Showing posts sorted by date for query kumpulan-cerita-seks-kisah-dewasa-ibu. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query kumpulan-cerita-seks-kisah-dewasa-ibu. Sort by relevance Show all posts

Kumpulan Kisah Sex 2018 Aku Ingin Mengalahkan Permainan Ngentot Ini

Kumpulan Cerita Seks terbaru 2019 - Aku punya planning kembali ke Jakarta untuk urusan Imigrasi. Sheena besar hati mendengar saya akan kembali ke Jakarta. Tapi untuk ganti suasana, saya usulkan untuk bercinta di tempat lain yang kami berdua belum pernah kunjungi. Seteh pilih-pilih tempat dan disesuaikan dengan ukuran kantong kami, kami kemudian memilih Kuala Lumpur, sekalian meninjau Petronas Twin-Towers.
Jadilah saya terbang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Sheena langsung kukabari namun lantaran yakni Sheena masih masuk kantor dan akupun sibuk urusan imigrasiku, kami gres dapat janjian ketemu pada hari sabtu, padahal esoknya hari minggu sudah musti berangkat ke Kuala Lumpur. Bagi pembaca yang mau tahu pertemuan kami ini bacalah dongeng “Membuat Score Bersama”

Singkat Cerita, kami berdua bertemu di Cengkareng, tanpa ciuman dan gandeng tangan, kami menuju counter check-in, tak lama kemudian kami berdua sudah duduk di kursi pesawat yang siap berangkat ke Kuala Lumpur. Setelah pesawat mengudara dan seat-belt sudah boleh dilepas, tangan Sheena mampir di pahaku, otomatis batangku jadi tegang. Karena saya pakai Jeans, batang kemaluanku jadi agak sakit. Ia rupanya sudah paham.
“Adikmu sakit ya Mas?” tanyanya bercanda sambil mengelus-elus pahaku. Batang kemaluanku menjadi semakin tegang. Aku kemudian meminta selimut kepada awak cabin, bukan kedinginan lantaran yakni AC, tapi supaya tidak ada yang lihat saya melonggarkan ikat pinggang dan menurunkan resletingku. Karena pakai selimut tangan Sheena menjadi lebih berani masuk ke celah resletingku, balasannya mencapai batang kemaluanku yang masih ditutup celana dalamku yang sudah lembap setempat.

Meskipun Sheena sungguh arif dalam merencanakan rangsangan, posisi kursi pesawat tidak memungkinkan berbuat macam-macam tanpa ‘bikin heboh’. Dengan terpaksa kutahan nafsu birahiku, tapi saya tetap mau balas semoga iapun jadi ‘susah’. Dari dalam selimut, tanganku mengelus-elus dadanya. Sengaja saya tidak memasukkan jari-jariku ke dalam bajunya, cukup kuelus dari luarnya saja. Setelah kulihat Sheena menjadi agak “tidak tenang”. Ia mendengus pelan, “Enghh.. hh..”
Tanganku kuturunkan ke pahanya dan terus ke antara kedua pahanya. Aku berhasil membuatnya merasakan rangsangan birahi yang saya tahu tak dapat disalurkan. Ia cuma dapat mendesah, “Hhh.. hh.. hh..”

Setengah perjalanan sudah berlalu, kami berdua masih terus saling meraba dengan tujuan merangsang pasangan masing-masing supaya pada ‘nggak tahan’ lagi. Tapi tiba tiba harus kami stop lantaran yakni ada seorang wanita meminta bantuan, rupanya TKW yang tidak tahu cara mengisi kartu registrasi kedatangan untuk bandara Kuala Lumpur. Karena terganggu nafsu kami jadi hilang dan kami berdua jadi senyum-senyum sendiri.

Tiba di Kuala Lumpur, kami langsung menuju hotel MLA di sekitar jantung kota Kuala Lumpur. Seperti biasanya check-in, diantar oleh pelayan hotel ke kamar, pasang tanda DO NOT DISTURB di gagang pintu, kunci pintu.
“Sayang.. balasannya sampai juga ya,” membuka keheningan.
Aku merasa badanku agak hangat dan sendi-sendiku agak linu mirip mau sakit flu. Soalnya gres perjalanan jauh dari Brisbane ditambah kemarin (Sabtu, baca dongeng “Membuat Score Bersama”) gres saja ML ‘keluar bareng’ di Jakarta.
“Ehm..”
Aku tahu kalu ia sudah malas ngomong berarti saya harus tahu diri jangan kaya NATO (No Action Talk Only) yang dulu. Kupeluk ia dengan lembut dan mesra dari belakang, kedua telapak tanganku menelungkupi kedua buah dadanya, kucium belakang telinganya kemudian turun ke leher kanan, kukecup dan kusedot lehernya.
“Enghh.. sshh..,” ia mulai mendesis, ia tak kuatir lagi akan tanda merah di lehernya.

Ciumanku perlahan pindah ke leher kiri sambil kedua tanganku mengangkat bajunya ke atas. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas memudahkan bajunya dilepas keatas. Bajunya kulemparkan ke kursi, saya kemudian membuka bajuku sendiri.
Aku tetap berdiri dibelakang Sheena, sekarang saya telah bertelanjang dada sedang tubuh potongan atas Sheena hanya mengenakan BH. Kembali kupeluk ia dari belakang, bibirku mencium telinganya, kedua tanganku bergerak naik dari perutnya kebawah buah dadanya. Perlahan jari-jari tanganku menyelip keatas kedalam BHnya, langsung menangkup kedua buah dadanya.

“Aduh.. Ari.. enak.. auuhh”
Tangan kiriku tetap terus menyelip di dalam BHnya sedang tangan kananku bergerak keluar kemudian ke punggungnya, melepaskan Klip BHnya. Lepaslah BHnya, sekarang kedua tanganku bebas memutar-mutar kedua putingnya secara bersamaan.
“Auh.. enghh..,” desisnya makin jelas terdengar. Sejenak kemudian ia mendadak berbalik sehingga tanganku terlepas dari buah dadanya. Ia kemudian mencium dan melumat bibirku. Tanganku yang tadi terlepas sekarang telah menemukan kembali kedua buah dadanya yang sekarang berada didepanku. Kuelus-elus kedua buah dadanya kemudian kupencet lembut putingnya dengan ibu jari dan jari telunjukku.

Tanpa melepas ciumannya, tangan-tangan Sheena membuka ikat pinggangku dan membuangnya ke kursi. Resletingku diturunkan, otomatis Jeansku jadi longgar, kemudian Sheena turun berjongkok di depanku menurunkan Jeansku yang sudah longgar itu. Batang kemaluanku sudah mengeras, ujung kepalanya nongol sedikit dari atas celana dalamku yang berwarna merah. Ia kemudian menempelkan hidungnya ke batang kemaluanku dari luar celana dalamku sambil jari telunjuk kanannya disentuh-sentuhkan keujung kepala kemaluanku yang nongol dari celana dalamku.

Dengan telunjuknya itu, ia oles-oleskan cairan beningku sampai merata ke topi bajaku, kemudian dipelorotkan celana dalamku jadinya batang kemaluanku mental kedepan mirip pegas dan mengenai hidungnya. Ia mendongak dan memundurkan sedikit hidungnya sambil membuka mulutnya, otomatis kepala kemaluanku jatuh kedalam mulutnya. Ia kemudian menutup mulutnya dan menghisap kepala kemaluanku sambil melirik keatas menatap mataku.

Oh.. nikmat sekali hisapan mulutnya itu. Tanpa memegang batang kemaluanku, ia terus menghisap, mengulum dan pelan-pelan memasuk-keluarkan kemaluanku. Sulit kunyatakan enaknya kuluman dan hisapannya. Setidaknya 15 menit saya terlena dalam keadaan berdiri. Selang beberapa ketika saya ingin gantian kerjain dia, kuangkat, kugendong kemudian kurebahkan tubuhnya terlentang diatas ranjang. Aku sudah dalam keadaan telanjang sedangkan ia masih memakai celana panjang meskipun potongan atasnya sudah tanpa busana lagi.

Aku kemudian berjongkok disisi bawah tempat tidur, membuka ikat pinggangnya, menurunkan resletingnya kemudian menarik lepas Jeansnya. Celana dalamnya kelihatan agak lembab, segera saya tarik turun lewat kakinya. sekarang lengkaplah sudah ia telanjang bulat dihadapanku. Kutarik kakinya supaya pantatnya rata dengan tepi tempat tidur dimana saya berjongkok.

Ia sudah mampu menebak apa yang akan kulakukan makanya iapun membuka kedua pahanya. Aku tahu kemaluannya sudah ingin dijilati dan digelitiki oleh lidahku, tapi saya memulainya dengan menjilati pangkal pahanya dulu, yang kanan kemudian yang kiri, kemudian malah naik keperut. Pantatnya bergerak-gerak, iapun menggeliat dan mengerang, “Emmhh.. uusshh”
Aku masih belum mau menjilati vaginanya. Sambil menciumi perutnya, kusibak bulu-bulu kemaluannya sehingga tampak kepingan bibirnya. Jari telunjuk kananku kumasukkan pelan-pelan kedalam lubangnya kemudian pelan-pelan kuputar-putar sedangkan ciumanku terus bergerak naik kedadanya.

“Auh.. aduh.. Ari.. kamu gila..”
Akupun jadi makin bernafsu, kusedot puting kanannya sedangkan puting yang kiri kujepit dengan jari-jari tangan kiriku sementara jari telunjuk tangan kananku masih tenggelam di dalam lubang kemaluannya. Sesekali kurasakan cincin vaginanya menjepit jariku. Meski dalam keadaan terangsang, saya masih dapat terkagum-kagum, bagaimana mungkin jari telunjukku sekecil ini dapat dijepit sekeras ini. Kalau tidak merasakan sendiri rasanya saya sulit percaya. Puting susunya terus kelumat, sedot dan di dalam mulutku kujilati ujungnya. Sheena hanya dapat memegang rambut dan kepalaku sambil menahan kenikmatan yang menderanya.

Kini kurasakan sudah saatnya mulutku kuturunkan dari buah dadanya, sasarannya yakni celah diantara kedua pahanya. Kubuka kedua pahanya lebih lebar lagi sehingga kepingan vaginanya ikut sedikit membuka. Segera kubenamkan lidahku membelah celahnya. Kali ini ia langsung menjerit “Awh.. uh..” mengejang, tak sadar badannya agak bangun membungkuk keatas. Lidahku kemudian menyapu belahannya itu keatas dan kebawah sambil kedua tanganku mengelus-elus pangkal pahanya dan sekitar lubang kemaluanya, sesekali kutekan-tekan gundukan bibir kemaluannya.
“Ouh.. Ari.. terus sayang.. uuhh.. sayang.. aduhh”
Seranganku kutingkatkan lagi, dengan jari-jari tanganku kubuka lebih lebar lagi kepingan vaginanya sampai kulihat potongan dalam kemaluannya yang kemerahan. Segera kusapu lagi dengan lidahku.
“Aawww.. Ri.. aduh.. terus sayang..terus..aduh.. gila kamu Ri..”

Rasanya hampir 20 menit verbal dan lidahku melekat dan menyapu lubang kemaluannya, sudah waktunya bagiku untuk memasukkan penisku kedalam lubang kemaluannya ini. Kemaluanku pun sudah mengeluarkan cairan bening dari tadi. Aku kemudian bangun berdiri tetapi agak berkunang-kunang lantaran yakni terlalu lama jongkok. Tanpa buang waktu lagi, kuarahkan penisku ke lubangnya yang sudah lembap final liurku dan cairan vaginanya. Bless.. masuklah batang kemaluanku ke dalam vaginanya. Rupanya ia memang sengaja tidak ‘mengunci’ cincinnya itu dengan begitu tidak terlalu sulit untuk menembusnya.

Dengan tetap berdiri di tepi ranjang, saya bergerak memompa maju mundur. Lagi-lagi ia masih belum mau memakai cincinnya itu sehingga saya masih mampu memompa maju mundur dengan cepat, tetapi erangannya makin keras terdengar setiap batangku melesak masuk. Aku terus memompa dengan cepat tanpa istirahat, saya berharap benar dengan gaya gres kali ini saya mampu membuatnya ‘keluar’ lebih dahulu. Harapanku rupanya cuma tetap jadi harapan, sudah lewat 25 menit sejak kumasukkan kemaluanku dan bergerak non-stop mengocoknya begini, masih belum ada tanda-tanda ia akan ‘keluar’.

Karena ‘olah raga memompa maju mundur’ ini kulakukan terus-menerus sembil berdiri, keringatku mulai keluar membasahi tubuhku, pinggangku mulai capek, tapi kumantapkan niatku untuk bertahan mengocoknya. Aku kemudian bilang padanya, “Masih nakal juga ya? Aku pengen liat, kamu atau saya yang keluar duluan.”

Baru selesai omong, tiba-tiba kurasakan sulit untuk maju mundur lantaran yakni batangku mirip dicengkram oleh cincin vaginanya. Auhh.. sekarang giliran saya yang keenakan. Rupanya saya omong terlalu sesumbar sehingga ia ingin ‘memberi pelajaran’ padaku. Batang kemaluanku benar-benar mirip dicengkram dan diremas, seret sekali masuk keluarnya. 15 menit kembali lewat, sekarang penisku sudah mulai berdenyut-denyut rasanya kali ini kok saya bakal nggak berpengaruh menahan jepitannya.
“Kamu capek Say? sekarang gantian ya, lepas dulu dong, kemudian kamu naik kesini sambil sandaran kedinding ya.” Akupun mencabut batang kemaluanku dari vaginanya. Tanganku ditariknya semoga saya naik ke ranjang. Ia kemudian bantu mendorong semoga saya bergerak menyandar ketembok dibelakang tempat tidur.

Setelah saya duduk disisi atas tempat tidur sambil bersandar ketembok Sheena naik ke pahaku, berjongkok kemudian memasukkan batangku ke vaginanya, kemudian pelan-pelan menurunkan tubuhnya sampai duduk di selangkanganku. Ujung kemaluanku rasanya mirip mentok ke dinding rahimnya.

Ia melingkarkan kedua tangannya ke belakang leherku kemudian bibirnya mencium dan melumat bibirku, kedua buah dadanya terasa menekan dadaku. Kurasakan batang kemaluanku yang sedang terbenam menjadi tambah mengeras dan berdenyut didalam kemaluannya. Cengkraman cincinnya kembali mendera batang kemaluanku, sekarang iapun menambah serangannya dengan menaikturunkan tubuhnya sambil ‘cincin’ vaginanya menjepit kemaluanku sedang mulutnya mengunci mulutku. Kedua buah dadanya menekan dan menggesek dadaku.

Dalam kurang dari 15 menit saya sudah dibuat megap-megap menahan serangannya. Iapun berhenti naik turun untuk meberi saya napas, namun cincin vaginanya tetap ia rapatkan. Aku sungguh heran, bagaimana ia dapat mempertahankan kontraksi cincinnya non-stop selama itu. Ia tersenyum penuh kemenangan, katanya “Kalau saya mau sekarang ini kamu sudah kalah”

Dalam hati saya mengakui bahwa ia benar. Akupun menjawab, “Ok, balasannya kamu menang.”
Aku masih heran kok saya dapat dikalahkan dalam total waktu hanya sekitar 1 jam 30 menit, padahal biasanya ‘pertarungan’ku dengan Sheena umumnya mencapai total 4 atau 5 jam, itupun selalu berakhir seri 1 – 1 lantaran yakni sama sama oke mengalah untuk ‘keluar’. Aku masih belum sadar bahwa saya sudah mulai kena flu sejak tiba di Airport tadi dan sampai sekarang belum istirahat.

Sheena mencium keningku, pipiku dan bibirku, sambil terus mempermainkan cincin vaginanya. Jepit, longgar, jepit, longgar, mungkin istilahnya empot ayam. Ia tidak menaikturunkan pantatnya lantaran yakni ia sadar akan kondisiku yang hampir di puncak, namun ia mau semoga saya merasakan nimatnya ‘proses ke puncak’ tanpa sampai ‘kelewatan’.

