![]() |
| Perselingkuhan Dengan Adik Suamiku Yang Perkasa |
Setelah ia menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, ia menuju daerah tidurku dan eksklusif menindih tubuhku dan menciumi wajah serta bibirku. Sambil menciumiku, tangannya menggerayangi vaginaku. Heri berkata, “Wah sudah siap nih ya.. nggak pakai celana dalam..” Tak berapa lama Heri mengangkat dasterku dan mempermainkan klitorisku dan sesekali memasukkan jarinya ke lubang vaginaku, membuatku melayang dan vaginaku cepat banjir.
Ternyata Heri juga sudah siap dengan tidak memakai celana dalam. Digesek-gesekannya lontongnya yang sudah mengeras di pahaku sambil jari-jari tangannya mempermainkan vaginaku. Kubalas gerakan Heri dengan meremas-remas dan mengocok lontongnya. Nafsuku semakin naik, begitu juga Heri alasannya ialah nafasnya terdengar semakin memburu. Sambil tersengal-sengal, ia melenguh, “Oh.. oh.. Wita.. Heri sudah nafsu.. Wita haus kan.. Heri masukkan ya..” Aku pun sudah tidak tahan, “Oh Ri.. masukkan cepat lontongnya.. Wita sudah nggak tahan.. Ohh Ri..”
Kemudian, “Slep..” kurasakan lontong Heri yang lebih besar dan panjang dibandingkan lontong suamiku itu masuk dengan mudah masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah benar-benar lembap itu. Kurasakan lontongnya hingga menyentuh dinding vaginaku yang terdalam. “Oh.. Ri.. aduh enaknya Ri.. oh gede Ri..” saya merintih, sambil kupeluk erat badan Heri. Kudengar pula rintihan Heri sambil menurun-naikkan lontongnya di dalam vaginaku. “Oh.. oh.. agh.. Wita, enak sekali apem Wita.. oh.. aagh..” Dari cara permainannya, saya mencicipi Heri belum berpengalaman dalam hal seks dan kelihatannya gres pertama kali ia berbuat begini. Mungkin alasannya ialah begitu nafsunya kami berdua kurang lebih 10 menit menikmati hujaman lontong Heri, saya sudah mau mencapai orgasme. “Oh.. agh.. aduh Ri.. cepatkan tusukannya Ri.. Wita mau keluar.. oh..aagh..” Kurasakan Heri pun sudah mau orgasme. “Oh.. agh.. Mbak, Heri juga mau keluar.. oh.. aaghh..” Tak lama kemudian, berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan semburan sperma yang keluar dari penis Heri yang masih perjaka, keras dan berkali-kali memenuhi lubang vaginaku. Kami berdua berpelukan erat mencicipi kenikmatan yang tiada taranya ini. Kubisikkan di indera pendengaran Heri, “Terima kasih Ri, Mbak puas sekali..” Heri pun berbisik, “Aduh Wita, gres pertama kali ini Heri rasakan enaknya apem.. Wita puas kan..” tambahnya.
Kemudian, Heri mencabut lontongnya dari dalam lubang vaginaku. Aku berusaha menahannya alasannya ialah saya ingin nambah lagi. Heri berbisik, “Besok-besok aja lagi, sekarang Heri harus keluar.. takut ada orang yang bangun..” Setelah mengecup kening dan pipiku, Heri permisi keluar. Kubisikkan di telinganya, “Hati-hati ya Ri.. jangan hingga tertangkap lembap orang lain..” Walaupun belum begitu puas, tapi hatiku bahagia bahwa Heri akan mengisi kesepian dan memenuhi kebutuhan seksku selama suami di luar kota. Dalam hati saya pun mengucapkan terima kasih kepada suamiku atas ijinnya dan pilihannya yang tepat.
Setelah kejadian pertama ini, kekerabatan seksku dengan adik suamiku ini terus berlanjut. Sayangnya hal ini kami berdua lakukan di rumah, alasannya ialah dikala itu memang tidak pernah terpikir untuk main di luar misalnya di Motel. Saking puasnya menikmati permainan seks dari Heri, saya lupa akan jadwal kalender KB yang selama ini kugunakan. Sedangkan setiap kali Heri menyetubuhiku, spermanya selalu ditumpahkan di dalam vaginaku. Aku sendiri memang tidak menginginkan sperma Heri ditumpahkan di luar, alasannya ialah justru mencicipi semburan dan kehangatan sperma Heri di dalam vaginaku, merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Akibatnya setelah beberapa kali melaksanakan hubungan, saya sempat terlambat 6 hari datang bulan (mens). Hal ini kuceritakan kepada Heri, dikala kami mengobrol berdua di paviliun. Khawatir benar-benar hamil, kuminta Heri mengantarku ke dokter untuk memeriksakannya. Pada mulanya Heri tidak setuju, dan ingin mempertahankan kehamilanku. Aku tidak oke dan tetap ingin menggugurkannya.
