Kumpulan Cerita Seks terbaru 2019 - Aku punya planning kembali ke Jakarta untuk urusan Imigrasi. Sheena besar hati mendengar saya akan kembali ke Jakarta. Tapi untuk ganti suasana, saya usulkan untuk bercinta di tempat lain yang kami berdua belum pernah kunjungi. Seteh pilih-pilih tempat dan disesuaikan dengan ukuran kantong kami, kami kemudian memilih Kuala Lumpur, sekalian meninjau Petronas Twin-Towers.
Jadilah saya terbang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Sheena langsung kukabari namun lantaran yakni Sheena masih masuk kantor dan akupun sibuk urusan imigrasiku, kami gres dapat janjian ketemu pada hari sabtu, padahal esoknya hari minggu sudah musti berangkat ke Kuala Lumpur. Bagi pembaca yang mau tahu pertemuan kami ini bacalah dongeng “Membuat Score Bersama”
Singkat Cerita, kami berdua bertemu di Cengkareng, tanpa ciuman dan gandeng tangan, kami menuju counter check-in, tak lama kemudian kami berdua sudah duduk di kursi pesawat yang siap berangkat ke Kuala Lumpur. Setelah pesawat mengudara dan seat-belt sudah boleh dilepas, tangan Sheena mampir di pahaku, otomatis batangku jadi tegang. Karena saya pakai Jeans, batang kemaluanku jadi agak sakit. Ia rupanya sudah paham.
“Adikmu sakit ya Mas?” tanyanya bercanda sambil mengelus-elus pahaku. Batang kemaluanku menjadi semakin tegang. Aku kemudian meminta selimut kepada awak cabin, bukan kedinginan lantaran yakni AC, tapi supaya tidak ada yang lihat saya melonggarkan ikat pinggang dan menurunkan resletingku. Karena pakai selimut tangan Sheena menjadi lebih berani masuk ke celah resletingku, balasannya mencapai batang kemaluanku yang masih ditutup celana dalamku yang sudah lembap setempat.
Meskipun Sheena sungguh arif dalam merencanakan rangsangan, posisi kursi pesawat tidak memungkinkan berbuat macam-macam tanpa ‘bikin heboh’. Dengan terpaksa kutahan nafsu birahiku, tapi saya tetap mau balas semoga iapun jadi ‘susah’. Dari dalam selimut, tanganku mengelus-elus dadanya. Sengaja saya tidak memasukkan jari-jariku ke dalam bajunya, cukup kuelus dari luarnya saja. Setelah kulihat Sheena menjadi agak “tidak tenang”. Ia mendengus pelan, “Enghh.. hh..”
Tanganku kuturunkan ke pahanya dan terus ke antara kedua pahanya. Aku berhasil membuatnya merasakan rangsangan birahi yang saya tahu tak dapat disalurkan. Ia cuma dapat mendesah, “Hhh.. hh.. hh..”
Setengah perjalanan sudah berlalu, kami berdua masih terus saling meraba dengan tujuan merangsang pasangan masing-masing supaya pada ‘nggak tahan’ lagi. Tapi tiba tiba harus kami stop lantaran yakni ada seorang wanita meminta bantuan, rupanya TKW yang tidak tahu cara mengisi kartu registrasi kedatangan untuk bandara Kuala Lumpur. Karena terganggu nafsu kami jadi hilang dan kami berdua jadi senyum-senyum sendiri.
Tiba di Kuala Lumpur, kami langsung menuju hotel MLA di sekitar jantung kota Kuala Lumpur. Seperti biasanya check-in, diantar oleh pelayan hotel ke kamar, pasang tanda DO NOT DISTURB di gagang pintu, kunci pintu.
“Sayang.. balasannya sampai juga ya,” membuka keheningan.
Aku merasa badanku agak hangat dan sendi-sendiku agak linu mirip mau sakit flu. Soalnya gres perjalanan jauh dari Brisbane ditambah kemarin (Sabtu, baca dongeng “Membuat Score Bersama”) gres saja ML ‘keluar bareng’ di Jakarta.
“Ehm..”
Aku tahu kalu ia sudah malas ngomong berarti saya harus tahu diri jangan kaya NATO (No Action Talk Only) yang dulu. Kupeluk ia dengan lembut dan mesra dari belakang, kedua telapak tanganku menelungkupi kedua buah dadanya, kucium belakang telinganya kemudian turun ke leher kanan, kukecup dan kusedot lehernya.
“Enghh.. sshh..,” ia mulai mendesis, ia tak kuatir lagi akan tanda merah di lehernya.
Ciumanku perlahan pindah ke leher kiri sambil kedua tanganku mengangkat bajunya ke atas. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas memudahkan bajunya dilepas keatas. Bajunya kulemparkan ke kursi, saya kemudian membuka bajuku sendiri.
Aku tetap berdiri dibelakang Sheena, sekarang saya telah bertelanjang dada sedang tubuh potongan atas Sheena hanya mengenakan BH. Kembali kupeluk ia dari belakang, bibirku mencium telinganya, kedua tanganku bergerak naik dari perutnya kebawah buah dadanya. Perlahan jari-jari tanganku menyelip keatas kedalam BHnya, langsung menangkup kedua buah dadanya.
“Aduh.. Ari.. enak.. auuhh”
Tangan kiriku tetap terus menyelip di dalam BHnya sedang tangan kananku bergerak keluar kemudian ke punggungnya, melepaskan Klip BHnya. Lepaslah BHnya, sekarang kedua tanganku bebas memutar-mutar kedua putingnya secara bersamaan.
“Auh.. enghh..,” desisnya makin jelas terdengar. Sejenak kemudian ia mendadak berbalik sehingga tanganku terlepas dari buah dadanya. Ia kemudian mencium dan melumat bibirku. Tanganku yang tadi terlepas sekarang telah menemukan kembali kedua buah dadanya yang sekarang berada didepanku. Kuelus-elus kedua buah dadanya kemudian kupencet lembut putingnya dengan ibu jari dan jari telunjukku.
Tanpa melepas ciumannya, tangan-tangan Sheena membuka ikat pinggangku dan membuangnya ke kursi. Resletingku diturunkan, otomatis Jeansku jadi longgar, kemudian Sheena turun berjongkok di depanku menurunkan Jeansku yang sudah longgar itu. Batang kemaluanku sudah mengeras, ujung kepalanya nongol sedikit dari atas celana dalamku yang berwarna merah. Ia kemudian menempelkan hidungnya ke batang kemaluanku dari luar celana dalamku sambil jari telunjuk kanannya disentuh-sentuhkan keujung kepala kemaluanku yang nongol dari celana dalamku.
