Siang itu panas sekali ketika saya melangkah keluar dari kampus menuju ke mobilku di daerah parkir. Segera kupacu pulang mobilku, tapi sebelumnya mampir dulu beli es dawet di kios di pinggir jalan menuju arah rumahku. Setelah hingga rumah dan kumasukkan kendaraan beroda empat ke garasi, segera kuganti baju dengan seragam kebesaran, yaitu kaos kutang dengan celana kolor. Kucuci tangan dan muka, kemudian kuhampiri meja makan dan mulai menyantap makan siang lalu ditutup dengan minum es dawet yang kubeli tadi, uaaaah... enak sekali... jadi terasa segar badan ini alasannya yaitu es itu.
"Cari siapa Mbak..?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Ehm... bener ini Jl. Garuda no.20, Mas..?" tanya cewek itu.
"Ya bener disini, tapi Mbak siapa ya..? dan mau ketemu dengan siapa..?" tanyaku lagi.
"Maaf Mas, kenalkan... nama saya Rika. Saya dapat alamat ini dari temen saya. Mas yang namanya Adi ya..?" sambil cewek itu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Segera kusambut, aduuuh... halus sekali tanganya.
"Eng... iya, emangnya temen Mbak siapa ya..? kok mampu tau alamat sini..?" tanyaku.
"Anu Mas, saya dapat alamat ini dari Bimo, yang katanya temennya Mas Adi waktu SMA dulu..." terperinci cewek itu.
Sekilas saya teringat kembali temanku, Bimo, yang dulu sering main kemana-mana sama aku.
"Oooh... jadi Mbak Rika ini temennya Bimo, ayo silahkan masuk... maaf tadi saya interogasi dulu."
Setelah kami berdua duduk di ruang tamu gres saya tersadar, ternyata Rika ini memang dahsyat, benar-benar cantik dan seksi. Dia ketika itu memakai mini skirt dan kaos ketat warna ungu yang membuat dadanya tampak membusung indah, ditambah wangi tubuhnya dan paha mulus serta betis indahnya yang putih bersih menantang duduk di hadapanku. Sekilas saya taksir payudaranya berukuran 34B.
Setelah basa-basi sebentar, Rika menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu ingin tanya-tanya perihal jurusan Public Relation di fakultas Fisipol daerah saya kuliah. Memang Rika ini yaitu cewek pindahan dari kota lain yang ingin meneruskan di daerah saya kuliah. Aku sendiri di jurusan advertising, tapi temanku banyak yang di Public Relation (yang kebanyakan cewek-cewek cakep dan sering jadi model buat mata kuliah fotografi yang saya ambil), jadi sedikit banyak saya tahu.
Kami pun cepat bersahabat dan hingga terasa tidak ada lagi batas di antara kami berdua, saya pun sudah tidak duduk lagi di hadapannya tapi sudah pindah di sebelah Rika. Sambil bercanda saya mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya, paha mulusnya, betis indahnya, dan tidak ketinggalan dadanya yang membusung cantik yang sesekali terlihat dari belahan kaos ketatnya yang berleher rendah. Terus terang saja si kecil di balik celanaku mulai bangun menggeliat, ditambah wangi tubuhnya yang membuat terangsang birahiku.
Aku mengajak Rika untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk meneruskan mengobrol. Rika pun tidak menolak dan mengikutiku masuk setelah saya mengunci pintu depan. Sambil ngemil hidangan kecil dan minuman yang kubuat, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol. Sesekali Rika mencubit lengan atau pahaku sambil ketawa-ketiwi ketika saya mulai melancarkan guyonan-guyonan. Tidak lama, adik kecilku di balik celana tambah tegar berdiri. Aku kemudian undangan ke Rika untuk nonton VCD saja. Setelah Rika setuju, saya masukkan film koleksiku ke dalam player. Filmnya perihal drama percintaan yang ada beberapa adegan-adegan ranjang. Kami berdua pun asyik nonton hingga kesudahannya hingga ke cuilan episode ranjang, saya lirik Rika matanya tidak berkedip melihat episode itu.
Kuberanikan diri untuk merangkul pundak Rika, ternyata beliau membisu saja tidak berusaha menghindar. Ketika episode di TV mulai tampak semakin hot, Rika mulai gelisah, sesekali kedua paha mulusnya digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seolah-olah beliau mengundang saya untuk menggumulinya. Aku beranikan diri untuk mengelus-elus lengannya, kemudian rambutnya yang hitam dan panjang. Rika tampak menikmati, terbukti beliau eksklusif ngelendot manja ke tubuhku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, eksklusif kupeluk badan hangatnya dan kucium pipinya. Rika tidak protes, malah tangannya sekarang diletakkan di pahaku, dan saya semakin terangsang lalu kuraih dagunya. Kupandang mata lingkaran indahnya, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya yang tebal nan seksi itu dan Rika membalas, tangannya yang satu memeluk leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah mengelus-elus yuniorku yang sudah super tegang di balik celanaku.
