Showing posts with label Pengalaman. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman. Show all posts

Cerita Sex Kuli Bangunan Memperkosaku Di Dapur

Sampai dikala ini bersama-sama saya sedikit galau bagaimana memulai ceritanya. Tetapi perlu anda ketahui bahwa yang saya ceritakan ini benar-benar terjadi pada diri saya. Saat ini saya berusia 20 tahun dan sudah menikah. Saya hingga dikala ini masih kuliah di sebuah perguruan tinggi tinggi di Depok Semester lima. Saya menikah dengan suami saya Bang Hamzah yang lebih renta 8 tahun dari saya alasannya dijodohkan oleh orangtua saya pada dikala saya masih berusia 18 tahun dan gres saja masuk kuliah. Namun saya sangat mencintai suami saya. Begitu pula suami saya terhadap saya (saya yakin itu benar).


Setelah ijab kabul menginjak usia 1 tahun, suami saya oleh perusahaan ditugasi untuk bekerja di pabrik di kawasan bogor. Sebagai fasilitas, kami diberikan sebuah rumah sederhana di komplek perusahaan. Sebagai seorang istri yang taat, saya menurutinya pindah ke tempat itu. Komplek tempat tinggal saya ternyata masih kosong, bahkan di blok tempat saya tinggal, gres ada rumah kami dan sebuah rumah lagi yang dihuni, itu pun cukup jauh letaknya dari rumah kami.
Karena rumah kami masih sangat asli kami belum memiliki dapur, sehingga jikalau kami mau memasak saya harus memasak di halaman belakang yang terbuka, ciri khas rumah sederhana. Akhirnya suami memutuskan untuk membangun dapur dan ruang makan di sisa tanah yang tersisa, kebetulan ada seorang tukang bangunan yang memperlihatkan jasanya. Karena kami tidak merasa memiliki barang berharga, kami mempercayai mereka mengerjakan dapur tersebut tanpa harus kami tunggui, suami tetap berangkat ke kantor sedangkan saya tetap kuliah.

Sampai suatu hari, saya sedang libur dan suami saya tetap ke kantor. Pagi itu setelah mengantar Bang Hamzah hingga ke depan gerbang, saya pun masuk ke rumah. Sebenarnya perasaan saya sedikit tidak enak di rumah sendirian alasannya lingkungan kami yang sepi. Sampai ketika beberapa dikala kemudian Pak Sastro dan dua orang temannya datang untuk meneruskan kerjanya. Dia tampak cukup terkejut melihat saya ada di rumah, alasannya saya tidak bilang sebelumnya bahwa saya libur.

"Eh, kok Neng Anggie nggak berangkat kuliah..?"
"Iya nih Pak Sastro, lagi libur.." jawab saya sambil membukakan pintu rumah.
"Kalo gitu saya mau nerusin kerja di belakang Neng.." katanya.
"Oh, silahkan..!" kata saya.

Tidak lama kemudian mereka masuk ke belakang, dan saya mengambil sebuah majalah untuk membaca di kamar tidur saya. Namun ketika gres saja saya mau menuju tempat tidur, saya lihat melalui jendela kamar Pak Satro sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian kotor yang biasa dikenakan dikala bekerja. Dan alangkah terkejutnya saya menyaksikan bagaimana Pak Sastro tidak menggunakan pakaian dalam. Sehingga saya dapat melihat dengan terperinci otot tubuhnya yang bagus dan yang paling penting penisnya yang sangat besar jikalau dibandingkan milik suami saya.

Saya seketika terkesima hingga tidak sadar kalau Pak Satro juga memandang saya.
"Eh, ada apa Neng..?" katanya sambil menatap ke arah saya yang masih dalam keadaan telanjang dan saya lihat penis itu mengacung ke atas sehing terlihat lebih besar lagi.
Saya terkejut dan aib sehingga cepat-cepat menutup jendela sambil nafas jadi terengah-engah. Seketika diri saya diliputi perasaan aneh, belum pernah saya melihat laki-laki telanjang sebelumnya selain suami, bahkan jikalau sedang bekerjasama sex dengan suami saya, suami masih menutupi tubuh kami dengan selimut, sehingga tidak terlihat seluruhnya tubuh kami.

Saya mencoba mengalihkan persaan saya dengan membaca, tetapi tetap saja tidak dapat hilang. Akhirnya saya putuskan untuk mandi dengan air dingin. Cepat-cepat saya masuk ke kamar mandi dan mandi. Setelah selesai, saya gres sadar saya tidak membawa handuk alasannya tadi terburu-buru, sedangkan pakaian yang saya kenakan sudah saya basahi dan penuh sabun alasannya saya rendam. Saya bingung, namun alhasil saya putuskan untuk berlari saja ke kamar tidur, toh jaraknya erat dan para tukang bangunan ada di halaman belakang dan pintunya tertutup. Saya yakin mereka tidak akan melihat, dan saya pun mulai berlari ke arah kamar saya yang pintunya terbuka.

Namun gres saya akan masuk ke kamar, tubuh saya menabrak sesuatu hingga terjatuh. Dan alangkah terkejutnya, ternyata yang saya langgar itu yaitu Pak Sastro.
"Maaf Neng.., tadi saya cari Neng Anggie tapi Neng Anggie nggak ada di kamar. Baru saya mau keluar, eh Neng Anggi nabrak saya.." katanya dengan kalem seolah tidak melihat kalau saya sedang telanjang bulat.

Perlu diketahui, saya memiliki kulit yang sangat putih mulus dan walau tidak terlalu tinggi bahkan sedikit mungil (152 cm), namun tubuh saya sangat proposional dengan dua buah payudara berukuran 34C yang sedikit kebesaran dibandingkan ukuran tubuh saya.

Saya begitu aib berusah bangun sambil mentupi dada dan bab bawah saya.
Namun Pak Satro segera menangkap tangan saya dan berkata, "Nggak usah aib Neng.., tadi Neng juga udah ngeliat punya saya, saya nggak aib kok.."
"Jangan Pak..!" kata saya, namun pak satro malah mengangkat saya ke arah halaman belakang menuju dua orang temannya.

Saya berusaha memberontak dan berteriak, tapi Pak Sastro dengan santainya malah berkata, "Tenang aja Neng.., di sini sepi. Suara teriakan Neng nggak bakal ada yang denger.."
Melihat tubuh telanjang saya, kedua sobat Pak Sastro segera bersorak kegirangan.
"Wah, bagus betul ni tetek.." kata yang satu sambil membetot dan meremas payudara saya sekeras-kerasnya."Tolong jangan perkosa saya, saya nggak bakalan lapor siapa-siapa..." kata saya.
"Tenang aja deh kau nikmati aja..." kata sobat Pak Sastro yang badannya sedikit gendut sambil tangannya meraba bulu kemaluan saya, sedang Pak Satro masih memegang kedua tangan saya dengan kencang.

Tidak berapa lama kemudian saya lihat ketiganya mulai melepas pakaian mereka. Saya melihat tubuh-tubuh mereka yang mengkilat alasannya keringat dan penis mereka yang mengacung alasannya nafsunya. Dengan cepat mereka membaringkan tubuh saya di atas pasir. Kemudian Pak Sastro mulai menjilati kemaluan saya.
"Wah.., memeknya wangi loh.." katanya.

Saya segera berontak, namun kedua sobat Pak Satro segera memegangi kedua tangan dan kaki saya. Yang botak memegang kaki, sedangkan yang gendut memegang kedua tangan saya sambil menghisap puting susu saya. Tidak berapa lama kemudian Pak Sastro mulai mengarahkan penisnya yang besar ke lubang kemaluan saya. Dan ternyata, yang tidak saya duga sebelumnya, rasanya ternyata sangat nikmat. Benar-benar berbeda dengan suami saya. Namun alasannya malu, saya terus berontak hingga Pak Sastro mulai mengoyangkan penisnya dengan gerakan yang kasar, tapi entah kenapa saya justru merasa kenikmatan yang luar biasa, sehingga tanpa sadar saya berhenti berontak dan mulai mengikuti irama goyangnya.

Melihat itu kedua sobat Pak Sastro tertawa dan mengendurkan pegangannya. Mendengar tawa mereka, saya sadar namun mau memberontak lagi saya merasa tanggung, sehingga yang terjadi yaitu saya terlihat menyerupai sedang berpura-pura mau berontak namun walau dilepaskan saya tetap tidak berusaha melepaskan diri dari Pak Sastro.

Tidak lama kemudian Pak Sastro membalikkan tubuh saya dalam posisi doggie tanpa melepaskan miliknya dari kemaluan saya. Melihat itu, tanpa dikomando si gendut pribadi memasukkan penisnya ke lisan saya. Saya berusaha berontak, namun si gendut menjambak saya dengan keras, sehingga saya menurutinya. Saya benar-benar mengalami sensasi yang luar biasa, sehingga beberapa dikala kemudian saya mengalami orgasme yang luar biasa yang belum pernah saya alami sebelumnya. Tubuh saya menjadi lemas dan jatuh tertelungkup. Namun tampaknya Pak Satro belum selesai, sehingga genjotannya dipercepat hingga kemudian beliau mencapai kelimaks dan memuntahkan spermanya ke dalam rahim saya.

Begitu Pak Sastro mencabutnya, si botak pribadi memasukkan kemaluannya ke dalam milik saya tanpa memberi waktu untuk istirahat. Tidak lama kemudian si gendut mencapai kelimaks, beliau menekan kemaluannya ke dalam lisan saya dan tanpa aba- aba, pribadi menembakkan spermanya ke dalam lisan saya. Banyak sekali spermanya yang saya rasakan di lisan saya, namun ketika saya hendak membuang sperma itu, Pak Sastro yang saya lihat sedang duduk beristirahat berkata.
"Jangan dibuang dulu, cepet kau kumur-kumur mani itu yang lama... pasti nikmat... ha.. ha.. ha.."
Dan menyerupai seekor kerbau yang bodoh, saya menurutinya berkumur dengan seperma itu.

Sementara si botak terus mengocok penisnya di dalam kemaluan saya, saya melihat Pak Sastro masuk ke dalam rumah saya dan keluar kembali dengan membawa sebuah terong besar yang saya beli tadi pagi untuk saya masak serta sebuah kalung mutiara imitasi milik saya. Tidak berapa lama kemudian si botak mencapai kelimaks dan saya pun terjatuh lemas di atas pasir tersebut. Melihat temannya sudah selesai, Pak Satro menghampiri saya sambil memaksa saya kembali ke posisi merangkak.

"Sambil menunggu tenaga kita kembali pulih, mari kita lihat hiburan ini.." katanya sambil memasukkan terong ungu yang sangat besar itu ke dalam vagina saya.
Tentu saja saya terkejut dan berusaha memberontak, tetapi kedua temannya segera memegangi saya.
Dan tidak lama kemudian, "Bless..!" terong itu masuk 3/4-nya ke dalam vagina saya.
Rasa sakitnya benar-benar luar biasa, sehingga saya menggoyang-goyangkan pantat saya ke kiri dan kanan.

"Lihat anjing ini.. ekornya aneh.. ha... ha... ha..." kata si botak.
"Sekarang kau merangkak keliling halaman belakang ini, ayo cepat..!" kata si gendut.
Dengan perlahan saya merangkak, dan ternyata rasanya benar-benar nikmat.

Karena rasa geli-geli nikmat itu, sedikit-sedikit saya berhenti, tetapi setiap saya berhenti dengan segera mereka mencambuk pantat saya. Tidak berapa lama saya mencapai kelimaks, melihat itu mereka tertawa. Pak Sastro kemudian menghampiri saya, lalu mulai memasukkan kalung mutiara imitasi yang sebesar kelereng tadi satu persatu ke dalam lubang anus saya.
Saya kembali menjerit, tetapi dengan hening beliau berkata, "Tahan dikit ya.., nanti enak kok..!"

Sampai akhirnya, kemudian kalung itu tinggal seperempatnya yang terlihat, lalu sambil menggenggam sisa kalung tersebut beliau berkata.
"Sekarang kau maju pelan-pelan.."
Dan ketika saya bergerak, kembali kalung itu tercabut pelan-pelan dari anus saya hingga habis. Begitulah mereka mempermainkan saya hingga kemudian mereka siap memperkosa saya lagi berulang-ulang hingga sore hari, dan anehnya setiap mereka kelimaks saya pun turut orgasme dengan arti saya menikmati diperkosa.

Dan anehnya lagi, malam harinya ketika suami saya pulang, saya sama sekali tidak melaporkan kejadian tersebut kepadanya, sehingga pemerkosaan tersebut terus terjadi berulang-ulang setiap saya sedang tidak kuliah. Dan setiap memperkosa, mereka selalu menyelingi dengan mengerjai saya dengan cara yang aneh-aneh, dan itu berlangsung hingga dapur saya selesai dibangun.

3

Cerita Dewasa Berburu Ayam Kampus Yang Cantik

Seorang temanku, namanya Rudy Manoppo, beliau menghubungiku di handphone. Dia lagi berada di hotel Menteng di Jalan Gondangdia lama bersama dua orang ceweknya. Memang beliau pernah kesepakatan padaku mau mengenalkan pacarnya yang namanya Judith itu padaku, dan sekarang beliau memintaku datang untuk bertemu dengan mereka malam ini di sana.


Dalam perjalanan ke sana saya teringat dengan seorang cewek yang namanya Judith juga. Lengkapnya Judith Monica. Sudah setahun ini kami tidak pernah bertemu lagi, tapi masih sering menghubungi via telepon, terakhir kali saya menghubungi beliau waktu ulang tahunnya tanggal 29 September, dan kukirimi beliau kado ulangtahun. Dia yakni orang yang pernah begitu kusayangi. Dalam hatiku berharap semoga beliau menjadi isteriku. Wajahnya menyerupai artis Dina Lorenza, tinggi 170 cm, kulitnya sawo matang. Pokoknya semua wacana beliau ini baiklah punya lah. Ibunya orang Jawa, sedangkan bapaknya dari Sulawesi selatan. Dia sendiri semenjak lahir hingga besar menetap di Jakarta bersama orangtuanya.
Dulunya kami bekerja di satu perusahaan, Judith ini accountingnya kami di kantor, sedangkan saya bekerja diatas kapal. Setiap pulang dari Jepang, sering kubawa buah tangan untuk dia. Tetapi salah satu point yang sulit mempersatukan kami yakni soal agama. Terakhir yang kutahu wacana Judith ini beliau batal menikah dengan cowoknya yang namanya Adhi itu.

