Seorang temanku, namanya Rudy Manoppo, beliau menghubungiku di handphone. Dia lagi berada di hotel Menteng di Jalan Gondangdia lama bersama dua orang ceweknya. Memang beliau pernah kesepakatan padaku mau mengenalkan pacarnya yang namanya Judith itu padaku, dan sekarang beliau memintaku datang untuk bertemu dengan mereka malam ini di sana.
Dalam perjalanan ke sana saya teringat dengan seorang cewek yang namanya Judith juga. Lengkapnya Judith Monica. Sudah setahun ini kami tidak pernah bertemu lagi, tapi masih sering menghubungi via telepon, terakhir kali saya menghubungi beliau waktu ulang tahunnya tanggal 29 September, dan kukirimi beliau kado ulangtahun. Dia yakni orang yang pernah begitu kusayangi. Dalam hatiku berharap semoga beliau menjadi isteriku. Wajahnya menyerupai artis Dina Lorenza, tinggi 170 cm, kulitnya sawo matang. Pokoknya semua wacana beliau ini baiklah punya lah. Ibunya orang Jawa, sedangkan bapaknya dari Sulawesi selatan. Dia sendiri semenjak lahir hingga besar menetap di Jakarta bersama orangtuanya.
Dulunya kami bekerja di satu perusahaan, Judith ini accountingnya kami di kantor, sedangkan saya bekerja diatas kapal. Setiap pulang dari Jepang, sering kubawa buah tangan untuk dia. Tetapi salah satu point yang sulit mempersatukan kami yakni soal agama. Terakhir yang kutahu wacana Judith ini beliau batal menikah dengan cowoknya yang namanya Adhi itu.
Handphone-ku berbunyi lagi, rupanya dari Rudy, mereka menyuruhku masuk ke dalam kamar 310, disitu Rudy bersama dua orang ceweknya. Aku disuruh eksklusif saja masuk ke kamar nanti begitu tiba di sana. Aku tiba di sana pukul sembilan tiga puluh malam dan terus naik ke atas ke kamar 310. Seorang cewek membuka pintu buatku dan cewek itu hanya bercelana dalam dan BH saja, dan saya eksklusif masuk. Rupanya Rudy sedang main dengan salah seorang ceweknya itu, keduanya sama-sama telanjang dan lagi seru-serunya berduel. Terdengar suaranya si cewek ini mendesah dan mengerang kenikmatan, sementara Rudy mencium wajahnya dan lehernya. Aku berpaling pada cewek yang satu lagi ini yang memandangku dengan senyuman manis.
"Oom Errol ya..?" tegurnya sambil duduk di atas kawasan tidur yang berada di sebelahnya.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Bodynya boleh juga nih cewek, hanya sedikit kurus dan imut-imut.
"Namanya siapa sich..?" tanyaku.
"Namaku Lina, Oom buka aja bajunya."
Lalu saya pun berdiri dan membuka bajuku, dan kemudian menghampirinya di atas ranjang dan menyentuh punggungnya, sementara Lina ini terus saja menonton ke sebelah. Si cewek yang lagi 'dimakan' Rudy rupanya mencapai puncak orgasmenya sambil menggoyang pinggulnya liar sekali, menjerit dan mendesah, dan kemudian Rudy pun keluar. Asyik juga sekali-sekali menonton orang bersenggama menyerupai ini.
Sementara keduanya masih tergeletak lemas dan nafas tersengal-sengal, si Lina ini berpaling kepadaku dan saya pun mengerti maksudnya, dan kami pun mulai bercumbu, saling meraba dan berciuman penuh nafsu. Kini berbalik Ricky dan ceweknya itu yang menonton saya dan Lina main. Secara kebetulan saya balik berpaling kepada Ricky dan ceweknya itu, dan betapa kagetnya saya melihat siapa cewek yang bersama Ricky itu. Masih sempat kulihat buah dadanya dan puting susunya sebelum cepat-cepat beliau menarik selimut menutupi badannya. Aku eksklusif jadi 'down' dan bangkit berdiri, dan menegur Ricky sambil memandang si cewek itu yang masih terbaring. Dia pun nampaknya begitu kaget, untung saja Ricky tidak melihat perubahan pada air wajahnya.
"Hi Ricky.., sorry saya eksklusif main tancap nich." kataku, Ricky hanya tertawa saja padaku.
"Gimana Roll, baiklah punya?" tanya Ricky sambil melirik Lina yang masih terbaring di ranjang.
"Excellent..!" jawabku sambil berdiri di depannya tanpa sadar bahwa saya lagi telanjang lingkaran dan tegang.
"Roll, kenalkan ini cewekku yang kubilang si Judith itu," ucap Ricky sambil tangannya berbalik memegang kepalanya Judith.
Segera saya menghampirinya dan mengulurkan tanganku yang disambut oleh cewek itu.
Kami berjabat tangan, terasa cuek sekali tangannya, dan beliau menengok ke kawasan lain, sementara saya menatapnya tajam. Untunglah Ricky tidak sadar akan perubahan diantara saya dengan cewek ini. Lalu si Judith ini bangkit sambil melingkari tubuhnya dengan handuk, kemudian berjalan ke kamar mandi diiringi oleh tatapan mataku, melihat betis kakinya yang panjang cantik itu yang dulu selalu kukagumi.