“Udahan dulu ya, kita mandi yuk, kan dari Jakarta sampai sekarang belum mandi,” tawarnya.
“Boleh.. semoga istirahat dikit.. kamu nyalain dulu airnya ya semoga bath-tub nya terisi,” kataku.
Ia menaikkan pantatnya melepas batang kemaluanku dari vaginanya kemudian turun dari tempat tidur menuju kamar mandi dan menghidupkan kran air di bath-tub. Aku kemudian bangun juga menuju ke kamar mandi. Kulihat ia sedang duduk di closet membersihkan vaginanya yang lembap dengan gabungan cairan beningku dan lendir vaginanya.

Meski air dalam bath-tub belum terlalu dalam, saya langsung masuk dan duduk berendam sambil bersandar pada dinding bath-tub. Batang kemaluanku yang masih keras itu pelan-pelan melemas setelah terendam dalam air. Sheenapun masuk ke bath-tub dan ikutan duduk berendam. Iseng-iseng tangannya mengelus-elus batang kemaluanku untuk membersihkan lendir yang melekat di batang kemaluanku. Elusan jari-jari tangannya membuat kemaluanku kembali menegang. Ia tertawa kecil ketika merasakan ‘anuku’ berdenyut mengeras di tangannya. Setelah dilihatnya kemaluanku sudah bersih, ia bilang, “Coba mundur dikit dong”. Akupun bergerak mundur dan bersandar pada ujung bath-tub untuk memberi ruang yang lebih panjang baginya.

Ia kemudian mencabut sumbat bath-tub sehingga airnya pelan-pelan berkurang. Setelah airnya hampir habis, turun sampai setinggi biji kemaluanku, sumbatnya dipasang lagi. Kini batang kemaluanku berada di atas permukaan air sedangkan biji kemaluanku setengah tenggelam. Tangannya kembali mengelus-elus batangku, kemudian ia mengambil posisi nungging di depanku. Pelan-pelan kepalanya diturunkan dan mulutnya diarahkan ke kepala kemaluanku. Mulutnya membuka kemudian mencaplok kepala kemaluanku, tangan dan siku kirinya dipakai menunjang tubuhnya semoga tetap menungging sedang jari-jari tangan kanannya mengocok batang kemaluanku maju mundur. Mulutnya sampai kempot menyedot kepala kemaluanku. Aduhh.. rasanya sungguh luar biasa.

Sesaat kemudian, jari-jari tangan kanannya bergerak maju memegang pangkal batang kemaluanku sambil mulutnya bergerak maju-mundur. Nikmat yang kualami sungguh tak terbilang.. ini yakni oral seks yang ternikmat dalam hidupku. Sampai ketika ini masih yang ternikmat bagiku. Mulutnya terus maju mundur sampai batangku kelihatan memerah, kemudian fokusnya dialihkan ke sekitar leher kemaluanku. Dihisap-hisapnya kepala kemaluanku sampai dilehernya, digigit-gigit kecil belakang topi bajaku, lidahnya disapu-sapukan kelilingnya, kemudian kepala kemaluanku dicaplok dan disedot dengan berpengaruh kemudian dikulum-kulum. Lidahnya menari-nari didalam mulutnya menyentuh-nyentuh lubang pipisku. Setelah itu kembali ia maju mundurkan mulutnya namun hanya sampai dilehernya saja, tidak sampai kepala kemaluanku keluar.

Rupanya Sheena ingin menyampaikan bahwa tidak hanya vaginanya saja yang dapat ‘mengalahkanku’, ia ingin ‘mengalahkanku’ dengan mulutnya. Ia terus-menerus menjilat, mengulum dan menghisap batang kemaluanku sampai saya benar-benar merem melek dibuatnya. Tetapi pada dasarnya saya memang tidak pernah dapat ‘keluar’ dimulut wanita jikalau tidak kupaksakan sendiri untuk ‘keluar’ (Istriku pernah menyedotku selama 45 menit sampai lehernya pegal dan saya tetap tidak keluar), namun Sheena tak tahu akan kebiasaanku ini sehingga ia berpikir saya pasti ‘keluar’ oleh serangannya.

Setelah hampir 20 menit non-stop menyerangku, ia melirikku kemudian melepaskan mulutnya dari kepala kemaluanku.
“Enak nggak?” tanyanya sambil tangan kanannya tetap memegang batangku.
“Ini yang paling enak dari semuanya,” kataku.
“Naik lagi ke tempat tidur yuk.. tapi gendong ya.. capek sih,” katanya.
Aku keluar dari bath-tub kemudian menariknya semoga bangun kemudian menggendongnya ke ranjang. Kami sudah tidak perduli lagi bahwa tubuh kami masih setengah basah.

Aku kembali berada diatasnya dengan posisi push-up, ia membimbing batang kemaluanku masuk ke lubangnya, bless.. masuklah batangku. Ia memekik, “Awk..” agak sakit lantaran yakni masih seret. Aku terus memacu pantatku menyodok lubang kemaluanku. Disetiap hentakan pantatku ia selalu heboh “Awww..awww..”

Rasanya 15 menit berlalu, kemaluanku rasanya sudah berdenyut-denyut lagi, artinya saya sudah hampir di puncak. Agar tidak kalah, saya kurangi ke cepatanku kemudian saya minta ganti posisi.

Sambil menjaga semoga kemaluanku tidak lepas, kami berbalik, sekarang ia berada diatasku. Sejenak ia hanya duduk saja diatasku tidak bergerak. Ia rupanya menikmati denyutan batang kemaluanku. Kurasakan jepitan vaginanya meningkat seperti memeras batangku. Setelah hampir 10 menit kemudian. Ia melihat saya sudah ‘hampir sekarat’ lantaran yakni permainan jepitan vaginanya, ia kemudian meletakkan kedua lenganku ke atas kepalaku dan dipegangnya dengan kedua tangan kanannya yang juga untuk menopang tubuhnya. Mulutnya diturunkan mencium bibirku sambil pantatnya mulai dinaik-turunkan. Puting buah dadanya yang bergantung-gantung menggesek-gesek dadaku menambah sensasi nikmat serangannya. Saat kemaluannya ditarik sampai ke leher kemaluanku jepitannya dilonggarkan, ketika mau diturunkan dikeraskan lagi dan seterusnya.

Kini saya benar-benar ‘sudah sekarat’. Ia justru mempercepat gerak naik turun pantatnya. Aku mencoba mati-matian bertahan, setiap kali pantatnya diturunkan, saya mengejang dan mendengus “Enghh.. enghh.. enghh.. enghh,” tetapi saya tidak dapat bertahan lagi. Rasanya kurang dari 5 menit setelah ia mempercepat naik-turun sambil menjepit, kemaluanku berdenyut-denyut dan akhirnya, “Uhh..” pertahananku jebol, saya muncrat di dalam lubang kemaluannya. Disaat kemaluanku berdenyut menyemprot air maniku, ia terus naik turun dan mengeraskan cincin vaginanya. Lemaslah tubuhku, seluruh otot-ototku rasanya terlepas dari tulangku, kenikmatannya betul-betul enak.

Sheena tidak langsung bangkit, ia hanya berbaring di dadaku dengan batang kemaluanku masih menancap di vaginanya. Pelan-pelan batang kemaluanku melemas. Campuran sperma dan lendirnya mengalir keluar dari lubangnya, meleleh ke selangkanganku dan ke sprei ranjang. Ia menggeliat ke telingaku dan berbisik “Satu nol ya..,” sambil tersenyum.

Pembaca, itulah hari pertama kami di Kuala Lumpur. Tubuhku rasanya agak lemah, tapi saya masih saja berpikir “Ah tidak apa-apa, mungkin sebentar lagi juga pulih.” Hari kedua dan seterusnya kami tetap hangat bercinta. Sesekali saya masih dapat “menang” namun lebih banyak “kalah”.

Tubuhku sudah tambah lemah, saya balasannya sadar sudah jatuh sakit. Di hari ke delapan terakhir sesaat sebelum meninggalkan hotel menuju bandara, saya masih nekat ‘menantangnya’ lagi dengan kekuatan terakhir, hasilnya saya ‘kalah’ lagi. Aku sudah tak ingat berapa skor selesai kami, yang jelas saya ‘kalah’.


Dibandara kami berpisah, pesawatku berangkat dahulu kembali ke Australia sedangkan Sheena sejam kemudian kembali ke Jakarta. Dipesawat suhu tubuhku kian naik, otot-otot tubuhku rasanya linu dan tidak bertenaga. 7 jam perjalanan cuma dapat di kursi saja tambah menyusahkan. Setibanya di rumah, saya benar-benar jatuh sakit, sempat muntah-muntah pula. Untung waktu cuti kerjaku belum habis sehingga tidak perlu ditambah dengan cuti sakit lagi. Tetapi yang paling sebal, saya penasaran dikalahkan oleh Sheena, telak lagi. Seharusnya saya istirahat terlebih dahulu setelah tiba di Kuala Lumpur sampai flunya hilang dulu dan tidak langsung ngajak ‘perang’, toh masih ada hari-hari esoknya.

Sayangnya saya tidak mampu membalas kekalahanku lantaran yakni itulah terakhir kalinya saya bertemu dengannya. Pada kedatanganku ke Jakarta yang berikutnya, saya tidak mampu menemuinya. Kini Ia sudah pindah ke Kalimantan. “Sheena” if you read this story then you should know that I could be better. But any way, no excuses, I admit that you have won!”



Cerita Dewasa, Cerita Memek, Cerita Malam Dewasa, Cerita Bandar Seks, Cerita Berduaan, Nafsu Tante,
3

Cerita ML Gara Gara Diberi Obat Perangsang

Cerita Sex - Aku seorang pelajar SMP kelas II, namaku Rima. Kata orang saya cantik, kulitku kuning, hidungku bangir, sepintas saya menyerupai Indo. Tinggiku 160cm, ukuran Bhku 34, cukup besar untuk seorang gadis seusiaku.
Cerita ML Gara Gara Diberi Obat Perangsang Cerita ML Gara Gara Diberi Obat Perangsang
Cerita ML Gara Gara Diberi Obat Perangsang

Aku punya pacar, Dino namanya. Dia kakak kelasku, kami sering ketemu di sekolah.
Dino seorang siswa yang biasa-biasa saja, beliau tidak menonjol di sekolahku. Prestasi belajarnya pun biasa saja. Aku tertarik alasannya ialah beliau baik padaku. Entah kebaikan yang nrimo atau memang ada maunya. Dia juga mencoba mendekatiku. Di sekolah, saya tergolong populer. Banyak siswa perjaka mencari perhatian padaku. Tapi entah mengapa saya memilih Dino. Singkatnya, saya pacaran dengan Dino. Banyak teman-teman cewekku menyayangkannya, padahal masih ada si Anto yang bapaknya pejabat, Si Danu yang juara kelas, Si Andi yang jago basket, dan lainnya. Entah mengapa saya tidak menaruh perhatian pada mereka-mereka itu.
Aku dan Dino telah berjalan kurang lebih 6 bulan. Pacaran kami sembunyi-sembunyi, ya alasannya ialah kami masih SMP jadi kami masih takut untuk pacaran secara terang- terangan. Orang tuaku sebetulnya melarangku untuk berpacaran, masih kecil katanya. Tetapi apabila cinta telah melekat, apapun jadi nikmat.
Hari Sabtu sepulang sekolah saya janjian sama Dino. Aku mau nemanin beliau ke rumah temannya. Aku bilang ke orang renta bahwa hari Sabtu saya pulang telat alasannya ialah ada les tambahan. Aku berbohong. Di tasku. telah kusiapkan kaos dan celana panjang dari rumah. Sepulang sekolah, saya ke wc dan mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah. Dinopun begitu. Dari sekolah kami yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Selatan, kami naik bis ke
arah Cipinang, Jakarta Timur, rumah sahabat Dino. Sesampai disana, saya diperkenalkan dengan sahabat Dino, Agus namanya. Rumahnya sepi, alasannya ialah orang renta Agus sedang ke luar kota. Agus juga bersama pacarnya, Anggi. Pembantunyapun pulang kampung, sesekali kakak Agus yang telah menikah, datang ke rumah sekalian menengok Agus dan membawakannya makanan. Kakaknya hari ini sudah datang tadi pagi dan akan datang lagi besok, demikian kata
Agus. Makara hanya kami berempat di rumah itu. Kami ngobrol bersama ngalor ngidul.

Tak lama kemudian, Agus dan Dino pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk kami. Aku ngobrol dengan Anggi. Dari Anggi, saya tahu bahwa Agus telah bekerjasama selama kurang lebih 1 tahun. Keduanya satu sekolah, juga di SMP hanya berlainan dengan sekolahku. 10 menit kemudian, Agus dan Dino kembali dengan membawa 4 gelas sirup dan dua toples makanan kecil. Setelah menunjukkan minuman dan makanan itu, Agus berdiri dan memutar VCD.
Film gres katanya. Aku enggak ngerti, saya pikir film bioskop biasa. Agus menyilakan kami minum. Aku minum sirup yang diberikannya. 10 menit berlalu, kepalaku pusing sekali, bersamaan dengan itu ada rasa gila menyelimuti tubuhku. Rasa..hangat merinding di tv tampak serpihan seorang wanita bule yang sedang dientot oleh 2 laki-laki, satu negro dan satu lagi bule juga. Aku berniat untuk pulang, tetapi entah mengapa dorongan hatiku untuk tetap menyaksikan film itu. Mungkin alasannya ialah saya gres pertama kali ini nonton blue film. Badanku makin enggak karuan rasanya kepalaku serasa berat dan ah rangsangan di badanku semakin menggila.Aku lihat Agus dan Anggi sudah saling melepaskan baju mereka telanjang lingkaran di hadapan saya dan Dino.
Mereka saling berpelukan, berpagutan tampak Agus menciumi tetek Anggi yang mungil Agus lalu mengisep- isep pentilnya tampaknya keduanya sudah sering melakukannya. Mereka tampak tidak canggung lagi Anggi mengisep-isep peler Agus persis menyerupai kejadian di film blue itu. Anggi juga sepertinya telah terbiasa Kontol Agus kolam permen, diisep, dikulum oleh Anggi Dino merapatkan tubuhnya kepadaku.
"Rim.kamu sayang saya enggak?" tanyanya padaku. "Eh..emang kenapa, Din ?" kataku kaget alasannya ialah saya masih asyik menyaksikan Agus dan Anggi "Aku pengen kayak gitu."kata Agus sambil menunjuk pada Agus dan Anggi yang semakin hot. Tampak Agus mulai menindih Anggi, dan memasukkan batang kontolnya ke nonok Anggi. Dengan diikuti teriakan kecil Anggi, batang kontol itu masuk seluruhnya ke nonok Anggi. Gairahku melonjak- lonjak entah kenapa?
Seluruh badanku merinding." Rima?"kata Dino lagi. "Eh enggak ah enggak mau malu."kataku. "Malu sama siapa?"kata Dino. Tangannya mulai merayapi dadaku. Kutepis pelan tangannya. "Malu sama Agus dan Anggi tuh " kataku. "Ah mereka aja masbodoh ayo dong Rima saya sudah enggak tahan nih "kata Dino. "Ah..jangan ah "kataku. Gairahku makin tidak keruan mendengar erangan dan rintihan Agus dan Anggi. Tak terasa tangan Dino mulai membuka kancing bajuku. Entah kenapa saya membiarkannya sehingga bajuku terbuka. Aku hanya mengenakan BH dan celana
panjang jeans. Adegan di TV makin hot tampak sekarang seorang wanita asia di entot tiga orang bule dua orang memasukkan kontolnya ke memek dan pantatnya sedangkan yang satunya kontolnya lagi diisep oleh si wanita. Keempatnya terlihat sedang mencicipi kenikmatan Tangan Dino mulai merayapi dan meremas-remas buah dadaku yang masih kencang dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Aku menggelinjang, geli nikmat ah..baru pertama kali saya mencicipi ini." Buka Bhnya, ya sayang "pinta Dino. Aku mengangguk, saya jadi ingin
mencicipi lebih nikmat lagi Dengan cekatan Dino membuka Bhku.. saya sekarang benar-benar telanjang dada. Dino mengisepi pentilku memencet-memencet buah dadaku yang masih kenyal dan bagus " Tetekmu enak bener, sayang belum pernah ada yang pegang yaa"kata Dino sambil terus meremas tetekku dan mengisepi pentilku "Belum Din ahhh enak Din terus terus..jangan berhenti." kataku. Kenikmatan itu gres kali ini saya rasakan. Kulirik Agus dan Anggi, mereka
sekarang bermain doggy style. Anggi berposisi nungging dan Agus menusuknya dari belakang terdengar erangan dan eluhan mereka Gairahku makin menggila " Buka celanamu ya sayang saya udah pengen nih " pinta Dino. "Jangan Din takut."kataku. "Takut apa sayang?"kata Dino. "Takut hamil "kataku. "Enggak Din, saya nanti keluarnya di luar memekmu sayang kalo hamilpun saya akan tanggung jawab, percayalah "katanya.
Aku membisu saja Dino mulai membuka ristleting celanaku, saya diamkan saja.tak lama kemudian, beliau memerosotkan celanaku tampak memekku yang menggumpal dengan jembut yang lumayan tebal. Dino pun memerosotkan celana dalamku Aku benar- benar polos bugil. Dinopun membuka
seluruh bajunya, kami berdua telanjang bulat.Tangan Dino tetap meremas-remas tetekku Kulirik Agus dan Anggi, eh mereka bersodomi Anggi sudah biasa bersodomi rupanya kulihat kontol Agus maju mundur di pantat Anggi sedangkan tangan kiri Anggi mengucek- ucek memeknya sendiri yang sudah berair Erangan mereka terdengar makin sering.Dino terus mengerjaiku, tangannya mulai merayapi jembutku. Salah satu jarinya dimasukkan ke nonokku
"Ah..sakit, pelan-pelan, Din.."teriakku ketika jari itu memasuki nonokku. Dino agak sedikit mengeluarkan jari itu dan bermain di bibir kemaluanku tak lama kemudian nonokku basah. "Din, isep dong punyaku "pinta Dino sambil menyodorkan kontolnya ke mukaku. "Ah..enggak ah "kataku menolak. "Jijik ya? Punyaku bersih kok ayo dong Anggi saja berani tuh " pinta Dino memelas.

