Tetanggaku Janda Binal Genit Yang Nikmat

Cerita Sex - Sebuah dongeng sex dewasa, seorang pria yang melepas keperjakaannya dengan bekerjasama seks atau ngentot seorang janda binal yang tak lain yakni tetangga rumahnya sendiri. Pembaca, saya ingin membuatkan pengalaman pertamaku bercinta dengan wanita. Ini terjadi ketika saya gres duduk di kursi SLTP kelas 3. Waktu itu saya tinggal di pinggiran kota Jakarta yang masih banyak penduduk Betawinya. Di sebelah rumahku tinggal keluarga Betawi, anak lelaki bungsunya sahabat bermainku. Dia mempunyai 3 orang kakak perempuan. Yang akan saya ceritakan di sini yakni kakaknya yang berjulukan Hana. Seorang janda beranak satu. Usianya ketika itu kira-kira 38 tahunan.
Tetanggaku Janda Binal Genit Yang Nikmat Tetanggaku Janda Binal Genit Yang Nikmat
Tetanggaku Janda Binal Genit Yang Nikmat

Sebagai tetangga sebelah rumah, saya cukup dekat dengan semua anggota keluarga, sehingga saya bisa keluar masuk rumahnya dengan leluasa. Oh iya, sebelum saya lupa, mbak Hana ini orangnya hitam manis dengan payudara lumayan besar (mungkin ukuran 36C). Entahlah, saya sendiri ketika itu tidak tahu persis, karena masih “ingusan”. Yang saya tahu, ukurannya cukup membuat anak seusiaku menelan ludah, jika melihatnya.

Seperti orang Betawi jaman dulu pada umumnya, mbak Hana ini suka sekali, terutama jika hari sedang panas, cuma mengenakan bra saja dan rok bawah. Mungkin untuk menerima kesegaran. Nah saya seringkali melihat si mbak dalam “mode” ibarat ini. Usiaku ketika itu sudah memungkinkan untuk bernafsu melihat tonjolan payudaranya yang hanya ditutupi bra. Tapi yang paling membuatku menahan nafas yakni bentuk dan goyangan pantatnya. Pinggul dan pantatnya lingkaran dan bentuknya “nonggeng” di belakang. Kalau berjalan, pantatnya bergoyang sedemikian rupa membuat gairah remajaku yang gres tumbuh selalu tergoda.

Pembaca, mbak Hana ini sudah tiga kali menjanda, dan semua warga kampung kami sudah tahu bahwa mbak Hana ini memang “nakal” sehingga tidak ada pria yang betah berlama-lama menjadi suaminya. Mbak Hana ini suka sekali menggodaku dengan mengatakan bahwa beliau pengen sekali mencicipi keperjakaanku (saat itu saya memang masih perjaka, belum pernah sekalipun mencicipi wanita, pacaranpun gres sebatas mencium dan memeluk saja).

Suatu kali, selepas maghrib, saya ke rumahnya. Tadinya saya ingin mengajak Udin, adiknya yang temanku untuk main. Aku masuk lewat pintu belakang karena memang sudah dekat sekali. Tapi di belakang rumahnya itu, ada mbak Hana yang sedang duduk di kursi dekat sumur (sumurnya masih pake timba).

Aku bertanya ke si mbak, “Pok, Udin ada?”.

“Kagak, beliau ikut baba (Bapak) ama nyak (Ibu) ke Depok.” jawab si mbak.

“Wah, jadi mbak sendirian dong di rumah?” tanyaku basa basi.

“Iya, asyik kan? Kita bisa pacaran.” sahut si mbak.

Aku cuma tertawa, karena memang sudah biasa beliau ngomong begitu.

“Duduk dulu dong Wan, ngobrol ama mbak ngapa sih.” katanya.

Akupun duduk di kursi sebelah kirinya, si mbak sedang minum anggur cap orangtua. Aku tahu beliau memang suka minum anggur, mungkin itu juga sebabnya tidak ada suami yang betah sama dia.

