Para Bidadari Dari Surga Part 1

Para Bidadari Dari Surga Part 1
Para Bidadari Dari Surga Part 1 - Sangat sulit tentunya sanggup berkumpul bersama bagi mereka yang kini sudah memiliki kesibukan masing-masing, apa lagi sebagian dari mereka kini sudah menikah dan memiliki anak, tapi walaupun sudah berkeluarga, mereka tetap saling menyayangi dan sangat perduli dengan satu sama lainnya. Dan hari ini mereka berkumpul bersama membahas pernikahan Adik bungsu mereka yang berencana ingin segera melepas masa lajangnya.

Dan untuk membahas masalah tersebut mereka menetapkan untuk berkumpul di rumah Ema Salima Salsabilla, alasannya diantara mereka berlima Ema anak paling tua, sehingga tidak heran kalau mereka menganggap Ema menyerupai orang renta mereka sendiri setelah kedua orang renta mereka meninggal dunia.

“Kamu serius mau menikah?” Tanya Ema setelah mereka gres saja selesai menyantap makan malam bersama, dan kini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Iya saya serius Mbak, saya pikir sudah saatnya saya melepas masa lajangku.” Jelas Ana sembari tersenyum yakin dengan keputusannya.

“Menikah itu tidak muda. Tanggung jawab kau sebagai seorang wanita akan bertambah?” Ujar Elvi sambil mengambil keripik singkong kesukaannya yang ada di atas meja.

“Benar apa yang dikatakan Mbak Elvi Ana, apa lagi calon Suami kau kerjanya ketika ini gak jelas, saya takut nanti kau bernasib sama denganku.” Ina mengingatkan saudaranya perihal bagaimana nasibnya ketika ini.

Ina yang usianya hanya terpaut satu tahun dari adiknya, memang sudah menikah dua tahun yang lalu, tapi kehidupan rumah tangganya tidak begitu harmonis, alasannya Suaminya hanyalah seorang pengangguran, membuatnya kini menjadi tulang punggung keluarga.

“Husst… kau gak boleh ngomong menyerupai itu.” Sergah Emi kepada Adiknya.

“Ingat dulu kau yang memilih Hasan untuk menjadi Suami kamu, bukannya dulu Mbak sudah ingatkan kamu!” Ujar Ema menai Adiknya, yang di nai hanya diam saja.

“Seharusnya kau bersyukur sudah meiliki pendamping hidup yang menyayangi kamu, dan selama ini Mbak lihat Suami kau sudah berkerja keras mencari pekerjaan, ia bukan orang yang pemalas hanya duduk diam di rumah.” Timpal Emi, sambil mendesah lirih.

“Sudah… sudah… ketika ini kita sedang membahas pernikahan Ana!” Lerai Elvi.

Kemudian mereka kembali sibuk membahas pernikahan Anna, dan di lanjut dengan mengobrol ringan bercanda gurai. Rasanya sudah lama mereka tidak menyerupai ketika ini, sanggup saling menai, memberi masukan dan bercanda santai sambil tertawa ringan.

Tak terasa waktu terus berputar, sampai alhasil satu persatu dari mereka pulang kerumah masing-masing, kecuali Anna yang masih tinggal di kamar kossan.


###

Satu…

Ema Salima Salsabila

Seperti biasanya, saya berdiri lebih awal. Menyiapkan semua keperluan Suami dan anak gadisku. Di mulai dari memasak yang di bantu oleh Inem, selesai memasak, saya segera kembali kekamarku, membangunkan Suamiku yang masih terlelap.

Perlahan saya duduk di tepian tempat tidur, cukup lama saya memandangi wajah Suamiku.

Tidak terasa sudah tujuh belas tahun lebih kami menikah, sampai kami melahirkan seorang Putri yang begitu cantik, dan membanggakan.

“Bangun Mas!” Panggilku lirih…

Tubuh Mas Tio menggeliat, dengan perlahan ia membuka matanya dan kemudian tersenyum kearahku. “Jam berapa sekarang?” Tanyanya dengan bunyi yang serak.

“Sudah jam lima, ayo bangun!” Pintaku.

Tapi tiba-tiba Mas Tio memeluk pinggangku menjatuhkanku diatas tempat tidur kami. Lalu ia mulai menyerangku, mencium sekujur wajahku, dan terakhir ia memanggut bibirku lembut penuh kasih sayang.

“Mas… nanti anak kita Asifa kesiangan loh!” Kataku mengingatkannya.

Dia membelai wajahku. “Ini hanya sebentar kok sayang, boleh ya…” Bujuknya, tapi tanpa menunggu tanggapan dariku ia melucuti celana piyamaku berikut dengan celana dalam yang saya kenakan.

Kalau sudah begini saya hanya pasrah membiarkan dirinya merampungkan birahinya. Bukankah ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang Istri yang wajib melayani Suaminya. Dalam kondisi apapun saya dilarang menolaknya, alasannya surgaku ada di rhidonya.

Dengan perlahan kurasakan penis Suamiku yang menyeruak masuk kedalam vaginaku yang masih kering. “Aaahkk…” Aku merintih pelan.

Dengan ritme pelan Suamiku mulai menggerakan pinggulnya maju mundur, sampai alhasil akupun mulai terangsang dan menikmati setiap gesekan yang terjadi antara kelamin kami berdua.

“Kamu sangat anggun sekali, walaupun sudah tidak muda lagi, tapi wajah dan bentuk tubuhmu sama menyerupai anak cukup umur pada umumnya.” Aku tersipu aib mendengar pujiannya terhadapku.

“Aahk… Mas sanggup aja! ”

“Mas tidak berbohong sayang, dan… Aahkk…” Tubuh Suamiku bergetar dan kemudian kurasakan lelehan hangat masuk kedalam rahimku.

Tubuhnya ambruk kesamping tubuhku dengan nafas yang memburu. Dia menatapku sebagai ungkapan terimakasih, dan saya menjawabnya dengan tersenyum semanis mungkin.

Segera saya mengenakan kembali celanaku, membiarkan Suamiku beristirahat sejenak sementara saya membangunkan anak semata wayangku yang tentunya ketika ini masih tertidur lelap. Setelah membangunkan mereka berdua, saya kembali di sibukan menyiapkan sarapan mereka berdua.

Tugasku gres berakhir ketika mereka berdua meninggalkan rumah dan sibuk dengan program mereka masing-masing.

Selesai mandi, saya berencana untuk bersantai sejenak di depan tv, tapi siapa yang menyangkah saya malah ketiduran di depan tv. Bangun-bangun tubuhku terasa begitu sakit, sepertinya saya sangat kelelahan apa lagi tubuhku sudah lama tidak di pijit.

Lebih baik saya meminta Inem memijittiku sebentar, siapa tau habis itu tubuhku tidak pegel lagi.

Aku berjalan santai menuju kamar Inem yang berada di erat dapur, setibanya saya hendak mengetuk kamar Inem, tapi tiba-tiba langkahku terhenti ketika mendengar bunyi yang asing dari dalam kamar Inem, bunyi desahan yang sangat familiar di telingaku

Tanpa mengetuk pintu lagi saya membuka kamar Inem dan benar saja. “Astafirullah… kalian ngapain?” Aku memekik kaget ketika melihat Inem sedang berada diatas selangkangan Pak Rusman, sementara di belakangnya ada Pak Darto.

“I…ibu!” Panik Inem.

Tapi kedua pria pembantuku itu seolah tak perduli dengan kehadiranku, mereka masi saja menyetubuhi Inem pembantuku, membuatku murka dan sangat geram dengan kelakuan mereka yang kurang ajar.

Aku bertekad akan melaporkan perbuatan zina mereka, kepada Suamiku, dan memecat mereka semua.

Aku hendak meninggalkan kamar Inem, tapi tiba-tiba seseorang memeluk pinggangku dan kemudian menarikku masuk kedalam, belum sadar akan ancaman yang menimpaku, tiba-tiba Ujang menutup pintu kamar Inem dan menguncinya dari dalam.

“Mau apa kau Jang?” Aku membentaknya marah.

Ujang hanya tersenyum dan kemudian ia melucuti pakaiannya sampai telanjang bulat. “Ya Tuhaan…” Aku meringis ketakuttan.

###

Emi Sulia Salvina

“Assalamualaikum!”

Aku masih berada di dapur ketika mendengar salam dari putra semata wayangku. Aku segera menuju pintu rumah utama, kulihat putraku sedang menangis, pakaiannya berantakan, dan wajahnya terlihat memar, bahkan bibirnya sedikit berdarah.

“Astafirullah!” Ucapku kaget, kemudian saya memeluk anakku, dan mengajak masuk kedalam rumah.

Aku segera mengambil obat di dalam kotak p3k milikku, kemudian kembali menemani putraku, kusuruh ia untuk tidur diatas pangkuanku, kemudian dengan perlahan saya mengobati luka di wajahnya.

Ya Tuhan… siapa yang begitu tega memukul anakku, ini sudah kesekian kalinya saya melihat Toni pulang dalam keadaan terluka.

Kali ini saya harus berhasil memaksa Toni untuk menceritakan apa yang bergotong-royong terjadi terhadap dirinya. Dan saya harus tau siapa yang telah berani memukul anakku, sampai ia babak belur menyerupai ini.

“Masi sakit Ton?” Tanyaku setelah mengobati luka di wajahnya.

“Iya Bun, rasanya sakit banget!”

“Cerita sama Bunda, siapa yang sudah berani mukulin kamu, agar nanti Bunda yang menghukum mereka.” Jelasku, sambil mengusap lembut pipi anakku yang mewar simpulan pukulan.

Toni tertenduk, ia tak berani menatap mataku. “Gak ada Bunda.” Jawabnya, terang kalau ia sedang berbohong, luka ini tidak mungkin ada kalau ia tidak di pukuli.

“Bilang sama Bunda, siapa yang sudah memukul kamu? kau pasti tidak mau di pukulin lagi kan?” Tanyaku pelan dengan nada lirih.

Toni mengangkat wajahnya dan kemudian tersenyum, tapi ia tetap.diam tidak mau memberi tauku, siapa yang telah berani memukulinya. Aku mendesah pelan kemudian kembali saya memeluknya dengan sangat erat.

Tak lama kemudian seorang cowok menghampiriku yang sedang memeluk putraku.

“Baru pulang Wan?”

“Iya Bun, ia kenapa lagi Bun, kok mukanya bonyok gitu?” Tanya Irwan, melihat kearah wajah Toni yang lebam alasannya di pukulin.

Kulihat ia tampak begitu khawatir, ia segera menarik pundak anakku, dan melihat wajah anakku dari dekat. Kulihat Irwan tampak kesal setelah melihat wajah Toni yang berantakan.

Tidak heran kalau Irwan tampak murka melihat wajah Toni yang terluka, mengingat Irwan ialah keponakan dari Suamiku, secara tidak langsung ia ialah Kakak dari anakku.

“Siapa yang mukulin Adek Bun?”

“Toni belum mau cerita! Ya sudah kau istirahat dulu ya sayang, Bunda mau masak dulu, kau juga ya Wan!” Kataku kepada mereka berdua.

“Iya Bun.” Jawab Toni, kemudian ia beralu kekamarnya.

“Aku mau nemanin Bunda masak, bolehkan Bun?” Tanya Irwan, saya tersenyum, ia memang anak yang baik, selalu mau membantuku, meringangkan pekerjaanku.

Semenjak tinggal di rumah kami, Irwan memang sudah terbiasa memanggilku dengan panggilan Bunda, sama menyerupai putraku memanggilku.

“Yakin?”

“Sangat yakin, kapan lagi sanggup bantuin Bunda yang cantik!” Jawab Irwan, saya hanya tertawa renyah mendengar gombolannya.

######

Elvina

Aku gres saja tiba di rumah sekitar jam lima sore, gres saja saya memarkir kendaraan beroda empat honda jazz milikku, tiba-tiba seorang wanita simpel mengenakan mini dress berwarna merah keluar dari dalam rumah. Dia sempat melihatku kemudian tersenyum meninggalkan rumah.

Aku mendengus kesal, ini pasti ulah mertuaku yang lagi-lagi menyewa psk.

Aku tau ia seorang duda, tapi menyewa psk dan membawanya kerumahku tentu ini sudah sangat keterlaluan, apa lagi ini bukan kali pertama saya melihat ia membawa masuk psk kedalam rumahku, tapi ini sudah untuk kesekian kalinya.

Bahkan perna suatu hari, ketika saya pulang lebih awal dari kantor tempatku bekerja, saya memergoki Bapak Mertuaku sedang bercumbu mesrah dengan seorang psk di dalam kamarku.

Tentu saja saya murka dan mengusirnya keluar, tapi setelah itu saya tidak perna mengungkitnya lagi, bahkan saya tidak mengadu ke Suamiku, saya memilih diam dan berharap suatu hari nanti Mertuaku mau bertaubat.

“Astafirullah!” Aku beristifar pelan.

Aku dilarang emosi menyerupai ini, setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya.

Segera saya masuk kedalam rumahku, kulihat Mertuaku sedang duduk sambil menonton tv. Seeperti biasanya, walaupun saya merasa kesal dengan tingkahnya, saya tetap berlaku sopan kepadanya.

“Pak!” Sapaku, kemudian mengamit tangannya dan mencium tangannya.

“Baru pulang Vi?” Tanyanya.

Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Maaf Pak cewek tadi yang gres keluar siapa ya?” Tanyaku dengan sopan, ia melihatku sejenak, kemudian kembali mengarahkan matanya kelayar tv.

“Dia sobat Bapak, tadi cuman mampir!”

Sebenarnya saya ingin sekali murka kepadanya, menegurnya dengan keras, tapi saya takut hubunganku dengannya akan menjadi buruk, tentu saja masalah ini akan berimbas terhadap Suamiku. Aku tidak ingin membuat Suamiku khawatir.

Aku lebih memilih diam, dan segera masuk kedalam kamarku yang sunyi, alasannya tiga hari ini Suamiku sedang berada di luar kota.

Segera saya membuka pakaianku sampai telanjang bulat, kemudian kuambil handukku, dan berjalan santai menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar mandi. Kugantungkan handukku di belakang pintu, kemudian sambil bernyanyi riang saya membiarkan air shower membasuh tubuhku.

Kuambil sabun cair, dan kutumpahkan sabun itu di kedua tanganku, kemudian dengan perlahan kedua tanganku yang penuhi sabun, mulai bergerilya di tubuhku, membelai perutku yang ramping terus naik sampai keatas payudarahku. “Aahkk…!” Aku merintih pelan ketika jari nakalku menyentuh puttingku.

Lagi-lagi saya menyerupai ini, padahal gres tiga hari Suamiku pergi, tapi saya sudah sangat merasa kesepian.

“Aahkk… Mas, saya merindukanmu!” Bisikku lirih.

