Dengan langkah ragu-ragu saya mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.“Winda…”, sebuah bunyi memanggil.“Hei Ratna!”.“Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?”, Ratna itu bertanya heran.“Tau nih, saya mau minta ujian susulan, sudah dua kali saya minta diundur terus, kenapa ya?”.“Idih jahat banget!”.
“Makanya, saya takut nanti di raport merah, mata kuliah beliau kan penting!, tauk nih, bentar ya saya masuk dulu!”.“He-eh deh, hingga nanti!” Ratna berlalu.Dengan memberanikan diri saya mengetuk pintu.“Masuk…!”, Sebuah bunyi yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.“Selamat siang pak!”.“Selamat siang, kau siapa?”, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
“Saya Winda…!”.
“Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?”.
“Iya benar pak.”
“Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kau datang ke rumah saya, ini kartu nama saya”, Katanya hirau tak hirau sambil menyerahkan kartu namanya.“Ada lagi?” tanya dosen itu.
“Tidak pak, selamat siang!”
“Selamat siang!”.Dengan lemas saya beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah berguru hingga larut malam, hingga di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!
Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini saya harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.
Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai renta tetapi tetap segar muncul.
“Ehh…! Winda, ayo masuk!”, sapa orang itu yang tak lain yaitu pak Hr sendiri.
“Permisi pak! Ibu mana?”, tanyaku berbasa-basi.
“Ibu sedang pergi dengan belum dewasa ke rumah neneknya!”, sahut pak Hr ramah.
“Sebentar ya…”, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.
Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.
Rumah Pak Hr tertata rapi. dinding ruang tamunya bercat putih. di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari beling temapat tersimpan banyak sekali barang hiasan porselin. di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan bangku sofa kelas satu.
“Gimana sudah siap?”, tanya pak Hr mengejutkan saya dari lamunannya.
“Eh sudah pak!”
“Sebenarnya…, tolong-menolong Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau…, kalau…!”
“Kalau apa pak?”, saya bertanya tak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.
“Pak…, apa-apaan ini?”, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.
“Jangan berpura-pura Winda sayang, saya membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!”, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.
Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik…, namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki renta ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun beliau lebih pantas jadi bapakku, namun tolong-menolong lelaki renta ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi saya tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.
“Lepaskan…, Pak jangan hhmmpppff…!”, kata-kataku tidak terselesaikan alasannya terburu bibirku tersumbat lisan pak Hr.
Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangun dan berlari menghindar. Namun entah mengapa saya justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur. Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.
Pak Hr menyerupai diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar jago manakala lelaki renta itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. dengan sekali tarik saya jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki renta itu. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin besar lengan berkuasa hingga kesudahannya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat saya dicumbui menyerupai itu oleh Aldy, entah sedang di mana beliau sekarang. saya tidak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dengan hangat.
Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang saya pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang saya pakai.
Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas. Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang badung mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin bergairah bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.
Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang saya pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga kesudahannya saya hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.
Tak terasa saya menjerit ngeri, saya belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun saya tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai hingga ke punggung.
“Kau Cantik sekali Winda…”, gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.
Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar kebanggaan itu.
Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku hingga terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang tempat di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.
Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, saya sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.
“Pak…!”, rintihku memelas.
“Pak…, saya tak tahan lagi…!”, saya memelas sambil menggigit bibir. Sungguh saya tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya lelaki renta itu tidak peduli, bahkan senang melihat saya dalam keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi perbuatannya. Padahal saya sudah kewalahan dan telah sangat lembap kuyup.
“Paakk…, aakkhh…!”, saya mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras. Kini saya tak peduli lagi bahwa lelaki itu yaitu dosen yang saya hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. saya yakin dengan nafsunya yang sebesar itu beliau tentu sangat berpengalaman dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya. Tapi apa peduliku?
Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan serpihan bawah perutnya persis berada di depan wajahku. saya sudah tahu apa yang beliau mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.
Tanpa melawan sama sekali saya membuka lisan selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk serpihan kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar jago setiap kali lidahku menyapu kepalanya.
Beberapa ketika kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan saya di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga saya merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.
Dan ketika dengan bergairah beliau tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku saya tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.
Pak Hr cukup mengerti keadaan diriku, ketika beliau selesai masuk seluruhnya beliau memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian beliau mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.
Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, ukiran demi ukiran di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi saya dengan cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Aku dapat mencicipi puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.
Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membuat Pak Hr tergila-gila.
Tidak hingga di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara saya yang kini menggantung berat ke bawah. Sebagai seorang wanita saya memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini saya kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia bertahan. Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.
