Kumulan Cerita Dewasa - Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun kemudian dikala saya berumur 22 th. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi tinggi tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan china berumur 40th berjulukan berjulukan Jeany, ia mempunyai 2 orang anak berumur 5 dan 9 th.
Mulanya saya hanya tertarik alasannya orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup sanggup mengikuti gaya anak muda alias lumayan ‘gaul’ lah. Hampir setiap malam ia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon.
Suatu dikala Jeany akan ada peran dari kantornya ke Surabaya ia menelepon minta dijemput di Airport katanya, wah asyik nih saya sanggup ketemu sekalian sanggup ngobrol dan bercanda.
Pada dikala hari H ia telpon saya lagi ia bilang ia pake baju warna pink dan celana panjang hitam. Hmm sesampainya di airport saya bingung sekali waktu saya lihat-lihat di kedatangan airport yang pakai baju pink dan celana hitam cuman ada satu orang itupun kira-kira masih sekitar umur 30 th menurutku.
Aku beranikan diri untuk menyapa,
“Hmm selamat siang bu, ma’af ibu yang berjulukan Jeany?” dengan senyum yang manis ia langsung merespons,
“Apakabar Iwan”.
Saya langsung melongo alasannya melihat tampangnya yang masih manis dengan tubuh langsing tapi gemuk pada kepingan yang penting tentunya. Tiba-tiba jeany langsung mencium pipiku..
“Mmmuuaachh jangan pake ibu segala ya.. Panggil Jeany aja!”.
Wah-wah saya langsung rada horny.. He.. he..he.. Seharian saya antar ia keliling ke kantor klien-kliennya, setelah jam kerja usai, kita makan malam dan saya antar lagi ia ke airport.
Di perjalanan tiba-tiba ia minta berhenti di pinggir jalan. Saya tanya,
“Kenapa kok berhenti?” tanpa banyak bicara ia langsung mencium bibir saya dan membuka retsleting celana saya, penis saya langsung menegang tanpa basa-basi.
Sambil mengelus-elus batangku ia bergumam,
“Hmm mantap juga batang kau ini”
Ukuran penisku tidak terlalu besar sih sekitar 18 cm panjangnya, tapi berdasarkan Jeany, “helm proyek”-nya ini sanggup bikin nyesek.. He.. he.. he.. he..
Setelah puas melumat bibirku ia langsung menyedot batang kemaluanku yang dari tadi sudah menunggu hisapan lisan sexinya, tak ketinggalan lidahnya menjilat-jilat batang penisku, saya tak mau tinggal diam tanganku berusaha meremas dadanya yang cukup kenyal, tapi ia menepis, “Sudah deh kali ini agar Jeany yang kerja,”
ya.. saya pasrah saja sambil menikmati sedotan bibirnya, tak lama kemudian saya serasa melayang-layang dan kepala penisku serasa makin besar karenanya “Oughh.. ahh..” Crott!! Spermaku keluar di lisan Jeany, Dia makin absurd menyedot semua batangku masuk ke mulutnya seakan nggak mau ada spermaku yang lolos dari mulutnya. Kepala penisku masih berdenyut dikala jeany menyedotnya.
“Ahhmm yummy banget batang kamu, thank’s ya,” kata Jeany,
sambil tersenyum dan menciumku, ia sangat suka dengan penisku, sementara saya hanya sanggup diam dan masih terheran-heran melihat kebinalannya, “Ayo jalan, ntar ketinggalan pesawat nih.”
Tiba-tiba Jeany protes melihat saya hanya terdiam dan membiarkan celanaku terbuka. Pada dikala saya tiba di parkiran airport Jeany berkata, “Kamu masih utang lho sama aku”
“hmm…” saya hanya sanggup senyum sambil kali in saya yang mencium bibir sexy-nya.
Jeany memelukku erat, kami menyerupai pasangan kekasih aja.
Sebulan telah berlalu, kami tetap berhubungan via telepon, kekerabatan kami semakin akrab, kemudian saya tetapkan untuk pergi ke Jakarta untuk bertemu Jeany. Kebetulan anak-anaknya sedang liburan sekolah, sekalian saya bertugas mengajak anaknya jalan-jalan.
Saat tiba di Jakarta saya menginap di sebuah hotel yang cukup terkenal di daerah Senayan. Lalu kami bertemu dan jalan-jalan bersama kedua anaknya,
“Hmm sudah menyerupai keluarga aja nih” pikirku dan Jeany terlihat makin cantik, lebih manis dari sebelumnya.
Sepulang dari jalan-jalan, tiba-tiba anak Jeany yang berumur 7th meminta saya untuk menginap di rumahnya, agar kita sanggup main playstation berdua. Asyik juga nih pikirku, alasannya memang saya juga keranjingan main game. Saya dan Dodi (anak sulung Jeany) sudah 2 jam main playstation. Saat itu sudah jam 23.00, Dodi sudah mau tidur sementara Jeany masih sibuk membereskan kamar yang akan saya tempati.
