukan hingga pagi tiba.
Hari selanjut sore-sore kami berdua menemui dokter Merlin. Setelah dilakukan test, dokter elok itu memberi selamat pada kami berdua.
“Selamat, Pak dan Bu Prasojo. Anda akan mendapat anak ketiga”, kata dokter itu riang.
Kami mengucapkan terimakasih atas ucapan itu, dan sepanjang jalan pulang tidak berkata sepatah kata pun. Setelah itu, suamiku tidak menyinggung dilema itu, bahkan ia memberi tahu pada belum dewasa jikalau mereka akan punya adik baru.

Anak-anak ternyata senang juga, sebab adalah sudah lama tidak ada anak kecil di rumah. Bagi mereka, adik kecil akan menyemarakkan rumah yang kini sudah tidak lagi ada bunyi anak kecilnya.
Malamnya, setelah tahu saya hamil, suamiku justru menyetubuhiku dengan ganas. Aku tidak tahu apakah ia ingin supaya anak itu gugur atau sebab adalah ia merasa sangat berangasan padaku. Yang terang saya menyambutnya dengan tak kalah bernafsu. Bahkan kami gres tidur menjelang jam 3 dini hari setelah sepanjang malam kami bergelut di kasur kami.


Aku tidak tahu lagi bagaimana wujud mukaku malam itu, sebab adalah sepanjang malam mulutku disodok-sodok penis suamiku, dan dipenuhi oleh muncratan spermanya yang hingga tiga kali membasahi muka dan mulutku. Aku hampir tidak mampu bangun pagi harinya, sebab adalah seluruh tubuhku mirip remuk dikerjain suamiku. Untungnya esok harinya hari libur, jadi saya tidak harus buru-buru menyiapkan sekolah anak-anak.

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan luar biasa. Suamiku bertambah hot setiap malam. Aku juga selalu merasa horny. Wah, beruntung juga jikalau semua ibu-ibu ngidamnya penis suami mirip kehamilanku kali ini. Hamil kali ini betul-betul beda dengan kehamilanku sebelumnya, yang biasanya pakai ngidam gak karuan.

Hamil kali ini justru saya merasa sangat santai dan berangasan birahi tinggi. Setiap malam vaginaku terasa senut-senut, ada atau tak ada suamiku. Kalau pas ada enak, saya tinggal naik dan goyang-goyang pinggang. Kalau pas gak ada saya yang sering kebingungan, dan mencari-cari di internet film-film porno.

Sudah itu pasti saya mainin pakai pisang, yang jadi langgananku di pasar setiap pagi, hehehe. Yang jadi masalah, adalah perlukah saya memberi tahu si Indun bahwa saya hamil dari benihnya? Aku tidak berani bertanya pada suamiku. Dia mendukung kehamilanku saja sudah sangat membahagiakanku.

Aku menjadi senang dengan kehamilan ini. Di luar dugaanku, ternyata kami sekeluarga sudah siap menyambut anggota gres keluarga kami. Itulah hal yang sangat saya syukuri.
3

Para Bidadari Dari Surga Part 2


Sambungan dari  Para Bidadari Dari Surga Part 1

Empat

Inayah Sipta Renata

“Kita mau kemana Mas?” Tanyaku, ketika Mas Anton membelokan mobilnya kekanan, bukan kekiri kearah rumahku.

“Kita makan bentar ya! Sekalian ada yang ingin Mas omongin sama kamu.”

“Penting ya Mas?”

Dia menoleh kearahku. “Bangeet!” Jawabnya tersenyum.

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah rumah makan terapung. Mas Anton segera memakirkan mobilnya, kemudian ia mengajakku nemilih daerah yang agak mojok, menghadap langsung kedanau.

Tak lama pelayan menghampiri kami, Mas Anton segera memesan bebek bakar beserta dua jus mangga.

“Emang Mas mau ngomong apa si?” Tanyaku bingung.

“Mas resah mau mulai dari mana.”

“Tumben, Mas grogi ya?” Godaku, ia tertawa renyah kemudian menggenggam erat tanganku.

“Gimana gak gerogi kalu di erat Mas ada bidadari secantik kamu.” Uh… ia lagi-lagi ngegombalin aku, tapi saya menyukainya.

“Berani?” Kuremas jemarinya dengan kuat. “Aku aduhin sama Mas Hasan loh!” Ancamku, tentu saja saya bercanda, saya tidak akan mengadukan perbuatannya, mau senakal apapun dirinya.

“Emang kau tega?” Balasnya.

Aku tersenyum, kemudian ketika saya hendak kembali menawarkan argumenku, pelayan tiba mengantarkan pesanan kami berdua.

Alhasil kami menghentikan obrolan kami, dan segera melahap habis kuliner yang ada di hadapan kami, sesekali saya mencuri pandang kearah Mas Anton, ia sangat berbeda dengan Suamiku yang lebih pendiam dan sangat baik. Kalau Mas itu Anton ini tipe cowok yang suka ngenggombal dan sangat nakal.

Kurang lebih setanga jam kemudian kami telah menyelsaikan makan malam kami, tapi kami tak langsung beranjak pergi.

Kami menghabiskan malam dengan mengobrol ringan, sesekali saya tertawa dan meringis ketika ia mulai kumat dan suka menggombaliku mirip biasanya. Tapi, ya… mirip yang kukatakan sebelumnya saya suka ketika ia menggombaliku, rasanya gimana gitu…

“Eh tadi katanya mau ngomong, emang kau mau ngomong apa?” Tanyaku teringat dengan perkatannya sebelumnya.

“Aku resah mau mulai dsri mana.”

“Udah santai aja, emang kau mau ngomongin soal apaan ni?”

“Kitakan udah lama kenal, dan lagi kita juga sudah punya pasangan masing-masing….” Dia diam sejenak, sambil menatap mataku.

Entah kenapa perasaanku jadi tak tenang. “Terus…!” Kataku tak sabar.

“Menurut kau salah gak, kalau saya jatuh cinta sama kamu. Ya… saya tau ini gila, tapi saya serius.” Dia semakin erat menggenggam tanganku.

“Maaf Mas, saya gak ngerti.” Kataku getir.

“Maafin Mas, kalau ucapan Mas ini membuat kau merasa tidak nyaman, Mas hanya ingin jujur dengan perasaan Mas ketika ini, semoga kau mau mengerti dan tidak membenci Mas.”

“Aku resah harus jawab apa Mas, kurasa Mas juga tau saya sudah bersuami, dan Mas juga sudah punya Istri, rasanya kita tidak mungkin bersatu.”

“Mas tidak meminta kau untuk menceraikan Suami kau Ina. Mas hanya ingin kau tau, kalau Mas sangat menyayangimu, dan berharap Mas bisa menjadi kekasihmu, walaupun itu hanya sebatas sebagai kekasih gelapmu. Mas tidak memita lebih.”

“Aku belum bisa jawab Mas.”

“Mas mengerti.” Ujarnya tersenyum. “Oh iya, Mas kemarin jalan-jalan gak sengaja melihat sesuatu yang menarik, Mas pikir kau pasti menyukainya, jadi Mas belikan ini untukmu.” Sambungnya, kemudian ia mengambil sesuatu di dalam sakunya.

Dia berjalan di belakangku, kemudian kulihat ia melingkarkan sesuatu di leherku.

Ini… kalung berlian, saya tau ini harganya pasti sangat mahal sekali. Oh… Mas Anton, kau begitu mengerti apa yang kuinginkan, berbeda dengan Suamiku, jangankan membelikanku perhiasan, menafkahiku saja ia sudah tidak mampu.

“Bagus banget Mas!”

“Kamu suka?” Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Sangat suka Mas!”

“Itu untukmu… Orang yang sangat Mas sayangi!” Katanya, kemudian ia mengecup pipiku.

###

Emi Sulia Salvina

Sekitar jam 12 malam, saya terbangun alasannya adalah ingin buang air kecil. Kulihat putra semata wayangku Toni masih terlelap, tampaknya ia sedang bermimpi indah.

Sebenarnya Toni anak yang baik, jangankan menyakiti manusia, menyakiti binatangpun ia tak mampu, tapi entah kenapa tadi pagi ia sangat emosional terhadap sepupunya Irwan. Bahkan ia sempat menuduh Kakaknya sendiri yang memukulinya.

Eehhmm… Aku pasti akan mencari tau penyebabnya kenapa ia bisa mirip ini.

Oh… iya namaku Emi Sulia Salvina usiaku ketika ini 35 tahun, sementara Suamiku Andre bekerja di Jakarta, biasanya ia pulang satu bulan sekali, bahkan tak jarang lebih lama dari itu.

Karena saya tipe wanita penakut, sehingga saya selalu meminta putraku untuk menemaniku tidur berdua di dalam kamarku, ketika Suamiku sedang tidak berada di rumah. Walaupun saya tau ketika ini Toni sedang beranjak remaja, tapi saya merasa lebih aman tidur bersamanya.

Aku turun dari daerah tidurku, kemudian mengambil kerudung rumahan berbahan kaos.

Perlahan saya melangkah keluar kamar semoga tidak membangunkan putraku. Selesai buang air kecil, kulihat tv di ruang keluarga masih menyala, terakhir yang menonton adalah putraku, kupikir ia pasti lupa mematikan tvnya. Tapi ketika langkah kakiku memasuki ruang keluarga, saya mlihat ada seseorang yang sedang menonton tv.

“Irwan… kau belum tidur?” Aku menghampiri Irwan yang sedang tiduran di sofa.

Melihat kedatanganku, Irwan buru-buru bangun. “Belum ngantuk Bunda.” Jawab Irwan, sembari menggeser posisi duduknya ketika saya hendak duduk.

