Showing posts with label Cerita Sex Perselingkuhan. Show all posts
Showing posts with label Cerita Sex Perselingkuhan. Show all posts

Cerita Sex Tak Tahan Dengan Godaan Kakak Ipar

Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Bokep Terbaru, Cerita Model Seksi, Bacaan Porno Terlengkap. Baca Kisah Sex berikut ini "Cerita Sex Tak Tahan Dengan Godaan Kakak Ipar".

Ceritaku bermula ketika saya memutuskan tinggal di rumah kak Dewi yang berada di tengah kota.Sejak melahirkan bayinya yang pertama , kak Dewi kewalahan mengatur waktunya antara suami , anak , dan perkerjaan di kantornya.


Aku yang dikala itu masi berstatus sarjana muda tidak berpikiran untuk mencari pekerjaan , waktu itu yang terpikir dibenakku hanyalah mencari uang.Keiinginanku untuk ikut kak Dewi deterima baik olehnya dan kak Dody suami kakak ku.Hitung-hitung saya mengisi waktu daripada di rumah saja tidak ada kegiatan.Aku pikir saya sudah pandai balig cukup akal jadi mampu menentukan mana yang terbaik untukku.

Teman-temanku menyebutku rupawan dan sangat mudah untuk bergaul,itulah yang memungkinkan saya cepat bersahabat dengan orang disekitar.Kemenakan dan suami kakku juga kukenal selalu meminta yang aneh-aneh.Aku wanita normal dan sudah pandai balig cukup akal , tentu saja butuh seks tapi saya tidak pernah memiliki niat melaksanakan dengan pria yang bukan suamiku.Meski banyak sahabat yang bercerita aktifitas seks mereka tapi tidak membuatku untuk melakukannya.

Aku senang di rumah kak Dewi, suaminya juga membatasi gerakanku,bahkan kak Dody sering memberiku uang untuk keperluan langsung ku.Dan saya pun menjadi lebih semangat di rumah mereka.Di rumah kak Dewi semua akomodasi mampu saya gunakan,bahkan saya diajar mengendarai kendaraan beroda empat oleh kak Dody,katanya biar saya mampu ke supermarket untuk belanja sendiri.Jika kak Dewi dan suaminya ke kantor , akulah yang menguasai rumah,aku mampu nonton dvd atau makan sepuasnya , yang penting kebersihan rumah tetap terjaga.

Pekerjaanku bis dikatakan mudah alasannya ialah saya sudah terbiasa di rumahku yang dulu, semenjak kecil hingga pandai balig cukup akal saya memang dididik untuk disiplin bekerja.Menjaga anak kecil usia dua tahun paling cuma menyiapkan susu dan makanan atau kalau menangis cukup digendong ataupun cukup diayun saja.Yang paling berat ialah menyiapkan makanan untuk kak Dewi dan suaminya.Aku tahu mereka pasti lapar sepulang kerja , jadi sebisa mungkin segala tetek bengek makanan sudah harus selesai sebelum magrib.

Aku juga diberi uang bulanan yang cukup , bukan hanya oleh kak Dewi tapi juga kak Dody , mereka memang pasangan yang baik.Jumlahnya lumanyan untuk beli baju dan kosmetik.Mereka bahkan bilang kalau saya bole tetap tinggal di rumah mereka meskipun nanti saya sudah menikah.Rumah kak Dewi memang sangat luas dan sangat mampu ditinggali oleh dua keluarga.Kamarnya saja ada tujuh buah , ditambah ruang tamu dan keluarga yang lumanyan besar membuat rumah terasa sepi jikalau hanya mereka yang ditinggali

Bencana menimpaku dikala saya memasuki bulan ke sepuluh di rumah kak Dewi.Saat itu suami kak Dewi kecelakaan , pembaca yang di jakarta pasti tahu kecelakaan yang dialami kak Dody karena beritanya sanga luas waktu itu.Luka kak Dody termasuk sangat parah karena kakinya patah sehingga beliau harus istirahat total di rumah selama tiga bulan.karena kak Dewi bekerja , maka akulah yang melayani kak Dody di siang hari.Semua kebutuhan kak Dody saya siapkan mula dari makan minum hingga mengantarkannya ke toilet untuk buang air.Kak Dewi memang wanita karir , ia gres tiba di rumah setelah malam hari bahkan terkadang hingga pagi.

Dari keseringan menemai kak Dody saya merasa ada yang ajaib , rahasia kak Dody selalu memperhatikanku dengan seksama, cara memandangya tidak ibarat biasanya,aku bahkan tahu beliau sedang menatap bokongku jikalau saya membelakanginya dan bertindak biasa saja.Lama kelamaan kak Dody semakin berani secara sengaja beliau sering memegang tanganku atau bahkan merayuku.Aku hanya membisu dan berusaha menghindar , saya selalu ingat kak Dewi dan ku;ikir itu cuma gurauan kak Dody semata.

Hingga suatu siang , ketika saya terlelap di kamarku , saya merasa ada beban yang sangat berat menidih tubuhku.Aku kaget dan berusaha melepaskan diri , tapi semakin saya bergerak semakin sulit saya bergerak , bahkan pakaianku yang bawah sudah lepas tanpa saya sadari.Tidak kuasa saya melawan dan balasannya mas Dody.....

Itulah awal petualangan seru yang kualami bersama kak Dody,kakak iparku sendiri.Hubungan terlarang itu masih sering kujalani bersamanya hingga sekarang,tidak ada lagi impian berontak ibarat dulu,aku lupa kalau kak Dody ialah kakak iparku sendiri.Kami melaukan relasi pandai balig cukup akal itu ibarat tak ada batasnya.Jika mengingat kak Dewi saya menangis dan meraung , saya merasa berdosa.Aku menangis setiap malam,memohon ampun dan memohon diberi kekuatan untuk mampu melepaskan diri dari kak Dody.

Sekarang saya berusaha sekuat tenaga menghindari kakak iparku sendiri,meskipun godaan seksual darinya sangat besar , saya harus mampu meninggalkan kak Dody demi kebahagiaan kakakku.Semoga saya diberi kekuatan.

Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, Cerita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
3

Cerita Sex PerselingkuhanKu Dengan kakak Ipar

Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Bokep Terbaru, Cerita Model Seksi, Bacaan Porno Terlengkap. Baca Kisah Sex berikut ini "Cerita Sex PrselingkuhanKu Dengan kakak Ipar".

Aku biasa dipanggil Adi dan usiaku sekarang 32 tahun. Aku sudah beristri dengan 1 anak usia 2 tahun. Kami bertiga hidup bahagia dalam arti-an kami bertiga saling menyayangi dan mencintai. Namun gotong royong saya menyimpan diam-diam terbesar dalam hidup berumahtangga, terutama diam-diam terhadap istriku. Bermula pada dikala beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih berpacaran dengan istriku. Aku diperkenalkan kepada seluruh keluarga kandung dan keluarga besarnya. Dan dari sekian banyak keluarganya, ada satu yang menggelitik perasaan kelaki-lakianku; ialah kakak perempuannya yang berjulukan Ima (sebut saja begitu).


Ima dan saya seusia, beliau lebih renta beberapa bulan saja, beliau sudah menikah dengan suami yang super sibuk dan sudah dikaruniai 1 orang anak yang sudah duduk di sekolah dasar. Dengan tinggi tubuh 160 cm, berat tubuh kurang lebih 46 kg, berkulit putih bersih, memiliki rambut mengagumkan tebal dan hitam sebahu, matanya bening, dan memiliki bunyi agak cempreng tapi menurutku seksi, sangat menggodaku. Pada awalnya kami biasa-biasa saja, menyerupai misalnya pada dikala saya menemani pacarku kerumahnya atau beliau menemani pacarku kerumahku, kami hanya ngobrol seperlunya saja, tidak ada yang istimewa hingga setelah saya menikah 2 tahun kemudian beliau menghadiahi kami (aku dan pacarku) dengan sebuah kamar di hotel berbintang dengan beliau bersama anak tunggalnya ikut menginap di kamar sebelah kamarku.


Setelah menikah, frekuensi pertemuan saya dengan Ima jadi lebih sering, dan kami berdua lebih berani untuk ngobrol sambil diselingi canda-canda konyol. Pada suatu hari, saya dan istri beserta mertuaku berdatangan kerumahnya untuk weekend dirumahnya yang memang enak untuk ditinggali. Dengan bangunan megah berlantai dua, pekarangannya yang cukup luas dan ditumbuhi oleh tanaman-tanaman hias, serta beberapa pohon rindang membuat mata segar bila memandang kehijauan di pagi hari. Letak rumahnya juga agak jauh dari tetangga membuat suasana mampu lebih private. Sesampainya disana, setelah istirahat sebentar rupanya istriku dan mertuaku mengajak untuk berbelanja keperluan bulanan. Tetapi saya agak mengantuk, sehingga saya meminta ijin untuk tidak ikut dan untungnya Ima memiliki supir yang dapat dikaryakan untuk sementara. Jadilah saya tidur di kamar tidur tamu di lantai bawah. Kira-kira setengah jam saya mencoba untuk tidur, anehnya mataku tidak juga terpejam, sehingga saya putus asa dan kuputuskan untuk melihat program TV dahulu. Aku bangun dan keluar kamar, tetapi saya agak kaget ternyata Ima tidak ikut berbelanja. Ima menggunakan kaus gombrong berwarna putih, lengan model you can see dan dengan panjang kausnya hingga 15cm diatas lutut kakinya yang putih mulus. “Lho..kok nggak ikut ?” tanyaku sambil semilir kuhirup amis parfum yang dipakainya, harum dan menggairahkan, “Tauk nih..lagi males aja gue..” sahutnya tersenyum dan melirikku sambil membuat sirup orange hambar dimeja makan, “Anto kemana..?” tanyaku lagi wacana suaminya, “Lagi keluar negeri, biasa..urusan kantornya..” sahutnya lagi. Lalu saya menuju kedepan sofa tempat menonton TV kemudian saya asik menonton film di TV. Sementara Ima berlalu menuju tingkat atas (mungkin ke kamarnya).

Sedang asik-asiknya saya nonton, tiba-tiba kudengar Ima memanggilku dari lantai atas; “Di..Adi..”, “Yaa..” sahutku, “Kesini sebentar deh Di..”, dengan tidak terburu-buru saya naik dan mendapatinya sedang duduk disofa besar untuk 3 orang sambil meminum sirup orangenya dan menghidupkan TV. Dilantai atas juga terdapat ruang keluarga mini yang lumayan tersusun apik dengan lantainya dilapisi karpet tebal dan empuk, dan hanya ada 1 buah sofa besar yang sedang diduduki oleh Ima. “Ada apa neng..?” kataku bercanda setelah saya hingga diatas dan pribadi duduk di sofa bersamanya, saya diujung kiri akrab tangga dan Ima diujung kanan. “Rese luh..sini temenin gue ngobrol ama curhat” katanya, “Curhat apaan?”, “Apa! ajalah, yang penting gue ada temen ngobrol” katanya lagi. Maka, selama sejam lebih saya ngobrol wacana apa saja dan mendengarkan curhat wacana suaminya. Baru saya tahu, bahwa Ima gotong royong “bete” berat dengan suaminya, alasannya semenjak menikah sering ditinggal pergi lama oleh suaminya, sering lebih dari sebulan ditinggal. “Kebayangkan gue kayak gimana ? Kamu mau nggak temenin saya sekarang ini ?” tanyanya sambil menggeser duduknya mendekatiku setelah gelasnya diletakan dimeja sampingnya. Aku mampu menebak apa yang ada dipikiran dan yang diinginkannya dikala ini. “Kan gue sekarang lagi nemenin..” jawabku lagi sambil membenahi posisi dudukku biar lebih nyaman dan agak serong menghadap Ima. Ima makin mendekat ke posisi dudukku. Setelah tidak ada jarak duduk denganku lagi, Ima mulai membelai rambutku dengan tangan kirinya sambil bertanya “Mau..?”, saya membisu saja sambil tersenyum dan memandang matanya yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak. “Bagaimana dengan orang-orang rumah lainnya (pembantu-pembantunya) dan gimana jikalau mendadak istriku dan nyokap pulang ?” tanyaku, “Mereka tidak akan datang jikalau saya nggak panggil dan maknyak mampu berjam-jam jikalau belanja.” jawabnya semakin akrab ke wajahku.

Sedetik kemudian tangan kirinya telah dilingkarkan dileherku dan tangan kanannya telah membelai pipi kiriku dengan wajah yang begitu akrab di wajahku diiringi nafas harumnya yang sudah mendengus pelan tetapi tidak beraturan menerpa wajahku. Tanpa pikir panjang lagi, tangan kananku kuselipkan diantara lehernya yang jenjang dan rambutnya yang hitam sebahu, kutarik kepalanya dan kucium bibir merah mudanya yang mungil. Tangan kiriku yang tadinya membisu saja mulai bergerak secara halus membelai-belai dipinggang kanannya.”Mmhh..mmhh..” nafas Ima mulai memburu dan mendengus-dengus, kami mulai saling melumat bibir dan mulai melaksanakan French kiss, bibir kami saling menghisap dan menyedot pengecap kami yang agak basah, very hot French kiss ini berlangsung dengan dengusan nafas kami yang terus memburu, saya mulai menciumi dagunya, pipinya, kujilati telinganya sebentar, menuju belakang telinganya, kemudian bibir dan lidahku turun menuju lehernya, kuciumi dan kujilati lehernya, “hhnngg.. Ahhdhii.. oohh.. honeey.. enngghh” desahnya sambil memejamkan matanya menikmati permainan bibir dan lidahku di leher jenjangnya yang putih dan kedua tangannya merengkuh kepalaku, sementara kepala Ima bergerak kekiri dan kekanan menikmati kecupan-kecupan serta jilatan di lehernya.

Tangan kiriku yang awalnya hanya membelai pinggangnya, kemudian turun membelai dan mengusap-usap beberapa dikala dipaha kanannya yang putih, mulus dan halus untuk kemudian mulai menyelusup kedalam kaus gombrongnya menuju buah dadanya. Aku agak terkejut mencicipi buah dadanya yang agak besar, bundar dan masih kencang, padahal setahuku Ima menyampaikan ASI ke anak tunggalnya selama setahun lebih. Tanganku bergerak badung membelai dan meremas-remas lembut dengan sedikit meremas pinggiran bawah buah dada kanannya. “Buah dadamu masih kencang dan kenyal neng.” kataku sambil kulepas permainan dilehernya dan memandang wajahnya yang manis dan agak bersemu merah tanpa kusudahi remasan tanganku di buah dada kanannya. “Kamu suka yaa..” sahutnya sambil tersenyum dan saya mengangguk. “Terusin dong..” pintanya manja sambil kembali kami berciuman dengan bergairah. “Mmhh.. mmhh.. ssrrp.. ssrrp..” ciuman maut kami beradu kembali. Tangan kiriku tetap menjalankan tugasnya, dengan lembut membelai, meremas, dan memuntir putingnya yang mengeras kenyal.

