Cerita Sex: Siti Maemunah

Cerita Sex: Siti Maemunah – Namaku Siti Maemunah,panggil aja saya Mae, saya dibesarkan dari keluarga muslim yang teramat taat, dari kecil saya sudah diwajibkan pakai baju kurung dan berjilbab hingga saya Sekolah Menengan Atas dan sebuah ledakan besar terjadi dalam hidupku ketika saya SMA, saya lebih mengenal diriku lantaran ketika itu pertama kali saya merasakan kehangatan dan kenikmatan tubuh lelaki dari adik papaku.

 saya dibesarkan dari keluarga muslim yang teramat taat Cerita Sex: Siti Maemunah

Dan mulai ketika itu saya paling doyan mencari pengalaman dengan beberapa lelaki Cuma untuk mengetahui rasa dari tiap kontol yang diberikan mereka pada tubuhku. Mungkin lingkungan yang kurang bakir membuatku menjadi selalu ingin tau dan bagiku itu merupakan sebuah perjalanan hidup yang sangat menyenangkan yang tidak kudapatkan dari dunia kekolotan lantaran hidupku menjadi lebih berwarna.

Setelah lepas SMA, saya kuliah di sebuah akademi tinggi islam di Jogjakarta dan di sini saya dikontrakkan sebuah rumah kecil oleh keluargaku lantaran pikir mereka kost-kostan nggak kondusif buatku tapi di kota inilah saya bener-bener menjalani pengalaman yang sangat membuatku lebih hidup. Atas perintah keluargaku yang kurang bakir dan demi menjaga nama baikku sebagai muslimah di kampung ini saya kadang ikut pengajian bersama ibu-ibu dan teman-temanku sesama jilbaber yang lainnya.

Di sini ada seorang Uztad yang tidak mengecewakan sudah berumur dan sering memberi pengajian kepada masyarakat di kampung ini. Namanya Pak Haji Mahmud Fathoni, orang-orang sering memanggilnya Uztad Mahmud, perawakannya ibarat orang Arab, tinggi besar dengan usia sudah 50 th-an, kata ibu-ibu sini sih dulu ibunya diperkosa orang Arab ketika ikut kerja di sebua toko kain di Jogja.

Dalam menawarkan pengajian terkadang ia dibantu oleh seorang tenaga yang terhitung masih saudaranya yaitu Pak Muh Ismatullah, sebut saja Pak Is, tidak jauh beda umurnya dengan Uztad Mahmud tapi orangnya lebih gempal. Walaupun bisa ngasih ceramah macam-macam tapi saya tidak terlalu mempedulikannya, toh sama-sama insan yang belum pernah pulang pergi Neraka-Jogja PP kan? Lagian seringkali saya ketahui mereka mencuri lihat atau menatapi tubuhku ketika pengajian lantaran kadang saya menggunakan kemeja yang agak tidak mengecewakan ketat sehingga tetekku lebih tercetak.

Ahh.. namanya juga lelaki, semua sama saja kecuali gantungan selangkangannya yang beda-beda,ha..ha.. Suatu ketika pengajian di adakan di rumahku, sehabis selesai saya merapikan gelas-gelas teh di dapur, ibu-ibu dan Uztad Mahmud sudah pada pulang tinggal Pak Ismatullah yang membantu saya merapikan sofa ruang tamuku tapi tiba-tiba saya dikejutkan dengan kehadiran Pak Ismatullah yang menatapku dengan jelalatan.

“Oo Pak Is…. kaget saya melihat bapak tiba-tiba sudah ada disini.” Aku berusaha bersikap sopan padanya.

“Maaf mbak kalau saya ternyata mengagetkan …..”. Dia menjawab tapi tatapan matanya tidak berhenti menatap tetekku. Saat itu saya memang masih menggunakan kemeja lengan panjang yang tidak mengecewakan agak ketat di potongan dada lantaran sebelum pengajian tadi saya gres saja pulang dari Kaliurang bersama sahabat lelakiku, kemudian saya akal-akalan menyibukkan diri mencuci gelas-gelas kotor. Pak Is ternyata masih membisu saja di dapur menatap potongan belakang tubuhku.

“Apakah ada yang kurang Pak Is ?” Akhirnya saya bertanya sehabis sekian usang mendiamkannya.

