Rahma (nama samaran) gadis yang malang penuh dengan siksaan dan paksaan orang tua, yang balasannya terjun kedunia hitam jadi bulan-bulanan nafsu sex para lelaki hidung belang. Rahmah tidak tahu kemana lagi mengadukan nasipnya, hanya di benaknya bagaimana mampu makan dan tidur. Ramah coba-coba ingin merubah nasip menjual diri di café-café dengan. Hal ini Ramah menceritakan kisahnya pada penulis.
Di suatu malam yang sangat dingin, hujan grimis mengguyur badan penulis yang dikala itu melintas di ruas Jalan Marelan tiba-tiba tidak di sengaja terlihat seorang gadis yang menggunakan gaun tembus pandang. Tubuhnya yang mungil dan cantik di terpa angin yang kencang. Sekali-sekali dirinya menggigil menahan dinginnya cuaca malam itu. Penulis yang masih terus penasaran melihat tindakan gadis tersebut. Terlintas juga dalam benak penulis “gadis cantik ibarat itu lagi ngapain di muka cafe ? sementara di dalam café pengunjung sepi ” inilah yang terlintas dalam benak penulis.
Akhirnya penulis mencoba memberanikan diri menyapa gadis yang memakai baju warna putih tembus pandang. “Hai… lagi ngapain mbak ? beliau mejawab dengan ramah ” ngga ada, cuman nongkorong doang.” Selanjutnya penulis mengenalkan diri pada gadis cantik tersebut mengaku namanya “Ramah”. Kurang lebih limabelas menit dimuka café, penulis mengajak gadis itu kedalam café. Sesampainya dalam café penulis menanyakan “Ramah minum apa ? ” dijawabnya terserah apa aja bang. Pelayan café juga tiba di muka kami, yang tidak kalah sexsi dan cantiknya dari Ramah memakai rok mini di atas lutut. Pelayan café sangat ramah juga genit, sekali-sekali tangannya suka menarik hati dan merabah-rabah paha pengunjung.
Hujan grimis masih membasahi jalan raya, cuacapun semakin dingin, pengunjung café sudah kosong, tinggal kami berdua dan dua orang pelayan café, dikala itu jam 1.30 Wibb. Ramah yang dari tadi hanya tertunduk sepertinya butuh perhatian, sekali-sekali Ramah menebarkan senyum yang menggoda.
Panjang lebar dongeng hujanpun tidak kunjung berhenti, minuman Jus sudah habis, pemilik café menyhiapkan barang-barangnya untuk tutup. Ramah mulai buka dongeng dengan sifat yang agak malu-malu, sambil mengatakan “bang cafenya sudah maututup kita cek in yo? ” mendengar seruan Ramah penulis melongo sejenak. Ramah sepertinya tidak habis pikir, kenapa saya tidak mau menjawabnya. Ramah bertanya lagi ” bang ayo donk…! saya mau dongeng lebih jauh lagi ama abang. Akhirnya saya kabulkan seruan Ramah alasannya yaitu penuh dengan impian akan mendapat dongeng dari Ramah.
Akhirnya kami bergegas mau pergi, pemilik café eksklusif menegur “abang mau pulang ? saya jawab ia tante. Nanti sakit, inikan masih hujan…! Aku jawab “kayaknya hujannya ini lama tante”. Kami pulang tante ? di jawabnya ia…! Hati-hati di jalan licin bang. Aku jawab lagi ia tante.
Kami eksklusif menuju ke arah Simalingkar salah satu café and kafe bersahabat Hotel Royal Sumatera. Sewaktu dalam perjalanan Ramah memeluk saya sangat kencang sepertinya takut kehilangan. Dalam perjalan itu saya bertanya “Ramah kau cantik, kok maunya kerjaan ibarat ini ? ” Jawab Ramah “bang jikalau masih ada kerjaan yang lebih hina dari sini akan kurjakan walaupun itu pahit. Maksud Ramah gimana ? Ramah juga tidak mau kerja ini tapi orang renta Ramah sendiri menghancurkan masa depan Ramah.
Ramah tidak diterima dilingkungan keluarga lagi bang. Kalau kuceritakan kehidupan saya mungkin satu malam ini belum selesai. Tapi itupun jikalau abang mendesakku nanti ada waktunya bang, Ramah akan ceritakan semuanya buat abang. Kamipun hingga dalam tujuan, saya kaget Ramah rupanya sudah dikenal dicafé tersebut. Sesampainya dicafe Ramah eksklusif didekati seorang laki-laki separuh baya yang notabenya om-om. Yang pasti saya tidak tahu persis apa dongeng orang itu, hanya melihat Ramah dipeluk silaki-laki tadi dengan erat sambil mencium bibir Ramah di tengah-tengah lampu yang samar-samar.
Lanjut dongeng gadis malang itu mulai bergegas mau pergi bersama silaki-laki yang kehausan nafsu dengan kondisi setengah mabuk. Sebelum pergi Ramah mendekatiku sambil mengatakan “bang Ramah mau pergi, pokonya besok saya hubungi abang, ok bang ?” saya mengiyakannya. Ramah eksklusif pergi menaiki kendaraan beroda empat laki-laki itu untuk meninggalkan café. Akupun tidak tinggal membisu untuk melacak mangsa tulisanku luput hingga disitu. Kupanggil pelayan café untuk membayar minuman. Tapi lain jawaban pelayan “bang minumannya sudah dibayar om tadi”. sebelum pergi meninggalkan café kuberikan tip sama pelayan café yang menemaniku untuk pamitan pulang.
