Cerita Sex - Aku Menikmati Tubuh Tante Hesti # saya semakin terobsesi untuk mencari sasaran tante kesepian lain untuk memuaskan libidoku yang tinggi. Kali ini sasaranku juga istri tetanggaku yaitu Hesti. Hesti seorang ibu satu anak berusia 3 tahun. Usianya kutaksir gres sekitar 28 tahunan.
Namun yang namanya rejeki kadang tiba tiba-tiba. Pagi itu saya sedang memanaskan mesin motorku dan bersiap untuk berangkat kerja. Ketika itu kulihat Hesti berjalan kaki ke ujung gang untuk berangkat kerja. Koq, tumben gak bawa motor? Gumanku dalam hati.
Karena hari itu hari Jumat, kulihat penampilan Hesti cukup kasual. Dengan setelan celana jeans warna hitam dan blouse batik sebagai atasan, tidak bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya yang aduhai. Bentuk dadanya yang membusung kedepan dan bokongnya yang melenggak-lenggok kekanan ke kiri dengan indahnya.
Bergegas ku ambil helm serta jaket dan buru-buru pamit pada istriku untuk berangkat kerja. Kuikuti Hesti dari kejauhan. Dan begitu hingga di ujung gang segera kuhampiri dia.
“Lho koq ga bawa motor mbak Hesti? Mau kerja ya?”
“Iya mas, kebetulan motorku lagi di pinjem adik untuk interview. ”
“ Oh begitu…..”
“ Mbak Hesti kerja di Kelapa Gading khan, Kebetulan saya lagi ada urusan ke Sunter dan lewat kelapa gading. Bareng aja yuk.” Ajakku
Sebenarnya alasanku ke Sunter hanya pura-pura ku saja biar saya bisa ada alasan mendekatinya, kalo saya bilang mau ke Kelapa Gading, nanti terbaca donk niatku sesungguhnya. Hehehe
Hesti tampak ragu dengan ajakanku
“Gak usah deh mas, saya naik angkot saja, lagi pula saya gak bawa helm.”
“Udah gak apa apa Mbak, kalo pagi gini khan polisi belum ada. Masih pada tidur’” candaku.
Akhirnya ia luluh dengan ajakanku dan segera naik ke atas motorku.
Motor ku berjenis motor sport sehingga posisi duduk pembonceng agak menunduk dan tentu saja ini memperlihatkan manfaat pemanis bagiku. Untuk mengantisipasi hal tersebut Hesti menempatkan tasnya diantara posisi dudukku dengan duduknya. Namun tetap saja sesekali, tonjolan payudara nya menyentuh punggungku.
Cerita Sex - Kulajukan sepeda motorku dengan santai biar saya punya waktu yang cukup lama untuk ngobrol dengannya. Obrolan kami ringan-ringan saja seputar pekerjaan dan kantornya.
Tak lama kami pun tiba di kantornya yang berupa komplek ruko yang terletak tidak jauh dari Mall Kelapa Gading.
Setelah Hesti turun dari motorku, ia pun mengucapkan terima kasih
“Terima kasih Mas Ardi atas tumpangannya.”
“Iya sama-sama Hes.”
Karena sudah mulai akrab, saya pun tidak lagi memanggilnya Mbak. Itupun alasannya yaitu Hesti yang memintanya.
“Oya nanti pulang bareng yuk. Aku pulang dari Sunter sore hari, kau pulang jam berapa?”
“Aku pulang jam 5 sore sih mas, tapi gak usah repot – repot, saya naik angkot aja, nanti merepotkan mas Ardi lagi.” Elaknya.
“ Enggak merepotkan koq Hes, daripada kau naik angkot kemaleman sampe rumah.”
“ Nanti jam 5 saya tunggu di sini ya,” Desakku.
“Ya udah deh mas, tapi bener gak ngerepotin khan?” Tanyanya lagi.
“Enggak koq hening aja.”
“ Oya saya minta pin BB donk biar nanti praktis ngabarin kalo sudah sampai.”
Dia kemudian menyebutkan serangkain aksara dan angka Pin BB nya
“Ya udah saya masuk dulu ya mas.”
