Giliranku kali ini menerima projek di kota B yang berhawa sejuk dan merupakan kota idolaku. Dulu saya sempat lama berdiam di kota ini ketika kuliah di salah satu perguruan tinggi tinggi ternama di negeri ini.
Sebagaimana projek-projek lain yang sering kukerjakan maka tidak ada perkecualian projek ini juga menuntut energi dan pikiran ekstra keras karena ketatnya jadwal. Salah satu hal yang menyebalkan di kota ini yaitu persoalan taxi yang buruk kondisinya dan lagi jarang mau menggunakan argo sehingga harus selalu melaksanakan negosiasi terlebih dahulu. Oleh karena itu sering saya mencari hotel terdekat dengan lokasi projek sehingga dapat dicapai dengan jalan kaki hanya beberapa menit. Agen Capsa Susun Online Terpercaya
Minggu ini yaitu puncak-puncaknya pekerjaan sehingga keletihan amat sangat terasa. Hal ini menyebabkan saya malas pulang week end ke kota J di mana saya tinggal. Kurencanakan Sabtu pagi besok saja untuk pulang menggunakan kereta api. Karena anggota tim lain selalu pulang ke J (semuanya berdomisili di J) di final ahad maka kini tinggal saya sendirian.
Setelah makan malam di restoran hotel saya masuk ke kamar sambil nonton acara-acara TV. Berhubung hotel ini bukan hotel mewah maka channel program TV-nya pun terbatas, untuk mengirit ongkos operasional kali. Setelah satu jam saya mulai dihinggapi kejenuhan. Mau tidur masih amat susah karena malam begitu larut, gres jam 8an, dan tubuh yang amat letih ternyata malah membuat sulit untuk segera beristirahat tidur. Tiba-tiba saya teringat biasanya hotel ada berita layanan pijat. Kucari-cari brosurnya tidak kutemukan. Tanpa kurang logika kutelpon operator untuk menanyakan apakah di hotel ini bisa dicarikan tukang pijat. Ah lega rasanya ketika dijawab bisa dan akan segera diantar.
Sambil menunggu kedatangan tukang pijat saya mulai mencoba kembali menikmati acara-acara di layar TV. Tapi ternyata pikiranku sudah mulai melantur membayangkan nikmatnya ketika tubuh yang pegal hebat ini akan menerima terapi pijat yang pasti akan memanjakan urat dan saraf-saraf yang telah mulai menuntut untuk dirilekskan semenjak beberapa hari ini. Ah beginilah nikmatnya masih bujangan (sebagai lelaki berusia 35 saya terperinci termasuk telat menikah, hehe biarin masih enak sendiri kok), waktu masih bisa diatur sesuka hati. Coba bila berkeluarga sebagaimana kawan-kawanku itu, pasti mereka harus buru-buru pulang sementara masih harus berjuang untuk menerima tiket kereta karena penuhnya calon penumpang di final minggu.
Sejam kemudian ada bunyi ketukan pintu, ah sudah datang, batinku dengan girang. Ketika kubuka saya agak sedikit heran karena tukang pijatnya ibu-ibu berumur 45-an lebih kira-kira. Tinggi tubuh sekitar 155 cm, berkulit kuning bersih, wajah sudah menyampaikan usianya yang memang sudah matang. Dengan mengenakan jaket kain dan bercelana jean yang agak ketat. Dengan santunnya ia permisi untuk masuk. Kupersilakan ia masuk sementara pengantarnya yang yaitu bell boy kemudian pergi meninggalkannya.
Setelah di dalam kamar kupersilakan duduk dulu di dingklik pojok kamar. Aku ijin sebentar ke toilet untuk pipis karena saya memang termasuk orang yang nggak tahan masbodoh (sudah di kota yang masbodoh ber-AC pula) sehingga sering pipis. Daripada nanti pas ditengah-tengah agresi pemijatan saya kebelet mendingan kukeringkan dulu kantong pipisku. Kan nggak nyaman pas lagi merem-melek dipijat eh kebelet pipis, pasti akan merepotkan.