Lidah kami saling bertautan dan kecupan-kecupan bibir kami menyebabkan bunyi cepak cepok, yang membuat semakin hot suasana dan seakan tidak mau kalah dengan episode ranjang di TV. Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera kuelus paha mulusnya, Rika pun memberi kesempatan dengan membuka pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha dalamnya hingga ke selangkangan. Begitu bolak-balik kuelus dari paha lalu ke betis kemudian naik lagi ke paha. Sambil terus melumat bibirnya, tanganku sudah mulai naik ke perutnya kemudian menyusup terus ke dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kaos, Rika merintih lirih. Lalu tanganku kumasukkan ke dalam kaosnya dan mulai meraba-raba mencari BH-nya. Setelah ketemu lalu saya meraih ke dalam BH dan mulai meremas-remas kembali buah dadanya, kusentuh-sentuh putingnya dan Rika mendesah. Seiring dengan itu, tangan Rika juga mengocok yuniorku yang masih tertutup celana dalam, dan mulai dengan ganas menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku dan kembali mengocok dan mengelus.
Aku yang sudah mulai terbakar birahi, kemudian melepaskan kaos Rika dan BH-nya hingga sekarang nampak terperinci payudaranya yang berukuran 34B semakin mengembang alasannya yaitu rangsangan birahi.
Langsung saya caplok buah dadanya dengan mulutku, kujilat-jilat putingnya dan Rika mendesis-desis keenakan, "Sssh... aaauuh... Mass Adiii... ehhh... ssshhh..." sambil tangannya mendekap kepalaku, meremas-remas rambutku dan membenamkannya ke payudaranya lebih dalam.
Kutarik kepalaku dan kubisikkan ke indera pendengaran Rika, "Rika sayang, kita pindah ke kamarku aja yuuk..! Aman kok nggak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua..."
Rika mengangguk, lalu segera kupeluk dan kugendong beliau menuju ke kamar. Posisi gendongnya yaitu kaki Rika memeluk pinggangku, tangannya memeluk leherku dan payudaranya menekan keras di dadaku, sedangkan tanganku memegang pantatnya sehingga yuniorku sekarang sudah menempel di selangkangannya.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, kami terus saling berciuman. Sesampainya di kamar, kurebahkan tubuhnya di daerah tidur, Rika tidak mau melepaskan pelukan kakinya di pinggangku malahan sekarang mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Sayang... tabah dong.., lepas dulu dong rok sama celana kamu..." kataku.
"Oke Mas... tapi Mas juga harus lepas baju sama celana Mas, supaya adil..!" rajuk Rika.
Setelah kulepas baju dan celanaku hingga telanjang lingkaran dan yuniorku sudah mengacung keras tegak ke atas, Rika yang juga sudah telanjang lingkaran kembali merebahkan diri sambil mengangkangkan pahanya lebar-lebar, hingga kelihatan bibir vaginanya yang merah jambu itu.
Aku pun segera menindihnya, tapi tidak buru-buru memasukkan yuniorku ke vaginanya, kembali saya kecup bibirnya dan kucaplok dan jilat-jilat payudara serta putingnya. Jilatanku turun ke perut terus ke paha mulusnya kemudian ke betis indahnya naik lagi ke paha dalamnya hingga hingga ke selangkangannya.
"Auuww... Mas Adiiii... ehhmm... shhh... enaaaakkk Masss..." ceracau Rika sambil kepalanya menggeleng-geleng tidak karuan dan tangannya mencengkeram sprei ketika saya mulai menjilati bibir vaginanya, terus ke dalam memeknya dan di klitorisnya.
Dengan penuh nafsu, terus kujilati hingga kesudahannya badan Rika menegang, pahanya mengempit kepalaku, tangannya menjambak rambutku dan Rika berteriak tertahan. Ternyata beliau telah mencapai orgasme pertamanya, dan terus kujilati cairan yang keluar dari lubang kenikmatannya hingga habis.
Aku bangun dan melihat Rika yang masih tampak terengah-engah dan memejamkan mata menghayati orgasmenya barusan. Kukecup bibirnya, dan Rika membalas, lalu saya menarik tangannya untuk mengocok penisku. Aku rebahkan tubuhku dan Rika pun mengerti kemauanku, lalu beliau bangun menuju ke selangkanganku dan mulai mengemut penisku.
"Oooh... Rik... kau pinter banget sih Rik..." saya memuji permainannya.
Kira-kira setengah jam Rika mengemut penisku. Mulutnya dan lidahnya seolah-olah memijat-mijat batang penisku, bibirnya yang seksi kelihatan semakin seksi melumati batang dan kepala penisku. Dihisapnya kuat-kuat ketika Rika menarik kepalanya sepanjang batang penis menuju kepala penisku membuatku semakin merem-melek keenakan.
