Cerita Bokep 2017 Ospek Yang Menggairahkan

Namaku Dian Ratnasari (nama samaran). Umur 23 tahun. Aku mahasiswi di sebuah akademi tinggi di Bandung. Asalku dari Jawa Timur, jadi niatnya cuma berguru di Bandung ini. Siapa tahu bisa jadi tukang insinyur. Aku tinggal di daerah Dago, menempati sebuah rumah yang cukup luas milik keluarga pamanku. Rumah itu sepi dengan beberapa kamar kosong. Hanya ada aku, seorang pembantu yang cukup bau tanah dan dua ekor anjing peliharaanku serta beberapa ikan di dalam akuarium di sudut ruang tamuku. Keluarga pamanku tinggal di Inggris, alasannya peran berguru yang harus ia lakukan.
 

Berawal dari inisiasi dan orientasi kampus yang dilakukan kakak-kakak tingkatanku, saya berkenalan dengan seorang sobat gadis berjulukan Santi. Gadis yang manis, dengan tinggi sekitar 160 cm, berkulit kuning langsat. Waktu itu, saya sangat kasihan bila melihat ia mendapatkan hukuman yang menurutku sangat dibuat-buat oleh seniorku. Disuruh mencium-lah, meraba, dan push-up di bawah mereka. Akh… sialan, seribu topan badai! Aku sungguh tidak terima dan biasa gaya sok jagoanku muncul. Kudekati seniorku dan kuhajar dengan beberapa jurus perkenalan dariku. Yah, gini-gini saya cukup menguasai karate dan pencak silat, menyerang dan bertahan, dua hal yang sangat kusenangi. Maklumlah saya suka berkelahi dari kecil.
Beberapa senior pun mulai mengeroyokku. Sambil tentu saja, terjatuh-jatuh mendapatkan tendangan dan libatan tanganku. Apa hendak dikata salah satu senior, yah mungkin ia termasuk pimpinan mahasiswa di kampusku melerai kami dan memberi hukuman pada kami semua. Lari-lari mengitari kampus sambil menyanyi dan menari, dasar!
But never mind, yang terpenting gadis manis itu tidak lagi digoda dan diganggu. Mungkin mereka aib atau takut bila tamat masa yang harus dilalui mahasiswa gres ini bakal ketemu saya dan bisa benar-benar kuhajar mereka. Bagaimanapun yang lemah harus dibela.
Seminggu kemuRatna, gres kutahu gadis itu satu kelas denganku dan kami pun berkenalan.
“Hai…, terima kasih yah kemarin kau menolongku. Gara-gara aku, kau jadi kena duduk perkara deh.” Hey dia menyapaku duluan.
“Ah ndak kok, itu sih urusan kecil buatku”, sambil tersenyum kusapa balik.
“Oh, yah kita belum berkenalan kemarin, nama kau siapa?” Aku bertanya seolah saya belum tahu namanya. Hi.. hi.. padahal saya sudah tahu namanya dari senior-seniorku.
“Santi, kamu?” Duh mak, nih gadis benar-benar manis sekali, senyumnya aah…, apalagi matanya, bundar dengan alis yang tertata rapi berwarna hitam, serasi sekali
“Hey… kau kenapa?” Duh tertangkap berair bila lagi terpana. Eh, nih anak pakaian dan celananya seksi and ketat sekali, mengundang perhatian cowok, pikirku. Beda sekali denganku, celana jeans belel dengan kemeja panjang kedodoran, potongan rambut pendek cepak dan memakai jam tangan yang besar. Pokoknya saya senang ibarat ini, dulu saya terkenal cool di antara teman-teman pemuda SMU-ku di Malang.
“Ah.. yah.. namaku Ratna, lengkapnya Dian Ratnasari. Tapi kau boleh panggil saya apa saja, tapi Ratna lebih nikmat kedengarannya, he.. he.. he.” Kaprikornus grogi juga nih.