Kedua tanganku semakin intens merangsang payudarahku, meremasnya dengan perlahan, memilin puttingku, membuat wajahku mengada keatas sanking nikmatnya.

Perlahan tangan kananku turun kebawah, kemudian kuselipkan jari tengahku kedalam bibir vaginaku yang semakin berair alasannya lendir precum yang keluar dari vaginaku seakan tak mau berhenti. “Ohk!” Kembali saya merintih, membayangkan Suamiku yang ketika ini sedang menyetubuhiku menyerupai biasanya.

Semakin lama jariku bergerak semakin cepat, sampai alhasil saya tidak tahan lagi, dan… “Aaaahkk..” Aku memekik cukup keras seiring dengan orgasme yang telah saya dapatkan.

Astaga… lagi-lagi saya bermasturbasi, lama-lama saya tidak besar lengan berkuasa kalau harus begini terus.

Mas cepatlah pulang….

###

“Sudah mau pergi sayang!” Sapa Suamiku yang gres saja meletakan segelas susu hangat di atas meja. “Susunya di minum dulu bidadari surgaku.” Dia tersenyum menyerupai biasanya, menyapaku dengan panggilan sayang.

“Terimakasi Mas!”

“Anton belum jemput kau sayang, ini sudah jam tujuh lewat, apa perlu Mas yang antrrin kamu?”

“Bentar lagi Mas Anton juga dateng!”

“Nanti kau telat loh.”

“Gaklah Mas, biasanya juga nanti Mas Aton pasti jemput saya kok, gak mungkin ia langsung kekantor!”

“Ya sudah terserah kau aja!”

Dan lima menit kemudian terdengar bunyi deruh mesin di depan rumahku. Aku dan Suamiku segera keluar rumah, kulihat Mas Anton keluar dari dalam mobilnya, ia tersenyum kemudian menyapa kami.

“Assalamualaikum!” Sapanya.

“Waalaikumsalam.” Jawabku, “Kok datangnya telat Mas, kita hampir terlambat ni!” Kataku sedikit merajuk, dan menyerupai biasanya Mas Anton hanya tertawa menanggapi rajukanku, bahkan menyerupai tidak perduli.

Oh ya, namaku Inaya Septa Renata, usiaku ketika ini 26 tahun, dan alhamdulillah sudah satu tahun ini saya di angkat menjadi Pegawai Negri Sipil, berkat proteksi dari Mas Anton. Aku merasa sangat berhutang budi terhadap Mas Anton yang telah begitu banyak membantu berkorban untuk keluarga kecilku.

Mas Aton sendiri ialah sahabat baik dari Suamiku Mas Hasan, mereka saling mengenal semenjak mereka duduk di kursi kuliah.

Hubunganku dengan Mas Anton sekian hari makin dekat, alasannya setiap hari kami selalu pergi pulang kerja bareng, alasannya kebetulan kami satu kantor, sanking dekatnya korelasi kami saya sudah menganggap Mas Anton menyerupai Kakakku sendiri, ia tempatku berkeluh kesah di kalah senang maupun sedih.

“Mas Hasan, saya pergi dulu ya!” Pamitku, kemudian mencium tangannya.

“Hati-hati di jalan, Mas Anton, saya titip Istriku ya.” Kata Suamiku, Mas Anton hanya mengangkat tangannya bertanda kalau ia bersedia menjagaku.

Segera kami masuk kedalam mobilnya, dengan perlahan kendaraan beroda empat Mas Anton berjalan meninggalkan Suamiku yang menyerupai biasanya selalu melambaikan tangannya sampai kendaraan beroda empat kami menghilang dari pandangannya.

Selama di perjalanan menuju kantor, menyerupai biasanya kami selalu bercanda gurau.

“Tapi serius loh Dek, kau hari ini beda banget!” Dasar Mas Anton memang paling suka menggodaku, membuatku terkadang aib sendiri.

“Uda dong Mas neggombalnya.”

“Serius loh Dek, kau terlihat lebih seksi dari biasanya! Mas aja tadi sempat pangling waktu melihat kau barusan, Mas pikir tadi siapa.” Dia menoleh sebentar kearahku, kemudian tangannya mengamit tanganku.


Tanpa sadar saya meremas tangannya yang sedang menggenggam tanganku.

Entah kenapa akhir-akhir ini setiap kali berdekatan dengannya, jantungku selalu berdetak lebih cepat, selain itu tak jarang saya suka salah tingkah setiap kali ia menggombal, rasanya sangat berbeda ketika Suamiku yang menggombal.

Seperti hari ini ia terus-terusan memujiku, alasannya saya menuruti sarannya untuk memperkecil ukuran pakaian dinasku, sehingga saya terlihat begitu seksi katanya.

Kalau seandainya saja yang memujiku ini bukan Mas Anton, mungkin saya akan sangat marah, tapi alasannya yang memujiku ini ialah Mas Anton, rasanya saya tidak sanggup marah, malahan saya merasa bangga menerima kebanggaan dari dirinya walaupun kebanggaan itu terdengar vulgar.

“Emang seksinya dari mana sih Mas?”

Dia kembali tertawa renyah. “Lihat payudarahmu Dek, terligat lebih menantang dari sebelumnya, apa lagi pantat kau Dek, Uh… rasanya Mas gak sabar pengen melihatnya lagi.” Gombalnya senang, membuatku semakin gemes oleh tingkahnya.

“Mas nakal, nantik saya aduhin sama Mas Hasan.” Kataku sembari mencubit perutnya.

“Auw, sakit Dek! Nanti seksinya hilang loh!”

“Biarin.” Kataku merajuk.

Dan alhasil Mas Anton selama sisa perjalanan kami ia terus membujukku semoga saya tidak cemberut, tapi saya pura-pura tidak memperdulikannya.

###

Ema Salima Salsabila

Dengan sekuat tenaga saya hendak melepaskan diri, tapi Ujang dengan erat memelukku, ia memaksaku melihat adegan panas antara Mbak Inem dengan Pak Darto dan Pak Rusman, membuatku merasa sangat jijik dengan mereka semua. Bagaimana mungkin mereka memperlakukanku menyerupai ini sebagai majikan mereka, yang seharusnya sangat mereka hormati.

Mereka benar-benar tidak tau diri, selama saya dan Suamiku memperlakukan mereka layaknya menyerupai keluarga, tapi apa yang mereka perbuat ketika ini sungguh sangat keterlaluan.

Ujang memaksaku duduk di pangkuannya, sementara ia duduk di kursi.

Sambil menonton adegan live show yang ada di hadapanku, Ujang dengan beraninya menggerayangi tubuhku, ia mencium tengkukku yang masih tertutup kerudung, sementara kedua tangannya mencengkram erat payudarahku. Ya… Tuhaan, Aahkk… remasan Ujang dan pemandangan yang ada di hadapanku ketika ini, sedikit banyak membuatku terangsang.

Kulihat penis Pak Rusman keluar masuk dengan perlahan di dalam vagina Inem, sementara penis Pak Darto dengan gerakan cepat menyodomi Inem dari belakang.

Untuk pertama kalinya di dalam hidupku melihat pemandangan erotis menyerupai ini, dan parahnya lagi, adegan terlarang itu di lakukan oleh pembantuku sendiri. “Astafirullah!” Aku mengucap dalam hati.

“Paak… Ooohkk… Ineeem mau keluaaar lagi!” Erang Inem, kulihat tubuh bugil Inem tersentak-sentak selama beberapa detik, dan kemudian tubuhnya melemas, jatuh kedalam pelukan Pak Rusman. Tapi mereka berdua bukannya berhenti malah semakin beringas menyetubuhi Inem, bahkan kulihat Pak Darto memukul pantat Inem cukup keras.

Tidak… kenapa saya menyerupai ini? Oh… Tuhan, Aku tidak mungkin terangsang… tapi ini…. Aaahk…!

Kusandarkan kepalaku di pundak Ujang sambil merontah kecil kepadanya, sementara Ujang semakin keras meremas payudarahku, bahkan sambil menciumi pipiku, asisten Ujang beralih kebawah menuju keselangkanhanku, saya sanggup merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu penisanya menyerupai menyundul pantatku.

“Kayaknya Ibu sudah terangsang ya?” Ia menggodaku, berbisik di telingaku.

Aku menggeleng lemah. “Tidaaak… Aahkk… Lepaskan saya Mas Ujang! Aaahhkk…. Ooghk…. Cukup, jangan lecehkan saya lagi Mas, ini dosa besar Mas!” Aku memohon tapi tak benar-benar berusaha menghentikan perbuatan cabul yang di lakukannya.

“Coba Ibu lihat Inem? Ibu maukan menyerupai Inem, kita akan bikin Ibu ketagihan dengan kontol kami, setiap hari Ibu akan kami perkosa sama menyerupai Inem!”

“Perkosa?” Kataku panik. “Jangan Mas Ujang! Saya mohoon, saya akad tidak memecat ataupun melaporkan perbuatan kalian tapi tolong Mas, jangan menyerupai ini, lepaskan saya Mas, saya sudah bersuami!” Aku memohon kepada mereka.

“Yakin mau di lepaskan?”

“Khaaaayaaakkkiiiin…” Aku memekik ketika Ujang meremas kasar dadaku.

Tapi tak lama kemudian tiba-tiba Ujang memanggut bibirku, meredam suaraku dengan melumat bibir merahku, menghisapnya dengan perlahan membuatku kaget sekaligus semakin terbawa suasana erotis.

Oh Tuhan… ia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, saya tidak perna merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak perna melakukannya seenak ini, tapi dia… Aahkk… ia hanya pembantuku, tapi ia sanggup membuatku merasa nyaman menyerupai ini, dan lagi….

“Cukup…” Aku tersadar kudorong dadanya.

Astaga… Apa yang kulakukan barusan, hampir saja saya menikmati sentuhannya di bibirku.

“Kalian sudah selesai belom, sisain tenaga buat ronde kedua ni?” Tanya Ujang kepada mereka yang ketika ini sedang berbaring dalam keadaan telanjang bulat, sepertinya mereka gres selesai.

“Udah… hayu kita lanjut.” Kata Pak Darto.

“Serius Mas Ujang mau ngelakuin ini sama Ibu, selama ini Ibu baik sama kita, masak kita malah ngelakuin ini sama Ibu.” Aku sanggup sedikit bernafas lega mendengar penuturan Inem, dan berharap mereka mau mendengarkan Inem.

“Tenang aja Nem, kau aja ketagihankan?” Tanya Ujang, kulihat Inem tertunduk malu.

“Nambah satu bidadari surga lagi ni.” Girang Pak Rusman.

“Pak Darto, tolong ambilkan tali ya, dan kau Inem, jangan lupa siapin hp kamu.” Perintah Ujang kepada mereka berdua.

“Siap atuh Jang!” Jawab Pak Darto, kemudian ia buru-buru keluar kamar Inem.

Entah kenapa saya yang semakin panik tak membuatku bergeming turun dari atas pangkuannya, bahkan ketika Ujang menggendong dan menjatuhkanku diatas tempat tidurku, saya hanya diam, seakan saya pasrah menanti nasibku selanjutnya di tangan mereka.

Tidak… saya harus lari, mereka bermaksud buruk kepadaku, saya dilarang tinggal diam, saya harus berontak apapun yang terjadi saya harus keluar.

Dengan sekuat tenaga saya mendorong tubuh Ujang sampai ia terjengkang kebelakang, kemudian dengan secepat kilat saya hendak melarikan diri tapi sebelum pintu kamar Inem terbuka, Pak Rusman sudah membukanya lebih dulu, sehingga satu-satunya jalan masuk bagiku untuk melarikan diri ketutup oleh Pak Rusman.

“Tolong Pak!” Aku memelas untuk terakhir kalinya.

###

Inayah Sipta Renata

“Dicariin, ternyata kau malah ada di sini!”

“Kangen ya… gres juga di tinggal beberapa menit uda kangen aja Mas!” Kataku menggodanya.

“Gimana gak kangen, kalau dada kau selalu terbayang di benak Mas. Bikin pekerjaan Mas jadi acak-acakan tau.” Katanya, sambil mengaduk kopi cappucino miliknya.

Aku memasang wajah imutku. “Ya maaf Mas!” Bisikku lirih sambil memanyunkan bibirku.

“Kamu harus tanggung jawab!”

“Hah?” Kataku kaget. “Emang Aku harus gimana Mas, agar Mas gak kepikiran lagi?” Tanyaku, entah kenapa saya mau saja mengikutin kemauannya.

Dia diam sejenak, kemudian matanya melirik sekeliling kantin, kemudian ia tersenyum.

Entah apa yang sedang ia pikirkan ketika ini, tapi saya merasa Mas Anton ingin kembali mengerjaiku menyerupai kemarin-kemarin. Duh… Mas, kau itu kok pembangkang banget si, bikin Adek serba salah.

“Buka dikit dong” Tuhkan bener.

“Apanya Mas?” Tanyaku pura-pura bingung.

Dia meneguk air liurnya. “Kancing baju kau buka dua ya, Mas pengen lihat kayak kemarin!” Pintanya, membuatku kembali tegang.

“Mas ada-ada aja ni aib tau!”

“Malu kenapa?” Tanyanya.

“Malulah di lihat orang.”

“Ya kan gak ada orang lain, cuman ada kita berdua, terus ngapain juga kau malu, Adekkan cantik, seksi lagi… Seharusnya kau bangga punya dada sebesar itu.” Dia menunjuk dadaku dengan bibirnya.

Aku diam sejenak. “Tapi sebentar aja ya Mas.” Dia buru-buru mengangguk.

Dengan perasaan was-was, sambil melirik kekiri dan kekanan saya membuka dua kancing pakaian dinasku, sampai terlihat belahan dadaku dan belahan atas cup bra yang kukenakan.

Gila… kau gila Ina, ingat ini di kantin kantor, gimana kalau ada yang melihat kamu? Aahk… kau sbenar-benar sudah gila.

Tiba-tiba Mas Anton berdiri, kemudian ia mengamit tanganku dan langsung membawaku pergi, saya yang panik hendak kembali menutup kancing seragamku, tapi Mas Anton buru-buru menghetikanku. Entah mau apa lgi ia sekarang.

“Kamu seksi, saya ingin memamerkan keseksian kau ke semua orang!” Kata enteng mengakakku menuju kantor.

Mas Anton… kau selalu sanggup membustku berada dalam kondisi yang sulit menyerupai ketika ini, tapi saya menyukaimu caramu Mas.

####

Ema Salima Salsabila

Namaku Ema Salima Salsabila, usiaku ketika ini 39 tahun, memang usiaku sudah tidak muda lagi, tapi mungkin memang pada dasarnya keluargaku semuanya cantik-cantik dan baka muda, sehingga walaupun usiaku sudah mendekati kepala empat saya masih terlihat anggun dan bentuk tubuhku rasanya tidak perna berubah sedikitpun dari saya cukup umur sampai sekarang, walaupun saya sudah melahirkan seorang Putri.

