Showing posts with label SMA. Show all posts
Showing posts with label SMA. Show all posts

Cerita Panas Teman Kuliahku Jago Main Sex

Vina ialah rekan kampusku yang berasal dari Makasar, anaknya bertubuh kurus dengan tinggi sekitar 168 dan kutaksir BHnya berukuran 32 B. Aku tidak terlalu dekat dengan Vina alasannya ialah semenjak awal kuliah kami tidak pernah sekelas. Tapi alasannya ialah beliau aktif di Koran kampus, maka kami cukup sering berinteraksi. Pada final tahun 2003, kampus kami mengadakan lomba penulisan ilmiah, ketua jurusan meminta saya dan Vina mewakili jurusan kami dalam kegiatan itu. Karena batas waktu pengumpulan goresan pena sudah dekat, sedangkan kami belum punya materi tulisan, maka kami sepakat untuk memanfaatkan waktu diluar jam kuliah menyelesaikan peran ini. “trus enaknya mau ketemu dimana donk?” tanyaku pada Vina siang itu di kantin kampus. “terserah kau aja lah. Di kostmu juga gapapa, soalnya jikalau di kostku kau cuma mampu hingga teras, ga boleh masuk. Ntar malah brisik, ga mampu konsen” jawabnya Akhirnya saya menunjukkan alamat kost ku kepadanya.


Sore harinya SMS masuk dari Vina “aku d dpan rumah cat hijau. Kostmu disebelah mananya?” maka saya pun segera turun, rumah cat hijau itu ada persis di sebelah kostku, sedangkan kamar kost di tempatku ada di lantai 2. Dibawah ditinggali pemilik kost dan keluarganya. Setelah hingga dikamarku, Vina memandang berkeliling, “kok sepi? Pada kemana?” tanyanya. “Ibu kost sekeluarga lg pada pulang ke Wns, sahabat kostku cuma tinggal 2, yang lain juga pada pulkam (pulang kampung)” jawabku. Sore itu Vina mengenakan kaos ketat berwarna putih dan ditutup cardigan hijau muda dengan rok bermotif bunga sedikit lebih tinggi diatas lututnya, Nampak lebih cantik dibanding penampilannya ke kampus. Kami pun mulai fokus mengerjakan peran kami, saya mencoba mengumpulkan data dan merangkai kata, kemudian Vina mengetiknya di komputer. Setelah sekitar satu setengah jam, saya mendengar ada orang yang memanggil-manggil ibu kostku di bawah, “bentar ya Vin, saya liat ke bawah dulu” kataku pada Vina. Dia mengangguk sambil terus mengetik. Ternyata dibawah ada ibu RT sedang meminta biodata penghuni kost, alasannya ialah ibu kostku tidak ada, maka bu RT memintaku mengisi formulir yang sudah ia siapkan.

Setelah sekitar 20 menit, saya kembali ke kamarku tanpa berpikir macam-macam dan sengaja melangkah perlahan mendekati pintu kamarku yang agak sedikit tertutup, niatku ingin mengejutkan Vina. Namun yang saya lihat di dalam kamarku cukup membuatku terkejut, dari sela pintu kamar tampak Vina justru sedang setengah berbaring dengan meluruskan kakinya, tangan kanannya bergerak-gerak dalam roknya, sementara cardigan dan kaos nya agak tersingkap naik. Di komputerku yang memang menghadap kearah pintu, tampak Vina sedang memutar salah satu dari koleksi film BFku yang tersimpan di file, saya menerka Vina iseng membuka-buka fileku, menemukan koleksi film BF itu, menontonnya dan menjadi terangsang lantas memutuskan masturbasi dan tidak menyangka saya akan melihat aksinya itu. Aku sengaja menahan diri dan hanya melihat beliau menggerak-gerakkan tangannya dalam rok. Ketika beliau mulai terlihat sangat terangsang, saya sengaja mendehem dan pribadi membuka pintu kamar. Vina tampak sangat terkejut dan salah tingkah, beliau segera menarik tangannya dan membetulkan pakaiannya. Tapi tentu saja layar komputerku masih memutar film BF itu. Aku berdiri di pintu kamar sambil tersenyum, “ngapain, Vin?” beliau tampak gugup dan salah tingkah. Tiba-tiba saja beliau pribadi mengambil buku-bukunya, memasukkan ke tasnya dan segera berdiri “aku mau pulang” katanya dengan ketus.
Aku mencekal tangannya, beliau mengibaskan tanganku, mungkin alasannya ialah aib saya memergokinya beliau jadi emosi. Kembali kucekal kedua tangannya, beliau berusaha melawan, tapi tenagaku lebih kuat, posisi kami saling berhadapan dan saya memegang kedua tangannya. Sadar tidak mungkin melepaskan diri dari peganganku, beliau membuang muka, saya berbisik ke telinganya “maaf jikalau saya buat kau malu. Kita sudah sama-sama dewasa, gapapa kok. Kalau kau memang mau lanjutkan juga gapapa, saya mampu tunggu diluar” beliau masih tak mau menatapku. Entah kenapa, kata-kata yang keluar berikutnya dari mulutku juga tanpa berpikir panjang “atau kau justru mau saya liat dan bantu kamu?” beliau memandangku dengan tatapan marah, kembali ia berusaha melepaskan pegangan tanganku sambil setengah berteriak “kamu anggap saya cewek apa?” sadar kesalahanku, saya berusaha menenangkannya. Sambil tetap memegangi kedua tangannya, saya merapatkan badanku, kemudian tangan kiriku merangkul bahunya dan menyandarkan kepalanya didadaku. “maaf,…. Maaf, saya ga bermaksud merendahkan kamu. Maaf bgt, saya Cuma resah mesti gimana” kataku sambil membelai rambutnya sambil sedikit mencium bab atas keningnya.

Hal ini sedikit meluluhkannya, tangannya yg semula mencoba berontak kemudian hanya membisu saja, bahkan perlahan beliau malah memeluk tubuhku. Aku pun membalas memeluknya, saya mengajaknya kembali duduk di kamarku, saya melirik ke arah komputer yang masih menayangkan BF Thailand. Sambil duduk, saya sengaja tetap memeluk pundak Vina sambil sesekali membelai rambutnya, Vina yang berada di sebelah kiriku dan awalnya membelakangi komputer tiba-tiba membalik badannya. Dia menyandarkan tubuhnya padaku sambil matanya kembali menatap komputer. “aku ga tau td kenapa, mendadak td saya ngrasa mekiku gatel, tapi pas saya usap kok rasanya enak bgt.” Katanya sambil tetap memandang ke arah monitor. Aku membisu saja, alasannya ialah mencicipi kontolku perlahan mulai menggeliat. Selain alasannya ialah belahan vulgar di layar monitor komputer, aroma harum dari rambut Vina turut membuatku makin merasa terangsang. “kamu sering ML juga ya ama pacarmu ? tadi saya sempat liat koleksi BFmu banyak bgt,” katanya. “aku malah belum pernah ML ama Wanda (Vina mungkin mengira saya masih berpacaran dengan adik tingkatku di kampus yang memang beliau kenal) tapi sama cewek lain pernah sekali” jawabku setengah jujur. Dia menengadahkan wajahnya ke arahku. “bener?” tanyanya sambil berdiri dan duduk mengahadapku. “bener kau juga pernah ML? saya kira seorang tokoh mahasiswa idealis kaya kau itu bener-bener lurus, ga kenal ama hal-hal kaya gitu. Ternyata sama aja” katanya sambil tersenyum.

Aku tersenyum sambil memegang tangannya, “aktivis khan juga manusia, emangnya jikalau aktifis ga boleh nafsu?” tanyaku. Dia tersenyum, kemudian matanya melirik ke arah selangkanganku. “trus sekarang nafsu ga ?” pertanyaan yang cukup menarik hati buatku. “dikit” jawabku. Dia tertawa dan kemudian kembali bersandar padaku sambil kembali menatap monitor komputer. “aku belum pernah ML, tp menjelang kelulusan SMA dulu pernah petting aja sama pacarku, beliau polisi” ceritanya. Aku membisu saja, kami sama-sama memandangi layar monitor yang menayangkan belahan sepasang kekasih Thailand bercinta dengan ganas di sebuah sofa. “kalau lama-lama liat gini nafsuku jadi tambah nich” candaku. Dia tertawa sambil menatapku, “ya udah jikalau gitu matiin aja” katanya. “yakin mau dimatiin aja? Ga nunggu ampe habis?” tanyaku sambil memandang genit padanya. “Terserah kau dech” katanya sambil berdiri. “mau kemana” tanyaku. “numpang ke kamar mandi, nglanjutin yang tadi” katanya sambil tertawa. “yeee, ngapain di kamar mandi? Disini aja gapapa kok” jawabku. Dia menjulurkan lidahnya sambil tersenyum ke arahku dan pribadi menuju kamar mandi kostku.
Tinggalah saya sendiri d kamar sambil menonton BF yang memang belum sempat kutonton itu. Melihat belahan yang semakin memancing itu, tanganku tanpa sadar masuk ke dalam celana, membelai kontolku yang sudah semakin tegang, saya sempat membayangkan Vina yang sedang masturbasi di kamar mandi kostku. Tiba-tiba Vina muncul di depanku sambil setengah berteriak “haaayyyoooo, ngapain… dasar cowok, gres ditinggal bentar aja udah ga mampu nahan nafsu. Hahaha….” Wajahnya tampak sangat ceria mampu membalas perlakuanku tadi. Aku yang salah tingkah lantas segera menarik tanganku dari dalam celana. “eh, dasar. Ngagetin aja. Kok cepet banget, katanya mau nglanjutin yang tadi” kataku salah tingkah. Dia tertawa, “aku cuma pipis aja kok” jawabnya. Kemudian beliau kembali duduk di sampingku. Dia melihat ke arah selangkanganku, kemudian memandang wajahku sambil tertawa melihat kontolku bergerak-gerak menahan nafsu.

Dia kembali memandang ke monitor, lalu bergumam “tapi emang hot banget sich” beliau kembali memandangku. “Ri, saya ga mau munafik, saya nafsu. Tapi saya takut ML. Boleh ga saya nyelesaiin yang tadi? Kamu boleh liat dech. Tapi ga boleh nyentuh aku” katanya. Aku tersenyum, “iya, saya ga akan nyentuh kamu, tapi jikalau misalnya saya juga ga tahan, boleh ga saya juga ngocok? Kasian nich dedeknya” kataku sambil menunjuk ke arah kontolku. Dia tersenyum, lantas mengangguk. “Pintunya ditutup aja yah” pintanya. Aku pun berdiri dan menutup pintu kamarku, sandal Vina sengaja kumasukkan supaya jikalau ada yang datang mengira tidak ada orang lain di kamarku. Setelah saya menutup pintu, saya liat Vina sudah berbaring di tempat tidurku, cardigannya diletakkan di samping komputer dan hanya memakai t shirt putihnya. Di kamarku tidak ada dipan, kasur sengaja kuletakkan di bawah dan semua memang kulakukan dengan lesehan. Vina memandangku kemudian bertanya, “kamu punya selimut ga?” saya memberinya selimut tipis belang yang biasa digunakan di Rumah Sakit. Dia menutupi kakinya hingga batas perut, kemudian melorotkan rok dan celana dalamnya. Aku menelan ludah, membayangkan dibalik selimut itu Vina tidak mengenakan apa-apa lagi. Vina memandangku sekilas, tersenyum “gapapa khan?” saya mengangguk. “santai aja” jawabku.

Vina memasukkan tangan kanannya ke balik selimut, sementara tangan kirinya menahan ujung selimut semoga tidak tersingkap. Matanya kembali menatap monitor komputer, tak lama kemudian terdengar nafasnya mulai memburu, matanya sayu menatap komputer, lantas melirikku. “mau bantu saya ga?” “ngapain?” jawabku sambil mendekatinya Dalam hati saya berharap beliau berubah pikiran dan akan memintaku ML dengannya. “remesin toketku donk. Aku horny bgt nich” jawabnya. Aku mengangguk dan pribadi melaksanakan yang ia minta. Ga kurang akal, saya mulai merayunya “ga kerasa banget kali Vin, BHmu buka aja. Biar lebih kerasa” Dia mengangguk dan berhenti sejenak, beliau duduk dan membuka sendiri pengait BHnya, lantas menariknya dari bab depan kaosnya. Kontolku makin mengeras melihatnya. Dia kembali menggerakkan tangannya dibalik selimut, menggesek jari di memeknya. Sementara saya meremas-remas toketnya dari luar kaosnya. “mau yang lebih enak, Vin?” rayuku lagi. Ia mengangguk. Tanganku bergerak masuk dalam kaosnya, kuremas-remas dan kupilin putingnya dari dalam. “aaacccchhhhh…… uuuughhhh” beliau melenguh. Saat itu belahan film memperlihatkan sang cewek mengoral Penis cowoknya. Itu membuatku makin terangsang. Kucoba menaikkan kaos Vina, beliau membisu tidak menolak, matanya terpejam menikmati yang ia lakukan. Setelah toketnya terbuka, tanpa minta persetujuannya saya pribadi menghisap toketnya.Dia membuka mata dan tampak terkejut, tapi segera kuhisap lagi toketnya dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia meringis, lalu tersenyum. “ennaaakk….”katanya. Aku pun makin ganas memainkan toketnya, kuhisap dan kadang kugigit pelan. Dia nampak sangat menikmati itu.

