Showing posts with label Cerita Seks. Show all posts
Showing posts with label Cerita Seks. Show all posts

Pembantu Pengganti 17 Tahun, Lugu Dan Perawan

Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru - Setelah sebelumnya ada dongeng seks bergambar Kisah Percintaan Mahasiswi Cantik Seorang Biseksual, kini ada dongeng cukup umur terbaru Pembantu Pengganti 17 tahun, Lugu Dan Perawan  , selamat membaca. 

 Setelah sebelumnya ada dongeng seks bergambar Pembantu Pengganti 17 tahun, Lugu Dan Perawan

Ahh…pusing juga dengan pembantu, udah hampir 1 Minggu ini pembantuku mudik gara-gara lebaran dan katanya ga mau balik lagi. Aku dan istriku ialah Pegawai Swasta yang tiap hari harus masuk dari Jam 8 Pagi hingga jam 5 sore. Kami memiliki seorang anak pria sudah kelas 3 SD. Dari anak kami masih kecil udah beberapa kali ganti-ganti pembantu, dan kami sudah kapok dengan namnya penyalur yang kebanyakan Cuma ambil uang pertamanya saja, paling usang 2 bulan pembantunya sudah minta pulang.

Hari itu nasib kami mungkin lagi baik, pembantu tetangga kerumah dan mengatakan temannya katanya mau kerja. Dewi namanya, orisinil dari kampung di tempat skitar Jawa Tengah, wajahnya manis, berkerudung, kulitnya putih mungkin alasannya ialah biasa berkedurung, umur masih muda sekali, 17 tahun katanya. Setelah nego gaji, dan memberi uang tips buat pembantu tetanggaku, hari itu Dewi mulai bekerja.

Aku tunjukkan kamar untuknya, dan tak lupa saya berikan uang buat beli keperluan mandinya. Awalnya sih saya tidak ada rasa apa2 dengan pembantuku, saya suka dengan anak ini alasannya ialah kerjanya memang rajin, awalnya saya tidak sengaja pas hari Libur, saya di rumah dan entah istriku sedang ada keperluan keluar bersama anakku, ketika itu Adzan Maghrib dan menyerupai biasa Pembantuku dewi Selesai mandi dan siap2 menjalankan Ibadah di kamarnya, saya tanpa sengaja lewat disebelah kamarnya dan pintu kamar yang dari Kayu itu terdapat celah kecil, Otak kotorku jadi timbul, saya intip dari celah itu, ia mulai buka kerudung, dan kaos yg dipakainya (dari kamar mandi ia tetap kerudung, kaos dan celana pelatihan panjang),

owh… ternyata ia tidak pakai Bra, payudaranya kecil tapi keliahatan mengkel kalo buah hehehe, dan ia mulai buka celana trainingnya, sayang tidak terlihat jelas, alasannya ialah posisinya miring jadi hanya kelihatan buah dadanya yg sebelah kiri, dan ahhh…putih sekali dalamnya, mungkin alasannya ialah kulitnya terbiasa tertutup kerudung.

setelah itu, ia pribadi pakai epilog untuk ibadah, tanpa pakai Bra dan CD lagi., saya tunggu hingga ia selesai, dan sehabis selesai ia tanggalkan seluruh penutupnya lagi, dan saya sempat terkesiap walau hanya sekejap, ketika ia berbalik kearah lemari, terlihat kemaluannya yang keliatan bersih, mungil dan nyaris tanpa rambut, (mungkin alasannya ialah kurang begitu erat saya melihatnya), ia pribadi membuka lemari dan stop…aku tidak lanjutkan kegiatanku, takut ketauan juga hahaha.

Selang beberapa hari saya kini rajin bangun pagi banget, bukan alasannya ialah apa, tapi tiap hari sebelum subuh, jadi rutinitas ngintip si Dewi, ternyata menjadi kebiasaan buat ia juga, jikalau ibadah ga pakai Baju, pribadi pakai epilog buat ibadah saja, jadi tiap pagi saya sarapan tubuh montok dewi, hingga kayalan yang selalu di pikiran ini, ingin juga dibentuk kenyataan.

Dan kesempatan itu jadinya tiba juga, ketika itu Istriku mengajak menginap di rumah orangtuanya yang tidak mengecewakan jauh ada di luar kota, katanya udah usang ia pingin kesana sekalian mengajak anakku liburan, dengan alasan saya udah buat kesepakatan dengan teman2 kantor mau pergi, saya ga sanggup ikut. Hari sudah siang sehabis saya pulang mengantar istriku ke terminal Bis, dan menyerupai biasa siang itu saya intip lagi dewi yang menjalankan rutinitasnya…

sore hari dan menjelang maghrib tiba, dewi pergi kekamar mandi, saya pelan2 masuk keKamarnya dan bersembunyi di bawah tempat tidurnya, tidak berselang beberapa usang ia masuk dan pribadi menyerupai biasanya mengelar sajadah dan membuka pakaiannya, saya menunggu hingga ritualnya selesai, ketika ia mau berpakaian, pribadi saya bekap mulutnya dengan obat bius yang sudah saya siapkan, ia berontak sebentar dan pribadi tertidur.

Aku tidurkan ia di tempat tidur, dan saya ambil camera yang sudah kusiapkan, saya ambil photo sebanyak banyaknya dengan banyak sekali posisi dan saya copy ke laptopku.
Aku tak tahan bekerjsama ingin pribadi menidurinya, tapi rasanya kurang nikmat meniduri orang yang sedang pingsan, kayak tidur sama robot pikirku, pintu kamar saya kunci, dan waktu sudah memperlihatkan pukul 9 malam, dewi sudah mulai siuman,” ohhh…”sambil ia memegangi kepalanya, tubuhnya saya tutupi selimut namun tanpa pakaian.

Aku pribadi ambil minum dan mnyodorkannya “kenapa saya pak? Ehh.. “dia tersadar ketika mau mengambil minuman yg saya sodorkan, ia tidak menggunakan pakaian, ia cepat2 menarik selimutnya, dan tidak jadi mendapatkan air yg saya sodorkan, saya tersenyum sinis, dan duduk didekatnya.

“Bapak tau, kau suka facebookan juga kan?, Bapak suka liat kau senyum2 di Handphone., “maksudnya apa pak, kok nanya ke saya gitu?” dengan wajah sedikit jengah dan bingung.