Tidak heran kalau Suamiku tidak perna merasa bosan menjamah tubuhku.

Tapi di balik kesempurnaan yang kumiliki malah membuatku kini dalam bahaya, mereka para pembantuku berniat memperkosa diriku.

Aku berbaring diatas tempat tidurku, dengan kedua tangan terikat diatas kepalaku, sementara itu mereka bertiga mengelilingiku, dan Inem satu-satunya pembantu wanita dirumahku sedang memegang kamera hp yang di arahkan kepadaku.

“Jangan tegang Bu, vidio Ibu tidak akan kita sebar, ini hanya sebagai jaminan!” Ujar Ujang sambil membelai kepalaku yang tertutup kerudung.

“Tolong jangan sakiti saya.”

“Mana mungkin kami berani menyakiti Ibu.”

“Bener Bu, yang ada kami malah ingin membuat Ibu merasakan surga dunia.” Timpa Pak Darto, kurasakan tangannya membelai betitsku, terus naik sampai melewati lututku dan menuju kepahaku.

Aku yang panik berusaha memberontak, tapi dengan cepat Ujang memanggut bibirku, ia menghisap bibirku dengan perlahan, memaksaku membuka mulutku dan menghisap, membelit bibir dan lidahku. Sementara tangan kanannya kembali hinggap diatas payudaraku.

Oohkk… Tubuhku menggeliat!

Kenapa dengan diriku ini, ciuman Ujang terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. “Aahkk… ” Tangan siapa itu, kumohooon jangan naik lagi, saya sudah tidak tahan lagi, vaginaku… Aahkk… hentikan, cairanku sudah keluar.

Kurasakan tangan seseorang kini sedang membelai paha belahan dalamku, sementara kedua payudarahku ketika ini sedang di remas nikmat di balik gamis yang kukenakan, dan mulutku kini dengan suka rela tanpa perlawanan berarti membalas lumatan Ujang.

Tidak…. Gamisku sudah di singkap keatas, mereka pasti sanggup melihat kedua paha mulusku, dan lagi celana dalamku yang berwarna criem pasti sudah lecek alasannya precum ini tak mau berhenti keluar.

Satu-persatu kancing gamisku di buka dan kemudian “Breaaat….” Seseorang mengoyak gamisku.

Dengan sangat perlahan seseorang menarik kebawah cup braku, sehingga payudarahku berukuran 34C melompat keluar.

Belum hilang kekagetanku, sekilas saya melihat wajah Pak Rusman mendekati payudarahku, lalu… Oh Tuhan… lidahnya menari-nari di sekitaran payudaraku mengelilingi aurolaku, membuat saya semakin tidak tenang, nafasku memburu dan jantungku… Aahkk!

Celana dalamku di tarik… Jangan-jangan saya mohon, siapapun tolong aku, kedua tanganku terikat saya tidak sanggup menghentikannya.

Dan… Uuhkk… sapuan apa lagi ini! Aaahkk… Aku tidak tahan lagi….

“Memeknya sudah berair Jang!” Kudengar bunyi Pak Darto mengomentari vaginaku.

Ujang melepaskan ciumannya. “Ingat, jangan sakiti majikan kita, buat seenak mungkin!” Komentar Ujang, ia menatapku sembari tersenyum.

Kenapa dengan diriku ketika ini, saya sedang di perkosa seharusnya saya marah, bukan merasa aib menyerupai ini, bahkan rasa aib ini terasa lebih besar ketimbang ketika saya melaksanakan malam pertama dengan Suamiku dulu. Apa ini yang di sebut puber kedua? Tidak mungkin, orang tuaku tidak perna mengajarkanku menyerupai ini.

“Jang, gamis sama kutangnya ganggu ni.” Protes Pak Rusman, seakan Ujang yang usianya lebih muda malah dianggap menyerupai seniornya.

“Guting aja Pak, tapi hati-hati!” Perintah Ujang, kemudian kurasakan gamisku di gunting dan brakupun ikut di gunting sampai saya benar-benar telanjang lingkaran menyisakan kaos kaki sewarna dengan warna kulitku, dan kerudungku yang berwarna biru. “Maaf ya Bu gamisnya kami rusak, tapi besok-besok gak akan lagi.” Bisik Ujang, ia mengecup lembut pipiku.

“Jangan Mas, kasihani aku.” Aku kembali memelas.

Tapi yang terjadi kedua payudarahku kembali di gerayangi mereka berdua. Ujang di sebelah kanan menghisap dan menjilati puttingku, sementara Pak Rusman di sebela kiriku sedang menggigit, dan menekan putting payudarahku.

Perlahan kakiku di lebarkan, dan kurasakan jilatan di paha kananku, kemudian bergantian dengan paha kiriku.

Aaahkkk… Kepalaku mendongak keatas ketika ujung pengecap Pak Darto membelai bibir vaginaku, rasanya… Ya Tuhan, Aahkk… Aku belum perna merasakan ini, Suamiku tidak perna mau melaksanakan ini.

Pak Darto begitu lihai memainkan lidahnya, ia mengecup dan menghisap clitorisku, membuatku di paksa untuk bertahan mati-matian semoga tidak mendesah sanking nikmatnya, rasanya saya ingin mulutku di sumpal, atau di lakban semoga saya tidak perlu mengerang ataupun mendesah nikmat menyerupai ini.

Lidah Pak Darto menari-nari, melaksanakan gerakan naik turun dan terkadang melingkar.

Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. “Aaahkk… Pak!” Aku mendesah… Oohk… Akhirnya saya tidak tahan lagi.

Rasanya terlalu geli nikmat di payudarahku ataupun di vaginaku. Aku merasa sedikit lagi saya mau pipis, dan perasaan ini semakin membuatku meras bersalah.

Maafkan saya Mas, saya mencintaimu tapi ini terlalu menyiksaku Mas.

“Aku… dapeeeeet!” Aku memekik ketika orgasme melandaku.

####

Tiga
Pov Toni

Marah, benci dan cemburu… Semuanya menjadi satu, ketika saya meliihat Irwan yang sedang bercengkrama dengan Bunda di dapur. Irwan sibuk mengaduk masakan, sementara Bunda sibuk mengiris bawang merah.

Sementara saya di sini, di balik tembok ini saya melihat Bunda yang sedang mengobrol ringan, sesekali ia tertawa mendengar lolucon Irwan.

Seandai saja Bunda tau, siapa yang memukulku, akankah Bunda membelaku? Bunda… selama ini Mas Irwan yang suka memukulku, ia suka mengambil uang jajanku, tapi Bunda malah semakin erat dengan orang yang selalu membuat putramu ini terluka.

Rasanya saya ingin menangis kalau melihat Bunda yang begitu erat dengan orang yang paling sangat kubenci.

“Bun! Ini sudah mateng belom?”

Bunda melihat sebentar kearah sup yang sedang di masak.” Sebentar lagi…” Jawab Bunda. “Oh ya Wan, emang kau gak ada pr?” Tanya Bunda.

“Ada Bun, emangnya kenapa?”

“Kalau ada pr, mending kau kerjain dulu, agar sisanya Bunda yang nanti menyelesaikannya.” Kulihat Bunda tersenyum kearah Irwan, senyumannya manis menyerupai biasanya, tapi senyuman itu membuat hatiku makin panas.

“Pr-nya sanggup Irwan kerjakan nanti Bunda, tapi kalau untuk bantuin Bunda, Irwan gak sanggup menundanya.” Gombal… Si anjing itu memang paling cendekia ngegombal, bikin darahku semakin naik.


“Hahaha… kau itu paling cendekia ya bikin Bunda seneng, coba kalau seandainya Toni menyerupai kamu, suka membantu pekerjaan Bunda, mungkin Bunda sanggup sedikit bersantai.”

“Emang Toni kenapa Bunda?”

“Anak itu terlalu di manja, didi manja, jadinya sampe segede ini ia tetap manja, apa-apa harus di layani.” Jelas Bunda, membuatku semakin iri dengan Irwan, ia dengan mudanya sanggup mengambil hati Bunda, sementara aku? Bunda selalu mengaggapku menyerupai anak kecil”

“Auuuww…” Aku kaget ketika melihat tangan Bunda tiba-tiba berdarah

Tapi saya lebih kaget lagi ketika Irwan tiba-tiba mengambil tangan Bunda, kemudian ia menghisap darah yang keluar dari jari telunjuk Bunda. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang sok baik di depan Bunda, saya segera menghampirinya dan kemudian mendorong tubuh Irwan kebelakang.

Bunda dan Irwan sangat kaget melihat saya yang sudah berdiri diantara mereka.

“Toni?”

“Bunda… Toni gak suka Bunda erat sama Mas Irwan! Dia yang memukuli Toni Bunda, lihat wajah Toni sampa babak belur kayak gini!” Aku menangis, saya sudah tidak tahan lagi melihat Bunda yang terlalu erat dengan Mas Irwa.

Aku menatap Toni dengan padangan menantang, saya tidak takut lagi dengannya. Aku yakin Bunda pasti mempercayaiku, alasannya saya anaknya, sementara Irwan, ia cuman menumpang hidup di rumahku, ia orang yang tidak tau malu.

“Apa maksud kau Ton?” Tanya Bunda heran.

Aku mengelap air mataku. “Setiap hari ia memukulku Bunda, uang jajanku selalu di ambil, saya sangat membenci ia Bunda.” Aduku sambil mendorong tubuh Irwan sampai ia kembali terjengkang.

Baru kali ini saya benar-benar merasa puas, alhasil saya sanggup melawannya.

“Apa itu benar Wan?”

Irwan berusaha berdiri, ia hanya diam saja tak berani memandangku maupun Bunda. Aku tau ketika ini ia sedang ketakuttan, kalau kami akan mengusirnya dari rumah ini. Tapi akan kupastikan ia keluar dari rumah ini.

Bunda mendesah pelan. “Jawab Bunda Irwan?” Ulang Bunda.

Irwan mengangkat wajahnya, ia memandangku kemudian memandang kearah Bunda, kemudian kulihat ada air mata yang mengalir di pipinya.

“Maafin Irwan Bunda, Maafin saya Ton!”

“Irwan, tolong kau jujur sama Bunda, kenapa kau suka memukuli Adik kamu?” Tanya Bunda, saya senang sepertinya Bunda sangat marah.

“Toni… Mas tau, dari awal kau memang sudah sangat membenci Mas, walaupun Mas gak tau apa alasan kau begitu membenci Mas, tapi Mas akan pergi dari rumah ini kalau itu yang kau mau. Dan Maafkan Mas alasannya tidak sanggup melindungi kau selama ini.” Sial… ia pikir saya akan terpengaruh dengan caranya menangis menyerupai itu.

Tidak Mas Irwan, saya sangat membenci dirimu, saya tidak akan perna memaafkan kamu. Selama ini kau selalu memukuliku, dan memperlakukanku menyerupai binatang, hari ini saya akan membalas semua perbuatan kau selama ini.

“Bunda tidak mengerti, apa yang sebenarmya terjadi diantara kalian.”

“Irwan cukup sadar diri Bun, saya di sini hanya tamu, tapi… kenapa saya di tuduh memukuli Toni.” Dia menatapku tajam, kemudian tersenyum mengejek. “Aku tau kau sangat membenciku Ton, tapi kalau kau tidak suka saya di sini, kau tinggal bilang, tidak perlu mengusirku menyerupai ini Ton!” Katanya balik menyerangku, membuatku cukup kaget dengan kata-katanya.

“Bunda Toni tidak bohong.” Buru-buru saya membela diri.

Bunda menoleh kearahku. “Toni?”

“Dia berbohong Bunda, selama ini ia selalu memukulku, tapi selama ini saya selalu diam.” Kataku meyakinkan Bunda.

“Bunda tidak perna mengajarkanmu berbohong, apa lagi sampai menuduh orang lain menyerupai itu. Dari awal Bunda melihat sepertinya kau memang tidak perna menyukai Masmu.” Inilah… yang selama ini saya takutkan, kenapa saya tidak perna mau mengadukan perbuatan Irwan kepadaku.

“Bunsa saya tidak berbohong!”

“Bunda sangat mengenal Masmu, selama ini ia tidak perna berbohong, dan lagi ia anak yang baik, suka membantu Bunda.”

“Tapi Bun…”

“Cukup Nak! Kembali kekamar kamu, mulai besok uang kau Bunda potong.” Astaga…! Bagaimana mungkin Bunda lebih mempercayai orang lain ketimbang diriku sebagai anak kandungnya.

Aki sudah tidak tahan lagi, dari awal seharusnya saya sudah tau kalau Bunda pasti lebih mempercayai Mas Irwan.

Aku berlari menuju kamarku, sambil menangis, sebelum saya meninggalkan dapur, dia, bajingan itu sempat tersenyum mengejekku. Besok nasibku akan jauh lebi buruk dari hari ini.

###

Ema Salima Salsabila

Secara bergantian saya memandangi wajah dan selangkangan seorang cowok yang ketika ini sedang melepaskan ikatan kedua tanganku. Kulihat wajah itu terlihat begitu tenang, tanpa beban bagaikan air yang mengalir, tapi berbanding kebalik ketika mataku melihat selangkangannya. Kulihat ada daging tumbuh di sana dengan ukuran yang saya tak tau pasti seberapa besarnya, tapi yang pasti, benda besar berkepala jamur itu jauh lebih besar ketimbang milik Suamiku.

Deg… didalam hati saya terus meminta maaf keSuamiku atas apa yang telah terjadi ketika ini, dan memohon ampun kepadanya.

Setelah kedua ikatan tanganku terlepas, cowok itu menggeser posisinya. Tangan kirinya mengangkat kaki kananku, menekuk dan menopang belahan belakang lututku, sampai kakiku melayang beberapa centi dari atas kasur pembantuku Inem.

Dia memposisikan tubuhnya diantara kedua kakiku, kemudian kurasakan gesekan lembut yang memberi sejuta kenikmatan diantara belahan vaginaku yang sudah membanjir basah.

Sementara itu Inem pembantuku mengarakan kameranya didaerah selangkanganku.

“Ibu sudah siap?” Bodoh… ia malah bertanya menyerupai itu kepadaku.

Aku mendesah berat. “Jangan Mas Ujang, ini dosa besar, kita dilarang menyerupai ini, kau pasti mengerti apa maksudku? Apa lagi saya sudah bersuami, jadi tolong hentikan permainan gila ini.” Kataku malah terdengar menyerupai memohon kepadanya untuk tetap melanjutkan permainan ini.

“Aaahkk…” Wajahku mendongak keatas tatkala kepala jamur itu mulai beraksi.

