Anak Sahabatku


Gue punya sahabat namanya Olla kami jarang bertemu atau berjumpa semenjak kami sudah berkeluarga hingga anak kami bertumbuhya remaja tapi kami selalu telpon atau sms menanyakan kabar jadi jalinan persahabatan kami masih berlanjut hingga sekarang, ada saja yang kami bicarakan dari tanya kabar anaknya, orang tuaya dan lain sebagainya. 

Pada hari sabtu pagi Olla menelponku katanya ia habis pulang dari Magelang kota kelahirannya ia membawakan oleh oleh kecil untuk keluargaku.

Katanya Anaknya yang berjulukan Riko akan mengahantarkan oleh olehnya kerumahku bila saya tidak keluar,

Ah terimakasih Olla sudah mengasih oleh oleh. Pasti ia membawa gethuk kesukaanku khas makanan magelang, gue pun tidak keluar menunggu kedatangan Riko kerumahku, yang mana hampir 15 tahun saya tidak pernah melihat Riko.

Malam itu Datanglah yang memakai kendaraan beroda empat Jeep masuk kedalam rumahku, kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Riko datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak Olla. Gue buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Riko naik ke teras rumah

“Selamat siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Erna. Kenalin ini Bonny sobat saya, Tante”. Riko menyerahkan kiriman dari mamanya dan mengenalkan temannya padaku. Gue sambut gembira mereka.

Oleh-oleh Olla dan pribadi Gue simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Gue terpesona ketika melihat anak Olla yang sudah demikian gede dan jangkung itu. Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak sahabatku ini.

Demikian pula si Donny temannya, mereka berdua ialah pemuda-pemuda masa kini yang sangat ganteng dan simpatik. Ah, anak jaman sekarang, mungkin karena teladan makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi subur. Mereka Gue ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka.

Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, ia pelototi bahuku, buah dadaku, leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang Gue lakukan, ketika Gue jalan, ketika Gue ngomong, ketika Gue mengambil sesuatu.

Ah, maklum anak laki-laki, bila lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan macam Gue ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke problem seksual. Dan si Riko sendiri senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya.

Kami jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terperinci Gue senang dengan mereka berdua. Dan tiba-tiba Gue merasa berlGue aneh, apakah ini karena naluri perempuanku atau dasar genitku yang nggak pernah hilang semenjak masih gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai perempuan gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali hadir.

Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Donny yang seolah-olah menunjukkan celah padaku untuk mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda. Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan hatiku.

Ah, dasar perempuan bau tanah yang nggak tahu diri, makian dari hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang pribadi terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku itu.

“Tante, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho”. Kami kembali terbahak mendengar kelakar Riko. Dan kulihat mata Donny terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang masih mulus ini.

Dan Gue tidak heran bila bawah umur muda macam Donny dan Riko ini demen menikmati penampilanku. Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 42 Gue tetap “fresh” dan “good looking”. Gue memang suka merawat tubuhku semenjak muda.

Boleh dibilang tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau Gue jalan sama Oke, suamiku, banyak yang menerka Gue anaknya atau bahkan “piaraan”nya. Kurang asem, tuh orang.

Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau ia berkesempatan untuk membicarakan istrinya, seolah-olah memberi iming-iming pada para pendengarnya hingga Gue tersipu walaupun dipenuhi rasa besar hati dalam hatiku.

Beberapa sobat suamiku nampak sering terpengaruhi untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba Gue ada inspirasi untuk menahan kedua anak ini.

“Hai, bagaimana bila kalian makan siang di sini. Gue punya resep kuliner yang gampang, cepat dan sedap. Sementara Gue masak kau bisa ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si oom. Kamu bisa main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang ‘enggak-enggak’, ya..”, Gue tawarkan makan siang pada mereka.

Tanpa konsultasi dengan temannya si Donny pribadi iya saja. Gue tahu mata Donny ingin menikmati sensual tubuhku lebih lama lagi.

Si Riko ngikut saja apa kata Donny. Sementara mereka buka komputer Gue ke dapur mempersiapkan masakanku. Gue sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu Donny sudah berada di belakangku. Dia menanyaiku, “Tante dulu sobat kuliah mamanya Riko, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?”.

“Apanya yang jauh?, Gue tahu maksud pertanyaan Donny.

“Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku”.

“Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don”.

“Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Riko”, lanjutnya sambil melototi pahaku.

“Tante hobbynya apa?”.

“Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”.

“Ooo, pantesan”.

“Apa yang pantesan?”, sergapku.

“Pantesan body Tante masih mulus banget”.

Kurang asem Donny ini, tanpa kusadari ia menggiring Gue untuk mendapatkan peluang melontarkan kata-kata “body Tante masih mulus banget” pada tubuhku. Tetapi Gue tak akan pernah menyesal akan giringan Donny ini.

Dan reaksi naluriku pribadi membuat darahku terasa serr.., libidoku muncul terdongkrak. Setapak demi setapak Gue merasa ada yang bergerak maju. Donny sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke Gue dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-lelakian-nya.

“Ah, mata kau saja yang keranjang”, jawabku yang pribadi membuatnya tergelak-gelak.

“Papa kamu, ya, yang ngajarin?, lanjutku.

“Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin”.

Ah, cerdasnya anak ini, kembali Gue merasa tergiring dan kesannya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.

“Memangnya pinter dengan sendirinya?”, lanjutku yang kepingin terjebak lagi.

“Iya, dong, Tante. Gue belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an”.

Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.

“Gitu-gituan gimana, sih, Don sayang?”, jawabku lebih progresif.

“Hoo, bener sayang, nih?”, sigap Donny.

“Habis kau bawel, sih”, sergahku.

“Sudah sana, temenin si Riko tuh, n’tar ia kesepian”, lanjutku.

“Si Riko, mah, senengnya cuma nonton”, jawabnya.

“Kalau kamu?”, sergahku kembali.

“Kalau saya, action, Tante sayang”, balas sayangnya.

“Ya, sudah, bila mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar masakannya cepet mateng”, ujarku sambil memukulnya dengan manis.

“Oo, beres, Tante sayang”, ia tak pernah mengendorkan serangannya padaku.

Kemudian ia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang siap di-ulek. Beberapa ketika kemudian Gue mendekat ke ia untuk melihat hasil ulekannya.

“Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini busuk bumbu yang menyerupai Tante atau busuk Tante yang menyerupai bumbu?”.

Kurang asem, kreatif banget nih anak, sambil ketawa ngakak kucubit pinggangnya keras-keras hingga ia aduh-aduhan. Seketika tangannya melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya itu.

Saat terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, ia melihat ke matGue. Ah, pandangannya itu membuat Gue gemetar. Akankah ia berani berbuat lebih jauh? Akankah ia yakin bahwa Gue juga merindukan kesempatan macam ini? Akankah ia akan mengisi gejolak hausku? Petualanganku? Nafsu birahiku?

Gue tidak memerlukan tanggapan terlampau lama. Bibir Donny sudah mendarat di bibirku. Kini kami sudah berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan tangan-tangan kami saling berpeluk. Dan tanganku meraih kepalanya serta mengelusi rambutnya.

Dan tangan Donny mulai bergeser menerobos masuk ke blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku untuk kemudian meremasi payudarGue. Dan Gue mengeluarkan desahan nikmat yang tak terhingga. Nikmat kerinduan birahi menggauli anak muda yang seusia anakku, 22 tahun di bawah usiaku.

“Tante, Gue nafsu banget lihat body Tante. Gue pengin menciumi body Tante. Gue pengin menjilati body Tante. Gue ingin menjilati nonok Tante. Gue ingin ngentot Tante”.

Ah, seronoknya mulutnya. Kata-kata seronok Donny melahirkan sebuah sensasi erotik yang membuat Gue menggelinjang hebat. Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan ada jendolan panas yang mengganjal. Pasti kontol Donny sudah ngaceng banget.

Kuputar-putar pinggulku untuk mencicipi tonjolannya lebih dalam lagi. Donny mengerang.Dengan tidak sabaran ia angkat dan lepaskan blusku. Sementara blus masih menutupi kepalGue bibirnya sudah mendarat ke ketiakku.

Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Gue mencicipi nikmat di sekujur urat-uratku. Donny menjadi sangat liar, maklum anak muda, ia melepaskan gigitan dan kecupannya dari ketiak ke dadaku.

Dia kuak BH-ku dan keluarkan buah dadaku yang masih nampak ranum. Dia isep-isep bukit dan pentilnya dengan penuh nafsu. Suara-suara erangannya terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya.

Sementara itu tangannya mulai merambah ke pahaku, ke selangkanganku. Dia lepaskan kancing-kancing kemudian ia perosotkan hotpants-ku. Gue tak bisa mengelak dan Gue memang tak akan mengelak.