“Ok Hes. Selamat bekerja ya.”
Hesti pun tersenyum manis padaku
Aku segera melajukan motorku dengan cepat ke arah kantor ku di Sudirman, Sudah niscaya terlambat ini.
Tapi ya sudahlah, tinggal nanti cari alasan kenapa terlambat sama si boss.
***
Pukul 4 sore, saya buru-buru menuju mesin absen finger scan dan keluar dari kantor secepatnya. Segera ku menuju ke parkiran motor dan melaju ke Kelapa Gading untuk menjemput Hesti, sang perempuan idaman lain.hehehe
Pukul 4. 40 saya pun tiba di Kelapa Gading. Aku sengaja menunggunya agak jauh dari kantornya biar tidak menjadikan gossip dari rekan-rekan kerjanya. Segera ku kirim pesan via BBM yang mengabarkan keberadaanku. Tak lama BBM itu pun berbalas kalo ia sedang membereskan pekerjaannya dan bersiap pulang.
Cerita Sex - Tak lama masuk lagi BBM darinya. Kali ini Hesti mengabarkan kalo ia harus mengikuti meeting mendadak dengan pimpinan alasannya yaitu ada kekacauan sytem manajemen yang terjadi di bagiannya. Dia mempersilahkan saya untuk pulang saja dan tidak usah menunggunya alasannya yaitu ia tidak tahu jam berapa meeting akan selesai. Tapi saya meyakinkan ia kalo saya akan tetap menunggu saja. Kasian juga kalo ia harus pulang malam naik angkot. Padahal sih dalam hati alasannya yaitu ada maunya.hehe
Aku pun kembali menunggu di dekat sebuah kios rokok di pojokan kawasan parkir komplek ruko tersebut. Untuk membunuh waktu, saya pun ngobrol dengan tukang parkir dan penjaga kios rokok tersebut.
Pukul 19.30, masuk BBM yang mengabarkan kalo Hesti sudah menuntaskan meeting dengan pimpinannya dan sebentar lagi akan keluar kantor. Aku pun memberi tahu dimana posisiku. Tak lama sosok Hesti terlihat keluar di sertai dua orang temannya. Setelah berpisah dengan teman-temannya, Hesti kemudian berjalan menghampiriku di kios rokok.
“ih mas Ardi sudah dibilangin pulang saja, masih aja nungguin aku,” gerutunya tapi sambil tersenyum.
“Biarin, abis nya kasian ngeliat kau cantik-cantik malam-malam naik angkot.” Ujarku sambil memujinya.
Hesti sedikit tersepu mendengar pujianku
“Ih mas Ardi bisa aja, cantikan juga mbak Santi,” ia menyebut nama istriku.
Aku hanya tertawa saja menanggapinya.
“Ya sudah pulang yuk,” ajakku padanya.
Segera kupakai jaket serta helmku dan menyalakan mesin motor, Hesti pun segera menaiki jok motor. Akupun mulai melajukan motorku ke arah kawasan tinggal kami.
Kursakan hawa malam itu begitu cuek dan udara terasa lembab, gejala akan turun hujan. Dan benar saja, ketika saya melaju di jalan Pegangsaan Dua, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, hujan turun dengan derasnya, secara tiba-tiba. Aku pun segera berusaha mencari kawasan berteduh. Tak lama saya pun menemukan sebuah warung yang sudah tutup dengan teras yang cukup untuk kami berteduh. Warung itu letaknya cukup tersembunyi dan tidak ada penerangan di terasnya. Penerangan hanya dari kendaraan yang lewat dan sedikit cahaya dari lampu merkuri penerang jalan.
Aku dan Hesti setengah berlari menghindari hujan menuju teras warung tersebut, sedang motorku kubiarkan di bawah guyuran hujan. Karena terlambat mencari kawasan berteduh, kulihat pakaian Hesti sudah cukup berair terkena guyuran Hujan. Sedang aku, alasannya yaitu mengenakan Jaket kulit, hanya celana ku saja yang basah.Segera kulepaskan jaket yang kukenakan, dan kukibaskan biar air yang melekat di penggalan luarnya mengering. Kusampirkan jaketku di pundak Hesti yang kulihat mulai menggigil kedinginan. Tangannya menyilang di depan dadanya. Kurapatkan jaketku biar ia bisa merasa lebih hangat. Ia melihat ke arahku dan megucapkan terima kasih dengan bibir yang sedikit gemetar menahan dinginnya suhu udara malam itu.
