Kumpulan Kisah Sex Ngentot Dengan Model Bagus Dan Bohay

Kumpulan Cerita Sex 2018Pagi hari. Aku gres saja bangun tidur. Udara terasa segar setelah Jakarta diguyur hujan deras semalaman. Kukenakan kaos oblong tanpa lengan dan celana pendek ketat yang menampakkan lekuk-lekuk pantatku yang begitu menggiurkan. Aku berjalan ke halaman depan.
“Aha, Koran gres sudah datang”, kataku dalam hati melihat surat kabar pagi terbitan hari ini tergeletak di bersahabat pintu pagar. Kuambil surat kabar itu. Langsung saya duduk di kursi di teras sambil membacanya. Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi saya sangat menyukai berita-berita tentang perekonomian Indonesia termasuk krisis ekonomi berkepanjangan yang tengah melanda Indonesia. Kubolak-balik halaman-halaman surat kabar. Mataku tertumbuk pada sebuah iklan satu kolom yang cukup mencolok.
“Dicari, gadis berusia 17 sampai 25 tahun. Wajah dan penampilan menarik. Bertubuh ramping. Tinggi minimal 165 cm dengan berat yang sesuai. Dapat bergaya. Berminat untuk menjadi foto model. Peminat diharapkan tiba sendiri ke **** (edited) Agency, Jl. Cempaka Putih **** (edited), Jakarta Pusat.”
“Aku mampu diterima apa nggak ya?” Aku bertanya dalam hati. Memang sih, kupikir-pikir saya memenuhi syarat-syarat yang diminta. Usiaku gres menginjak 20 tahun. Tubuhku ramping dengan tinggi 170 cm, seimbang dengan ukuran dadaku yang di atas rata-rata perempuan seusiaku. Wajahku cantik. Teman-temanku bilang saya perpaduan antara Desy Ratnasari dan Maudy Kusnadi. Tapi menurutku sih mereka terlalu memujiku berlebih-lebihan.

Ah, coba-coba saja saya melamar. Siapa tahu saya diterima jadi foto model. Kan lumayan buat menambah penghasilan. Aku masuk ke dalam rumah, ke kamarku. “Pakai baju apa ya enaknya?” batinku. Ah ini saja. Kukenakan blus biru muda dan celana panjang jeans belel yang cukup ketat yang gres saja beberapa hari yang silam kubeli di Cihampelas, Bandung.

Mobil Feroza yang kukendarai memasuki jalan yang disebut dalam iklan. Ah, mana ya nomor **** (edited)? Nah ini dia. Rumahnya sih cukup mentereng. Di halamannya terpampang papan nama “**** (edited) Agency Photo Studio & Modelling. Menerima anggota baru.” Wah benar ini tempatnya. Kuparkir mobilku di pinggir jalan. Di sana sudah banyak bertengger mobil-mobil lain. Aku masuk ke dalam. Astaga! Di dalam sudah banyak cewek-cewek cantik. Pasti mereka juga yaitu pelamar sepertiku. Sejenak mereka memandangku saat saya masuk. Mungkin mereka kagum melihat kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku. Kucari kawasan duduk yang kosong setelah sebelumnya mendaftarkan diriku di meja pendaftaran.
Gila, hampir semua kawasan duduk terisi. Nah, itu ia ada satu yang kosong di sebelah seorang cewek yang manis sekali, keturunan Indo. Wajahnya menyerupai Cindy Crawford. Kelihatannya ia sebaya denganku.

 Tapi astaga, ia memakai baju yang berdada rendah alias “you can see,” dan rok jeans mini yang cukup ketat, sehingga menampakkan pangkal payudaranya yang berukuran cukup besar. Ia nampak memandangku dan tersenyum. Melihatnya saya menjadi minder. Wah, sainganku ini top sekali. Apakah mungkin saya terpilih menjadi foto model di sini? Satu persatu para pelamar dipanggil ke ruang pengetesan, sampai si Indo di sampingku tadi dipanggil juga. Semua pelamar yang sudah dites keluar lewat pintu lain. Akhirnya namaku dipanggil juga.

“Hanny K**** (edited) dipersilakan masuk ke dalam.”
Aku pun masuk ke dalam dan disambut oleh seorang pria bertubuh agak gemuk.
“Kenalkan saya Adolf, direktur sekaligus pemilik agensi ini. Siapa nama kau tadi? Oh ya, Hanny, nama yang bagus, sebagus orangnya. Sekarang giliran kau dites. Coba kau berdiri di sana.”
Aku pun berdasarkan saja dan menuju kawasan yang ditunjuk oleh Adolf, di bawah lampu sorot yang cukup terang dan di depan sebuah kamera foto.