“Neh..Bapak punya photo2 kau lagi telanjang, dan Bapak sudah copy ke Laptop Bapak, kau mau ga photo2 ini Bapak sebar di Pesbuk?” ujarku, saya yakin ia ngerti, walau lulusan SMP, pembantu kini udah ga gaptek ma tekhonologi yg disebut Handphone, jikalau computer mungkin masih banyak yg belum tau juga. Dewi terbelalak kaget melihat ke kamera yang saya tunjukkan. “Jangan Pak…nanti gimana keluarga saya dikampung kalo lihat” sambil berkata wajahnya berubah agak pucat. Ehmm…siasatku berjalan mulus,

“ya udah jikalau gitu, Bapak ga macem-macem, cukup kau tidur terlentang gitu, Bapak Cuma mau mngelus2 memek kau dan nyium payudara aja”,
“ah aib pak…saya belum pernah telanjang didepan orang lain”,
“kan Cuma sama saya aja, Bapak juga ga akan bilang sama siapa2 kok”

aku udah gak nahan juga, rudalku sudah mengacung dibalik CDku., saya tarik selimutnya, walau dengan teriakan jangann pak…namun Dewi tidak melawan, saya mulai mengelus-elus memeknya, dan kuciumi payudaranya yang gak terlalu besar itu

“ahhh…jangan pak..geliii, ahhh…” tanganku yang kanan meremas2 payudaranya yang kanan, sedangkan mulutku sudah mulai mengulum pentilnya yang berwarna agak kecoklatan, dan tangan kiriku mulai mengelus2  kemaluannya yang ternyata sudah ditumbuhi bulu halusm, kemarin saya intip tidak terlihat terang beberapa helai rambutnya yg agak panjang

”Ahh…Ohhh…pakkk…jangannnnzz..” dewi mulai terangsang, tangannya yang tadinya berusaha menepis tangan kiriku, kini hanya memegangi tangan kiriku saja, tanpa berusaha menolak. Cukup usang saya beri rangsangan, hingga jadinya mulai kumasukan jari tengahku kedalam kemaluannya perlahan, ia teriak

“Ahhhh….Pakkk…” kini saya lumat bibirnya juga yang mungil, dewi sedikit gelagepan…
”Oups.”, kini saya mulai tindih badannya, kulumat bibirnya, dan tangan kananku bermain disekitar kemaluannya.

“Ouh…pak…”, kini wajahku udah didepan kemaluannya, saya pribadi jilat liang vaginanya “Pakkkk…katanaya tadi…, ahh…” ia kaget dan badannya bangun, dan tangannya menjmbak rambutku, saya tak perduli kuhisap dan kulumat bibir vaginanya , tak berapa lama

“pakkk…saya mau pipisssss…ahhh…ahhhh”, Dewi mengejang
“Ohhhh………”, “gimana enakkan?” kataku, sambil kubuka celanaku dan terlihatlah rudalku yg sudah mengacung, Dewi memejamkan matanya,

“Ihhh…Bapak mau ngapain?”,
“kalau kau mau Bapak tidak sebarin tuh Photo, cepet hisap punya Bapak” ujarku.
Dia menggeleng2 kepala tanpa membuka matanya,
“Ya udah Bapak sebarin deh sekalian video barusan, kan tadi bpak rekam tuh” ujarku mengancam, jadinya ia mengangguk tanpa membuka matanya,

“Ya udah jikalau kau gam au lihat, gpp buka aja lisan kamu”, jadinya dewi membuka mulutnya tanpa membuka matanya. Aku mundur majukan rudalku di dalam mulutnya yg mungil, 

sedapppp….walau awalnya Dewi menyerupai mau muntah, jadinya Dewi terbiasa juga, dan sehabis itu saya ambil posisi 69, saya lumat lagi Liang Vaginanya dengan rakus, dan biasanya ia akan berhenti kegiatannya mengulum Penisku, ketika lidahku menyentuh liang vaginanya yang di dalam. Aku rasa pemanasannya udah cukup, Dewi pun sudah trangsang lagi, saya mulai perlahan menuntun rudalku ke depan kemaluannya, kali ini Dewi tidak menolak, mungkin alasannya ialah sudah terangsang berat, kumasukkan perlahan, namun tetap saja ia teriak

“Ahhh…sakittt pak…”, walau sudah banyak juga carian yg keluar,
namun tetap saja saya agak kesusahan memasukkan penisku ke Vaginanya, jadinya perlu beberapa ketika Penisku sanggup masuk juga semua kedalam liang Vaginanya dengan sedikit paksaan dan erangan Dewi, saya maju mundurkan perlahan

“Ahhh…ohhh…pakkk..zzz”, Dewi mendesis tidak jelas, saya mulai menaikkan ritme lebih cepat, dan Dewi memelukku erat2, sambil berucap tidak jelas…”AHhh…ohhh…Pakkk ohhh…”dan jadinya ia teriak lagi

“PAkkk…Dewi pingin pipis lagi…akhhh..ohhh”
badannya mengejang dan sambil mengangkat badannya ia peluk badanku dengan kencang. Kali ini saya tidak kasih istirahat, pribadi tetap saya maju mundurkan Penisku….
”udah pak…udah …ahhh” pintanya, saya tak perduli kuhisap payudaranya, kulumat bibirnya, dan tetap saya maju mundurkan lagi, beberapa ketika nafsunya mulai bangun lagi,
“teruss pakkk…ahhh…ohhh, teruss”,

aku naikkan ritmenya lagi, dengan lebih cepat, hingga jadinya saya merasa sudah mulai akan keluar juga, namun sebelumnya ia mengejang lagi…”Ouwhhh…Ahhhhh”…aku pun serasa sudah mau keluar dan sudah diujungnya, dengan cepat saya cabut dan keluar di perutnya…”ahhh”, tenagaku habis, begitu juga Dewi yg kulihat hamper pingsan. Kucium dan kupeluk, darah keperawannya keluar membasahi sprei, ia menangis. “ Tenang…kamu ga akan hamil kok wi, Bapak jamin tidak ada yang tahu….”

Akhirnya dengan bahaya membuatkan Video, saya sanggup minta jatah ke dewi hampir setiap saya ingin dan saya sudah mulai berani mengeluarkan spermaku ke dalam Vaginanya, stelah saya ajarkan dulu ia untuk minum pil KB., atau kadang saya yang menggunakan Kondom. END.


3

Ngecrot Di Lisan Dan Susu Cewek Idolaku Dikala Smu Dulu

Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru - Setelah sebelumnya ada dongeng seks bergambar, kini ada dongeng remaja terbaru Ngecrot di Mulut dan Susu Cewek Idolaku Saat SMU Dulu, selamat membaca. 
Setelah sebelumnya ada dongeng seks bergambar Ngecrot di Mulut dan Susu Cewek Idolaku Saat SMU Dulu
Ngecrot di Mulut dan Susu Cewek Idolaku Saat SMU Dulu

Sekarang saya kuliah di perguruan tinggi tinggi swasta di Bandung. Pengalaman ini saya alami 1 tahun yang kemudian tepatnya Oktober 2014.

Saya termasuk anak yang berakal bergaul. Tapi sayang kebanyakan sahabat saya di kuliahan rata-rata pria. Hal ini dikarenakan pacar saya 1 kelas dengan aku. Makara sulit untuk melihat kesana dan kesini. Saya pacaran pacar saya (sebut saja namanya Ina) ketika itu hampir 5 tahun, tapi kini kita udah putus.