Handphone-ku berbunyi lagi, rupanya dari Rudy, mereka menyuruhku masuk ke dalam kamar 310, disitu Rudy bersama dua orang ceweknya. Aku disuruh eksklusif saja masuk ke kamar nanti begitu tiba di sana. Aku tiba di sana pukul sembilan tiga puluh malam dan terus naik ke atas ke kamar 310. Seorang cewek membuka pintu buatku dan cewek itu hanya bercelana dalam dan BH saja, dan saya eksklusif masuk. Rupanya Rudy sedang main dengan salah seorang ceweknya itu, keduanya sama-sama telanjang dan lagi seru-serunya berduel. Terdengar suaranya si cewek ini mendesah dan mengerang kenikmatan, sementara Rudy mencium wajahnya dan lehernya. Aku berpaling pada cewek yang satu lagi ini yang memandangku dengan senyuman manis.

"Oom Errol ya..?" tegurnya sambil duduk di atas kawasan tidur yang berada di sebelahnya.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Bodynya boleh juga nih cewek, hanya sedikit kurus dan imut-imut.
"Namanya siapa sich..?" tanyaku.
"Namaku Lina, Oom buka aja bajunya."
Lalu saya pun berdiri dan membuka bajuku, dan kemudian menghampirinya di atas ranjang dan menyentuh punggungnya, sementara Lina ini terus saja menonton ke sebelah. Si cewek yang lagi 'dimakan' Rudy rupanya mencapai puncak orgasmenya sambil menggoyang pinggulnya liar sekali, menjerit dan mendesah, dan kemudian Rudy pun keluar. Asyik juga sekali-sekali menonton orang bersenggama menyerupai ini.

Sementara keduanya masih tergeletak lemas dan nafas tersengal-sengal, si Lina ini berpaling kepadaku dan saya pun mengerti maksudnya, dan kami pun mulai bercumbu, saling meraba dan berciuman penuh nafsu. Kini berbalik Ricky dan ceweknya itu yang menonton saya dan Lina main. Secara kebetulan saya balik berpaling kepada Ricky dan ceweknya itu, dan betapa kagetnya saya melihat siapa cewek yang bersama Ricky itu. Masih sempat kulihat buah dadanya dan puting susunya sebelum cepat-cepat beliau menarik selimut menutupi badannya. Aku eksklusif jadi 'down' dan bangkit berdiri, dan menegur Ricky sambil memandang si cewek itu yang masih terbaring. Dia pun nampaknya begitu kaget, untung saja Ricky tidak melihat perubahan pada air wajahnya.

"Hi Ricky.., sorry saya eksklusif main tancap nich." kataku, Ricky hanya tertawa saja padaku.
"Gimana Roll, baiklah punya?" tanya Ricky sambil melirik Lina yang masih terbaring di ranjang.
"Excellent..!" jawabku sambil berdiri di depannya tanpa sadar bahwa saya lagi telanjang lingkaran dan tegang.
"Roll, kenalkan ini cewekku yang kubilang si Judith itu," ucap Ricky sambil tangannya berbalik memegang kepalanya Judith.
Segera saya menghampirinya dan mengulurkan tanganku yang disambut oleh cewek itu.

Kami berjabat tangan, terasa cuek sekali tangannya, dan beliau menengok ke kawasan lain, sementara saya menatapnya tajam. Untunglah Ricky tidak sadar akan perubahan diantara saya dengan cewek ini. Lalu si Judith ini bangkit sambil melingkari tubuhnya dengan handuk, kemudian berjalan ke kamar mandi diiringi oleh tatapan mataku, melihat betis kakinya yang panjang cantik itu yang dulu selalu kukagumi.

Tidak sadar saya menarik nafas, terus Rudy mempersilakan saya dan Lina kembali melanjutkan permainan yang tertunda itu. Kami kemudian melaksanakan foreplay sebelum program yang utama itu. Kulihat sekilas ke sebelah, Judith sudah balik dari kamar mandi dan memperhatikan saya dan Lina yang sedang bertempur dengan seru, Lina mengimbangiku tanpa terlalu berisik menyerupai Judith tadi. Lina mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan kusodok lubang vaginanya dengan penuh semangat. Maklumlah, dua bulan di laut tidak pernah menyentuh wanita sama sekali.

Sampai alhasil kami berdua pun sama-sama keluar, aduuh.. nikmatnyaa... Kuciumi buah dada yang penuh keringat itu dan bibir-bibirnya yang tipis itu, kulitnya benar-benar bersih mulus dan alhasil kami terbaring diam sambil terus berpelukan mesrah dan tertidur. Waktu itu sudah jam dua belas tengah malam.

Ketika saya terbangun, rupanya Lina tidak tidur, beliau malah asyik memandangiku. Kulihat ke sebelah, Rudy dan Judith masih terlelap, hanya selimutnya sudah tersingkap. Rudy tidur sambil memeluk Judith dan keduanya masih telanjang bulat. Paha Judith yang mulus sexy itu membuatku jadi terangsang kembali dan terus saja memandangnya dari jauh.

"Dia cantik ya..?" lalu Lina berbisik padaku, saya hanya mengangguk kepala.
"Cantik, sexy.. tapi milik banyak orang.." tambah Lina lagi.
"Dia temanmu kan..?"
"Kita satu fakultas dulu, dan sama-sama wisuda, setahu gua beliau dulunya nggak suka main sama laki, tapi beliau melayani tante-tante senang yang suka nyari mangsa di kampus."
"Maksud kau Judith itu lesbian..?"
"Yah gitu lah, tapi beliau juga pacaran waktu itu, terakhir dulu gua dengar beliau lama main ama orang cina dari Hongkong."

"Bisa jadi beliau pernah lesbong, soalnya liat tuh puting susunya udah besar dan panjang lagi, kayak ibu-ibu yang pernah menyusui." kataku.
"Pak Rudy ini cuman salah satu dari koleksinya, beliau juga suka main ama orang bule dari Italy, terus beliau juga ada main sama Pak XXX (orang penting)."
"Lina kok tau semuanya..?"
"Soalnya gua sering jalan bareng dia, kalo beliau dapat order sering beliau bagi-bagi ama gua, orangnya paling baik juga sosial ama temen." sambung Lina lagi.
Sementara Lina tidak tahu jika saya dan Judith juga sudah lama kenal.

Tiba-tiba Judith menggerakkan badannya membuat bab perutnya yang tadinya terselimut kini terbuka, gerakannya itu membangunkan Rudy yang melihat buah dadanya begitu menantang eksklusif mulutnya beraksi, dari buah dada Judith turun terus ke bawah membuka lebar pahanya Judith dan menjilati bibir vaginanya. Aku eksklusif bangkit dan menghampiri ranjang keduanya dan memperhatikan dari bersahabat Rudy menjilati bibir kemaluan Judith dan menguakkannya. Nampak lubang kemaluan Judith yang memerah terbuka cukup besar. Sementara bulu kemaluannya kelihatan menyerupai dicukur bersih, licin menyerupai vagina seorang bayi.

Melihatku memperhatikannya dengan serius, Rudy lalu bertanya.
"Kamu suka Roll..? Kita tukaran aja sekarang, saya ama Lina."
Lalu Rudy bangkit dan pindah ke ranjang sebelah, dan saya segera menggantikan kawasan Rudy tadi, tapi betapa terkoyaknya hatiku dikala itu. Benar-benar tidak pernah kukira akan mengalami pertemuan kembali yang begini dengan Judith. Aku berbaring sambil mendekap tubuhnya pelan-pelan, seolah takut jangan hingga beliau terbangun. Mulutku melahap buah dadanya, menghisap puting susunya yang besar dan panjang itu, tanganku pelan turun ke bawah mengusap selangkangannya, terus memegang vaginanya sambil mencium pipinya, mengulum bibir-bibirnya. Judith mendesah dan menguap sambil menggerakkan badannya, tapi tidak bangun. Aku pun terus melanjutkan aksiku.

Ketika beliau berbalik tertelungkup, segera kupegang pantatnya dan menguakkannya. Nampaklah lubang duburnya yang sudah terbuka itu, merah kehitam-hitaman, kira-kira berdiameter satu senti. Tapi betapa hatiku begitu penuh kasih padanya, pelan-pelan lidahku menjulur ke lubang pantatnya itu dan kujilati pelan-pelan. Tiba-tiba Judith menggerakkan pantatnya, rupanya terasa olehnya sesuatu yang nikmat di pantatnya. Aku terus saja menjilatinya, lalu beliau merintih dan menarik napas panjang dan mendesah.

"Aduuhh.. enak Rudy, terus Sayang.. lidahnya terus mainkan.., duuh.. enaakk..!" desahnya pelansambil semakin besar lengan berkuasa menggoyangkan pantatnya, sementara rudalku sudah tegang sekali.
"Rudy.., jellynya.. jellynya dulu.. gres masukin yaa..!"
Aku tidak tahu dimana jellynya, lalu kuludahi saja banyak-banyak hingga lubang duburnya itu penuh dengan ludahku dan kuarahkan rudalku ke arah sasarannya, dan mulai menyentak masuk pelan-pelan.
"Aaacchh..!" beliau mendesah.

Sekali hentak eksklusif masuk tanpa halangan, kudorong terus rudalku, tangan kananku melingkari lehernya. Dia menarik napas panjang sambil mendesah tertahan, sementara rudalku sudah semuanya masuk tertanam dalam liang pelepasannya yang cengkeramannya sudah tidak terasa lagi. Tangan kiriku memainkan klitorisnya, sambil mencium pipinya kemudian melumat bibirnya. Berarti Judith ini sudah biasa disodomi orang, hanya lubangnya belum terbuka terlalu besar. Aku mulai menarik keluar kembali dan memasukkan lagi, dan mulai melaksanakan gerakan piston pelan-pelan pada awalnya, alasannya takut nanti Judithnya kesakitan jika saya eksklusif main hajar dengan kasar.

Aku tahu bila dalam keadaan normal menyerupai biasa, tidak akan pernah saya dapat menyentuh tubuhnya ini. Selagi saya mengulum lidahnya itu, Judith membuka matanya, terbangun dan kaget melihat siapa yang lagi menyetubuhinya. Judith mau bergerak bereaksi tapi kudekap beliau kuat-kuat hingga Judith tidak mungkin dapat bergerak lagi, dan saya mulai menghentak dengan kekuatan penuh pada lubang duburnya yang memang sudah dol itu.

Batang rudalku masuk semua tertancap di dalam lubang duburnya dan masuk keluar dengan bebasnya menghajar lubang dubur Judith dengan tembakan-tembakan gencar beruntun sambil mendekapnya kuat-kuat dari belakang meremas payudaranya dengan gemasnya dan mengigit tengkuknya yang sudah berair oleh keringatnya itu. Secara reflex Judith mengoyang pinggulnya begitu merasakan batang kemaluanku masuk, dan mendesah mengerang dengan bunyi tertahan. Keringat deras bercucuran di pagi yang cuek itu. Seperti kuda yang sedang balapan seru, beliau merintih lirih diantara desahan napasnya itu dan mengerang. Judith semakin menggoyang pantatnya menyerupai kesetanan oleh nikmat yang asing itu.

Sepuluh menit berlalu, lubang duburnya Judith rasanya sangat licin sekali, menyerupai main di vagina saja. Dan Judith meracau mendesah dan menjerit histeris, wajahnya penuh keringat yang meleleh. Kubalikkan tubuhnya, kini Judith sudah tidak melawan lagi, beliau hanya tergeletak diam pasrah ketika kualasi bantal di bawah pantatnya. Dia mengangkat kedua kakinya yang direntangkan dan memasukkan lagi rudalku ke dalam lubang duburnya yang sudah terkuak itu. Seluruh batang rudalku berair oleh cairan kuning yang berbuih, itu kotorannya Judith yang separuhnya keluar meleleh dari lubang duburnya itu. Bagi orang yang tidak biasa dengan anal sex ini pasti akan merasa jijik.

Kini wajah kami berhadapan, kupegang kepalanya supaya beliau tidak dapat berpaling ke kiri ke kanan. Dan kulumat-lumat bibir-bibirnya, sepasang gunung buahdadanya terguncang-guncang dengan hebatnya, lehernya dan dadanya berair oleh keringatnya yang bercampur baur dengan keringatku. Dan inilah yang namanya kenikmatan surga. Pipi-pipinya telah memerah saga oleh kepanasan. Aku semakin keras lagi menggenjot ketika mengetahui jika Judith mau mencapai puncak klimaksnya. Seluruh tubuhnya lalu jadi mengejang, dan suaranya tertahan di ujung hidungnya, Judith ini benar-benar histeris pikirku. Mungkin juga beliau ini sex maniac.

Judith mulai bergerak lagi dengan napas yang masih tersengal-sengal sambil mendesah.
"Terus ung.. teeeruus.. saya mau keluar lagi..!" desahnya.
Benar saja, Judith kembali menjerit histeris menyerupai kuntilanak, seluruh tubuhnya kembali mengejang sambil wajahnya menyeringai menyerupai orang menahan sakit yang luar biasa. Butiran keringatnya jatuh sebesar biji jagung membasahi wajahnya, peluh kami sudah bercampuran. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang licin mengkilap oleh keringat itu sambil menggigit-gigit pelan daun telinganya biar beliau tambah terangsang lagi.

Akhirnya beliau jatuh lemas terkulai tidak berdaya menyerupai orang mati saja. Tinggal saya yang masih terus berpacu sendiri menuju garis finish. Kubalikkan lagi tubuh Judith tengkurap dan mengangkat pantatnya, tapi tubuhnya jatuh kembali tertelungkup saja, entah apa beliau sangat kehabisan tenaga atau memang beliau tidak mau main doggy style. Kuganjal lagi bantal di bawah perutnya dan mulai menhajarnya lagi, menindihnya dari atas punggungnya yang berair itu. Tapi keringatnya tetap berbau harum. Napasnya memburu dengan cepatnya menyerupai seorang pelari.