Kupacu terus goyangan pinggulku, alasannya saya merasa sebentar lagi saya akan memperolehnya. Terus…, terus…, saya tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang kala memekik menahan rasa luar biasa itu. dan ketika klimaks itu sampai, saya tak peduli lagi…, saya memekik keras sambil menjambak rambutnya. dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh jago rasa yang kurasakan kali ini. Sungguh ironi memang, saya menerima kenikmatan menyerupai ini bukan dengan orang yang saya sukai. Tapi masa bodohlah.
Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif. kini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. desah nafasnya mendengus-dengus menyerupai kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh jago laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.
Namun beberapa ketika kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki renta itu bergetar jago di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.
Beberapa ketika kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.
Aku sendiri terpejam sambil mencoba mencicipi kenikmatan yang gres saja saya alami di sekujur tubuhku ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik.
Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, lembap kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun eksklusif dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.
“Bukan main Winda, ternyata kau pun menyerupai kuda liar!” kata Pak Hr penuh kepuasan. Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. saya sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.
Pak Hr kemudian bangun berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki renta itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangun dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Sambil berpakaian ia bertanya, “Bagaimana dengan ujian saya pak?”.
“Minggu depan kau dapat mengambil hasilnya”, sahut laki-laki itu pendek.
“Kenapa tidak besok pagi saja?”, protes saya tak puas.
“Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini saya minta biar kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!”, jawab Pak Hr.
Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya beliau belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.
“Aku tidak bisa janji!”, sahutku seenaknya sambil bangun berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi. Pak Hr hanya bisa terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.
Aku sedang berjalan kalem meninggalkan rumah pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok kalau ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar beliau bisa main denganku. dasar…, namun harus kuakui, beliau laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa kalau dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini beliau masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu saya datang, dan dua kali di kamar tidur. Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Berutung kali ini, saya bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.
“Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan”, katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.
“Selama bapak masih bisa memberiku nilai A”, kataku pendek.
“Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai ahad depan!”.
“Terima kasih pak!” kataku sambil tak lupa menunjukkan senyum semanis mungkin.
“Winda!” teriakan seseorang mengejutkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber bunyi tadi yang saya perkirakan berasal dari dalam kendaraan beroda empat yang berjalan perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu kendaraan beroda empat itu, wajah yang sangat saya benci muncul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.
“Masuklah Winda…”.
“Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!”, Aku masih mencoba menolak dengan halus.
“Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Hr saja kau mau!”.
Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.
“Da…,Darimana kau tahu?”.
“Nah, jadi benar kan…, padahal saya tadi hanya menduga-duga!”
“Sialan!”, Aku mengumpat di dalam hati, harusnya tadi saya bersikap lebih tenang, saya memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang menyeramkan itu.
Seperti tipikal orang Indonesia serpihan tempat paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu. dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian…, cukup menunjukkan bahwa beliau ini orang yang memang punya duit. Namun, saya menjadi muak dengan penampilan menyerupai itu.
Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya jawara menyerupai itu membuat beliau menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus. beliau itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.
“Gimana? Masih tidak mau masuk?”, tanya beliau setengah mendesak.
Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya saya tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan pak Hr, dan saya sungguh-sungguh ingin menjaga diam-diam ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku. Namun ketika ini saya benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan duduk perkara ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang saya mengiyakan saja ajakannya.
Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke bangku kendaraan beroda empat depan, dan perjaka itu eksklusif menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.
“Ke mana kita?”, tanyaku hambar.
“Lho? Mestinya saya yang harus tanya, kau mau ke mana?”, tanya dino akal-akalan heran.
“Sudahlah dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?”, Suaraku sudah sedemikian pasrahnya. Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta beliau menutup-nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa.
“Rupanya beliau cukup mengerti apa kemauanmu dino!”, beliau berkomentar.
“Ah, membisu kau Maki!” Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir menyerupai dengan dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.
“Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!”, pancing dino.
“Sesukamulah…!”, Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.
Dino tertawa penuh kemenangan.
Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan. Lalu kendaraan beroda empat yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. di pekarangan itu sudah ada 2 buah kendaraan beroda empat lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir sekenanya tak beraturan.
Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah. Tak lebih. dindingnya polos. demikian juga tempok ruang tengah. Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah kafetaria dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke taman samping. Sebuah stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya gres saja dimatikan dengan tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.