Dengan telunjuknya itu, ia oles-oleskan cairan beningku sampai merata ke topi bajaku, kemudian dipelorotkan celana dalamku jadinya batang kemaluanku mental kedepan mirip pegas dan mengenai hidungnya. Ia mendongak dan memundurkan sedikit hidungnya sambil membuka mulutnya, otomatis kepala kemaluanku jatuh kedalam mulutnya. Ia kemudian menutup mulutnya dan menghisap kepala kemaluanku sambil melirik keatas menatap mataku.
Oh.. nikmat sekali hisapan mulutnya itu. Tanpa memegang batang kemaluanku, ia terus menghisap, mengulum dan pelan-pelan memasuk-keluarkan kemaluanku. Sulit kunyatakan enaknya kuluman dan hisapannya. Setidaknya 15 menit saya terlena dalam keadaan berdiri. Selang beberapa ketika saya ingin gantian kerjain dia, kuangkat, kugendong kemudian kurebahkan tubuhnya terlentang diatas ranjang. Aku sudah dalam keadaan telanjang sedangkan ia masih memakai celana panjang meskipun potongan atasnya sudah tanpa busana lagi.
Aku kemudian berjongkok disisi bawah tempat tidur, membuka ikat pinggangnya, menurunkan resletingnya kemudian menarik lepas Jeansnya. Celana dalamnya kelihatan agak lembab, segera saya tarik turun lewat kakinya. sekarang lengkaplah sudah ia telanjang bulat dihadapanku. Kutarik kakinya supaya pantatnya rata dengan tepi tempat tidur dimana saya berjongkok.
Ia sudah mampu menebak apa yang akan kulakukan makanya iapun membuka kedua pahanya. Aku tahu kemaluannya sudah ingin dijilati dan digelitiki oleh lidahku, tapi saya memulainya dengan menjilati pangkal pahanya dulu, yang kanan kemudian yang kiri, kemudian malah naik keperut. Pantatnya bergerak-gerak, iapun menggeliat dan mengerang, “Emmhh.. uusshh”
Aku masih belum mau menjilati vaginanya. Sambil menciumi perutnya, kusibak bulu-bulu kemaluannya sehingga tampak kepingan bibirnya. Jari telunjuk kananku kumasukkan pelan-pelan kedalam lubangnya kemudian pelan-pelan kuputar-putar sedangkan ciumanku terus bergerak naik kedadanya.
“Auh.. aduh.. Ari.. kamu gila..”
Akupun jadi makin bernafsu, kusedot puting kanannya sedangkan puting yang kiri kujepit dengan jari-jari tangan kiriku sementara jari telunjuk tangan kananku masih tenggelam di dalam lubang kemaluannya. Sesekali kurasakan cincin vaginanya menjepit jariku. Meski dalam keadaan terangsang, saya masih dapat terkagum-kagum, bagaimana mungkin jari telunjukku sekecil ini dapat dijepit sekeras ini. Kalau tidak merasakan sendiri rasanya saya sulit percaya. Puting susunya terus kelumat, sedot dan di dalam mulutku kujilati ujungnya. Sheena hanya dapat memegang rambut dan kepalaku sambil menahan kenikmatan yang menderanya.
Kini kurasakan sudah saatnya mulutku kuturunkan dari buah dadanya, sasarannya yakni celah diantara kedua pahanya. Kubuka kedua pahanya lebih lebar lagi sehingga kepingan vaginanya ikut sedikit membuka. Segera kubenamkan lidahku membelah celahnya. Kali ini ia langsung menjerit “Awh.. uh..” mengejang, tak sadar badannya agak bangun membungkuk keatas. Lidahku kemudian menyapu belahannya itu keatas dan kebawah sambil kedua tanganku mengelus-elus pangkal pahanya dan sekitar lubang kemaluanya, sesekali kutekan-tekan gundukan bibir kemaluannya.
“Ouh.. Ari.. terus sayang.. uuhh.. sayang.. aduhh”
Seranganku kutingkatkan lagi, dengan jari-jari tanganku kubuka lebih lebar lagi kepingan vaginanya sampai kulihat potongan dalam kemaluannya yang kemerahan. Segera kusapu lagi dengan lidahku.
“Aawww.. Ri.. aduh.. terus sayang..terus..aduh.. gila kamu Ri..”
Rasanya hampir 20 menit verbal dan lidahku melekat dan menyapu lubang kemaluannya, sudah waktunya bagiku untuk memasukkan penisku kedalam lubang kemaluannya ini. Kemaluanku pun sudah mengeluarkan cairan bening dari tadi. Aku kemudian bangun berdiri tetapi agak berkunang-kunang lantaran yakni terlalu lama jongkok. Tanpa buang waktu lagi, kuarahkan penisku ke lubangnya yang sudah lembap final liurku dan cairan vaginanya. Bless.. masuklah batang kemaluanku ke dalam vaginanya. Rupanya ia memang sengaja tidak ‘mengunci’ cincinnya itu dengan begitu tidak terlalu sulit untuk menembusnya.
Dengan tetap berdiri di tepi ranjang, saya bergerak memompa maju mundur. Lagi-lagi ia masih belum mau memakai cincinnya itu sehingga saya masih mampu memompa maju mundur dengan cepat, tetapi erangannya makin keras terdengar setiap batangku melesak masuk. Aku terus memompa dengan cepat tanpa istirahat, saya berharap benar dengan gaya gres kali ini saya mampu membuatnya ‘keluar’ lebih dahulu. Harapanku rupanya cuma tetap jadi harapan, sudah lewat 25 menit sejak kumasukkan kemaluanku dan bergerak non-stop mengocoknya begini, masih belum ada tanda-tanda ia akan ‘keluar’.
Karena ‘olah raga memompa maju mundur’ ini kulakukan terus-menerus sembil berdiri, keringatku mulai keluar membasahi tubuhku, pinggangku mulai capek, tapi kumantapkan niatku untuk bertahan mengocoknya. Aku kemudian bilang padanya, “Masih nakal juga ya? Aku pengen liat, kamu atau saya yang keluar duluan.”