Ku perhatikan keadaan warung tersebut. Warung semi permanen itu dibangun dengan setengah tembok, setengahnya lagi kayu. Lantainya terbuat dari campuran semen dan pasir saja yang tidak di beri ubin . Kulihat kondisinya mulai sedikit berdebu, tampaknya warung ini sudah cukup lama tutup, mungkin alasannya yaitu bangkrut. Memang kulihat di sekitar warung tersebut suasananya cukup sepi, di sebelah kirinya terdapat lahan yang cukup luas yang tampaknya yaitu garasi truk-truk ekspedisi yang malam itu terlihat kosong. Di sebelah kanannya yaitu lahan kosong yang ditumbuhi ilalang cukup tinggi.
Cukup lama kami berteduh di teras warung tersebut, hujan turun semakin deras disertai kilat dan petir. Hesti sering terpekik kala kilat menampakkan cahayanya di langit disertai bunyi petir yang menggelegar. Posisi berdirinya didekatkannya padaku. Aku pun berinisiatif setengah memeluknya dari belakang. Awalnya saya hanya memegang pinggangnya tetapi lama kelamaan saya pun melingkarkan tanganku di depan perutnya. Entah alasannya yaitu terbawa suasana atau kedinginan, Hesti mendiamkan saja perbuatanku itu. Kepala dan punggungnya malah di sandarkan ke dadaku. Aku terus memeluknya dari belakang sambil melihat ke arah jalan raya di mana kemudian lintasnya semakin sepi. Sudah satu jam kami berteduh di kawasan tersebut. Tidak ada satupun dari kami yang besuara, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sambil memeluknya dari belakang, saya mencium kedaluwarsa harum rambutnya yag tergerai basah. Karena posisi kami yang berhimpitan, mau tidak mau batang kemaluanku melekat di bongkahan pantatnya yang cukup kenyal. Dan sesekali bergesekan. Lama kelamaan hasrat kelelakian ku pun bangkit. Kejantananku bertahap mengeras di balik celana jeansku. Hesti tampaknya menyadari perubahan biologis di tubuhku itu tetapi ia hanya melirikku sekilas sambil tersenyum. Merasa menerima lampu hijau saya mulai berani untuk berbuat lebih. Segera kususupkan tanganku ke balik blus batiknya dan mengusap usap dengan halus dinding perutnya. Kurasakan otot-oto perut yang cukup liat dengan kulit yang halus. Bener-benar aduhai bodi si hesti batinku.Hesti sedikit mengelinjang ketika telapak tanganku menyentuh kulit perutnya.
Cerita Sex - Karena malam makin cuek dan hasrat kelelakianku terus bergejolak, ku beranikan diri tanganku main lebih ke atas. Dengan cepat kususupkan ke balik bra yang dikenakannya. Hesti cukup kaget dengan apa yang kulakukan dan berusaha berontak dan menepis kedua tanganku, tetapi dengan tidak kalah cekatan, saya memeluknya lebih keras dari belakang dan kedua telapak tanganku mencengkram dengan cukup besar lengan berkuasa payudaranya. Kurasakan payudara itu mempunyai daging yang begitu kenyal dan terasa tonjolan puting susu yang makin mengeras. Segera saja saya mengusap usap puting dan payudara Hesti dengan telapak tanganku. Akhirnya pertahanan Hesti pun melemah, nafasnya mulai tersengal-sengal. Kuciumi leher jenjangnya dan ia pun menggelinjang sambil merintih tertahan
“aaahhhh….”
Karena badan Hesti yang menggelinjang, tubuhku pun sedikit terdorong ke belakang dan tersandar pada pintu warung. Tiba-tiba kunci pada pintu warung itu terlepas di karenakan dudukan kayu kawasan kait gembok pengunci warung tersebut sudah lapuk tergoda rayap. Pintu warung itu pun terdorong sedikit terbuka.