“Coba kau lihat-lihat contoh-contoh foto ini. Pilih lima gaya di antaranya. Aku akan mengetes apakah kau mampu bergaya. Jangan malu-malu, don’t be shy!” kata Adolf sembari memberiku sebuah album foto. Aku melihat foto-foto di dalamnya. Ah ini sih menyerupai gaya foto model di majalah-majalah! Mudah amat! Lalu saya memilih lima gaya yang menurutku bagus. Setelah itu, jepret sana, jepret sini, lima gaya sudah saya berpose dan dipotret. Tapi Adolf belum mempersilakan saya keluar ruangan. Dia kelihatannya menyerupai berpikir sejenak.

“Nah, sekarang, Han. Coba kau buka kancing-kancing cuilan atas blus kamu. Nggak usah malu. Biasa-biasa aja lah!”
Kupikir tak apa-apa lah kali ini. Kubuka beberapa kancing atas blusku sehingga terlihat BH yang kupakai. Mata Adolf sekilas berubah saat melihat pangkal payudaraku yang montok. Lalu saya dipotret lagi dengan pose-pose yang sensual.

“Nah, begitu kan yahud. Sekarang coba buka baju kau semuanya.”
Wah! Ini sih mulai kelewatan!
“Ayolah, jangan malu-malu!”
Sebenarnya dalam hati saya menolak. Akan tetapi biarlah, alasannya yaitu saya sejak kecil selalu mengidam-idamkan ingin menjadi foto model.

Dengan perlahan-lahan kutanggalkan blus dan celana panjangku. Mata Adolf tanpa berkedip memandangi badan mulusku yang hanya ditutupi oleh BH dan celana dalam. Aku sedikit menggigil kedinginan hanya berpakaian dalam di ruangan yang ber-AC ini. Namun Adolf tidak mengindahkannya. Ia malah menyuruhku menanggalkan busana yang masih tersisa di tubuhku. Ah, absurd ini! Tapi cueklah, hanya berdua ini! Lalu dengan membelakangi Adolf, kulepas BH-ku. Kusilangkan tanganku di dada menutupi payudaraku.

“Han, masak kau balik badan begitu. Bagaimana saya mampu mengetesmu.”
Aku membalikkan badan menghadap Adolf. Adolf menyuruhku menurunkan tangan yang menutupi payudaraku. Adolf terpana menyaksikan payudaraku yang montok dan berisi dengan puting susunya yang tinggi menantang berwarna kecoklatan segar, tanpa tertutup oleh selembar benang pun. Aku menjadi risih pada pandangan matanya. Adolf menyuruhku melepas celana dalamku. Ia semakin melotot melihat cuilan kemaluanku yang ditumbuhi oleh rambut-rambut halus yang masih tipis. Sekilas kulihat kemaluan di balik celana panjangnya menegang.

“Nah, kini kau diam di situ. Akan kuukur tubuhmu, apakah memenuhi syarat”, kata Adolf sambil mengambil meteran untuk menjahit. Pertama kali ia mengukur ukuran vital dadaku. Ia melingkarkan meterannya melalui payudaraku. Dengan sengaja tangan Adolf menyentil puting susuku sebelah kanan sehingga membuatku meringis kesakitan. Tapi saya diam merengut saja.
“Kamu beruntung memiliki payudara yang indah menyerupai ini”, kata Adolf sambil mencolek potongan payudaraku.

“Nah, sudah selesai sekarang.” Aku merasa lega. Akhirnya selesailah pelecehan seksual yang terpaksa kuterima ini.
“Jadi saya sudah boleh keluar?” tanyaku.
“Eit! Siapa bilang kau sudah boleh keluar?! Nanti dulu, manis!”
Wah, kacau! Apa gerangan yang ia inginkan lagi?
“Susan!” Adolf memanggil seseorang.

Seorang gadis manis keluar dari ruangan lain, telanjang bulat. Ya ampun, ternyata ia yaitu cewek Indo yang tadi duduk di sampingku di ruang tunggu. Payudaranya yang montok bergantung indah di dadanya, seimbang dengan pinggulnya yang montok pula. Aku bertanya-tanya apa arti dari semua ini.

“Nah, kini coba kau lihat, Hanny. Susan ini yaitu satu-satunya pelamar yang berhasil terpilih. Mengapa? Sebab ia cocok dengan profil foto model yang saya inginkan untuk proyek kalender bugil yang akan saya edarkan di luar negeri. Kalo kau ingin berhasil menyerupai Susan, kau harus berani menyerupai dia, Han”, kata Adolf sambil menunjuk ke arah gadis manis yang bugil itu. Astaga! Batinku. Aku harus dipotret bugil. Bagaimana pandangan orang-orang terhadapku nanti apabila foto-foto telanjangku sampai dilihat orang-orang banyak?! Tapi kan cuma diedarkan di luar negeri?!