Sampai dimukan café kuperhatikan kendaraan beroda empat laki-laki itu kemana arahnya. Kuikuti dari belakang hingga kendaraan beroda empat itu belok kesalah satu kawasan penginapan yang berkelas di Simalingkar. Ya…kutinggalkan setelah dapat kepastian mereka menginap di hotel tersebut.
Sesampainya di simpang kampus Universitas Sumatera Utara (USU) saya berhenti di satu café kecil minum (TST) Teh Susu Terlor. Selama satu jam saya di café itu, tiba-tiba ponselku bunyi dengan nada panggilan. Kuangkat poselku kulihat nomornya sepertinya tidak saya kenal. Aku sempat kaget tengah malam kegini siapa lagi yang menghubungiku terlintas dalam benak aku. Ponsel berbunyi terus kubiarkan hingga tiga kali panggilan gres kuangkat.
Sangat kaget mendengar sautan dalam posel itu terdengar bunyi perempuan gres kukenal. Menjawab pertanyanku dengan manja sambil mengajak saya untuk menginap. Mendengar seruan ini saya tidak percaya bahwa Ramah mau menginap bersamaku, sementara dianya masih bersama laki-laki barusan 2 jam kutinganggalkan.
Ramah mengatakan jikalau laki-laki tadi tidak mampu menginap hingga pagi, alasannya yaitu takut tertangkap lembap sama istri dan anaknya. Aku tanya ini no HP siapa ? Ramah jawab om tadi kupinjam. Kutanya lagi berarti beliau masih ada di ruang kamar ? Ramah menjawab ia, tapi beliau udah mau pulang bang, abang datang ya ? saya tunggu Ramah tidak ada kawan, cepat donk bang. Desakan ini saya tidak mudah terpengaruh, alasannya yaitu takut ada kejadian yang tidak di inginkan nanti.
Kurang lebih 30 menit hari hampir pagi jam 4.23 Wibb saya menghubungi Ramah melalui ponselnya. Ramah mengangkat dengan nada kesal “abang dimana kok ngga datang ?. cepat donk saya tidak ada kawan nih…!. Akhirinya saya beranikan diri balik lagi kehotel tersebut. Kuperhatikan kendaraan beroda empat silaki-laki setengah baya yang tadi kutinggalkan di kawasan parkir, memang tidak ada. Aku tanya eksklusif pejaga hotel, menjawabnya sudah pulang bang, abang itu tiap menginap di hotel ini hingga jam 3.00 Wib saja bang.
Abang mau ngapain ? kujawab dengan nada yang ramah dan sopan “aku barusan di hubungi cewek kawan bapak tadi. belum habis saya ngomong eksklusif penjaga itu potong Ramah bang ? katanya, ia bang. Ada di kamar 19, masuk aja bang, ngga apa-apa itu disini mampu kita jaga kemanan. Ok bang terimakasih yang bang, saya balik jawab. Langsung menuju kekamar no 19 kuketuk pintu kamar eksklusif di buka gadis seorang diri dengan mengenakan gaun tidur tembus pandang. Sepertinya Ramah tidak memakai BH als pembalut buah dada, hanya segi tiga transparan yang nampak. Mulai dari ujung rambut kuperhatikan hingga ujung kuku serta seisi dalam kamar itu sebulum masuk. Diperselakan masuk sambil menarik tanganku kedalam, “kok takut-takut masuk donk bang, ngga apa-apa kok”. Tanggan Ramah yang bandel hampir membuat saya jadi tidak terkontrol.
Ramah memang cantik, putih dan seksi tidak di temui satupun bekas luka ditubunya. Tangannya yang mulus, lembutnya belain penuh dengan rasa sayang. saya tertunduk sejenak di pinggir kawasan tidur sambil mengisap rokok Sampoerna, sementara Ramah tidur dipagkuan saya sambil memeluk pinggangku. Rokok sudah habis saya ambilkan tas kecilku yang di dalamnya ada alat perekam suara, eksklusif kuhidupkan. Ramah memang nakal, mau tahu aja apa isi dalam tas aku. Dia mengambilnya dan mengeluarkan tipe rekamannya, memutar balik isi kaset. Baru Ramah tahu mulai dari perteman tadi dianya ngomong saya rekam. Saat itu juga gadis yang seksi, manja mencubitku dengan kesal. “abang kok tega kali merekam bunyi Ramah, untuk apa bang ?, abang wartawan ya ? jahat abang, saya ngga mau lagi dongeng ama abang. Rupanya abang wartawan pantasan abang mulai dari tadi ngebutkali mendengar kisah Ramah kenapa terjuan kedunia malam”.