Tangan kanan Ima yang tadinya berada dikepalaku, sudah turun membelai tonjolan selangkanganku yang masih terbungkus celana katun. Ima menggosok-gosokkan tangan kanannya secara berirama sehingga membuat saya makin terangsang dan penisku makin mengeras dibuatnya. Nafas kami terus memburu diselingi desahan-desahan kecil Ima yang menikmati foreplay ini. Masih dengan posisi miring, tangan kiriku menghentikan pekerjaan meremas buah dadanya untuk turun gunung menuju keselangkangannya. Ima mulai menggeser kaki kanannya untuk meloloskan tangan nakalku menuju sasarannya. Aku mulai meraba-raba CD yang menutup vaginanya yang kurasakan sudah lembab dan basah. Perlahan kugesek-gesekkan jari jemariku sementara Ima pasrah merintih-rintih dan mendesah-desah menikmati permainan jemariku dan pagutan-pagutan kecil bibirku serta jilatan-jilatan lidahku dilehernya yang jenjang dan halus diiringi desehan dan rintihannya berulang-ulang. Pinggulnya diangkat-angkat menyerupai memohon jemariku untuk masuk kedalam CD-nya meningkatkan finger play ku. Tanpa menunggu, jariku bergerak membuka ikatan kanan CD-nya dan mulai membelai rambut kemaluannya yang lembut dan agak jarang. Jari tengahku sengaja kuangkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di labia mayoranya, sementara ! jari telunjuk dan jari manisku yang bekerja menggesek-gesekkan dan agak kujepit-jepit pinggiran bibir vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan.

Sementara Ima memejamkan matanya dan dari bibir mungilnya mengeluarkan rintihan-rintihan juga desahan-desahan berkali-kali. Kemudian jari tengahku mulai turun dan kugesek-gesekkan untuk membelah bibir kemaluannya yang kurasa sudah basah. Berkali-kali kugesek-gesek dengan sisi dalam jari tengahku, kemudian mulai kutekuk dan kugaruk-garuk jari tengahku agak dalam di bibir vaginanya yang kenyal, lembut dan bersih. Sementara Ima makin merintih-rintih dan mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan gerakan naik turun kekiri dan kekanan “Ouuhh.. hemmhh.. sshh.. aahh.. Dhii.. eehhnakh.. honey.. oohh… ..sshh..” rintih dan desahannya berkali-kali. Finger play ini kusertai dengan ciuman-ciuman di leher dan bibirnya serta sambil kami saling menyedot lidah. Setelah puas dengan posisi miring, kemudian saya agak mendorong tubuhnya untuk duduk dengan posisi selonjor santai, sementara saya berdiri dikarpet dengan dengkulku menghadapnya, Ima agak terdiam dengan nafasnya memburu, perlahan kubuka kaus gombrongnya, dikala itulah saya dapat melihat tubuhnya separuh telanjang, lebih putih dan mengagumkan dibandingkan istriku yang berkulit agak kecoklatan, dua bukit kembarnya terlihat bundar membusung padat, sangat mengagumkan dengan ukuran 36B, putih, dengan puting merah muda dan sudah mengeras menahan nafsu birahi yang bergejolak.

Sambil tangan kiriku bertopang pada tepian sofa, mulutku mulai menciumi buah dada kanannya dan tangan kananku mulai membelai, menekan, dan meremas-remas buah dada kirinya dengan lembut. “Aahh.. hhnghh.. honeey.. enaak.. bangeet.. terruss.. aahh.. mmnghh.. hihihi.. auhh..adhi..” Ima bergumam tak karuan menikmati permainanku, kedua tangannya meremas dan menarik-narik rambutku. Ima mendesah-desah dan merintih-rintih andal ketika putingnya kuhisap-hisap dan agak kugigit-gigit kecil sambil tangan kananku meremas buah dada kirinya dan memelintir-pilintir putingnya. Ima sangat menikmati permainanku didadanya bergantian yang kanan dan kiri, hingga beliau tak sadar berucap “Adhii.. oohh.. bhuat ahkhuu puas kayak adhikku di hotel dulu.. hhnghh.. mmhh..”, ups..aku agak kaget, tanpa berhenti bermain saya berpikir rupanya Ima menguping “malam pertamaku” dulu bersama istriku, memang pada malam itu dan pada ML-ML sebelumnya saya selalu membuat istriku berteriak-teriak menikmati permainan sex-ku. Rupanya..Oke deeh kakak, sekaranglah dikala yang gotong royong juga sudah saya tunggu-tunggu dari dulu. “Adhii.. sekarang dong.. aahh.. akhu sudah nggak tahann.. oohh..” ujarnya, tapi saya masih ingin berlama-lama menikmati kemulusan dan kehalusan kulit tubuh Ima.

Setelah saya bermain dikedua buah dadanya, menjilat, menghisap, menggigit, meremas dan memelintir, saya jilati seluruh badannya, jalur tengah buah dadanya, perutnya yang ramping, putih dan halus, kugelitik pusarnya yang bersih dengan ujung lidahku, kujilati pinggangnya, “Aduuh.. geli dong sayang.. uuhh..”, kemudian saya menuju ke kedua pahanya yang putih mulus, kujilati dan kuciumi sepuasnya “Aahh.. ayo dong sayang.. kau kok badung sihh.. aahh..”, sampailah saya di selangkangannya, Ima memakai CD transparan berwarna merah muda yang terbuat dari sutra lembut, dan kulihat sudah sangat berair oleh pelumas vaginanya. “Sayang.. kau mau ngapain?” tanyanya sambil melongokkan kepalanya kebawah kearahku. Aku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku kearahnya nakal. Dengan mudah CD-nya kubuka ikatan sebelah kirinya setelah ikatan kanan telah terbuka, sekarang tubuh Ima sudah polos tanpa sehelai benangpun menghalangi, kemudian saya buka kedua kakinya dan kulihat pemandangan surga dunia yang sangat indah.

Bibir vaginanya sangat bersih dan berwarna agak merah muda dengan belahan berwarna merah dan sangat bagus (mungkin jarang digunakan oleh suaminya) meskipun sudah melahirkan satu orang anak, dan diatasnya dihiasi bulu-bulu halus dan rapi yang tidak begitu lebat. “Oohh.. Ima.. bersih dan merah banget..” ujarku memuji, “hihihi.. suka ya..?” tanyanya, tanpa kujawab lidahku pribadi bermain dengan vaginanya, kujilati seluruh bibir vaginanya berkali-kali up and down, tubuh Ima mengejang-ngejang “Aahh..aahh..dhhii..oohh..eenak adhii..aahh..Anto nggak pernah mau begini..mmhh..” lidahku mulai menjilati bibir vaginanya turun naik dan menjilati labia mayoranya dengan ujung! lidahku. Ima menggeliat-geliat, mendesah-desah, dan melenguh-lenguh, saya menjilati vaginanya sambil kedua tanganku meremas-remas kedua buah dadanya “Hhnghh.. nngghh.. aahh.. dhii.. honey..” gumamnya sangat menikmati permainan pengecap dan bibirku yang menghisap-hisap dan menjilat-jilat klitorisnya berulang-ulang, menghisap-hisap seluruh sudut vaginanya serta lidahku mendesak-desak kedalam liang vaginanya berkali-kali tanpa ampun “Oohhnghh.. dhii.. more.. honey.. more.. ahh..”, tangan kananku kemudian turun untuk bergabung dengan bibir dan lidahku di vaginanya, sedikit-sedikit dengan gerakan maju mundur jari tengahku kumasuk-masukkan kedalam lubang vaginanya yang sudah becek, makin lama makin dalam kumasukkan jari tengahku sambil tetap bergerak maju mundur.

Setelah masuk seluruhnya, jari tengahku mulai beraksi menggaruk-garuk seluruh adegan dinding dalam liang surga Ima sambil sesekali kugerakkan ujungnya berputar-putar dan kusentuh-sentuh kawasan G-spotnya, Ima meradang dan menggelinjang andal ketika kusentuh G-spot miliknya. Lidahku tidak berhenti menjilati sambil kuhisap-hisap klitorisnya. Ima berusaha mengimbangi finger playku dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, kekiri dan kekanan dan bibirnya tidak berhenti merintih dan mendesah “Sshh..enghh..uuhh..Adhii..ouuhh..aahh..sshh..enghh..” tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya selain bunyi rintihan, erangan, lenguhan dan desahan kenikmatan. Sekitar 20 menit kemudian liang vaginanya berkedut-kedut dan menghisap “Oohhnghh.. ahh.. dhii.. akhu.. sham.. oohh.. henghh.. sham.. phaii.. aahh.. honey.. hengnghh ..aa..aa..” Ima berteriak-teriak mencapai klimaksnya sambil menyemburkan cairan kental dari dalam vaginanya yang berdenyut-denyut berkali-kali “serrtt.. serrtt.. serrtt..” kucabut jariku dan saya pribadi menghisap cairan yang keluar dari lubang vaginanya hingga habis tak bersisa, tubuhnya mengejang dan menggelinjang andal disertai rintihan kepuasan, kedua kakinya dirapatkan menjepit kepalaku, dan kedua tangannya menekan kepalaku lebih dalam kearah vaginanya. Kemudian tubuhnya mulai lemas setelah menikmati klimaksnya yang dahsyat “Aahh.. adhii.. eenghh.. huuhh..” vaginanya menyerupai menghisap-hisap bibirku yang masih menempel dalam dan erat di vaginanya. “Oh.. adi.. kau gila.. enak banget.. oohh.. pengecap dan hisapanmu waow.. tob banget dah.. oohh..” katanya sambil tersenyum puas sekali melihat kearah wajahku yang masih berada diatas vaginanya sambil kujilati klitorisnya disamping itu tanganku tidak berhenti bekerja di buah dada kanannya, “Anto nggak pernah mau oral-in aku..oohh..” dengan selingan bunyi dan desahannya yang menurutku sangat seksi.

Sambil beranjak duduk, Ima mengangkat kepalaku, dan melumat bibirku “Sekarang gantian aku, kau sekarang berdiri biar saya yang bekerja, baiklah ?!?” ujarnya, “Oke honey, jangan kaget ya..” sahutku tersenyum dan mengedipkan mata kiriku lagi sambil berdiri, sekilas wajahnya agak keheranan tapi Ima pribadi bekerja membuka gesperku, kancing dan retsleting celanaku. Ima agak terkejut melihat tonjolah ditengah CD-ku, “Wow..berapa ukurannya Di ?” tanyanya, “Kira-kira aja sendiri..” jawabku sekenanya, tanpa ba bi bu Ima pribadi meloloskan CD-ku dan beliau agak terbelalak dengan kemegahan Patung Liberty-ku dengan helm yang membuntal, “Aww.. gila.. muat nggak nih..?”, sebelum saya menjawab lidahnya yang mungil dan agak tajam telah memulai serangannya dengan menjilati seluruh adegan penisku, dari ujung hingga pangkal hingga kedua kantung bijiku dihisap-hisapnya rakus “Sshh.. aahh.. Ima.. sshh..” saya dibuatnya merem melek menikmati jilatannya. “Abis dicukur ya ?” tanyanya sambil terus menjilat, saya hanya tersenyum sambil membelai kepalanya.

Kemudian Ima mulai membuka bibir mungilnya dan mencoba mengulum penisku, “Mm..” gumamnya, penisku mulai masuk seperempat kemulutnya kemudian Ima berhenti dan lidahnya mulai beraksi dibagian bawah penisku sambil menghisap-hisap penisku “Serrp.. serrp.. serrp..”, tangan kirinya memegang pantat kananku dan tangan kanannya memilin-milin batang penisku, nikmat sekali rasanya “Aahh.. sshh…” saya menikmati permainannya, lalu verbal mungilnya mulai menelan batang penisku yang tersisa secara perlahan-lahan, kurasa kenikmatan yang amat sangat dan kehangatan rongga mulutnya yang tidak ada taranya dikala penisku terbenam seluruhnya didalam mulutnya. Agak nyeri sedikit diujung helmku, tapi itu dikalahkan nikmatnya kuluman bibir iparku ini. Ima mulai memaju mundurkan gerakan kepalanya sambil terus mengulum penisku, “Sshh.. aahh.. enak.. Ima..a hh.. terus .. sayang.. uuhh..” gumamku, lidahnya tidak berhenti bermain pula sehingga saya mencicipi goyangan-goyangan kenikmatan dipenisku dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun, nikmat sekali, saya mengikuti irama gerakan maju mundur kepalanya dengan memaju mundurkan pinggulku, kedua tanganku ku benamkan dirambut kepalanya yang kuacak-acak, Ahh nikmat sekali rasanya “Clop.. clop.. clop..”. Setelah itu dengan agak membungkukkan posisi tubuhku, tangan kananku mulai mengelus-elus punggungnya sedangkan tangan kiriku mulai meremas-remas buah dada kanannya, kuremas, kuperas, kupijit dan kupuntir puting susunya, desahannya mulai terdengar mengiringi desahan dan rintihanku sambil tetap mengulum, mengocok dan menghisap penisku, “Ima.. mmhh..” rintihku. Mendengar rintihanku, Ima makin mempercepat tempo permainannya, gerakan maju mundur dan jilatan-jilatan lidahnya yang berair makin menggila sambil dihisap dan disedot penisku, dipuntir-puntirnya penisku dengan bibir mungilnya dengan gerakan kepala yang berputar-putar membuat seluruh persendian tubuhku berdesir-desir dan saya merintih tak karuan. “Aahh.. Ima.. oohh.. mmnghh.. gila benerr.. oohh..” Kuluman dan hisapannya tidak berhenti hingga 20 menit, “Gila luh.. 20 menit gue oral kau nggak klimaks.. hingga pegel verbal gue.” katanya sambil berdiri dan melingkarkan kedua tangannya dileherku untuk kemudian kami berciuman sangat panas, Ima sambil berdiri berjinjit alasannya tinggiku 172 cm, sedangkan beliau 160 cm. 5 menit kami menikmati ciuman membara.

Kedua tanganku meremas-remas kedua bongkahan pinggulnya yang bundar dan padat, namun kenyal dan halus kulitnya, lalu saya membopongnya menuju kekamarnya sambil terus berciuman. Sambil merebahkan tubuh mungilnya, kami berdua terus berciuman panas dan tubuh kami rebah dikasur empuknya sambil terus berpelukan. Nafas kami saling memburu deras menikmati tubuh yang sudah bersimbah keringat, berguling kekanan dan kekiri “Mmhh.. mmhh.. serrp.. serrp..”, tangan kananku kembali meluncur ke buah dada kirinya, meremas dan memuntir-puntir putingnya, Ima memejamkan mata dan mengernyitkan dahinya menikmati permainan ini sambil bibirnya dan bibirku saling mengulum deras, berpagutan, menghisap lidah, dan dengan nafas saling memburu. Kuciumi kembali lehernya, kiri kanan, Ima mendesah-desah sambil kakinya dilingkarkan dipinggangku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Penisku terjepit diantara perutnya dan perutku, dan alasannya Ima menggoyang-goyangkan pinggulnya, kurasakan gesekan-gesekan nikmat pada penisku, “Aahh..ahh..adi..cumbui saya honey..ahh..puasi saya sayang..ehmm..” Ima mengerang-erang. Aku kembali meluncur ke kedua buah dadanya yang mengagumkan dan mulai menjilati, menghisap, menggigit-gigit kecil, meremas, dan memilin puting susunya yang sudah mengeras “Ahh.. terus honey.. oohh.. sshh..”, setelah puas bermain dengan kedua buah dada indahnya, saya menuruni tubuhnya untuk melumat vaginanya, kujilati semua sudutnya, up and down, kuhisap-hisap klitorisnya dan kujilat-jilat, kuhisap-hisap lubang vagina dan klitorisnya sepuas-puasnya “Oohh.. oohh.. sshh.. aahh.. honey.. kham.. muu.. nakhal.. oohh.. nakhaal.. banget sihh.. henghh.. oohh.. emmhh..” desahan demi desahan diiringi tubuhnya yang menggelinjang dan berkelojotan, vaginanya terasa makin berair dan lembab, “Aaahh..dhhii..oohh..” vaginanya mulai mengempot-empot sebagai tanda hampir mencapai klimaks, sementara penisku sudah mengeras menunggu giliran untuk menyerang.