Dengan ragu saya pegang kontol Dino. Baru sekali ini saya memegang punya laki- laki. Ternyata liat dan keras. Kontol Dino sudah berdiri tegang rupanya. "Ayo dong Rima sayang "pinta Dino lagi. Dengan ragu kumasukkan kontol itu ke mulutku, saya diamkan kontol itu sambil kurasa-rasa. Ih, kenyal " Hisap dong sayang menyerupai kau makan permen "Dino mengajariku. Pelan-pelan
kuisap-isap, kujilati bolong kontol itu dengan lidahku lama kelamaan saya merasa senang mengisapnya kuisep keras-keras..kusedot-sedot, kujilati.kumaju mundurkan kontol itu di dalam mulutku terdengar berulang kali erangan Dino. "Ah ah.uuuhhh enak sayang teruskan.." erang Dino. Tangan Dino terus mengucek-ucek nonokku. Sudah tidak sakit lagi sekarang, mungkin
sudah berair Aku jadi senang mengisap kontol Dino terus kulomoh kuisap..kujilati kusedot-sedot ih..enak juga, pikirku Tiba-tiba Dino menarik kontolnya dan mengarahkannya ke nonokku Aku pasrah, dimasukkannya kontolnya ternyata meleset, Dino melumuri tangannya dengan ludahnya kemudian tangannya itu diusapkan ke kontolnya dan mencoba lagi memasukkan kontolnya ke liang nonokku, ketika kepalanya masuk ke nonokku, saya berteriak" Aduuh sakit Din pelan-pelan dong " Gairah semakin meninggi.aku ingin mencicipi kenikmatan lebih.Dino melesakkan kontolnya ke nonokku pelan kurasakan sesak nonokku ketika kepala kontol itu masuk ke dalamnya Dino lagi menghentakkan kontolnya sehingga amblas semuanya ke dalam nonokku." Ahhh perih Din " kataku. Dino membisu sebentar menunjukkan waktu kepadaku untuk menenangkan diri. "Tenang Din, sebentar lagi kau akan terbiasa kok "katanya. Pelan-pelan Dino mengocok
kontolnya di nonokku. Masih terasa perih sedikit kocokkan Dino semakin kencang Aneh, perih itu sudah tidak terasa lagi, yang ada hanya rasa nikmat nikmat sekali "Terus Din Terus ahhhh ah.enak."kataku. Sempat kulirik Agus dan Anggi masih terus bersodomi. Gimana rasanya disodomi ya, pikirku Agus semakin menggencarkan kocokkanyya Aku semakin menggelinjang.ah ternyata ngentot itu nikmat.surga dunia coba dari dulu.. kataku dalam hati."Din ah
.ah.aku aku." entah apa yang saya ingin ucapkan. Ada sesuatu yang ingin kukeluarkan dari nonokku entah apa "Keluarkan saja sayang kau mau keluar."kata Dino. "Ahh iya Din saya mau keluar.."tak lama kemudian terasa cairan hangat dari nonokku.
Dino terus mengocok kontolnya berpengaruh juga pacarku ini, pikirku. "Satu nol, sayang"kata Dino tersenyum. Dino mencopot kontolnya, saya sedikit kecewa " Kenapa dicopot Din.."tanyaku. "Kita coba doggy style, sayang "jawabnya sambil membimbingku berposisi menyerupai anjing. Dino menusukan kontolnya lagi sekarang badanku terguncang-guncang keras terdengar erangan
keras dari Anggi dan Agus, mereka ternyata telah mencapai puncaknya kulihat peluh bercucuran dari kedua tubuh mereka, dan kesudahannya mereka terkapar kenikmatan tampak wajah puas dari mereka berdua Aku sudah hampir tiga kali keluar Dino tampak belum apa-apa beliau terus mengocok kontolnya di memekku. Sudah hampir ? jam saya dientot Dino, tapi tampaknya Dino belum menunjukkan akan selesai. Kuat juga saya lemes sekali lalu Dino mencopot lagi kontolnya dan mengambil baby oil yang tersedia erat kakinya. Aku ingat baby oil itu
dipakai untuk melumuri pantat Anggi ketika mau disodomi.eh apakah saya mau disodomi Dino? "Mau ngapain Din " tanyaku penasaran."Seperti Anggi dan Agus lakukan, Rima saya ingin menyodomimu sayang "jawabnya. Sebenarnya saya takut, tapi terdorong rasa gairahku yang melonjak-lonjak dan keingin tahuanku rasanya disodomi, maka saya mendiamkannya ketika Dino mulai mengolesi lubang pantatku dengan baby oil. Tak lama kemudian, kontol Dino yang masih keras itu diarahkan ke pantatku meleset dicoba lagi kepala kontol Dino tampak mulai merayapi lubang pantatku "Aduuuh sakit Din "kataku ketika kontol itu mulai masuk pantatku. "Tenang sayang nanti juga enggak sakit "jawab Dino sambil melesakkan serpihan kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantatku "Aduuuhh sakiiiitt " kataku lagi. "Tenang Rim, nanti enak deh..aku jadi ketagihan sekarang "kata Anggi sambil mengelus rambutku dan menenangkanku. "Kamu sudah sering disodomi, Nggi?"tanyaku. "Wah bukan sering lagi hampir tiap hari kadang saya yang minta abis enak sih udah hening saja ayo Dino coba lagi nanti pacarmu pasti ketagihan ayo.." kata Anggi sambil menyuruh Dino mencoba lagi.

Dino mendesakkan lagi kontolnya sehingga seluruhnya amblas ke pantatku. Terasa perih di pantatku."Tuuh kan sudah masuk tuh enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini enak kan jadi enggak ada hari libur, kalo lagi mens-pun tetap mampu dientot hi hi
hi "kata Anggi. Aku membisu saja. Ternyata sakit kalo disodomi.Dino mulai mengocok kontolnya di pantatku. "Pelan-pelan, Din masih sakit "pintaku pada Dino. "Iya sayang enak nih sempit" katanya. Anggi ke belakang pantatku dan mengucek-ucek nonokku dengan tangannya saya semakin menggelinjang nikmat "Anggi ah.enak "kataku. "Ayo Din, kocok terus, semoga saya mengucek nonoknya, semoga rasa sakit itu bercampur rasa nikmat"kata Anggi pada Dino. Benar
sekarang rasa sakit itu tidak muncul lagi hanya nikmat."Hai sayang ini ada lobang nganggur mau pake? Boleh kan Dino? Lubang yang satu ini dipake pacarku Agus "kata Anggi. "Tanya Rima saja deh, saya lagi asyik nih"jawab Agus sambil terus mengocok kontolnya di pantatku. "Gimana Rima? Bolehkan? Enak lo di dobelin saya sering kok "pinta Anggi. "Ah..jangan deh "kataku.
"Sudahlah Rima, kasih saja saya rela kok"kata Dino. Tiba-tiba Agus merayap di bawahku dan menciumi tetekku. Kontolnya dipegang oleh Anggi dan diarahkan ke nonokku. Dengan sekali hentakan, kontol itu masuk ke nonokku. "Jaang " kataku hendak berteriak jangan tetapi terlambat, kontol itu sudah masuk ke nonokku. Jadilah saya dientot dan disodomi. ? jam Agus dan Dino mengocok kontolku. Aku lemes sekali gres sekali dientot sudah diduain tanganku sudah tidak berpengaruh menopang badanku. Kakiku lemes sekali. Kenikmatan itu sendiri tidak ada
duanya.aku sebetulnya jadi senang dientot berdua begini tapi mungkin kali ini kurang siap.

Aku keluar 2 kali sebelum Agus mencopot kontolnya dan memasukkan kontolnya ke verbal Anggi. Anggi menghirup peju yang keluar dari kontol Agus dengan nikmat. Kemudian Dino melaksanakan hal yang sama, tadinya saya ragu untuk menghirupnya, tapi lagi-lagi rasa penarasan pada diriku membuatku ingin rasanya menikmati pejunya Dino. Dino memuntahkan pejunya di
mulutku akupun menelannya. Ah..rasanya asin dan agak wangi setelah kontolnya bersih, Dino mencopot kontolnya dan menciumku yang sudah KO di kasur. "Terima kasih sayang saya puas dan sayang sama kau "katanya lembut. Aku membisu saja sambil mencicipi kenikmatan yang gres pertama kali saya rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek alasannya ialah dirasuki kontol Dino. Aku mencoba duduk, ah masih terasa sakit di kedua lubangku itu, lalu saya menangis di pelukan Dino." Din, saya sudah enggak perawan lagi sekarang jangan tinggalkan saya yaa."kataku pada Dino. Kulihat Anggi dan Agus sudah tidur berpelukan dalam keadaan telanjang bulat.
"Iya sayang saya makin cinta sama kau saya kesepakatan enggak akan meninggalkanmu tapi kau harus kesepakatan yaa "katanya. "Bener Din? Kamu enggak ninggalin aku? Tapi kesepakatan apa ?" kataku balik bertanya. "Janji, kita akan mengulangi ini lagi saya bener-bener ketagihan sekarang sama nonokmu dan juga pantatmu, sayang "kata Dino sambil mengelus rambutku. Aku membisu saja, saya juga ingin lagi..aku juga ketagihan kataku dalam hati. "Janji ya sayang "katanya lagi mendesakku. Aku hanya mengangguk. "Sudah jangan nangis sekarang kau mau eksklusif pulang atau mau istirahat dulu?"tawar Dino. Aku pilih istirahat dulu lalu akupun tertidur berpelukan dengan Dino. Hari ini gres pertama kali saya berkenalan dengan sex. Ternyata enak dan nikmat.
Hari-hari selanjutnya tidak pernah kami lewatkan seharipun tanpa ngentot dan sodomi. Aku jadi ketagihan begitu pula Dino. Kadang kami melakukannya di WC sekolah, di kelas ketika seluruh siswa dan guru telah pulang, di jok motor Dino, di hotel dan disetiap kesempatan. Aku merasa pusing dan sulit konsentrasi kalau tidak dientot. Prestasi belajarku jadi menurun kalau sehari
tidak dientot. Ngentot jadi candu buatku. Pernah beberapa hari Doni tidak masuk, sakit. Aku kelabakan. Akhirnya saya ke pasar dan membeli beberapa buah timun dan terong ungu. Aku melakukannya dengan timun dan terong itu untuk memuaskan cita-cita ngentotku, tapi saya mencicipi ada yang kurang saya jadi ketagihan juga dengan peju peju laki-laki jadi vitamin buatku saya ingin nyepong ingin minum peju Sampai pada suatu hari, saya pulang sekolah, dijalan
saya berpapasan dengan sekumpulan anak muda yang memang sering nongkrong di jalan itu. Mereka ada 3 orang dan menyapaku " Hai Rima, gres pulang nih? Kok sendiri?"kata salah satu dari mereka, kalo enggak salah Toto namanya. Aku tahu alasannya ialah memang mereka anak- anak muda sekitar daerahku. Mereka rata-rata anak SMA,bahkan Toto mungkin sudah lulus beberapa tahun yang lalu. "Eh iya nih lagi ingin sendiri"kataku. "Kami temani mau?"kata mereka bertiga. Entah kenapa nonokku berdenyut-denyut melihat tubuh-tubuh mereka yang rata-rata
atletis. "Hmm boleh deh, sekalian jadi temen ngobrol "kataku.

Lalu kami berempat berjalan beriringan menuju rumahku. Daerah pemukiman rumahku memang
sangat sepi, hampir tiap siang menyerupai kota mati. Makara saya berjalan tidak ada yang memperhatikan. Jalanku memang sudah agak ngegang, mungkin alasannya ialah sering disodomi oleh Dino. Sampai di rumah, demi menghormati tamu saya menyilakan mereka masuk. Merekapun duduk-duduk di teras. Toto, Andi dan Bambang nama mereka, ketika kami berkenalan di jalan. Aku masuk ke dalam untuk mengambil minuman buat mereka. Ternyata rumahku sepi, dan dikonci. Untung saya punya serep kunci, jadi saya mampu masuk. Kulihat di meja ada pesan tertulis dari bokapku. Katanya ada saudaranya yang meninggal, jadi bokap, nyokap dan kakakku pergi keluar kota mungkin besok sudah pulang. Aku ditinggali uang untuk jajan dan makanku. Wah..iseng nih saya suruh masuk ketiga rekanku tadi. Lalu saya ke kamar mandi, enggak tahan saya sudah lama enggak dientot lalu kuambil timun persediaanku kucolokkan ke pantat dan
nonokku ah gairahku agak mengendor sekarang kukocok-kocok timun itu sampai
saya puas sendiri. Tanpa disadari, perbuatanku itu dilihat oleh Bambang.