Aku mendesah pelan. “Ini sudah jam dua malam, nanti besok kau bisa kesiangan!” Kataku mengingatkan dirinya. Jujur saja saya masih merasa bersalah terhadapnya atas sikap anakku tadi pagi, saya takut ia masih tersinggung dengan perkataan anakku.

“Sebenarnya saya berencana mau pulang Bun, mau bantu Ibu Bapak di kampung?”

“Loh… kok pulang, kau mau pindah sekolah?”

“Gak kok Bund, saya mau bantu Bapak aja di sawah, mereka mana ada uang Bun! Lagian sekolah di kampung jaraknya agak jauh Bunda.” Tuturnya, membuat hatiku miris mendengarnya.

“Kamu uda bosan sekolah?”

Dia tersenyum getir. “Iya gaklah Bunda, sekolah itu penting buat masa depan!” Jelasnya.

“Kenapa kau mau berhenti? Kamu masih murka sama anak Bunda?” Tanyaku, ia hanya diam berarti dugaanku benar. “Bunda juga tidak mengerti kenapa Toni bisa menuduh kau mirip itu, tapi yang pasti Bunda percaya sama kamu.” Jelasku, bagaimanapun caranya saya harus bisa membujuknya untuk tetap tinggal.

Dia menggeleng pelan. “Aku tidak murka sama Toni Bunda, saya mengerti kenapa Toni mirip itu, kalaupun saya berada di posisi yang sama mirip Toni, akupun juga pasti melaksanakan hal yang sama.” Jelasnya.

“Maksud kamu?”

“Toni cemburu sama Irwan.” Katanya, kemudian ia merebahkan kepalanya di pangkuanku, tapi saya hanya diam membiarkannya tiduran di pangkuanku. “Selama ini Toni selalu di manja, selalu mendapatkan perhatian lebih dari Bunda, tapi tiba-tiba mendadak saya hadir di keluarga ini, membuat ia resah kalau nanti saya mengambil Bunda darinya.” Aku mengangguk paham maksud perkatannya.

Wajar saja kalau ada kekhawatiran yang dirasakan anakku, alasannya adalah selama ini ia tidak punya saingan untuk mendapatkan perhatian dariku, tapi tiba-tiba Irwan hadir, dan sedikit banyak mungkin anakku mulai merasa terancam dengan kehadiran Irwan, tapi yang kusesalkan adalah caranya. Dia tidak perlu menuduh Irwan semoga di usir dari rumah ini, ia hanya bersikap sedikit lebi baik.

“Maafkan Toni ya Wan!”

“Toni sudah kuanggap mirip adikku sendiri.” Jawab Irwan, sembari tersenyum kepadaku.

“Berarti sudah tidak ada duduk kasus lagikan? Kamu bisa melanjutlan sekolah di sini, Bunda pasti merasa kesepian kalau kau pulang.” Kubelai rambutnya dengan perlahan, menerangkan kalau saya sangat menyayanginya.

“Maafkan Irwan Bunda, tapi…. Irwan juga kangen Ibu.”

“Kan ada Bunda di sini, walaupun Bunda bukan Ibu kandung kamu, tapi Bunda juga sangat menyayangi kamu, sama mirip Ibumu” Jelasku, kemudian kukecup lembut keningnya.

“Aku tau Bunda, selama ini rasa kangenku terobati setiap berada di erat Bunda, tapi ada satu kebiasan Irwan lakukan sama Ibu, dan itu tidak mungkin bisa saya dapatkan dari Bunda.” Aku merenyitkan dahiku.

“Apa itu sayang?”

“Irwan malu Bunda.”

“Kok malu, Bunda akan melaksanakan apapun asal kau mau tetap tinggal di rumah ini.” Kataku sembari tersenyum kepadanya.

“Janji Bunda tidak akan marah?”

“Janji!” Jawabku cepat.

“Jujur Bunda, walaupun saya sudah besar, tapi Ibu selalu memanjakanku, bahkan tak jarang memperlakukanku mirip balita, misalkan…” Dia menggantung ucapannya. “Setiap kali saya mau tidur, saya punya kebiasaan nenen sama Ibu!” Dia mengakhirnya dengan memalingkan wajahnya kekanan.

Astaga….! Anak sebesar ini masi suka nenen?

Entah kenapa saya jadi teringat dongeng sahabatku, kalau putra bungsungnya masi suka menciumi tekiaknya atau mengendus-endus tubuhnya, kalau ia melarang putranya melaksanakan itu, anaknya pasti ngambek gak mau makan dan sekolah.

Tapi usia anaknya ketika ini masih 9 tahun dan bisa maklumi, tapi Marwan?

“Jangan dongeng kesiapa-siapa ya Tan? Marwan malu kalau sampe ada orang lain yang tau, ini semoga menjadi rahasia kita berdua.” Aku mengangguk.

Entah kenapa ada perasaan kasihan melihat Irwan yang tampak menderita, di sisi lain saya bisa mengerti dan memaklumi kebiasaannya tersebut, tapi di sisi lain diriku menolak untuk mengganti posisi Ibu kandungnya yang terbiasa membiarkan Irwan menghisap payudarahnya walaupun anak ini sudah remaja.

Tapi Irwan sudah kuanggap mirip anak kandungku sendiri, apa salahnya kalau saya melaksanakan apa yang biasa di lakukan Ibunya, toh Irwan bukan anak yang nakal.

Tapi… tapi… Aaarrr… sial kenapa saya jadi deg-degkan mirip ini, ayo Emi cepat ambil keputusan, kau ingin Irwan pulang kekampung halamannya atau kau menginginkan Irwan tetap tinggal dirumahmu?.

Bagaimanapun juga ia bukan anak kandungku, dan bisa saja nanti ia terangsang? Aah… tidak mungkin, Irwan terlalu polos untuk terangsang, lagi pula kalau Irwan hingga pulang kekampung halamannya, apa yang harus kukatakan kepada Suamiku, bisa-bisa ia murka alasannya adalah saya di anggap tidak becus mengurus Irwan.

“Irwan!” Panggilku lirih.

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja saya membuka kancing gaun tidurku, kemudian dengan perlahan kuselampirkan serpihan atas gaunku kesamping pundakku sehingga saya yang tidak mengenakan bra ketika tidur mempertontonlan payudarahku di hadapannya.

Oh Tuhan… ini untuk kali pertama saya mempertontonkan payudarahku di hadapan anak laki-laki.

“Tante serius?”

“Iya Irwan, Tante serius kok…” Jawabku sembari tersenyum membelai rambutnya.

“Irwan boleh?” Dia menggantung kalimatnya.

Aku mengangguk, kemudian Irwan beranjak bangun duduk di sampingku. Dia menatapku tajam seakan tidak percaya dengan apa yang kulakukan.

Karena melihat Irwan bengong, saya jadi kesal sendiri. “Mau di lihat hingga kapan Wan?” Tanyaku sedikit menegurnya yang dari tadi menatap payudarahku dengan tatapan nanar.

“Ma… maaf Bunda!” Jawabnya.

Lalu ia mendekatkan wajahnya, dan sedikit kemudian payidarah ranumku berada di dalam mulutnya. Ooo… Tuhan! Rasanya sangat nikmat sekali ketika payudarahku berada di dalam mulutnya.

###

Inayah Sipta Renata

Perlahan kendaraan beroda empat yang di kendarai Mas Anton berhenti tepat di depan rumahku, kulihat di luar sana Suamiku sudah menungguku. Saat melihat kedatangan kendaraan beroda empat kami, Suamiku langsung berdiri tapi ia tidak menghampiriku, kulihat mimik wajahnya tampak sumringah ketika melihat kepulanganku bersama Mas Anton.

Entah kenapa, saya menjadi merasa bersalah tehadap Suamiku alasannya telah membuatnya khawatir.

Saat saya ingin keluar mobil, tiba-tiba mirip ada sesuatu yang menghentikanku, seolah melarangku untuk segera keluar dari mobil. Aku mendesah pelan, kemudian kuputar tubuhku menghadap Mas Anton.

Maafkan saya Suamiku, tapi saya harus menjawab pernyataan cinta Mas Anton kini juga, di sini, di hadapanmu walaupun kau tidak akan melihat ataupun mendengar suaraku, tapi saya ingin kau tau kalau Istrimu kini bukan hanya milikmu seorang.

Segera saya memeluk Mas Anton kemudian mencium bibir Mas Anton.

Gila kau Ina…

Aku memanggut bibir Mas Anton sebentar kemudian saya kembali bersandar di jok mobilnya, seraya tersenyum malu-malu di samping Mas Anton.

Mas yang mengerti keadaanku sekarang, berani merangkulku, memandangi wajahku dengan jarak yang sangat dekat. “Jadi jawabannya?” Tanya Mas Anton sambil membuka satu persatu kancing pakaian dinasku hingga terlihat payudarahku yang tertutup bra.

Aku tak langsung menjawab, melainkan membuang muka kearah Suamiku yang di ikuti Mas Anton, selama beberapa detik kami menghadap kearah Suamiku. Lalu kami kembali berpandangan.

“Aku mau Mas!” Bisikku lirih.

Kemudian ia memanggut bibirku dan saya membalas pagutannya, sementara telapak tangannya menyelusup masuk kedalam behaku, meremas payudaraku secara langsung, membuatku merintih nikmat merasakan remasannya di payudarahku.

Aku semakin ganas membalas kumatannya, pengecap kami saling membelit nikmat, sementara tangannya semakin bergairah meremas payudarahku.

Rem?asannya terasa begitu nikmar, apa lagi ketika kulitnya yang bergairah menyentuh puttingku.

Maafkan saya Mas… Maafkan saya Suamiku, tapi caranya, perlakuannya membuatku merasa menjadi wanita yang sesungguhnya, bukan wanita baik-baik yang patuh terhadap Suaminya, maafkan Istrimu ini Mas.