Keesokan paginya dengan diantar Heri, saya memeriksakan diri ke suatu rumah sakit adegan kandungan. Ternyata hasil pemeriksaan tidak mampu keluar hari itu juga, dan harus menunggu tiga hari. Sampai dua hari setelah pemeriksaan dokter, ternyata mens-ku masih belum datang. Aku tidak tabah dan khawatir bila ternyata saya benar-benar hamil. Hal ini kuutarakan kepada Heri dan kuminta ia membantu membelikan satu botol bir hitam untukku. Keesokan harinya, Heri menyerahkan bir hitam itu kepadaku, dan malamnya kuminum. Tiga hari setelah minum bir hitam tersebut, mens-ku datang.
Setelah mens-ku selesai sekitar 7 hari, saya dan Heri melanjutkan lagi kekerabatan seks menyerupai biasanya. Praktis selama dua bulan ada 18 kali saya dan Heri berhasil melaksanakan kekerabatan seks yang memuaskan dengan aman tanpa tertangkap lembap keluarga di rumah. Keinginan untuk melakukannya setiap hari sulit terlaksana, mengingat situasi rumah yang tidak memungkinkan. Dari sekian kali kekerabatan seksku dengan Heri, seingatku ada tiga kali yang benar-benar sangat memuaskan diriku. Selain kejadian yang pertama kali, kekerabatan seksku dengan Heri yang sangat memuaskan ialah sewaktu kami berdua melaksanakan di suatu siang hari dan dikala malam takbiran. Kejadian di siang hari itu, yaitu dikala saya selesai mandi dan berkemas-kemas berhias diri mau pergi ke kantor. Saat itu kedua mertuaku dan adik-adik iparku yang lain sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Heri, yang kebetulan sudah pulang dari kantornya, alasannya ialah hari Jumat. Kedua anakku asyik bermain dengan pengasuhnya.
Tanpa sepengetahuanku, dikala saya memakai make-up, tiba-tiba Heri masuk kamarku yang tidak terkunci. Setelah menutup pintu kembali dan menguncinya, dari belakang ia memelukku, melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, sehingga saya dalam posisi telanjang bulat. Diciumnya bahu belakangku, sambil tangannya memainkan kedua payudaraku, dan turun mempermainkan vaginaku. Akibatnya, saya tak tahan dan vaginaku cepat basah. Segera kubalikkan tubuhku dan kupeluk serta kulumat bibir Heri dengan penuh nafsu. Kemudian kubuka reitsleting celananya dan kutanggalkan celana panjang dan celana dalamnya. Kemudian saya jongkok di hadapannya, sambil meremas, menjilati, dan mengulum lontongnya dalam mulutku.
Setelah kurasakan lontongnya semakin keras, kudorong badan Heri duduk di tepi daerah tidur. Kemudian saya berdiri membelakanginya, dan setengah jongkok kupegang dan kuarahkan lontongnya masuk ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah lembap itu. Kuturun-naikkan dan kuputar pinggulku untuk mencicipi nikmatnya lontong Heri yang telah masuk seluruhnya dalam lubang vaginaku. Sambil bergoyang itu, saya merintih dan berdesah, “Oooh.. aaghh..” Heri tak mau ketinggalan, ia membantu menurun-naikkan pinggulku dan kadang kala meremas-remas kedua buah dadaku. Kurang lebih tiga menit dengan posisi ini, terasa saya sudah mau orgasme. Kupercepat gerakan turun naik dan goyangan pinggulku, dan dikala itu Heri merintih, “Oh.. oh.. Wita, Heri mau keluar.. oh..”
Akhirnya berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan lontong Heri menyemprotkan spermanya dengan keras memenuhi lubang vaginaku. Tubuhku terasa terbang mencicipi semprotan yang hangat dan nikmat itu. Kemudian kukeluarkan lontong Heri dari lubang vaginaku. Kulihat masih cukup keras. Dengan penuh nafsu kujilati, kuhisap lontong Heri yang masih lembap diselimuti campuran sperma kami berdua.
