![]() |
| Cerita Dewasa ML Dengan Pacar Saat Kelulusan |
Tanpa menunggu waktu lagi saya dan Yuni berangkat ke Kintamani, yang kebetulan siang itu udaranya cukup segar dan memang sebagai lokasi wisata yang menyampaikan pemandangan alam pegunungannya, Kintamani selalu sejuk, apalagi menjelang senja dinginnya hingga menusuk tulang. Dengan mengendarai motor, saya menjalankannya tanpa perlu terburu- buru, alasannya saya nggak mau melewatkan saat-saat terindah berdua terlewatkan begitu saja. Tangan Yuni memeluk pinggangku erat, sesekali ia mencumbu belakang telingaku mesra.
Tanpa terasa penisku yang berlapiskan celana jeans biru kesukaanku bergerak pelan, menerangkan gejolak kelakianku mulai terpengaruhi dengan adanya cumbuan- cumbuan Yuni yang lembut. Perjalanan ke Kintamani melewati jalan yang berkelok-kelok, dikanan jalan ada pemandangan danau bedugul yang sangat cantik dengan airnya yang jernih, tapi sayang sore itu udaranya agak berkabut, sehingga mengganggu jarak pandang kita. Aku dan Yuni memutuskan untuk berhenti sesaat, sambil menikmati udara sore itu di Sebuah cafe kecil di tepian jalan yang pemandangannya eksklusif menghadap ke Danau Bedugul. Sambil memesan minuman hangat, saya mengeluarkan sebatang rokok kesukaanku dan menyalakannya sesaat, sebelum saya menghisapnya dalam- dalam.
Aku dan Yuni Duduk memilih duduk di tempat yang agak ke pojok, alasannya kebetulan juga tempatnya cukup menguntungkan buat menikmati pemandangan ke Danau. Setelah menunggu beberapa ketika minuman pesanan kita pun datang. Tanpa menunggu beberapa saat, sebelum pelayan pergi Yuni sudah terlebih dulu meminumnya hal ini di karenakan udara pegunungan yang berkabut sudah mulai terasa menusuk tulang belulang.
Dengan lembut saya memeluk Yuni yang nampaknya mulai kedinginan. “Kamu kedinginan sayang?” Tanyaku “Iyah nih Mas..” katanya pelan. Sambil memeluk Yuni saya membisikan kata-kata mesra. “Adiet hangatkan yah sayang..!” kataku lembut di belakang telinga. Yuni hanya tersenyum manis, tanpa berkomentar sambil mengedipkan matanya tanda setuju. Udara sepertinya sangat mendukung sekali sehingga saya dan Yuni semakin rapat berpelukan. Ketika ada keheningan sesaat diantara obrolan kita, tak pernah saya melewatkan untuk mengecup bibir Yuni yang ranum tanpa terpoles lisptick. “Ohh.. Mas..” desahnya ketika kecupan lembutku mengantarkannya melambung. Kemesraan kita di cafe tak berlangsung lama, dikarenakan hari mulai menjelang senja.
