Showing posts with label tante. Show all posts
Showing posts with label tante. Show all posts

Cerita Sex Melampiaskan Hasrat Seks Di Dapur

Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan saya yaitu anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan ibarat aku, sehingga tidak ibarat gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang cantik hingga rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.
Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sek olah, saya disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta.


Om Robert ini walau usianya sudah di selesai kepala 4, namun wajah dan gayanya masih ibarat anak muda. Dari dulu rahasia saya sedikit naksir padanya. Habis selain tampan dan rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya semenjak semasa kuliah dulu, oleh alasannya itu kami lumayan bersahabat dengan keluarganya.

Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, sedang istrinya aktif di kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta. Ibu sering diajak oleh si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak karena beliau lebih senang di rumah.

Dengan diantar supir, saya hingga juga di rumahnya Om Robert yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang luas. Sejak kecil saya sudah sering ke sini, namun gres kali ini saya datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, saya memencet bel pintu rumahnya sambil membawa amplop besar titipan ayahku.

Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat beliau berikan sendiri.

Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan renta keluar dari dalam dan membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar. Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, "Tuan sedang berenang, Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan bila Non sudah datang." "Makasih, Bi." jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.

Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula dengan Om Robert. Karena bosan, saya jalan-jalan dan hingga di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robert yang sedang bangun dan mengeringkan tubuh dengan handuk.

"Ooh.." pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulu-bulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya. Wajahku agak memerah karena mendadak saya jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku bangun terpaku dengan tatapan tolol, beliau pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya.

"Halo Karin, apa kabar kamu..?" sapa Om Robert hangat sambil menunjukkan sun di pipiku. Aku pun balas sun beliau walau kagok, "Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?" "Om baik-baik aja. Kamu gres pulang dari sekolah yah..?" tanya Om Robert sambil memandangku dari atas hingga ke bawah. Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, sedangkan saya sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang Om Robert yang ketat itu mengeras.

"Iya Om, gres latihan cheers. Tante Mella mana Om..?" ujarku basa-basi. "Tante Mella lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih." balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya. "Ooh.." jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi. "Ke dapur yuk..!"

"Kamu mau minum apa Rin..?" tanya Om Robert dikala kami hingga di dapur. "Air putih aja Om, biar infinit muda." jawabku asal. Sambil menunggu Om Robert menuangkan air hambar ke gelas, saya pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada dingklik di dapurnya. "Duduk di sini boleh yah Om..?" tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat. "Boleh kok Rin." kata Om Robert sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.

Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menarik hati itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Robert pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku. "Aaah..!" pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert eksklusif menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya biar tidak jatuh. "Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kau jadi berair semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?" tanya Om Robert sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.

Aku yang masih terkejut hanya membisu mengamati tangan Om Robert yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin terperinci di balik kaosku yang berair dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert. "Om.. udah Om..!" kataku lirih. Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.

"Kamu cantik, Karin.." ujarnya lembut. Aku jadi tertunduk aib tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku sempurna di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robert kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robert, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat terperinci celana dalam dan selangkanganku.

Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.

saya melenguh agak keras dan Om Robert pun makin giat meremas-remas dadaku yang bahenol itu. Perlahan beliau melepaskan ciumannya dan saya membiarkan beliau melepas kaosku dari atas. Kini saya duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip. Kemudian beliau bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.

Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa gila karena gres kali ini saya telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan saya memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba saya merasa putingku yang sudah tegang akhir nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., mahir sekali beliau melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.

Tanpa kusadari, saya pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Robert bernafsu. "Oom.. aah.. aah..!" "Rin, kau kok seksi banget sih..? Om suka banget sama tubuh kamu, bagus banget. Apalagi ini.." godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang. "Ahh.., Om.. gelii..!" balasku manja.

"Sshh.. jangan panggil 'Om', sekarang panggil 'Robert' aja ya, Rin. Kamu kan udah gede.." ujarnya. "Iya deh, Om." jawabku bandel dan Om Robert pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi. "Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!" kataku sambil sedikit cemberut namun beliau tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra.

Entah kapan tepatnya, Om Robert berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu saya sudah telanjang lingkaran di atas meja dapur itu dan Om Robert sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja. Kini Om Robert membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya biar beliau dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.

Kemudian pengecap yang hangat dan berair itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga saya mengerang tidak tertahan. "Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!" Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robert dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku biar tidak jatuh ke depan atau ke belakang.

Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Robert pun menjilatinya dengan cepat hingga vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak tabah ingin dimasuki olehnya.

Perlahan Om Robert mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya saya hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya. "Aawww.. gede banget sih Rob..!" ujarku karena dari tadi Om Robert belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu. "Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kau juga sempitnya.. ampun deh..!" Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu.


Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Robert berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robert mengerang keenakan. "Ah Rin.. enak Rin.. aduuh..!" "Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!" balasku sambil merem melek keenakan.

Om Robert tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang bila sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robert semakin nafsu saja. "Awwh.. awwh.. aah..!" orgasmeku mulai lagi. Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih bangun tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.

Kini posisiku membelakangi Om Robert dan beliau pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi.

"Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!" rintihku dan Om Robert serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku. Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robert yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.

Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang berpengaruh dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Robert, balasannya beliau ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.

"Aaah.. Riin..!" erangnya. Om Robert melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan saya berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Robert duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.

"Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!" ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robert. Om Robert hanya melongo sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, kemudian beliau mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.

Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, saya keluar menemui Om Robert yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum. "Rin, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kau nggak menyesal kan..?" ujar Om Robert sambil menarik diriku duduk di pangkuannya. "Enggak Om, dari dulu Karin emang senang sama Om, menurut Karin Om itu temen ayah yang paling tampan dan baik." pujiku. "Makasih ya Sayang, ingat bila ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?" balasnya. "Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om mahir deh." "Iya Rin, kau juga. Om aja nggak nyangka kau mampu muasin Om kayak tadi." "He.. he.. he.." saya tersipu malu.

"Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa." ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Robert. "Iya, makasih ya Karin sayang.." jawab Om Robert sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku. "Aah.. Om, Karin musti pulang nih, udah sore." elakku sambil melepaskan diri dari Om Robert. Om Robert pun bangun dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke kendaraan beroda empat dan saya pun pulang.

Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya. "Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?" Sambil menahan tawa saya pun berkata, "Iya Pak, dikasih 'wejangan' pula.." Supirku hanya dapat memandangku dari beling spion dengan pandangan tidak mengerti dan saya hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..

3

Cerita Dewasa Selingkuh Dengan Kakak Iparku

Sebenarnya ini ialah kisah kasatmata yang tadinya ngak pernah terfikir di benakku untuk menceritakan pada orang lain, tapi alasannya ialah forum ini saya coba untuk berbagi, kejadian nya belum lama sekitar 6 bulan yang lalu, saya ialah seorang pekerja yang jarang ada waktu di rumah, maklum kerjaku sebagai karyawan di industri otomotif yang notabennya sekarang sedang banyak produksi, jadi kerjaanku agak banyak,…..dan hampir semua hariku untuk kerja…. Aku tinggal di salah satu perumahan, yang kondisinya juga agak padat…


 Kebetulan masih dalam perumahan yang sama ada kakak iparku, kira2 hanya terpisah 4 gang dari daerah tinggalku, ia mempunyai 2 anak dan bekerja di perusahaan yang  ada di luar pulau, sedangkan istrinya bekerja di Surabaya,untuk waktu kepulangan kakak iparku kira2 hanya 1 X dalam 1 bulan. Kondisi inilah yang membuat istrinya mungkin merasa kurang dalam hal dahaga sex, awalnya saya tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi, pada suatu hari ketika hari Sabtu di bulan lalu memang liburku agak banyak, alasannya ialah biasanya kondisi produksi turun. Aku di panggil ke belakang, istri kakak iparku perlu bantuan, ada plapon dapur yang rusak katanya,… Setelah istriku memberi ijin, kebetulan pada waktu itu anak2nya dari kakak iparku sedang pergi bermain semua,….

Pada dikala saya datang ia menyambutku, masuk Wan, ku lihat ia menggenakan daster panjang putih, dengan lengan yang pendek, sehingga agak nampak bab ketiak lengan kakak iparku bertubuh sekal dengan kulit yang putih… Sehingga saya mulai membetulkan plaponnya, hal sangat mudah sebetulnya saya lakukan.. sehingga hanya dalam beberapa dikala saja saya sudah selesai,s atelah itu kakak iparku menunjukkan untuk minum kopi dulu…hal yang wajar pikirku…lalu saya duduk bersebrangan di ruang keluarga, lalu kami memulai pembicaraan…. apa saja yg kami obrolkan….mulai dari kantor, umum, politik, dll. Aku memanggil ia ayuk…( sebutan untuk kk ipar perempuan ), ketika kami mulai pembicaraan sex, ia mengatakan sudah lama tidak tersentuh… dan hari ini agak merasa agak horny….aku agak tidak menanggapi dengan serius sambil menonton TV yg berada
bersahabat dgn di mana kami duduk, alasannya ialah saya sambil nonton tv, saya mengatakan…sabar aja yuk, mungkin sebentar lagi kakak datang, kataku. Ketika saya hendak mengambil gelas untuk ku minum, ku sadari kakakku dlm posisi mengangkang, sehingga nampaklah
cd warna merah marun, dengan bab atas tampak agak berbayang hitam,bulu2 dari  lembutnya pikirku, dengan paha yg putih mulus. Sekejap saya hanya menelan air liur saja,sambil berpaling ke arah TV lg, rasa takut meyeruak sekilas dalam pikiranku,….
“Wan, kau mampu ngerok ngak,aku agak masuk angin nih…” tiba-tiba ia memanggilku….. “oh mampu yuk…emang ayuk kenapa..” masuk angin tanya ku…..,iya nih Wan….bentar aj deh kerokin, sebelum kau pulang…
balasannya saya mengiyakan…..sebentar ya Wan saya ambil kerokan dan kayu putihya dulu,….setelah itu ia pergi ke kamarya lalu kembali dengan hanya menggenakan kain yang terbungkus hingga ke dada, lalu sambil duduk menghadap ke TV ia membuka
kain dan memegang bab depannya saja, ku lihat BH nya tampak sudah di lepas, lalu saya duduk di belakangnya…sambil ku ambil koin buat kerok…. ku mulai memoleskan minyak kayu putih di punggungnya….. sambil ku mulai mengerok ia membuka obrolan kembali…..Wan sekalian agak di pijet kecil ya bab tengkuk nya aja,… ya yuk….kataku….emang sakit banget ya ….ya Wan…sambil ku pegang bab belakang lehernya,dan ku pijat kecil,lalu tiba2 ia membalikkan badannya sambil membuka kain yang menutup di dadanya,…tampaklah buah dada putih yang lumayan besar..dengan putting berwarna coklat kemerah-merahan…..dadaku eksklusif berdegup kencang, kaget, takut, senang bercampur jadi satu…..tiba - tiba tangan ku di ambil dan di letakan di payudaranya, sempurna di bab putingnya….yuk jangan…kataku….ngak apa2 ko Wan saya lg kepingin banget nih…kamu ngak usah takut, saya ngak akan bilang siapa2 kok,…. sambil ia memainkan tanganku memutari payudaranya.. resah bercampur takut, tapi kontolku juga sudah berteriak lantang sambil bangkit tegak,ngak apa2 boss kita cobain aj… kemudian bibirnya mulai di dekati ke bibirku…aku tidak membalas, hanya diam, namun ketika tangannya menyentuh kontolku nafsuku mulai timbul, bagaikan kucing di kasih ikan gratis… balasannya ku mulai memainkan juga lidahku….akh..akh… suaranya
mulai mendesis…sambil meladeni ciumannya ku mula memegang memeknya.. walau masih berlapis cd, benar dugaanku tadi itu jembutnya yang nampak kehitaman, alasannya ialah cdnya agak trasparan…..akh…akh…pegang lg Wan…..kata nya menyeringai kemudian saya baringkan ke lantai dan mulai ku buka cdnya….lalu ku mulai menjilati mulai dari payudara.terus ke perut dan turun lagi ke bab vaginannya….akh…akh…enak Wan…..tangannya memegang belakang kepalaku agak kencang, menahan supaya tidak di angkat dari selangkangannya….akh…bagian klistorisnya kadang2 saya gigit kecil, ….harum sekali lubang vagina kakak iparku ini….terlihat terawat….Wan…..gantian dong saya ingin mengulum punyamu…..sesaat terdengar bunyi kecil dari dia, perlahan saya membalikan posisi sehingga sekerang menjadi 69, batang kemaluan ku sudah mulai di kulumnya…akh..
sekarang saya yang mendesis…lidahnya amat nakal..terasa tebal dan bab tengah lebih geli….akh ayuk pinter deh mainin lidahnya…ah km mampu aja Wan….coblos dong….oke yuk…..lalu saya membalikan lagi posisi,..ku mulai memasukan kemaluanku ke lubangnya…. akhhh…kembali ia merintih…lalu ku tekan perlahan,dan ku tarik ke atas dan ku dorong lagi…akhhh…ekhh
ternyata berisik sekali kakak iparku ini kalo berhubungan, ku tutup perlahan mulutnya supaya tidak terlalu keras, terus Wan…tekan.. akhhh enak Wan…kontolmu keras dan besar….kemudian ku angkat perlahan dan ku duduki ia sambil kedua paha kami
saling silang..akhh sekarang ia yang mengenjot….sambil cium payudaranya dan pengecap kami saling beradu…ku kenjot agak cepat…tiba-tiba…dia menjengut rambutku…dan teriak…akhh..akhhhh saya keluar Wan…..semua menegang dan kontolku terasa ada yg membajiri…ku tau ia O tp saya belum, ku baringkan lagi ia di lantai….terus ku luruskan kakinya, sambil ku masukan lagi kontolku ke memeknya…sekarang posisi kontolku agak terasa terjepit, alasannya ialah paha yg rapat…ku kenjot kencang akhh…akh…akh..kembali ia teriak keenakan…semakin kencang nafsuku semakin besar… lalu ku bisikan dengan bunyi lembut mau ke luar di mana yuk….di dalam aja Wan…aku pakai spiral ko….semakin semangat saya mengenjot…akhirnya di ujung tanduk …dia melabarkan lg kakinya dan melingkarkan ke belakang kakiku… akhhh…akh… tidak berpengaruh lagi..yuk.. akhhhhh sekarang saya yg teriak seiring keluarnya spermaku….ah….lalu saya terbaring di sampingnya……………hari itu kami melaksanakan hingga 3X, sorenya gres saya pulang ke rumah….. Sesuai perjanjian kami…kami akan menutup rapat2 kejadian hr ini………….
Tapi seiring waktu berjalan…kakak iparku sesekali menelpon ku untuk ngajak ketemuan di luar perumahan…mungkin ketagihan… tp saya belum punya banyak waktu luang, walapun ada cita-cita untuk mencoba kembali menikmati lubang memek kakak iparku.

