Cerita Sex - Pada suatu liburan sekolah yang panjang, kami dari sebuah SLTA mengadakan pendakian gunung di Jawa Timur. Rombongan terdiri dari 5 laki-laki dan 5 wanita. Diantara rombongan itu satu guru wanita (guru biologi) dan satu guru pria (guru olah raga).
Acara liburan ini sesungguhnya amat tidak didukung oleh cuaca. Soalnya, program kami itu diadakan pada awal animo hujan. Tapi kami tidak sedikitpun gentar menghadapi bahaya cuaca itu. Ada yang sedikit mengganjal hati saya, yakni Ibu Guru Anisa (saya memanggilnya Anisa) yang terkenal galak dan judes itu dan anti cowok! denger-denger ia itu lesbi. Ada yang bilang ia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok. Bu Anis usianya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Sedangkan sahabat - sahabat cewek lainnya terdiri dari cewek-cewek bawel tapi cantik-cantik dan periang, cowoknya, terus terang saja, semuanya cecunguk asmara! termasuk Pak Martin guru olah raga kami itu.
Perjalanan menuju puncak gunung, mulai dari kumpul di sekolah hingga tiba di kaki gunung di pos penjagaan I kami lalui dengan riang bangga dan mulus-mulus saja. Seperti biasanya rombongan berangkat menuju ke sasaran melalui jalan setapak. Sampai tengah hari, kami mulai memasuki daerah yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet-monyet liar dan galak. Menjelang sore, setelah rombongan istirahat sebentar untuk makan dan minum, kami berangkat lagi. Kata Pak Martin sebentar lagi hingga ke tujuan. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua-dua. Kebetulan saya berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Sebentar-sebentar minta istirahat, bahkan hingga 10 menit, lima belas menit, dan ia benar-benar kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak.
Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo?! Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak memanggil-manggil mereka yang berjalan duluan. Tak ada sahutan sedikitpun, yang terdengar hanya raungan monyet-monyet liar, bunyi burung, bahkan sesekali auman harimau. Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Akhirnya kami terus berjalan menuruti naluri saja. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang.
Sial bagi kami, kabut dengan tiba-tiba turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik-rintik. Anisa minta istirahat dan berteduh di sebuah pohon sangat besar. Hingga hari gelap kami tersasar dan belum bertemu dengan rombongan di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian watu cadas yang sedikit ibarat goa.
Hujan semakin lebat dan kabut tebal sekali, udara menyengat ketulang sumsum dinginnya. Bajuku berair kuyup, demikian juga baju Anisa. Dia menggigil kedinginan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan topan yang dingin. Kami tersesat di tengah hutan lebat.
Tanpa sadar Anisa saking kedinginan ia memeluk aku. ?Maaf? katanya. Aku membisu saja, bahkan ia minta saya memeluknya erat-erat semoga hangat tubuhnya. Pelukan kami semakin erat, seiring dengan kencangnya deras hujan yang dingin. Jika saya tak salah, hampir tiga jam lamanya hujan turun, dan hampir tiga jam kami berpelukan menahan dingin.
Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing-masing. Tujuan utamanya ialah mencari pakaian tebal, karena jaket kami sudah berair kuyup. Seluruh pakaian bawaan Anisa berair kuyup, saya hanya punya satu jaket parasut di ransel. Anisa minta saya meminjamkan jakaetku. Aku setuju. Tapi apa yag terjadi? wow..Anisa dalam suasana dingin itu membuka seluruh pakaiannya guna diganti dengan yang agak kering. Mulai dari jaket, T. Shirt nya, BH nya, wah saya melihat seluruh tubuh Anisa. Dia hambar saja, payudaranya nampak samar-samar dalam gelap itu. Tiba-tiba ia memelukku lagi.
?Dingin banget? katanya. ?Terang dingin, habis kau bugil begini? jawabku.
?Habis bagaimana? berair semua, tolong pakein saya jeketmu dong?? pinta Anisa.
Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Tanganku bersentuhan dengan payudaranya, dan saya berguman
? Maaf Nisa??
?Enggak apa-apa?!?: sahutnya.