Dari pintu samping kemudian muncul empat orang perjaka dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih menggunakan seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan bunyi setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi menyerupai bule dengan rambutnya yang gondrong. Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai hingga ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya. Wajahnya yang oval dan bermata sipit menerangkan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui beliau memang cantik, menyerupai pemeran drama Mandarin. Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang masih lugu. Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Kristen yang eksklusif bisa saya kenali alasannya memang khas. Namun entah mengapa beliau bisa bergaul dengan orang-orang ini.
Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram menyerupai tipikal orang sebangsa dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu berjulukan Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata “lapar” membuat saya tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang saya kenakan ini.
Tampak tak sabaran dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, tolong-menolong lebih sempurna disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.
Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. dengan sprei yang sudah acak-acakan. di sudut terdapat dua buah bangku sofa besar dan sebuah meja beling yang mungil. di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding. Bergambar perempuan-perempuan telanjang.
Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Namun tak lama, alasannya kemudian dino menyalakan lampu. Aku berputar membelakangi dino, dan mulai melucuti pakaian yang saya kenakan. dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku. Kemudian saya memutar balik badanku berbalik menghadap dino.
Betapa terkejutnya saya ketika saya berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada dino, namun Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. dengan gerakan reflek, saya menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.
“Ayolah Winda, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki lain?”.
“Kurang bimbing kau dino!” Aku mengumpat sekenanya.
Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius. dengan tatapan yang sangat tajam beliau berujar, “Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan kejadian ini.”
Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah saya lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang yang bertampang menyeramkan menyerupai ini. Tapi menyerupai yang beliau bilang, saya tak punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat saya pusing. Tubuhku tanpa sadar hingga gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya saya sudah kehabisan tenaga alasannya digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.
Akhirnya, dengan sangat berat saya menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana saya bisa meraih kaitan BH yang saya pakai. Baju yang tadi saya pakai untuk menutupi serpihan tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium serpihan dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.
“Harum!”, katanya.
Lalu ia menyerupai mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.
“36B!”, katanya pendek.
Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.
“BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!”, katanya seraya menunjukkan BH itu kepada Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu. Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-apa lagi.
Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku. Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas hingga ke punggung.
“Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!”
Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat bahu sebelah kiriku, sehingga serpihan punggung hingga ke tengkukku bebas tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku. Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku masih menanggapinya dengan hambar dengan tidak bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.
Dino rupanya tidak begitu suka saya bersikap pasif, dengan bergairah ia menarik wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tak menunjukkan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.
Sambil memejamkan mata saya mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tak ada gunanya saya menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi. dengan kuluman pengecap menyerupai itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku kesudahannya bobol juga. Memang, saya sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian menyerupai ini hingga dengan mudahnya dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini saya mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala dino yang berada di belakangku. Sementara dengan ekor mataku saya melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.
Mungkin alasannya merasa sudah menguasai diriku, ciuman dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga saya menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan hingga kesudahannya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit dino untuk mengulumnya. Pertama lidahnya sempurna menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh tempat puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas hingga pipinya kempot.
Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di serpihan itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan pengecap dino yang kasap. dipilin-pilinnya kesana kemari. dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat hingga putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat. Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa saya justeru karam dalam permaianan itu? Semula saya hanya merasa terpaksa demi menutupi diam-diam atas perbuatanku. Tapi kemudian nyatanya, permainan yang dino mainkan begitu dalam. dan gila sekali, Tanpa sadar saya mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh dino.
“Winda…”, “Ya?”, “Kau suka saya perlakukan menyerupai ini?”. Aku hanya mengangguk. dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, mencicipi nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.
“Hsss…, ah!”, Aku mendesah ketika mencicipi jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku. dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa lembap jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.
Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang sudah lembap itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang kala mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. dan yang membuat saya tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku. Aku tak kuasa untuk menahan diri.
“Nggghh…!”, mulutku mulai meracau. Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga kesudahannya akupun tak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja dino telah berdiri telanjang bundar di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke serpihan selangkangannya. disitu, saya melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di tempat pangkalnya.
Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati tempat di bawah perutnya itu. Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini yaitu perbuatan yang sangat disukai para lelaki. di mana ketika saya melaksanakan oral seks terhadap kelaminnya.
Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala kemampuanku saya mulai mengelomoh batang itu sambil kadang kala menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya bergetar jago menahan rasa yang tak tertahankan.
Pada ketika itu saya sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seolah-olah ia takut saya akan memakainya kembali.
Untuk beberapa detik mata dino nanar memandang serpihan bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi. Si Makipun hingga berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.
Namun beberapa detik kemudian, dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga saya menggelinjang dan memejamkan mata.
Sedetik kemudian, saya mencicipi ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, saya tak kuasa untuk menahan jeritanku pada ketika pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.