Kami pacaran dari SMU, dan kekerabatan suami-istri sudah sering kami lakukan.

Hingga suatu ketika pada bulan september saya bertemu dengan sahabat usang di sma dan satu kuliahan dengan saya. Sebut saja namanya Novi. Saat smu novi termasuk anak yang paling bagus di sekolah. Suatu pujian bagi kaum laki-laki jikalau berhasil berteman apalagi menjadi pacarnya. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup menjadi temannya. Dalam berteman ia selalu memilih-milih, apalagi dalam menjadi pacar. Saat itu pun saya tidak berhasil menjadi temannya.

Wajar jikalau beliau tidak mau berteman dengan ku sebab saya hanya pemuda biasa yang mempunyai tampang biasa juga.

Novi yaitu cewek idola disekolah kami. Hampir semua anak dari kelas 1-3 mengenal dia. Dia termasuk anak orang kaya dan pintar. Kalau dibilang ukuran tubuhnya hampir mendekati tepat ditambah dengan adanya tahi lalat di bawah bibir. Bibirnya tipis dan ukuran dadanya pun ditaksir kira-kira 34B. ditambah dengan badannya yang ideal dan kulitnya yang kuning bersih.

Kejadian ini terjadi pada awal september, ketika saya bersama dengan Ina hendak makan siang di belakang kampus. Tidak sengaja kami berdua berpapasan dengan Novi. Kami pun senyum duluan dan setelah itu dibalas dengan senyuman dan ucapan oleh Novi. “Masih baka yah dari sma”? katanya. Kami hanya membalas ucapan beliau dengan senyuman saja. Melihat body nya yang aduhai menciptakan saya ingin mempunyai dia, tapi mana mungkin pikir ku.

Keesokan harinya saya terlambat kuliah dan tidak diijinkan masuk oleh dosen, sebab saya terlambar lebih dari 15 menit. Dengan kesal saya memaki-maki dosen dalam hati, sebab jarak dari rumah ke kuliahan cukup jauh. Tidak sengaja ketika turun dari tangga saya melihat Novi sedang duduk di teras sendirian. Saat itu saya memberanikan diri untuk menyapa dia, mumpung gak ada Ina. Saya eksklusif duduk disebelah Novi dan berkata, “ga ada kuliah vi”? tanyaku. Novi eksklusif menjawab “ga ada dosen tuh”? “kamu sendirian, mana Ina”? tanya dia. “ga ada, saya sendirian”. Saat itu ga sengaja saya ngelihat ke kepingan dadanya sebentar. Ya ampun, antara kancing atas dan bawahnya sedikit kebuka dan kelihatan bentuk dadanya yang kuning bersih. Saat itu saya eksklusif melihat mukanya lagi sambil jantung ini berdetak lebih keras, dan kamipun melanjutkan pembicaraan kira-kira 1/2 jam lamanya.

Setelah itu saya masuk kuliah jam 09.30. Di dalam kelas saya tidak sanggup kosentrasi belajar, pikiran selalu tertuju pada muka dan dada Novi yang kenyal. Dalam hati ku berfikir, gimana caranya tuk dapatin Novi dan bodinya. Selama 1 jam saya berfikir terus, dan saya mulai sanggup wangsit tuk deketin dia. Setelah itu kususun rencana serapi mungkin biar gak kelihatan kalo semua itu sudah saya atur.

Pulang kuliah gak sengaja saya ketemu dengan Novi. Dia sedang melihat papan pengumuman. Aku membisu sebentar sebab ku akui saya juga grogi setengah mati. Setelah agak hening sedikit saya mulai mendekati dia. “Hei, lagi ngapain?” tanyaku. “hei, ketemu lagi, lagi liat pengumuman nih.” Jawab dia. “eh vi, tau gak jalan pasir pogor dimana?” tanyaku. Sebenarnya saya sudah tahu dimana jalan pogor itu. Sengaja saya pilih jalan itu sebab jalan pasir pogor melewati rumahnya dulu.

“Kalo ga salah di deket Ciwastra deh? Emang mo ngapain kesana?” jawab dia. Wah kena juga nih, pikir ku. “mo ketemu temen saya di sana, Cuma ga tau jalannya kemana. Kalo ga salah rumah kau di kawasan Ciwastra kan?” pancing aku. “iya, emang kenapa?” “Anterin donk kesana, ntar saya anter balik dech ke rumah kamu”. “gimana yah, soalnya temenku ada yang mo nganterin balik, tapi ya udah dech saya ngomong bentar ama temen aku, kau tunggu aja di kopma yah?” jawab dia. Wuihh, rencana ku berhasil nih.

Tidak hingga 10 menit Novi menghampiri ku yang sedang duduk bersama temenku. “ayo, mau balik sekarang?” dengan gesit saya berdiri dan pergi bersamanya. Temanku hanya bengong, sebab tidak menyangka saya akan jalan bareng ama Novi. Kami pergi menuju tempat parkir mobil, sebab saya ketika itu menggunakan kendaraan beroda empat Feroza.

Di tengah perjalanan kami hanya berbicara mengenai masa sma dan mengenai ina. Tapi setiap pembicaraan mengarah pada Ina, saya selalu bilang kalo saya sudah putus dari Ina. Dan saya bilang ama Novi supaya jangan ungkit-ungkit dilema Ina lagi. Mobil sengaja kuperlambat supaya saya sanggup bicara lebih usang dengan dia. Dan ketika itu, kancing baju atasnya terbuka dan beliau duduk sambil miring ke pintu mobil. Sehingga kelihatanlah BH nya yang berwarna hitam. Aduh ma, ucapku. Ngga terasa kontolku sudah mengeras. Ku coba membisu sejenak, sebab kalau salah sedikit sikapku maka gagal juga tuk dapetin bodinya.

Setelah ditunjukin jalan pasir pogor, saya pun mengantarnya balik. Sesampai nya didepan pintu rumah yang tidak mengecewakan mewah, ia berkata sambil tersenyum. “makasih yah, dah mo nganterin. Mo masuk dulu ga ke rumah?” wah kesempatan nih pikirku. Tapi rencana sih harus tetap kujalanin. “ga deh vi, makasih. Lain kali aja yah, saya mesti ke pasir pogor lagi nih. Oh ya, besok balik jam berapa? Bareng yuk?” pancing aku. “Besok saya balik jam 9.30, ya udah kalo mau nganterin tungguin di papan pengumuman besok yah?” wah, rencana pertama saya sukses nih. Tinggal jalanin rencana ke 2.