Hatiku jadi enggak karuan, udara yang saya rasakan dingin mendadak jadi hangat, entah apa penyebabnya. Anisa merangkulku, ?Dingin? katanya, saya peluk saja ia erat-erat. ? Hangat bu?? tanyaku ? iya, hangat sekali, yang kenceng dong meluknya ? pintanya. Otomatis saya peluk erat-erat dan semakin erat.
Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang mencicipi kedinginan malam itu, ibarat saya juga. Dia meraba bibirku, saya reflex mencium bibir Anisa. Lalu saya menghindar. ?Kenapa?? tanya Anisa
? Maaf Nisa? ? Jawabku.
? Tidak apa-apa Rangga, kita dalam suasana ibarat ini saling membutuhkan, dengan begini kita saling bernafsu, dengan nafsu itu membangkitkan panas dalam darah kita, dan bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat.
Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar saya memegang payudaranya Anisa yang bahenol itu, ia membisu saja, bahkan ibarat meningkat nafsu birahinya. Tangannya secara reflek merogoh celanaku kedalam hingga masuk dan memegang penisku. Kami masih berciuman, tangan Anisa melaksanakan gerakan ibarat mengocok-ngocok ?Mr. Penny?ku. Tanganku mulai merogoh ?Ms. Veggy?nya Anisa, astaga! ia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari tadi. Karena remang-remang saya hingga tak melihatnya. ?Ms. Veggy?nya hangat sekali adegan dalamnya, bulunya lebat.
Anisa sepontan melepas seluruh pakaiannya, dan meminta saya melepas pula. Aku tanpa basa kedaluwarsa lagi eksklusif bugil. Kami bergumul diatas semak-semak, kami melaksanakan relasi tubuh ditengah gelap gulita itu. Kami saling ganti posisi, Anisa meminta saya dibawah, ia diatas. Astaga, goyangnya!! Pengalaman banget dia? kan belum kawin?
? Kamu berpengaruh ya?? bisiknya mesra.
? Lumayan sayang?!? sahutku setengah berbisik.
? Biasa main dimana?? tanyanya
?Ada apa sayang?? tanyaku kembali.
? Akh enggak? jawabnya sambil melepas ?Ms. Veggy?nya dari ?Mr. Penny?ku, dan dengan cekatan ia mengisap dan menjilati ?Mr. Penny?ku tanpa rasa jijik sedikitpun. Anisa meminta semoga saya mengisap payudaranya, lalu menekan kepalaku dan menuntunnya ke arah ?Ms. Veggy?nya. Aku jilati ?Ms. Veggy? itu tanpa rasa jijik pula. Tiba-tiba saja ia minta senggama lagi, lagi dan lagi, hingga saya ejakulasi.
Aku sempat bertanya, ?Bagaimana kalau kau hamil??
? Don?t worry!? katanya. Dan setelah ia memebersihkan ?Ms. Veggy?nya dari spermaku, ia merangkul saya lagi. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Paras Anisa tampak anggun dan cantik sekali. Kami ngobrol ngalor-ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Setelah ngobrol sekian jam, sempurna pukul 3 malam, Anisa minta bersetubuh denganku lagi, katanya nikmat sekali ?Mr. Penny?ku. Aku semakin bingung, dari mana ia tahu macam-macam rasa ?Mr. Penny?, ia kan belum nikah? tidak punya pacar? kata orang ia lesbi.
Aku menuruti ajakan Anisa. Dia menggagahi aku, lalu meminta saya melaksanakan pemanasan sex (foreplay). Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya ia lakukan. Kami tak peduli lagi dengan dinginnya malam, gatalnya semak-semak. Kami bergumul dan bergumul lagi. Anisa meraih tanganku dan menempelkan ke payudaranya. Dia minta semoga saya meremas-remas payudaranya, lalu memainkan lubang ?Ms. Veggy?nya dengan jariku, menjilati sekujur adegan dagu. Tak kalah pula ia mengocok-ngocok ?Mr. Penny?ku yang sudah sangat tegang itu, lalu dijilatinya, dan dimasukkannya kelubang vaginanya, dan kami saling goyang menggoyang dan hingga kami saling mencapai klimaks kenikmatan, dan terkulai lemas.