“Si Amir mana pok?” tanyaku menanyakan anaknya.

“Diajak ke Depok.” sahutnya pendek.

“Mau minum nggak Wan?” beliau nawarin anggurnya.

Entah kenapa, saya tidak menolak. Bukannya sok alim pembaca, saya juga suka minum, cuma karena orang tuaku termasuk berada, biasanya saya hanya minum minuman dari luar negeri. Tapi ketika itu saya minum juga anggur yang ditawarkan mbak Hana. Jadilah kami minum sambil ngobrol ngalor ngidul. Tak terasa sudah satu botol kami habiskan berdua. Dan saya mulai terpengaruh alkohol dalam anggur itu, namun saya akal-akalan masih kuat, karena kulihat mbak Hana belum terpengaruh. Gengsi.

Aku mulai memperhatikan mbak Hana lebih teliti (terutama setelah dipengaruhi alkohol murahan itu). Pandanganku tertuju ke toketnya yang hanya ditutupi bra hitam yang agak kekecilan. Sehingga toketnya ibarat mau meloncat keluar. Wajahnya cukup manis, agak ke arab-araban, kulitnya hitam tapi mulus. Baru sekarang saya menyadari bahwa ternyata mbak Hana manis juga. Rupanya pengaruh alkohol sudah mendominasi pikiranku.

Merasa diperhatikan si Mbak membusungkan dadanya, membuat penis remajaku mulai mengeras. Dan dengan sengaja beliau membuat gerakan menggaruk toket kirinya sambil memperhatikan reaksiku. Tentu saja saya belingsatan dibuatnya. Sambil menggaruk toketnya perlahan si Mbak bertanya.

“Wan kok termangu gitu sih?”

Bukannya kaget, saya yang sudah setengah mabok itu malah menjawab terus terang, “Abis tetek Mbak gede banget, bikin saya napsu aja.”

Eh, beliau malah merogoh toket kirinya, terus dikeluarkan dari branya.

“Kalo napsu, pegang aja Wan. Nih,” katanya sambil mengasongkan toketnya ke depan.

“Diemut juga boleh Wan.” tambahnya.

Aku yang sudah mabok alkohol, semakin pusing karena ditambah mabok kepayang akhir tantangan Mbak Hana.

“Boleh pok?” tanyaku lugu.

“Dari dulu kan Mbak udah pengen buka “segel” Irwan. Irwannya aja yang jual mahal.” katanya sambil memegang kepalaku dengan tangan kirinya dan menekan kepalaku ke arah toketnya.

Aku pasrah, perlahan mukaku mendekat ke arah toket kirinya yang sudah dikeluarkan dari bra itu. Dan hidungku menyentuh pentilnya yang cokelat kehitaman. Segera aroma yang abnormal tapi membuat kepalaku ibarat hilang menyergap hidungku. Dan keluguanku membuat saya hanya puas mencium dengan hidungku, menghirup aroma toket Mbak Hana saja.

“Waan.” tegur Mbak Hana.

“Apa Mbak?” tanyaku sambil menengadah.

“Jangan cuma diendus gitu ngapa. Keluarin pengecap Irwan, jilatin pentil Mbak, terus diemut juga. Ayo coba” Mbak Hana mengajariku sambil kembali tangannya menekan kepalaku.

Aku menurut, kukeluarkan lidahku, dan kujilati sekitar pentilnya yang kurasakan semakin keras di lidahku. Dan sesekali kuemut pentilnya ibarat bayi yang menyusu pada ibunya. Ku dengar Mbak Hana mengerang, tangannya meremas rambutku dan berkata.

“Naah, gitu Wan. Terusin Waann. Gigit pentil Mbak Wan, tapi jangan kenceng gigitnya, pelan aja.” pinta si Mbak.