Aku mencoba jalan terakhirku. Sengaja saya berbaring di sebelahnya, beliau melirikku “pegel nich, sambil baring gapapa ya?” alasanku. Dia mengangguk. Sambil tetap menghisap dan menggigit toketnya, saya coba kembali merayunya. “Kaosmu buka aja sekalian ya? Biar gampang” dan beliau mengangguk sambil tangannya tetap memainkan memeknya sendiri. Nafasnya masih terdengar memburu. Aku pun sengaja bangkit, duduk dan segera membuka kaosnya. Kulipat kaosnya, dan kuletakkan disamping kasurku, kemudian saya kembali berbaring sambil menghisap-hisap toketnya. Kini Vina sudah telanjang lingkaran tanpa sehelai pakaian, hanya menutupi tubuhnya dengan selimutku. Target pertama sukses, pikirku
Tanpa Vina sadari, sementara sambil menghisap dan tangan kananku meremas-remas toketnya, tangan kiriku melorotkan celana yang kukenakan. Kontolku sudah sangat tegang, dan pikiranku sekarang hanya satu tujuan. Aku harus mencicipi keperawanan Vina. “Peduli setan pacarnya Polisi” pikirku. Vina masih memejamkan matanya, “aaacchhh…aaacchh..aaacchh..” desahnya pelan. Aku bergerak naik, tidak hanya putingnya, hisapan dan gigitanku mulai naik ke dadanya, lantas pelan menuju lehernya. Dia tetap memejamkan mata, dari leher, hisapan dan gigitanku mulai kupadukan dengan jilatan pelan menyusuri dagunya, alhasil kucium bibirnya. Dia membuka mata, namun tidak menolak ciumanku. Kami berpagutan, lidahku kumasukkan melewati bibirnya, sesekali kuhisap lidahnya. “hhmmmppph…” desahnya pelan. Kulepaskan ciumanku, menuju pipinya, kemudian telinganya, “heegh… geli” katanya sambil menggeliat, itu membuat selimut yang menutupinya tersingkap, dan memperlihatkan pahanya yang putih bersih. Tapi beliau membisu saja, antara tidak sadar atau memang sengaja. Sambil tetap menjilati menjilati leher dan telinganya, saya berbisik “enak, Vin?” beliau mengangguk lemah. “bantuin saya juga donk say” kataku. Dia menatapku sayu, kumasukkan tanganku ke balik selimut, kutarik tangannya yang sedang menggesek memeknya, dan kuarahkan ke kontolku. Dia mendelik kaget, kemudian bertanya “kapan kau buka celana?” saya tersenyum. “kamu pegang kontolku aja say, biar saya yang nggesek memekmu” jaawabku, lantas mulai menggesek klitorisnya dengan jari telunjukku. Vina tersenyum lantas mengangguk. Tangannya mengocok pelan kontolku. “besar juga yah” katanya sambil tersenyum. Aku tertawa, kemudian sengaja mencubit klitorisnya. “aaaccchhhh….” Dia mendesah. Kami kembali berciuman, saya sambil berbaring di sebelah kanannya.
Sekitar 5 menit dalam posisi itu, saya mulai mencari kesempatan melaksanakan yg lebih jauh lagi. Kembali kuciumi pipinya, kemudian kuarahkan bibirku ke telinganya. Kemudian saya bangkit, dan terus menciumi pendengaran Vina. Dia makin terangsang, “aacchhhh….geli sayang… geli banget” katanya. Sambil berpura-pura mencoba untuk berpindah ke pendengaran kiri, saya mengangkangi tubuhnya. Aku terus menggigit dan menjilati pendengaran Vina, nampaknya itu ialah kawasan sensitifnya. Tangan kananku meremas dan memainkan toket kirinya, sedangkan tangan kiriku perlahan menarik selimut yang masih menghalangi tubuh kami. Vina yang makin terangsang tidak menyadari bahwa pembatas antara tubuh kami mulai tersingkap. “aacchhhh… geli say…geli banget… ouuuffffhhh…” beliau terus mengerang, sementara selimut pembatas itu terus kutarik pelan-pelan.

Ketika alhasil selimut itu benar-benar tersingkap, posisiku sudah berada diatas tubuh Vina, kedua kakiku berada diantara kedua kakinya, sehingga beliau tidak dapat berkutik. Vina menyadari itu, beliau sempat berusaha berontak, tapi hisapan dan gigitanku di telinganya, ukiran tangan kananku di memeknya, dan remasan-remasan tangan kiriku di toketnya membuatnya kembali mendesah. “aacchhh… kau mau ngapain? Aaacchhhh…. Jangan dimasukin yaaah, saya belum pernah ngentot” ujarnya. Aku mengangguk, sambil tetap menghisap telinganya. Itu membuat beliau lebih hening dan kembali mengocok kontolku. Tapi itu memang bab dari strategiku, pelan kuturunkan pantatku hingga kepala kontolku makin mendekati memeknya. Sambil terus merangsangnya, saya perlahan menempatkan kepala kontolku di depan memeknya. Ketika kurasakan memeknya makin basah, dan beliau makin terangsang, kucoba melancarkan serangan akhirku. “Vin,….” Bisikku di telinganya. “hhmmmmmpppp….” beliau hanya mendesah. “Enak sayang?” beliau mengangguk, kocokan tangannya d kontolku melemah, kemudian berhenti. Dia menarik tangannya lantas meremas-remas sendiri toket kanannya. Sementara memeknya terasa makin basah.

Kesempatanku makin terbuka, mulai kutempelkan kepala kontolku di permukaan memeknya. Film di monitor komputer mulai habis, berganti dengan gambar screen saver foto-fotoku. Jariku yang mengocok klitorisnya mulai kugantikan dengan kepala kontolku. Kugesek-gesekkan di permukaan memeknya, sementara beliau masih menikmati semua rangsangan yang kuberikan. Memeknya yang makin berair terasa menggodaku untuk memasukkan kontolku yang sudah tegang, tapi memang harus tabah untuk menerima hasil terbaik. Masih kugesek-gesekkan kontolku di permukaan memeknya yang mulai banjir, bunyi desahannya makin kencang dikala kuhisap daun telinganya, dan kujilat bab dalam telinganya dengan lidahku. Ketika kepala kontolku sudah benar-benar sempurna di depan lubang memeknya, kuhentikan hisapanku di telinganya. Sengaja kuangkat dadaku sambil bertumpu dengan tangan kanan. Kutatap wajahnya yang tampak sangat terangsang, matanya terpejam, mulutnya terus mengeluarkan bunyi desahan. “Vin,….” Dia membuka matanya. “enak sayang?” tanyaku. Dia mengangguk. “eeemmmmmmpphhh…enak banget, saya suka” katanya. “tanggung sayang, biar lebih enak lagi, saya masukin kontolku, yah?” beliau membuka matanya, tangannya pribadi meraba memeknya, menyentuh kepala kontolku yang memang masih diluar. Matanya sayu menatapku. “belum kok, saya tidak akan melakukannya tanpa persetujuanmu. Aku ga ingin melukai perasaanmu” rayuku. Dia masih menatapku, matanya tetap sayu…. Akhirnya, tanpa kuduga beliau menganggukan kepalanya. “aku juga pengen banget” sahutnya. “puasin aku, Ri…” katanya lagi, beliau memegang kontolku dan mengarahkannya ke memeknya. Target tercapai.
Perlahan kuturunkan pinggulku. Karena belum pernah mencicipi perawan sebelumnya, saya agak nervous juga, tapi melihat wajah Vina yang sudah sangat terangsang, saya pun berusaha santai. Kudorong pelan kontolku. Wajah Vina mengernyit, “pelan sayaang, sakiiit” katanya. Aku tersenyum, sambil kucium bibirnya, tanganku membantu mendorong kontolku. Sesekali kuarahkan bibirku ke pendengaran dan lehernya, kuhisap, kujilat dan kugigit pelan. “aacchhh..aacchh…” beliau mendesah, terus kudorong pelan kontolku, kepala kontolku mulai masuk, memeknya yang merekah merah perlahan menelan batang kontolku. “aaacchhhh…sayang, saaakkkiiittt….” Katanya, saya terus menjilati bab dalam telinganya sambil terus mendorong kontolku pelan. Kucium bibirnya, beliau membalas dengan ganas, digigitnya lidahku. “tahan ya sayang, bentar lagi enak kok” jawabku berbisik di telinganya. Dia mengangguk, tangannya mencengkram erat lenganku. Akhirnya semua batang kontolku masuk, saya dapat mencicipi dinding rahimnya di ujung kepala kontolku. Mulai kutarik pelan kontolku, lantas kudorong masuk lagi. Dia mulai menikmati, “aaaccchhh…aaaccchhh…. Enak sayang, enak…..” beliau mendesah. Terus kumainkan pinggulku dan perlahan menaikkan ritme, semakin cepat dan semakin cepat. Kurasakan memeknya ibarat meremas-remas batang kontolku. Desahannya pun makin keras dan makin cepat, mengikuti bacokan kontolku dalam memeknya.

“aacchhh..acchh..aaacchhh… enak sayang. Enak…” bisiknya di telingaku, pinggulnya mulai bergerak alami mengimbangi tusukan-tusukanku. Kulingkarkan kakinya ke pinggangku, beliau makin keras mendesah, matanya menatapku sayu dan bibirnya sedikit terbuka. Kucium bibir itu, beliau kembali menggigit lidahku. Kurubah lagi posisi dengan menaikkan kakinya ke pundakku. Ketika kudorong kontolku dalam posisi ini, beliau ibarat tersihir. Matanya membelalak menatapku dan bibirnya sedikit terbuka. “ri,… enak banget sayang…. Sumpah, enak banget…. Kontolmu enak banget…” mendengar itu saya pun makin terangsang, kunaikkan ritme tusukan-tusukanku, sementara tangan kiriku bertumpu pada kasur, tangan kananku meremas kedua toketnya berganti-ganti. Kutatap wajahnya yang terlihat seksi dengan butir-butir keringat di kening dan lehernya. Tak berapa lama kemudian desahan-desahannya makin menggila, begitu pula gerakan pinggulnya makin liar. “ ari..ari..terus sayang,…terus…. Masukin kontolmu terus sayang…masukin lagi…Enak banget sayang….aaacchhh….enak sayaaannggg…..” desahnya sambil menggerakkan pinggulnya ke segala arah. Dan kemudian, badannya mengejang, lantas tubuhnya kaku sesaat, kurasakan remasan memeknya di batang kontolku makin kuat, lantas terasa hangat. Dia menerima orgasme pertamanya.

Sengaja kubiarkan kontolku dalam memeknya, menunjukkan beliau kesempatan untuk mencicipi saat-saat itu. Aku tersenyum, lantas mencium bibir dan keningnya. “enak khan sayang?” tanyaku. Dia tersenyum, matanya sayu menatapku. “enak banget, kau pasti udah sering banget ML, ya? Jago banget…” ujarnya. Aku tersenyum, kucium lagi bibirnya, “kamu yang kedua sayang” rayuan gombalku. Dengan kontolku masih menancap dalam memeknya, kuremas-remas toketnya kembali. Kedua kakinya yang ada di pundakku kuturunkan. “aku belum puas lho, Vina ku sayang” bisikku di telinganya. Dia tersenyum, “iya, saya tahu. Aku juga masih mau lagi kok” ujarnya. Kami saling tersenyum, “beeerrrattt” ucapnya manja, ketika separuh berat badanku kusandarkan padanya. “oh ya, sorry” jawabku. Aku pun memiringkan badan, berbaring disampingnya. Secara otomatis kontolku tercabut dari memeknya. “kok dicabut sich?” protesnya. “katanya berat” jawabku sambil tersenyum. “Badannya yang berat, jikalau kontolnya enakkan didalam” sahutnya manja. Aku tersenyum.

