Saat pertama ia hanya buang air kecil, tapi ia lakukan dengan waktu yang lama, menggoyangkan penisnya, memasukan ke celananya dan menutup retsleting celananya sebelum ia berlalu. Memang menyerupai itu prosedurnya (kecuali memang karena harus melaksanakan sesuatu yang membutuhkan waktu yang panjang). Dia pernah menanyakan kepadaku wacana sesuatu (tapi saya lupa wacana apa) dan pertanyaan itu membuat ia semakin lama untuk keluar dari kamar mandi, saya jadi curiga ia berusaha untuk melihat sekilas tubuh telanjangku dari balik beling plastic yang buram, tetapi tetap mampu memperlihatkan lekuk tubuhku yang langsing diusiaku yang ke- 38 ini.
Aku harus mengakui dimana saya tidak mampu menyembunyikan diriku lebih jauh, dari anak laki – laki yang berumur 16 tahun dan sebagai remaja masa kini, pasti sudah melihat berbagai tubuh wanita yang sedang telanjang. Sudah pasti ketika ia sedang kencan (dan kalau beruntung) ia akan mendapatkan semua kejujuran dan kebohongan apa yang disimpan wanita, wacana suatu rahasia yang berada diantara kaki wanita, secara pribadi. Sebenarnya saya tidak berpikir lebih wacana niatnya untuk mengintip ku hingga nanti, setelah beberapa ketika Robbie muncul waktu saya sedang menyabuni tubuhku. Saat itu juga saya pribadi membilas tubuhku dari sabun, dan seketika itu juga saya tersadar dengan instruksi bahwa saya tidak sendirian dirumah. Suamiku sudah pergi ke kantor pagi2 sekali, lalu dimana Sally ? Aku berkata di dalam hati.
“ Maaf, Mam”, terdengar bunyi dari anak lakiku yang mempunyai tubuh lumayan atletis itu. “ Sally memakai kamar mandi yang lain dan saya sudah putus asa tidak tahan ingin buang air kecil, jadi saya masuk ke kamar mandi Mama”. Kata Robbie kepadaku, sambil membalikan tubuh ke kloset, dan duduk di kloset, setelah itu saya melihat bayangannya dari balik beling penghalang plastic ia menurunkan celana boxernya dengan sekali gerakan “ Dia bilang mau buang air kecil, tapi kenapa ia duduk di kloset dan melepas semua celananya”, saya bergumam di dalam hati.
Setelah saya perhatikan, suatu perhatianku kepadanya yang tidak terlalu khusus,”Mmm..”, saya bergumam yang gumaman ku mungkin agak keras dan mampu terdengar diantara derasnya bunyi air pancuran, dan saya tetap melanjutkan membilas badanku. Dan diluar ruangan shower, saya melihat dengan sudut mataku ada semacam rupa gerakan yang berirama, dan sudah mampu dipastikan itu yaitu gerakan yang sangat familiar.” Sepertinya ia sedang menarik Penisnya, benar gak ya..Hmmm”, saya jadi sedikit penasaran. Aku tidak mampu menahan senyum kecilku, ternyata saya melihat anak lakiku secara rahasia melaksanakan onani di hadapan Mamanya yang sedang telanjang. Aku merasa menyerupai tergganggu tetapi juga merasa senang dalam waktu yang bersamaan, resah sekali rasanya.
Yang membuat ku senang bukanlah sesuatu yang sedang ia lakukan. Tetapi Tubuh ku ini, setelah saya lihat2, saya besar hati mempunyai tubuh yang mampu menjadi wangsit bagi dia, itu yang membuatku jadi agak tersenyum nakal. Yang membuat ku merara terganggu dan risih yaitu karena tidak ada tanggapan yang sesuai dari ku sebagai seorang Ibu, saya merasa bersalah karena saya tidak marah kepadanya. Tapi faktanya, malah membuatku menyerupai agak sedikit horny dan merasa berada di dalam keganjilan yang eksotik, saya malah merasa sebagai penari striptis yang sedang tampil di dalam sebuah pelindung kaca.