“Mbak sangat anggun sekali…..dan seksi” Pak Is menjawab. Aku terkejut dengan jawabannya itu. Jantungku berpacu semakin cepat, saya mulai merinding. Aneh ku rasakan, saya merasa nggak begitu ngeh dengannya padahal saya orang yang doyan banget dengan kontol-kontol asing.

“Jangan-jangan….ah, tidak mungkin…. Semoga ia cuma berkata sebenarnya, hanya caranya mengungkapkan ibarat orang yang ingin memperkosaku bulat-bulat. Tanpa basa-basi.” Aku berusaha menenangkan degup jantungku.

“Terimakasih…..” saya menjawab dengan sedikit gemetar.

“Sebenarnya Mbak sangat menggairahkan, setiap kali saya di bersahabat Mbak niscaya zakar saya terbangun. Saya masih yakin sanggup memuaskan Mbak.” Pak Is berkata tanpa basa-basi. Deg…. Dugaanku ternyata benar, saya takut sekaligus murka dengan Pak Is lantaran caranya yang kurang sopan, mungkin akan berbeda jikalau ia mau lebih halus tapi sudah kepalang tanggung. Aku menghadapnya dengan mengacungkan pisau dapur yang berada tak jauh dariku.

“Hei Pak Is, jangan kurang bimbing terhadapku. Ingat saya yaitu anak didikmu. Aku bisa melaporkanmu ke Uztad Mahmud lantaran kelakuanmu yang tidak sopan terhadapku” Aku membentak tanpa menghiraukan usianya yang lebih renta dariku. Tanpa-diduga-duga ia memelintir tanganku yang memegang pisau sehingga pisau itu terlempar. Aku mengaduh kesakitan. Tapi tangan kirinya telah memelukku dengan erat. Aku tidak bisa bergerak sama sekali, lantaran himpitan tenaganya yang kuat.

“Kamu kira saya bisa ditakuti dengan mainan ibarat itu…. hah.” Dia kini menelikung tanganku dan mendekapkan badanku ke badannya. Aku gemetar dan tidak terpikir untuk berteriak saking gugupnya. “Aku memang mengincarmu dari dulu, lantaran itu setiap kau tiba ke pengajian saya niscaya selalu berusaha memperhatikanmu, lekuk tubuhmu begitu sintal menggoda. Jika kau berusaha menolak, saya tidak segan-segan mencelakaimu.” Pak Is mengancamku. Aku mulai ketakutan dan kaget lantaran ternyata Pak Is yang selalu membisu dan sopan bisa berkata kasar ibarat itu. Ohh..apakah tubuhku sudah membuatnya begitu bernafsu.

“Aku akan melepaskan pelukanku kalau kau mengerti kondisimu ketika ini.” Pak Is meneruskan. Aku hanya membisu mengangguk. Dia menyeringai dan melepaskan pelukannya. Aku pribadi terduduk di lantai dan menangis lantaran cemas terhadap tubuhku, takut jikalau Pak Is yaitu orang yang suka bersetubuh dengan kekerasan semacam bondage, ngeri membayangkannya. Pak Is tertawa penuh kemenangan. Sedangkan hatiku sangat kalut. Pak Is bisa melaksanakan apa saja terhadapku. Kalau saya melaporkan ia pada Uztad Mahmud atau warga kampung, juga tidak akan dipercaya lantaran ia juga menjadi salah satu orang yang disegani di kampung ini.

“Kamu tidak perlu menangis… lantaran saya akan menawarkan kepuasan batin yang tak terhingga kepadamu. Aku tahu kau sering tidur dengan lelaki kan?bahkan saya tahu kalau kau sering memasukkan lelaki ke rumahmu ini, apa kau ingin keluargamu dan warga di sini mendengarnya….?” Pak Is berkata dengan tenangnya. Deg… jantungku seolah-olah berhenti mendengar perkataannya tadi, memang saya sangat doyan dengan kontol lelaki tapi tidak begini caranya. “Asal kau menuruti kemauanku, jilbab sholekahmu tidak akan terlepas kemana-mana..” Ancamnya, saya menjadi muak oleh lelaki yang bersikap kasar begini kepada wanita. Sambil duduk Pak Is membuka resluiting celananya. Kemaluannya tampak telah membesar dan kini sempurna mengarah di depan wajahku. Akupun kembali membuang muka sambil memejamkan mata. Pak Is mulai memaksa untuk mengoral batang kejantanannya. Tangannya yang keras segera meraih kepalaku yang berjilbab dan wajahku ke depan kontolnya. Setelah itu kemudian Pak Is memaksakan kontolnya masuk ke dalam mulutku hingga hingga pangkalnya dan sepasang buah kontol bergelantungan di depan bibirku.