Aku melepas jilatan dan hisapanku di vaginanya untuk kemudian bergerak keatas kearah wajahnya yang manis, kulihat Ima mengigit bibir bawahnya dengan dahinya yang mengerenyit serta nafasnya yang memburu ketika ujung penisku bermain di bibir vaginanya up and down “Mmhh.. adi.. ayo dong.. saya udah nggak tahan nihh.. oohh.. jangan badung gitu dong.. aahh..” Ima menikmati sentuhan binal ujung penisku dibibir vaginanya “Okhe.. honey.. siap-siap yaa..” kataku juga menahan birahi yang sudah memuncak. Perlahan kuturunkan penisku menghunjam ke vaginanya “Enghh.. aahh.. adi.. oohh.. do it honey.. oohh..” desahnya, Vaginanya agak sempit dan kurasakan agak kempot kedalam menahan hunjaman penisku. “Slepp..” gres kepala penisku yang masuk, Ima berteriak “Enghh.. aahh.. enak sayang.. sshh.. oohh..” sambil mencengkeram bahuku menyerupai ingin membenamkan kuku-kuku jarinya kekulitku “Ayo adi.. aahh.. terusss honey.. aahh.. aahh..” vaginanya kembali mengempot-empot dan menghisap-hisap penisku tanda awal menuju klimaks “Ahh.. Ima.. enak banget..itu mu.. ahh..” saya menikmati hisapan vaginanya yang menghisap-hisap kepala penisku. Tidak berapa lama kemudian Ima kembali berteriak “Aadii.. aahh.. khuu.. aahh.. aahh.. oohh..” Ima kembali berteriak dan merintih mencapai klimaksnya dimana gres kepala penisku saja yang masuk. Aku geregetan, sudah dua kali Ima mencapai klimaks sedangkan saya belum sama sekali, begitu Ima sedang menikmati klimaksnya, saya pribadi menghunjamkan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya “Sloop..sloop..sloopp..” dengan gerakan turun naik yang berirama “Aahh.. aahh.. hemnghh.. oohh.. aahh.. dhii.. aahh.. aahh.. ehh.. nhak ..sha..yang.. enghh..oohh..” Ima mendesah-desah dan berteriak-teriak mencicipi nikmatnya rojokan penisku di liang vaginanya yang sempit dan agak peret.

Aku terus menaik turunkan penisku dan menghunjam-hunjamkan keliang vaginanya, sementara Ima makin melenguh, mendesah dan merintih-rintih mencicipi gesekan-gesekan batang penisku dan garukan-garukan kepala penisku didalam liang vaginanya yang berair dan kurasakan sangat nikmat, menyerupai menghisap dan memilin-milin penisku. Suara rintihan dan desahan Ima semakin keras kudengar memenuhi ruang kamarnya sementara deru nafas kami semakin! memburu, dan karenanya “Aahh.. dhii..ahh.. khuu.. sam..phai.. lhaa..ghii.. aahh..aahh.. aahh..” jeritnya terputus-putus mencapai kenikmatan ketiganya, saya masih belum puas, kutarik kedua tangannya dan saya menjatuhkan diri kebelakang sehingga posisinya sekarang Ima berada diatasku. Setelah kami beradu pandang dan berciuman mesra sesaat, Ima mulai memaju mundurkan dan memutar pinggulnya, memelintir penisku didalam liang vaginanya, gerakan-gerakannya berirama dan semakin cepat diiringi bunyi rintihan dan desahan kami berdua, “Aahh.. Ima.. oohh.. enak banget..aahh..” saya menikmati gerakan binalnya, sementara kedua tanganku kembali meremas kedua buah dadanya dan jemariku memilin puting-putingnya “Aahh.. hemhh.. oohh.. nghh.. ” teriakannya kembali menggema keseluruh ruangan kamar, “Tahan.. dhulu.. aahh.. tahan..” sahutku terbata menikmati tabrakan vaginanya di penisku, “Enghh.. akhu.. nggak khuat.. oohh.. honey.. aahh..” balasnya sambil mengelinjang-gelinjang andal dengan vaginanya yang sudah mengempot-empot “Seerrt.. seerrt.. seerrt..” Ima mengeluarkan banyak cairan dari dalam vaginanya dan saya mencicipi hangatnya cairan tersebut diseluruh batang penisku, tubuhnya mengigil disertai vaginanya berdenyut-denyut andal dan kemudian Ima ambruk dipelukanku kelelahan “Oohh.. adhi.. hhhh.. mmhh.. hahh..enak banget sayang.. oohh.. mmhh..” bibirnya kembali melumat bibirku sambil menikmati klimaksnya yang keempat, sementara penisku masih bersarang berdenyut-denyut perkasa didalam vaginanya yang sangat berair oleh cairan kenikmatan dari vagina miliknya yang masih berdenyut-denyut dan menghisap-hisap penisku.

Kami terdiam sesaat, kemudian “Aku haus banget sayang, saya minum dulu yaa..boleh ?” pintanya memecah kesunyian masih berpelukan erat sambil kubelai-belai punggungnya dengan tangan kiriku dan agak kuremas-remas pantatnya dengan tangan kananku, “Boleh, tapi jangan lama-lama ya, saya belum apa-apa nih..” ujarku jahil sambil tersenyum. Sambil mencubit pinggangku Ima melepas pelukannya, melepas penisku yang bersarang di liang vaginanya “Plop..” sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pergeseran penisku dan didinding-dinding vaginanya yang memisah untuk kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar mengambil sirup orange dimeja samping sofa. Kemudian Ima berjalan kembali memasuki kamar sambil minum dan menawarkannya padaku. Aku meneguknya sedikit sambil mengawasi Ima berjalan menuju kamar mandi dalam kamarnya yang besar. Indah sekali pemandangan tubuhnya dari belakang, putih mulus dan tanpa cacat. Ima masuk kekamar mandi, sejenak kuikuti dia, kulihat Ima sedang membasuh tubuh indahnya yang berkeringat dengan handuk “Kenapa ? Udah nggak tabah ya ?” tanyanya sambil melirikku dan tersenyum menggoda.

Tanpa basa-basi kuhampiri Ima, kupeluk dari belakang dan kuciumi tengkuknya, pundaknya dan lehernya. Sementara kedua tanganku bergerilya membelai kulit tubuhnya yang halus. “Aahh..beneran nggak sabar..hihihi..” ucapnya “Emang..abis upacaranya banyak amat.”. Sambil tetap membelakanginya, tangan kananku mulai menuju kebuah dada kanan dan kirinya, dengan posisi tangan kananku yang melingkar di dadanya dua bukit bundar nan mengagumkan miliknya kugapai, sementara tangan kiriku mulai menuju ke vaginanya. “Hemhh..sshh..aahh..enghh..” desahannya mulai terdengar lagi setelah jari tengah tangan kiriku bermain di klitorisnya, sesekali kumasukkan dan kukeluarkan jari tengahku kedalam liang vaginanya yang mulai basah! dan lembab serta tak ketinggalan tangan kananku meremas-remas buah dada kanan dan kirinya. Kedua kakinya agak diregangkan sehingga memudahkan jemari tangan kiriku bergerak bebas meng-eksplorasi vaginanya dan bibir serta lidahku tidak berhenti mencium juga menjilat seluruh tengkuk, leher dan pundaknya kiri dan kanan, sementara tangan kanannya menggapai dan membelai-belai rambutku serta tangan kirinya membelai-belai tangan kiriku. “Ahh.. adhhii.. sshh.. mmhh..enak sayang..enghh..enaakhh..”, kurasakan vagina mulai berdenyut-denyut, lalu agak kudorong punggungnya kedepan, kedua tangannya menjejak washtaffel didepannya, kemudian pinggulnya agak kutarik kebelakang serta pinggangnya agak kutekan sedikit kebawah. Setelah itu kudorong penisku membelah kedua vaginanya dari belakang “Srreepp..” saya tidak mau tanggung-tanggung kali ini, kujebloskan seluruh batang penisku kedalam liang vaginanya “Oouhh.. aahh.. adhhii.. oohh..” teriaknya berkali-kali seiring dengan hunjaman-hunjaman penisku, tangan kiriku mencengkeram pinggang kirinya sedangkan tangan kananku meremas-remas buah dada kanannya yang sudah sangat keras dan kenyal “Aahh.. adhii.. aahh.. harder.. aahh.. harder honey..aahh..” pintanya sehingga gerakan maju mundurku makin beringas “Pook.. pook.. pook..” bunyi benturan tubuhku dibokongnya. Beberapa lama! kemudian liang vaginanya mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap kembali dan saya tak kuasa menahan rintihan-rintihan bersamaan dengan rintihannya “Ima.. aahh.. enak shay.. hemnghh..” “Aahh.. akhuu.. aahh.. sham.. phai.. aahh..”, “Tahan.. dulu.. sha.. yang..hhuuh..” ujarku sambil terus menghunjam-hunjamkam penisku beringas alasannya saya juga mulai mencicipi hal yang sama, “Aahh.. akhuu.. nggak.. kuat.. aahh.. AAHH..” “Seerrt..seerrt..seerrt..” kembali Ima mencapai klimaks dan menyemburkan cairan kental tubuhnya, berkali-kali, saya nggak peduli dan tetap ku genjot maju mundur penisku ke dalam vaginanya yang sudah sangat becek.

Kurasakan penisku menyerupai disedot-sedot dan dipuntir-puntir di dalam vaginanya yang sudah bereaksi terhadap orgasmenya. Akhirnya mengalirlah lava panas dari dalam tubuhku melewati batang penisku kemudian ke ujungnya lantas memuncratkan sperma hangatku ke dalam vaginanya yang hangat “Aahh…” kami mendesah lega setelah sedari tadi! berpacu mencapai kenikmatan yang amat sangat. Tubuh Ima mengigil menikmati sensasi yang gres saja dilaluinya untuk kemudian kembali mengendur meskipun vaginanya masih mengempot dan menghisap-hisap, saya membisu dan kubiarkan Ima menikmati sensasi kenikmatan klimaksnya. “Ahh.. punyamu enak ya Ima.. mampu ngempot-ngempot gini..”ujarku memuji, “Enak mana sama punya adikku ?” tanyanya sambil menghadapkan kearah wajahku dibelakangnya dan tersenyum “Punyamu..hisapannya lebih hebat..mmhh..” kucium mesra bibirnya dan Ima memejamkan matanya. Kemudian kucabut penisku “Ploop..” “Aahh..” Ima agak menjerit, dan cepat kugandeng tangannya keluar dari kamar mandi dan kembali ketempat tidur. Setelah Ima merebahkan dirinya terlentang di tempat tidur, saya berada diatasnya sambil kuciumi dan kulumat bibir mungilnya “Mmhh..mmhh..” tangan kanannya meremas-remas penisku yang masih saja gagah setelah 2 jam bertempur “Kamu andal Di, udah 2 jam masih keras aja.. dan kau bener-bener bikin saya puas.” puji Ima, “Sekali lagi yaa, yang ini gong nya, saya bikin kau puas dan nggak akan ngelupain saya selamanya, baiklah ?!” balasku, sambil berkata saya mulai menggeser tubuhku dan mengangkanginya, kemudian tanganku menuntun penisku memasuki liang vaginanya menuju pertempuran terakhir pada hari itu. “Sleepp..” “Auuwhh..” Ima agak menjerit. Perlahan tapi mantap kudorong penisku, sambil terus kutatap wajah manis iparku ini, Ima merem melek, mengernyitkan dahinya, dan menggigit bibir bawahnya dengan nafas memburu menahan kenikmatan yang amat sangat didinding-dinding vaginanya yang becek “Hehhnghh.. engghh.. aahh..” gerangnya.

Aku mulai memaju mundurkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan makin lama makin cepat, makin cepat, dan makin cepat, sementara Ima yang berada dibawahku mulai melingkarkan kedua kaki indahnya kepinggangku dan kedua tangannya memegang kedua tanganku yang sedang menyangga tubuhku, Ima mengerang-erang, mendesah-desah dan melenguh-lenguh “Aahh…. oohh.. sshh.. teruss.. honey.. oohh..”, sementara akupun terbawa suasana dengusan nafas kami berdua yang memburu dengan menyertainya mendesah, mengerang, dan melenguh bersamanya “Enghh.. Imaa.. oohh.. ennakh.. sayang..?” tanyaku “He-eh.. enghh.. aahh.. enghh.. enakhh.. banghethh.. dhii… aahh..” lenguhannya kadang meninggi disertai jeritan-jeritan kecil dari bibir mungilnya “Oohh.. adhii.. oohh.. enghh..” tubuhnya mulai bergelinjangan dan berkelojotan, matanya mulai dipejamkan, jepitan kaki-kakinya mulai mengetat dipinggangku, kami terus memacu irama persetubuhan kami, saya yang bergerak turun naik memompa dan merojok-rojok batang penisku kedalam liang vaginanya diimbangi gerakan memutar-mutar pinggul Ima yang menjadikan sensasi memilin-milin di batang penisku, nikmat sekali.

Kulepas pelukanku untuk kemudian saya merubah posisiku yang tadinya menidurinya ke posisi duduk, kuangkat kedua kaki Ima yang mengagumkan dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar untuk kembali kupompa batang penisku kedalam liang vaginanya yang makin berair dan makin menghisap-hisap “Enghh.. Adhii.. oohh.. shaa.. yang.. aahh..” kedua tangan Ima meremas erat bantal dibawah kepalanya yang menengadah keatas disertai rintihan, teriakan, desahan dan lenguhan dari bibir mungilnya yang tidak berhenti. Kepalanya terangguk-angguk dan badannya terguncang-guncang mengimbangi gerakan tubuhku yang makin beringas. Kemudian saya mengubah posisi kedua kaki Ima untuk bersandar dipundakku, sementara agak kudorong tubuhku kedepan, kedua tanganku serta merta bergerak kekedua buah dadanya untuk meremas-remas yang bundar membusung dan memuntir-puntir puting susunya kenyal dan mengeras tanpa kuhentikan penetrasi penisku kedalam liang vaginanya yang hangat dan basah. Ima tidak berhenti merintih dan mendesah sambil dahinya mengernyit menahan klimaksnya biar kami lebih lama menikmati permainan yang makin lama semakin nikmat dan membawa kami melayang jauh. “Oohh.. Ahh.. Dhii.. enghh.. ehn.. nnakhh..” desahan dan rintihan Ima menikmati gesekan-gesekan batang penis dan rojokan-rojokan kepala penisku berirama merangsangku untuk makin memacu pompaanku, nafas kami saling memburu.