Setelah selesai dari toilet kulepas kaos dan celana pendekku sehingga tinggal CD saja. Lalu kulihat ibu itu membuka jaketnya sehingga hanya memakai kaos ketat hitam saja. Wah ternyata si ibu ini masih bagus juga badannya, kelihatan perut masih kencang. Tanpa banyak buang waktu pribadi saya tengkurap di atas ranjang. Ibu tukang pijat mendekat dan mengatakan maaf serta mohon ijin untuk mulai pemijatan. Pertama yang dipijat yaitu telapak kaki. Ah nyamannya. Telapak kakiku yang telah kaku-kaku ditekan-tekan dan kemudian diurut.
Aku tak mau banyak bicara biar Si Ibu lebih fokus pada pekerjaannya dan saya konsentrasi biar kenikmatan yang kuraih dari pijatan-pijatan maksimal. Setelah selesai dari telapak kaki mulailah naik menuju ke betisku yang tak kalah kakunya. Rupanya betis kaku bila dipijat menjadikan rasa nyeri sehingga saya sedikit meringis. Rupanya Si Ibu tahu kesakitanku lalu sedikit dikurangi tekanannya. Selesai ditekan-tekan kemudian diurut-urut. Untuk urut dipakailah cream biar licin.
Begitu hingga menuju paha tiba-tiba kudengar suaranya..
“Den, maaf CD-nya dilepas saja biar nggak kotor kena minyak. Maaf ya.”
Karena logis alasannya ya kulepas saja meskipun membuatku kikuk (aku sering dipijat tetapi biasanya pria tuna netra). Aku lepas CD-ku dengan hanya mengangkat pantat terus kuperosotkan keluar dari kaki. Menurutku Si Ibu nggak dapat melihat “adikku”. Lalu saya mapan lagi biar pijatan dapat diteruskan. Mulanya paha luar yang menerima giliran. Setelah kedua sisi paha luar selesai gres dilanjutkan dengan paha dalam. Dengan mengurut dari arah bawah menuju atas, stop press!! Bisakah anda bayangkan?
Jari-jarinya, kayaknya ibu jarinya (aku nggak bisa lihat sih) secara halus menyenggol kantong-kantong kejantananku. Serr. Kudiamkan. Kemudian pantatku mulai dijamahnya dengan cara melingkar dari bawah ke atas luar terus turun masuk ke dalam dan berakhir di.. Ujung selangkangan persisnya tengah-tengah antara kedua kantong kejantananku. Serr. Serr. Uenak sekali. Aku heran agak lama juga ia ini bermain di wilayah sensitif ini. Tapi biarlah, enak ini. Hehe. Eh ketika sedang enak-enaknya menikmati jari-jari lihainya yang gres pertama kali kunikmati sensasi kenikmatan tiada tara ini berlangsung tiba mulai naik ke arah pinggang. Agak kecewa juga, tapi kutahan biarlah ia menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan prosedur standar pemijatan yang ia praktekkan.
Begitu selesai dengan leher belakang sebagai adegan teratas yang dirambahnya, tiba-tiba dengan ‘cool’-nya memerintahkan untuk telentang. Wah kacau ini. Bisa tertangkap tangan nih bila adikku ternyata telah terjaga. Tapi ya sudahlah biarkan segalanya berlalu dengan alamiah. Yang sudah telanjur tegak biarlah begitu. Hehe.
Mulai lagi Si Ibu dari bawah yaitu adegan depan telapak kaki. Mulai ketika ini sudah tidak bisa lagi kunikmati pijatan dari detik ke detik dan setiap inchi anggota tubuhku. Aku hanya memikirkan apa yang akan ia lakukan ketika sudah merembet ke arah paha. Gara-gara pikiranku sudah terpandu oleh kerja hormon testosteronku maka terperinci sudah, adikku semakin percaya diri untuk mengeras sebelum sentuhan terjadi.