Kelar main PS dengan Dodi, saya langsung mandi alasannya sejak tadi saya belum mandi. Selesai mandi saya lihat Jeany sudah selesai beres dan duduk di sofa ruang keluarga sambil nonton TV. Cantik sekali Jeany dikala itu, dengen baju tidur warna ungu, wah.. yang bikin saya deg-degan dadanya yang berukuran 34b menyembul dibalik gaunnya, dan setelah saya curi-curi pandang ternyata ia tidak memakai bra.
“Kamu masih hutang ama saya lho Wan”, jeany berkata begitu dengen senyum manisnya.
Ya saya langsung jawab aja,
“Iya deh pasti saya lunasin kok” wah kebeneran nih ngerasain vagina janda..
Hehehehe biarpun sudah umur 40-an tapi badannya sangat sexy alasannya memang hobbynya berenang.
“Kita sambil nonton bokep yuk Wan,” kata Jeany.
Sewaktu Jeany memasang VCD rada sedikit nungging, Hmm.. pahanya terlihat mulus den bagian pantatnya terlihat sangat bersih, saya tak tahan langsung aja saya samperin dan menjilat bagian pantatnya dari belakang hingga turun ke selangkangan.
“Ahh sayangg.. Sabar donk.. Aku sudah lama nggak diginiin” Jeany mendesah sambil kakinya gemetaran.
Aku gendong saja ke sofa terus saya ciumin bibrnya, Jeany merespons ciumanku dengan ganasnya,
“Jago juga nih ciumannya”, pikirku.
Sementara kedua tanganku mulai menyelusup ke dadanya yang sejak tadi membusung alasannya menahan nafas,
“Oughh ahh.. Terusin sayang,” desahnya.
Tangan jeany mulai berusaha meraih batang penisku yang sudah menegang dengan helm yang memerah,
“Eitt ini giliranku bayar hutang,” tanganku menepis tangan jeany dengan lembut, ia hanya tersenyum.
Sementara mulutku mulai menjilat-jilat puting jeany yang berwarna pink. Jemarinya mendekap erat kepalaku, sambil mendesah dan kakinya memeluk erat pinggulku,
“Suck my pussy baby” Jeany mendorong kepalaku ke arah vaginanya yang dari tadi cairannya membasahi dadaku.
Hmm asyik benar nih pikirku dalam hati. Saat saya mulai menyapukan lidahku dari kepingan bawah ke atas vaginanya saya merasakan cairan yang sangat nikmat yang saya impikan sejak pertama kali bertemu Jeany. Aku hisap clitorisnya ia makin mengejang dan saya merasakan vaginanya sperti menghisap bibirku.
“Ciuman ama bibir atau vagina sama enaknya nih,” pikirku.
“Oughh sayangghh enak,” gumamnya.
Lidahku mulai bergerak konstan di clitorisnya semakin cepat, pantatnya bergerak naik turun mengikuti irama lidahku, tiba tiba ia berteriak histeris.
“fish.. Ahh ahh oughh ah ahh ahh.. Iwann eghh.,” tubuh Jeany mengejang, tangannya menekan kepalaku ke vaginanya hingga hidung dan hampir semua wajahku lembap alasannya cairan vaginanya.
Nafasnya tersengal-sengal dadanya makin membusung (ini pengalaman pertamaku menjilat vagina, sekarang saya suka sekali menjilat vagina hingga lawan sex-ku mencapai titik puncak alasannya jilatanku). Aku jilati terus dan saya telan semua cairan vaginanya, rasanya yummy banget!!
Sementara nafas Jeany masih tersengal-sengal saya angkat kedua pahanya sehingga lobang pantatnya pas berada di bibirku. Aku jilati lagi sisa-sisa cairan yang meleleh di lobang pantat jeany sambil saya teruskan jilatanku ke atas dan turun lagi berulang-ulang. Tangan Jeany makin menekan kepalaku, saya makin menikmati permainan ini dan saya lihat kepala jeany menegadah menerangkan ia sangat menikmati jilatanku, hingga karenanya saya berbalik lagi menjilat kepingan lobang vaginanya yang masih berdenyut.
“Sayangghh terusinn saya hampir hingga lagi nihh,”gumamnya sambil menggerak-gerakan pantatnya.
Aku makin enjoy dengan rasa vaginanya yang menyerupai sayur lodeh.. Hehehehe. Aku hisap clitorisnya hingga karenanya ia mulai mengejang-ngejang..
“Oughh enakk sayangku..” Kuku jemarinya terasa perih di belakang leherku.