“Filmnya habis ya?” tanyanya. “puterin lagi yang lain donk, biar saya mampu belajar” katanya lagi sambil tersenyum. Aku bangkit, membuka file dan menayangkan film BF di monitor komputerku lantas kembali berbaring disampingnya. Ketika belahan memperlihatkan seorang wanita yang mengoral pasangannya, Vina bangkit, beliau duduk disampingku lantas pribadi memegang kontolku. Menatapku sebentar, lalu tersenyum. Kemudian dimasukkannya batang kontolku dalam mulutnya, beliau merubah posisinya sehingga mampu tetap memandang monitor komputer. Apa yang ditayangkan di layar komputer, pribadi dilakukannya kepada kontolku, beliau menjilati lubang kencingku, menghisap bola pelerku dan sesekali mengocok kontolku dengan tangan. Tak lama kemudian, saya mencicipi cairan lahar akan keluar dari kontolku. Aku berbisik padanya, “Vin, saya mau keluar sayang…” beliau menolehku sesaat, kemudian kembali memasukkan kontolku dalam mulutnya, disedot-sedotnya kontolku hingga alhasil saya tak kuasa menahan muntahan pejuh itu. Dia tampak agak terkejut, namun sambil menatapku, beliau tetap menahan kontolku dalam mulutnya. Ditelannya habis semua cairan yang keluar dari kontolku. Setelah itu beliau menjilati kontolku lantas kembali merebahkan tubuhnya disampingku. “enak ga?” tanyanya. Aku mengangguk sambil tersenyum, kupeluk tubuhnya dan kubiarkan beliau meletakkan kepalanya di dadaku. “makasih ya sayang”kataku sambil mencium keningnya.

Ternyata malam tahun gres itu, kedua sahabat kostku memutuskan untuk tidak kembali ke kost. Mereka meng SMSku dan minta maaf alasannya ialah saya jadi sendirian di kost. Ketika Vina tahu, beliau tersenyum, “kalau gitu, saya boleh donk nemenin kau malam ini?” “siapa yang mampu menolak?” jawabku sambil mencubit putting toketnya. Aku pribadi mengenakan celanaku, dan meminta Vina untuk menunggu. Aku membeli makanan, kondom, dan minuman suplemen. Sengaja saya menutup pintu gerbang kost untuk mengesankan bahwa rumah dalam keadaan kosong, lampu luar pun sudah kunyalakan. Malam tahun gres itu, saya dan Vina benar-benar memuaskan nafsu kami. Kami melihat beberapa film BF dan pribadi mempraktekkan beberapa gaya bercinta yang ditampilkan dalam film itu. Sejak dikala itu mesti masing-masing kami mempunyai pacar, Vina beberapa kali chek in di aneka macam hotel bersamaku. Sampai ketika kami sama-sama lulus tahun 2005, beliau kembali ke Makasar. Saat ini beliau telah menikah dengan seorang polisi, pacarnya semenjak SMU dulu dan memiliki 2 anak. Kami masih berafiliasi lewat email maupun FB.

3

Cerita Sex Melampiaskan Hasrat Seks Di Dapur

Namaku Karina, usiaku 17 tahun dan saya yaitu anak kedua dari pasangan Menado-Sunda. Kulitku putih, tinggi sekitar 168 cm dan berat 50 kg. Rambutku panjang sebahu dan ukuran dada 36B. Dalam keluargaku, semua wanitanya rata-rata berbadan ibarat aku, sehingga tidak ibarat gadis-gadis lain yang mendambakan tubuh yang cantik hingga rela berdiet ketat. Di keluarga kami justru makan apapun tetap segini-segini saja.
Suatu sore dalam perjalanan pulang sehabis latihan cheers di sek olah, saya disuruh ayah mengantarkan surat-surat penting ke rumah temannya yang biasa dipanggil Om Robert. Kebetulan rumahnya memang melewati rumah kami karena letaknya di kompleks yang sama di perumahan elit selatan Jakarta.


Om Robert ini walau usianya sudah di selesai kepala 4, namun wajah dan gayanya masih ibarat anak muda. Dari dulu rahasia saya sedikit naksir padanya. Habis selain tampan dan rambutnya sedikit beruban, badannya juga tinggi tegap dan hobinya berenang serta tenis. Ayah kenal dengannya semenjak semasa kuliah dulu, oleh alasannya itu kami lumayan bersahabat dengan keluarganya.

Kedua anaknya sedang kuliah di Amerika, sedang istrinya aktif di kegiatan sosial dan sering pergi ke pesta-pesta. Ibu sering diajak oleh si Tante Mela, istri Om Robert ini, namun ibu selalu menolak karena beliau lebih senang di rumah.

Dengan diantar supir, saya hingga juga di rumahnya Om Robert yang dari luar terlihat sederhana namun di dalam ada kolam renang dan kebun yang luas. Sejak kecil saya sudah sering ke sini, namun gres kali ini saya datang sendiri tanpa ayah atau ibuku. Masih dengan seragam cheers-ku yang terdiri dari rok lipit warna biru yang panjangnya belasan centi diatas paha, dan kaos ketat tanpa lengan warna putih, saya memencet bel pintu rumahnya sambil membawa amplop besar titipan ayahku.

Ayah memang sedang ada bisnis dengan Om Robert yang pengusaha kayu, maka akhir-akhir ini mereka giat saling mengontak satu sama lain. Karena ayah ada rapat yang tidak dapat ditunda, maka suratnya tidak dapat beliau berikan sendiri.

Seorang pembantu wanita yang sudah lumayan renta keluar dari dalam dan membukakan pintu untukku. Sementara itu kusuruh supirku menungguku di luar. Ketika memasuki ruang tamu, si pembantu berkata, "Tuan sedang berenang, Non. Tunggu saja di sini biar saya beritahu Tuan bila Non sudah datang." "Makasih, Bi." jawabku sambil duduk di sofa yang empuk.

Sudah 10 menit lebih menunggu, si bibi tidak muncul-muncul juga, begitu pula dengan Om Robert. Karena bosan, saya jalan-jalan dan hingga di pintu yang ternyata menghubungkan rumah itu dengan halaman belakang dan kolam renangnya yang lumayan besar. Kubuka pintunya dan di tepi kolam kulihat Om Robert yang sedang bangun dan mengeringkan tubuh dengan handuk.

"Ooh.." pekikku dalam hati demi melihat tubuh atletisnya terutama bulu-bulu dadanya yang lebat, dan tonjolan di antara kedua pahanya. Wajahku agak memerah karena mendadak saya jadi horny, dan payudaraku terasa gatal. Om Robert menoleh dan melihatku bangun terpaku dengan tatapan tolol, beliau pun tertawa dan memanggilku untuk menghampirinya.

"Halo Karin, apa kabar kamu..?" sapa Om Robert hangat sambil menunjukkan sun di pipiku. Aku pun balas sun beliau walau kagok, "Oh, baik Om. Om sendiri apa kabar..?" "Om baik-baik aja. Kamu gres pulang dari sekolah yah..?" tanya Om Robert sambil memandangku dari atas hingga ke bawah. Tatapannya berhenti sebentar di dadaku yang membusung terbungkus kaos ketat, sedangkan saya sendiri hanya dapat tersenyum melihat tonjolan di celana renang Om Robert yang ketat itu mengeras.

"Iya Om, gres latihan cheers. Tante Mella mana Om..?" ujarku basa-basi. "Tante Mella lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih." balas Om Robert sambil memasang kimono di tubuhnya. "Ooh.." jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Robert dengan leluasa lagi. "Ke dapur yuk..!"

"Kamu mau minum apa Rin..?" tanya Om Robert dikala kami hingga di dapur. "Air putih aja Om, biar infinit muda." jawabku asal. Sambil menunggu Om Robert menuangkan air hambar ke gelas, saya pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada dingklik di dapurnya. "Duduk di sini boleh yah Om..?" tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat. "Boleh kok Rin." kata Om Robert sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.

Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menarik hati itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Robert pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku. "Aaah..!" pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Robert eksklusif menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya biar tidak jatuh. "Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Rin. Maaf yah, baju kau jadi berair semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?" tanya Om Robert sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.

Aku yang masih terkejut hanya membisu mengamati tangan Om Robert yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin terperinci di balik kaosku yang berair dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Robert. "Om.. udah Om..!" kataku lirih. Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.

"Kamu cantik, Karin.." ujarnya lembut. Aku jadi tertunduk aib tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku sempurna di bibir. Aku refleks memejamkan mata dan Om Robert kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku. Aku ingin menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Robert, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat terperinci celana dalam dan selangkanganku.

Ciumannya makin buas, dan kini Om Robert turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Robert dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut. Sementara itu tangan Om Robert juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.

saya melenguh agak keras dan Om Robert pun makin giat meremas-remas dadaku yang bahenol itu. Perlahan beliau melepaskan ciumannya dan saya membiarkan beliau melepas kaosku dari atas. Kini saya duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu. Om Robert memandangku tidak berkedip. Kemudian beliau bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.

Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa gila karena gres kali ini saya telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Robert mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan saya memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja. Tiba-tiba saya merasa putingku yang sudah tegang akhir nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Robert sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., mahir sekali beliau melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.

Tanpa kusadari, saya pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Robert bernafsu. "Oom.. aah.. aah..!" "Rin, kau kok seksi banget sih..? Om suka banget sama tubuh kamu, bagus banget. Apalagi ini.." godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang. "Ahh.., Om.. gelii..!" balasku manja.

"Sshh.. jangan panggil 'Om', sekarang panggil 'Robert' aja ya, Rin. Kamu kan udah gede.." ujarnya. "Iya deh, Om." jawabku bandel dan Om Robert pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi. "Eeeh..! Om.. eh Robert.. geli aah..!" kataku sambil sedikit cemberut namun beliau tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra.

Entah kapan tepatnya, Om Robert berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu saya sudah telanjang lingkaran di atas meja dapur itu dan Om Robert sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja. Kini Om Robert membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya biar beliau dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.

Kemudian pengecap yang hangat dan berair itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga saya mengerang tidak tertahan. "Aeeh.. uuh.. Rob.. aawh.. ehh..!" Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Robert dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku biar tidak jatuh ke depan atau ke belakang.

Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Robert pun menjilatinya dengan cepat hingga vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah, sedang Om Robert melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak tabah ingin dimasuki olehnya.

Perlahan Om Robert mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya saya hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya. "Aawww.. gede banget sih Rob..!" ujarku karena dari tadi Om Robert belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu. "Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kau juga sempitnya.. ampun deh..!" Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu.


Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Robert berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Robert mengerang keenakan. "Ah Rin.. enak Rin.. aduuh..!" "Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!" balasku sambil merem melek keenakan.

Om Robert tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang bila sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Robert semakin nafsu saja. "Awwh.. awwh.. aah..!" orgasmeku mulai lagi. Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Robert yang masih bangun tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.

Kini posisiku membelakangi Om Robert dan beliau pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Robert maju mundur. Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Robert mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi.

"Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!" rintihku dan Om Robert serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku. Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Robert yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Robert di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.

Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi. Bagai terkena badai, tubuhku mengejang berpengaruh dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Robert, balasannya beliau ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.

"Aaah.. Riin..!" erangnya. Om Robert melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan saya berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Robert duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.

"Sini Om..! Karin bersihin sisanya tadi..!" ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Robert. Om Robert hanya melongo sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Robert yang menjilati selangkanganku, kemudian beliau mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.

Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, saya keluar menemui Om Robert yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum. "Rin, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kau nggak menyesal kan..?" ujar Om Robert sambil menarik diriku duduk di pangkuannya. "Enggak Om, dari dulu Karin emang senang sama Om, menurut Karin Om itu temen ayah yang paling tampan dan baik." pujiku. "Makasih ya Sayang, ingat bila ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?" balasnya. "Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om mahir deh." "Iya Rin, kau juga. Om aja nggak nyangka kau mampu muasin Om kayak tadi." "He.. he.. he.." saya tersipu malu.

"Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa." ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Robert. "Iya, makasih ya Karin sayang.." jawab Om Robert sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku. "Aah.. Om, Karin musti pulang nih, udah sore." elakku sambil melepaskan diri dari Om Robert. Om Robert pun bangun dan mencium pipiku lembut, kemudian mengantarku ke kendaraan beroda empat dan saya pun pulang.