Aku segera menghentikan kegiatanku dan segera menarik kedua tanganku dari balik bajunya. Segera kuambil senter kecil yang selalu kubawa dari kantong jaketku. Kudorong pintu warung itu biar terbuka lebih lebar, dan segera kusinari seisi ruangan itu dengan cahaya senterku. Ruangan di dalam warung itu berukuran 3 x 3 meter.Di dalamnya sudah kosong hanya ada sebuah lemari beling yang sudah usang, mungkin bekas kawasan meletakan barang dagangan. Sebuah dingklik kayu menyerupai dingklik yang biasa kita temui di sekolah dasar dan di pojokan ada sebuah bale/dipan yang terbuat dari potongan-potongan bilah bambu berukuran 1,5 x 2 m.
Ruangan itu sedikit berdebu dan di langit-langit kutemukan fiting lampu yang berisi bohlam kecil berdaya 5 watt dan saklar model tarik. Ku tarik saklar tersebut dan ternyata lampu itu masih menyala, entah menerima pasokan listrik dari mana, mungkin ada sambungan dari garasi truk di sebelahnya.
Ruangan itu menjadi lebih terperinci walau cahayanya masih temaram. Suhu dalam ruangan tersebut lebih hangat di banding di luar. Segera saja Hesti kuajak masuk ke penggalan dalam warung. Hesti agak ragu, tetapi kutarik lengannya biar ia segera masuk. Jauh lebih baik dan hangat di dalam di banding di luar.
Hesti meniup sedikit debu yang melekat pada bale-bale dan ia pun duduk di sisi bale tersebut. Aku segera menutup pintu warung dari dalam biar ruangan menjadi lebih hangat, dan saya pun duduk disamping Hesti, lama kami melongo sambil menelisik dengan seksama keadaan ruangan tersebut.
Akhirnya saya teringat akan permainan kami yang terputus di luar tadi. Hesti kemudian membuka jaket yang di sampirkan di bahunya dan meletakkan di sandaran kursi kayu. Aku segera menggeser tubuhku dan memposisikan tubuhku berhadapan dengan Hesti. Hesti terlihat manis di bawah cahaya temaram lampu 5 watt, rambutnya sedikit awut-awutan dan basah.
Cerita Sex - Segera saja kuraih tengkuk Hesti dengan tangan kananku dan mendekatkan wajahnya ke padaku. Segera kulumat bibir Hesti yang telah merekah. Sementara tangan kiriku melingkar di pinggangnya. Cukup lama kami berpagutan dengan posisi duduk saling berhadapan.
Aku pun mulai merebahkan badan Hesti ke bale-bale sambil lisan kami tetap berpagutan. Kugeser tubuhnya agak ketengah dan ia pun mengangkat kakinya naik ke atas bale-bale. Sudah tak kupedulikan lagi debu tipis yang melekat di bale tersebut. Hasrat kami jauh lebih menggebu di banding debu.
Sambil terus mengulum bibirnya, lidahku dengan liar mengeksplore rongga lisan Hesti. Ku susupkan kembali tanganku ke balik blouse nya dan berusaha meraih payudaranya. Kumainkan lagi puting susu itu dengan telapak tanganku walapun blouse dan bra masih melekat di tubuhnya. Namun lama kelamaan posisi itu tidak membuatku nyaman. Kuhentikan pagutan bibirku dan segera kutarik ke atas blouse batiknya. Hesti mengangkat tangannya ke atas dan mengangkat sedikit kepalanya. Blouse itu pun lolos dari tubuhnya. Setelah blouse nya terlepas, segera kuraih kait bara di punggung Hesti. Ia sedikit melengkungkan punggungnya biar tanganku praktis meraih dan melepas kait bra yang dikenakannya. Bra itu pun akibatnya terlepas. Kini tampak di hadapanku badan Hesti yang setengah telanjang dengan bentuk payudara yang bundar tepat dan puting susu yang tidak terlalu besar berwarna coklat muda mendekati merah muda. Sesaat saya terpana dengan keindahan badan Hesti.