Kami berciuman cukup lama hingga alhasil Mas Anton melepas pagutan kami ketika Suamiku mendekat.

Buru-buru saya membenarkan kancing seragam dinasku sebelum Suamiku tiba di samping kendaraan beroda empat Mas Anton. Segera saya membuka pintu kendaraan beroda empat Anton yang di sambut tatapan curiga dari Suamiku.

“Mas… Mbak… saya pulang dulu ya!” Pekik Mas Anton.

Kemudian kendaraan beroda empat yang ia kendarai menghilang di balik kegelapan malam.

###

LIMA

Inayah Sipta Renata

Hanya dengan mengenakan handuk saya keluar dari dalam kamar mandi, kulihat Suamiku sedang duduk bersandar diatas daerah tidur kami sambil memainkan hp. Dia sempat melihat kearahku yang sedang berjalan menuju meja riasku.

Aku mematut diriku di depan cermin, memandangi tubuhku dari pantulan yang ada di cermin.

Wajar saja kalau Mas Anton jatuh hati kepadaku, saya memang sangat cantik, kulit putih bersih, payudarah besar membulat. Sungguh saya begitu beruntung memiliki tubuh yang sempurna.

Dari pantulan cermin saya juga sanggup melihat Suamiku yang sedang asyik memandangiku, tapi ada satu hal yang membuatku tersenyum geli, ketika saya melihat dirinya yang sedang meremas penisnya sendiri. Duh… kalau di ingat-ingat sudah satu bulan ini saya tidak memberinya jatah.

“Pengen ya Mas?” Godaku.

Dia tersenyum kecut. “Bolehkan sayang.” Mohonnya dengan tatapan memelas.

“Mas sudah lupa sama perjanjian kita?” Tanyaku, kemudian saya beranjak dari kursi dan berjalan mendekati dirinya yang tampak kecewa.

Aku naik keatas pembaringan, kutatap wajah Suamiku yang sedang di landa birahi. Jujur saja, satu bulan tidak berhubungan badan, membuatku turut menderita, tapi saya harus menghukumnya semoga ia lebih giat lagi mencari pekerjaan.

Perlahan jemari lembutku menyentuh wajahnya, dengan sedikit menunduk saya mengecup mesrah keningnya. Kasihan kau Mas….

“Sampai kapan?” Tanyanya frustasi.

Aku tertegun sejenak. “Sampai Mas sanggup pekerjaan yang layak.” Jawabku datar.

“Kamukan tau, saya sudah berusaha, tapi memang belum rejekinya. Masak kau tega ngeliat Mas mirip ini setiap malam, punya Istri tapi tidak bisa di sentuh.” Rengutnya, rasanya saya ingin tertawa melihat ekspresinya yang terkadang kekanak-kanakan kalau ia tidak mendapatkan apa yang ia mau.

Baca Juga - Kumpulan Cerita Sex Ngentot Dengan Mama Tiriku

“Mas cintakan sama aku?” Ia mengangguk. “Mas sayangkan sama aku?” Ia kembali menunduk yakin. “Aku juga sangat mencintaimu Mas.” Lanjutku, kembali mengecup kening.

“Kalau begitu, izinkan saya menyentuhmu malam ini saja sayang!” Lagi ia merengek kepadaku mirip balita yang menginginkan susu.

“Ini demi kebaikan Mas, anggap saja ini sebagai motivasi buat Mas semoga giat bekerja!”

“Kamu jahat sayang.” Rajuknya.

Seperti biasanya kalau ia lagi ngambek, Suamiku akan memiringkan tubuhnya membelakangiku, tapi itu hanya sesaat tapi besok pasti baik lagi.

-Mas Anton
Ping
Baru sebentar udah kangeen ni…

Ya Tuhaan, Mas Anton bbm saya dan ia bilang kangen kepadaku.

-Aku
Baru juga tadi ketemunya.

-Anton
Brrti km gak kangen ya?

-Aku
Kasi tau gak ya….

-Anton
Ooo… jadi gitu ya… nanti cantiknya hilang loh.

Aku terkekeh pelan ketika membaca bbm terakhir darinya. Ada-ada saja Mas Anton ini…

-Aku
Biarin… Mas juga ya rugi

-Anto
Hahahaha…
Jadi kau kangen gak?

-Aku
Jujur… gak sabar nunggu hari besok

-Anton

Sama… Adek lagi apa?

-Aku
Lagi duduk aja ni, Mas Hasan lagi ngambek

-Anton
Ngambek, Hahaha….
Emang ngambek kenapa?

-Aku
Besok aja saya ceritaan Mas
Mas Anton lagi apa?

-Anton
Lagi mikirin kau bidadari syurgaku.

-Aku
Gombaaaal…

-Anton
Hahaha….
Gombal Maskan cuman buat kamu
Malam ini kau lagi pake apa?

-Aku
Ihk… Mas mesum  (Duh semenjak kapan saya jadi manja mirip ini.

-Anton
Gak boleh ya, habis kau ngegemesin sayang.

-Aku
Boleh kok Mas, malahan saya suka Mas gombalin.
Coba tebak saya pake apa? Kalau sayang pasti tau dong apa yang saya pake sekarang.

-Anton
Apa ya…
Kayaknya kau masi handukkan de?

Jleeek… tebakannya sangat tepat sekali, membuatku semakin mengaguminya.

-Aku
Kok bisa tau Mas (Kagetku)

-Anton
Hahaha….
Namanya juga cinta sayang
Btw, fotoin dong…

Deg… Aku terdiam sejenak, jujur saya memang sering memperlihatkan serpihan dadaku kepadanya, tapi lebih dari itu belum perna.

-Anton
Sayang….

Kulihat Suamiku masih memunggungiku, dengan perlahan saya turun dari pembaringan, kemudian berdiri di depan kaca besar yang menyatu dengan lemari pakaianku. Ayo Ina, ini demi orang yang kau sayangi….

Kuarahkan kamera kekaca lemariku yang memantulku lekuk tubuhku, lalu… Cekleek…

Fuuh… Kulihat hasilnya lumayan bagus, manis sangat seksi.

-Anton
Kamu murka sayang, kalau begitu tidak perlu. (Aku bukan murka Mas, tapi saya malu…)

Inayah Sipta Renata

Segera kukirimkan foto nakalku kepada dirinya, dan mengharapkan respon yang manis darinya, sebuah pujian darinya yang selama ini selalu membuatku melayang kelangit ke tujuh.

-Aku
Bukan murka Mas, tapi malu…

-Anton
Kenapa malu, kau seksi bidadari syurgaku.

Aku tersenyum membaca, Mas Anton memang paling cerdik memuji diriku.

Aku hendak kembali mengetikan sesuatu tanggapan untuknya, tapi tiba-tiba Suamiku sudah berada di belakangku. Buru-buru saya menyembunyikan hpku kebelakang punggungku. Bisa gawat kalau Mas Hasan hingga tau.

“Kamu bbman sama siapa sayang?” Tanyanya curiga kepadaku.

“Bukan siapa-siapa Mas, kini Mas tidur ya, ini sudah malam Mas.” Ujarku memerintahnya untuk segera tidur semoga saya bisa bebas berbbman dengan kekasih gelapku.

-Anton
Ping… (terdengar bunyi dari hpku)

“Coba Mas lihat.”

Aku menggeleng tegas. “Ini rahasi Mas, ngertiin saya ya Mas.”

“Kenapa si kok saya gak boleh lihat, ada yang kau rahasiain dari saya ya?” Katanya mulai emosi, saya meletakan hpku diatas meja kecil yang ada di samping lemari, kemudian saya menarik tangan Suamiku, mengajaknya duduk diatas daerah tidur.

Dia melengoskan wajahku, saya tau ia ngambek… Dan sumpah demi apapun, saya suka setiap kali ia merajuk alasannya adalah tidak mendapatkan apa yang ia mau dariku.

“Aku mau melihatnya.”

“Mas lagi emosi, saya gak mau ngomong sama Mas dulu, kini Mas tidur ya…” Perintahku kepadanya, ia bersungut kesal.

Lalu tanpa memperdulikan dia, saya mengambil hpku, dan membawanya keluar bersamaku dari dalam kamarku.

###

Elvina

Aku gres saja selesai memasak, dan ketika ini saya sedang menata kuliner diatas meja. Setelah semuanya siap, saya segera beranjak menuju kamar Mertuaku, hendak mengajak Mertuaku makan malam bersama.

Aku melangkah gontai menuju kamar Mertuaku, sesampainya di depan kamar Mertuaku, tiba-tiba saya tidak sengaja melihat Mertuaku yang sedang tiduran dalam keadaan telanjang bulat.

“Astaga…”

Mataku terbelalak, dadaku bergemuruh melihat tangan Mertuaku yang sedang turun naik memainkan penisnya, dan yang membuatku lebih kaget lagi, dan nyaris membuatku jantungan, dia… Mertuaku sedang menggenggam seutas kain berbentuk huruf V yang ia dekatkan kehidungnya.

Ternyata dugaanku selama ini benar, ia yang suka mencuri celana dalamku.

Mas… Tolong aku, apa yang harus kulakukan sekarang? Melabraknya… tidak… tidak… saya tak akan melakukannya, mungkin saya harus menunggu Suamiku pulang terlebih dahulu. Dan membicarakan duduk kasus ini dengannya.

“Eehmmpp… aroma memekmu yummy banget nduk, Oooohk…” Aku sangat tertegun melihat dirinya yang sedang menikmati celana dalamku.

Sambil meracau tak jelas, kulihat tangannya mengocok penisnya. Aku tau ia pasti sedang membayangkan tubuhku, menggagahiku mirip ia meniduri banyak pelacur. Tapi… Ahkk… Kenapa dengan diriku.

Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku semoga tak mengeluarkan suara.