Anisa minta semoga saya tak usah lagi menyusul kelompok yang terpisah. Esoknya kami memutuskan untuk berkemah sendiri dan mencari lokasi yang tak akan mungkin dijangkau mereka. Kami menerima tempat ditepi jurang terjal dan ada goa kecilnya, serta ada sungai yang bening, tapi rimbun dan nyaman. Romantis sekali tempat kami itu. Aku dan Anisa layaknya ibarat Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sebab seluruh baju yang kami bawa berair kuyup oleh hujan. Anisa hanya memakai selembar selayer yang dililitkan diseputar perut untuk menutupi kemaluannya. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Anisa dengan busana yang sangat minim itu membuat saya terangsang terus, demikian pula dia. Dalam hari-hari yang kami lalui kami hanya makan mi instant dan makanan kaleng.
Tepat sudah tiga hari kami ada ditempat terpencil itu. Hari terakhir, sepanjang hari kami hanya ngobrol dan bermesraan saja. Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Di hari terakhir itu, kesmpatan kami pakai semaksimal mungkin. Di hari yang cerah itu, Anisa minta saya mandi bersama di sungai yang rimbun tertutup pohon-pohon besar. Kami mandi berendam, berpelukan, lalu bersenggama lagi. Anisa menuntun ?Mr. Penny?ku masuk ke ?Ms. Veggy?nya. Dan di menggoyangkan pinggulnya semoga saya merasa nikmat. Aku demikian pula, semakin menekan ?Mr. Penny?ku masuk kedalam ?Ms. Veggy?nya.
Di atas watu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, ia menguakkan selangkangngannya, ?Ms. Veggy?nya terbuka lebar, disuruhnya saya menjilati bibir ?Ms. Veggy?nya hingga klitoris adegan dalam yang ngjendol itu. Dia mencicipi nikmat yang luar biasa, lalu disuruhnya saya memasukkan jari tengahku ke dalam lubang ?Ms. Veggy?nya, dan menekannya dalam-dalam. Mata Anisa merem melek kenikmatan. Tak lama kemudian ia minta saya yang berbaring, ?Mr. Penny?ku di elus-elus, diciumi, dijilati, lalu diisapnya dengan memainkan lidahnya, Anisa minta semoga saya jangan ejakulasi dulu,
?Tahan ya?? pintanya. ? Jangan dikeluarin lho?!? pintanya lagi.
Lalu ia menghisap ?Mr. Penny?ku dalam-dalam. Setelah ia enggak tahan, lalu ia naik diatasku dan memasukkan ?Mr. Penny?ku di ?Ms. Veggy?nya, wah, goyangnya jago sekali, balasannya ia yang kalah duluan. Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya ia ? keluar?, dan menjerit kenikmatan, lalu saya menyusul yang ?keluar? dan oh, oh..oh..muncratlah air maniku dilubang ?Ms. Veggy? Anisa.
?Jahat kamu?!? kata Anisa seraya menatapku manja dan memukuli saya pelan dan mesra. Aku tersenyum saja. ? Jahat kau Rangga, saya kalah terus sama kau ? Ujarnya lagi. Kami sama-sama terkulai lemas diatas watu itu.
Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Kami memadu janji, bahwa suatu ketika nanti kami akan kembali ke tempat itu. Kami pulang dengan mengambil jalan ke desa terdekat dan pergi ke kota terdekat semoga tidak bertemu dengan rombongan yang terpisah itu. Dari kota kecil itu kami pulang ke kota kami dengan menyewa Taxi, sepanjang jalan kami berpelukan terus di dalam Taxi. Tak sedikitpun waktu yang kami sia-siakan. Anisa menciumi pipiku, bibirku, lalu membisikkan kata
? Aku suka kau ? Aku juga membalasnya dengan kalimat mesra yang tak kalah indahnya. Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari-jari Anisa tak henti-hentinya merogoh celana dalamku, dan memegangi ?Mr. Penny?ku. Dia tahu saya ejakulasi di dalam celana, bahkan Anisa tetap mengocok-ngocoknya. Aku terus memeluk dia, Pak Supir tak ku ijinkan menoleh kami kebelakang, ia baiklah saja. Sudah tiga kali saya ? keluar? karena tangan Anisa selalu memainkan ?Mr. Penny?ku sepanjang perjalanan di Taxi itu.