Setelah membayar minuman yang kita pesan, saya menggandeng tangan Yuni dengan mesra untuk meninggalkan cafe dan mencari penginapan di sekitar Kintamani yang memang sudah bersahabat dari cafe tersebut. Tak lama berselang saya menemukan sebuah hotel yang tempatnya begitu cocok menurut kita berdua. Di Hotel itu tersedia restaurant yang pada malam harinya menyajikan program live accustic musik. Sengaja saya memilih Hotel yang ada
fasilitasnya mirip itu, alasannya saya juga pemain musik di cafe yang posisiku di band pemegang rythm sekaligus vokal. Setelah urusan dengan resepsionist selesai, saya mengajak Yuni berjalan ke arah kamar. Kamar kami sangat romantis, di depan ada taman dan pancuran air kecil dari sumber mata air sekitar Kintamani dan ada tempat duduknya yang di hiasi lampu temaram. Di dalam kamar saya eksklusif rebahan di tempat tidur, alasannya perjalanan kita dari denpasar sedikit melelahkan membuat pegal-pegal di persendian. “Mas.. Aku mau mandi dulu yah,” katanya. “Ntar keburu kedinginan, sekarang aja mulai terasa nih udaranya,” sahutnya lagi. “Kalau begitu kita sekalian aja mandi bareng,” godaku. “Boleh.. Siapa takut..” tantangnya kemudian. Dengan berlari kecil saya mengejar Yuni yang sudah hingga di depan kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, saya eksklusif membuka kaosku dan hanya mengenakan celana pendek. “Sayang.. Ini kan hari bahagia kau setelah kau lulus” kataku kemudian. “iya saya tahu itu.. Lantas kenapa sayang?”tanya Yuni mesra. “Aku ingin memanjakan kau dengan cara memandikan kau mulai dari menggosok seluruh badan kamu, menyabuninya dan menyirami dengan shower,” kataku lagi. “Muachh..” seketika Yuni mengecup bibirku lembut. “Makasih sayang.. Kamu sudah manjain aku,” sahutnya lagi.
Dengan lembut saya mulai membuka seragam SMU Yuni yang masih dikenakan ketika itu. Di mulai dari hemnya saya buka kancing atasnya secara perlahan, sambil saya memandangi wajahnya yang manis serta dengan senyumnya yang penuh pesona. Setelah kancing kedua saya buka, maka terpampanglah keindahan bukit payudaranya yang berukuran 36b itu mencuat keluar kontras dengan branya yang berwarna hitam.
Aku menyelesaikannya dengan kancing terakhir, sembari saya mengecup kecil bukit payudaranya yang lembut. Tinggallah rok abu-abunya yang belum saya sentuh. Sesaat saya mengecup kembali bibirnya yang menantang dengan sorot matanya yang pasrah. Kembali dengan perlahan saya membuka rok Yuni, yang saya awali dengan menurunkan ziper di belakangnya. “Srett..” bunyi ziper roknya ketika saya turunkan. Dengan sekali rengkuh, terlepaslah rok Yuni menyentuh lantai.
Yuni ketika itu mengenakan CD warna hitam juga, yang dikombinasikan renda di pinggir dan di serpihan tengahnya, sehingga terpampanglah dengan transparan rerumputan hitam lebat melalui renda Cdnya. Dengan kedua tangan saya melanjutkam menurunkan CD hitamnya dan terpampanglah pemandangan yang membuat saya menelan ludah beberapa ketika dan membuat kelakianku tergoda. Celana pendek yang saya kenakan telah menonjol sebelum saya melucuti pakaiannya, ditambah lagi sekarang ia sudah telanjang lingkaran di depanku. Dengan lembut saya mulai menyiramkan air dari shower ke seluruh tubuhnya. Yang saya lanjutkan dengan mulai menyabuni punggungnya, pinggulnya yang bahenol, serta betisnya yang jenjang. Yang membuat Yuni menggelinjang pelan. “Ohh.. Mas..” desahnya pelan. Setelah serpihan belakang selesai saya sabuni, tinggallah serpihan depan yang membuat kelakianku semakin menggelegak.
Aku mulai menggosok serpihan lehernya terlebih dahulu, alasannya saya tahu, serpihan ini merupakan serpihan yang cukup sensitif di samping serpihan sensitif yang lainnya yang ada di badan Yuni. Perlahan tanganku mulai meraba sedikit demi sedikit leher jenjang nan mulus miliknya, dengan telapak tanganku yang penuh dengan busa sabun. Terkadang terdengar desahan lembut Yuni yang menikmati setiap gerakan tanganku yang menelusuri permukaan kulit halusnya. “Ohh.. Mas,” desahnya lembut. Kemudian tanganku bergerak turun ke arah dadanya yang membusung dan licin sembari kembali menuangkan sabun cair di sekitar payudaranya sekaligus ke putingnya yang mulai menonjol keras. Sengaja gerakan tanganku di dadanya sedikit melambat, hal ini saya lakukan sekaligus menyabuni dan merangsang payudaranya secara lembut.
