Cerita Dewasa Nurul Gadis Berjilbab Adik Iparku -Namaku Arif, saya bekerja di sebuah kantor BUMN. Aku sudah menikah selama 3 tahun dengan istriku. Walau kami belum dikaruniai anak, kami sangat senang lantaran istriku yaitu orang yang cendekia sekali menyenagkan suami. Sepertinya tidak ada habisnya sensasi, gaya, dan teknik yang istriku peragakan setiap kami bergumul di ranjang.

Aku 7 tahun lebih bau tanah dari istriku yang kini berusia 28 tahun. Beberapa waktu lalu, rumah kami semakin berwarna ketika adik bungsu istriku yang kuliah kedokteran di salah satu perguruan tinggi tinggi negeri tengah menjalankan Koass di salah satu Rumah Sakit negeri yang kebetulan berada bersahabat dengan rumah kami. Umurnya masih sangat muda sekitar 22 tahun, ia termasuk mahasiswi yang cerdas lantaran sanggup merampungkan studi sempurna pada waktunya. Jika dilihat dari wajahnya, ia lebih anggun dari istriku, ditambah wajahnya yang teduh dan keibuan. Walaupun tubuhnya saya taksir tidak sebagus badan istriku tapi masih diatas rata- rata perempuan pada umumnya. Perbedaan lainnya, jka istriku senang berpakaian seksi dan menarik lawan jeNurnya, apalagi ditunjang dengan badan yang sangat aduhai. Adik dari istriku ini malah sebaliknya, ia menutupi kecantikannya dengan pakaian yang sangat longgar dan jilbab yang lebar. DItambah manset dan kaus kaki sehingga saya hanya sanggup melihat wajahnya yang putih higienis dan telapak tangannya. Bahkan setiap saya ada di rumah ia tidak melepaskan jilbab dan kaoskakinya walau barang sebentar. Naman gadis anggun itu yaitu Nurul. Kami lalui hari dengan wajar, saya sanggup berangkat terlebih dahulu dengan mengantarkan istriku ke kantornya. Sedangkan Nurul terbiasa berangkat terakhir lantaran letak Rumah Sakit yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Walau dalam hati saya menyimpan ketertarikan pada Nurul. Aku semakin bernafsu ketika melihat tingkahnya yang sopan, murah senyum, dan lenggok pinggulnya ketika berjalan walau saya yakin bukan maksud ia untuk melaksanakan itu. Inner beauty yang terpancar ditambah talenta kecantikan den kemolekan tubuhnya selalu ia jaga dengan baik. Katanya hanya untuk suaminya saja, bahkan ia tidak mau pacaran walau saya yakin niscaya banyak pria yang menginginkannya. Jilbabnya yang lebar itu tidak sanggup menutupi lekukan dadanya yang membusung. Jika istriku berukuran 38 B saya taksir besar tetek adik istriku itu sekitar 36 B. Tingginya yang semampai hampir mencapai 165 cm ditunjang badan yang tidak kurus juga tidak gemuk menciptakan mata pria manapun niscaya akan terkesima. Apalagi jikalau dirumah saya sering melihatnya hanya memakai daster saja walau wajah dan kakinya tidak sanggup saya lihat, tapi saya sanggup membayangkan bagaimana tubuhnya. Terkadang ketika saya bergumul dengan istriku saya membayangkan sedang melaksanakan dengan Nurul, sikapnya yang tertutup pada pria dan selalu menutup tubuhnya semakin membuatku penasaran. Hanya saja saya masih menghargainya sebagai adik dari istriku, dan sikapnya yang menjaga diri. Gayanya dan sikapnya yang renyah menciptakan siapapun jadi tidak sungkan untuk mengenalnya lebih bersahabat denganna walau ia tetap menjaga jarak. Suatu hari, sepulang kantor saya membuka DVD Blue Film yang gres saya pinjam dari teman kantorku, Blue Film yang saya tonton degan memakai komputer cukup bagus dimana Film tersebut tidak terlalu vulgar dan seronok yang menciptakan orang jijik. Itu membangkitkan gairahku, kudekati istriku yang sedang menonton tivi di ruang tengah, saya mulai mencumbunya dan ia pun membalas