? Aku lemas sayang?!? bisikku mesra
? Biarin!? Bisiknya mesra sekali. ? Aku suka kok!? Bisiknya lagi.
Tidak mau ketinggalan saya merogoh celana olah raga yang dipakai Anisa. Astaga, ia tidak pakai celana dalam. Ketika jari-jari tanganku menyolok ?Ms. Veggy?nya, ia tersenyum, bulunya ku tarik-tarik, ia meringis, dan apa yang terjadi? astaga lagi, Anisa sudah ?keluar? banyak, ?Ms. Veggy?nya berair oleh semacam lendir, rupanya nafsunya tinggi sekali, becek banget. Tangan kami sama-sama berair oleh cairan kemaluan. Ketika hingga di rumah Anisa, saya disuruhnya eksklusif pulang, enggak enak sama tetangga katanya. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, saya menolaknya, biar saya saja yang membayar Taxi itu. Lalu saya pulang.
Hari-hari berikutnya di sekolah, hubunganku dengan Anisa guru biologiku, nampak wajar-wajar saja dari luar. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Hari-hari selanjutnya selalu bertemu ditempat-tempat khusus ibarat hotel diluar kota, di pantai, bahkan pernah dalam suatu liburan kami ke Bali selama 12 hari.
Ketika saya sudah menyelesaikan studiku di SLTA, Anisa minta semoga saya tak melupakan kenangan yang pernah kami ukir. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, yah ibarat perpisahan. Karena saya harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Alangkah sedihnya Anisa malam itu, ia nampak cantik, lembut dan mesra. Tak rela rasanya saya kehilangan Anisa. Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi saya mau menikah dengannya. Anisa menawarkan cincin bermata berlian yang dipakainya kepada aku. Aku menawarkan kalung emas bermata zamrud kepada Anisa. Cincin Anisa hanya bisa melingkar di kelingkingku, kalungku eksklusif dipakainya, setelah dikecupinya. Anisa berencana berhenti menjadi guru, ?sakit rasanya? ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Anisa akan melanjutkan S2 nya di USA, karena keluarganya ada disana. Setelah itu kami berpisah hingga sekian tahun, tanpa kontak lagi.
Pada suatu saat, ada surat undangan ijab kabul datang ke Apartemenku, datangnya dari Dra. Anisa Maharani, MSC. Rupanya benar ia menyelesaikan S2 nya.Aku terbang ke Jakarta, karena resepsi itu diadakan di Jakarta disebuah hotel bintang lima. Aku datang bersama kakakku Rina dan Papa. Di pesta itu, ketika saya datang, Anisa tak tahan menahan emosinya, ia menghampiriku ditengah kerumunan orang banya itu dan memelukku erat-erat, lalu menangis sejadi-jadinya.
?Aku rindu kau Rangga kekasihku, saya sayang kamu, sekian tahun saya kehilangan kamu, andai saja laki-laki disampingku dipelaminan itu ialah kamu, alangkah bahagianya saya ? Kata Anisa lirih dan pelan sambil memelukku.
Kamu jadi perhatian para hadirin, Rina dan Papa saling tatap kebingungan. Ku usap airmata nrimo Anisa. Kujelaskan saya sudah selesai S1 dan akan melanjutkan S2 di USA, dan saya berjanji akan membangun laboratorium yang kuberi nama Laboratorium ?Anisa?. Dia baiklah dan masih menenteskan air mata.
Setelah saya diperkenalkan dengan suaminya, saya minta pamit untuk pulang, akupun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Setelah lima tahun tak ada khabar lagi dari dia, saya sudah menikah dan punya anak wanita yang kuberi nama Anisa Maharani, persis nama Anisa. Ku kabari Anisa dan ia datang kerumahku di Bandung, ia juga membawa putranya yang diberi nama Rangga, cuma Rangga berbeda usia tiga tahun dengan Anisa putriku. Aku masih mencicipi getaran-getaran aneh di hatiku, tatapan Anisa masih menantang dan panas, senyumnya masih menggoda. Kami sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, kalau Yang Mahakuasa mengijinkannya.