Tangan Ujang meraih payudarahku, ia meremasnya cukup keras sambil jemarinya memencet dan memelintir puttingku, membuatku merintih nikmat, membuatku semakin tidak tahan ingin segera di setubuhi olehnya.

“Percayalah, Ibu pasti menyukai dosa ini!”

Dia berujar sambil mendorong pinggulnya, menekan penisnya yang terus masuk kedalam lorong vaginaku, menembus leher rahimku, membuat mataku terbelalak kaget, sanking panjangnya penis Mas Ujang.

Dia tersenyum, wajahnya menggambarkan kepuasan alasannya ialah sudah berhasim menancapkan senjatanya jauh di dadalam tubuhku.

Aku menggigit bibirku, menahan perih yang bercampur nikmat di dalam vaginaku yang langsung meresponnya, dengan cara menjepit erat penis milik pembantuku itu.

“Memek Ibu rasanya nikmat sekali, masi ngejepit erat kontolku! Padahal Ibu sudah tidak perawan dan perna melahirkan, tapi… Aahkk!” Erang Ujang ketika ia menarik perlahan penisnya, kemudian ia mendorongnya lagi sampai mentok.

Tidak… Jangan menyerupai ini, saya sudah bersuami, tolong hentikaan….

Tanpa sanggup berbuat apapun Ujang melesatkan penisnya semakin lama semakin cepat, memompa dan menusuk vaginaku dengan hentakan-hentakan kecil membuat tubuhku terguncang dan rasa ngilu bercampur nikmat di sekujur tubuhku.

“Aaaahkk… Mas Ujaang! Aaaahh… Ah….” Aku memohon, menggeleng-gelengkan kepalaku sankin nikmatnya tusukan yang di berikan Ujang.

Maafkan saya Mas… Maafkan Istrimu ini yang sudah mengkhianati akad suci kita, tapi penis Ujang rasanya… Aahkk… jaug lebih nikmat ketimbang ketika kau melakukannya.

Kupandangi ekspresi wajah Ujang yang tampak begitu puas alasannya ialah sudah berhasil menyetubuhiku.

Ekpresi itu sangat wajar, siapapun yang berhasil menyetubuhi wanita sepertiku, pasti akan merasa sangat bangga dan merasa sangat beruntung sanggup merasakan jepitan dinding vaginaku.

Lihatlah diriku, seorang wanita yang selama ini selalu menjaga penampilannya dan selalu menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang wanita yang telah bersuami. Sedang berbaring hanya mengenakan kaos kaki dan kerudung lebar yang sudah acak-acakan dan parahnya lagi, seseorang cowok berstatus sosial rendah sedang menyetubuhi dirinya selaku majikannya.

“Gimana rasanya Bu? Enakkan?” Dia tersenyum mengejekku.

Ilustasi Cerita Seks Bergambar - Ema Dientot UjangIlustasi Cerita Seks Bergambar – Ema Dientot Ujang

Tapi apa yang ia katakan memang benar, dosa ini terlalu nikmat untuk kuabaikan begitu saja, alasannya rasa ini tak perna kurasakan sepanjang pernikahanku bersama Suamiku.

“Mas… saya pipis lagi!” Rintihku dengan teriakan penuh gairah.

###

Asyfa Salsabila

Bruaaak…

Tubuhku terjengkang kebelakang dan buku yang kubawak berserakan di lantai koridor sekolah,ketika tak sengaja saya menabrak seseorang pria yang berada di depanku. Ternyata pria itu juga tidak melihatku alasannya terlalu sibuk dengan hpnya.

Tentu saja saya ingin marah, tapi setelah menyadari siapa yang kutabrak membuat nyaliku ciut.

Kalau di lihat dari pakaiannya, saya yakin ia salah satu guru di sekolahku, tapi siapa? Aku sendiri merasa tidak perna melihatnya. Tapi kudengar dari informasi yang beredar dari teman-teman di sekolah, akan ada guru gres yang katanya sangat keren mengajar di sekolahku.

“Maaf, kau baik-baik saja?” Tanyanya, sambil membereskan buku-buku milikku yang berserakan di lantai.

Aku yang terpukau dengan ketampanannya, tak sanggup berkata apa-apa, saya masih diam berada di posisiku, sampai mata kami bertemu dan… “Astafirullah…” Buru-buru saya membenarkan posisi rokku yang tersingkap.

Mukaku langsung merah padam alasannya menahan rasa malu. Aku yakin guru gres itu pasti sudah melihat celana dalamku.

Duh… kok saya sebego ini sampe gak sadar kalau rokku tersingkap. Dan lagi… kenapa, jantungku jadi berdetak sekencang ini, bergotong-royong ada apa denganku, gres kali ini saya merasakan perasaan asing menyerupai ketika ini.

“Eehmm… “Dia berdehem untuk menyadarkanku dari lamunanku, segera saya beridiri. “Ini buku kamu, lain kali hati-hati ya.” Ujarnya sembari tersenyum dan menyerahkan bukuku, kemudian ia melangka pergi meninggalkanku sendiri.

###

Ema Salima Salsabila

Kini saya sedang duduk diatas selangkangan Ujang, tubuhku terguncang naik turun, sementara di sisi kiri dan kananku ada Pak Darto dan Pak Rusman, mereka memintaku mengocok penis mereka yang barukuran sangat besar.

Walaupun saya jijik dan merasa sangat berdosa terhadap Suamiku, tapi saya tetap melakukannya.

Kedua tanganku dengan penuh irama bergerak maju mundur mengikuti irama hentakan pinggulku, sementara itu tangan mereka juga tidak tinggal diam, sedari tadi meremasi payudarahku.

“Masi lama Jang?” Tanya Pak Darto, sepertinya ia sudah tidak sabar menunggu gilirannya.

“Masih kayaknya Pak, soalnya ini yummy banget, sayang kalau buru-buru keluar.” Jawab Ujang, yang sedang menikmati penisnya di jepit oleh vaginaku. “Kita main kayak biasa aja Pak!” Sambung Ujang, saya tidak mengerti apa yang di maksud main kayak biasanya yang menyerupai yang di katakan Ujang.

“Serius boleh, masi perawan loh Jang!”

“Gak apa-apa Pak! Makan aja.” Ujar Ujang, kemudian kedua tangannya melingkar di panggangku yang ramping.

Dengan sedikit dorongan, tubuhku rebah diatas tubuh Ujang, sampai payudarahku menempel ketat diatas dadanya, kemudian Ujang mempererat pelukannya sampai saya tak sanggup bergerak, sementara itu Pak Darto menghilang dari sampingku, dan Rusman tiba-tiba sudah berdiri di depanku memamerkan penisnya.

Aku tidak tau apa yang mereka inginkan, tapi tiba-tiba pipi pantatku di buka, dengan bersamaan kurasakan ada benda besar yang ingin masuk kedalam anusku. Segera saya menoleh kebelakang dan… “Astafirullah.” Benda besar milik Pak Darto sudah menempel di anusku.

Tubuhku langsung meronta, tapi pelukan Ujang yang erat membuatku tak sanggup bergerak. “Jangaaan Pak! Yang itu saya belum perna!” Aku memohon kepada mereka semoga tidak memasuki anusku.

Selain alasannya takut anusku robek, saya juga merasa asing kalau sampai lobangku di masukin penis Pak Darto, melihat Inem barusan di anal saya sudah merasa jijik, apa lagi kalau anusku yang di masuki, rasanya sangat memalukan dan menjijikan.

Membayangkannya saja saya sudah ingin muntah, apa lagi sampai melakukannya.

“Jangan di lawan Bu, nanti rasanya makin sakit, rilex aja… Nanti Ibu pasti ketagihan tiga lobangnya di masukin! Saya aja ketagihan.” Kata Inem, ia mengarahkan kameranya di selangkanganku.

“Tahan ya Bu.”

“Tu… tunggu Paaak…” Aku memekik pelan ketika anusku di masuki kepala penis Pak Darto.

Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu menyerupai tak perduli dengan ucapanku, ia tetap memaksakan penisnya masuk semakin dalam keanusku, sampai saya merasa anusku dipaksa membuka selebar mungkin.

Mataku terbelalak dan mulutku terbuka lebar sanking sakitnya.

Dan sialnya Pak Rusman memanfaatkan mulutkku yang terbuka dengan menjejalkan penisnya kedalam mulutku.

Jadi ini yang di katakan Inem tiga lobang tadi? Aahk… rasanya sakit tapi kenapa saya merasa begitu seksi dengan kondisiku menyerupai ketika ini. Seorang wanita jilbaber melayani tiga pria sekaligus rasanya agak asing dan memalukan tapi pasti terlihat sangat menggairahkan.

Kucoba untuk membiasakan diriku dengan kondisiku ketika ini, dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Inem, saya mulai menikmatinya.

Mereka bertiga secara serempak menggoyang pinggul mereka, memenuhi ketiga lobangku yang paling berharga, bahkan Suamiku sendiri belum perna merasakan ketiga lobangku.

“Pantatnya Ibu yummy loh, keseet banget! Bapak belum perna coba ya Bu?” Tanya Pak Darto, sambil menyodomiku ia menampar kecil pantatku.

“Ya pastilah belum perna, mana ngerti Bapak yang enak-enak, benerkan Bu?” Timpal Pak Rusman, ia mencabut penisnya dari mulutku, sehingga saya sanggup menarik nafas dengan bebas.

Aku mendesah nikmat. “Tidak perna… Aahkk… Soalnya ini tidak boleh, ini biang penyakit! Aahkk… Sudah… saya tidak mau lagi.. Aku Hhmmpp…” Mulutku kembali di sumpal oleh penis Pak Rusman, ia kembali menggoyangkan pinggulnya.

Mereka semua sangat kurang ajar, dan berani memperlakukanku menyerupai binatang.

Lima menit kemudian, Ujang mengerang bersamaan denganku, kami mencapai puncaknya bersama-sama. Lalu di susul oleh Pak Rusman yang memuntahkan spermanya di dalam mulutku, dan sebagian spermanya tertelan olehku, sebagian lagi mengenai wajah dan kerudungku.

Rasanya sangat asing ketika saya menelan sperma Pak Rusman, alasannya ini ialah pengalaman pertamaku menelan sperma, tapi entah kenapa saya merasa menyerupai menyukainya.

Tinggal Pak Darto yang belum keluar, ia semakin cepat menggoyang pinggulku.

“Bu… saya mau keluar!” Erangnya.

Aku menggigit bibirku alasannya saya juga ingin keluar untuk kesekian kalinya. “Paak…” Rintihku pelan ketika orgasmeku datang, kemudian di susul Pak Darto yang menyirami anusku.