Baru selesai omong, tiba-tiba kurasakan sulit untuk maju mundur lantaran yakni batangku mirip dicengkram oleh cincin vaginanya. Auhh.. sekarang giliran saya yang keenakan. Rupanya saya omong terlalu sesumbar sehingga ia ingin ‘memberi pelajaran’ padaku. Batang kemaluanku benar-benar mirip dicengkram dan diremas, seret sekali masuk keluarnya. 15 menit kembali lewat, sekarang penisku sudah mulai berdenyut-denyut rasanya kali ini kok saya bakal nggak berpengaruh menahan jepitannya.
“Kamu capek Say? sekarang gantian ya, lepas dulu dong, kemudian kamu naik kesini sambil sandaran kedinding ya.” Akupun mencabut batang kemaluanku dari vaginanya. Tanganku ditariknya semoga saya naik ke ranjang. Ia kemudian bantu mendorong semoga saya bergerak menyandar ketembok dibelakang tempat tidur.
Setelah saya duduk disisi atas tempat tidur sambil bersandar ketembok Sheena naik ke pahaku, berjongkok kemudian memasukkan batangku ke vaginanya, kemudian pelan-pelan menurunkan tubuhnya sampai duduk di selangkanganku. Ujung kemaluanku rasanya mirip mentok ke dinding rahimnya.
Ia melingkarkan kedua tangannya ke belakang leherku kemudian bibirnya mencium dan melumat bibirku, kedua buah dadanya terasa menekan dadaku. Kurasakan batang kemaluanku yang sedang terbenam menjadi tambah mengeras dan berdenyut didalam kemaluannya. Cengkraman cincinnya kembali mendera batang kemaluanku, sekarang iapun menambah serangannya dengan menaikturunkan tubuhnya sambil ‘cincin’ vaginanya menjepit kemaluanku sedang mulutnya mengunci mulutku. Kedua buah dadanya menekan dan menggesek dadaku.
Dalam kurang dari 15 menit saya sudah dibuat megap-megap menahan serangannya. Iapun berhenti naik turun untuk meberi saya napas, namun cincin vaginanya tetap ia rapatkan. Aku sungguh heran, bagaimana ia dapat mempertahankan kontraksi cincinnya non-stop selama itu. Ia tersenyum penuh kemenangan, katanya “Kalau saya mau sekarang ini kamu sudah kalah”
Dalam hati saya mengakui bahwa ia benar. Akupun menjawab, “Ok, balasannya kamu menang.”
Aku masih heran kok saya dapat dikalahkan dalam total waktu hanya sekitar 1 jam 30 menit, padahal biasanya ‘pertarungan’ku dengan Sheena umumnya mencapai total 4 atau 5 jam, itupun selalu berakhir seri 1 – 1 lantaran yakni sama sama oke mengalah untuk ‘keluar’. Aku masih belum sadar bahwa saya sudah mulai kena flu sejak tiba di Airport tadi dan sampai sekarang belum istirahat.
Sheena mencium keningku, pipiku dan bibirku, sambil terus mempermainkan cincin vaginanya. Jepit, longgar, jepit, longgar, mungkin istilahnya empot ayam. Ia tidak menaikturunkan pantatnya lantaran yakni ia sadar akan kondisiku yang hampir di puncak, namun ia mau semoga saya merasakan nimatnya ‘proses ke puncak’ tanpa sampai ‘kelewatan’.
“Udahan dulu ya, kita mandi yuk, kan dari Jakarta sampai sekarang belum mandi,” tawarnya.
“Boleh.. semoga istirahat dikit.. kamu nyalain dulu airnya ya semoga bath-tub nya terisi,” kataku.
Ia menaikkan pantatnya melepas batang kemaluanku dari vaginanya kemudian turun dari tempat tidur menuju kamar mandi dan menghidupkan kran air di bath-tub. Aku kemudian bangun juga menuju ke kamar mandi. Kulihat ia sedang duduk di closet membersihkan vaginanya yang lembap dengan gabungan cairan beningku dan lendir vaginanya.
Meski air dalam bath-tub belum terlalu dalam, saya langsung masuk dan duduk berendam sambil bersandar pada dinding bath-tub. Batang kemaluanku yang masih keras itu pelan-pelan melemas setelah terendam dalam air. Sheenapun masuk ke bath-tub dan ikutan duduk berendam. Iseng-iseng tangannya mengelus-elus batang kemaluanku untuk membersihkan lendir yang melekat di batang kemaluanku. Elusan jari-jari tangannya membuat kemaluanku kembali menegang. Ia tertawa kecil ketika merasakan ‘anuku’ berdenyut mengeras di tangannya. Setelah dilihatnya kemaluanku sudah bersih, ia bilang, “Coba mundur dikit dong”. Akupun bergerak mundur dan bersandar pada ujung bath-tub untuk memberi ruang yang lebih panjang baginya.
Ia kemudian mencabut sumbat bath-tub sehingga airnya pelan-pelan berkurang. Setelah airnya hampir habis, turun sampai setinggi biji kemaluanku, sumbatnya dipasang lagi. Kini batang kemaluanku berada di atas permukaan air sedangkan biji kemaluanku setengah tenggelam. Tangannya kembali mengelus-elus batangku, kemudian ia mengambil posisi nungging di depanku. Pelan-pelan kepalanya diturunkan dan mulutnya diarahkan ke kepala kemaluanku. Mulutnya membuka kemudian mencaplok kepala kemaluanku, tangan dan siku kirinya dipakai menunjang tubuhnya semoga tetap menungging sedang jari-jari tangan kanannya mengocok batang kemaluanku maju mundur. Mulutnya sampai kempot menyedot kepala kemaluanku. Aduhh.. rasanya sungguh luar biasa.
Sesaat kemudian, jari-jari tangan kanannya bergerak maju memegang pangkal batang kemaluanku sambil mulutnya bergerak maju-mundur. Nikmat yang kualami sungguh tak terbilang.. ini yakni oral seks yang ternikmat dalam hidupku. Sampai ketika ini masih yang ternikmat bagiku. Mulutnya terus maju mundur sampai batangku kelihatan memerah, kemudian fokusnya dialihkan ke sekitar leher kemaluanku. Dihisap-hisapnya kepala kemaluanku sampai dilehernya, digigit-gigit kecil belakang topi bajaku, lidahnya disapu-sapukan kelilingnya, kemudian kepala kemaluanku dicaplok dan disedot dengan berpengaruh kemudian dikulum-kulum. Lidahnya menari-nari didalam mulutnya menyentuh-nyentuh lubang pipisku. Setelah itu kembali ia maju mundurkan mulutnya namun hanya sampai dilehernya saja, tidak sampai kepala kemaluanku keluar.