“Hmm.., kau tinggal di mana?” tanyaku, siapa tahu kan nanti dia lebih rajin punya catatan, kan bisa kupinjam. Dasar otak badung dan pemalas. Aku heran juga, dari kecil saya tidak suka berguru tapi saya bisa dengan mudah mendapatkan apa pun dalam otakku. Bukannya sombong tapi yah.., cuma begitu saja.
Tanpa sadar saya senyum-senyum sendiri, ketika ia menegurku, “Ian, kau duduk di sebelahku yah”, pintanya. Aku hanya manggut-manggut saja mengiyakan sambil terus berjalan menuju kelas kami.
“Eh, kau ini lucu juga yah, dari tadi senyum-senyum sendiri hihihi”, ia tertawa kecil. Duh maak manisnya temanku ini.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar kegaduhan kecil, ternyata segerombolan cowok-cowok mengganggu dan mempermainkan salah seorang sobat kami yang lebih kecil ukurannya dari mereka, mungkin sekitar 155 cm. Oh, yah saya sendiri 172 cm dan beratku 60 kg. Cukup tinggi besar untuk ukuran cewek kali, yah?
Lagi-lagi saya belagak nih, padahal memang tanganku gatal ingin meninju orang, habis sedang gregetan nih sama Santi. Kusambar salah satu pemuda dan tendanganku sangat sempurna bersarang di bawah perutnya, yah si-xxx, tahu temannya menjerit, mereka berhenti dan memandangku. Ada kemarahan di wajah mereka, namun saya tidak tahu kenapa, mereka pribadi ngeloyor pergi sambil membantu temannya berjalan. Akh, saya puas juga. Sejak dikala itu, saya cukup disegani di kampusku, mungkin juga mereka telah membaca biodataku di buku tahunan.
Kembali menjajari Santi, saya bertanya lagi, “Eh, di mana rumah kamu?”.
Dia tersenyum, “Kamu masih inget dengan pertanyaanmu setelah berkelahi barusan?”, berkata begitu, tangannya menempel di pundakku dan turun menggandeng tanganku.
“Yah, sekali lagi, itu hal kecil buatku, habisnya mereka seenaknya mengganggu orang lain”, gumamku sambil menikmati sentuhan alami lengan dan jari-jari kami yang saling mengait.
“Ah, sudahlah, jangan dibicarakan lagi”.
Bosan juga aku, kan saya pingin tahu perihal anak satu ini eh, malah melenceng dari pokoknya.
“Aku tinggal di Taman Sari”, jawabnya. Akhirnya meluncur juga jawabannya.
“Tinggal dengan siapa?”, tanyaku agak bingung, maklum sendirian sih aku.
“Kost, ama teman-teman juga.., banyak kok”, Ia menjawab sambil memilih tempat duduk untuk kami berdua. Ok, di pojok belakang, jadi saya bisa tidur nih.
“hh, boleh main nih, saya bosan sendirian di rumah”, timpalku.
“Aksen kau sepertinya bukan dari sini, bila saya dari sekitar sini juga sih, kau bukan orang sini, kan?”, Ia balik bertanya padaku. “Iyah, saya bukan orang sini, tapi saya tinggal di rumah pamanku, sekalian jaga rumahnya.”
Kuliah pertamaku dimulai, akh bosan rasanya. Tanpa sengaja tanganku merangkul dingklik sebelah dan menempel di punggung Santi. Antara sadar dan tidak, maklum mengantuk, saya ibarat mencicipi goresan halus di tangan kananku. Jantungku berdesir dan mulai berdegup kencang.
Kutengok, ternyata punggungnya benar-benar ia gesekkan ke tangan kananku hingga jamku pun tertarik ke atas-bawah, ke kanan-kiri, akhh saya mulai menikmati permainan ini. Bibirnya terbuka sedikit, ia menengadah dan lehernya yang jenjang kulihat sangat menantangku. Akh, saya ingin mengecupnya, duh saya bergetar. Ada apa ini?