Tidak sadar saya menarik nafas, terus Rudy mempersilakan saya dan Lina kembali melanjutkan permainan yang tertunda itu. Kami kemudian melaksanakan foreplay sebelum program yang utama itu. Kulihat sekilas ke sebelah, Judith sudah balik dari kamar mandi dan memperhatikan saya dan Lina yang sedang bertempur dengan seru, Lina mengimbangiku tanpa terlalu berisik menyerupai Judith tadi. Lina mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan kusodok lubang vaginanya dengan penuh semangat. Maklumlah, dua bulan di laut tidak pernah menyentuh wanita sama sekali.
Sampai alhasil kami berdua pun sama-sama keluar, aduuh.. nikmatnyaa... Kuciumi buah dada yang penuh keringat itu dan bibir-bibirnya yang tipis itu, kulitnya benar-benar bersih mulus dan alhasil kami terbaring diam sambil terus berpelukan mesrah dan tertidur. Waktu itu sudah jam dua belas tengah malam.
Ketika saya terbangun, rupanya Lina tidak tidur, beliau malah asyik memandangiku. Kulihat ke sebelah, Rudy dan Judith masih terlelap, hanya selimutnya sudah tersingkap. Rudy tidur sambil memeluk Judith dan keduanya masih telanjang bulat. Paha Judith yang mulus sexy itu membuatku jadi terangsang kembali dan terus saja memandangnya dari jauh.
"Dia cantik ya..?" lalu Lina berbisik padaku, saya hanya mengangguk kepala.
"Cantik, sexy.. tapi milik banyak orang.." tambah Lina lagi.
"Dia temanmu kan..?"
"Kita satu fakultas dulu, dan sama-sama wisuda, setahu gua beliau dulunya nggak suka main sama laki, tapi beliau melayani tante-tante senang yang suka nyari mangsa di kampus."
"Maksud kau Judith itu lesbian..?"
"Yah gitu lah, tapi beliau juga pacaran waktu itu, terakhir dulu gua dengar beliau lama main ama orang cina dari Hongkong."
"Bisa jadi beliau pernah lesbong, soalnya liat tuh puting susunya udah besar dan panjang lagi, kayak ibu-ibu yang pernah menyusui." kataku.
"Pak Rudy ini cuman salah satu dari koleksinya, beliau juga suka main ama orang bule dari Italy, terus beliau juga ada main sama Pak XXX (orang penting)."
"Lina kok tau semuanya..?"
"Soalnya gua sering jalan bareng dia, kalo beliau dapat order sering beliau bagi-bagi ama gua, orangnya paling baik juga sosial ama temen." sambung Lina lagi.
Sementara Lina tidak tahu jika saya dan Judith juga sudah lama kenal.
Tiba-tiba Judith menggerakkan badannya membuat bab perutnya yang tadinya terselimut kini terbuka, gerakannya itu membangunkan Rudy yang melihat buah dadanya begitu menantang eksklusif mulutnya beraksi, dari buah dada Judith turun terus ke bawah membuka lebar pahanya Judith dan menjilati bibir vaginanya. Aku eksklusif bangkit dan menghampiri ranjang keduanya dan memperhatikan dari bersahabat Rudy menjilati bibir kemaluan Judith dan menguakkannya. Nampak lubang kemaluan Judith yang memerah terbuka cukup besar. Sementara bulu kemaluannya kelihatan menyerupai dicukur bersih, licin menyerupai vagina seorang bayi.
Melihatku memperhatikannya dengan serius, Rudy lalu bertanya.
"Kamu suka Roll..? Kita tukaran aja sekarang, saya ama Lina."
Lalu Rudy bangkit dan pindah ke ranjang sebelah, dan saya segera menggantikan kawasan Rudy tadi, tapi betapa terkoyaknya hatiku dikala itu. Benar-benar tidak pernah kukira akan mengalami pertemuan kembali yang begini dengan Judith. Aku berbaring sambil mendekap tubuhnya pelan-pelan, seolah takut jangan hingga beliau terbangun. Mulutku melahap buah dadanya, menghisap puting susunya yang besar dan panjang itu, tanganku pelan turun ke bawah mengusap selangkangannya, terus memegang vaginanya sambil mencium pipinya, mengulum bibir-bibirnya. Judith mendesah dan menguap sambil menggerakkan badannya, tapi tidak bangun. Aku pun terus melanjutkan aksiku.
Ketika beliau berbalik tertelungkup, segera kupegang pantatnya dan menguakkannya. Nampaklah lubang duburnya yang sudah terbuka itu, merah kehitam-hitaman, kira-kira berdiameter satu senti. Tapi betapa hatiku begitu penuh kasih padanya, pelan-pelan lidahku menjulur ke lubang pantatnya itu dan kujilati pelan-pelan. Tiba-tiba Judith menggerakkan pantatnya, rupanya terasa olehnya sesuatu yang nikmat di pantatnya. Aku terus saja menjilatinya, lalu beliau merintih dan menarik napas panjang dan mendesah.
"Aduuhh.. enak Rudy, terus Sayang.. lidahnya terus mainkan.., duuh.. enaakk..!" desahnya pelansambil semakin besar lengan berkuasa menggoyangkan pantatnya, sementara rudalku sudah tegang sekali.
"Rudy.., jellynya.. jellynya dulu.. gres masukin yaa..!"
Aku tidak tahu dimana jellynya, lalu kuludahi saja banyak-banyak hingga lubang duburnya itu penuh dengan ludahku dan kuarahkan rudalku ke arah sasarannya, dan mulai menyentak masuk pelan-pelan.
"Aaacchh..!" beliau mendesah.