Akupun menuruti permintaannya. Kugigit pentilnya pelan, erangan dan desahannya semakin keras. Dengan lembut si Mbak menarik kepalaku dari toketnya, wajahku ditengadahkan, lalu beliau mencium bibirku dengan penuh gairah. Bibirku diemut dan lidahnya bermain dengan lincahnya di dalam mulutku. Aku terpesona dengan permainan lidahnya yang gres sekali ini kurasakan. Getaran yang diberikan Mbak Hana melalui lidahnya menjalar dari sekujur bibirku hingga ke seluruh tubuhku dan kesannya masuk ke jantungku. Aku terbawa ke awang-awang. TIdak hanya itu, Mbak Hana menjilati sekujur wajahku, dari mulai daguku, ke hidungku, mataku semua dijilat tak terlewat satu sentipun. Terakhir pengecap Mbak Hana menyapu telingaku, bergetar rasanya seluruh tubuhku mencicipi sensasi yang Mbak Hana berikan ini.

Sambil menjilati telingaku, tangannya menarik tanganku dan dibawanya ke toketnya, sambil membisikkan, “Remes-remes tetek Mbak dong Waann.” Aku menurutinya, dan kudengar desahan si Mbak yang membuatku semakin bergairah, sehingga remasanku pada teteknya juga semakin intens.

“Aauugghh.. Sshh.. Naahh gitu Wan.”

Lalu diapun kembali menjilati tempat telingaku. Aku semakin terbuai dengan permainan Mbak Hana yang ternyata sangat mengasyikkan untukku ini. Lalu Mbak Hana kembali menciumi bibirku, dan kami saling berpagutan. Aku jadi mengikuti permainan pengecap Mbak Hana, pengecap kami saling membelit, menjilat ekspresi masing-masing. Kembali kurasakan tekanan tangan Mbak Hana yang membimbing kepalaku ke leher dan telinganya. Akupun melaksanakan ibarat yang dilakukan Mbak Hana tadi.

Kujilati telinganya, dan beliau mendesah kenikmatan. Lagi, beliau menekan kepalaku untuk mencapai teteknya yang semakin mencuat pentilnya. Aku mencoba mengambil inisiatif untuk memegang vaginanya. Tangan kiriku bergerak turun untuk menyentuh episode paling intim Mbak Hana. Tapi Mbak Hana menahan tanganku.

“Nanti dong Waan, tabah ya sayaanng.” Aku sudah gemetar menahan gairah yang kurasakan mendesak di sekujur tubuhku.

“Pook, Irwan pengen pook.” pintaku.

“Pengen apa Waan,” tanya Mbak Hana menggodaku.

“Pengen liat itu.” kataku sambil menunjuk ke selangkangan Mbak Hana yang masih tertutup rok merah dari materi yang tipis.

“Pengen liat memek Mbak?” Mbak Hana menegaskan apa yang kuminta.

“Iya pok.” jawabku.

“Itu sih gampang, tinggal Mbak singkapin rok Mbak, udah keliatan tuh.” kata Mbak Hana sambil menyingkapkan roknya ke atas, sehingga terlihat celana dalamnya yang berwarna biru tua.

Dan kulihat segunduk daging di balik CD biru bau tanah itu. Aku menelan ludah dan terpaksa menahan untuk tidak limbung. Sungguh luar biasa bentuk gundukan di balik CD itu. Aku memang gres pertama kali melihat gundukan memek, tapi saya yakin kalo gundukan memek Mbak Hana sangat molek alias tembem sekali. Dan Mbak Hana memang sengaja ingin menggodaku, beliau menahan singkapan roknya itu beberapa lama, dan ketika saya ingin menyentuhnya, beliau kembali menutupnya sambil tertawa menggoda.

“Jangan disini dong Wan. Ntar kita digerebek lagi kalo ada yang tau.” kata Mbak Hana sambil berdiri dan menuntun tanganku ke dalam rumahnya.