Besoknya saya sudah stand by di papan pengumuman. Dan tak usang kemudian novi tiba menghampiriku. “mo nganterin lagi nih, kalo mau kini aja”, tanyanya. “ayo dech kini aja”. Jawabku. Dalam hati ini juga deg-degan banget. Bukan sebab mau jalan ama Novi, tapi takut tertangkap tangan ama Ina. Wah sanggup berabe nih urusan kalo ketahuan. Akhirnya kamipun pulang samaan. Di tengah perjalanan pulang kami ngobrol hingga terbahak-bahak. Memang saya pandai untuk menciptakan orang lain ketawa, dan kuakui itulah kelebihan ku dalam menaklukan hati wanita. Ditengah tawa kami akupun mulai bertanya kesukaan dia? Saat itu terpikir oleh ku untuk mengajak beliau berenang, sebab dengan berenanglah saya sanggup melihat bodinya secara langsung. Memang Novi selama di smu tidak pernah 1 kali pun ikut pelajaran berenang, entah kenapa? “mau kemana lagi ntar habis nganterin aku?” “Aku mau berenang nih vi, kau sanggup berenang gak?” pancing aku. “gak sanggup nih” jawab dia.

“Ya udah, kau mau berenang samaan ga ama aku, ntar saya ajarin dech” jawab aku. “tapi saya gak punya baju renang, soalnya saya gak suka renang sih”! Katanya. “yah kau cari dulu donk, ntar kalo ga ada kan beda urusannya lagi, jadi besok jam 2 sore yah?” tanyaku. “iya deh jam 2 sore jemput saya di rumah yah” jawabnya. Sesudah itu saya anterin beliau balik kerumahnya. Sesudah itu saya hanya tertawa kecil dan menggumam, “udah kena perangkap saya nih, tinggal rencana ke 3 nih besok. Wah, udah kebayang bentuk dadanya, pahanya dan sentuhan tangannya ketika saya ajarin beliau berenang besok, terlebih tangannya di tumbuhin bulu-bulu halus”.

Besoknya kamipun pergi berenang samaan ke pemandian Cipaku. Saat ganti baju saya sudah membayangkan bentuk dadanya, pahanya yang putih dan lain-lainlah pikiran ku ketika itu. Saat ketemu hati ku eksklusif berdetak lebih kencang, sebab Novi yang ada di depanku kini sedang menggunakan baju renang. Dan dadanya mulai kelihatan sedikit menyembul ditambah dengan pahanya yang indah banget. Suerr, kontolku ketika itu eksklusif tegang terlebih beliau menggandeng tanganku menuju tempat penyimpanan tas di samping bak renang.

Sesudah itu saya pun eksklusif masuk ke bak renang dan disusul oleh dia. Dan ketika itu mulai saya mengajari beliau sebatas saya bisa. Saat memegang tangannya terasa jantung berdetak lebih cepat. Tangannya halus banget. Ditambah senyuman bibirnya yang tipis dan merah. Hampir 1/2 jam saya mengajari beliau berenang. Tapi kontol ini masih tegang terus. Pada ketika saya sedang mengajari beliau berenang tak senggaja beliau menyenggol batang kemaluanku sebab ketika itu saya sedang mengajari beliau gaya katak. Aku aib banget, sebab takut dipikir novi, belom apa-apa sudah tegang duluan. Tapi saya coba buang pikiran itu jauh-jauh.

Saat itu saya sudah tidak sanggup mengendalikan diri lagi. Dengan sengaja ketika beliau hampir karam sengaja saya peluk dan dekatkan kontolku di depan atau di belakang dia. Dan dengan sengaja juga saya mencoba biar tanganku sekali-kali mengenai dadanya dia. Rencana ku berhasil, kami semakin bersahabat saja. Tapi saya ngga tahu, apa mungkin ia suka ama aku, atau hanya sebatas teman. Kami berenang hampir 2 jam.

Sesudah itu saya terlebih dahulu mengajaknya pulang sebab hari hampir malem jam 6 malam. Kami makan di hoka-hoka bento yang ada di jalan setia budi. Dan dalam perjalanan pulang pun kami masih tertawa bersama. Dalam hatiku berkata, sebentar lagi kau masuk dalam pelukan ku vi! Sesampainya di rumah novi, ia mengajak saya masuk supaya minum the dahulu. Kesempatan ini tidak ku sia-siakan lagi. Inilah rencana akhirku. Aku masuk dan duduk disebelah beliau sambil posisi 1/2 tidur. 15 menit kami mengobrol. Otak ku berputar terus ketika kami ngobrol bersama. Dalam pikiran ku, gimana saya sanggup menyentuh dia, sedangkan dari novi tidak ada sinyal sama sekali pada ku.

Sampai pukul 7.20 saya masih terdiam. Sampai suatu ketika Novi bertanya padaku. “maaf yah kalo ini nyakitin kamu, cuma saya mau nanya. Kenapa kau kok sanggup hingga putus dari Ina, kan beliau orang nya baik banget”. Wah dengan pertanyaan itu saya mulai sanggup wangsit lagi. “ga tau deh vi, saya juga bingung. Aku ngerasa kita ngga cocok lagi dech”. Kataku. Dengan perasaan sedih saya coba genggam tangan beliau sambil berkata,”tapi kau jangan bilang siapa-siapa kalo saya sama Ina udah putus yah, please..” Ya ampun saya deg-degan banget ketika itu, tapi saya coba bersikap tenang. Dia cuma membisu ketika saya pegang tangannya. “Tenang aja kok, saya sanggup jaga rahasia”.

Nafsu ku sudah nggak terkendali lagi, terlebih ruang tamu ketika itu terutup rapat. Dan ketika itu penghuni rumah yang lain sedang asik nonton TV. Tanganku ketika itu sedang mengenggam tangannya. Dan perlahan lahan saya mengusap bulu halus yang ada di tangannya dan mengusapnya perlahan-lahan sambikl berkata, “kamu bagus banget vi, saya seneng banget sanggup samaan ama kamu”. Perlahan kulihat gerakan tangan, muka dan kakinya dia. Ternyata beliau sudah gelisah. Merasa ada balasan saya meneruskan elusanku, sambil kucoba dekatkan bibirku ke bibirnya dia. Senggaja saya mengecup secara perlahan dan lembut dan diiringi desahan nafas perlahan. Memang saya pandai dalam merangsang cewek, sebab saya sudah pengalaman dari Ina.

Sesudah kukecup bibirnya secara perlahan beliau memejamkamkan mata dan terasa getaran kakinya yang mulai gelisah.

Perlahan kukecup bibir lagi. rupanya kali ini ciuman ku berbalas juga. ia balik mencium ku dengan lembut. perlahan ku lepas ciuman ku di bibirnya dan bergerak menuju lehernya. walaupun saya sudah terangsang banget tapi saya masih sanggup berfikir apa yang mesti saya lakukan lagi tuk dapetin body nya. ciumanku bergerilya disekitar leher dan dekat telinga. terdengar nafasnya yang sudah memburu. Perlahan-lahan tanganku memegang pipinya secara lembut, lehernya dan mencoba memegang toketnya yang aduhai. saya usap toket novi dari luar baju. ia masih membisu dengan mata tertutup. dengan perlahan tanganku masuk ke dalam bajunya lewat bawah dan tanganku mulai mengenai BH nya. ku coba angkat sedikit BHnya secara perlahan-lahan. dan terasa ketika itu toket Novi sudah dalam genggamanku. kuusap dan kepelintir putingnya secara perlahan. ketika itu juga kucoba tangan yang satu lagi tuk membuka kancing bajunya. setelah kubuka bajunya terlihatlah Bh yang berwarna hitam, dengan gunung kembar yang indah banget dibaliknya. ketika itu nafsu ku sudah tidak terkontrol lagi. kontolku sudah ngaceng banget.