Rupanya Sheena ingin menyampaikan bahwa tidak hanya vaginanya saja yang dapat ‘mengalahkanku’, ia ingin ‘mengalahkanku’ dengan mulutnya. Ia terus-menerus menjilat, mengulum dan menghisap batang kemaluanku sampai saya benar-benar merem melek dibuatnya. Tetapi pada dasarnya saya memang tidak pernah dapat ‘keluar’ dimulut wanita jikalau tidak kupaksakan sendiri untuk ‘keluar’ (Istriku pernah menyedotku selama 45 menit sampai lehernya pegal dan saya tetap tidak keluar), namun Sheena tak tahu akan kebiasaanku ini sehingga ia berpikir saya pasti ‘keluar’ oleh serangannya.
Setelah hampir 20 menit non-stop menyerangku, ia melirikku kemudian melepaskan mulutnya dari kepala kemaluanku.
“Enak nggak?” tanyanya sambil tangan kanannya tetap memegang batangku.
“Ini yang paling enak dari semuanya,” kataku.
“Naik lagi ke tempat tidur yuk.. tapi gendong ya.. capek sih,” katanya.
Aku keluar dari bath-tub kemudian menariknya semoga bangun kemudian menggendongnya ke ranjang. Kami sudah tidak perduli lagi bahwa tubuh kami masih setengah basah.
Aku kembali berada diatasnya dengan posisi push-up, ia membimbing batang kemaluanku masuk ke lubangnya, bless.. masuklah batangku. Ia memekik, “Awk..” agak sakit lantaran yakni masih seret. Aku terus memacu pantatku menyodok lubang kemaluanku. Disetiap hentakan pantatku ia selalu heboh “Awww..awww..”
Rasanya 15 menit berlalu, kemaluanku rasanya sudah berdenyut-denyut lagi, artinya saya sudah hampir di puncak. Agar tidak kalah, saya kurangi ke cepatanku kemudian saya minta ganti posisi.
Sambil menjaga semoga kemaluanku tidak lepas, kami berbalik, sekarang ia berada diatasku. Sejenak ia hanya duduk saja diatasku tidak bergerak. Ia rupanya menikmati denyutan batang kemaluanku. Kurasakan jepitan vaginanya meningkat seperti memeras batangku. Setelah hampir 10 menit kemudian. Ia melihat saya sudah ‘hampir sekarat’ lantaran yakni permainan jepitan vaginanya, ia kemudian meletakkan kedua lenganku ke atas kepalaku dan dipegangnya dengan kedua tangan kanannya yang juga untuk menopang tubuhnya. Mulutnya diturunkan mencium bibirku sambil pantatnya mulai dinaik-turunkan. Puting buah dadanya yang bergantung-gantung menggesek-gesek dadaku menambah sensasi nikmat serangannya. Saat kemaluannya ditarik sampai ke leher kemaluanku jepitannya dilonggarkan, ketika mau diturunkan dikeraskan lagi dan seterusnya.
Kini saya benar-benar ‘sudah sekarat’. Ia justru mempercepat gerak naik turun pantatnya. Aku mencoba mati-matian bertahan, setiap kali pantatnya diturunkan, saya mengejang dan mendengus “Enghh.. enghh.. enghh.. enghh,” tetapi saya tidak dapat bertahan lagi. Rasanya kurang dari 5 menit setelah ia mempercepat naik-turun sambil menjepit, kemaluanku berdenyut-denyut dan akhirnya, “Uhh..” pertahananku jebol, saya muncrat di dalam lubang kemaluannya. Disaat kemaluanku berdenyut menyemprot air maniku, ia terus naik turun dan mengeraskan cincin vaginanya. Lemaslah tubuhku, seluruh otot-ototku rasanya terlepas dari tulangku, kenikmatannya betul-betul enak.
Sheena tidak langsung bangkit, ia hanya berbaring di dadaku dengan batang kemaluanku masih menancap di vaginanya. Pelan-pelan batang kemaluanku melemas. Campuran sperma dan lendirnya mengalir keluar dari lubangnya, meleleh ke selangkanganku dan ke sprei ranjang. Ia menggeliat ke telingaku dan berbisik “Satu nol ya..,” sambil tersenyum.
Pembaca, itulah hari pertama kami di Kuala Lumpur. Tubuhku rasanya agak lemah, tapi saya masih saja berpikir “Ah tidak apa-apa, mungkin sebentar lagi juga pulih.” Hari kedua dan seterusnya kami tetap hangat bercinta. Sesekali saya masih dapat “menang” namun lebih banyak “kalah”.
Tubuhku sudah tambah lemah, saya balasannya sadar sudah jatuh sakit. Di hari ke delapan terakhir sesaat sebelum meninggalkan hotel menuju bandara, saya masih nekat ‘menantangnya’ lagi dengan kekuatan terakhir, hasilnya saya ‘kalah’ lagi. Aku sudah tak ingat berapa skor selesai kami, yang jelas saya ‘kalah’.
Dibandara kami berpisah, pesawatku berangkat dahulu kembali ke Australia sedangkan Sheena sejam kemudian kembali ke Jakarta. Dipesawat suhu tubuhku kian naik, otot-otot tubuhku rasanya linu dan tidak bertenaga. 7 jam perjalanan cuma dapat di kursi saja tambah menyusahkan. Setibanya di rumah, saya benar-benar jatuh sakit, sempat muntah-muntah pula. Untung waktu cuti kerjaku belum habis sehingga tidak perlu ditambah dengan cuti sakit lagi. Tetapi yang paling sebal, saya penasaran dikalahkan oleh Sheena, telak lagi. Seharusnya saya istirahat terlebih dahulu setelah tiba di Kuala Lumpur sampai flunya hilang dulu dan tidak langsung ngajak ‘perang’, toh masih ada hari-hari esoknya.
Sayangnya saya tidak mampu membalas kekalahanku lantaran yakni itulah terakhir kalinya saya bertemu dengannya. Pada kedatanganku ke Jakarta yang berikutnya, saya tidak mampu menemuinya. Kini Ia sudah pindah ke Kalimantan. “Sheena” if you read this story then you should know that I could be better. But any way, no excuses, I admit that you have won!”