Bagai kerbau dicocok hidungnya akupun menurut saja. Aku sudah pasrah, saya ingin sekali mencicipi nikmatnya Mbak Hana. Dan yang pasti saya sudah telanjur hanyut oleh permainannya yang cendekia sekali membawaku ke dalam jebakan kenikmatan permainan sorgawinya.

Mbak Hana menuntunku ke kamarnya. Tempat tidurnya hanya berupa kasur yang diletakkan di atas karpet vinyl, tanpa tempat tidur. Lalu mbak Hana mengajakku duduk di kasur. Kami masih berpegangan tangan. Mbak Hana melumat bibirku, dan kami berpagutan kembali. Lalu mbak Hana menghentikan ciuman kami. Dia menatapku dengan tajam, lalu bertanya.

“Wan, kau bener-bener pengen ngeliat memek mbak?”

Aku mengangguk, karena pertanyaan ini membuatku tidak bisa menjawab. Semakin mabok rasanya. Mbak Hana kemudian melepaskan rok dan bra yang dipakainya dan sekarang tinggal CDnya saja yang masih tersisa. Kembali saya menelan ludah. Dan pandanganku terpaku pada gundukan di balik celana dalam mbak Hana. Betapa montoknya gundukan memek mbak Hana.

Lalu mbak Hana berbaring telentang, kemudian dengan gerakan perlahan, mbak Hana mulai menurunkan CD sehingga terlepaslah sudah. Aku yang masih duduk agak jauh dari posisi memek mbak Hana cuma bisa menahan gairah yang menggelegak di dalam jantung dan hatiku.

Benar saja, memek mbak Hana sangat tebal, dagingnya terlihat begitu menggairahkan. Dengan bulu yang lebat, semakin membuatku tidak karuan rasanya.

“Katanya pengen ngeliat, sini dong liatnya dari deket Wan,” kata mbak Hana.

“I iya pok,” sahutku terbata sambil mendekatkan wajahku ke selangkangan mbak Hana. Dia melebarkan kedua pahanya sehingga membuka jalan bagiku untuk lebih mendekat ke memeknya.

“Niih, puas-puasin deh liatin memek mbak, Wan.” kata mbak Hana.

Setelah dekat, apa yang kulihat sungguh membuatku tidak berpengaruh untuk tidak gemetar. Belahan daging yang kulihat ini sangat indah, berwarna merah, bulunya lebat sekali menambah keindahan. Di episode atas, mencuat daging kecil yang ibarat menantangku untuk menjamahnya. Aromanya, sebuah aroma yang aneh, namun membuatku semakin horny.

“Udah? Cuma diliatin aja? Nggak mau nyium itil mbak?” pancing mbak Hana sambil dua jari tangan kanannya menggosok-gosok daging kecil yang mencuat di episode atas memeknya.

“Mm.. Mmau pok. Mau banget.” kataku antusias. Lalu tangan mbak Hana menekan kepalaku sehingga semakin dekat ke memeknya. “Ya udah cium dong kalo gitu, itil mbak udah nggak tahan pengen Irwan ciumin, jilatin, gigitin.”

Dan bibirkupun menyentuh itilnya, kukecup itilnya dengan nafsu yang hampir membuatku pingsan. Aroma kewanitaan mbak Hana semakin keras menerpa hidungku. Mbak Hana mendesah ketika bibirku menyentuh itilnya. Lalu kejilati itilnya dengan semangat, tidak hanya itilnya, tapi juga bibir memek mbak Hana yang tebal itu saya jilati. Jilatanku membuat mbak Hana mengejang seraya mendesah dan mengerang hebat.

“Sshh.. Aarrgghh.. Gitu Waann.. Oogghh..”

Suara rintihan dan desahan mbak Hana membuatku semakin bernafsu menjilati seluruh episode memek mbak Hana. Bahkan sekarang kumasukkan lidahku ke dalam jepitan bibir memek mbak Hana. Tangan mbak Hana menekan kepalaku, sehingga wajahku semakin terbenam dalam selangkangan mbak Hana. Agak susah juga saya bernafas, tapi saya senang sekali.