Tak berapa lama kemudian lontong Heri kembali keras. Kemudian kuminta Heri menyetubuhiku dari belakang. Dengan menopangkan kedua tanganku di atas meja hias dan posisi menungging, kusuruh Heri memasukkan lontongnya ke dalam lubang vaginaku dari belakang. Betapa nikmatnya kurasakan lontong Heri menghunjam masuk ke dalam lubang vaginaku, kemudian sambil meremas-remas kedua buah dadaku, Heri mempercepat bacokan lontongnya. Dari cermin yang berada di hadapanku, kulihat gerakan dan ekspresi wajah Heri yang sedang mempermainkan lontongnya di dalam lubang vaginaku. Situasi ini menambah naiknya birahiku. Kurang lebih tiga menit mencicipi tusukan-tusukan lontongnya, saya tak tahan ingin orgasme lagi. Aku merintih, “Aduh.. oh.. agh.. Ri, tembus Ri.. aagh.. Wita mau keluar lagi, cepatkan Ri.. oh.. aaghh..” Ternyata Heri pun mau keluar. Ia pun merintih, “Oh.. augh.. Wita, Heri juga mau keluar.. aduh.. Wita.. bareng ya.. oh..” Beberapa dikala kemudian, secara bersamaan saya dan Heri mencapai orgasme. Kurasakan kembali semprotan sperma Heri yang hangat dan nikmat lubang vaginaku.
Setelah itu, kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku berkata, “Nakal ya..” Heri mencium pipi dan keningku kemudian pamit keluar. Kemudian saya pun keluar ke kamar mandi untuk membasuh vaginaku. Jam 14:00, jemputan kendaraan beroda empat dari kantorku datang. Malamnya sesuai komitmen via telepon, kembali Heri masuk ke kamarku dan menyetubuhiku secara terburu-buru, alasannya ialah khawatir ada yang memergoki. Walau dalam keadaan terburu-buru, persetubuhanku dengan Heri yang dilakukan setiap dini hari itu, cukup memuaskan, alasannya ialah paling tidak setiap bersetubuh itu saya mampu orgasme minimal satu kali dan mencicipi semprotan sperma Heri di dalam vaginaku.
Selanjutnya, persetubuhanku dengan Heri yang benar-benar memuaskan dan menjadikan saya lemas tak berdaya ialah dikala malam takbiran. Pada malam itu, saya menginap di rumah orang tuaku. Sesuai komitmen via telepon Heri datang menjengukku. Kami berdua duduk mengobrol merayakan takbiran di rumah. Kedua orang tuaku menyuruhku menunjukkan bir kepada Heri. Selesai program TV, ayahku pergi keluar rumah dan ibuku masuk tidur. Kini di ruang tamu, tinggal saya dan Heri duduk berdua ngobrol sambil menikmati bir sepuas-puasnya. Karena pengaruh bir, kurasakan nafsu seksku mulai naik. Kemudian saya pamit sebentar, melihat kedua anakku sekalian mengecek Ibuku. Aku mengganti bajuku dengan daster dan kutanggalkan celana dalamku. Setelah kuketahui ibuku sudah pulas tidur dan keadaan aman, saya kembali ke ruang tamu, duduk di sebelah Heri. Tak lama kemudian Heri sudah memelukku, menciumiku sambil bertanya apa ibuku sudah tidur. Mengetahui ibuku sudah tidur, Heri mulai menggerayangi vaginaku dengan jari-jari tangannya sambil melumat bibirku. Aku menggelinjang dan merintih, “Oh.. Ri.. enak sekali.. Ri.. oh terus Ri..” Aku tak mau kalah dan kuremas-remas lontongnya dari luar celana yang membuat lontongnya semakin keras. Kemudian kusuruh Heri berdiri, kubuka reitsleting celana panjangnya dan sekaligus celana dalamnya. Kulihat dan rasakan lontong Heri lebih keras dan besar dari biasanya.