Tadinya beliau mau numpang buang air kecil, ketika di wc, pintunya terbuka dan dilihatnya saya sedang bermasturbasi dengan telanjang bulat. Aku jadi aib dan sambil berbisik menyuruhnya menutup pintu. Lalu saya memakai handuk dan keluar. Bambang masih ada di depan pintu WC. "Rim..lagi ngapain kau tadi?"tanyanya. "Eh ah enggak lagi ngapa-ngapain ngintip yaa" kataku. "Enggak sengaja, saya ingin pipis sudah kebelet kau lagi coli yaa?" tanyanya lagi. "Eh sok tahu luh,"kataku. "Rim, daripada coli, gue mau nolongin elo nyolok nonok elo kan daripada pake timun mendingan pake urat "katanya sambil mendekatiku. "Uh..enak aje luh " kataku. "Ayo dong, gue belon pernah nyobain nih dikiiit ajah "katanya. "Masak iya sih belon nyobain? Kalo laki kan biasanya sering "tanyaku. "Berani sumpah deh "kata Bambang lagi sambil memegang pundakku.
Ah kenapa saya jadi terangsang begini kataku dalam hati setelah mencicipi gairahku melonjak-lonjak. Aku diamkan Bambang ketika tangannya mulai merayap ke dadaku. "eh jangan Bang entar yang lain ngeliat "kataku sambil ancang-ancang mau lari ke kamarku. Dihentakkannya handukku hingga terlepas. Aku bugil di depannya. Tak mungkin saya lari, alasannya ialah akan tertangkap berair oleh Toto dan Andi. Tanganku ingin meraih handukku dilantai. Dengan sigap, Bambang mengambil terlebih dahulu handuk itu dan melemparkannya ke tempat yang jauh dari jangkauanku. Lalu beliau mendekapku. "Ayolah Rim saya enggak tahan nih liat tubuhmu kau juga sudah enggak perawan kan? Tadi saya lihat kau nusuk- nusuk nonok dan pantatmu ayo dong."kata Bambang. Mungkin alasannya ialah sudah hampir seminggu saya enggak dientot. Aku lalu
berkata" eh..tapi..pelan- pelan ya..jangan tertangkap berair Toto dan Andi disana
saja".
Jariku menunjuk meja makan. Bambang membopongku sambil menciumi tetekku. Aku menggelinjang dan saya mencicipi menyerupai menemukan setetes air di padang gurun. Aku direbahkan di meja makan, Bambang membuka bajunya. Tampak gumpalan- gumpalan otot di lengan dan bahunya. Perutnya pun berkotak-kotak. Bambang mulai meremasi tetekku ah nikmat bener saya menciumi bibirnya lalu Bambang mengisepi pentilku..isepannya lebih dahsyat dibanding Dino beliau menarik-narik pentilku, menggigit- gigitnya. Aku merintih, mengerang
ah..akhirnya saya dientot juga pikirku Dino maafkan saya yaa saya jadi enggak mampu hening kalo enggak dientot tapi cintaku tetap padamu Din..kataku membatin. Tiba-tiba pintu dapur terkuak, saya dan Bambang kaget, takut keluargaku yang masuk, ternyata Toto dan Andi yang masuk, mereka sebetulnya ingin pamit dan mencari Bambang tetapi mereka menemukan Bambang sedang menikmati tubuhku. Tanpa basa-basi mereka kesudahannya membuka baju dan
celananya. "Wah asyik juga nih, saya minta serpihan juga ya Rim "kata Toto Aku pasrah, mau diapain lagi, kesudahannya mereka minta dilayaniku. Bambang sudah menusukkan kontolnya ke nonokku dan sudah mulai mengocoknya. Toto dan Andi berdiri di samping kiri dan kananku. Aku tergeletak di meja makan. Toto dan Andi menyorongkan kontolnya, saya tahu mereka minta disepong. Aku sepong kontol mereka bergantian Bambang terus mengocokkan kontolnya. Tiga pasang tangan meremas-remas tetekku yang sekarang berukuran 38. Pentilku
ditarik-tarik.
15 menit kemudian Bambang mencabut kontolnya, beliau mau keluar rupanya. Kutarik tangannya Bambang, dan beliau mengerti, lalu memasukkan kontolnya ke mulutku. Tak lama kemudian creeett pejunya membasahi mulutku. Aku menghirupnya ah..akhirnya saya mampu minum peju lagi saya tersenyum sendiri nikmat Setelah kontolnya bersih, Bambang duduk di dingklik dan menciumi
wajahku. Giliran Toto mengentotku,..dikocokkan kontolnya di nonokku Mulutku terus mengisep kontol Andi badanku berguncang- guncang alasannya ialah gerakan tubuh Toto yang mengocokkan kontolnya di nonokku. Terdengar erangan Toto dan Andi. Aku sudah 2 kali keluar kurang lebih 12 menit kemudian, Toto mencabut kontolnya dan saya meminum pejunya. Ketika Andi hendak mengentotku, saya turun dari meja makan dan berposisi nungging. "Ndi, tolong sodok pantatku nih "pintaku. Tanpa banyak bicara, Andi menyodokkan kontolnya ke pantatku. "Wah, kau sudah biasa disodomi ya, kok gampang bener masuknya" kata Andi. "Eh..iya ayo dong kocokkin punyamu "kataku. Andi mengocokkan kontolnya di nonokku pelan makin lama makin kencang. "Ah..a.ah enak Ndi, terus " kataku. Andi mengerang, merejang..nikmat. "Rim, gue pengen lagi nih, bolehkan"kata Bambang tiba-tiba. "Iyaa.ah colok lagi deh..masih ada satu lubang tuh
"kataku.
Bambang tidur dengan muka menghadap tetekku yang bergoyang-goyang. Dimasukkkan kontolnya ke nonokku. Amblas sudah keduanya mengocokkan kontolnya. Badanku berguncang ahli kepalaku kekanan dan kiri mencicipi nikmat yang hampir seminggu ini tidak kurasakan.Aku lagi dikerjai dua orang " Gantian Ndi, gue pengen nyobain lubang pantatnya nih!"kata Bambang. Andi nurut dan berganti posisi. Andi di bawah dan Bambang masuk lubang atas.
Kembali mereka mengocokku. 20 menit kemudian Andi dan Bambang secara bergantian memasukkan kontolnya ke mulutku. Aku menghirupnya kembali. Ahhh nikmat.Setelah selesai, mereka memakai bajunya kembali dan saya ke kamar untuk pake baju. 5 Menit kemudian, saya pake daster tipis tanpa dalaman apa-apa dan menemani mereka ngobrol. Aku enggak aib lagi, alasannya ialah mereka sudah memakaiku. "Rim, kau sudah pengalaman ya? Enak lo goyangannya boleh minta lagi enggak?"tanya Toto. " Idih..ketagihan boleh saja asal tahu diri
"kataku cuek. "Maksudmu " kata Toto. "Kalau saya lagi sepi dan rumah ini kosong, boleh deh "jawabku. "Beres deh, cihuy "kata Toto girang. Aku tersenyum saja. "Kamu ngobrol jangan pake baju deh Rim abis percuma, bajumu tipis bener "kata Andi. "Bener nih..?"kataku sambil membuka bajuku. Akhirnya saya menemani mereka ngobrol tanpa baju. Terkadang mereka memencet tetekku, mengisep nonokku. Aku masbodoh saja " Eh, kejadian ini dirahasiakan yaa kalo
sampe bocor, elo-elo enggak bakalan dapat jatah lagi dari gue"kataku pada mereka.

"Tetek elo gede juga yaa padahal gres SMP kelas dua"kata Andi lagi. "Iya, gimana enggak gede dipencetin terus nih tetek cuman kok agak kendur yaa ada enggak sih obat yang mampu ngencengin?" kataku. "Emang kendur? Coba kupegang" kata Andi sambil memegang dan meremas tetekku diikuti oleh Bambang dan Toto. 3 pasang tangan meremas dan memencet-mencet tetekku. Aku jadi gelisah, gairahku berdiri lagi begitu juga mereka kesudahannya saya dibopong oleh
Bambang dan mereka mengerjaiku lagi di kamarku. Jam 10 malam, mereka menyudahi mengentot dan menyodomiku saya tertidur diantara mereka. Lemes sekali badanku tiga orang kulayani dua ronde Toto tidur sambil mengisap pentilku. Bambang tidur sambil tetap kontolnya di nonokku. Andi tidur sambil kontolnya di mulutku. Jam 5pagi, kami serempak bangun mereka minta jatah lagi, kesudahannya sebelum mandi, saya layani lagi jam 6.30 selesai sudah, aku
dimandikan oleh mereka bertiga.Jam 7 kurang 15 saya diantar Bambang naik motor ke sekolah. Di sekolah, saya mampu konsentrasi dengan pelajaranku. Tenang pikiranku nonokku sudah tidak berdenyut lagi
Ah sekarang saya duduk di SMA kelas I, saya sudah tidak pacaran lagi dengan Dino. Dia meninggal goresan ketika ikut balap motor jalanan. Kegiatan ngentotku masih berjalan. Aku semakin nyandu untuk dientot. Untung sekarang saya punya pacar yang bersedia melayani nafsu seksku. Tetekku sekarang berukuran 40-B. Badanku agak gemuk mungkin alasannya ialah sering dientot dan minum pil KB. Sehari saya harus minimal tiga kali ngentot. Aku jadi seks maniak.
Kalo pacarku lagi enggan melayaniku, saya jadi sembarangan milih orang, tukang becak, tukang sampah hingga bos-bos pernah saya layani. Aku mau menghentikannya, tapi berulang kali saya gagal. Aku harus ke psikiater mungkin. Aku sudah layu, hancur tapi tidak kuasa untuk berhenti. Siswa-siswi yang lain mengisi hari-hari luangnya dengan kegiatan positif, saya mengisinya
dengan ngentot abis- abisan. Karena SMA ku agak jauh dengan rumahku, sekarang saya memilih kost. Aku mengontrak rumah kecil dan disana saya leluasa menampung setiap lelaki yang bersedia melayaniku 3 atau 4 kali sehari. Berulang kali saya kena penyakit kelamin, tapi saya selalu dapat sembuh. Nonokku sudah memble, lubang pantatku sudah enggak kebilang lebarnya.
Tapi saya tetap tidak mampu meredam gejolak seksku yang makin menggila. Aku enggak bermimpi untuk mampu kawin suatu ketika alasannya ialah kupikir mana ada laki-laki yang mau dengan seks maniak sepertiku ini. Bambang, Toto dan Andi masih setia menemaniku dan menjadi pemuas hasratku. Walau saya masih SMA, tapi badanku sudah menyerupai ibu-ibu. Nilai-nilaiku tergolong tinggi di kelas tetapi itu terjadi apabila jatah ngentotku rutin. Sehari saja saya enggak dientot atau jatah ngentotku kurang, anjlok semua nilaiku. Uring-uringan sikapku. Makara saya harus dientot setiap hari. Apakah nonok dan otak nyambung ?

Kadang-kadang saya ngentot sambil menghapal, dan itu cepat masuk dan nyangkut di kepalaku. Makara dibelakang nonokku ditusuk saya membaca buku pelajaranku. Bisa tiga hingga lima mata pelajaran yang kuhapal habis ketika saya dientot. Ingin saya mampu mengendalikan nafsuku dan hidup normal tapi bagaimana caranya??

End by Kumpulan Cerita Sex Bergambar - Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
3

Cerita Dewasa Pesta Ngentot ABG di Villa

Cerita Sex - Aku yaitu gadis berusia 19 tahun, kawan-kawan mengatakan saya cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. Aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya 'gaul abis'.
Cerita Dewasa Pesta Ngentot ABG di Villa Cerita Dewasa Pesta Ngentot ABG di Villa
Cerita Dewasa Pesta Ngentot ABG di Villa

Namun demikian saya masih bisa menjaga kesucianku sampai.. Suatu ketika saya dan enam orang kawan Susi (19), Andra (20), Kelvin (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak.

Susi walaupun tidak terlalu tinggi (160) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Susi telah berpacaran cukup lama dengan Kelvin. Diantara kami bertiga Andra yang paling cantik, tubuhnya sangat proporsi tidak heran jikalau sang pacar, Vito, sangat tergila-gila dengannya. Sementara aku, Andri dan Toni masih 'jomblo'. Andri yang berdarah India bersama-sama suka sama aku, beliau lumayan tampan hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat saya ngeri, karenanya saya hanya menganggap beliau tidak lebih dari sekedar teman.

Acara ke Puncak kami mulai dengan 'hang-out' disalah satu kafe terkenal di kota kami. Larut malam gres tiba di Puncak dan eksklusif menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara cuek membuatku terbangun dan menyadari hanya Susi yang ada sementara Andra entah kemana. Rasa haus membuatku beranjak menuju dapur untuk mengambil minum. Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telingaku menangkap bunyi orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Andra. Niat menegur mereka saya urungkan, alasannya kulihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian bermetamorfosis lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan episode itu menahan langkahku menuju dapur.

Adegan ciuman itu bertambah 'panas' mereka saling memagut dan berguling-gulingan, pengecap Vito menjalar bagai bagai ular ketelinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas payudara yang menyebabkan Andra mendesah-desah, suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Disibakkannya t-shirt Andra dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Andra. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus belahan sensitif yang tertutup g-string. Vito berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Andra keberatan. Lamat-lamat kudengan pembicaraan mereka.

"Jangan To" tolak Andra.

"Kenapa sayang" tanya Vito.

"Aku belum pernah.. gituan"

"Makanya dicoba sayang" bujuk Vito.

"Takut To" Andra beralasan.

"Ngga apa-apa kok" lanjut Vito membujuk

"Tapi To"

"Gini deh", potong Vito, "Aku cium aja, jikalau kau ngga suka kita berhenti"

"Janji ya To" sahut Andra ingin meyakinkan.

"Janji" Vito meyakinkan Andra.

Vito tidak membuang-buang waktu, ia membuka t-shirt dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Andra yang mengagumkan itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string Andra. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Andra dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Andra bergetar mencicipi pengecap Vito.

"Agghh.. To.. oohh.. enakk.. Too"

Mendengar desahan Andra, Vito semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan Andra dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Andra, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan.

Andra semakin membuka lebar kedua kakinya semoga memudahkan ekspresi Vito melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Andra sudah karam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. Vito tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya, ia membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Andra. Mereka bergumul dalam ketelanjangan yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya, Andra tidak tinggal membisu ia melaksanakan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. Aku mulai terjangkit virus birahi mereka.

Vito kemudian mengangkat tubuhnya yang ditopang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vito mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Anggie. "Jangan To, katanya cuma cium aja" sergah Andra.

"Rileks An" bujuk Vito, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Andra.

"Tapi.. To.. oohh.. aahh" protes Andra karam dalam desahannya sendiri.

"Nikmatin aja An"

"Ehh.. akkhh.. mpphh" Andra semakin mendesah

"Gitu An.. rileks.. nanti lebih enak lagi"

"He eh To.. eesshh"

"Enak An..?"

"Ehh.. enaakk To"

Aku benar-benar ternganga dibuatnya. Seumur hidup belum pernah saya melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi episode 'live' menyerupai itu.

Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Andra yang terdengar.

"Aku masukin ya An" pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.

Vito eksklusif menekan pinggulnya, ujung kejantanannya karam dalam kewanitaan Andra.

"Aakhh.. To.. eengghh" erang Andra cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuhku meremang mendengarnya.

Vito lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Andra.

"Teruss.. Too.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayangg" Andra meracau.

"Aku suka sekali payudara kau An.. mmhh"

"Aku juga suka kau isep To.. ahh" Andra menyorongkan dadanya membuat Vito bertambah mudah melumatnya.

Bukan hanya Andra yang terayun-ayun gelombang birahi, saya yang melihat semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar saya mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingku sendiri, membuat mataku terpejam-pejam mencicipi nikmatnya.

Vito tahu Andra sudah pada situasi 'point of no return', ia merebahkan badannya menindih Andra dan memeluknya seraya melumat mulut, leher dan pendengaran Andra dan.. kulihat Vito menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Andra.

"Auuwww.. To.. sakiitt" jerit Andra.

"Stop.. stop To"

"Rileks An.. supaya enak nanti" bujuk Vito, sambil terus menekan lebih dalam lagi.

"Sakit To.. pleasee.. jangan diterusin"

Terlambat.. seluruh kejantanan Vito telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Andra. Beberapa ketika Vito tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher, pundak dan balasannya payudara Andra kembali jadi bulan-bulanan pengecap dan mulutnya. Perlakuan Vito membuat birahi Andra terusik kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Vito yang mulai dari punggung, pinggang hingga buah pantatnya tak luput dari remasan-remasan tangan Andra.

Vito memahami sekali keadaan Andra, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging Andra yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.

"Uhh.. ohh.. To" desah kenikmatan Andra, kakinya dibuka lebih melebar lagi.

Vito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.

"Agghh.. ohh.. terus Too" Andra meracau mencicipi kejantanan Vito yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon Vito tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.

"Aaauugghh.. sshh.. Too.. ohh.. Too" Andra tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saya dari mulutnya.

Pinggul Vito yang turun naik dan kaki Andra yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menjadikan denyut-denyut di belahan sensitifku, kumasukan tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuhku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba kewanitaanku.

"Ssshh.. sshh" desisku tertahan manakala jari tengahku menyentuh bibir kemaluanku yang sudah basah, sesaat 'life show' Vito dan Andra terlupakan. Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Andra.

"Adduuhh.. Too.. nikmat sekalii" Andra terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.

"Nikmati An.. nikmati sepuas-puasnya"

"Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Too"

"Punya kau enaakk sekalii An.. uugghh"

"Ohh.. Too.. saya sayang kamu.. sshh" desah Andra seraya memeluk, kebanggaan Vito rupanya membuat Andra lebih agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat Vito.

"Enaak An.. terus goyang.. uhh.. eenngghh" mencicipi goyangan Andra Vito semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.

"Ahh.. aahh.. Too.. teruss.. sayaang" pekik Andra.

Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.

"Too.. tekan sayangg.. uuhh.. saya mau ke.. kelu.. aarrghh" erang Andra.

Vito menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Gema erangan kenikmatan mereka memenuhi seantero kamar dan kemudian keduanya.. terkulai lemas.