Dengan agak terpaksa saya membuka mulutku dan mulai menciumi kontol Pak Is, gotong royong ukuran kontol Pak Is hampir sama dengan milik sahabat lelaki yang lain, standarlah tetapi punya Pak Is sedikit lebih panjang dan agak membesar di potongan kepalanya. Akhirnya perlahan saya mulai menjilati dan mengulum kontol itu. “Ohhhh…. Nikmat sekali sayaang…, kau memang pintar” Pak Is mengerang sambil meremas rambut di kepalaku yang masih terbungkus oleh jilbab kemudian ia mendorong dan menarik kontolnya di mulutku. Aku gelagapan lantaran mulutku kini disumpal oleh kontol Pak Is yang tidak mengecewakan panjang itu. Pak Is mulai mengocokkan batang kontolnya dimulutku yang megap-megap lantaran kekurangan udara. Dipompanya kontolnya keluar masuk dengan cepat hingga buah penisnya terasa memukul-mukul daguku. Bunyi berkecipak lantaran ukiran bibirku dan batang kontol yang sedang dikulum tidak sanggup dihindarkan lagi. Hal ini menciptakan Pak Is makin kasar dan makin mempercepat gerakan pinggulnya yang sempurna berada di depan wajahku. Batang kontolnya juga semakin cepat keluar masuk di mulutku, dan sesekali membuatku tersedak dan ingin muntah. Lama sekali rasanya batang kontol Pak Is kukulum dan membuatku makin lemas dan pucat.

Akhirnya tubuh Pak Is pun mengejan berpengaruh dan Pak Is menumpahkan spermanya di wajahku sambil meremas dan mengocoknya sendiri sehingga membasahi wajah dan jilbabku, kemudian dilesakkanlah kontolnya yang masih mengeluarkan sperma itu di rongga mulutku. Hal ini membuatku tersentak dan kaget, ingin memuntahkannya keluar namun pegangan dan remasan tangan Pak Is di kepalaku yang berjilbab sangat keras sekali, sehingga dengan terpaksa saya menelan sebagian besar sperma itu.

“Aaaahhhhhh..,” Pak Is pun mendesah. “Akhirnya saya bisa menikmati mulutmu yang indah sayang……..” Gumamnya sambil tetap membenamkan kontolnya di mulutku untuk kuhisapi. “Ayo ikut aku…..” Pak Is kemudian menarik tanganku dengan kasar. Dengan setengah menyeretku ia membawaku ke kamar tidurku. Didorongnya tubuhku ke atas ranjangku yang empuk. “Hmm. Kamar yang bagus dan wangi…. Cocok untuk kita saling melepas hasrat yang sangat nikmat.” Pak Is mengagumi kamar tidurku yang higienis dan sejuk. Aku tetap berbaring telungkup. Sia-sia saja saya walaupun berontak bahkan mungkin ia bisa menjadi lebih parah, saya masih cemas dengan tubuhku lantaran teringat pernah melihat gadis-gadis di bondage di Blue Film menciptakan saya jengah. Kalau saja Pak Is bisa bersikap halus sedikit, saya niscaya merontokkan kontolnya dengan goyanganku, batinku. Aku gotong royong mau saja dientotin kontolnya tapi caranya menciptakan saya muntah.

“Hei… jangan membisu saja. Bangun sini.” Pak Is membentakku. Aku kemudian bangkit mendekatinya. Dia menyeringai dan berkata. “Lepaskan seluruh pakaianmu dan menarilah.”

“Gila… apakah saya disuruh berstriptease dihadapannya atau menari gambus dengan tubuh telanjang dan masih berjilbab…” Aku semakin gemetar penasaran…. Perlahan-lahan saya mulai melepaskan pakaian yang kupakai. Kubuka kancing kemeja panjangku satu persatu dengan tangan gemetar. Nafas Pak Is nampak sedikit tertahan tegang ketika saya membuka bra warna krem yang kupakai. Aku menggoyang-goyangkan pantatku perlahan-lahan sambil membuka celana dalam yang merupakan potongan terakhir perlengkapan pakaianku.