Di dalam mobil, supirku yang mungkin heran melihatku tersenyum-senyum sendirian mengingat kejadian tadi pun bertanya. "Non, kok lama amat sih nganter amplop doang..? Ditahan dulu yah Non..?" Sambil menahan tawa saya pun berkata, "Iya Pak, dikasih 'wejangan' pula.." Supirku hanya dapat memandangku dari beling spion dengan pandangan tidak mengerti dan saya hanya membalasnya dengan senyuman rahasia. He..he..he..

3

Cerita Dewasa Selingkuh Dengan Kakak Iparku

Sebenarnya ini ialah kisah kasatmata yang tadinya ngak pernah terfikir di benakku untuk menceritakan pada orang lain, tapi alasannya ialah forum ini saya coba untuk berbagi, kejadian nya belum lama sekitar 6 bulan yang lalu, saya ialah seorang pekerja yang jarang ada waktu di rumah, maklum kerjaku sebagai karyawan di industri otomotif yang notabennya sekarang sedang banyak produksi, jadi kerjaanku agak banyak,…..dan hampir semua hariku untuk kerja…. Aku tinggal di salah satu perumahan, yang kondisinya juga agak padat…


 Kebetulan masih dalam perumahan yang sama ada kakak iparku, kira2 hanya terpisah 4 gang dari daerah tinggalku, ia mempunyai 2 anak dan bekerja di perusahaan yang  ada di luar pulau, sedangkan istrinya bekerja di Surabaya,untuk waktu kepulangan kakak iparku kira2 hanya 1 X dalam 1 bulan. Kondisi inilah yang membuat istrinya mungkin merasa kurang dalam hal dahaga sex, awalnya saya tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi, pada suatu hari ketika hari Sabtu di bulan lalu memang liburku agak banyak, alasannya ialah biasanya kondisi produksi turun. Aku di panggil ke belakang, istri kakak iparku perlu bantuan, ada plapon dapur yang rusak katanya,… Setelah istriku memberi ijin, kebetulan pada waktu itu anak2nya dari kakak iparku sedang pergi bermain semua,….

Pada dikala saya datang ia menyambutku, masuk Wan, ku lihat ia menggenakan daster panjang putih, dengan lengan yang pendek, sehingga agak nampak bab ketiak lengan kakak iparku bertubuh sekal dengan kulit yang putih… Sehingga saya mulai membetulkan plaponnya, hal sangat mudah sebetulnya saya lakukan.. sehingga hanya dalam beberapa dikala saja saya sudah selesai,s atelah itu kakak iparku menunjukkan untuk minum kopi dulu…hal yang wajar pikirku…lalu saya duduk bersebrangan di ruang keluarga, lalu kami memulai pembicaraan…. apa saja yg kami obrolkan….mulai dari kantor, umum, politik, dll. Aku memanggil ia ayuk…( sebutan untuk kk ipar perempuan ), ketika kami mulai pembicaraan sex, ia mengatakan sudah lama tidak tersentuh… dan hari ini agak merasa agak horny….aku agak tidak menanggapi dengan serius sambil menonton TV yg berada
bersahabat dgn di mana kami duduk, alasannya ialah saya sambil nonton tv, saya mengatakan…sabar aja yuk, mungkin sebentar lagi kakak datang, kataku. Ketika saya hendak mengambil gelas untuk ku minum, ku sadari kakakku dlm posisi mengangkang, sehingga nampaklah
cd warna merah marun, dengan bab atas tampak agak berbayang hitam,bulu2 dari  lembutnya pikirku, dengan paha yg putih mulus. Sekejap saya hanya menelan air liur saja,sambil berpaling ke arah TV lg, rasa takut meyeruak sekilas dalam pikiranku,….
“Wan, kau mampu ngerok ngak,aku agak masuk angin nih…” tiba-tiba ia memanggilku….. “oh mampu yuk…emang ayuk kenapa..” masuk angin tanya ku…..,iya nih Wan….bentar aj deh kerokin, sebelum kau pulang…
balasannya saya mengiyakan…..sebentar ya Wan saya ambil kerokan dan kayu putihya dulu,….setelah itu ia pergi ke kamarya lalu kembali dengan hanya menggenakan kain yang terbungkus hingga ke dada, lalu sambil duduk menghadap ke TV ia membuka
kain dan memegang bab depannya saja, ku lihat BH nya tampak sudah di lepas, lalu saya duduk di belakangnya…sambil ku ambil koin buat kerok…. ku mulai memoleskan minyak kayu putih di punggungnya….. sambil ku mulai mengerok ia membuka obrolan kembali…..Wan sekalian agak di pijet kecil ya bab tengkuk nya aja,… ya yuk….kataku….emang sakit banget ya ….ya Wan…sambil ku pegang bab belakang lehernya,dan ku pijat kecil,lalu tiba2 ia membalikkan badannya sambil membuka kain yang menutup di dadanya,…tampaklah buah dada putih yang lumayan besar..dengan putting berwarna coklat kemerah-merahan…..dadaku eksklusif berdegup kencang, kaget, takut, senang bercampur jadi satu…..tiba - tiba tangan ku di ambil dan di letakan di payudaranya, sempurna di bab putingnya….yuk jangan…kataku….ngak apa2 ko Wan saya lg kepingin banget nih…kamu ngak usah takut, saya ngak akan bilang siapa2 kok,…. sambil ia memainkan tanganku memutari payudaranya.. resah bercampur takut, tapi kontolku juga sudah berteriak lantang sambil bangkit tegak,ngak apa2 boss kita cobain aj… kemudian bibirnya mulai di dekati ke bibirku…aku tidak membalas, hanya diam, namun ketika tangannya menyentuh kontolku nafsuku mulai timbul, bagaikan kucing di kasih ikan gratis… balasannya ku mulai memainkan juga lidahku….akh..akh… suaranya
mulai mendesis…sambil meladeni ciumannya ku mula memegang memeknya.. walau masih berlapis cd, benar dugaanku tadi itu jembutnya yang nampak kehitaman, alasannya ialah cdnya agak trasparan…..akh…akh…pegang lg Wan…..kata nya menyeringai kemudian saya baringkan ke lantai dan mulai ku buka cdnya….lalu ku mulai menjilati mulai dari payudara.terus ke perut dan turun lagi ke bab vaginannya….akh…akh…enak Wan…..tangannya memegang belakang kepalaku agak kencang, menahan supaya tidak di angkat dari selangkangannya….akh…bagian klistorisnya kadang2 saya gigit kecil, ….harum sekali lubang vagina kakak iparku ini….terlihat terawat….Wan…..gantian dong saya ingin mengulum punyamu…..sesaat terdengar bunyi kecil dari dia, perlahan saya membalikan posisi sehingga sekerang menjadi 69, batang kemaluan ku sudah mulai di kulumnya…akh..
sekarang saya yang mendesis…lidahnya amat nakal..terasa tebal dan bab tengah lebih geli….akh ayuk pinter deh mainin lidahnya…ah km mampu aja Wan….coblos dong….oke yuk…..lalu saya membalikan lagi posisi,..ku mulai memasukan kemaluanku ke lubangnya…. akhhh…kembali ia merintih…lalu ku tekan perlahan,dan ku tarik ke atas dan ku dorong lagi…akhhh…ekhh
ternyata berisik sekali kakak iparku ini kalo berhubungan, ku tutup perlahan mulutnya supaya tidak terlalu keras, terus Wan…tekan.. akhhh enak Wan…kontolmu keras dan besar….kemudian ku angkat perlahan dan ku duduki ia sambil kedua paha kami
saling silang..akhh sekarang ia yang mengenjot….sambil cium payudaranya dan pengecap kami saling beradu…ku kenjot agak cepat…tiba-tiba…dia menjengut rambutku…dan teriak…akhh..akhhhh saya keluar Wan…..semua menegang dan kontolku terasa ada yg membajiri…ku tau ia O tp saya belum, ku baringkan lagi ia di lantai….terus ku luruskan kakinya, sambil ku masukan lagi kontolku ke memeknya…sekarang posisi kontolku agak terasa terjepit, alasannya ialah paha yg rapat…ku kenjot kencang akhh…akh…akh..kembali ia teriak keenakan…semakin kencang nafsuku semakin besar… lalu ku bisikan dengan bunyi lembut mau ke luar di mana yuk….di dalam aja Wan…aku pakai spiral ko….semakin semangat saya mengenjot…akhirnya di ujung tanduk …dia melabarkan lg kakinya dan melingkarkan ke belakang kakiku… akhhh…akh… tidak berpengaruh lagi..yuk.. akhhhhh sekarang saya yg teriak seiring keluarnya spermaku….ah….lalu saya terbaring di sampingnya……………hari itu kami melaksanakan hingga 3X, sorenya gres saya pulang ke rumah….. Sesuai perjanjian kami…kami akan menutup rapat2 kejadian hr ini………….
Tapi seiring waktu berjalan…kakak iparku sesekali menelpon ku untuk ngajak ketemuan di luar perumahan…mungkin ketagihan… tp saya belum punya banyak waktu luang, walapun ada cita-cita untuk mencoba kembali menikmati lubang memek kakak iparku.

3

Cerita Dewasa 2017 Merasakan Kenikmatan Sex

Aku Dina, kisah ini terjadi ketika Aku gres masuk SMU. Aku tinggal bersama dengan ke 2 ortu dan adikku di sebuah apartment. Ortu membeli 2 apartmen yang letaknya saling berhadapan di lantai yang sama. Aku dan adikku tinggal di satu apartment dan ortu di apartmen satunya lagi.