Hesti sadar saya memperhatikan tubuhnya lekat-lekat, ia pun mendekapkan tangannya menutupi payudaranya. Aku segera manarik tangan Hesti ke atas dan menahannya dengan tanganku. Payudara itu kembali mencuat dengan puting susu yang tampaknya menantang untuk di hisap. Segera saja ku dekatkan wajahku ke payudaranya dan ku hisap puting susu payudara sebelah kirinya. Hesti melenguh dan punggungnya melengkung mencicipi nikmat dari rangsangan yang kuberikan. Tanganku tetap menahan tangan Hesti di atas. Mulutku terus menghisap puting susu dan memainkan nya dengan lidahku bergantian di kedua payudaranya. Hesti menggelinjang makin hebat, kepalanya tergolek ke kanan ke kiri dengan lisan yang terus meracau menahan nikmat.
“Aahhh…..ouuhhh….issshhhh….”
Cukup lama saya memainkan kedua payudaranya. Setelah puas saya pun mulai membuka kancing dan retsleting celana jeans Hesti kemudian meloloskannya melewati kedua tungkai kakinya. Celana dalam hitam berenda yang dikenakannya kulepas juga. Di hadapanku sekarang tampak gundukan daging yang ditumbuhi bulu halus yang tersusun rapi. Terlihat garis yang membentuk belahan memeknya berwarna kemerahan. Liang vagina itu terlihat sempit, hampir tidak percaya jikalau Hesti sudah pernah melahirkan.
Dengan setengah berlutut di hadapannya, Kurenggangkan kedua pahanya dan kudekatkan wajahku ke liang vaginanya. Segera saja ku sapukan dengan lembut lidahku ke liang vaginanya. Hesti kembali menjerit dan punggungya kembali melengkung. Ku mainkan lidahku terus menembus liang vagina. Vagina itu benar-benar rapat dan wangi. Terus saja kusapukan lidakhku menerobos lobang kenikmatannya dan sesekali menyentuh klitorisnya. Hesti terus merintih dan menggelinjang. Liang itu benar-benar berair oleh cairan kewanitaannya. Kurasakan kedutan halus otot-otot vaginanya di lidahku.
Cerita Sex - Cukup lama Hesti menghisap kontolku, akhinya ku cabut perlahan batang kontolku dari mulutnya dan kurebahkan badan Hesti ke bale-bale. Kudekatkan kepala kontolku yang sudah berair oleh air liurnya ke arah liang vagina Hesti. Kedua paha nya di renggangkan dan lututnya di tekuk. Liang vagina itu sedikit merekah. Terlihat berwarna merah muda dan berkilat berair oleh cairan yang membanjirinya. Perlahan ku tempelkan kepala kontolku tepat di pintu masuk liang vaginanya.
Ku majukan perlahan pinggulku dan kepala kontolku pun meyeruak masuk mencoba menembus pertahanan Hesti. Terasa sempit. Hesti pun menyerupai nya menahan rasa sakit. Ketika batang kontolku terbenam setengahnya di liang vaginanya. Kucoba memaju mundurkan batang kontolku perlahan. Akhirnya dengan sedikit paksaan, batang kontoku terbenam seluruhnya dalam liang vagina Hesti. Hesti menjerit tertahan mencicipi tubuhnya di masuki batang kontol yang cukup besar.
“aaacchhhhh…..iiissshhhhttt…..ooouuuuchhhh.”
Saking sempitnya, vaginanya terlihat menggembung, sesak menampung batang kontolku.
Kudiamkan sesaat batang kontolku di dalam vagina Hesti. Merasakan sensasi kedutan-kedutan halus otot vaginanya yang mencengkram erat seluruh batang kontolku. Sunggung sensasi yang tidak terkira.
Perlahan ku maju mundurkan pinggulku lagi dan penisku terlihat bergerak maju mundur di liang vaginanya. Batang itu terlihat berair berkilat dilumuri cairan kewanitaan Hesti. Semakin lama kupercepat gerakan pinggulku dan Hesti pun makin meracau dan merintih mencicipi kenikmatan persetubuhan kami.
“Aaacchhhhh……ooouuchhhh…..acchhhhh……sssttt……mmmaaa asss….”
