Baca Kumpulan Dongeng Sex Di Hamili Anak Tetangga

Baca Kumpulan Cerita Sex di Hamili Anak Tetangga - Namaku Lani, seorang ibu rumah tangga, umurku 36 tahun. Suamiku namanya Prasojo, umur 44 tahun, seorang pegawai di pemerintahan di Bantul. Aku senang dengan suami dan kedua anakku. Suamiku seorang pria yang gagah dan bertubuh besar, biasalah dulu ia seorang tentara. Penampilanku walaupun sudah terbilang berumur tapi sangat terawat, sebab adalah saya rajin ke salon dan fitnes dan yoga. Kata orang, saya mirip mirip Sandy Harun.

Tubuhku masih mampu dikatakan langsing, walaupun payudaraku termasuk besar, sebab adalah sudah punya anak dua. Anakku yang pertama bernama Rika, seorang gadis remaja yang beranjak dewasa. Dia sudah mau lulus SMA, yang kedua Sangga,masih sekolah SMA kelas 1. Rika walaupun tinggal serumah dengan kami juga lebih sering menghabiskan waktunya di tempat kosnya di tempat Gejayan.

Kalau si Sangga, sebab adalah pemuda remaja, lebih sering berkumpul dengan teman-temannya ataupun sibuk berkegiatan di sekolahnya. Semenjak tidak lagi sibuk mengurusi anak-anak, kehidupan seksku semakin renta justru semakin menjadi-jadi. Apalagi suamiku selain bertubuh kekar, juga orang yang sangat terbuka soal urusan seks. Akhir-akhir ini, setelah belum dewasa besar, kami berlangganan internet.

Aku dan suamiku sering browsing masalah-masalah seks, baik video, cerita, ataupun foto-foto. Segala macam gaya berhubungan tubuh kami lakukan. Kami bercinta sangat sering, minimal seminggu tiga kali. Entah mengapa, semenjak kami sering berseluncur di internet, gairah seksku semakin menggebu. Sebagai tentara, suami sering tidak ada di rumah, tapi jikalau pas di rumah, kami langsung main kuda-kudaan, hehehe. Sudah lama kami memutuskan untuk tidak punya anak lagi.

Tapi saya sangat takut untuk pasang spiral. Dulu saya pernah mencoba suntik dan pil KB. Tapi kini kami lebih sering pakai kondom, atau lebih seringnya suamiku ‘keluar’ di luar. Biasanya di mukaku, di payudara, atau bahkan di dalam mulutku.

Pokoknya kami sangat hati-hati supaya Sangga tidak punya adik lagi. Dan tenang saja, suamiku sangat ahli mengendalikan muncratannya, jadi saya tidak khawatir muncrat di dalam rahimku. Walaupun sudah dua kali melahirkan tubuhku termasuk sintal dan seksi.

Payudaraku masih cukup kencang sebab adalah terawat. Tapi yang jelas, bodiku masih semlohai, sebab adalah saya masih punya pinggang. Aku sadar, jikalau tubuhku masih tetap membuat para pria menelan air liurnya. Apalagi saya termasuk ibu-ibu yang suka pakai baju yang agak ketat. Sudah kebiasaan sih dari remaja.

Suamiku termasuk seorang pejabat yang baik. Dia ramah pada setiap orang. Di kampung ia termasuk pegawapemerintah yang disukai oleh para tetangga. Apalagi suamiku juga banyak bergaul dengan belum dewasa muda kampung. Kalau pas di rumah, suamiku sering mengajak belum dewasa muda untuk bermain dan bercakap-cakap di teras rumah.

Semenjak setahun yang lalu, di halaman depan rumah kami di bangun semacam gazebo untuk nongkrong para tetangga. Setelah membeli televisi baru, televisi lama kami, ditaruh di gazebo itu, sehingga para tetangga betah nongkrong di situ. Yang jelas, banyak bapak-bapak yang curi-curi pandang ke tubuhku jikalau pas saya bersih-bersih halaman atau ikutan nimbrung sebentar di tempat itu.

Maklumlah, jikalau istilah kerennya, saya ini termasuk MILF, hehehe. Selain bapak-bapak, ada juga pemuda dan remaja yang sering bermain di rumah. Salah satunya sebab adalah gazebo itu juga dipergunakan sebagai perpustakaan untuk warga.

Salah satu anak kampung yang paling sering main ke rumah adalah Indun, yang masih SMP kelas 2. Dia anak tetangga kami yang berjarak 3 rumah dari tempat kami.

Anaknya baik dan ringan tangan. Sama suamiku ia sangat akrab, bahkan sering membantu suamiku jikalau lagi bersih-bersih rumah, atau membelikan kami sesuatu di warung. Sejak masih anak-anak, Indun dekat dengan belum dewasa kami, mereka sering main karambol bareng di gazebo kami. Bahkan kadang kala Indun menginap di situ, sebab adalah jikalau malam, gazebo itu diberi penutup oleh suamiku, sehingga tidak terasa dingin.

Pada suatu malam, saya dan suamiku sedang bermesraan di kamar kami. Semenjak sering melihat adegan blow job di internet, saya jadi kecanduan mengulum penis suamiku. Apalagi penis suamiku adalah penis yang paling gagah sedunia bagiku. Tidak kalah dengan penis-penis yang biasa kulihat di BF. Padahal dulu waktu masih pengantin muda saya selalu menolak jikalau diajak blowjob.

Entah kenapa kini di usia yang sudah pertengahan kepala tiga ini saya justru tergila-gila mengulum batang suamiku. Bahkan saya mampu orgasme hanya dengan mengulum batang besar itu. Tiap nonton film blue pun mulutku serasa gatal.

Kalau pas tidak ada suamiku, saya selalu membawa pisang jikalau nonton film-film gituan. Biasalah, sambil nonton, sambil makan pisang, hehehe. Malam itu pun saya dengan rakus menjilati penis suamiku. Bagi mas Prasojo, mulutku adalah vagina keduanya. Dengan berseloroh, ia pernah bilang jikalau bersama-sama ia sama saja sudah poligami, sebab adalah ia punya dua lubang yang sama-sama hotnya untuk dimasuki.

Ucapan itu ada benarnya, sebab adalah mulutku sudah hampir menyerupai vagina, baik dalam mengulum maupun dalam menyedot. Karena kami menghindari kehamilan, bahkan sebagian besar sperma suamiku masuk ke dalam mulutku. Malam itu kami lupa jikalau Indun tidur di gazebo kami.

Seperti biasa, saya teriak-teriak pada waktu penis suamiku mengaduk-aduk vaginaku. Suamiku sangat kuat. Malam itu saya sudah berkali-kali orgasme, sementara suamiku masih segar bugar dan menggenjotku terus menerus. Tiba-tiba kami tersentak, ketika kami mendengar bunyi berisik di jendela.

Segera suami mencabut batangnya dan membuka jendela. Di luar nampak Indun dengan wajah kaget dan gemetaran tertangkap lembap mengintip kami. Suamiku nampak murka dan melongokkan badannya keluar jendela. Indun yang kaget dan ketakutan meloncat ke belakang. Saking kagetnya, kakinya terantuk selokan kecil di teras rumah. Indun terjerembab dan terjungkal ke belakang. Suamiku tak jadi marah, tapi ia kesal juga.

“Walah, Ndun! Kamu itu ngapain?” bentaknya.
Indun ketakutan setengah mati. Dia sangat menghormati kami. Suamiku yang tadinya kesal pun tak jadi memarahinya. Indun gelagepan. Wajahnya meringis menahan sakit, sepertinya pantatnya terantuk sesuatu di halaman.

Aku tadinya juga sangat malu diintip anak ingusan itu. Tapi saya juga mengasihi Indun, bahkan mirip anakku sendiri. Aku juga sadar, bersama-sama kami yang salah sebab adalah bercinta dengan bunyi segaduh itu. Aku segera meraih dasterku dan ikut menghampiri Indun.

“Aduh, mas. Kasian dia, gak usah dimarahin. Kamu sakit Ndun?” Aku mendekati Indun dan memegang tangannya.
Wajah Indun sangat memelas, antara takut, sakit, dan malu.
“Sudah gak papa. Kamu sakit, Ndun?” tanyaku. “Sini coba kamu berdiri, mampu gak?”
Karena gemeteran, Indun gagal mencoba berdiri, ia malah terjerembab lagi. Secara reflek, saya memegang punggungnya, sehingga kami berdua menjadi berpelukan.