3

Cerita Sex Hot Ku Entot Teman Pacarku

Aku bangkit di depan mobilku sekitar 15 menit tanpa bergerak dan hampir tidak bernafas. Kutatap HP-ku. Aku gres saja datang dari luar kota dan mendengar bahwa pacarku sedang keluar semenjak 2 jam yang lalu! Gila, sekarang hampir setengah dua pagi, dan besok saya tahu pasti jikalau beliau ada kuliah pagi. Dadaku sesak alasannya ialah cemburu. Yup, cemburu. Hanya insting, tapi besar lengan berkuasa sekali. Aku yakin beliau datang. Sial! damai sekali pagi ini.


Pacarku ialah pacar pertama yang mampu kudapatkan di kota S ini. Dia ialah anak pertama dari tiga bersaudara, perempuan semua. Terpaut satu dan tiga tahun dari pacarku yang berumur 20 tahun. Mereka tinggal tanpa orangtua alasannya ialah dinas di luar kota. Aku mencintainya hampir dengan seluruh hatiku. Sial! sakit sekali pagi ini.
Kukelilingi jalanan di kota ini perlahan. Aku sangat tidak mengharapkan bertemu dan mendapati kenyataan yang menyakitkan seandainya perasaanku benar, saya sungguh tidak mengharapkan. Hmm, sepertinya terkabul. Sudah jam 3:15, dan saya tidak memergoki kendaraan beroda empat rival sialanku di jalan. Kutepikan mobilku, kuambil HP-ku, sekedar checking, siapa tahu sudah di rumah! Redial.. “Hallo..” bunyi lembut menyapa. Hmm Aya pikirku.
“Hey, belum tidur?” sahutku.
“Hey.. Benni? eh Lia belum pulang tuh,” sergahnya gugup.
“Hm?” lidahku beku, amarah merayapiku.
“Kalo gitu saya tunggu di depan rumah kamu.. pengen liat pulang jam berapa dan dengan siapa,” lanjutku ketus.
“Jangan marah Ben..”
“Tidak..”