Jeany mencapai titik puncak untuk kedua kalinya, tanpa menunggu-nunggu lagi saya tancapkan saja batang penisku yang dari tadi sudah menunggu untuk bersarang, Ternyata tak semudah itu, lobang vaginanya memang cukup sempit pertama kali hanya kepala penisku aja yang sanggup masuk, kemudian setelah saya keluarkan dan saya masukkan lagi beberapa kali akhirnya. BLESS..
“Eghh.. Enak banget Wan,” gumamnya Jeany langsung menciumi bibirku dengan penuh nafsu.
Aku mulai memompa vaginanya secara beraturan sambil menjilati puting susunya yang merah dan menegang, yummy benar vagina Jeany, pikirku.
Selama 15 menit saya memompa, perlahan tapi pasti vagina Jeany makin terasa makin menyempit, saya makin merasa enak.
“Ahh.. Ahh oughh” mendesah sambil tangannya mencengkeram pinggiran sofa.
Tiba-tiba cengkeramannya pindah ke punggungku sambil setengah berteriak Jeany mencapai titik puncak yang ketiga kalinya,
“Aghh ahh I LOVE THE WAY YOU fish ME!!” Aku makin mempercepat gerakanku..
Jeany makin menggila.
“fish.. fish.. fish ME.. Oughh ahh ahh,” Jeany benar meracau tak karuan, untung jarak kamar tidur dengan ruang tengah cukup jauh sehingga teriakannya tidak mengganggu tidur kedua anaknya.
Setalah Jeany menikmati sisa-sisa klimaksnya saya ciumin bibrnyai ia dan ia tersenyum,
“Thank’s ya, hutangmu lunas, tapi kau belum keluar sayangku,” ia berkata sambil membalikkan badannya dan kedua tangannya memegang sandaran sofa.
“fish me from behind,” ia mengarahkan penisku yang masih menegang ke arah lobang vaginanya yang sudah lembap kuyup.
Langsung aja saya pompa vaginanya alasannya saya sudah tak tahan ingin cepat-cepat keluar, gres sepuluh kali keluar masuk, Jeany mendesah berat dan vaginanya berdenyut menerangkan ia mencapai klimaksanya, badannya menyerupai kehilangan tenaga, saya tahan pantatnya sambil terus saya pompa vaginanya.
Denyutan vaginanya membuat saya merasa makin nikmat. Dengan mata sayu Jeany berkata,
“Keluarin di mulutku sayangku, saya haus spermamu”.
Aku tidak memperdulikan saya tetap focus mengejar kenikmatanku sendiri hingga karenanya saya akan mencapai puncak kenikmatan saya cabut penisku, dengan sigapnya jeany meraih batang penisku dan mengocok-ngocok di dalam mulutnya.
“Oughh.. Isepin penisku sayanghh ahh..” Crott!! Crott.. Crott..
Cairan spermaku meleleh di dalam mulutnya hingga keluar dari tepi bibir Jeany.
Tiba-tiba ada suara lenguhan yang cukup mengagetkanku
“ahh ahh ahh oughh..,” kami berdua terkaget-kaget dikala saya lihat pembantu Jeany yang berjulukan Dini sudah telentang sambil mengejang di lantai, jemarinya terlihat berada di dalam vaginanya, sementara bajunya sudah tidak karuan. Aku gres sadar jikalau permainan kami diperhatikan oleh pembantu yang kira-kira masih berumur 15 tahun. Namun badannya lumayan bongsor dan mulus, buah dadanya terlihat membusung indah sekali. Namanya Dini.
Ternyata Dini sudah memperhatikan permainan kita sejak tadi. Tanpa malu-malu lagi Jeany memanggilnya,
“Sini kamu!” sambil mukanya memerah Dini berjalan mendekat.
“Kamu ngapain?” tanya Jeany.
“Ya lihat Ibu sama Mas Iwan begituan,” jawabnya dengan lugu sambil melirik ke arah penisku yang masih tegak.
Jeany berbisik,
“Aku sudah cape nih, saya rela kok kau main sama Dini, tuh penis kau masih tegak,” sambil menciumku Jeany membisikkan hal yang benar-benar saya inginkan dan cukup mengejutkan bagiku.
Sambil menunjuk ke arah VCD bokep yang sedang beradegan anal, Jeany berkata kepada Dini,
“Kamu mau ngent*t menyerupai di TV itu ya Dini”
Dengan muka makin memerah Dini menjawab dengan perlahan dan gemetaran,
“Eng.. Engga bu, ma’afkan Dini”.
Dengan nada sedikit membentak Jeany memerintah,
“Pokoknya kau harus layani Mas Iwan hingga ia puas!! Siapa suruh ngelihat kita ngent*t sambil mainan vagina pula, isepin tuh penis Mas Iwan!”.