Dadaku menyentuh lengannya, tentu saja ia mampu merasakan lembutnya gundukan besar dadaku, sebab adalah saya hanya memakai daster tipis yang sambungan, sementara di dalamnya saya tidak memakai apa-apa.

“Aduh sorri, Ndun” pekikku.
Tiba-tiba suamiku tertawa. Agak kesal saya melirik suamiku, kenapa ia menertawai kami.
“Aduh Mas ini. Ada anak jatuh kok malah ketawa”
“Hahaha.. lihat itu, Dik. Si Indun ternyata udah gede, hahaha…” kata suamiku sambil menunjuk selangkangan Indun. Weitss… ternyata mungkin tadi Indun mengintip kami sambil mengocok, sebab adalah di atas celananya yang agak melorot, batang kecilnya mencuat ke atas.

Penis kecil itu terlihat sangat tegang dan berwarna kemerahan. Malu juga saya melihat adegan itu, apalagi si Indun. Dia tambah gelagepan.

“Hussh Mas. Kasihan dia, udah malu tuh”, kataku yang justru menambah malu si Indun.
“Kamu suka yang lihat barusan, Ndun? Wah, hayooo… kamu nafsu ya lihat istriku?” goda suamiku.
Suamiku malah ketawa-ketawa sambil berdiri di belakangku. Tentu saja wajah Indun tambah memerah, walaupun tetap saja penis kecilnya tegak berdiri. Kesal juga saya sama suamiku. Udah gak menolonng malah mentertawakan anak ingusan itu.
“Huh, Mas mbok jangan godain dia, mbok tolongin nih, angkat dia”
“Lha ia khan sudah berdiri, ya tho Ndun? Wakakak” kata suamiku.

Aku sungguh tidak tega lihat muka anak itu. Merah padam sebab adalah malu. Aku kemudian berdiri mengangkang di depan anak itu, dan memegang dua tangannya untuk menariknya berdiri. Berat juga badannya. Kutarik kuat-kuat, kesannya ia terangkat.

Tapi gres setengah jalan, mungkin sebab adalah ia masih gemetar dan saya juga kurang kuat, tiba-tiba justru saya yang jatuh menimpanya. Ohhh… saya berusaha untuk menahan badanku supaya tidak menindih anak itu, tapi tanganku malah menekan dada Indun dan membuatnya jatuh terlentang sekali lagi. Bahkan kali ini, saya ikut jatuh terduduk di pangkuannya.

Dan…. ohhhh. Sleppp…. terasa sesuatu menggesek bibir vaginaku.
“Waa…!” saya tersentak dan sesaat galau apa yang terjadi, begitu juga dengan Indun, wajahnya nampak sangat ketakutan. “Aduuuhhh!” teriakku.

Sementara suamiku justru tertawa melihat kami jatuh lagi. Tiba-tiba saya sadar benda apa yang bergesekan dengan vaginaku, penis kecil si Indun! Penis itu menggesek wilayah sensitifku disamping sebab adalah vaginaku masih berair oleh persetubuhanku dengan suamiku, juga sebab adalah saya tidak mengenakan apa-apa di balik daster pendekku.
“Ohhhhh…. apa yang terjadi?” Pikirku.
Mungkin juga sebab adalah penis Indun yang masih imut dan lobang vaginaku yang biasa digagahi penis besar suami, risikonya sangat praktis diselipin batang kecil itu.

“Ohhh.. Masss???” desisku pada suamiku. Kali ini suamiku berhenti tertawa dan agak kaget.
“Napa, say?” tanyanya heran.
Kami bertiga sama-sama kaget, suamiku nampaknya juga menyadari apa yang terjadi. Dia mendekati kami, dan melihat bahwa kelamin kami saling bersentuhan. Beberapa dikala kami bertiga terdiam galau dengan apa yang terjadi. Aku merasakan penis Indun berdenyut-denyut.

Lobangku juga segera meresponnya, mengingat rasa tanggung setelah persetubuhanku dengan suamiku yang tertunda. Aku mencoba bangkit, tapi entah kenapa, kakiku jadi gemetar dan kembali selangkanganku menekan tubuh si Indun. Tentu saja penisnya melesak ke lobangku. Ohhh… saya merasakan sensasi yang biasa kutemui kala sedang bersetubuh.
“Ohhh…” desisku. Indun terpekik tertahan. Wajahnya memerah. Tapi saya merasakan pantatnya sedikit dinaikkan merespon selangkanganku. Slepppp… kembali penis itu menusuk dalam lobangku.
Yang mengherankan suamiku diam saja, entah sebab adalah ia kaget atau apa. Hanya saya lihat wajahnya ikut memerah dan sedikit membuka mulutnya, mungkin galau juga untuk bereaksi dengan situasi absurd ini.

Aku diam saja menahan napas sambil menguatkan tanganku yang menahan tubuhku. Tanganku berada di sisi kanan dan kiri si Indun. Sementara Indun dengan wajah merah padam menatap mukaku dengan panik. Agak mangkel juga saya lihat mukanya, panik, takut, tapi kok penisnya tetap tegang di dalam vaginaku. Dasar anak mesum, pikirku. Tapi absurd juga, saya justru merasakan sensasi yang absurd dengan adanya penis anak yang sudah kuanggap saudaraku sendiri itu dalam vaginaku.

Agak kasihan juga lihat mukanya, dan juga muncul rasa sayang. Pikirku, kasihan juga anak ini, ia sangat berangasan mengintip kami, dan juga apalagi yang dikawatirkan, sebab adalah penisnya sudah terlanjur dalam vaginaku. Aku melirik suamiku sambil tetap duduk di pangkuan si Indun. Suamiku tetap diam saja. Agak kesal juga saya lihat respon mas Prasojo. Tiba-tiba pikiran nakal menyelimuti.

Kenapa tidak kuteruskan saja persetubuhanku dengan Indun, toh penisnya sudah menancap di vaginaku. Apalagi jikalau lihat muka hornynya yang sudah di ubun-ubun, kasihan lihat Indun jikalau tidak diteruskan. Dengan nekat saya kembali menekan pantatku ke depan. Vaginaku meremas penis Indun di dalam. Merasakan remasan itu, Indun terpekik kaget. Suamiku mendengus kaget juga.

“Dik, aaa…paaaa yang kaulakukan?” kata suamiku gagap.
Aku diam saja, hanya saja saya mulai menggoyang pantatku maju mundur.
Suamiku termangu sekarang. Wajahnya mendekat melihat mukaku setengah tak percaya. Indun tidak berani lihat suamiku. Dia menatap wajahku keheranan dan penuh nafsu.
“Mas… saya teruskan saja ya, kasihan si Indun. Apalagi khan sudah terlanjur masuk, toh sama saja…” bisikku berani ke suamiku.
Aku tak mampu lagi menerka perasaan suamiku. Kecelakaan ini benar-benar di luar perkiraan kami semua. Tapi suamiku memegang pundakku, yang kupikir mengijinkan kejadian ini. Entah apa yang ada di pikiranku, saya tiba-tiba sangat ingin menyelesaikan nafsu si Indun.

Si Indun mengerang-erang sambil terbaring di rerumputan halaman rumah kami. Kembali saya memaju-mundurkan pantatku sambil meremas-remas penis kecil itu di dalam lobangku. Remasanku selalu bikin suamiku tak tahan, sebab adalah saya rajin ikut senam. Apalagi ini si Indun, anak ingusan yang tidak berpengalaman.

Tiba-tiba, sebab adalah sensasi yang absurd ini, saya merasakan orgasme di dalam vaginaku. Jarang saya orgasme secepat itu. Aku merintih dan mengerang sambil memegang erat lengan suamiku. Banjir mengalir dalam lobangku. Otomatis remasan dalam vaginaku menguat, dan penis kecil si Indun dijepit dengan luar biasa.
Indun meringis dan mengerang. Pantatnya melengkung naik, dann…. croottttttttt………..
Cairan panas itu membanjiri rahimku. Aku mirip hilang kendali, semua tiba-tiba gelap dan saya diserbu oleh tornado kenikmatan…
“Ohhhhhhhhhh…”

Aku kemudian terkulai sambil menunduk menahan tubuhku dengan kedua tanganku. Nafasku terengah-engah tidak karuan. Sejenak saya diam tak tahu harus bagaimana. Aku dan suamiku saling berpandangan.
“Dik… Indun gak pakai kondom ..?” suamiku terbata-bata.
Kami sama-sama kaget menyadari bahwa percintaan itu tanpa pengaman sama sekali, dan saya telah mendapat aneka macam sperma dalam rahimku, sperma si anak ingusan. Ohhh… tiba-tiba saya sadar akan resiko dari persetubuhan ini. Aku dalam masa subur, dan sangat mampu jadi saya bakalan mengandung anak dari Indun, bocah SMP yang masih ingusan.