“Aduh.. wow.. kok lebih keras dan besar Ri lontongnya?” Heri berterus terperinci bahwa sorenya ia minum jamu berpengaruh laki-laki sebagai persiapan untuk memuaskan diriku. Kuhisap, kujilati dan kukulum lontongnya dengan penuh nafsu. Karena tak tahan lagi, kudorong badan Heri duduk di sofa. Aku duduk di atas pangkuannya. Kemudian kupegang dan arahkan lontongnya ke dalam vaginaku. “Wow.. aduh Ri.. gede banget dan enak Ri, lontongnya.. aduh.. oohh..” saya mengerang. Sambil kulumat bibirnya, kunaik-turunkan pinggulku biar dapat mencicipi gerakan, bacokan dan denyutan lontong Heri. Sekitar dua menit kugoyang, jadinya saya mencapai orgasme alasannya ialah tak tahan mencicipi lontong Heri yang lebih keras dan besar dari biasanya. Kemudian kami berdua merubah posisi dengan doggy style. Kurang lebih tiga menit, lagi-lagi saya tidak tahan dan orgasme untuk yang kedua kalinya. Setelah beristirahat sebentar, kami berdua merubah posisi dengan berdiri. Lontong Heri masih keras dan ia belum keluar sama sekali. Lagi-lagi, mungkin alasannya ialah pengaruh bir dan nafsu yang menggebu, saya mencapai orgasme yang ketiga kalinya.
Dengan masih mempertahankan lontongnya yang keras dan panjang di dalam vaginaku, Heri menggendongku masuk ke kamar tidurku. Direbahkan tubuhku di kasur di atas lantai yang sudah kusiapkan. Masih kurasakan nikmatnyan dan orgasmeku yang keempat kalinya dikala Heri menyetubuhiku dengan posisi di atas. Setelah itu saya tak ingat lagi dan mengalah pasrah mendapatkan tusukan-tusukan lontong Heri.
Mungkin lebih dari 10 kali saya mencapai orgasme, dan saya tak tahu berapa kali Heri keluar. Saat terbangun kira-kira jam 5 pagi, terasa kepuasan yang amat sangat pada diriku walau kakiku rasanya gontai dan lemas. Kurasakan juga kehangatan sperma Heri yang masih ada di dalam vaginaku. Tak disangka selingkuhku di malam takbiran dengan Heri adik suamiku ialah yang terakhir, alasannya ialah beberapa hari kemudian, suamiku sudah kembali ke rumah.
Sekembalinya suami di rumah, malam harinya suami mengajakku bersetubuh. Sambil bersetubuh, suami bertanya apakah jadi selingkuh dengan Heri. Karena memang sudah diijinkannya, saya berterus terperinci mengaku. Pada mulanya suamiku agak marah, mungkin tersinggung, tapi jadinya ia memaafkanku. Sejak dikala itu hubunganku dengan Heri praktis terputus. Namun, Heri masih mencoba mendekatiku dan berusaha mengajakku untuk berafiliasi lagi. Hal itu ia lakukan beberapa kali via telepon dikala suamiku ke kantor. Walau sebetulnya saya sendiri masih menginginkannya, namun seruan Heri tersebut terpaksa kutolak. Selain suasana rumah memang tidak memungkinkan, saya juga khawatir bila suamiku akan marah alasannya ialah ia belum mengijinkan lagi.
Peristiwa perselingkuhanku dengan adik ipar atas saran dan ijin suami menjadi pengalaman yang manis hingga dikala ini. Lebih dari itu, bila suami mengungkit-ungkit lagi duduk perkara ini dan minta saya menceritakannya kembali, bukannya marah yang kudapat darinya, malah sebaliknya kasih sayang yang makin besar.
Setiap kali akan meniduriku, untuk merangsang dirinya, suamiku selalu meminta saya untuk menceritakan kembali pengalaman selingkuhku dengan adiknya itu. Ia kerap bertanya posisi apa saja yang saya dan Heri lakukan dikala berafiliasi seks, berapa kali saya klimaks, bagaimana rasanya vaginaku mendapatkan semburan sperma Heri dlsb. Untuk membahagiakannya, kuceritakan semuanya secara jujur. Setiap kali mendengar ceritaku itu, nafsu seks suamiku semakin meningkat dan ia meminta saya mempraktekannya kembali dengan menganggap dirinya sebagai Heri. Terus terang, gairah seksku pun semakin meningkat dikala harus membayangkan dan mempraktekan kembali cara-cara kekerabatan seksku dengan Heri.
Ternyata perselingkuhan tidak selalu merusak keharmonisan rumah tangga. Mungkin ada benarnya bila orang menerjemahkan arti kata ‘selingkuh’ sebagai ‘selingan mengagumkan keluarga utuh’.
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/

0 Komentar