Aku akan membuka jilbab yang saya pakai lantaran tadi sudah kena spermanya ketika dilarang oleh Pak Is, “Jangan dibuka jilbabmu, kau lebih merangsang kalau begitu dan saya sangat kasar jikalau bisa meniduri wanita-wanita muslimah”. Aku menutupi tetekku dan potongan kewanitaanku dengan kedua belah tanganku sebisa mungkin. Hatiku semakin tidak karuan, antara takut dikasari dan pingin merasakan kontolnya yang tidak mengecewakan panjang itu menerobos masuk liang kenikmatanku. Mata Pak Is semakin beringas “Beruntung sekali saya mendapatkanmu……. Tubuhmu yang putih mulus dan kencang sungguh luar biasa indahnya. Mari sini sayang.” Pak Is menarik tanganku dan membaringkanku telentang. Dia dengan tergesa-gesa melepaskan pakaiannya. Badannya yang hitam menerangkan ia terbiasa bekerja di bawah terik matahari. Kepalaku terasa berkunang-kunang, rasanya saya hampir tidak sanggup menahan insiden ini. Pak Is perlahan-lahan mendekati saya yang tergolek lemas ditempat tidurku. Diambang kesadaran kurasakan sesuatu yang berair merayap menelusuri kakiku dan terus beranjak naik menuju pahaku, tanganku berusaha mencari tahu apa gotong royong yang menelusuri kaki dan pahaku.

Aku tersentak kaget ketika kudapati ternyata pengecap Pak Is melekat di belahan pahaku. “Tenanglah…. dinikmati saja….”, saya menggelinjang dengan lemas, akan tetapi terasa dorongan hasrat menjalari seluruh tubuhku. “Aakkkhhhhh…..Ohhh…..mmmhhhh….” gumamku lirih. Ternyata Pak Is memperlakukan memekku dengan sangat halus tapi belum tentu juga kalau ternyata ia bermain dengan kasar, akan tetapi… Oohhh…nikmat sekali rasanya pengecap orang ini. Tubuhku mengejang, usang pengecap Pak Is bermain dengan memekku dan sesekali ia menyentuh dan menggigit clitorisku yang mulai mengembang dan mengeras. Cairan memekku mulai keluar meleleh berbaur dengan air liur Pak Is yang masih saja menusukan lidahnya ke memekku.

Tiba-tiba tubuhku kembali menegang, dan kurasakan sesuatu menjalar diseluruh tubuhku dan seakan berkumpul dirahimku lalu.. “Oookkhhhh…..hhaagghh…hhaahhhhh….. Aaakkkhh….” erangan panjang dari mulutku mengiringi semprotan cairan hangat yang keluar dari dalam liang memekku dan membasahi verbal Pak Is. Ohh… saya orgasme dengan orang yang mengajariku perihal anutan agama, tapi rasanya nikmat sekali orgasmeku dari Pak Is ini dan saya selalu menginginkan lebih dari itu. Kini tubuhku benar-benar lemas sambil kedua pahaku tetap menghimpit kepala Pak Is dengan nafas yang terengah-engah. Perlahan Pak Is melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan merayap keatas tubuhku yang masih belum bisa membuka mataku.

“Apa kubilang.. nikmat kan?” Pak Is berbisik ditelingaku. “Mbak tahu kalau saya sudah jatuh body ketika pertama melihat Mbak, jadi nikmati saja tanda cinta dari potongan tubuh saya” gumamnya lagi

”Mmmmhhhhh….sssshhhhhh…..” saya masih meracau menikmati arus kenikmatan yang masih mengalir di jiwaku. Dengan lembut ia mencium keningku, hidungku, pipiku dan sambil menghembuskan nafasnya ia menyibak jilbab di kepalaku kemudian mencium belakang telingaku, menciptakan gairah dalam tubuhku kembali berkobar dan seluruh bulu-bulu halus di tubuhku berdiri.

“Bibir Mbak indah..” itu yang terdengar sebelum ia melumat kedua belah bibir sensualku, saya berusaha menghindar tapi nikmat sekali rasanya. Perlahan saya mulai membalas dengan membuka bibirku membiarkan pengecap Pak Is menyeruak masuk kedalam mulutku. Ia melepaskan ciumannya kemudian bergerak menelusuri leherku dan menggigit puting tetekku. “Tetek Mbak sungguh menggairahkan.. kencang sekali sayang..” Ia mengulum dan membenamkan wajahnya di belahan dadaku. saya menggelinjang dan hasratku menjadi lebih berkobar, alhasil kudekap tubuh yang menindih diatasku, Oohhh.. ternyata ia sudah telanjang bulat, kurasakan belahan pantatnya di kedua tanganku. Lama ia menelusuri dan meremas-remas tetekku kemudian memilin-mulin puting tetekku dengan bibirnya.