Jujur saja, ukuran penis Bapak sangat besar, panjang dan gemuk, berbeda dengan milik Suamiku yang ternyata sangat kecil kalau mau di bandingkan dengan miliknya.

Aku jadi teringat dongeng sahabatku Aurel, ia memberikan semakin besar penis pasangan kita, maka rasanya akan jauh lebih nikmat, dan kita bisa mendapatkan orgasme berkali-kali dalam satu malam, dan lagi penis ukuran besar lebih tahan lama ketimbang yang berukuran kecil.

Apakah itu benar? Jujur saja saya tidak tau bagaimana rasanya orgasme, alasannya adalah setauku ketika Suamiku menyetubuhiku rasanya hanya geli dan sedikit nikmat.

Tapi kalau sekiranya benda sebesar itu masuk kedalam diriku, apakah bisa muat? Oh Tuhan… Apa yang telah kupikirkan, ini salah saya tak boleh membandingkan ukuran penis Suamiku dengan milik orang lain, apa lagi ini milik Mertuaku sendiri.

Aahkk… Kapan kau pulang Mas, Adek sudah gak tahan kau tinggal terus.

Kemudian mataku memicing ketika melihat tubuh Mertuaku bergetar, kemudian sedetik kemudian. “Aaaaarrr….” Creeeetss… Creetss…

Dari ujung kepala jamurnya, saya melihat lendir kental mirip susu keluar cukup tinggi dan sangat banyak sekali. Seumur-umur selama saya menikah gres kali ini saya melihat penis menembakan sperma hingga keatas dan sebanyak itu.

Milik Suamiku hanya meleleh keluar dan tak sebanyak milik Bapaknya.

Kulihat Mertuaku membersihkan spermanya dengan celana dalamku. Ooo… Tuhan, apakah diriku sebegitu cantiknya sehingga Bapak Mertuaku bisa menjadikanku sebagai objek onaninya.

Deg… Aku gres menyadari kesalahanku, ketika melihat Bapak Mertuaku berbalik dan mendapatkanku yang sedang mengentipnya bermasturbasi. Aku ingin lari tapi sudah terlambat, alasannya adalah Mertuaku sedang berjalan menghampiriku.

“Sudah lama nduk?” Tanyanya.

Aku mengangguk lemah. “Ma… Ma… Maaf… Eehmm… Anu…. itu… sudaah… sudah… siap!” Kataku gugup, sungguh saya tidak bisa mengendalikan diriku ketika ini.

Dia tersenyum hangat kepadaku. “Tidak perlu gugup mirip itu, tarik nafas, kemudian hembuskan.”

Aku diam sejenak kemudian menuruti perintahnya, tapi mataku tak bisa lipas memandangi benda besar yang ada di selangkangan. Sungguh luar biasa Bapak Mertuaku ini, padahal ia gres saja ejakulasi tapi penisnya tetap berdiri tegak.

“Makan malamnya sudah siap.” Kataku dengan satu tarikan nafas.

“Kebetulan Bapak sudah sangat lapar, oh iya… ini tolong kau letakan di keranjang kotor.” Deg… Nafasku tercekak ketika mendapatkan celana dalamku yang sudah ia nodai dengan spermanya.

Tanpa banyak bicara, saya segera pergi meninggalkan Mertuaku, sembari menahan malu dan sesak di dadaku.

####

Emi Sulia Salvina

“Ouughkk…”

Kepalaku mendongak keatas, ketika pengecap Irwan menari-nari di sekitar aurolaku. Sungguh sentuhan yang membuat seluruh sayrafku merespon, menghantarkan rasa nikmat di sekujur tubuhku, bahkan sedikit demi sedikit cairan cintaku meleleh membasahi celana dalamku.

Dengan lembut ia membuka mulutnya, memasukan payudarahku kedalam mulutnya sembari menatap mataku yang sayu.

Sulia Salvina

Tidaaaak… Aahkkk… ini namanya bukan nenen tapi ia mengulum dan menjilati payudarahku. Sial… Aku tidak tahan lagi, dia… Aahkk… puttingku di gigit kecil olehnya.

“Eehhmm… Wan! Eehkk….”

Aku mendesah lirih ketika ia menghisap puttingku dengan dangat kuat.

Tangan kananku melingkar di serpihan belakang kepalanya, sembari menjambak lembut kepalanya dan menekan wajahnya semoga mengulum payudarahku. Membuatku kini di landa berahi, apa lagi saya sudah lama di tinggal Suami.

“Waaa… Eehnmpp….”

Sluuupss…. Sluuppss…. Slupppss….

Dia menghisap puttingku, memainkan ujung lidahnya menyentil puttingku yang sentif, membuat puttingku mengeras nikmat.

Tubuhku melinting, cairan cintaku membanjir semakin banyak. Sungguh saya tidak menyangkah kuluman Irwan bisa membangkitkan birahiku, padahal ia masih remaja. Apa lagi ia berasal dari kampung terpencil, rasanya tidak mungkin kalau ia melakukannya dengan sengaja.

“Kenapa Bunda? sakit puttingnya saya hisap”

“Eh… gak apa-apa kok Wan cuman rasanya geli banget, Bunda gak tahan.

“Oooo,…”

“Tahan ya Bun!” Ujarnya, kemudian ia kembali mengulum puttingku. “Nenen Bunda enak, Irwan gak akan bosan kalau begini.” Celotehnya santai gak tau saya di sini sangat menderita.

Dekapan tanganku dikepalanya semakin kuat, membuat kulumannya terasa semakin nyata. Sementara tangan kanannya tanpa kusadari sudah berada diatas pahaku.

Dia menghisap putting payudarahku sembari memijit pahaku.

Lima menit kemudian Irwan berhenti mengulum payudarahku. Dia mengangkat kepalanya hingga mata kami berdua.

“Sudah selesai Wan?” Entah kenapa saya merasa sangat kehilangan.

Irwan menggeleng. “Boleh yang satunya lagi Bun? Biar adil….” Katanya, sembari menyingkap pakaianku yang menyembunyikan salah satu aset berharga milikku.

Belum sempat saya memberi jawaban, ia berpindah kesamping kiriku. Kemudian ia melaksanakan hal yang sama, memanjakan payudara kiriku dengan hisapan dan sapuan lidahnya di aurola dan puttingku.

Tubuhku semakin tak terkontrol, bahkan saya mengerang lebih keras. “Oohk… Wan, Aahkk… Aahkk… udah belum Wan?” Tanyaku mulai panik, alasannya adalah nafsuku yang semakin tidak bisa kukontrol.

Seakan mengabaikan ucapanku, ia semakin intens menghisap payudarahku, sementara tangan kirinya kini dengan lancang meraih payudarahku.

Dia meremas susuku, di barengi dengan sesekali memilin puttingku.

Aku berusaha menghentikan pergelangan tangannya, alasannya adalah saya tau ini sudah menjerumus kepelecehan seksual. Tapi sayang, saya mirip tak memiliki kekuatan untuk menyingkirkan tangan setannya yang sedang memilin puttingku.

Kedua kakiku semakin tidak tenang, kadang mengangkang kadang sangat merepat. “Aahkk… Waaaannn…. Aaaaaa….” Aku mulai histeris, rasanya sedikit lagi saya orgasme.

Kurasakan cairan cintaku sudah semakin tak terbentung, dan ketika orgasme itu hampir saja mendatangiku tiba-tiba dengan polosnya, tanpa merasa berdosa ia menghentikan kuluman dan remasannya di payudarahku secara bersamaan.

“Uda dulu Bun, makasi ya Bun…” Aku mengangah, kemudian ia pergi begitu saja.

Oh… Tuhan…..

###

Ema Salima Salsabila

ENAM
Trauma? Mungkinkah? Sepertinya tidak… saya sama sekali tidak merasakan stress berat sesudah apa yang menimpah diriku tadi pagi, malahan rasa itu… Aahkk… Kenapa Tuhan memberiku ujian yang begitu sangat berat, bahkan diiriku sendiri tak bisa melewatinya.

Tidak, saya salah! Bukankah Tuhan tidak akan memperlihatkan ujian yang melewati batas kapasitas umatnya? Apakah itu artinya saya bisa melewati ini semua? Entahlah…. semoga waktu yang menjawabnya.

“Kamu kenapa sayang?”

Aku menoleh kearah Suamiku. “Eh…” Hanya itu yang keluar dari bibir merahku.

Aku gres tersadar dari lamunanku sesudah orang yang paling kucintai di dunia ini menyentuh jemariku dengan tulus.

Aku harus besar lengan berkuasa menghadapi semua ini, bukan untuk diriku, melainkan untuk mereka yang saya cintai, Suamiku dan anak semata wayangku. Aku harus bisa tetap tersenyum bahagia di hadapan mereka seakan semuanya baik-baik saja.

“Umi lagi ngelamunin apa?” Tanya Putriku Asyifa.

Aku menggeleng pelan. “Gak ada sayang, kok makannya gak di habisin? Masakan Umi malam ini gak yummy ya?” Tanyaku sembari merenyitkan dahiku kepada mereka.

“Yang ada tu Umi, kenapa makannannya dari tadi cuman di sentuh doang tapi gak di makan?” Tembak Suamiku.

Kulihat isi di dalam piringku tak berkurang sedikitpun.

“Paling Umi kepikiran uang bulanan Bi?” Celetuk Putriku, nyaris membuatku tertawa. Bagaimana mungkin anak seusia dirinya mengerti uang bulanan. Sepertinya memang benar apa kata orang tempo dulu, anak zaman kini cepat gede.

“Hust… tau apa kau soal uang bulanan?” Sergah Suamiku, membuat Putriku tersenyum kecut.

“Udah ah… lanjut makan yuk.” Leraiku.