Aku geser badanku dengan sedikit goyangan yang sexy, yang memperlihatkan lekuk tubuhku, dan saya mendengar meningkatnya tempo pergerakan genggaaman tangannya di penisnya. Di dalam sebuah gerakan tubuhku yang total tanpa saya merasa ragu untuk memperlihatkan bayangan lekuk tubuhku dari balik penghalang beling platic yang buram itu, dan saya tidak tahu dari mana ide ini datang menyerupai spontan saja mengikuti naluri, saya majukan perutku ke menghadap plastic pelindung yang tembus cahaya itu sempurna disebelanya yaitu muka Robbie yang sedang mengintipku secara langsung.
Dengan saya memajukan perutku agak menempel ke beling tersebut, otomatis ia melihat episode gelap di bawah perut Mamanya yang memperlihatkan menyerupai semak tipis yang gelap yang sedang disirami oleh siraman air dari shower, dengan gerakan tubuh ku yang naik dan turun perlahan secara berulang – ulang, dengan sangat benar-benar memprovokasinya. Menurutku gerakan itu cukup menunjukkan ia serangan mendadak ke psikisnya dan membuat dirinya berpikir untuk mengambil tisu sebanyak-banyaknya untuk menahan semprotan derasnya anutan sperma yang mengalir deras dari penisnya, supaya tidak bercucuran di lantai.
Pikiran pembangkang yang ada di otakku adalah, menginginkan dengan sangat untuk menghisap episode vital dari anak lakiku itu yang sedang dimainkan olehnya dan melaksanakan hisapan ketika spermanya keluar bagaikan air mancur. “ Tapi ia yaitu anak laki mu”, protes hati nurani ku, sambil saya membalikan badanku menjauh dari wujud bayanganya yang sedang memuntahkan sperma, tapi jariku sendiri malah menyentuh Vaginaku secara spontan. Menurutku, mungkin ketika itu kami mempunyai pikiran yang sama, wacana ketidak senonohan/lancang mengenai diri kami masing2, berpikir dengan memutar imajinasi kami wacana keuntungan atau keburukan yang akan kita dapatkan. “Ibu dan anak sama2 mempunyai nafsu sexual yang tinggi”, pikirku.
Aku menunggunya hingga ia keluar dari kamar mandiku, ia terliahat menyerupai terburu-buru ketika keluar dari pintu kamar mandi. Aku tidak tahu, apakah ia gotong royong tahu apa yang sedang terjadi, sehingga ia keluar cukup tergesa-gesa, atau ia takut diketahui oleh diriku, (jika memang saya tidak tahu, tapi mengapa tadi saya tempelkan tubuhku,agar ia mampu melihatku di beling plastik ini?) Tapi sayangnya akhir ketergesa-gesaannya ia telah melewatkan pertunjukan besar dari ibunya, yang ternyata diriku juga mencicipi orgasme, tidak lama kira2 tidak hingga 30 detik setelah ia keluar dari kamar mandi.
Dan menurutku itu sangat memalukan!! Dan saya mengakuinya kepada diriku sendiri sesaat setelah saya pulih dari nikmatnya orgasme kecilku. Jika ia bukan anak ku, mungkin saya sudah tergoda. Aku mengingat kembali tetang agresi masturbasi kita antara saya dan Robbie yang saling berbalasan tapi secara sembunyi dan saya mengingatnya satu persatu, saya membayangkan kalau saya jadi Robbie atau pada diriku sendiri, menyerupai kejadian yang terjadi begitu saja dan memang tidak bersiklus tapi memang sungguh nyata, meskipun diantara kita sekarang sudah tidak di ruangan yang sama.
Sampai pada suatu kesempatan, Sally anak perempuanku pergi keluar rumah pagi2 sekali. Dimana menurut Robbie, Sally pergi untuk melaksanakan suatu kegiatan di luar rumah. Makara kesempatan kali ini, mampu digunakan Robbie untuk mengintip lagi Ibu-nya yang sedang telanjang. Apakah agresi Robbie sebelumnya, merupakan suatu kelicikan? Akankah ia melakukannya lagi, dan apakah tanggapanku yang harus saya buat kali ini? “Ah, tidak, Jangan” tapi pikiran nakalku berbisik,” Ayolah, sayang, biarkan wangsit erotis itu datang dan ada diantara kalian berdua”,hal ini mampu membuatku pembangkang lebih jauh, dan libidoku yang tinggi ini ingin mencicipi sisi gelap dari sebuah gairah yang terlarang. Bagaikan seorang permaisuri di dalam novel-novel romantis yang tertarik kepada Pemuda2 nakal, dan membayangakan perjaka tersebut sebagai sumber obsesinya, dan gairah kupun kembali menyala.