3

Kumpulan Dongeng Sex Ngentot Di Apartermen Dengan Tante Dewi Yang Montok

Kumpulan Cerita Sex  2018 - Namaku Rendi Aku mampu dibilang sukses sebagai perantau di Jakarta, umurku 28 tahun, saya punya pekerjaan dan income yang stabil, cicilan mobilku sudah lunas dan saya tinggal di apartemen di kawasan Kalibata (yeee ketebak kali ya) sendirian, lumayan kesepian.
Dulu-dulu mungkin cewe-cewe pacarku sering tinggal di apartemenku Namun kali ini saya lagi gak punya pacar Aku punya tetangga sebelah kamar, ia seorang perempuan remaja mungkin usianya 35 tahunan Namanya Dewi, namun saya sering panggil ia Tante saja
Yang saya takjub dari wanita-wanita usia segini selain si Tante juga yaitu mereka dalam masa dewasa-dewasanya Mature dalam hal, berpakaian simple namun masih memancarkan aura keseksian tanpa berprilaku norak untuk memancing perhatian kayak ABG Atau ini kelainanku yang lebih suka perempuan dewasa
Aku dan Tante bekerjsama sudah cukup erat Setiap pagi saya sering satu lift bareng Tante Dewi menuju lobby Yang kutau, Tante ini punya toko DVD di ambasador hasil patungan ia dengan keponakannya Aku pun sering bertemu dengan Tante setiap kali berenang rutin hari Sabtu pagi Namun begitu-begitu saja
Tidak ada yang istimewa dari pertemuan-pertemuan kami itu Saat saya lagi fresh-freshnya putus dengan pacar, tiba-tiba pertemuanku dengan Tante Dewi lebih sering, terlalu sering menyerupai bukan kebetulan menyerupai tiba-tiba ketemu di minimarket dibawah kemudian saya naik ke atas bareng, atau tiba-tiba parkirannya sebelahan
Ge-erku merasa Tante ini ngikutin saya Dari kedekatan kami ini, saya ambil kesempatan saja dengan meminta pin bbm Tante Tante dengan senang hati memberikannya “Kupikir kau gak bakalan minta Ren, hampir saya yang minta duluan” ujar Tante menggodaku
Semenjak itu kami mulai bbm-an dari yang hanya pura2 saling bertanya apakah berenang atau tidak hari sabtu, atau saya tanya DvD film apa saja yang sudah ori Lama kelamaan chat kami semakin intim Tante Dewi menanyakan kemana pacarku
“Aku kok gak pernah liat pacar kau ya? biasanya kalian berenang bareng?” “Sudah putus dari kapan tau Tante…” “Oooo… ceritain dong ke Tante” “Tante nih kepo aja, hahahaha” tante membalasku dengan emoticon *not interested* dan icon *:P*
“Hehehehe, iya Tan, makin ke sini makin gak sreg sama dia, kerjanya marah maraaaah mulu, cemburu ini itu, dianya kelewat manja, minta jemput sana sini, dikira saya gak kerja kali ya, sekali-kali okelah, lha ini hampir tiap hari minta dijemput Egoislah, masih ABG sih maklum” “Lah emang ia umurnya berapa Ren?”
“berapa ya, gres semester 2 tuh Tan” “oooo dasar om-om nyarinya ABG-ABG”
Monyet nih si Tante ngatain gw, “Daripada Tante,…” saya hentikan ketikanku, saya gak tau latar belakang si Tante Dewi ini apakah sudah punya pacar, kalo nggak kenapa sendiri dll “Eh btw Tante tinggal sendirian aja?” “Iya, kenapa? Rendi mau temenin” wah? berangasan juga nih, dipancing dikit kesamber
“Lah kan udah ditemenin terus Tan, tapi cuma kepisah tembok aja” dari chat2an kami, saya jadi tau Tante ini gak mau pacaran alasannya dulu pernah dikecewakan Yah standar lah cewe kecewa sama cowo Akhirnya sekarang Tante lebih memilih hidup liberal, mendapat siapa aja yang datang kehatinya tanpa ikatan
Hari demi hari, chatting kami semakin intim, kami jadi sering berenang bareng Dan dikala berenang ini kesempatanku untuk memanjakan mataku dengan memandangi tubuh tante di balut pakaian renang Pakaian renang yang Tante pakai gak seberapa seksi, malah saya pikir sangat sopan alasannya model baju senam yang menutupi hingga paha
Hingga suatu dikala “Ren, kisah dong kau udah ngapain aja sama pacar kamu” “Ah gak ngapa2in kok tante, kami saling menjaga” “Heuuuu boong amat, dikira gak kedengeran tiap malam kalian berdua kayak gimana?” Wah saya gak memperhatikan kalo ternyata permainan ku dengan mantanku hingga terdengar ke kamar Tante Dewi
“Hah?” belom selesai ku ketik Tante membalas “Kamu putus kan udah lama Ren, bukannya udah hampir 2 bulan Emang tahan gak begituan?” “Begituan gimana nih Tan, saya gak ngerti” “Rendi nih ya, saya delete pin bbmnya nih sekali lagi ngeles”
“ehhh, iya iya Ya gimana Tante kepengen sih, cuma mau sama siapa? mau pake pelacur takut kena penyakit Minta jatah2 mantan gak mungkin banget gengsi lah hahahaha ” Aku tekan enter dan menambahkan ketikanku “Tante mau bantu brangkali?” Chat bbm berubah dari centang menjadi *d* menjadi *r* artinya bbmku sudah kebaca sama Tante
Tapi lama kumenunggu, Tante gak bales2 Duh, bego banget, tersinggung deh si Tante 15 menit berasa 5 jam nungguin balesan Tante Apa ku samperin aja ya ke kamar Tante Dewi minta maaf “TINUNG” bunyi tanda bbm masuk menyalak dari BBku
AH! Tante membalas “Saling bantu lah Ren, saya gini-gini juga butuh, kita sama-sama manusia” begitu bunyi bbm si Tante diikuti dengan emoticon kiss “Beneran Tante?” saya setengah tidak percaya, tidak menyangka sebentar lagi akan bercinta dengan sang Tante
“Enak nih mumpung masih terang, kau ke kamarku ya Ren 15 menit lagi, saya mau rapi2 dulu ” “Oke tan, btw saya request boleh?” “Apa say?” “Tante gak usah make up ya” “Sure beb” “Haiiiii… ” begitulah Tante menyambutku sambil membuka pintu setelah ku mengetuk 2x Tante hanya memunculkan kepalanya dari balik pintu
Sore itu sang tante terlihat fresh alasannya gres saja selesai mandi, tidak ada make up yang menempel di wajahnya sesuai permintaanku Sang tante menggunakan lingerie warna hijau transparan Dari pandangan mata elang ini, terlihat tante gak make daleman Makanya pas buka pintu ia ngumpet di belakang pintu terus Tanganku ditarik masuk kemudian cipika-cipiki, saya sosor saja alasannya gak tahan dengan amis nafas tante, tampaknya gres saja sikat gigi
“Eiittttsss… sabar doooong” “Maaf tan, habis tante Dewi nafsuin banget”
Aku meletakkan BB dan kunci kamarku di meja dapur kamar tante “Maaf Tan, saya gak sopan, dateng cuma begini aja” Aku menunjuk ke pakaianku Karena kupikir hanya sebelah kamar jadi saya gak ganti baju, lagian ke kamar Tante mau ngentot, ngapain rapi2 Pakaian kebangsaan yang kupakai tiap ML, kaos oblong dan celana gombrong tanpa CD
“Gakpapa, ntar Tante bongkar juga kan?” Tante sepikiran sama saya ternyata Sang tante mengajakku ngobrol dulu di sofanya sambil nonton CNBC Ha? CNBC? iya, dikala itu beritanya lagi perihal Bom Boston yang baru-baru aja terjadi
Sang tante nanya-nanya soal ini itu, teori konspirasi, kepercayaan agama, sampe CIA/FBI Sepertinya ini macam icebreaking sekalian mungkin ngetes intelektual sang tamu (ane sendiri) ini sejauh mana hahahaha aneh…
Ngobrol lumayan lama kami pun mulai bergumul, kali ini nggak ada *entah siapa yang memulai* alasannya waktu itu saya duluan yang nyosor Tante Kami ciuman hebat, tante Dewi selalu french kiss hot sekali, tapi bekerjsama saya gak suka, saya tenangkan tante untuk berciuman romantis
“Tangan kau sopan ya” tante mengkomentari tanganku yang masih melingkar di belakang punggung tante, mendekap erat jangan sampe tumpah eh lepas “kenapa tan? udah mau di grepe2 emangnya?” “Euh kamu… bahasanya plis deh, di-sti-mu-la-si!” sambil tersenyum
Aku rebahkan tubuh tante membelakangiku sambil saya tetap menciumi pundak, tengkuk dan kuping tante, tanpa basahan tentunya Aku gres saja tau kalau perempuan tetap saja mau diperlakukan halus, mau bagaimanapun latar belakang dia
“SSaaaaayyyyy… ” tanganku mulai mengelus2 perutnya Perutnya tante Dewi ini gak buncit tapi gak kenceng Pas lah
Sesekali saya menyenggol toket tante yang ukurannya besar sekali Benar2 besar!!! mungkin ini 38C, meskipun putingnya tidak pink lagi namun tidak lebar Sungguh seksi sekali Puting tante sudah mengeras, saya main-mainkan menyerupai tombol switch on/off gitar lembek Tante mulai mengerang dan badannya mulai belingsatan Kedua tanganku menjamah kedua semangka lembek raksasa
Sambil menikmati kecupan demi kecupan di pundak punggung dan tengkuk, tante mulai terlihat tidak tahan, tangan kirikupun mulai turun ke bawah, Aku pernah lihat video di youtube, cara terbaik merangsang vagina perempuan bukanlah langung dicolok tapi dibuat geli area sekitarnya dahulu (entahlah suhu suhu lebih tau nih hehehe)
Woooooow… begitu tanganku hingga di memeknya, ternyata liang surganya lagi banjir, oh Jokowi harus turun tangan nih, mencari tau banjirnya dari mana ahahahahaha… setelah merangsang2 sebentar, kumasukkan satu jariku kedalam memek si Tante Terasa sentakan* di tubuh tante Dewi dikala jari telunjukku masuk ke dalam
“HHhhhhhhhhhh………kkkkkammmmmuuuuuu iiiiihhhhh… ” “Beeeeeebbb…… ” lah ia manggil saya beb?? saya merasa di atas angin setiap kali mampu membuat seorang perempuan gak berdaya kita rangsangi tersange-sange (bukankah kita semua begitu ya?) “BBBbbbeeeeebbbbb…… jari kau pinter amaaaat… ”
“Hhhhhhhhhhh… kamuuuuuu, saya lupaa nama kamua” Yalah!!! sempet2nya nanya nama AKu lanjutkan lagi sodokan dengan jari telunjuk ini Terasa tubuh tante mulai meronta-ronta Perlu diketahui, sang tante ini ukurannya gak kurus loh, tinggi tante ini hampir sedagu ku, dan beratnya mungkin 69-75kg jikalau ditelaah dari beban yang diterima badanku ini
Tubuh tante makin menggelinjang hebat, ia berteriak “ML-in aku… ML-in akuuuuuu… ” saya makin semangat meremas buah dadanya dan mengobel memeknye Terasa tante Dewi mau beranjak merubah posisi, saya dengan sigap memindahkan tanganku dari toket kanan tante ke toket kiri tante (ingat saya posisinya di belakangi tante dan kami pangkuan di sofa) Dengan posisi begitu, otomatis tanganku menahan tubuh tante dan tante makin mengerang mencoba keluar dari kuncianku

Tiba-tiba tangan tante mencakar tanganku yang sedang meremas toket ini
SSSSssssoooooooooooooorrrrrr…… si tante squirt, cairan hangat merembes dari lingerie tante, turun perlahan membasahai paha tante dan juga tanganku, untungnya sofa tante dari bahan kulit sintetis jadinya gak merembes lantai kayu apartemen tante pribadi becek Nafas tante yang tadinya memburu mulai mereda hening namun mukanya merah padam
Lalu berselang beberapa menit, tante merebut tangan kananku dan tante menarik badanku Aku terjatuh diatas becekan squirtan tante, punggung kaos dalamku becek tante menyusul menjatuhkan badannya ke atas badanku Sepintas kami bergulat untuk mendapat posisi diatas satu sama lainnya
Namun saya menyerupai naluriah membiarkan tante Dewi menguasai badanku Kami bergumul dan berguling2 menjauhi becekan dan melanjutkan agresi kami di karpet bulu di lantai tidak jauh dari sofa, menghindari cairan squirt-an tante,* tante masih menyerangku dengan meniban badanku, menciumiku dengan brutal
“Taaaannn… mmmm… mmmmmmpppelan-pelan ajaaa…mmmm” french kiss super sange Aku gres sekali ini bercinta, bahkan belum sampe ML sudah begini sangenya Sepertinya tante tidak mau mendengarkan permintaanku
Kami berciuman hebat, kontolku sudah mengeras sekali dan menggesek2an ke celana lingerie tante Tante makin menggila, ia rebut kontolku dengan tangan kanannya dan dikocok2 sambil masih menciumi bibirku Aku pun tak kalah sigap, kucoblos memek Tante dengan jari telunjuk “AAAkkkkkkhhhhh… Bangsaaat!!!” PLAKKKK!!!!! OMG kenapa nih gw digampar tante “Lakuin lagi! Lakuin lagiii!!!” wah ada potensi BDSM sepertinya
Lalu sambil masih menindih badanku menyerupai tidak mau melepaskan badanku, Tante memutarbalikkan badannya, dan slubb!!! tiba2 mulutnya sudah ada di kontolku… dan sebagai balasannya, saya dihidangkan lembah gelap yang indah, saya jilat2in saja sampe Tante Dewi mulai mengerang2 kurang lebih dari sejak perciuman kau di sofa hingga posisi 69 ini sudah hampir lebih dari setengah jam
Tante mungkin mulai heran (dan takjub I don’t know) kenapa saya belum crot juga
“Kammmuuuu… beloom mau keluarrr???” “Belom taaant…” belom sempat saya merampungkan kalimatku, tante squirt untuk yang kedua kalinya, menyemprot tepat di mukaku Aku gak tau squirt ini cairan apa, katanya yang pasti bukan cairan kencing Lagipula saya lagi sange di ubun2 gini gak nolak lah
“HHhhhhhhhhhh… gilllllaaa… permainan kau hhhh hhhh hebat yah hhh hhhhhh saya mau kontol kau sayyyyyy mmmm mmmmm” ujar sang tante sambil lanjut menyepong kontolku “Aku udah boleh masukin ya tan, tapi gak enak nih masa di lantai?” tante beranjak dari tubuhku sambil tetap menyepong kontolku Aku dengan susah payah bangun dan tantepun berlutut melanjutkan emutannya
“Taaaannn… katanya mau dimasukin?” saya yang tak tahan di sepong mulai blingsatan menyerupai mau crot Tante mungkin melihat saya menyerupai mau crot, karenanya melepaskan sepongannya dan secepat kilat menyambar bibirku, kami berdua bercumbu kembali Cumbuan ini hebat sekali, menyerupai si tante Dewi ini benar2 lagi mengeluarkan pusing2 di kepalanya
Kami berciuman sambil berdiri, tante berujar “Ke kamar mmmm aja mmmm sayymmmm” sambil menarik badanku yang erat menempel dengannya DIbukakan pintu kamar ia dengan posisi kami berjalan sambil berciuman
Terbukalah kamar tidur tante Tempat tidur size 200 yang besar dan dengan bedcover yang masih tertata rapi Aku angkat tubuh tante dengan memegang kedua paha tante, kedua kaki tante pun refleks melingkarin tubuhku, kontolku yang tegang masih tertutup celana mulai memaksa masuk ke memek tante yang juga masih tertutup lingerie
Kemudian saya lemparkan sang tante ke kasur Buuuuukkkkkk…… setelah itu saya membuka celana dan kaosku segera Tante juga bermaksud untuk membuka lingerienya namun saya hadang “Jangan tan, nanti saya bantuin…” Ku serang tante, mencumbunya dengan ganas, kami bergumul hebat dalam waktu singkat kawasan tidur tante yang rapi sudah gak karuan
Aku yang sudah blingsatan mencoba membuka lingerie tante Dewi Tapi akunya tidak sabaran hingga lingerie tante robek
“Maaf tante… nanti kuganti” “Udah gakpapa ayo ngentot aja” And here is the moment of truth Kepala si Otong sudah nangkring ke verbal goa si tante
Perlahan-lahan kumasukkan Blessssss… “AaaaAAAAaaAAkkkkhhhh… ennnnaaak beeeeb…… uuuuughhhh perrrasaaannnn tadi kontol kammmmmmu kecil deh, kok kalo udah masuk berasa tebel enaaaaak” WATDE??? sialan nih tante, sebagai hukuman, kuhentakkan keras2 hujamanku sekali, cukup sekali itu Tante pribadi banjir dan mulai menggoyang2kan pantatnya sebagai reaksi genjotanku
kulanjutkan genjotanku bervariasi, posisi kami masih misionaris rpm rendah berganti2 cepat-pelan-cepat-pelan, agar gak terlalu capek Terasa tante mesinnya udah mulai panas, kami bercinta dengan posisi ini lama sekali, saya sangat menikmati setiap jengkal tubuh kenyal tante
Mungkin tante sudah mulai bosan, tante pun mengambil kendali semoga kami berubah posisi Kami berguling kesamping, kontolku terlepas sebentar namun tante dengan sigap pribadi memasukkan kembali kelubang memeknya “Oooooouuuhhhhhh… mmmm… reeeeennn…… ” tante Dewi menggenjot si Joni perlahan2 hingga karenanya dengan ritme konstan Sesekali tante menciumi bibirku dengan begitu basahnya
Tante juga sesekali menggigiti putingku, selama posisi ini tanganku tidak pernah lepas dari kedua belah dadanya, bergantian saya menjilati puting ranum tante Seperti kubilang, puting tante sudah tidak pink lagi, namun saya tak peduli saya sangat menikmati menarik hati tante dengan jilatan-jilatan ini Terasa genjotan tante semakin menjadi, moaning tante semakin keras
“Aaaaaakhhhhh… teruuuuus terusssssss… beeeebbbbbbbaaaaaakkkhhhhhh”
Kemudian ia menarik kedua tanganku dari toketnya dan dengan satu tangan meletakkannya jauh di atas kepalaku sedangkan tangannya yang lain dengan erat menjambak rambutku, saya menyerupai tawanan yang disekap semoga tidak kabur Lalu masih dalam posisi woman on top kedua kaki tante Dewi mencoba melingkari badanku sampai2 saya harus mengangkat pantatku semoga kaki tante ini mampu masuk ke bawah
Aku serasa dililit ular anakonda Seperti sedang bergulat akupun berusaha keluar dari kuncian tante, kakinya memiting tubuhku sambil tetap menggenjot kontolku Saat erangan tante semakin keras dan genjotannya semakin kencang, akhirnyaa… SRRRRrrrtttt saya merasakan dinding vagina tante berdenyut2 hebar memijat batang kontolkua Tante sedang orgasme
“Oooouuuuhhhhhhh……hhhhhhhhhhhhhh… hhhhhhhhhh h… hhhhhmmmmmhhhhh hhhhh hhh” Nafas tante yang tadinya gak karuan, perlahan menyerupai terbuang lega semua
“Nikmat sekali bercinta dengan kau Ren” “Enak sih enak, saya belum keluar nih Tan!” ujarku protes “Iyaaa deh… cowo itu makin lama makin bagus? Istirahat sebentar ya, Tante Dewi janji pasti bikin kau crot kok, kalo nggak juga berarti kau ini hebat sekali, dan tante gak akan ngasi kau pulang sebelum kau crot ” Aku emang ada “kelainan” Aku ini lama sekali crotnya, saya mampu 3 jam bercinta dan tidak crot juga
Apalagi kalau menggunakan kondom Aku setengah bangga, kebanyakan wanita-wanita yang kuentotin malahan protes alasannya saya terlalu lama Dan dikala si Joni otong lagi cape, bukannya cepet crot, yang ada malah ngambek total Ah geblek
GGggrrrrkkkkkkkkggrkkgrrrkkk…
“Eh bunyi apa tuh?” tanya Tante “Perut kau ya? hahahaha, udah gembul, lagi tengah2 ML kok ya bisa2nya laper?” “Yah si tante, kepalaku, perutku sama tititku itu yang ngatur departemennya beda2, jadi mampu aja laper ” “Yaudah kita break dulu deh ya Ren, saya pesenin bakmi, abis makan kita lanjut gulat lagi, Tante Dewi mau ber-ronde-ronde sama kau ”
Wek! Kulihat jamku udah jam 7 malam Bisa balik jam berapa nih?
Akhirnya setelah makan dan istirahat sebentar dengan ngobrol2, kami melanjutkan pertarungan kami Malam itu hingga pagi, kami bercinta 4 ronde, saya ngecrot 2 kali jadi total dengan yang sore/siang 5 ronde dengan skor 2-5 Itu diluar squirt-an Tante “Tante, makasih ya hari ini saya puas sekali”
“Aku yang terima kasih Ren, kau hebat sekali, kayaknya ini dendam 2 bulan gak ML ya? kapan-kapan kita lakuin lagi ya” “Pasti Tan, saya siap ngelayanin Tante Dewi kapanpun Tante mau ” “Aku juga Ren sebaliknya, kalo kau yang perlu bilang saya aja ” Aku tersenyum dan kubilang “Aku balik ya Tan” jam di posisi 3 pagi
“Tanggung beb, nginep aja sampe besok, eh ini udah besok ya? Kalo pulangnya besok saya janji saya mandiin deh” Kata Tante Dewi.
3