Tapi saya belum puas sebelum melihat memeknya. kucoba tuk buka rok nya secara perlahan, dan terlihat pula gundukan daging di balik celana dalam hitamnya. saya terdiam sebentar sebab tidak menyangka novi cewek yang bagus banget, dan hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup mendekatinya kini sudah bugil di depan mataku.

“Aghh.. kau kok gini sih an” desahnya. saya cuma tersenyum puas. dan kucoba tuk menarik tangannya ke arah kontolku. dan memang sudah sengaja sleting celanaku sudag saya buka. dan merosotlah celanaku. rupanya novi sudah kasar banget. diangkatnya bajuku dan di lepaskannya celan dalamku.

Kini matanya sudah terbuka dan melihat kontolku yang tidak mengecewakan gede. “ihh.. gede banget yang kau an”? saya coba berdiri berdiri biar beliau mau mengulum kontolku. “kamu mau cium kontolku kan”? tanpa menunggu komando lagi kepala novi ku arahkan ke kontolku yang sudah keras banget. diciumnya perlahan-lahan kontolku dan dijilatinnya kontolku. “muahh.. mchh..” terdengar suara dari mulutnya yang tipis. “terus vi.. achh.. terus.. yummy banget loh .., kau pinter banget vi.. achh..”

Pikiranku sudah tidak sanggup kukontrol lagi. 15 menit sudah berlalu. dan perlahan ku angkat tubuhnya ke atas sofa ruang tamu dan kutidurkan. kucium lehernya terus turun ke menuju susunya yang kenyal dan indah. “gilaa banget nih cewe bodynya, susunya, pantatnya yang kenyal, terlebih bulu-bulu yang tidak mengecewakan banyak dan halus”. gumamku dalam hati”. kucium toketnya yang tidak mengecewakan besar dan kenyal. “muachh.. muachh.. ” “aduh an.. terusin.. achh..” beliau mengerang terus. sambil ku jilatin toketnya, tangan kananku perlahan-lahan menuju memeknya. Astaga.. basahh banget nih.. terus ku elus dengan lembut dan ku belai klitorisnya yang sudah mencuat.

“Achh.. euhh..” ia mengerang keenakan. perlahan ciumanku turun kebawah vaginanya. ku jilatin memeknya yang basah. mhh.. mhhachh.. beliau menarik kepalaku dan mengejang. “acchh an, kayanya saya mau kencing nih..” “kencingin aja vi, itu bukan kencing kok yang mo keluar, itu namanya mau orgasme..” “achh an, ennaak banget nih.., ahh.. terusin sayang kata nya”. saya tersenyum kecil ketika ia memanggilku dengan kata sayang. “hahaha.. kau udah masuk dalam genggamanku kini vi..” kataku dalam hati. “achh.. terusin an.. terusin yah sayang.. katanya”. kujilatin memeknya terus dan teruss.. “ohh indahnya memekmu vi. beruntung banget saya sanggup dapetin memek dari cewek secantik kamu” kataku dalam hati. kali ini ia merapatkan kakinya dan kembali mengejang. ahh.. an kayanya saya mau keluar lagi nihh.. achh..”

“Keluarin aja semuanya sayang.. terus keluarin aja..” kataku. setelah kurasa cukup, mulai ku arahkan kontolku yang sudah keras dan panas ke memeknya novi. “tahan bentar yach kalo sakit.. ntar juga nggak sakit lagi kok..” kataku pada novi. kumasukan kontolku perlahan-lahan ke memeknya. achh .. erangku sebab kontolku masih agak susah masuknya. maklumlah memek perawan pertama kali niscaya susah simasukinnya. “achh.. ohh.. masukin eksklusif aja dech an..” pintanya. “kamu ngga akan nyesel vi..? “ga akan kok, saya rela ama kau diambilnya”. “Achh.. terus.. ” dengan sedikit kekuatan kutekan kontolku makin kedalam. dan kini sudah masuk semua kontolku kedalamnya. “ohh.. hangat banget memeknya..” “aduh sakit an.. akhh..”

Terasa darah segar keluar dari vaginanya dan membasahi bajunya yang memang sudah sengaja kusimpan dibawah pantatnya. “ya ampunn.. banyak banget darahnya nih..” gumamku dalam hati. tak perduli dengan darah yang mengucur saya enjot beliau perlahan-lahan, dan kelama-lamaan maikin kencang. “achh.. ohh.. ahh.. terusin an.. makin usang makin yummy nih..achh.. genjotanku makin ku percepat lagi. achh ..ohh yummy banget.. terusin yahh..” hampir 15 menit saya menggumuli dia. perlahan-lahan ku genjot beliau secara pelan dan pelan. sehingga beliau sanggup menikmatinya. “pelan-pelan aja yah vi, biar saya sanggup cium toket kamu”.

Sambil menggesek-gesek kontolku kedalam vaginanya. kucium perlahan-lahan puting toketnya. kuatru perlahan-lahan goresan ku. dan tak usang kemudian terdengar ia mengerang dan mengejang. “achh.. kaya ada yang mau keluar nih.. achh.. aduh mau keluar nihh..” “kembali kuatur gesekanku secara perlahan biar ia sanggup keluar”. dan benar saja sebentar kemudian beliau mengalami orgasme untuk ke 2 kalinya. “achh.. achh.. ohh.. mau keluar nih.. ann..achh..”

Novi sudah mengalami orgasme sedang saya sebentar lagi mau keluar. setelah kurasa cukup maka kupercepat gerakan kontolku ke memeknya dia. “achh.. mau keluar lagi nih an.. achh..” “bentar lagi saya juga mau keluar nih vi.. ahh” erangku. “keluarin didalem aja yah ann.. achh..”