"Aduh.. aduuh.. saya mau beol.. nich.. cepeet dikeluarin.. nggak tahan nich..! Ituku udah mo keluar nich..!" desahnya.
Dadanya bergerak turun naik dengan cepatnya. Tapi saya tidak perduli, soalnya lagi keenakan, kutanamkan kuat-kuat batang kemaluanku ke dalam lubang pantatnya, dan menyemprotkan spermaku begitu banyaknya ke dalam lubang analnya itu.
"Aduh.. aduuh.., saya mau beol.. nich.. cepeet nggak tahan nich.., udah mo keluar nich..!" desahnya.
"Aaacchhh.. aach..!" Judith menjerit lagi.

Ada dua menit gres kucabut batang kemaluanku. Dan apa yang terjadi, benar saja kotorannya Judith ikut keluar bersama rudalku, dan menghambur padaku. Terasa hangat kotorannya yang mencret itu. Hal itu juga berhamburan pada seprei kawasan tidur. Praktis kami berenang di atas kotoran tinjanya yang keluarnya berbagai itu. Sementara saya lagi menikmati orgasmeku, kudengar suaranya Judith menyerupai orang yang sedang sekarat, dan napasnya mendengus. Anehnya saya sama sekali tidak merasa jijik, walaupun saya dengan sudah belepotan oleh tinjanya.

Kami tetap saja berbaring diam sambil terus berpelukan. Napasnya masih tersengal-sengal. Dadanya bergerak naik turun menyerupai orang yang benar-benar kecapaian. Kucium pipinya yang berair oleh keringatnya, dan menjilati keringat di lehernya yang putih mulus itu. Batinku terasa puas sekali dapat merasakan tubuh cantik ini, walaupun beliau ini hanya seorang pelacur saja. Judith pun tetap berbaring diam tidak bergerak walaupun semua bab bawah tubuhnya sudah berlumuran oleh tinjanya. Dia sepertinya sudah menyerupai pasrah saja atas semua yang sedang terjadi pada dirinya. Bola matanya menatap kosong ke dinding kamar. Aku membalikkan kepalanya biar menatapku, terus kuhisap bibirnya pelan dan mencium di jidatnya. Tampak senyum di wajahnya, beliau menyerupai senang dengan sikapku ini. Dia menatapku dengan wajah sayu dan letih.

"I love you Judith.." ucapku tanpa sadar.
Dia hanya mendengus, menggerakan hidungnya yang mancung itu sambil bola matanya yang hitam bening itu menatapku tajam. Kucium lagi pipinya.
"Judith.., dari dulu saya tetap cinta kamu.." bisikku di telinganya.
"Walaupun harus hidup dengan berlumuran tinja menyerupai ini..?" jawabnya menyerupai menyindirku.
"Kita mesti keluar dari kubangan tinja ini Judith..," kataku, "Kita bersihkan tubuh kita dan kita memulai hidup kita yang baru."
Dia tidak menjawab, malah mendorongku ke samping dan beliau melompat bangkit bergegas menuju kamar mandi diiringi bunyi ketawa dari Rudy dan Lani.

Sisa-sisa kotoran di bokong pantatnya itu mengalir turun di paha dan betis kakinya dan ruangan itu telah dipenuhi oleh busuk kotoran yang keluar dari dalam perutnya Judith ini. Aku pun berlari ke kamar mandi dan membantu Judith membersihkan badannya dengan air dan bantu beliau menyirami tubuhnya dan menyabuni seluruh tubuhnya hingga ke selangkang dan kemaluannya terus hingga pada lubang pantatnya semua kusabuni dan kubilas hingga benar-benar bersih. Barulah kemudian saya mandi. Judith nampaknya senang dengan perlakuanku yang mengistimewakan dirinya itu, dan beliau pun membantuku mengelap badanku dengan handuk.

Kemudian kami kembali ke kamar, saya menarik keluar seprei yang telah penuh dengan kotoran itu, membungkusnya dan melemparnya ke kamar mandi. Judith duduk di bangku mengawasiku bekerja sambil senyum-senyum malu. Aku menatap tubuhnya yang tinggi atletis ini dengan penuh rasa pesona dan syukur. Namun sama sekali tidak kusanga bahwa nanti dalam waktu yang tidak lama lagi beliau akan menjadi isteriku. Dan sedikitpun saya tidak menyesal memperisteri Judith, sekalipun beliau itu hanyalah seorang bekas wanita nakal, bekas ayam kampus.

Kami kembali lagi ke atas kawasan tidur dan berusaha untuk tidur, padahal hari sudah pagi. Kami tidur berpelukan. Dia menyembunyikan kepalanya di dalam dadaku yang sedang bergemuruh dengan hebatnya itu, dan kami terlelap dalam tidur. Aku hanya dapat tertidur beberapa dikala saja, kemudian sudah terbangun lagi, di sampingku Judith masih tertidur lelap, mungkin alasannya saking capeknya beliau ini. Pelan saya bangkit untuk duduk sambil memperhatikan beliau dalam ketidurannya, di bibirnya tersungging senyum, sepertinya beliau merasa bahagia dalam hidup ini. Rambutnya yang lebat hitam panjang itu tergerai di atas bantal.

Pelan kusingkap kakinya hingga terbuka lebar, dan tanganku mengusap pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Benar-benar merangsangku paha mulus yang bersih ini. Menguakkan bibir vaginanya yang telah ke biru-biruan itu membuktikan bahwa beliau telah berbagai melaksanakan persetubuhan. Dan kulihat lubang vaginanya yang telah terbuka menganga menyerupai lubang terowongan turun ke dalam rahimnya. Lalu kujulurkan lidahku untuk membuka vaginanya itu dengan penuh perasaan. Kujilati juga klitorisnya, membuatnya jadi tergerak mungkin oleh rasa enak di klitorisnya itu. Tapi hanya hingga disitu saja. Aku tidak tega untuk membangunkannya dari kelelapan tidurnya yang manis itu.

Siangnya kami checked out dari Hotmen itu. Dalam kendaraan beroda empat saya dan Judith duduk di belakang. Dia tidak pernah berbicara hingga kami tiba di depan rumahnya Lina di Tebet timur, keduanya turun di sini, padahal Judith rumahnya di jalan Kalibata utara.

Setelah berlalu dari situ, saya bertanya kepada Rudy kenapa tidak membayar keduanya. Rudy bilang biasanya uangnya itu di transfer ke rekening keduanya masing-masing. Dan esoknya hari Senin saya mentransfer uang ke rekening Judith sebesar lima ratus ribu rupiah. Kenangan manis yang tidak terlupakan bagiku.

3

Cerita Panas Teman Kuliahku Jago Main Sex

Vina ialah rekan kampusku yang berasal dari Makasar, anaknya bertubuh kurus dengan tinggi sekitar 168 dan kutaksir BHnya berukuran 32 B. Aku tidak terlalu dekat dengan Vina alasannya ialah semenjak awal kuliah kami tidak pernah sekelas. Tapi alasannya ialah beliau aktif di Koran kampus, maka kami cukup sering berinteraksi. Pada final tahun 2003, kampus kami mengadakan lomba penulisan ilmiah, ketua jurusan meminta saya dan Vina mewakili jurusan kami dalam kegiatan itu. Karena batas waktu pengumpulan goresan pena sudah dekat, sedangkan kami belum punya materi tulisan, maka kami sepakat untuk memanfaatkan waktu diluar jam kuliah menyelesaikan peran ini. “trus enaknya mau ketemu dimana donk?” tanyaku pada Vina siang itu di kantin kampus. “terserah kau aja lah. Di kostmu juga gapapa, soalnya jikalau di kostku kau cuma mampu hingga teras, ga boleh masuk. Ntar malah brisik, ga mampu konsen” jawabnya Akhirnya saya menunjukkan alamat kost ku kepadanya.


Sore harinya SMS masuk dari Vina “aku d dpan rumah cat hijau. Kostmu disebelah mananya?” maka saya pun segera turun, rumah cat hijau itu ada persis di sebelah kostku, sedangkan kamar kost di tempatku ada di lantai 2. Dibawah ditinggali pemilik kost dan keluarganya. Setelah hingga dikamarku, Vina memandang berkeliling, “kok sepi? Pada kemana?” tanyanya. “Ibu kost sekeluarga lg pada pulang ke Wns, sahabat kostku cuma tinggal 2, yang lain juga pada pulkam (pulang kampung)” jawabku. Sore itu Vina mengenakan kaos ketat berwarna putih dan ditutup cardigan hijau muda dengan rok bermotif bunga sedikit lebih tinggi diatas lututnya, Nampak lebih cantik dibanding penampilannya ke kampus. Kami pun mulai fokus mengerjakan peran kami, saya mencoba mengumpulkan data dan merangkai kata, kemudian Vina mengetiknya di komputer. Setelah sekitar satu setengah jam, saya mendengar ada orang yang memanggil-manggil ibu kostku di bawah, “bentar ya Vin, saya liat ke bawah dulu” kataku pada Vina. Dia mengangguk sambil terus mengetik. Ternyata dibawah ada ibu RT sedang meminta biodata penghuni kost, alasannya ialah ibu kostku tidak ada, maka bu RT memintaku mengisi formulir yang sudah ia siapkan.

Setelah sekitar 20 menit, saya kembali ke kamarku tanpa berpikir macam-macam dan sengaja melangkah perlahan mendekati pintu kamarku yang agak sedikit tertutup, niatku ingin mengejutkan Vina. Namun yang saya lihat di dalam kamarku cukup membuatku terkejut, dari sela pintu kamar tampak Vina justru sedang setengah berbaring dengan meluruskan kakinya, tangan kanannya bergerak-gerak dalam roknya, sementara cardigan dan kaos nya agak tersingkap naik. Di komputerku yang memang menghadap kearah pintu, tampak Vina sedang memutar salah satu dari koleksi film BFku yang tersimpan di file, saya menerka Vina iseng membuka-buka fileku, menemukan koleksi film BF itu, menontonnya dan menjadi terangsang lantas memutuskan masturbasi dan tidak menyangka saya akan melihat aksinya itu. Aku sengaja menahan diri dan hanya melihat beliau menggerak-gerakkan tangannya dalam rok. Ketika beliau mulai terlihat sangat terangsang, saya sengaja mendehem dan pribadi membuka pintu kamar. Vina tampak sangat terkejut dan salah tingkah, beliau segera menarik tangannya dan membetulkan pakaiannya. Tapi tentu saja layar komputerku masih memutar film BF itu. Aku berdiri di pintu kamar sambil tersenyum, “ngapain, Vin?” beliau tampak gugup dan salah tingkah. Tiba-tiba saja beliau pribadi mengambil buku-bukunya, memasukkan ke tasnya dan segera berdiri “aku mau pulang” katanya dengan ketus.
Aku mencekal tangannya, beliau mengibaskan tanganku, mungkin alasannya ialah aib saya memergokinya beliau jadi emosi. Kembali kucekal kedua tangannya, beliau berusaha melawan, tapi tenagaku lebih kuat, posisi kami saling berhadapan dan saya memegang kedua tangannya. Sadar tidak mungkin melepaskan diri dari peganganku, beliau membuang muka, saya berbisik ke telinganya “maaf jikalau saya buat kau malu. Kita sudah sama-sama dewasa, gapapa kok. Kalau kau memang mau lanjutkan juga gapapa, saya mampu tunggu diluar” beliau masih tak mau menatapku. Entah kenapa, kata-kata yang keluar berikutnya dari mulutku juga tanpa berpikir panjang “atau kau justru mau saya liat dan bantu kamu?” beliau memandangku dengan tatapan marah, kembali ia berusaha melepaskan pegangan tanganku sambil setengah berteriak “kamu anggap saya cewek apa?” sadar kesalahanku, saya berusaha menenangkannya. Sambil tetap memegangi kedua tangannya, saya merapatkan badanku, kemudian tangan kiriku merangkul bahunya dan menyandarkan kepalanya didadaku. “maaf,…. Maaf, saya ga bermaksud merendahkan kamu. Maaf bgt, saya Cuma resah mesti gimana” kataku sambil membelai rambutnya sambil sedikit mencium bab atas keningnya.

Hal ini sedikit meluluhkannya, tangannya yg semula mencoba berontak kemudian hanya membisu saja, bahkan perlahan beliau malah memeluk tubuhku. Aku pun membalas memeluknya, saya mengajaknya kembali duduk di kamarku, saya melirik ke arah komputer yang masih menayangkan BF Thailand. Sambil duduk, saya sengaja tetap memeluk pundak Vina sambil sesekali membelai rambutnya, Vina yang berada di sebelah kiriku dan awalnya membelakangi komputer tiba-tiba membalik badannya. Dia menyandarkan tubuhnya padaku sambil matanya kembali menatap komputer. “aku ga tau td kenapa, mendadak td saya ngrasa mekiku gatel, tapi pas saya usap kok rasanya enak bgt.” Katanya sambil tetap memandang ke arah monitor. Aku membisu saja, alasannya ialah mencicipi kontolku perlahan mulai menggeliat. Selain alasannya ialah belahan vulgar di layar monitor komputer, aroma harum dari rambut Vina turut membuatku makin merasa terangsang. “kamu sering ML juga ya ama pacarmu ? tadi saya sempat liat koleksi BFmu banyak bgt,” katanya. “aku malah belum pernah ML ama Wanda (Vina mungkin mengira saya masih berpacaran dengan adik tingkatku di kampus yang memang beliau kenal) tapi sama cewek lain pernah sekali” jawabku setengah jujur. Dia menengadahkan wajahnya ke arahku. “bener?” tanyanya sambil berdiri dan duduk mengahadapku. “bener kau juga pernah ML? saya kira seorang tokoh mahasiswa idealis kaya kau itu bener-bener lurus, ga kenal ama hal-hal kaya gitu. Ternyata sama aja” katanya sambil tersenyum.