Birahiku sendiri sekarang sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat nafsuku telah melanda dan menghanyutkan Gue. Yang bisa kulakukan hanyalah mendesah dan merintih menanggung derita dan siksa nikmat birahiku.

Begitu hotpants-ku merosot ke kaki, Donny pribadi setengah jongkok menciumi celana dalamku. Dia kenyoti hingga berair kuyup oleh ludahnya. Dengan nafsu besarnya yang kurang sabaran tangannya memerosotkan celana dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap vagina, bibir dan kelentitku. Gue jadi ikutan tidak sabar.

“Donny, Tante udah gatal banget, nih”.

“Copot dong celanamu, Gue pengin menciumi kau punya, kan”.

Dan tanpa protes ia pribadi bangun melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya. kontolnya yang ngaceng berat pribadi mengayun seakan mau nonjok Gue. Kini Gue ganti yang setengah jongkok, kukulum kontolnya.

Dengan sepenuh nafsuku Gue jilati ujungnya yang sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Gue mencicipi precum asinnya ketika Donny menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Gue raih pahanya biar arah kontolnya sempurna ke lubang mulutku.

“Tante, Gue pengin ngentot memek Tante sekarang”. Gue tidak tahu maunya, belum juga Gue puas mengulum kontolnya ia angkat tubuhku. Dia angkat satu kakiku ke meja dapur hingga nonokku terbuka. Kemudian ia tusukkannya kontolnya yang lumayan gede itu ke memekku.

Gue menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan Oke, suamiku nggak nyenggol-nyenggol Gue. Yang sibuklah, yang rapatlah, yang golflah. Terlampau banyak alasan untuk menunjukkan waktunya padaku.

Kini kegatalan kemaluanku terobati, Kocokkan kontol Donny tanpa kenal henti dan semakin cepat. Anak muda ini maunya serba cepat. Gue rasa sebentar lagi spermanya pasti muncrat, sementara Gue masih belum sepenuhnya puas dengan entotannya.

Gue harus menunda supaya nafsu Donny lebih terarah. Gue cepat tarik kemaluanku dari tusukkannya, Gue berbalik sedikit nungging dengan tanganku bertumpu pada tepian meja. Gue pengin dan mau Donny nembak nonokku dari arah belakang. Ini ialah gaya favoritku.

Biasanya Gue akan cepat orgasme ketika dientot suamiku dengan cara ini. Donny tidak perlu menunggu permintaanku yang kedua. kontolnya pribadi di desakkan ke memekku yang telah siap untuk melahap kontolnya itu.

Nah, Gue mencicipi enaknya kontol Donny sekarang. Pompaannya juga lebih mantab dengan pantatku yang terus mengimbangi dan menjemput setiap bacokan kontolnya. Ruang dapur jadi riuh rendah.
Selintas terpikir olehku, di mana si Riko. Apakah ia masih berkutat dengan komputernya? Atau ia sedang mengintip kami barangkali? Tiba-tiba dalam ayunan kontolnya yang sudah demikian keras dan berirama Donny berteriak.

“Dang, Riko, ayoo, bantuin Gue .., Dang..”.

Ah, kurang asem bawah umur ini. Jangan-jangan mereka memang melaksanakan konspirasi untuk mengentotku ketika ada kesempatan disuruh mamanya untuk mengirimkan buah tangan itu. Kemudian kulihat Riko dengan tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny

“Gue kebagian apanya Don?’

“Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”.

Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah Gue ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam khayalku. Gue pribadi membayangkan seolah-olah Gue ini anjing mereka yang siap melayani apapun kehendak pemiliknya.

Gue melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dengan tenangnya Riko mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih kepalGue dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa menunjukkan rasa hormat padaku yang ialah sobat mamanya itu.

Untuk kemudian ditariknya mendekat ke kontolnya yang telah siap dalam genggaman tangan kanannya. kontol Riko nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar diujung batangnya.

Saat bibirku disentuhkannya aroma kontolnya menyergap hidungku yang pribadi membuat Gue kelimpungan untuk selekasnya mencaplok kontol itu. Dengan penuh kegilaan Gue lumati, jilati kulum, gigiti kepalanya, batangnya, pangkalnya, biji pelernya.

Tangan Riko terus mengendalikan kepalGue mengikuti keinginannya. Terkadang ia buat maju mundur supaya mulutku memompa, terkadang ia tarik keluar kontolnya menekankan batangnya atau pelirnya supaya Gue menjilatinya.