Pelan-pelan saya berdiri dan mencabut penis Indun dari vaginaku. Penis itu masih setengah berdiri, dan berkilat berair oleh cairan kami berdua. Aku dan suamiku mengehela nafas. Cepat cepat saya memperbaiki dasterku. Dengan gugup, Indun juga menaikkan celananya dan duduk ketakutan di rerumputan.
“Maa.. ma’af, Bu..” kesannya keluar juga suaranya.
Aku menatap Indun dengan wajah seramah mungkin. Suamiku yang kesannya pegang peranan.
“Sudahlah, Ndun. Sana kamu pulang, mandi dan cuci-cuci!” perintahnya tegas.
“Iya, om. Ma.. maaf ya Om” kata Indun sambil menunduk. Segera ia meluncur pergi lewat halaman samping.
“Masuk!” suamiku melihat ke arahku dengan bunyi agak keras.
Gemetar juga saya mendengar suamiku yang biasanya halus dan mesra padaku. Aduuh, apa yang akan terjadi?bKami berdua masuk ke rumah, saya tercekat tidak mampu memberikan apa-apa. Tiba-tiba pikiran-pikiran buruk menderaku, jangan-jangan suamiku tak memaafkanku.

Ohhh apa yang mampu kulakukan. Di dalam kamar tangisanku pecah. Aku tak berani menatap suamiku. Selama ini saya adalah istri yang setia dan senang bersama suamiku, tapi malam ini… tiba-tiba saya merasa sangat kotor dan hina. Agak lama suamiku membiarkanku menangis. Pada kesannya ia mengelus pundakku.
“Sudahlah bu, ini khan kecelakaan.”
Hatiku sangat lega. Aku menatap suamiku, dan mencium bibirnya. Tiba-tiba saya menjadi sangat takut kehilangan dia. Kami berpelukan lama sekali.
“Tapi mas… jikalau aku…… hamil gimana?” tanyaku memberanikan diri.
“Ah.. mana mungkin, ia khan masih ingusan. Dan jikalau pun Dik Idah hamil khan gak papa, si Sangga juga sudah siap jikalau punya adik lagi”, sanggah suamiku.

Jawaban itu sedikit menenangkan hatiku. Akhirnya kami bercinta lagi. Kurasakan suamiku begitu mengebu-gebu mengerjaiku. Apa yang ada di pikirannya, saya tak tahu, padahal ia barusan saja melihat istrinya disetubuhi anak muda. Sampai-sampai saya kelelehan melayani suamiku. Pada orgasme yang ketiga saya menyerah.
“Mas, keluarin di mulutku saja ya… saya tak kuat lagi” bisikku pada orgasme ketigaku ketika kami dalam posisi doggystye.
Suamiku mengeluarkan penisnya dan menyorongkannya ke mulutku. Sambil terbaring saya menyedot-nyedot penis besar itu. Sekitar setengah jam kemudian, mulutku penuh dengan sperma suamiku. Dengan penuh kasih sayang, saya menelan semua cairan kental itu.

#############
Hari-hari selanjutnya berlalu dengan biasa. Aku dan suamiku tetap dengan kemesraan yang sama. Kami mirip melupakan kejadian malam itu. Hanya saja, Indun belum berani main ke rumah.

Agak kangen juga kami dengan anak itu. Sebenarnya rumah kami dekat dengan rumah Indun, tapi saya juga belum berani untuk melihat keadaan anak itu. Hanya saja saya masih sering ketemu ibunya, dan sering iseng-iseng nanya keadaan Indun. Katanya sih ia baik-baik saja hanya kini lagi sibuk persiapan mau naik kelas 3 SMP.

Seminggu sebelum bulan puasa, Indun datang ke rumah mengantarkan selamatan keluarganya. Wajahnya masih kelihatan malu-malu ketemu aku. Aku sendiri dengan riang menemuinya di depan rumah.
“Hai Ndun, kok kamu jarang main ke rumah?” tanyaku.
“Eh, iya bu. Gak papa kok Bu”, jawabnya sambil tersipu.
“Bilang ke mamamu, makasih ya”
“Iya bu”, jawab Indun dengan canggung. Dia bahkan tak berani menatap wajahku. Entah kenapa saya merasa kangen sekali sama anak itu. Padahal ia terang masih anak ingusan, dan bukan type-type anak SMP yang populer dan gagah kayak yang jago-jago main basket. Jelas si Indun tidak terlalu gagah, tapi ukuran sedang untuk anak SMP. Hanya badannya memang tinggi.

“Ayo masuk dulu. Aku buatin minum ya” ajakku.
Indun tampak masih agak malu dan takut untuk masuk rumah kami. Siang itu suamiku masih dinas ke Kulonprogo. Anak-anak juga tidak ada yang di rumah. Kami bercakap-cakap sebentar ihwal sekolahnya dan sebagainya. Sekali-kali saya merasa Indun melirik ke badanku. Wah, gak tahu kenapa, saya merasa senang juga diperhatiin sama anak itu badanku. Waktu itu saya mengenakan kaos agak ketat sebab adalah barusan ikut kelas yoga bersama ibu-ibu Candra Kirana. Tentunya dadaku terlihat sangat menonjol. Akhirnya tidak begitu lama, Indun pamit pulang. Dia kelihatan lega sikapku padanya tidak berubah setelah kejadian malam itu.

Hingga pada bulan selanjutnya saya tiba-tiba gelisah. Sudah hampir lewat dua minggu saya belum datang bulan. Tentu saja kejadian waktu itu membuatku bertambah panik. Gimana jikalau benar-benar jadi? Aku belum berani bilang pada Mas Prasojo. Untuk melakukan test saja saya sangat takut. Takutnya jikalau positif.

Hingga pada suatu pagi saya melakukan test kehamilan di kamar mandi. Dan, deg! Hatiku mirip mau copot. Lembaran kecil itu memberikan jikalau saya positif hamil!!! Oh Tuhan!
Aku benar-benar kaget dan tak percaya. Jelas ini bukan anak suamiku. Kami selalu bercinta dengan aman. Dan terang sesuai dengan waktu kejadian, ini adalah anak Indun, si anak SMP yang belum cukup umur. Aku benar-benar bingung. Seharian saya tidak mampu berkonsentrasi. Pikiranku berkecamuk tidak karuan. Bukan saja sebab adalah saya tidak siap untuk punya anak lagi, tapi juga bagaimana reaksi suamiku, bahwa saya hamil dari pria lain. Itulah yang paling membuatku bingung.

Hari itu saya belum berani untuk memberi tahu suamiku. Dua hari berikutnya, justru suamiku yang merasakan perbedaan sikapku.
“Dik Lani, ada apa? Kok sepertinya kurang ?” tanyanya penuh perhatian.
Waktu itu kami sedang tidur bedua. Aku tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Yang kulakukan hanya memeluk suamiku erat-erat. Suamiku membalas pelukanku.
“Ada apa sayang?” tanyanya.

Badan kekarnya memelukku mesra. Aku selalu merasa tenang dalam pelukan pria perkasa itu. Aku tidak berani menjawab. Suamiku memegang mukaku, dan menghadapkan ke mukanya. Sepertinya ia menyadari apa yang terjadi. Sambil menatap mataku, ia bertanya, “benarkah?”
Aku mengangguk pelan sambil menagis, “aku hamil, mas…”
Jelas suamiku juga kaget. Dia diam saja sambil tetap memelukku. Lalu ia menjawab singkat’
“besok kita ke dokter Merlin”. Aku mengangguk, kemudian kami saling berpelukan hingga pagi tiba.
Hari selanjut sore-sore kami berdua menemui dokter Merlin. Setelah dilakukan test, dokter elok itu memberi selamat pada kami berdua.
“Selamat, Pak dan Bu Prasojo. Anda akan mendapat anak ketiga”, kata dokter itu riang.
Kami mengucapkan terimakasih atas ucapan itu, dan sepanjang jalan pulang tidak berkata sepatah kata pun. Setelah itu, suamiku tidak menyinggung dilema itu, bahkan ia memberi tahu pada belum dewasa jikalau mereka akan punya adik baru.