Dengan perlahan namun pasti, kejantanan dino meluncur masuk semakin dalam. dan ketika sudah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan bergairah hingga saya benar-benar berteriak alasannya terasa nyeri. dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, dino sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.
Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan bergairah menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga saya memekik keras setiap kali kejantanan dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat yang tak terkira. Ada sensasi gila yang gres pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu saya juga mencicipi rasa nikmat yang tak terkira. Namun saya juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga saya hingga menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali dino menghunjam, tapi saya semakin mempererat pelukanku, Pedih, tapi saya juga tak bersedia dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.
Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Sampai tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang saya benci. Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Namun dino rupanya belum selesai. Ia kini membalikkan tubuhku hingga kini saya bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.
Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Kini dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.
Pada ketika itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.
Kini saya melayani dua orang sekaligus. dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. dan Maki yang sedang memaksaku melaksanakan oral seks terhadap dirinya. dino kadang kala malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. dengan dua orang yang mengeroyokku saya sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan saya merasa sangat terangsang dengan posisi menyerupai ini.
Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang saya hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku mengalah dan hanya membisu saja. dino yang mengatur segala gerakan.
Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya ketika bermain seks ternyata menimbulkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun menyerupai tak berkesudahan.
Tidak lama kemudian dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku. Aku bisa mencicipi air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku. Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan dino. Masih dalam posisi doggy style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali hingga menyentuh bibir rahimku. Ia bisa mudah melakukannya alasannya memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani dino yang sangat banyak. Permainan dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, alasannya dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga. Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Semakin lama semakin keras dan bergairah hingga membuat saya merintih dan mengaduh tak berkesudahan.
Pada ketika itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun eksklusif melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan menonton serpihan mesum yang sedang terjadi antara saya dan Maki. Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi saya sudah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.
Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada ketika itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku sudah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku. Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku sudah bersimpah peluh. Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku. Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.
Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya saya lakukan dengan pengecap dan mulutku.
Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga saya berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa ketika kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. dan pada ketika hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan saya tak kuasa meronta lagi alasannya memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu kesudahannya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan hingga meluap keluar membasahi tempat sekitar bibirku hingga meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi gila yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis mencicipi siksa birahi semacam ini hingga akupun kesudahannya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.
Dengan ekor mataku saya kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.
Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. saya merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, saya bangun dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar mandi.
Aku berpapasan dengan dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama menyerupai diriku.
“Di mana saya bisa menemukan kamar mandi?” tanyaku pada dino.
Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu. Tanpa basa-basi lagi saya segera beranjak menuju pintu itu.
Di sana saya mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam apa kini. Yang membuat saya benci kepada diriku sendiri, walaupun saya merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, eksklusif saja selangkanganku lembap lagi.
Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Setelah terasa kepenatan tubuhku agak berkurang saya menyudahi mandiku. dengan berjalan tertatih-tatih saya melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar. Sudah hampir jam sebelas malam ketika saya keluar dari rumah itu.
Sampai di dalam rumah, Aku eksklusif ngeloyor masuk ke kamar. Aku tak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, saya tak menyapanya alasannya memang sudah tidak ada harapan untuk berbicara lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.
“Makanya, saya takut nanti di raport merah, mata kuliah beliau kan penting!, tauk nih, bentar ya saya masuk dulu!”.“He-eh deh, hingga nanti!” Ratna berlalu.Dengan memberanikan diri saya mengetuk pintu.“Masuk…!”, Sebuah bunyi yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.“Selamat siang pak!”.“Selamat siang, kau siapa?”, tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
“Saya Winda…!”.
“Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?”.
“Iya benar pak.”
“Saya tidak ada waktu, nanti hari Mminggu saja kau datang ke rumah saya, ini kartu nama saya”, Katanya hirau tak hirau sambil menyerahkan kartu namanya.“Ada lagi?” tanya dosen itu.
“Tidak pak, selamat siang!”
“Selamat siang!”.Dengan lemas saya beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah berguru hingga larut malam, hingga di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!
Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah. Hari ini saya harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.
Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya. Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai renta tetapi tetap segar muncul.
“Ehh…! Winda, ayo masuk!”, sapa orang itu yang tak lain yaitu pak Hr sendiri.
“Permisi pak! Ibu mana?”, tanyaku berbasa-basi.
“Ibu sedang pergi dengan belum dewasa ke rumah neneknya!”, sahut pak Hr ramah.
“Sebentar ya…”, katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.
Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.