Aku duduk dengan gelisah, akh dia mempermainkan nafsuku. Aduh bisa pening saya dibuatnya. Aku berdoa, supaya kuliah ini cepat selesai. Dengan sedikit keberanianku, Iih.., saya takut bila tertangkap berair sobat lain. Telapak tangan kananku mulai meraba dan meremas pundak dan terus turun ke punggung, pinggang, dan berhenti di antara dua kantong saku di belakang jeansnya. Ia mulai menggoyang pantatnya, geser depan-belakang, kanan-kiri. Kuremas salah satu pantatnya yang muat juga di tanganku. Hehehe ternyata cukup kecil, tapi kenyal, dan enaak sekali. Nafasku pun memburu dengan cepat. Akhh lamanya kuliah ini.
Akhirnya, kuliah tamat juga. Permainan kami pun berhenti. Aku tersenyum dan ia pun membalas senyumku dan mengajakku ke belakang (toilet wanita). Duh, asing juga Santi, apa orang sini berani-berani yah. Tanpa ba-bi-bu kuikuti langkahnya dan pokoknya kami sudah ada di dalam. Cukup sepi, alasannya terhitung masih pagi, belum ada yang ke belakang. Aku bersyukur juga. Lagian yang namanya makhluk berjenis kelamin perempuan tidak begitu banyak. Aku pikir-pikir cukuplah bermain 15 menit.
Aku duduk di closet dan dia kupangku. Kepalanya sempurna di hadapanku. Kami hanya berjarak berapa inchi saja. Nafasnya yang hangat menyapu wajahku. Hidungnya yang agak mancung, ia gesek-gesekkan di hidungku, ih geli juga. Aku tidak tahan.
“Hey, I can lift you”, sambil tersenyum ia berkata.
“Aku cuman 48 kok, San”, sambil melingkarkan lengannya di leherku. Kugendong ia dan saya duduk kembali. Ia tertawa lirih.
Tanganku terus meraba paha, terus ke belakang, meremas pantatnya ke atas menelusuri pinggang dan mulai menyelusup di balik kaus ketatnya, tiap gunung kembar itu teraba olehku nampak kausnya bertambah padat dan ia busungkan dadanya sambil menggeliat menahan nafsu birahinya, duh menempel di punyaku, menekan dan, “Terus.., lagi.., dan…” Aku tak sabar, kubuka kaus ketatnya dan gila, Santi benar-benar berbody indah, saya merasa yang di bawah mulai berdenyut-denyut. Bra-nya yang putih kecil, seakan tak bisa menutupinya, kubuka sekalian, dan nampaklah gunung itu atau bisa dikata bukit sajalah. Kecil dan menantang, kuelus dan kujilati, akh harum, keringatnya mulai keluar satu-satu agak asin. Akh, saya semakin gila. Kuremas pantatnya, kutekan ke selangkanganku, akh ia meremas rambutku dan menekan kepalaku sempurna di potongan itu. Akhh! ia mulai menjepit kepalaku, akhh saya hampir tak bisa bernafas. Gila kencang sekali mainnya! Kecil-kecil cabe rawit. Duh, nafasku sesak nih. Sambil terus kutekan pantatnya ke perutku.
Akh, lepas juga kepalaku setelah itu ia menjerit pelan, kaget juga aku, kenapa dia? Baru sekali ini saya melaksanakan permainan kait-mengait. Apalagi dengan seorang gadis. Eeh, apa dia masih gadis? Entar kutanya, tapi mataku sempat melirik jam tanganku dan saya mengerti permainan ini harus ditunda, ada kuliah lagi.
Kukecup lembut dan lidahku masih ingin melumat kedua bukit itu, kupasang kembali bra dan kaus ketatnya.
“Entar lagi, yah”, kataku, ia tersenyum.
“Makasih, Yan”.
Kutepuk-tepuk pantatnya dan segera kuputuskan.
“San.., kau mau pindah ke rumahku?”, tanpa pikir panjang juga ia mengangguk. Kuturunkan dia dan saya merasa CD-ku ibarat lembab dan lengket.