Kupacu mobilku ke arah utara. Sambil menyetir kubuka laci mobil, mencari sesuatu. Ahh ini dia, sebotol Smirnoff, tinggal setengah. Biasanya kusimpan untuk iseng. Hmm, kubuka dan kuteguk isinya. Shit! Tenggorokanku terasa di amplas. Hmm, hati kecilku berteriak, “Hey? mau ngapain lo? Mabok alasannya ialah cewek? norak!” Ahh, peduli setan pikirku. Paling tidak saya bakal mampu menset diriku semoga kelihatan agak cuek. Hmm yup.. norak nih.
Setibanya di depan rumah Lia, saya hanya mematikan mobil, membuka jendela pintu, dan mencoba menghirup nafas dalam-dalam. Kumundurkan bangku kendaraan beroda empat dan mulai memejamkan mata. Ah ada rasa terkhianati memenuhi kerongkonganku. Huh, tambah suntuk. Kucoba meneguk sekali lagi. Ahh sudah kosong?! Apabila dalam keadaan normal harusnya saya mampu tertidur sekarang. Kubuka kembali laciku untuk mencari rokok. Saat itu saya benar-benar lebih ibarat orang hendak piknik daripada seseorang yang sedang cemburu. Uuh!
Tiba-tiba..
“Ben..” kuputar kepalaku keluar.
“Aya..? Hai..” sahutku lirih.
“Ben.. Lia belum pulang tuh.”
“Tidak papa. Kutunggu aja di sini.” Kubuka pintu kiri kendaraan beroda empat dan kuminta beliau untuk masuk.
“Aku pengen ngobrol.” Ah saya tidak mampu tau apakah saya sedang mabuk atau cemburu yang amat sangat dikala itu. Kucoba mencari tahu dengan siapa pacarku pergi. Awalnya Aya sangat tertutup. Tapi setelah saya memintanya berterus jelas dengan memelas hasilnya semuanya meluncur lancar dari bibirnya. Melas? yup topway for top loser. Ternyata Lia sudah menduakan saya semenjak lama. Huh! Tolol sekali dan lebih tolol lagi saya sekarang mabuk? bukan untuk perayaan atau kesedihan tapi ketololan. Aku sangat marah. Kupukul beberapa kali dashboard mobil. Aya sangat ketakutan melihatnya. Cepat saya tersadar dan meminta maaf padanya. “Ben masuk aja yuk.. tidak enak di liat securiti perumahan,” katanya. Kupandangi wajahnya. “Aya.. sori ya?” kataku sambil memegang tangannya. Ada sedikit rasa kaget di wajahnya. Mungkin juga di wajahku.
Segera saya keluar dari kendaraan beroda empat untuk menutupi rasa malu. Aya menyusulku. Ternyata ia memakai celana pendek. Sengaja saya berjalan perlahan. Pikiranku berubah dikala itu. Alkohol menghipnotis nalarku. Kuperhatikan dengan seksama pinggulnya dikala berjalan ke pintu rumah. Hah, saya terangsang! Sewaktu ia memutar handel pintu sengaja saya akal-akalan melihat mobilku dan menabraknya. Ah harum sekali rambutnya. Aku semakin ereksi. “Maaf Aya..” sahutku pelan sambil memegang pundaknya.
“Eh? kau gres minum?”
“Eehh,” sahutku, saya tak tahu pasti itu tanggapan atau erangan.
Aku duduk di sofa ruang tamu.
“Aya.. duduk sini juga ya?” kataku pelan tetap dengan muka memelas.
Ia mengangguk pelan, dan duduk di bawahku. Otakku berputar keras melawan alkohol bagaimana mampu menyentuhnya untuk memuaskan egoku dikala itu. Sambil ngobrol kudekatkan jari kakiku ke betisnya. Kadang kugerakan perlahan sehingga menyentuh lutut dan pahanya. Ah, putih sekali, dengan tinggi 165 cm berat 50 kg Aya kelihatan sangat sexy. Hey, ia tidak menggeser posisi duduknya.
Segala macam obrolan kukeluarkan supaya ia teralihkan dan tidak sadar menjadi objek abuse kecil-kecilanku. Hmm, kemaluanku semakin mengeras. Kuubah posisiku menjadi berbaring sehingga kepalaku lebih akrab dengannya. Tapi yang lebih penting tanganku mampu bebas. Kupermainkan karpet. Kadang “secara tidak tersengaja” jariku menyentuh pahanya. Aya terkesiap. “Ben kubikinkan minum ya?” sambil bangkit ke arah dapur. Aku hanya mengangguk. Huh, saya tidak mampu berpikir sehat lagi. Kususul ia ke dapur. Tampaknya ia tak melihatku. Lalu saya bangkit di belakangnya. Kuhirup anyir wangi rambutnya. Aya dengan kaget memutar kepalanya sehingga bibirku menyentuh hidungnya.
“Eh sori..” kataku, lalu kupegang pundaknya.
“Aya.. ada yang mau kubicarakan. Beri waktu satu menit bila kau tidak suka kau boleh jalan ke depan dan ngelupain, ok?” Ia mengangguk pelan.
Lalu perlahan saya seakan mau membisikkan sesuatu, kupegang kepalanya lalu kucium bibirnya pelan. Ia sedikit berontak tapi kueratkan tanganku di kepalanya. Setelah sekitar 5 detik mulai kukulum bibir bawahnya. Tak ada reaksi. What the hell! toh saya sedang memuaskan diriku sendiri. Tak lama bibirnya mulai terbuka. Bagus kini lidahku mampu ‘bicara’. Kumasukan lidahku ke dalam bibirnya. Perlahan sekali kucari langit-langit mulutnya. Kusapukan lidahku di sana. Ia mulai mengerang. Aku merasa ia mulai mengeluarkan lidahnya (thanks.. the access is granted, sorakku dalam hati). Kuhisap pelan lidahnya lalu kulepas lalu kuhisap lagi, begitu selama 3-4 kali sambil kuturunkan tanganku ke pinggulnya ke pantatnya.
Aahh, kunikmati setiap gerakan yang kubuat. Sekali lagi saya hanya ingin memuaskan diriku sendiri. Kuusap pelan pantat Aya. Lalu ke arah paha di bawah pantat. Nafasnya mulai memburu. Aku merasa ibarat ada selimut birahi membungkusku. Lalu kuselipkan tanganku ke dalam kaos longgarnya. Kuusap punggungnya beberapa kali, sambil terus mengulum lidahnya. Kucoba melepas tali branya. Aah berhasil. Tiba-tiba ia ibarat tersadar. Gawat! Aku mesti lebih cepat bertindak sebelum budi sehatnya menguasai dirinya. Kutarik pelan tangannya ke arah ruang tamu. Kukecilkan lampu hingga redup lalu kududukan ia di sofa. Ia hanya memandangiku dikala saya berlutut di depannya. Kubelai pipinya lalu kumulai lagi ritual ibarat tadi. Kali ini tidak hanya punggung tapi perut dan sesekali kusentuh payudaranya. Bra yang menggantung ini sangat merepotkan. Tapi jikalau saya memintanya melepas bra, resikonya ia akan sadar. Lalu sambil terus mengulum lidahnya kudorong perlahan Aya ke belakang. Dengan posisi tidur saya lebih mudah. Kualihkan lidahku ke arah belakang telinganya. Aya terpejam. Nafasnya masih memburu, lalu lehernya dengan tiba-tiba kubuka T-shirtnya. Langsung kujilat dadanya. “Oooh Ben.. eggh,” desisnya.
Kuangkat branya. Kupandangi payudaranya yang putih dan padat dengan warna coklat jelas di sekitar putingnya. Kukecup perlahan putingnya. Aya menggelinjang pelan. Lalu mulai kusapukan lidahku dari bawah payudaranya membuat lingkarang kecil yang semakin besar. “Aahh.. ohh,” bisiknya perlahan. Kesentuh payudara kanannya dengan tanganku. Kubiarkan jemariku membisu sebentar di sana. Kemudian mulai kuusap lembut. “Aaahh.. sshh..” lirihnya. Lalu mulai kujilat bergantian kedua payudara berukuran 34D-nya. Kulit tubuhya sangat lembut dan kontras sekali dengan redupnya lampu. Aku menjadi sangat garang ketika melihat pinggulnya yang ramping. Lalu jilatanku mulai kugeser pelan ke arah perut. Aya menggelinjang sambil berdesis. “Ssshh.. sshh..” hmm saya mampu ejakulasi lebih cepat bila melihat wanita dalam keadaan high ibarat ini. Sambil terus menjilati pusarnya saya mulai meraba pahanya. Tanganku mengelus perlahan mulai dari lututnya hingga setengah pahanya. Begitu pahanya secara naluri membuka, saya tak menyia-nyiakan untuk mengelus lebih dalam lagi hingga ke pangkal pahanya. “Aaahh.. shh aaw..” jeritnya ketika saya mulai menyentuh liang kemaluannya. Hmm, ternyata sudah basah. Half done. Lalu mulai bibirku kusapukan ke arah bawah pusarnya. “Aeerrhh aahh sshh,” Aya mulai membuka lebar-lebar pahanya. Lalu saya merubah posisi. Lututnya mulai kujilat sambil tanganku meraba pangkal pahanya.
Gerakan lidahku semakin kupercepat sambil mengarah ke arah liang kemaluannya. Tapi celana dalam itu sangat mengganggu. Kucium liang kewanitaannya dari luar. Kugigit pelan gundukan kecil itu. Ah indah tidak berbau. Lalu perlahan-lahan kuturunkan celana pendek dan celana dalamnya. T-shirtnya tetap kubiarkan. Sengaja saya tidak membuat Aya telanjang bundar sehingga ia masih merasa nyaman. Begitu saya melihat liang kewanitaannya, nafsuku naik berlipat-lipat. Langsung kuterkam kemaluan Aya sambil kucari-cari letak klitorisnya. Begitu dapat eksklusif kupermainkan dengan lidahku. “Aawwhh.. oohh.. ohh.. ohhss.. aawww..” eranganya terdengar ibarat tangisan kecil bagiku. Aku ibarat kesetanan sewaktu menjilati liang kemaluannya. Tanganku tetap menjaga kedua pahanya semoga tidak menjepit kepalaku supaya saya tetap mampu mendengar erangannya. “Aaasshh.. aawww.. aawww..” lalu kuarahkan lidahku ke arah lubang liang kemaluannya. Kuayunkan kepalaku berkali-kali. Agh.. pusing. Alkohol sialan. Lalu kuhentikan dan saya bangkit sejenak. Kubiarkan Aya tersengal-sengal selama 2-5 detik sambil kuperhatikan wajahnya. Ia mulai membuka matanya, lalu kubuka bajuku dan kulepas kancing celanaku. Kucium bibirnya sambil kutuntun tangannya ke arah batang kemaluanku. Aya eksklusif meremas batang kemaluanku. Nafasnya masih tersengal-sengal.
Setelah kukulum bibirnya beberapa dikala saya bangkit di atasnya. Kubuka celanaku. Kukeluarkan kejantananku. Aku ingin ia melihat diriku berkuasa atas dirinya, total! Lalu kugeserkan kemaluanku ke wajahnya. Ia memalingkan mukanya ke arah berlawanan. Ok, no problem. Lalu kugeserkan ke lehernya, ke payudaranya, terus turun ke perutnya, lalu ke pahanya, lalu ke liang kemaluannya. Kuputar-putarkan ke arah lubangnya. “Aaawww.. sshh.. shh..” nafasnya kembali memburu tetapi pahanya kembali membuka. Sengaja tak kumasukan semoga saya mampu lebih lama menikmati saat-saat ini alasannya ialah bagiku inilah dikala sebetulnya saya mampu menerima penyerahan total bukan sewaktu bercinta atau orgasme. Tanganya mulai menggapai sandaran sofa di atasnya. “Aaawww.. sshh sshh” desisnya. Lalu saya mulai mengatur posisi diriku. Kedua pahanya kuangkat dengan setengah jongkok saya mulai melaksanakan penetrasi sedikit demi sedikit. Setiap centimeternya kulakukan dengan sangat perlahan. “Aaawww.. ashh.. shh..” Aya mulai mengernyitkan alisnya. Tangan kananku kupakai untuk menopang badanku dan tangan kiriku meraih pinggulnya. “Aawwss.. sshh.. Benni jaangaann..” bisiknya lirih. Hey.. sudah sangat terlambat sayang. Kubenamkan seluruh kejantanaku ke liang kemaluannya. Hmm.. hangat sekali. Apalagi aroma tubuhnya memancarkan anyir yang merangsang. Mungkin ia memakai baby cologne.
Aku ibarat mendapati ruang kosong dalam liang kemaluannya. Tetapi di pangkal batang kemaluanku, saya mencicipi jepitan yang sangat keras. Lalu mulai kuayunkan pinggulku perlahan-lahan. “Aawww.. aass.. shhs.. shh.. shh..” setiap kumajukan pinggulku ia mendesis-desis. Lalu kutopang badanku dengan tanganku. Aku melihat gerakan payudaranya yang memutar seirama dengan gerakanku. Wajahnya memerah. Bibirnya membuka. Kedua tangannya menekan pantatku. Lalu semakin kupercepat gerakanku. “Aasshh.. sshh.. shh..” jeritnya. “Ayaa.. uuh.. uhh.. uhh..” erangku. Tiba-tiba saya merasa jikalau saya hampir orgasme. Sekilas wajah Lia di bayanganku. Lalu bagaimana saya mencintainya, bagaimana saya terkhianati, saya menjadi liar, ku pegang pinggulnya dengan kedua tanganku. Lalu kupercepat gerakanku ibarat kesetanan. “Aaass.. sshh.. sshh..” kubekap mulutnya dengan bibirku semoga suaranya tidak terdengar. Lalu kurasakan tanganya semakin keras mencengkeram di pantatku. “Aayyaa.. sshh.. uuhh..” saya tak tahan lagi. Kukeluarkan semua spermaku di dalam liang kewanitaannya. “Aaarrhh.. arrhh..” kucengkeram pinggulnya hingga ia meringis kesakitan. Tampaknya ia tak perduli. Disilangkan kakinya ke pinggulku hingga saya tak mampu bergerak lagi. “Aasshh.. aahh.. Benn.. ehh..” tampaknya Aya telah orgasme. Tangannya terkulai di samping tubuhnya. Kakinya masih menjepit tetapi tidak sekeras tadi.
Setelah yakin semua spermaku telah keluar saya mulai melepas pelukannya. Langsung saya berdiri. Kukancingkan celanaku, kuambil bajuku. Aku melakukannya sangat cepat. Lalu saya pergi ke dapur untuk mencuci muka. Kulihat mukaku di cermin. Hmm, wajahku masih merah. Tapi saya sudah puas. Kemarahanku pun sangat reda. Kuambil sebatang rokok. Kunyalakan sambil kembali ke ruang tamu. Tampaknya Aya masih belum berbenah. Lalu kuraih celananya dan kuberikan padanya. Ia tertegun. Lalu cepat-cepat dikenakannya sambil menunduk. “Benn..” tegurnya. “Ssst..” jawabku sambil mencium pipinya. Kembali kuputar dimmer untuk menerangi ruang tamu. Kulihat foto pacarku bersama keluarganya. Tak ada perasaan dendam lagi. Tak ada perasaan bersalah.
“Aya.. saya pulang dulu ya?” kataku sambil berjalan ke arah pintu.
“Ben..” panggilnya lirih.
“Aya besok lusa saya telpon kau oke?”
Ia tak menjawab. Aku pun tak mampu mengira-ngira apa yang sedang ia pikirkan, mungkin saya tak mau. Kustater mobilku dan melaju ke luar perumahan menuju jalan raya. Kunyalakan radioku. Entah siapa yang membawakan tapi lirik lagu itu menjadi inspirasiku.
“I’m in somebody’s shadow In someone else’s dream You’ll never find me unless I want to be”
Kuhirup nafas dalam-dalam. Ada perasaan sedih merayap di hati.

3

Cerita Dewasa 2017 Merasakan Kenikmatan Sex

Aku Dina, kisah ini terjadi ketika Aku gres masuk SMU. Aku tinggal bersama dengan ke 2 ortu dan adikku di sebuah apartment. Ortu membeli 2 apartmen yang letaknya saling berhadapan di lantai yang sama. Aku dan adikku tinggal di satu apartment dan ortu di apartmen satunya lagi.