Sekali hentak eksklusif masuk tanpa halangan, kudorong terus rudalku, tangan kananku melingkari lehernya. Dia menarik napas panjang sambil mendesah tertahan, sementara rudalku sudah semuanya masuk tertanam dalam liang pelepasannya yang cengkeramannya sudah tidak terasa lagi. Tangan kiriku memainkan klitorisnya, sambil mencium pipinya kemudian melumat bibirnya. Berarti Judith ini sudah biasa disodomi orang, hanya lubangnya belum terbuka terlalu besar. Aku mulai menarik keluar kembali dan memasukkan lagi, dan mulai melaksanakan gerakan piston pelan-pelan pada awalnya, alasannya takut nanti Judithnya kesakitan jika saya eksklusif main hajar dengan kasar.
Aku tahu bila dalam keadaan normal menyerupai biasa, tidak akan pernah saya dapat menyentuh tubuhnya ini. Selagi saya mengulum lidahnya itu, Judith membuka matanya, terbangun dan kaget melihat siapa yang lagi menyetubuhinya. Judith mau bergerak bereaksi tapi kudekap beliau kuat-kuat hingga Judith tidak mungkin dapat bergerak lagi, dan saya mulai menghentak dengan kekuatan penuh pada lubang duburnya yang memang sudah dol itu.
Batang rudalku masuk semua tertancap di dalam lubang duburnya dan masuk keluar dengan bebasnya menghajar lubang dubur Judith dengan tembakan-tembakan gencar beruntun sambil mendekapnya kuat-kuat dari belakang meremas payudaranya dengan gemasnya dan mengigit tengkuknya yang sudah berair oleh keringatnya itu. Secara reflex Judith mengoyang pinggulnya begitu merasakan batang kemaluanku masuk, dan mendesah mengerang dengan bunyi tertahan. Keringat deras bercucuran di pagi yang cuek itu. Seperti kuda yang sedang balapan seru, beliau merintih lirih diantara desahan napasnya itu dan mengerang. Judith semakin menggoyang pantatnya menyerupai kesetanan oleh nikmat yang asing itu.
Sepuluh menit berlalu, lubang duburnya Judith rasanya sangat licin sekali, menyerupai main di vagina saja. Dan Judith meracau mendesah dan menjerit histeris, wajahnya penuh keringat yang meleleh. Kubalikkan tubuhnya, kini Judith sudah tidak melawan lagi, beliau hanya tergeletak diam pasrah ketika kualasi bantal di bawah pantatnya. Dia mengangkat kedua kakinya yang direntangkan dan memasukkan lagi rudalku ke dalam lubang duburnya yang sudah terkuak itu. Seluruh batang rudalku berair oleh cairan kuning yang berbuih, itu kotorannya Judith yang separuhnya keluar meleleh dari lubang duburnya itu. Bagi orang yang tidak biasa dengan anal sex ini pasti akan merasa jijik.
Kini wajah kami berhadapan, kupegang kepalanya supaya beliau tidak dapat berpaling ke kiri ke kanan. Dan kulumat-lumat bibir-bibirnya, sepasang gunung buahdadanya terguncang-guncang dengan hebatnya, lehernya dan dadanya berair oleh keringatnya yang bercampur baur dengan keringatku. Dan inilah yang namanya kenikmatan surga. Pipi-pipinya telah memerah saga oleh kepanasan. Aku semakin keras lagi menggenjot ketika mengetahui jika Judith mau mencapai puncak klimaksnya. Seluruh tubuhnya lalu jadi mengejang, dan suaranya tertahan di ujung hidungnya, Judith ini benar-benar histeris pikirku. Mungkin juga beliau ini sex maniac.
Judith mulai bergerak lagi dengan napas yang masih tersengal-sengal sambil mendesah.
"Terus ung.. teeeruus.. saya mau keluar lagi..!" desahnya.
Benar saja, Judith kembali menjerit histeris menyerupai kuntilanak, seluruh tubuhnya kembali mengejang sambil wajahnya menyeringai menyerupai orang menahan sakit yang luar biasa. Butiran keringatnya jatuh sebesar biji jagung membasahi wajahnya, peluh kami sudah bercampuran. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang licin mengkilap oleh keringat itu sambil menggigit-gigit pelan daun telinganya biar beliau tambah terangsang lagi.
Akhirnya beliau jatuh lemas terkulai tidak berdaya menyerupai orang mati saja. Tinggal saya yang masih terus berpacu sendiri menuju garis finish. Kubalikkan lagi tubuh Judith tengkurap dan mengangkat pantatnya, tapi tubuhnya jatuh kembali tertelungkup saja, entah apa beliau sangat kehabisan tenaga atau memang beliau tidak mau main doggy style. Kuganjal lagi bantal di bawah perutnya dan mulai menhajarnya lagi, menindihnya dari atas punggungnya yang berair itu. Tapi keringatnya tetap berbau harum. Napasnya memburu dengan cepatnya menyerupai seorang pelari.
"Aduh.. aduuh.. saya mau beol.. nich.. cepeet dikeluarin.. nggak tahan nich..! Ituku udah mo keluar nich..!" desahnya.
Dadanya bergerak turun naik dengan cepatnya. Tapi saya tidak perduli, soalnya lagi keenakan, kutanamkan kuat-kuat batang kemaluanku ke dalam lubang pantatnya, dan menyemprotkan spermaku begitu banyaknya ke dalam lubang analnya itu.
"Aduh.. aduuh.., saya mau beol.. nich.. cepeet nggak tahan nich.., udah mo keluar nich..!" desahnya.