Setelah mulai kurasakan ada desakan dari dalam tubuhku untuk menuju penisku, saya merubah posisi lagi untuk kedua tanganku bersangga pada siku-siku tanganku dan membelai-belai rambutnya yang sudah berair oleh kucuran keringat dari kulit kepalanya. Sambil saya merapatkan tubuhku diatas tubuh Ima, kedua kaki Ima mulai menjepit pinggangku lagi untuk memudahkan kami melaksanakan very deep penetration, rintihan dan desahan nafasnya yang memburu masih terdengar meskipun kami sambil berciuman Mmnghh.. mmhh.. oohh.. ahh.. Dhii.. mmhh.. enghh.. aahh..” “Oohh.. Imaa.. enghh.. khalau.. mau sampai.. oohh.. bhilang.. ya.. sha.. yang..enghh..aahh..” ujarku meracau “Iyaa.. honey..oohh..aahh..” tubuh kami berdua makin berkeringat, dan rambut kami juga tambah acak-acakan, sesekali kami saling melumat bibir dengan permainan pengecap yang panas disertai gerakan maju mundur pinggulku yang diimbangi gerakan memutar, kekanan dan kekiri pinggul Ima. “Oohh.. dhii.. oohh.. uu.. dhahh.. belomm.. engghh.. akhu.. udahh.. nggak khuat..niihh,,” erangan-erangan kenikmatan Ima disertai tubuhnya yang makin menggelinjang andal dan liang vaginanya yang mulai mengempot-empot dan menghisap-hisap hampir mencapai klimaksnya “Dhikit.. laghi.. sayang.. oohh..” sambutku alasannya penisku juga sudah mulai berdenyut-denyut “Aahh.. aa.. dhii.. noww..oohh.. enghh..aahh” jeritnya “Yeeaa.. aahh..” jeritanku mengiringi jeritan Ima, karenanya kami mencapai klimaks bersamaan, “Srreett.. crreett.. srreett.. crreett..” kami secara bersamaan dan bergantian memuntahkan cairan kenikmatan berkali-kali sambil mengerang-erang dan mendesah desah, kami berpelukan sangat erat, saya menekan pinggulku dan menancapkan penisku sedalam-dalamnya ke dalam liang vag! ina Ima, sementara Ima membelit pinggangku dengan kedua kaki indahnya dan memelukku erat sekali seakan tak ingin dilepaskan lagi sambil kuciumi lehernya dan bibir kami juga saling berciuman.

Nikmat yang kami reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sementara kami masih saling berpelukan erat, vagina Ima masih mengempot-empot dan menghisap-hisap habis cairan spermaku seakan menelannya hingga habis, dan penisku masih berdenyut-denyut didalamnya,dan kemudian secara perlahan tubuh kami mengendur saling meregang, dan akupun jatuh tergulir disamping kanannya.

Sesaat rebah berdiam diri bersebelahan, Ima kemudian merebahkan kepalanya dipundak kiriku sambil terengah-engah kelelahan dan mencoba mengatur nafasnya setelah menikmati permainan surga dunia kami. Kulit tubuhnya yang putih dan halus berkeringat bersentuhan dengan kulitku yang berkeringat, Ima memelukku mesra, dan tangan kiriku membelai rambut dan pundaknya. “Adi.. kau andal banget, gue hingga puas banget sore ini, klimaks yang gue rasakan beberapa kali belum pernah gue alamin sebelumnya, hemmhh..” Ima berkata sambil menghela nafas panjang “Ma kasih ya sayang.. thank you banget..” ujarnya lagi sambil kami berciuman mesra sekali seakan tak ingin diakhiri. Tak terasa kami sudah mereguk kenikmatan berdua lebih dari 4 jam lamanya dan hari sudah menjelang sore. Setelah puas berciuman dan bermesraan, kami berdua menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh kami, kami saling membasuh dan membelai tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang mesra. Setelah selesai kami berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang tengah untuk menonton TV dan menunggu istri dan mertuaku serta anaknya pulang dari kegiatan masing-masing.

Sambil menunggu kami masih saling berciuman menikmati waktu yang tersisa, Ima berucap padaku “Adi..kalo gue telpon, kau mau dateng untuk temenin gue ya sayang..” “Pasti !” jawabku, lalu kami kembali berciuman. Sejak kejadian itu, tiap kali Anto (suaminya) tidak di Jakarta, paling tidak seminggu 2 kali saya pasti datang kerumah Ima iparku itu untuk mereguk kenikmatan berdua hingga larut malam dengan alasan pada istriku lembur atau ada rapat dikantor, dan sebulan sekali saya pasti menghabiskan weekendku merengkuh kenikmatan langit ketujuh berdua Ima.

Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, Cerita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
3

Cerita Dewasa Kenangan Indah Dengan Mantan Pacar

Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Bokep Terbaru, Cerita Model Seksi, Bacaan Porno Terlengkap. Baca Kisah Sex berikut ini "Cerita Dewasa Kenangan Indah Dengan Mantan Pacar".

Suatu ketika ketika saya sedang sibuk dengan pekerjaan kantorku saya mendapat sebuah surat dari jasa kurir yang ditujukan kepadaku , saya cek pengirimmnya tanpa alamat pengirim, saya penasaran dengan surat itu kemudian saya buka ternyata tak terduga surat itu dari mantan pacarku Indah cinta pertamaku ketika kita duduk di dingklik SMA.