Cerita Dewasa, Cerita Memek, Cerita Malam Dewasa, Cerita Bandar Seks, Cerita Berduaan, Nafsu Tante,
Jadilah saya terbang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Sheena langsung kukabari namun lantaran yakni Sheena masih masuk kantor dan akupun sibuk urusan imigrasiku, kami gres dapat janjian ketemu pada hari sabtu, padahal esoknya hari minggu sudah musti berangkat ke Kuala Lumpur. Bagi pembaca yang mau tahu pertemuan kami ini bacalah dongeng “Membuat Score Bersama”
Singkat Cerita, kami berdua bertemu di Cengkareng, tanpa ciuman dan gandeng tangan, kami menuju counter check-in, tak lama kemudian kami berdua sudah duduk di kursi pesawat yang siap berangkat ke Kuala Lumpur. Setelah pesawat mengudara dan seat-belt sudah boleh dilepas, tangan Sheena mampir di pahaku, otomatis batangku jadi tegang. Karena saya pakai Jeans, batang kemaluanku jadi agak sakit. Ia rupanya sudah paham.
“Adikmu sakit ya Mas?” tanyanya bercanda sambil mengelus-elus pahaku. Batang kemaluanku menjadi semakin tegang. Aku kemudian meminta selimut kepada awak cabin, bukan kedinginan lantaran yakni AC, tapi supaya tidak ada yang lihat saya melonggarkan ikat pinggang dan menurunkan resletingku. Karena pakai selimut tangan Sheena menjadi lebih berani masuk ke celah resletingku, balasannya mencapai batang kemaluanku yang masih ditutup celana dalamku yang sudah lembap setempat.
Meskipun Sheena sungguh arif dalam merencanakan rangsangan, posisi kursi pesawat tidak memungkinkan berbuat macam-macam tanpa ‘bikin heboh’. Dengan terpaksa kutahan nafsu birahiku, tapi saya tetap mau balas semoga iapun jadi ‘susah’. Dari dalam selimut, tanganku mengelus-elus dadanya. Sengaja saya tidak memasukkan jari-jariku ke dalam bajunya, cukup kuelus dari luarnya saja. Setelah kulihat Sheena menjadi agak “tidak tenang”. Ia mendengus pelan, “Enghh.. hh..”
Tanganku kuturunkan ke pahanya dan terus ke antara kedua pahanya. Aku berhasil membuatnya merasakan rangsangan birahi yang saya tahu tak dapat disalurkan. Ia cuma dapat mendesah, “Hhh.. hh.. hh..”
Setengah perjalanan sudah berlalu, kami berdua masih terus saling meraba dengan tujuan merangsang pasangan masing-masing supaya pada ‘nggak tahan’ lagi. Tapi tiba tiba harus kami stop lantaran yakni ada seorang wanita meminta bantuan, rupanya TKW yang tidak tahu cara mengisi kartu registrasi kedatangan untuk bandara Kuala Lumpur. Karena terganggu nafsu kami jadi hilang dan kami berdua jadi senyum-senyum sendiri.
Tiba di Kuala Lumpur, kami langsung menuju hotel MLA di sekitar jantung kota Kuala Lumpur. Seperti biasanya check-in, diantar oleh pelayan hotel ke kamar, pasang tanda DO NOT DISTURB di gagang pintu, kunci pintu.
“Sayang.. balasannya sampai juga ya,” membuka keheningan.
Aku merasa badanku agak hangat dan sendi-sendiku agak linu mirip mau sakit flu. Soalnya gres perjalanan jauh dari Brisbane ditambah kemarin (Sabtu, baca dongeng “Membuat Score Bersama”) gres saja ML ‘keluar bareng’ di Jakarta.
“Ehm..”
Aku tahu kalu ia sudah malas ngomong berarti saya harus tahu diri jangan kaya NATO (No Action Talk Only) yang dulu. Kupeluk ia dengan lembut dan mesra dari belakang, kedua telapak tanganku menelungkupi kedua buah dadanya, kucium belakang telinganya kemudian turun ke leher kanan, kukecup dan kusedot lehernya.
“Enghh.. sshh..,” ia mulai mendesis, ia tak kuatir lagi akan tanda merah di lehernya.
Ciumanku perlahan pindah ke leher kiri sambil kedua tanganku mengangkat bajunya ke atas. Ia mengangkat kedua tangannya ke atas memudahkan bajunya dilepas keatas. Bajunya kulemparkan ke kursi, saya kemudian membuka bajuku sendiri.
Aku tetap berdiri dibelakang Sheena, sekarang saya telah bertelanjang dada sedang tubuh potongan atas Sheena hanya mengenakan BH. Kembali kupeluk ia dari belakang, bibirku mencium telinganya, kedua tanganku bergerak naik dari perutnya kebawah buah dadanya. Perlahan jari-jari tanganku menyelip keatas kedalam BHnya, langsung menangkup kedua buah dadanya.
“Aduh.. Ari.. enak.. auuhh”
Tangan kiriku tetap terus menyelip di dalam BHnya sedang tangan kananku bergerak keluar kemudian ke punggungnya, melepaskan Klip BHnya. Lepaslah BHnya, sekarang kedua tanganku bebas memutar-mutar kedua putingnya secara bersamaan.
“Auh.. enghh..,” desisnya makin jelas terdengar. Sejenak kemudian ia mendadak berbalik sehingga tanganku terlepas dari buah dadanya. Ia kemudian mencium dan melumat bibirku. Tanganku yang tadi terlepas sekarang telah menemukan kembali kedua buah dadanya yang sekarang berada didepanku. Kuelus-elus kedua buah dadanya kemudian kupencet lembut putingnya dengan ibu jari dan jari telunjukku.
Tanpa melepas ciumannya, tangan-tangan Sheena membuka ikat pinggangku dan membuangnya ke kursi. Resletingku diturunkan, otomatis Jeansku jadi longgar, kemudian Sheena turun berjongkok di depanku menurunkan Jeansku yang sudah longgar itu. Batang kemaluanku sudah mengeras, ujung kepalanya nongol sedikit dari atas celana dalamku yang berwarna merah. Ia kemudian menempelkan hidungnya ke batang kemaluanku dari luar celana dalamku sambil jari telunjuk kanannya disentuh-sentuhkan keujung kepala kemaluanku yang nongol dari celana dalamku.