Ayahku punya seorang kakak angkat yang umurnya gak jauh diatas ayah. Hubungan keluargaku dengan om itu cukup akrab. om sering berkunjung ke apartmen baik untuk urusan pekerjaan maupun hanya bersilaturahmi. Maklum om dah pisah dari tante, yang telah menikah lagi dengan orang lain, sedang om masih sendiri semenjak perpisahannya dengan tante. Om ku ganteng, walaupun umurnyaa sedikit diatas ayahku tapi malah kelihatan lebih muda dari ayahku.
Badannya tegap atletis, mungkin sebab ia masih rajin melaksanakan fitness seminggu sekali, jogging ampir tiap hari dan juga renang seminggu sekali. Gak menyerupai ayahku yang udah gendut dan keliatan tua, maklum deh ayah sibuk dengan kerjaannya, workaholik lah orang bilang, sehingga gak sempet ngapa-ngapain. waktu untuk keluarga paling weekend, itupun sering dianggu sebab ada pekerjaan yang harus dilakukan ayah. Om sering mengajak kami jalan2, kalo ayah kharus melaksanakan pekerjaannya.
Diam-diam saya mengagumi om, kelihatannya macho sekali deh. Cerita ini terjadi ketika ortu dan adikku harus keluar kota untuk menengok nenekku yang sedang sakit. Aku tidak ikut sebab hari ini om akan datang untuk mengambil pesanannya yang dititipkan lewat aya. ayah berpesan untuk memberikan pesanan itu kalo om datang ke apartment. Katanya om akan datang sore sekitar magrib. Aku senang juga sebab bisa berduaan aja ama om tanpa ada orang lain diapartment yang mengganggu.
Sorenya terdengar bel pintu berbunyi. Om mengebel pintu apartmentku sebab ayah dah memberi tau kalo mereka keluar kota, tapi pesanan om dititpkan pada aku. Segera saya membuka pintu menyambut om.
“Hai cantik”, om selalu menyapa saya menyerupai itu. Seneng saya dipuji cantik oleh om.
“Kok seneng banget kelihatannya”.
“Iya om, seneng bisa berduaan ama om”, jawabku terus terang.
“Loh kok seneng, kan dah sering jalan ma om”.
“Iya tapi kan ramean. duduk om. ini pesenan om yang dititipkan ayah buat om”.
Om duduk di sofa. Memang apartment saya dan adikku lumayan lengkap perabotannya walaupun serba minimalis. Di ruang tamu yang merangkap kamar makan ada seperangkat sofa, tv, audio system, meja makan dan pantri kering. Dapur diubah fungsi sebagai gudang sebab makanan disupply dari apartment ortu.
“Om jalan yuk”, kataku.
“Mo kemana”, tanya om.
“Ke mall yuk”.
“Mo nyari apa?”
“Makan ama liatliat aja. di apartment gak ada makanan. tadi mama pesen supaya saya ngajak om nyari makan diluar aja”. “Emangnya ortu kau pulangnya kapan. Adikmu mana?”
“Adik ikut om, pulangnya besok sore kali”.
“Terus kau takut sendirian, mau om temenin”. Wah itu yang saya harapkan bisa berduaan ama om sampe besok.
“Bentar ya om, saya tuker baju dulu”.
Segera saya menghilang kekamarku dan tukar pakean. Aku gak tau, rupanya om ngintip ketika saya tuker pakean. Tapi ya gak tejadi apa2. Kemudian segera saya keluar apartment nersama om. Dengan manjanya saya memeluk tangan om. Kami bermobil ke mal yang deket dengan apartmentku. Sampe malem saya bener2 have fun bersama om, kami cari makan, dan setelah makan om ngajak saya nonton film. Aku ya ok aja, didalem bioskop saya memegangi tangan om terus, perhatianku gak pada filmnya tapi pada sosok pria macho yang duduk disebelah aku.
“Tu orang pada ngeliatin kita, mereka kira saya om senang yang lagi gaet abg cantik”, kata om ketika keluar dari bioskop.
“Kamu manja amat sih”.
“Biarin aja”, jawabku.
“Mo kemana lagi nih”.
“Pulang yuk om”.
“ayuk”.
Kami menuju ke tempat parkir dan eksklusif kembali ke apartment. Segera kendaraan beroda empat meluncur kembali ke apartment, gak lama sebab apartment dekat dengan mal. Sesampe di apartment saya segera tuker dengan pakean rumah lagi. saya kalo dirumah Memang gak memakai bra. Aku hanya memakai tanktop ketat sepinggang dan celana pendek yang juga ketat. kedua pentilku tampak terperinci sekali tercetak di tanktopku. Si om terpana melihat lekak liku bodiku yang Memang mengundang selera lelaki yang melihatnya.
“Kamu beneran mo om temenin”.
“Kalo om gak keberatan”.
“Tapi om gak bawa baju ganti”.
“Nanti saya ambilin celana kolor dan baju kaos ayah”.
Segera saya keluar apartment, membuka apartment ortu dan masuk ke kamar ortu untuk mengambil celana kolor dan kaos oblong ayah.
“Kegedean kali ya om, ayah kan gendut”, kataku sembari menyerahkan pakean itu ke om.
“Gak apa, kan cuma buat bobo”.
Si om masuk ke kamarku, ketika keluar kamar hanya memakai celana kolor gombrang dan kaos yang rada kebesaran. Kelihatannya ia tidak mengenakan CD sebab kontolnya kelihatan terperinci tercetak di celana gombrangnya, kayanya dah ngaceng deh. Mungkin ia napsu ngeliat bodiku. Om duduk di sofa nonton tv. Aku duduk disebelahnya.
“Din kau seksi sekali. toket kau besar juga ya, pasti perjaka kau suka ya, suka diremes2 ya Din ma perjaka kamu”.
“Ih om tau aja”.
“Iya tau lah Din, om kan juga lelaki. Lelaki mana yan gak suka ngeremes toket bahenol menyerupai toketmu itu”.
“Om suka ngeremes juga ya, terus om ngeremes siapa, kan gak ada tante”. Om cuma tersenyum,
“Kamu mau gak om remes”. “Ih om genit ih”.
“Kamu suka nonton film bokep ya Din”.
“Iya om ma perjaka Dina”.
“Dimana nontonnya?”
“Dirumah perjaka Dina, ia kan sering sendirian di rumahnya, ortunya sering pergi dua2nya, katanya berbisnis”. Terus, diremes deh”.
“Iya om, abis nonton film gituan kan napsu juga”.
“Cuma diremes?”
“he he”, saya hanya tertawa. “Kamu dah sering maen ma perjaka kau ya Din”.
“Gak sering om, cuma ampir tiap malem minggu”.
“Itu mah sering”, kata om sambil merangkul pundakku.
Aku merinding ketika om menarikku merapat kebadannya. Dia mencium pipiku.
“Om bawa film bokep, yang maen orang indonesia ma bule. mo liat?’
“Mau om, biasanya saya nonton kalo gak bule, ya cina apa jepun”.
Si om mengambil dvd dari tas yang dibawanya tdi dan dipasangnya. Segera filmpun mulai. Ceweknya orang sini, togepasar lah, jembutnya juga lebat, sedang si bule krempeng, tapi kontolnya gede en panjang banget. Biasalah ritual film bokep saling isep sampe hasilnya si bule naikin tu prempuan dan masuk deh. serenade ah uh dimulai. Si om rupanya sudah dibawah pengaruh napsu berahinya. Dia menatapku dengan pandangan yang seakan2 mau menelanjangiku. Segera ia mencium bibirku, saya menyambutnya.
Lidah kami saling melilit dan kemudian dijulurkan lidahnya kedalam mulutku. Segera kuemut lidahnya, kemudian ganti saya yang menjulurkan lidahku ke mulutnya. Diapun tidak menyia2kan kesempatan untuk segera memerah kedua toketku gantian.
“Din, om dah lama pengen ngeremes toket kamu”. Pentilku yang dah mulai mengeras dipilin2 dari luar tanktopku. “Dilepas ya Din tanktopnya”, katanya seraya menarik tanktopku keatas.
Dvd dimatikannya sebab kami sudah tidak lagi memperhatikan perilaku ke2 anak insan yang berlainan jenis sedang beraksi di film itu. Toketku sudah telanjang dihadapannya. Dia segera meremas2 toketku.
“Baru 16 dah besar gini Din toket kamu, kenceng lagi, om mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau kan”, katanya perlahan sambil mencium toket ku yang montok. “.
Aku membisu saja, mataku terpejam. Dia mengendus-endus kedua toketku yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir dan menjilatkan lidahnya. pentil toket kananku dilahap ke dalam mulutnya. Badanku sedikit tersentak ketika pentil itu digencet perlahan dengan menggunakan pengecap dan gigi atasnya.
“Om…”, rintihku, tindakannya membangkitkan napsuku juga.
Aku menjadi sangat ingin mencicipi kenikmatan dien tot, sehingga saya membisu saja membiarkan ia menjelajahi tubuhku.
Disedot-sedotnya pentil toketku secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama agak diperkuat sedotannya. Diperbesar kawasan lahapan bibirnya. Kini pentil dan toket sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutnya. Kembali disedotnya kawasan tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajahku tampak sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua toketku yang harum itu diciumi dan disedot-sedot secara berirama.
Dibenamkannya wajahnya di antara kedua belah gumpalan dada ku. Perlahan-lahan ia bergerak ke arah bawah. Digesek-gesekkan wajahnya di lekukan tubuhku yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutku. Kiri dan kanan diciumi dan dijilatinya secara bergantian. Kecupan-kecupan bibir, jilatan-jilatan lidah, dan endusan-endusan hidungnya pun beralih ke perut dan pinggangku. Bibir dan lidahnya menyusuri perut sekeliling pusarku yang putih mulus. Wajahnya bergerak lebih ke bawah.
Dengan nafsu yang menggelora ia memeluk pinggulku secara perlahan-lahan. Celana pendekku ditariknya kebawah, saya mengangkat pantatku supaya lebih mudah ia melepaskan celanaku. Kecupannya pun berpindah ke CD tipis yang membungkus pinggulku. Ditelusurinya pertemuan antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Dijilatnya helaian-helaian rambut jembutku yang keluar dari CDku.
“Din, jembut kau lebat banget ya, pantes kau napsunya besar”. Lalu diendus dan dijilatnya CD pink itu di episode kepingan bibir nonokku. Aku makin terengah menahan napsuku, sesekali saya melenguh menahan kenikmatan yang kurasakan.
Dia melepaskan semua yang nempel dibadannya sehingga bertelanjang bulat. Aku terkejut melihat kontolnya yang begitu besar dan panjang dalam keadaan sangat tegang. Napsuku berdiri juga melihat kontolnya, timbul hasratku untuk mencicipi bagaimana nikmatnya kalo kontol besar itu menggesek keluar masuk nonokku. Dia bangkit. Dengan posisi berdiri di atas lutut dikangkanginya tubuhku. kontolnya yang tegang ditempelkan di kulit toketku. Kepala kontol digesek-gesekkan di toketku yang bahenol itu.
Sambil mengocok batangnya dengan tangan kanannya, kepala kontolnya terus digesekkan di toketku, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua menit ia melaksanakan hal itu. Diraih kedua belah gumpalan toketku yang bahenol itu. Dia berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping ku dengan posisi tubuh sedikit membungkuk. kontolnya dijepitnya dengan kedua gumpalan toketku. Perlahan-lahan digerakkannya maju-mundur kontolnya di cekikan kedua toket ku. Di kala maju, kepala kontolnya terlihat mencapai pangkal leherku yang jenjang. Di kala mundur, kepala kontolnya tersembunyi di jepitan toketku. L
ama-lama gerak maju-mundur kontolnya bertambah cepat, dan kedua toketku ditekannya semakin keras dengan telapak tangannya biar jepitan di kontolnya semakin kuat. Dia pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketku. Akupun mendesah-desah tertahan,
“Ah… hhh… hhh… ah…” kontolnya pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi kepingan toketku.
Gerakan maju-mundur kontolnya di dadaku yang diimbangi dengan tekanan-tekanan dan remasan-remasan tangannya di kedua toketnya, menyebabkan cairan itu menjadi teroles rata di sepanjang kepingan dadaku yang menjepit kontolnya. Cairan tersebut menjadi pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kontolnya di dalam jepitan toketku. Dengan adanya sedikit cairan dari kontolnya tersebut ia terlihat mencicipi keenakan dan kehangatan yang luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kontolnya dengan toketku.
“Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” ia tak kuasa menahan rasa enak yang tak terperi. Nafasku menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirku , yang kadang diseling desahan lewat hidungku,
“Ngh… ngh… hhh… heh… eh… ngh…” Desahan-desahanku semakin membuat nafsunya makin memuncak.
Gesekan-gesekan maju-mundurnya kontolnya di jepitan toketku semakin cepat. kontolnya semakin tegang dan keras.
“Enak sekali, Din”, erangnya tak tertahankan.
Dia menggerakkan kontolnya maju-mundur di jepitan toketku dengan semakin cepat. Alis mataku bergerak naik turun seiring dengan desah-desah perlahan bibirku akhir tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di toketku. Ada sekitar lima menit ia menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan toketku itu. Toket sebelah kanan dilepas dari telapak tangannya. Tangan kanannya lalu membimbing kontol dan menggesek-gesekkan kepala kontol dengan gerakan memutar di kulit toketku yang halus mulus.