Hampir 26 tahun yang lalu. Isinya menyatakan bahwa ia sudah menikah namun selalu teringat aku, mempunyai 3 orang anak berikut alamat lengkap dan no handphone.
Singkat kisah karenanya kami bertelepon ria dan kenangan manispun timbul kembali. Aku berjanji kalau ada libur panjang maka saya akan datang berkunjung. Ketika libur panjang datang dengan alasan yang dibuat-buat kepada istri karenanya saya datang juga ke kota asalku. Aku sengaja tidak nginap di famili, namun di hotel. Dan pada sore itu pula saya datangi rumahnya.
Dengan rasa penasaran alasannya yaitu sudah lama tidak bertemu, saya mencoba mengira-ngira wajahnya ketika ini menyerupai apa, ya?
Perlahan ku ketuk pintu sambil berucap : “permisi….”
” mas anto ,ya? ” sesosok wanita cantik muncul di balik pintu
“Iya” sambil saya masih menebak-nebak ” Indah ya……..”
“Bukan, saya Sri adiknya, masuk mas…. mbak Indah sebentar keluar, lagi di kamar”. Kuperhatikan wanita ini menyerupai Indah namun tampak lebih muda dari perkiraanku.
Dulu waktu saya pacaran memang tidak pernah bertemu dengan Sri, alasannya yaitu ia ikut neneknya di Wonosari. Tak lama kemudian keluarlah Indah. Wajahnya tampak tidak sesuai dengan bayanganku, kerana memang ketika itu Indah sudah 42 tahun.
Namun sisa kecantikannya masih terlihat terang begitu pula bodynya masih terawat. Suaminya hari itu sedang mendapat peran lembur (piket) di sebuah Rumah Sakit.
Setelah basa-basi dan bernostalgia karenanya sekitar jam 8 malam saya pamit, alasannya yaitu badanku letih.
Terus terang saya ingin memeluk dan menciumnya menyerupai dulu ketika tadi siang bertemu. Tapi alasannya yaitu suasana rumah tidak memungkinkan karenanya perasaan itu terbawa hingga malam.
Tidak lama saya di Hotel, tiba2 HPku berdering, ternyata Indah yang telphon. Dia memaksa untuk datang mememuiku di hotel. Dengan rasa campur aduk antara senang dan galau saya mengiyakan seruan itu. Hmmmm…… rupanya Indah memendam cita-cita yang sama, pikirku.
Kujemput ia di lobby, turun dari becak Indah kelihatan sudah tidak tabah ingin segera berdua. Dengan segera ku bawa ia ke kamar. Benar saja…… gres juga saya menutup pintu Indah eksklusif menubruk saya dengan pelukan penuh kerinduan dan air mata.
Kami lama berpelukan tanpa kata-kata. Terus terang waktu pacaran dulu kami hanya sebatas berpegangan tangan. Tidak lebih.
Pelan-pelan kehangatan menjalar ditubuhku, entah siapa yang memulai karenanya kami saling berciuman. Kurasakan kehausan dan kerakusan ketika bibir dan pengecap kami saling terpaut.
Lidahnya menjelajah relung mulutku. Lidahku membelai dan mengarahkan lidahnya untuk terus bergerak liar.
Bersamaan dengan itu penisku menegang dengan sempurna. Bukannya menghindar, Indah malah lebih menekankan dan menggeser-geserkan pinggulnya sehingga penisku smakin mengembang.
Dengan penuh nafsu karenanya kami melanjutkan aksi. Sambil tetap bercium kutelusuri sisi tubuhnya dengan tanganku, hingga karenanya mendarat di pantat. Kuremas kedua pantatnya dan sedikit semi sedikit kunaikan roknya, sehingga tanganku menyentuh kulit paha dan pantatnya yang halus itu.
Karena saya paham bahwa kami sudah sangat bernapsu, maka tanganku kananku eksklusif kuselipkan dibalik celana dalamnya.
Kuremas pantatnya yang masih kenyal. Sementara tangan kiriku sudah bergerak menuju payudaranya. Rupanya Indahpun sudah sangat terbakar,tangannya tidak segan-segan mengelus-elus penisku dari luar.
Kami tetap berciuman.
Pelan-pelan tangan kananku bergeser dari pantat menuju memeknya. Ketika jariku mulai membelah dan menemukan clirotisnya maka ketika itulah ia melepaskan ciumannya, ia mendesah dan tubuhnya sedikit bergetar.
Kuusap pelah-pelan clirotisnya, kujelajahi bagian memeknya dari bawah hingga atas. Basahnya sudah tak terbendung.
Aku merasa ia berusaha membuka resleting celanaku. Akhirnya saya lepas pelukannya, saya lepas memeknya. Dia agak terkejut dengan perbuatanku. Kutatap sambil kupegang kedua bahunya.
” kau yakin akan melaksanakan ini…..? tanyaku. Dia cuma mengangguk pelan.
” Aku sudah memimpikan ini dari dulu” lirihnya.
Akhirnya ku bimbing ia ketempat tidur. Kami berciuman kembali. Satu demi satu pakaian terlepas. Kutelusuri tubuhnya yang tidak muda lagi.
Sambil tetap berciuman kubuka pahanya dan tanganku kembali menyelinap lembut pada memeknya. Pada ketika itulah tangannya mencari-cari penisku.
Sambil digenggam diusapnya cairan yang keluar dari penisku dengan ibu jarinya. Rasanya sungguh luar biasa ketika ibu jarinya berputar-putar di ujung penis.
Tak lama saya merasa bahwa penisku di tarik-tarik pelan. Aku tahu ia sudah menginginkan penisku dimasukan. Tapi saya ingin melihat dulu bentuk memeknya.
Maka ku lepas ciumanku dan saya turun kebawah. Sambil duduk diantara kakinya kulebarkan pelah-pelan kedua pahanya. Dan memek itu merekah. Warna merah muncul diantara lebatnya bulu. Penisku makin berdenyut melihatnya.
“aku jilat ya…..” pintaku. Dia membisu saja. Maka lidahku kubenamkan diantara rimbunnya bulu dan menelusuri setiap lekuk lubang basah, hangat dan beraroma khas. Kujilat dan kuisap clirotisnya.
Desahnya sudah berganti dengan erangan. Kedua tangannya mencengram lembut rambutku. Terus kumainkan pengecap menelusuri lembah hingga ke dalamnya.
Sementara penisku terus berdenyut. Dan ketika Indah sudah menarik-narik rambutku, maka saya paham ia sudah menginginkan penisku masuk ke dalamnya.
“ah…mas, masukin sekarang mas…….” lirihnya
Pelan-pelan saya merayap di atas tubuhnya, sambil tetap menciumi perut, dada dan lehernya. Ketika karenanya kepala penisku menemukan lubang kenikmatan itu kasabaran Indah sudah hilang.
Di dekapnya saya dengan satu tangan dan tangan lain menekan pantatku sambil pantat ia diangkat ke atas. AKhirnya penisku masuk dengan tepat ke dalam memeknya. Bukan lagi erangan yang saya dengar tapi berkembang menjadi teriakan tanpa suara.
Malam itu kami menemukan kebahagian dan kenikmatan yang luar biasa. Kami saling menjelajahi tubuh dengan mata, bibir dan lidah. Saling pijat dengan tangan dan kemaluan kami.
Berminggu-mginggu kemudian kami rutin ke hotel. Baik di kota asalku atau di Jakarta. Dan yang mengherankan saya yaitu suaminya “merestui” relasi kami. Belakangan saya tahu bahwa suaminya sudah lama tidak berfungsi.
Pada sekitar bulan ke 4 relasi kami, sesuai dengan kesepakatan saya datang lagi ke rumahnya. Ku ketuk pintu menyerupai biasa.
” silahkan masuk, mas. ” kudengar bukan bunyi Indah, tapi bunyi Sri. Aku pun masuk dan duduk di ruang tamu.
” mbak Indah nya lagi arisan mas, tunggu dulu aja ya.” kata Sri sambil pergi. Akupun mengiyakan. Tak lama kemudian ia muncul lagi dengan membawa teh hangat.
” minum mas” kata Sri. Aku pikir ia akan masuk kedalam lagi tapi ternyata duduk di hadapanku menemaniku ngobrol. Kami ngobrol biasa, saya sama sekali tidak menggoda.
Dan dari obrolan itulah saya tahu bahwa ia dulu nikah usia muda dan sekarang sudah menjanda selama 4 tahun dengan 2 0rang anak perempuan berusia 22 dan 19 tahun. Tidak berapa lama kami mengobrol basa-basi tiba-tiba Sri bertanya:
” jakartanya di mana mas?” kusebutkan satu tempat di jakarta selatan.
“kalau sunter di tempat mana mas? tanya Sri kembali.
“emang ada apa?” balasku bertanya.
“minggu depan saya ada undangan sobat dekatku menikahkan anaknya, di sunter” ujarnya.
” oh…ya kalau kau belum tahu daerahnya nanti saya antar deh, tinggal kasih tahu kapan berangkatnya, nanti saya jemput di statsiun gambir.” kataku. Sri tampak ragu-ragu mendapatkan tawaranku.
“aku nggak enak sama mbak Indah” katanya.
“ya jangan kasih tahu mbak Indah” kataku. Akhirnya dengan sedikit ragu Sri mengiyakan tawaranku. Dan untuk memperlancar urusan kami saling bertukar nomor handphone.
Tak lama kemudian datanglah 2 cewek cantik menerobos masuk. Sri eksklusif mengenalkan mereka padaku.
” ini anak-anakku. yang besar Yani dan adiknya Indah” katanya. Aku hanya terpana melihat kemolekan mereka. Setelah bersalaman merekapun masuk ke dalam.
Tidak lama kemudia Indah datang bersama suaminya.
Singkat kisah malam itu saya dan Indah kembali bertempur di hotel hingga terasa lolos tulang-tulangku. Besoknya ketika saya pulang menggunakan kereta, masuk SMS dari Sri berbunyi : ” Mas, smalam diapain mbakku? hari ini keliatannya lemes banget tapi wajahnya cerah…”
Kubalas SMSnya dengan bahasa yang agak vulgar ” Ku jilat dari atas hingga bawah, yang paling lama di tengah2. main 3 ronde, mas juga lemes”. Seketika itu juga datang balasannya ” Enak dong”. Lalu ku balas ” Mau nggak?”. Tak ada jawaban lagi.
Terus terang semenjak ketika itu yang selalu lebih terkenang di benakku yaitu Sri bukan Indah. Kami lebih sering SMS an, saya sengaja memancing dengan bahasa yang “nyerempet2.”, namun Sri menanggapi dengan cuek saja.
Pada waktu yang telah ditentukan dengan perasaan berbunga dan dengan rencana “jahat” di otakku, saya jemput Sri di Stasiun Gambir. Namun rencanaku terasa awut-awutan seketika.
Ternyata Sri datang dengan anak sulungnya, Yani. Entah perasaanku saja atau memang konkret demikian, saya melihat kerinduan di mata Sri ketika ia melihatku.
Kami bersalaman dan eksklusif berangkat menuju salah satu tempat di Sunter. Ternyata rumah kerabat Sri berada di tempat padat penduduk. Rumah kecil di gang kecil.
Karena suasana mau pesta, maka rumah kecil itu semakin sesak dengan famili dan kerabat yang lain. Aku melihat keraguan di mata Sri ketika ditawari menginap di situ.
“tidurnya gimana ini?” lirih Yani yang sempat saya dengar. Akhirnya saya berinisitif menunjukkan hotel yang erat lokasi itu. Merekapun mau. “Ini kesempatan” pikirku. Selama dalam perjalanan saya menyusun lagi taktik supaya malam itu saya bisa menikmati Sri. Peniskuku sudah tegang semenjak memikirkan itu.
Ketika di hotel saya pesan 2 kamar. Sri dan Yani terlihat heran.
“Lho, kami satu kamar berdua aja, ga usah masing-masing satu kamar” ujar Sri.
“Ini buat aku, lagi malas pulang” kataku. Menjelang sore kami sudah masuk kamar masing-masing. Selama itu pula saya masih gundah memikirkan rencana “jahat” ku. Namun yang namanya setan sungguh tahu kehendaku. Selepas magrib pintuku di ketuk Yani.
” Om, Yani pamit dulu sebentar, ini sobat Yani jemput” katanya sambil mengenalkanku pada seorang cewek sebayanya. Rupanya Yani janjian dengan seseorang.
” kemana?” tanyaku. ” Mau ke Salemba, om. kerumah teman” jawabnya. Hatikupun bersorak. ” nginap aja sekalian” dalam hati.
Nggak lama saya SMS Sri, ” Lagi ngapain nih? saya lagi termangu ga da sobat ngobrol” Nggak ada jawaban hingga 30 menit. Cemas saya menduga-duga.
Tak lama kemudian pintuku di ketuk. Kulihat Sri bangun depan pintu dengan menggunakan pakaian santai. Kaos dan celana selutut. Kupersilahkan ia masuk, dengan ragu-ragu ia melangkah dan duduk di kursi rias. Setelah sedikit berbasa bau saya melancarkan serangan.
” kau masih cantik dan bodymu juga masih OK, kenapa ga nikah lagi?” tanyaku.
“aku masih senang sendiri, takut nikah nanti cerai lagi…..” jawabnya.
“tapi kan kau masih muda, masih punya bebutuhan khusus yang harus dipenuhi” sambungku. Dia menunduk, paham maksudku. Kutunggu jawabannya beberapa saat.
Sebelum ia sempat menjawab saya sudah menyentuh pundaknya dari belakang. Dia nampak terkejut tapi juga tidak menampik. Kugeser perlahan tanganku ke pipinya, ketika itulah ia menampik tanganku.
Aku bukannya berhenti malah ku genggam pergelangan tangannya, kutarik ia untuk berdiri. Dengan perasaan yang masih gundah ku cium ia di bibirnya. Berontak dia.
Kucengkram rambut dan kepalanya supaya ia tidak berontak dan melepas ciumanku. Beberapa ketika kemudian saya merasa lengannya melinggkar di pinggangku, ketika itulah kulepas cengkraman dirambutnya.
Dia mulai membalas liarnya lidahku. Tanpa buang waktu tanganku sudah menelusuri dadanya hingga karenanya berlabuh di memeknya. Dan malam itu kami sempat bercinta 2 babak hingga pintu di ketuk dari luar.
Tok….tok….tok. Kami semua terkejut dan terperangah. Yani sudah pulang. Kulihat jam di dinding 22.20. Dengan terburu-buru Sri mengenakan baju, begitupun aku. Tak lama kemudia Sri keluar.
Besoknya saya melihat perubahan di wajah Yani. Ia yang tadinya ramah mendadak menjadi sangar melihatku. Tak mau bicara baik ke ibunya apalagi ke aku.
Rupanya ia tahu apa yang sudah kami perbuat. Sekitar jam 9 saya antar mereka menuju tempat pesta dan siangnya saya antar kembali mereka ke Stasiun Gambir, pulang ke kota asal.
Satu ahad kemudian saya kembali datang ke kota kecil itu. Terus terang saya lebih menginginkan Sri daripada Indah. Maka yang pertama saya hubungi yaitu SRi.
Dan malam itu saya menghabiskan waktu di hotel dengan Sri. Besoknya di hotel lain saya berduaan dengan Indah. Begitu terus setiap 2 ahad hingga kurang lebih 3 bulan saya menikmati pelayanan dengan 2 gaya dari kakak-adik.
Pada suatu ketika ketika saya sedang di kantor di Jakarta, masuk no telphon yang tidak saya kenal.
” hallo….” jawabku. “Om…..” ku dengar bunyi ragu-ragu. Aku kemudian sadar bahwa ini bunyi Yani.
” ada apa Yan?” tanyaku setelah berbasa basi.
” tolong Yani, Om. Yani ada di jakarta tapi Yani kena razia narkoba. Sekarang ada di Polsek Jakarta ………” jawabnya sambil menyebutkan satu wilayah jakarta. Sorenya saya kunjungi Yani.
Dia nampak lelah namun tidak terlihat cemas. 3 hari Yani di tahan. Dan selama itu pula saya yang mensuplai makanan dan baju-baju.
Pada hari ke 4 Yani di bebaskan alasannya yaitu tidak terbukti. Sedangkan temannya terus ditahan alasannya yaitu terbukti. Aku gundah Yani mau dibawa ke mana.
Ke rumahku terang ga mungkin. Akhirnya saya cari hotel erat rumah. Setelah saya ajak makan di hotel itu saya terus pulang, sedangkan Yani eksklusif masuk kamar.
Jam 8 malam itu saya coba telphon Yani untuk sekedar menanyakan kabar.
“Om, Yani perlu obat maag sama sikat gigi” katanya. ” Oke, ntar Om antar” jawabku. Dalam perjalanan ke hotel itulah pikiran kotorku muncul. Ketika saya mengetuk pintu Yani hanya melongokan kepalanya di pintu.
Dia nampak ragu-ragu mempersilahkan saya masuk ke dalam. ” Boleh Om masuk?. Om mau ngobrol sebentar ngomongin soal relasi om dan mamahmu”. Akhirnya saya dipersilahkan masuk.
Dan ketika itulah saya dihadapkan pada pemandangan yang luar biasa. Yani hanya mengenakan tangtop tanpa BH dan celana jins pendek sekali hampir pangkal paha.
Payudaranya menggelembung dengan sehat, pentilnya samar-samar menonjol keluar. Rupanya ia sadar saya memperhatikan dan cepat-cepat menutupnya dengan selimut.
” Yani…..om mohon jangan di tutupi. Kamu punya tubuh luar biasa mengagumkan sayang kalo tidak ada yang menkmati” kataku langsung. Merah padam mukanya mendengarku berkata begitu. Antara aib dan marah menjadi satu.
Tapi setan sudah terlanjur menguasaiku. Dengan segala rayuan dan bujukan karenanya Yani mau melepaskan selimutnya. ” Boleh saya sentuh Yan? di luarnya aja…….” pintaku.
Yani eksklusif menolak sambil menyilangkan tangannnya di dada. Juga dengan rayuan dan bujukan karenanya saya di ijinkan memegang putingnya dari luar.
Sambil kami duduk di sisi tempat tidur, saya mulai menyentuh putingnya. Dia tidak bereaksi dengan wajah menoleh jauh. Ku sentuh lagi putingnya yang sebelah kanan. Masih belum bereaksi juga.
Ketika saya pilin putingnya dengan kedua jariku, mulailah ia sedikit menggelinjang dan kulihat putingnya mulai tegang. Kuputar jariku di kedua putingnya, semakin jelaslah tonjolan di kaosnya.
Aku sudah tak tahan ini menyelusupkan tanganku ke balik tangtopnya. Namun tanganku di cegah ketika gres hingga perut. sementara tangan kiriku masih bergerilya di luar kaos tangan kananku mulai naik perlahan dari perut.
Aku mencicipi pegangan tangan ia mengendur, karenanya sampailah tanganku kepuncak bukit kenikmatan dengan bebas. Ketika kudengar bunyi rintihan halus, pada ketika itulah saya yakin bahwa permainan ini bisa hingga tuntas. Maka mulaikah saya meremas, menjilat dan meghisap putingnya, perutnya, clirotisnya dengan lembut.
Dan malam itu saya mendapatkan segalanya. Walaupun Yani sudah tidak perawan, namun ia masih merasa sakit ketika penisku masuk ke memeknya.
Karena penisku yaitu yang kedua kalinya masuk memeknya setelah ia melaksanakan yang pertama dengan pacarnya 2 tahun yang lalu. Malam itu kami tidak tidur, saya mengajari teori dan praktek bercinta pada Yani.
Selain menyampaikan pengertian bahwa hubunganku dengan ibunya yaitu sebatas memenuhi kebutuhan sex.
Singkat kisah hari-hari selanjutnya saya disibukan oleh SMS dan deringan HP dari mereka bertiga Indah, Sri dan Yani. Ketika saya pulang ke kotaku, maka ku gauli ketiganya dengan cara digilir dengan jadwal yang tersusun rapi sehinga tidak terjadi “tabrakan”.
Orang ke empat yang saya gauli bergotong-royong bukan anggota keluarga Indah, tapi calon anggota keluarga. Sebut saja namanya Nancy. Ia yaitu pacar dari anaknya Indah yang berjulukan Roy.
Kisahnya bermula dari kunjunganku ke rumah Indah. Pada ketika itu tiba-tiba saya mendapatkan telephon dari kantor di Jakarta. Dikatakan saya harus menghubungi Mr.X. No HP Mr.X ini ternyata CDMA.
Karena perkiraanku pembicaraan akan panjang maka saya meminjam HP anaknya Indah (bernama Roy) yang kebetulan juga CDMA. Maka sore itu atas ijin Roy saya pinjam hingga besok CDMA nya.
Malam hari ketika saya sedang makan di luar, tiba-tiba HP Roy berbunyi.
” Hallo” Jawabku. Aku sudah siap-siap mendengar bunyi Mr. X. Namun ternyata yang kudengar bunyi merdu seorang perempuan.
” Hallo juga, ini siapa?” jawabnya ragu-ragu. Setelah saling bertanya gres saya tahu kalau yang telephon itu yaitu tunangan Roy. Aku menjelaskan bahwa malam itu HP Roy saya pinjam.
Dengan segala caraku karenanya kami berkenalan, bahkan ngobrol hingga panjang lebar. Rupanya obrolan kami nyambung sehingga kami berjanji akan saling menelephon lagi.
Singkat kata Nancy rupanya tipe orang yang penasaran akan sex namun takut untuk melakukannya. Dengan Roy hanya sebatas bercumbu tidak mau lebih dari itu.
Karena ia sadar bahwa ia mudah “panas” maka bercumbu dengan Roy hanya sebatas dada. Dia ingin lebih dari itu tapi takut kebablasan, katanya.
Nancy banyak bertanya kepadaku soal Sex, hingga karenanya kami ber Phone sex. Namun lama-lama kami berdua penasaran juga. Akhirnya dengan suatu perjanjian saya bisa membawa Nancy ke hotel.
Perjanjian itu adalah: saya boleh mengeksplorasi tubuh ia dan saling memberi kenikmatan namun saya tidak boleh memasukan penisku ke memeknya. Dia masih perawan!!.
Ketika kutanyakan mengapa dengan aku, bukan dengan Roy?. Jawabnya yaitu : Dia tidak yakin Roy bisa menahan penisnya masuk ke memeknya. Komitmen itu saya pegang teguh.
Ternyata dugaanku dan dugaan ia benar. Nancy sangat mudah terbakar. Ketika saya cium, bibirnya seolah magnet. eksklusif terpaut dengan bibirku, Tak mau lepas.
Seolah kami sudah mengenal semenjak lama, kami eksklusif melepaskan seluruh pakaian . Ketika saya akan melepaskan CDnya, kulihat bulatan berair sudah terpampang diCDnya.
Kujilati seluruh tubuhnya, ia hanya bisa mendesah dan merintih. Kujilati pula clirotisnya, kujelajahi seluruh lekukan memeknya dengan lidahku. Kutempelkan kepala penis ku ke lubang memeknya, ke clirotisnya.
Ku usap-usap clirotisnya dengan kepala penisku. Ku lihat ia beberapa kali orgasme. Hari itu saya berpesta dengan tubuhnya. Tapi saya tidak memasukan penisku ke memeknya!!!.
Spermaku keluar dengan cara di kocok dengan tangan atau payudaranya. Bulan Maret 2010 kemarin Nancy sudah berani mengeluarkan spermaku di dalam mulutnya.
Dia berjanji kalau sudah menikah, kami akan selalu bertemu untuk menuntaskan rasa yang tertunda.

Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, Cerita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
3

Cerita Dewasa Ngentot Cewek Hamil Tiga Bulan

Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Bokep Terbaru, Cerita Model Seksi, Bacaan Porno Terlengkap. Baca Kisah Sex berikut ini "Cerita Dewasa Ngentot Cewek Hamil Tiga Bulan".

Awal 1990, saya kuliah di Universitas Nagri di Surabaya. Saya punya pacar berjulukan Dini yang umurnya tiga tahun dibawah saya. Kami pacaran lumayan lama, sekitar 4 tahun. Bodinya seksi, cantik dan pintar. Cerita Dewasa : Terus terang banyak sahabat yang cemburu, soalnya saya waktu itu gondrong, kumel dan metal. Maklum gitaris band rock amatiran. Biarpun begitu, rata-rata sahabat se-band saya sekarang sudah top dan sering tampil di TV. Sebutin saja 3 grup musik asal Surabaya, bukannya sombong, 10 tahun lalu mereka penah ngeband bersama saya. Dini putus semenjak saya kembali ke Jakarta (1994) dan bekerja di bank swasta. Saya sendiri alhasil dapat pengganti Dini, dan sudah menikah semenjak 1999 lalu.


Tidak disangka, Juli 2001 saya bertemu dengannya. Ternyata ia sudah menikah dengan sahabat band saya. Saya tidak akan menyebutkan nama band-nya, yang terperinci mereka sekarang nomor satu dan gres konser bersama grup Inggris di Senayan. Kami pun mengobrol bersama (sama suaminya juga) dan bercerita masa lalu. Mereka tinggal di Bekasi, sedang saya di daerah Jakarta Selatan. Periode Agustus-September, band mereka tur keliling Indonesia. Waktu itu Dini sedang hamil 5 bulan dan ia tidak mau tinggal sendirian, ia menginap di markas band, yang jaraknya hanya 5 km dari rumah saya, tentu saja ada beberapa kru band yang menemaninya.