Ayahku punya seorang kakak angkat yang umurnya gak jauh diatas ayah. Hubungan keluargaku dengan om itu cukup akrab. om sering berkunjung ke apartmen baik untuk urusan pekerjaan maupun hanya bersilaturahmi. Maklum om dah pisah dari tante, yang telah menikah lagi dengan orang lain, sedang om masih sendiri semenjak perpisahannya dengan tante. Om ku ganteng, walaupun umurnyaa sedikit diatas ayahku tapi malah kelihatan lebih muda dari ayahku.
Badannya tegap atletis, mungkin sebab ia masih rajin melaksanakan fitness seminggu sekali, jogging ampir tiap hari dan juga renang seminggu sekali. Gak menyerupai ayahku yang udah gendut dan keliatan tua, maklum deh ayah sibuk dengan kerjaannya, workaholik lah orang bilang, sehingga gak sempet ngapa-ngapain. waktu untuk keluarga paling weekend, itupun sering dianggu sebab ada pekerjaan yang harus dilakukan ayah. Om sering mengajak kami jalan2, kalo ayah kharus melaksanakan pekerjaannya.
Diam-diam saya mengagumi om, kelihatannya macho sekali deh. Cerita ini terjadi ketika ortu dan adikku harus keluar kota untuk menengok nenekku yang sedang sakit. Aku tidak ikut sebab hari ini om akan datang untuk mengambil pesanannya yang dititipkan lewat aya. ayah berpesan untuk memberikan pesanan itu kalo om datang ke apartment. Katanya om akan datang sore sekitar magrib. Aku senang juga sebab bisa berduaan aja ama om tanpa ada orang lain diapartment yang mengganggu.
Sorenya terdengar bel pintu berbunyi. Om mengebel pintu apartmentku sebab ayah dah memberi tau kalo mereka keluar kota, tapi pesanan om dititpkan pada aku. Segera saya membuka pintu menyambut om.
“Hai cantik”, om selalu menyapa saya menyerupai itu. Seneng saya dipuji cantik oleh om.
“Kok seneng banget kelihatannya”.
“Iya om, seneng bisa berduaan ama om”, jawabku terus terang.
“Loh kok seneng, kan dah sering jalan ma om”.
“Iya tapi kan ramean. duduk om. ini pesenan om yang dititipkan ayah buat om”.
Om duduk di sofa. Memang apartment saya dan adikku lumayan lengkap perabotannya walaupun serba minimalis. Di ruang tamu yang merangkap kamar makan ada seperangkat sofa, tv, audio system, meja makan dan pantri kering. Dapur diubah fungsi sebagai gudang sebab makanan disupply dari apartment ortu.
“Om jalan yuk”, kataku.
“Mo kemana”, tanya om.
“Ke mall yuk”.
“Mo nyari apa?”
“Makan ama liatliat aja. di apartment gak ada makanan. tadi mama pesen supaya saya ngajak om nyari makan diluar aja”. “Emangnya ortu kau pulangnya kapan. Adikmu mana?”
“Adik ikut om, pulangnya besok sore kali”.
“Terus kau takut sendirian, mau om temenin”. Wah itu yang saya harapkan bisa berduaan ama om sampe besok.
“Bentar ya om, saya tuker baju dulu”.
Segera saya menghilang kekamarku dan tukar pakean. Aku gak tau, rupanya om ngintip ketika saya tuker pakean. Tapi ya gak tejadi apa2. Kemudian segera saya keluar apartment nersama om. Dengan manjanya saya memeluk tangan om. Kami bermobil ke mal yang deket dengan apartmentku. Sampe malem saya bener2 have fun bersama om, kami cari makan, dan setelah makan om ngajak saya nonton film. Aku ya ok aja, didalem bioskop saya memegangi tangan om terus, perhatianku gak pada filmnya tapi pada sosok pria macho yang duduk disebelah aku.
“Tu orang pada ngeliatin kita, mereka kira saya om senang yang lagi gaet abg cantik”, kata om ketika keluar dari bioskop.
“Kamu manja amat sih”.
“Biarin aja”, jawabku.
“Mo kemana lagi nih”.
“Pulang yuk om”.
“ayuk”.
Kami menuju ke tempat parkir dan eksklusif kembali ke apartment. Segera kendaraan beroda empat meluncur kembali ke apartment, gak lama sebab apartment dekat dengan mal. Sesampe di apartment saya segera tuker dengan pakean rumah lagi. saya kalo dirumah Memang gak memakai bra. Aku hanya memakai tanktop ketat sepinggang dan celana pendek yang juga ketat. kedua pentilku tampak terperinci sekali tercetak di tanktopku. Si om terpana melihat lekak liku bodiku yang Memang mengundang selera lelaki yang melihatnya.
“Kamu beneran mo om temenin”.
“Kalo om gak keberatan”.
“Tapi om gak bawa baju ganti”.
“Nanti saya ambilin celana kolor dan baju kaos ayah”.
Segera saya keluar apartment, membuka apartment ortu dan masuk ke kamar ortu untuk mengambil celana kolor dan kaos oblong ayah.
“Kegedean kali ya om, ayah kan gendut”, kataku sembari menyerahkan pakean itu ke om.
“Gak apa, kan cuma buat bobo”.
Si om masuk ke kamarku, ketika keluar kamar hanya memakai celana kolor gombrang dan kaos yang rada kebesaran. Kelihatannya ia tidak mengenakan CD sebab kontolnya kelihatan terperinci tercetak di celana gombrangnya, kayanya dah ngaceng deh. Mungkin ia napsu ngeliat bodiku. Om duduk di sofa nonton tv. Aku duduk disebelahnya.
“Din kau seksi sekali. toket kau besar juga ya, pasti perjaka kau suka ya, suka diremes2 ya Din ma perjaka kamu”.
“Ih om tau aja”.
“Iya tau lah Din, om kan juga lelaki. Lelaki mana yan gak suka ngeremes toket bahenol menyerupai toketmu itu”.
“Om suka ngeremes juga ya, terus om ngeremes siapa, kan gak ada tante”. Om cuma tersenyum,
“Kamu mau gak om remes”. “Ih om genit ih”.
“Kamu suka nonton film bokep ya Din”.
“Iya om ma perjaka Dina”.
“Dimana nontonnya?”
“Dirumah perjaka Dina, ia kan sering sendirian di rumahnya, ortunya sering pergi dua2nya, katanya berbisnis”. Terus, diremes deh”.
“Iya om, abis nonton film gituan kan napsu juga”.
“Cuma diremes?”
“he he”, saya hanya tertawa. “Kamu dah sering maen ma perjaka kau ya Din”.
“Gak sering om, cuma ampir tiap malem minggu”.
“Itu mah sering”, kata om sambil merangkul pundakku.
Aku merinding ketika om menarikku merapat kebadannya. Dia mencium pipiku.
“Om bawa film bokep, yang maen orang indonesia ma bule. mo liat?’
“Mau om, biasanya saya nonton kalo gak bule, ya cina apa jepun”.
Si om mengambil dvd dari tas yang dibawanya tdi dan dipasangnya. Segera filmpun mulai. Ceweknya orang sini, togepasar lah, jembutnya juga lebat, sedang si bule krempeng, tapi kontolnya gede en panjang banget. Biasalah ritual film bokep saling isep sampe hasilnya si bule naikin tu prempuan dan masuk deh. serenade ah uh dimulai. Si om rupanya sudah dibawah pengaruh napsu berahinya. Dia menatapku dengan pandangan yang seakan2 mau menelanjangiku. Segera ia mencium bibirku, saya menyambutnya.
Lidah kami saling melilit dan kemudian dijulurkan lidahnya kedalam mulutku. Segera kuemut lidahnya, kemudian ganti saya yang menjulurkan lidahku ke mulutnya. Diapun tidak menyia2kan kesempatan untuk segera memerah kedua toketku gantian.
“Din, om dah lama pengen ngeremes toket kamu”. Pentilku yang dah mulai mengeras dipilin2 dari luar tanktopku. “Dilepas ya Din tanktopnya”, katanya seraya menarik tanktopku keatas.
Dvd dimatikannya sebab kami sudah tidak lagi memperhatikan perilaku ke2 anak insan yang berlainan jenis sedang beraksi di film itu. Toketku sudah telanjang dihadapannya. Dia segera meremas2 toketku.
“Baru 16 dah besar gini Din toket kamu, kenceng lagi, om mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau kan”, katanya perlahan sambil mencium toket ku yang montok. “.
Aku membisu saja, mataku terpejam. Dia mengendus-endus kedua toketku yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahnya. pentil toket kananku dilahap ke dalam mulutnya. Badanku sedikit tersentak ketika pentil itu digencet perlahan dengan menggunakan pengecap dan gigi atasnya.
“Om…”, rintihku, tindakannya membangkitkan napsuku juga.
Aku menjadi sangat ingin mencicipi kenikmatan dien tot, sehingga saya membisu saja membiarkan ia menjelajahi tubuhku.
Disedot-sedotnya pentil toketku secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak diperkuat sedotannya. Diperbesar kawasan lahapan bibirnya. Kini pentil dan toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutnya. Kembali disedotnya kawasan tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajahku tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua toketku yang harum itu diciumi dan disedot-sedot secara berirama.
Dibenamkannya wajahnya di antara kedua belah gumpalan dada ku. Perlahan-lahan ia bergerak ke arah bawah. Digesek-gesekkan wajahnya di lekukan tubuhku yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutku. Kiri dan kanan diciumi dan dijilatinya secara bergantian. Kecupan-kecupan bibir, jilatan-jilatan lidah, dan endusan-endusan hidungnya pun beralih ke perut dan pinggangku. Bibir dan lidahnya menyusuri perut sekeliling pusarku yang putih mulus. Wajahnya bergerak lebih ke bawah.
Dengan nafsu yang menggelora ia memeluk pinggulku secara perlahan-lahan. Celana pendekku ditariknya kebawah, saya mengangkat pantatku supaya lebih mudah ia melepaskan celanaku. Kecupannya pun berpindah ke CD tipis yang membungkus pinggulku. Ditelusurinya pertemuan antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Dijilatnya helaian-helaian rambut jembutku yang keluar dari CDku.
“Din, jembut kau lebat banget ya, pantes kau napsunya besar”. Lalu diendus dan dijilatnya CD pink itu di episode kepingan bibir nonokku. Aku makin terengah menahan napsuku, sesekali saya melenguh menahan kenikmatan yang kurasakan.
Dia melepaskan semua yang nempel dibadannya sehingga bertelanjang bulat. Aku terkejut melihat kontolnya yang begitu besar dan panjang dalam keadaan sangat tegang. Napsuku berdiri juga melihat kontolnya, timbul hasratku untuk mencicipi bagaimana nikmatnya kalo kontol besar itu menggesek keluar masuk nonokku. Dia bangkit. Dengan posisi berdiri di atas lutut dikangkanginya tubuhku. kontolnya yang tegang ditempelkan di kulit toketku. Kepala kontol digesek-gesekkan di toketku yang bahenol itu.
Sambil mengocok batangnya dengan tangan kanannya, kepala kontolnya terus digesekkan di toketku, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua menit ia melaksanakan hal itu. Diraih kedua belah gumpalan toketku yang bahenol itu. Dia berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping ku dengan posisi tubuh sedikit membungkuk. kontolnya dijepitnya dengan kedua gumpalan toketku. Perlahan-lahan digerakkannya maju-mundur kontolnya di cekikan kedua toket ku. Di kala maju, kepala kontolnya terlihat mencapai pangkal leherku yang jenjang. Di kala mundur, kepala kontolnya tersembunyi di jepitan toketku. L
ama-lama gerak maju-mundur kontolnya bertambah cepat, dan kedua toketku ditekannya semakin keras dengan telapak tangannya biar jepitan di kontolnya semakin kuat. Dia pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketku. Akupun mendesah-desah tertahan,
“Ah… hhh… hhh… ah…” kontolnya pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi kepingan toketku.
Gerakan maju-mundur kontolnya di dadaku yang diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tangannya di kedua toketnya, menyebabkan cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang kepingan dadaku yang menjepit kontolnya. Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kontolnya di dalam jepitan toketku. Dengan adanya sedikit cairan dari kontolnya tersebut ia terlihat mencicipi keenakan dan kehangatan yang luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kontolnya dengan toketku.
“Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” ia tak kuasa menahan rasa enak yang tak terperi. Nafasku menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirku , yang kadang diseling desahan lewat hidungku,
“Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahanku semakin membuat nafsunya makin memuncak.
Gesekan-gesekan maju-mundurnya kontolnya di jepitan toketku semakin cepat. kontolnya semakin tegang dan keras.
“Enak sekali, Din”, erangnya tak tertahankan.
Dia menggerakkan kontolnya maju-mundur di jepitan toketku dengan semakin cepat. Alis mataku bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirku akhir tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketku. Ada sekitar lima menit ia menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketku itu. Toket sebelah kanan dilepas dari telapak tangannya. Tangan kanannya lalu membimbing kontol dan menggesek-gesekkan kepala kontol dengan gerakan memutar di kulit toketku yang halus mulus.