Walaupun beliau sudah bersedia mendapatkan sperma ku di vaginanya, tapi saya tidak sebodoh itu, saya masih ga mau terikat oleh dia. dengan menambah kecepatan saya terus mengenjot beliau semakin cepat. “achh.. saya mau keluar nihh.. kau mau minum sperma ku kan.. achh.” “kenapa gak dikeluarin di dalam aja sih, ya udah ga pa pa kok di lisan ku juga.” “achh.. terusinn.. ann saya juga

mau keluar lagi nih..achh..” “aku juga mau keluar nih vi..” dan ketika itu kamipun keluar bersamaan. “achh.. kuangkat eksklusif kontolku yang sudah hampir menyemburkan sperma.. achh ..kukocokan kontolku ke arah lisan dan dadanya dia. “croot..crott.. spermaku membasahi lisan dan susunya”. “achh..srepp.. yummy banget sperma kau an.. cape banget nih.. liat tuh badanku sampe keringatan semua.” saya hanya tersenyum dan berkata. “tapi yummy kan..” kubersihkan cairan spermaku dengan tissue nya. dan ia pun pergi kekamar mandi tuk membersihkan badannya. achh.. lega banget hatiku setelah dapetin cewek yang pernah menjadi idola di smu dulu. Setelah novi membersihkan badannya sayapun minta ijin pulang dulu sebab jam sudah pukul 8.50. ntar bapanya sanggup curiga lagi.

 Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru
3

Pengalaman Ml Cewek Cakep Si Penjaga Apotek

Pengalaman Ml Cewek Cakep Si Penjaga Apotek
Sudah lebih dari 4 jam Tedi bersama 2 rekannya menunggu didepan pintu kamar UGD (Unit Gawat Darurat) sebuah rumah sakit di kota metropolitan. Rudi sahabat mereka bersama pacarnya mengalami kecelakaan kendaraan beroda empat yang tidak mengecewakan parah tadi pagi sehingga harus dirawat secara intensif di ruang UGD. Tedi dan 2 rekannya merasa berkewajiban untuk membantu sahabat karibnya alasannya pihak keluarga Rudi belum ada satupun yang muncul di rumah sakit. Rudi merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya berada di sebuah negara Eropa Timur sebagai staf kedutaan besar. Sedangkan keluarga-keluarga dekat Rudi masih belum tiba alasannya tinggal di luar pulau Jawa menyerupai Pontianak, Tarakan dan Manado. Beruntunglah Rudi mempunyai karib menyerupai Tedi dan 2 rekannya yang lain untuk mengurus keperluannya sewaktu dirawat di UGD.


Seorang perawat keluar dari ruang UGD dan menuju ke arah Tedi sambil membawa sebuah kertas di tangannya. “Mas, ini resep dokter yang harus segera dibelikan obatnya semoga sahabat Mas besok pagi sanggup pribadi disuntik dengan obat itu.”, ungkap perawat tersebut kepada 3 cowok yang sudah kelihatan lelah.

“Kira-kira di apotik rumah sakit ini obat itu ada nggak, Mbak?”, tanya seorang rekan Tedi.



“Kalau ada saya nggak akan minta tolong pada kalian”, jawab perawat singkat.




“Yuk, dicari!”, ajak Tedi pada 2 temannya.



“Sebentar Mas”, cegah perawat itu.



“Kalian yang mempunyai golongan darah sama dengan Rudi sebaiknya tinggal disini, jaga-jaga jikalau sahabat kalian membutuhkan darah lagi dan persedian kami habis”, meneruskan keterangannya.

Akhirnya 3 cowok itu berembuk dan memutuskan semoga Tedi saja yang mencari obat dan 2 temannya tetap tinggal.



Tedi mengeluh dalam hati sambil mengendarai mobil, “Cari apotik yang buka jam 1 pagi ini niscaya susah, saya nggak seberapa hapal jalan Jakarta lagi”.




Setelah berkendaraan selama 10 menit hasilnya ia menemukan sebuah apotik yang masih buka tapi sesudah dimasukinya pegawai apotik tersebut menyatakan jikalau obat yang dicari Tedi tak ada. Kejadian tersebut berulang hingga 4 kali dengan alasan yang mirip, “obat itu habis”, “besok siang gres siap”, dan sebagainya. Demi sahabat yang ketika ini tergolek di ranjang UGD, Tedi tak berputus asa meskipun tubuhnya sudah lelah dan ngantuk.




Tanpa berharap banyak Tedi memarkir mobilnya didepan apotik kecil di ujung jalan yang sempit. “Paling-paling nggak ada lagi”, pikir Tedy sambil menyerahkan resep obat yang dicarinya kepada pegawai apotik itu, seorang perempuan berumur 30-an.



“Silakan tunggu dulu, saya carikan”, ucap perempuan itu dengan sopan.



Dia mencek dengan komputernya, kemudian masuk ke ruangan berdiding beling transparan yang terlihat penuh laci obat, keluar lagi dan terus masuk ke ruangan tertutup. Wanita itu keluar bersama seorang laki-laki berumur 50-an dengan wajah masih ngantuk.




Sambil mengenakan beling matanya laki-laki itu berkata pada Tedi, “Dik, obat ini agak langka, menyiapkannya butuh waktu 1 jam dan yang sanggup menyiapkan cuma cabang kami yang berada di Depok. Sebaiknya adik pribadi aja mendatangi kesana atau jikalau adik mau nunggu biar pegawai kami yang ngantar kesini, gimana?”.




Langsung dijawab Tedi, “Saya tunggu aja disini, Pak! Capek Pak saya putar-putar carinya! Berapa, Pak?”.



Dijawab oleh perempuan disebelah laki-laki itu, “Totalnya Rp 536.500,-”.



Dalam hati Tedi menggerutu, “Busyet, habis nih sisa gajianku!”.




Jam di dinding apotik memperlihatkan setengah dua, hawa sejuk pagi masuk melalui jendela apotik menciptakan Tedi yang gres saja duduk beberapa menit di ruang tunggu menjadi ngantuk. Matanya yang agak sayu mulai menatap perempuan yang sibuk di kounter apotik itu, sementara itu pegawai laki-laki yang tadi sudah tak terlihat lagi. Dalam hati Tedi mulai berdialog dengan dirinya sendiri untuk menghilangkan kebosanan, “Kalau diperhatikan cewek itu cakep juga ya, rambutnya hitam panjang, kulitnya sawo matang, wajahnya menyerupai siapa? oh iya kayak penyanyi yang namanya Memes, tingkah lakunya anggun dan sopan, persis deh, bodinya juga kelihatan oke, bego sekali saya gres menyadarinya sekarang”. Tatapan mata Tedi yang semula sayu menjadi berbinar-binar seolah memandang hidangan enak sewaktu lapar. Rasa ngantuknya lenyap dalam keheningan ruangan apotik yang hanya ada ia dan pegawai perempuan itu. Dengan mulai berkurangnya aktifitas pegawai perempuan itu, ia mulai merasa jikalau sedang diperhatikan. Sedikit curi pandang ke arah Tedi, perasaannya terbukti benar. Pemuda langsing tinggi, 25-an tahun tapi tidak mengecewakan tampan yang duduk didepannya memandang ke arahnya tanpa berkedip. Tedi hasilnya merasa jikalau tatapannya dirasakan oleh perempuan itu.