Sambil jari-jari tangan kirinya terus meremas toket kiriku, kontolnya digerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di sekitar pusarku, kepala kontolnya digesekkan memutar di kulit perutku yang putih mulus, sambil sesekali disodokkan perlahan di lobang pusarku. Dicopotnya CD minimku. Pinggulku yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit perutku yang semula tertutup CD tampak terperinci sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutku, jembutku yang hitam lebat menutupi kawasan sekitar nonokku.
Kedua paha mulusku direnggangkannya lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perutku terkuak, mempertontonkan nonokku. Dia pun mengambil posisi biar kontolnya dapat mencapai nonokku dengan mudahnya. Dengan ajudan memegang kontol, kepalanya digesek-gesekkannya ke jembutku. Kepala kontolnya bergerak menyusuri jembut menuju ke nonokku. Digesek-gesekkan kepala kontol ke sekeliling bibir nonokku. Terasa geli dan nikmat. Kepala kontol digesekkan agak ke arah nonokku. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding ekspresi nonokku menjadi basah. Digetarkan perlahan-lahan kontolnya sambil terus memasuki nonokku.
Kini seluruh kepala kontolnya yang berhelm pink tebenam dalam jepitan ekspresi nonokku. Kembali dari mulutku keluar desisan kecil sebab nikmat tak terperi. Kontolnya semakin tegang. Sementara dinding ekspresi nonokku terasa semakin basah. Perlahan-lahan kontolnya ditusukkan lebih ke dalam. Kini tinggal separuh kontol yang tersisa di luar. Secara perlahan dimasukkan kontolnya ke dalam nonokku. Terbenam sudah seluruh kontolnya di dalam nonokku. Sekujur kontol sekarang dijepit oleh nonokku . Secara perlahan-lahan digerakkan keluar-masuk kontolnya ke dalam nonokku. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam nonokku hanya kepalanya saja. Sewaktu masuk seluruh kontol terbenam di dalam nonokku hingga batas pangkalnya.
Dia terus memasuk-keluarkan kontolnya ke lobang nonokku. Alis mataku terangkat naik setiap kali kontolnya menusuk masuk nonokku secara perlahan. Bibir segarku yang sensual sedikit terbuka, sedang gigiku terkatup rapat. Dari ekspresi sexy ku keluar desis kenikmatan,
“Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Dia terus mengocok perlahan-lahan nonokku. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Kembali dikocoknya secara perlahan nonokku hingga selama dua menit.
Kembali ditariknya kontolnya dari nonokku. Namun tidak seluruhnya, kepala kontol masih dibiarkannya tertanam dalam nonokku. Sementara kontol dikocoknya dengan jari-jari tangan kanannya dengan cepat Rasa enak itu agaknya kurasakan pula. Aku mendesah-desah akhir sentuhan-sentuhan getar kepala kontolnya pada dinding ekspresi nonokku,
“Sssh… sssh… zzz…ah… ah… hhh…” Tiga menit kemudian dimasukkannya lagi seluruh kontolnya ke dalam nonokku. Dan dikocoknya perlahan. Sampai kira-kira empat menit.
Lama-lama ia mempercepat gerakan keluar-masuk kontolnya pada nonokku. Sambil tertahan-tahan, ia mendesis-desis,
“Din… nonokmu luar biasa… nikmatnya…” Gerakan keluar-masuk secara cepat itu berlangsung hingga sekitar empat menit.
Tiba-tiba dicopotnya kontol dari nonokku. Segera ia berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhku biar kontolnya mudah mencapai toketku. Kembali diraihnya kedua belah toket bahenol ku untuk menjepit kontolnya yang berdiri dengan amat gagahnya. Agar kontolnya dapat terjepit dengan enaknya, ia agak merundukkan badannya. Kontol dikocoknya maju-mundur di dalam jepitan toketku. Cairan nonokku yang membasahi kontolnya kini merupakan pelumas pada gesekan-gesekan kontolnya dan kulit toketku.
“Oh…hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu luarrr biasa…”, ia merintih-rintih keenakan. Aku juga mendesis-desis keenakan,
“Sssh.. sssh… sssh…” Gigiku tertutup rapat. Alis mataku bergerak ke atas ke bawah.
Dia mempercepat maju-mundurnya kontolnya. Dia memperkuat tekanan pada toketku biar kontolnya terjepit lebih kuat. Karena berair oleh cairan nonokku, kepala kontolnya tampak amat mengkilat di ketika melongok dari jepitan toketku. Leher kontol yang berwarna coklat bau tanah dan helm kontol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan toketku. Semakin dipercepat kocokan kontolnya pada toketku. Tiga menit sudah kocokan andal kontolnya di toket bahenol ku berlangsung. Dia makin cepat mengocokkan kontol di kempitan toket cantik ku. Akhirnya ia tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahanannya.
“Din..!” pekiknya dengan tidak tertahankan. Matanya membeliak-beliak. Jebollah pertahanannya.
Kontolnya menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot! Pejunya menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, hingga menghantam rahangku. Peju tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leherku. Peju yang tersisa di dalam kontolnya pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya lemah. Semprotan awal hanya hingga pangkal leherku, sedang yang terakhir hanya jatuh di atas kepingan toketku. Dia menikmati akhir-akhir kenikmatan.
“Luar biasa…Din, nikmat sekali tubuhmu…,” ia bergumam.
“Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kataku lirih.
“Gak apa kalo om ngecret didalem Din”, jawabnya.
“Gak apa om, biasanya cowokku juga ngecret didalem kok om. Tapi belum dien tot juga saya ngerasa nikmat sekali om”, kataku lagi.
“Ini gres ronde pertama Din, mau lagi kan ronde kedua”, katanya.
“Mau om, tapi ngecretnya didalem ya”, jawabku. “Kok tadi kau diem aja Din”, katanya lagi.
“Bingung om, tapi nikmat”, jawabku sambil tersenyum.
“Engh…” saya menggeliatkan badanku.
Dia segera mengelap kontol dengan tissue yang ada di atas meja, dan mengelap peju yang berleleran di rahang, leher, dan toketku. Ada yang tidak dapat dilap, ialah cairan peju yang sudah terlajur jatuh di rambut ku.
“Mo kemana om”, tanyaku.
“Mo ambil minum dulu”, jawabnya.
Dia kembali membawa gelas berisi air putih, diberikannya kepada ku yang eksklusif kutenggak sampe habis. Dia kembali lagi untuk mengisi gelas dengan air. Masih tidak puas ia memandangi toket indahku yang terhampar di depan matanya. Dia memandang ke arah pinggangku yang ramping dan pinggulku yang melebar indah. Terus tatapannya jatuh ke nonokku yang dikelilingi oleh jembut hitam jang lebat. Aku ingin mengulangi permainan tadi, digeluti, didekap kuat. Mengocok nonokku dengan kontolnya dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan ia dapat menyemprotkan pejunya di dalam nonokku sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya ketika saya nyampe. Nafsuku terbakar. Aku diajaknya kekamar. Aku berbaring diranjang dan ia disebelahku.
“Din…,” desahnya penuh nafsu. Bibirnya pun menggeluti bibirku. Bibir sensualku yang menantang itu dilumat-lumat dengan ganasnya. Sementara saya pun tidak mau kalah. Bibirku pun menyerang bibirnya dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirnya. Kedua tangannyapun menyusup diantara lenganku. Tubuhku sekarang berada dalam dekapannya. Dia mempererat dekapannya, sementara saya pun mempererat pelukanku pada dirinya. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku, toketku yang membusung terasa semakin menekan dadanya. Aku meremas-remas kulit punggungnya. Aku mencopot celananya dan merangkul punggungnya lagi.
Dia kembali mendekap erat tubuhku sambil melumat kembali bibirku. Dia terus mendekap tubuhku sambil saling melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh episode depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketku yang bahenol menekan ke dadanya. Dan ketika saling sedikit bergeseran, pentilku seolah-olah menggelitiki dadanya. Kontolnya terasa hangat dan mengeras. Tangan kirinya pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar ku, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutnya. Kontolnya tergencet diantara perut bawahku dan perut bawahnya. Sementara bibirnya bergerak ke arah leherku, diciumi, dihisap-hisap dengan hidungnya, dan dijilati dengan lidahnya.
“Ah… geli… geli…,” desahku sambil menengadahkan kepala, biar seluruh leher hingga daguku terbuka dengan luasnya. Aku pun membusungkan dadaku dan melenturkan pinggangku ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahnya dalam keadaan menggeluti leherku, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya.
Tangan kanannya lalu bergerak ke dadaku yang montok, dan meremas-remas toketku dengan perasaan gemas. Setelah puas menggeluti leherku, wajahnya turun ke arah kepingan dadaku. Dia berdiri dengan agak merunduk. Tangan kirinya pun menyusul tangan kanan, ialah bergerak memegangi toket. Digeluti kepingan toketku, sementara kedua tangannya meremas-remas kedua belah toketku sambil menekan-nekankannya ke arah wajahnya. Digesek-gesekkan memutar wajahnya di kepingan toketku. Bibirnya bergerak ke atas bukit toket sebelah kiri. Diciuminya bukit toketku, dan dimasukkan pentil toketku ke dalam mulutnya. Kini ia menyedot-sedot pentil toket kiriku. Di ainkan pentilku di dalam mulutnya dengan lidah. Sedotan kadang diperbesar ke puncak bukit toket di sekitar pentil yang berwarna coklat.
“Ah… ah… om…geli…,” saya mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Dia memperkuat sedotannya.
Sementara tangannya meremas berpengaruh toket sebelah kanan. Kadang remasan diperkuat dn diperkecil menuju puncak, dan diakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jarinya pada pentilku.
“Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu…ngilu…” Dia semakin gemas.
Toketku dimainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit toket kadang disedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang disedot hanya pentilku dan dicepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang diremas dengan kawasan tangkap sebesar-besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya dipijit-pijit dan dipelintir-pelintir kecil pentil yang mencuat gagah di puncaknya.
“Ah…om… terus… hzzz…ngilu… ngilu…” saya mendesis-desis keenakan. Mataku kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhku ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya. Sampai hasilnya saya tidak berpengaruh melayani serangan-serangan awalnya. Jari-jari tangan kananku yang mulus dan lembut menangkap kontolnya yang sudah berdiri dengan gagahnya. “Om.. kontolnya besar ya”, ucapku. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tangannya terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketku, jari-jari lentik tangan kananku meremas-remas perlahan kontolnya secara berirama.
Dia merengkuh tubuhku dengan gemasnya. Dikecupnya kembali kawasan antara indera pendengaran dan leherku. Kadang daun indera pendengaran sebelah bawahnya dikulum dalam mulutnya dan dimainkan dengan lidahnya. Kadang ciumannya berpindah ke punggung leherku yang jenjang. Dijilati pangkal helaian rambutku yang terjatuh di kulit leherku. Sementara tangannya mendekap dadaku dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tangannya meremas-remas kedua belah toketku. Remasannya kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kanannya menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kiriku, sementara tangan kirinya meremas berpengaruh bukit toket kananku dan bibirnya menyedot kulit mulus pangkal leherku yang bebau harum, kontolnya digesek-gesekkan dan ditekan-tekankan ke perutku. Aku pun menggelinjang ke kiri-kanan.
“Ah… om… ngilu… terus om… terus… ah… geli… geli…terus… hhh… enak… enaknya… enak…,” saya merintih-rintih sambil terus berusaha menggeliat ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tangannya di toketku. Akibatnya pinggulku menggial ke kanan-kiri.
“Din.. enak sekali Din… sssh… luar biasa… enak sekali…,” diapun mendesis-desis keenakan.