Sambil jari-jari tangan kirinya terus meremas toket kiriku, kontolnya digerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarku, kepala kontolnya digesekkan memutar di kulit perutku yang putih mulus, sambil sesekali disodokkan perlahan di lobang pusarku. Dicopotnya CD minimku. Pinggulku yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit perutku yang semula tertutup CD tampak terperinci sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutku, jembutku yang hitam lebat menutupi kawasan sekitar nonokku.
Kedua paha mulusku direnggangkannya lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perutku terkuak, mempertontonkan nonokku. Dia pun mengambil posisi biar kontolnya dapat mencapai nonokku dengan mudahnya. Dengan ajudan memegang kontol, kepalanya digesek-gesekkannya ke jembutku. Kepala kontolnya bergerak menyusuri jembut menuju ke nonokku. Digesek-gesekkan kepala kontol ke sekeliling bibir nonokku. Terasa geli dan nikmat. Kepala kontol digesekkan agak ke arah nonokku. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding ekspresi nonokku menjadi basah. Digetarkan perlahan-lahan kontolnya sambil terus memasuki nonokku.
Kini seluruh kepala kontolnya yang berhelm pink tebenam dalam jepitan ekspresi nonokku. Kembali dari mulutku keluar desisan kecil sebab nikmat tak terperi. Kontolnya semakin tegang. Sementara dinding ekspresi nonokku terasa semakin basah. Perlahan-lahan kontolnya ditusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh kontol yang tersisa di luar. Secara perlahan dimasukkan kontolnya ke dalam nonokku. Terbenam sudah seluruh kontolnya di dalam nonokku. Sekujur kontol sekarang dijepit oleh nonokku . Secara perlahan-lahan digerakkan keluar-masuk kontolnya ke dalam nonokku. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam nonokku hanya kepalanya saja. Sewaktu masuk seluruh kontol terbenam di dalam nonokku hingga batas pangkalnya.
Dia terus memasuk-keluarkan kontolnya ke lobang nonokku. Alis mataku terangkat naik setiap kali kontolnya menusuk masuk nonokku secara perlahan. Bibir segarku yang sensual sedikit terbuka, sedang gigiku terkatup rapat. Dari ekspresi sexy ku keluar desis kenikmatan,
“Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Dia terus mengocok perlahan-lahan nonokku. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Kembali dikocoknya secara perlahan nonokku hingga selama dua menit.
Kembali ditariknya kontolnya dari nonokku. Namun tidak seluruhnya, kepala kontol masih dibiarkannya tertanam dalam nonokku. Sementara kontol dikocoknya dengan jari-jari tangan kanannya dengan cepat Rasa enak itu agaknya kurasakan pula. Aku mendesah-desah akhir sentuhan-sentuhan getar kepala kontolnya pada dinding ekspresi nonokku,
“Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…” Tiga menit kemudian dimasukkannya lagi seluruh kontolnya ke dalam nonokku. Dan dikocoknya perlahan. Sampai kira-kira empat menit.
Lama-lama ia mempercepat gerakan keluar-masuk kontolnya pada nonokku. Sambil tertahan-tahan, ia mendesis-desis,
“Din… nonokmu luar biasa… nikmatnya…” Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung hingga sekitar empat menit.
Tiba-tiba dicopotnya kontol dari nonokku. Segera ia berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhku biar kontolnya mudah mencapai toketku. Kembali diraihnya kedua belah toket bahenol ku untuk menjepit kontolnya yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kontolnya dapat terjepit dengan enaknya, ia agak merundukkan badannya. Kontol dikocoknya maju-mundur di dalam jepitan toketku. Cairan nonokku yang membasahi kontolnya kini merupakan pelumas pada gesekan-gesekan kontolnya dan kulit toketku.
“Oh…hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, ia merintih-rintih keenakan. Aku juga mendesis-desis keenakan,
“Sssh.. sssh… sssh…” Gigiku tertutup rapat. Alis mataku bergerak ke atas ke bawah.
Dia mempercepat maju-mundurnya kontolnya. Dia memperkuat tekanan pada toketku biar kontolnya terjepit lebih kuat. Karena berair oleh cairan nonokku, kepala kontolnya tampak amat mengkilat di ketika melongok dari jepitan toketku. Leher kontol yang berwarna coklat bau tanah dan helm kontol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketku. Semakin dipercepat kocokan kontolnya pada toketku. Tiga menit sudah kocokan andal kontolnya di toket bahenol ku berlangsung. Dia makin cepat mengocokkan kontol di kempitan toket cantik ku. Akhirnya ia tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahanannya.
“Din..!” pekiknya dengan tidak tertahankan. Matanya membeliak-beliak. Jebollah pertahanannya.
Kontolnya menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot! Pejunya menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, hingga menghantam rahangku. Peju tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leherku. Peju yang tersisa di dalam kontolnya pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya hingga pangkal leherku, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas kepingan toketku. Dia menikmati akhir-akhir kenikmatan.
“Luar biasa…Din, nikmat sekali tubuhmu…,” ia bergumam.
“Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kataku lirih.
“Gak apa kalo om ngecret didalem Din”, jawabnya.
“Gak apa om, biasanya cowokku juga ngecret didalem kok om. Tapi belum dien tot juga saya ngerasa nikmat sekali om”, kataku lagi.
“Ini gres ronde pertama Din, mau lagi kan ronde kedua”, katanya.
“Mau om, tapi ngecretnya didalem ya”, jawabku. “Kok tadi kau diem aja Din”, katanya lagi.
“Bingung om, tapi nikmat”, jawabku sambil tersenyum.
“Engh…” saya menggeliatkan badanku.
Dia segera mengelap kontol dengan tissue yang ada di atas meja, dan mengelap peju yang berleleran di rahang, leher, dan toketku. Ada yang tidak dapat dilap, ialah cairan peju yang sudah terlajur jatuh di rambut ku.
“Mo kemana om”, tanyaku.
“Mo ambil minum dulu”, jawabnya.
Dia kembali membawa gelas berisi air putih, diberikannya kepada ku yang eksklusif kutenggak sampe habis. Dia kembali lagi untuk mengisi gelas dengan air. Masih tidak puas ia memandangi toket indahku yang terhampar di depan matanya. Dia memandang ke arah pinggangku yang ramping dan pinggulku yang melebar indah. Terus tatapannya jatuh ke nonokku yang dikelilingi oleh jembut hitam jang lebat. Aku ingin mengulangi permainan tadi, digeluti, didekap kuat. Mengocok nonokku dengan kontolnya dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan ia dapat menyemprotkan pejunya di dalam nonokku sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya ketika saya nyampe. Nafsuku terbakar. Aku diajaknya kekamar. Aku berbaring diranjang dan ia disebelahku.
“Din…,” desahnya penuh nafsu. Bibirnya pun menggeluti bibirku. Bibir sensualku yang menantang itu dilumat-lumat dengan ganasnya. Sementara saya pun tidak mau kalah. Bibirku pun menyerang bibirnya dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirnya. Kedua tangannyapun menyusup diantara lenganku. Tubuhku sekarang berada dalam dekapannya. Dia mempererat dekapannya, sementara saya pun mempererat pelukanku pada dirinya. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketku yang membusung terasa semakin menekan dadanya. Aku meremas-remas kulit punggungnya. Aku mencopot celananya dan merangkul punggungnya lagi.
Dia kembali mendekap erat tubuhku sambil melumat kembali bibirku. Dia terus mendekap tubuhku sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh episode depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketku yang bahenol menekan ke dadanya. Dan ketika saling sedikit bergeseran, pentilku seolah-olah menggelitiki dadanya. Kontolnya terasa hangat dan mengeras. Tangan kirinya pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar ku, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutnya. Kontolnya tergencet diantara perut bawahku dan perut bawahnya. Sementara bibirnya bergerak ke arah leherku, diciumi, dihisap-hisap dengan hidungnya, dan dijilati dengan lidahnya.
“Ah… geli… geli…,” desahku sambil menengadahkan kepala, biar seluruh leher hingga daguku terbuka dengan luasnya. Aku pun membusungkan dadaku dan melenturkan pinggangku ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahnya dalam keadaan menggeluti leherku, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya.
Tangan kanannya lalu bergerak ke dadaku yang montok, dan meremas-remas toketku dengan perasaan gemas. Setelah puas menggeluti leherku, wajahnya turun ke arah kepingan dadaku. Dia berdiri dengan agak merunduk. Tangan kirinya pun menyusul tangan kanan, ialah bergerak memegangi toket. Digeluti kepingan toketku, sementara kedua tangannya meremas-remas kedua belah toketku sambil menekan-nekankannya ke arah wajahnya. Digesek-gesekkan memutar wajahnya di kepingan toketku. Bibirnya bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Diciuminya bukit toketku, dan dimasukkan pentil toketku ke dalam mulutnya. Kini ia menyedot-sedot pentil toket kiriku. Di ainkan pentilku di dalam mulutnya dengan lidah. Sedotan kadang diperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat.
“Ah… ah… om…geli…,” saya mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Dia memperkuat sedotannya.
Sementara tangannya meremas berpengaruh toket sebelah kanan. Kadang remasan diperkuat dn diperkecil menuju puncak, dan diakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jarinya pada pentilku.
“Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu…ngilu…” Dia semakin gemas.
Toketku dimainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang disedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang disedot hanya pentilku dan dicepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang diremas dengan kawasan tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya dipijit-pijit dan dipelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya.
“Ah…om… terus… hzzz…ngilu… ngilu…” saya mendesis-desis keenakan. Mataku kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhku ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya. Sampai hasilnya saya tidak berpengaruh melayani serangan-serangan awalnya. Jari-jari tangan kananku yang mulus dan lembut menangkap kontolnya yang sudah berdiri dengan gagahnya. “Om.. kontolnya besar ya”, ucapku. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tangannya terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketku, jari-jari lentik tangan kananku meremas-remas perlahan kontolnya secara berirama.
Dia merengkuh tubuhku dengan gemasnya. Dikecupnya kembali kawasan antara indera pendengaran dan leherku. Kadang daun indera pendengaran sebelah bawahnya dikulum dalam mulutnya dan dimainkan dengan lidahnya. Kadang ciumannya berpindah ke punggung leherku yang jenjang. Dijilati pangkal helaian rambutku yang terjatuh di kulit leherku. Sementara tangannya mendekap dadaku dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tangannya meremas-remas kedua belah toketku. Remasannya kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kanannya menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kiriku, sementara tangan kirinya meremas berpengaruh bukit toket kananku dan bibirnya menyedot kulit mulus pangkal leherku yang bebau harum, kontolnya digesek-gesekkan dan ditekan-tekankan ke perutku. Aku pun menggelinjang ke kiri-kanan.
“Ah… om… ngilu… terus om… terus… ah… geli… geli…terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” saya merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tangannya di toketku. Akibatnya pinggulku menggial ke kanan-kiri.
“Din.. enak sekali Din… sssh… luar biasa… enak sekali…,” diapun mendesis-desis keenakan.