Tak terasa makan malam ini alhasil bisa kulalui mirip biasanya, walaupun jauh di lubuk hatiku ada sesuatu yang mengganjal perasaanku. Kejadian tadi pagi benar-benar banyak menyita pikiranku. Aku tidak menyangkah bisa mengalami hal mirip ini, di balik kesempurnaan yang kumiliki bersama keluarga kecilku.

Selesai makan, saya kembali kedapur sambil membawa piring kotor untuk di cuci.

Walaupun di rumah ini kami memiliki seorang pembantu rumah tangga, tapi untuk melayani keluargaku, saya jauh lebih suka melakukannya sendiri ketimbang meminta pinjaman Inem.

Dari wastafel tempatku mencuci ketika ini saya sanggup melihat Suami dan anakku yang sedang berebut menonton tv. Suamiku lebih suka menonton aktivitas informasi ketimbang sinetron, sementara anakku sebaliknya, ia menyui sinetron.

“Sibuk ya Bu?” Deg… “Jangan gugup, bersikaplah mirip biasanya semoga mereka tidak curiga.” Oh Tuhan, jangan lagi saya mohon.

Kurasakan sentuhan di pantatku dengan perlahan, jemari itu dengan nakalnya membelai pantatku, kemudian mencubit kecil pantatku, membuat panpatku bergetar nikmat. Kugigit bibirku menahan birahi yang tiba-tiba melanda diriku.

Stopp… Please… Don’t tuch Me… Aahkk… please, help me…

Kurasakan jemari tengahnya menekan selangkanganku, membuatku terpaksa menutup mulutku semoga tidak mengeluarkan bunyi erangan yang bisa di dengar mereka.

Baca Juga - Kumpulan Cerita Sex Nikmat Nya Ngentot Dengan Gadis Chinese

“Cukup, saya mohon!” Aku menoleh kebelakang kearah Ujang yang sedang menyeringai mesum kepadaku. Aahk… ia keterlaluan.

Tangan kirinya menyusup kepinggangku sementara tangan kanannya meremas pantat bulatku yang menggoda. “Sstt… di nikmatin aja ya Bu, jangan di lawan.” Gila… ia menyuruhku menikmati pelecehan ini.

“Jangan gila, di sini ada anak dan Suamiku.” Aku mendelik kesal.

Dia terkekeh mentertawakanku. “Lebih gila, lebih nikmat Bu.” Komentarnya enteng kepadaku. Apa ia menganggap saya sedang bercanda? Apa ia tidak mengerti kalau ketika ini saya sungguh sangat ketakutan.

Kurasakan perlahan gaun tidurku diangkat keatas, di sangkutkan di pinggangku.

“Ternyata Umi Ema cuman di luarnya saja alim, dan di dalamnya sungguh sangat nakal!” Komentarnya membuatku tersinggung.

Oh Tuhan, saya gres sadar kalau malam ini saya sengaja mengenakan g-string yang gres saja kubeli beberapa hari yang kemudian untuk menarik hati Suamiku malam ini. Bukannya sebaik-baik wanita adalah seorang wanita yang mau tampil seksi di hadapan Suaminya. Karena itulah alasannya malam ini saya berpenampilan sedikit nakal.

Tapi siapa yang menyangkah, tampilan nakalku malah kupersembahkan untuk laki-laki lain. Ohk… Maafkan saya Mas.

Aku tertunduk malu, tatkalah pembantuku dengan sengaja menarik g-striku keatas hingga talinya tenggelam diantara lipatan bibir vaginaku dan anusku. Parahnya lagi ia menggesek-gesekkan g-stringku, membuatku benar-benar tidak tahan.

Apa lagi ketika tali g-string itu menggesek clitoriskua, Ahkk… rasanya saya ingin segera di setubuhi olehnya.

“Memek Ibu sangat basah, sudah gak tahan ya.” Ledekan itu sangat menggangguku.

“Jangan di lanjutkan!” Aku memohon.

“Yakin?” Tanyanya.

Aku terdiam, entah kenapa mulutku terasa keluh. Ayolah Ema… hanya satu kalimat yang terdiri dari lima huruf, apa itu begitu sulit bagimu?

Satuku kakiku mundur kebelakang, dan di ikuti oleh kakiku yang lain, hingga saya tampak sedang menungging memamerkan keindahan pantat dan vaginaku di hadapan pembantuku.

Kamu sudah gila Ema, benar-benar sangat tidak waras… Lihat Suami ada di depanmu ketika ini.

“Indah sekali Bu.” Dia memujiku sambil mencubit pantat montokku.

Perlahan kurasakan ia membuka lipatan pantatku, menyibak tali g-stringku kesamping, sehingga anus dan lobang vaginaku menjadi tontonan yang sangat menarik baginya.

“Oughjkk…” Aku mendesah lirih.

Kurasakan ujung lidahnya menyapu vaginaku, kemudian naik keanusku, dan dari anusku turun kembali menuju vaginaku. Di sana lidahnya menggelitik lobang vaginaku, menghisap clitorisku, membuat tubuhku menggelinjang nikmat.

Sluuppss… Sluuuppss… Sluuppp… Slupps…. Sluppss…. Sluuppss….

Lidahnya kembali naik menuju anus, menjilati anusku, diringi dengan tusukan lembut di anusku.

“Aaaahkk… Jangaaaan…!” Erangku.

Cengkramanku di wastafel semakin erat, tatkala kurasakan kedua jarinya menyelusup masuk kedalam rongga vaginaku. “Aaaayyy…” Aku memekik dalam diam.

Ploppss… Plooppsd… Sluppss… Sluppss… Plooppss… Sluupps…. Sluups….

Kocokan yang di kombinasikan dengan jilatan di anusku, mengantarkanku terbang semakin tinggi, saya sudah tidak sanggup lagi menahan shawat syetan yang bersemayam di diriku, yang sedari tadi terus menggodaku.

Hoosstt…. Hoossstt…. Hoosstt…
Nafasku mulai memburu, kurasakan nikmat di seluruh tubuhkum

Sedikit lagi… Ya… hanya butuh waktu sedikit lagi sebelum saya benar-benar meledak. Orgasme yang selalu kunantikan sebentar lagi akan kudapatkan. “Aahkk….” Aku mengangkat wajahku.

Dan di ketika bersamaan, kulihat Suamiku beranjak dari sofa dan ia berjalan kearahku.

Kearahku? Oh tidak…

Please… jangan kesini Mas saya mohon, Aahkk… Aahkk… Jangaaaan Mas… kembalilah, Oohkk… Aku mohooon….

Dan ia semakin mendekatiku, semakin erat dan terus semakin dekat, hanya tinggal beberapa langkah lagi ia tiba di hadapanku, melihatku, Istrinya di cumbu oleh pembantunya… Aahkk…. Aku keluaaaar….

Crrrreerrss…. Creeeettss…. Crreettss… Crreeettss… Seeeeeeerrrrrr…. Seeeeeeeerrrrrr…..

###

Elvina

Aku berlari kecil menuju kamarku, kemudian kuhempaskan tubuhku diatas daerah tidurku.

“Mas kapan kau pulang? Adek udah gak tahan lagi Mas….!” Bisikku lirih, menatap kosong langit-langit kamarku.

Terlintas kembali bayangan Mertuaku yang sedang onani dengan celana dalamku. Kulihat kembali celana dalam merahku yang tampak sangat lengket di kulit tanganku. Sperma Mertuaku terlihat begitu jelas, sanking banyaknya.

Aku sadar betul kalau Mertuaku bukanlah Bapak yang baik untuk kami anaknya, tapi kalau hingga terobsesi terhadap menantunya sendiri, itu sungguh di luar dugaanku.

Aku sungguh tidak menyangkah kalau diriku bisa menjadi obyek onaninya.

Kucoba melaksanakan hal yang sama mirip yang di lakukan Mertuaku. Kudekatkan celana dalam itu kehidungku, kemudian kuhiruf dalam-dalam aroma sperma Mertuaku yang menyengat, menusuk hidungku. “Aaahkk…” Apakah saya terangsang? Ehhmm… Mas saya kangen kamu.

Tangan kananku reflek membelai payudarahku sendiri, meremasnya dengan lembut sambil membayangkan kehadiran Suamiku.

Tidak… Aku bohong! Bukan Suamiku tapi Bapaknya, ya… bayangan Mertuaku yang sedang mengocok penisnya yang besar di depan mataku dengan eksprenya penuh gairah. Oohh… Enaak sekali Pak…

Kubuka satu persatu kancing piyamaku hingga kedua payudaraku menyembul keluar. Sambil menghirup celana dalamku bekas tumpahan sperma Mertuaku, saya megeplotasi payudarahku dengan remasan dan pilinan.

“Ouughkk Pak….!” Tubuhku mengejang.

Kujatuhkan celana dalam itu diatas wajahku, sementara tangan kananku kini ikut meremas payudarahku, memilin puttingku yang terasa semakin gatal.

Kontol itu… Aaahkk… Oohhkk… ia besaaar dan saya menginginkannya.

“Paak… Aahkk… Pak…!” Aku merengek nikmat.

Tangan kananku kini turun menuju selangkanganku, menyelusup masuk kedalam celana tidurku, kemudian kubelai bibir vaginaku dari luar celana dalamku yang ternyata sudah sangat basah, menerangkan kalau saya begitu terangsang.

Tubuhku menggeliat seiring dengan gosokan jemariku di clitorisku.

“Oouhhkk… Pakkk… Kotol Bapak besaaar… saya mau kontol Bapak… Aahkk… Aahkk…” Bayangan Mertuaku terasa semakin tajam, menghantuiku hingga saya hanya bisa mengerang.

Tak tahan, saya langsung melepas celanaku dan kemudian kembali kubelai bibir vaginaku, jemariku dengan mudahnya mencari cela lobang vaginaku yang licin. Dengan perlahan, kedua jariku menusuk masuk kedalam vaginaku.