Aku mencoba untuk menempatkan diri dan berpikir, kalau saya berada pada situasi itu, saya masih belum mampu menemukan jalan keluar mengenai problem ini hingga dengan 8 hari kemudian, sekali lagi privasi ku diserang. Tapi kali ini, sesaat setelah saya selasai mandi dan bersiap untuk keluar dari kamar mandi, sebelum Robbie menyelesaikan aksinya. “ Upsss…!!”, kataku. Robbie, bangun diatara saya dan handuk besarku yang masih tergantung di gantungan pintu kamar mandi, dan saya kembali masuk kedalam ruangan shower , lalu saya berkata “ Hey, sayang..tolong berikan handuk Mama, yang warna merah jambu, lempar saja handuk itu dari atas!! “
Saya melihat gerakan bayangan penisnya dari bayangan beling plastik pelindung, sewaktu ia melemparkan handuk kepadaku. Aku segera memakai handuk dengan melilitkan kebadanku, dan saya segera keluar dari ruangan shower.
Sewaktu saya keluar, perasaan ku menyerupai meleleh. Aku melihat Robbie dengan celana pendeknya, yang sudah siap dengan ujung penis yang sudah terlihat keluar dari celananya. Handuk kecil yang ada ditangannya tidak terlalu lebar untuk menutupi penisnya, dari situ saya mulai mengerti. Anak laki – laki ku menatap dengan berani kearah tubuh ibunya. Dia menjulurkan tangannya ke penis untuk membetulkan posisi penisnya supaya lebih nyaman. Dan ia mulai mengocok Penisnya di depan diriku, namun itu hanya asumsi ku saja mungkin apa yang ku lihat yaitu salah, dan saya akan mencoba memikirkannya nanti. Saat pertama kali kami menggunakan kamar mandi bersama, mungkin ia terlihat menyerupai kejadian yang tidak disengaja, tapi lama kelamaan dan kali ini, ia lebih berani dan mempunyai maksud tersembunyi, dan sekarang, ia melakukannya secara faktual di depanku.”Sudah keterlaluan, menurutku” dan spontan saya pribadi menampar mukanya dengan keras.
Akibat tamparanku, Robbie sangat kaget, dan akupun juga kaget, mengapa saya menampar Dia, saya agak sedikit merasa bersalah. Terlihat dari muka Robbie yang sangat kebingungan dan sangat sedih. Aku tahu bahwa mungkin saya telah salah bertindak, dengan tidak melihat situasi dan kondisi. Melihat kebingungan dan ketakutannya, sikap keibuanku pun mulai keluar, dan saya jadi tidak memperhatikan mengenai keadaanku sekarang yang sudah mendekati telanjang, hanya berbalut handuk merah jambu, tapi saya tetap hirau dan melupakan keadaan ku sekarang yang hanya berbalutkan handuk, saya pribadi memeluknya dengan pelukan erat seorang ibu yang sangat sayang kepada anak laki-laki nya. Penisnya yang tadi bangun tegak dan keras, menjadi agak lembek beberapa saat, tapi mukanya secara tidak pribadi menempel pada payudaraku, karena dekapan pelukanku yang erat kepada dirinya.
Aku merasa menjadi sangat buruk di mata Robbie, dan saya ingin memberikanya suatu ganti rugi untuknya. “Oohh Robbie anaku sayang, maafkanlah Mama sayang, Mama tidak bermaksud untuk menyakitimu, soalnya Mama sangat kaget ketika membuka pintu shower, kau sedang onani dengan mengintip Mama, dengan melihat tubuh Mama yang sudah bau tanah ini”.
Robbie hanya terdiam, dengan mengeluarkan sedikit air mata, dengan tetap meneruskan pelukannya pada tubuhku dan terus menyandarkan kepalanya di Dadaku. Aku coba mengatakan kepadanya, supaya kejadian ini tidak dianggap sebagai hal yang serius, dengan mengatakan,” Adakah yang Mama mampu lakukan untuk mu, supaya kau mampu melupakan kejadian ini, sayang?” , “ Apa yang mampu mama dapakan untuk bayi Mama ini, apakah kau mau yang special dari Mama? Ayo, bilang ke Mama, Sayang!!!”