Baca Kumpulan Kisah Seks 2019 Istri Abang Tukang Bakso

Baca Kumpulan Cerita Seks Istri Abang Tukang Bakso - Pada dasarnya, gua ini orang yang senang bergaul. Gua orang yang gemar berada dalam sebuah komunitas atau perkumpulan. Baik yang positif (apalagi) yang rada negative. Hehe.

Gua ini orangnya supel. Suka wanita

Tapi, menyerupai halnya kebanyakan masyarakat urban, masyarakat kelas menengah ngehek, gua justru luput menjalin relasi dengan tetangga sekitar.



Gua gak tau siapa-siapa tetangga yang tinggal bahkan disebelah rumah gua sendiri. Tapi sebetulnya, selain alasannya yaitu yaitu memang gua yang kurang peduli juga alasannya yaitu yaitu sebelah rumah gua itu kontrakan rumah toko (ruko) yang penghuninya sering berganti seiring musim yang sedang terjadi.

Kalo musim hujan, biasanya ruko diisi sama tukang bakso. Kalo musim kemarau, diisi sama tukang cendol. Gua gak tau bakal diisi sama tukang apa kalo di Indonesia ada musim salju. Besar kemungkinan diisi sama tukang jamu.

Suatu hari, dirumah gua menggelar sebuah pertemuan yang dihadiri ratusan orang. Karena rumah gua gak cukup untuk menampung ratusan orang (rumah gua cuma cukup menampung 99 orang. Hehe) maka terpaksa harus menggelar tiker sampai keluar rumah, yaitu jalanan komplek yang sekaligus menjadi jalanan umum masyarakat sekitar menuju jalan raya utama.

Gua baru sampai rumah jam 8 malam dan cukup kaget melihat rumah gua kolam studio JKT48. Gua pikir omongan nyokap dipagi hari, “Nanti malem ada kegiatan dirumah..” cuma kegiatan rutin macem pengajian atau arisan warga, ternyata lebih dari pada itu.

Karena enggan, “permisi-permisi..” untuk masuk ke dalem rumah, gua pun hasilnya menunggu kegiatan selesai disebelah rumah. Diruko tukang jamu, eh, ruko tukang bakso.

Satu jam berlalu sambil ngobrol ngalor-ngidul sama kang bakso yang tau muka tapi tidak tau nama gua, begitu pun dengan gua sendiri. Akhirnya kami pun berkenalan. Dan hasilnya kang bakso yang bernama Mas Mujiono ini gua pake. Yakali!

Mas Muji, begitu biasa ia disapa, usianya hampir 50 tahun. Dia baru punya satu anak perempuan, namanya Ria. Usianya tak lebih dari 10 tahun. Sedang lucu-lucunya. Waktu gua ngobrol sama Mas Muji, Ria beberapa kali keluar masuk menggali perhatian gua yang sebelumnya, ketika pertama kali melihat dia, gua menggodanya. Anak kecil tau sendiri kalo digodain, maunya terus dan terus.

Karena tak kuat menahan kencing, gua pun meminta izin Mas Muji untuk pakai kamar mandinya. Mas Muji kemudian mempersilahkan gua sehabis sebelumnya masuk ke dalam. Besar kemungkinan ia sedang membersihkan kamar mandinya supaya “layak dipinjam”.

Ruko Mas Muji ini memiliki tiga ruangan/petak. Petak pertama tempatnya berjualan, petak kedua kamar tidur, dan petak terakhir dapur serta kamar mandi. Lebarnya 4 meter dan panjang 10 meter. Yang berminat ngontrak silahkan pm. Lah!

Saat masuk kedalam, menuju kamar mandi, ada istri Mas Muji, sedang menonton tv. Karena gua diantar Mas Muji, gua pun hanya sepintas kemudian melihat istrinya yang sedang ‘diusel-usel’ sama Ria.

Setelah selesai buang hajat, (yap, abis kencing, mendadak gua mau boker) gua pun keluar kamar mandi. Saat baru saja keluar dari area dapur memasuki area kamar tidur, Ria (kembali) ngajak bercanda. Dia sembunyi dibalik tembok, kemudian menyerupai mirip mengagetkan gua sembari memeluk sekitaran kaki dan paha gua sambil tertawa cekakakan.

Mas Muji yang sedang melayani pembeli terdengar memperingatkan buah hatinya itu untuk tidak mengganggu. Tapi apakah gua merasa terganggu? Tentu tidak. Kejadian itu gua manfaatkan untuk melihat dengan seksama sosok istri Mas Muji.

“Wow..” Gerak verbal gua ketika melihatnya. Istri Mas Muji kemudian meminta Ria untuk kembali anteng atau duduk dikasur. Gua sempat tersenyum dan menganggukkan kepala ketika saling menatap dengan istri Mas Muji. Dia pun balas tersenyum dan mengangguk.

Mas Muji ini tampaknya punya aji-ajian dari mbah dukun. Karena kalo dicari alasan logis wanita muda, cantik, dan bahenol macam istrinya ini mau ‘diajak’ susah menjalani hidup sama dia, gua gak nemuin.

Istrinya Mas Muji ini cuantik, rek!

Untuk bersanding sama lelaki umur 50 tahunan yang berprofesi sebagai kang bakso, istrinya malah mampu dibilang anggun banget.

Bukan bermaksud merendahkan tukang bakso, tapi wajarnya wanita anggun yang umurnya terpaut 20 tahun dengan seorang lelaki, cuma akan menikah sama kang korupsi, kang tender, atau kang-kang lainnya yang punya harta melimpah. Lah Mas Muji?

Nama istri Mas Muji ini tak lain dan tak bukan yaitu Teh Lilis. Dia dipanggil “Teh” alasannya yaitu yaitu lahir dan besar di … Ambon. What? Hehe.

Teh Lilis ini aseli Ciamis. Dia berkenalan dengan Mas Muji diarea wisata pantai daerahnya. Selang sebulan perkelanannya itu, Teh Lilis dilamar dan kemudian dinikahi kemudian dibojong Mas Muji ke Jakarta.

Ini yang tadi gua bilang kalo Mas Muji punya aji-ajian. Saat berkenalan dan hendak mempersunting Teh Lilis, usaha bakso Mas Muji hanyalah sekala gerobak dorong yang mana tidak memiliki pelanggan tetap. Mas Muji mengumpulkan keuntungannya berdagang selama lebih dari 10 tahun untuk menikah dan mencari peruntungan lebih besar dengan mengontrak toko, bahasa kitanya, mangkal. Agar punya pelanggan tetap dan usaha berkembang.

Laba selama 10 tahun itulah modal Mas Muji menemui orang renta Teh Lilis dan memboyongnya ke ibu kota. Kalo Mas Muji gak punya aji-ajian, rasanya orang renta Teh Lilis enggan menyerahkan buah hatinya yang anggun nan bahenol itu.

Sejarah singkat diatas, disponsori pribadi oleh Mas Muji sendiri (selain dugaan punya aji-ajian, tentu saja). Keabsahan dan keakuratannya terang terverifikasi serta mampu di pertanggungjawabkan. Ngok!

Tidak ada hal istimewa yang terjadi sehabis perkenalan dengan tetangga sebelah rumah gua ini. Semua kembali normal menyerupai biasanya, seiring selesainya kegiatan yang berlangsung dirumah gua. Janganlah kalian berharap gua pribadi doggiestlye sama Teh Lilis disaat Mas Muji menggodok gilingan baksonya, jangan! Semua berjalan menyerupai hari-hari sebelumnya.

Awal mula perkenalan pribadi gua sama Teh Lilis yaitu ketika gua hendak keluar rumah. Waktu itu gua memarkirkan kendaraan disebelah rumah atau lebih tepatnya didepan ruko Mas Muji alasannya yaitu yaitu lupa membawa pulpen. Ou, ouw. Jangan sepelekan pulpen. Googling, ‘lost your pen’ untuk keterangan lebih lanjut.

Karena masih pagi, warung Mas Muji masih tutup. Itu kenapa gua santai aja parkir didepan rukonya. Sekembalinya mengambil pulpen, gua ketemu Ria sama ibunya yang mau berangkat ke sekolah. Gua pun dengan nrimo tulus tanpa niat kotor mengajak mereka bareng.

Sebenarnya jarak antara area sekolahan sama rumah gua tidaklah jauh-jauh amat. Bahkan tidak lebih dari 2 km. Tapi atas dasar perputaran ekonomi, masyarakat sekitar rumah gua lebih menentukan naik ojek ketimbang jalan kaki. “Bagi-bagi rejeki..” begitu alasan dari keengganan berjalan kaki masyarakat urban ketika ini.

Teh Lilis awalnya sempat menolak alasannya yaitu yaitu mungkin aib atau segan. Tapi alasannya yaitu yaitu Ria pribadi setuju dan naik ke dalam kendaraan, Teh Lilis tak mampu berbuat apa-apa.

Teh Lilis tampak aib dan kaku, ia membatasi gerak Ria di dalam mobil. Gua sesekali mnggoda Ria dan meng-gpp-kan usaha Teh Lilis meredam tingkah random anaknya. “Gpp, Mba.. Ih, si Mba, kaya gak pernah kecil aja..”

“Bapaknya mana? Masih tidur ya?” Kata gua, bertanya pada Ria yang tampak antusias (mau gua sebut ‘norak’ ga tega) mencet-mencet dan melihat monitor didepannya. Ria hanya menjawab sepintas kemudian tanpa melihat kearah gua, “Iya..” katanya.

Teh Lilis yang menyadari tingkah anaknya menggelengkan kepala dan tersenyum malu. Karena anaknya tak menggubris, gua pun kemudian mengajak berbicara ibunya. Eaaa. Kalo kata pepatah, “Habis jatuh tertiban janda”

Kalo kata orang jawa, malahane.

“Mba, siapa namanya?”
“Lilis..”
“Aslinya juga satu tempat sama Mas Muji?”
“Oh, ngga. Saya mah dari Ciamis..”
“Ooh, urang sunda. Teteh, dong ya, manggilnya..”
“Hehe, iya..”

Lagi-lagi kalian jangan berharap gua pribadi akan meng-wot-kan Teh Lilis didalam mobil. Karena tak lama dari obrolan perkenalan diatas, kami tiba diarea sekolahan. Lagipula masih ada anak dibawah umur.

Setelah kami berpisah semuanya kembali normal menyerupai biasanya lagi. Tak ada niat kotor, tak ada pikiran mesum, meski bertemu dan bertukar senyum dengan Teh Lilis di hari-hari berikutnya.

Sampai akhirnya, awal mula kemesuman yang kalian tunggu-tunggu hadir juga.

Gua kedatangan tamu dari jauh, seorang sobat lama. Kolega gua dalam usaha membawa cewe-cewe mabuk ke dalam gubuk.

Namanya Udjo. Saat ini ia sudah tinggal diluar kota bersama istri, anak, dan ibu mertuanya. Sepaket.

Gua mengajak Udjo makan bakso ditempat Mas Muji alasannya yaitu yaitu enggan menambah kemacetan ibu kota diakhir pekan. Entah alasannya yaitu yaitu final pekan atau habis hujan, ruko Mas Muji kebanjiran pembeli.

“Alhamdulillah, ya Mas kebanjiran pembeli, bukan kebanjiran air got!” Kata gua, coba mencairkan raut sibuk Mas Muji sehingga membuatnya tertawa. Karena ramai, tentu saja, Teh Lilis membantu suaminya melayani pembeli.

Saat itulah, Udjo memberi kode dengan menyolek-nyolek paha gua. Semacam isyarat yang berbunyi, “Bro, Anjirr. Bininya cakep bener nih tukang bakso!”
Gua hanya tersenyum dan sesekali menghentikan colekan Udjo. “Lu kata gua sabun!” kata gua juga dalam bahasa isyarat. Isyarat laraswati

Gua sama Udjo pun terlibat obrolan tanpa bunyi ketika menunggu baksonya datang. Kalian tau macam mana obrolan tanpa suara, kan? Taulah, pasti. Haha.