Dengan telunjuknya itu, ia oles-oleskan cairan beningku sampai merata ke topi bajaku, kemudian dipelorotkan celana dalamku jadinya batang kemaluanku mental kedepan mirip pegas dan mengenai hidungnya. Ia mendongak dan memundurkan sedikit hidungnya sambil membuka mulutnya, otomatis kepala kemaluanku jatuh kedalam mulutnya. Ia kemudian menutup mulutnya dan menghisap kepala kemaluanku sambil melirik keatas menatap mataku.
Oh.. nikmat sekali hisapan mulutnya itu. Tanpa memegang batang kemaluanku, ia terus menghisap, mengulum dan pelan-pelan memasuk-keluarkan kemaluanku. Sulit kunyatakan enaknya kuluman dan hisapannya. Setidaknya 15 menit saya terlena dalam keadaan berdiri. Selang beberapa ketika saya ingin gantian kerjain dia, kuangkat, kugendong kemudian kurebahkan tubuhnya terlentang diatas ranjang. Aku sudah dalam keadaan telanjang sedangkan ia masih memakai celana panjang meskipun potongan atasnya sudah tanpa busana lagi.
Aku kemudian berjongkok disisi bawah tempat tidur, membuka ikat pinggangnya, menurunkan resletingnya kemudian menarik lepas Jeansnya. Celana dalamnya kelihatan agak lembab, segera saya tarik turun lewat kakinya. sekarang lengkaplah sudah ia telanjang bulat dihadapanku. Kutarik kakinya supaya pantatnya rata dengan tepi tempat tidur dimana saya berjongkok.
Ia sudah mampu menebak apa yang akan kulakukan makanya iapun membuka kedua pahanya. Aku tahu kemaluannya sudah ingin dijilati dan digelitiki oleh lidahku, tapi saya memulainya dengan menjilati pangkal pahanya dulu, yang kanan kemudian yang kiri, kemudian malah naik keperut. Pantatnya bergerak-gerak, iapun menggeliat dan mengerang, “Emmhh.. uusshh”
Aku masih belum mau menjilati vaginanya. Sambil menciumi perutnya, kusibak bulu-bulu kemaluannya sehingga tampak kepingan bibirnya. Jari telunjuk kananku kumasukkan pelan-pelan kedalam lubangnya kemudian pelan-pelan kuputar-putar sedangkan ciumanku terus bergerak naik kedadanya.
“Auh.. aduh.. Ari.. kamu gila..”
Akupun jadi makin bernafsu, kusedot puting kanannya sedangkan puting yang kiri kujepit dengan jari-jari tangan kiriku sementara jari telunjuk tangan kananku masih tenggelam di dalam lubang kemaluannya. Sesekali kurasakan cincin vaginanya menjepit jariku. Meski dalam keadaan terangsang, saya masih dapat terkagum-kagum, bagaimana mungkin jari telunjukku sekecil ini dapat dijepit sekeras ini. Kalau tidak merasakan sendiri rasanya saya sulit percaya. Puting susunya terus kelumat, sedot dan di dalam mulutku kujilati ujungnya. Sheena hanya dapat memegang rambut dan kepalaku sambil menahan kenikmatan yang menderanya.
Kini kurasakan sudah saatnya mulutku kuturunkan dari buah dadanya, sasarannya yakni celah diantara kedua pahanya. Kubuka kedua pahanya lebih lebar lagi sehingga kepingan vaginanya ikut sedikit membuka. Segera kubenamkan lidahku membelah celahnya. Kali ini ia langsung menjerit “Awh.. uh..” mengejang, tak sadar badannya agak bangun membungkuk keatas. Lidahku kemudian menyapu belahannya itu keatas dan kebawah sambil kedua tanganku mengelus-elus pangkal pahanya dan sekitar lubang kemaluanya, sesekali kutekan-tekan gundukan bibir kemaluannya.
“Ouh.. Ari.. terus sayang.. uuhh.. sayang.. aduhh”
Seranganku kutingkatkan lagi, dengan jari-jari tanganku kubuka lebih lebar lagi kepingan vaginanya sampai kulihat potongan dalam kemaluannya yang kemerahan. Segera kusapu lagi dengan lidahku.
“Aawww.. Ri.. aduh.. terus sayang..terus..aduh.. gila kamu Ri..”
Rasanya hampir 20 menit verbal dan lidahku melekat dan menyapu lubang kemaluannya, sudah waktunya bagiku untuk memasukkan penisku kedalam lubang kemaluannya ini. Kemaluanku pun sudah mengeluarkan cairan bening dari tadi. Aku kemudian bangun berdiri tetapi agak berkunang-kunang lantaran yakni terlalu lama jongkok. Tanpa buang waktu lagi, kuarahkan penisku ke lubangnya yang sudah lembap final liurku dan cairan vaginanya. Bless.. masuklah batang kemaluanku ke dalam vaginanya. Rupanya ia memang sengaja tidak ‘mengunci’ cincinnya itu dengan begitu tidak terlalu sulit untuk menembusnya.
Dengan tetap berdiri di tepi ranjang, saya bergerak memompa maju mundur. Lagi-lagi ia masih belum mau memakai cincinnya itu sehingga saya masih mampu memompa maju mundur dengan cepat, tetapi erangannya makin keras terdengar setiap batangku melesak masuk. Aku terus memompa dengan cepat tanpa istirahat, saya berharap benar dengan gaya gres kali ini saya mampu membuatnya ‘keluar’ lebih dahulu. Harapanku rupanya cuma tetap jadi harapan, sudah lewat 25 menit sejak kumasukkan kemaluanku dan bergerak non-stop mengocoknya begini, masih belum ada tanda-tanda ia akan ‘keluar’.
Karena ‘olah raga memompa maju mundur’ ini kulakukan terus-menerus sembil berdiri, keringatku mulai keluar membasahi tubuhku, pinggangku mulai capek, tapi kumantapkan niatku untuk bertahan mengocoknya. Aku kemudian bilang padanya, “Masih nakal juga ya? Aku pengen liat, kamu atau saya yang keluar duluan.”