“San, entar dulu yah”, sambil kubuka retsluiting celanaku dan kuraba yang di balik CD-ku yaitu selangkanganku. Jariku berair ibarat ada jelly. Ada apa nih? Seketika kubuka agak lebar dan saya melongok untuk melihatnya lebih jelas. Santi meraih jariku yang berair dan menghirup serta menjilatinya, “Enak, asin, gurih, harum selangit!” terpana saya melihat mulutnya yang bergetar ketika menggumamkan kata-kata itu.
Tangannya menuntunku memasuki celana ketatnya dan terus ke bawah dan di balik CD-nya, berair juga. Kenapa kami, yah? Bingung juga yah saya waktu itu. Hehehe, saya mulai menyukai permainan ini. Telapak tanganku ternyata cukup menutupi selangkangannya, ia gesek-gesekkan dan saya mulai menekan kemaluannya, jari tengahku mulai bermain-main kesana-kemari. Kembali Santi menggeliat dan mengerang lirih. Duh, apa toilet ini memang kosong yah? Gila juga nih anak, pakai program mengerang segala apalagi pakai menjerit.
Eh, seakan ia tahu apa yang kupikir, ia berhenti dan hanya menggigit bibirnya. Aku tidak tahan, kulumat lagi bibirnya dan kubuka pelan dengan mulutku, dan kami berpagutan lagi. Lidahku dan lidahnya berkaitan dan lama. Matanya terpejam dan akh.., saya menemukan daging kecil di dalam, jariku menerobos dan mulai masuk sedikit.
Tiba-tiba meluncur pertanyaan di otakku, refleks kukatakan padanya, “San, kau pernah melaksanakan beginian?”.
Ia menjawab pelan, “Belum, Yan.., gres sama kamu.”
“Jadi kau masih gadis, masih punya selaput?”, kataku.
“Iya, masih. Pelan aja Yan entar sakit.”
“Maaf, San. Lebih baik nggak sekarang, ada kuliah kan.”
Kulihat Santi kecewa, tapi demi amannya saja sih, padahal sungguh saya udik sekali pelajaran biologi, jadi saya tidak tahu berapa jarak selaput itu dari luar vagina. Kutarik jariku dan ia pun menjilatinya hingga bersih. Ok, entar lagi. Nikmat juga jilatannya.
Singkat cerita, Santi pindah ke rumah tinggalku dan dia tak mau beda kamar. Inginnya satu kamar denganku. Yah, tidak apa-apa sih, lumayan ada yang menemani. Aku memiliki kebiasaan bermain gitar di sore hari, alasannya hanya gitar yang bisa kumainkan. Kini tiap kali saya mainkan senar gitar Santi selalu menyanyi merdu hanya untukku seorang. Terkadang saya duduk di dingklik malas beranda luar menghadap taman dalam. Santi datang dan duduk mengangkangi kedua kakiku. Ia suka sekali memakai daster pendek di atas lutut dengan CD yang terlihat bila angin bertiup agak kencang atau ketika ia mengangkat kakinya. Pokoknya hal-hal mudah ibarat itu sudah cukup merangsang nafsuku. Apalagi bila malam tiba, Santi memakai kimono sutra yang sekali talinya kubuka, nampaklah semuanya.
Tiap malam ia menyebarkan saya susu kegemaranku. Saat saya asyik duduk di komputer sedang online atau mengerjakan tugas, Santi menghampiriku dan menempel di punggungku. Hal ini sangat kusukai dan Santi tahu itu. Aku mencicipi lekukan bibir kemaluannya, bukitnya dan ia menempelkannya, merenggangkannya akhh.., mengaduk-aduk emosiku. Segera saya membalikkan badanku. Kurengkuh tubuhnya dan kukempit kakinya dengan kedua pahaku yang kuat, kadang Santi meronta dan saya pun melepaskannya, biasa kami berlarian ibarat dua orang kakak beradik bermain kejar dan tangkap. Aku sungguh menyukai permainan ini. Kadang Santi tiba-tiba mengerem dan membalikkan tubuhnya dan tentu saja saya menubruknya dan jatuh bersama bergulingan saling menindih. Nafas kami yang tak beraturan alasannya berlari-lari saling memburu dengan kecupan-kecupan yang semakin menambah ketidakberaturannya nafas kami. Buah dada kami saling menggesek dan, “Berat ah.. Yan”, saya lalu dengan sigap ganti posisi di bawah, dan ia menyeringai puas alasannya Santi sangat tahu saya sangat menyayanginya dan tidak mau ia merasa sakit atau apapun. Dan mau tahu apa yang ia lakukan tiap itu terjadi? Santi mengambil susu itu dan menuangkannya di vaginanya dan saya menjilatinya hingga kepuasan yang amat sangat pada kami berdua. Coba saja deh atau bila siang bisa saja pakai es sirup, dengan hambar yang mengalir pelan rasakan.