Aku tersenyum sambil memegang tangannya, “aktivis khan juga manusia, emangnya jikalau aktifis ga boleh nafsu?” tanyaku. Dia tersenyum, kemudian matanya melirik ke arah selangkanganku. “trus sekarang nafsu ga ?” pertanyaan yang cukup menarik hati buatku. “dikit” jawabku. Dia tertawa dan kemudian kembali bersandar padaku sambil kembali menatap monitor komputer. “aku belum pernah ML, tp menjelang kelulusan SMA dulu pernah petting aja sama pacarku, beliau polisi” ceritanya. Aku membisu saja, kami sama-sama memandangi layar monitor yang menayangkan belahan sepasang kekasih Thailand bercinta dengan ganas di sebuah sofa. “kalau lama-lama liat gini nafsuku jadi tambah nich” candaku. Dia tertawa sambil menatapku, “ya udah jikalau gitu matiin aja” katanya. “yakin mau dimatiin aja? Ga nunggu ampe habis?” tanyaku sambil memandang genit padanya. “Terserah kau dech” katanya sambil berdiri. “mau kemana” tanyaku. “numpang ke kamar mandi, nglanjutin yang tadi” katanya sambil tertawa. “yeee, ngapain di kamar mandi? Disini aja gapapa kok” jawabku. Dia menjulurkan lidahnya sambil tersenyum ke arahku dan pribadi menuju kamar mandi kostku.
Tinggalah saya sendiri d kamar sambil menonton BF yang memang belum sempat kutonton itu. Melihat belahan yang semakin memancing itu, tanganku tanpa sadar masuk ke dalam celana, membelai kontolku yang sudah semakin tegang, saya sempat membayangkan Vina yang sedang masturbasi di kamar mandi kostku. Tiba-tiba Vina muncul di depanku sambil setengah berteriak “haaayyyoooo, ngapain… dasar cowok, gres ditinggal bentar aja udah ga mampu nahan nafsu. Hahaha….” Wajahnya tampak sangat ceria mampu membalas perlakuanku tadi. Aku yang salah tingkah lantas segera menarik tanganku dari dalam celana. “eh, dasar. Ngagetin aja. Kok cepet banget, katanya mau nglanjutin yang tadi” kataku salah tingkah. Dia tertawa, “aku cuma pipis aja kok” jawabnya. Kemudian beliau kembali duduk di sampingku. Dia melihat ke arah selangkanganku, kemudian memandang wajahku sambil tertawa melihat kontolku bergerak-gerak menahan nafsu.

Dia kembali memandang ke monitor, lalu bergumam “tapi emang hot banget sich” beliau kembali memandangku. “Ri, saya ga mau munafik, saya nafsu. Tapi saya takut ML. Boleh ga saya nyelesaiin yang tadi? Kamu boleh liat dech. Tapi ga boleh nyentuh aku” katanya. Aku tersenyum, “iya, saya ga akan nyentuh kamu, tapi jikalau misalnya saya juga ga tahan, boleh ga saya juga ngocok? Kasian nich dedeknya” kataku sambil menunjuk ke arah kontolku. Dia tersenyum, lantas mengangguk. “Pintunya ditutup aja yah” pintanya. Aku pun berdiri dan menutup pintu kamarku, sandal Vina sengaja kumasukkan supaya jikalau ada yang datang mengira tidak ada orang lain di kamarku. Setelah saya menutup pintu, saya liat Vina sudah berbaring di tempat tidurku, cardigannya diletakkan di samping komputer dan hanya memakai t shirt putihnya. Di kamarku tidak ada dipan, kasur sengaja kuletakkan di bawah dan semua memang kulakukan dengan lesehan. Vina memandangku kemudian bertanya, “kamu punya selimut ga?” saya memberinya selimut tipis belang yang biasa digunakan di Rumah Sakit. Dia menutupi kakinya hingga batas perut, kemudian melorotkan rok dan celana dalamnya. Aku menelan ludah, membayangkan dibalik selimut itu Vina tidak mengenakan apa-apa lagi. Vina memandangku sekilas, tersenyum “gapapa khan?” saya mengangguk. “santai aja” jawabku.

Vina memasukkan tangan kanannya ke balik selimut, sementara tangan kirinya menahan ujung selimut semoga tidak tersingkap. Matanya kembali menatap monitor komputer, tak lama kemudian terdengar nafasnya mulai memburu, matanya sayu menatap komputer, lantas melirikku. “mau bantu saya ga?” “ngapain?” jawabku sambil mendekatinya Dalam hati saya berharap beliau berubah pikiran dan akan memintaku ML dengannya. “remesin toketku donk. Aku horny bgt nich” jawabnya. Aku mengangguk dan pribadi melaksanakan yang ia minta. Ga kurang akal, saya mulai merayunya “ga kerasa banget kali Vin, BHmu buka aja. Biar lebih kerasa” Dia mengangguk dan berhenti sejenak, beliau duduk dan membuka sendiri pengait BHnya, lantas menariknya dari bab depan kaosnya. Kontolku makin mengeras melihatnya. Dia kembali menggerakkan tangannya dibalik selimut, menggesek jari di memeknya. Sementara saya meremas-remas toketnya dari luar kaosnya. “mau yang lebih enak, Vin?” rayuku lagi. Ia mengangguk. Tanganku bergerak masuk dalam kaosnya, kuremas-remas dan kupilin putingnya dari dalam. “aaacccchhhhh…… uuuughhhh” beliau melenguh. Saat itu belahan film memperlihatkan sang cewek mengoral Penis cowoknya. Itu membuatku makin terangsang. Kucoba menaikkan kaos Vina, beliau membisu tidak menolak, matanya terpejam menikmati yang ia lakukan. Setelah toketnya terbuka, tanpa minta persetujuannya saya pribadi menghisap toketnya.Dia membuka mata dan tampak terkejut, tapi segera kuhisap lagi toketnya dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia meringis, lalu tersenyum. “ennaaakk….”katanya. Aku pun makin ganas memainkan toketnya, kuhisap dan kadang kugigit pelan. Dia nampak sangat menikmati itu.

Aku mencoba jalan terakhirku. Sengaja saya berbaring di sebelahnya, beliau melirikku “pegel nich, sambil baring gapapa ya?” alasanku. Dia mengangguk. Sambil tetap menghisap dan menggigit toketnya, saya coba kembali merayunya. “Kaosmu buka aja sekalian ya? Biar gampang” dan beliau mengangguk sambil tangannya tetap memainkan memeknya sendiri. Nafasnya masih terdengar memburu. Aku pun sengaja bangkit, duduk dan segera membuka kaosnya. Kulipat kaosnya, dan kuletakkan disamping kasurku, kemudian saya kembali berbaring sambil menghisap-hisap toketnya. Kini Vina sudah telanjang lingkaran tanpa sehelai pakaian, hanya menutupi tubuhnya dengan selimutku. Target pertama sukses, pikirku
Tanpa Vina sadari, sementara sambil menghisap dan tangan kananku meremas-remas toketnya, tangan kiriku melorotkan celana yang kukenakan. Kontolku sudah sangat tegang, dan pikiranku sekarang hanya satu tujuan. Aku harus mencicipi keperawanan Vina. “Peduli setan pacarnya Polisi” pikirku. Vina masih memejamkan matanya, “aaacchhh…aaacchh..aaacchh..” desahnya pelan. Aku bergerak naik, tidak hanya putingnya, hisapan dan gigitanku mulai naik ke dadanya, lantas pelan menuju lehernya. Dia tetap memejamkan mata, dari leher, hisapan dan gigitanku mulai kupadukan dengan jilatan pelan menyusuri dagunya, alhasil kucium bibirnya. Dia membuka mata, namun tidak menolak ciumanku. Kami berpagutan, lidahku kumasukkan melewati bibirnya, sesekali kuhisap lidahnya. “hhmmmppph…” desahnya pelan. Kulepaskan ciumanku, menuju pipinya, kemudian telinganya, “heegh… geli” katanya sambil menggeliat, itu membuat selimut yang menutupinya tersingkap, dan memperlihatkan pahanya yang putih bersih. Tapi beliau membisu saja, antara tidak sadar atau memang sengaja. Sambil tetap menjilati menjilati leher dan telinganya, saya berbisik “enak, Vin?” beliau mengangguk lemah. “bantuin saya juga donk say” kataku. Dia menatapku sayu, kumasukkan tanganku ke balik selimut, kutarik tangannya yang sedang menggesek memeknya, dan kuarahkan ke kontolku. Dia mendelik kaget, kemudian bertanya “kapan kau buka celana?” saya tersenyum. “kamu pegang kontolku aja say, biar saya yang nggesek memekmu” jaawabku, lantas mulai menggesek klitorisnya dengan jari telunjukku. Vina tersenyum lantas mengangguk. Tangannya mengocok pelan kontolku. “besar juga yah” katanya sambil tersenyum. Aku tertawa, kemudian sengaja mencubit klitorisnya. “aaaccchhhh….” Dia mendesah. Kami kembali berciuman, saya sambil berbaring di sebelah kanannya.
Sekitar 5 menit dalam posisi itu, saya mulai mencari kesempatan melaksanakan yg lebih jauh lagi. Kembali kuciumi pipinya, kemudian kuarahkan bibirku ke telinganya. Kemudian saya bangkit, dan terus menciumi pendengaran Vina. Dia makin terangsang, “aacchhhh….geli sayang… geli banget” katanya. Sambil berpura-pura mencoba untuk berpindah ke pendengaran kiri, saya mengangkangi tubuhnya. Aku terus menggigit dan menjilati pendengaran Vina, nampaknya itu ialah kawasan sensitifnya. Tangan kananku meremas dan memainkan toket kirinya, sedangkan tangan kiriku perlahan menarik selimut yang masih menghalangi tubuh kami. Vina yang makin terangsang tidak menyadari bahwa pembatas antara tubuh kami mulai tersingkap. “aacchhhh… geli say…geli banget… ouuuffffhhh…” beliau terus mengerang, sementara selimut pembatas itu terus kutarik pelan-pelan.

Ketika alhasil selimut itu benar-benar tersingkap, posisiku sudah berada diatas tubuh Vina, kedua kakiku berada diantara kedua kakinya, sehingga beliau tidak dapat berkutik. Vina menyadari itu, beliau sempat berusaha berontak, tapi hisapan dan gigitanku di telinganya, ukiran tangan kananku di memeknya, dan remasan-remasan tangan kiriku di toketnya membuatnya kembali mendesah. “aacchhh… kau mau ngapain? Aaacchhhh…. Jangan dimasukin yaaah, saya belum pernah ngentot” ujarnya. Aku mengangguk, sambil tetap menghisap telinganya. Itu membuat beliau lebih hening dan kembali mengocok kontolku. Tapi itu memang bab dari strategiku, pelan kuturunkan pantatku hingga kepala kontolku makin mendekati memeknya. Sambil terus merangsangnya, saya perlahan menempatkan kepala kontolku di depan memeknya. Ketika kurasakan memeknya makin basah, dan beliau makin terangsang, kucoba melancarkan serangan akhirku. “Vin,….” Bisikku di telinganya. “hhmmmmmpppp….” beliau hanya mendesah. “Enak sayang?” beliau mengangguk, kocokan tangannya d kontolku melemah, kemudian berhenti. Dia menarik tangannya lantas meremas-remas sendiri toket kanannya. Sementara memeknya terasa makin basah.

Kesempatanku makin terbuka, mulai kutempelkan kepala kontolku di permukaan memeknya. Film di monitor komputer mulai habis, berganti dengan gambar screen saver foto-fotoku. Jariku yang mengocok klitorisnya mulai kugantikan dengan kepala kontolku. Kugesek-gesekkan di permukaan memeknya, sementara beliau masih menikmati semua rangsangan yang kuberikan. Memeknya yang makin berair terasa menggodaku untuk memasukkan kontolku yang sudah tegang, tapi memang harus tabah untuk menerima hasil terbaik. Masih kugesek-gesekkan kontolku di permukaan memeknya yang mulai banjir, bunyi desahannya makin kencang dikala kuhisap daun telinganya, dan kujilat bab dalam telinganya dengan lidahku. Ketika kepala kontolku sudah benar-benar sempurna di depan lubang memeknya, kuhentikan hisapanku di telinganya. Sengaja kuangkat dadaku sambil bertumpu dengan tangan kanan. Kutatap wajahnya yang tampak sangat terangsang, matanya terpejam, mulutnya terus mengeluarkan bunyi desahan. “Vin,….” Dia membuka matanya. “enak sayang?” tanyaku. Dia mengangguk. “eeemmmmmmpphhh…enak banget, saya suka” katanya. “tanggung sayang, biar lebih enak lagi, saya masukin kontolku, yah?” beliau membuka matanya, tangannya pribadi meraba memeknya, menyentuh kepala kontolku yang memang masih diluar. Matanya sayu menatapku. “belum kok, saya tidak akan melakukannya tanpa persetujuanmu. Aku ga ingin melukai perasaanmu” rayuku. Dia masih menatapku, matanya tetap sayu…. Akhirnya, tanpa kuduga beliau menganggukan kepalanya. “aku juga pengen banget” sahutnya. “puasin aku, Ri…” katanya lagi, beliau memegang kontolku dan mengarahkannya ke memeknya. Target tercapai.
Perlahan kuturunkan pinggulku. Karena belum pernah mencicipi perawan sebelumnya, saya agak nervous juga, tapi melihat wajah Vina yang sudah sangat terangsang, saya pun berusaha santai. Kudorong pelan kontolku. Wajah Vina mengernyit, “pelan sayaang, sakiiit” katanya. Aku tersenyum, sambil kucium bibirnya, tanganku membantu mendorong kontolku. Sesekali kuarahkan bibirku ke pendengaran dan lehernya, kuhisap, kujilat dan kugigit pelan. “aacchhh..aacchh…” beliau mendesah, terus kudorong pelan kontolku, kepala kontolku mulai masuk, memeknya yang merekah merah perlahan menelan batang kontolku. “aaacchhhh…sayang, saaakkkiiittt….” Katanya, saya terus menjilati bab dalam telinganya sambil terus mendorong kontolku pelan. Kucium bibirnya, beliau membalas dengan ganas, digigitnya lidahku. “tahan ya sayang, bentar lagi enak kok” jawabku berbisik di telinganya. Dia mengangguk, tangannya mencengkram erat lenganku. Akhirnya semua batang kontolku masuk, saya dapat mencicipi dinding rahimnya di ujung kepala kontolku. Mulai kutarik pelan kontolku, lantas kudorong masuk lagi. Dia mulai menikmati, “aaaccchhh…aaaccchhh…. Enak sayang, enak…..” beliau mendesah. Terus kumainkan pinggulku dan perlahan menaikkan ritme, semakin cepat dan semakin cepat. Kurasakan memeknya ibarat meremas-remas batang kontolku. Desahannya pun makin keras dan makin cepat, mengikuti bacokan kontolku dalam memeknya.