Anak-anak ternyata senang juga, sebab adalah sudah lama tidak ada anak kecil di rumah. Bagi mereka, adik kecil akan menyemarakkan rumah yang kini sudah tidak lagi ada bunyi anak kecilnya.
Malamnya, setelah tahu saya hamil, suamiku justru menyetubuhiku dengan ganas. Aku tidak tahu apakah ia ingin supaya anak itu gugur atau sebab adalah ia merasa sangat berangasan padaku. Yang terang saya menyambutnya dengan tak kalah bernafsu. Bahkan kami gres tidur menjelang jam 3 dini hari setelah sepanjang malam kami bergelut di kasur kami.


Aku tidak tahu lagi bagaimana wujud mukaku malam itu, sebab adalah sepanjang malam mulutku disodok-sodok penis suamiku, dan dipenuhi oleh muncratan spermanya yang hingga tiga kali membasahi muka dan mulutku. Aku hampir tidak mampu bangun pagi harinya, sebab adalah seluruh tubuhku mirip remuk dikerjain suamiku. Untungnya esok harinya hari libur, jadi saya tidak harus buru-buru menyiapkan sekolah anak-anak.

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan luar biasa. Suamiku bertambah hot setiap malam. Aku juga selalu merasa horny. Wah, beruntung juga jikalau semua ibu-ibu ngidamnya penis suami mirip kehamilanku kali ini. Hamil kali ini betul-betul beda dengan kehamilanku sebelumnya, yang biasanya pakai ngidam gak karuan.

Hamil kali ini justru saya merasa sangat santai dan berangasan birahi tinggi. Setiap malam vaginaku terasa senut-senut, ada atau tak ada suamiku. Kalau pas ada enak, saya tinggal naik dan goyang-goyang pinggang. Kalau pas gak ada saya yang sering kebingungan, dan mencari-cari di internet film-film porno.

Sudah itu pasti saya mainin pakai pisang, yang jadi langgananku di pasar setiap pagi, hehehe. Yang jadi masalah, adalah perlukah saya memberi tahu si Indun bahwa saya hamil dari benihnya? Aku tidak berani bertanya pada suamiku. Dia mendukung kehamilanku saja sudah sangat membahagiakanku.

Aku menjadi senang dengan kehamilan ini. Di luar dugaanku, ternyata kami sekeluarga sudah siap menyambut anggota gres keluarga kami. Itulah hal yang sangat saya syukuri.
3

Kumpulan Cerita Dewasa Hubungan Antara Bos Dan Pembantu

Kumulan Cerita Dewasa - Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun kemudian dikala saya berumur 22 th. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi tinggi tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan china berumur 40th berjulukan berjulukan Jeany, ia mempunyai 2 orang anak berumur 5 dan 9 th.

Mulanya saya hanya tertarik alasannya orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup sanggup mengikuti gaya anak muda alias lumayan ‘gaul’ lah. Hampir setiap malam ia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon.

Suatu dikala Jeany akan ada peran dari kantornya ke Surabaya ia menelepon minta dijemput di Airport katanya, wah asyik nih saya sanggup ketemu sekalian sanggup ngobrol dan bercanda.

Pada dikala hari H ia telpon saya lagi ia bilang ia pake baju warna pink dan celana panjang hitam. Hmm sesampainya di airport saya bingung sekali waktu saya lihat-lihat di kedatangan airport yang pakai baju pink dan celana hitam cuman ada satu orang itupun kira-kira masih sekitar umur 30 th menurutku.

Aku beranikan diri untuk menyapa,
“Hmm selamat siang bu, ma’af ibu yang berjulukan Jeany?” dengan senyum yang manis ia langsung merespons,
“Apakabar Iwan”.

Saya langsung melongo alasannya melihat tampangnya yang masih manis dengan tubuh langsing tapi gemuk pada kepingan yang penting tentunya. Tiba-tiba jeany langsung mencium pipiku..
“Mmmuuaachh jangan pake ibu segala ya.. Panggil Jeany aja!”.

Wah-wah saya langsung rada horny.. He.. he..he.. Seharian saya antar ia keliling ke kantor klien-kliennya, setelah jam kerja usai, kita makan malam dan saya antar lagi ia ke airport.

Di perjalanan tiba-tiba ia minta berhenti di pinggir jalan. Saya tanya,
“Kenapa kok berhenti?” tanpa banyak bicara ia langsung mencium bibir saya dan membuka retsleting celana saya, penis saya langsung menegang tanpa basa-basi.

Sambil mengelus-elus batangku ia bergumam,

“Hmm mantap juga batang kau ini”
Ukuran penisku tidak terlalu besar sih sekitar 18 cm panjangnya, tapi berdasarkan Jeany, “helm proyek”-nya ini sanggup bikin nyesek.. He.. he.. he.. he..

Setelah puas melumat bibirku ia langsung menyedot batang kemaluanku yang dari tadi sudah menunggu hisapan lisan sexinya, tak ketinggalan lidahnya menjilat-jilat batang penisku, saya tak mau tinggal diam tanganku berusaha meremas dadanya yang cukup kenyal, tapi ia menepis, “Sudah deh kali ini agar Jeany yang kerja,”

ya.. saya pasrah saja sambil menikmati sedotan bibirnya, tak lama kemudian saya serasa melayang-layang dan kepala penisku serasa makin besar karenanya “Oughh.. ahh..” Crott!! Spermaku keluar di lisan Jeany, Dia makin absurd menyedot semua batangku masuk ke mulutnya seakan nggak mau ada spermaku yang lolos dari mulutnya. Kepala penisku masih berdenyut dikala jeany menyedotnya.

“Ahhmm yummy banget batang kamu, thank’s ya,” kata Jeany,
sambil tersenyum dan menciumku, ia sangat suka dengan penisku, sementara saya hanya sanggup diam dan masih terheran-heran melihat kebinalannya, “Ayo jalan, ntar ketinggalan pesawat nih.”
Tiba-tiba Jeany protes melihat saya hanya terdiam dan membiarkan celanaku terbuka. Pada dikala saya tiba di parkiran airport Jeany berkata, “Kamu masih utang lho sama aku”
“hmm…” saya hanya sanggup senyum sambil kali in saya yang mencium bibir sexy-nya.

Jeany memelukku erat, kami menyerupai pasangan kekasih aja.
Sebulan telah berlalu, kami tetap berhubungan via telepon, kekerabatan kami semakin akrab, kemudian saya tetapkan untuk pergi ke Jakarta untuk bertemu Jeany. Kebetulan anak-anaknya sedang liburan sekolah, sekalian saya bertugas mengajak anaknya jalan-jalan.

Saat tiba di Jakarta saya menginap di sebuah hotel yang cukup terkenal di daerah Senayan. Lalu kami bertemu dan jalan-jalan bersama kedua anaknya,
“Hmm sudah menyerupai keluarga aja nih” pikirku dan Jeany terlihat makin cantik, lebih manis dari sebelumnya.
Sepulang dari jalan-jalan, tiba-tiba anak Jeany yang berumur 7th meminta saya untuk menginap di rumahnya, agar kita sanggup main playstation berdua. Asyik juga nih pikirku, alasannya memang saya juga keranjingan main game. Saya dan Dodi (anak sulung Jeany) sudah 2 jam main playstation. Saat itu sudah jam 23.00, Dodi sudah mau tidur sementara Jeany masih sibuk membereskan kamar yang akan saya tempati.

Kelar main PS dengan Dodi, saya langsung mandi alasannya sejak tadi saya belum mandi. Selesai mandi saya lihat Jeany sudah selesai beres dan duduk di sofa ruang keluarga sambil nonton TV. Cantik sekali Jeany dikala itu, dengen baju tidur warna ungu, wah.. yang bikin saya deg-degan dadanya yang berukuran 34b menyembul dibalik gaunnya, dan setelah saya curi-curi pandang ternyata ia tidak memakai bra.