Kami saling menjaga, menyayangi, dan berusaha menunjukkan kepuasan. Namun pernah suatu ketika ia sakit demam, duh saya galau sekali. Kukompres ia bila panas dan kuselimuti ia sewaktu hambar menyerangnya. Tapi ia tak mau selimut, ia mau tubuhku menyelimutinya dan sekali lagi ia sangat tahu bila saya benar-benar hanya bertindak sebagai penghangat tubuhnya dengan kekhawatiran di wajahku yang sangat dihafalnya. Santi sangat menyukai sikapku yang melindungi dan menyayanginya. Sikap yang dapat membedakan kapan bermain dan kapan harus menjaga dan merawat.
Santi sangat erat dengan keluargaku, begitu juga aku. Keluarganya dan keluargaku telah saling mengenal dan tidak mempermasalahkan korelasi kami. Aku bungsu dari empat bersaudara, kupunya 1 orang kakak laki-laki dan 2 kakak perempuan sedangkan Santi sulung dari tiga bersaudara, 1 orang adik perempuan dan 1 orang adik laki-laki. Kemana pun kami selalu berdua, ke supermarket beli materi kebutuhan sehari-hari, ke mall untuk cari pakaian atau keperluan lain, ke toko-toko buku, ke bioskop buat nonton, dan lain-lain kecuali bila saya dan ia sedang memiliki acara yang berbeda. Aku senang berorganisasi dan berolah raga sedangkan ia suka melukis dan bermain musik.
Dini hari dikala fajar tiba, sambil tidur saya selalu mencicipi sesuatu yang berdenyut di bawah dan refleks saya menempel lekat ke tubuhnya, entah itu punggung dengan sentuhan pantat hangatnya atau pribadi perut dengan bukit kembar dan selangkangan yang mengaitku. Santi mengerti kebiasaanku di setiap fajar dini hari dan kami pun saling menggesek.
Sekali merengkuh tubuhnya, ia jatuh menindihku dan berbaring tiduran di tubuhku. Enak katanya, mencicipi pelukanku yang hangat, maklum kota ini lumayan dingin. Pokoknya kami melaksanakan itu kapan saja. Tidak ada bosan-bosannya, soalnya kami mulai andal sih. Kami mengubah posisi setiap kali mulai bosan dan yahud juga!
Aku mulai mengerti apa yang namanya liang garba itu. Wah, bagus sekali, berapa jarak selaputnya, apa itu clitoris, dan perlu dicatat, hingga kini selaput itu belum robek. Aku tidak mau bila ia sakit, jadi mulutku hanya mengecup, mengulum dan lidahku menjilati agak ke dalam. Ia sangat menyenangi posisi di atas dan saya di bawah. Terkadang saya bertahan cukup lama, kasihan Santi sudah 2-3 kali keluar gres saya keluar. Kalau saya tentu saja suka posisi kaki saling mengait dan selangkangan kami saling menempel dan bergesek semakin kencang, jadi kami bisa orgasme bersama. Tahu kan caranya. Begini, kuangkat kaki kirinya, kuselipkan kaki kiriku, dan kedua kaki kami saling membelit. Posisi ini menimbulkan cairan kental dari kedua kemaluan kami yang keluar bersamaan bercampur dan euunaak sekali. Kadang dengan cara ini Santi sudah sangat kewalahan mengatur nafas, memekik dan menggeliat kencang, tempat tidurku pun berserakan tiap kali kami main di kamar. Perlu dicatat, tamat permainan dan mandi, tempat tidurku kembali sangat rapi alasannya Santi orang yang sangat rajin dan menjaga kebersihan. Tidak sepertiku, ceroboh.