“aacchhh..acchh..aaacchhh… enak sayang. Enak…” bisiknya di telingaku, pinggulnya mulai bergerak alami mengimbangi tusukan-tusukanku. Kulingkarkan kakinya ke pinggangku, beliau makin keras mendesah, matanya menatapku sayu dan bibirnya sedikit terbuka. Kucium bibir itu, beliau kembali menggigit lidahku. Kurubah lagi posisi dengan menaikkan kakinya ke pundakku. Ketika kudorong kontolku dalam posisi ini, beliau ibarat tersihir. Matanya membelalak menatapku dan bibirnya sedikit terbuka. “ri,… enak banget sayang…. Sumpah, enak banget…. Kontolmu enak banget…” mendengar itu saya pun makin terangsang, kunaikkan ritme tusukan-tusukanku, sementara tangan kiriku bertumpu pada kasur, tangan kananku meremas kedua toketnya berganti-ganti. Kutatap wajahnya yang terlihat seksi dengan butir-butir keringat di kening dan lehernya. Tak berapa lama kemudian desahan-desahannya makin menggila, begitu pula gerakan pinggulnya makin liar. “ ari..ari..terus sayang,…terus…. Masukin kontolmu terus sayang…masukin lagi…Enak banget sayang….aaacchhh….enak sayaaannggg…..” desahnya sambil menggerakkan pinggulnya ke segala arah. Dan kemudian, badannya mengejang, lantas tubuhnya kaku sesaat, kurasakan remasan memeknya di batang kontolku makin kuat, lantas terasa hangat. Dia menerima orgasme pertamanya.

Sengaja kubiarkan kontolku dalam memeknya, menunjukkan beliau kesempatan untuk mencicipi saat-saat itu. Aku tersenyum, lantas mencium bibir dan keningnya. “enak khan sayang?” tanyaku. Dia tersenyum, matanya sayu menatapku. “enak banget, kau pasti udah sering banget ML, ya? Jago banget…” ujarnya. Aku tersenyum, kucium lagi bibirnya, “kamu yang kedua sayang” rayuan gombalku. Dengan kontolku masih menancap dalam memeknya, kuremas-remas toketnya kembali. Kedua kakinya yang ada di pundakku kuturunkan. “aku belum puas lho, Vina ku sayang” bisikku di telinganya. Dia tersenyum, “iya, saya tahu. Aku juga masih mau lagi kok” ujarnya. Kami saling tersenyum, “beeerrrattt” ucapnya manja, ketika separuh berat badanku kusandarkan padanya. “oh ya, sorry” jawabku. Aku pun memiringkan badan, berbaring disampingnya. Secara otomatis kontolku tercabut dari memeknya. “kok dicabut sich?” protesnya. “katanya berat” jawabku sambil tersenyum. “Badannya yang berat, jikalau kontolnya enakkan didalam” sahutnya manja. Aku tersenyum.

“Filmnya habis ya?” tanyanya. “puterin lagi yang lain donk, biar saya mampu belajar” katanya lagi sambil tersenyum. Aku bangkit, membuka file dan menayangkan film BF di monitor komputerku lantas kembali berbaring disampingnya. Ketika belahan memperlihatkan seorang wanita yang mengoral pasangannya, Vina bangkit, beliau duduk disampingku lantas pribadi memegang kontolku. Menatapku sebentar, lalu tersenyum. Kemudian dimasukkannya batang kontolku dalam mulutnya, beliau merubah posisinya sehingga mampu tetap memandang monitor komputer. Apa yang ditayangkan di layar komputer, pribadi dilakukannya kepada kontolku, beliau menjilati lubang kencingku, menghisap bola pelerku dan sesekali mengocok kontolku dengan tangan. Tak lama kemudian, saya mencicipi cairan lahar akan keluar dari kontolku. Aku berbisik padanya, “Vin, saya mau keluar sayang…” beliau menolehku sesaat, kemudian kembali memasukkan kontolku dalam mulutnya, disedot-sedotnya kontolku hingga alhasil saya tak kuasa menahan muntahan pejuh itu. Dia tampak agak terkejut, namun sambil menatapku, beliau tetap menahan kontolku dalam mulutnya. Ditelannya habis semua cairan yang keluar dari kontolku. Setelah itu beliau menjilati kontolku lantas kembali merebahkan tubuhnya disampingku. “enak ga?” tanyanya. Aku mengangguk sambil tersenyum, kupeluk tubuhnya dan kubiarkan beliau meletakkan kepalanya di dadaku. “makasih ya sayang”kataku sambil mencium keningnya.

Ternyata malam tahun gres itu, kedua sahabat kostku memutuskan untuk tidak kembali ke kost. Mereka meng SMSku dan minta maaf alasannya ialah saya jadi sendirian di kost. Ketika Vina tahu, beliau tersenyum, “kalau gitu, saya boleh donk nemenin kau malam ini?” “siapa yang mampu menolak?” jawabku sambil mencubit putting toketnya. Aku pribadi mengenakan celanaku, dan meminta Vina untuk menunggu. Aku membeli makanan, kondom, dan minuman suplemen. Sengaja saya menutup pintu gerbang kost untuk mengesankan bahwa rumah dalam keadaan kosong, lampu luar pun sudah kunyalakan. Malam tahun gres itu, saya dan Vina benar-benar memuaskan nafsu kami. Kami melihat beberapa film BF dan pribadi mempraktekkan beberapa gaya bercinta yang ditampilkan dalam film itu. Sejak dikala itu mesti masing-masing kami mempunyai pacar, Vina beberapa kali chek in di aneka macam hotel bersamaku. Sampai ketika kami sama-sama lulus tahun 2005, beliau kembali ke Makasar. Saat ini beliau telah menikah dengan seorang polisi, pacarnya semenjak SMU dulu dan memiliki 2 anak. Kami masih berafiliasi lewat email maupun FB.

3

Cerita Sex Terbaru Mertuaku Yang Masih Seksi

Kenalkan, Namaku Wanto Gunardi (nama samaran). Seorang pria berusia 35 tahun, menikah, dengan seorang wanita yang sangat cantik dan molek. Aku dikaruniai Allah 2 orang anak yang lucu-lucu. Rumah tanggaku bahagia dan harmonis, meskipun kami hidup sederhana.


Bisa dibilang semenjak SMA saya yakni pria idaman wanita. Tidak alasannya yakni fisikku yang atletis ini saja, tapi juga alasannya yakni kemampuanku yang andal (tanpa bermaksud sombong) dalam bidang olahraga (basket dan voli, serta bulu tangkis), seni (aku mahir piano dan seruling) dan juga pelajaran (aku menduduki peringkat ketiga sebagai pelajar terbaik di SMAku). Bedanya waktu di SMA dahulu, saya tidak terlalu tertarik dengan hal-hal menyerupai seks dan wanita, alasannya yakni ketika itu konsenterasiku lebih terfokus pada persoalan akademisku.

Bakat playboyku mulai muncul setelah saya menjadi seorang kepala rumah tangga. Aku mulai menyadari daya tarikku sebagai seorang pria normal dan seorang pejantan tangguh. Sejak diangkat sebagai kabag adegan pemasaran inilah, pikiran-pikiran kotor mulai singgah di otakku. Apalagi saya juga hobi menonton film-film biru.

Perempuan lain yang sempat hadir dihatiku yakni Maya. Dia yakni rekan kerjaku, sesama pegawai tapi dari jurusan berbeda, Accounting. Dia berasal dari Surakarta, tinggal di Bandung sudah lama. Kami sempat menjalin kekerabatan gelap setahun setelah saya menikah dengan Lilis, istriku. Hubungan kami tidak hingga melaksanakan hal-hal yang menjurus kepada acara seksual. Hubungan kami hanya berlangsung selama 6 bulan, alasannya yakni beliau pindah ke lain kota dan dinikahkan dengan orang tuanya dengan pria pilihan mereka. Dasar nasib!!! Niatku berpoligami hancur sudah. Padahal saya sudah berniat menjadikannya istri keduaku, walau istri pertamaku suka atau tidak. Karena frustasi, untuk beberapa bulan hidupku terasa hampa. Untungnya sikapku ini tidak bertahan lama, alasannya yakni di tahun yang sama saya berkenalan dengan seorang sahabat yang mengajariku gaya hidup sehat, bodybuilding.

Saat itu, sekitar tahun 1998, yang namanya olahraga fitness, bukanlah suatu ekspresi dominan menyerupai sekarang. Peminatnya masih sedikit. Gym-gympun masih jarang. Sejujurnya saya malas berbodybuilding menyerupai yang dilakukan temanku itu. Apalagi ketika itu sedang panas-panasnya gosip politik dan kerusuhan sosial. Belum lagi adanya krismon yang benar-benar merusak perekonomian Indonesia. Untungnya perusahaan tempatku bekerja cukup berpengaruh bertahan angin kencang tanggapan krismon, hingga saya tidak turut diPHK. Namun temanku yang sangat baik itu terus memotivasiku, hingga tak hingga 3 bulan, saya yang tadinya hanya seorang pria berpostur biasa-biasa saja-walaupun saya bertubuh atletis, menjadi seorang atlet bodybuilding gres yang cukup berprestasi di kejuaraan-kejuaraan kawasan maupun nasional. Hebatnya lagi kantorku dan seluruh keluargaku ikut mendukung semua aktivitasku itu. Kata mereka ”kantor kita punya Ade Rai baru, hingga kita tidak perlu satpam atau bodyguard baru” suatu anekdot yang sudah menjadi santapanku berhari-hari.

Semakin berlalunya waktu, acara bodybuilderku kukurangi. Apalagi saya sudah diangkat menjadi kabag pemasaran sekarang, di mana keuntungan mulai berpihak pada perusahaan tempatku bekerja. Aku mulai bertambah sibuk sekarang. Namun untuk menjaga fisikku supaya tetap bugar dan prima, saya tetap rutin basket, voli, dan bersepeda. Hanya 2 kali seminggu saya pergi ke tempat fitness. Hasilnya tubuhku tetap kelihatan atletis dan berotot, namun tidak sebagus ketika saya menjadi atlet bodybuilding dadakan.

Sewaktu saya menjadi atlet bodybuilding, banyak wanita melirikku. Beberapa di antaranya mengajakku berkencan. Tapi alasannya yakni ketika itu saya sedang asyik menekuni olahraga ini, tanggapan dan godaan mereka tidak kutanggapi. Salah satu yang suka menggodaku yakni Mia. Dia yakni puteri tetangga mertuaku. Baru saja lulus SMA, dan beliau akan melanjutkannya ke sebuah PTn terkenal di kota Bandung. Gadis itu suka menarik hati di setiap mimpiku dan bayangannya selalu menghiasi pikiranku ketika saya menyetubuhi istriku. Kisahku dengan Mia akan kuceritakan lain waktu.

Seperti biasanya, saya bangun pagi. Pagi itu saya bangun pukul 04.30 pagi. Setelah basuh muka, saya mulai berganti pakaian. Aku akan melaksanakan olahraga pagi. Udara pagi yang sehat memang selalu memotivasiku untuk jogging keliling kompleks perumahanku. Dengan hambar saya memakai baju olahraga yang cukup ketat dan pas sekali ukurannya di badan machoku ini. Kemudian saya mengenakan celana boxer yang juga ikut mencetak pantatku yang menyerupai dipahat ini. Aku sengaja bersikap demikian demi mewujudkan impianku, menarik hati Mia dengan keindahan tubuhku. Menurut kabar, beliau juga suka jogging. Niatku bersenang-senang dengan Mia memang sudah lama kupendam. Namun selama ini gadis itu selalu membuatku gemas dan penasaran. Dia menyerupai layangan yang diterbangkan angin, didekati menjauh, dijauhi mendekat.

Tak berapa lama jogging, tubuhku pun sudah mulai keringatan. Peluh yang membasahi kaus olahragaku, membuat badan kokoh ini tercetak dengan jelas. Aku membayangkan Mia akan terangsang melihatku. Tetapi sialnya, pagi itu tidak ada tanda-tanda Mia sedang berjogging. Tidak kelihatan pula tetanggaku lainnya yang biasa berjogging bersama. Padahal saya sudah berjogging sekitar 30 menit. Saat itu saya gres sadar, saya bangun terlalu pagi. Padahal biasanya saya jogging jam 06.00 ke atas. Dengan perasaan kecewa saya balik ke rumah mertuaku. Dari depan rumah itu tampak sepi. Aku maklum, penghuninya masih tertidur lelap. Tadi pun ketika saya bangun, tidak terdengar komentar istriku alasannya yakni beliau sedang terlelap tidur setelah semalaman beliau menemani anakku bermain playstation. Saat saya berjalan ke arah dapur untuk minum, saya melihat ibu mertuaku yang seksi itu sedang mandi. Tampaknya beliau sudah bangun ketika saya berjogging tadi.

Kamar mandi di rumah mertuaku memang bersebelah-sebelahan dengan dapurnya. Setiap kali anda ingin minum, anda harus melewati kamar mandi itu. Seperti disengaja, pintu kamar mandi itu dibiarkan sedikit terbuka, hingga saya bisa melihat adegan belakang badan semok mertuaku yang menggairahkan itu dengan jelas. Mertuaku walaupun usianya sudah kepala 4, tapi masih kelihatan seksi dan molek, alasannya yakni beliau sangat rajin merawat tubuhnya. Dia rajin senam, aerobik, body language, minum jamu, ikut diet sehat, sehingga tak heran tubuhnya tidak kalah dengan badan wanita muda usia 30-an.

Melihat pemandangan syur itu, kontan batangku mengeras. Batang besar, panjang, dan keras itu ingin mencicipi lubang hangat yang nikmat, basah, dan lembab. Batang itu juga ingin diremas-remas, dikulum, dan memuncratkan pelurunya di lubang yang lebih sempit lagi. Sambil meremas-remas batangku yang sudah mulai tegak tepat ini, kuperhatikan terus acara mandi mertuaku itu. Akhirnya timbul niatku untuk menggaulinya. Setelah menimbang-nimbang untung atau ruginya, saya pun memutuskan nekat untuk ikut bergabung bersama ibu mertuaku, mandi bersama. Kupeluk beliau dari belakang, sembari tanganku menggerayang liar di badan mulusnya. Meraba mulai dari leher hingga kemaluannya. Awalnya ibu mertuaku kaget, tetapi setelah tahu saya yang masuk, wajah cantiknya eksklusif tersenyum nakal.