Dikamar saya gelisah mengingat-ingat kejadian yang gres saja kulihat, bayang-bayang Vito menyetubuhi Andra begitu menguasai pikiranku. Tak kuasa saya menahan tanganku untuk kembali mengusap-usap seluruh belahan sensitif di tubuhku namun eksistensi Susi sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mataku terpejam. Dalam mimpi episode itu muncul kembali hanya saja bukan Andra yang sedang disetubuhi Vito tetapi diriku.

Jam 10.00 pagi harinya kami jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Susi dan Kelvin menunggu villa. Belum lagi 15 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, saya mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas saya kembali ke villa.

Selesai dari kamar mandi saya mencari Susi dan Kelvin, rupanya mereka sedang di ruang TV dalam keadaan.. bugil. Lagi-lagi saya mendapat suguhan 'live show' yang spektakuler. Tubuh Susi setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Kelvin berlutut dilantai dengan tubuh berada diantara kedua kaki Susi, Mulutnya mengulum-ngulum kewanitaan Susi, tak lama kemudian Kelvin meletakan kedua tungkai kaki Susi dibahunya dan kembali menyantap 'segitiga venus' yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Susi berkelojotan diperlakukan menyerupai itu.

"Ssshh.. sshh.. aahh" desis Susi.

"Oohh.. Kel.. nikmat sekalii.. sayang"

"Gigit.. Kel.. pleasee.. gigitt"

"Auuwww.. pelan sayang gigitnyaa"

Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Susi mencengkram kepala Kelvin, tangan lainnya meremas-remas payudara 36b-nya sendiri serta memilin putingnya.

Beberapa ketika kemudian mereka berganti posisi, Susi yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kejantanan Kelvin, kepalanya turun naik, tangannya mengocok-ngocok batang kenikmatan itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim. Setiap gerakan kepala Susi sepertinya menawarkan sensasi yang luar biasa bagi Kelvin.

"Aaahh.. aauugghh.. teruss sayangg" desah Kelvin.

"Ohh.. sayangg.. enakk sekalii"

Suara desahan dan erangan membuat Susi tambah bernafsu melumat kejantanan Kelvin.

"Ohh.. Susii.. ngga tahann.. masukin sayangg" pinta Kelvin.

Susi menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Kelvin berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kenikmatan Kelvin, diarahkan kemulut kewanitaannya dan dibenamkan. "Aaagghh" keduanya melenguh panjang mencicipi kenikmatan goresan pada belahan sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Susi mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Kelvin mengeliat-geliat mencicipi batangnya diurut-urut oleh kewanitaan Susi. Sebaliknya, milik Kelvin yang menegang keras dirasakan oleh Susi mengoyak-ngoyak dinding dan lorong kenikmatannya. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua manusia itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi.

Tontonan itu membuat saya tidak dapat menahan keinginanku untuk meraba-raba2 sekujur tubuhku, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluanku. Kutinggalkan 'live show' bergegas menuju kamar, kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di kewanitaanku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan kewanitaanku dan.. balasannya menyentuh klitorisku.

"Aaahh.. sshh.. eehh" desahku mencicipi nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir kemaluanku, membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai berair dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku tiba-tiba pintu terbuka.. Susi! masih dengan pakaian kusut menerobos masuk, untung saya masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.

"Ehh Ver.. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?" sapa Susi terkejut.

"Iya Si.. balik lagi.. perut mules"

"Aku suruh Kelvin beli obat ya"

"Ngga usah Si.. udah baikan kok"

"Yakin Ver?"

"Iya ngga apa-apa kok" jawabku meyakinkan Susi yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Sirna sudah birahiku alasannya rasa kaget.

Malam harinya selesai makan kami semua berkumpul diruang tengah, Andri eksklusif memutar VCD X-2. Adegan demi episode di film mensugesti kami, terutama kawan-kawan pria, mereka kelihatan gelisah. Film masih setengah main Susi dan Kelvin menghilang, tak lama kemudian disusul oleh Andra dan Vito. Tinggal aku, Toni dan Andri, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, saya di tengah. Melihat episode film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal menyeruak dikewanitaanku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, saya jadi salah tingkah. Toni yang pertama melihat kegelisahanku.

"Kenapa Ver, gelisah banget horny ya" tegurnya bercanda.

"Ngga lagi, ngaco kau Ton" sanggahku.

"Kalau horny bilang aja Ver.. hehehe.. kan ada kita-kita" Andri menimpali.

"Rese' nih berdua, nonton aja tuh" sanggahku lagi menahan malu.

Toni tidak begitu saja mendapatkan sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang saya rasakan. Toni tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya menyerupai biasa ia lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.

"Santai Ver, jikalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kau normal" bisik Toni sambil meremas pundakku.

Remasan dan terpaan nafas Toni ketika berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuhku meremang, tanpa terasa tanganku meremas ujung rok. Toni menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya.

"Remas aja paha saya Ver daripada rok" bisik Toni lagi.

Kalau sedang bercanda jangankan paha, pantatnya yang 'geboy' saja kadang saya remas tanpa rasa apapun, kali ini mencicipi paha Toni dalam remasanku membuat darahku berdesir keras.

"Ngga usah aib Ver, kalem aja" lanjutnya lagi.

Entah alasannya bujukannya atau saya sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tanganku tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada episode yang 'wow' kuremas pahanya. Merasa mendapat angin, Toni melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih bersahabat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding.

Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan Toni sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan Toni yang semakin menjadi-jadi.

"Ver gue suka deh liat leher sama pundak kamu" bisik Toni seraya mengecup pundakku.

Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.

"Jangan Ton" namun saya berusaha menolak.

"Kenapa Ver, cuma pundak aja kan" tanpa perduli penolakanku Toni tetap saja mengecup, bahkan semakin naik keleher, disini saya tidak lagi berusaha 'jaim'.

"Ton.. ahh" desahku tak tertahan lagi.

"Enjoy aja Ver" bisik Toni lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku.

"Ohh Ton" saya sudah tidak bisa lagi menahan, semua rasa yang terpendam semenjak melihat 'live show' dan film, perlahan merayapi lagi tubuhku.

Aku hanya bisa tengadah mencicipi kenikmatan ekspresi Toni di leher dan telingaku. Andri yang sedari tadi asik nonton melihatku menyerupai itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melaksanakan hal yang sama. Pundak, leher dan pendengaran sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya.

Melihat saya sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Toni semakin naik hingga balasannya menyentuh kewanitaanku yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di kewanitaanku, remasan Andri di payudaraku dan kehangatan ekspresi mereka dileherku membuat magma birahiku menggelegak sejadi-jadinya.

"Agghh.. Tonn.. Drii.. ohh.. sshh" desahanku bertambah keras.

Andri menyingkap tang-top dan braku bukit kenyal 34b-ku menyembul, eksklusif dilahapnya dengan rakus. Toni juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba kewanitaanku yang sudah berair oleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras.

"Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh" desahanku berganti menjadi erangan-erangan.

Mereka melucuti seluruh penutup tubuhku, tubuh polosku dibaringkan dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjarahnya. Andri melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, pengecap kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Toni menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan balasannya hingga di kewanitaanku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisku, bersamaan dengan itu Andri pun sudah melumat payudaraku, putingku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.

Diperlakukan menyerupai itu membuatku kehilangan kesadaran, tubuhku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan saya mulai berani punggung Andri kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.

"Aaahh.. Tonn.. Drii.. teruss.. sshh.. enakk sekalii"

"Nikmatin Ver.. nanti bakal lebih lagi" bisik Andri seraya menjilat dalam-dalam telingaku.

Mendengar kata 'lebih lagi' saya menyerupai tersihir, menjadi hiperaktif pinggul kuangkat-angkat, ingin Toni melaksanakan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya kewanitaanku dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin berair oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian saya mencicipi kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk Andri-yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya.

"Aaagghh.. Tonn.. Drii.. akuu.. oohh" jeritku keras, dan mencicipi hentak-hentakan kenikmatan didalam kewanitaanku. Tubuhku melemas.. lungai.

Toni dan Andri menyudahi 'hidangan' pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang gres saja kualami. Permainan Andri di payudara dan Toni di kewanitaanku yang membuatkan kenikmatan yang belum pernah kualami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menjadikan getar-getar birahi diseluruh tubuhku. Aku semakin karam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan pengecap Andri mulai lagi, tapi kali ini tubuhku menyerupai di gelitiki ribuan semut, ternyata Andri sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Toni sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

Mataku terpejam, saya sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuhku sebagai 'hidangan' utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan ekspresi Toni yang berpengalaman mulai beraksi.. hilang sudah rasa kekuatiran dan ketakutanku. Gairahku bangun mencicipi pengecap Toni menjalar dibibir kemaluanku, ditambah lagi Andri yang dengan lahapnya menghisap-hisap putingku membuat tubuhku mengeliat-geliat mencicipi geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku.

"Aaahh.. Tonn.. Drii.. nngghh.. aaghh" rintihku tak tertahankan lagi.

Toni kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sofa sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluanku. Kali ini ujung lidahnya hingga masuk kedalam liang kenikmatanku, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuhku bagai tersengat ajaran listrik saya hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit mencicipi kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Andri! Aku mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Andri tidak menggubrisnya ia malah manahan kepalaku dengan tangannya semoga tidak bergerak.

"Jilat.. Ver" perintahnya tegas.

Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Andri mendesah-desah mencicipi jilatanku.

"Aaahh.. Verr.. jilat terus.. nngghh" desah Andri.

"Jilat kepalanya Ver" saya menuruti permintaannya yang tak mungkin kutolak.

Lama kelamaan saya mulai terbiasa dan dapat mencicipi juga enaknya menjilat-jilat batang penis itu, lidahku berputar dikepala kemaluannya membuat Andri mendesis desis.

"Ssshh.. nikmat sekali Verr.. isep sayangg.. isep" pintanya diselah-selah desisannya.

Aku tak tahu harus berbuat bagaimana, kuikuti saja apa yg pernah kulihat di film, kepala kejantanannya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Andri meringis.

"Jangan pake gigi Ver.. isep aja" protesnya, kucoba lagi, kali ini Andri mendesis nikmat.

"Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Ver"

Melihat Andri ketika itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kejantanannya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku, belum lagi kenakalan pengecap Toni yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku. Aku semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhku, saya bahkan tidak aib lagi mengocok-ngocok kejantanan Andri yang separuhnya berada dalam mulutku.

Beberapa ketika kemudian Andri mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tanganku tak bisa menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat kemaluannya menyerupai dikocok-kocok. Andri bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..

"Aaagghh.. nikmatt.. Verr.. aku.. kkeelluaarr" jerit Andri, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku.

Aku hingga terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. Toni tidak kuhiraukan saya eksklusif duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal sofa.

"Gila Andri.. kira-kira dong" celetukku sambil bersungut-sungut.

"Sorry Ver.. ngga tahan.. abis isepan kau enak banget" jawab Andri dengan tersenyum.

"Udah Ver jangan marah, kau masih gres nanti lama lama juga bakal suka" sela Toni seraya mengambilkan saya minum dan membersihkan sisa air mani dari mulutku.

Toni benar, saya bersama-sama tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik Andri ketika akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. Toni membujuk dan memelukku dengan lembut sehingga kekesalanku segera surut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kelembutan perlakuannya membuatku lupa dengan kejadian tadi. Kecupan dibibir bermetamorfosis lumatan-lumatan yang semakin memanas kami pun saling memagut, pengecap Toni menerobos mulutku meliuk-liuk bagai ular, saya terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku.

Toni merebahkan tubuhku kembali dilantai beralas karpet, kali ini dadaku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke kewanitaanku, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluanku. Tubuhku eksklusif mengeliat-geliat mencicipi kenakalan jari-jari Toni.

"Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh" desisku tak tertahan.

"Teruss.. Tonn.. aakkhh"

Aku menjadi lebih menggila waktu Toni mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluanku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang kurasakan, kedua tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.

"Ssshh.. nikmat Tonn.. mmpphh" desahanku semakin menjadi-jadi.

Tak lama kemudian Toni merayap naik keatas tubuhku, saya berdebar menanti apa yang akan terjadi. Toni membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh ekspresi kewanitaanku yang sudah berair oleh cairan cinta.

"Aauugghh.. Tonn.. pelann" jeritku lirih, ketika kepala kejantanannya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.

Toni menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang ajaib segera saja menjalar dari goresan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Toni.

"Ooohh.. Tonn.. sshh.. aahh.. enakk Tonn" desahku lirih.

Aku benar-benar karam dalam kenikmatan yang luar biasa akhir gesekan-gesekan di ekspresi kewanitaanku. Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis.

"Enak.. Ver" tanya Toni berbisik.

"He ehh Tonn.. oohh enakk.. Tonn.. sshh"

"Nikmatin Ver.. nanti lebih enak lagi" bisiknya lagi.

"Ooohh.. Tonn.. ngghh"

Toni terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung kejantanannya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi saya terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Toni menekan kejantanannya lebih dalam membelah kewanitaanku.

"Auuhh.. sakitt Tonn" jeritku ketika kejantanannya merobek selaput daraku, rasanya menyerupai tersayat silet, Toni menghentikan tekanannya.

"Pertama sedikit sakit Ver.. nanti juga hilang kok sakitnya" bisik Toni seraya menjilat dan menghisap telingaku.

Entah bujukannya atau alasannya geliat liar lidahnya, yang pasti saya mulai mencicipi nikmatnya milik Toni yang keras dan hangat didalam rongga kemaluanku.

Toni kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kejantanannya dirongga kewanitaanku menjadikan sensasi yang luar biasa! Setiap bacokan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.

"Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Tonn.. empphh" desahku tak tertahan.

"Ohh.. Verr.. enak banget punya kamu.. oohh" puji Toni diantara lenguhannya.

"Agghh.. terus Tonn.. teruss" saya meracau tak karuan mencicipi nikmatnya hujaman-hujaman kejantanan Toni di kemaluanku.

Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kejantanan Toni menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak hingga balasannya tubuhku tak lagi bisa menahan letupannya.

"Tonii.. oohh.. tekan Tonn.. agghh.. nikmat sekali Tonn" jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku.

Tubuhku mengejang, kupeluk Toni erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung kewanitaanku.

Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Toni mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuhku dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi menawarkan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali kewanitaanku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Toni sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku. Selagi posisiku di atas Toni, Andri yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dadaku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitorisku membuatku menjadi tambah meradang.

Kutengadahkan kepalaku bersandar pada pundak Andri, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan eksklusif dilumatnya. Pagutan Andri kubalas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan kejantanan Toni mengaduk-aduk seluruh isi rongga kewanitaanku yang meminta lebih dan lebih lagi.

"Aaargghh.. Verr.. enak banget.. terus Ver.. goyang terus" erang Toni.

Erangan Toni membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas buah dadaku sendiri yang ditinggalkan tangan Andri.. Ohh saya sungguh menikmati semua ini.

Andri yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Toni duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, Akupun merangkak kearah batang kemaluannya.

"Isep Ver" pinta Toni, segera kulumat kejantanannya dengan rakus.

"Ooohh.. enak Ver.. isep terus"

Bersamaan dengan itu kurasakan Andri menggesek-gesek bibir kemaluanku dengan kepala kejantanannya. Tubuhku bergetar hebat, ketika batang kemaluan Andri-yang satu setengah kali lebih besar dari milik Toni-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluanku dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kejantanan Andri serasa memperabukan tubuh, birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal mencicipi sensasi erotis dua batang kejantanan didalam tubuhku. Batang kemaluan Toni kulumat dengan sangat bernafsu. Kesadaranku hilang sudah naluriku yang menuntun melaksanakan semua itu.

"Verr.. terus Verr.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh" erang Toni.

Aku tahu Toni akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutku, saya lebih siap kali ini. Selang berapa ketika kurasakan semburan-semburan hangat sperma Toni.

"Aaagghh.. nikmat banget Verr.. isep teruss.. telan Verr" jerit Toni, lagi-lagi naluriku menuntun semoga saya mengikuti undangan Toni, kuhisap kejantananya yang menyemburkan cairan hangat dan.. kutelan cairan itu. Aneh! Entah alasannya rasanya, atau sensasi sexual alasannya melihat Toni yang mencapai klimaks, yang pasti saya sangat menyukai cairan itu. Kulumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.