"Aaacchhh.. aach..!" Judith menjerit lagi.
Ada dua menit gres kucabut batang kemaluanku. Dan apa yang terjadi, benar saja kotorannya Judith ikut keluar bersama rudalku, dan menghambur padaku. Terasa hangat kotorannya yang mencret itu. Hal itu juga berhamburan pada seprei kawasan tidur. Praktis kami berenang di atas kotoran tinjanya yang keluarnya berbagai itu. Sementara saya lagi menikmati orgasmeku, kudengar suaranya Judith menyerupai orang yang sedang sekarat, dan napasnya mendengus. Anehnya saya sama sekali tidak merasa jijik, walaupun saya dengan sudah belepotan oleh tinjanya.
Kami tetap saja berbaring diam sambil terus berpelukan. Napasnya masih tersengal-sengal. Dadanya bergerak naik turun menyerupai orang yang benar-benar kecapaian. Kucium pipinya yang berair oleh keringatnya, dan menjilati keringat di lehernya yang putih mulus itu. Batinku terasa puas sekali dapat merasakan tubuh cantik ini, walaupun beliau ini hanya seorang pelacur saja. Judith pun tetap berbaring diam tidak bergerak walaupun semua bab bawah tubuhnya sudah berlumuran oleh tinjanya. Dia sepertinya sudah menyerupai pasrah saja atas semua yang sedang terjadi pada dirinya. Bola matanya menatap kosong ke dinding kamar. Aku membalikkan kepalanya biar menatapku, terus kuhisap bibirnya pelan dan mencium di jidatnya. Tampak senyum di wajahnya, beliau menyerupai senang dengan sikapku ini. Dia menatapku dengan wajah sayu dan letih.
"I love you Judith.." ucapku tanpa sadar.
Dia hanya mendengus, menggerakan hidungnya yang mancung itu sambil bola matanya yang hitam bening itu menatapku tajam. Kucium lagi pipinya.
"Judith.., dari dulu saya tetap cinta kamu.." bisikku di telinganya.
"Walaupun harus hidup dengan berlumuran tinja menyerupai ini..?" jawabnya menyerupai menyindirku.
"Kita mesti keluar dari kubangan tinja ini Judith..," kataku, "Kita bersihkan tubuh kita dan kita memulai hidup kita yang baru."
Dia tidak menjawab, malah mendorongku ke samping dan beliau melompat bangkit bergegas menuju kamar mandi diiringi bunyi ketawa dari Rudy dan Lani.
Sisa-sisa kotoran di bokong pantatnya itu mengalir turun di paha dan betis kakinya dan ruangan itu telah dipenuhi oleh busuk kotoran yang keluar dari dalam perutnya Judith ini. Aku pun berlari ke kamar mandi dan membantu Judith membersihkan badannya dengan air dan bantu beliau menyirami tubuhnya dan menyabuni seluruh tubuhnya hingga ke selangkang dan kemaluannya terus hingga pada lubang pantatnya semua kusabuni dan kubilas hingga benar-benar bersih. Barulah kemudian saya mandi. Judith nampaknya senang dengan perlakuanku yang mengistimewakan dirinya itu, dan beliau pun membantuku mengelap badanku dengan handuk.
Kemudian kami kembali ke kamar, saya menarik keluar seprei yang telah penuh dengan kotoran itu, membungkusnya dan melemparnya ke kamar mandi. Judith duduk di bangku mengawasiku bekerja sambil senyum-senyum malu. Aku menatap tubuhnya yang tinggi atletis ini dengan penuh rasa pesona dan syukur. Namun sama sekali tidak kusanga bahwa nanti dalam waktu yang tidak lama lagi beliau akan menjadi isteriku. Dan sedikitpun saya tidak menyesal memperisteri Judith, sekalipun beliau itu hanyalah seorang bekas wanita nakal, bekas ayam kampus.
Kami kembali lagi ke atas kawasan tidur dan berusaha untuk tidur, padahal hari sudah pagi. Kami tidur berpelukan. Dia menyembunyikan kepalanya di dalam dadaku yang sedang bergemuruh dengan hebatnya itu, dan kami terlelap dalam tidur. Aku hanya dapat tertidur beberapa dikala saja, kemudian sudah terbangun lagi, di sampingku Judith masih tertidur lelap, mungkin alasannya saking capeknya beliau ini. Pelan saya bangkit untuk duduk sambil memperhatikan beliau dalam ketidurannya, di bibirnya tersungging senyum, sepertinya beliau merasa bahagia dalam hidup ini. Rambutnya yang lebat hitam panjang itu tergerai di atas bantal.
Pelan kusingkap kakinya hingga terbuka lebar, dan tanganku mengusap pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Benar-benar merangsangku paha mulus yang bersih ini. Menguakkan bibir vaginanya yang telah ke biru-biruan itu membuktikan bahwa beliau telah berbagai melaksanakan persetubuhan. Dan kulihat lubang vaginanya yang telah terbuka menganga menyerupai lubang terowongan turun ke dalam rahimnya. Lalu kujulurkan lidahku untuk membuka vaginanya itu dengan penuh perasaan. Kujilati juga klitorisnya, membuatnya jadi tergerak mungkin oleh rasa enak di klitorisnya itu. Tapi hanya hingga disitu saja. Aku tidak tega untuk membangunkannya dari kelelapan tidurnya yang manis itu.