Kembali desahan lembut terdengar olehku. “Ohh.. Mas.. Teruskan”desahnya dengan mata terpejam. Setelah cukup bermain di serpihan dadanya, kembali tanganku bergerak turun ke arah perutnya yang datar yang hanya beberapa ketika lamanya. Dan berakhir di kawasan yang berbulu lebat nan hitam, tapi tertata dengan rapi ibarat bentuk CD. Aku menuangkan sedikit shampoo ke tanganku, kemudian saya lanjutkan dengan menggosok bukit vaginanya dengan lembut. Sesekali tanganku menyentuh clitorisnya lembut yang menyebabkan sensasi tersendiri buat Yuni. “Ssshshshshsh..” desisnya pelan.
Tak lama saya lanjutkan untuk menggosok untuk lebih ke bawah lagi yaitu di serpihan pangkal pahanya yang mulus dan saya menyelesaikan peran terakhir memandikannya di serpihan betisnya yang kolam bulir padi itu. Setelah semua serpihan badan Yuni penuh dengan busa sabun, kembali saya menyiraminya dengan gagang shower ke seluruh permukaan tubunya untuk tahap akhir, sebelum saya mencumbu tubuhnya. “Thanks ya.. Mas.. sudah di manjain,” katanya pelan. “Dengan senang hati kok sayang.. Aku lakukan buat kamu,” jawabku mesra. Kemudian saya memeluk badan Yuni mesra, sembari membimbingya untuk duduk di pinggiran bathtub. Dan selanjutnya saya nyalakan kran airnya. Sembari menunggu airnya penuh, saya jongkok di depannya yang lagi duduk sembari menaikkan salah satu kakinya di
pinggiran bathtub. Lidahku mencumbu seluruh permukaan kakinya yang kemudian saya lanjutkan dengan menghisap lembut jemari kakinya yang lentik dan kedaluwarsa itu. Yuni terpejam mendapatkan perlakuanku yang begitu lembut, sehingga melambungkan nafsunya yang memang sudah sangat terangsang semenjak awal. Lidahku begerak naik menelusuri betisnya yang jenjang dan berakhir di pahanya yang mulus. Gerakan lidahku semakin liar namun lembut, setelah hingga di pangkal pahanya.
Aku menjulurkan lidahku kembali ke arah lekukan pangkal pahanya dan hal ini kuat sekali untuk badan Yuni mendapatkan rangsangan dariku. Dengan kedua tanganku saya mulai menyibak vaginanya yang aromanya khas sekali, dan kemudian saya julurkan lidahku yang lembap ke permukaan clitorisnya yang mulai menonjol pelan. Kembali badan Yuni mengelinjang pelan penuh kenikmatan mendapatkan perlakuan ini. “Hekk.. Sshh.. Mas,” desahnya tak teratur. Aku tahu kalau Yuni begitu menikmati dan suaranya parau namun terdengar cukup sensual.
Selanjutnya dengan gerakan mantap saya julurkan lidaku menerobos liang vaginanya yang mulai lembap oleh lendir kenikmatan yang keluar dari vaginanya. Tiba-tiba gerakan tangan Yuni begitu cepat merengkuh belakang kepalaku dan menariknya untuk lebih dalam ke permukaan vaginanya. “Ohh.. Mas.. Aku mau keluar,” teriaknya kecil. Tanpa berhenti gerakan lidahku terus menerobos semakin ke dalam dan ini menyebabkan sensasi yang lebih jago untuknya dan di akhiri dengan teriakannya yang panjang. “Ohh.. Mass..” Yuni mendesah lembut. Setelah mencapai orgasmenya yang kesekian kalinya, saya menyampaikan kesempatan buatnya untuk istirahat sejenak, sambil saya bangkit menutup kran air yang ternyata sudah penuh.