cumbuanku, tiba-tiba ku dengar pindu depan terbuka, niscaya Nurul gumamku. “Tumben jam 9 gres tiba Nur?” Tanya istriku, “Iya mbak, tadi praktik bedah dulu. O ya mas, boleh kan saya pakai ruang kerjanya, saya mau buat laporan” lanjut Nurul. “Silahkan aja, pakai sebabasnya dan jangan canggung disini” ujarku sambil menahan birahi yang gres saja naik. “Terima kasih ya mas” ucapnya. Setelah Nurul masuk kamar kamipun segera melanjutkan kegiatan kami dan pindah ke dalam kamar kami. Pergumulanpun semain seru lantaran istriku mulai mengeluarkan jurus- jurus barunya. Tapi tidak perlu ku ceritakan lantaran bukan ini inti dongeng yang akan saya ceritakan. Setelah kami puas kamipun tertidur. Aku terbangun sekitar pukul 1 dini hari, kulihat istriku masih terlelap kelelahan tanpa sehelai benangpun disebelahku. Aku keluar kamar untuk mengambil air minum dan mengusut kondisi rumah. Kulihat sekilas Nurul masih di ruang kerjaku dan masih di depan komputer, sesudah kupastikan semua pintu terkunci dan saya mengambil segelas air. Aku mulai perhatikan Nurul yang tampaknya tidak mengetahui keberadaanku. Aku puji kecantikanya dalam hati. matanya yang lentik, bibirnya yang tipis dan menawan. Namun…tiba-tiba saya melihat sesuatu yang ganjil. Mata Nurul masih memandangi layar komputer ketika itu, tapi tangannya mulai menyusup dibalik jilbabnya. Dari pergerakan tangan yang tertutup jilbabnya itu saya tahu apa yang ia lakukan. Dia meremas-remas teteknya sendiri, ku lihat matanya setengah terpejam bibirnya terbuka. mungkin ia sedang mencicipi sensasi yang gres ia rasakan. “mhh.. uuhhhmmm… aaahhh….” ku dengar desahan samar dari mulutnya, saya segera bergegas ke kamar untuk mengambil Handhone ku dan segera merekam insiden langka ini. Tangan kanan Nurul masih terus meraba teteknya, kini rabaannya kian keras dan bersemangat dan tidak hanya itu saya lihat sepintas tangannya melepas kancing daster belahan atasnya, dan saya yakin ia memasukkan tangannya ke dalam teteknya. Kejadian itu terus saya rekam. Sesekali Nurul melengguh “uuhh …aahhh… mhh… ..oohh…” matanya terus terpejam, bibir bawahnya ia gigit, terkadang kepalanya tergeleng ke kanan dan ke kiri. Ternyata tidak selesai disitu, tangan kirinya mulai menuju ke selangkangannya, ia meraba memeknya sendiri dari luar dasternya. ku lihat jari tengahnya terus menggosok belahan tengah memeknya, saya zoom kamera HPku, dan melihat secara close up apa yang sedang ia lakukan. Nurul mulai menarik dasternya ke atas, walau masih menggunkan kaus kaki mulai terlihat betis atasnya yang sangat putih, sedikit-demi sedikit daster tersebut tertarik ke atas oleh tangan kiri Nurul. Pahanya yang putih mulus mulai tersingkap, kontolku mulai tegang melihat pemandangan iu. Sampai kesannya tangannya berhenti ketika daster mulai hingga di belahan perutnya. Dan terpampanglah celana dalam Nurul yang berwarna putih. Tangan kiri Nurul terus bergerak masuk ke dalam celana dalamnya. Ku lihat tangannya terus bergerak-gerak diantara selangkangannya. Desahannya semakin menjadi, rangsangan yang sungguh andal menciptakan ia tidak mencicipi keberadaanku. “Auuuuww… oohh… .ahhh… .eehhhmmm… yyaaahhh ” racaunya. Sungguh pemandangan yang belum pernah saya lihat seorang perempuan berjilbab yang tengah bermasturbasi tanpa melepaskan jilbabnya. Dulu ketika kuliah saya pernah mengintip anak ibu kosku yang melaksanakan itu, tapi itu kurang menantang lantaran anak ibu kos ku itu sering mengumbar auratnya dan punya affair dengan salah satu teman kosku. Tapi ini pemandangan yang berbeda dan sungguh luar biasa. Gerakan tangan