“Kamu masih hutang ama saya lho Wan”, jeany berkata begitu dengen senyum manisnya.
Ya saya langsung jawab aja,
“Iya deh pasti saya lunasin kok” wah kebeneran nih ngerasain vagina janda..
Hehehehe biarpun sudah umur 40-an tapi badannya sangat sexy alasannya memang hobbynya berenang.
“Kita sambil nonton bokep yuk Wan,” kata Jeany.

Sewaktu Jeany memasang VCD rada sedikit nungging, Hmm.. pahanya terlihat mulus den bagian pantatnya terlihat sangat bersih, saya tak tahan langsung aja saya samperin dan menjilat bagian pantatnya dari belakang hingga turun ke selangkangan.
“Ahh sayangg.. Sabar donk.. Aku sudah lama nggak diginiin” Jeany mendesah sambil kakinya gemetaran.
Aku gendong saja ke sofa terus saya ciumin bibrnya, Jeany merespons ciumanku dengan ganasnya,
“Jago juga nih ciumannya”, pikirku.

Sementara kedua tanganku mulai menyelusup ke dadanya yang sejak tadi membusung alasannya menahan nafas,
“Oughh ahh.. Terusin sayang,” desahnya.

Tangan jeany mulai berusaha meraih batang penisku yang sudah menegang dengan helm yang memerah,
“Eitt ini giliranku bayar hutang,” tanganku menepis tangan jeany dengan lembut, ia hanya tersenyum.
Sementara mulutku mulai menjilat-jilat puting jeany yang berwarna pink. Jemarinya mendekap erat kepalaku, sambil mendesah dan kakinya memeluk erat pinggulku,
“Suck my pussy baby” Jeany mendorong kepalaku ke arah vaginanya yang dari tadi cairannya membasahi dadaku.
Hmm asyik benar nih pikirku dalam hati. Saat saya mulai menyapukan lidahku dari kepingan bawah ke atas vaginanya saya merasakan cairan yang sangat nikmat yang saya impikan sejak pertama kali bertemu Jeany. Aku hisap clitorisnya ia makin mengejang dan saya merasakan vaginanya sperti menghisap bibirku.

“Ciuman ama bibir atau vagina sama enaknya nih,” pikirku.
“Oughh sayangghh enak,” gumamnya.
Lidahku mulai bergerak konstan di clitorisnya semakin cepat, pantatnya bergerak naik turun mengikuti irama lidahku, tiba tiba ia berteriak histeris.

“fish.. Ahh ahh oughh ah ahh ahh.. Iwann eghh.,” tubuh Jeany mengejang, tangannya menekan kepalaku ke vaginanya hingga hidung dan hampir semua wajahku lembap alasannya cairan vaginanya.
Nafasnya tersengal-sengal dadanya makin membusung (ini pengalaman pertamaku menjilat vagina, sekarang saya suka sekali menjilat vagina hingga lawan sex-ku mencapai titik puncak alasannya jilatanku). Aku jilati terus dan saya telan semua cairan vaginanya, rasanya yummy banget!!

Sementara nafas Jeany masih tersengal-sengal saya angkat kedua pahanya sehingga lobang pantatnya pas berada di bibirku. Aku jilati lagi sisa-sisa cairan yang meleleh di lobang pantat jeany sambil saya teruskan jilatanku ke atas dan turun lagi berulang-ulang. Tangan Jeany makin menekan kepalaku, saya makin menikmati permainan ini dan saya lihat kepala jeany menegadah menerangkan ia sangat menikmati jilatanku, hingga karenanya saya berbalik lagi menjilat kepingan lobang vaginanya yang masih berdenyut.

“Sayangghh terusinn saya hampir hingga lagi nihh,”gumamnya sambil menggerak-gerakan pantatnya.
Aku makin enjoy dengan rasa vaginanya yang menyerupai sayur lodeh.. Hehehehe. Aku hisap clitorisnya hingga karenanya ia mulai mengejang-ngejang..

“Oughh enakk sayangku..” Kuku jemarinya terasa perih di belakang leherku.
Jeany mencapai titik puncak untuk kedua kalinya, tanpa menunggu-nunggu lagi saya tancapkan saja batang penisku yang dari tadi sudah menunggu untuk bersarang, Ternyata tak semudah itu, lobang vaginanya memang cukup sempit pertama kali hanya kepala penisku aja yang sanggup masuk, kemudian setelah saya keluarkan dan saya masukkan lagi beberapa kali akhirnya. BLESS..
“Eghh.. Enak banget Wan,” gumamnya Jeany langsung menciumi bibirku dengan penuh nafsu.
Aku mulai memompa vaginanya secara beraturan sambil menjilati puting susunya yang merah dan menegang, yummy benar vagina Jeany, pikirku.

Selama 15 menit saya memompa, perlahan tapi pasti vagina Jeany makin terasa makin menyempit, saya makin merasa enak.

“Ahh.. Ahh oughh” mendesah sambil tangannya mencengkeram pinggiran sofa.
Tiba-tiba cengkeramannya pindah ke punggungku sambil setengah berteriak Jeany mencapai titik puncak yang ketiga kalinya,
“Aghh ahh I LOVE THE WAY YOU fish ME!!” Aku makin mempercepat gerakanku..
Jeany makin menggila.

“fish.. fish.. fish ME.. Oughh ahh ahh,” Jeany benar meracau tak karuan, untung jarak kamar tidur dengan ruang tengah cukup jauh sehingga teriakannya tidak mengganggu tidur kedua anaknya.
Setalah Jeany menikmati sisa-sisa klimaksnya saya ciumin bibrnyai ia dan ia tersenyum,
“Thank’s ya, hutangmu lunas, tapi kau belum keluar sayangku,” ia berkata sambil membalikkan badannya dan kedua tangannya memegang sandaran sofa.

“fish me from behind,” ia mengarahkan penisku yang masih menegang ke arah lobang vaginanya yang sudah lembap kuyup.
Langsung aja saya pompa vaginanya alasannya saya sudah tak tahan ingin cepat-cepat keluar, gres sepuluh kali keluar masuk, Jeany mendesah berat dan vaginanya berdenyut menerangkan ia mencapai klimaksanya, badannya menyerupai kehilangan tenaga, saya tahan pantatnya sambil terus saya pompa vaginanya.

Denyutan vaginanya membuat saya merasa makin nikmat. Dengan mata sayu Jeany berkata,
“Keluarin di mulutku sayangku, saya haus spermamu”.
Aku tidak memperdulikan saya tetap focus mengejar kenikmatanku sendiri hingga karenanya saya akan mencapai puncak kenikmatan saya cabut penisku, dengan sigapnya jeany meraih batang penisku dan mengocok-ngocok di dalam mulutnya.
“Oughh.. Isepin penisku sayanghh ahh..” Crott!! Crott.. Crott..
Cairan spermaku meleleh di dalam mulutnya hingga keluar dari tepi bibir Jeany.

Tiba-tiba ada suara lenguhan yang cukup mengagetkanku
“ahh ahh ahh oughh..,” kami berdua terkaget-kaget dikala saya lihat pembantu Jeany yang berjulukan Dini sudah telentang sambil mengejang di lantai, jemarinya terlihat berada di dalam vaginanya, sementara bajunya sudah tidak karuan. Aku gres sadar jikalau permainan kami diperhatikan oleh pembantu yang kira-kira masih berumur 15 tahun. Namun badannya lumayan bongsor dan mulus, buah dadanya terlihat membusung indah sekali. Namanya Dini.

Ternyata Dini sudah memperhatikan permainan kita sejak tadi. Tanpa malu-malu lagi Jeany memanggilnya,
“Sini kamu!” sambil mukanya memerah Dini berjalan mendekat.
“Kamu ngapain?” tanya Jeany.

“Ya lihat Ibu sama Mas Iwan begituan,” jawabnya dengan lugu sambil melirik ke arah penisku yang masih tegak.
Jeany berbisik,
“Aku sudah cape nih, saya rela kok kau main sama Dini, tuh penis kau masih tegak,” sambil menciumku Jeany membisikkan hal yang benar-benar saya inginkan dan cukup mengejutkan bagiku.

Sambil menunjuk ke arah VCD bokep yang sedang beradegan anal, Jeany berkata kepada Dini,
“Kamu mau ngent*t menyerupai di TV itu ya Dini”
Dengan muka makin memerah Dini menjawab dengan perlahan dan gemetaran,

“Eng.. Engga bu, ma’afkan Dini”.
Dengan nada sedikit membentak Jeany memerintah,
“Pokoknya kau harus layani Mas Iwan hingga ia puas!! Siapa suruh ngelihat kita ngent*t sambil mainan vagina pula, isepin tuh penis Mas Iwan!”.