Ramah yang dari tadi nakal, kontan eksklusif melongo dan membelakangi aku. Sementara radio rekamannya beliau pegang, saya minta beliau ngga kasih. Bahkan beliau mengatakan “abang puas ya menanyai Ramah hanya untuk kesenangan abang, malunya untuk ramah, berarti abang ikut donk menghancurkan Ramah dan mempermalukan ramah di muka umum”.
Aku berusaha meyakininya dengan rasa sayang, kukecup pipinya yang membuktikan saya bukan untuk mempermalukannya. Tapi saya ingin mengangkat kisahnya untuk membantu sakit hati Ramah yang selama ini dipendam ibarat bara yang sangat merah dan panas. Ramah kupeluk, kusayang, balasannya Ramah menyerah memperlihatkan rekamannya.
Ramah yang marah balasannya bisaku redahkan kemarahannya. Sampai setengah jam Ramah tidak mau cakap, Ramah membisu dengan posisi tengkurap di atas kawasan tidur yang empuk tanpa menghiraukan aku. Aku termenung sejenak memikirkan cara apa lagi kubuat untuk mengajak Ramah ceritakan kisahnya. Dengan pandangan gres yang cemermalang terlintas di benakku untuk merayu dengan posisi yang sama. Akhirnya pertahaan Ramah kandas juga, Ramah membalikkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap aku. Dia senyum sambil memelukku sambil bertanya. Apasih gunanya abang muat di koran kisah Ramah ? abang jahat kali ya ? apa memang wartawan ibarat itu ? sukanya memberitakan kesusahan orang lain. Aku jawab dengan nada yang ramah serta menebar senyuman yang memikat hati Ramah semoga ianya dapat yakin dan percaya.
Ramah yang manja dan seksi balasannya luluh tersenyum dengan iklas meceritakan kisah hidupnya hingga terjun ke dunia hitam untuk memuaskan nafsu lelaki hidung belang.
Ramah bercerita pajang lebar perihal kisah hidupnya pada penulis pada pukul 4.30 Wib hingga pukul 7.30 pagi. Berawal dari ceritanya gadis cantik ini sangat lugu takut dengan laki-laki, bahkan berbagai kawan-kawan Ramah yang mengejeknya kampungan. Tapi itu semua tidak pernah beliau masukkan dalam hati hanya dianggapnya sebatas kuping saja. Waktu itu Ramah masih duduk di dingklik SMA Swasta kelas dua di Medan. Dengan keluguan Ramah berbagai para lelaki satu lokalnya menaruh hati sama aku. lain orang lain tingkah lakunya beratus teori yang di buat cowok-cowok keren yang mendekatinya, yang namanya cinta belum juga ada di benaknya. Suatu waktu yang tidak di sangka Ramah ketemu dengan seorang cowok yang baik hati ianya Roni (nama samarannya) berhasil memikat hati Ramah.
Penuh dengan rayuan dan kemesrahan yang berjalan cukup lumayan hingga kejenjang penikahan. Awal dari kesukaan Ramah pada Roni penuh dengan kejujuran dan kebaikannya di mata Ramah membuatnya tergila-gila dengan Roni. Saat yang di nanti-nantikan Roni mulai berani bercanda mengajak Ramah jalan-jalan ke salahsatu sempurna perbelanjaan. Ajak ini tidak disangkah Roni jikalau ramah eksklusif menyetujuinya. Perjalananpun dilanjutkan kesebuah plaza dengan mesra Roni memberanikan dirimemegang jari tangan Ramah yang lembut dan halus.
Sentuhan itu membuat hati Ramah berdebar-debar ibarat gres terkena strum listrik. Padahal menurutnya banyak cowok yang jahil menyentuh tangannya, satupun belum pernah ia rasakan detak jantung ibarat ini. Ramah membalas sentuhan tangan Roni hingga pada gemgaman yang gemas sama-sama dilakukan. Roni menarik tangan Ramah sambil mengecup kulit tangan Ramah yang halus penuh dengan arti dan kasih sayang yang tidak mampu dituturkan.
Sesampai plaza Ramah mengajak Roni keliling-keling di dalam plaza. Aku mulai sudah lelah Roni juga kelelahan. Aku kasihan melihat Roni saya ajak beliau pulang kerumahku, sesampainya kami dirumah ternyata kedua orang tuaku bekum juga pulang kerja, yang ada adik saya barung pulang sekolah. Kami melanjutkan ngobrolnya di ruang tamu sambil nonton TV Flim Sinetron yang di bintangi Rano Karno sema menjalin cinta cendekia balig cukup akal di dingklik sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wibb Roni dengan sopan berpamitan sama aku. Dengan kesopanan Roni juga membuat saya terus bertambah sayang dan cinta sama dia.
Tanpa kami sadari Tiga bulan sudah berjalan kekerabatan saya dengan Roni. Hubungan baik itu melalui telepon atau ketemu disekolah terus berlanjut. Roni sudah mengenalkan saya pada orang tuanya, dan saya sudah mengenalkan Roni pada kedua orang tuaku. Semula kedua orang tuaku tidak pernah mempersoalkan hubunganku dengan Roni hingga kami naik kelas tiga. Sewaktu hari libur kawan-kawan saya mengajak rekreasi dipantai kasan.