Sambil perlahan-lahan mendekat, tangan Dini yang masih terlihat lembap alasannya cairan vaginanya, meraih batang penisku, perlahan Dini mulai mengocok-ngocok sambil mengulum penisku.. Hmm yummy sekali bibr mungil Dini. Aku elus pipinya ia memandang ke arahku, saya tanya si Dini,
“Kamu sudah pernah ngent*t ya?”
Dengan senyum malu-malu Dini menjawab,
“Sudah Mas, dulu waktu Dini masih di kampung sama teman-teman”
“Hahh ama teman-teman?, rame-rame Donk?” saya bertanya kembali.
Dini hanya mengangguk kemudian melanjutkan kulumannya.
Aku lihat Jeany sudah terlelap kecapean. Tanpa sadar saya meremas-remas payudara Dini sambil memelintir putingnya. Dini mendesah menikmati sambil terus berusaha mengulum penisku. Dengan lugu Dini berkata,
“Mass ahh tolong donk dimulai, masukin Mass”.
Aku langsung mengangangkan kedua paha Dini dan Bless ternyata memang benar ia sudah tidak perawan lagi. Dini mendesah perlahan..
“Ouhh penis Mas besar sekali, gres kali ini saya ngent*t sama orang dewasa.”
Dini terus menggoyang-goyangkan pantatnya sambil meremas payudaranya sendiri. Wah..cukup pengalaman juga nih anak pikirku. Matanya terpejam sambil bibirnya mendesis menyerupai orang kebanyakan cabe..
“Ssshh ahh enakk Mass eghh.”
Tiba-tiba ia berusaha bangkit sambil mendorong badanku,
“Aku mau diatas mass ahh saya mau keluar”
Aku oke-in aja deh saya telentang, Dini berjongkok sambil menggoyangkan pantatnya, ia menciumi leherku saya remas remas kedua payudaranya yang ranum denga puting kecoklatan. Genjotannya semakin keras saya mengimbangi goyangan pantatnya, saya naik turunkan pinggulku juga. Dini mendesah tak karuan sambil rebah di dadaku.
“Ahh mass ahh ahh oughh saya keluar Mass ahh saya mau lagi Mass.. Ahh..,” bibirnya melumat bibirku penuh nafsu, ia bangkit dan menghadap tembok.
“Ayo Mass, kita main lagi, saya ingin dient*t sambil berdiri,” dengan sedikit mengangkat pantatnya saya lesakkan batang penisku ke dalam vaginanya.
Dini menoleh ke arahku dan ia cuman tersenyum sambil berkata,
“Boleh nggak yang menyerupai di TV Mas?”
Wah.. binal juga nih anak pikirku, dalam hati saya juga ingin ngent*t pantat nih, kebetulan.
Pantat Dini memang bagus banget kenyal dan bulat, saya makin nafsu melihatnya. Dini membimbing penisku masik ke lobang anusnya, oughh sempit banget rasanya tapi enak. Langsung aja saya dorong penisku keras keras,
“Arrghh oughh Mass enakk teruss mass”
Dini benar-benar sexy, bacin badannya yang wangi rada asem dikit membuatku semakin terangsang, saya jilatin punggung dan leher kepingan belakangnya sambil meremas payudaranya dari belakang. Gerakan bokongnya benar-benar menyerupai Inul penyanyi dangdut.. Hehehe. Sambil terus mendesah, Dini meraih tanganku dan dibimbingnye masuk ke lubang vaginanya yang banjir sejak tadi.
“Kocokin jarimu Mass di dalam vaginaku.. Ahh ahh oughh enakk!!”
Tiba-tiba pantatnya mengejang dan berdenyut (baru kali ini saya tahu kalau pantat dient*t juga sanggup klimaks)
“Ahh Mass keluarin di pantatku, Mass aoughh saya keluar Mass.. Oughh ahh ahh” Dini meremas-remas payudaranya sendiri.
Aku pompa pantatnya kencang-kencang alasannya denyutan anusnya saya nggak tahan sementara tanganku terus bergerak keluar masuk vaginanya. Dini menengadah ke atas sambil terus meremas-remas payudaranya dan..
“Ahh mass saya keluar lagi.. Ahh ahh..”
Mendengar desahannya saya makin bergairah dan kepala penisku semakin membesar mau bongkar muatan,
“Oughh Dini pantatmu enakk banget.. Ahh” Semprotan spermaku membasahi kepingan dalam anus Dini yang masih berdenyut.
Lutut Dini bergetar dan ia terkulai lemas di lantai, penisku juga mulai melemas, kami berpelukan kecapean. Benar-benar malam yang liar malam ini, waktu sudah memperlihatkan pukul 04.00 pagi.. Wah tidak terasa sudah hampir 5 jam saya bermain sex dengan dua wanita liar ini. Selama saya tinggal di rumah Jeany, tiap malam saya ngent*t dengannya dan paginya Dini selalu menyediakanku sarapan pagi dan ia tidak pernah memakai celana dalam, saya sarapan sambil ngent*t sama Dini. Hehehehe. Enakk tenan.