kiri Nurul di memeknya semakin cepat, dan remasan ajun di teteknya semakin kuat. Ingin rasanya saya membantunya, tapi masih sibuk merekam dengan kamera handphoneku. Sesaat kemudian saya lihat ia mulai menghentikan aktifitasnya, nafasnya naik turun teratur, matanya masih terpejam, tapi saya tidak tahu apakah ia telah mencapai puncak kenikamatan atau belum lantaran saya tidak mendengar jeritan yang biasanya menjadi ciri perempuan ketika orgasme. Sebelum ia sadar saya segera bergegas menuju kamarku, dan mulai mereview kembali dari HPku apa yang gres saya saksikan tadi. Tanpa sadar saya melakukannya sambil beronani, hingga orgasme beberapa kali. Aku gres menyadari DVD Blue Film yang gres saya pinjam tadi, ternyata masih tertinggal dalam komputerku, saya yakin tadi tanpa atau dengan sengaja ia melihatnya. Aku yakin lantaran dalam DVD itu ada adegan perempuan yang melaksanakan masturbasi, mungkin ia mengikutinya. Keesokan paginya, semua tampaknya biasa dan nampak wajar, istriku masih sibuk berdandan, maklum dandannya sanggup hingga 2 jam sendiri. Aku memulai sarapan tanpa menunggu istriku, kemudian ku lihat Nurul sudah rapih dan keluar dari kamarnya. Dia sangat anggun dengan dandanannya yang sederhana, hanya berbalut bedak tipis dan lip glose seperlunya. Tapi ini yaitu pemandangan fantastis, perempuan yang apa adanya saya lihat menjadi jauh lebih anggun dibandngkan yang ber- make up. Jilbab warna pink dipadu kemeja putih dan rok panjang warna senada dengan jilbabnya menciptakan ia semakin cantik. Diapun tanpa mencicipi apapun memulai sarapan paginya. Aku membuka dialog pagi itu “Gimana Nur? laporannya selesai semalam?”, “Sudah selesai mas, terima kasih ya ruangan dan komputernya” katanya tenang. “Ngerjain laporan atau ngerjain yang lainnya?” sindirku, Nurul pribadi termenung dan menghentikan kegiatannya yang sedang mengambil nasi dari rice cooker. Wajah putihnya mulai bersemu merah, mungkin ia mulai menyadari saya melihat apa yang dilakukannya. “Tenang saja, kita kan sama- sama dewasa, tahu sama tahu lah dan saya pun tidak akan ceritakan ini ke kakakmu” ujarku sambil ku perlihatkan hasil rekaman di HPku. Wajah Nurul semakin tegang, keringat mulai membasahi wajahnya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, saya tahu ia sedang bingung, malu, dan mungkin takut juga. “Mungkin lain kali kalu mau jangan sendiri, saya siap membantu kau hingga kau puas” Bisikku. Tanpa menjawab ia pribadi beranjak dari kursinya dan menyambar tasnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, yang saya tahu matanya yang berbicara, matanya nampak mulai penuh dibasahi air mata yang hendak meloncat keluar. Malamnya, saya berlaku menyerupai biasa menyerupai tidak terjadi apapun. Sedangkan Nurul menyerupai agak sungkan dan kaku setiap bertemu denganku. “Pah, tidur yuk, mamah dah ngantuk banget nich”, “Ya sudah tidur aja dulu, nanti papah menyusul”. Setelah kulihat istriku sudah tertidur lelap, saya beranikan diri mendekati kamar Nurul, yang nampaknya masih menyala terang, tampaknya ia masih belajar. Tok… tok… tok… saya mengetuk pintu kamarnya. “Siapa?” sahutnya dari dalam, ketika ia buka pintu kamarnya, saya segera mendorong pintu itu sehingga Nurul agak tersungkur kebelakang. Aku kunci dari dalam pintu kamarnya, “Mass… .mas mau apa? keluar dari kamarku”, “Kamarmu? apa kau lupa kau tinggal dimana?” sahutku agak tinggi, ia terdiam. “Kamu mau videomu tersebar kemana-mana? bahkan wajahmu close up di video itu, semua orang akan melihat apa yang kau lakukan”, “A …apa mau mas?” ucapnya terbata. “Aku hanya mau