Saya pun rajin datang, bukannya ngelaba, tapi asyik ngobrol perihal band dan alat musik bersama krunya. Dini kadang ikutan, tapi lebih sering di kamar nonton VCD. Kejadiannya seminggu kemudian. Krunya terpaksa menyusul band ke Palu (Sulawesi), alasannya ialah panitia di sana ‘bloon’ tidak mengerti mengeset alat plus panggung. Karena sendirian lagi, saya mengajak Dini menginap di rumah. Toh istri saya sudah kenal dengannya dan suaminya. Oh ya, istri saya tidak tahu bila Dini itu mantan saya.
Waktu itu Rabu malam. Istri saya semenjak pagi ke rumah orangtuanya, alasannya ialah ayahnya sakit (padahal hanya kangen) dan gres pulang Kamis siang. Saya dan Dini pun mengobrol lagi sambil nonton VIP yang diputar di AXN.
“Kamu masih seneng cewek yang toketnya segede Pamela Anderson..?” tanya Dini iseng.
“Seneng sih, asal kenceng. Cuma bila kegedean malah ngeri..,” jawab saya hirau taacuh sambil menyalakan laptop.
“Eh katanya banyak situs porno Indonesia ya..? Bukain dong..!” ujarnya tiba-tiba.
“Entar bila kepingin gimana..? Banyak setan lewat lo..,” jawab saya.
“Udah deh.., bukain dulu..!”

Saya tahu Dini dulu termasuk yang punya nafsu besar dalam sex. Jaman pacaran, kami rajin menonton BF bersama biar menambah pengetahuan. Setengah jam kemudian rautnya sudah berubah merah padam.
“Emang bener ada kisah asli kaya gini..?” tanya Dini.
“Lu mau bikin cerita..?” tantang saya.
“Gua nggak mampu ngarang,” lanjutnya sambil tangannya menggaruk-garuk selangkangan.
Jangan ngeres dulu, doi pakai long dress ibu-ibu hamil. Dia menggaruk karena memang gatal. Tidak banyak bicara, saya pribadi duduk di sebelahnya, dan akal-akalan membaca bersama sambil menempelkan ke pipinya.


“Andi, gua mampu horny nih. Tolongin, ya.. tapi kesepakatan lo jangan bilang siapa-siapa..”
Jawabannya hanya satu, “Beres..”
Saya pun mengusap pahanya sambil mencium pipinya. Eh, beliau malah kasih bibir dan melumat pengecap saya. Wah, masih galak juga nih anak.
“Ndi, si Roni (suaminya) udah 3 bulan tak mau main. Padahal lu tahu sendiri, orang hamil kan nafsunya gede,” kata Dini sambil menggosok celana pendek saya.

Biarpun hamil, body Dini masih cihuy. Kulitnya seputih salju dan susunya lumayan kencang, tidak terlalu besar. Kami pun berpagutan sambil mencopot baju masing-masing.
“Ndi, jangan kaget, ya..” bilang Dini pelan sambil melolosi longdresnya.
Ternyata ia tidak memakai celana dalam.
“Soalnya dari tadi saya udah 5 kali pipis (katanya sih bawaan orang hamil) jadi males pakai. Lagian, lu kan nggak nafsu ama ibu hamil.” jawabannya kali ini salah.

Melihat pemandangan itu sangat menggiurkan. Bayangkan, perutnya membuncit dan bulu kemaluannya bertaburan lebat. Padahal dulu saya paling tidak mau bila melihat cewek gendut, apalagi berbulu lebat. Ternyata seksi sekali.
“Ndi, gua susah posisi macem-macem. Standar aja ya..,”
Saya bangun dan ia duduk di karpet sambil menghisap batang kemaluan saya.
“Gila nih barang. Ditinggal 9 tahun malah tambah gede,” katanya diiringi bunyi slurp.., slurp.
Saya tidak dapat menjawab, hanya merem melek keenakan. Dari belasan cewek yang pernah saya tiduri, Dini ialah ‘the best sucker’. Hisapannya lebih kencang dari vacuum cleaner.

Cerita Dewasa : Sepuluh menit kemudian giliran saya menyapu. Bulu kemaluannya yang lebat dan tebal ternyata membuat batang kejantanan saya semakin tegang. Posisi saya yang jongkok mendapat pemandangan baru, hutan lebat dengan perbukitan plus gunung kembar. Perutnya yang hamil 5 bulan ternyata membuat sensasi tambahan. Lidah saya pun menerobos bibir vaginanya dan mengenai bab dalam.
“Aduuh.., itilku kena, terus, jangan ditarik..!” kata Dini sambil tangannya menjambak rambut saya.
Hanya lima menit kemudian ia berteriak, “Ndi.., mau keluar nih. Telan ya..!”
Saya jilat cairan yang membasahi vaginanya.
“Gilaa, enak bener. Nyesel nih gua putusin elu,” teriak Dini sambil bersandar di sofa.
“Tunggu setengah jam, ya.. Ndi. Entar gantian elu gua puasin.”

Kami pun kembali mengakses vocland.com untuk mencari bokep sambil ngemil Pringles, makanan favorit kami zaman dulu.
“Ndra, lagi dong, cepetan..! Entar istrilu dateng, berabe kan..?”
Kami pindah ke ruang tamu. Kami dulu suka eksperimen di banyak sekali lokasi. Dapur, taman, loteng, bioskop dan lain-lain. Dini ternyata punya cara baru. Ia menari erotis diiringi lagu Samba Pati-nya Santana. Kemudian menarik kepala saya dan dipaksa menghisap payudaranya. Awalnya enak benar, lama-lama kok ada yang aneh. Tahunya, menetes ASI!
“Gua kan hamil, ya.. keluar dong. Rasanya enak bener bila keluar. Gua sering maen pakai alat pengisap ASI sambil onani,” kata Dini tanpa ditanya.

Ia kemudian mendorong wajah saya dan memencet putingnya hingga ASI menyemprot deras ke wajah saya. Persis ibarat gambar di websites lactating. Kemudian ia tiduran dan batang kemaluan saya dijepit di antara payudaranya yang masih menetes susu. Waduh, sensasinya luar biasa. Lalu inilah yang ditunggu. batang kemaluan saya digenggam kencang dan seakan dipaksa masuk liang vaginanya.
“Goyang, Ndi, yang keras kaya dulu..!”
Ternyata vagina cewek hamil itu lebih kencang ketimbang biasa, batang kemaluan saya serasa dipijat.

Selama melaksanakan senggama, Dini masih mengarahkan putingnya ke wajah saya, hingga susunya menciprati mata. Hampir 20 menit kami bergulat di karpet ruang tamu.
“Ndi, jangan berhenti. Lu tunggu semenit lagi, dan rasain ya..!”
Saya kira beliau mau keluar lagi. Tiba-tiba terasa penis saya basah. Dini kencing!
“Ndi, jangan dicabut, please.. Gua gres sekarang nih kesampaian.”
Ternyata Dini ingin bersenggama sambil kencing. Saya pernah baca di buku ‘rahasia memuaskan suami’ teknik ini. Memang hebat. Kalian pada cobain deh. Nafsu saya tidak tahan mencicipi sensasi ini.

“Gua mau keluar Din. Di dalam apa dimana..?” tanya saya tersengal-sengal.
“Di tetekku aja. Biar kulitnya halus dan kencang.”
Saya cabut batang kemaluan saya dan sama tangannya pribadi dijepit ke tengah payudaranya. Beberapa detik kemudian, muncrat lah sperma saya membanjiri gunung kembarnya. Bayangkan posisinya teman. Kaki saya hampir patah, alasannya ialah saya berjinjit (Dini kan perutnya hamil) jadi tidak mampu telentang di atasnya.

Saya kira permainan telah selesai. Tapi Dini punya sesi tambahan. Batang kemaluan saya yang belepotan peju ditambahkan ASI yang terus-terusan diperas, kemudian diletakkan di dalam tangannya dan diminum. Saya yang melamun pribadi ditarik dan kami berciuman.
“Biar adil. Gua minum peju, elu minum peju memiaw dan kita berdua dapat susu.”

Kami kembali ke ruang tengah nonton TV sambil makan Pringles. Rasa asinnya dapat mengusir ‘nek minum ASI dan sperma.
“Roni tak suka gaya macem-macem. Mungkin ia kebanyakan main sama fans ceweknya, jadi bosan. Ya.. ini pembalasannya. Cuma, gua cinta Roni,” katanya kalem.
Saya hanya tersenyum, alasannya ialah saya tahu persis fans cewek grup ini banyak sekali. Waktu main di Senayan kemarin, saya kecipratan satu cewek SMA yang body-nya aduhai. Mereka menginap di hotel H yang mewah di Senayan, jadi mudah sekali mengajak fans-nya. Lagian itu hanya fans, pikir saya manajernya.

“Elu masih sering nonton BF nggak? Ini gaya sering gua baca di majalah K dan buku lain. Pingin nyobain, tapi gua kan bukan cewek gampangan. Lagian udah kawin,” tukas Dini sambil mengelus batang kemaluan saya.
“Din, bentar ya.. gua mau kencing nih..!” kata saya.
“Eit.., ntar dulu. Kini giliran elu nyobain.”
Ia kembali membuka vaginanya dan menarik batang penis saya.
“Masukkin terus pipis di dalem..!” perintahnya.
Saya pun menurut. Waduh rasanya lebih jago daripada sperma muncrat.
“Enak kan..?” lanjutnya ringan.

Kemudian kami mandi air panas bersama dan tidur. Hanya saja ia tidur di kamar depan, saya di kamar saya. Daripada tertangkap berair istri mampu perang kaya USA vs Afganistan. Dan sekali lagi dugaan saya salah. Esoknya istri saya datang sambil tersenyum.
“Enak main ama Dini..?” tanyanya.
Saya awalnya tidak mau mengaku. Baru kemudian istri saya bilang, “Itu emang rencana kita. Dini udah minta izin. Makanya saya nginep di rumah bokap. Aku sih setuju aja, asal nanti kita mampu main bertiga.”
Saya hanya terbengong.

Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, Cerita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
3

Cerita Sex Tak Tahan Melihat Body Montok Tetanggaku

Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Bokep Terbaru, Cerita Model Seksi, Bacaan Porno Terlengkap. Baca Kisah Sex berikut ini "Cerita Sex Tak Tahan Melihat Body Montok Tetanggaku".

Namaku Didi. Sekarang saya berkerja di salah satu perusahaan multinasional di kota B dan tinggal di tempat J semenjak tahun 1995. Cerita yang akan saya tuturkan di bawah ini yaitu cerita faktual yang terjadi beberapa tahun yang silam. Dulu saya tinggal bersama kedua orang tuaku di sebuah kompleks kecil milik sebuah instansi pemerintah dan dihuni oleh beberapa keluarga saja di dalam satu pagar. Tetangga yang paling erat dengan kami yaitu Om Yan dan Tante Titik yang mempunyai 2 orang anak laki-laki yang masih kecil-kecil, yang besar berumur 3 tahun dan yang kecil berumur 1 tahun.


Pada dikala saya kelas 3 SMA, Om Yan secara kebetulan ditugaskan oleh kantornya untuk mencar ilmu ke Jepang (terakhir saya gres tahu kalau Om Yan bertugas selama 1 tahun lebih). Dan tinggallah Tante Titik dan 2 orang anaknya beserta 1 orang pembantunya. Keadaan tersebut membuat saya berhasrat untuk selalu bertandang ke rumahnya dengan alasan ingin bermain dengan kedua anaknya. Alasan tersebut cukup berpengaruh sebab orang bau tanah saya dan Tante Titik tidak pernah curiga sama sekali. Seringkali saya juga memergoki Tante Titik sedang berganti pakaian di kamar dengan tidak menutup pintunya, atau mandi dengan tidak menutup pintunya.

Sampai pada suatu ketika, dikala saya sedang bertandang ke rumahnya dan hanya Tante Titik yang ada di rumah. Kedua anaknya dan pembantunya di-hijrah-kan ke tempat KD, sebelah timur kota BT sebab Tante Titik sering berpergian. Dan kebetulan juga orang bau tanah saya dikala itu sedang ditugaskan ke luar daerah. Dengan ikutnya ibu dan kakak saya, yang berarti saya juga hanya tinggal sendiri di rumah.

Sekedar gambaran, Tante Titik itu mempunyai tinggi tubuh sekitar 165 cm, mempunyai pinggul yang besar, buah pantat yang bulat, pinggang yang ramping, dan perut yang agak rata (ini dikarenakan senam aerobic, fitness, dan renang yang diikutinya secara berkala), dengan didukung oleh buah dada yang besar dan bundar (belakangan saya gres tahu bahwa Tante Titik memakai Bra ukuran 36B untuk menutupinya). Dengan wajah yang seksi menantang dan warna kulit yang putih bersih, wajarlah bila Tante Titik menjadi harapan banyak lelaki baik-baik maupun lelaki hidung belang.

Hingga pada suatu sore, dikala saya mendengar ada bunyi langkah kaki di luar, kemudian saya intip dari jendela dan ternyata Tante Titik gres pulang. Tidak lama kemudian saya ingin ke kamar mandi (kamar mandinya terletak di luar masing-masing rumah dan ada beberapa tempat yang berjejer). Di dikala saya keluar dari kamar mandi, saya berpapasan dengannya. Dia memakai kimono tipis warna biru muda dengan handuk di pundak dan rambut yang diikat agak ke atas sehingga leher jenjangnya terlihat seksi sekali. Sedangkan saya hanya memakai celana pendek tanpa kaos (memang kalau di rumah, saya jarang memakai kaos/baju).

"Malem Tante", saya sapa ia semoga terlihat agak sopan.
"Malem Mas Dio.. kok belum tidur..?" balasnya.
Dan tanpa saya sadari tiba-tiba ia mencekal tangan saya.
"Mas Dio.." katanya tiba-tiba dan terlihat agak sedikit ragu-ragu.
"Ya Tante..?" Jawab saya.
"Eee.. nggak jadi deh.." Jawabnya ragu-ragu.
"Ada yang mampu saya bantu, Tante..? Tanya saya agak resah sebab melihat keragu-raguannya.

"Eee.. nggak kok. Tante cuma mau nanya.." jawabnya dengan ragu-ragu lagi.
"Mas Dio di rumah lagi ngapain sekarang..?" tanya dia.
"Lagi nonton. Emangnya kenapa Tante..?" saya tanya ia lagi.
"Lagi nonton apa sih..?" tanya ia agak menyelidik.
"Lagi nonton BF Tante", kata saya yang tidak tahu dari mana tiba-tiba saya mendapat keberanian untuk bilang begitu.
"BF..? tanya ia agak kaget.
"Maksudnya Blue Film..?"
"Iya.. emangnya ada apa sih Tante? Kalo tidak ada apa-apa saya mau nerusin nonton lagi nih.." kata saya dengan agak memaksa.
"Eee.. mau bantuin Tante nggak..? Soalnya Tante agak takut sendirian di rumah. Kalau kau mau sambil nonton juga boleh kok. Bawa aja filmnya ke rumah, Tante juga punya beberapa film ibarat itu. Nanti Tante temenin nontonnya deh", kata ia agak merajuk.
"Iya deh Tante, saya pilihin dulu yang bagus", kataku tanpa ba bi Bu pribadi setuju dengan ajakannya.

Pucuk di cinta ulam tiba, sesuatu yang sangat saya impikan semenjak lama untuk mampu berdua dengan Tante Titik. Hari ini saya akan berdua dengannya sambil menonton Film Biru dengan harapan mampu melihat keindahan ragawi seorang wanita yang saya puja-puja dari dulu dan bahkan (mungkin) mencicipi kenikmatannya juga.