Baru selesai omong, tiba-tiba kurasakan sulit untuk maju mundur lantaran yakni batangku mirip dicengkram oleh cincin vaginanya. Auhh.. sekarang giliran saya yang keenakan. Rupanya saya omong terlalu sesumbar sehingga ia ingin ‘memberi pelajaran’ padaku. Batang kemaluanku benar-benar mirip dicengkram dan diremas, seret sekali masuk keluarnya. 15 menit kembali lewat, sekarang penisku sudah mulai berdenyut-denyut rasanya kali ini kok saya bakal nggak berpengaruh menahan jepitannya.
“Kamu capek Say? sekarang gantian ya, lepas dulu dong, kemudian kamu naik kesini sambil sandaran kedinding ya.” Akupun mencabut batang kemaluanku dari vaginanya. Tanganku ditariknya semoga saya naik ke ranjang. Ia kemudian bantu mendorong semoga saya bergerak menyandar ketembok dibelakang tempat tidur.
Setelah saya duduk disisi atas tempat tidur sambil bersandar ketembok Sheena naik ke pahaku, berjongkok kemudian memasukkan batangku ke vaginanya, kemudian pelan-pelan menurunkan tubuhnya sampai duduk di selangkanganku. Ujung kemaluanku rasanya mirip mentok ke dinding rahimnya.
Ia melingkarkan kedua tangannya ke belakang leherku kemudian bibirnya mencium dan melumat bibirku, kedua buah dadanya terasa menekan dadaku. Kurasakan batang kemaluanku yang sedang terbenam menjadi tambah mengeras dan berdenyut didalam kemaluannya. Cengkraman cincinnya kembali mendera batang kemaluanku, sekarang iapun menambah serangannya dengan menaikturunkan tubuhnya sambil ‘cincin’ vaginanya menjepit kemaluanku sedang mulutnya mengunci mulutku. Kedua buah dadanya menekan dan menggesek dadaku.
Dalam kurang dari 15 menit saya sudah dibuat megap-megap menahan serangannya. Iapun berhenti naik turun untuk meberi saya napas, namun cincin vaginanya tetap ia rapatkan. Aku sungguh heran, bagaimana ia dapat mempertahankan kontraksi cincinnya non-stop selama itu. Ia tersenyum penuh kemenangan, katanya “Kalau saya mau sekarang ini kamu sudah kalah”
Dalam hati saya mengakui bahwa ia benar. Akupun menjawab, “Ok, balasannya kamu menang.”
Aku masih heran kok saya dapat dikalahkan dalam total waktu hanya sekitar 1 jam 30 menit, padahal biasanya ‘pertarungan’ku dengan Sheena umumnya mencapai total 4 atau 5 jam, itupun selalu berakhir seri 1 – 1 lantaran yakni sama sama oke mengalah untuk ‘keluar’. Aku masih belum sadar bahwa saya sudah mulai kena flu sejak tiba di Airport tadi dan sampai sekarang belum istirahat.
Sheena mencium keningku, pipiku dan bibirku, sambil terus mempermainkan cincin vaginanya. Jepit, longgar, jepit, longgar, mungkin istilahnya empot ayam. Ia tidak menaikturunkan pantatnya lantaran yakni ia sadar akan kondisiku yang hampir di puncak, namun ia mau semoga saya merasakan nimatnya ‘proses ke puncak’ tanpa sampai ‘kelewatan’.
“Udahan dulu ya, kita mandi yuk, kan dari Jakarta sampai sekarang belum mandi,” tawarnya.
“Boleh.. semoga istirahat dikit.. kamu nyalain dulu airnya ya semoga bath-tub nya terisi,” kataku.
Ia menaikkan pantatnya melepas batang kemaluanku dari vaginanya kemudian turun dari tempat tidur menuju kamar mandi dan menghidupkan kran air di bath-tub. Aku kemudian bangun juga menuju ke kamar mandi. Kulihat ia sedang duduk di closet membersihkan vaginanya yang lembap dengan gabungan cairan beningku dan lendir vaginanya.
Meski air dalam bath-tub belum terlalu dalam, saya langsung masuk dan duduk berendam sambil bersandar pada dinding bath-tub. Batang kemaluanku yang masih keras itu pelan-pelan melemas setelah terendam dalam air. Sheenapun masuk ke bath-tub dan ikutan duduk berendam. Iseng-iseng tangannya mengelus-elus batang kemaluanku untuk membersihkan lendir yang melekat di batang kemaluanku. Elusan jari-jari tangannya membuat kemaluanku kembali menegang. Ia tertawa kecil ketika merasakan ‘anuku’ berdenyut mengeras di tangannya. Setelah dilihatnya kemaluanku sudah bersih, ia bilang, “Coba mundur dikit dong”. Akupun bergerak mundur dan bersandar pada ujung bath-tub untuk memberi ruang yang lebih panjang baginya.
Ia kemudian mencabut sumbat bath-tub sehingga airnya pelan-pelan berkurang. Setelah airnya hampir habis, turun sampai setinggi biji kemaluanku, sumbatnya dipasang lagi. Kini batang kemaluanku berada di atas permukaan air sedangkan biji kemaluanku setengah tenggelam. Tangannya kembali mengelus-elus batangku, kemudian ia mengambil posisi nungging di depanku. Pelan-pelan kepalanya diturunkan dan mulutnya diarahkan ke kepala kemaluanku. Mulutnya membuka kemudian mencaplok kepala kemaluanku, tangan dan siku kirinya dipakai menunjang tubuhnya semoga tetap menungging sedang jari-jari tangan kanannya mengocok batang kemaluanku maju mundur. Mulutnya sampai kempot menyedot kepala kemaluanku. Aduhh.. rasanya sungguh luar biasa.
Sesaat kemudian, jari-jari tangan kanannya bergerak maju memegang pangkal batang kemaluanku sambil mulutnya bergerak maju-mundur. Nikmat yang kualami sungguh tak terbilang.. ini yakni oral seks yang ternikmat dalam hidupku. Sampai ketika ini masih yang ternikmat bagiku. Mulutnya terus maju mundur sampai batangku kelihatan memerah, kemudian fokusnya dialihkan ke sekitar leher kemaluanku. Dihisap-hisapnya kepala kemaluanku sampai dilehernya, digigit-gigit kecil belakang topi bajaku, lidahnya disapu-sapukan kelilingnya, kemudian kepala kemaluanku dicaplok dan disedot dengan berpengaruh kemudian dikulum-kulum. Lidahnya menari-nari didalam mulutnya menyentuh-nyentuh lubang pipisku. Setelah itu kembali ia maju mundurkan mulutnya namun hanya sampai dilehernya saja, tidak sampai kepala kemaluanku keluar.