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
![]() |
| Cerita Hot Pengalaman Sex Ketika Mendaki Gunung |
Acara liburan ini sesungguhnya amat tidak didukung oleh cuaca. Soalnya, program kami itu diadakan pada awal animo hujan. Tapi kami tidak sedikitpun gentar menghadapi bahaya cuaca itu. Ada yang sedikit mengganjal hati saya, yakni Ibu Guru Anisa (saya memanggilnya Anisa) yang terkenal galak dan judes itu dan anti cowok! denger-denger ia itu lesbi. Ada yang bilang ia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok. Bu Anis usianya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Sedangkan sahabat - sahabat cewek lainnya terdiri dari cewek-cewek bawel tapi cantik-cantik dan periang, cowoknya, terus terang saja, semuanya cecunguk asmara! termasuk Pak Martin guru olah raga kami itu.
Perjalanan menuju puncak gunung, mulai dari kumpul di sekolah hingga tiba di kaki gunung di pos penjagaan I kami lalui dengan riang bangga dan mulus-mulus saja. Seperti biasanya rombongan berangkat menuju ke sasaran melalui jalan setapak. Sampai tengah hari, kami mulai memasuki daerah yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet-monyet liar dan galak. Menjelang sore, setelah rombongan istirahat sebentar untuk makan dan minum, kami berangkat lagi. Kata Pak Martin sebentar lagi hingga ke tujuan. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua-dua. Kebetulan saya berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Sebentar-sebentar minta istirahat, bahkan hingga 10 menit, lima belas menit, dan ia benar-benar kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak.
Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo?! Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak memanggil-manggil mereka yang berjalan duluan. Tak ada sahutan sedikitpun, yang terdengar hanya raungan monyet-monyet liar, bunyi burung, bahkan sesekali auman harimau. Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Akhirnya kami terus berjalan menuruti naluri saja. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang.
Sial bagi kami, kabut dengan tiba-tiba turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik-rintik. Anisa minta istirahat dan berteduh di sebuah pohon sangat besar. Hingga hari gelap kami tersasar dan belum bertemu dengan rombongan di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian watu cadas yang sedikit ibarat goa.
Hujan semakin lebat dan kabut tebal sekali, udara menyengat ketulang sumsum dinginnya. Bajuku berair kuyup, demikian juga baju Anisa. Dia menggigil kedinginan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan topan yang dingin. Kami tersesat di tengah hutan lebat.
Tanpa sadar Anisa saking kedinginan ia memeluk aku. ?Maaf? katanya. Aku membisu saja, bahkan ia minta saya memeluknya erat-erat semoga hangat tubuhnya. Pelukan kami semakin erat, seiring dengan kencangnya deras hujan yang dingin. Jika saya tak salah, hampir tiga jam lamanya hujan turun, dan hampir tiga jam kami berpelukan menahan dingin.
Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing-masing. Tujuan utamanya ialah mencari pakaian tebal, karena jaket kami sudah berair kuyup. Seluruh pakaian bawaan Anisa berair kuyup, saya hanya punya satu jaket parasut di ransel. Anisa minta saya meminjamkan jakaetku. Aku setuju. Tapi apa yag terjadi? wow..Anisa dalam suasana dingin itu membuka seluruh pakaiannya guna diganti dengan yang agak kering. Mulai dari jaket, T. Shirt nya, BH nya, wah saya melihat seluruh tubuh Anisa. Dia hambar saja, payudaranya nampak samar-samar dalam gelap itu. Tiba-tiba ia memelukku lagi.
?Dingin banget? katanya. ?Terang dingin, habis kau bugil begini? jawabku.
?Habis bagaimana? berair semua, tolong pakein saya jeketmu dong?? pinta Anisa.
Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Tanganku bersentuhan dengan payudaranya, dan saya berguman
? Maaf Nisa??
?Enggak apa-apa?!?: sahutnya.