Rumah Pak Hr tertata rapi. dinding ruang tamunya bercat putih. di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari beling temapat tersimpan banyak sekali barang hiasan porselin. di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan bangku sofa kelas satu.
“Gimana sudah siap?”, tanya pak Hr mengejutkan saya dari lamunannya.
“Eh sudah pak!”
“Sebenarnya…, tolong-menolong Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau…, kalau…!”
“Kalau apa pak?”, saya bertanya tak mengerti. Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.
“Pak…, apa-apaan ini?”, tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.
“Jangan berpura-pura Winda sayang, saya membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!”, sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.
Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli, jijik…, namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku. Ingin rasanya membiarkan lelaki renta ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun beliau lebih pantas jadi bapakku, namun tolong-menolong lelaki renta ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Tapi saya tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.
“Lepaskan…, Pak jangan hhmmpppff…!”, kata-kataku tidak terselesaikan alasannya terburu bibirku tersumbat lisan pak Hr.
Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangun dan berlari menghindar. Namun entah mengapa saya justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur. Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik. Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.
Pak Hr menyerupai diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar jago manakala lelaki renta itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. dengan sekali tarik saya jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki renta itu. Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin besar lengan berkuasa hingga kesudahannya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat saya dicumbui menyerupai itu oleh Aldy, entah sedang di mana beliau sekarang. saya tidak menolak lagi. bahkan kini malah membalas dengan hangat.
Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang saya pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang saya pakai.
Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas. Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang badung mepermainkan puting susuku. Gemas sekali nampaknya dia. Tangannya makin lama makin bergairah bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.
Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang saya pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai. Hingga kesudahannya saya hanya memakai secarik G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya. di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.
Tak terasa saya menjerit ngeri, saya belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun saya tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu. Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai hingga ke punggung.
“Kau Cantik sekali Winda…”, gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.
Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar kebanggaan itu.
Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku hingga terduduk di pinggir kasur. Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai. Kini kami berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang tempat di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu.
Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu. Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, saya sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.
“Pak…!”, rintihku memelas.
“Pak…, saya tak tahan lagi…!”, saya memelas sambil menggigit bibir. Sungguh saya tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya lelaki renta itu tidak peduli, bahkan senang melihat saya dalam keadaan demikian. Ini terlihat dari gerakan tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi perbuatannya. Padahal saya sudah kewalahan dan telah sangat lembap kuyup.
“Paakk…, aakkhh…!”, saya mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras. Kini saya tak peduli lagi bahwa lelaki itu yaitu dosen yang saya hormati. Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku. saya yakin dengan nafsunya yang sebesar itu beliau tentu sangat berpengalaman dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya. Tapi apa peduliku?
Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan serpihan bawah perutnya persis berada di depan wajahku. saya sudah tahu apa yang beliau mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.
Tanpa melawan sama sekali saya membuka lisan selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk serpihan kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar kepala itu bergetar jago setiap kali lidahku menyapu kepalanya.
Beberapa ketika kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan saya di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga saya merintih kenikmatan. Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.
Dan ketika dengan bergairah beliau tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku saya tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.
Pak Hr cukup mengerti keadaan diriku, ketika beliau selesai masuk seluruhnya beliau memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian beliau mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.
Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, ukiran demi ukiran di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi saya dengan cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku. Aku dapat mencicipi puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.
Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membuat Pak Hr tergila-gila.
Tidak hingga di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya. Ia ingin pakai doggy style rupanya. Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara saya yang kini menggantung berat ke bawah. Sebagai seorang wanita saya memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh. Tapi bahkan kini saya kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya. Sudah hampir setengah jam ia bertahan. Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.
Kupacu terus goyangan pinggulku, alasannya saya merasa sebentar lagi saya akan memperolehnya. Terus…, terus…, saya tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang kala memekik menahan rasa luar biasa itu. dan ketika klimaks itu sampai, saya tak peduli lagi…, saya memekik keras sambil menjambak rambutnya. dunia serasa berputar. Sekujur tubuhku mengejang. Sungguh jago rasa yang kurasakan kali ini. Sungguh ironi memang, saya menerima kenikmatan menyerupai ini bukan dengan orang yang saya sukai. Tapi masa bodohlah.
Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku. Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif. kini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku. Ia memacu keras untuk mencapai klimaks. desah nafasnya mendengus-dengus menyerupai kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku. Sementara kami terus berpacu. Sungguh jago laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama. Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.
Namun beberapa ketika kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki renta itu bergetar jago di atas tubuhku. Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.
Beberapa ketika kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri. Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu. Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.
Aku sendiri terpejam sambil mencoba mencicipi kenikmatan yang gres saja saya alami di sekujur tubuhku ini. Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik.
Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, lembap kuyub. Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun eksklusif dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.
“Bukan main Winda, ternyata kau pun menyerupai kuda liar!” kata Pak Hr penuh kepuasan. Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah. saya sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat. Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.
Pak Hr kemudian bangun berdiri, ia menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki renta itu mulai mengenakan kembali pakaiannya. Aku pun dengan malas bangun dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Sambil berpakaian ia bertanya, “Bagaimana dengan ujian saya pak?”.
“Minggu depan kau dapat mengambil hasilnya”, sahut laki-laki itu pendek.
“Kenapa tidak besok pagi saja?”, protes saya tak puas.
“Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini saya minta biar kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!”, jawab Pak Hr.
Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya beliau belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.
“Aku tidak bisa janji!”, sahutku seenaknya sambil bangun berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi. Pak Hr hanya bisa terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.
Aku sedang berjalan kalem meninggalkan rumah pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok kalau ujian dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar beliau bisa main denganku. dasar…, namun harus kuakui, beliau laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa kalau dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini beliau masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu saya datang, dan dua kali di kamar tidur. Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang. Berutung kali ini, saya bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.
“Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan”, katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.
“Selama bapak masih bisa memberiku nilai A”, kataku pendek.
“Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai ahad depan!”.
“Terima kasih pak!” kataku sambil tak lupa menunjukkan senyum semanis mungkin.
“Winda!” teriakan seseorang mengejutkan lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber bunyi tadi yang saya perkirakan berasal dari dalam kendaraan beroda empat yang berjalan perlahan menghampiriku. Seseorang membuka pintu kendaraan beroda empat itu, wajah yang sangat saya benci muncul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.
“Masuklah Winda…”.
“Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!”, Aku masih mencoba menolak dengan halus.
“Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Hr saja kau mau!”.
Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.
“Da…,Darimana kau tahu?”.
“Nah, jadi benar kan…, padahal saya tadi hanya menduga-duga!”
“Sialan!”, Aku mengumpat di dalam hati, harusnya tadi saya bersikap lebih tenang, saya memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang menyeramkan itu.
Seperti tipikal orang Indonesia serpihan tempat paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu. dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian…, cukup menunjukkan bahwa beliau ini orang yang memang punya duit. Namun, saya menjadi muak dengan penampilan menyerupai itu.
Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya jawara menyerupai itu membuat beliau menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus. beliau itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.
“Gimana? Masih tidak mau masuk?”, tanya beliau setengah mendesak.
Aku tertegun sesaat, belum mau masuk. Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya saya tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan pak Hr, dan saya sungguh-sungguh ingin menjaga diam-diam ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku. Namun ketika ini saya benar benar terdesak dan ingin segera membiarkan duduk perkara ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang saya mengiyakan saja ajakannya.
Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang. Aku membanting pantatku ke bangku kendaraan beroda empat depan, dan perjaka itu eksklusif menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.
“Ke mana kita?”, tanyaku hambar.
“Lho? Mestinya saya yang harus tanya, kau mau ke mana?”, tanya dino akal-akalan heran.
“Sudahlah dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?”, Suaraku sudah sedemikian pasrahnya. Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta beliau menutup-nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa.
“Rupanya beliau cukup mengerti apa kemauanmu dino!”, beliau berkomentar.
“Ah, membisu kau Maki!” Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir menyerupai dengan dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.
“Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!”, pancing dino.
“Sesukamulah…!”, Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.
Dino tertawa penuh kemenangan.
Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan. Lalu kendaraan beroda empat yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar. di pekarangan itu sudah ada 2 buah kendaraan beroda empat lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir sekenanya tak beraturan.
Interior depan rumah itu sederhana saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah. Tak lebih. dindingnya polos. demikian juga tempok ruang tengah. Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah kafetaria dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke taman samping. Sebuah stereo set terpasang di ujung bar. Tampaknya gres saja dimatikan dengan tergesa-gesa. Pitanya sebagian tergantung keluar.
Dari pintu samping kemudian muncul empat orang perjaka dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih menggunakan seragam SMU. Mereka semua mengeluarkan bunyi setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi menyerupai bule dengan rambutnya yang gondrong. Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai hingga ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya. Wajahnya yang oval dan bermata sipit menerangkan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui beliau memang cantik, menyerupai pemeran drama Mandarin. Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang masih lugu. Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Kristen yang eksklusif bisa saya kenali alasannya memang khas. Namun entah mengapa beliau bisa bergaul dengan orang-orang ini.
Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka. Yos, dan Bram menyerupai tipikal orang sebangsa dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu berjulukan Shelly. Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata “lapar” membuat saya tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang saya kenakan ini.
Tampak tak sabaran dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, tolong-menolong lebih sempurna disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.
Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. dengan sprei yang sudah acak-acakan. di sudut terdapat dua buah bangku sofa besar dan sebuah meja beling yang mungil. di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding. Bergambar perempuan-perempuan telanjang.
Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui dino di kamar ini. Aku beranjak ke jendela. Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap. Namun tak lama, alasannya kemudian dino menyalakan lampu. Aku berputar membelakangi dino, dan mulai melucuti pakaian yang saya kenakan. dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku. Kemudian saya memutar balik badanku berbalik menghadap dino.
Betapa terkejutnya saya ketika saya berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada dino, namun Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan. dengan gerakan reflek, saya menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang. Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.
“Ayolah Winda, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki lain?”.
“Kurang bimbing kau dino!” Aku mengumpat sekenanya.
Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius. dengan tatapan yang sangat tajam beliau berujar, “Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan kejadian ini.”
Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah saya lakukan sebelumnya. Apalagi orang-orang yang bertampang menyeramkan menyerupai ini. Tapi menyerupai yang beliau bilang, saya tak punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat saya pusing. Tubuhku tanpa sadar hingga gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya saya sudah kehabisan tenaga alasannya digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.
Akhirnya, dengan sangat berat saya menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana saya bisa meraih kaitan BH yang saya pakai. Baju yang tadi saya pakai untuk menutupi serpihan tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium serpihan dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.
“Harum!”, katanya.
Lalu ia menyerupai mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.
“36B!”, katanya pendek.
Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.
“BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!”, katanya seraya menunjukkan BH itu kepada Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu. Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-apa lagi.
Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta dino melangkah mendekatiku. Ia meraih kepalaku. Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas hingga ke punggung.
“Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!”
Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang. Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat bahu sebelah kiriku, sehingga serpihan punggung hingga ke tengkukku bebas tanpa penghalang. Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku. Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas. Aku masih menanggapinya dengan hambar dengan tidak bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.
Dino rupanya tidak begitu suka saya bersikap pasif, dengan bergairah ia menarik wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku. Aku hanya berdiam diri saja tak menunjukkan reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.
Sambil memejamkan mata saya mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh. Tak ada gunanya saya menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi. dengan kuluman pengecap menyerupai itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku kesudahannya bobol juga. Memang, saya sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian menyerupai ini hingga dengan mudahnya dino mulai membangkitkan nafsuku. Bahkan kini saya mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala dino yang berada di belakangku. Sementara dengan ekor mataku saya melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.
Mungkin alasannya merasa sudah menguasai diriku, ciuman dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga saya menggelinjang. Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan hingga kesudahannya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit dino untuk mengulumnya. Pertama lidahnya sempurna menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh tempat puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu. Ia menghisapnya dengan gemas hingga pipinya kempot.
Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di serpihan itu. Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh dino. Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan pengecap dino yang kasap. dipilin-pilinnya kesana kemari. dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat hingga putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat. Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa saya justeru karam dalam permaianan itu? Semula saya hanya merasa terpaksa demi menutupi diam-diam atas perbuatanku. Tapi kemudian nyatanya, permainan yang dino mainkan begitu dalam. dan gila sekali, Tanpa sadar saya mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh dino.
“Winda…”, “Ya?”, “Kau suka saya perlakukan menyerupai ini?”. Aku hanya mengangguk. dan memejamkan matanya. membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, mencicipi nikmat yang luar biasa. Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.
“Hsss…, ah!”, Aku mendesah ketika mencicipi jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku. dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa lembap jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.
Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang sudah lembap itu. Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang kala mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga. dan yang membuat saya tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku. Aku tak kuasa untuk menahan diri.
“Nggghh…!”, mulutku mulai meracau. Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga kesudahannya akupun tak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah. Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja dino telah berdiri telanjang bundar di hadapanku. Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke serpihan selangkangannya. disitu, saya melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di tempat pangkalnya.
Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati tempat di bawah perutnya itu. Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini yaitu perbuatan yang sangat disukai para lelaki. di mana ketika saya melaksanakan oral seks terhadap kelaminnya.
Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan. Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya. Lalu dengan segala kemampuanku saya mulai mengelomoh batang itu sambil kadang kala menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya bergetar jago menahan rasa yang tak tertahankan.
Pada ketika itu saya sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua. Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seolah-olah ia takut saya akan memakainya kembali.