Rupanya Sheena ingin menyampaikan bahwa tidak hanya vaginanya saja yang dapat ‘mengalahkanku’, ia ingin ‘mengalahkanku’ dengan mulutnya. Ia terus-menerus menjilat, mengulum dan menghisap batang kemaluanku sampai saya benar-benar merem melek dibuatnya. Tetapi pada dasarnya saya memang tidak pernah dapat ‘keluar’ dimulut wanita jikalau tidak kupaksakan sendiri untuk ‘keluar’ (Istriku pernah menyedotku selama 45 menit sampai lehernya pegal dan saya tetap tidak keluar), namun Sheena tak tahu akan kebiasaanku ini sehingga ia berpikir saya pasti ‘keluar’ oleh serangannya.
Setelah hampir 20 menit non-stop menyerangku, ia melirikku kemudian melepaskan mulutnya dari kepala kemaluanku.
“Enak nggak?” tanyanya sambil tangan kanannya tetap memegang batangku.
“Ini yang paling enak dari semuanya,” kataku.
“Naik lagi ke tempat tidur yuk.. tapi gendong ya.. capek sih,” katanya.
Aku keluar dari bath-tub kemudian menariknya semoga bangun kemudian menggendongnya ke ranjang. Kami sudah tidak perduli lagi bahwa tubuh kami masih setengah basah.
Aku kembali berada diatasnya dengan posisi push-up, ia membimbing batang kemaluanku masuk ke lubangnya, bless.. masuklah batangku. Ia memekik, “Awk..” agak sakit lantaran yakni masih seret. Aku terus memacu pantatku menyodok lubang kemaluanku. Disetiap hentakan pantatku ia selalu heboh “Awww..awww..”
Rasanya 15 menit berlalu, kemaluanku rasanya sudah berdenyut-denyut lagi, artinya saya sudah hampir di puncak. Agar tidak kalah, saya kurangi ke cepatanku kemudian saya minta ganti posisi.
Sambil menjaga semoga kemaluanku tidak lepas, kami berbalik, sekarang ia berada diatasku. Sejenak ia hanya duduk saja diatasku tidak bergerak. Ia rupanya menikmati denyutan batang kemaluanku. Kurasakan jepitan vaginanya meningkat seperti memeras batangku. Setelah hampir 10 menit kemudian. Ia melihat saya sudah ‘hampir sekarat’ lantaran yakni permainan jepitan vaginanya, ia kemudian meletakkan kedua lenganku ke atas kepalaku dan dipegangnya dengan kedua tangan kanannya yang juga untuk menopang tubuhnya. Mulutnya diturunkan mencium bibirku sambil pantatnya mulai dinaik-turunkan. Puting buah dadanya yang bergantung-gantung menggesek-gesek dadaku menambah sensasi nikmat serangannya. Saat kemaluannya ditarik sampai ke leher kemaluanku jepitannya dilonggarkan, ketika mau diturunkan dikeraskan lagi dan seterusnya.
Kini saya benar-benar ‘sudah sekarat’. Ia justru mempercepat gerak naik turun pantatnya. Aku mencoba mati-matian bertahan, setiap kali pantatnya diturunkan, saya mengejang dan mendengus “Enghh.. enghh.. enghh.. enghh,” tetapi saya tidak dapat bertahan lagi. Rasanya kurang dari 5 menit setelah ia mempercepat naik-turun sambil menjepit, kemaluanku berdenyut-denyut dan akhirnya, “Uhh..” pertahananku jebol, saya muncrat di dalam lubang kemaluannya. Disaat kemaluanku berdenyut menyemprot air maniku, ia terus naik turun dan mengeraskan cincin vaginanya. Lemaslah tubuhku, seluruh otot-ototku rasanya terlepas dari tulangku, kenikmatannya betul-betul enak.
Sheena tidak langsung bangkit, ia hanya berbaring di dadaku dengan batang kemaluanku masih menancap di vaginanya. Pelan-pelan batang kemaluanku melemas. Campuran sperma dan lendirnya mengalir keluar dari lubangnya, meleleh ke selangkanganku dan ke sprei ranjang. Ia menggeliat ke telingaku dan berbisik “Satu nol ya..,” sambil tersenyum.
Pembaca, itulah hari pertama kami di Kuala Lumpur. Tubuhku rasanya agak lemah, tapi saya masih saja berpikir “Ah tidak apa-apa, mungkin sebentar lagi juga pulih.” Hari kedua dan seterusnya kami tetap hangat bercinta. Sesekali saya masih dapat “menang” namun lebih banyak “kalah”.
Tubuhku sudah tambah lemah, saya balasannya sadar sudah jatuh sakit. Di hari ke delapan terakhir sesaat sebelum meninggalkan hotel menuju bandara, saya masih nekat ‘menantangnya’ lagi dengan kekuatan terakhir, hasilnya saya ‘kalah’ lagi. Aku sudah tak ingat berapa skor selesai kami, yang jelas saya ‘kalah’.
Dibandara kami berpisah, pesawatku berangkat dahulu kembali ke Australia sedangkan Sheena sejam kemudian kembali ke Jakarta. Dipesawat suhu tubuhku kian naik, otot-otot tubuhku rasanya linu dan tidak bertenaga. 7 jam perjalanan cuma dapat di kursi saja tambah menyusahkan. Setibanya di rumah, saya benar-benar jatuh sakit, sempat muntah-muntah pula. Untung waktu cuti kerjaku belum habis sehingga tidak perlu ditambah dengan cuti sakit lagi. Tetapi yang paling sebal, saya penasaran dikalahkan oleh Sheena, telak lagi. Seharusnya saya istirahat terlebih dahulu setelah tiba di Kuala Lumpur sampai flunya hilang dulu dan tidak langsung ngajak ‘perang’, toh masih ada hari-hari esoknya.
Sayangnya saya tidak mampu membalas kekalahanku lantaran yakni itulah terakhir kalinya saya bertemu dengannya. Pada kedatanganku ke Jakarta yang berikutnya, saya tidak mampu menemuinya. Kini Ia sudah pindah ke Kalimantan. “Sheena” if you read this story then you should know that I could be better. But any way, no excuses, I admit that you have won!”
Cerita Dewasa, Cerita Memek, Cerita Malam Dewasa, Cerita Bandar Seks, Cerita Berduaan, Nafsu Tante,