Kemudian saya berjalan ke pinggiran bathtub dan duduk disamping Yuni untuk mencumbunya kembali. Perlahan badan Yuni merosot ke bawah ke arah selangkanganku dan dengan gerakan lembut mulutnya melahap ujung penisku yang memang sudah sangat keras dari permainan awal. Lidahnya bermain dengan perpaduan hisapan dan liukan ujungnya di rongga verbal miliknya yang mungil. Aku mendesah lembut mendapatkan perlakuannya ini. “Ohh.. Sayang.. Enak sekali,” desahku dengan nafas tertahan. Selanjutnya dengan lembut saya angkat tubuhnya dan memeluk pinggangnya untuk membelakangiku. Dengan lembut tanganku meremas payudaranya dari belakang dan menarik tubuhnya untuk mengambil posisi duduk. Yuni melebarkan kakinya sembari jemari tangannya yang lentik memegang batang penisku dan mengarahkannya sempurna di lubang vaginanya yang sudah lembap oleh lendir.
Perlahan Yuni menurunkan pinggulnya secara lembut, maka melesaklah seluruh batang penisku yang sudah mencapai ereksi maksimal. “Ohh.. Shhss,” desah kami berbarengan. Setelah penisku menembus serpihan dalam vaginanya. Tanganku kembali meremas kedua payudaranya dari belakang dan lidahku menjilati punggungnya yang penuh dengan butir-butir air. Jemari tanganku yang kiri memilin ujung putingnya yang keras dan ini membuat bibirnya mendesah pelan. “Ssshh..” desahnya penuh erotis. Sementara tangan kananku menarik wajahnya mendekat ke wajahku. Aku mengulum bibirnya yang masih terbuka menahan nikmat dengan lembut. Yuni tak tinggal membisu dengan menggerakkan pinggulnya memutar seirama dengan gerakan pinggulku yang menghujam vaginanya lebih dalam.
Desahan dan teriakan kecil diantara percintaan kami sesekali terdengar. Dan ini menyebabkan kesan erotis tersendiri buat kita. Setelah beberapa ketika lamanya episode ini berlangsung. Tiba-tiba badan Yuni bergetar dan semakin cepat gerakan pinggulnya. “Mas.. Aku mau keluar,” teriaknya. “Kita keluarkan bersama sayang..” sahutku “Aku juga mau keluar nih,” timpalku lagi. Kembali tanganku menarik wajahnya dan mengulum bibirnya dengan lembut. Dan tanganku satunya memilin ujung puting payudaranya. Dengan erat saya memeluk tubuhnya begitu saya mencicipi cairan hangat
Menyirami batang penisku. Dan tak berlangsung lama penisku juga menyemburkan sperma ke dalam rongga vaginanya. “ohh.. Mass.. Aku keluar,” teriaknya bergetar. “Aku juga.. Sayangg..”
dengan nafas tak teratur. Masih dengan posisi saya memeluk tubuhnya dari belakang saya mengulum bibirnya kembali hingga tetes terakhir spermaku dan di akhiri dengan mengecilnya penisku di dalam vagina Udiayani. Percintaanku dan Yuni berlangsung kembali setelah program makan malam di cafe yang malam itu pengunjungnya cukup ramai. Selama makan malam berlangsung saya memilih meja yang meghadap eksklusif ke panggung dan ada di deretan tengah agak di ujung. Di atas meja saya nyalakan sebatang lilin untuk menemani makan malam kami. Malam itu semakin berkesan buat Yuni, alasannya saya menyumbangkan sebuah lagu karanganku di program live musik di cafe tersebut untuk dirinya yang sengaja khusus buat dirinya. Begitulah kisah cintaku yang hingga ketika ini saya masih menyimpanya di dalam hati sebagai kenangan yang manis di dalam hidupku.
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/

0 Komentar