Terus saja kuhujamkan batang kontolku ke vagina Hesti. Posisiku setengah berlutut di topang kedua tanganku yang diposisikan mengapit kedua payudara Hesti. Daging kenyal itu bergesekan dengan kulit lenganku mencipatan sensasi tersendiri. Payudara itu terus berguncang mengikuti irama sodokan pinggulku.
Serunya aktifitas kami di atas bale-bale membuat bunyi berderit yang cukup riuh di ruangan tersebut. Belum lagi bunyi nafas kami yang memburu dan rintihan serta bunyi Hesti yang terus meracau, membuat suara-suara di malam sunyi itu.
Tiba-tiba Blackberry Hesti berdering, Hesti agak kaget. Segera di raihnya Blackberry yang diletakan di dalam tas tak jauh dari tubuhnya. Terlihat nama suaminya di layar BB. Hesti member instruksi dengan telunjuknya, memintaku biar berhenti sesaat menggenjot tubuhnya.“iya mas…..” jawab Hesti.“Aku masih di jalan, ini lagi berteduh. Aku numpang sama temen naik motor,” Hesti pun berbohong pada suaminya“Iya sebentar lagi saya jalan,” tutupnya.Begitu bunyi percakapan Hesti dengan suaminya di telepon.
Ketika mendapatkan telpon, saya tidak menghentikan genjotanku, saya hanya mengurangi temponya, sehingga ia pun berbicara sedikit tertajah biar tidak hingga merintih. Di cubitnya perutku, sambil merajuk.
“Hampir aja ketahuan,’ ungkapnya lagi.
Tidak tampak perasaan bersalah di wajahnya walau vagina yang seharusnya menjadi hak suaminya tengah di masuki oleh kontol tetangganya. Tampak birahinya yang menggebu mengalahkan logika dan kebijaksanaan sehatnya. Segera saya menggenjot kembali pinggulku denga tempo yang lebih cepat. Hesti kembali merintah dan tak lama ia pun menjerit panjang sambil meremas lenganku dengan kerasnya. Di bawah sana terasa kedutan dan otot vaginanyamencengkram makin keras di barengi dengan punggungnya yang sedikit melengkung menahan ledakan kenikmatan yang dirasakannya. Hesti mencapai klimaksnya.
Sumber : Internet, Pornografivagina Hesti mencengkram dengan erat tampaknya enggan melepaskan batang kontolku. Hujan di luar makin reda seiring berakhirnya pertempuran kami. Suhu ruangan tidak lagi cuek namun panas diiringi bunyi nafas yang terengah-engah.
Perlahan saya melepaskan bibir Hesti dan mengeluarkan batang kontolku dari vaginanya. Terlihat batang kontolku sangat basah. Dan kulihat lubang memeknya yang tadi sempit sekarang merekah menyerupai bunga dan terlihat lelehan cairan putih spermaku. Aku pun bangun berdiri dan mulai berpakaian. Hampir satu jam kami bersetubuh di warung itu. Hesti tampaknya benar-benar kepayahan. Aku pun membantunya untuk bangun dan mengenakan pakaiannya.
Kepalanya di sandarkan di bahuku dan kupapah tubuhnya menuju motor yang terpakir di luar. Dengan lembut Hesti mencium pipiku sambil berbisik “Besok lagi ya sayang………”
Selamat membaca, semoga terhibur dengan Cerita Sex di atas. Jangan lupa bookmark web Video Hot, Video Sex, Video Seks, Video Mesum, Video 17, Video Porno, Video Bugil, Video Ngentot, Video Bokep, Video Dewasa, Video ABG, Film Bokep, Film Porno, Film Dewasa, Cerita Sex , Cerita 17 Tahun, Cerita Bokep, Cerita Dewasa, Cerita Hot, Cerita Hot, Cerita Kenikmatan, Cerita Ngentot, Cerita Porno, Cerita Artis, Cerita Tante, Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Sex Dewasa, Tante Girang, Cerita Seks Tante, Ngentot Memek, Cersex, Cerita Ngentot, Cerita Janda, Cerita ABG, Cerita 17, Cerita Mesum
0 Komentar