“Aaaawwww…..sssshhhhhhhhh…..” desahku nikmat. Kemudian Pak Is bergerak berusaha membuka kakiku dan menempatkan tubuhnya diantara kedua kakiku. Dengan reflek kedua tanganku bergerak menutupi selangkanganku, tapi kembali tangan Pak Is menarik kedua tangan ku dan membawanya ke atas kepalaku yang jilbabnya sudah mulai kedodoran. Langsung saja ia menyapu kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu dengan lidahnya, kembali tubuhku menghentak dan menggeliat merasakan sensasi kenikmatan sebagai akhir sapuan lidahnya yang berair itu. “Oookkkhhhhhh….hhhhh…” tubuhku bergetar, sesuatu yang keras berusaha menyeruak masuk lubang kenikmatanku, dan perlahan benda itu mulai karam dalam selangkanganku. Aku mendongak, mataku terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang tiada taranya

“Mmmmmhhhh….sssshhhhh…” dan diakhiri dengan satu sodokan berpengaruh alhasil amblaslah seluruh kontol Pak Is kedalam liang memekku. Tubuhku terasa penuh seakan benda itu menancap sempurna di rahimku, hilanglah sudah pertahanan terakhirku. Tanganku mencengkram erat tubuh Pak Is dan menancapkan kuku-kukuku di pundaknya. Lalu Pak Is mulai menggerakan pantatnya dan mulai mengobok-obok isi liang memekku.

“Okkhhhh…..Mbak……. nikmat sekali.. Kamu… kamu…. begitu rapat…” Pak Is terus mengocok memekku maju dan mundur dan akupun semakin menikmatinya, hilang rasanya rasa bingung dipikiranku takut jikalau Pak Is bermain kasar dengan tubuhku, terobati dengan kenikmatan yang tiada taranya. Mulutku mulai meracau mengeluarkan desahan dan lenguhan.

“Aakhhh….. Paakkk…Iiiss…ssshhhh…. Aduuh…. oohhhhh..akkhh….” usang Pak Is memacu birahinya dan akupun mengimbanginya dengan menggelora, hingga alhasil kembali saya mengejang dan sambil memeluk erat tubuh Pak Is saya kembali menyemprotkan cairan yang meledak dalam rahimku, saya orgasme untuk yang kedua dari Pak Is.

“ Aaaaarrrrggghhhhhhh…..ooohhhh…..mmppphhhhh….. ssshhhh ….hhaahhh…haaahh…..hahhh….ssseerrrrr….sseeerr….”. Untuk beberapa ketika Pak Is menghentikan gerakannya dan memeluk erat tubuhku sambil melumat bibirku. Aku benar-benar menikmati orgasme yang kedua ini, mataku terpejam sambil kulingkarkan kedua kakiku ke pinggang Pak Is. Tak berapa usang kemudian Pak Is mencabut kontolnya yang masih mengacung kokoh dari dalam rahimku. “Ohhhh….” ada sesuatu yang hilang rasanya dari tubuhku.

Perlahan ia bergerak menyamping dan membalikan tubuhku, kali ini saya pasrah dan lemah tak berdaya hanya berdasarkan saja. Kembali ia menaiki tubuhku, kali ini dari belakang dan mulai menusuk-nusukan kontolnya ke pantatku. Akupun menyambut sodokan benda tumpul itu dengan sedikit membuka kakiku dan mengangkat pantat sekallku, cairan yang keluar dari rahimku mempermudah masuknya kontol Pak Is melalui jalan belakang dan kembali menancap di memekku. Ia bergerak sambil kedua tangannya meremas kedua buah tetekku yang sudah menegang dari belakang dan menggenjotkan pantatnya dengan berpengaruh menghantam liang memekku Gesekan demi ukiran kurasakan semakin nikmat menyentuh kulit halus liang memekku, tanganku mencengkeram erat seprei daerah tidurku yang acak-acakan.