Mulanya saya hanya tertarik alasannya orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup sanggup mengikuti gaya anak muda alias lumayan ‘gaul’ lah. Hampir setiap malam ia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon.
Suatu dikala Jeany akan ada peran dari kantornya ke Surabaya ia menelepon minta dijemput di Airport katanya, wah asyik nih saya sanggup ketemu sekalian sanggup ngobrol dan bercanda.
Pada dikala hari H ia telpon saya lagi ia bilang ia pake baju warna pink dan celana panjang hitam. Hmm sesampainya di airport saya bingung sekali waktu saya lihat-lihat di kedatangan airport yang pakai baju pink dan celana hitam cuman ada satu orang itupun kira-kira masih sekitar umur 30 th menurutku.
Aku beranikan diri untuk menyapa,
“Hmm selamat siang bu, ma’af ibu yang berjulukan Jeany?” dengan senyum yang manis ia langsung merespons,
“Apakabar Iwan”.
Saya langsung melongo alasannya melihat tampangnya yang masih manis dengan tubuh langsing tapi gemuk pada kepingan yang penting tentunya. Tiba-tiba jeany langsung mencium pipiku..
“Mmmuuaachh jangan pake ibu segala ya.. Panggil Jeany aja!”.
Wah-wah saya langsung rada horny.. He.. he..he.. Seharian saya antar ia keliling ke kantor klien-kliennya, setelah jam kerja usai, kita makan malam dan saya antar lagi ia ke airport.
Di perjalanan tiba-tiba ia minta berhenti di pinggir jalan. Saya tanya,
“Kenapa kok berhenti?” tanpa banyak bicara ia langsung mencium bibir saya dan membuka retsleting celana saya, penis saya langsung menegang tanpa basa-basi.
Sambil mengelus-elus batangku ia bergumam,
“Hmm mantap juga batang kau ini”
Ukuran penisku tidak terlalu besar sih sekitar 18 cm panjangnya, tapi berdasarkan Jeany, “helm proyek”-nya ini sanggup bikin nyesek.. He.. he.. he.. he..
Setelah puas melumat bibirku ia langsung menyedot batang kemaluanku yang dari tadi sudah menunggu hisapan lisan sexinya, tak ketinggalan lidahnya menjilat-jilat batang penisku, saya tak mau tinggal diam tanganku berusaha meremas dadanya yang cukup kenyal, tapi ia menepis, “Sudah deh kali ini agar Jeany yang kerja,”
ya.. saya pasrah saja sambil menikmati sedotan bibirnya, tak lama kemudian saya serasa melayang-layang dan kepala penisku serasa makin besar karenanya “Oughh.. ahh..” Crott!! Spermaku keluar di lisan Jeany, Dia makin absurd menyedot semua batangku masuk ke mulutnya seakan nggak mau ada spermaku yang lolos dari mulutnya. Kepala penisku masih berdenyut dikala jeany menyedotnya.
“Ahhmm yummy banget batang kamu, thank’s ya,” kata Jeany,
sambil tersenyum dan menciumku, ia sangat suka dengan penisku, sementara saya hanya sanggup diam dan masih terheran-heran melihat kebinalannya, “Ayo jalan, ntar ketinggalan pesawat nih.”
Tiba-tiba Jeany protes melihat saya hanya terdiam dan membiarkan celanaku terbuka. Pada dikala saya tiba di parkiran airport Jeany berkata, “Kamu masih utang lho sama aku”
“hmm…” saya hanya sanggup senyum sambil kali in saya yang mencium bibir sexy-nya.
Jeany memelukku erat, kami menyerupai pasangan kekasih aja.
Sebulan telah berlalu, kami tetap berhubungan via telepon, kekerabatan kami semakin akrab, kemudian saya tetapkan untuk pergi ke Jakarta untuk bertemu Jeany. Kebetulan anak-anaknya sedang liburan sekolah, sekalian saya bertugas mengajak anaknya jalan-jalan.
Saat tiba di Jakarta saya menginap di sebuah hotel yang cukup terkenal di daerah Senayan. Lalu kami bertemu dan jalan-jalan bersama kedua anaknya,
“Hmm sudah menyerupai keluarga aja nih” pikirku dan Jeany terlihat makin cantik, lebih manis dari sebelumnya.
Sepulang dari jalan-jalan, tiba-tiba anak Jeany yang berumur 7th meminta saya untuk menginap di rumahnya, agar kita sanggup main playstation berdua. Asyik juga nih pikirku, alasannya memang saya juga keranjingan main game. Saya dan Dodi (anak sulung Jeany) sudah 2 jam main playstation. Saat itu sudah jam 23.00, Dodi sudah mau tidur sementara Jeany masih sibuk membereskan kamar yang akan saya tempati.
