Cerita Ngentot Hilang Perawan Di Penginapan

Pengalaman ini terjadi sekitar awal bulan Februari tahun 2014. Pengalaman ini tidak kukarang sendiri tapi berdasarkan kisah asli yang kualami di tahun 2001 ini. Cerita panas ini bermula ketika saya berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Muki. Orangnya tampan, tinggi sekitar 170 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku.


Perbedaan umur kami sekitar 8 tahun, dan ia gres saja lulus dari univ swasta terkenal di Jakarta. Kami kenalan pada ketika saya sedang mempersiapkan program untuk perpisahan kelas 3 di SMA-ku. SMAku di daerah Jakarta Barat. Dan pada ketika itu Muki sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada ketika itu Muki hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.

Oh ya, hingga lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama panggilanku Maya. umurku 18 tahun (SMA kelas 3). Tinggiku lumayan sekitar 168 cm dan warna kulitku kuning bersih. Rambutku pendek sebahu, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku. Kata orang-orang saya sangat cocok untuk seorang model. Dan saya belum mempunyai pacar. Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara dan semua perempuan. Kakak-kakakku semua sudah mempunyai pacar, kecuali adikku yang paling kecil kelas dua SMP. OK dilanjut ya
Akhirnya pada ketika istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada ketika kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira 3 hari kemudian, Muki menelepon ke rumahku.
“Hallo selamat sore, mampu bicara dengan Maya, ini dari Muki.”
“Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, saya kira sudah lupa.”
“Gimana kabar kamu, mana mungkin saya lupa. Hmm, May ada program nggak malam ahad ini.”
Aku sempat kaget Muki mengajakku keluar malam ahad ini. Padahal gres beberapa hari ini kenalan tapi ia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, pemuda ini memang idamanku kok.
“Hmmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku.
“Kenapa mampu begitu,” balas Muki.
“Ya, kalaupun ada mampu dibatalin seandainya kau ngajak keluar, dan kalo batal acaranya saya bakalan akan nggak terima telpon kau lagi,” balasku lagi.
“Ooo begitu, kalau gitu saya jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.”
Kemudian saya menawarkan alamat rumahku di daerah Maruya. Dan ternyata rumah Muki tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.
Tepat hari sabtu sore, Muki datang dengan kendaraan dan parkir sempurna di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, risikonya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam kendaraan beroda empat kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Muki menghentikan mobilnya sempurna di lapangan tenis yang ada di daerah Jakarta Barat.
“May, kau cantik sekali hari ini, boleh saya mencium kamu,” bisik Muki mesra.
“Muk, apa kita gres aja kenalan, dan kau belum tau siapa saya dan saya belum tau siapa kau sebenarnya, jangan-jangan kau sudah punya pacar.”
“Kalo saya sudah punya pacar, sudah pasti malam ahad ini saya ke tempat pacarku.”
“Muk, terus terang semenjak pertama kali melihat kau saya pribadi tertarik.”
Tiba-tiba tangan Muki memegang tanganku dan meremasnya berpengaruh -kuat.”Aku juga May, begitu melihat kau pribadi tertarik.”
Dan Muki menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Muki memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Muki sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Muki mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali saya dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, saya yang pribadi menarik tubuh Muki dan mencium bibirnya. Ciuman Muki sepertinya sudah andal sekali dan membuatku begitu berangasan untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Muki mulai meraba sekitar dadaku.
“Jangan Muk, saya tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, saya malu Muk,” jawabku.
Sebenarnya saya ingin dadaku diremas oleh Muki alasannya saya sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
“May, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok.”
Akhirnya saya setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Muki sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Muki pribadi melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan saya membiarkan tangan Muki meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju.
Tiba-tiba Muki membisikkan sesuatu di telingaku, “May, kau membuat nafsuku naik.”
“Aku juga Muk,” balasku manja.
Dan Muki menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. “Astaga,” pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Muki sudah sangat tegang sekali. Dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. “Teruskan may, remas yang berpengaruh dan lebih berpengaruh lagi.” Tak lama kemudian, tangan Muki sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan ketika itu saya memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan saya memakai BH yang dibuka dari depan.
Akhirnya tangan Muki berhasil meremas susuku yang gres pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang gres kukenal. Muki meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Muki memegang puting susuku yang sudah keras. “Teruskan Muk, saya enak sekali..” Dan tanpa sengaja saya pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada ketika itu memakai celana kain. “Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Muki untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian saya sudah meremas-remas penis Muki yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. “Teruskan Muk, saya enak sekali..” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan risikonya kami keluar dengan perasaan kecewa.
“Kita pribadi pulang ya May sudah malam,” pinta Muki.
“Muk, bekerjsama saya belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:15, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra.
Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Muki. Mudah-mudahan Muki mengerti apa yang kuinginkan.
“Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi resah juga,” balas Muki dengan nada gembira. Sampai di senayan, Muki memarkirkan mobilnya sempurna di bawah pohon yang jauh dari kendaraan beroda empat lainnya. Dan setelah Muki menghentikan mobilnya, tiba-tiba Muki pribadi menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Muki begitu berangasan melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan pengecap yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi.