“Oouugghhh…. Mbak….Nikmat sekali…… Oookkhhhhh….” Pak Is benar-benar hebat, ia bisa bertahan usang menggauliku dengan aneka macam posisi, sedangkan akupun semakin gila saja meladeni nafsu Pak Is.

Untuk ketiga kalinya saya mencapai titik puncak sedangkan Pak Is mesih saja berpacu diatas tubuhku. Tubuhku melengkung dan kepala berjilbabku terdongak ke belakang, semua sendi tubuhku menegang kencang ketika beberapa cairan kenikmatanku meledak di dalam rahimku dan Pak Is dengan teratur masih menyodokkan kontolnya dengan teratur, “Hhaaahhhh….aaahhhhhhh….oouuucchhhh…..aakhh..aakkhh…. akkhh….ssseerrr…sseerrrrr….hhhhhhhh…..”.

Sekarang posisi tubuhku duduk dipangkuan pria ini sambil mendekap dengan kepala mendongak kebelakang, leluasa ia mencumbu leherku yang mulai sudah berair dengan keringat yang keluar dari seluruh pori-pori tubuhku apalagi saya masih mengenakan jilbabku, semakin gerah rasanya. Seakan tak pernah puas terus saja ia mengulum dan menjilati kedua tetekku, digigitnya kedua puting tetekku dengan giginya bergantian. Kurasakan kontol Pak Is menghujam telak keliang memekku yang mendudukinya. Sodokan demi sodokan kontolnya yang semakin gencar kurasakan menggesek kulit memekku sebelah dalam.

Erangan, desahan dan cengkraman menghiasi gerakannya. Kali ini saya tak mempedulikan lagi siapa pria yang menyetubuhiku, yang terperinci saya ingin terpuaskan dan lelaki pengajar agama ini bisa membuatku melayang. Lama posisi duduk itu berlangsung hingga alhasil tubuh Pak Is semakin gencar menyodok memekku, gerakannya semakin cepat. Pak Is menghempaskan tubuhku kembali terlentang ditempat tidur, tubuhnya mengejang dan memeluk rapat tubuhku hingga saya hampir tak bisa bernafas. Lalu kurasakan semburan hangat dengan kencang membentur dinding rahimku. Ccrroottt….crrooottt….crrroott….

“Aaaahhhhh……aaakkkkhhhhh….Okkhhhhh…..Uuuggghhhhh….aakhh…aakkhh…” Pak Is mengerang panjang sambil menekan pantatnya kebawah dengan keras, kucengkram dan kembali kulingkarkan kakiku kepinggangnya dan akupun melepaskan sisa orgasme yang masih tersisa ditubuhku.

“Oouugghhhh…… ookkhhh….oohhh…ooohhh….hhhhhh…..” Untuk orgasme yang terakhir ini kami berlangsung hampir bersamaan, alhasil dengan terkulai lemah tubuh Pak Is roboh menindih tubuhku yang lemas pula. Lama kami terdiam merasakan sisa kenikmatan itu dan alhasil Pak Is mulai beringsut menjauh dari tubuhku.

“Terima kasih Mbak Mae….” setengah sadar dan tidak kudengar Pak Is membisikan kata-kata itu sambil mengecup keningku. Lalu ia berdiri mematung di samping daerah tidur. Aku tidak tahu kapan ia pergi lantaran sehabis itu saya tertidur lantaran lelah dan kantuk yang menyerangku tanpa mempedulikan keadaan kamar tidurku yang acak-acakan.

Pagi hari saya gres terbangun dari tidurku, tubuhku serasa hancur dan lelah bukan kepalang. Kulihat keadaan diriku terasa sisa sperma yang mulai lengket membanjir di selangkanganku. kulihat banyak sekali cairan sperma Pak Is keluar meleleh dari dalam memekku bercampur dengan cairan rahimku dan membasahi seprei daerah tidur. Setengah merangkak saya menuju kamar mandi membersihkan tubuhku dari bekas keringat dan sperma, guyuran air menciptakan tubuhku sedikit lebih segar walaupun rasa capek itu masih terasa ditubuhku. Kulihat memekku memerah dan bekas cupangan nampak di kedua buah tetekku, usang saya berada di kamar mandi menunggu cairan sperma Pak Is keluar semua meninggalkan liang rahimku. Selesai mandi cepat-cepat kubereskan daerah tidurku dan mengganti seprei serta sarung bantal guling dengan yang masih baru..