Siangnya kami checked out dari Hotmen itu. Dalam kendaraan beroda empat saya dan Judith duduk di belakang. Dia tidak pernah berbicara hingga kami tiba di depan rumahnya Lina di Tebet timur, keduanya turun di sini, padahal Judith rumahnya di jalan Kalibata utara.
Setelah berlalu dari situ, saya bertanya kepada Rudy kenapa tidak membayar keduanya. Rudy bilang biasanya uangnya itu di transfer ke rekening keduanya masing-masing. Dan esoknya hari Senin saya mentransfer uang ke rekening Judith sebesar lima ratus ribu rupiah. Kenangan manis yang tidak terlupakan bagiku.
Dulunya kami bekerja di satu perusahaan, Judith ini accountingnya kami di kantor, sedangkan saya bekerja diatas kapal. Setiap pulang dari Jepang, sering kubawa buah tangan untuk dia. Tetapi salah satu point yang sulit mempersatukan kami yakni soal agama. Terakhir yang kutahu wacana Judith ini beliau batal menikah dengan cowoknya yang namanya Adhi itu.
Handphone-ku berbunyi lagi, rupanya dari Rudy, mereka menyuruhku masuk ke dalam kamar 310, disitu Rudy bersama dua orang ceweknya. Aku disuruh eksklusif saja masuk ke kamar nanti begitu tiba di sana. Aku tiba di sana pukul sembilan tiga puluh malam dan terus naik ke atas ke kamar 310. Seorang cewek membuka pintu buatku dan cewek itu hanya bercelana dalam dan BH saja, dan saya eksklusif masuk. Rupanya Rudy sedang main dengan salah seorang ceweknya itu, keduanya sama-sama telanjang dan lagi seru-serunya berduel. Terdengar suaranya si cewek ini mendesah dan mengerang kenikmatan, sementara Rudy mencium wajahnya dan lehernya. Aku berpaling pada cewek yang satu lagi ini yang memandangku dengan senyuman manis.
"Oom Errol ya..?" tegurnya sambil duduk di atas kawasan tidur yang berada di sebelahnya.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Bodynya boleh juga nih cewek, hanya sedikit kurus dan imut-imut.
"Namanya siapa sich..?" tanyaku.
"Namaku Lina, Oom buka aja bajunya."
Lalu saya pun berdiri dan membuka bajuku, dan kemudian menghampirinya di atas ranjang dan menyentuh punggungnya, sementara Lina ini terus saja menonton ke sebelah. Si cewek yang lagi 'dimakan' Rudy rupanya mencapai puncak orgasmenya sambil menggoyang pinggulnya liar sekali, menjerit dan mendesah, dan kemudian Rudy pun keluar. Asyik juga sekali-sekali menonton orang bersenggama menyerupai ini.
Sementara keduanya masih tergeletak lemas dan nafas tersengal-sengal, si Lina ini berpaling kepadaku dan saya pun mengerti maksudnya, dan kami pun mulai bercumbu, saling meraba dan berciuman penuh nafsu. Kini berbalik Ricky dan ceweknya itu yang menonton saya dan Lina main. Secara kebetulan saya balik berpaling kepada Ricky dan ceweknya itu, dan betapa kagetnya saya melihat siapa cewek yang bersama Ricky itu. Masih sempat kulihat buah dadanya dan puting susunya sebelum cepat-cepat beliau menarik selimut menutupi badannya. Aku eksklusif jadi 'down' dan bangkit berdiri, dan menegur Ricky sambil memandang si cewek itu yang masih terbaring. Dia pun nampaknya begitu kaget, untung saja Ricky tidak melihat perubahan pada air wajahnya.
"Hi Ricky.., sorry saya eksklusif main tancap nich." kataku, Ricky hanya tertawa saja padaku.
"Gimana Roll, baiklah punya?" tanya Ricky sambil melirik Lina yang masih terbaring di ranjang.
"Excellent..!" jawabku sambil berdiri di depannya tanpa sadar bahwa saya lagi telanjang lingkaran dan tegang.
"Roll, kenalkan ini cewekku yang kubilang si Judith itu," ucap Ricky sambil tangannya berbalik memegang kepalanya Judith.
Segera saya menghampirinya dan mengulurkan tanganku yang disambut oleh cewek itu.
Kami berjabat tangan, terasa cuek sekali tangannya, dan beliau menengok ke kawasan lain, sementara saya menatapnya tajam. Untunglah Ricky tidak sadar akan perubahan diantara saya dengan cewek ini. Lalu si Judith ini bangkit sambil melingkari tubuhnya dengan handuk, kemudian berjalan ke kamar mandi diiringi oleh tatapan mataku, melihat betis kakinya yang panjang cantik itu yang dulu selalu kukagumi.
Tidak sadar saya menarik nafas, terus Rudy mempersilakan saya dan Lina kembali melanjutkan permainan yang tertunda itu. Kami kemudian melaksanakan foreplay sebelum program yang utama itu. Kulihat sekilas ke sebelah, Judith sudah balik dari kamar mandi dan memperhatikan saya dan Lina yang sedang bertempur dengan seru, Lina mengimbangiku tanpa terlalu berisik menyerupai Judith tadi. Lina mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan kusodok lubang vaginanya dengan penuh semangat. Maklumlah, dua bulan di laut tidak pernah menyentuh wanita sama sekali.
Sampai alhasil kami berdua pun sama-sama keluar, aduuh.. nikmatnyaa... Kuciumi buah dada yang penuh keringat itu dan bibir-bibirnya yang tipis itu, kulitnya benar-benar bersih mulus dan alhasil kami terbaring diam sambil terus berpelukan mesrah dan tertidur. Waktu itu sudah jam dua belas tengah malam.