Duh, Gue mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar biasa. Sementara di belakang sana si Donny terus menggenjotkan kontolnya keluar masuk menembusi nonoknya sambil jari-jarinya mengutik-utik dan disogok-sogokkannya ke lubang pantatku yang belum pernah Gue mengalami cara macam itu. Oke, suamiku ialah lelaki konvensional.

Saat ia menggauliku ia lakukan secara konvensional saja. Sehingga ketika Gue mencicipi bagaimana perbuatan sobat dan anak sahabatku ini Gue mencicipi adanya sensasi gres yang benar-benar ahli melanda Gue.

Kini 3 lubang erotis yang ada padaku semua dijejali oleh nafsu birahi mereka. Gue benar-benar jadi lupa segala-galanya. Gue mengenjot-enjot pantatku untuk menjemputi kontol dan jari-jari tangan Donny dan mengangguk-anggukkan kepalGue untuk memompa kontol Riko.

“Ah, Tante, lisan Tante sedap banget, sih. Enak kan, kontolku. Enak, kan? Sama kontol Oom enak mana? N’tar Tante pasti minta lagi, nih”

Dia percepat kendali tangannya pada kepalGue. Ludahku sudah membusa keluar dai mulutku. kontol Riko sudah sangat kuyup. Sesekali Gue berhenti sessat untuk menelan ludahku.

Tiba-tiba Donny berteriak dari belakang, “Gue mau keluar nih, Tante. Keluarin di memok atau mau diisep, nih?”.

Ah, betapa nikmatnya bisa meminum air mani bawah umur ini. Mendengar teriakan Donny yang nampak sudah kebelet mau muncratkan spermanya,

Gue buru-buru lepaskan kontol Riko dari mulutku. Gue bergerak dengan cepat jongkok sambil mengangakan mulutku sempurna di ujung kontol Donny yang kini penuh giat tangannya mengocok-ocok kontolnya untuk mendorong supaya air maninya cepat keluar.

Kudengar mulutnya terus meracau, “Minum air maniku, ya, Tante, minum ya, minum, nih, Tante, minum ya, makan spermGue ya, Tante, makan ya, enak nih, Tante, enak nih air maniku, Tante, makan ya..”.

Air mani Donny muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku. Sebagian lain nampak mengalir di batang dan tangannya. Yang masuk mulutku pribadi Gue kenyam-kenyam dan kutelan. Yang meleleh di batang dan tanganannya kujilati kemudian kuminum pula.

Kemudian dengan jari-jarinya Donny mengorek yang muncrat ke wajahku kemudian disodorkannya ke mulutku yang pribadi kulumati jari-jarinya itu. Ternyata ketika Riko menyaksikan apa yang dikerjakan Donny ia nggak bisa menahan diri untuk mengocok-ocok juga kontolnya.

Dan beberapa ketika sesudah kontol Donny menyemprotkan air maninya, menyusul kontol Riko memuntahkan banyak spermanya ke mulutku.

Gue mendapatkan semuanya seolah-olah ini hari pesta ulang tahunku. Gue mencicipi rasa yang berbeda, sperma Donny serasa madu manisnya, sementara sperma Riko sangat gurih menyerupai air kelapa muda.

Dasar anak muda, nafsu mereka tak pernah bisa dipuaskan. Belum sempat Gue istirahat mereka mengajak Gue ke ranjang pengantinku. Mereka nggak mau tahu bila Gue masih mengagungkan ranjang pengantinku yang hanya Oke saja yang boleh ngentot Gue di atasnya. Setengahnya mereka menggelandang Gue memaksa menuju kamarku.

Gue ditelentangkannya ke kasur dengan pantatku berada di pinggiran ranjang. Riko menjemput satu tungkai kakiku yang ia angkatnya hingga nempel ke bahunya.

Dia bacokan kontolnya yang tidak surut ngacengnya sesudah sedemikian banyak menyemprotkan sperma untuk menyesaki memekku, kemudian ia pompa kemaluanku dengan cepat kesamping kanan, kiri, ke atas, ke bawah dengan penuh irama.

Gue mencicipi ujungnya menyentuh dinding rahimku dan Gue pribadi menggelinjang dahsyat. Pantatku naik turun menjemput tusukan-tusukan kontol legit si Riko. Sementara itu Donny menarik tubuhku supaya kepalGue bisa menciumi dan mengisap kontolnya. Kami bertiga kembali mengarungi samudra nikmatnya birahi yang nikmatnya tak terperi.