Tiba-tiba Muki melepaskan ciumannya.
“May, saya ingin mencium susumu, bolehkan..”
Tanpa berkata sedikit pun saya membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan saya membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Muki. Dan kulihat Muki begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi saya sudah tidak tabah lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.
“May, apa ini gres pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu,” bisik Muki.
“Iya, Muk, gres kau yang pertama kali, saya menawarkan ke orang yang benar -benar saya inginkan,” balasku manja.
Tak lama kemudian, Muki dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggutunggu semenjak lama. Nafsuku pribadi naik pada ketika itu.
“Jangan berhenti Muk, teruskan ya… saya enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Muki untuk membuka reitsleting celananya. Dan saya membukanya.
Kemudian Muki mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami mampu dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Muki dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Reitsleting celana Muki sudah terbuka dan tiba-tiba Muki menurunkan celananya dan terlihat terperinci ada tonjolan di dalam celana dalam Muki. Dan Muki menurunkan celana dalamnya. Terlihat terperinci sekali penis Muki yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan saya tidak melepaskan kesempatan tersebut. Muki masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Muki menggigit puting susuku.
“Muk, teruskan ya… jilat aja Muk, sesukamu..” desahku tak karuan.
Sementara saya masih terus memegang penis Muki. Dan sepertinya Muki makin berangasan dengan permainan seksnya. Akhirnya Muki sudah tidak tahan lagi.
“May, kau isap punyaku ya… mau nggak?”
“Isap bagaimana..”
“Tolong keluarin punyaku di mulutmu.”
Sebenarnya saya masih bingung, tapi alasannya penasaran apa yang dimaui Muki, maka saya menurut saja apa permintaannya. Dan Muki merubah posisi duduknya, Muki menurunkan kepalaku hingga saya berhadapan pribadi dengan kepunyaan Muki.
“Muk, besar sekali punyamu.”
“Langsung aja may, saya sudah tidak tahan..”
Aku pribadi mengulum pelan-pelan kepunyaan Muki. Inilah pertama kali saya melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Muki. Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Muki. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan kuulangi lagi ibarat itu. Dan kepala penis kepunyaan Muki saya jilatin terus. Ah… benar-benar nikmat.
Sekitar lima menit saya menikmati permainan punya Muki, tiba-tiba, Muki menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. “Terus May, jangan berhenti, terus isap yang kuat, saya sudah tidak tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Muki mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Muki. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, saya tidak mampu melepaskan penis Muki dari mulutku, saya terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Muki.
Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak mampu melepaskan kepalaku alasannya ditahan oleh Muki. Aku terus melanjutkan isapanku dan saya hanya mampu melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Muki kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku.
“May, saya sudah keluar, banyak ya..”
“Banyak sekali Muk, saya tidak sanggup untuk menelan semuanya, alasannya saya belum biasa.”
“Tidak apa-apa May..”
Kemudian Muki mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Muki. Dan Muki mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah sempurna jam 11 malam. Dan saya diantar oleh Muki sempurna jam 11 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa saya sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Muki esoknya.Dan, malam itu saya masih teringat akan penis Muki yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya saya menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.
Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, saya risikonya mampu keluar rumah.Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Muki menjemputku dan Muki membawaku ke suatu tempat yang masih teramat absurd buatku.
“Tempat apa ini Muk,” tanyaku.
“May, ini tempat kencan, daripada kita kencan di kendaraan beroda empat lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih
aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau.”
“Entahlah Muk, saya masih takut tempat ibarat ini.”
“Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita pribadi menuju kamar yang kita pesan.”
Dan hingga di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah masbodoh dan nyaman sekali, tidak ibarat yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.
“Maya, kita kalem di sini aja ya… mungkin hingga sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kau mau..” pinta Muki.
“Aku setuju saja Muk, terserah kamu.”
Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Muki membaringkan badanku di tempat tidur. “May, kau mau kan melakukannya sekali lagi untukku.” Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Muki berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih terperinci lagi kepunyaan Muki daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Muki lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Muki sudah terlihat bugil di depanku.
Muki memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Muki menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai. Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Dan pelan-pelan tangan Muki mengelus susuku yang sudah keras. Dan lama -kelamaan tangan Muki sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Muki jongkok sempurna di depan vaginaku. Muki memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku.
“May, bodi kau bagus sekali.”
Muki sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku.
“May, seandainya hari ini perawanmu hilang, kau bagaimana.”
“Terserah kau Muk, saya tidak peduli wacana perawanku, saya ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan saya kepengen sekali melakukannya denganmu..” Akhirnya saya pasrah apa yang dilakukan oleh Muki.
Kemudian Muki meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Muki bebas menciumiku dan saya juga bebas menciumi Muki. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini saya melakukannya ibarat kekerabatan suami istri. Muki menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Muki hingga di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Muki membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya.
Ah… nikmat sekali. Seandainya saya tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Muki sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar. Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Muki sambil meremas susuku dan memainkan putingku, saya rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Muki sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku.
Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak mampu kutahan lagi, kukatakan pada Muki.
“Muk, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan -pelan,” pintaku.