Kumasukkan lidahku ke dalam lubang nikmat mbak Hana, lalu ku jelajahi lorong memeknya sejauh lidahku bisa menjangkaunya. Tiba-tiba, kurasakan lidahku ibarat ada mengemut. Luar biasa, rupanya memek mbak Hana membalas permainan lidahku dengan denyutan yang kurasakan ibarat mengemut lidahku. Tubuh mbak Hana menggelinjang keras, pinggulnya berputar sehingga kepalaku ikut berputar.

Tapi itu tidak menghentikan permainan lidahku di dalam jepitan daging memek mbak Hana. Desahan mbak Hana semakin keras begitu juga dengan gerakan pinggulnya, saya semakin bersemangat menjilati, dan sesekali saya menjepit itilnya dengan kedua bibirku, dan rupanya ini sangat membuat mbak Hana terangsang, terbukti setiap kali saya menjepit itilnya dengan bibir, mbak Hana mengejang dan mendesah lebih keras.

“Sshh, aarrghhgghh, Wan, itu enak banget waan..”

Tapi, putaran pinggul mbak Hana terhenti, sebagai gantinya, sesekali beliau menghentakkan pantatnya ke atas. Hentakan-hentakan ini membuat wajahku ibarat mengangguk-angguk. Erangannya semakin keras, dan tiba-tiba beliau menjerit kecil, tubuhnya mengejang, pantatnya diangkat keatas, sedangkan tangannya menekan kepalaku dengan kencang ke memeknya. Dan kurasakan di dalam memek mbak Hana ada cairan yang membanjir dan ada rasa gurih yang nikmat sekali pada lidahku.

Desahan mbak Hana ibarat sedang menahan sakit. Tapi belakangan gres saya tahu bahwa ternyata mbak Hana sedang mengalami orgasme. Dan pantat mbak Hana berputar pelan sambil terkadang terhentak keatas, dan tubuhnya mengejang. Sementara itu, cairan yang membanjir keluar itu ada yang tertelan sedikit olehku, tapi setelah saya tahu bahwa rasanya enak, akupun menjilati sisa cairan yang masih mengalir keluar dari memek mbak Hana. Mbak Hana kembali menggeliat dan mengerang ibarat orang sedang menahan sakit.

Kepalaku masih terjepit dipahanya, dan mulutkupun masih terbenam di memeknya. Tapi saya tak peduli, saya menikmati sekali posisi ini. Dan tak ingin cepat-cepat melepaskannya. Tak lama kemudian, mbak Hana merenggangkan pahanya sehingga kepalaku bisa bebas lagi. Kemudian mbak Hana menarik tanganku. Aku mengikuti tarikannya, badanku sekarang menindih tubuhnya, kambali bibir kami berpagutan. Lidah saling belit dalam gelora nafsu kami.

Lalu mbak Hana melepaskan ciumannya dan berkata, “Wan, terima kasih ya. Enak banget deh. Mbak puas. Ayo sekarang giliran mbak.”

Mbak Hana berdiri dari tidurnya dan akupun duduk. Dia mulai membuka pakaianku dimulai dari kemejaku. Setiap kali satu kancing baju terlepas, mbak Hana mengecup episode tubuhku yang terbuka. Dan ketika semua kancing sudah terlepas, mbak Hana mulai menjilati dadaku, pentilku disedotnya. Aku mencicipi sesuatu yang abnormal namun membuatku semakin bernafsu. Sambil menjilati episode atas tubuhku, tangan mbak Hana bekerj membuka celana panjangku dan melemparkannya ke lantai. Sekarang saya hanya tinggal mengenak CD saja. Mbak Hana menyuruhku berbaring telentang. Aku menurut.

Lalu CD ku diperosotkannya melalui kakiku, saya membantu dengan menaikkan kakiku sehingga mbak Hana lebih mudah melepaskan CDku. Dunia ibarat terbalik rasanya ketika tangan mbak Hana mulai menggenggam tititku dan mengelus serta mengocoknya perlahan.