Roni menyetujuinya, saya senang alasannya yaitu Roni mau ikut bersama-sama. Kami berangkat tiga pasangan yang semuanya pacaran, ongkos kami kumpul-kumpul bersama. Tiba waktunya saya pun menunggu angkot berjanji jumpa di sipang Amplas. Pukul 9.30 wibb sudah kumpul semuanya, eksklusif menaiki kendaraan beroda empat gotong royong kepemandian. Sesampainya di sana masing-masing pasangan berpencar menyewa gubuk yang ada dipinggir pantai. Roni masih malu-malu untuk menyewa gubuk buat kami berdua yang di luar. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang saya mengkedipkan mata semoga Roni berani menyewakan gubuk buat kami. Akhirnya Roni mengajak saya menyewa gubuk pas dipinggir pantai. Cuaca mulai mendung kami ganti baju untuk sama-sama berenang. Satu jam penuh berenang perut mulai mulas dan terasa nyeri menahankan lapar. Setenga jam kemudian kami dengan gotong royong berhenti mandi untuk makan di tepi pantai Kasan.
Mandi sudah, makanpun sudah tinggal istrihat dulu gres nunggu sore gres mandi lagi siap mandi gres pulang. Kebetulan siap makan hujan grimis pun tiba, kami sangat khawatir jikalau pantai ini akan meluap nantinya. Tapi kekawatiran ini hilang begitu saja sesaat saya berdua dengan Roni di dalam gubuk. Hujan makin lebat, Roni menutup pintu gubuk, suasana makin hirau taacuh Roni menatapku dengan lembut. Saat saya menggeser posisi dudukku Roni menarik tanganku, sambil merangkul bahuku. Aku terkejut dengan napas yang agak kencang, jantungku berdebar-debar ada rasa benci dan suka. Roni tidak menghintakan jemarinya di bahuku, tangannya mulai menjulur ke pinggangku meletakkan tangannya di atas pahaku yang di balut dengan celana renangku yang lembap kuyup.
Roni mencium leherku dan kupingku, saya meronta dengan kecil sambil mengatakan jangan bang, nanti jikalau kita sudah kawinkan abang mampu melakukannya. Roni tidak mendengar keluhanku bahkan ia merayuku dengan kata-kata dan gombalan sambil mengatakan “aku mau bertanggung jawab untuk mengawinimu, saya sumpah demi tuhan” kebetulan Roni beragama Islam saya keristen. Kutanya roni lagi apa orang renta abang mau menerimaku ” beliau jawab saya sudah bilang sama orang tuaku mereka setujuh, terserah pilihan saya ” balasannya pertahananku kandaslah sudah. Aku pasra Roni menciumi saya mulai dari ujung rambut hingga kakiku, dengan penuh rasa sayang dan menikmati keindahan tubuhku.
Aku tidak tahan perlakuan Roni, membuat saya macam cacing kepanasan sambil membalas cubuan Roni. Melihat perlawanku Roni semakin semangat sambil berusaha membuka baju dan celana renangku, dengan sekejap baju dan celanaku sudah lepas dari tubuhku. Tubuhku yang putih mulus hanya di balut segi tiga dan BH. Melihat kemontokan tubuhku Roni sempat terpelongo sejenak melihat pemandangan yang tidak pernah dilihatnya secara eksklusif selain dengan menonton fliim biru.
Dengan secepat kilat Roni melepaskan seluruh pakaiannya yang melekat di tubuhnya. Aku terkejut dan aib melihat Roni telanjang lingkaran di hadapanku, dadanya yang kekar ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku teringat kata-kata kawan aku, jikalau ada bulu badan di dada pria nafsunya tinggi, mengingat ini akau gemetar. Tanpa di komandoi tangan Roni yang lincah membuat saya kehilangan konstrasi. Aku gelagapan menyeimbangi jamahan dan ciuman yang di lakukan Roni samaku.
Aku hampir lemas dengan cumbuan Roni yang membuatku tidak sadar diri sumua pembalut tubuhku telepas sudah ibarat anak yang gres dilahirkan tanpa sehelai benangpun yang menghalanginya. Roni mulai meningkatkan serangannya maaf pembaca “dengan menjilat milikku yang paling berharga”. Aku tidak tahu apa lagi yang dilakukan Roni yang terperinci membuat saya menggelinjang-gelinjang.
Roni menindihku sambil membuat ancang-ancang diatas tubuhku sambil mengarahkan basokanya sambil menciumi leherku dan telingaku. Saat badan Roni peling bawah menekan milikku terasa nyeri dan sakit. Mendengar jeritanku Roni merasa kasihan dan menghentikan aksinya sebentar. Sambil mempermainkan buah kembar milikku, selang beberapa minit Roni mengulangi aksinya sambil menekan dengan pelan-pelan, tapi sangat luar biasa sakitnya. Aku gres kali itu di cium laki-laki, apalagi untuk di gitui.
Roni mulai tidak tabah menikmati milikku, balasannya beliau menekannya dengan keras, saya menjerit kesakitan. Roni berhasil membongkar pintu milikku yang kian lama kujaga, Roni tidak bergerak beliau membiarkan miliknya didalam miliku. Sekali-sekali Roni mengangkat tubuhnya dengan lembut, saya mulai mencicipi nikmat bercampur sakit kurang lebih lima belas menit Roni mengerang dan terkulai lemas di sampingku.