Sambil perlahan-lahan mendekat, tangan Dini yang masih terlihat lembap alasannya cairan vaginanya, meraih batang penisku, perlahan Dini mulai mengocok-ngocok sambil mengulum penisku.. Hmm yummy sekali bibr mungil Dini. Aku elus pipinya ia memandang ke arahku, saya tanya si Dini,
“Kamu sudah pernah ngent*t ya?”

Dengan senyum malu-malu Dini menjawab,
“Sudah Mas, dulu waktu Dini masih di kampung sama teman-teman”
“Hahh ama teman-teman?, rame-rame Donk?” saya bertanya kembali.
Dini hanya mengangguk kemudian melanjutkan kulumannya.

Aku lihat Jeany sudah terlelap kecapean. Tanpa sadar saya meremas-remas payudara Dini sambil memelintir putingnya. Dini mendesah menikmati sambil terus berusaha mengulum penisku. Dengan lugu Dini berkata,
“Mass ahh tolong donk dimulai, masukin Mass”.
Aku langsung mengangangkan kedua paha Dini dan Bless ternyata memang benar ia sudah tidak perawan lagi. Dini mendesah perlahan..
“Ouhh penis Mas besar sekali, gres kali ini saya ngent*t sama orang dewasa.”

Dini terus menggoyang-goyangkan pantatnya sambil meremas payudaranya sendiri. Wah..cukup pengalaman juga nih anak pikirku. Matanya terpejam sambil bibirnya mendesis menyerupai orang kebanyakan cabe..
“Ssshh ahh enakk Mass eghh.”

Tiba-tiba ia berusaha bangkit sambil mendorong badanku,
“Aku mau diatas mass ahh saya mau keluar”
Aku oke-in aja deh saya telentang, Dini berjongkok sambil menggoyangkan pantatnya, ia menciumi leherku saya remas remas kedua payudaranya yang ranum denga puting kecoklatan. Genjotannya semakin keras saya mengimbangi goyangan pantatnya, saya naik turunkan pinggulku juga. Dini mendesah tak karuan sambil rebah di dadaku.

“Ahh mass ahh ahh oughh saya keluar Mass ahh saya mau lagi Mass.. Ahh..,” bibirnya melumat bibirku penuh nafsu, ia bangkit dan menghadap tembok.

“Ayo Mass, kita main lagi, saya ingin dient*t sambil berdiri,” dengan sedikit mengangkat pantatnya saya lesakkan batang penisku ke dalam vaginanya.

Dini menoleh ke arahku dan ia cuman tersenyum sambil berkata,
“Boleh nggak yang menyerupai di TV Mas?”
Wah.. binal juga nih anak pikirku, dalam hati saya juga ingin ngent*t pantat nih, kebetulan.

Pantat Dini memang bagus banget kenyal dan bulat, saya makin nafsu melihatnya. Dini membimbing penisku masik ke lobang anusnya, oughh sempit banget rasanya tapi enak. Langsung aja saya dorong penisku keras keras,
“Arrghh oughh Mass enakk teruss mass”
Dini benar-benar sexy, bacin badannya yang wangi rada asem dikit membuatku semakin terangsang, saya jilatin punggung dan leher kepingan belakangnya sambil meremas payudaranya dari belakang. Gerakan bokongnya benar-benar menyerupai Inul penyanyi dangdut.. Hehehe. Sambil terus mendesah, Dini meraih tanganku dan dibimbingnye masuk ke lubang vaginanya yang banjir sejak tadi.

“Kocokin jarimu Mass di dalam vaginaku.. Ahh ahh oughh enakk!!”
Tiba-tiba pantatnya mengejang dan berdenyut (baru kali ini saya tahu kalau pantat dient*t juga sanggup klimaks)
“Ahh Mass keluarin di pantatku, Mass aoughh saya keluar Mass.. Oughh ahh ahh” Dini meremas-remas payudaranya sendiri.

Aku pompa pantatnya kencang-kencang alasannya denyutan anusnya saya nggak tahan sementara tanganku terus bergerak keluar masuk vaginanya. Dini menengadah ke atas sambil terus meremas-remas payudaranya dan..
“Ahh mass saya keluar lagi.. Ahh ahh..”

Mendengar desahannya saya makin bergairah dan kepala penisku semakin membesar mau bongkar muatan,
“Oughh Dini pantatmu enakk banget.. Ahh” Semprotan spermaku membasahi kepingan dalam anus Dini yang masih berdenyut.

Lutut Dini bergetar dan ia terkulai lemas di lantai, penisku juga mulai melemas, kami berpelukan kecapean. Benar-benar malam yang liar malam ini, waktu sudah memperlihatkan pukul 04.00 pagi.. Wah tidak terasa sudah hampir 5 jam saya bermain sex dengan dua wanita liar ini. Selama saya tinggal di rumah Jeany, tiap malam saya ngent*t dengannya dan paginya Dini selalu menyediakanku sarapan pagi dan ia tidak pernah memakai celana dalam, saya sarapan sambil ngent*t sama Dini. Hehehehe. Enakk tenan.

3

Para Bidadari Dari Surga Part 2


Sambungan dari  Para Bidadari Dari Surga Part 1

Empat

Inayah Sipta Renata

“Kita mau kemana Mas?” Tanyaku, ketika Mas Anton membelokan mobilnya kekanan, bukan kekiri kearah rumahku.

“Kita makan bentar ya! Sekalian ada yang ingin Mas omongin sama kamu.”

“Penting ya Mas?”

Dia menoleh kearahku. “Bangeet!” Jawabnya tersenyum.

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah rumah makan terapung. Mas Anton segera memakirkan mobilnya, kemudian ia mengajakku nemilih daerah yang agak mojok, menghadap langsung kedanau.

Tak lama pelayan menghampiri kami, Mas Anton segera memesan bebek bakar beserta dua jus mangga.

“Emang Mas mau ngomong apa si?” Tanyaku bingung.

“Mas resah mau mulai dari mana.”

“Tumben, Mas grogi ya?” Godaku, ia tertawa renyah kemudian menggenggam erat tanganku.

“Gimana gak gerogi kalu di erat Mas ada bidadari secantik kamu.” Uh… ia lagi-lagi ngegombalin aku, tapi saya menyukainya.

“Berani?” Kuremas jemarinya dengan kuat. “Aku aduhin sama Mas Hasan loh!” Ancamku, tentu saja saya bercanda, saya tidak akan mengadukan perbuatannya, mau senakal apapun dirinya.

“Emang kau tega?” Balasnya.

Aku tersenyum, kemudian ketika saya hendak kembali menawarkan argumenku, pelayan tiba mengantarkan pesanan kami berdua.

Alhasil kami menghentikan obrolan kami, dan segera melahap habis kuliner yang ada di hadapan kami, sesekali saya mencuri pandang kearah Mas Anton, ia sangat berbeda dengan Suamiku yang lebih pendiam dan sangat baik. Kalau Mas itu Anton ini tipe cowok yang suka ngenggombal dan sangat nakal.

Kurang lebih setanga jam kemudian kami telah menyelsaikan makan malam kami, tapi kami tak langsung beranjak pergi.

Kami menghabiskan malam dengan mengobrol ringan, sesekali saya tertawa dan meringis ketika ia mulai kumat dan suka menggombaliku mirip biasanya. Tapi, ya… mirip yang kukatakan sebelumnya saya suka ketika ia menggombaliku, rasanya gimana gitu…

“Eh tadi katanya mau ngomong, emang kau mau ngomong apa?” Tanyaku teringat dengan perkatannya sebelumnya.

“Aku resah mau mulai dsri mana.”

“Udah santai aja, emang kau mau ngomongin soal apaan ni?”

“Kitakan udah lama kenal, dan lagi kita juga sudah punya pasangan masing-masing….” Dia diam sejenak, sambil menatap mataku.

Entah kenapa perasaanku jadi tak tenang. “Terus…!” Kataku tak sabar.

“Menurut kau salah gak, kalau saya jatuh cinta sama kamu. Ya… saya tau ini gila, tapi saya serius.” Dia semakin erat menggenggam tanganku.

“Maaf Mas, saya gak ngerti.” Kataku getir.