Ketika saya terbangun, rupanya Lina tidak tidur, beliau malah asyik memandangiku. Kulihat ke sebelah, Rudy dan Judith masih terlelap, hanya selimutnya sudah tersingkap. Rudy tidur sambil memeluk Judith dan keduanya masih telanjang bulat. Paha Judith yang mulus sexy itu membuatku jadi terangsang kembali dan terus saja memandangnya dari jauh.
"Dia cantik ya..?" lalu Lina berbisik padaku, saya hanya mengangguk kepala.
"Cantik, sexy.. tapi milik banyak orang.." tambah Lina lagi.
"Dia temanmu kan..?"
"Kita satu fakultas dulu, dan sama-sama wisuda, setahu gua beliau dulunya nggak suka main sama laki, tapi beliau melayani tante-tante senang yang suka nyari mangsa di kampus."
"Maksud kau Judith itu lesbian..?"
"Yah gitu lah, tapi beliau juga pacaran waktu itu, terakhir dulu gua dengar beliau lama main ama orang cina dari Hongkong."
"Bisa jadi beliau pernah lesbong, soalnya liat tuh puting susunya udah besar dan panjang lagi, kayak ibu-ibu yang pernah menyusui." kataku.
"Pak Rudy ini cuman salah satu dari koleksinya, beliau juga suka main ama orang bule dari Italy, terus beliau juga ada main sama Pak XXX (orang penting)."
"Lina kok tau semuanya..?"
"Soalnya gua sering jalan bareng dia, kalo beliau dapat order sering beliau bagi-bagi ama gua, orangnya paling baik juga sosial ama temen." sambung Lina lagi.
Sementara Lina tidak tahu jika saya dan Judith juga sudah lama kenal.
Tiba-tiba Judith menggerakkan badannya membuat bab perutnya yang tadinya terselimut kini terbuka, gerakannya itu membangunkan Rudy yang melihat buah dadanya begitu menantang eksklusif mulutnya beraksi, dari buah dada Judith turun terus ke bawah membuka lebar pahanya Judith dan menjilati bibir vaginanya. Aku eksklusif bangkit dan menghampiri ranjang keduanya dan memperhatikan dari bersahabat Rudy menjilati bibir kemaluan Judith dan menguakkannya. Nampak lubang kemaluan Judith yang memerah terbuka cukup besar. Sementara bulu kemaluannya kelihatan menyerupai dicukur bersih, licin menyerupai vagina seorang bayi.
Melihatku memperhatikannya dengan serius, Rudy lalu bertanya.
"Kamu suka Roll..? Kita tukaran aja sekarang, saya ama Lina."
Lalu Rudy bangkit dan pindah ke ranjang sebelah, dan saya segera menggantikan kawasan Rudy tadi, tapi betapa terkoyaknya hatiku dikala itu. Benar-benar tidak pernah kukira akan mengalami pertemuan kembali yang begini dengan Judith. Aku berbaring sambil mendekap tubuhnya pelan-pelan, seolah takut jangan hingga beliau terbangun. Mulutku melahap buah dadanya, menghisap puting susunya yang besar dan panjang itu, tanganku pelan turun ke bawah mengusap selangkangannya, terus memegang vaginanya sambil mencium pipinya, mengulum bibir-bibirnya. Judith mendesah dan menguap sambil menggerakkan badannya, tapi tidak bangun. Aku pun terus melanjutkan aksiku.
Ketika beliau berbalik tertelungkup, segera kupegang pantatnya dan menguakkannya. Nampaklah lubang duburnya yang sudah terbuka itu, merah kehitam-hitaman, kira-kira berdiameter satu senti. Tapi betapa hatiku begitu penuh kasih padanya, pelan-pelan lidahku menjulur ke lubang pantatnya itu dan kujilati pelan-pelan. Tiba-tiba Judith menggerakkan pantatnya, rupanya terasa olehnya sesuatu yang nikmat di pantatnya. Aku terus saja menjilatinya, lalu beliau merintih dan menarik napas panjang dan mendesah.
"Aduuhh.. enak Rudy, terus Sayang.. lidahnya terus mainkan.., duuh.. enaakk..!" desahnya pelansambil semakin besar lengan berkuasa menggoyangkan pantatnya, sementara rudalku sudah tegang sekali.
"Rudy.., jellynya.. jellynya dulu.. gres masukin yaa..!"
Aku tidak tahu dimana jellynya, lalu kuludahi saja banyak-banyak hingga lubang duburnya itu penuh dengan ludahku dan kuarahkan rudalku ke arah sasarannya, dan mulai menyentak masuk pelan-pelan.
"Aaacchh..!" beliau mendesah.
Sekali hentak eksklusif masuk tanpa halangan, kudorong terus rudalku, tangan kananku melingkari lehernya. Dia menarik napas panjang sambil mendesah tertahan, sementara rudalku sudah semuanya masuk tertanam dalam liang pelepasannya yang cengkeramannya sudah tidak terasa lagi. Tangan kiriku memainkan klitorisnya, sambil mencium pipinya kemudian melumat bibirnya. Berarti Judith ini sudah biasa disodomi orang, hanya lubangnya belum terbuka terlalu besar. Aku mulai menarik keluar kembali dan memasukkan lagi, dan mulai melaksanakan gerakan piston pelan-pelan pada awalnya, alasannya takut nanti Judithnya kesakitan jika saya eksklusif main hajar dengan kasar.