Hidungku menikmati banget aroma yang menyebar dari selangkangan Donny. Jilatan pengecap dan kuluman bibirku liar melata ke seluruh kemaluan Donny.

Kemudian untuk memenuhi kehausanku yang amat sangat, paha Donny kuraih ke atas ranjang sehingga satu kakinya menginjak ke kasur dan membuat posisi pantatnya menduduki wajahku. Dengan mudah tangan Donny meraih dan meremasi susu-susu dan pentilku.

Sementara hidungku setengah terbenam ke celah pantatnya dan bibirku sempurna di bawah akar pangkal kontolnya yang keras menggembung.

Gue menggosok-gosokkan keseluruhan wajahku ke celah bokongnya itu sambil tangan kananku ke atas untuk ngocok kontol Donny. Duh, Gue kini karam dalam aroma nikmat yang tak terhingga. Gue menjadi kesetanan menjilati celah pantat Donny.

Aroma yang menusuk dari pantatnya semakin membuat Gue liar tak terkendali. Sementara di bawah sana Riko yang rupanya melihat bagaimana Gue begitu liar menjilati pantat Donny pribadi dengan buasnya menggenjot nonokku. Dia memperdengarkan racauan nikmatnya,

“Tante, nonokmu enak, Tante, nonokmu Gue entot, Tante, nonokmu Gue entot, ya, enak, nggak, heh?, Enak ya, kontolku, enak Tante, kontolku?”. Gue juga membalas erangan, desahan dan rintihan nikmat yang sangat dahsyat. Dan ada yang rasa yang demikian exciting merambat dari dalam kemaluanku.

Gue tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak kepuasanku. Gerakkanku semakin menggila, semakin cepat dan keluar dari keteraturan. Kocokkan tanganku pada kontol Donny semakin kencang. Naik-naik pantatku menjemputi kontol Riko semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat, cepat.

Dan teriakanku yang rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak bisa kutahan, meledak menyertai bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan birahiku tumpah ruah membasah dab membusa mengikuti batang kontol yang masih semakin kencang menusukki nonokku.

Dan Gue memang tahu bahwa Riko juga hendak melepas spermanya yang kemudian dengan rintihan nikmatnya kesannya menyusul sedetik sesudah cairan birahiku tertumpah. Kakiku yang semenjak tadi telah berada dalam pelukannya disedoti dan gigitinya hingga meninggalkan cupang-cupang kemerahan.

Sementara Donny yang sedang menggapai menuju puncak pula, meracau supaya Gue mempercepat kocokkan kontolnya sambil tangannya keras-keras meremasi buah dadaku hingga Gue mencicipi pedihnya. Dan ketika puncaknya itu kesannya datang, ia lepaskan genggaman tanganku untuk ia kocok sendiri kontolnya dengan kecepatan tinggi hingga spermanya muncrat semburat tumpah ke tubuhku. 

Gue yang tetap penasaran, meraih batang yang berkedut-kedut itu untuk kukenyoti, mulutku mengisap-isap cairan maninya hingga kesannya segalanya reda. Jari-jari tanganku mencoleki sperma yang tercecer di tubuhku untuk Gue jilat dan isap guna mengurangi dahaga birahiku.

Sore harinya, walaupun Gue belum sempat mencicipi getuk kirimannya yang kini berada dalam lemari esku dengan penuh semangat dan terima kasih Gue menelepon Olla.

“Wah, terima kasih banget atas kirimannya, ya. Karena sudah lama Gue tidak merasakannya, huh, nikmat banget rasanya. Ada gurihnya, ada manisnya, ada legitnya”, kataku sambil selintas mengingat kenikmatan yang Gue raih dari Riko anaknya dan Donny temannya.

Olla tertawa senang sambil menjawab, “Nyindir, ya. Memangnya kerajinan tanduk dari Pucang (sebuah desa di utara Magelang yang menjadi sentra kerajinan dari tanduk kerbau) itu serasa getuk kesukaanmu itu.

N’tar deh bila Gue pulang lagi, kubawakan sekeranjang getukmu”.
Gue tersedak dan terbatuk-batuk. Mati Gue, demikian pikirku. Ternyata bingkisan dalam kulkas itu bukan getuk kesukaanku
Previous
Next Post »
0 Komentar