Hatiku jadi enggak karuan, udara yang saya rasakan dingin mendadak jadi hangat, entah apa penyebabnya. Anisa merangkulku, ?Dingin? katanya, saya peluk saja ia erat-erat. ? Hangat bu?? tanyaku ? iya, hangat sekali, yang kenceng dong meluknya ? pintanya. Otomatis saya peluk erat-erat dan semakin erat.
Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang mencicipi kedinginan malam itu, ibarat saya juga. Dia meraba bibirku, saya reflex mencium bibir Anisa. Lalu saya menghindar. ?Kenapa?? tanya Anisa
? Maaf Nisa? ? Jawabku.
? Tidak apa-apa Rangga, kita dalam suasana ibarat ini saling membutuhkan, dengan begini kita saling bernafsu, dengan nafsu itu membangkitkan panas dalam darah kita, dan bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat.
Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar saya memegang payudaranya Anisa yang bahenol itu, ia membisu saja, bahkan ibarat meningkat nafsu birahinya. Tangannya secara reflek merogoh celanaku kedalam hingga masuk dan memegang penisku. Kami masih berciuman, tangan Anisa melaksanakan gerakan ibarat mengocok-ngocok ?Mr. Penny?ku. Tanganku mulai merogoh ?Ms. Veggy?nya Anisa, astaga! ia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari tadi. Karena remang-remang saya hingga tak melihatnya. ?Ms. Veggy?nya hangat sekali adegan dalamnya, bulunya lebat.
Anisa sepontan melepas seluruh pakaiannya, dan meminta saya melepas pula. Aku tanpa basa kedaluwarsa lagi eksklusif bugil. Kami bergumul diatas semak-semak, kami melaksanakan relasi tubuh ditengah gelap gulita itu. Kami saling ganti posisi, Anisa meminta saya dibawah, ia diatas. Astaga, goyangnya!! Pengalaman banget dia? kan belum kawin?
? Kamu berpengaruh ya?? bisiknya mesra.
? Lumayan sayang?!? sahutku setengah berbisik.
? Biasa main dimana?? tanyanya
?Ada apa sayang?? tanyaku kembali.
? Akh enggak? jawabnya sambil melepas ?Ms. Veggy?nya dari ?Mr. Penny?ku, dan dengan cekatan ia mengisap dan menjilati ?Mr. Penny?ku tanpa rasa jijik sedikitpun. Anisa meminta semoga saya mengisap payudaranya, lalu menekan kepalaku dan menuntunnya ke arah ?Ms. Veggy?nya. Aku jilati ?Ms. Veggy? itu tanpa rasa jijik pula. Tiba-tiba saja ia minta senggama lagi, lagi dan lagi, hingga saya ejakulasi.
Aku sempat bertanya, ?Bagaimana kalau kau hamil??
? Don?t worry!? katanya. Dan setelah ia memebersihkan ?Ms. Veggy?nya dari spermaku, ia merangkul saya lagi. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Paras Anisa tampak anggun dan cantik sekali. Kami ngobrol ngalor-ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Setelah ngobrol sekian jam, sempurna pukul 3 malam, Anisa minta bersetubuh denganku lagi, katanya nikmat sekali ?Mr. Penny?ku. Aku semakin bingung, dari mana ia tahu macam-macam rasa ?Mr. Penny?, ia kan belum nikah? tidak punya pacar? kata orang ia lesbi.
Aku menuruti ajakan Anisa. Dia menggagahi aku, lalu meminta saya melaksanakan pemanasan sex (foreplay). Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya ia lakukan. Kami tak peduli lagi dengan dinginnya malam, gatalnya semak-semak. Kami bergumul dan bergumul lagi. Anisa meraih tanganku dan menempelkan ke payudaranya. Dia minta semoga saya meremas-remas payudaranya, lalu memainkan lubang ?Ms. Veggy?nya dengan jariku, menjilati sekujur adegan dagu. Tak kalah pula ia mengocok-ngocok ?Mr. Penny?ku yang sudah sangat tegang itu, lalu dijilatinya, dan dimasukkannya kelubang vaginanya, dan kami saling goyang menggoyang dan hingga kami saling mencapai klimaks kenikmatan, dan terkulai lemas.