Gua menyikut Udjo ketika ia mulai ekstrim memandang Teh Lilis yang entah sedang mengambil kembalian atau mencuci mangkok. “Lah, elu mah enak, mau ngeliatin ia pake muka mesum macam apa juga gak masalah. Gua, yang gak enak!” Kata gua ketika kembali berbincang dirumah.

“Tapi asli, bro. Itu tadi mbanya boleh tuh, asli. Lah, lakinya aja udah aut, bro!”
“Aut?” Tanya gua, gak ngerti.
“Iya, aut. Tua, bego!” Jawabnya menjelaskan sambil tertawa.

Gua pun tertawa dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tapi Udjo menyerupai sudah dirasuki iblis mesum piaraan gua sendiri. Dia berkata dengan begitu yakin, “Kalo gua jadi lu, bro. Gua sikat tuh bininya kang bakso! Asli!”
“Sikat, ndasmu sempal!” Balas gua menyudahi kemesuman yang ada.

Udjo benar-benar menginspirasi gua untuk menggagahi Teh Lilis. Dia seolah mengatakan gua keyakinan kalo Teh Lilis pasti mau diajak selingkuh. “Asli, pasti mau!” begitu kata Udjo, dengan keyakinan tingkat wali.

Dan, iblis pun menyusun situasi mesum untuk gua.

Malam itu gua sampe rumah sudah sangat larut, sekitar jam 1an. Gua ngeliat Teh Lilis sedang belanja diwarung klontong milik orang Madura, yang pernah gua tanya, “Buka 24 jam ya pak?” Dijawab, “Ngga, cuma sampe pagi kok..” Okee.. Makasih pak..

Setelah markir kendaraan, gua bergegas ke warung klontong itu yang jaraknya tak jauh dari rumah gua.

“Eh, Teh Lilis.. Belum tidur, Teh?”
“Oh, iyaa..” Jawabnya malas. Duh, gak ada peluang nih, batin gua.

“Beli apaan, Teh..” Tanya gua lagi.
“Hah? Ituh, tau nih, bapaknya Ria. Minta makan mie..” Jawabnya setengah terkejut. Teh Lilis tampak murung dan melamun. Gua memandanginya dengan seksama. Baru ngeliatin ia aja, dada gua udah berdebar. Kaki gua gemeter. Dan, yap! Iblis berbisik, “tuh bos, ia nyebut Mas Muji “Bapaknya Ria” bos, bukan “Suamiku”. Itu artinya mampu digoyang imannya, bos! Lanjut, bos!”

“Beli apa mas?” Tanya Teh Lilis? Bukan! Tanya orang Madura. Membuyarkan lamunan gua menatap Teh Lilis.

“Oh. Rokok pak.. Lupa saya. Sama kopi juga deh..”
“Seduh sekalian kopinya?”
“Gak usah, pak. Eh, tapi kalo airnya baru mendidih, boleh deh..”

Tak disangka, Teh Lilis ikut bicara.

“Jam segini malah mau ngopi, mas. Gak tidur emangnya?”
“Hehe, iya Teh. Masih ada kerjaan..”
“Emang, Mas kerjanya dimana?” Tanyanya lagi. Sambil bayar gua ngomong, “Kenapa? Teteh mau ikut? Hehe.” dengan pandangan menggoda. Teh Lilis sesaat kaget, kemudian tertawa.

“Duluan, Teh..” Kata gua, kemudian cabut dari warung. Teh Lilis masih menunggu belanjaannya. Dan tak lama, ia pun bergegas pulang.

Teh Lilis cuma berjarak 3 langkah dibelakang gua. Gua sengaja memperlambat jalan gua. Teh Lilis dilema, antara mau duluin gua atau ikutan jalan lambat. Dia milih opsi pertama, mungkin alasannya yaitu yaitu sudah ditungguin suaminya.

“Ayo, mas..” Katanya ketika berada disebelah gua sesaat mendahului.

“Oh, iya Teh..” Balas gua, sok hirau taacuh dengan akting mainan gejet. Dalam hati bergejolak, “minta-ngga-minta-ngga..” Akhirnya gua memilih, Ngga! Haha, cupu banget gua. Minta nomornya aja takut! Yaiyalah, takut. Bini orang, sob!

Tapi iblis punya rencana lain. Saat berada didepan ruko/rumah Teh Lilis, ia kembali bersuara sebelum masuk. Seolah mengatakan kode, kalo ia mau kok diajak selingkuh.

“Awas, Mas, kesandung! Hehe” godanya, yang melihat gua jalan sambil menatap layar gejet. Gua sok cool, menengok kearahnya dan hanya tersenyum. Ingin rasanya ngomong, “Teh, minta nomor teleponnya, Teh..” Tapi itu namanya main kotor. Kemungkinan didenger Mas Muji besar, jadi gua urung melakukannya.

Sampai kamar, gua menyusun rencana dan tidur. Kopi yang gua beli dan udah diseduh, yang hanya menjadi kamuflase itu pun tak tersentuh. “Biarlah jadi rejeki semut..” Batin gua, kemudian tidur.

***

Pagi-pagi sekali gua bersiap menjalankan aksi. Hemm, menyerupai apa aksi gua? Stay tune, gaes!

Pagi-pagi sekali gua sudah berada di area sekolahan tempat Ria sekolah.

Iblis benar-benar sudah menguasai diri gua. Entah dimana keberadaan malaikat.

Rencananya, gua akan mulai mendekatkan diri sama Teh Lilis ketika ia menunggu Ria. Dan, melihat umur Teh Lilis yang gak tua-tua amat, dugaan gua ia pasti gak akan ikut nunggu Ria sambil ngerumpi sama ibu-ibu lain yang juga mengantar anaknya.

Tapi dugaan tinggal dugaan. Teh Lilis ikut membaur dengan ibu-ibu. Iblis memberi celah dengan tidak adanya ibu-ibu yang berada di sekitar Teh Lilis yang gua kenal. Jadi, besar kemungkinan juga gak ada yang mengenal gua. Tinggal kemudian gua mencari celah untuk “dilihat” Teh Lilis.

Mulai dari bersiul kearah Teh Lilis, sampai melambai-lambaikan tangan, ia tetap tak sadar keberadaan gua. Tiba-tiba saja ide muncul ketika melihat bocah sd keluar dari salah satu kelas (bukan kelasnya Ria), gua pribadi mengiming-imingin jajanan dan mengantarnya kembali ke kelas mirip gua yaitu sodaranya.

Teh Lilis sedikit kaget melihat keberadaan gua. Gua mengangguk dan tersenyum kearahnya. Setelah si bocah masuk kelas, gua menghampiri Teh Lilis.

“Nganter? Siapa?” Katanya, membuka pembicaraan.
“Oh, iya. Keponakan Teh..”
“Oohh..” Responnya sambil beranjak dari tempat duduk hendak membeli jajanan.

Gua sih yakin kalo ia cuma ngasih peluang ke gua, semacem kode minta ditelanjangin. Atau minimal ini settingan iblis.

“Nungguin sampe pulang, Teh?” Tanya gua. Dia gak gak menjawab, hanya mengangguk. Raut wajahnya tampak risih. Seketika gua bagai tersambar petir. “Anjir, gua cuma kegeeran nih..” Batin gua.

“Teh..” Sapa gua lagi. Pantang menyerah.
“Iya..” Jawabnya, masih dengan raut wajah risih dan cenderung was-was. Gua pribadi menyodorkan hp dan minta nomor teleponnya. Dang! Hp gua gak direspon.

Tapi ia malah bilang, “Nomor Mas aja berapa?” sambil mengeluarkan hpnya dan gua pun pamit duluan sehabis mengatakan nomor hp.

Gua sih ga yakin ia bakal ngontek gua, tapi atas dasar positive thinking untuk kelakuan negative, gua menunggu kontak Teh Lilis. Tak sampai satu jam, ada pesan masuk ke hp gua.

“Ada apa ya, Mas? Maaf, saya risih ngobrol ditempat umum. Takut dikira macem-macem. Lilis.”

Hhhuuaaa.. Teh Lilis. Macam orang dulu aja ngirim Short Messages Service. Hehe

“Hehe, kalo gitu saya Teh yang minta maaf. Ga ada apa-apa Teh, mau kenal aja. Mau ngobrol-ngobrol. Kalo smsan gini masih risih ga, Teh? Hehe”

Baca Juga - Gejolak Birahi Mamang si Tukang Sayur

“Ya kalo sms gini ga risih. Kan gak ada yang liat. Mau kenal? Kan udah kenal. Ngobrol kok sama ibu-ibu sih Mas, sama yang masih gadis aja atuh.”

“Duh, Teh. Kalo sama gadis mah ribet Teh, ambekan. Dikit2 ngambek. Hehe. Teh Lilis tiap hari nungguin Ria?”

“Yah Mas, ibu-ibu juga sering ngambek kok. Namanya juga perempuan. Heee. Iya, tiap hari nungguin. Mas tadi anter anaknya ponakan? Kok baru liat.”

“Hehe, ngga Teh. Sebenernya cuma alesan buat ketemu Teteh aja ”

“Hmm. Mas, tolong jangan nelepon saya yah klo saya lagi dirumah. Takut bapaknya Ria tau nanti malah nyangka macet-macet.”

Pesan terakhir Teh Lilis gak gua bales, tapi gua berinisiatif pribadi meneleponnya. Teh Lilis terasa begitu segan dan risih ketika mendapatkan telepon gua. Tapi meski begitu, ia juga tak memadamkan percikan untuk digoda. Gua sebagai lelaki normal yang abstrak tentu saja tak melewatkan peluang begitu saja.

Gua mencoba membuatnya nyaman berbicara sama gua. Pelan-pelan Teh Lilis mulai ‘biasa’ dan enjoy dalam berbicara. Sesekali ia bercerita juga bertanya. Nah, kedua hal tersebut yaitu koentji sebuah pedekate berhasil atau tidak.

Akhirnya Teh Lilis menyudahi obrolan via telepon itu alasannya yaitu yaitu jam pulang Ria sudah tiba. Gua longok jam tangan, ‘pukul 09:50 WIB’.

Diakhir obrolan gua sempet ngomong, “Kalo lagi suntuk sms saya aja, Teh. Siapa tau malah tambah suntuk..” seraya tertawa. Teh Lilis juga tertawa lepas ketika menutup teleponnya.

Gua pulang kerumah waktu bencong pun belum dandan. Pikiran gua dipenuhi strategi-strategi menelanjangi Teh Lilis.

Dan sepertinya, Teh Lilis ini memang minta ditelanjangi. Dia sms gua gak lama sehabis gua sampai rumah.

“Tumben Mas jam segini udah pulang? Gak jalan-jalan dulu sama pacarnya? Lagi marahan ya.. Hehehe”

Gua sempat kaget mendapati sms Teh Lilis, alasannya yaitu yaitu pas gua liat sebelum masuk rumah, Teh Lilis lagi momong Ria di dekat Mas Muji. Mas Muji sendiri sedang melayani pembeli yang gak banyak-banyak amat dan gak sedikit juga.

“Hehe, mampu aja Teteh. Lagi nonton tv apa masih di depan Teh? Tadi saya lihat kan Teteh di depan.”

“Iya, lagi nonton tv. Udah ga di depan, banyak pembeli. Lagi sekalian nidurin Ria.”

“Nidurin Ria? Mau juga dong Teh, ditidurin. Ahahaha. Becanda, Teh. Loh, banyak pembeli kok gak bantuin Mas Muji?”

“Hmm. Untung cuma becanda. Bantuin kok, tapi sambil nonton tv. Heee.”

“Owgitu..”

Biajingan, gua keabisan ide sampe cuma begitu doang bales smsnya. ‘Owgitu..’ Sms macam apa itu? Macem lagi wasapan atau bbman aja. Padahal di sms tersedia 140 karakter. Eh, bener apa ngga ya? Bodo, ah. Haha.

Tapi ditengah keputusasaan balesan sms gua, Teh Lilis memainkan perannya.

“Besok nganter lagi Mas?”

“Nganter, bareng aja Teh.”

“Gak ah. Ngerepotin.”

“Yah, Teh. Timbang gitu aja ngerepotin.”

“Heeeehe. Boleh deh kalo gak ngerepotin.”

“Eh, sebenernya emang ngerepotin sih Teh. Kecuali kalo abis nganter trus Teteh nungguin Ria-nya diluar sama saya, baru gak ngerepotin.”

“Hmm. Keluar kemana Mas?”

“Gak usah jauh-jauh Teh. Biar jam setengah sepuluh udah sampe sekolahan lagi. Kemana aja, yang penting mampu ngobrol-ngobrol.”

“Gak ah. Takut ada yang liat Mas.”

“Ya kalo gitu, kita pergi ketempat yang gak ada orang liat. Hehe.”

“Mas mampu aja. Udahan dulu ya, Mas. Jangan sms lagi.”

Huhu. Yes!

07:00 WIB

Besoknya, menyerupai yang sudah dismskan semalem, gua nganter Ria dan Teh Lilis dengan bergaya mirip gak janjian.

Teh Lilis sempat bertanya, “Keponakannya mana Mas?” waktu perjalanan ke sekolah. Tapi gak gua jawab, alasannya yaitu yaitu pun ia nanya dengan raut wajah menggoda. Jiguri.

Setelah sampai sekolahan, Teh Lilis mengantar Ria ke kelas. Gua kemudian meneleponnya, memberitau kalo gua nunggu diseberang jalan utama sekolahan. Teh Lilis hanya membalas dengan suara, “Hmm.. He’em.. Iya. Iya. He’em..”

07:30 WIB

Tak sampai 20 menit, Teh Lilis sudah masuk ke dalam kendaraan beroda empat yang gua parkir di minimarket. Gua sedang berada di dalam membeli ‘perlengkapan perang’.

Mobil sengaja menyala dan gak gua kunci, Teh Lilis menjalankan semua perintah gua. Nice.

“Kemana Mas?” Tanya Teh Lilis waktu gua baru masuk mobil.

“Kemana ya?” Kata gua sambil memandanginya dari atas sampai bawah, tanpa ada gangguan sedikitpun. Muka Teh Lilis seketika memerah. Kemudian memalingkan pandangannya.

Teh Lilis hanya memakai celana piama. Celana tidur dipadu dengan daster sedengkul dan jaket. Badannya yang bahenol terlihat dari balik pakaian yang berbahan lemas itu. Meski jaket blazernya coba menutupi.

Gua mulai pembangkang dengan menyentuh belahan rusuknya. Teh Lilis reflek bergoyang. Sekali, dua kali, sampai hasilnya Teh Lilis menghadap gua, kemudian meraup wajah gua. Seperti sedang menampar, tapi tanpa tenaga.