Sewaktu saya sedang membujuknya, saya mencicipi Puting susuku yang sebelah kiri menyerupai dihisap. Ternyata setelah saya melihat kearah Payudaraku, Robbie telah berkata dengan tersirat melalui agresi mulutnya, apa yang ia inginkan dariku. Apa yang mampu dilakukan lebih, dari seorang ibu kepada anaknya kecuali menyusuinya, meskipun anaknya sudah berumur 16 Tahun. Hati dan perasaan ku menyerupai menabur rasa kemurnian kasih sayang dari seorang ibu untuk anaknya melalui episode tubuh yang sangat intim, yaitu putting susu ku ke Bibir Robbie. Rasanya saya ingin memelihara kedekatan fisik, tubuh kami antara saya dan anak ku, sebagai moment yang manis. Sama menyerupai ketika Robbie masih bayi. Tapi dengan bertumbuhnya kedewasaan diantara kami, pasti akan menyebabkan image yang buruk.
Aku mencicipi Penisnya mulai mengeras dan bangun tegak kembali, dan artinya hisapan di Puting susuku terasa bukan hisapan yang kekanak kanakan, tetapi dengan mengerasnya Batang penis Robbie, memperlihatkan bahwa ia sedang berada di dalam samudra gairah yang tak tertahankan!! Gelombang gairah itu pun kesudahannya juga menerpa dan mulai merasuki ku, dan saya mulai terangsang sangat hebat, sikapku pada ketika itu mulai berubah dari seorang wanita yang sangat keibuan menjadi seorang Ibu yang sangat menginginkan bercinta dengan seorang perjaka yang umurnya terpaut jauh lebih muda dariku (MILF).
Saya mulai mencicipi telapak tangan Robbie, meluncur turun kebawah perutku dan jari2nya menuju kearah lipatan vertikal ku yang ditumbuhi bulu halus, yang memang sangat saya rawat, dan sekarang vagina ku sudah mulai berair oleh cairan kewanitaanku, karena rangsangan yang andal yang saya rasakan dari rabaan jari – jari Robbie. Dia pasti tahu dengan apa yang ia lakukan kepadaku dan akan membuatku menggeliat, dimana tangan kanannya meyeruak masuk kedalam Vaginaku dan jarinya memainkan episode yang paling tervital di tubuhku, jarinya mulai memelintir dengan halus klitorisku, dan saya mencicipi anutan darahku yang deras berdesir ke seluruh tubuhku, suatu kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, saya merasa menyerupai melayang jauh tinggi ke awan. Yang kurasakan ini mungkin karena, Anaku sendiri yang membuatku jadi begini, memang rasanya terasa sangat jauh berbeda , ketika saya melaksanakan ini dengan suamiku.
Tanpa sadar saya terus memajukan pinggulku untuk penetrasi ke dalam sentuhannya jari2nya, kami lakukan ini dengan sangat perlahan, dan saya sangat menikmatinya. Robbie memindahkan mulutnya untuk menghisap puting ku yang satu lagi, dan jari dari tangan kirinya tetep menusuk kedalam liang vaginaku, sambil kadang memencet klitorisku dengan lembut, dan saya rasakan sisa jarinya yang masih diluar liang vaginaku meraba bibir anusku dengan nakal, kadang dimasukan atau menggesek gesek bibir anusku. Aku mulai merasa kehilangan kontrol terhadap situasi yang terjadi ketika itu, saya sangat yakin bahwa saya tidak mempunyai kehendak untuk menghentikan cekramaan dari rangsangan gairah nafsu yang sedang memperabukan kami berdua.
Yang terjadi malah saya mencengkram Bantang penis anaku yang mengacung tinggi dan keras, yang selama ini anakku pamerkan kepadaku tapi saya hirau tak acuh, dan saya mencicipi kekuatan dari seorang lelaki yang mempunyai nafsu menyerupai binatang. Semakin saya berpikir liar, dan saya semakin terangsang sangat hebat. Sentakan dari desiran darah di dalam adrenalinku merasuki sistem pertahanan tubuhku, dan saya dibuat sangat lemah karenanya, saya sudah melupakan kejadian ketika saya menamparnya tadi. Dan saya mencicipi lututku mulai melemah.