Setelah bosan, saya kemudian menarik badan Rika dan merebahkannya kembali ke daerah tidur, lalu kuambil posisi untuk menindihnya. Rika membuka lebar-lebar selangkangannya, kugesek-gesekkan dulu penisku di bibir vaginanya, lalu segera kumasukkan penisku ke dalam lubang senggamanya.
"Aduuh Mas... sakiiit... pelan-pelan aja doong... ahhh..." saya pun memperlambat masuknya penisku, sambil terus sedikit-sedikit mendorongnya masuk diimbangi dengan gerakan pinggul Rika.
Terlihat sudut mata Rika lembap oleh air matanya akhir menahan sakit. Sampai akhirnya, "Bleeesss..." masuklah semua batang penisku ke dalam liang senggama Rika.
"Rika sayang, punya kau sempit banget sih..? Tapi enak lho..!" Rika cuma tersenyum manja.
"Mas juga, punya Mas besar gitu maunya cari yang sempit-sempit, sakit kaan..!" rajuk Rika.
Aku ketawa dan mengecup bibirnya sambil mengusap air matanya di sudut mata Rika sambil mencicipi enaknya himpitan kemaluan Rika yang sempit ini. Setelah beberapa saat, saya mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan-pelan.
"Aaah... uuuhhh... oooww... shhh... ehhmmm..." desah Rika sambil tangannya memeluk erat bahuku.
"Masih sakit Sayaaang..?" tanyaku.
"Nggak Mas... sedikiiitt... auuoohhh... shhh... enn.. ennnaakk.. Mas... aahh..." jawab Rika.
Mendengar itu, saya pun mempercepat gerakanku, Rika mengimbangi dengan goyangan pinggulnya yang dahsyat memutar ke kiri dan ke kanan, depan belakang, atas bawah. Aku hanya mampu merem melek sambil terus memompa, mencicipi enaknya goyangan Rika. Tidak lama setelah itu, kurasakan denyutan teratur di dinding vagina Rika, kupercepat goyanganku dan kubenamkan dalam-dalam penisku.
Tanganku terus meremas-remas payudaranya. Dan badan Rika kembali menegang, "Aaah... Masss Adiiii... teruuus Maass... jangan berentiii... oooh... Maasss... aaahhh... akuuuu mauuu keluaaar... aaawww..."
Dan, "Cret... cret... crettt..." kurasakan cairan hangat menyemprot dari dalam liang senggama Rika membasahi penisku.
Kaki Rika pun memeluk pinggangku dan menarik pinggulku supaya lebih dalam masuknya penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Ketika denyutan-denyutan di dinding vagina Rika masih terasa dan badan Rika menghentak-hentak, saya merasa saya juga sudah mau keluar.
Kupercepat gerakanku dan, "Aaah... Rikaaa... saya mau keluar Sayaaang..." belum sempat saya menarik penisku alasannya yaitu kaki Rika masih memeluk erat pinggangku, dan, "Crooot... crooot... crooott..." saya keluar di dalam kemaluan Rika.
"Aduuhhh enakkknyaaa..."
Dan saya pun lemas menindih badan Rika yang masih terus memelukku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Aku pun bangkit, sedangkan penisku masih di dalam liang senggama Rika dan kukecup lagi bibirnya.
Tiba-tiba, "Greeekkk..." saya dikejutkan oleh bunyi pintu garasi yang dibuka dan bunyi motor adikku yang gres pulang.
Aku pun cepat-cepat bangun dan tersadar. Kulihat sekeliling daerah tidurku, lho... kok... Rika hilang, kemana tuh cewek..? Kuraba penisku, lho kok saya masih pake celana dan lembap lagi. Kucium baunya, anyir khas air mani. Kulihat di pinggir daerah tidur masih terbuka majalah hiburan khusus pria yang kubaca tadi. Di halaman 68, di rubrik wajah, kulihat wajah seorang cewek cantik yang tidak absurd lagi yang gres saja kutiduri barusan, yaitu wajah Rika yang menggunakan swimsuit di pinggir kolam renang.
Yaaa ampuun... gres saya sadar, pengalaman yang mengenakkan tadi bersama Rika itu ternyata cuma mimpi toh. Dan Rika yang kutiduri dalam mimpiku barusan yaitu cover girl cantik dan seksi majalah yang kubaca sebelum saya tertidur tadi, yang di majalah beliau mengenakan swimsuit merah. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Di dalam kamar mandi saya ketawa sendiri dalam hati mengingat-ingat mimpi enak barusan. Gara-gara menghayal yang tidak-tidak, jadinya mimpi lembap deeh.
Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, erita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.

0 Komentar