Aku masih termenung memikirkan insiden tadi malam lantaran seorang pengajar agama pun bisa membuatku mendesah-desah kenikmatan dan ternyata akupun menikmati permainannya yang sangat nikmat. Aku bisa mencapai orgasme hingga empat kali, kuakui jago sekali permainan Pak Is.

Pada malam hari yang sama pintu rumahku diketuk seseorang. Kupikir temanku biasanya jam makan malam begini suka nebeng makan, saya buru-buru membukakan pintu. Betapa terkejutnya saya melihat Pak Is tiba bersama dengan Uztad Mahmud. Mampus, niscaya Pak Is tetap mengadu kepada Uztad Mahmud perihal kebiasaanku ngenyotin kontol-kontol lelaki, kurang bimbing batinku.

“Selamat malam Mbak Mae….. saya membawa seseorang yang akan menciptakan Mbak merasakan sensasi yang luar biasa.” Pak Is menyeringai kepadaku sedangkan Uztad Mahmud senyum-senyum menyebalkan.

“Bagaimana Mbak, bukankah sudah saya katakan untuk menikmati saja sensasi kenikmatan yang akan kami tawarkan daripada melongo sendirian di rumah. Tadi malam saya melihat Mbak begitu kasar dan sangat menikmatinya juga, bukan?.” Aku menjadi jengah mengingat insiden tadi malam. Memang diakui akupun terhanyut dibuai permainan Pak Is. Aku hanya membisu memejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam sekedar menenangkan perasaanku yang tidak karuan. Aku betul-betul tidak menyangka, guru ngajiku, orang yang dihormati lantaran kesucian dan pengetahuannya perihal moral dan agama di kampung ini ternyata juga ingin menyetubuhi diriku dan merasakan kekenyalan tetekku. Apalagi ia sudah sangat berumur membuatku kurang kasar untuk menggelomoh kontolnya.

Tiba-tiba saya merasa jengah dan agak jijik kepada mereka berdua dan membuatku pikiranku kacau sehingga saya tubuhku agak terhuyung-huyung ke belakang. Tapi tiba-tiba tangan Pak Is sudah menangkapku dan memelukku dengan erat.

“Hentikan…….. saya tidak mau melakukannya.” Aku berteriak dengan lemah tetapi Uztad Mahmud malah mengamatiku dengan penuh nafsu.

“Kamu benar-benar membuatku bernafsu, bagaimana mungkin saya membiarkan perempuan yang sangat menggairahkan pergi?” .

“Sebaiknya Mbak jangan banyak bertingkah, berteriak pun percuma…warga di sini sangat mempercayai kita berdua, lebih baik layani saya dan Uztad Mahmud. Ha… ha… ha…” Pak Is menyeringai.

“Lepaskan aku… lepaskan aku…” saya berusaha meronta, tapi Pak Is mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar tidurku yang telah ia gunakan tadi malam. Dengan mudahnya ia melemparku ke atas ranjang. Aku sangat terkejut dengan perkembangan keadaan ini. Mereka akan memperkosa saya ibarat ini. Tetapi apa yang saya bisa lakukan? Sekarang mereka semua berada di kamar tidurku.

Uztad Mahmud mendekat dan merobek daster terusanku dan menarik paksa BH dan Celana Dalam yang ku kenakan kecuali jilbab yang yang ada di kepalaku sehingga tetekku yang sekal dan kencang terlihat jelas. Aku menyesal hanya mengenakan pakaian daster sehingga memudahkan mereka melampiaskan nafsunya. Dan saya kembali cemas dengan Uztad Mahmud yang ternyata kasar terhadap diriku.

“Wow… payudara yang kencang, Mbak Mae sungguh mempunyai tubuh yang luar biasa.” Kata Uztad Mahmud. “Aku suka sekali payudara yang kencang dan putih mulus tanpa cacat.” Uztad melanjutkan.

“Kita beruntung mendapat perempuan ibarat ini…” Pak Is menyahut. Kemudian tangan Pak Is menggerayangi dan meremas-remas kedua buah tetekku yang sekal. Pak Is menghisap-hisap puting tetekku dengan penuh nafsu, dan Uztad Mahmud mulai menggerayangi perut dan pahaku. Tiba-tiba terasa tangannya yang kasar memasuki celah sempit di memekku. Kini saya mengerti mereka akan berusaha merangsangku.