Robbie mengetahui bahwa memang pertahananku sudah runtuh, dan ia juga tahu bahwa ibunya sudah pasrah dengan rangsangan dari kenikmatan siksaan yang ia berikan dan dengan mudah ia membaringkan tubuhku ke lantai. Karpet berwarna merah muda pekat, dengan materi kain sedikit berbulu, melapisi lantai kamar mandi utama kami, dan menjadi ganjal yang empuk dah halus yang memang sempurna sekali untuk alas bercinta yang sangat indah, saya merasa badanku menyerupai perlahan melayang jatuh ketika tubuh telanjangku terbaring, lebih tepatnya dibaringkan diatas bulu2 halus di karpet itu dengan dibantu oleh Anak lakiku tercinta yang berpengaruh dan sangat tampan.
Setelah tubuhku terbaring di lantai, Robbie pribadi memeluku, saya berada di bawahnya yang juga menyambut pelukan itu dengan pribadi mencium bibirnya dengan penuh gairah yang tertahan untuk diledakan, saya mencicipi verbal Robbie dan merasa anaku ini juga ingin di explor olehku,lidahnya menelusuri tiap inci dalam mulutku, gres kali ini saya mencicipi wacana Robbie anak laki2 ku yang ternyata sangat andal dalam bercinta. Aku sempat terpikir, dengan apa yang sedang terjadi sekarang, dan dampak apa yang terjadi setelah kejadian ini, dan lama kelamaan bersama dengan desiran angin asmara diantara saya dan Anakku, pikiran itu hilang terbawa gelombang kenikmatan surga yang datang menerpa diriku dan saya merasa menyerupai tubuhku sedang melayang terbang jauh menuju sebuah Bintang yang menunjukkan keinginan wacana kenikmatan suatu keintiman Seks yang mengagumkan yang mungkin akan saya rasakan dan diberikan oleh anaku sendiri.
Diriku semakin haus akan kepuasan, bukan saja haus melainkan saya sudah sangat mencicipi lapar akan kenikmatan Bercinta, saya sudah sangat basah, saya sempat berpikir biarlah saya Hamil dari anaku sediri, semua sudah kepalang basah, yang penting saya hanya mau kenikmatan itu, saya arahkan supaya Robbie untuk segera memasukan batang Penisnya yang lumayan besar itu untuk segera menerobos masuk ke dalam Vagina ibunya yang merah merona dan merekah yang sudah sangat banjir akan cairan2 kewanitaan. Aku mulai menggenggam lengan atas Robbie, dan mencicipi otot bisep dan trisepnya yang semakin membuatku bergelora, dengan ketelanjangan kami berdua, saya mencicipi bersatunya tubuh dan tubuh kami antara ibu dan anak, dengan sensasi yang benar-benar luar biasa, mencicipi kulit ku bersentuhan pribadi secara penuh dengan kulitnya tanpa adanya batasan dan halangan dan kami lakukan dengan tanpa ada rasa tabu diantara kami.
Tubuhku sudah mendekap erat tubuhnya dan memperlihatkan suatu buaian – buaian kasih sayang dengan penuh nafsu dan rongrongan birahi. Aku menjadi birahi kepada anak lakiku, sangat dan teramat sangat, sehinggap Robbie dapat dengan mudah membuat serapat mungkin tubuhnya kepadaku supaya ia dapat lebih leluasa untuk menentukan posisi yang nyaman untuk menyetubuhi ibu kandungnya sendiri, yang mungkin terkesan kuno tapi klasik dengan cara bercinta lelaki diatas perempuan. Dalam situasi berciuman kami yang penuh dengan hasrat dan birahi, saya mampu mencicipi Penisnya mulai menyodok dan mulai mendorong mencari lubang Vagina ibunya sendiri yang memang sudah basah, banjir oleh cairan yang licin dan lengket yang sudah siap untuk diterobos masuk, pintu kenikmatan surgaku menyerupai diketuk sudah siap kubuka, kenikmatan surga duniawi yang penuh dengan dosa, tapi sangat mengagumkan dan luar biasa, Surga duniawi sudah menunggu kami, dan kami berdua siap melayang terbang kesana menggapai kenikmatan yang terbalut dengan indahnya dosa.