Akhirnya tiba juga saat-saat yang kunantikan. Rupanya teknik yang ia lakukan di adegan pantatku tadi dipraktekkan juga di adegan depan. Aduh Mami, enaknya minta ampun, eh nambah. Sempat kutatap wajahnya, kulihat sekilas-sekilas ia melirik adikku. Hmm rupanya ia ingin tahu efek pijatannya apakah membuahkan hasil atau tidak. Dan tidak salah dia. Sukses besar. Bahkan si adik telah sedikit menitikkan cairan.
Ketika itu ia mencuri pandang ke aku. Aku menangkapnya. Mulai kuamati wajahnya untuk melihat lebih terperinci menyerupai apa bergotong-royong tampang Ibu ini. Biasa aja. Tidak menarik. Bahkan sudah ada beberapa kerutan. Sedikit. Tidak terlalu muluslah wajahnya. Tapi tidak berpengaruhlah itu karena nyatanya adikku tetap saja berdiri kayak tonggak, sedikit miring karena gravitasi.
Lagi asyik-asyiknya melayang-layang imajiku akhir agresi pijatan-pijatan yang berbentuk lingkaran-lingkaran itu tiba-tiba rambahannya sudah menuju perut. Ah. Sedikit down. Sedikit kecewa. Tunggu dulu, rupanya ketika di perut masih ada impian untuk menerima sentuhan-sentuhan dahsyat itu. Ketika gerak maju-mundur di perut dengan formasi melingkar luar-dalam juga, ternyata setiap mundur gerakannya dibablaskan sehingga si adik tetap bisa menikmati sentuhan-sentuhan. Bedanya sekarang yang menerima anugerah yaitu adegan kepala adik. Sip. Sip bener ini. Kok ya ada tukang pijat sehebat ini. Apakah karena sudah ibu-ibu maka pengalamannya memijat bertahun-tahun yang membuatnya menjadi piawai begini? Mustinya iya.
Lalu, karenanya pijatan di final adegan dada. Begitu selesai..
“Mau diapain lagi Den?”
“Maksud Ibu?” Tukasku.
Tersenyum simpul ia dan.. Tahu-tahu tangannya akal-akalan pijat-pijat lagi di selangkangan tetapi dengan titik kontak tabrakan ke ‘adik’ semakin besar dan lama.
“Oh tahu saya maksudnya”, pikirku.
Tanpa kujawab mulai kuelus punggungnya (dia duduk di pinggir ranjang dengan membelakangi). Dia membisu dan mulai berani hanya mengelus khusus adikku saja, tidak lagi akal-akalan menyentuh adegan lain. Kusingkap pelan kaosnya. Astaga, rupanya kondisi dalamnya terawat mulus. Tak kusangka padahal sudah seumur itu. Menggelegaklah kelelakianku. Tanpa terkontrol lagi saya yang tadinya telentang bangun duduk sehingga punggungnya berhadapan dengan tubuh depanku dan tanganku yang kiri menyingkap kaosnya lebih ke atas lagi sementara yang kanan ke depan menjamah sang.. Tetek.
Dia sengaja mencondongkan dirinya ke arahku biar lebih mepet. Kulepas kaosnya dan dibantu ia sehingga sekarang setengah telanjang dia. Eits! Bulu keteknya nggak dicukur. Gairahku malah semakin meledak, kubalikkan badannya biar menghadapku. Dia menunduk mungkin aib atau minder karena umur atau ketidak cantikannya, entahlah, yang pasti ia telah dengan ahlinya melepaskan ‘nafsuku’ dari kandangnya. Kurebahkan ia dengan masih tetap pakai BH karena saya lebih suka menjamah teteknya dengan cara menyelinapkan tangan.