“Aampun….. jangan lakukan ini kepadaku, kalian berdua lebih berakhlak daripadaku “aku memohon belas kasihan mereka, tetapi mereka tidak memperlihatkan sedikitpun rasa simpati, malah wajah mereka menunjukan kebuasan nafsu birahi. Mereka dengan cekatan telah melepaskan pakaian mereka masing-masing. Kontol Pak Is sudah kulihat dan kunikmati tadi malam, tetapi kini saya terkejut melihat Kontol Uztad Mahmud yang luar biasa, panjangnya sekitar 20 cm lebih dan kelihatan berurat-urat.

Aku makin gemetar sekaligus merasakan asing yang menjalar seolah-olah ingin merasakan sensasi kontol besar milik Uztad Mahmud. Wajahku terasa panas. Tangan ku telah ditangkap oleh Pak Is dan tetekku kembali dikenyot-kenyotnya dengan rakus. Uztad Mahmud memegang pinggangku dan menaruh kontolnya di lubang pantatku.

“Jangan… jangan disitu… tolong..” Aku menjerit-jerit kesakitan merasakan dorongan kontol Uztad Mahmud dari belakang. Walaupun doyan kontol lelaki tetapi saya belum pernah mencoba anal sex lantaran bagiku selain lebih jorok juga kelihatan menyakitkan, apalagi malam ini saya bakal disetubuhi oleh dua orang lelaki sekaligus. Aku pernah dientotin dua lelaki sahabat mainku dari kampus yang lain tetapi mereka sangat lembut dan tidak memaksa apalagi menginginkan anusku untuk memijat kontol mereka….

“Mbak jangan cemas……. akan sedikit menyakitkan ……..tetapi sehabis itu kau akan menikmatinya.” Uztad Mahmud berkata kepadaku dengan senyum sinis. “Bukankah tadi malam memekmu telah digunakan oleh Pak Is, maka saya ingin merasakan lubang pantatmu yang kuyakin tidak pernah terpakai, masih perawan… ha.. ha… ha..” seringainya.

Tak usang saya berteriak kesakitan tetapi secepat saya membuka verbal ku untuk mengaduh Pak Is memasukkan kontolnya di dalam mulutku dan saya menjadi gelagapan. “Oouummm….mmmpphhh..”

Sementara itu Uztad Mahmud menaruh kontolnya pada lubang pantatku dan menarik pinggangku ke arahnya. Dia tetapi tidak bisa memasukkan kontolnyanya ke dalam lubang pantatku yang sakit. “Pak Is… apa kau punya mentega di dapur lantaran lubangnya sangat sempit” Uztad Mahmud bertanya

“Wah beruntung sekali kau mendapat cewek perawan…..ambillah sendiri di dapur.” Pak Is malah tertawa. Uztad Mahmud kemudian pergi menuju dapur. “Pak Is, tolong lepaskan aku…. Aku tidak sanggup lagi.” Aku memelas pada Pak Is.

“Mbak…tenang saja dan nikmati. Bukankah Mbak sudah tahu dan mengalami sendiri tadi malam bahwa Mbak Mae benar-benar terpuaskan kan. Kami sudah sangat paham bagaimana memperlakukan perempuan yang mempunyai tubuh yang sangat indah dan nikmat. Dalam hidup kami jarang-jarang mempunyai kesempatan mendapat perempuan menggairahkan ibarat kamu! Maka bagaimana mungkin kami akan tinggalkan?” Pak Is malah menjawab dengan senyum kemenangan.

Kemudian kusadari tidak ada cara lain dan tak seorangpun sanggup menyelamatkanku. Maka saya berfikir untuk menikmatinya saja ibarat yang diucapkan Pak Is kepadaku. Aku sudah merasa kepalang basah, kenapa tidak dinikmati saja sekalian, toh akupun merasakan kenikmatan yang tiada tara dengan Pak Is tadi malam.

Aku tidak peduli lagi dengan usia mereka, saya ingin merasakan sensasi yang belum pernah saya rasakan. Disetubuhi oleh dua orang guru mengajiku, dientotin oleh kontol-kontol yang masih dianggap mempunyai moral yang baik oleh warga kampung ini dan merasakan denyutan kontol panjang dan berurat dalam lubang pantatku. Ini semua membuatku birahiku semakin menggelora
Previous
Next Post »
0 Komentar