”Panji, bandel kamu” katanya sambil balas memelukku. Dia berbalik, eksklusif mencium mulutku. Tak lama kami sudah berpagut, saling cium, raba, dan remas badan masing-masing. Dengan tergesa kubuka bajuku dibantu mertuaku hingga saya sudah bertelanjang bulat. Batangku pun mengacung tegang, besar, dan gagah.

Kami pun melaksanakan pemanasan sekitar 10 menit dengan permainan oral yang nikmat di batangku, sebelum kemaluannya kutusuk dengan batangku. Permainan birahi itu berlangsung seru. Aku menyetubuhinya dalam posisi doggy style. Aku merabai payudaranya yang kencang itu, meremas-remasnya, mempermainkan putingnya yang sudah mengeras. 30 menit berlalu, ibu mertuaku sudah hingga pada puncaknya sebanyak 2 kali. 1 kali dalam posisi doggy, 1 kali lagi dalam posisi berhadap-hadapan di dinding kamar mandi. Namun sayangnya, batangku masih saja mengeras. Aku panik karenanya. Aku khawatir jikalau batangku ini masih saja bangun sementara hari sudah mulai pagi. Aku khawatir kami akan dipergoki istriku. Rupanya mertuaku mengerti kepanikanku itu. Dia kembali mengoral batangku yang masih bugar dan perkasa ini, lalu beliau berbisik mesra,

”Jangan khawatir panji sayang, waktunya masih lama” katanya nakal.
Aku galau mendengar ucapannya, tapi kubiarkan aktivitasnya itu sambil terus mendesah-desah nikmat. Tiba-tiba ibu mertuaku menghentikan perbuatannya itu. Dia eksklusif berdiri. Melihat itu, saya pun protes,
”Lho, bu, saya khan belum keluar?” suaraku parau, penuh birahi.
”Sabar sayang, kita lanjut di kamarku saja yuk” katanya mesra.
Aku pun tambah bingung. ”Tapi khan ada bapak?” suaraku masih saja parau, alasannya yakni birahi.

”Tenang saja, bapakmu itu sudah pergi tak lama setelah kau jogging tadi, beliau ada peran ke Jawa” sahut ibu mertuaku sambil mengemasi pakaian olahragaku yang tercecer di kamar mandi dan kemudian menggandengku ke arah kamarnya. Begitu hingga di kamarnya, saya disuruhnya telentang di ranjang, sementara beliau mengelap sisa-sisa air, keringat, dan sabun di tubuhnya dengan handuk kering yang sudah ada di kamarnya. Lalu beliau melaksanakan hal yang sama padaku. Setelah itu beliau eksklusif saja mengambil posisi 69, mulai mengoral batangku kembali. Tak lama nafsuku pun bangun kembali. Kali ini saya bertekad akan membuat mertuaku keluar hingga tiga kali. Aku memang khawatir hubunganku di pagi ini akan tertangkap berair istriku, tapi persetanlah…que sera-sera. Apapun yang akan terjadi terjadilah.

Aku pun balik menyerang ibu mertuaku. Mulut dan lidahku dengan ganas mempermainkan miliknya. Tanganku juga ikut aktif merabai, meremasi bibir kemaluan dan menusuki lubang anal ibu mertuaku. Kelentitnya yang sudah membengkak alasannya yakni rangsangan seksual kujilati, dan keremasi dengan gemas. Kumainkan pula apa yang ada di sekitar kawasan kemaluannya. Gabungan remasan jari, kobokan tangan di kemaluannya, dan serangan lidahku berhasil membuat mertuaku keluar lagi untuk yang ketiga kalinya. ”Aaaaahhhh…. panji sayang ….” jerit nikmat ibu mertuaku. Cairan birahi ibu mertua keluar deras dari lubang vaginanya. Langsung saja kuhisap dan kutelan habis hingga tidak ada yang tersisa.

Akupun tersenyum, lalu saya merubah posisiku. Tanpa menunjukkan kesempatan ibu mertuaku untuk beristirahat, kuarahkan batangku yang masih bugar dan perkasa ini ke arah vaginanya, lalu kusetubuhi beliau dalam posisi misionaris. Kurasakan batangku menembus liang vagina seorang wanita kepala 4 yang sudah beranak tiga, tapi masih terasa kekenyalan dan kekesatannya. Tampaknya jadwal jamu khusus organ badan wanita yang beliau minum berhasil dengan baik. Miliknya masih terasa enak dan nikmat menggesek batangku ketika keluar masuk.
Sambil menyetubuhi ibu mertuaku, saya mempermainkan buah dadanya yang besar dan kenyal itu, dengan verbal dan tanganku. Kuraba-raba, kuremas-remas, kujilat, kugigit, hingga payudara itu kemerah-merahan. Puas bermain payudara tanganku mempermainkan kelentitnya, sementara mulutku bergerilya di ketiaknya yang halus tanpa bulu, sementara tangan satunya masih mempermainkan payudaranya. Tangan ibu mertuaku yang bebas, meremas-remas rambutku, dan mencakar-cakar punggungku. Posisi nikmat ini kami lakukan selama bermenit-menit, hingga 45 menit kemudian ibu mertuaku mencapai orgasmenya yang keempat. Setelah itu beliau meminta istirahat. Aku bahwasanya malas mengabulkan permintaannya itu, alasannya yakni saya sedang tanggung, hampir mencapai posisi puncak. Namun kesudahannya saya mengalah.

”Panji kau andal banget deh, kau sanggup membuat ibu keluar hingga empat kali” puji ibu mertuaku.
”Aah ibu bisa saja deh” kataku merendah.
”Padahal kau sudah jogging 45 menit, tapi kau masih saja perkasa” lanjut pujiannya.
”Itukan sudah jadi kebiasaanku, bu” saya berkata yang sebenarnya.
”Kamu benar-benar lelaki perkasa, Lilis beruntung mendapatkanmu” puji mertuaku lagi.

Lalu kami bercakap-cakap menyerupai biasanya. Sambil bercakap-cakap, tangan ibu mertuaku bandel bergerilya di sekujur tubuhku. Terakhir beliau kembali mempermainkan batangku yang sudah mengerut ukurannya.

Aku bangkit, lalu beranjak dari tempat tidur. Ibu mertuaku memandangku heran, dikiranya saya akan keluar dari kamarnya dan mengakhiri permainan cinta kami. Tapi kutenangkan beliau sambil berkata, ”Sebentar bu, saya akan mengecek keadaan dulu”. Aku memang khawatir, saya takut istri dan anakku bangun. Dengan cepat kukenakan kembali pakaian olahragaku dan keluar kamar mertuaku. Ternyata dugaanku salah. Hari memang sudah beranjak pagi, sekitar jam 6.15 menit, tapi istri dan anakku belum juga bangun. Penasaran kuhampiri kamarku dan kamar tempat anakku tidur. Ternyata baik anak maupun istriku masih tertidur lelap. Aku lega melihatnya. Sepertinya permainan playstation semalam, berhasil membuat mereka kolaps. Aku mendatangi jam weker di kamar keduanya, lalu kustel ke angka 9 pagi.

Aku menatap wajah istriku yang tertidur penuh kedamaian, sambil berkata dalam hati, ”Tidurlah yang lama sayang, saya belum selesai menikmati badan ibumu” lalu mengecup pipinya. Setelah itu, saya kembali ke kamar mandi, mencuci tubuhku, lalu balik lagi ke kamar mertuaku. Kami terlibat kembali dalam persetubuhan nikmat lagi. Dalam persetubuhan terakhir ini, saya dan ibu mertuaku sama-sama meraih orgasme kami bersama dalam posisi doggy anal. Sesudahnya saya balik ke kamar istriku, setelah membersihkan diri di kamar mandi untuk yang terakhir kali, dan kemudian mengenakan baju tidurku kembali.

Begitulah dongeng seksku dengan Ibu mertuaku di suatu pagi hari yang indah. Tidak ada Mia, ada Arini, mertuaku yang semok dan menggairahkan.


3

Kesempatan Ngentot Tetanggaku Saat Listrik Padam

Kejadian ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, Ketika saya gres beberapa bulan pindah ke sebuah perumahan yang masih sepi dari penghuni. Jika malam itu ialah malam sial bagiku, mungkin benar… pasalnya siangnya Puspa istriku berangkat ke Semarang dijemput mas Tono kakak lelakinya, untuk menghadiri ijab kabul sepupu mereka, sedangkan saya memang ga ikut alasannya ialah ga mungkin meninggalkan peran kantor yang memang sedang tinggi loadnya di tamat tahun ini…


Yang pertama malam ini saya bakal kesepian di rumah, yang kedua gres tadi pagi menstruasi Puspa istriku berhenti, seharusnya malam ini saya dapat jatah setelah selama hampir seminggu kejantananku ga ketemu musuh … Makanya sepulang kantor saya mampir ke Glodok tempat yang memang sehari-hari saya lewati… kubeli beberapa filem bokep… pikirku lumayan untuk menghabiskan week end ini…. Menjelang memasuki gerbang perumahan yang masih sepi dari penghuni ini, hampir saya mengumpat keras, ketika ingat kalao DVD playerku masih berada di tukang service yang seharusnya sudah bisa diambil beberapa hari yang lalu dan sekarang, gila aja kalau saya harus putar balik menembus kemacetan Jakarta hanya untuk mengambil benda itu…. Aaaah… saya ingat mas Budhi satu-satunya tetangga terdekatku yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku, saya bisa pinjam dia… kembali saya bernafas lega. Sehabis mandi, segera saya bertandang ke rumah sebelah, saya sempat heran, ga biasanya masih jam 20.30 ruang tamunya sudah gelap, padahal kendaraan beroda empat Avanza hitam miliknya ada di rumah, berarti mas Budhi ada dirumah… simpulku sederhana…