“Lumayan juga titit kau Wan. Gede juga, keras lagi.” celetuk mbak Hana.

Tak membuang waktu, mbak Hana segera menurunkan wajahnya sehingga mulutnya menyentuh kepala tititku. Dikecupnya kepala tititku dengan lembut, kemudian dikeluarkannya lidahnya, mulai menjilati kepala, lalu batang dan turun ke.. Bijiku. Semua dilakukannya sambil mengocok tititku dengan gerakan halus. Lidahnya bergerak turun naik dengan lincahnya membuatku semakin tidak terkendali. Aku mendesah dan mengerang mencicipi kenikmatan dan sensasi yang mbak Hana berikan. Sungguh luar biasa permainan pengecap mbak Hana.

Setelah beberapa lama, mbak Hana menghentikan lidahnya. Rupanya beliau sudah merasa bahwa tingkat ereksiku sudah cukup untuk memulai permainan.

“Udah Wan, sekarang Irwan masukkin kontol Irwan ke memek mbak. Adduhh, mbak udah nggak tabah pengen disiram sama perjaka. Biar mbak infinit muda Wan.” kata mbak Hana.

Aku tak mengerti maksud mbak Hana, tapi yang jelas, sekarang mbak Hana kembali tiduran dan menyuruhku mulai mengambil posisi di atasnya. Mbak Hana melebarkan kedua kakinya sehingga saya bisa masuk di antara kakinya itu. Kemudian mbak Hana memegang tititku dan mengarahkannya ke memeknya yang sudah menanti untuk kumasuki. Mbak Hana meletakkan tititku di depan memeknya, kemudian berkata, “Nah, sekarang teken Wan.”

Aku tidak menunggu lebih lama lagi. Segera kutekan tititku memasuki kegelapan memek mbak Hana. Kurasakan tititku ibarat dijepit daging yang sangat keras namun lembut dan kenyal, agak licin tapi sekaligus juga agak seret.

“Aagghh.. Pelan dulu Wan,” pinta mbak Hana.

Saat kepala tititku sudah masuk, mbak Hana menggoyangkan pinggulnya sedikit, membuatku semakin mudah untuk memasukkan seluruh tititku. Dan kesannya terbenamlah sudah tititku di dalam memeknya. Jepitannya berpengaruh sekali, namun ada kelicinan yang membuatku merasa ibarat di dalam sorga. Kemudian mbak Hana terdiam. DIa berkonsentrasi agaknya, karena tahu-tahu kurasakan tititku ibarat disedot oleh memek mbak Hana. Ya ampuun, rasanya mau meledak tubuhku mencicipi denyutan di memek mbak Hana ini. Tititku ibarat dijepit dan tidak bisa kugerakkan. Seperti ada cincin yang mengikat tititku di dalam memek mbak Hana. Aku agak bingung, karena saya tidak bisa bergerak sama sekali.

“Mbak, apa nih?” saya bertanya.

“Enak nggak Wan?” tanya mbak Hana.

“Iya pok, enak banget. Apaan tuh tadi pok?” saya kembali bertanya.

Mbak Hana tidak menjawab, hanya tersenyum penuh kebanggaan. Kemudian mbak Hana melepaskan jepitan memeknya pada tititku.

“Sekarang kau gerakin keluar masuk titit kau ya Wan.” perintah mbak Hana.

Dan akupun mulai permainan sesungguhnya, kugerakkan tititku keluar masuk di lorong kenikmatan mbak Hana. Setiap gerakan yang kubuat mengakibatkan sensasi yang luar biasa, baik untukku maupun untuk mbak Hana. Mula-mula pelan saja gerakanku, tapi lama-lama, mungkin karena nafsu yang semakin besar, gerakanku semakin cepat. Dan mbak Hana mengimbangi gerakanku dengan putaran pinggulnya yang mengombang-ambingkan tubuhku. Putaran pinggul mbak Hana membuat ibarat ada yang mau meledak dalam diriku.