Tubuhku tersentak tatkala kedua jariku bekerjasama mengocok vaginaku, sementara tangan kiriku kembali memegangi celana dalamku, menghirup dan menikmati aroma sperma Mertuaku yang sangat nikmat.

Kucoba memberanikan diri menjilati sperma Mertuaku yang ada di celana dalamku, dan ternyata rasanya asin dan gurih, saya menyukainya…

Semakin lama tubuhku semakin menggelinjang tak tertahankan, dan sedetik kemudian.

“Paaaak… Aku dapaaaaat!” Aku memekik diiringi dengan squirt yang kuraih.

“Hossstt… Hosstt… Hosstt…” Nafasku memburu.

Perlahan kubuka kedua bola mataku yang indah, kemudian kudapatkan sesosok laki-laki yang berdiri di ambang pintu kamarku sembari tersenyum.

Ooo ternyata ia Mertuaku….

Deg… Oh Tuhaan….

Aku pasti salah lihatkan? Tapi… Ah… Dia memang ada, dan sangat nyata…

“Udah selesai Nduk?” Dia menggodaku. “Tidurnya.” Sambungnya lagi.

Aku terdiam membisu, sungguh saya sangat malu sekaligus takut… Aku takut ia masuk dan memperkosaku mirip dongeng remaja yang perna kubaca di salah satu forum dewasa. Tapi apa ia benar-benar ingin memperkosaku.

“Loh kok malah bengong? Bapak lapar ni nduk, dari tadi Bapak nungguin kamu, ternyata kau malah mau tidur, sampe ngigaunya keras banget.” Jelasnya, membuat wajahku memerah menahan rasa malu.

“Iya maaf Pak! Aku ketiduran…” Oh ya… Tidur yang sangat yummy sepertinya.

Dia menyeringai tersenyum. “Ya udah yuk, temenin Bapak makan dulu, kau juga pasti belum makankan?” Ajaknya lagi, mirip sedang membujuk anak gadisnya.

Aku segera turun dari atas daerah tidurku dan buru-buru mengenakan kembali celanaku. Aku menghampirnya dengan wajah tertunduk, alasannya adalah rasa malu itu sangat menyiksa diriku, apa lagi melihat respon Mertuaku yang seakan tidak terjadi apapun barusan.

Aku berjalan mendahuluinya sementara ia melangkah di belakangku.

Sesampainya di meja makan, kulihat piringku sudah terisi nasi berikut dengan lauk pauknya. Memang harus kuakui Mertuaku ini sangat baik dan perhatian, tapi sayang… kelakuannya yang suka menyewa wanita penghibur dan berjudi terkadang membuatku kesal.

“Itu celana dalamnya gak mau kau letakin dulu Nduk?” Tegur Mertuaku. “Nanti susah megang sendoknya loh…” Lanjutnya membuatku nyaris mengalami gagal jantung.

Astagaa… bagaimana mungkin sedari tadi saya selalu menggenggam, membawa celana dalam bekas sperma Mertuaku ini.

###

Anayah Sipta Renata

Kugelengkan kepalaku dengan perlahan melihat kelakuan sahabatku Rini. Gadis itu melambaikan tangannya kepada seorang laki-laki yang sedang melaju pelan dengan mobilnya.

Kulihat jam di hpku sudah mengambarkan pukul dua dini hari. Jam segini teman prianya gres pulang.

Sebenarnya saya bukan tipe wanita yang suka ikut campur, tapi untuk urusan maksiat saya tidak bisa tinggal diam, walaupun saya tidak bisa mencegahnya dengan kedua tanganku, tapi setidaknya saya bisa menegurnya dan memberinya na yang bijak untuknya.

“Assalamualaikum Rin!”

“Loh belom tidur Bu Ustadza?” Dia memang paling suka memanggilku dengan kalimat Bu Ustadza, mungkin alasannya adalah saya terlalu sering menceramahi dirinya sehingga ia menjulukiku sebagai Ustadza.

Aku mendesah lirih. “Kebiasaan… Jawab salam dulu Rini yang cantik, gres nanya…” Jelasku, sembari tersenyum kecut.

“Hehehe… Walaikumsalam!” Huh… Aku menggeleng pelan.

“Aku gres bangun, mau ibadah malam! Siapa ia Rin? Ngapain ia kesini? Kok ia pulangnya malam banget Rin?” Cercaku dengan berbagai pertanyaan.

“Iihkk Ana nanyanya satu-satu dong.”

“Oke… Itu siapa?” Kataku mulai mengintrogasinya.

“Dia itu tamu sekaligus mucikariku yang baru. Namanya Anton, orangnya tajir habis.” Jawabnya enteng, sambil berlalu masuk kedalam kamarnya, saya mengikuti dirinya.

Lagi-lagi saya di suguhi pemandangan yang menjijikan, kulihat beberapa jenis dildo tergeletak di dalam kamarnya, dan bau yang menyengat tercium di hidungku.

Aku duduk dilantai kamarnya, sembari memperhatikan kamarnya yang berantakan.

“Kalian tadi habis ngapain?”

Dia nyengir kuda. “Masak kau tidak tau si Na!” Jawabnya, dengan mengulum senyumnya. Duh… anak ini benar-benar keterlaluan.

Tentu saja saya tau, alasannya adalah kamarku berdampingan dengan kamarnya.

“Mau hingga kapan kau kayak gini Rin?”

“Aku tidak tau Ana, tapi… kau taukan, saya tidak punya uang.” Lagi-lagi alasannya finansial, kenapa uang selalu menjadi alasan untuk berbuat dosa.

“Dengerin aku, Tuhan tidak akan membiarkan hambanya berada dalam kesulitan, asalkan hambanya mau berusaha, pasti akan ia beri jalan fasilitas untuk hambanya. Kamu bisa mencari uang dengan cara yang lebih halal.” Sebisa mungkin saya mencoba menainya.

“Kita berbeda Ana!”

“Apa bedanya Rin, kita sama-sama anak yatim piatu? Hanya saja saya mencari uang dengan cara yang halal, tapi kau malah memilih untuk melacurkan diri.” Kataku dengan nada tinggi, sungguh saya sangat kesal dengannya.

Seandainya saja kau tau Rin, sudah dari dulu saya ingin pergi dari rumah ini, mencari kontrakan gres yang lebih Agamis.

Tapi amanah Ibumu sebelum meninggal, membuatku terpaksa harus selalu berada di sampingmu, menjagamu semoga kembali kejalan yang benar, tapi kau selalu mengecewakanku.

“Sudalah Na, saya tidak mau berdebat… Tapi saya berharap kau masih mau menganggapku sebagai saudaramu.” Mohonnya.

“Tentu… selamanya akan tetap begitu.”

“Terimakasi Na… Maaf saya selalu membuatmu kecewa, tapi percayalah ketika ini saya belum bisa berhenti….” Dia memelukku dengan sangat erat, saya tau ini sangat berat baginya.

“Aku akan menunggumu!”

“Kamu teman yang baik, ah tidak… kau saudara yang baik, saya begitu beruntung memiliki teman mirip dirimu.” Dia tersenyum, dan senyuman itu selalu membuat hatiku luluh.

Suatu hari nanti, saya berharap kau mau berubah menjadi gadis yang polos mirip dulu.

####

Tamat ..........


Nantikan kisah selanjutnya yang akan membuat kau penasaran hingga tidak bisa tidur...