“Maafin Mas, kalau ucapan Mas ini membuat kau merasa tidak nyaman, Mas hanya ingin jujur dengan perasaan Mas ketika ini, semoga kau mau mengerti dan tidak membenci Mas.”

“Aku resah harus jawab apa Mas, kurasa Mas juga tau saya sudah bersuami, dan Mas juga sudah punya Istri, rasanya kita tidak mungkin bersatu.”

“Mas tidak meminta kau untuk menceraikan Suami kau Ina. Mas hanya ingin kau tau, kalau Mas sangat menyayangimu, dan berharap Mas bisa menjadi kekasihmu, walaupun itu hanya sebatas sebagai kekasih gelapmu. Mas tidak memita lebih.”

“Aku belum bisa jawab Mas.”

“Mas mengerti.” Ujarnya tersenyum. “Oh iya, Mas kemarin jalan-jalan gak sengaja melihat sesuatu yang menarik, Mas pikir kau pasti menyukainya, jadi Mas belikan ini untukmu.” Sambungnya, kemudian ia mengambil sesuatu di dalam sakunya.

Dia berjalan di belakangku, kemudian kulihat ia melingkarkan sesuatu di leherku.

Ini… kalung berlian, saya tau ini harganya pasti sangat mahal sekali. Oh… Mas Anton, kau begitu mengerti apa yang kuinginkan, berbeda dengan Suamiku, jangankan membelikanku perhiasan, menafkahiku saja ia sudah tidak mampu.

“Bagus banget Mas!”

“Kamu suka?” Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Sangat suka Mas!”

“Itu untukmu… Orang yang sangat Mas sayangi!” Katanya, kemudian ia mengecup pipiku.

###

Emi Sulia Salvina

Sekitar jam 12 malam, saya terbangun alasannya adalah ingin buang air kecil. Kulihat putra semata wayangku Toni masih terlelap, tampaknya ia sedang bermimpi indah.

Sebenarnya Toni anak yang baik, jangankan menyakiti manusia, menyakiti binatangpun ia tak mampu, tapi entah kenapa tadi pagi ia sangat emosional terhadap sepupunya Irwan. Bahkan ia sempat menuduh Kakaknya sendiri yang memukulinya.

Eehhmm… Aku pasti akan mencari tau penyebabnya kenapa ia bisa mirip ini.

Oh… iya namaku Emi Sulia Salvina usiaku ketika ini 35 tahun, sementara Suamiku Andre bekerja di Jakarta, biasanya ia pulang satu bulan sekali, bahkan tak jarang lebih lama dari itu.

Karena saya tipe wanita penakut, sehingga saya selalu meminta putraku untuk menemaniku tidur berdua di dalam kamarku, ketika Suamiku sedang tidak berada di rumah. Walaupun saya tau ketika ini Toni sedang beranjak remaja, tapi saya merasa lebih aman tidur bersamanya.

Aku turun dari daerah tidurku, kemudian mengambil kerudung rumahan berbahan kaos.

Perlahan saya melangkah keluar kamar semoga tidak membangunkan putraku. Selesai buang air kecil, kulihat tv di ruang keluarga masih menyala, terakhir yang menonton adalah putraku, kupikir ia pasti lupa mematikan tvnya. Tapi ketika langkah kakiku memasuki ruang keluarga, saya mlihat ada seseorang yang sedang menonton tv.

“Irwan… kau belum tidur?” Aku menghampiri Irwan yang sedang tiduran di sofa.

Melihat kedatanganku, Irwan buru-buru bangun. “Belum ngantuk Bunda.” Jawab Irwan, sembari menggeser posisi duduknya ketika saya hendak duduk.

Aku mendesah pelan. “Ini sudah jam dua malam, nanti besok kau bisa kesiangan!” Kataku mengingatkan dirinya. Jujur saja saya masih merasa bersalah terhadapnya atas sikap anakku tadi pagi, saya takut ia masih tersinggung dengan perkataan anakku.

“Sebenarnya saya berencana mau pulang Bun, mau bantu Ibu Bapak di kampung?”

“Loh… kok pulang, kau mau pindah sekolah?”

“Gak kok Bund, saya mau bantu Bapak aja di sawah, mereka mana ada uang Bun! Lagian sekolah di kampung jaraknya agak jauh Bunda.” Tuturnya, membuat hatiku miris mendengarnya.

“Kamu uda bosan sekolah?”

Dia tersenyum getir. “Iya gaklah Bunda, sekolah itu penting buat masa depan!” Jelasnya.

“Kenapa kau mau berhenti? Kamu masih murka sama anak Bunda?” Tanyaku, ia hanya diam berarti dugaanku benar. “Bunda juga tidak mengerti kenapa Toni bisa menuduh kau mirip itu, tapi yang pasti Bunda percaya sama kamu.” Jelasku, bagaimanapun caranya saya harus bisa membujuknya untuk tetap tinggal.

Dia menggeleng pelan. “Aku tidak murka sama Toni Bunda, saya mengerti kenapa Toni mirip itu, kalaupun saya berada di posisi yang sama mirip Toni, akupun juga pasti melaksanakan hal yang sama.” Jelasnya.

“Maksud kamu?”

“Toni cemburu sama Irwan.” Katanya, kemudian ia merebahkan kepalanya di pangkuanku, tapi saya hanya diam membiarkannya tiduran di pangkuanku. “Selama ini Toni selalu di manja, selalu mendapatkan perhatian lebih dari Bunda, tapi tiba-tiba mendadak saya hadir di keluarga ini, membuat ia resah kalau nanti saya mengambil Bunda darinya.” Aku mengangguk paham maksud perkatannya.

Wajar saja kalau ada kekhawatiran yang dirasakan anakku, alasannya adalah selama ini ia tidak punya saingan untuk mendapatkan perhatian dariku, tapi tiba-tiba Irwan hadir, dan sedikit banyak mungkin anakku mulai merasa terancam dengan kehadiran Irwan, tapi yang kusesalkan adalah caranya. Dia tidak perlu menuduh Irwan semoga di usir dari rumah ini, ia hanya bersikap sedikit lebi baik.

“Maafkan Toni ya Wan!”

“Toni sudah kuanggap mirip adikku sendiri.” Jawab Irwan, sembari tersenyum kepadaku.

“Berarti sudah tidak ada duduk kasus lagikan? Kamu bisa melanjutlan sekolah di sini, Bunda pasti merasa kesepian kalau kau pulang.” Kubelai rambutnya dengan perlahan, menerangkan kalau saya sangat menyayanginya.

“Maafkan Irwan Bunda, tapi…. Irwan juga kangen Ibu.”

“Kan ada Bunda di sini, walaupun Bunda bukan Ibu kandung kamu, tapi Bunda juga sangat menyayangi kamu, sama mirip Ibumu” Jelasku, kemudian kukecup lembut keningnya.

“Aku tau Bunda, selama ini rasa kangenku terobati setiap berada di erat Bunda, tapi ada satu kebiasan Irwan lakukan sama Ibu, dan itu tidak mungkin bisa saya dapatkan dari Bunda.” Aku merenyitkan dahiku.

“Apa itu sayang?”

“Irwan malu Bunda.”

“Kok malu, Bunda akan melaksanakan apapun asal kau mau tetap tinggal di rumah ini.” Kataku sembari tersenyum kepadanya.

“Janji Bunda tidak akan marah?”

“Janji!” Jawabku cepat.

“Jujur Bunda, walaupun saya sudah besar, tapi Ibu selalu memanjakanku, bahkan tak jarang memperlakukanku mirip balita, misalkan…” Dia menggantung ucapannya. “Setiap kali saya mau tidur, saya punya kebiasaan nenen sama Ibu!” Dia mengakhirnya dengan memalingkan wajahnya kekanan.

Astaga….! Anak sebesar ini masi suka nenen?

Entah kenapa saya jadi teringat dongeng sahabatku, kalau putra bungsungnya masi suka menciumi tekiaknya atau mengendus-endus tubuhnya, kalau ia melarang putranya melaksanakan itu, anaknya pasti ngambek gak mau makan dan sekolah.

Tapi usia anaknya ketika ini masih 9 tahun dan bisa maklumi, tapi Marwan?

“Jangan dongeng kesiapa-siapa ya Tan? Marwan malu kalau sampe ada orang lain yang tau, ini semoga menjadi rahasia kita berdua.” Aku mengangguk.