Kelar main PS dengan Dodi, saya langsung mandi alasannya sejak tadi saya belum mandi. Selesai mandi saya lihat Jeany sudah selesai beres dan duduk di sofa ruang keluarga sambil nonton TV. Cantik sekali Jeany dikala itu, dengen baju tidur warna ungu, wah.. yang bikin saya deg-degan dadanya yang berukuran 34b menyembul dibalik gaunnya, dan setelah saya curi-curi pandang ternyata ia tidak memakai bra.
“Kamu masih hutang ama saya lho Wan”, jeany berkata begitu dengen senyum manisnya.
Ya saya langsung jawab aja,
“Iya deh pasti saya lunasin kok” wah kebeneran nih ngerasain vagina janda..
Hehehehe biarpun sudah umur 40-an tapi badannya sangat sexy alasannya memang hobbynya berenang.
“Kita sambil nonton bokep yuk Wan,” kata Jeany.
Sewaktu Jeany memasang VCD rada sedikit nungging, Hmm.. pahanya terlihat mulus den bagian pantatnya terlihat sangat bersih, saya tak tahan langsung aja saya samperin dan menjilat bagian pantatnya dari belakang hingga turun ke selangkangan.
“Ahh sayangg.. Sabar donk.. Aku sudah lama nggak diginiin” Jeany mendesah sambil kakinya gemetaran.
Aku gendong saja ke sofa terus saya ciumin bibrnya, Jeany merespons ciumanku dengan ganasnya,
“Jago juga nih ciumannya”, pikirku.
Sementara kedua tanganku mulai menyelusup ke dadanya yang sejak tadi membusung alasannya menahan nafas,
“Oughh ahh.. Terusin sayang,” desahnya.
Tangan jeany mulai berusaha meraih batang penisku yang sudah menegang dengan helm yang memerah,
“Eitt ini giliranku bayar hutang,” tanganku menepis tangan jeany dengan lembut, ia hanya tersenyum.
Sementara mulutku mulai menjilat-jilat puting jeany yang berwarna pink. Jemarinya mendekap erat kepalaku, sambil mendesah dan kakinya memeluk erat pinggulku,
“Suck my pussy baby” Jeany mendorong kepalaku ke arah vaginanya yang dari tadi cairannya membasahi dadaku.
Hmm asyik benar nih pikirku dalam hati. Saat saya mulai menyapukan lidahku dari kepingan bawah ke atas vaginanya saya merasakan cairan yang sangat nikmat yang saya impikan sejak pertama kali bertemu Jeany. Aku hisap clitorisnya ia makin mengejang dan saya merasakan vaginanya sperti menghisap bibirku.
“Ciuman ama bibir atau vagina sama enaknya nih,” pikirku.
“Oughh sayangghh enak,” gumamnya.
Lidahku mulai bergerak konstan di clitorisnya semakin cepat, pantatnya bergerak naik turun mengikuti irama lidahku, tiba tiba ia berteriak histeris.
“fish.. Ahh ahh oughh ah ahh ahh.. Iwann eghh.,” tubuh Jeany mengejang, tangannya menekan kepalaku ke vaginanya hingga hidung dan hampir semua wajahku lembap alasannya cairan vaginanya.
Nafasnya tersengal-sengal dadanya makin membusung (ini pengalaman pertamaku menjilat vagina, sekarang saya suka sekali menjilat vagina hingga lawan sex-ku mencapai titik puncak alasannya jilatanku). Aku jilati terus dan saya telan semua cairan vaginanya, rasanya yummy banget!!
Sementara nafas Jeany masih tersengal-sengal saya angkat kedua pahanya sehingga lobang pantatnya pas berada di bibirku. Aku jilati lagi sisa-sisa cairan yang meleleh di lobang pantat jeany sambil saya teruskan jilatanku ke atas dan turun lagi berulang-ulang. Tangan Jeany makin menekan kepalaku, saya makin menikmati permainan ini dan saya lihat kepala jeany menegadah menerangkan ia sangat menikmati jilatanku, hingga karenanya saya berbalik lagi menjilat kepingan lobang vaginanya yang masih berdenyut.
“Sayangghh terusinn saya hampir hingga lagi nihh,”gumamnya sambil menggerak-gerakan pantatnya.
Aku makin enjoy dengan rasa vaginanya yang menyerupai sayur lodeh.. Hehehehe. Aku hisap clitorisnya hingga karenanya ia mulai mengejang-ngejang..
“Oughh enakk sayangku..” Kuku jemarinya terasa perih di belakang leherku.
Jeany mencapai titik puncak untuk kedua kalinya, tanpa menunggu-nunggu lagi saya tancapkan saja batang penisku yang dari tadi sudah menunggu untuk bersarang, Ternyata tak semudah itu, lobang vaginanya memang cukup sempit pertama kali hanya kepala penisku aja yang sanggup masuk, kemudian setelah saya keluarkan dan saya masukkan lagi beberapa kali akhirnya. BLESS..