Aku memaki diriku sambil menangis, kenapa saya segampang itu mengikuti godaan setan yang menimpahku. Aku mau duduk terasa sakit di selangkanganku, Roni kulihat dengan senyum sambil memeluk aku. beliau meyakinkan saya bahwa dirinya tidak akan menyia-nyiakanku hingga kapanpun beliau tetap bertanggungjawab katanya padaku. Dengan kata-kata bang Roni membuat saya tidak ada apa-apanya dimuka beliau saya tertunduk dan patuh pada perintahnya.
Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, erita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
Di suatu malam yang sangat dingin, hujan grimis mengguyur badan penulis yang dikala itu melintas di ruas Jalan Marelan tiba-tiba tidak di sengaja terlihat seorang gadis yang menggunakan gaun tembus pandang. Tubuhnya yang mungil dan cantik di terpa angin yang kencang. Sekali-sekali dirinya menggigil menahan dinginnya cuaca malam itu. Penulis yang masih terus penasaran melihat tindakan gadis tersebut. Terlintas juga dalam benak penulis “gadis cantik ibarat itu lagi ngapain di muka cafe ? sementara di dalam café pengunjung sepi ” inilah yang terlintas dalam benak penulis.
Hujan grimis masih membasahi jalan raya, cuacapun semakin dingin, pengunjung café sudah kosong, tinggal kami berdua dan dua orang pelayan café, dikala itu jam 1.30 Wibb. Ramah yang dari tadi hanya tertunduk sepertinya butuh perhatian, sekali-sekali Ramah menebarkan senyum yang menggoda.
Panjang lebar dongeng hujanpun tidak kunjung berhenti, minuman Jus sudah habis, pemilik café menyhiapkan barang-barangnya untuk tutup. Ramah mulai buka dongeng dengan sifat yang agak malu-malu, sambil mengatakan “bang cafenya sudah maututup kita cek in yo? ” mendengar seruan Ramah penulis melongo sejenak. Ramah sepertinya tidak habis pikir, kenapa saya tidak mau menjawabnya. Ramah bertanya lagi ” bang ayo donk…! saya mau dongeng lebih jauh lagi ama abang. Akhirnya saya kabulkan seruan Ramah alasannya yaitu penuh dengan impian akan mendapat dongeng dari Ramah.
Akhirnya kami bergegas mau pergi, pemilik café eksklusif menegur “abang mau pulang ? saya jawab ia tante. Nanti sakit, inikan masih hujan…! Aku jawab “kayaknya hujannya ini lama tante”. Kami pulang tante ? di jawabnya ia…! Hati-hati di jalan licin bang. Aku jawab lagi ia tante.
Kami eksklusif menuju ke arah Simalingkar salah satu café and kafe bersahabat Hotel Royal Sumatera. Sewaktu dalam perjalanan Ramah memeluk saya sangat kencang sepertinya takut kehilangan. Dalam perjalan itu saya bertanya “Ramah kau cantik, kok maunya kerjaan ibarat ini ? ” Jawab Ramah “bang jikalau masih ada kerjaan yang lebih hina dari sini akan kurjakan walaupun itu pahit. Maksud Ramah gimana ? Ramah juga tidak mau kerja ini tapi orang renta Ramah sendiri menghancurkan masa depan Ramah.
Ramah tidak diterima dilingkungan keluarga lagi bang. Kalau kuceritakan kehidupan saya mungkin satu malam ini belum selesai. Tapi itupun jikalau abang mendesakku nanti ada waktunya bang, Ramah akan ceritakan semuanya buat abang. Kamipun hingga dalam tujuan, saya kaget Ramah rupanya sudah dikenal dicafé tersebut. Sesampainya dicafe Ramah eksklusif didekati seorang laki-laki separuh baya yang notabenya om-om. Yang pasti saya tidak tahu persis apa dongeng orang itu, hanya melihat Ramah dipeluk silaki-laki tadi dengan erat sambil mencium bibir Ramah di tengah-tengah lampu yang samar-samar.
Lanjut dongeng gadis malang itu mulai bergegas mau pergi bersama silaki-laki yang kehausan nafsu dengan kondisi setengah mabuk. Sebelum pergi Ramah mendekatiku sambil mengatakan “bang Ramah mau pergi, pokonya besok saya hubungi abang, ok bang ?” saya mengiyakannya. Ramah eksklusif pergi menaiki kendaraan beroda empat laki-laki itu untuk meninggalkan café. Akupun tidak tinggal membisu untuk melacak mangsa tulisanku luput hingga disitu. Kupanggil pelayan café untuk membayar minuman. Tapi lain jawaban pelayan “bang minumannya sudah dibayar om tadi”. sebelum pergi meninggalkan café kuberikan tip sama pelayan café yang menemaniku untuk pamitan pulang.
Sampai dimukan café kuperhatikan kendaraan beroda empat laki-laki itu kemana arahnya. Kuikuti dari belakang hingga kendaraan beroda empat itu belok kesalah satu kawasan penginapan yang berkelas di Simalingkar. Ya…kutinggalkan setelah dapat kepastian mereka menginap di hotel tersebut.