kau memuaskanku malam ini…”, “Ja… jangan mas, saya masih perawan, saya lakukan apa saja asal bukan melaksanakan itu”, “Buka!” perintahku ketika kontolku sempurna berada di hadapan wajahnya. Dia mulai membuka celana pendek yang saya kenakan hingga ke lutut, Nurul agak terperangah meihat kontolku yang mulai tegang dan begitu menonjol seakan celana dalamku tidak sanggup memuatnya. Dengan bergetar tangannya menurunkan celana dalamku dan kemudian menurunkannya hingga ke lutut. Tampak kini dihadapannya kontolku yang telah tegak mengacung bagaikan sebuah tombak yang siap dihujamkan. Tampak ragu ia meraih kontolku dengan sambil menundukkan kepalanya. Akupun meraih tangannya yang halus, dan menyentuhkannya ke kontolku, rasanya sangat nyaman, dimana kulit lembutnya menyentuh kontolku yang sudah mengeras, kokoh, otot-otot yang keluar menambah kesan sangar. Wajahnya tertunduk dan mulai tersedu, tapi saya tak menghiraukan, saya maju mundurkan tangannya, hingga beberapa ketika saya tak perlu menuntunna lantaran tangannya sudah faham apa yang harus dilakukannya. Nurul pun mulai berani menaikkan wajahnya dan menatap kontolku. Tak berapa ketika saya mencicipi sesuatu yang ingin melesak dari dalam tubuhku, hingga akhirnya…”aahh …..” saya melengguh disertai keluarnya sperma dari kontolku. “aaaauuwww ….” Nurul tersentak kaget ketika spermaku keluar. Karena ia berada sempurna didepan kontolku, muncratan spermaku mengenai wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan sebagian lagi ke jilbabnya. Aku tersenyum puas kemudian ku tinggalkan Nurul yang masih terpaku. Esoknya saya melaksanakan hal yang sama. kali ini, saya tidak perlu membentak dan memerintahkan, Nurul sudah mengetahui apa yang harus ia lakukan. Walau agak ragu, ia mulai berani menurunkan celanaku sendiri, hingga celana dalamku, dan memulai belaian lembut pada kontolku. ia tidak aib dan canggung menyerupai kemarin walu masih nampak wajah takut dan terpaksa melaksanakan itu. Aku memegang tangan kanannya, sambil membiarkan tangan kirinya tetap menggenggam kontolku yang hampir tak tergenggam tangan mungilnya lantaran diameternya yang hampir mencapai 7 cm. AKu renggangkan telapak tangannya dan saya tuntun melaksanakan gerakan mengusap pada ujung kontolku, telapak tangannya mengusap dengan melaksanakan gerakan memutar di ujung kontolku menyerupai yang sering istriku lakukan. Hal ini memberiku sensasi yang lebih, apalagi yang melaksanakan yaitu seorang perempuan yang polos ihwal seks, alim dan selalu berjilbab, menjaga dirinya dan menutupi tubuhnya. suatu sensasi yang sangat luar biasa. Aku kembali mencapai puncak dan memuntahkannya diwajahnya. Kegiatan itu sering kami lakukan tanpa sepengetahuan istriku hingga beberapa waktu lamanya. Pagi ini saya gres hingga dari kantor lantaran menerima giliran piket, lantaran itu siang ini saya menerima libur. Sampai di rumah suasana masuk akal setiap pagi menyerupai yang telah menjadi rutinitas. Istriku sudah siap berangkat ke kantor, dan taksipun telah menunggunya diluar. “Pah saya berangkat dulu ya..” sambil menciumku, tubuhnya indah dibalut blazer ketat dan rok yang sangat pendek, ahh…itu pemandangan biasa. “Mah…sekalian kunci ya pintunya” ujarku, “Nanti saja, Nurul belum berangkat, biar ia saja yang kunci pintu…” ungkapnya sambil berlalu. “Hah..Nurul masih di rumah..padahal biasanya ia sudahberangkat pagi- pagi sekali” bisikku. “Kreeekkk… blak” kulihat intu kamar yang dibuka dan kemudian di tutup, ku lihat Nurul mengenakan jilbab warna puti hingga dibawah sikunya, gamis pink warna kesukaannya dan rok