Perhatian Tedi beralih ke barang-barang yang ada di outlet apotik itu. Bangkit dari tempat duduknya sambil membungkukkan tubuh ia melihat satu persatu barang dalam etalase kaca. Dengan ingin tau pegawai perempuan itu bertanya pada Tedi, “Mencari apa, Mas?”




“Hanya lihat-lihat kok Mbak!”, jawab Tedi, tapi pandangannya tertuju pada sederet kotak kondom dengan banyak sekali brand dan hal ini tak luput dari perhatian perempuan itu.




Perhatian Tedi pada formasi kotan kondom itu begitu nampak alasannya ia benar-benar lagi membandingkan kelebihan setiap brand kondom dengan lainnya melalui tulisan-tulisan yang ada pada kotaknya. Tanpa malu-malu Tedi bertanya pada pegawai perempuan itu, “Mbak, yang brand “A” ini harganya berapa?” yang dijawab pula oleh perempuan itu. “Kalau yang “B”?” “Kalau yang “C”?” Semua pertanyaan itupun dijawab oleh pegawai perempuan itu. Dengan wajah resah Tedi menegakkan kembali badannya sambil mendekat ke arah pegawai itu. “Mbak, yang cantik yang mana?” tanyanya lirih dengan wajah lugu. Pegawai perempuan itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya serta tersenyum malu. Dengan wajah kecewa tak memperoleh jawaban, Tedi membalikkan tubuh kemudian keluar dari apotik itu dan mengambil kotak rokoknya dari sakunya.




Bersandar pada kusen pintu apotik, Tedi menikmati setiap sedotan asap rokoknya. Tanpa disadarinya pegawai perempuan tadi sudah ada disampingnya dan mengagetkannya dengan permintaannya, “Mas, boleh minta rokoknya?” Bagai orang dihipnotis Tedi menghulurkan kotak rokok dan koreknya kepada wanita. Tedi merasa kaget campur resah dan heran menatap perempuan disampingnya sedang menikmati sedotan pertama pada sebatang rokok.




“Nggak usah melamun Mas, emangnya kenapa?”, tanya perempuan itu.




“Ah, Nggak, nggak heran kok, sehari habis berapa Pax biasanya, Mbak?”, tanya Tedi sedikit menggoda.




“Saya merokok kadang kala aja kok, Mas!”, jawab perempuan itu.




Setelah itu mereka mengobrol bersahabat kolam 2 orang yang telah usang berkenalan.



“Mas, tadi tanya soal kondom, apa sudah menikah?”, tanya perempuan itu.



“Belum, makanya saya bertanya, Mbak sudah?”, jawab Tedi dan berbalik bertanya.




“Sudah 5 tahun”, jawab perempuan sambil memperlihatkan kekecewaan di wajahnya.




“Wah, sudah pengalaman dong, jadi berdasarkan Mbak, sewaktu suami Mbak pakai kondom yang enak rasanya yang brand apa?”, tanya Tedi seakan hal itu menjadi teka-tekinya.



“Apa kau sudah punya pacar?”, tanya balik perempuan itu.



Dengan menggelengkan kepala, Tedi menunduk aib seolah sadar bahwa ia memperlihatkan keluguannya, kemudian ia berusaha menutupinya dengan berkata, “Tapi gini-gini pengalamanku nggak kalah sama Mbak! cuman saya nggak pernah pakai kondom”




“Oh, ya? saya percaya kok”, sindir perempuan itu.




“Kalau nggak percaya boleh dicoba!”, tantang Tedi.




Dengan wajah yang memerah dan tersenyum, perempuan itu membuka pintu apotik kemudian masuk kembali sesudah membuang puntung rokoknya, meninggalkan Tedi seorang diri. Dengan menggeleng-gelengkan kepala Tedi merasa sangat tolol sesudah menyadari jikalau ia gres saja mengeluarkan kata-kata yang paling udik sepanjang pengalamannya berkenalan dengan cewek. Bahkan ketika ini ia belum mengetahui nama dan alamat perempuan yang gres saja bercakap-cakap dengannya selama 30 menit. Sebuah hasil yang sanggup menjatuhkan pamor yang dikenal teman-temannya sebagai seorang yang andal memperoleh data wacana cewek dalam berkenalan.



Tak usang kemudian Tedi juga kembali masuk kedalam apotik dan mendapati pegawai laki-laki apotik itu telah duduk dimeja counter. Merasa ingin buang air kecil, Tedi menanyakan letak toilet kepada laki-laki itu. Sesuai petunjuk laki-laki tadi, tedi memasuki lorong panjang dalam apotik itu dan hasilnya menemukan kamar mandi setengah terbuka yang kelihatan sangat bersih. Dengan terburu-buru Tedi masuk dan pribadi membuka resleting celana jeansnya dan segera mengeluarkan penisnya dari dalam CDnya lalu, “Ah.. Lega rasanya!”




Rupanya Tedi melupakan menutup pintu kamar mandi. Dan alasannya lagi menikmati buang air kecil ia tak mencicipi jikalau di belakangnya sudah berdiri pegawai perempuan tadi sambil mengamati bentuk dan ukuran penis Tedi yang lagi menyemburkan cairan urine kolam ujung selang. Setelah membersihkan penisnya dengan tissu yang ada disampingnya, ia terkejut setengah mati mencicipi pundaknya dipegang tangan halus dan punggungnya mencicipi geseran dengan 2 benda tumpul yang lunak. Menoleh ke belakang ia melihat wajah pegawai perempuan tadi.




Dengan napas lega Tedi berkata, “Kukira hantu, hingga hampir pingsan rasanya!”.




“Aku mau buktikan ucapan Mas diluar tadi!”, ucap perempuan itu sambil tangan kanannya bergerilya memegang pangkal penis Tedi.



Tanpa dikomando burung Tedi pribadi mendongkak keatas memberi penghormatan atas rangsangan genggaman halus tangan perempuan itu. Diikuti helaan napas yang dalam perempuan itu menggeser-geserkan kawasan vitalnya yang masih berada dibalik rok dan CDnya ke pantat Tedi. Dengan serta merta Tedi memutar bab tubuhnya hingga berhadapan dengan perempuan itu. Lepaslah genggaman perempuan itu pada penis Tedi, tapi pantatnya jadi gantinya, diremas dan ditariknya kearah tubuh perempuan itu. Dua bibir saling bertautan, cumbuan dibalas cumbuan, keduanya saling bercumbu dengan gairah yang luar biasa. Dua tangan Tedi menemukan pantat perempuan itu dan meremasnya sambil menarik ketubuhnya. Penis Tedi terhimpit dan bergesek dengan bab depan rok perempuan itu sempurna pada kawasan sekitar alat vitalnya, sementara buah dadanya terhimpit dada Tedi. Di bab bawah gesek menggesek 2 alat vital yang berlainan jenis menyebabkan efek yang semakin menjadi-jadi meskipun masih terhalang oleh rok dan CD perempuan itu. Di bab tengah dimana ukiran payudara yang semakin mengeras pada dada Tedi juga terhalang oleh BH, pakaian perempuan itu dan kaos Tedi. Bagian ataslah yang gres bebas dari segala penghalang, pengecap Tedi masuk dalam mulutnya dan mengusap pengecap perempuan itu dengan liarnya dan dibalas dengan sedotan dari verbal perempuan itu, hal ini terjadi silih berganti sementara kedua bibir saling menempel satu sama lainnya.