Sesampainya di simpang kampus Universitas Sumatera Utara (USU) saya berhenti di satu café kecil minum (TST) Teh Susu Terlor. Selama satu jam saya di café itu, tiba-tiba ponselku bunyi dengan nada panggilan. Kuangkat poselku kulihat nomornya sepertinya tidak saya kenal. Aku sempat kaget tengah malam kegini siapa lagi yang menghubungiku terlintas dalam benak aku. Ponsel berbunyi terus kubiarkan hingga tiga kali panggilan gres kuangkat.
Sangat kaget mendengar sautan dalam posel itu terdengar bunyi perempuan gres kukenal. Menjawab pertanyanku dengan manja sambil mengajak saya untuk menginap. Mendengar seruan ini saya tidak percaya bahwa Ramah mau menginap bersamaku, sementara dianya masih bersama laki-laki barusan 2 jam kutinganggalkan.
Ramah mengatakan jikalau laki-laki tadi tidak mampu menginap hingga pagi, alasannya yaitu takut tertangkap lembap sama istri dan anaknya. Aku tanya ini no HP siapa ? Ramah jawab om tadi kupinjam. Kutanya lagi berarti beliau masih ada di ruang kamar ? Ramah menjawab ia, tapi beliau udah mau pulang bang, abang datang ya ? saya tunggu Ramah tidak ada kawan, cepat donk bang. Desakan ini saya tidak mudah terpengaruh, alasannya yaitu takut ada kejadian yang tidak di inginkan nanti.
Kurang lebih 30 menit hari hampir pagi jam 4.23 Wibb saya menghubungi Ramah melalui ponselnya. Ramah mengangkat dengan nada kesal “abang dimana kok ngga datang ?. cepat donk saya tidak ada kawan nih…!. Akhirinya saya beranikan diri balik lagi kehotel tersebut. Kuperhatikan kendaraan beroda empat silaki-laki setengah baya yang tadi kutinggalkan di kawasan parkir, memang tidak ada. Aku tanya eksklusif pejaga hotel, menjawabnya sudah pulang bang, abang itu tiap menginap di hotel ini hingga jam 3.00 Wib saja bang.
Abang mau ngapain ? kujawab dengan nada yang ramah dan sopan “aku barusan di hubungi cewek kawan bapak tadi. belum habis saya ngomong eksklusif penjaga itu potong Ramah bang ? katanya, ia bang. Ada di kamar 19, masuk aja bang, ngga apa-apa itu disini mampu kita jaga kemanan. Ok bang terimakasih yang bang, saya balik jawab. Langsung menuju kekamar no 19 kuketuk pintu kamar eksklusif di buka gadis seorang diri dengan mengenakan gaun tidur tembus pandang. Sepertinya Ramah tidak memakai BH als pembalut buah dada, hanya segi tiga transparan yang nampak. Mulai dari ujung rambut kuperhatikan hingga ujung kuku serta seisi dalam kamar itu sebulum masuk. Diperselakan masuk sambil menarik tanganku kedalam, “kok takut-takut masuk donk bang, ngga apa-apa kok”. Tanggan Ramah yang bandel hampir membuat saya jadi tidak terkontrol.
Ramah memang cantik, putih dan seksi tidak di temui satupun bekas luka ditubunya. Tangannya yang mulus, lembutnya belain penuh dengan rasa sayang. saya tertunduk sejenak di pinggir kawasan tidur sambil mengisap rokok Sampoerna, sementara Ramah tidur dipagkuan saya sambil memeluk pinggangku. Rokok sudah habis saya ambilkan tas kecilku yang di dalamnya ada alat perekam suara, eksklusif kuhidupkan. Ramah memang nakal, mau tahu aja apa isi dalam tas aku. Dia mengambilnya dan mengeluarkan tipe rekamannya, memutar balik isi kaset. Baru Ramah tahu mulai dari perteman tadi dianya ngomong saya rekam. Saat itu juga gadis yang seksi, manja mencubitku dengan kesal. “abang kok tega kali merekam bunyi Ramah, untuk apa bang ?, abang wartawan ya ? jahat abang, saya ngga mau lagi dongeng ama abang. Rupanya abang wartawan pantasan abang mulai dari tadi ngebutkali mendengar kisah Ramah kenapa terjuan kedunia malam”.
Ramah yang dari tadi nakal, kontan eksklusif melongo dan membelakangi aku. Sementara radio rekamannya beliau pegang, saya minta beliau ngga kasih. Bahkan beliau mengatakan “abang puas ya menanyai Ramah hanya untuk kesenangan abang, malunya untuk ramah, berarti abang ikut donk menghancurkan Ramah dan mempermalukan ramah di muka umum”.
Aku berusaha meyakininya dengan rasa sayang, kukecup pipinya yang membuktikan saya bukan untuk mempermalukannya. Tapi saya ingin mengangkat kisahnya untuk membantu sakit hati Ramah yang selama ini dipendam ibarat bara yang sangat merah dan panas. Ramah kupeluk, kusayang, balasannya Ramah menyerah memperlihatkan rekamannya.