Birahi kami sudah sangat tidak mampu kami tolerir. Tiba-tiba saya mencicipi suatu sensasi yang sangat sulit untuk diungkapan, tanpa tuntunan tangan ku ternyata penisnya telah menyeruak menerobos masuk dengan hentakan nafsu binatang seorang anak Laki2 dan terus mendesak terpompa semakin dalam dan semakin dalam ke liang Vagina ku, dengan ukuran besar dan panjangnya penis anaku saya sedikit mencicipi agak ngilu pada bibir Vagina ku, tapi rasa sakit dan ngilu itu terhapuskan oleh buaian gelombang nafsu birahiku yang sedang berkobar, dan saya mencicipi suatu sensasi nikmatya dari suatu hujaman yang mampu menggapai rahimku, dimana kesucianku sebagai seorang ibu telah terengut dan dirampas oleh anak kandungku,yang selama ini hanya saya khususkan untuk suami ku tersayang, dengan jujur saya katakan saya menikmati terenggutnya dan terampasnya kesucian ini, kesucian dari sebuah Vagina, sebuah rahim seorang ibu yang mampu menghasilkan sumber kehidupan dan benih dari suatu kehidupan baru.
Penetrasi demi penetrasi kami lakukan bersama, suatu dorongan, desakan dan hujaman demi hujaman Penis anak ku kedalam Rahim kawasan dimana dulu ia dikandung. Penetrasi itu menyebabkan setruman setruman, yang secara intensif dari setiap gerakan didalam persetubuhan fisik kami dalam suatu kekerabatan sedarah/inces, yang termotivasi lebih dari suatu pengorbanan ungakapan cinta dari sepasang manusia. Hujaman Penisnya keluar dan masuk menyerupai itu berturut turut kedalam Vaginaku, dan saya dengan sangat senang mendapatkan hujaman tersebut ke dalam vaginaku, pasti kami mencicipi rasa persetubuhan yang sama indahnya, suatu sensasi kepuasan yang belum tentu mampu di gapai oleh orang lain.
Kenikmatan dari persetubuhan yang nista ini bagaikan binatang yang tidak mengenal ayah ibu atau anak, yang terpenting yaitu kepuasan, saya merasa menjadi seorang yang primitive menyerupai tidak ada laki2 lain di dunia ini yang mampu menunjukkan saya kepuasan tanpa batas, erangan demi erangan kami lakukan, desahan demi desahan, dan jeritan jerita kecil yang ku ungkapan ke indera pendengaran Robbie membuatnya semakin Liar menghujamkan penis besar dan panjangnya itu sedalam dalamnya kedalam liang Vaginaku sehingga saya mencicipi sodokan pada rahimku. Basahan dari keringat kami berdua yang membasahi sekujur tubuh kami, menyebabkan bunyi tepukan yang terdengar sangat dramatis, setiap tepukan dari episode tubuh kami dari kulit yang berair oleh keringat, pertemuan antara selangkangan ku dengan selakangan Robbie yang menyebabkan bunyi tepukan dipadukan dengan nikmatnya Sodokan, dan jeritan, sangat sulit diungkapkan. Yang pasti sangat nikmat.
Tubuh kami terkunci dalam suatu dekapan erat yang tak terlepaskan, dadanya mendekap dadaku sehingga payudaraku tergencet dan tertumpah menyembul ke samping diantara badanku dan dia, pinggul dan pahanya menghantam pinggul dan pahaku naik turun dengan sangat perlahan tapi pasti dengan nafsu birahinya kepadaku, dengan erat saya cengkram kedua pantat sexy anak ku, membantu mendorong membuat hujaman2 keras dan sedikit bernafsu untuk Vaginaku, gerakan yang sangat bermanfaat dan membuat kami menyerupai terbang bersama sesaat, mencicipi hujaman demi hujaman yang ia lakukan terhadapku.