Singkat kata saya pribadi memilah-milah video yang bagus-bagus (Maklum, waktu itu masih jamannya Betamax, belum VCD). Kemudian saya masuk rumah Tante Titik lewat pintu dapurnya. Saya setel lebih dulu video yang tadi saya tonton dan belum habis. Beberapa menit kemudian Tante Titik masuk lewat pintu dapur juga dengan bau tubuh yang segar, apalagi rambutnya juga kelihatan berair ibarat habis keramas. Saya selidiki tiap sudut tubuhnya yang masih terbalut kimono tipis biru muda yang agak menerawang tersebut, sehingga dengan leluasa mata saya melihat puncak buah dadanya sebab ia tidak memakai Bra. Tanpa kusadari, di antara degupan jantungku yang terasa mulai keras dan kencang, kejantananku juga sudah mulai menegang. Dengan kalem ia duduk sempurna di sebelahku, dan ikut menonton film BF yang sedang berlangsung.

"Cakep-cakep juga yang main.." kesudahannya ia memberi komentarnya.
"Dari kapan Mas Dio mulai nonton film beginian..? tanyanya.
"Udah dari dulu Tante.." kataku.
"Mainnya juga bagus dan tidak kasar. Mas Dio udah tahu rasanya belum..? tanya ia lagi.
"Ya belum Tante. Tapi kata temen-temen sih enak. Emang kenapa Tante, mau ngajarin saya yah? Kalau iya boleh juga sih", kataku.
"Ah Mas Dio ini kok jadi bandel yah sekarang", katanya sambil mencubit lenganku.
"Tapi bolehlah nanti Tante ajarin biar kau tahu rasanya", tambahnya dengan sambil melirik ke arahku dengan agak menantang.

Tidak lama berselang, tiba-tiba Tante Titik menyenderkan kepalanya ke bahuku. Seketika itu pula saya pribadi kaget dan resah sebab belum pernah sama sekali melaksanakan perbuatan itu. Tapi saya hanya mampu pasrah saja oleh perlakuannya. Sebentar kemudian tangan Tante Titik sudah mulai mengusap-ngusap tempat tubuhku sekitar dada dan perut (karena lagi-lagi saya tidak memakai kaos dikala itu). Rangsangan yang ditimbulkan dari usapannya cukup membuat saya nervous sebab itu yaitu kali pertama saya diperlakukan oleh seorang wanita, apalagi wanita tersebut tidak lain yaitu Tante Titik. Kejantananku sudah mulai semakin berdenyut-denyut siap bertempur.

Kemudian Tante Titik mulai menciumi leherku, lalu turun ke bawah hingga dadaku. Sampai di tempat dada, ia menjilat-jilat ujung dadaku, secara bergantian kanan dan kiri. Tangan kanan Tante Titik juga sudah mulai masuk ke dalam celanaku, dan mulai mengusap-usap kejantananku.

Karena dalam keadaan yang sudah sangat terangsang, saya mulai memberanikan diri untuk membuka kimono yang ia pakai. Aku remas payudaranya, dan saya pilin-pilin ujung dari payudara yang berwarna kecoklatan dan sangat sensitif itu, terkadang saya juga mengusap ujung-ujung tersebut dengan ujung jariku. "Ssshh.. ya situ sayang.." katanya setengah berbisik. "Ssshh.. oohh.."

Tiba-tiba ia memaksa lepas celana pendekku, dan diusapnya kejantananku. Akhirnya bibir kami saling berpagutan dengan penuh nafsu yang sangat membara. Dan ia mulai menjulur-julurkan lidahnya di dalam mulutku. Sambil berciuman tanganku mulai bergerilya ke bawah hingga pada permukaan celana dalamnya, yang rupanya sudah mulai menghangat dan agak lembab. Aku melepaskan celana dalam Tante Titik, sehingga kami berdua menjadi telanjang bulat. Kutempelkan jariku di ujung atas permukaan kemaluannya. Dia kelihatan agak kaget ketika mencicipi jariku bermain di tempat seputar klitorisnya. Lama kelamaan Aku masukkan satu jariku, lalu jari kedua dan kemudian saya tambah satu jari lagi sehingga menjadi tiga ke dalam liang kemaluannya. "Aaahh.. sshh.. oohh.. terus sayang.. terus.." bisik Tante Titik.

Ketika jariku terasa mengenai selesai lubangnya, tubuhnya terlihat agak bergetar. "Ya.. terus sayang.. terus.. aahh.. sshh.. oohh.. aahh.. terus.. sebentar lagi.. teruuss.. oohh.. aahh.. aarrgghh.." kata Tante Titik.

Seketika itu pula ia memeluk tubuhku dengan sangat erat sambil menciumku dengan penuh nafsu. Aku mencicipi bahwa tubuhnya agak bergetar (yang kemudian gres saya tahu bahwa ia sedang mengalami orgasme). Beberapa dikala tubuhnya mengejang-ngejang menggelepar dengan hebatnya. Yang diakhiri dengan terkulainya tubuh Tante Titik yang terlihat sangat lemas di sofa.
"Saya kapan Tante, kan saya belum..?" Rujukku.
"Nanti dulu yah sayang, sebentar.. beri Tante waktu untuk istirahat sebentar aja", kata Tante Titik.
Tapi sebab sudah sangat terangsang, kuusap-usap bibir kemaluannya hingga mengenai klitorisnya, saya dekati payudaranya yang menantang itu sambil kujilati ujungnya, sesekali kuremas payudara yang satunya. Sehingga rupanya Tante Titik juga tidak tahan mendapatkan paksaan rangsangan-rangsangan yang kulakukan terhadapnya. Sehingga sesekali terdengar bunyi erangan dan desisan dari mulutnya yang seksi. Aku usap-usapkan kejantananku yang sudah sangat amat tegang di bibir kemaluannya sebelah atas. Sehingga kemudian dengan terpaksa ia membimbing batang kemaluanku menuju lubang kemaluannya. Pelan-pelan saya dorong kejantananku semoga masuk semua.

Kepala kejantananku mulai menyentuh bibir kewanitaan Tante Titik. "Ssshh.." rasanya benar-benar tidak mampu kubayangkan sebelumnya. Lalu Tante Titik mulai menyuruhku untuk memasukan kejantananku ke liang kewanitaannya lebih dalam dan pelan-pelan. "Aaahh.." gres masuk kepalanya saja saya sudah tidak tahan, lalu Tante Titik mulai menarik pantatku ke bawah, supaya batang kejantananku yang perkasa ini mampu masuk lebih dalam. Bagian dalam kewanitaannya sudah terasa agak licin dan basah, tapi masih agak seret, mungkin sebab sudah lama tidak dipergunakan. Namun Tante Titik tetap memaksakannya masuk. "Aaagghh.." rasanya memang benar-benar luar biasa walaupun kejantananku agak sedikit terasa ngilu, tapi nikmatnya luar biasa. Lalu terdengar bunyi erangan Tante Titik.

Lalu Tante Titik mulai menyuruhku untuk menggerakkan kemaluanku di dalam kewanitaannya, yang membuatku semakin gila. Ia sendiri pun mengerang-ngerang dan mendesah tak karuan. Beberapa menit kami begitu hingga suatu saat, ibarat ada sesuatu yang membuat liang kewanitaannya bertambah licin, dan makin lama Tante Titik terlihat ibarat sedang menahan sesuatu yang membuat ia berteriak dan mengerang dengan sejadi-jadinya sebab tidak kuasa menahannya. Dan tiba-tiba kemaluanku terasa ibarat disedot oleh liang kewanitaan Tante Titik, yang tiba-tiba dinding-dinding kewanitaannya terasa ibarat menjepit dengan berpengaruh sekali. Aduuh.. kalau begini saya makin tidak tahan dan.. "Aaarrgghh.. sayaang.. Tante keluar lagii.." jeritnya dengan keras, dan makin basahlah di dalam kewanitaan Tante Titik, tubuhnya mengejang berpengaruh ibarat kesetrum, ia benar-benar menggelinjang hebat, membuat gerakannya semakin tak karuan. Dan kesudahannya Tante Titik terkulai lemas, tapi kejantananku masih tetap tertancap dengan mantap.

Aku mencoba membuatnya terangsang kembali sebab saya belum apa-apa. Tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kanan, sambil sesekali kupilin-pilin ujungnya dan kuusap-usap dengan ujung jari telunjukku. Sedang payudara kirinya kuhisap sambil menyapu ujungnya dengan lidahku. Tiba-tiba ibarat ada sesuatu yang keluar dan terasa hirau taacuh dari ujung payudaranya, yang ternyata susu. "Ssshh.. shh.." desahan Tante Titik sudah mulai terdengar lagi. Aku memintanya untuk berganti posisi dengan doggy style. Awalnya ia menolak dengan alasan belum pernah bersetubuh dengan gaya itu, setelah saya beritahu alasanku, kesudahannya ia mau juga dengan berpesan semoga saya tidak memasukkan air maniku ke dalam liang kewanitaannya.

Aku mencoba untuk menusukkan kejantananku ke dalam liang kewanitaannya, pelan tapi pasti. Kepala Tante Titik agak menengok ke belakang dan matanya melihat mataku dengan sayu, sambil ia gigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang timbul. Sedikit demi sedikit saya coba untuk menekannya lebih dalam. Kejantananku terlihat sudah tertelan semuanya di dalam kewanitaan Tante Titik, lalu saya mulai menggerakkan kejantananku perlahan-lahan sambil menggenggam buah pantatnya yang bulat. Dengan gaya ibarat ini, desahan dan erangannya lebih keras, tidak ibarat gaya konvensional yang tadi.

Aku terus menggerakkan pinggulku dengan tangan kananku yang kini meremas payudaranya, sedangkan tangan kiri kupergunakan untuk menarik rambutnya semoga terlihat lebih merangsang dan seksi. "Ssshh.. aarrgghh.. oohh.. terus sayaang.. terus.. aarrgghh.. oohh.." Tante Titik terus mengerang.

Beberapa menit berlalu, kemudian Tante Titik merasa akan orgasme lagi sambil mengerang dengan sangat keras sehingga tubuhnya mengejang-ngejang dengan sangat hebat, dan tangannya mengenggam ganjal sofa dengan sangat erat. Beberapa detik kemudian adegan depan tubuhnya jatuh terkulai lemas menempel pada sofa itu sambil lututnya terus menyangga pantatnya semoga tetap di atas. Dan saya merasa kejantananku mulai berdenyut-denyut dan saya memberitahukan hal tersebut padanya, tapi ia tidak menjawab sepatah kata pun. Yang keluar dari mulutnya hanya desahan dan erangan kecil, sehingga saya tidak berhenti menggerakkan pinggulku terus.

Aku mencicipi tubuhku agak mengejang ibarat ada sesuatu yang tertahan, sepertinya semua tulang-tulangku akan lepas dari tubuhku, tanganku menggenggam buah pantat Tante Titik dengan erat, yang kemudian diikuti oleh keluarnya cairan maniku di dalam liang kewanitaan Tante Titik. Mata Tante Titik terlihat agak terbelalak ketika mencicipi ada cairan yang memenuhi adegan dalam dari kewanitaannya. Sesaat kemudian saya ambruk di atas tubuhnya, tubuhku terasa sangat lemas sekali. Setelah kami berdua merasa agak tenang, saya melepaskan kejantananku dari liang nikmat milik Tante Titik.

Dengan agak malas Tante Titik membalikkan tubuhnya dan duduk di sampingku sambil menatap tajam mataku dengan verbal yang agak terbuka, sambil tangan kanannya menutupi permukaan kemaluannya.
"Kok dikeluarin di dalem sih Mas Dio..? tanyanya dengan bunyi yang agak bergetar.
"Tadi kan saya sudah bilang ke Tante, kalau punya saya berdenyut-denyut, tapi Tante nggak ngejawab sama sekali.." kataku membela diri.
"Ya kan terasa kalau sudah mau keluar.." katanya.
"Saya mana tahu rasanya kalau mau keluar.. ini kan yang pertama buat saya. Makara saya belum tahu rasanya.." jawabku.
"Terus entar kalau jadi gimana?" katanya lagi.
"Nggaakk tahu Tante.." jawabku dengan bunyi yang agak terbata-bata sebab takut dengan resiko tersebut.
"Ya sudahlah.. tapi lain kali kalau sudah kerasa kayak tadi itu pribadi buru-buru dicabut dan dikeluarkan di luar ya..?" katanya menenangkan diriku yang terlihat takut.
"I.. iiya Tante.." jawabku sambil menunduk.

Lalu Tante Titik bangkit menghampiri video dan TV yang masih menyala, dan mematikannya. Kemudian tangannya dijulurkan, mengajakku pindah ke kamar untuk tidur. Akhirnya kami tertidur pulas hingga pagi sambil saling berdekapan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.

Itulah awal dari perbuatan-perbuatan saya bersama Tante Titik. Selama hampir 2 tahun Tante Titik memberi saya banyak pelajaran dan kenikmatan yang sangat luar biasa. Terkadang bila Tante Titik sedang sangat menginginkannya, saya selalu siap melayaninya, kecuali bila keadaanku sedang tidak fit atau sedang ada keperluan keluarga atau sekolah. Dan bila saya yang sedang menginginkannya, Tante Titik sangat tidak keberatan melayaniku, bahkan ia terlihat sangat senang. Tidak jarang saya diajak pergi untuk melaksanakan fitness atau olah raga atau hanya sekedar jalan-jalan atau ngerumpi bersama teman-temannya. Akhirnya saya gres tahu kalau Tante Titik sebetulnya sangat haus akan seks, ia yaitu wanita yang bertipe agak mendewakan seks. Dan ia akan melaksanakan apa saja demi seks. Tapi sebetulnya pula ia tidak begitu berpengaruh dalam bersetubuh, sehingga ia mampu berkali-kali mengeluarkan cairannya dan berkali-kali pula tubuhnya terkulai lemas.

Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, Cerita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
3

Cerita Sex Selingkuh Dibalas Selingkuh

Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Bokep Terbaru, Cerita Model Seksi, Bacaan Porno Terlengkap. Baca Kisah Sex berikut ini "Cerita Sex Selingkuh Dibalas Selingkuh".

Hampir 2 tahun sudah saya menikahi Mila, istriku yang indah jelita. Waktu kuliah dulu kami sudah pacaran. Mila ialah bunga kampus yang diperebutkan banyak lelaki. Aku beruntung mampu mendapatkannya dan menikahinya kini. Rambut sepundak, kulit putih dan ukuran bra 36B cukuplah membuatku ereksi tiap kali melihatnya sampai kini.


Tapi dua bulan terakhir perasaanku terganggu. Mila mulai sering pulang lebih malam dari biasanya dan hampir tiap ahad ia alasan ke luar kota. Di rumah ia lebih sibuk dengan HPnya dari pada ngobrol denganku suaminya.

Suatu ketika ia sedang bekerja dengan laptopnya di rumah. Saat ia sedang ke kamar kecil, saya mencuri kesempatan. saya buka file komputernya. Ternyata Mila sedang chatting dengan seorang pria dan obrolannya sangat mesra. Aku membacanya terburu-buru, perasaanku tak karuan. Dan menjadi semakin prah ketika saya membaca obrolannya menyerupai ini:

“thanks ya cantik, kemarin di Bandung enak banget deh. Makara pingin cek in lagi sama kamu”.