Untuk beberapa detik mata dino nanar memandang serpihan bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi. Si Makipun hingga berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.
Namun beberapa detik kemudian, dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga saya menggelinjang dan memejamkan mata.
Sedetik kemudian, saya mencicipi ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ. Seperti biasanya, saya tak kuasa untuk menahan jeritanku pada ketika pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.
Dengan perlahan namun pasti, kejantanan dino meluncur masuk semakin dalam. dan ketika sudah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan bergairah hingga saya benar-benar berteriak alasannya terasa nyeri. dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, dino sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.
Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan bergairah menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga saya memekik keras setiap kali kejantanan dino menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat yang tak terkira. Ada sensasi gila yang gres pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu saya juga mencicipi rasa nikmat yang tak terkira. Namun saya juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga saya hingga menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali dino menghunjam, tapi saya semakin mempererat pelukanku, Pedih, tapi saya juga tak bersedia dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.
Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar. kami terus bergulat dalam posisi demikian. Sampai tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku telah orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang saya benci. Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas. Namun dino rupanya belum selesai. Ia kini membalikkan tubuhku hingga kini saya bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku. Ia ingin meneruskannya dengan doggy style. Aku hanya pasrah saja.
Kini ia menyetubuhiku dari belakang. Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah. Kini dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.
Pada ketika itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku. Laki-laki ini juga telah telanjang bulat. Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.
Kini saya melayani dua orang sekaligus. dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang. dan Maki yang sedang memaksaku melaksanakan oral seks terhadap dirinya. dino kadang kala malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku. Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku. dengan dua orang yang mengeroyokku saya sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan saya merasa sangat terangsang dengan posisi menyerupai ini.
Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam. Kadang-kadang saya hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku mengalah dan hanya membisu saja. dino yang mengatur segala gerakan.
Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku. Perasaan tidak berdaya ketika bermain seks ternyata menimbulkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti. Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun menyerupai tak berkesudahan.
Tidak lama kemudian dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku. Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku. Aku bisa mencicipi air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku. Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan dino. Masih dalam posisi doggy style. Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali hingga menyentuh bibir rahimku. Ia bisa mudah melakukannya alasannya memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani dino yang sangat banyak. Permainan dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, alasannya dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga. Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki terus memacu gerakkannya. Semakin lama semakin keras dan bergairah hingga membuat saya merintih dan mengaduh tak berkesudahan.
Pada ketika itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa basa-basi, mereka pun eksklusif melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. Lalu mereka duduk di lantai dan menonton serpihan mesum yang sedang terjadi antara saya dan Maki. Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi saya sudah tidak peduli lagi. Maki terus memacu menggebu-gebu. Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.
Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada ketika itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku. Aku sudah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku. Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan. Rambut yang kusut masai. Tubuhku sudah bersimpah peluh. Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku. Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.
Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku. Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku. Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol diriku lagi. Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin terangsang. Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya saya lakukan dengan pengecap dan mulutku.
Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga saya berteriak mengaduh kesakitan. Lalu beberapa ketika kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku. dan pada ketika hampir bersamaan Bram juga mengerang keras. Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat. Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan saya tak kuasa meronta lagi alasannya memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan kental yang hangat itu kesudahannya tertelan olehku. Banyak sekali. Bahkan hingga meluap keluar membasahi tempat sekitar bibirku hingga meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku. Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi gila yang luar biasa juga di dalam diriku. Sungguh sangat erotis mencicipi siksa birahi semacam ini hingga akupun kesudahannya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.
Dengan ekor mataku saya kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya. Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku. Pasrah.
Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar. saya merasa seluruh tubuhku luluh lantak. Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, saya bangun dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar mandi.
Aku berpapasan dengan dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya. Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat. Memacu naik turun. Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama menyerupai diriku.
“Di mana saya bisa menemukan kamar mandi?” tanyaku pada dino.
Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu. Tanpa basa-basi lagi saya segera beranjak menuju pintu itu.
Di sana saya mandi berendam air panas sambil mengangis. Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam apa kini. Yang membuat saya benci kepada diriku sendiri, walaupun saya merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, eksklusif saja selangkanganku lembap lagi.
Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya. Setelah terasa kepenatan tubuhku agak berkurang saya menyudahi mandiku. dengan berjalan tertatih-tatih saya melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar. Sudah hampir jam sebelas malam ketika saya keluar dari rumah itu.
Sampai di dalam rumah, Aku eksklusif ngeloyor masuk ke kamar. Aku tak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, saya tak menyapanya alasannya memang sudah tidak ada harapan untuk berbicara lagi malam ini. Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.

0 Komentar