Anisa minta semoga saya tak usah lagi menyusul kelompok yang terpisah. Esoknya kami memutuskan untuk berkemah sendiri dan mencari lokasi yang tak akan mungkin dijangkau mereka. Kami menerima tempat ditepi jurang terjal dan ada goa kecilnya, serta ada sungai yang bening, tapi rimbun dan nyaman. Romantis sekali tempat kami itu. Aku dan Anisa layaknya ibarat Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sebab seluruh baju yang kami bawa berair kuyup oleh hujan. Anisa hanya memakai selembar selayer yang dililitkan diseputar perut untuk menutupi kemaluannya. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Anisa dengan busana yang sangat minim itu membuat saya terangsang terus, demikian pula dia. Dalam hari-hari yang kami lalui kami hanya makan mi instant dan makanan kaleng.
Tepat sudah tiga hari kami ada ditempat terpencil itu. Hari terakhir, sepanjang hari kami hanya ngobrol dan bermesraan saja. Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Di hari terakhir itu, kesmpatan kami pakai semaksimal mungkin. Di hari yang cerah itu, Anisa minta saya mandi bersama di sungai yang rimbun tertutup pohon-pohon besar. Kami mandi berendam, berpelukan, lalu bersenggama lagi. Anisa menuntun ?Mr. Penny?ku masuk ke ?Ms. Veggy?nya. Dan di menggoyangkan pinggulnya semoga saya merasa nikmat. Aku demikian pula, semakin menekan ?Mr. Penny?ku masuk kedalam ?Ms. Veggy?nya.
Di atas watu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, ia menguakkan selangkangngannya, ?Ms. Veggy?nya terbuka lebar, disuruhnya saya menjilati bibir ?Ms. Veggy?nya hingga klitoris adegan dalam yang ngjendol itu. Dia mencicipi nikmat yang luar biasa, lalu disuruhnya saya memasukkan jari tengahku ke dalam lubang ?Ms. Veggy?nya, dan menekannya dalam-dalam. Mata Anisa merem melek kenikmatan. Tak lama kemudian ia minta saya yang berbaring, ?Mr. Penny?ku di elus-elus, diciumi, dijilati, lalu diisapnya dengan memainkan lidahnya, Anisa minta semoga saya jangan ejakulasi dulu,
?Tahan ya?? pintanya. ? Jangan dikeluarin lho?!? pintanya lagi.
Lalu ia menghisap ?Mr. Penny?ku dalam-dalam. Setelah ia enggak tahan, lalu ia naik diatasku dan memasukkan ?Mr. Penny?ku di ?Ms. Veggy?nya, wah, goyangnya jago sekali, balasannya ia yang kalah duluan. Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya ia ? keluar?, dan menjerit kenikmatan, lalu saya menyusul yang ?keluar? dan oh, oh..oh..muncratlah air maniku dilubang ?Ms. Veggy? Anisa.
?Jahat kamu?!? kata Anisa seraya menatapku manja dan memukuli saya pelan dan mesra. Aku tersenyum saja. ? Jahat kau Rangga, saya kalah terus sama kau ? Ujarnya lagi. Kami sama-sama terkulai lemas diatas watu itu.
Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Kami memadu janji, bahwa suatu ketika nanti kami akan kembali ke tempat itu. Kami pulang dengan mengambil jalan ke desa terdekat dan pergi ke kota terdekat semoga tidak bertemu dengan rombongan yang terpisah itu. Dari kota kecil itu kami pulang ke kota kami dengan menyewa Taxi, sepanjang jalan kami berpelukan terus di dalam Taxi. Tak sedikitpun waktu yang kami sia-siakan. Anisa menciumi pipiku, bibirku, lalu membisikkan kata
? Aku suka kau ? Aku juga membalasnya dengan kalimat mesra yang tak kalah indahnya. Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari-jari Anisa tak henti-hentinya merogoh celana dalamku, dan memegangi ?Mr. Penny?ku. Dia tahu saya ejakulasi di dalam celana, bahkan Anisa tetap mengocok-ngocoknya. Aku terus memeluk dia, Pak Supir tak ku ijinkan menoleh kami kebelakang, ia baiklah saja. Sudah tiga kali saya ? keluar? karena tangan Anisa selalu memainkan ?Mr. Penny?ku sepanjang perjalanan di Taxi itu.