Muki lalu bangun dari arah bawah. Dan menciumi bibirku.
“May, kau sudah siap saya masukkan, apa kau tidak menyesal nantinya.”
“Tidak Muk, saya tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya.”
Lalu Muki melebarkan kakiku dan terlihat terperinci sekali punya Muki yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah berair sekali. Dan kubimbing penis Muki supaya sempurna masuk di lubang vaginaku. Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, risikonya punya Muki berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku.
“Oh… enak sekali,” jeritku.
Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar kepunyaan Muki. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Muki, membuat hari itu saya sudah tidak perawan lagi. Muki membisikkan sesuatu di telingaku, “May, kau sudah tidak perawan lagi.”
“Ngga apa-apa Muk, jangan dilepas dulu ya…”
“Terus Muk, goyang lebih kencang, saya enak sekali..” Dengan posisi saya di bawah, Muki di atas, kami melakukannya lama sekali. Muki terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Muki masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga.
“Muki sepertinya saya sudah tidak tahan lagi… saya mau keluar.”
“Keluarin terus May, saya tidak akan melepaskan punyaku.”
“Muk, saya tidak tahan lagi… a..ahh… aaahh.. saya keluar Muk, saya keluar.. keluar Muk..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaa… aaaa..” Pada ketika orgasme yang pertama, Muki pribadi menciumi bibirku. Oh… benar -benar luar biasa sekali enaknya.
Akhirnya saya menikmati kehangatan punya Muki dan saya masih memeluk tubuh Muki. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin.
“May, saya masih mau lagi, tidak akan kulepaskan… sekarang saya mau posisi enam sembilan. Kamu isap punyaku dan saya isap punyamu.”
Kemudian kami berubah posisi ke enam sembilan. Muki mampu sangat terperinci mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang.
“May punyamu lebar sekali.”
“Isap terus Muk, saya ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali.”
Aku terus mengisap punya Muki sementara Muki terus menjilati vaginaku dan kami melakukannyasangat lama sekali. Penis Muki yang sudah sangat keras sekali membuatku berangasan untuk melawannya. Dan permainan lisan Muki di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat ibarat ini tidak ingin kuakhiri.
“Muk… saya mau keluar lagi… saya tidak tahan lagi honey…”
“Tahan sebentar May, saya juga mau keluar..”
Tiba-tiba Muki pribadi merubah posisi. Aku di bawah dan ia di atas. Dengan cepat Muki melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Muki ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Dan sekali lagi Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi risikonya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Muki yang besar.
“Dorong yang keras Muk, lebih keras lagi,” desahku. Muki menggoyangan badannya lebih cepat lagi.
“Iya Muk, ibarat itu… terus… aaa..aaa… enak sekali, saya mau melakukannya terusmenerus denganmu..”
“May, saya sudah tidak tahan lagi… saya mau keluar…”
“Aku juga Muk, sedikit lagi, kita keluar sama -sama ya… aaa..”
“May… saya keluar..”
“Aku juga Muk… aaa… aa… terasa Muk, terasa sekali hangat spermamu..”
“Aduh, May… goyang terus May, punyaku lagi keluar…”
“Aduh Muk… enak sekali…”
Bibirku pribadi menciumi bibir Muki yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama bengong dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak mampu diukur.
“May… spermaku sekarang ada di dalam punyamu.”
“Ia Muk…”
Tidak lama kemudian, Muki membersihkan cairan spermanya di vaginaku.
“May, kalo kau hamil, saya mau bertanggungjawab.”
“Iya Muk..” jawabku singkat.
Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan saya mengalami kenikmatan hingga dua kali. Sekali keluar pada ketika Muki menjilati vaginaku dan sekali lagi pada ketika Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Muki pun mengalami hal yang sama.
Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kali melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak hingga satu jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitunghitung dalam melaksanakan kekerabatan badan, saya sudah keluar 8 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar diisap oleh Muki hanya 3 kali. Makara sudah 11 kali saya keluar. Sementara Muki sudah 7 kali.
Malamnya sempurna jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jikalau dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja saya sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan hingga sekarang hubunganku dengan Muki bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja. Dan, gres kali ini saya mampu mencicipi tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya saya harus sekolah ibarat biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, saya datang bulan. Dan kemarin (tanggal 20 Februari 2001) ini saya masih dapat. Aku pribadi menelepon Muki sepulang dari sekolah.
“Muk, saya dapat lagi, dan saya tidak hamil.”
“Iya May… syukurlah…”
“Muk, saya ingin melakukannya sekali lagi, kau mau Muk..”
Dan, ternyata kami mampu melakukannya di mana saja. Kadang saya mengisap penis Muki sambil Muki menyetir kendaraan beroda empat yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan sperma Muki keluar yang tentunya semua kutelan, alasannya sudah biasa, setelah itu tangan Muki memainkan vaginaku. Kadang juga sebelum pulang saya tidak lagi mencium bibir Muki, tapi saya mengisap kepunyaan Muki sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Muki sudah keluar. Dan saya masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku.
Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melaksanakan kekerabatan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang hingga sore dan hanya dilakukan 
Previous
Next Post »
0 Komentar