Toni beranjak meninggalkan saya dan Andri, sepeninggal Toni saya merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buatku. Namun hujaman-hujaman kemaluan Andri yang begitu bernafsu dalam posisi 'doggy' dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianusku. Bukan hanya itu, setelah diludahi Andri bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anusku. Sodokan-sodokan dikewanitaanku dan Ibu jarinya dilubang anus membuatku mengerang-erang.

"Ssshh.. engghh.. yang keras Drii.. mmpphh"

"Enak banget Drii.. aahh.. oohh"

Mendengar eranganku Andri tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus anusku, membuatku tambah lupa daratan.

Sedang asiknya menikmati, Andri mencabut kejantanan dan Ibu jarinya.

"Andrii.. kenapa dicabutt" protesku.

"Masukin lagi Dri.. pleasee" pintaku menghiba.

Sebagai jawaban saya hanya mencicipi ludah Andri berceceran di lubang anusku, tapi kali ini lebih banyak. Aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Andi mulai menggosok kepala penisnya dilubang anus gres saya sadar apa yang akan dilakukannya.

"Andrii.. pleasee.. jangan disitu" saya menghiba meminta Andri jangan melakukannya.

Andri tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melaksanakan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluanku hilang sudah protesku. Tiba-tiba kurasakan kepala kemaluannya sudah menembus anusku. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anusku dan karam habis didalamnya.

"Aduhh sakitt Drii.. akhh..!" keluhku pasrah alasannya rasanya mustahil menghentikan Andri.

"Rileks Ver.. menyerupai tadi, nanti juga hilang sakitnya" bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitorisku.

Separuh tubuhku yang tengkurap disofa sedikit membantuku, dengan begitu memudahkan saya untuk mencengram dan mengigit bantal sofa untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, saya bahkan mulai menyukai batang keras Andri yang menyodok-nyodok anusku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku.

"Aaahh.. aauuhh.. oohh Drii" erang-erangan birahiku mewarnai setiap sodokan penis Andri yang besar itu.

Andri dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Andri menghujamkan kejantananya semakin saya terbuai dalam kenikmatan.

Toni yang sudah pulih dari 'istirahat'nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairahku. Atas inisiatif Toni kami pindah kekamar tidur, jantungku berdebar-debar menanti permainan mereka. Toni merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku-yang segera kubalas dengan bernafsu-ia membuka lebar kedua pahaku dan eksklusif menancapkan kemaluannya kedalam vaginaku. Andri yang berada dibelakang membuka belahan pantatku dan meludahi lubang anusku. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menjadikan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku. Sensasi sexual yang luar bisa ahli kurasakan ketika kejantanan mereka yang keras mengaduk-aduk rongga kewanitaan dan anusku. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.

Andri yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, kejantanannya tetap berada didalam anusku. Toni eksklusif membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan kejantanannya dikemaluanku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, alasannya bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka tapi juga payudaraku. Andri dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas buah dadaku, Toni melengkapinya dengan menghisap puting buah dadaku satunya. Aku sudah tidak bisa lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman Toni yang semakin buas dibarengi sodokan Andri, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga balasannya kurasakan sesuatu didalam kewanitaanku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi.

"Aaagghh.. ouuhh.. Tonn.. Drii.. tekaann" jerit dan erangku tak karuan.

Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul Toni kuat-kuat, kutarik semoga batangnya menghujam keras dikemaluanku, seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritanku, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.

"Aduuhh.. Tonn.. Drii.. nikmat sekalii"

"Aaarrghh.. Verr.. enakk bangeett"

Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dikewanitaanku dan balasannya kami.. terkulai lemas.

Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan hingga balasannya tubuh kami tidak lagi bisa mendayung. Kami terhempas kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya Andri dan Toni yang menawarkan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang saya sukai. Tapi saya tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria.. saya gres akan mencapai kepuasan bila 'dijarah' oleh dua atau tiga pria sekaligus.

End by Kumpulan Cerita Sex Bergambar - Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
3

Erangan Nikmat Cewek ABG SMP Anak Pelanggan

Cerita Sex - Suatu hari saya mendapat perintah dari boss untuk mendatangi rumah Ibu Yuli, menurutnya antena parabola Ibu Yuli rusak tidak keluar gambar gara-gara ada hujan besar tadi malam. Dengan mengendarai sepeda motor Yamaha, segera saya meluncur ke alamat tersebut.
Erangan Nikmat Cewek ABG SMP Anak Pelanggan Erangan Nikmat Cewek ABG SMP Anak Pelanggan
Erangan Nikmat Cewek ABG SMP Anak Pelanggan