puti…manset dan kaos kaki putih pun sudha menghiasi lengan dan kakinya. Dia terperanjt melihatku sudah di dalam, ia pribadi menundukkan wajahnya dan bergegas menuju pintu. “Nggak makan dulu Nur?” sahutku memecah keheningan,”Ngga mas..di RS aja, ngga lezat sudah telat…” sambil terus menundukan wajahnya dan berlalu. “Eii… ttt…mau kemana?santai dulu di sini”, “Jangan mas…aku udah telat ke RS, nanti residentku marah” sahutnya ketakutan, “Apa peduliku…!”, pribadi muncul niat di pikiranku, “Kamu mau video itu tersebar? kau ingat? kau tingga di rumah siapa? akan tinggal makan, tidur tinggal tidur…”, wajahnya semakin memerah sangat terang lantaran kulitnya yang putih tidak sanggup menutupinya. “Kamu juga harus punya pengorbanan…” kemudian saya duduk di sofa depan TV yang biasa kami gunakan untuk menonton, saya masih berkemeja lengkap. “sini … duduk didepanku”, ia pribadi memahami perintahku, wajahnya masih tertunduk, dan sama sekali tidak melihatku. Tanpa di suruh ia pribadi membuka ikat pinggangku, kemudian celanaku dan menurunkannya hingga ke mata kaki. Ahh… pemandangan yang sangat tidak ingin saya lewatkan, berdua dengan perempuan anggun di rumah, dan yang paling penting, kami tidak melakukannya sembunyi-sembunyi di kamar, tapi di ruang tengah yang sangat luas, saya semakin terobsesi. Tanpa di suruh, Nurul pribadi mulai menggerak- gerakkan tangannya mengocok batang kontolku yang mulai tegak. berapa ketika kemudia, “berhenti… saya sudah bosan dengan cara itu, ganti dengan cara lain!!”, “Cara gimana mas…aku ngga ngerti” ambil terus tertunduk pasrah. “dengan verbal kamu….sekarang ”, saya lihat tubuhnya merespon dengan sangat terkejut perintahku, hal yang tidak pernah sama sekali ia bayangkan. “semakin usang kau melakukannya… semakin terlambat hingga RS…”bentakku . Nurul pun mulai menuruti perintahku, didekatkan bibirnya yang mungil itu ke kontolku, ketika bibirnya yang lembut, hangat dan berair oleh lipglose itu melekat ujung kontolku, saya mencicipi sensasi yang luar biasa. Cara menciumnya pun sangat aneh, lantaran ia tidak pernah melakukannya sama sekali, tapi saya biarkan lantaran di situ seninya, melihat perempuan alim yang masih polos melaksanakan oral sex. Aku tertawa dalam hati, dan menikmati apa yang ada di hadapanku. Mungkin sudah insting, ciumannya mulai mengitari seluruh kontolku, bahkan sesekali ia basahi dengan lidahnya. Dia melakukannya dengan mata yang selalu terpejam, kuberanikan memegang punggungnya, saya rasakan detak jantungnya berdebar sangat keras hingga ke punggung. “ahh… nikmati sekali Nurul sayang… .terus sayang… kulum semuanya… menyerupai kau mengulum permen lolipop ketika kau kecil dulu” ujarku sambil mulai berani mengusap dan membelai jilbabnya. Dengan ragu Nurul memasukkan kontolku ke rongga mulutnya, saya tidak tinggal membisu saya segera mendorong kepalanya semakin masuk, sehingga ia tahu apa yang harus ia lakukan… .Tangaku mulai berani menyusup ke balik jilbabnya, dan menemukan sebuah gundukan yang sangatlembut terbalut bra, “mhh… cuma 34B tapi lembut dan indah sekali” desisku. Nurul terperangah, dan pribadi tangannya memagang tanganku dan menjauhkannya dari dadanya. “Diam!!!” bentakku. Dia terdiam, dan matanya mulai meneteskan air mata. Lalu tangan kananku memegang belahan belakang kepalanya dan memaju mundurkan kepalanya, sehingga bibirnya yang lembut beradu dengan lapisan kulit kontolku, saya mencicipi sensasi yng sangat luar biasa dan tidak pernah saya dapatkan. tangan kiriku kembali bergerilya di teteknya, kali ini tidak ada perlawanan, bahkan ketika saya