“Om keenakan ya? kontol om terasa besar dan keras sekali menekan perut aku. Wow… kontol om terasa hangat di kulit perut aku. Tangan om bandel sekali … ngilu,…,” rintihku.
“Jangan mainkan hanya pentilnya saja… geli… remas seluruhnya saja…” saya semakin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratnya.
Aku sudah makin liar saja desahannya, saya sangat menikmati gelutannya, lupa bahwa ia ini om suamiku.
“Om.. remasannya berpengaruh sekali… Tangan om bandel sekali..Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kontol om … besar sekali… berpengaruh sekali…”
Aku menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Bibirku melumat bibirnya dengan ganasnya. Dia pun tidak mau kalah. Dilumatnya bibirku dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tangannya mendekap tubuhku dengan kuatnya. Kulit punggungku yang teraih oleh telapak tangannya diremas-remas dengan gemasnya. Kemudian ia menindihi tubuhku. Kontolnya terjepit di antara pangkal pahaku dan perutnya episode bawah. Akhirnya ia tidak tabah lagi. Bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan leherku, sementara tangannya membimbing kontolnya untuk mencari nonokku.
Diputar-putarkan dulu kepala kontolnya di kelebatan jembut disekitar bibir nonokku. Aku meraih kontolnya yang sudah amat tegang. Pahaku yang mulus itu terbuka agak lebar. “Om kontolnya besar dan keras sekali” kataku sambil mengarahkan kepala kontolnya ke nonokku. Kepala kontolnya menyentuh bibir nonokku yang sudah basah. Dengan perlahan-lahan dan sambil digetarkan, kontol ditekankan masuk ke kunonok. Kini seluruh kepala kontolnya pun terbenam di dalam nonokku. Dia menghentikan gerak masuk kontolnya.
“Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti hingga situ saja…,” saya protes atas tindakannya.
Namun ia tidak perduli. Dibiarkan kontolnya hanya masuk ke nonokku hanya sebatas kepalanya saja, namun kontolnya digetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungnya dengan ganasnya menggeluti leherku yang jenjang, lengan tanganku yang harum dan mulus, dan ketiakku yang bersih dari bulu. Aku menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.
“Sssh… sssh…enak… enak… geli..geli, om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirnya mengulum kulit lengan tanganku dengan kuat-kuat.
Sementara tenaga dikonsentrasikan pada pinggulnya. Dan…satu… dua… tiga! kontolnya ditusukkan sedalam-dalamnya ke dalam nonokku dengan sangat cepat dan kuat. Plak! Pangkal pahanya beradu dengan pangkal pahaku yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kontolnya bagaikan diplirid oleh bibir nonokku yang sudah berair dengan kuatnya hingga menjadikan bunyi: srrrt!
“Auwww!” pekikku. Dia membisu sesaat, membiarkan kontolnya tertanam seluruhnya di dalam nonokku tanpa bergerak sedikit pun.
“Sakit om… ” kataku sambil meremas punggungnya dengan keras.
Dia pun mulai menggerakkan kontolnya keluar-masuk nonokku. Seluruh episode kontolnya yang masuk nonokku dipijit-pijit dinding lobang nonokku dengan agak kuatnya.
“Bagaimana Din, sakit?” tanyaku.
“Sekarang sudah enggak om…ssh… enak sekali… enak sekali… kontol om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru nonok aku..,” jawabku. Dia terus memompa nonokku dengan kontolnya perlahan-lahan.
Toketku yang menempel di dadanya ikut terpilin-pilin oleh dadanya akhir gerakan memompa tadi. Kedua pentilku yang sudah mengeras seolah-olah mengkilik-kilik dadanya. Kontolnya diiremas-remas dengan berirama oleh otot-otot nonokku sejalan dengan genjotannya tersebut. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontolnya menyentuh suatu daging hangat di dalam nonokku. Sentuhan tersebut serasa geli-geli nikmat. Dia mengangkat kedua kakiku. Sambil menjaga biar kontolnya tidak tercabut dari nonokku, ia mengambil posisi agak jongkok. Betis kananku ditumpangkan di atas bahunya, sementara betis kiriku didekatkan ke wajahnya.
Sambil terus mengocok nonokku perlahan dengan kontolnya, betis kiriku yang amat cantik itu diciumi dan dikecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang diciumi dan digeluti, sementara betis kiriku ditumpangkan ke atas bahunya. Begitu hal tersebut dilakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan gerakan kontolnya maju-mundur perlahan di nonok ku. Setelah puas dengan cara tersebut, ia meletakkan kedua betisku di bahunya, sementara kedua telapak tangannya meraup kedua belah toketku. Masih dengan kocokan kontol perlahan di nonokku, tangannya meremas-remas toket bahenol ku. Kedua gumpalan daging kenyal itu diremas kuat-kuat secara berirama.
Kadang kedua pentilku digencet dan dipelintir-pelintir secara perlahan. Pentilku semakin mengeras, dan bukit toketku semakin terasa kenyal di telapak tangannya. Aku pun merintih-rintih keenakan. Mataku merem-melek, dan alisku mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.
“Ah…om, geli… geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kontol om membuat nonok saya merasa enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar nonok, ya om. Ngecret di dalam saja… ” Dia mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontolnya di nonokku. “Ah-ah-ah… bener, om. Bener… yang cepat…Terus om, terus… ” Dia bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihanku.
Tenaganya menjadi berlipat ganda. Ditingkatkan kecepatan keluar-masuk kontolnya di nonokku. Terus dan terus. Seluruh episode kontolnya diremas-remas dengan cepatnya oleh nonokku. Aku menjadi merem-melek. Begitu juga dirinya, ia pun merem-melek dan mendesis-desis sebab merasa keenakan yang luar biasa.
“Sssh… sssh… Din… enak sekali… enak sekali nonokmu… enak sekali nonokmu…”
“Ya om, saya juga merasa enak sekali… terusss…terus om, terusss…” Dia meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontolnya pada nonokku.
“Om… sssh… sssh… Terus… terus… saya hampir nyampe…sedikit lagi… sama-sama ya om…,” saya jadi mengoceh tanpa kendali. Dia mengayuh terus. Sementara itu nonokku berdenyut dengan hebatnya.
“Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…” Tiba-tiba kontolnya dijepit oleh dinding nonok ku dengan sangat kuatnya.
Di dalam nonokku, kontolnya disemprot oleh cairan yang keluar dari nonokku dengan cukup derasnya. Dan saya meremas lengan tangannya dengan sangat kuatnya. Aku pun berteriak tanpa kendali:
“…keluarrr…!” Mataku membeliak-beliak. Sekejap tubuh kurasakan mengejang. Dia pun menghentikan genjotannya.
Kontolnya yang tegang luar biasa dibiarkan tertanam dalam nonokku. Aku memejam beberapa ketika dalam menikmati puncak. Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tanganku pada lengannya perlahan-lahan mengendur. Kelopak mataku pun membuka, memandangi wajahnya. Sementara jepitan dinding nonokku pada kontolnya berangsur-angsur melemah, walaupun kontolnya masih tegang dan keras. Kedua kakiku lalu diletakkan kembali di atas ranjang dengan posisi agak membuka. Dia kembali menindih tubuh telanjangku dengan mempertahankan biar kontolnya yang tertanam di dalam nonokku tidak tercabut.
“Om… luar biasa… rasanya menyerupai ke langit ke tujuh,” kataku dengan mimik wajah penuh kepuasan.
Kontolnya masih tegang di dalam nonokku. Kontolnya masih besar dan keras. Dia kembali mendekap tubuhku. Kontolnya mulai bergerak keluar-masuk lagi di nonokku, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding nonokku secara berangsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontolnya. Namun sekarang gerakan kontolnya lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti sebab adanya cairan yang disemprotkan oleh nonokku beberapa ketika yang lalu.
“Ahhh…om… eksklusif mulai lagi… Sekarang giliran om.. semprotkan peju om di nonok aku.. Sssh…,” saya mulai mendesis-desis lagi.
Bibirnya mulai memagut bibirku dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kirinya ikut menyangga berat badannya, tangan kanannya meremas-remas toket ku serta memijit-mijit pentilnya, sesuai dengan irama gerak maju-mundur kontolnya di nonokku.
“Sssh… sssh… sssh… enak om, enak… Terus…teruss… terusss…,” desisku. Sambil kembali melumat bibirku dengan kuatnya, ia mempercepat genjotan kontolnya di nonokku. Pengaruh adanya cairan di dalam nonokku, keluar-masuknya kontol pun diiringi oleh suara,
“srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Aku tidak henti-hentinya merintih kenikmatan,
“Om… ah… ” Kontolnya semakin tegang. Dilepaskannya tangan kanannya dari toketku.
Kedua tangannya kini dari ketiak ku menyusup ke bawah dan memeluk punggungku. Akupun memeluk punggungnya dan mengusap-usapnya. Dia pun memulai serangan dahsyatnya. Keluar-masuknya kontolnya ke dalam nonok ku sekarang berlangsung dengan cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kontol dihunjamkan keras-keras biar menusuk nonokku sedalam-dalamnya. Kontolnya bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding nonokku. Sampai di langkah terdalam, saya membeliak sambil mengeluarkan permintaan tertahan,
“Ak!” Sementara daging pangkal pahanya bagaikan menampar daging pangkal pahaku hingga berbunyi: plak! Di ketika bergerak keluar nonokku, kontolnya dijaga biar kepalanya tetap tertanam di nonokku.
Remasan dinding nonokku pada kontolnya pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir nonokku yang mengulum kontolnya pun sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak keluar ini akumendesah,
“Hhh…” Dia terus menggenjot nonokku dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak.
Aku meremas punggungnya kuat-kuat di ketika kontol dihunjam masuk sejauh-jauhnya ke nonokku. Beradunya daging pangkal paha menjadikan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontolnya dan nonokku menjadikan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecilku:
“Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
“Din… Enak sekali Din… nonokmu enak sekali… nonokmu hangat sekali… jepitan nonokmu enak sekali…”
“Om… terus om…,” rintihku,
“enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Diapun mengocokkan kontolnya ke nonokku dengan semakin cepat dan kerasnya.
Setiap masuk ke dalam, kontolnya berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya.
“Din… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat yang luar biasa ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya yang Memang sudah terbata-bata itu.
“Om, aku… mau nyampe lagi… Ak-ak-ak… saya nyam…” Tiba-tiba kontolnya mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya.
Dia tidak bisa lagi menahan lebih lama lagi. Namun pada ketika itu juga tiba-tiba dinding nonok ku mencekik berpengaruh sekali. Dengan cekikan yang berpengaruh dan enak sekali itu, ia tidak bisa lagi menahan jebolnya bendungan pejunya. Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontolnya disemprot cairan nonokku, bersamaan dengan pekikanku,
“…nyampee…!” Tubuhku mengejang dengan mata membeliak-beliak.
“Din…!” ia melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuhku sekuat-kuatnya. Wajahnya dibenamkan kuat-kuat di leherku yang jenjang. Pejunya pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejunya menyembur dengan derasnya, menyemprot dinding nonokku yang terdalam. Kontolnya yang terbenam semua di dalam nonokku terasa berdenyut-denyut. Beberapa ketika lamanya kami terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali.
Dia menghabiskan sisa-sisa peju dalam kontolnya. Cret! Cret! Cret! kontolnya menyemprotkan lagi peju yang masih tersisa ke dalam nonokku. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan baik tubuhku maupun tubuhnya tidak mengejang lagi. Dia menciumi leher mulusku dengan lembutnya, sementara saya mengusap-usap punggungnya dan mengelus-elus rambutnya. Aku merasa puas sekali dien tot om. Ini gres awal permainan, sebab si om akan nemani saya sampe besok sore, bayangkan berapa besarnya kenikmatan yang akan saya peroleh dari kontol si om..