3

Kumpulan Dongeng Sex Ngentot Di Apartermen Dengan Tante Dewi Yang Montok

Kumpulan Cerita Sex  2018 - Namaku Rendi Aku mampu dibilang sukses sebagai perantau di Jakarta, umurku 28 tahun, saya punya pekerjaan dan income yang stabil, cicilan mobilku sudah lunas dan saya tinggal di apartemen di kawasan Kalibata (yeee ketebak kali ya) sendirian, lumayan kesepian.
Dulu-dulu mungkin cewe-cewe pacarku sering tinggal di apartemenku Namun kali ini saya lagi gak punya pacar Aku punya tetangga sebelah kamar, ia seorang perempuan remaja mungkin usianya 35 tahunan Namanya Dewi, namun saya sering panggil ia Tante saja
Yang saya takjub dari wanita-wanita usia segini selain si Tante juga yaitu mereka dalam masa dewasa-dewasanya Mature dalam hal, berpakaian simple namun masih memancarkan aura keseksian tanpa berprilaku norak untuk memancing perhatian kayak ABG Atau ini kelainanku yang lebih suka perempuan dewasa
Aku dan Tante bekerjsama sudah cukup erat Setiap pagi saya sering satu lift bareng Tante Dewi menuju lobby Yang kutau, Tante ini punya toko DVD di ambasador hasil patungan ia dengan keponakannya Aku pun sering bertemu dengan Tante setiap kali berenang rutin hari Sabtu pagi Namun begitu-begitu saja
Tidak ada yang istimewa dari pertemuan-pertemuan kami itu Saat saya lagi fresh-freshnya putus dengan pacar, tiba-tiba pertemuanku dengan Tante Dewi lebih sering, terlalu sering menyerupai bukan kebetulan menyerupai tiba-tiba ketemu di minimarket dibawah kemudian saya naik ke atas bareng, atau tiba-tiba parkirannya sebelahan
Ge-erku merasa Tante ini ngikutin saya Dari kedekatan kami ini, saya ambil kesempatan saja dengan meminta pin bbm Tante Tante dengan senang hati memberikannya “Kupikir kau gak bakalan minta Ren, hampir saya yang minta duluan” ujar Tante menggodaku
Semenjak itu kami mulai bbm-an dari yang hanya pura2 saling bertanya apakah berenang atau tidak hari sabtu, atau saya tanya DvD film apa saja yang sudah ori Lama kelamaan chat kami semakin intim Tante Dewi menanyakan kemana pacarku
“Aku kok gak pernah liat pacar kau ya? biasanya kalian berenang bareng?” “Sudah putus dari kapan tau Tante…” “Oooo… ceritain dong ke Tante” “Tante nih kepo aja, hahahaha” tante membalasku dengan emoticon *not interested* dan icon *:P*
“Hehehehe, iya Tan, makin ke sini makin gak sreg sama dia, kerjanya marah maraaaah mulu, cemburu ini itu, dianya kelewat manja, minta jemput sana sini, dikira saya gak kerja kali ya, sekali-kali okelah, lha ini hampir tiap hari minta dijemput Egoislah, masih ABG sih maklum” “Lah emang ia umurnya berapa Ren?”
“berapa ya, gres semester 2 tuh Tan” “oooo dasar om-om nyarinya ABG-ABG”
Monyet nih si Tante ngatain gw, “Daripada Tante,…” saya hentikan ketikanku, saya gak tau latar belakang si Tante Dewi ini apakah sudah punya pacar, kalo nggak kenapa sendiri dll “Eh btw Tante tinggal sendirian aja?” “Iya, kenapa? Rendi mau temenin” wah? berangasan juga nih, dipancing dikit kesamber
“Lah kan udah ditemenin terus Tan, tapi cuma kepisah tembok aja” dari chat2an kami, saya jadi tau Tante ini gak mau pacaran alasannya dulu pernah dikecewakan Yah standar lah cewe kecewa sama cowo Akhirnya sekarang Tante lebih memilih hidup liberal, mendapat siapa aja yang datang kehatinya tanpa ikatan
Hari demi hari, chatting kami semakin intim, kami jadi sering berenang bareng Dan dikala berenang ini kesempatanku untuk memanjakan mataku dengan memandangi tubuh tante di balut pakaian renang Pakaian renang yang Tante pakai gak seberapa seksi, malah saya pikir sangat sopan alasannya model baju senam yang menutupi hingga paha
Hingga suatu dikala “Ren, kisah dong kau udah ngapain aja sama pacar kamu” “Ah gak ngapa2in kok tante, kami saling menjaga” “Heuuuu boong amat, dikira gak kedengeran tiap malam kalian berdua kayak gimana?” Wah saya gak memperhatikan kalo ternyata permainan ku dengan mantanku hingga terdengar ke kamar Tante Dewi
“Hah?” belom selesai ku ketik Tante membalas “Kamu putus kan udah lama Ren, bukannya udah hampir 2 bulan Emang tahan gak begituan?” “Begituan gimana nih Tan, saya gak ngerti” “Rendi nih ya, saya delete pin bbmnya nih sekali lagi ngeles”
“ehhh, iya iya Ya gimana Tante kepengen sih, cuma mau sama siapa? mau pake pelacur takut kena penyakit Minta jatah2 mantan gak mungkin banget gengsi lah hahahaha ” Aku tekan enter dan menambahkan ketikanku “Tante mau bantu brangkali?” Chat bbm berubah dari centang menjadi *d* menjadi *r* artinya bbmku sudah kebaca sama Tante
Tapi lama kumenunggu, Tante gak bales2 Duh, bego banget, tersinggung deh si Tante 15 menit berasa 5 jam nungguin balesan Tante Apa ku samperin aja ya ke kamar Tante Dewi minta maaf “TINUNG” bunyi tanda bbm masuk menyalak dari BBku
AH! Tante membalas “Saling bantu lah Ren, saya gini-gini juga butuh, kita sama-sama manusia” begitu bunyi bbm si Tante diikuti dengan emoticon kiss “Beneran Tante?” saya setengah tidak percaya, tidak menyangka sebentar lagi akan bercinta dengan sang Tante
“Enak nih mumpung masih terang, kau ke kamarku ya Ren 15 menit lagi, saya mau rapi2 dulu ” “Oke tan, btw saya request boleh?” “Apa say?” “Tante gak usah make up ya” “Sure beb” “Haiiiii… ” begitulah Tante menyambutku sambil membuka pintu setelah ku mengetuk 2x Tante hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu
Sore itu sang tante terlihat fresh alasannya gres saja selesai mandi, tidak ada make up yang menempel di wajahnya sesuai permintaanku Sang tante menggunakan lingerie warna hijau transparan Dari pandangan mata elang ini, terlihat tante gak make daleman Makanya pas buka pintu ia ngumpet di belakang pintu terus Tanganku ditarik masuk kemudian cipika-cipiki, saya sosor saja alasannya gak tahan dengan amis nafas tante, tampaknya gres saja sikat gigi
“Eiittttsss… sabar doooong” “Maaf tan, habis tante Dewi nafsuin banget”
Aku meletakkan BB dan kunci kamarku di meja dapur kamar tante “Maaf Tan, saya gak sopan, dateng cuma begini aja” Aku menunjuk ke pakaianku Karena kupikir hanya sebelah kamar jadi saya gak ganti baju, lagian ke kamar Tante mau ngentot, ngapain rapi2 Pakaian kebangsaan yang kupakai tiap ML, kaos oblong dan celana gombrong tanpa CD
“Gakpapa, ntar Tante bongkar juga kan?” Tante sepikiran sama saya ternyata Sang tante mengajakku ngobrol dulu di sofanya sambil nonton CNBC Ha? CNBC? iya, dikala itu beritanya lagi perihal Bom Boston yang baru-baru aja terjadi
Sang tante nanya-nanya soal ini itu, teori konspirasi, kepercayaan agama, sampe CIA/FBI Sepertinya ini macam icebreaking sekalian mungkin ngetes intelektual sang tamu (ane sendiri) ini sejauh mana hahahaha aneh…
Ngobrol lumayan lama kami pun mulai bergumul, kali ini nggak ada *entah siapa yang memulai* alasannya waktu itu saya duluan yang nyosor Tante Kami ciuman hebat, tante Dewi selalu french kiss hot sekali, tapi bekerjsama saya gak suka, saya tenangkan tante untuk berciuman romantis
“Tangan kau sopan ya” tante mengkomentari tanganku yang masih melingkar di belakang punggung tante, mendekap erat jangan sampe tumpah eh lepas “kenapa tan? udah mau di grepe2 emangnya?” “Euh kamu… bahasanya plis deh, di-sti-mu-la-si!” sambil tersenyum
Aku rebahkan tubuh tante membelakangiku sambil saya tetap menciumi pundak, tengkuk dan kuping tante, tanpa basahan tentunya Aku gres saja tau kalau perempuan tetap saja mau diperlakukan halus, mau bagaimanapun latar belakang dia
“SSaaaaayyyyy… ” tanganku mulai mengelus2 perutnya Perutnya tante Dewi ini gak buncit tapi gak kenceng Pas lah
Sesekali saya menyenggol toket tante yang ukurannya besar sekali Benar2 besar!!! mungkin ini 38C, meskipun putingnya tidak pink lagi namun tidak lebar Sungguh seksi sekali Puting tante sudah mengeras, saya main-mainkan menyerupai tombol switch on/off gitar lembek Tante mulai mengerang dan badannya mulai belingsatan Kedua tanganku menjamah kedua semangka lembek raksasa
Sambil menikmati kecupan demi kecupan di pundak punggung dan tengkuk, tante mulai terlihat tidak tahan, tangan kirikupun mulai turun ke bawah, Aku pernah lihat video di youtube, cara terbaik merangsang vagina perempuan bukanlah langung dicolok tapi dibuat geli area sekitarnya dahulu (entahlah suhu suhu lebih tau nih hehehe)
Woooooow… begitu tanganku hingga di memeknya, ternyata liang surganya lagi banjir, oh Jokowi harus turun tangan nih, mencari tau banjirnya dari mana ahahahahaha… setelah merangsang2 sebentar, kumasukkan satu jariku kedalam memek si Tante Terasa sentakan* di tubuh tante Dewi dikala jari telunjukku masuk ke dalam
“HHhhhhhhhhhh………kkkkkammmmmuuuuuu iiiiihhhhh… ” “Beeeeeebbb…… ” lah ia manggil saya beb?? saya merasa di atas angin setiap kali mampu membuat seorang perempuan gak berdaya kita rangsangi tersange-sange (bukankah kita semua begitu ya?) “BBBbbbeeeeebbbbb…… jari kau pinter amaaaat… ”
“Hhhhhhhhhhh… kamuuuuuu, saya lupaa nama kamua” Yalah!!! sempet2nya nanya nama AKu lanjutkan lagi sodokan dengan jari telunjuk ini Terasa tubuh tante mulai meronta-ronta Perlu diketahui, sang tante ini ukurannya gak kurus loh, tinggi tante ini hampir sedagu ku, dan beratnya mungkin 69-75kg jikalau ditelaah dari beban yang diterima badanku ini
Tubuh tante makin menggelinjang hebat, ia berteriak “ML-in aku… ML-in akuuuuuu… ” saya makin semangat meremas buah dadanya dan mengobel memeknye Terasa tante Dewi mau beranjak merubah posisi, saya dengan sigap memindahkan tanganku dari toket kanan tante ke toket kiri tante (ingat saya posisinya di belakangi tante dan kami pangkuan di sofa) Dengan posisi begitu, otomatis tanganku menahan tubuh tante dan tante makin mengerang mencoba keluar dari kuncianku