“Bajingan, berani nyentuh gua nih ibu-ibu..” Batin gua. Gua pun pribadi memanfaatkan dengan memegang tangannya. Teh Lilis membeku. Gua berdebar tak karuan.

“Yang penting, cabut dulu aja Teh dari sini..” Kata gua kemudian sambil keluar parkiran dan gas pol entah kemana.

Dijalan, gua menimang-nimang tempat tujuan. Teh Lilis gak banyak bicara, cenderung sedikit grogi. Raut wajahnya juga tampak khawatir. Entah khawatir gua apa-apain atau khawatir perbuatan nekatnya ini tertangkap berair Mas Muji.

07:50 WIB

Di depan gerbang hotel, gua berhenti dan memandang Teh Lilis. Satu, dua, tiga detik, Teh Lilis tak kunjung memandang balik. Gua menggoyangkan jari di lingkaran stir.

Teh Lilis memandang balik. Raut wajahnya bukan sekedar bertanya “Ngapain berhenti didepan hotel?” tapi juga, “..Kalo mau masuk, ya masuk.”

Gua tersenyum lebar. Teh Lilis menghembuskan nafas panjang. Iblis berdendang dijok belakang. Malaikat terbelenggu didalem bagasi.

***

08:00 WIB

“Mas ngapain kita kesini?” Tanya Teh Lilis ketika sudah duduk dibibir kasur hotel.

“Ngapain ya Teh enaknya? Hehe. Ngobrol aja Teh..” Jawab gua sambil merebahkan tubuh dikasur. Teh Lilis membelakangi gua.

“Kan, kalo ngobrol disini gak bakal ada yang liat Teh..”

Teh Lilis sesekali menengok kebelakang, melihat posisi pewe gua. “Sini, Teh, nontonnya sambil rebahan. Kaya waktu saya pertama ngeliat Teteh, kan lagi nonton tv sambil tiduran gini..” Goda gua.

Teh Lilis kembali menengok dan tertawa malu. “Saya duduk, sih waktu itu. Gak tiduran. Dibilangin bapaknya Ria, mau ada yang numpang kamar mandi.”

Didalam kamar, hampir selama setengah jam, hanya gua habiskan dengan ngobrol gak jelas. Sama-sama malu. Sama-sama grogi. Tapi lambat laun, Teh Lilis mulai santai dan berkeliling kamar hotel.

Duduk dimeja rias. Ke kamar mandi. Buka-buka kulkas dan baca majalah. Sesekali mendekat ke arah gua untuk bertanya sesuatu yang ada dikamar hotel. Gua pun justru larut dengan menyia-nyiakan waktu yang ada sambil glesoran dikasur.

Madep kanan, madep kiri, tungkerep, telentang. Glesoran gak karuan.

Sampai hasilnya gua bertanya sesuatu, “Eh, Teh. Kok umurnya mampu beda jauh sih sama Mas Muji?”

Teh Lilis yang sedang duduk didepan meja rias sambil baca majalah kemudian berdiri. Mukanya seketika kesal. “Saya mau balik ke sekolahan, Mas..” Katanya.

Doh, ngambek!

Teh Lilis kemudian berjalan menuju pintu, gua pribadi beranjak dari kasur dan menahannya.

Kemudian gua minta maaf kalo ada sesuatu yang menyinggung. Teh Lilis tak bergeming. Gua sedikit menarik tangannya. Yang terjadi kemudian sungguh diluar perkiraan.

Gua hanya menarik tangannya pelan untuk mendapatkan perhatiannya yang sebelumnya enggan memandang gua. Tapi reaksi Teh Lilis menyerupai baru saja di uppercut Muhammad Ali.

Dia merobohkan badannya yang secara otomatis menimpa tubuh gua yang kemudian terjatuh dikasur.

Sesaat kami saling pandang. Kedua tangan Teh Lilis berada didada gua, sedikit menopang tubuhnya.

Gua kemudian melingkarkan tangan gua dibadannya. Teh Lilis tak bereaksi. Masih memandangi gua. Gua salah tingkah. Muka Teh Lilis sedikit berubah menjadi sangat serius. Sesekali ia memejam.

Kemudian gua meraih kedua tangannya. Badan Teh Lilis sepenuhnya menindih tubuh gua. Payudaranya yang bahenol mendarat sempurna didada gua. Muka Teh Lilis makin berubah ketika gua menggoyangkan badannya. Bibirnya bergerak-gerak menyerupai ingin melumat atau berkata sesuatu.

Gua melepaskan jaket blazzernya. Ariel sudah tegangan tinggi. Kaki Teh Lilis lurus diatas gua.

Gua kemudian meremas bokongnya supaya kakinya terbuka. Dan, yap, Teh Lilis mengangkang diatas gua dengan wajah horny.

Ariel yang sudah tegangan tinggi terasa bersentuh dengan belahan vagina Teh Lilis. Gua menggoyangkan pinggul naik-turun sambil meremas bokongnya. Sebentar saja, Teh Lilis sudah mengikuti irama goyangan.

“Sssstttt..” Desisnya sambil memejamkan mata. Giginya menyerupai sedang menggigit sesuatu. Gua makin kencang meremas bokongnya.

Tiap gua remas dan bergoyang, Teh Lilis berdesis sambil mengatur nafas. “Sssssttt..”

Tangan gua masuk ke dalam celana piamanya. Mudah saja buat gua alasannya yaitu yaitu hanya berbahan kolor. Setelah didalam celana, tangan gua gak meremas bokongnya, tapi pribadi menyentuh vaginanya dari atas.

Teh Lilis pribadi mencengkram wajah dan melumat bibir gua. “Eemmm…” Desah gua.

Sambil berciuman, saling melahap satu sama lain, gua menarik-narik kancut Teh Lilis. Teh Lilis bergeliat sambil menggoyangkan sendiri pinggulnya. “Sssssttt…hhuuu..” Desahnya kali ini.

Gua kemudian mulai meremas payudaranya. Teh Lilis memberi ruang dengan sedikit mengangkat tubuhnya yang berada diatas gua. Sebentar saja, gua pribadi membuka tali branya dan mengangkat daster serta branya.

Payudara bahenol Teh Lilis menggantung diatas wajah gua. Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan dikasur. Setelah menikmati aroma tubuhnya, gua mulai mengulum puting payudara Teh Lilis.

Dari payudara yang satu, ke yang lain. Secara adil gua kulum dan remas payudaranya. Teh Lilis menggoyangkan badannya ketika gua sedang melahap salah satu payudaranya.

08:40 WIB

Sambil menjilati putingnya, gua kembali meremas bokongnya.

Teh Lilis makin menikmati kebejatannya. Dia membuka celananya pake satu tangan dengan gerakan yang dinamis, tanpa mengganggu gua yang sedang melahap payudaranya. “Ssssttt.. Aahh..” Desahnya.

Gua kemudian membalikkan badan. Teh Lilis telentang sambil bergeliat ketika gua melepas celana. “Dasternya, buka Teh..” Kata gua ketika hendak menjilati vaginanya yang masih tertutup. Teh Lilis membuka dasternya dan tapi kemudian menarik wajah gua dan mengatakan ciuman dahsyat. Dia mencium sambil menyedot.

Gua memasukkan tangan ke dalam kancutnya dan menyentuh vaginanya. Teh Lilis makin melumat bibir gua. Lalu gua memaikan jari dimulut vaginanya. Basah!

Vagina Teh Lilis sudah berair ketika gua melepaskan kancutnya, dan ketika hendak menjilati, lagi-lagi ia menarik kepala gua. Gua pun hasilnya hanya mengocok vaginanya dengan jari sambil menjilati payudaranya. “Aaaahhhh.. Sssttt.. Aaaauuggghh..” Desahnya.

Kemudian gua memasukkan satu lagi jari ke dalam vaginanya. Teh Lilis mengerang sambil mencengkaram leher gua. Gua melepaskan cengkramannya sambil mempercepat gerakan jari mengocok vaginanya.

Baca Juga - Menjadi Pemgantin Muridku

Untuk mendapatkan hasil maksimal, gua menegakkan dudukan badan. Yang tadinya sedikit membungkuk mengulum payudara, menjadi duduk tegap disamping tubuh Teh Lilis yang bergeliat keenakan.

Pemandangan dari sini yaitu yang terbaik ketika sesi porplei, bro.. Haha. You, know lha.

Teh Lilis tak mampu menyembunyikan raut wajah aib bercampur nafsu ketika gua sengaja mengocok vagina sambil memperhatikannya. “Enak, Teh..” Kata gua.

Entah pertanyaan bodoh macam apa itu. Sialnya, itu pertanyaan yang sering diajukan lelaki ketika sedang mengatakan nikmat ke wanita yang sesang dieksekusi.

Teh Lilis menutupi wajahnya dengan bantal ketika tak kuasa mendesah. Dia mendesah dibalik bantal. Gua pribadi menyingkirkan bantal. Wajah Teh Lilis tampak sudah tak perduli. Dia benar-benar menikmati gerakan jari-jari gua.

“Aaahhh, aaakkhhh, hhhaaaahhh..” Desahnya sambil meremas salah satu payudaranya. Payudara yang lain, gua bantu meremas.

Sesaat gua bertanya-tanya. “Ini orang udah punya anak kok pentilnya masih bagus?” Sambil memilin dan meremas buah dadanya.

Sesekali gua kembali melumat pentil dan payudaranya. “Aaaakkkhhh…” Desahnya, panjang. Kemudian gua makin cepat mengocok vaginanya. Teh Lilis coba merangkul leher gua, tapi tak mampu alasannya yaitu yaitu gua menghindar. Ia kemudian mencengkram sprei kasur dengan kedua tangan yang berada diatas kepalanya. Melihat pemandangan menyerupai itu, gua makin semangat mengocok.

Akhirnya Teh Lilis memuncratkan cairan dari vaginanya. Badannya bergeliat tak karuan. Ia menahan gerakannya sambil mengatur nafas.

09:05 WIB

Teh Lilis terkujur lemas dengan tubuh sedikit miring. Kedua kakinya menutup vaginanya.

Gua kemudian mengeluarkan Ariel dan mendekatkan ke wajahnya. Gua ‘memukul-mukul’ wajah Teh Lilis dengan pentungan hansip itu. Lalu mulai menggerayangi mulutnya. Teh Lilis urung membuka mulut, ia tampak sedang masih mengumpulkan tenaga.

Gua terus berusaha sambil kembali meremas payudaranya. Lalu membuka kakinya yang menutupi vagina. Teh Lilis kembali terlentang dengan posisi sedikit mengangkang. Gua mengatakan sentuhan-sentuhan ringan ke sekujur badannya.

Kemudian sehabis menjilati payudaranya, gua menciumi belahan pahanya. Posisi gua masih dengan Ariel yang berada di wajah Teh Lilis. Gua kemudian merebahkan tubuh disamping dengan posisi terbalik. 69!

Dengan posisi menyamping, gua mulai melumat vagina Teh Lilis. Dia pribadi meremas Ariel. Lalu gua mengangkat badannya menindih tubuh gua dalam posisi sempurna 69.

Gua menjilati vagina Teh Lilis yang terasa asin. Teh Lilis urung melahap Ariel sampai gua memasukkan satu jari kedalam vaginanya. “Oouugghh..” Desahnya, kemudian melahap Ariel.

Ariel terasa hangat dan basah.

Bokong Teh Lilis bergerak-gerak diatas wajah gua. Vaginanya sempurna berada dimulut gua. Sementara Ariel keluar masuk mulutnya.

Teh Lilis makin menikmati tugasnya. Sesekali ia menyedot Ariel dalam-dalam, kemudian menjilati dan mengulum bola dragonbol. “Ahhh, enak teh..” Kata gua. Kali ini bukan pertanyaan, ini pernyataan.

Teh Lilis tiba-tiba menegakkan badannya.

Sambil mengocok Ariel, ia merangkak naik dan mengurung Ariel kedalam vaginanya. Jleb!

“Aahh, Fak!” Respon gua, tak menyangka ia pribadi ke topik utama.

Teh Lilis membelakangi gua dengan kedua tangan memegang sandaran punggung kasur. Ariel terlihat timbul tenggelam dari bokong Teh Lilis yang gua liat dari belakang.

Gua memegang bokong Teh Lilis, membantunya bergerak naik-turun, maju-mundur. “Sssssstttt, mmaaasss… Aaahhhh” Desah desis Teh Lilis yang makin cepat menggenjot.

Lalu gua bangun dari tidur dan memeluk Teh Lilis dari belakang. Sambil meremas payudaranya, gua menciumi punggungnya.

Teh Lilis makin beringas, ia merangkul gua dengan posisi membelakangi. Nikmat sekali. Lalu Teh Lilis meminta berciuman, dengan senang hati gua melayaninya. Kedua tangan Teh Lilis yang setengah merangkul leher gua, membuat ketiaknya tampak menggairahkan. Sesekali gua mengatakan kecupan ke ketiaknya.

Meski tidak harum, tapi juga tidak bau. Yang penting, tidak ada bulunya!

09:18 WIB

Badan Teh Lilis yang bahenol tak mampu gua tahan lebih lama berada diatas paha gua.

Gua lalu* memintanya berdiri, dan mengambil posisi doggy tanpa melepas Ariel yang betah didalam vagina Teh Lilis.

Teh Lilis bangun dengan lututnya, masih dengan posisi membelakangi gua.

Gua sedikit membungkukkan punggungnya, sambil meremas payudara. Teh Lilis bergeliat ketika lehernya gua kecup-kecup.

“Keluarin didalem, Teh?” Tanya gua ketika bergerak lambat menikmati ciuman.

“Jangan dikeluarin dulu..” Bisiknya, manja.

Gua kemudian menghadapkan wajahnya kearah jam dinding sambil melumat bibirnya.

Dia yang paham maksud gua kemudian mendorong bokong gua supaya masuk lebih dalam. Gua kemudian berakselerasi tingkat tinggi.

“Plak! Plak! Plak!” Suara yang keluar, diikuti desahan Teh Lilis, “Aaakkhhh, aaaaakkhh, Maasss.. Sssttt..”

Tak butuh lama dari serangan terakhir, Ariel memuntahkan ludah naga didalam vagina Teh Lilis.



“Oouugghhh…” Desah gua, panjang.

Teh Lilis pribadi membenamkan wajahnya dikasur dengan posisi nungguing. Tampak sperma gua secara perlahan keluar dari dalam vagina Teh Lilis. “Sssstttt.. Hhhaaaahhh..” Desisnya.

Setelah tampaknya sperma sudah banyak yang keluar, Teh Lilis merobohkan badannya, tidur tungkerep.

Lalu bersuara pelan, “Ria udah saya titipin sama temen. Nanti pribadi saya jemput dirumahnya..”

Cie “Aku”


3