“ Mas Budhii… maaas…” panggilku dari luar pagar, sesekali kuketok-ketokkan gembok ke pagar besi, sehingga terdengar bunyi besi beradu nyaring… Agak lama kulihat lampu ruang tamu menyala, tapi pintu tidak segera dibuka, kulihat tirai sedikit tersingkap dan ada yang mengintip dari dalam, tumben pake diintip segala…. Biasanya mas budhi pribadi buka pintu.
“ Eeeiii… Bimooo… sorry ya…ayo masuk pagar ga dikunci kan..?” seru bunyi wanita yang sangat saya kenal, mbak Astrid istri mas Budhi keluar dari pintu dengan pakaian tidurnya dilapisi sweater
“ Lho mas Budhi mana mbak… sudah tidur..? waduu jadi ngganggu neeh..?” kataku agak kikuk ketika saya sudah duduk di ruang tamu itu mas Budhi ga muncul..
“ Mas Budhi sedang peran ke Medan Bim… eh mau minum apa neeh..?” mbak Astrid wanita berwajah cantik ini menunjukkan minum yang membuatku semakin jengah untuk duduk berlama-lama disitu, pasalnya mba Astrid dengan pakaian tidur yang tipis memperlihatkan bayangan celana G-String putihnya… saya yakin cuilan atas jikalau tak tertutup sweater akan membayang BH nya… atau mungkin ga pake… yang saya tahu ibu ini buah dadanya sangat montok… Sebenarnya antara saya dan mbak Astrid sudah dekat sekali, bahkan kalo bercanda kadang kala agak seronok… tapi itu justru jikalau ada di depan mas Budhi atau ada Puspa istriku.. ketika berdua begini saya jadi kaya mati angin… sementara mba Astrid masih bersikap wajar…
“ Waah.. ga usah repot-repot mbak… saya hanya mau pinjem DVD player aja kalo bisa…” kataku dengan agak sungkan…
“ Ada kok Bim… bentar saya lepasin kabel-kabelnya yah… sendirian di rumah… mau nonton film jorok ya..?” Tebak mbak Astrid yang tengah berlutut di lantai mencabuti kabel DVD player yang berada dibawah kolong membelakangiku sehingga pantatnya yang semok itu ngepress di baju tidurnya yang tipis dengan celana G-String, terlihat pantat semok itu bagaikan tanpa celana…mau ga mau kejantananku yang sudah seminggu ga ketemu musuhnya merespon positif… mulai menggeliat bangun.
“ Waaah… eeehhh… anuu… buat nonton video pengantin temen yang gres diedit” jawabku sempat gagap…
“ Alllaaaaaa… ga usah ngelesslaaah… iya juga gapapa… udah gede ini…haa..haaa..” potong mbak Astrid sambil meletakkan benda elektronik tipis ini di meja… dengan posisi aga menunduk ini mataku menangkap dua gundukan semok putih mulus tanpa lapisan dari sela-sela sweaternya di dalam daster yang memang berleher rendah… dan mbak Astrid seolah ga merasa akan hal itu…
“ Haaa…haaa… mbak Astrid nuduh neeh… nonton bokep sendirian ga seru… kalo ditemenin mbak Astrid gres seruuu…” jawabku mulai terbawa gaya sembarangannya mbak Astrid…
“ Heeee..??? bener ya Bim..? seumur-umur saya belom pernah nonton bokep… soalnya mas Budhi ga pernah ngasih… kau ada kan filemnya..?” cerocos mbak Astrid tanpa bisa kujawab… dan sebelum saya bisa jawab…
“ Ya udah sana kau duluan saya ngunciin pintu sama matiin lampu dulu….” Tanpa menunggu jawabanku ibu muda ini sudah menghilang ke belakang…
Dengan gontai saya melangkah pulang sambil nenteng DVD player milik mba Astrid… pikiranku jadi kacau, alasannya ialah mba Astrid kepengen ikut nonton bokep sama aku… Sampai dirumah sambil masangin kabel-kabel ke monitor saya gundah sendiri… saya bakal mati gaya, nonton bokep berduaan dengan istri orang… Lain semasa bujangan dulu, kalo nonton bokep justru cari pendamping yang bisa dijadikan pelampiasan… Lulu anak Fakultas Psikologi, pendampingku setia nonton bokep… ujung-ujungnya kami saling melampiaskan walaupun hanya sampe oral sex… Lulu ga mau saya setubuhi, katanya waktu itu beliau masih perawan… Trus beberapa lagi Titiek, Anita, Mimi… kalo mereka bertiga memang sudah dapat predikat ayam kampus. Bahkan pernah saya dikeroyok mereka bertiga semaleman…
“ Heeeiii saya datang…! ko malah ngelamun Bim…?” Suara mba Astrid membuyarkan lamunanku. Mba Astrid datang dengan membawa tentengan berupa beberapa minuman kaleng dan makanan kecil..
“ Busyeeet bekelnya banyak bener…? Mau sampe pagi…?” seruku untuk menetralisir kebingunganku… Waddduuu… saya pikir mba Astrid tadi berganti baju yang lebih pantas, ternyata masih menggunakan baju tidur yang sama… ini namanya sial atau keberuntungan siiih..???
“ Heh..? siapa tau sampe pagi…? Bim aslinya… sebelum kau datang tadi saya di dalam rumah sendirian, tuh takut… tau ga siih..? sepi bangeeet… makanya saya bawa banyak bekel, ntar kita ngobrol aja sampe pagi… setuju..?” celoteh mba Astrid panjang lebar bener-bener ga berubah sikapnya, ada atau ga ada suaminya…
“ Sekarang mau nonton yang mana dulu..? silakan nyonya Astrid menentukan pilihan…” kataku sambil menyodorkan segepok piringan DVD lengkap dengan sampulnya…
Pilihan mba Astrid rupanya tepat, pilihan filmnya masih yang XX… jadi sewaktu nonton kami masih bisa sambil santai bercanda mengkomentari episode demi adegan, walaupun 2 jam kemudian setelah film pertama selesai saya lihat wajah mba Astrid agak memerah dan sesekali merapatkan sweaternya seperti menyembunyikan dadanya yang montok….
“ Mmm… apa sih yang dikuatirkan mas Budhi dengan saya nonton Bokep, kalo beginian sih ga begitu ngaruh saya rasa Bim…?” kata mba Astrid sedikit arogan.. sambil milih-milih lagi film yang akan ditonton berikutnya…
“ Yang bener aja deeeh Nyonya Astrid..?? kalo nontonnya sama suami orang..?” Jawabku menggodanya.. entah kenapa saya bisa menemukan panggilan Nyonya Astrid untuknya yang selama ini ga pernah muncul..
“ Haa… haaa… suami Puspa sih anak kemaren sore mana berani macem-macem..?” sahutnya setengah menantang dengan bibir manisnya dicibirkan padaku… Memang usia mba Astrid lebih renta 2-3 tahun dari aku, makanya sering ledekannya kepadaku selalu menyangkut umur dan apalagi memang wajahku kata orang ialah baby face, innocent… seandainya orang tau kelakuanku di jaman kuliah dulu… pernah kencan ranjang dengan dosen manajemen… pernah pacarin anaknya sekaligus nidurin mamanya… ibu kospun pernah saya embat… mungkin akan lain kesannya padaku dan kebetulan Puspa istriku saya dapatkan ketika saya sudah di Jakarta dan sama sekali tak tahu masa laluku yang brengsek…
“ Biim… iihh asyik banget tuh mereka yak..?” Gumam mba Astrid yang memang dasar mulutnya ga bisa diem… melihat episode pose 69 kayanya heran banget…
“ Emang kau belum pernah mba..?” sahutku polos…
“ Eeeh… enggak… no comment.. sssst diem aja ya sekarang..” kudengar mba Astrid menjawab gagap dan suaranya agak bergetar…. Benar saja suasana jadi hening, apalagi volume film memang kecil supaya ga kedengaran dari luar…. Tapi kini yang saya dengar ialah bunyi nafas mba Astrid yang tidak teratur, seperti terengah-engah… sedangkan saya juga sudah terhanyut dengan episode syuuur yang terpampang di monitor dan film kali ini ialah XXX… celana pendekku yang gombrong, di cuilan selangkanganku sudah menggembung tanggapan batang kemaluanku sudah menegang kencang, makanya kutumpangkan alas dingklik semoga ga terlihat oleh mba Astrid… awalnya saya ga begitu memperhatikan mba Astrid, alasannya ialah saya sangat terbawa oleh episode dan wajah-wajah seksi di film itu… tapi beberapa kali kudengar mba Astrid menghela nafas panjangnya… dan beberapa kali merubah posisi duduknya, seolah gelisah… mulailah saya memperhatikan tingkah wanita yang menahan gejolak birahi…. kulihat sering nyonya muda ini meregangkan jari-jari tangannya…. dan kulihat wajah yang cantik berkulit putih ini makin memerah, ibarat layaknya orang habis minum arak… Satu setengah jam berlalu… sesekali kulirik mba Astrid yang duduk di sebelahku persis… kegelisahannya kulihat semakin hebat… dan hilang sudah komentar-komentar konyolnya ibarat pada film pertama… Pada suatu dikala menjelang film ini selesai… mata kami bertemu pandang… kulihat sorot mata yang absurd dari mba Astrid… sementara kurasa matakupun sudah absurd juga… dimata mba Astrid..
“ Biiiiiimmmm….” Kudengar suaranya mendesah memanggil namaku
“ Ya mbaa…” jawabku tak kalah lirih, dalam pandanganku dikala itu yang dihadapanku bukanlah Astrid sebagai wanita yang sudah kukenal baik…tetapi Astrid sebagai wanita yang sangat menggairahkan sedang menggelar libidonya… entah siapa yang memulai… tahu-tahu tangan kami sudah saling menggenggam… kuremas lembut jari-jari halus mba Astrid. Mba Astrid menundukkan wajahnya ketika wajahku mendekat, kusibakkan rambut panjangnya yang jatuh menutup sebagian wajahnya… kembali beliau mengangkat wajahnya dan wajah kami hampir tak berjarak, hembusan nafasnya terasa hangat dihidungku.. matanya menatapku penuh makna… Entah keberanian dari mana yang mendorongku mengulum bibir bagus yang setengah terbuka milik mba Astrid… aah reaksi positif kudapatkan… kulumanku dibalasnya, sejenak bibir kami berpagutan mesra, sampe karenanya beliau melepaskan pagutan bibirnya dengan nafas terengah-engah.
“ Aaah Biimo… jangan… jangan diteruskan… bahaya…” katanya setengah berbisik sambil berusaha melepaskan rengkuhanku… tak akan kulepaskan nyonya cantik ini… kepalang tanggung..pikirku.
“ Kenapa mba..? apanya yang berbahaya..?” sahutku sekenanya sambil mendaratkan kecupan bibirku di lehernya yang jenjang… sejenak beliau meronta-ronta kecil berusaha menghindari kenakalan bibirku pada leher mulusnya, sementara tanganku tengah meremasi kemontokan buah dada yang ternyata memang tak mengenakan bra… beberapa kali tangan halusnya menepiskan tanganku dari dadanya… tapi segera tanganku kembali ke tempat semula, hingga sesaat kemudian perlawanannya berhenti dengan sendirinya, berubah dengan desah nafas memburu dan geliatan tubuhnya… serangankupun kukendorkan.. kecupan bibirku kuperlembut demikian juga remasan tanganku berkembang menjadi elusan lembut pada kulit payudaranya dan gelitikan mesra pada puting susunya yang sudah mengeras…
“ Bimo… ssss… saya ngga tahaaan..” bisiknya pendek, dekat sekali bunyi itu di telingaku… ooowww… daun telingaku dikulumnya… dijilatinya…
“ Ikuti aja mba… nikmati aja..” bisikku mesra sambil menarik tali daster yang tersimpul di pundaknya, sehingga memperlihatkan kesempurnaan bukit semok di dadanya.. begitu mulus dengan puting mungil mengeras berwarna merah kecoklatan… kudaratkan jilatan ujung lidahku pada benda itu, tubuh mba Astrid menggeliat sambil mendesah panjang…
“ Ssssssshhh… aaahh… Biimm..ooo.. aku.. takuut… mmmmmhh” Tak kupedulikan lagi kalimat-kalimat mba Astrid, alasannya ialah nafsukupun sudah di ubun-ubun apalagi menghadapi kenyataan ternyata tubuh ibu muda ini memang tak layak untuk dilewatkan sesentipun… desah-desah resah berhamburan dari ekspresi mba Astrid, geliatan tubuhnya sudah menunjukkan kepasrahannya kepada birahinya sendiri… tangannya mulai melingkar di leherku, betapa rambutku digerumasinya, betapa kuatnya jari lentik mba Astrid mencengkeram kulit punggungku, manakala puting susunya kukulum dalam waktu yang lama….
“ Duuuh… ampuuunn…..” desahnya lirih, perutnya yang rata berkulit putih dihiasi lubang pusar berbentuk bagus ini menggeliat erotis, manakala bibirku mengecupinya… Tubuh atas mba Astrid sudah kutelanjangi, entah kemana daster dan sweaternya jatuh ketika kulempar tadi. Tubuhnya setengah rebah dengan kepala berada di sandaran tangan sofa, sementara kulihat tangannya meremasi payudaranya sendiri… Mba Astrid mengerang panjang dengan menggoyang-goyangkan kepalanya yang mendongak ketika lubang pusarnya kukorek-korek mesra dengan lidahku… tubuhnya menggeliat erotis sekali, rupanya disitu ialah salah satu tempat sensitifnya…
“ Owww… Biimmoo… jangaaan… saya ga mauu…” bisiknya sambil tangannya menahan daguku… ketika kukecupi gundukan kemaluannya dari balik celana G Stringnya yang sudah tampak bercak basah…
“ Kenapa mbak..?” tanyaku lembut..
“ Ssssshh… saya belum.. pernah… maluuu..” jawab mba Astrid, sambil berusaha menarik tubuhku ke atas… Busyeet jadi diapain aja tubuh bagus ini sama mas Budhi..? Selanjutnya tanpa permisi celana G String itu kusingkap ke samping…. Fuuuiii..! sebuah gundukan kecil yang dibelah tengah dengan rambut kemaluan ga begitu lebat… sebuah bentuk luar kemaluan wanita yang masih orisinil… bagus sekali belahan yang berair kulihat berdenyut-denyut… tak ayal lagi lidahku terjulur menyapu cairan yang membasahi belahan bagus itu….
“Aaaaahhh… Biiiimmoooo… kau bandeeelll…” Erang mba Astrid dengan tubuh semakin mahir menggeliat… sepasang kaki panjangnya semakin terkangkang lebar… kaki sebelah kiri terjuntai ke lantai yang beralaskan karpet tebal dan kaki sebelah kanannya ditumpangkan di atas sandaran sofa… setelah G Stringnya kutanggalkan. Rambutku habis diacak-acak tangannya yang gemas yang kadang mencengkeram erat kulit pundakku… hal ini membuat saya semakin kesetanan ditambah aroma vaginanya yang segar… bibirku menciumi bibir vaginanya selayaknya mencium bibir mulutnya dan lidahku menyelip-nyelip memasuki liang yang berair itu hingga sedalam-dalamnya…. sesekali kukulum clitoris mungil yang sudah mengeras…
“ Biiimmmmooo…. ampuuuunn… nikmaaaaat bangeeettt…” mba Astrid merintih-rintih dengan bunyi ibarat orang mau menangis… pinggulnya bergerak-gerak merespon ulah pengecap dan bibirku di selangkangannya…
“ Ooowwh… Biiimmm… sudaaaaahhhh saya ga tahaaaaan…” Suara mba Astrid semakin memilukan… Tiba-tiba tubuh mba Astrid bangun dan mendorong lembut tubuhku yang tengah bersimpuh di karpet tebal kuikuti saja sehingga tubuhku telentang di karpet sedangkan tubuh mba Astrid mengikuti arah rebah tubuhku sehingga tubuhku kini ditindihnya…. payudaranya yang semok dan kenyal itu kini menempel ketat di dadaku… wajah kami begitu dekat dan wajah wanita yang tengah diamuk birahi memang akan semakin terlihat memikat, ibarat wajah mba Astrid ini kulihat semakin mempesonaku…
“ Bimooo… ayo masukin yaaah..?” Desisnya dengan bibir indahnya kulihat gemetar…
Alis bagus di wajah cantik mba Astrid mengerinyit dan matanya yang agak sipit semakin menyipit sayu…