Kalau di dapur dikala ia memasak saya merengkuhnya dan mengecup lembut lehernya serasa kami sepasang suami istri selayaknya, mendudukkannya di meja dan biasa saya rentangkan kedua paha itu dan mulai mencumbuinya, kubuka celanaku dan kugesekkan CD-ku ke CD-nya. Enak lho. Kalau kami bermain di kamar mandi, yah ibarat dua anak kecil yang berteriak-teriak kegirangan saling menyiram tempat-tempat sensitif yang sudah sangat kami hapal sambil menciumi tempat-tempat itu. Bath-up yang sudah mulai terisi dengan busa sabun kuoleskan ke seluruh tubuhnya, terutama di-xxx-nya, pelan alasannya saya takut bila ada apa-apa. Santi senang sekali telentang di atas tubuhku, “Nyaman, Yan?” katanya sambil mencari di mana pinggangku. Kupeluk erat ia, kurasakan gunungku menekan punggungnya dan satu hal saya nggak senang posisi ketika ia membalikkan badannya sempurna ke arahku (di bath-up). Pernah ia coba dan saya tidak enjoy melihat kesulitannya mencumbuiku.
Permainan di beranda pun kami buat berbeda, ibarat sepasang kekasih yang damai saling membelai dan menata taman sambil tiduran di luar, kami sangat menikmati tidur di atas rumput yang lembut. Cuma kadang saya sangat risih melihat semut. Kaprikornus kami nggak begitu memaksakan diri tiduran di taman. Atau saya cemburu dan takut sama semut, kalau-kalau semut itu memasuki area xxx dan menggigit vagina kekasihku. Akhh kan kasihan Santi hanya bisa meringis kesakitan. Nah, bila yang ini, di tempat tidur kami ibarat dua orang asing yang selalu tergila-gila. Banyak posisi yang kami lakukan, pasti bila dapat dengan alami melakukanya. Intinya cuma satu, ikuti kata hati, bila mau stop ya stop, mau nge-sun, sun saja, mau membelai, belai aja, bila mau maju yah maju, bila mau ganti yah ganti posisi, begitu saja, sepele. Dan ibarat telah menjadi suatu kewajiban bagi Santi untuk selalu membersihkan punyaku dan saya begitu juga, menjilati dan saling menghangati kedua vagina kami dengan telapak tangan yang saling kami selipkan di antara kedua paha kami dan hehehehe. Hangat kan, coba deh.
Pernah suatu ketika saya berkonsultasi ke spesialis dan beliaunya menjawab bila saya bergotong-royong termasuk transexsual, berjiwa dan bertingkah laku laki-laki namun tubuh wanita, karenanya setengah-setengah dengan hormon yang lebih banyak jenis laki-laki. Yang umum sih salah satu lebih besar dan mengikuti hormon kelaminnya. Kalau saya mau, kata beliaunya bisa saja bedah kelamin. Tapi biaya yang dikeluarkan pun sangat besar. Yah, sudahlah saya ibarat ini saja. Dan selama ini Santi selalu mendampingiku entah hingga kapan. Sudah dua tahun ini saya nyambi bekerja di kontraktor dan saya menikmatinya. Dengan gaji yang lumayan tinggi, saya bergotong-royong sanggup menghidupi kami berdua dengan 3 orang sekaligus, misalnya. Mungkin tamat kuliah ini, tamat semuanya. Aku pernah tanyakan kepadanya dan ia hanya tersenyum saja. Ia berkata “Yan, jangan pikir sekarang, apa yang terjadi besok yakni misteri bagi kita semua, kecuali hal-hal yang telah kita persiapkan”, dan kalian tahu hingga dikala ini saya belum tahu apa maksud dari perkataannya.


Previous
Next Post »
0 Komentar