Tiba-tiba tangan tante mencakar tanganku yang sedang meremas toket ini
SSSSssssoooooooooooooorrrrrr…… si tante squirt, cairan hangat merembes dari lingerie tante, turun perlahan membasahai paha tante dan juga tanganku, untungnya sofa tante dari bahan kulit sintetis jadinya gak merembes lantai kayu apartemen tante pribadi becek Nafas tante yang tadinya memburu mulai mereda hening namun mukanya merah padam
Lalu berselang beberapa menit, tante merebut tangan kananku dan tante menarik badanku Aku terjatuh diatas becekan squirtan tante, punggung kaos dalamku becek tante menyusul menjatuhkan badannya ke atas badanku Sepintas kami bergulat untuk mendapat posisi diatas satu sama lainnya
Namun saya menyerupai naluriah membiarkan tante Dewi menguasai badanku Kami bergumul dan berguling2 menjauhi becekan dan melanjutkan agresi kami di karpet bulu di lantai tidak jauh dari sofa, menghindari cairan squirt-an tante,* tante masih menyerangku dengan meniban badanku, menciumiku dengan brutal
“Taaaannn… mmmm… mmmmmmpppelan-pelan ajaaa…mmmm” french kiss super sange Aku gres sekali ini bercinta, bahkan belum sampe ML sudah begini sangenya Sepertinya tante tidak mau mendengarkan permintaanku
Kami berciuman hebat, kontolku sudah mengeras sekali dan menggesek2an ke celana lingerie tante Tante makin menggila, ia rebut kontolku dengan tangan kanannya dan dikocok2 sambil masih menciumi bibirku Aku pun tak kalah sigap, kucoblos memek Tante dengan jari telunjuk “AAAkkkkkkhhhhh… Bangsaaat!!!” PLAKKKK!!!!! OMG kenapa nih gw digampar tante “Lakuin lagi! Lakuin lagiii!!!” wah ada potensi BDSM sepertinya
Lalu sambil masih menindih badanku menyerupai tidak mau melepaskan badanku, Tante memutarbalikkan badannya, dan slubb!!! tiba2 mulutnya sudah ada di kontolku… dan sebagai balasannya, saya dihidangkan lembah gelap yang indah, saya jilat2in saja sampe Tante Dewi mulai mengerang2 kurang lebih dari sejak perciuman kau di sofa hingga posisi 69 ini sudah hampir lebih dari setengah jam
Tante mungkin mulai heran (dan takjub I don’t know) kenapa saya belum crot juga
“Kammmuuuu… beloom mau keluarrr???” “Belom taaant…” belom sempat saya merampungkan kalimatku, tante squirt untuk yang kedua kalinya, menyemprot tepat di mukaku Aku gak tau squirt ini cairan apa, katanya yang pasti bukan cairan kencing Lagipula saya lagi sange di ubun2 gini gak nolak lah
“HHhhhhhhhhhh… gilllllaaa… permainan kau hhhh hhhh hebat yah hhh hhhhhh saya mau kontol kau sayyyyyy mmmm mmmmm” ujar sang tante sambil lanjut menyepong kontolku “Aku udah boleh masukin ya tan, tapi gak enak nih masa di lantai?” tante beranjak dari tubuhku sambil tetap menyepong kontolku Aku dengan susah payah bangun dan tantepun berlutut melanjutkan emutannya
“Taaaannn… katanya mau dimasukin?” saya yang tak tahan di sepong mulai blingsatan menyerupai mau crot Tante mungkin melihat saya menyerupai mau crot, karenanya melepaskan sepongannya dan secepat kilat menyambar bibirku, kami berdua bercumbu kembali Cumbuan ini hebat sekali, menyerupai si tante Dewi ini benar2 lagi mengeluarkan pusing2 di kepalanya
Kami berciuman sambil berdiri, tante berujar “Ke kamar mmmm aja mmmm sayymmmm” sambil menarik badanku yang erat menempel dengannya DIbukakan pintu kamar ia dengan posisi kami berjalan sambil berciuman
Terbukalah kamar tidur tante Tempat tidur size 200 yang besar dan dengan bedcover yang masih tertata rapi Aku angkat tubuh tante dengan memegang kedua paha tante, kedua kaki tante pun refleks melingkarin tubuhku, kontolku yang tegang masih tertutup celana mulai memaksa masuk ke memek tante yang juga masih tertutup lingerie
Kemudian saya lemparkan sang tante ke kasur Buuuuukkkkkk…… setelah itu saya membuka celana dan kaosku segera Tante juga bermaksud untuk membuka lingerienya namun saya hadang “Jangan tan, nanti saya bantuin…” Ku serang tante, mencumbunya dengan ganas, kami bergumul hebat dalam waktu singkat kawasan tidur tante yang rapi sudah gak karuan
Aku yang sudah blingsatan mencoba membuka lingerie tante Dewi Tapi akunya tidak sabaran hingga lingerie tante robek
“Maaf tante… nanti kuganti” “Udah gakpapa ayo ngentot aja” And here is the moment of truth Kepala si Otong sudah nangkring ke verbal goa si tante
Perlahan-lahan kumasukkan Blessssss… “AaaaAAAAaaAAkkkkhhhh… ennnnaaak beeeeb…… uuuuughhhh perrrasaaannnn tadi kontol kammmmmmu kecil deh, kok kalo udah masuk berasa tebel enaaaaak” WATDE??? sialan nih tante, sebagai hukuman, kuhentakkan keras2 hujamanku sekali, cukup sekali itu Tante pribadi banjir dan mulai menggoyang2kan pantatnya sebagai reaksi genjotanku
kulanjutkan genjotanku bervariasi, posisi kami masih misionaris rpm rendah berganti2 cepat-pelan-cepat-pelan, agar gak terlalu capek Terasa tante mesinnya udah mulai panas, kami bercinta dengan posisi ini lama sekali, saya sangat menikmati setiap jengkal tubuh kenyal tante
Mungkin tante sudah mulai bosan, tante pun mengambil kendali semoga kami berubah posisi Kami berguling kesamping, kontolku terlepas sebentar namun tante dengan sigap pribadi memasukkan kembali kelubang memeknya “Oooooouuuhhhhhh… mmmm… reeeeennn…… ” tante Dewi menggenjot si Joni perlahan2 hingga karenanya dengan ritme konstan Sesekali tante menciumi bibirku dengan begitu basahnya
Tante juga sesekali menggigiti putingku, selama posisi ini tanganku tidak pernah lepas dari kedua belah dadanya, bergantian saya menjilati puting ranum tante Seperti kubilang, puting tante sudah tidak pink lagi, namun saya tak peduli saya sangat menikmati menarik hati tante dengan jilatan-jilatan ini Terasa genjotan tante semakin menjadi, moaning tante semakin keras
“Aaaaaakhhhhh… teruuuuus terusssssss… beeeebbbbbbbaaaaaakkkhhhhhh”
Kemudian ia menarik kedua tanganku dari toketnya dan dengan satu tangan meletakkannya jauh di atas kepalaku sedangkan tangannya yang lain dengan erat menjambak rambutku, saya menyerupai tawanan yang disekap semoga tidak kabur Lalu masih dalam posisi woman on top kedua kaki tante Dewi mencoba melingkari badanku sampai2 saya harus mengangkat pantatku semoga kaki tante ini mampu masuk ke bawah
Aku serasa dililit ular anakonda Seperti sedang bergulat akupun berusaha keluar dari kuncian tante, kakinya memiting tubuhku sambil tetap menggenjot kontolku Saat erangan tante semakin keras dan genjotannya semakin kencang, akhirnyaa… SRRRRrrrtttt saya merasakan dinding vagina tante berdenyut2 hebar memijat batang kontolkua Tante sedang orgasme
“Oooouuuuhhhhhhh……hhhhhhhhhhhhhh… hhhhhhhhhh h… hhhhhmmmmmhhhhh hhhhh hhh” Nafas tante yang tadinya gak karuan, perlahan menyerupai terbuang lega semua
“Nikmat sekali bercinta dengan kau Ren” “Enak sih enak, saya belum keluar nih Tan!” ujarku protes “Iyaaa deh… cowo itu makin lama makin bagus? Istirahat sebentar ya, Tante Dewi janji pasti bikin kau crot kok, kalo nggak juga berarti kau ini hebat sekali, dan tante gak akan ngasi kau pulang sebelum kau crot ” Aku emang ada “kelainan” Aku ini lama sekali crotnya, saya mampu 3 jam bercinta dan tidak crot juga
Apalagi kalau menggunakan kondom Aku setengah bangga, kebanyakan wanita-wanita yang kuentotin malahan protes alasannya saya terlalu lama Dan dikala si Joni otong lagi cape, bukannya cepet crot, yang ada malah ngambek total Ah geblek
GGggrrrrkkkkkkkkggrkkgrrrkkk…
“Eh bunyi apa tuh?” tanya Tante “Perut kau ya? hahahaha, udah gembul, lagi tengah2 ML kok ya bisa2nya laper?” “Yah si tante, kepalaku, perutku sama tititku itu yang ngatur departemennya beda2, jadi mampu aja laper ” “Yaudah kita break dulu deh ya Ren, saya pesenin bakmi, abis makan kita lanjut gulat lagi, Tante Dewi mau ber-ronde-ronde sama kau ”
Wek! Kulihat jamku udah jam 7 malam Bisa balik jam berapa nih?
Akhirnya setelah makan dan istirahat sebentar dengan ngobrol2, kami melanjutkan pertarungan kami Malam itu hingga pagi, kami bercinta 4 ronde, saya ngecrot 2 kali jadi total dengan yang sore/siang 5 ronde dengan skor 2-5 Itu diluar squirt-an Tante “Tante, makasih ya hari ini saya puas sekali”
“Aku yang terima kasih Ren, kau hebat sekali, kayaknya ini dendam 2 bulan gak ML ya? kapan-kapan kita lakuin lagi ya” “Pasti Tan, saya siap ngelayanin Tante Dewi kapanpun Tante mau ” “Aku juga Ren sebaliknya, kalo kau yang perlu bilang saya aja ” Aku tersenyum dan kubilang “Aku balik ya Tan” jam di posisi 3 pagi
“Tanggung beb, nginep aja sampe besok, eh ini udah besok ya? Kalo pulangnya besok saya janji saya mandiin deh” Kata Tante Dewi.
3