Kuserbu keteknya yang berbulu agak lebat itu (kering tanpa ‘burket’, kalaupun ‘burket’ toh nafsuku belum tentu turun) sambil terus meremas tetek. Kutindih dia. Celana jeans masih belum dilepas. Kususupkan tangan kananku ke dalamnya. Menyentuh veginya. Basah. Kupindahkan serangan ciumanku ke lehernya. Mendesah. Lalu mengerang-mengerang lembut dia. Kehabisan nafas aku, ketika kutarik kepalaku naik untuk mengambil udara ditarik lagi kepalaku. Ah rupanya ‘G-Spot’nya ada di leher belakang indera pendengaran sebelah kanan. Kuhajar lama dengan dengusan napas hidungku di wilayah itu. Semakin liar polahnya. Tangan kananku semakin dibasahi dengan banyak cairan. Kulepas tanganku dan kusuruh ia bangkit.
“Lepaskan BH dan celana ya”.
Tanpa tunggu lama wajahnya yang sudah merah merona itu mengangguk dan cepat-cepat semua yang kuingin lepas dilepasnya. Kupandangi sebentar teteknya, masih lumayan bulat. Kupandangi veginya, wow alangkah lebatnya. Kurebahkan lagi dengan segera. Kutindih lagi dia. Mengerang hebat. Nafasku memburu berat. Kukangkangkan pahanya. Dan bless.. Rudalku telah menghunjam ‘vegi’nya yang telah banjir itu. Kusodok-sodok sekuat tenaga. Semakin keras erangannya. Kuseret pahanya ke pinggir ranjang, dengan berdiri kuangkat kakinya menumpang di pundakku, kuarahkan kembali rudalku menuju veginya yang lenyap ditelan jembut. Kusibakkan terlebih dulu, lalu bless.. Bless.
“Argh.. Arghh.. Yang cepeth Denn Arghh.. Kencangin laggih Denn.. Auhh.. Ahh..”
Menjelang 10 menit mulai terasa hangat adikku.
“Akkhu.. Sudahh mauu.. Kelluaar.. Bikk.. Ahh.. Ahh”.
“Akkh.. Bibikh.. Jugah.. Denn. Ahh.. Argh”.
Dan tanpa dapat dibendung lagi jebollah lahar panas dari rudalku menyemburi lembahnya yang rimbun itu. Pada ketika yang bersamaan. Sensasi kimiawi dari surga telah mengurasku menuju keletihan. Entah kenapa badanku yang sebelumnya sudah letih banget ternyata masih bisa mengeluarkan tenaga sebesar ini. Ibu ini memang lihai. Luar biasa kuakui.
Setelah berbaring-baring sekitar 15 menit Si Ibu minta ijin ke toilet untuk bersih-bersih diri. Kusiapkan amplop untuk memberinya kompensasi atas jasa kenikmatan luar biasa yang gres sekali ini kurasakan seumur hidupku. Tanpa dibukanya amplop itu sambil mengucapkan terima kasih dengan sopan, ia keluar kamar setelah mengenakan jaketnya kembali.
Sejak mengenal kenikmatan ‘pijat hotel’ itu, saya mulai sering mencoba-coba. Di kota B banyak sekali panti-panti yang berkedok pijat namun sesungguhnya yang ditawarkan yaitu lebih dari sekadar pijat. Awalnya kucoba yang muda-muda dan cantik, karenanya saya kembali mencari yang telah senior karena yang masih muda kuanggap belum banyak pengalaman dan tidak banyak kenikmatan yang kuraih. Di samping itu lebih aman secara kesehatan dengan yang bau tanah karena jarang dipakai, sementara yang muda dan cantik laris diantri banyak pria dari banyak sekali lapisan dan dengan kondisi kesehatan yang sulit terkontrol pula.
*****
Demikianlah dongeng keperjakaanku yang hilang di tangan sang Ibu Pemijat. Aku tidak menyesal. Bahkan malah sulit melupakannya. Yang kusesali yaitu mengapa kenikmatan yang sedemikian dahsyatnya gres kuketahui setelah setua ini.

0 Komentar