Sampai di rumah Ibu Yuli,aku disambut oleh anaknya yang masih SMP kelas 2, namanya Anita. Karena saya sudah beberapa kali ke rumahnya maka tentu saja Anita segera menyuruhku masuk. Saat itu suasana di rumah Ibu Yuli sepi sekali, hanya ada Anita yang masih mengenakan seragam sekolah, kelihatannya dia juga gres pulang dari sekolah.
"Jam berapa sich Ibumu pulang, Nit..?"
"Biasanya sih yah, sore antara jam 5-an," jawabnya.
"Iya, tadi Oom disuruh ke sini buat betulin parabola. Apa masih nggak keluar gambar..?"
"Betul, Oom.. sampai-sampai Nita nggak bisa nonton Diantara Dua Pilihan, rugi deh.."
"Coba yah Oom betulin dulu parabolanya.." Lalu segera saya naik ke atas genteng dan singkat kata hanya butuh 20 menit saja untuk membetulkan posisi parabola yang tergeser sebab tertiup angin.
Nah, awal pengalaman ini berawal ketika saya akan turun dari genteng, kemudian minta tolong pada Anita untuk memegangi tangganya. Saat itu Anita sudah mengganti baju seragam sekolahnya dengan kaos longgar ala Bali. Kedua tangan Anita terangkat ke atas memegangi tangga, balasannya kedua lengan kaosnya merosot ke bawah, dan ujung krahnya yang kedodoran menganga lebar. Pembaca pasti ingin ikut melihat sebab dari atas pemandangannya sangat transparan. Ketiak Nita yang ditumbuhi bulu-bulu tipis sangat sensual sekali, lalu dari ujung krahnya terlihat gumpalan payudaranya yang kencang dan putih mulus. Batang kemaluanku seketika berdenyut-denyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang merangsang. Anita tidak memakai BH, mungkin gerah, payudaranya berukuran sedang tapi terang kelihatan kencang, namanya juga payudara remaja yang belum terkena polusi. Dengan menahan nafsu, saya pelan-pelan menuruni tangga sambil sesekali mataku melirik ke bawah.
Anita tampak tidak menyadari jikalau saya sedang menikmati keindahan payudaranya. Tapi yah.. sebaiknya begitu. Gimana jadinya jikalau dia tahu lalu tiba-tiba tangganya dilepas, dijamin minimal pasti patah tulang. Yang pasti setelah selamat hingga ke bumi, pikiranku jadi kurang konsentrasi pada tugas.
Aku gres menyadari jikalau sekarang di rumah ini hanya ada kami berdua, saya dan seorang gadis remaja yang cantik. Anita memang cantik, dan tampak sudah cukup umur dengan mengenakan baju kalem ketimbang seragam sekolah yang kaku. Seperti biasanya, mataku menaksir wanita habis wajah lalu turun ke betis lalu naik lagi ke dada. Kelihatannya pantas diberi nilai 99,9. Sengaja kurang 0,1 sebab perangkat dalamnya kan belum ketahuan.
"Oom kok memandang saya begitu sih.. saya jadi malu dong.." katanya setengah manja sambil mengibaskan majalah ke mataku.
"Wahh.. sorry deh Nit.. habis selama ini Oom gres menyadari kecantikanmu," sahutku sekenanya, sambil tanganku menepuk pipinya.
Wajah Anita eksklusif memerah, barangkali tersinggung, emang dulu-dulunya nggak cakep.
"Idihh.. Oom kok jadi genit deh.." Duilah senyumnya bikin hati gemas, terlebih merasa dapat angin harapan.
Setelah itu saya mencoba menyalakan TV dan eksklusif muncul RCTI Oke. Beres deh, tinggal merapikan kabel-kabel yang berantakan di belakang TV.
"Coba Nit.. bantuin Oom pegangin kabel merah ini.."
Dan sebab posisi TV agak rendah maka Anita terpaksa jongkok di depanku sambil memegang kabel RCA warna merah. Kaos saluran Anita yang pendek tidak cukup untuk menutup seluruh kakinya, balasannya sudah bisa diduga. Pahanya yang mulus dan putih bersih berkilauan di depanku, bahkan sempat terlihat warna celana dalam Anita. Seketika jantungku ibarat berhenti berdetak lalu berdetak dengan cepatnya. Dan bertambah cepat lagi kala tangan Anita diam saja ketika kupegang untuk mengambil kabel merah RCA kembali. Punggung tangannya kubelai, diam saja sambil menundukkan wajah. Aku pun segera memperbaiki posisi. Kala tangannya kuremas Anita telah mengeluarkan keringat dingin. Lalu pelan-pelan kudongakkan wajahnya serta kubelai sayang rambutnya.
"Anita, kau cantik sekali.. Boleh Oom menciummu?" kataku kubuat sesendu mungkin.
Anita hanya diam tapi perlahan matanya terpejam. Bagiku itu yakni jawaban. Perlahan kukecup keningnya lalu kedua pipinya. Dan setengah ragu saya menempelkan bibirku ke bibirnya yang membisu. Tanpa kuduga dia membuka sedikit bibirnya. Itu pun juga sebuah jawaban. Selanjutnya terserah anda.
Segera kulumat bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali. Lidahku mulai menggeliat ikut meramaikan suasana. Tak kuduga pula Anita menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, Anita mempertemukan lidahnya dengan milikku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedot, Anita pun mengikuti caraku.
Pelan-pelan tubuh Anita kurebahkan ke lantai. Mata Anita menatapku sayu. Kubalas dengan kecupan lembut di keningnya lagi. Lalu kembali kulumat bibirnya yang sedikit terbuka. Tanganku yang semenjak tadi membelai rambutnya, rasanya kurang pas, kini ketika yang tepat untuk mulai mencari titik-titik rawan. Kusingkap perlahan ujung kaosnya ibarat ular mengincar mangsa. Karena Anita memakai kaos terusan, pahanya yang mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sengaja saya bergaya softly, sebab sadar yang kuhadapi yakni gadis gres berusia sekitar 14 tahun. Harus penuh kasih sayang dan kelembutan, tabah menunggu hingga sang mangsa mabuk. Dan kelihatannya Anita bisa memahami sikapku, kala saya kesulitan menyingkap kaosnya yang tertindih pantat, Anita sedikit mengangkat pinggulnya. Wah, sungguh seorang wanita yang penuh pengertian.
"Ahh.. Ahh.." hanya bunyi erangan yang muncul dari bibirnya kegelian ketika mulutku mulai mencium batang lehernya. Sementara tanganku sedikit menyentuh ujung celana dalamnya lalu bergeser sedikit lagi ke tengah. Terasa sudah lembab celana dalam Anita. Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan cuilan tepat ditengah-tengahnya. Aku tak kuasa menahan gejolak hati lagi, kuremas gemas gundukan itu. Anita memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit sendiri bibir bawahnya.
Hawa yang panas menambah panas tubuhku yang sudah panas. Segera kulucuti bajuku, juga celana panjangku hingga tinggal tersisa celana dalam saja. Tanpa ragu lagi kupelorotkan celana dalam Anita. Duilah.. Baru kali ini saya melihat bukit kemaluan seindah milik Anita. Luar biasa.. padahal belum ada sehelai bulu pun yang tumbuh. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan ketika kutekuk lutut Anita lalu kubuka kakinya, tampak bibir kemaluannya masih bersih dan sedikit kecoklatan warnanya. Anita tidak tahu lagi akan keadaan dirinya, belaianku berhasil memabukkannya. Ia hanya bisa medesah-desah kegelian sambil meremasi kaosnya yang sudah tersingkap setinggi perut. Begitulah wanita. Gam-gam-sus (gampang gampang susah) apa sus-sus-gam (susah susah gampang).
Tidak tabah lagi saya membiarkan sebuah keindahan terbuka sia-sia begitu saja. Aku segera mengarahkan wajahku di sela-sela paha Anita dan menenggelamkannya di pangkal pertemuan kedua kakinya. Mulutku kubuka lebar-lebar untuk bisa melahap seluruh bukit kemaluan Anita. Bau semerbak tidak kuhiraukan, kuanggap semua kemaluan wanita yah begini baunya. Lidahku menjuluri seluruh permukaan bibir kemaluannya. Setiap lendir kujilati lalu kutelan habis dan kujilati terus. Kujilati sepuas-puasnya seisi selangkangan Anita hingga bersih. Lidahku bergerak lincah dan keras di tengah-tengah bibir kemaluannya. Dan ketika lidahku mengayun dari bawah ke atas hingga tepat jatuh di klitorisnya, Kujepit klitorisnya dengan gemas dan lidahku menjilatinya tanpa kompromi. Anita tak sanggup lagi untuk berdiam diri. Badannya memberontak ke atas-bawah dan bergeser-geser ke kiri-kanan. Segala ujung syarafnya telah terkontaminasi oleh kenikmatan yang amat sangat dashyat.
Sebuah kenikmatan yang bersumber dari lidahku mengorek klitorisnya tapi menyebar ke seantero tubuhnya. Anita sudah tidak mengenal lagi siapa dirinya, boro-boro mikir, untuk bernafas saja tidak bisa dikontrol. Aku jadi semakin ganas dan melupakan softly itu siapa.
Batang kejantananku sudah amat sangat besar bergemuruh seluruh isinya. Demi melihat Anita tersenggal-senggal, segera kutanggalkan modal terakhirku, celana dalam. Tanpa ba. bi. bu. be. bo segera kuarahkan ujung kemaluanku ke pangkal selangkangan Anita. Sekilas saya melihat Anita mendelik kuatir melihat perubahan perangaiku. Batang kemaluanku memang kelewatan besarnya belum lagi panjangnya yang hampir menyentuh pusar bila bangun tegak. Anita kelihatannya ngeri dan mulai sadar ingatannya, kakinya agak tegang dan berusaha merapatkan kedua kakinya.
"Ampun Oom.. jangan Ooomm.. ampun Oomm.jangann.." Tangan Anita mencoba menghalau kedatangan senjataku yang siap mengarah ke pangkal pahanya.
Merasa mendapat perlawanan, sejenak saya jadi agak bingung, tapi untunglah saya memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapinya. Segera saya meminta maaf sambil tanganku kembali membelai rambutnya yang terurai agak acak-acakan.
"Nita takut Oom. Nanti jikalau Mama tahu pasti Nita dimarahin. Dan lagi Nita nggak pernah kayak ginian. Nita juga jadi malu.." Katanya setengah mau menangis dan membetulkan kaosnya untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan kuatir Nit. Oom tidak bermaksud jahat terhadap kamu. Oom sayang sekali sama Nita. Dan lagi Nita jangan takut sama Oom. Semua orang cepat atau lambat pasti akan mencicipi kenikmatan korelasi 'beginian'. Jangan takut 'beginian' sebab 'beginian' itu enak sekali."
"Iya, tapi Nita nggak tahu harus bagaimana dan kenapa tahu-tahu Nita jadi begini..?" Air mata Anita mulai mengalir dari pojok matanya. Melihat itu saya segera memeluknya semoga bisa menenangkannya.
Agak lama saya memberi ceramah dan teori edan secara panjang lebar, hingga akhirnya Anita bisa memahami seluruhnya. Dan sesekali senyumnya mulai muncul lagi.
"Coba sekarang Nita berguru pegang 'anunya' Oom, bagus khan," saya meraih tangannya lalu membimbingnya ke batang kejantananku. Tangannya kaku sekali tapi setelah perlahan-lahan kuelus-eluskan pada batang kejantananku, otot tangannya mulai mengendor. Lalu tangannya mulai menggenggam batang kejantananku. Pelan-pelan tangannya kutuntun maju-mundur. Kelembutan tangannya membuat batang kejantananku mulai bergerak membesar, hingga akhirnya tangan Anita tidak cukup lagi menggenggamnya. Dan Anita kelihatan menikmatinya, tanpa kuajari lagi tangannya bergerak sendiri.
"Ahh.. enak sekali Nit.. aahh.. kau memang anak yang pintar.. ahh.." mulutku tak sanggup menahan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh syarafku. Sementara itu tangan kiriku mulai meremas payudaranya yang masih tertutup kaos Bali yang tipis. Belum pernah saya meremas payudara sekeras milik Anita. Tangan kananku yang satu meraih kepalanya lalu dengan cepat kulumat bibirnya. Lidahku menjulur keluar menelusuri setiap sela rongga mulutnya. Hingga akhirnya pengecap Anita pun mengikuti yang kulakukan. Dari matanya yang terpejam saya bisa mencicipi kenikmatan tengah aben tubuhnya.
Segera saya meminta Anita untuk melepas kaosnya semoga lebih leluasa. Dan tanpa ragu-ragu Anita segera bangun lalu menarik kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Batang kejantananku semakin berdenyut-denyut menyaksikan tubuh mungil Anita tanpa mengenakan selembar benang. Tubuhnya yang sintal dan putih bersih aben semangatku. Betul-betul sempurna. Kedua payudaranya menggelembung bagus dengan puting yang mengarah ke atas mengingatkanku pada payudara Holly Hart (itu lho salah satu koleksi Playboy).
"Nit, tubuhmu luar biasa sekali.. Hebat!" Pujianku membuat wajahnya memerah barangkali menahan malu.
"Oomm, boleh nggak Anita mencium 'itu'nya Oom?" Anita tersipu-sipu menunjuk ke selangkanganku. Rasanya tidak etis jikalau saya menolaknya. Lalu sambil duduk di sofa saya menelentangkan kedua kakiku.
"Tentu saja boleh jikalau Anita menyukainya.." Kubikin semanis mungkin senyumku. Anita pun mengambil posisi dengan berjongkok lalu kepalanya mendekati selangkanganku. Mulanya hanya mencium dan mengecup seputar kepala batang kejantananku. Pelan-pelan lidahnya mulai ikut berperan aktif menjilat-jilatinya. Anita kelihatan keenakan mendapat mainan baru. Dengan rakus lidahnya menyusuri sekeliling batang kejantananku. Sensasi yang luar biasa membuatku gemas meremasi kedua payudaranya.
"Aaduuhh.. enak sekali Nit.. Teruss.. Nitt, coba ke sebelah sini," kataku sambil menunjuk ke buah pelirku. Anita segera paham lalu mejulurkan lidahnya ke pelirku. Anita menggerakkan lidahnya ke kanan-kiri atas-bawah.
"Oomm, ke kamar Nita aja yuk biar nggak gerah.." Sahutnya mengajak ke kamarnya yang ber-AC.
"Terserah Nita aja dehh.." balasku.
Begitu Anita merebahkan tubuhnya ke spring bed, saya tidak mau menunggu terlalu lama untuk mencicipi tubuh indahnya. Segera kutindih dan kucumbui. Sekujur tubuhnya tak ada yang kusia-siakan. Terutama di payudaranya yang aduhai. Tanganku seakan tak pernah lepas dari liang kewanitaannya. Setiap tanganku menggosok klitorisnya, tubuh Anita menggerinjal entah mengapa. Sementara itu batang kejantananku ibarat akan meledak menahan tekanan yang demikian besarnya.
Akhirnya kutuntun batang kejantananku ke arah liang kewanitaan Anita. Liang kewanitaan Anita yang telah kebanjiran sangat memiliki kegunaan sekali, bibir kemaluannya yang kencang memudahkan batang kejantananku menyelinap ke dalam. Sedikit-sedikit kudorong maju. Dan setiap dorongan membuat Anita meremas kain sprei. Kalau Anita merasa ibarat kesakitan saya mundur sedikit, lalu maju lagi, mundur sedikit, maju lagi, mundur, maju, mundur, maju, "bless.." Tak kusangka liang kewanitaan Anita bisa mendapatkan batang kejantananku yang keterlaluan besarnya. Begitu amblas seluruh batang kejantananku, Anita menjerit kesakitan. Aku kurang menghiraukan jeritannya. Kenikmatan yang tak ada duanya telah merasuki tubuhku. Tapi saya tetap menjaga irama permainanku maju-mundur dengan perlahan. Menikmati setiap ukiran demi gesekan. Liang senggama Anita sempit sekali hingga setiap berdenyut membuatku melayang. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak bisa lagi menahan luapan gelora persetubuhan.
Terasa beberapa kali Anita mengejankan liang kewanitaannya yang bagiku malah memabukkan sebab liang kewanitaannya jadi semakin keras menjepit batang kejantananku. Erangan, rintihan, dan jeritan Anita terus menggema memenuhi ruangan. Rupanya Anita pun menikmati setiap gerakan batang kejantananku. Rintihannya mengeras setiap batang kejantananku melaju cepat ke dasar liang senggamanya. Dan mengerang lirih ketika kutarik batang kejantananku. Hingga akhirnya saya sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Ketika batang kejantananku melaju dengan kecepatan tinggi, meledaklah muatan di dalamnya. batang kejantananku menghujam keras, dan kandas di dasar jurang. Anita pun melengking panjang sambil mendekap kencang tubuhku, lalu tubuhnya bergetar hebat. Sebuah kenikmatan tanpa cela, sempurna.
Keesokkan harinya saya mendapat telepon dari Ibu Yuli. Perasaanku mendadak tegang dan kacau, kuatir dia mengetahui skandalku dengan anaknya. Mulanya saya tidak berani menerimanya, tapi daripada Ibu Yuli nanti ngomongin semua perbuatanku pada sobat sekerjaku, terpaksa kuterima teleponnya dengan nada gemetar.
"Halloo.. apa kabar Bu Yuli."
"Oh baik, terima kasih lho, parabola Ibu sekarang sudah bagus, dan sekalian Ibu mau nanyakan ongkos servisnya berapa.. "
"Ah. nggak usah deh, Bu.. Cuman rusak sedikit kok, hanya sebab kena angin jadi arahnya berubah."
"Jangan begitu, nanti Ibu nggak mau nyervis ke tempatmu lagi lho."
"Wah.. tapi saya cuman sebentar saja kerjanya."
"Iya, bagaimanapun khan kau sudah keluar keringat, jadi ibu mesti bayar. Nanti siang yach, kau ke rumah ibu. Ibu tunggu lho."
"Iya dech jikalau Ibu maunya begitu, tapi sebelumnya terima kasih, Bu."
Begitulah akhirnya saya nongol lagi di rumah Ibu Yuli. Lagi-lagi Nita yang menerimaku.
"Wah, terlambat Oom. Ibu dari tadi nungguin Oom datang. Barusan saja Ibu pergi arisan ke kantornya. Tapi masuk saja Oom, soalnya ada titipan dari ibu."
Sampai di dalam, kelihatannya Nita tengah berguru bersama dengan teman-temannya. Ada 3 orang cewek sebayanya lagi asyik membahas soal Fisika. Dan kedatanganku sedikit memecah konsentrasi mereka. Kuamati sekilas sobat Nita kok cakep-cakep yach. Aku membalas sapaan mereka yang ramah.
"Kenalin ini Oom gue yang gres datang dari Jawa Tengah."
Kaget juga saya dikerjain Nita. Satu persatu kusalami mereka, Lusi, Ita, dan Indra. Senyum mereka ceria sekali. Di usia mereka memang belum mengenal kepahitan hidup. Semuanya serba mudah, mau ini tinggal bilang ke mama, mau itu tinggal bilang ke papa. Dasar anak keju. Ketiganya memang terang kelihatan anak orang kaya. Penampilan, gaya, dan kulit mulus mereka yang membedakan dari orang miskin. Lusi punya lesung pipit ibarat aktris Italy. Ita wajahnya mengingatkanku pada seorang aktris sinetron yang lemah lembut, tapi yang ini agak genit. Indra yang berbadan paling besar ibarat seorang aktris Mandarin. Persis aktris-aktris lagi makan rujak bareng. Habis saya paling galau jikalau mendeskripsikan wanita cantik, rasanya nggak cukup selembar folio.
Aku menurut saja ketika tanganku di seret ke dalam oleh Nita sambil berpamitan pada temannya mau mengantar Oomnya ke kamar. Dan setelah mengunci pintu kamar, kekagetanku tambah satu lagi. Tubuhku eksklusif direbahkan ke kasur, lalu menindihku sambil mulutnya menciumiku.
"Oom, Nita mau lagi." rengeknya manja. Ya, ampun sungguh mati saya nggak bisa menolaknya. Aku pun segera membalas ciumannya. Nafsu birahiku menanjak tajam. Anita yang masih mengenakan seragam SMP-nya terguling ke samping hingga giliranku yang di atas. Kancing bajunya satu demi satu kulepas. Buah dadanya yang terbungkus BH kuremas dengan gemas. Dari leher hingga perutnya kutelusuri agak brutal. Dan Nita yang meronta-ronta tak kuberi ampun sedikitpun. Kakinya mengangkang lebar kala tanganku mulai merambat ke atas pahanya dan berhenti tepat di tengah selangkangan. Gundukan kemaluan yang empuk membuat tanganku gemetar kala meremasnya. Dan jari tengahku mencongkel sebuah liang yang menganga di tengahnya. Celana dalam Nita mulai lembab kelihatannya tak tahan menghadapi serangan yang bertubi-tubi.
Akupun sangat merindukan Nita, hingga rasanya tak tabah lagi untuk segera menancapkan batang kemaluanku. Segera kupeloroti celana dalamnya setelah roknya kusingkap ke atas.
Kerinduan akan baunya yang khas membuat kepalaku tertarik ke arah kemaluan Nita, lalu kubenamkan di sela pahanya. Mulutku memperoleh kenikmatan yang tiada tara kala mengunyah dan memainkan bibirku pada bibir kemaluannya. Nita pun semakin menggila gerakannya apalagi bila lidahku mengorek-ngorek isi kemaluannya. Nikmat sekali rasanya. Klitorisnya yang menyembul kecil jadi sasaran bila Nita menghentak badannya ke atas. Sepertinya Nita sudah 'out of control' sebab tangannya dengan kacau meremas segala yang dapat diraih. Demikian juga halnya denganku, entah berapa cc cairan memabukkan yang telah kureguk.
Batang kemaluanku yang sudah 'maximal' kuarahkan ke liang senggama Nita. Sekilas kulihat Nita menggigit bibirnya sendiri menanti kedatangan punyaku. Akupun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini. Benar-benar kunikmati tiap tahapan batangku melesak ke dalam liang kemaluannya. Sedikit demi sedikit batang kemaluanku kutekan ke bawah.