Ramah yang marah balasannya bisaku redahkan kemarahannya. Sampai setengah jam Ramah tidak mau cakap, Ramah membisu dengan posisi tengkurap di atas kawasan tidur yang empuk tanpa menghiraukan aku. Aku termenung sejenak memikirkan cara apa lagi kubuat untuk mengajak Ramah ceritakan kisahnya. Dengan pandangan gres yang cemermalang terlintas di benakku untuk merayu dengan posisi yang sama. Akhirnya pertahaan Ramah kandas juga, Ramah membalikkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap aku. Dia senyum sambil memelukku sambil bertanya. Apasih gunanya abang muat di koran kisah Ramah ? abang jahat kali ya ? apa memang wartawan ibarat itu ? sukanya memberitakan kesusahan orang lain. Aku jawab dengan nada yang ramah serta menebar senyuman yang memikat hati Ramah semoga ianya dapat yakin dan percaya.
Ramah yang manja dan seksi balasannya luluh tersenyum dengan iklas meceritakan kisah hidupnya hingga terjun ke dunia hitam untuk memuaskan nafsu lelaki hidung belang.
Ramah bercerita pajang lebar perihal kisah hidupnya pada penulis pada pukul 4.30 Wib hingga pukul 7.30 pagi. Berawal dari ceritanya gadis cantik ini sangat lugu takut dengan laki-laki, bahkan berbagai kawan-kawan Ramah yang mengejeknya kampungan. Tapi itu semua tidak pernah beliau masukkan dalam hati hanya dianggapnya sebatas kuping saja. Waktu itu Ramah masih duduk di dingklik SMA Swasta kelas dua di Medan. Dengan keluguan Ramah berbagai para lelaki satu lokalnya menaruh hati sama aku. lain orang lain tingkah lakunya beratus teori yang di buat cowok-cowok keren yang mendekatinya, yang namanya cinta belum juga ada di benaknya. Suatu waktu yang tidak di sangka Ramah ketemu dengan seorang cowok yang baik hati ianya Roni (nama samarannya) berhasil memikat hati Ramah.
Penuh dengan rayuan dan kemesrahan yang berjalan cukup lumayan hingga kejenjang penikahan. Awal dari kesukaan Ramah pada Roni penuh dengan kejujuran dan kebaikannya di mata Ramah membuatnya tergila-gila dengan Roni. Saat yang di nanti-nantikan Roni mulai berani bercanda mengajak Ramah jalan-jalan ke salahsatu sempurna perbelanjaan. Ajak ini tidak disangkah Roni jikalau ramah eksklusif menyetujuinya. Perjalananpun dilanjutkan kesebuah plaza dengan mesra Roni memberanikan dirimemegang jari tangan Ramah yang lembut dan halus.
Sentuhan itu membuat hati Ramah berdebar-debar ibarat gres terkena strum listrik. Padahal menurutnya banyak cowok yang jahil menyentuh tangannya, satupun belum pernah ia rasakan detak jantung ibarat ini. Ramah membalas sentuhan tangan Roni hingga pada gemgaman yang gemas sama-sama dilakukan. Roni menarik tangan Ramah sambil mengecup kulit tangan Ramah yang halus penuh dengan arti dan kasih sayang yang tidak mampu dituturkan.
Sesampai plaza Ramah mengajak Roni keliling-keling di dalam plaza. Aku mulai sudah lelah Roni juga kelelahan. Aku kasihan melihat Roni saya ajak beliau pulang kerumahku, sesampainya kami dirumah ternyata kedua orang tuaku bekum juga pulang kerja, yang ada adik saya barung pulang sekolah. Kami melanjutkan ngobrolnya di ruang tamu sambil nonton TV Flim Sinetron yang di bintangi Rano Karno sema menjalin cinta cendekia balig cukup akal di dingklik sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wibb Roni dengan sopan berpamitan sama aku. Dengan kesopanan Roni juga membuat saya terus bertambah sayang dan cinta sama dia.
Tanpa kami sadari Tiga bulan sudah berjalan kekerabatan saya dengan Roni. Hubungan baik itu melalui telepon atau ketemu disekolah terus berlanjut. Roni sudah mengenalkan saya pada orang tuanya, dan saya sudah mengenalkan Roni pada kedua orang tuaku. Semula kedua orang tuaku tidak pernah mempersoalkan hubunganku dengan Roni hingga kami naik kelas tiga. Sewaktu hari libur kawan-kawan saya mengajak rekreasi dipantai kasan.
Roni menyetujuinya, saya senang alasannya yaitu Roni mau ikut bersama-sama. Kami berangkat tiga pasangan yang semuanya pacaran, ongkos kami kumpul-kumpul bersama. Tiba waktunya saya pun menunggu angkot berjanji jumpa di sipang Amplas. Pukul 9.30 wibb sudah kumpul semuanya, eksklusif menaiki kendaraan beroda empat gotong royong kepemandian. Sesampainya di sana masing-masing pasangan berpencar menyewa gubuk yang ada dipinggir pantai. Roni masih malu-malu untuk menyewa gubuk buat kami berdua yang di luar. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang saya mengkedipkan mata semoga Roni berani menyewakan gubuk buat kami. Akhirnya Roni mengajak saya menyewa gubuk pas dipinggir pantai. Cuaca mulai mendung kami ganti baju untuk sama-sama berenang. Satu jam penuh berenang perut mulai mulas dan terasa nyeri menahankan lapar. Setenga jam kemudian kami dengan gotong royong berhenti mandi untuk makan di tepi pantai Kasan.