Aku mulai menantikan dengan waswas dan hati berdebar tapi sangat menginginkannya juga, saya sangat menyukai disaat ketika menyerupai ini dimana saya rasakan sebuah penis yang besar keras dan panjang akan menyemprotkan sperma di dalam Vaginaku, penisnya sudah mulai berdenyut dengan hebat,dengan denyutan penisnya itu pun saya juga mulai mencicipi hal yang tak akan pernah kurasakan di di dalam hidupku, bahwa nafsu birahiku terpuaskan oleh anak kandung ku sendiri, Suatu sensasi yang memang sangat luar biasa, sepertinya saya juga akan mengalami oragasme. Sengaja saya tahan oragasme ku supaya Aku dan Robbie dapat bersama menikmati Nikmatnya Suatu dosa kekerabatan sedarah antara ibu kandung dengan anak kandungnya.
Robbie memiliki Penis dengan batang dan kepala yang cukup besar, ketika ia melaksanakan hujaman yang kali ini cukup terasa keras bagiku, tiba-tiba Robbie membisu mematung menyerupai membeku, badannya bergetar menahan suatu kenikmatan yang selama ini ia impi-impikan, Aku rasakan Penisnya menyerupai terkunci tertelan sangat dalam di vaginaku dengan kepala Penis berada jauh di dalam rahimku, saya melihat wajahnya yang ganteng dan kedewasaan mulai tergambar dari raut wajahnya yang mungkin nanti menjadi Ayah dari anak yang akan ku kandung ini.
Akhirnya hal yang kutakutkan terjadi saya terlambat mencabut batang penisnya dari dalam vaginaku, tapi disatu sisi saya mencicipi sensasi pembangkang yang menjalar di tubuhku yang ingin mencicipi rasanya kalau dibuahi oleh anak kandung ku sendiri, Robbie melenguh dan mendesah andal Penisnya menyemburkan sperma di Rahimku kawasan dimana saya mengandungnya, semburannya berkali kali sangat kencang terasa, dan ketika itu pula saya mencicipi Vaginaku juga berdenyut keras dan saya menjerit histeris karena mencicipi Orgasme yang selama ini belum pernah saya rasakan, karena sensasi persetubuhan sedarah ini, saya merasa menyerupai terbebas terbang, saya orgasme sangat panjang dan lama seiring dengan keluarnya sperma Robbie yang menyembur di dalam Vaginaku. Terasa hangat basah, gemericik, sedikit lengket pada selangkangan kami yang menempel terkunci satu sama lain, dengan saya menyilangkan kakiku pada pinggang Robbie.
“ Mam, saya mengeluarkannya di dalam…maaf”, ucapnya dengan nada datar, takut saya hamil, tapi ia puas tanpa ada penyesalan. “Ya Tuhan, Robbie… Kamu ini benar-benar nakal. Tapi mau gimana lagi, kan sudah keluar?”, itu yang saya katakan kepadanya. Kami mengalami klimax persetubuhan sedarah yang sangat indah, terdengar tabu tapi faktanya mengagumkan dan luar biasa.
Spermanya perlahan lahan mengalir keluar dari dalam Vagina ku, bercampur dengan cairan kewanitaan ku, spermanya sangat banyak, dan saya yakin ia sehat dan pasti spermanya juga sehat. Hamilkah diriku? Apa yang terjadi, menjadikan kami ketagihan akan kekerabatan rahasia yang sangat penuh dengan dosa, saya akan menjalani kekerabatan ini dengan caraku, dan saya tidak akan pernah menyerah.
Memang menyerupai yang saya katakan di awal dongeng ini, perbuatan ini pasti tidak mampu di maafkan, apa yang kami lakukan pasti akan ada kosekwensinya, saya tahu itu dan saya mengerti. Tapi disaat Robbie ada disebelahku, dan waktu kami melaksanakan Dooggie style, atau kalau saya berada diatasnya layaknya wanita penunggang kuda, atau di manapun kami menumpahkan cairan kenikmatan itu, semuanya mengandung resiko yang sangat tinggi, tertangkap tangan oleh suami atau orang lain wacana kekerabatan sedarah kami, atau saya hamil. Tapi aku, kami berusaha secantik mungkin supaya semua itu tertutup dengan rapih, dan sepintar mungkin supaya saya tidak mengandung benih dari anak ku sendiri. Tapi sayangnya tetap saja saya berhasil jebol juga. Aku benar-benar menjadi hamil dari benih anakku sendiri.
Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, erita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.

0 Komentar