Aku tahu bila dalam keadaan normal menyerupai biasa, tidak akan pernah saya dapat menyentuh tubuhnya ini. Selagi saya mengulum lidahnya itu, Judith membuka matanya, terbangun dan kaget melihat siapa yang lagi menyetubuhinya. Judith mau bergerak bereaksi tapi kudekap beliau kuat-kuat hingga Judith tidak mungkin dapat bergerak lagi, dan saya mulai menghentak dengan kekuatan penuh pada lubang duburnya yang memang sudah dol itu.
Batang rudalku masuk semua tertancap di dalam lubang duburnya dan masuk keluar dengan bebasnya menghajar lubang dubur Judith dengan tembakan-tembakan gencar beruntun sambil mendekapnya kuat-kuat dari belakang meremas payudaranya dengan gemasnya dan mengigit tengkuknya yang sudah berair oleh keringatnya itu. Secara reflex Judith mengoyang pinggulnya begitu merasakan batang kemaluanku masuk, dan mendesah mengerang dengan bunyi tertahan. Keringat deras bercucuran di pagi yang cuek itu. Seperti kuda yang sedang balapan seru, beliau merintih lirih diantara desahan napasnya itu dan mengerang. Judith semakin menggoyang pantatnya menyerupai kesetanan oleh nikmat yang asing itu.
Sepuluh menit berlalu, lubang duburnya Judith rasanya sangat licin sekali, menyerupai main di vagina saja. Dan Judith meracau mendesah dan menjerit histeris, wajahnya penuh keringat yang meleleh. Kubalikkan tubuhnya, kini Judith sudah tidak melawan lagi, beliau hanya tergeletak diam pasrah ketika kualasi bantal di bawah pantatnya. Dia mengangkat kedua kakinya yang direntangkan dan memasukkan lagi rudalku ke dalam lubang duburnya yang sudah terkuak itu. Seluruh batang rudalku berair oleh cairan kuning yang berbuih, itu kotorannya Judith yang separuhnya keluar meleleh dari lubang duburnya itu. Bagi orang yang tidak biasa dengan anal sex ini pasti akan merasa jijik.
Kini wajah kami berhadapan, kupegang kepalanya supaya beliau tidak dapat berpaling ke kiri ke kanan. Dan kulumat-lumat bibir-bibirnya, sepasang gunung buahdadanya terguncang-guncang dengan hebatnya, lehernya dan dadanya berair oleh keringatnya yang bercampur baur dengan keringatku. Dan inilah yang namanya kenikmatan surga. Pipi-pipinya telah memerah saga oleh kepanasan. Aku semakin keras lagi menggenjot ketika mengetahui jika Judith mau mencapai puncak klimaksnya. Seluruh tubuhnya lalu jadi mengejang, dan suaranya tertahan di ujung hidungnya, Judith ini benar-benar histeris pikirku. Mungkin juga beliau ini sex maniac.
Judith mulai bergerak lagi dengan napas yang masih tersengal-sengal sambil mendesah.
"Terus ung.. teeeruus.. saya mau keluar lagi..!" desahnya.
Benar saja, Judith kembali menjerit histeris menyerupai kuntilanak, seluruh tubuhnya kembali mengejang sambil wajahnya menyeringai menyerupai orang menahan sakit yang luar biasa. Butiran keringatnya jatuh sebesar biji jagung membasahi wajahnya, peluh kami sudah bercampuran. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang licin mengkilap oleh keringat itu sambil menggigit-gigit pelan daun telinganya biar beliau tambah terangsang lagi.
Akhirnya beliau jatuh lemas terkulai tidak berdaya menyerupai orang mati saja. Tinggal saya yang masih terus berpacu sendiri menuju garis finish. Kubalikkan lagi tubuh Judith tengkurap dan mengangkat pantatnya, tapi tubuhnya jatuh kembali tertelungkup saja, entah apa beliau sangat kehabisan tenaga atau memang beliau tidak mau main doggy style. Kuganjal lagi bantal di bawah perutnya dan mulai menhajarnya lagi, menindihnya dari atas punggungnya yang berair itu. Tapi keringatnya tetap berbau harum. Napasnya memburu dengan cepatnya menyerupai seorang pelari.
"Aduh.. aduuh.. saya mau beol.. nich.. cepeet dikeluarin.. nggak tahan nich..! Ituku udah mo keluar nich..!" desahnya.
Dadanya bergerak turun naik dengan cepatnya. Tapi saya tidak perduli, soalnya lagi keenakan, kutanamkan kuat-kuat batang kemaluanku ke dalam lubang pantatnya, dan menyemprotkan spermaku begitu banyaknya ke dalam lubang analnya itu.
"Aduh.. aduuh.., saya mau beol.. nich.. cepeet nggak tahan nich.., udah mo keluar nich..!" desahnya.
"Aaacchhh.. aach..!" Judith menjerit lagi.
Ada dua menit gres kucabut batang kemaluanku. Dan apa yang terjadi, benar saja kotorannya Judith ikut keluar bersama rudalku, dan menghambur padaku. Terasa hangat kotorannya yang mencret itu. Hal itu juga berhamburan pada seprei kawasan tidur. Praktis kami berenang di atas kotoran tinjanya yang keluarnya berbagai itu. Sementara saya lagi menikmati orgasmeku, kudengar suaranya Judith menyerupai orang yang sedang sekarat, dan napasnya mendengus. Anehnya saya sama sekali tidak merasa jijik, walaupun saya dengan sudah belepotan oleh tinjanya.