Mandi sudah, makanpun sudah tinggal istrihat dulu gres nunggu sore gres mandi lagi siap mandi gres pulang. Kebetulan siap makan hujan grimis pun tiba, kami sangat khawatir jikalau pantai ini akan meluap nantinya. Tapi kekawatiran ini hilang begitu saja sesaat saya berdua dengan Roni di dalam gubuk. Hujan makin lebat, Roni menutup pintu gubuk, suasana makin hirau taacuh Roni menatapku dengan lembut. Saat saya menggeser posisi dudukku Roni menarik tanganku, sambil merangkul bahuku. Aku terkejut dengan napas yang agak kencang, jantungku berdebar-debar ada rasa benci dan suka. Roni tidak menghintakan jemarinya di bahuku, tangannya mulai menjulur ke pinggangku meletakkan tangannya di atas pahaku yang di balut dengan celana renangku yang lembap kuyup.
Roni mencium leherku dan kupingku, saya meronta dengan kecil sambil mengatakan jangan bang, nanti jikalau kita sudah kawinkan abang mampu melakukannya. Roni tidak mendengar keluhanku bahkan ia merayuku dengan kata-kata dan gombalan sambil mengatakan “aku mau bertanggung jawab untuk mengawinimu, saya sumpah demi tuhan” kebetulan Roni beragama Islam saya keristen. Kutanya roni lagi apa orang renta abang mau menerimaku ” beliau jawab saya sudah bilang sama orang tuaku mereka setujuh, terserah pilihan saya ” balasannya pertahananku kandaslah sudah. Aku pasra Roni menciumi saya mulai dari ujung rambut hingga kakiku, dengan penuh rasa sayang dan menikmati keindahan tubuhku.
Aku tidak tahan perlakuan Roni, membuat saya macam cacing kepanasan sambil membalas cubuan Roni. Melihat perlawanku Roni semakin semangat sambil berusaha membuka baju dan celana renangku, dengan sekejap baju dan celanaku sudah lepas dari tubuhku. Tubuhku yang putih mulus hanya di balut segi tiga dan BH. Melihat kemontokan tubuhku Roni sempat terpelongo sejenak melihat pemandangan yang tidak pernah dilihatnya secara eksklusif selain dengan menonton fliim biru.
Dengan secepat kilat Roni melepaskan seluruh pakaiannya yang melekat di tubuhnya. Aku terkejut dan aib melihat Roni telanjang lingkaran di hadapanku, dadanya yang kekar ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku teringat kata-kata kawan aku, jikalau ada bulu badan di dada pria nafsunya tinggi, mengingat ini akau gemetar. Tanpa di komandoi tangan Roni yang lincah membuat saya kehilangan konstrasi. Aku gelagapan menyeimbangi jamahan dan ciuman yang di lakukan Roni samaku.
Aku hampir lemas dengan cumbuan Roni yang membuatku tidak sadar diri sumua pembalut tubuhku telepas sudah ibarat anak yang gres dilahirkan tanpa sehelai benangpun yang menghalanginya. Roni mulai meningkatkan serangannya maaf pembaca “dengan menjilat milikku yang paling berharga”. Aku tidak tahu apa lagi yang dilakukan Roni yang terperinci membuat saya menggelinjang-gelinjang.
Roni menindihku sambil membuat ancang-ancang diatas tubuhku sambil mengarahkan basokanya sambil menciumi leherku dan telingaku. Saat badan Roni peling bawah menekan milikku terasa nyeri dan sakit. Mendengar jeritanku Roni merasa kasihan dan menghentikan aksinya sebentar. Sambil mempermainkan buah kembar milikku, selang beberapa minit Roni mengulangi aksinya sambil menekan dengan pelan-pelan, tapi sangat luar biasa sakitnya. Aku gres kali itu di cium laki-laki, apalagi untuk di gitui.
Roni mulai tidak tabah menikmati milikku, balasannya beliau menekannya dengan keras, saya menjerit kesakitan. Roni berhasil membongkar pintu milikku yang kian lama kujaga, Roni tidak bergerak beliau membiarkan miliknya didalam miliku. Sekali-sekali Roni mengangkat tubuhnya dengan lembut, saya mulai mencicipi nikmat bercampur sakit kurang lebih lima belas menit Roni mengerang dan terkulai lemas di sampingku.
Aku memaki diriku sambil menangis, kenapa saya segampang itu mengikuti godaan setan yang menimpahku. Aku mau duduk terasa sakit di selangkanganku, Roni kulihat dengan senyum sambil memeluk aku. beliau meyakinkan saya bahwa dirinya tidak akan menyia-nyiakanku hingga kapanpun beliau tetap bertanggungjawab katanya padaku. Dengan kata-kata bang Roni membuat saya tidak ada apa-apanya dimuka beliau saya tertunduk dan patuh pada perintahnya.
Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, erita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.

0 Komentar