“Om keenakan ya? kontol om terasa besar dan keras sekali menekan perut aku. Wow… kontol om terasa hangat di kulit perut aku. Tangan om bandel sekali … ngilu,…,” rintihku.
“Jangan mainkan hanya pentilnya saja… geli… remas seluruhnya saja…” saya semakin menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratnya.
Aku sudah makin liar saja desahannya, saya sangat menikmati gelutannya, lupa bahwa ia ini om suamiku.
“Om.. remasannya berpengaruh sekali… Tangan om bandel sekali..Sssh… sssh… ngilu… ngilu…Ak… kontol om … besar sekali… berpengaruh sekali…”
Aku menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Bibirku melumat bibirnya dengan ganasnya. Dia pun tidak mau kalah. Dilumatnya bibirku dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara tangannya mendekap tubuhku dengan kuatnya. Kulit punggungku yang teraih oleh telapak tangannya diremas-remas dengan gemasnya. Kemudian ia menindihi tubuhku. Kontolnya terjepit di antara pangkal pahaku dan perutnya episode bawah. Akhirnya ia tidak tabah lagi. Bibirnya kini berpindah menciumi dagu dan leherku, sementara tangannya membimbing kontolnya untuk mencari nonokku.
Diputar-putarkan dulu kepala kontolnya di kelebatan jembut disekitar bibir nonokku. Aku meraih kontolnya yang sudah amat tegang. Pahaku yang mulus itu terbuka agak lebar. “Om kontolnya besar dan keras sekali” kataku sambil mengarahkan kepala kontolnya ke nonokku. Kepala kontolnya menyentuh bibir nonokku yang sudah basah. Dengan perlahan-lahan dan sambil digetarkan, kontol ditekankan masuk ke kunonok. Kini seluruh kepala kontolnya pun terbenam di dalam nonokku. Dia menghentikan gerak masuk kontolnya.
“Om… teruskan masuk… Sssh… enak… jangan berhenti hingga situ saja…,” saya protes atas tindakannya.
Namun ia tidak perduli. Dibiarkan kontolnya hanya masuk ke nonokku hanya sebatas kepalanya saja, namun kontolnya digetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungnya dengan ganasnya menggeluti leherku yang jenjang, lengan tanganku yang harum dan mulus, dan ketiakku yang bersih dari bulu. Aku menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.
“Sssh… sssh…enak… enak… geli..geli, om. Geli… Terus masuk, om..” Bibirnya mengulum kulit lengan tanganku dengan kuat-kuat.
Sementara tenaga dikonsentrasikan pada pinggulnya. Dan…satu… dua… tiga! kontolnya ditusukkan sedalam-dalamnya ke dalam nonokku dengan sangat cepat dan kuat. Plak! Pangkal pahanya beradu dengan pangkal pahaku yang sedang dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kontolnya bagaikan diplirid oleh bibir nonokku yang sudah berair dengan kuatnya hingga menjadikan bunyi: srrrt!
“Auwww!” pekikku. Dia membisu sesaat, membiarkan kontolnya tertanam seluruhnya di dalam nonokku tanpa bergerak sedikit pun.
“Sakit om… ” kataku sambil meremas punggungnya dengan keras.
Dia pun mulai menggerakkan kontolnya keluar-masuk nonokku. Seluruh episode kontolnya yang masuk nonokku dipijit-pijit dinding lobang nonokku dengan agak kuatnya.
“Bagaimana Din, sakit?” tanyaku.
“Sekarang sudah enggak om…ssh… enak sekali… enak sekali… kontol om besar dan panjang sekali… sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru nonok aku..,” jawabku. Dia terus memompa nonokku dengan kontolnya perlahan-lahan.
Toketku yang menempel di dadanya ikut terpilin-pilin oleh dadanya akhir gerakan memompa tadi. Kedua pentilku yang sudah mengeras seolah-olah mengkilik-kilik dadanya. Kontolnya diiremas-remas dengan berirama oleh otot-otot nonokku sejalan dengan genjotannya tersebut. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala kontolnya menyentuh suatu daging hangat di dalam nonokku. Sentuhan tersebut serasa geli-geli nikmat. Dia mengangkat kedua kakiku. Sambil menjaga biar kontolnya tidak tercabut dari nonokku, ia mengambil posisi agak jongkok. Betis kananku ditumpangkan di atas bahunya, sementara betis kiriku didekatkan ke wajahnya.
Sambil terus mengocok nonokku perlahan dengan kontolnya, betis kiriku yang amat cantik itu diciumi dan dikecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang diciumi dan digeluti, sementara betis kiriku ditumpangkan ke atas bahunya. Begitu hal tersebut dilakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan gerakan kontolnya maju-mundur perlahan di nonok ku. Setelah puas dengan cara tersebut, ia meletakkan kedua betisku di bahunya, sementara kedua telapak tangannya meraup kedua belah toketku. Masih dengan kocokan kontol perlahan di nonokku, tangannya meremas-remas toket bahenol ku. Kedua gumpalan daging kenyal itu diremas kuat-kuat secara berirama.
Kadang kedua pentilku digencet dan dipelintir-pelintir secara perlahan. Pentilku semakin mengeras, dan bukit toketku semakin terasa kenyal di telapak tangannya. Aku pun merintih-rintih keenakan. Mataku merem-melek, dan alisku mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke bawah.
“Ah…om, geli… geli… … Ngilu om, ngilu… Sssh… sssh… terus om, terus…. kontol om membuat nonok saya merasa enak sekali… Nanti jangan dingecretinkan di luar nonok, ya om. Ngecret di dalam saja… ” Dia mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontolnya di nonokku. “Ah-ah-ah… bener, om. Bener… yang cepat…Terus om, terus… ” Dia bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihanku.
Tenaganya menjadi berlipat ganda. Ditingkatkan kecepatan keluar-masuk kontolnya di nonokku. Terus dan terus. Seluruh episode kontolnya diremas-remas dengan cepatnya oleh nonokku. Aku menjadi merem-melek. Begitu juga dirinya, ia pun merem-melek dan mendesis-desis sebab merasa keenakan yang luar biasa.
“Sssh… sssh… Din… enak sekali… enak sekali nonokmu… enak sekali nonokmu…”
“Ya om, saya juga merasa enak sekali… terusss…terus om, terusss…” Dia meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontolnya pada nonokku.
“Om… sssh… sssh… Terus… terus… saya hampir nyampe…sedikit lagi… sama-sama ya om…,” saya jadi mengoceh tanpa kendali. Dia mengayuh terus. Sementara itu nonokku berdenyut dengan hebatnya.
“Om… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar om… mau keluar..ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…” Tiba-tiba kontolnya dijepit oleh dinding nonok ku dengan sangat kuatnya.
Di dalam nonokku, kontolnya disemprot oleh cairan yang keluar dari nonokku dengan cukup derasnya. Dan saya meremas lengan tangannya dengan sangat kuatnya. Aku pun berteriak tanpa kendali:
“…keluarrr…!” Mataku membeliak-beliak. Sekejap tubuh kurasakan mengejang. Dia pun menghentikan genjotannya.
Kontolnya yang tegang luar biasa dibiarkan tertanam dalam nonokku. Aku memejam beberapa ketika dalam menikmati puncak. Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tanganku pada lengannya perlahan-lahan mengendur. Kelopak mataku pun membuka, memandangi wajahnya. Sementara jepitan dinding nonokku pada kontolnya berangsur-angsur melemah, walaupun kontolnya masih tegang dan keras. Kedua kakiku lalu diletakkan kembali di atas ranjang dengan posisi agak membuka. Dia kembali menindih tubuh telanjangku dengan mempertahankan biar kontolnya yang tertanam di dalam nonokku tidak tercabut.
“Om… luar biasa… rasanya menyerupai ke langit ke tujuh,” kataku dengan mimik wajah penuh kepuasan.
Kontolnya masih tegang di dalam nonokku. Kontolnya masih besar dan keras. Dia kembali mendekap tubuhku. Kontolnya mulai bergerak keluar-masuk lagi di nonokku, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding nonokku secara berangsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontolnya. Namun sekarang gerakan kontolnya lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti sebab adanya cairan yang disemprotkan oleh nonokku beberapa ketika yang lalu.
“Ahhh…om… eksklusif mulai lagi… Sekarang giliran om.. semprotkan peju om di nonok aku.. Sssh…,” saya mulai mendesis-desis lagi.
Bibirnya mulai memagut bibirku dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kirinya ikut menyangga berat badannya, tangan kanannya meremas-remas toket ku serta memijit-mijit pentilnya, sesuai dengan irama gerak maju-mundur kontolnya di nonokku.
“Sssh… sssh… sssh… enak om, enak… Terus…teruss… terusss…,” desisku. Sambil kembali melumat bibirku dengan kuatnya, ia mempercepat genjotan kontolnya di nonokku. Pengaruh adanya cairan di dalam nonokku, keluar-masuknya kontol pun diiringi oleh suara,
“srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Aku tidak henti-hentinya merintih kenikmatan,
“Om… ah… ” Kontolnya semakin tegang. Dilepaskannya tangan kanannya dari toketku.
Kedua tangannya kini dari ketiak ku menyusup ke bawah dan memeluk punggungku. Akupun memeluk punggungnya dan mengusap-usapnya. Dia pun memulai serangan dahsyatnya. Keluar-masuknya kontolnya ke dalam nonok ku sekarang berlangsung dengan cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, kontol dihunjamkan keras-keras biar menusuk nonokku sedalam-dalamnya. Kontolnya bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding nonokku. Sampai di langkah terdalam, saya membeliak sambil mengeluarkan permintaan tertahan,
“Ak!” Sementara daging pangkal pahanya bagaikan menampar daging pangkal pahaku hingga berbunyi: plak! Di ketika bergerak keluar nonokku, kontolnya dijaga biar kepalanya tetap tertanam di nonokku.
Remasan dinding nonokku pada kontolnya pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir nonokku yang mengulum kontolnya pun sedikit ikut tertarik keluar. Pada gerak keluar ini akumendesah,
“Hhh…” Dia terus menggenjot nonokku dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak.
Aku meremas punggungnya kuat-kuat di ketika kontol dihunjam masuk sejauh-jauhnya ke nonokku. Beradunya daging pangkal paha menjadikan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! Pergeseran antara kontolnya dan nonokku menjadikan bunyi srottt-srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecilku:
“Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”
“Din… Enak sekali Din… nonokmu enak sekali… nonokmu hangat sekali… jepitan nonokmu enak sekali…”
“Om… terus om…,” rintihku,
“enak om… enaaak… Ak! Hhh…” Diapun mengocokkan kontolnya ke nonokku dengan semakin cepat dan kerasnya.
Setiap masuk ke dalam, kontolnya berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya.
“Din… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat yang luar biasa ia tidak bisa menyelesaikan ucapannya yang Memang sudah terbata-bata itu.
“Om, aku… mau nyampe lagi… Ak-ak-ak… saya nyam…” Tiba-tiba kontolnya mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya.
Dia tidak bisa lagi menahan lebih lama lagi. Namun pada ketika itu juga tiba-tiba dinding nonok ku mencekik berpengaruh sekali. Dengan cekikan yang berpengaruh dan enak sekali itu, ia tidak bisa lagi menahan jebolnya bendungan pejunya. Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontolnya disemprot cairan nonokku, bersamaan dengan pekikanku,
“…nyampee…!” Tubuhku mengejang dengan mata membeliak-beliak.
“Din…!” ia melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuhku sekuat-kuatnya. Wajahnya dibenamkan kuat-kuat di leherku yang jenjang. Pejunya pun tak terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Pejunya menyembur dengan derasnya, menyemprot dinding nonokku yang terdalam. Kontolnya yang terbenam semua di dalam nonokku terasa berdenyut-denyut. Beberapa ketika lamanya kami terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali.
Dia menghabiskan sisa-sisa peju dalam kontolnya. Cret! Cret! Cret! kontolnya menyemprotkan lagi peju yang masih tersisa ke dalam nonokku. Kali ini semprotannya lebih lemah. Perlahan-lahan baik tubuhku maupun tubuhnya tidak mengejang lagi. Dia menciumi leher mulusku dengan lembutnya, sementara saya mengusap-usap punggungnya dan mengelus-elus rambutnya. Aku merasa puas sekali dien tot om. Ini gres awal permainan, sebab si om akan nemani saya sampe besok sore, bayangkan berapa besarnya kenikmatan yang akan saya peroleh dari kontol si om..