“Baiklah, tapi kali ini aja ya”, saya menyanggupinya. Akhirnya saya dipotret dalam beberapa pose. Pose yang pertama, saya disuruh berbaring tertelentang dengan pose memanjang di atas ranjang, dengan membuka pahaku lebar-lebar, sehingga menampakkan kemaluanku dengan jelas. Pose kedua, saya duduk mengangkang di tepi ranjang sementara Susan menjilati liang kemaluanku. Pose ketiga, saya dalam keadaan berdiri, sedangkan Susan dengan lidahnya yang hebat mempermainkan puting susuku. Pose keempat, saya masih berdiri, sementara Susan berdiri di belakangku dan berbuat seolah-oleh kami berdua sedang bersenggama. Susan berperan sebagai seorang pria yang sedang menghujamkan batang kemaluannya ke dalam liang kewanitaanku, sedangkan tangannya meremas-remas kedua belah payudaraku yang indah. Dan saya diminta memejamkan mataku, seperti saya sedang terbuai oleh kenikmatan yang tiada taranya. Semua itu yaitu pose-pose yang membangkitkan nafsu birahi bagi kaum pria namun amat memuakkan bagi diriku.

Tiba-tiba kurasakan kedua belah payudaraku diremas-remas dengan lebih keras, bahkan lebih kasar. Aku meronta-ronta kesakitan. Aku menoleh ke belakang. Astaga! Ternyata yang di belakangku sudah bukan Susan lagi, melainkan Adolf yang kini tengah mempermainkan payudaraku dengan seenaknya! Entah Susan sudah ke mana perginya.

“Jangan, Pak! Jangan!” Aku memberontak-berontak sebisa-bisanya. Tapi semua itu tidak ada hasilnya. Tangan Adolf lebih besar lengan berkuasa mendekapku kencang-kencang sampai saya hampir tidak mampu bernafas.
“Kamu memang benar-benar cantik, Hanny”, kata Adolf sambil mencium tengkukku sementara tangannya masih terus merambah kedua bukit yang membusung di dadaku.

Tiba-tiba dengan kasar, Adolf mendorongku, sehingga saya jatuh tertelentang di sofa. Melihat badan mulusku yang sudah tergeletak pasrah di depannya, nafas Adolf memburu bagai dikejar setan. Matanya melotot menyerupai mau meloncat keluar melihat keindahan badan di depannya. Kututup payudaraku dengan tanganku, tapi Adolf menepiskannya. Betapa potongan payudaraku sangat lembut dan merangsang saat lisan Adolf mulai menjamahnya. Payudaraku yang putih bersih itu memang menggiurkan. Mulut Adolf dengan buas menjilat dan melumat cuilan puncak payudaraku, kemudian mengisap puting susuku bergantian, sehingga saya menggelinjang kegelian. Nafasku ikut memburu kala tangan Adolf mulai merayap ke selangkanganku, meraba-raba pahaku dari pangkal sampai lutut. Lalu betisku yang mulus itu.

Aku hampir-hampir tak mampu bernafas lagi saat lisan Adolf terus mengisap dan menyedot puting susuku. Aku meronta-ronta. Tapi Adolf terus mendesak dan melumat puting susuku yang runcing kemerahan itu. Seumur hidupku, belum pernah saya diperlakukan sedemikian lupa oleh lelaki manapun, dan kini saya harus menyerahkan diriku pada Adolf.

Adolf mencoba mendorong batang kemaluannya masuk ke dalam liang senggamaku yang sempit. Ia sudah tak besar lengan berkuasa lagi membendung nafsunya yang memuncak saat batang kemaluannya bergesekan dengan liang kewanitaanku yang merah terbuka. Batang kemaluan Adolf balasannya menghujam seluruhnya ke dalam liang kenikmatanku. Aku menjerit saat liang kewanitaanku diterobos oleh batang kemaluan Adolf yang tegang dan panjang. Betapa perih saat “kepala meriam” itu terus masuk ke dalam liang kewanitaanku, yang belum pernah sekalipun merasakan jamahan laki-laki.

Aku mencoba memberontak sekuat tenaga lagi. Tapi apa daya, Adolf lebih kuat. Lagipula saya sudah lemas, tenagaku sudah hampir habis. Terpaksa saya hanya mampu mendapat dengan pasrah digagahi oleh Adolf. Dan akhirnya, saya merasa tak besar lengan berkuasa lagi. Setelah itu saya tak ingat apa-apa lagi. Aku tak sadarkan diri.
Saat saya siuman, saya menyadari diriku masih tergeletak telanjang lingkaran di sofa dengan cairan-cairan kenikmatan yang ditembakkan dari batang kemaluan Adolf berhamburan di sekujur perut dan dadaku. Sementara kulihat ruangan itu telah kosong. Segera kukenakan pakaianku kembali dan bergegas ke luar ruangan. Kukebut Feroza-ku pulang ke rumah dan bersumpah tak akan pernah kembali lagi ke kawasan terkutuk itu!
Previous
Next Post »
0 Komentar