Ah asing ternyata Mila selingkuh! Aku berusaha menahan diri dan bersikap seolah tak tahu apa-apa sambil berpikir apa yang harus kulakukan. Esoknya tiba-tiba terbesit sebuah rencana gila. Aku tak ingin terjadi pertengkaran apalagi melabrak laki-laki itu. Tak ada gunanya! Aku cuma ingin beri pelajaran buat istriku.

Aku segera mengontak beberapa kawan-kawan lamaku dulu. Joko, Doni, Robi, Boncel. Kami dulu doyan sekali pesta sex semasa kuliah. Dan kini saya akan kontak mereka lagi untuk rencanaku memberi pelajaran buat istriku yang selingkuh. Sebuah rencana untuk memperkosa istriku bergiliran!

Rencananya: saya akan ngajak istriku Mila untuk cek in di sebuah hotel. lalu saya akan berpura-pura keluar untuk beli rokok. 15 menit kemudian kawan-kawanku akan masuk kamarku dan kemudian segera menggarap istirku.

Seusai rencana, pada hari Sabtu saya berhasil ngajak Mila cek in sebuah hotel di Jakarta Utara. “Sekali-kali bulan madu lagi dong sayang” kataku genit. Mila rupanya menyambut bangga inspirasi ini. saya cek in sekitar jam 14.00 dan bermesraan sebentar dengannya.

1 jam kemudian rencana mulai dijalankan. Joko dan lainnya sudah menunggu di lobby. Aku ijin untuk keluar beli rokok. Kebetulan di hotel ini pintu kamarnya tak dilengkapi dengan ubang pengintip. Makara kalao ada tamu yang ketok pintu, Mila tak mampu melihat siapa di luar.

Aku keluar dengan alasan beli rokok. Sedangkan Mila saya suruh untuk berpakaian sexy.

“kamu jangan pake baju ya sayang. Pake BH dan CD aja ato pake lingerie tapi jangan pake daleman. Biar sexy. Ntar papah balik kita pribadi main” pintaku.

Mila tersenyum genit seraya setuju dengan usulku.

Aku turun ke lobby dan melaksanakan brifing terakhir dengan Joko, Doni, Roby dan Boncel. Mereka sudah menyiapkan sebuah lap dan obat bius. Rencananya nanti mereka akan mengetok pintu kamarku. Mila pasti menduga itu aku. Ia sudah kusuruh mengenakan baju seksi. Dan ketika buka pintu, Joko cs akan pribadi menyrebu masuk dan membekap Mila dengan obat bius kemudian menggarapnya.

Tok tok tok… pintu diketuk dan tak lama kemudian dibuka pelan. Mila agak ngumpet di balik pintu sebab ia cuma memakai tanktop dan CD. Boncel pribadi nerobos masuk dan secepat kilat membungkam Mila dengan obat biusnya. Belum sempat istriku teriak, ia sudah keburu teler.

Ke 4 pria itu segera menjalankan tugasnya. Mereka membawa Mila duduk di bangku dan mengikat kedua tangannya setelah sebelumnya melepas tanktopnya. Setelah itu Joko menawarkan obat penawar bius yang diolesi di depan hidung Mila. Sekejap Mila terbangun dan kaget menyadari dirinya sedang terikat tanpa baju dikelilingi 4 bertopeng.

Sebelum sempat teriak, Boncel sudah mengeluarkan pisau duluan dan mengancam istriku, “heh kau jangan teriak, ato kami akan bunuh kau sekarang juga. Makara jangan macam2” bentaknya. Mila yang ketakutan setengah mati pribadi menurut.

“Pokoknya lo nikmatin aja, layanin kita-kita sampe puas dan jangan teriak ato lapor siapa-siapa, kecuali lu mau mati sekarang” timpal Doni.

Joko kemudian menutup mata Mila dengan kain. Istriku kini dalam kondisi duduk terikat tangannya dan matanya ditutup.

Kini giliranku masuk kamar. Ah gila! Istriku hanya memakai CD yang sudah turun sedengkul dan tanpa

BH. Rancana tahap awal berhasil! Matanya tertutup rapat dan ia tampak ketakutan. Ini sebuah pemandangan yang menggairahkan. Ke 4 kawanku sekarang sudah mulai buka celana dan terlihat penis-penis mereka sudah mulai mengacung keras. Ah permainan segera dimulai!

Joko, Doni, Roby, Boncel mengelilinginya.

“heh dengerin ya manis, kalo kau diem dan nurut kita juga nggak akan nyakitin kamu. Makara kau turutin aja apa yang kita mau” ancam Boncel yang memang kutunjuk jadi ketua geng perkosaan ini.

Mila didudukan di bangku yang menghadap ke kasur. Joko memulai aksinya dengan meremas-remas dada Mila dari belakang sambil menciumi pipinya. Aku dengan leluasa merekam dan memotret semua episode ini.

“oooohhh..jangaaan, ampuuuuun” Mila memelas.

Tapi sesuai instruksi dariku, Boncel mulai membentak “heh lo mau mati disini? Ni golok udah tinggal sabet aja ke leher lo.. udah lu diem aja!” bentaknya. Mila kemudian terdiam. Joko melanjutkan aksinya menggerayangi tubuh istriku. Tiba-tiba Joko menarik CD Mila dengan kencang. Mila kini bugil sepenuhnya sambil duduk terikat tak berdaya.

Aku tahu Mila mulai sangat ketakutan. Tapi justru itu yang membuatku makin terangsang. Aku ingin lihat ia disiksa secara seksual, bergiliran sampai lemas. Aku ingin lihat ia disetubuhi tanpa henti semalaman, diikat tangannya, kakinya, disodok mekinya dengan banyak pen|s dan dilumuri wajah dan tubuhnya dengan sperma. Aku ingin lihat Mila dientot bergilir.

Doni kini membuka celananya dan terlihat penisnya yang sudah ngaceng dengan urat-urat di sekelilingnya. Ia berdiri di depan Mila.

“ayo manis, isep nih” katanya sambil menjambak rambut Mila dan menekan kepalanya ke pen|s yang sudah keras itu.
“mmmmppfffffff….” Karna takut, Mila hanya menurut saja dan kini ia sedang menyepong jalantol Doni.

Aku memotret episode itu dengan penisku yang ngaceng juga. Doni menjambak dan menahan kepala istriku sambil menyodok-nyodok verbal Mila dengan penisnya. Aahhh…nafsuin sekali!

5 menit kemudian Doni membenamkan kepala Mila ke penisnya dan crrettt..crett..crett Doni menyemburkan spermanya ke verbal istriku. Mila terbatuk batuk dengan verbal belepotan peju. Aku merekamnya dengan video di hapeku. Kemudian Joko, Roby dan Boncel juga melaksanakan hal yang sama. Mereka menggilir verbal Mila dan memuntahkan peju di mulutnya.

Lebih setengah jam istriku disuruh giliran mengoral 4 pria itu dan kini mereka melepaskan tali ikatannya. Aku kembali ngumpet di kamar mandi sebab mereka akan membuka tutup mata Mila. Ke 4 pria itu kini kembali memakai masker di wajah biar tak dikenali.

Mereka menarik Mila ke ranjang dan menelentangkan tubuhnya yang telanjang bulat. Joko kembali mengikat tangan Mila ke dua ujung ranjang dan kakinya. Mila kini terlentang terikat membentuk aksara X. joko sengaja menarik kencang ikatannya biar Mila tak mampu berkutik. Ke 4 pria itu mulai menegrubuti istriku.

Boncel mulai menciumi wajah Mila sementara tangannya memilin puting susunya. Sementara Roby dan Doni menciumi dan menjilati paha Mila sambil mengelus2 paha dan betisnya. Doni menciumi perut Mila sambil jemarinya menyusup ke bibir vag|na dan memainkan klitoris istriku. Mila kini terlihat meronta-ronta tapi tak mampu berkutik sebab terikat. Sesekali ia teriak, entah menahan sakit atau menahan nikmat. Yang terang ia kini sedang dekurubuti oleh 4 pria haus seks.

“toloooong..jangan perkosa saya” Mila berkali-kali memohon.

Tapi ke 4 pria itu semakin brutal memainkan tubuh istriku. Doni kini bahkan sedang membuka lebar meki istriku.
“wah meki lu lebar banget..lu sering dientot ya?” kata Doni sambil tertawa.

Boncel asik meremas dan menggigit puting susu Mila dengan ganas.

“toket lu mantep banget nih, kalo diestrum pasti bakal asik” katanya.

Hampir 15 menit episode itu berlangsung, Joko kini mengambil posisi di depan istriku.

“ayo manis kita ngentot sekarang,” katanya.

Joko memasukkan penisnya ke liang vag|na istriku.

“aaahhhhhhhhhhhh… sakiiiiiiit…..” rintih Mila.

Tapi Joko tak peduli. Rintihan itu justru menambah nafsunya. Pantatnya mulai digenjot, penisnya mulai memompa meki istriku. Makin lama makin cepat. Aku melihat Mila hanya mampu meringis dan kadang membuka mulutnya dan kemudian dikulum oleh verbal Joko. Setelah dientot hampir 30 menit, kesannya Joko memuntahkan spermanya di atas perut istriku.

Ke 3 pria lain segera memperlakukan hal yang sama pada Mila. Ia digilir habis2an dan disemprot sperma. Doni menyemprotkan spermanya di wajah istriku dan setelah itu menyuruh istriku untuk membersihkan penisnya dengan mulutnya.

“ayo isep ni sampe bersih” kata Doni.

Mila kini dilepas ikatannya dan disuruh berlutut di lantai depan kasur dalam keadaan bugil dan lemas. Aku mengikuti episode ini dengan mengintip melalui pintu kamar mandi yang kubuka sedikit. Kuatir kalau-kalau tutup matanya terlepas. Mila masih lemas tapi Doni dan Roby menyeretnya.
Adegan itu membuatku makin terangsang. Istriku yang bugil tak berdaya diseret-seret di lantai. Kebetulan kamar hotel cukup luas sebab saya memesan kamar suite. Ia kemudian disuruh nungging. Aku mampu melihat Mila mulai panik wajahnya.

“nah kita mau rasain nikmatnya pantat lo” kata Joko

2 tahun kami menikah Mila memang tak mau melaksanakan anal. Kali ini saya akan menyaksikan bagaimana penis2 kawanku ini menjebol anus istriku satu persatu dan tentunya saya juga mendapat giliran.

“buka pantat lo cepetaaan” hardik Roby.

Mila kemudian memegang kedua belah pantatnya sambil menariknya sampai lubang anusnya kini makin terang terlihat. 4 lelaki itu kemudian tertawa keras. Aku mampu melihat Mila mulai ketakutan tapi saya semakin terangsang jadinya. Lalu Boncel membalurkan V Gel di dubur istriku, cukup banyak tampaknya. Mungkin sebab penis2 besar mereka akan menembus anus istriku jadi diperlukan banyak pelumas.

Joko kemudian meraih kedua tangan Mila dan mengikatnya menyerupai seekor bebek.

“Nikmatin aja ya sayaang.. kita mau ngerasain pantat seksi lo!” kata Joko. Mila semakin ketakutan dan lemas. Tak apalah! Aku ngaceng abis melihatnya.

Dimulai dengan Roby, cowok Flores yang kekar dan punya pen|s paling besar ini mulai menggesek2an penisnya pada lubang anus istriku. Dan pelan2 jalantol gede itu mulai menerobos anus Mila. Terdengarlah teriakan panjang yang sangat seksi. Wajah Mila menahan sakit luar biasa, mulutnya menganga dengan wajahnya ke atas. Ia menahan sakit dan sekaligus nikmat.

Roby terus menggenjot penisnya di anus Mila sambil meremas toketnya dari belakang. Doni yang tak tahan lagi, mengambil posisi di depan istriku dan menjambak rambutnya.

“isep ni jalantol sampe keluar ya” hardik Doni. Dan setelah Roby ngecrot, Doni mengambil posisi nyodok anus Mila, Joko kini yang giliran minta disepong. Begitu seterusnya bergiliran sampai istriku nyaris pingsan.

Doni kemudian melepas ikatan tangannya. Ia dibiarkan terbaring di lantai dengan peju yang belepotan di pantat dan mulutnya. Aku semakin ngaceng melihat episode ini sambel merekamnya dengan video.

“sekarang lu gua kasih pilihan. Kalo elu lapor polisi, kita udah tau alamat lu dan kita siap culik elu kapan aja. dan elu pasti bakal malu kan kalo ketauan dapet malu kayak gini? Udahlah mending lu diem aja, anggep aja ini semua nggak terjadi dan kita nggak bakal ganggu lo lagi. Gimana?” kata Boncel.

Mila hanya membisu saja tak berdaya.

“ampuuuunnnnn..” katanya lirih.

Joko kemudian memerintahkan untuk membawa Mila ke kamar mandi.

“ayo sekarang lu mandi dulu” kata Joko.

Istriku diseret ke kamar mandi dan dimandikan oleh Doni, Joko dan Robi. Sementara saya dan Boncel menyiapkan siksaan berikutnya: sebuah alat setrum.

Cukup lama mereka memandikan Mila. Ternyata Mila sedang diikat tangannya ke atas shower sambil tubuhnya dilumuri sabun dan dikobel mekinya. “ayo manis sini dimandiin juga dalemnya” kata Joko sambil mengorek vag|na istriku.

Selsai dimandikan, mata Mila kembali ditutup dan diseret ke kasur. Boncel kembali mengikat tangan dan kaki Mila membentuk aksara X. namun kali ini kaki Mila dibuka lebih lebar. Bahkan mekinya kini terlihat lebih menganga lebar. Doni kemudian mengambil kabel2 dengan jepitan di ujungnya. Ia kemudian menjepit puting susu Mila dan sebagian lagi dijepitkan di potongan klitoris.

“nah sekarang kita main main dikit, nggak sakit kok manis” kata Joko.
“tadi enak nggak dientot rame-rame?” tanya Boncel.

Mila hanya membisu saja tak menjawab. Dan kemudian bbzzzzzzzzzzztttt… aliran listrik mengalir ke sekujur pentil dan klitorisnya.

“aaaaaaaawwwwwhhhh…” Mila teriak sambil meringis dan menaikkan pantatnya.

Toket dan mekinya disterum!

“jawab.. enak nggak tadi dientot?” hardik Boncel.
“mmmm….iyaaaa…enaak” jawab Mila lirih dan disambut tawa kami.
“ngemut jalantol gue enak nggak?” timpal Doni dan Mila hanya mampu menjawab pelan “iyaaa…enak bang” dan kemudian aliran listrik kembali menyengatnya.

Siksaan ini terus berlangsung sampai Mila kesannya lemas dan nyaris pingsan. Tapi saya belum puas. Sebagai penutup, saya menyuruh mereka untuk kembali memperkosa Mila bergiliran.

Pukul 23.00, semuanya selesai dan kami meninggalkan kamar. Aku juga ikut keluar dan 15 menit kemudian saya masuk kembali dengan scenario dongeng yang sudah kami rancang. Pintu kamar kuketuk dan agak lama gres dibuka. Kulihat Mila dengan wajah kucel, matanya sembab. Aku akal-akalan bertanya,

“ada apa sayang? Kamu nangis ya? Maaf papah lama beli rokoknya. Tadi papah dicopet tapi copetnya ketangkep trus papah harus ke polisi buat laporan. Hape papah lobat jadi nggak mampu telpon”. Mila membisu saja dan hanya menjawab
“aku..tiba-tiba nggak enak badan. Aku istriahat aja ya malem ini?”

Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, Cerita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
3