3

Cerita Ngentot Hilang Perawan Di Penginapan

Pengalaman ini terjadi sekitar awal bulan Februari tahun 2014. Pengalaman ini tidak kukarang sendiri tapi berdasarkan kisah asli yang kualami di tahun 2001 ini. Cerita panas ini bermula ketika saya berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Muki. Orangnya tampan, tinggi sekitar 170 cm, dan tubuhnya atletis. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku.


Perbedaan umur kami sekitar 8 tahun, dan ia gres saja lulus dari univ swasta terkenal di Jakarta. Kami kenalan pada ketika saya sedang mempersiapkan program untuk perpisahan kelas 3 di SMA-ku. SMAku di daerah Jakarta Barat. Dan pada ketika itu Muki sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada ketika itu Muki hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.

Oh ya, hingga lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama panggilanku Maya. umurku 18 tahun (SMA kelas 3). Tinggiku lumayan sekitar 168 cm dan warna kulitku kuning bersih. Rambutku pendek sebahu, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku. Kata orang-orang saya sangat cocok untuk seorang model. Dan saya belum mempunyai pacar. Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara dan semua perempuan. Kakak-kakakku semua sudah mempunyai pacar, kecuali adikku yang paling kecil kelas dua SMP. OK dilanjut ya
Akhirnya pada ketika istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada ketika kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira 3 hari kemudian, Muki menelepon ke rumahku.
“Hallo selamat sore, mampu bicara dengan Maya, ini dari Muki.”
“Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, saya kira sudah lupa.”
“Gimana kabar kamu, mana mungkin saya lupa. Hmm, May ada program nggak malam ahad ini.”
Aku sempat kaget Muki mengajakku keluar malam ahad ini. Padahal gres beberapa hari ini kenalan tapi ia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, pemuda ini memang idamanku kok.
“Hmmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku.
“Kenapa mampu begitu,” balas Muki.
“Ya, kalaupun ada mampu dibatalin seandainya kau ngajak keluar, dan kalo batal acaranya saya bakalan akan nggak terima telpon kau lagi,” balasku lagi.
“Ooo begitu, kalau gitu saya jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.”
Kemudian saya menawarkan alamat rumahku di daerah Maruya. Dan ternyata rumah Muki tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.
Tepat hari sabtu sore, Muki datang dengan kendaraan dan parkir sempurna di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, risikonya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam kendaraan beroda empat kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Muki menghentikan mobilnya sempurna di lapangan tenis yang ada di daerah Jakarta Barat.
“May, kau cantik sekali hari ini, boleh saya mencium kamu,” bisik Muki mesra.
“Muk, apa kita gres aja kenalan, dan kau belum tau siapa saya dan saya belum tau siapa kau sebenarnya, jangan-jangan kau sudah punya pacar.”
“Kalo saya sudah punya pacar, sudah pasti malam ahad ini saya ke tempat pacarku.”
“Muk, terus terang semenjak pertama kali melihat kau saya pribadi tertarik.”
Tiba-tiba tangan Muki memegang tanganku dan meremasnya berpengaruh -kuat.”Aku juga May, begitu melihat kau pribadi tertarik.”
Dan Muki menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Muki memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Muki sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Muki mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali saya dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, saya yang pribadi menarik tubuh Muki dan mencium bibirnya. Ciuman Muki sepertinya sudah andal sekali dan membuatku begitu berangasan untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Muki mulai meraba sekitar dadaku.
“Jangan Muk, saya tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, saya malu Muk,” jawabku.
Sebenarnya saya ingin dadaku diremas oleh Muki alasannya saya sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
“May, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok.”
Akhirnya saya setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Muki sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Muki pribadi melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan saya membiarkan tangan Muki meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju.
Tiba-tiba Muki membisikkan sesuatu di telingaku, “May, kau membuat nafsuku naik.”
“Aku juga Muk,” balasku manja.
Dan Muki menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah penisnya. “Astaga,” pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Muki sudah sangat tegang sekali. Dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. “Teruskan may, remas yang berpengaruh dan lebih berpengaruh lagi.” Tak lama kemudian, tangan Muki sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan ketika itu saya memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya. Kebetulan saya memakai BH yang dibuka dari depan.
Akhirnya tangan Muki berhasil meremas susuku yang gres pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang gres kukenal. Muki meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Muki memegang puting susuku yang sudah keras. “Teruskan Muk, saya enak sekali..” Dan tanpa sengaja saya pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada ketika itu memakai celana kain. “Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Muki untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian saya sudah meremas-remas penis Muki yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. “Teruskan Muk, saya enak sekali..” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan risikonya kami keluar dengan perasaan kecewa.
“Kita pribadi pulang ya May sudah malam,” pinta Muki.
“Muk, bekerjsama saya belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:15, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra.
Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Muki. Mudah-mudahan Muki mengerti apa yang kuinginkan.
“Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi resah juga,” balas Muki dengan nada gembira. Sampai di senayan, Muki memarkirkan mobilnya sempurna di bawah pohon yang jauh dari kendaraan beroda empat lainnya. Dan setelah Muki menghentikan mobilnya, tiba-tiba Muki pribadi menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Muki begitu berangasan melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan pengecap yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi.
Tiba-tiba Muki melepaskan ciumannya.
“May, saya ingin mencium susumu, bolehkan..”
Tanpa berkata sedikit pun saya membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan saya membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Muki. Dan kulihat Muki begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi saya sudah tidak tabah lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.
“May, apa ini gres pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu,” bisik Muki.
“Iya, Muk, gres kau yang pertama kali, saya menawarkan ke orang yang benar -benar saya inginkan,” balasku manja.
Tak lama kemudian, Muki dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggutunggu semenjak lama. Nafsuku pribadi naik pada ketika itu.
“Jangan berhenti Muk, teruskan ya… saya enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Muki untuk membuka reitsleting celananya. Dan saya membukanya.
Kemudian Muki mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami mampu dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Muki dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Reitsleting celana Muki sudah terbuka dan tiba-tiba Muki menurunkan celananya dan terlihat terperinci ada tonjolan di dalam celana dalam Muki. Dan Muki menurunkan celana dalamnya. Terlihat terperinci sekali penis Muki yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan saya tidak melepaskan kesempatan tersebut. Muki masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Muki menggigit puting susuku.
“Muk, teruskan ya… jilat aja Muk, sesukamu..” desahku tak karuan.
Sementara saya masih terus memegang penis Muki. Dan sepertinya Muki makin berangasan dengan permainan seksnya. Akhirnya Muki sudah tidak tahan lagi.
“May, kau isap punyaku ya… mau nggak?”
“Isap bagaimana..”
“Tolong keluarin punyaku di mulutmu.”
Sebenarnya saya masih bingung, tapi alasannya penasaran apa yang dimaui Muki, maka saya menurut saja apa permintaannya. Dan Muki merubah posisi duduknya, Muki menurunkan kepalaku hingga saya berhadapan pribadi dengan kepunyaan Muki.
“Muk, besar sekali punyamu.”
“Langsung aja may, saya sudah tidak tahan..”
Aku pribadi mengulum pelan-pelan kepunyaan Muki. Inilah pertama kali saya melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Muki. Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Muki. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan kuulangi lagi ibarat itu. Dan kepala penis kepunyaan Muki saya jilatin terus. Ah… benar-benar nikmat.
Sekitar lima menit saya menikmati permainan punya Muki, tiba-tiba, Muki menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. “Terus May, jangan berhenti, terus isap yang kuat, saya sudah tidak tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Muki mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Muki. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, saya tidak mampu melepaskan penis Muki dari mulutku, saya terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Muki.
Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak mampu melepaskan kepalaku alasannya ditahan oleh Muki. Aku terus melanjutkan isapanku dan saya hanya mampu melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Muki kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku.
“May, saya sudah keluar, banyak ya..”
“Banyak sekali Muk, saya tidak sanggup untuk menelan semuanya, alasannya saya belum biasa.”
“Tidak apa-apa May..”
Kemudian Muki mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Muki. Dan Muki mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah sempurna jam 11 malam. Dan saya diantar oleh Muki sempurna jam 11 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa saya sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Muki esoknya.Dan, malam itu saya masih teringat akan penis Muki yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya saya menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.
Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, saya risikonya mampu keluar rumah.Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Muki menjemputku dan Muki membawaku ke suatu tempat yang masih teramat absurd buatku.
“Tempat apa ini Muk,” tanyaku.
“May, ini tempat kencan, daripada kita kencan di kendaraan beroda empat lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih
aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau.”
“Entahlah Muk, saya masih takut tempat ibarat ini.”
“Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita pribadi menuju kamar yang kita pesan.”
Dan hingga di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah masbodoh dan nyaman sekali, tidak ibarat yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.
“Maya, kita kalem di sini aja ya… mungkin hingga sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kau mau..” pinta Muki.
“Aku setuju saja Muk, terserah kamu.”
Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Muki membaringkan badanku di tempat tidur. “May, kau mau kan melakukannya sekali lagi untukku.” Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Muki berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih terperinci lagi kepunyaan Muki daripada malam kemarin. Ternyata kepunyaan Muki lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Muki sudah terlihat bugil di depanku.
Muki memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Muki menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai. Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Dan pelan-pelan tangan Muki mengelus susuku yang sudah keras. Dan lama -kelamaan tangan Muki sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Muki jongkok sempurna di depan vaginaku. Muki memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku.
“May, bodi kau bagus sekali.”
Muki sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku.
“May, seandainya hari ini perawanmu hilang, kau bagaimana.”
“Terserah kau Muk, saya tidak peduli wacana perawanku, saya ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan saya kepengen sekali melakukannya denganmu..” Akhirnya saya pasrah apa yang dilakukan oleh Muki.
Kemudian Muki meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Muki bebas menciumiku dan saya juga bebas menciumi Muki. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini saya melakukannya ibarat kekerabatan suami istri. Muki menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Muki hingga di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Muki membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya.
Ah… nikmat sekali. Seandainya saya tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Muki sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar. Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Muki sambil meremas susuku dan memainkan putingku, saya rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Muki sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku.
Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak mampu kutahan lagi, kukatakan pada Muki.
“Muk, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan -pelan,” pintaku.
Muki lalu bangun dari arah bawah. Dan menciumi bibirku.
“May, kau sudah siap saya masukkan, apa kau tidak menyesal nantinya.”
“Tidak Muk, saya tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya.”
Lalu Muki melebarkan kakiku dan terlihat terperinci sekali punya Muki yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah berair sekali. Dan kubimbing penis Muki supaya sempurna masuk di lubang vaginaku. Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, risikonya punya Muki berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku.
“Oh… enak sekali,” jeritku.
Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar kepunyaan Muki. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Muki, membuat hari itu saya sudah tidak perawan lagi. Muki membisikkan sesuatu di telingaku, “May, kau sudah tidak perawan lagi.”
“Ngga apa-apa Muk, jangan dilepas dulu ya…”
“Terus Muk, goyang lebih kencang, saya enak sekali..” Dengan posisi saya di bawah, Muki di atas, kami melakukannya lama sekali. Muki terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Muki masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga.
“Muki sepertinya saya sudah tidak tahan lagi… saya mau keluar.”
“Keluarin terus May, saya tidak akan melepaskan punyaku.”
“Muk, saya tidak tahan lagi… a..ahh… aaahh.. saya keluar Muk, saya keluar.. keluar Muk..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaa… aaaa..” Pada ketika orgasme yang pertama, Muki pribadi menciumi bibirku. Oh… benar -benar luar biasa sekali enaknya.
Akhirnya saya menikmati kehangatan punya Muki dan saya masih memeluk tubuh Muki. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin.
“May, saya masih mau lagi, tidak akan kulepaskan… sekarang saya mau posisi enam sembilan. Kamu isap punyaku dan saya isap punyamu.”
Kemudian kami berubah posisi ke enam sembilan. Muki mampu sangat terperinci mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang.
“May punyamu lebar sekali.”
“Isap terus Muk, saya ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali.”
Aku terus mengisap punya Muki sementara Muki terus menjilati vaginaku dan kami melakukannyasangat lama sekali. Penis Muki yang sudah sangat keras sekali membuatku berangasan untuk melawannya. Dan permainan lisan Muki di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat ibarat ini tidak ingin kuakhiri.
“Muk… saya mau keluar lagi… saya tidak tahan lagi honey…”
“Tahan sebentar May, saya juga mau keluar..”
Tiba-tiba Muki pribadi merubah posisi. Aku di bawah dan ia di atas. Dengan cepat Muki melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Muki ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Dan sekali lagi Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi risikonya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Muki yang besar.
“Dorong yang keras Muk, lebih keras lagi,” desahku. Muki menggoyangan badannya lebih cepat lagi.
“Iya Muk, ibarat itu… terus… aaa..aaa… enak sekali, saya mau melakukannya terusmenerus denganmu..”
“May, saya sudah tidak tahan lagi… saya mau keluar…”
“Aku juga Muk, sedikit lagi, kita keluar sama -sama ya… aaa..”
“May… saya keluar..”
“Aku juga Muk… aaa… aa… terasa Muk, terasa sekali hangat spermamu..”
“Aduh, May… goyang terus May, punyaku lagi keluar…”
“Aduh Muk… enak sekali…”
Bibirku pribadi menciumi bibir Muki yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama bengong dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak mampu diukur.
“May… spermaku sekarang ada di dalam punyamu.”
“Ia Muk…”
Tidak lama kemudian, Muki membersihkan cairan spermanya di vaginaku.
“May, kalo kau hamil, saya mau bertanggungjawab.”
“Iya Muk..” jawabku singkat.
Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan saya mengalami kenikmatan hingga dua kali. Sekali keluar pada ketika Muki menjilati vaginaku dan sekali lagi pada ketika Muki memasukkan penisnya ke vaginaku. Muki pun mengalami hal yang sama.
Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kali melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak hingga satu jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitunghitung dalam melaksanakan kekerabatan badan, saya sudah keluar 8 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar diisap oleh Muki hanya 3 kali. Makara sudah 11 kali saya keluar. Sementara Muki sudah 7 kali.
Malamnya sempurna jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jikalau dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja saya sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan hingga sekarang hubunganku dengan Muki bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja. Dan, gres kali ini saya mampu mencicipi tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah. Besoknya saya harus sekolah ibarat biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, saya datang bulan. Dan kemarin (tanggal 20 Februari 2001) ini saya masih dapat. Aku pribadi menelepon Muki sepulang dari sekolah.
“Muk, saya dapat lagi, dan saya tidak hamil.”
“Iya May… syukurlah…”
“Muk, saya ingin melakukannya sekali lagi, kau mau Muk..”
Dan, ternyata kami mampu melakukannya di mana saja. Kadang saya mengisap penis Muki sambil Muki menyetir kendaraan beroda empat yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan sperma Muki keluar yang tentunya semua kutelan, alasannya sudah biasa, setelah itu tangan Muki memainkan vaginaku. Kadang juga sebelum pulang saya tidak lagi mencium bibir Muki, tapi saya mengisap kepunyaan Muki sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Muki sudah keluar. Dan saya masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku.
Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melaksanakan kekerabatan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang hingga sore dan hanya dilakukan 
3