“Hhgghh.. Oogghh.. Sshh, Waann. Kamu jago banget waann..” desah pok Hana.

Aku tidak tahu apa maksudnya, namun pujiannya membuatku semakin memacu “motor”ku menerobos kegelapan di lorong mbak Hana. Lalu mbak menghentikan putaran pinggulnya dan melingkarkan kakinya ke kakiku sehingga kembali saya tidak bisa bergerak leluasa.

“Wan, sekarang kau diem aja, kau rasain aja mpot ayam mbak.” perintahnya.

Lagi, saya tak tahu apa maksudnya, namun mbak Hana mencium bibirku dan lidahnya mengajakku berpagutan kembali.

“Mbak udah mau keluar lagi nih wan, kita barengin ya sayang, mbak tanggung pasti enak deh.” kata mbak Hana.

Tubuh mbak Hana diam, namun kurasakan tititku ibarat dijepit dan dipijit dengan lembut, benar-benar luar biasa memek mbak Hana. Kembali desakan lahar dalam diriku menuntut dikeluarkan. Dan denyutan memek mbak Hana terus saja mengemuti tititku membuatku merem melek. Dan kesannya saya benar-benar tidak berpengaruh menahan lahar yang mendesak itu.

“Mbakkk.. Adduuhh.. Sayaa..” saya tidak dapat meneruskan kata-kataku, tapi mbak Hana rupanya mengerti bahwa saya sudah hampir mencapai klimaksku.

“Tahan Wan, mbak juga mau nyampe nih, Barengin ya Wan.” kata mbak Hana.

Aku tak peduli, karena saya tidak bisa menahannya, dengan erangan panjang, saya mencicipi tititku mengeras dan tubuhku mengejang. Kuhunjamkan tititku dalam-dalam ke memek mbak Hana, dan menyemburlah lahar yang sudah mendesak dari tadi ke dalam memek mbak Hana.

“Mbakk.. Aagghh..”

Croott… Crroott… Mbak Hanapun menjerit kecil dan tubuhnya menegang, tangannya memeluk dengan kuat. Di dalam kegelapan memek mbak Hana, semprotan air maniku bercampur dengan banjirnya air mani mbak Hana. Aku tak bisa mengungkapkan bagaimana enaknya sensasi yang kurasakan. Pinggul mbak Hana bergetar, dan menghentak dengan kerasnya. Memeknya berdenyut-denyut, enak sekali. Banyak selaki lahar yang kumuntahkan di memek mbak Hana, ditambah lahar mbak Hana, rupanya tidak bisa ditampung semuanya, sehingga sebagian meleleh keluar dari memek mbak Hana dan turun ke belahan pantatnya.

Lama kami berdiam dalam posisi masih berpelukan, tititku masih terbenam di memek mbak Hana. Tubuh kami bersimbah peluh, nafas kami masih memburu. Kemudian, mbak Hana tersenyum, lalu menciumku.

“Kamu jago banget Wan. Baru pertama aja udah bisa bikin mbak puas. Gimana nanti kalo udah jago.” kata mbak Hana.

“Pok, Ma kasih ya pok. Enak banget deh tadi pok.” kataku.

“Sama-sama Wan, mbak juga terima kasih udah dikasih cowok kamu. Besok mau lagi nggak?” tantang mbak Hana.

“Mau dong pok, siapa yang nggak mau memek enak kayak gini.” jawabku sambil mengecup bibirnya. Dan kamipun kembali berpagutan.

*****

Itulah pengalaman pertamaku dengan wanita. Sejak itu, mulailah petualanganku dengan wanita-wanita yang lain. Mbak Hana telah memberi pelajaran yang sangat nikmat. Terima Kasih Mbak Hanaku Sayang.

End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
Previous
Next Post »
0 Komentar