mulai meremas teteknya yang lembut. Aku mencicipi putingnya semakin mengeras, tanda ia mulai terangsang dan menikmatinya. Sampai beberapa ketika kesannya “aaahh… aauuww…” Aku mengejang, dan seketika muncullah sperma hangat dari ujung kemaluanku. Nurul kaget bukan kepalang, ia berusaha mengeluarkan kontolku dari mulutnya, tapi itu sia-sia lantaran tangan kananku menahannya. Akhirnya spermaku muntah di rongga mulutnya….. ia hanya sanggup tergugu dan membisu dengan verbal yang masih mengemut kontolku. ketika ku cabut, spermaku meleleh dari bibirnya yang manis, dan diapun memuntahkannya… ahhh… indah sekali. ia pribadi berlari ke wastafel untuk memntuahkan apa yang gres ditelannya. ia meludah terus menerus, sambil terus senggukan menahan tangis. Lalu ia pun masuk ke kamar. saya masih menikmati ejakulasi terindah yang pernah saya rasakan, sambil tetap duduk di sofa tengah. Tak berapa lama, Nurul keluar dari kamarnya, dengan jilbab dan gamis yang baru, mungkin lantaran kusut dan terkena cipratan spermaku. Walaupun tetap dengan wajah menunduk, tai ia mulai berusaha bersikap biasa, dan berani mencairan suasana. “Mas… saya berankat dulu”, “Iya… hati- hati ya… rahasiamu kondusif denganku”. Malam harinya saya bergumul andal dengan istriku hingga saya terlelap. Sebenarnya saya ingin sekali segera mempunyai buah hati, tapi itu belum terjadi, ya kini sih saya puas- puasin dulu dengan istri. Saking terlelapnya saya tidak tahu kapan Nurul datang. Jam 2 dini hari saya terbangun lagi, dan menyerupai biasanya saya mengambil minum di kulkas. Ku lihat kamar Nurul masih terang, “mhh… rajin sekali belajarnya”, kemudian ku ketuk pintu kamarnya, libidoku pun mulai naik lagi. “Nur… buka pintunya” ujarku. “I… iya mas…”, agak usang ia membuka pintunya lantaran biasanya ia mengenakan jilbabnya dulu sebelum menemuiku. “belum tidur ya?”, “Belum mas, masih ada tugas… mhh… boleh saya pinjam lagi komputernya mas?”, “Tentu saja boleh…tapikamutahu syaratnya bukan?”, ia terdiam…mungkin bingung, ia tahu arah pertanyaanku, tapi ia tidak ingin melakukannya. Mungkin tidak ada pilihan lagi, seketika ia segera menjalankan tugasnya, anehnya kali ini ia sangat buas mengulum kontolku, ia menyerupai sudah lihai dengan tugasnya, “ah… mungkin ia mencontoh dari DVD BF yang dulu ia tonton di komputerku”, “mulutnya terus membasahi kontolku, terus melaksanakan gerakan mengurut dan merangsang supaya kontolku segera mengeluarkan lahar putihnya. Pemandangan yang luar biasa, dengan daster yang lebar dan mengenakan jilbab kaos putih ang sangat lebar. Dan ia pun hanya membisu ketika dua tanganky menyelinap dibalik jilbabnya dan mulai meremas teteknya. Aku perhatikan mukanya mulai memerah, kadang nafasnya tertahan dan mulai memburu. DIa tarangsang…aku yakin sekali, ia juga insan yang punya hasrat. Sesaat kemdian kontolku mulai bergetar dan segera melesakkan lahar putihnya, Nurul kaget dan impulsif mengeluarkan kontolku dari mulutnya, saya tidka sanggup menahannya lantaran tanganku sedang sibuk meremas teteknya. Seketika spermaku menyembur di wajahnya, mengenai matanya, bibirnya, dan pipinya yang merona merah. “Ahhh ….” saya kaget mendengar kata itu keluar dari bibirnya. “bersihkan!” serta merta bibir dan lidahnya membersihkan sperma yang masih melekat di kontolku. Akhirnya, kegiatan ini sering saya lakukan, walaupun tetap saya paksa, namun ia sudah tidak canggung untuk melakukannya. Bahkan, ia semakin lihai supaya membuatku segera ejakulasi. Mungkin itu ia dapatkan dari pelajaran di kuliahnya, ia tahu titik rangsang yang paling sensitif.
0 Komentar