“ Ouught… pelaaan Biiimm… ssssss… nyeriii…” keluhnya… sambil memepererat pelukannya… kurasakan liang sanggama ibu muda ini sempit sekali ketika palkonku berusaha menerobosnya… Tapi ibu muda ini sangat bersemangat untuk menuntaskan gairah binalnya… walaupun dengan ekspresi yang nampak kesulitan dan kesakitan…. diiringi geal-geol pinggulnya… karenanya amblaslah seluruh batang kemaluanku tertanam di liang sanggamanya yang sempit..
“ Sssshhh… gilaaa… gede banget punya kamu… hhh… hhh… tunggu Biimm..” Tubuh sintal mba Astrid ambruk ke tubuhku ketika penetrasi itu berhasil… kudiamkan sejenak tubuh sintal itu membisu tak bergerak di atas tubuhku dengan nafas memburu tak beraturan… besutan-besutan kecil kurasakan ketika mba Astrid mulai menggerakkan pinggulnya… dan gerakan itu semakin keras… dan besutan-besutan itu semakin nikmat kurasakan…. saya ga bisa menahan diri lagi untuk mengcounternya… saya mulai mengayun batang kemaluanku..
“ Biimmooo… oooohhh…sssshhhh” hanya itu desah-desah kalimat pendek yang sering terucap dari ekspresi mba Astrid yang dengan gemulai menarikan pinggulnya… diiringi erangan dan rintihan kami yang sangat ekspresif… sesekali bibir kami berpagutan liar… remasan gemas tanganku pada payudara semok yang terayun-ayun itu seakan tak mau lepas…
“ Biimm… Biimmoooo… ssssshh… saya hampiiirrr… ookkkhhh..” gerakan tubuh mba Astrid semakin tak beraturan… dan rasanya akupun ga perlu menahan bobolnya tanggul spermaku untuk lebih lama…
“ Tunggu mba..” desisku pendek.. dan bagaikan dikomandoin tubuh kami bisa serentak meregang dan saya terpaksa mengayunkan batang kemaluanku sehebat-hebatnya un tuk menghasilkan kenikmatanku secara maksimal…
“ Aaaaarrgh.. Biiiimmooo… aammmpuuuunn…” Tubuh mbak Astrid menggelepar mahir di atas tubuhku… betapa kejam kuku jarinya mencengkeram dadaku sebagai pelampiasan meledaknya puncak birahi betinanya….
Hening…. sesaat setelah terjadinya ledakan hebat… kulihat jarum jam didnding menunjukkan angka 11.30… tubuhku tetap rebah telentang… sedangkan tubuh mba Astrid tergolek disamping membelakangiku… Ketika deru nafas memburu kami mulai mereda… dan ketika keringat birahi kami mulai mengering…. kupeluk tubuh sintal mba Astrid dari belakang, tapi dengan lembut tanganku diangkat dan dipindahkan ke tubuhku sendiri… dan tubuh mbak Astrid beringsut menjauhiku… kudekati lagi tubuh itu dan kudaratkan kecupan di punggung berkulit mulus itu… kudengar isak tangisnya….
“ kenapa mba..?” tanyaku lembut… lama ga ada jawaban, isak tangis mba Astrid makin keras… kubelai lembut pundaknya.. tapi tanganku ditepisnya…
“ Bimo… saya sedih dengan kejadian ini… saya malu sama kamu.. dan saya merasa sudah melukai hati Puspa dan mas Budhi…” terdengar bunyi mba Astrid serak…
“ Malu kepadaku..? untuk apa malu…? justru saya merasa lebih dekat dan bahagia sama kau mbak.. walaupun sebetulnya ga seharusnya dengan jalan ibarat ini… selama kita bisa memposisikan persoalan ini pada porsinya, kurasa mas Budhi ataupun Puspa ga akan merasa kita sakiti..” jawabku panjang lebar..
“ Aku takut mereka tahu apa yang telah kita lakukan..” sahut mba Astrid dengan bunyi yang semakin tenang…
“ Mereka ga akan tahu selama kita ga memberitahu… dan kondisi kita dikala ini ialah seorang lelaki dan wanita yang punya harapan yang harus terpenuhi dikala ini juga… kita tidak bisa menghindari mbak..” sahutku lagi, sambil kutumpangkan tanganku dipinggul bulatnya… mba Astrid tak bereaksi walaupun masih mempunggungiku…
“Lebih tepatnya harus terpenuhi malam ini… bukan hanya sesaat…” sahut mba Astrid sambil membalikkan badannya, sehingga kembali payudara montoknya menempel di dadaku… matanya menatapku tajam penuh tantangan.. dan kini wajah sembab sehabis menangis ini tersenyum manis sekali…
“ sepanjang malam ini mba..?” tanyaku menegaskan, sambil kulingkarkan lenganku ke pinggangnya yang raping…
“ Yah… bukankah malam masih panjang Bim…?” bisiknya manja.. wajahnya ditengadahkan ke wajahku. Kupagut bibir bagus itu dan disambut dengan sangat bergairah…. Gairah liar birahi betina mba Astrid meletup dahsyat, saya benar-benar tak menyangka ibu muda yang santai dan polos bisa berubah sedemikian agresip… Batang kemaluanku rupanya benar-benar membikin ibu muda ini gemas setengah mati… tak hentinya tangan berjari lentik ini mengocok dan meremas-remasnya..
“ Bimo saya pengen “ini” kamu..” bisiknya manja sambil meremas lebih keras dikala mengucap kata “ini”…
“ Emang bisa..?” sahutku menggoda… wooww.. perutku digigit kecil mba Astrid dengan gemas…
“ Boleeeh enggaaa..?” rajuknya
“ Iyaaaa… habisiiin deeeh..” jawabku sambil kuremas pantat bulatnya… Awalnya kurasakan mba Astrid masih coba-coba… dengan tabah saya memberi arahan, alasannya ialah beberapa kali palkonku terkena giginya… lumayan sakiit… Selanjutnya, tubuhku dibuat melintir dan menggeliat mencicipi permainan pengecap dan lembutnya bibir mba Astrid membasuk batang kemaluanku… kadang kala dengan nekadnya batang kemaluanku ditanamnya dalam-dalam hingga ujung kerongkongannya… hingga mba Astrid tersedak..
“ Eeeii.. jangan diabisin mbaa..” kataku lembut… melihat mba Astrid tersedak..
“ Abis gemeees saya Bim… punya kau panjaaang bangeeet, gede lagi…” bisiknya manja, memberi alasan…
Akhirnya kami membuat posisi 69, mba Astrid menindihku dengan posisi mengangkangi wajahku… Kami sepakat dengan posisi ini hingga mencapai orgasme… kembali erangan dan rintihan kami bersahutan.. gerak tubuh kami sudah tak berirama, detik-detik tamat mba Astridpun kurasakan… beberapa kali kaki panjangnya meregang dan besotan mekinya di bibirku makin liar… aksi pengecap dan bibirnya pada batang kemaluankupun makin liar, membuatku semakin mendekati titik kulminasi…
“ Eeeeeehhhkkk… Biiiimmmm… niiiikkkkmaaaattnyaaa…” rengek mba Astrid panjang, tubuhnya menggeliat hebat… kedua kakinya meregang.. besotan meki ke mulutkupun makin hebat… lidahku kujulurkan jauh kedalam liang becek yang kurasakan mengedut-ngedut…
“ Oooowww.. mbak akuu.. hampiiirr…” Desahku selang tak lama setelah palkonku kembali dihajar pengecap dan ekspresi mba Astrid… busyeeet, bukannya melepaskan kuluman bibirnya di palkonku, mba Astrid malah memperhebat aksi ekspresi dan lidahnya ditambah kocokan tangannya pada batang kemaluanku… Apa dayaku… tak ampun lagi diiringi eranganku, tubuhku mengejang keras mengantarkan semprotan spermaku bertubi-tubi di dalam ekspresi mba Astrid yang makin lengket ibarat lintah menempel di tubuhku… tak luput kantong pelerku diremas-remas lembut, seakan spermaku ingin diperas habis… setelah dirasa tetes terakhir… buru-buru mba Astrid bangun dari tubuhku dan menyambar botol aqua yang tadi dibawa dari rumah dan diteguknya hingga tandas…
“ Iiih… rasanya aneh… banyak banget, kentel lagi… kenyang deh saya Bim… tapi enaak kok, asin ada gurihnya..” komentar mba Astrid dengan pengalaman barunya… Kembali kami berbaring di karpet tebal mencicipi lemasnya tubuh…
Setelah mengguyur tubuh dengan shower di kamar mandi kembali kami rebahan santai di karpet tebal di depan televisi, dikala itulah mba Astrid menceritakan diam-diam kehidupan ranjangnya dengan mas Budhi, yang monotone, mas Budhi terlalu polos dan lurus dalam soal sex.. sedikit-sedikit takut dosa. Dalam hal kepuasan sex sebenernya mba Astrid tidak merasa kekurangan, alasannya ialah selain mas Budhi memang punya stamina tubuh yang bagus dengan hidup sehatnya, di sisi lain memang mba Astrid ialah type wanita yang gampang tersulut gairah seksualnya dan dengan cepat mencapai puncak orgasme…
“ Pernah hari Minggu pagi saya liat mas Budhi sedang nyuci kendaraan beroda empat dengan kaos yang basah, sehingga nempel dibadannya yang atletis… seeerrrr… langsung.. berair juga deh CD ku… dan pribadi kutarik mas budhi kekamar dan saya telanjangi…. haa.. haaa.. dapet dua kali…” tutur mba Astrid sambil menyuapi saya dengan anggur yang dibawanya tadi… Kembali kami nonton bokep yang belum kami tonton… belum seperempat jam Asia Carrera beraksi…
“ Biiiimmm… nggaaa tahaaan neeh… keburu pagi…” Desah mba Astrid manja dengan nafas yang sudah ngos-ngosan… apalagi dengan membengkaknya batang kemaluanku yang dari tadi ga lepas dari genggamannya.
“ Mba Astrid pingin diapain..?” bisikku sambil kudaratkan kecupan di lehernya
“ Pingin kaya di film itu…” jawabnya manja… tanpa disuruh mba Astrid menelungkupkan tubuhnya di sofa dengan kaki berlutut di karpet agak mengangkang… kuminta pantatnya ditunggingkan sehingga gundukan bukit kemaluannya mengarah keluar… mba Astrid kembali mengerang gemas ketika palkonku mulai merentangkan otot liang sanggamanya… ketika pantat semok itu mulai menggeol gemulai dan ketika batang kemaluanku mulai memompa… mulailah kuda jantan dan kuda betina ini berpacu birahi… Aku pertanda mba Astrid memang wanita yang cepat mencapai orgasme dan cepat kembali berkobar birahinya… dan mba Astrid menghendaki berganti posisi setelah beliau mencapai orgasme… saking seringnya beliau mencapai orgasme… hampir-hampir kami kehabisan posisi dan di setiap posisi mba Astrid mengaku bisa mencapai orgasme dengan kenikmatan yang maksimal… Ketika pada orgasme mba Astrid yang kelima, saya juga mencicipi orgasmeku hampir sampai… mba Astrid menyadari itu…
“ Biimm… tumpahkan dimulutku sayaaang… saya suka peju kentel kamu…” rengeknya disela-sela nafas kuda betinanya… dan dengan bernafsu sekali mba Astrid menyambut semburan demi semburan sperma kentalku dengan ekspresi terbuka lebar dan pengecap yang menggapai-gapai… Tubuh mba Astrid kembali rebah telentang di karpet setelah menenggak setengah botol aqua… rambutnya yang panjang tampak kusut dan berair oleh keringatnya, tubuhnya yang berkulit putih juga tampak berkilat berair oleh keringat… terlihat sinar matanya yang kecapekan dan wajah agak memucat… Ketika saya keluar dari kamar mandi setelah kembali mengguyur tubuhku dengan shower, kulihat mba Astrid tertidur pulas dengan bibir tersenyum… kulihat jam menunjukkan jam 03.45… kurebahkan tubuhku disisinya… kubelai lembut rambutnya yang masih berair oleh keringat birahi… kukecup keningnya yang sedikit nonong… kuamati tubuh telanjang ibu muda ini, sebuah struktur yang sempurna… wajahnya berbentuk oval, bibir berbentuk bagus, hidung mancung berbentuk ramping, mata agak sipit tapi memanjang dengan kelopak besar… bulu mata yang lentik dan panjang… alisnya ibarat di gambar… postur tubuhnyapun proporsional antara tinggi dan beratnya… sekitar 165 – 170 cm… buah dadanya yang semok kutaksir cup branya B…. memang masih kenyal menggemaskan dengan puting susu kolam perawan, mencuat mungil ke depan, berwarna merah kecoklatan…
perutnya yang rata dengan lubang pusar berbentuk indah… pinggang ramping menyambung dengan pinggul yang padat ditopang sepasang kaki yang panjang berbentuk atletis…. Rupanya saya tak dapat menahan kantukku… Aku membuka mata kulihat mbak Astrid bersimpuh di sebelah tubuhku, dengan pakaian sudah lengkap membalut tubuhnya, rupanya beliau yang membangunkanku kulihat jam dinding menunjukkan pukul 05.15…
“Biim, saya pulang dulu yaa..?” kata mbak Astrid, wajahnya sudah segar, rupanya sempat mencuci mukanya sebelum membangunkanku…
“ Eeeh… buru-buru sih..? kan masih pagi… “ jawabku sambil menarik pinggangnya…
“ Bimo kau gila… liat tuh udah terang…” protesnya ketika tubuhnya menindih tubuhku tanggapan tarikan tanganku dan saya memang gha peduli alasannya ialah ibarat biasa kalo pagi hari, batang kemaluanku pasti ikut menggeliat bangun dikala saya bangun…. kembali kugumuli tubuh bagus yang kini sudah berdaster lengkap dengan sweaternya….
“ Aaaahhh Bimmooo… ga mauuk… bauuuk ga enak..” protesnya manja tapi tidak menolak bahkan kudengar desisan panjang ketika batang kemaluanku kembali menggelosor memasuki tubuhnya…
“ Biiimmo… asli saya ga bisa menolak yang begini iniii ooohhkk…” desisnya gemas mencicipi pompaan batang kemaluanku ke liang sanggamanya yang sempit…
“ Ayyuu Biiimmm… keburu mbak Suti dateng…” bisik mbak Astrid di deket telingaku, setelah orgasmenya yang kedua, mbak Suti ialah tukang basuh yang tiap pagi datang ke rumahnya….
“Owwkk.. Biiimmm… giiilllaa kamuuu… saya berasaa lagiii…” rengek mbak Astrid lirih.. kurasakan tubuhnya mulai menegang…
“ Mmmhh… tuungguuu mbaakk..” Kupergencar pompaanku… tubuh mbak Astrid makin besar lengan berkuasa menegang.. memperkuat pelukan dan cengkeramannya di tubuhku…
“ Oooowww… nggaaaaa tahaaaan Biiiimmm…!” teriakan keras mba Astrid menghantarkan geleparan tubuhnya yang tak terkontrol hal ini ternyata mendorong dengan cepat semburatnya spermaku kembali memenuhi liang sanggama mba Astrid…. Kembali kami terkapar di atas karpet… kali ini mbak Astrid ngga lagi telanjang… hanya dasternya aja tersingkap hingga ke perut… Setelah nafsnya kembali teratur mbak Astrid beringsut bangun sambil memungut celana G Stringnya dimasukkan ke kantong dasternya…
“ Udah ya Bim… makasih banget untuk malam panjang ini… saya ga akan melupakan malam bagus sama kau ini, tapi saya berharap cukup sekali ini saja… jangan hingga kita ulang ya Biim… kesepakatan ya..?” kata mbak Astrid sendu… akupun mengangguk saja, ngga ada kalimat yang bisa terucap dari mulutku… Kuantar mbak Astrid hingga pintu ruang tamu, alasannya ialah saya masih telanjang bulat… Nggak hingga setengah menit mba Astrid menutup pintu rumahnya, kulihat dari balik beling jendela mba Suti tukang basuh itu datang…
Memang kejadian itu ga terulang lagi hingga dikala ini dan korelasi keluarga kami tetap ibarat sediakala hingga karenanya mba Astrid dan Puspa istriku melahirkan anak dengan waktu hampir bersamaan, tapi kejadian semalam itu rupanya benar-benar menjadi ikon yang hidup di hati saya dan mbak Astrid… beberapa kali kami melaksanakan phone sex setiap kali mbak Astrid curhat perihal kehidupan seksnya yang tetap monotone… hanya sebatas itu…

3