“Eghh.. Enak banget Wan,” gumamnya Jeany langsung menciumi bibirku dengan penuh nafsu.
Aku mulai memompa vaginanya secara beraturan sambil menjilati puting susunya yang merah dan menegang, yummy benar vagina Jeany, pikirku.
Selama 15 menit saya memompa, perlahan tapi pasti vagina Jeany makin terasa makin menyempit, saya makin merasa enak.
“Ahh.. Ahh oughh” mendesah sambil tangannya mencengkeram pinggiran sofa.
Tiba-tiba cengkeramannya pindah ke punggungku sambil setengah berteriak Jeany mencapai titik puncak yang ketiga kalinya,
“Aghh ahh I LOVE THE WAY YOU fish ME!!” Aku makin mempercepat gerakanku..
Jeany makin menggila.
“fish.. fish.. fish ME.. Oughh ahh ahh,” Jeany benar meracau tak karuan, untung jarak kamar tidur dengan ruang tengah cukup jauh sehingga teriakannya tidak mengganggu tidur kedua anaknya.
Setalah Jeany menikmati sisa-sisa klimaksnya saya ciumin bibrnyai ia dan ia tersenyum,
“Thank’s ya, hutangmu lunas, tapi kau belum keluar sayangku,” ia berkata sambil membalikkan badannya dan kedua tangannya memegang sandaran sofa.
“fish me from behind,” ia mengarahkan penisku yang masih menegang ke arah lobang vaginanya yang sudah lembap kuyup.
Langsung aja saya pompa vaginanya alasannya saya sudah tak tahan ingin cepat-cepat keluar, gres sepuluh kali keluar masuk, Jeany mendesah berat dan vaginanya berdenyut menerangkan ia mencapai klimaksanya, badannya menyerupai kehilangan tenaga, saya tahan pantatnya sambil terus saya pompa vaginanya.
Denyutan vaginanya membuat saya merasa makin nikmat. Dengan mata sayu Jeany berkata,
“Keluarin di mulutku sayangku, saya haus spermamu”.
Aku tidak memperdulikan saya tetap focus mengejar kenikmatanku sendiri hingga karenanya saya akan mencapai puncak kenikmatan saya cabut penisku, dengan sigapnya jeany meraih batang penisku dan mengocok-ngocok di dalam mulutnya.
“Oughh.. Isepin penisku sayanghh ahh..” Crott!! Crott.. Crott..
Cairan spermaku meleleh di dalam mulutnya hingga keluar dari tepi bibir Jeany.
Tiba-tiba ada suara lenguhan yang cukup mengagetkanku
“ahh ahh ahh oughh..,” kami berdua terkaget-kaget dikala saya lihat pembantu Jeany yang berjulukan Dini sudah telentang sambil mengejang di lantai, jemarinya terlihat berada di dalam vaginanya, sementara bajunya sudah tidak karuan. Aku gres sadar jikalau permainan kami diperhatikan oleh pembantu yang kira-kira masih berumur 15 tahun. Namun badannya lumayan bongsor dan mulus, buah dadanya terlihat membusung indah sekali. Namanya Dini.
Ternyata Dini sudah memperhatikan permainan kita sejak tadi. Tanpa malu-malu lagi Jeany memanggilnya,
“Sini kamu!” sambil mukanya memerah Dini berjalan mendekat.
“Kamu ngapain?” tanya Jeany.
“Ya lihat Ibu sama Mas Iwan begituan,” jawabnya dengan lugu sambil melirik ke arah penisku yang masih tegak.
Jeany berbisik,
“Aku sudah cape nih, saya rela kok kau main sama Dini, tuh penis kau masih tegak,” sambil menciumku Jeany membisikkan hal yang benar-benar saya inginkan dan cukup mengejutkan bagiku.
Sambil menunjuk ke arah VCD bokep yang sedang beradegan anal, Jeany berkata kepada Dini,
“Kamu mau ngent*t menyerupai di TV itu ya Dini”
Dengan muka makin memerah Dini menjawab dengan perlahan dan gemetaran,
“Eng.. Engga bu, ma’afkan Dini”.
Dengan nada sedikit membentak Jeany memerintah,
“Pokoknya kau harus layani Mas Iwan hingga ia puas!! Siapa suruh ngelihat kita ngent*t sambil mainan vagina pula, isepin tuh penis Mas Iwan!”.
Sambil perlahan-lahan mendekat, tangan Dini yang masih terlihat lembap alasannya cairan vaginanya, meraih batang penisku, perlahan Dini mulai mengocok-ngocok sambil mengulum penisku.. Hmm yummy sekali bibr mungil Dini. Aku elus pipinya ia memandang ke arahku, saya tanya si Dini,
“Kamu sudah pernah ngent*t ya?”