Kami tetap saja berbaring diam sambil terus berpelukan. Napasnya masih tersengal-sengal. Dadanya bergerak naik turun menyerupai orang yang benar-benar kecapaian. Kucium pipinya yang berair oleh keringatnya, dan menjilati keringat di lehernya yang putih mulus itu. Batinku terasa puas sekali dapat merasakan tubuh cantik ini, walaupun beliau ini hanya seorang pelacur saja. Judith pun tetap berbaring diam tidak bergerak walaupun semua bab bawah tubuhnya sudah berlumuran oleh tinjanya. Dia sepertinya sudah menyerupai pasrah saja atas semua yang sedang terjadi pada dirinya. Bola matanya menatap kosong ke dinding kamar. Aku membalikkan kepalanya biar menatapku, terus kuhisap bibirnya pelan dan mencium di jidatnya. Tampak senyum di wajahnya, beliau menyerupai senang dengan sikapku ini. Dia menatapku dengan wajah sayu dan letih.
"I love you Judith.." ucapku tanpa sadar.
Dia hanya mendengus, menggerakan hidungnya yang mancung itu sambil bola matanya yang hitam bening itu menatapku tajam. Kucium lagi pipinya.
"Judith.., dari dulu saya tetap cinta kamu.." bisikku di telinganya.
"Walaupun harus hidup dengan berlumuran tinja menyerupai ini..?" jawabnya menyerupai menyindirku.
"Kita mesti keluar dari kubangan tinja ini Judith..," kataku, "Kita bersihkan tubuh kita dan kita memulai hidup kita yang baru."
Dia tidak menjawab, malah mendorongku ke samping dan beliau melompat bangkit bergegas menuju kamar mandi diiringi bunyi ketawa dari Rudy dan Lani.
Sisa-sisa kotoran di bokong pantatnya itu mengalir turun di paha dan betis kakinya dan ruangan itu telah dipenuhi oleh busuk kotoran yang keluar dari dalam perutnya Judith ini. Aku pun berlari ke kamar mandi dan membantu Judith membersihkan badannya dengan air dan bantu beliau menyirami tubuhnya dan menyabuni seluruh tubuhnya hingga ke selangkang dan kemaluannya terus hingga pada lubang pantatnya semua kusabuni dan kubilas hingga benar-benar bersih. Barulah kemudian saya mandi. Judith nampaknya senang dengan perlakuanku yang mengistimewakan dirinya itu, dan beliau pun membantuku mengelap badanku dengan handuk.
Kemudian kami kembali ke kamar, saya menarik keluar seprei yang telah penuh dengan kotoran itu, membungkusnya dan melemparnya ke kamar mandi. Judith duduk di bangku mengawasiku bekerja sambil senyum-senyum malu. Aku menatap tubuhnya yang tinggi atletis ini dengan penuh rasa pesona dan syukur. Namun sama sekali tidak kusanga bahwa nanti dalam waktu yang tidak lama lagi beliau akan menjadi isteriku. Dan sedikitpun saya tidak menyesal memperisteri Judith, sekalipun beliau itu hanyalah seorang bekas wanita nakal, bekas ayam kampus.
Kami kembali lagi ke atas kawasan tidur dan berusaha untuk tidur, padahal hari sudah pagi. Kami tidur berpelukan. Dia menyembunyikan kepalanya di dalam dadaku yang sedang bergemuruh dengan hebatnya itu, dan kami terlelap dalam tidur. Aku hanya dapat tertidur beberapa dikala saja, kemudian sudah terbangun lagi, di sampingku Judith masih tertidur lelap, mungkin alasannya saking capeknya beliau ini. Pelan saya bangkit untuk duduk sambil memperhatikan beliau dalam ketidurannya, di bibirnya tersungging senyum, sepertinya beliau merasa bahagia dalam hidup ini. Rambutnya yang lebat hitam panjang itu tergerai di atas bantal.
Pelan kusingkap kakinya hingga terbuka lebar, dan tanganku mengusap pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Benar-benar merangsangku paha mulus yang bersih ini. Menguakkan bibir vaginanya yang telah ke biru-biruan itu membuktikan bahwa beliau telah berbagai melaksanakan persetubuhan. Dan kulihat lubang vaginanya yang telah terbuka menganga menyerupai lubang terowongan turun ke dalam rahimnya. Lalu kujulurkan lidahku untuk membuka vaginanya itu dengan penuh perasaan. Kujilati juga klitorisnya, membuatnya jadi tergerak mungkin oleh rasa enak di klitorisnya itu. Tapi hanya hingga disitu saja. Aku tidak tega untuk membangunkannya dari kelelapan tidurnya yang manis itu.
Siangnya kami checked out dari Hotmen itu. Dalam kendaraan beroda empat saya dan Judith duduk di belakang. Dia tidak pernah berbicara hingga kami tiba di depan rumahnya Lina di Tebet timur, keduanya turun di sini, padahal Judith rumahnya di jalan Kalibata utara.
Setelah berlalu dari situ, saya bertanya kepada Rudy kenapa tidak membayar keduanya. Rudy bilang biasanya uangnya itu di transfer ke rekening keduanya masing-masing. Dan esoknya hari Senin saya mentransfer uang ke rekening Judith sebesar lima ratus ribu rupiah. Kenangan manis yang tidak terlupakan bagiku.