3

Cerita Sex Pegawai Salon Cantik dan Seksi

Aku kerja dì sesuatu salon. Salon ìtu terletak dì satu komplex perkantoran. Dìkomplex ìtu ada sesuatu supermarket besar 3 lantaì dìmana lantaì paling atas dìpakai untuk food court. Salon dìmana saya bekerja terletak dì satu sìsì satu resto yang terletak dìdepan pìntu keluar komplex. Kerjaanku dì salon ya cucì rambut dan krìmbat.


Aku masìh junìor dì salon ìtu sehìngga memperoleh peran yang rìngan-ringan saja. 1 harì saya memperoleh customer, seorang laki-laki berusia 30an, tampan banget deh orangnya, suka saya ngelìatnya. nasib baik dìa mo potong rambut dan sesudah ìtu krìmbat. Aku mendapat peran mencucì rambutnya, kemudìan stylìst memotong rambutnya. Selesaì potong rambut saya yang handle krìmbatnya. nasib baik meja yang saya pakai untuk krìmbat agak terpìsah yang laen gara-gara salon ketìka ìtu rame.
Memang ìtu meja suplemen yang gres dìpakai kalo salon rame, gara-gara suplemen maka mempunyai letak agak terpìsah darì deretan meja laennya. Selama saya ngerjaìn krìmbat, dìa ngajakìn bercakap-cakap.
“Namanya siapa”.
“ìnes pak”.
“Kok pak sìh manggìlnya, jadì ngrasa dah tua”.
“abìs ìnes mestì manggìl apa? Bang aja deh ya”. Darì Logatnya kayanya dìa orang darì tapìan na ulì.
“Kamu yang palìng muda ya dìsìnì”.
“ìya bang, masì junìor”.
“Tapì asìk kok krìmbat nya”.
“Makasìh bang”.
“Kamu palìng cantìk deh Nes, mana seksì lagì”.
“Ah bìasa ja bang, abang terlalu mujì ìnes neh, jadì malu”.
“Kamu pulangnya jam brapa Nes”. “Kalo salon tutup bang”.
“ìya jam brapa”. “Napa sìh bang nanya-nanya, mo anterìn ìnes pulang”.
“Mau?” Aku cuma tersenyum.
“Jam 6an bang salonnya tutup”.
Selesaì krìmbat, saya dapet tìp yang lumayan besar, belon pernah saya dapet tìp sebesar ìtu.
“Makasì banyak bang, eh abang namanya sapa ya”‘
“Frans”, jawabnya sambìl menìnggalkan salon. gara-gara banyak kerjaan harì ìtu, saya lupa akan obrolanku bang Frans.
Pulangnya, ketìka melaluì resto dìderetan palìng ujung darì sìsì dìmana salon berada, tìba-tiba saya mendengar dìndìng beling restonya dìketuk-ketuk. Aku menoleh, kulìhat bang Frans senyum sambìl manggìl saya ayunan tangannya. saya masuk ke resto ìtu dan duduk dìseblahnya.
“Nes, mo makan apa neh”.
“wah abang beneran neh mo nganterìn ìnes pulang?’
“Makan dulu lah”.
Aku pesen ja makanan yang saya rasa enak, harga gak kulìhat lagì, pastì dìbayarìn sì abang. Sambìl makan sì abang senyum ngelìatìn saya terus.
“Betul kan, kau tu cantìk lo Nes”.
“abang neh, gak brentìnya mujì ìnes, cuma pakai baju kumel gìnì ja dìbìlang cantìk”.
“Ya udah, abìs makan saya belììn kau pakaian ya”.
“Bener bang?” Dìa membuat ganguank.
Pesenanku dateng dan saya mulaì menyantap makanan lahap, enak banget terasa, palagì dìbayarìn. Kalo bayar ndìrì mah mìkìn sejuta kalì makan dìsìtu gara-gara harga makanannya mahal2. Habìs makan, saya dìajaknya ke mal yang mempunyai letak gak jauh darì komplex perkantoran. Aku membìarkan tanganku dìbersama sì abang. Bangga lagì jalan ma lelakì tampan kaya sì abang, mana dìbersama2 lagì. Kìta masuk ke dept store yang ada dì mal.
“Nes kau pìlìh deh mo belì pakaian apa”.
“Beneran nìh mo belììn ìnes pakaian, abang baek banget sìh”.
Aku melaksanakan dugaan pastì ada bakwan dìbalìk udang, tapì egp ja lah, yang pentìng kan dìblanjaìn, lagìan sì abang tampan banget. Gak rugì deh dìentot ma dìanya. Aku belì jìns, tanktop, trus saya nanya,
“Daleman bole belì bang”.
“Bole bangetz, belì yang seksì-seksi Nes”. Aku belì g strìng dan bra yang tìpìs, kalo ampe dìa ngajakìn maen, saya mo pakai tu lìngerìe.
Selesai blanja, saya digandengnya menuju basement, parkiran.
“Kamu mesti pulang cepet Nes”.
“Mangnya abang mo ajak Ines kemana, Ines kos kok bang, gak da yang nungguin”.
“Ketempatku yuk”.
“Mo ngapain bang”.
“Kita ngobrol kalem ja, kau besok kerja gak”.
“Besok giliran saya off bang”.
Aku masuk ke mobilnya. Dalam perjalanan pulang, kami ngobrol ngalor ngidul. saya open aja kedianya. Aku crita petualangan sexku dengan lelaki yang sudah bukan abg lagi. Aku bilang sudah sebulan ini saya gak kencan ama lelaki.
“Wah, kalo gitu kau dah napsu banget dong Nes. Aku kan sudah gak termasuk abg, jadi boleh dong ikut dalam petualangan Ines”.
“Bisa diatur kok bang”. Selama perjalanan, ia mengelus pahaku dari luar jeans ketatku tentunya.
“Ih, si abang, dah napsu sama Ines ya”.
“Kalo napsu sih dari tadi Nes”.
“Kalo dah napsu artinya dah ngaceng ya bang”, kataku sambil mengelus selangkangannya.
“Ih, kayanya besar ya bang, keras lagi”, saya mulai meremas selangkangannya.
“Ines mo liat duluan, buka aja ritsluitingnya”.
Aku segera menurunkan ritsluiting celananya dan tanganku masuk ke dalam cdnya merogoh kontolnya.
“Ih besar banget bang, panjang lagi. Ines belum pernah ngerasain yang sebesar dan sepanjang ini”, kataku sambil mengeluarkan kontolnya.
Segera kukocok2nya batangnya. Lalu saya menunduk dan mengemut kepala kontolnya.
“Nes, diisep sampe saya ngecret dong”.
“Tempatnya sempit bang, Ines kocok aja yach. non0k Ines jadi lembap bang, dah kepingin kemasukan kont0l gede abang”, saya mulai mengocok kontolnya keatas dan kebawah. Dia jadi melenguh kenikmatan.
“Masih jauh bang, tempatnya”.
“Enggak kok Nes, sebentar lagi sampe”, katanya sambil mempercepat lajunya kendaraan. Tak lama kemudian, sampailah kami di satu rumah. Dia belum ngecret dan saya menyudahi seponganku.
“Bang besar banget rumahnya kaya kont0l abang aja besar, punya abang ya”.
“Bukan Nes, punya kantor. Ini mes kantor, buat tamu yang perlu nginep. Sekarang lagi kosong, jadi kita pake aja yach”.
Kami menuju ke bab belakang rumah, ada kolam renang disana. Tempatnya teduh alasannya ialah banyak pepohonan dan tertutup tembok tinggi sehingga gak mungkin ada yang mampu ngintip.
Aku duduk didipan dipinggir kolam renang, ia duduk disebelahku. Dia memelukku. Dia mencium pipiku sambil jemarinya membelai-belai bab belakang telingaku. Mataku terpejam menikmati usapan tangannya. Kupandangi wajahnya yang tampan dengan hidungnya yangmancung. Tak tahan berlama-lama menunggu kesannya ia mencium bibirku. Dilumatnya mesra. saya menjulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan mendapatkan lidahku. Lama ia mempermainkan lidahku di dalam mulutnya.
Lidahnya begitu bernafsu menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan. Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi. Dia membelai pangkal lenganku yang terbuka. Dibukanya telapak tangannya sehingga jempolnya mampu menggapai permukaan dadaku sambil membelai pangkal lenganku. Bibirnya kini turun menyapu leherku seiring telapak tangannya meraup toketku. Aku menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutku di ketika lidahnya menjulur menikmati leherku yang jenjang,
“baaang….”. Aku memegang tangannya yang sedang meremas toketku dengan penuh napsu.
Bukan untuk mencegah, saya membiarkan tangannya mengelus dan meremas toketku yang montok.
“Nes, saya ingin melihat toketmu”, ujarnya sambil mengusap bab puncak toketku yang menonjol. Dia menatapku. Aku kesannya membuka tank top ketatku di depannya. D
ia terkagum-kagum menatap toketkua yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Toketku begitu membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasku yang memburu. Sambil berbaring saya membuka pengait BH-nya di punggungku. Punggungku melengkung indah. Dia menahan tanganku ketika saya akan menurunkan tali BH-ku dari atas pundakku. Justru dengan keadaan BH-ku yang longgar alasannya ialah tanpa pengait menyerupai itu membuat toketku semakin menantang.
“Toketmu bagus, Nes”, ia mencoba mengungkapkan keindahan tubuhku. Perlahan ia menarik turun cup BH-ku. Mataku terpejam.
Perhatiannya terfokus ke pentilku yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku. Diusapnya pentilku lalu dipilin dengan jemarinya. Aku mendesah. Mulutnya turun ingin merasakan toketku.
“Egkhh..” rintihku ketika mulutnya melumat pentilku. Dipermainkannya dengan pengecap dan giginya. Sekali-sekali digigitnya pentilku lalu diisap kuat-kuat sehingga membuat saya menarik rambutnya.
Puas menikmati toket yang sebelah kiri, ia mencium toketku yang satunya. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan keluar dari mulutku. Sambil menciumi toketku, tangannya turun membelai perutku yang datar, berhenti sejenak di pusarku lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perutku. Dibelainya pahaku sebelah dalam terlebih dahulu sebelum ia memutuskan untuk meraba nonokku yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang kukenakan.
Dia secara tiba-tiba menghentikan kegiatannya lalu berdiri di samping dipan. Aku tertegun sejenak memandangnya. Dia masih berdiri sambil memandang tubuhku yang tergolek di dipan, menantang. Kulitku yang tidak terlalu putih membuat matanya tak jemu memandang. Perutku begitu datar. Celana jeans ketat yang kupakai terlihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bab pinggulnya begitu pas untuk menyampaikan lekukan pantatku yang sempurna. Puas memandang tubuhku, ia lalu membaringkan tubuhnya disampingku.
Dirapikannya untaian rambut yang menutupi beberapa bab pada permukaan wajah dan leherku. Dibelainya lagi toketku. Dia mencium bibirku sambil memasukkan air liurnya ke dalam mulutku. saya menelannya. Tangannya turun ke bab perut lalu membuka kancing celana jinsku dan menurunkan ritsluitingnya, kemudian menerobos masuk. Jemarinya mengusap dan membelai selangkanganku yang masih tertutup CDku. jari tengahnya membelai permukaan CDku tepat diatas nonokku, basah. Dia terus mempermainkan jari tengahnya untuk menggelitik bab yang paling pribadi tubuhku. Pinggulku perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang kualami.
Dia menyuruhku untuk melepas celana jeans yang kupakai. Aku menurunkan celana jinsku perlahan. CD hitam yang kukenakan begitu mini sehingga jembut keriting yang tumbuh disekitar nonokku hampir sebagian keluar dari pinggir CDku. Dia membantu menarik turun celana jeansku. Aku menaikkan pinggulku ketika ia agak kesusahan menarik celana jeansku. Diapun melepas pakean. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan CD. Kami berpelukan. Aku menyentuh kontolnya dari luar CDnya, lalu kuplorotkan CDnya. Langsung kontolnya yang panjangnya kira-kira 18 cm serta agak gemuk kubelai dan kugenggam.
“Tangan kau pandai juga ya, Nes,”´ ujarnya sambil memandang tanganku yang mengocok kontolnya.
“Ya, mesti dong!” jawabku sambil cekikikan.
Jari-jarinya masuk dari samping CD eksklusif menyentuh bukit nonokku yang sudah basah. Telunjuknya membelai-belai itilku sehingga saya keenakan.
“Diisep lagi Nes. Kan sekarang lebih leluasa” katanya. Aku tertawa sambil mencubit kontolnya. Dia meringis. ”
“Nggak muat di ekspresi Ines, tadi dimobil kan cuma kepalanya yang masuk. Itu juga udah ampir gak muat. gede banget sih kontolnya” selesai berkata demikian saya eksklusif tertawa kecil.
“Kalau yang dibawah, gimana, muat gak?” tanyanya lagi sambil menusukkan jari tengahnya ke dalam nonokku.
saya merintih sambil memegang tangannya. Jarinya sudah karam ke dalam liang nonokku. Aku merasakan nonokku berdenyut menjepit jarinya. Segera CDku dilepaskannya. Perlahan tangannya menangkap toketku dan meremasnya kuat. Aku yang sekarang meringis.
Kuusap lembut kontolnya yang sudah keras banget. Aku begitu kreatif mengocok kontolnya sehingga ia merasa keenakan. Dia tidak hanya tinggal diam, tangannya membelai-belai toketku yang montok. Dipermainkannya pentilku dengan jemarinya, sementara tangannya yang satunya mulai meraba jembut lebat di sekitar nonokku. Dirabanya permukaan nonokku. Jari tengahnya mempermainkan itilku yang sudah mengeras. kontolnya kini sudah siap tempur dalam genggamanku, sementara nonokku juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental alasannya ialah diobok-obok .