Dengan senyum malu-malu Dini menjawab,
“Sudah Mas, dulu waktu Dini masih di kampung sama teman-teman”
“Hahh ama teman-teman?, rame-rame Donk?” saya bertanya kembali.
Dini hanya mengangguk kemudian melanjutkan kulumannya.
Aku lihat Jeany sudah terlelap kecapean. Tanpa sadar saya meremas-remas payudara Dini sambil memelintir putingnya. Dini mendesah menikmati sambil terus berusaha mengulum penisku. Dengan lugu Dini berkata,
“Mass ahh tolong donk dimulai, masukin Mass”.
Aku langsung mengangangkan kedua paha Dini dan Bless ternyata memang benar ia sudah tidak perawan lagi. Dini mendesah perlahan..
“Ouhh penis Mas besar sekali, gres kali ini saya ngent*t sama orang dewasa.”
Dini terus menggoyang-goyangkan pantatnya sambil meremas payudaranya sendiri. Wah..cukup pengalaman juga nih anak pikirku. Matanya terpejam sambil bibirnya mendesis menyerupai orang kebanyakan cabe..
“Ssshh ahh enakk Mass eghh.”
Tiba-tiba ia berusaha bangkit sambil mendorong badanku,
“Aku mau diatas mass ahh saya mau keluar”
Aku oke-in aja deh saya telentang, Dini berjongkok sambil menggoyangkan pantatnya, ia menciumi leherku saya remas remas kedua payudaranya yang ranum denga puting kecoklatan. Genjotannya semakin keras saya mengimbangi goyangan pantatnya, saya naik turunkan pinggulku juga. Dini mendesah tak karuan sambil rebah di dadaku.
“Ahh mass ahh ahh oughh saya keluar Mass ahh saya mau lagi Mass.. Ahh..,” bibirnya melumat bibirku penuh nafsu, ia bangkit dan menghadap tembok.
“Ayo Mass, kita main lagi, saya ingin dient*t sambil berdiri,” dengan sedikit mengangkat pantatnya saya lesakkan batang penisku ke dalam vaginanya.
Dini menoleh ke arahku dan ia cuman tersenyum sambil berkata,
“Boleh nggak yang menyerupai di TV Mas?”
Wah.. binal juga nih anak pikirku, dalam hati saya juga ingin ngent*t pantat nih, kebetulan.
Pantat Dini memang bagus banget kenyal dan bulat, saya makin nafsu melihatnya. Dini membimbing penisku masik ke lobang anusnya, oughh sempit banget rasanya tapi enak. Langsung aja saya dorong penisku keras keras,
“Arrghh oughh Mass enakk teruss mass”
Dini benar-benar sexy, bacin badannya yang wangi rada asem dikit membuatku semakin terangsang, saya jilatin punggung dan leher kepingan belakangnya sambil meremas payudaranya dari belakang. Gerakan bokongnya benar-benar menyerupai Inul penyanyi dangdut.. Hehehe. Sambil terus mendesah, Dini meraih tanganku dan dibimbingnye masuk ke lubang vaginanya yang banjir sejak tadi.
“Kocokin jarimu Mass di dalam vaginaku.. Ahh ahh oughh enakk!!”
Tiba-tiba pantatnya mengejang dan berdenyut (baru kali ini saya tahu kalau pantat dient*t juga sanggup klimaks)
“Ahh Mass keluarin di pantatku, Mass aoughh saya keluar Mass.. Oughh ahh ahh” Dini meremas-remas payudaranya sendiri.
Aku pompa pantatnya kencang-kencang alasannya denyutan anusnya saya nggak tahan sementara tanganku terus bergerak keluar masuk vaginanya. Dini menengadah ke atas sambil terus meremas-remas payudaranya dan..
“Ahh mass saya keluar lagi.. Ahh ahh..”
Mendengar desahannya saya makin bergairah dan kepala penisku semakin membesar mau bongkar muatan,
“Oughh Dini pantatmu enakk banget.. Ahh” Semprotan spermaku membasahi kepingan dalam anus Dini yang masih berdenyut.
Lutut Dini bergetar dan ia terkulai lemas di lantai, penisku juga mulai melemas, kami berpelukan kecapean. Benar-benar malam yang liar malam ini, waktu sudah memperlihatkan pukul 04.00 pagi.. Wah tidak terasa sudah hampir 5 jam saya bermain sex dengan dua wanita liar ini. Selama saya tinggal di rumah Jeany, tiap malam saya ngent*t dengannya dan paginya Dini selalu menyediakanku sarapan pagi dan ia tidak pernah memakai celana dalam, saya sarapan sambil ngent*t sama Dini. Hehehehe. Enakk tenan.