Indah sekali menyaksikan perubahan wajah Nita kala makin dalam kemaluanku menelusuri liang kemaluannya. Akhirnya, "Bless.."
Habis sudah seluruh batang kemaluanku terbenam ke liang kenikmatannya. Selanjutnya dengan lancar kutarik dan kubenamkan lagi. Makin lama makin asyik saja. Memang luar biasa kemaluan Nita, begitu lembut dan mencengkeram. Ingin rasanya berlama-lama dalam liang kemaluannya. Semakin lama semakin dahsyat saya menghujamkan batangku hingga Nita menjerit tak kuasa menahan kenikmatan yang menjajahnya. Hingga akhirnya Nita berkelojotan sambil meremas ganas rambutku. Wajahnya tersapu warna merah seakan segenap pembuluh darahnya menegang kencang, hingga mulutnya meneriakkan jeritan yang panjang. Kiranya Nita tengah mengalami puncak orgasme yang merasuki segenap ujung syarafnya.
Menyaksikan pemandangan ibarat ini membuatku makin cepat mengayunkan batang kemaluanku. Dan rasanya saya tak bisa menahan lebih lama lagi, lebih lama lagi.., lebih lama lagi. Secepatnya kucabut batang kemaluanku dan segera kuarahkan ke verbal Nita. Nita agak gugup mendapatkan batang kemaluanku. Tapi nalurinya bekerja dengan baik, mulutnya segera menganga dan eksklusif mengulum batang kemaluanku. Dan kala saya meledakkan lahar, lidahnya menjilati sekujur batang kemaluanku. Tubuhku rasanya eksklusif luruh, tenagaku terkuras habis-habisan. Beberapa kali batang kemaluanku mengejut dan mengeluarkan lahar. Oh, my God..
Keasyikanku berdua dengan Nita membuat kami tidak mencicipi jam yang terus berjalan. Tidak terasa hampir 3 jam kami meninggalkan teman-teman Nita di luar. Sekilas terdengar bunyi kasak-kusuk, ibarat ada orang lagi mengintip perbuatan kami. Tapi saking asyiknya menikmati tubuh Nita, saya jadi tak mempedulikannya. Kulirik Nita masih tergolek tanpa penutup apa-apa dengan tubuh terlentang kelelahan. Wajahnya yang terlihat polos sangat bagus dengan paduan tubuh kecil yang mulus. Kakinya masih membuka lebar, ibarat sengaja memamerkan keindahan lekukan di selangkangannya. Gundukan kemaluannya memang belum berbulu sehingga terang kelihatan bibir kemaluannya yang merah muda.
"Nit, teman-temanmu kelihatannya lagi pada ngintip lho." kataku berbisik di telinganya.
"Hehh..?" jawabnya sambil segera menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Teman-temanmu.." sekali lagi saya meyakinkannya sambil menunjuk ke pintu.
"Wwaduhh, gimana nich.. Oom."
"Tenang aja, cepat pakai baju lagi dan seperti nggak ada apa-apa, okey?"
"Tapi Nita jadi malu sama mereka dong," katanya manja dan wajahnya berubah merah sekali.
"Sudah dech jangan dipikirin, anggap aja kita nggak tahu jikalau mereka pada ngintip."
Akhirnya kami keluar kamar juga, dan teman-teman Nita kelihatan sekali akal-akalan sibuk mengerjakan soal-soal. Terlebih wajah mereka bertiga tersapu rona merah, dan tampak menahan senyum. Wah agak grogi juga saya untuk menyapa mereka. Sekali lagi saya tertolong oleh usiaku yang jauh di atas mereka. Kata orang langkah awal memang sulit untuk dilakukan.
"Hallo, belum selesai nich soal-soalnya?" kata awal yang akhirnya meluncur juga.
"Iya Oomm.." ibarat koor mereka menjawab serentak. Dan makin memperlihatkan kegugupan mereka.
Boleh juga nich. Dan ide-ide cemerlang pun segera bermunculan, barangkali tidak terpikirkan oleh seorang Einstein.
"Sebaiknya istirahat dulu biar fresh pikiran kita, jadi nanti kita akan dengan mudah mengerjakan soal-soal rumit kayak gitu," Saranku menirukan seorang psikiater. Sebab menurut hematku mereka pasti juga turut terangsang mengintip perbuatan kami. Dengan kata lain mereka menyetujui perbuatan itu, jikalau nggak setuju yach terang nggak mau ngintip. Kaprikornus kesimpulannya jikalau mereka mau mengintip berarti juga mau untuk berbuat ibarat itu.
"Begini, Oom tahu jikalau kalian tadi ngintip Oom di kamar. Tapi kalian tidak perlu kuatir sama Oom. Oom nggak marah kok. Malah senang bisa memberi kalian pelajaran baru. Tapi Oom juga kepingin lihat kalian telanjang juga dong, biar adil namanya. Iya, nggak.?"
Seketika wajah mereka bertambah merah padam, antara malu dan takut.
"Maaf Oom, tadi kami tidak sengaja mengintip." kata Indra ketakutan sambil merapatkan pahanya.
"Baiklah jikalau begitu Oom tidak mau memaksa kalian, Oom juga sayang sama kalian. Kalian semua cantik-cantik. Sekarang daripada kalian ngintip, Oom nggak keberatan untuk nunjukin burung oom. Lihat yach dan kalian semua harus memegangnya. Yang nggak mau megang nanti Oom telanjangin!" Suaraku bertambah nada ancaman. Dan saya pun segera membuka reitsleting celana sekaligus memelorotkannya berikut celana dalam, hingga burungku yang ngaceng melihat kepolosan mereka eksklusif nyelonong keluar. Serempak Indra, Lusi, dan Ita menutup wajah mereka. Aku hirau saja mendekati mereka satu persatu dan menarik tangannya untuk memegang burungku. Mulanya tangan mereka kaku sekali tapi jadi mengendur kala menempel burungku.
Nita yang sedari tadi hanya menonton eksklusif memprotes kelakuanku.
"Sudahlah Oom jangan begitu, lebih baik kita semua telanjang bersama saja,
itu memang yang paling adil. Lagian kita juga sudah biasa mandi bersama kok, iya khan teman-teman."
Indra, Lusi, dan Ita diam saja tampak malu-malu mempertimbangkan proposal Nita.
"Baiklah sebab diam berarti kalian setuju. Ayo dong Lus, biasanya kau yang paling suka membukakan bajuku." Kata Nita sambil menghampiri lalu merangkul Lusi.
"Iya dech saya setuju, tapi asal yang lain juga setuju lho." Lusi mengumpan lampu kuning.
"Oke, Saya juga setuju semoga konsekuen dengan perbuatan kita." Ita menimpalinya.
"Demi kalian saya juga boleh-boleh saja." Akhirnya Indra juga memberi keputusan yang melegakan hatiku.
"Nach begitu gres kompak namanya. Yuk kita bareng-bareng ke kamar aja.." Sahut Nita.
Jantungku bergerak kencang sekali, membuat langkahku limbung. Di depanku berjalan 4 cewek imut-imut alias ABG, Nita dan ketiga temannya, Indra, Lusi, dan Ita, menuju kamar Nita. Mulanya galau harus bagaimana, tapi situasi yang memaksaku berbuat spontan saja. Mereka semua kusuruh duduk berjejer di tepi ranjang.
"Begini, kalian semua nggak perlu takut sama Oom. Oom nggak mungkin menyakiti kalian, kita sekarang akan bermain dalam dunia yang baru, yang belum pernah kalian rasakan. Kalian tak perlu malu, kalian tinggal menuruti apa saja yang Oom perintahkan. Sekali lagi rileks saja, anggaplah kita sedang menjalani pengalaman yang luar biasa."
Banyak sekali sambutan pembukaan yang keluar begitu saja dari mulutku, untuk meyakinkan mereka dan semoga nanti tidak kacau. Akhirnya mereka menganggukkan kepala satu persatu sebagai tanda setuju. Di wajah mereka mulai muncul senyum-senyum kecil, tetapi terang tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Wajah mereka memerah kala saya mengucapkan kata-kata yang berbau gituan.
Singkat kata kusuruh mereka semua bangun berhadapan, berpasangan. Nita memilih Indra sebagai pasangannya, sedang Lusi dengan Ita. Padahal batang kejantananku sudah gemetaran ingin segera melabrak mereka, tetapi nalarku yang melarangnya.
"Sekarang kalian coba saling membukakan baju pasangan kalian hingga tinggal BH dan celana dalam saja. Biar nanti sisanya Oom yang bukain."
Mulanya mereka ragu bergerak, untunglah ada Nita yang berpengalaman dan Ita yang bergairah sekaligus paling cantik dan menggiurkan. Ita memang lebih menonjol dari semuanya, badannya yang bagus tergambar dalam baju tipisnya, hingga BH-nya menerawang membentuk gundukan yang sempurna. Nita dan Ita tampak tertawa kecil membuka kancing baju temannya yang tak bisa mengelak lagi. Dan tentu saja Indra membalas perbuatan Nita, demikian pula Lusi. Wah, tak kusangka jadi meriah sekali persis ibarat lomba makan krupuk. Hatiku bersorak girang melihat mereka saling berebut melepas baju pasangannya. Sementara itu otakku terus berputar mencari solusi terbaik untuk step berikutnya, selalu saja setiap cara ada kemungkinan terjadi penolakan. Sebaiknya harus selembut mungkin tindakanku.
Pasangan Nita dan Indra kelihatan kompak, hingga tak banyak waktu mereka berdua telah telanjang, hanya BH dan celana dalam saja yang menempel di badannya. Untuk Nita tak perlu kuceritakan lagi, lagian para pembaca juga sudah pernah ikut menikmati keindahan tubuhnya pada episode yang lalu. Sedang Indra yang berbadan putih mulus masih malu-malu saja, sambil menutupi selangkangannya dengan tangan kanan ikut menonton Ita dan Lusi yang belum selesai. Sementara itu, Ita dan Lusi hingga bergulingan di lantai. Kelihatannya Lusi menolak dibuka rok bawahnya, tapi Ita tetap ngotot menelanjanginya. Nita dan Indra turut tertawa menonton pergulatan seru itu. Dan sebab gemas melihat Ita kewalahan atas pemberontakan Lusi, Nita dan Indra segera bergerak membantu Ita dengan memegangi kaki Lusi yang tengah menendang-nendang. Secepat kilat Ita memelorotkan rok bawah Lusi hingga terlepas.
"Heehh.. kalian curangg.. Nggak mau, Lusi nggak mau sama kalian lagi.." Lusi berteriak dengan sengit dan ibarat mau menangis.
"Tenang Lusi, kita kan lagi bersenang-senang sekarang, dan lagi kenapa kau mesti ibarat itu. Bukankah kau sendiri tadi sudah ikut setuju. Dari tadi kan Oom nggak memaksa kamu. Yang penting kita tidak akan menceritakan kejadian ini pada siapa pun. Hanya kita-kita saja yang tahu. Kalau kau malu itu salah. Percaya deh sama Oom."
Untunglah saranku kelihatannya dapat diterima, apalagi melihat Ita segera membuka bajunya sendiri yang kusut sekali. Satu persatu kancing bajunya dibuka, dan sekali merosot sekujur keindahan tubuhnya terpampang. Tak kusangka Ita terus melepas BH-nya, kemudian membungkuk dan melepas celana dalamnya. Seketika jantungku berhenti berdetak, seluruh susunan syarafku mengeras, hingga dada ini ibarat mau meledak. Sebuah pemandangan yang menakjubkan terpampang begitu saja di depanku.
"Luar biasa.. Hebat.. Nah dengan begini berarti Lusi nggak boleh ngambek lagi lho. Lihat Ita telah membayar kontan. Yuk kalian semua sekarang duduk lagi di ranjang sini." Segera mereka sekali lagi menuruti perintahku. Aneh memang, selama ini saya nggak pernah kenal sama ilmu-ilmu gaib ibarat di Mak Lampir, tetapi kenyataannya kok bisa mereka begitu saja patuh padaku.
"Nah sekarang kalian semua berbaring," Mereka patuh lagi. Dengan kaki terjuntai di lantai mereka semua membaringkan tubuhnya.
"Sekarang kalian diam saja, Oom akan memberi sesuatu pengalaman gres ibarat yang kalian tonton waktu Oom sama Nita. Kalian tinggal menikmati saja sambil menutup mata kalian biar lebih konsentrasi." Sengaja saya menjatuhkan pilihan pertama pada Lusi.
Perlahan-lahan kubuka celana dalamnya, kakinya agak menegang. Sedikit demi sedikit terus kutarik ke bawah. Segundukan daging mulai terlihat. Detak jantungku kembali berdegup cepat. Dan lepaslah celana dalamnya tanpa perlawanan lagi. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilatan di depanku. Sedikit kurentang kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di balik bukit itu. Lalu dengan kedua jempol kubuka sedikit celah itu hingga terlihat semua isinya. Aku hingga menelan air liurku sendiri demi melihat liang kewanitaan Lusi.
Kudekatkan kepalaku semoga pemandangannya lebih jelas. Dan memang bagus sekali. Aku tak bisa menahan lagi, segera kudekatkan mulutku dan kulumat dengan bibir dan lidahku. Rakus sekali lidahku menjilati setiap adegan liang kewanitaan Lusi, rasanya tak ingin saya menyia-nyiakan kesempatan. Dan tiap lidahku menekan keras ke adegan yang menonjol di pangkal liang kewanitaannya, Lusi mendesis kegelian. Kombinasi pengecap dan bibir kubuat harmonis sekali. Beberapa kali Lusi mengejangkan kakinya. Aku tak peduli akan semerbak amis yang khas memenuhi seputar mulutku. Malah membuat lidahku bergerak makin gila. Kutekankan lidahku ke lubang liang kewanitaan Lusi yang sedikit terbuka. Rasanya ingin masuk lebih dalam lagi tapi tak bisa, mungkin sebab kurang keras lidahku. Hal ini membuat Lusi beberapa kali mengerang keenakan.
"Aduhh.. Oomm.. enakk sekali.. teruss Oomm.. ohh.." Mulut Lusi mendesis-desis keenakan. Dan setiap lidahku menerjang liang kewanitaannya, Lusi menghentakkan pinggulnya ke atas, seakan ingin menenggelamkan lidahku ke dalam liang kewanitaannya. Banyak sekali cairan kental mengalir dari liang kewanitaannya, dan ibarat kelaparan saya menelan habis-habisan. Persis ibarat orang sedang berciuman, cuma bedanya bibirku kali ini mengunyah bibir liang kewanitaan Lusi hingga mulutku berlepotan lendir.
Ita yang berbaring di sebelah Lusi tampak gelisah, beberapa kali kulihat dia merapat-rapatkan pahanya sendiri. Rupanya dia ikut hanyut melihat permainanku. Diantara mereka berempat, dia memang yang tercantik. Karena itulah mungkin yang membuatnya sedikit genit, lebih matang, dan lebih 'berbulu'. Hebat nian, anak SMP liang kewanitaannya sudah selebat itu. Sambil mulutku bermain di liang kewanitaan Lusi, sedari tadi mataku terus memperhatikan liang kewanitaan Ita.
Beberapa kali tanganku ingin meremasnya tapi kuatir kelakuanku bisa mengecewakan Lusi. Habis jikalau dia ngambek bisa berantakan. Sebagai kompensasinya tanganku meremasi kedua payudara Lusi yang kecil dan nyaris rata dengan dada. Putingnya yang lembut kugosok-gosok dan kupencet.
"Lus, udah dulu yahh, nanti lain kali Oom lanjutin lagi, yahh." kataku sambil megecup bibirnya. Yang diajak ngomong tidak menjawab, cuma wajahnya jadi merah ibarat kepiting rebus. Sekali lagi kukecup di keningnya.
Segera saya bergeser ke sebelah dan eksklusif menindih tubuh Ita. Ita yang cantik. Ita yang seksi. Walau tengah terlentang, payudaranya tetap tegak ke atas dan diperindah dengan puting yang besar. Kudekatkan bibirku ke bibirnya, eksklusif menghindar. Barangkali tak tahan mencium aroma liang kewanitaan Lusi. Wajarlah, memang mulutku ibarat habis makan jengkol. Segera kuturunkan mulutku ke lehernya, kucumbui semesra mungkin. Ita kegelian. Lalu turun lagi. Sambil kuremasi, payudaranya segera masuk ke mulutku. Kuhisap dan kujilati putingnya. Karuan saja Ita meronta-ronta. Entah kegelian apa keenakan, saya tak peduli. Bergantian kedua payudaranya kujilati semua permukaannya. Nafsuku rasanya sudah di ujung ubun-ubun. Batang kejantananku telah mendongak perkasa sekali, beberapa kali berdenyut minta perhatian. Kalau saja memungkinkan ingin rasanya segera kumasukkan ke liang kewanitaan Ita. Sekali lagi nalarku terkontrol, sebab memang saya sudah berjanji pada mereka.
Tidak ada liang kewanitaan yang kumasuki batang kejantanan. Lagian memang saya benar-benar ingin semuanya berjalan mulus sesuai rencana. Coba jikalau tiba-tiba ada yang menangis sebab menyesal menunjukkan perawan mereka begitu saja padaku. Nggaklah.
Kaki Ita kurenggangkan sedikit. Bukit Berbunganya bagus sekali. Yang namanya labia mayora sesungguhnya nggak karuan bentuknya tapi selalu memancarkan keajaiban magnetis bagi setiap pria yang memandangnya (tentu yang normal atau paling tidak ibarat aku). Barangkali jikalau saya yang bikin daftar keajaiban dunia, Labia Mayora menempati urutan teratas. Siapa setuju kirim email, nanti kubawa berkas dukungannya ke Majelis liang kewanitaan Nasional.
Singkat kata segera mulutku kembali beroperasi di wilayah aneh itu. Pelan-pelan kutarik dengan bibirku kedua labia mayora kepunyaan Ita secara bergantian. Kemudian, lidahku mencongkel keras ke pangkal pertemuan pasangan labia itu, dan berputar-putar di tonjolan daging kecilnya yang konon paling rawan sentuhan. Memang luar biasa efek sampingnya, seketika sekujur tubuh Ita bergoncang. Makin keras goncangannya, makin gila pula lidahku berayun-ayun. Aroma yang khas muncul lagi seiring mengalirnya lendir encer. Harta terpendam inilah yang kucari. Lidahku terus menyongsong ke dalam liang kewanitaan Ita.
Ita yang meronta-ronta menahan gejolak penjarahan liang kewanitaannya, berinisiatif mengambil bantal dan meletakkan di bawah pantatnya. Aku hingga heran perawan kecil ini kok sudah punya insting yang baik. Sambil kedua kakinya nangkring di pundakku, Ita membiarkan saya dengan leluasa menjelajahi seisi liang kewanitaannya. Kali ini lidahku berhasil masuk semua ke dalam liang kewanitaan, enak sekali.
Aku sudah tidak tahan lagi, segera tangan kananku mengocok batang kejantananku sambil segera berpindah ke sebelah lagi. Kali ini giliran Indra yang kelihatannya berdebar-debar menunggu giliran. Itu terlihat dari gerakan matanya yang gelisah. Tanpa basa-basi lagi kuraih sebuah bantal dan kuletakkan di bawah pantatnya, dan kurentangkan kedua kakinya menjepit badanku yang berlutut di lantai. Liang kewanitaannya merekah persis di depan hidungku. Sambil terus mengocok batang kejantanan, segera lidahku menerobos ke lubang senggamanya. Indra sempat berontak. Duilah saya hingga kesurupan, lupa sama sobat bermain yang masih yunior. Oke, sofly and gently again maunya.
Sambil menahan nafas yang sesungguhnya sudah ngos-ngosan (nggak sempat minum extra joss) kucumbui liang kewanitaan Indra. Liang kewanitaan yang satu ini agak gemuk dan berbulu walau tak selebat milik Ita. Walau tak seindah milik Ita, tapi tetap punya daya tarik tersendiri.
Belum lagi aromanya yang semerbak harumnya. Tetap pelan-pelan, kutelusuri tiap lekukan yang ada di liang kewanitaannya. Sedap juga lho bermain slowly ibarat ini. Klitorisnya yang agak besar bergoyang mengikuti gerakan lidahku. Entah kata-kata apa saja yang keluar dari verbal Indra. Kurang terang memang. Tapi kuyakini itu bunyi erangan dan rintihan wanita yang tengah enjoy dan penuh semangat. Membakar semangatku pula dalam memacu tanganku pada batang kejantanan sendiri. Kedengarannya tragis sekali. Bak peribahasa orang kelaparan dalam lumbung padi.
Pantat Indra yang padat dan besar membuat lubang anusnya ikut terbuka waktu diganjal bantal. Tanpa rasa jijik sedikitpun kujilat-jilat anusnya. Indra makin mengaduh keenakan apalagi kala lidahku mencoba menerobos masuk ke anusnya. Indra pun menunjukkan kerja sama yang baik dengan mengangkat pinggulnya. Aku pun turut meningkatkan speed game-nya. Agak capai juga berlutut terus, saya naik ke atas dan menindih tubuh Indra.
Kuciumi sekujur payudaranya yang tak kalah kencang dengan punya Ita.
Dan walau kalah besar, keindahannya susah untuk dinilai. Sambil menciumi payudaranya, tanganku makin cepat mengocok batang kejantanan sendiri. Akhirnya saya tak dapat menahan lebih lama lagi, sekujur tubuhku tiba-tiba menegang. Seiring dengan semburan keras yang berapi-api di batang kejantananku, segera saya melumat habis verbal Indra yang mungil. Lidah Indra memberi sambutan hangat dengan mengais-ngais lidahku.
Selepasnya kami bercengkarama, mereka semua kecuali Anita akhirnya minta pamit setelah sebelumnya mereka memakai pakaiannya kembali. Setelah mereka pergi, saya melaksanakan percintaan dengan Anita kembali hingga 1 jam sebelum jam 6 sebab Ibu Yuli akan pulang ke rumah pada jam 6 tepat. Selesai kami bercinta, saya berpura-pura mengerjakan antena parabola itu sambil sekali-kali mengerlingkan mata kepada Anita walaupun ibunya sedang mengerjakan peran kantor di sisinya.

End by Kumpulan Cerita Sex Bergambar - Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
3