? Aku lemas sayang?!? bisikku mesra
? Biarin!? Bisiknya mesra sekali. ? Aku suka kok!? Bisiknya lagi.
Tidak mau ketinggalan saya merogoh celana olah raga yang dipakai Anisa. Astaga, ia tidak pakai celana dalam. Ketika jari-jari tanganku menyolok ?Ms. Veggy?nya, ia tersenyum, bulunya ku tarik-tarik, ia meringis, dan apa yang terjadi? astaga lagi, Anisa sudah ?keluar? banyak, ?Ms. Veggy?nya berair oleh semacam lendir, rupanya nafsunya tinggi sekali, becek banget. Tangan kami sama-sama berair oleh cairan kemaluan. Ketika hingga di rumah Anisa, saya disuruhnya eksklusif pulang, enggak enak sama tetangga katanya. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, saya menolaknya, biar saya saja yang membayar Taxi itu. Lalu saya pulang.
Hari-hari berikutnya di sekolah, hubunganku dengan Anisa guru biologiku, nampak wajar-wajar saja dari luar. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Hari-hari selanjutnya selalu bertemu ditempat-tempat khusus ibarat hotel diluar kota, di pantai, bahkan pernah dalam suatu liburan kami ke Bali selama 12 hari.
Ketika saya sudah menyelesaikan studiku di SLTA, Anisa minta semoga saya tak melupakan kenangan yang pernah kami ukir. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, yah ibarat perpisahan. Karena saya harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Alangkah sedihnya Anisa malam itu, ia nampak cantik, lembut dan mesra. Tak rela rasanya saya kehilangan Anisa. Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi saya mau menikah dengannya. Anisa menawarkan cincin bermata berlian yang dipakainya kepada aku. Aku menawarkan kalung emas bermata zamrud kepada Anisa. Cincin Anisa hanya bisa melingkar di kelingkingku, kalungku eksklusif dipakainya, setelah dikecupinya. Anisa berencana berhenti menjadi guru, ?sakit rasanya? ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Anisa akan melanjutkan S2 nya di USA, karena keluarganya ada disana. Setelah itu kami berpisah hingga sekian tahun, tanpa kontak lagi.
Pada suatu saat, ada surat undangan ijab kabul datang ke Apartemenku, datangnya dari Dra. Anisa Maharani, MSC. Rupanya benar ia menyelesaikan S2 nya.Aku terbang ke Jakarta, karena resepsi itu diadakan di Jakarta disebuah hotel bintang lima. Aku datang bersama kakakku Rina dan Papa. Di pesta itu, ketika saya datang, Anisa tak tahan menahan emosinya, ia menghampiriku ditengah kerumunan orang banya itu dan memelukku erat-erat, lalu menangis sejadi-jadinya.
?Aku rindu kau Rangga kekasihku, saya sayang kamu, sekian tahun saya kehilangan kamu, andai saja laki-laki disampingku dipelaminan itu ialah kamu, alangkah bahagianya saya ? Kata Anisa lirih dan pelan sambil memelukku.
Kamu jadi perhatian para hadirin, Rina dan Papa saling tatap kebingungan. Ku usap airmata nrimo Anisa. Kujelaskan saya sudah selesai S1 dan akan melanjutkan S2 di USA, dan saya berjanji akan membangun laboratorium yang kuberi nama Laboratorium ?Anisa?. Dia baiklah dan masih menenteskan air mata.
Setelah saya diperkenalkan dengan suaminya, saya minta pamit untuk pulang, akupun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Setelah lima tahun tak ada khabar lagi dari dia, saya sudah menikah dan punya anak wanita yang kuberi nama Anisa Maharani, persis nama Anisa. Ku kabari Anisa dan ia datang kerumahku di Bandung, ia juga membawa putranya yang diberi nama Rangga, cuma Rangga berbeda usia tiga tahun dengan Anisa putriku. Aku masih mencicipi getaran-getaran aneh di hatiku, tatapan Anisa masih menantang dan panas, senyumnya masih menggoda. Kami sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, kalau Yang Mahakuasa mengijinkannya.
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/

0 Komentar