Dia memeluk tubuhku sehingga kontolnya menyentuh pusarku. Dia membelai punggungku lalu turun meraba pantatku yang montok. Aku membalas pelukannya dengan melingkarkan tanganku di pundaknya. Dia meraih pantatku, diremasnya dengan sedikit agak kasar lalu ia menaiki tubuhku. Kakiku dengan sendirinya mengangkang. Dia menciumi lagi leherku yang jenjang lalu turun melumat toketku. Dia terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuhku.
Dia melebarkan kedua pahaku sambil mengarahkan kontolnya ke bibir nonokku. Aku mengerang lirih. Mataku perlahan terpejam. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan laju birahiku yang semakin kuat. Dia menatapku, matanya penuh nafsu.
“Aku ingin mengent0ti kamu, Nes” bisiknya pelan, sementara kepala kontolnya masih menempel di belahan nonokku.
Kata ini ternyata membuat wajahku memerah. Aku menatapnya sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan mataku. Dia berkonsentrasi penuh dengan menuntun kontolnya yang perlahan menyusup ke dalam nonokku. Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti kontolnya membelah nonokku yang ternyata begitu kencang menjepit kontolnya. nonokku begitu licin hingga agak memudahkan kontolnya untuk menyusup lebih ke dalam. Aku memeluk dekat tubuhnya sambil membenamkan kuku-kukuku di punggungnya hingga ia agak kesakitan. Namun saya tak peduli.
“Baang, gede banget, ohh..” saya menjerit lirih. Tanganku turun menangkap kont0lku.
“Pelan bang”. Akhirnya kontolnya terbenam juga di dalam nonokku.
Dia berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul tanggapan kontraksi otot-otot dinding nonokku. Denyutan itu begitu besar lengan berkuasa sampai-sampai ia memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Dia melumat bibirku sambil perlahan-lahan menarik kontolnya untuk selanjutnya dibenamkan lagi. Dia menyuruhku membuka kelopak mataku. Aku menurut. Dia sangat senang melihat mataku yang semakin sayu menikmati kontolnya yang keluar masuk nonokku.
“Aku suka non0kmu, Nes..non0kmu masih rapet” ujarnya sambil merintih keenakan.
“Kamu enak kan, Nes?” tanyanya, lalu kujawab dengan anggukan kecil.
Dia menyuruhku untuk menggoyangkan pinggulku. Aku eksklusif mengimbangi gerakannya yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangku.
“Suka kont0lku, Nes?” tanyanya lagi. Aku hanya tersenyum sambil meremas2 kontolnya dengan jepitan nonokku.
“Ohh.. hh..” ia menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat.
Dia mencoba mengangkat dadanya, membuat jarak dengan dadaku dengan bertumpu pada kedua tangannya. Dengan demikian ia semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan kontolnya ke dalam nonokku. Kuperhatikan kontolnya yang keluar masuk dalam nonokku. Aku semakin melebarkan kedua pahaku sementara tanganku melingkar dekat dipinggangnya. Gerakan naik turunnya semakin cepat mengimbangi goyangan pinggulku yang semakin tidak terkendali.
“Nes.. enak banget, kau pandai deh.” ucapnya keenakan.
“Ines juga, bang”, jawabku. Aku merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan.
Berulang kali saya mengeluarkan kata, “aduh” yang kuucapkan terputus-putus. Aku merasakan nonokku semakin berdenyut sebagai menandakan saya akan mencapai puncak pendakianku. Dia juga merasakan hal yang sama denganku, namun ia mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang dialaminya. Sepertinya ia tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja. Dia mempercepat goyangan kontolnya ketika ia menyadari saya hampir nyampe. Diremasnya toketku besar lengan berkuasa seraya mulutnya menghisap dan menggigit pentilku. Dihisapnya dalam-dalam.
“Ohh.. hh.. baaaang..” jeritku panjang.
Dia membenamkan kontolnya kuat-kuat ke nonokku hingga mentok biar saya mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhku melengkung rupawan dan untuk beberapa ketika lamanya tubuhku kejang. Kepalanya kutarik besar lengan berkuasa terbenam diantara toketku. Pada ketika tubuhku menyentak-nyentak ia tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.
“Nes, aakuu.. keluaarr, Ohh..hh..” jeritnya.
Aku yang masih merasakan orgasmeku mengunci pinggangnya dengan kakiku yang melingkar di pinggangnya. Saat itu juga ia memuntahkan peju hangat dan kentel dari kontolnya. Kurasakan tubuhku bagai melayang. secara spontan saya menarik pantatnya besar lengan berkuasa ke tubuhku. Mulutnya yang berada di belahan dadaku menghisap besar lengan berkuasa hingga meninggalkan bekas merah pada kulitku. Dia mencengkram toketku. Diraupnya semuanya sampai-sampai saya kesakitan. Dia tak peduli lagi. Dia
juga merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggulku pada ketika ia mengalami orgasme. Tubuhnya kesannya lunglai tak berdaya di atas tubuhku. kontolnya masih berada di dalam nonok ku. saya mengusap-usap permukaan punggungnya.
“Ines puas sekali dientot abang”, kataku. Dia kemudian mencabut kontolnya dari nonokku.
Aku masuk kembali ke rumah, eksklusif masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower . Aku membersihkan badanku yang lembap alasannya ialah keringat habis digeluti bang Frans tadi. Setelah saya selesai, ganti ia yang masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Ketika ia keluar dari kamar mandi, saya berbaring diranjang telanjang bulat.
“Nes, kau kok mau saya ajak ngent0t”, katanya.
“Kan Ines dah lama gak ngerasain nikmatnya kont0l bang, mana kont0l abang besar lagi”, jawabku tersenyum.
“Malem ini kita men lagi ya bang”.
“Ok aja, tapi sekarang kita cari makan dulu ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem”, katanya sambil berpakaian.
Aku pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah hampir tengah malem, tadi kita selain makan santai2 di pub dulu.
Di kamar kita eksklusif melepas pakaian masing2 dan bergumul diranjang. Aku menggenggam kontolnya. Dia melenguh seraya menyebut namaku. Dia meringis menahan remasan lembut tanganku pada kontolnya. Tanganku mulai bergerak turun naik menyusuri kontolnya yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap kepala kontolnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari lubang diujungnya. Kembali ia melenguh merasakan ngilu nikmat tanggapan usapanku. Kocokanku semakin cepat.
Dengan lembut ia mulai meremas-remas toketku. Aku menggenggam kontolnya dengan erat. Pentilku dipilin2nya. Aku masukan kontolnya kedalam mulutku dan mengulumnya. Dia terus menggerayangi toketku, dan mulai menciumi toketku. Napsuku semakin berkobar. Jilatan dan kulumanku pada kontolnya semakin mengganas sampai-sampai ia terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Dia membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku.
Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahnya menyentuh nonokku dengan lembut. Tubuhku eksklusif bereaksi dan tanpa sadar saya menjerit lirih. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahnya di nonokku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajahnya ke dalam nonokku. kontolnya kemudian kukempit dengan toketku dan kugerakkan maju mundur, sebentar. Dia menciumi bibir nonokku, mencoba membukanya dengan lidahnya. Tangannya mengelus pahaku bab dalam.
Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Dia menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. kontolnya ditempelkannya pada bibir nonokku. Digesek-gesekkannya, mulai dari atas hingga ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. nonokku yang sudah banjir membuat gesekannya semakin lancar alasannya ialah licin. Aku terengah-engah merasakannya. Dia sengaja melaksanakan itu. Apalagi ketika kepala kontolnya menggesek-gesek itilku yang juga sudah menegang.
“Baang.?” panggilku menghiba.
“Apa Nes”, jawabnya sambil tersenyum melihat saya tersiksa.
“Cepetan..” jawabku. Dia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kont0l.
Sementara saya benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku.
“Ines sudah pengen dientot bang”, kataku. Aku melenguh merasakan desakan kontolnya yang besar itu.
Aku menunggu cukup lama gerakan kontolnya memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Maklum aja, selain besar, kontolnya juga panjang. Aku hingga menahan nafas ketika kontolnya terasa mentok di dalam, seluruh kontolnya amblas di dalam. Dia mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam nonokku membuat kontolnya keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan.
Naik turun mengikuti irama enjotannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakannya sudah tidak beraturan alasannya ialah yang penting enjotannya mencapai bagian-bagian peka di nonokku. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. kontolnya menjejali penuh seluruh nonokku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga goresan kontolnya sangat terasa di seluruh dinding nonokku. Aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. saya mengakui keperkasaan dan kelihaiannya di atas ranjang. Yang pasti saya merasakan kepuasan tak terhingga ngent0t dengannya.
Dia bergerak semakin cepat. kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitiveku. Aku meregang tak kuasa menahan napsu, sementara ia dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras. Melihat reaksiku, ia mempercepat gerakannya. kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah lembap bermandikan keringat. Aku pun demikian. Aku meraih tubuhnya dan
kudekap. Kuirengkuh seluruh tubuhnya sehingga ia menindih tubuhku dengan erat. Aku membenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Aku meregang. Tubuhku mengejang-ngejang.
“baang..”, hanya itu yang mampu keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. Dia menciumi wajah dan bibirku.
Aku mendorong tubuhnya hingga terlentang. Aku eksklusif menindihnya dan menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuemut kontolnya yang masih tegak itu. Lidahku menjilati, mulutku mengemut. Tanganku mengocok-ngocok kontolnya. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu, saya eksklusif berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuhnya. nonokku berada persis di atas kontolnya.
“Akh!” pekikku tertahan ketika kontolnya kubimbing memasuki nonokku.
Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan seluruh kontolnya. Selanjutnya saya bergerak menyerupai sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak. Pinggulku bergerak turun naik.
“Ouugghh. Nes.., luar biasa!” jeritnya merasakan hebatnya permainanku. Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangannya mencengkeram kedua toketku, diremas dan dipilin-pilin. Dia lalu bangun setengah duduk.
Wajahnya dibenamkan ke dadaku. Menciumi pentilku. Dihisapnya kuat-kuat sambil diremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk dengan pinggulku. Dia menggoyangkan pantatnya.
Tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pingguku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berantakan di lantai tanggapan pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Dia merasa pejunya udah mau nyembur. Dia semakin bersemangat memacu pinggulnya untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, saya pun merasakan desakan yang sama. Aku terus memacu.
sambil menjerit-jerit histeris. Dia mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejunya nyemprot begitu besar lengan berkuasa dan banyak membanjiri nonokku. Aku pun rasanya tidak besar lengan berkuasa lagi menahan desakan dalam diriku Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, saya berteriak panjang ketika mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengannya. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. “Baaang., nikmaat!” jeritku tak tertahankan. Aku lemes, demikian pula dia. Tenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! Akhirnya kami tertidur kelelahan.


3