Selang beberapa waktu terjadi genjatan senjata. Kedua pihak saling melepas halangan yang ada. Pakaian susukan perempuan itu kini sudah terlepas semua kancing depannya hingga bab depan tubuhnya terbuka bebas. Celana jeans dan CD Tedi juga sudah hingga kebawah, juga kaosnya yang benar-benar lepas tersampir di gagang pintu kamar mandi sempit yang tertutup. Wanita itu kemudian melingkarkan tangannya kebelakan untuk melepas kancing BHnya, Tedi memanfaat momen itu dengan berjongkok dan mencumbu perut perempuan itu sambil melorotkan CD perempuan itu hingga lepas. Bersamaan dengan lepasnya BH perempuan itu, cumbuan bibir Tedi juga bertemu bibir vaginanya. Desahan dan erangannya merasuki otak Tedi, sedotan mulutnya pada vagina perempuan itu diikuti dengan permainan pengecap di klitoris.



Kedua tangan bebas perempuan itu segera menangkap dan menarik bab belakang kepala Tedi ke arahnya hingga muka Tedi terhimpit diselakangannya. Sedotan verbal Tedi bertambah besar lengan berkuasa kolam pompa air yang lagi menyedot sumur. Sesekali perempuan itu agak menjongkok dan dengan tarikan besar lengan berkuasa pada kepala Tedi hingga juluran pengecap Tedi sanggup masuk kedalam lubang vaginanya yang paling dalam. Rangsangan hebat yang diberikan Tedi menghasilkan gelombang kejut pada perempuan itu, denyut-denyut dinding vaginanya mengantarkan keluarnya cairan kental. Bergelinjang dalam keadaan berdiri membuatnya terhuyung lemas namun beruntung dinding kamar mandi itu telah dekat dengan punggungya hingga tersandarlah punggungnya di dinding. Dekapan Tedi sesudah berdiri dari jongkoknya juga membantu perempuan itu untuk tetap berdiri sambil bersandar pada dinding kamar mandi.




Dalam dekapan Tedi, mata perempuan itu terpejam mencicipi kepuasan sesaat, payudaranya menempel pada dada Tedi yang berbulu tipis, dan napasnya yang tadinya terengah-engah mulai teratur kembali. Penis Tedi menempel ketat pada kawasan kemaluan perempuan itu hingga mencicipi kehangatan yang basah. Tedi mulai mencumbu verbal perempuan itu dan bertahap diber jalan hingga pergumulan kedua verbal tak sanggup dihindarkan kembali. Diikuti gerakan pinggul dan pantat, menyebabkan geseran penis Tedi pada bibir vagina perempuan mulai terasa nikmatnya bagi kedua belah pihak. Lalu perempuan itu menciptakan rangkulan tangan serta usapan di punggung dan belakang kepala Tedi. Terprovokasi oleh rangsangan yang diberikan perempuan itu, Tedi mulai sedikit berjongkok hingga ujung penisnya menempel bab depan lubang vagina kemudian dengan gerakan meluruskan kembali kakinya, naik dan masuklah seluruh batang kemaluannya kedalam liang kenikmatan perempuan itu yang telah licin dengan tiba-tiba. Kaget oleh sentakan Tedi, keduanya melepaskan ciuman mulut, “Akh..!”, jerit perempuan itu dengan verbal terbuka dan diikuti dengan desahan, “Ah.. ah.. ah..” ketika Tedi memompa batang kemaluannya kebawah dan keatas. Dua manusia berlainan jenis telah memulai korelasi sebadan sambil berdiri dalam kamar mandi apotik yang sempit.



Mulut Tedi mulai menghisap bab kiri leher perempuan itu kemudian sesekali pada indera pendengaran kirinya. Dengan berputarnya waktu dan banyak sekali rangsangan yang saling diterima keduanya, perempuan itu semakin merasa lemas pada bab kakinya alasannya memaksakan diri untuk merengguk kepuasan meskipun telah berorgasme 2 kali. Akhirnya dengan tetap menyandarkan punggungya pada dinding kamar mandi ia meminta tangan Tedi untuk menahan pantatnya kemudian mengaitkan kedua kakinya pada bab belakang kaki Tedi. Sambil membopong perempuan itu Tedi tetap melaksanakan pemompaan batang kemaluannya pada vagina perempuan itu. Kekuatan Tedi ada batasnya, hasilnya dilepaskannya kaki kanan perempuan itu semoga sanggup menopang tubuh perempuan itu sendiri. Dengan ajudan tetap memegang paha kiri perempuan itu, Tedi mempercepat gerakan pompanya.




“Aduh Mas saya mau keluar lagi, ssh..”, ucap perempuan itu sambil menggigit bibir atasnya.




Tedipun segera melepas beban yang sedari tadi ditahannya, penisnya berdenyut hebat dalam liang kenikmatan, menyemprotkan cairan sperma bagai semburan ular berbisa. Merasakan semburan cairan hangat dalam liangnya, perempuan itu pun tak kuasa menahan orgasmenya. Keduanya saling berangkulan hingga penis Tedi keluar dari liang kenikmatan dalam keadaan kosong dan lemas. Diakhiri dengan saling ciuman bibir, keduanya membersihkan diri, mengenakan kembali pakaian yang lepas, dan keluar dari kamar mandi.




Tedi melihat waktu pada jam dinding apotik memperlihatkan pukul 3 pagi dan sesudah mendapatkan obat pesanannya yang gres tiba itu dari pegawai laki-laki apotik itu, ia pribadi keluar menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga hingga rumah sakit tempat kawannya dirawat. Kemudian ia menawarkan obat serta kopi resepnya itu pada perawat jaga kemudian duduk termenung di ruang tunggu sambil berusaha mengingat insiden sensasional di apotik tadi. Lalu dari kejauhan lorong rumah sakit didepannya ia melihat Joni dan Rio, kedua kawannya, keluar dari sebuah ruangan dengan wajah suka cita, diikuti 2 perawat, yang seorang berumur 40-an dan satunya 20-an. Kedua perawat yang berjalan dibelakang Joni dan Rio terlihat sedang membetulkan seragamnya dan berusaha menutup kancing bab atasnya. Pemandangan ini tak luput dari penglihatan Tedi.




Kira-kira apa yang telah dilakukan Joni dan Rio? Donor darah merah atau putih? Kenapa mereka kelihatan bahagia sekali? Itulah semua pertanyaan dalam benak Tedi. END
3