Entah kenapa ada perasaan kasihan melihat Irwan yang tampak menderita, di sisi lain saya bisa mengerti dan memaklumi kebiasaannya tersebut, tapi di sisi lain diriku menolak untuk mengganti posisi Ibu kandungnya yang terbiasa membiarkan Irwan menghisap payudarahnya walaupun anak ini sudah remaja.

Tapi Irwan sudah kuanggap mirip anak kandungku sendiri, apa salahnya kalau saya melaksanakan apa yang biasa di lakukan Ibunya, toh Irwan bukan anak yang nakal.

Tapi… tapi… Aaarrr… sial kenapa saya jadi deg-degkan mirip ini, ayo Emi cepat ambil keputusan, kau ingin Irwan pulang kekampung halamannya atau kau menginginkan Irwan tetap tinggal dirumahmu?.

Bagaimanapun juga ia bukan anak kandungku, dan bisa saja nanti ia terangsang? Aah… tidak mungkin, Irwan terlalu polos untuk terangsang, lagi pula kalau Irwan hingga pulang kekampung halamannya, apa yang harus kukatakan kepada Suamiku, bisa-bisa ia murka alasannya adalah saya di anggap tidak becus mengurus Irwan.

“Irwan!” Panggilku lirih.

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja saya membuka kancing gaun tidurku, kemudian dengan perlahan kuselampirkan serpihan atas gaunku kesamping pundakku sehingga saya yang tidak mengenakan bra ketika tidur mempertontonlan payudarahku di hadapannya.

Oh Tuhan… ini untuk kali pertama saya mempertontonkan payudarahku di hadapan anak laki-laki.

“Tante serius?”

“Iya Irwan, Tante serius kok…” Jawabku sembari tersenyum membelai rambutnya.

“Irwan boleh?” Dia menggantung kalimatnya.

Aku mengangguk, kemudian Irwan beranjak bangun duduk di sampingku. Dia menatapku tajam seakan tidak percaya dengan apa yang kulakukan.

Karena melihat Irwan bengong, saya jadi kesal sendiri. “Mau di lihat hingga kapan Wan?” Tanyaku sedikit menegurnya yang dari tadi menatap payudarahku dengan tatapan nanar.

“Ma… maaf Bunda!” Jawabnya.

Lalu ia mendekatkan wajahnya, dan sedikit kemudian payidarah ranumku berada di dalam mulutnya. Ooo… Tuhan! Rasanya sangat nikmat sekali ketika payudarahku berada di dalam mulutnya.

###

Inayah Sipta Renata

Perlahan kendaraan beroda empat yang di kendarai Mas Anton berhenti tepat di depan rumahku, kulihat di luar sana Suamiku sudah menungguku. Saat melihat kedatangan kendaraan beroda empat kami, Suamiku langsung berdiri tapi ia tidak menghampiriku, kulihat mimik wajahnya tampak sumringah ketika melihat kepulanganku bersama Mas Anton.

Entah kenapa, saya menjadi merasa bersalah tehadap Suamiku alasannya telah membuatnya khawatir.

Saat saya ingin keluar mobil, tiba-tiba mirip ada sesuatu yang menghentikanku, seolah melarangku untuk segera keluar dari mobil. Aku mendesah pelan, kemudian kuputar tubuhku menghadap Mas Anton.

Maafkan saya Suamiku, tapi saya harus menjawab pernyataan cinta Mas Anton kini juga, di sini, di hadapanmu walaupun kau tidak akan melihat ataupun mendengar suaraku, tapi saya ingin kau tau kalau Istrimu kini bukan hanya milikmu seorang.

Segera saya memeluk Mas Anton kemudian mencium bibir Mas Anton.

Gila kau Ina…

Aku memanggut bibir Mas Anton sebentar kemudian saya kembali bersandar di jok mobilnya, seraya tersenyum malu-malu di samping Mas Anton.

Mas yang mengerti keadaanku sekarang, berani merangkulku, memandangi wajahku dengan jarak yang sangat dekat. “Jadi jawabannya?” Tanya Mas Anton sambil membuka satu persatu kancing pakaian dinasku hingga terlihat payudarahku yang tertutup bra.

Aku tak langsung menjawab, melainkan membuang muka kearah Suamiku yang di ikuti Mas Anton, selama beberapa detik kami menghadap kearah Suamiku. Lalu kami kembali berpandangan.

“Aku mau Mas!” Bisikku lirih.

Kemudian ia memanggut bibirku dan saya membalas pagutannya, sementara telapak tangannya menyelusup masuk kedalam behaku, meremas payudaraku secara langsung, membuatku merintih nikmat merasakan remasannya di payudarahku.

Aku semakin ganas membalas kumatannya, pengecap kami saling membelit nikmat, sementara tangannya semakin bergairah meremas payudarahku.

Rem?asannya terasa begitu nikmar, apa lagi ketika kulitnya yang bergairah menyentuh puttingku.

Maafkan saya Mas… Maafkan saya Suamiku, tapi caranya, perlakuannya membuatku merasa menjadi wanita yang sesungguhnya, bukan wanita baik-baik yang patuh terhadap Suaminya, maafkan Istrimu ini Mas.

Kami berciuman cukup lama hingga alhasil Mas Anton melepas pagutan kami ketika Suamiku mendekat.

Buru-buru saya membenarkan kancing seragam dinasku sebelum Suamiku tiba di samping kendaraan beroda empat Mas Anton. Segera saya membuka pintu kendaraan beroda empat Anton yang di sambut tatapan curiga dari Suamiku.

“Mas… Mbak… saya pulang dulu ya!” Pekik Mas Anton.

Kemudian kendaraan beroda empat yang ia kendarai menghilang di balik kegelapan malam.

###

LIMA

Inayah Sipta Renata

Hanya dengan mengenakan handuk saya keluar dari dalam kamar mandi, kulihat Suamiku sedang duduk bersandar diatas daerah tidur kami sambil memainkan hp. Dia sempat melihat kearahku yang sedang berjalan menuju meja riasku.

Aku mematut diriku di depan cermin, memandangi tubuhku dari pantulan yang ada di cermin.

Wajar saja kalau Mas Anton jatuh hati kepadaku, saya memang sangat cantik, kulit putih bersih, payudarah besar membulat. Sungguh saya begitu beruntung memiliki tubuh yang sempurna.

Dari pantulan cermin saya juga sanggup melihat Suamiku yang sedang asyik memandangiku, tapi ada satu hal yang membuatku tersenyum geli, ketika saya melihat dirinya yang sedang meremas penisnya sendiri. Duh… kalau di ingat-ingat sudah satu bulan ini saya tidak memberinya jatah.

“Pengen ya Mas?” Godaku.

Dia tersenyum kecut. “Bolehkan sayang.” Mohonnya dengan tatapan memelas.

“Mas sudah lupa sama perjanjian kita?” Tanyaku, kemudian saya beranjak dari kursi dan berjalan mendekati dirinya yang tampak kecewa.

Aku naik keatas pembaringan, kutatap wajah Suamiku yang sedang di landa birahi. Jujur saja, satu bulan tidak berhubungan badan, membuatku turut menderita, tapi saya harus menghukumnya semoga ia lebih giat lagi mencari pekerjaan.

Perlahan jemari lembutku menyentuh wajahnya, dengan sedikit menunduk saya mengecup mesrah keningnya. Kasihan kau Mas….

“Sampai kapan?” Tanyanya frustasi.

Aku tertegun sejenak. “Sampai Mas sanggup pekerjaan yang layak.” Jawabku datar.

“Kamukan tau, saya sudah berusaha, tapi memang belum rejekinya. Masak kau tega ngeliat Mas mirip ini setiap malam, punya Istri tapi tidak bisa di sentuh.” Rengutnya, rasanya saya ingin tertawa melihat ekspresinya yang terkadang kekanak-kanakan kalau ia tidak mendapatkan apa yang ia mau.

Baca Juga - Kumpulan Cerita Sex Ngentot Dengan Mama Tiriku

“Mas cintakan sama aku?” Ia mengangguk. “Mas sayangkan sama aku?” Ia kembali menunduk yakin. “Aku juga sangat mencintaimu Mas.” Lanjutku, kembali mengecup kening.

“Kalau begitu, izinkan saya menyentuhmu malam ini saja sayang!” Lagi ia merengek kepadaku mirip balita yang menginginkan susu.

“Ini demi kebaikan Mas, anggap saja ini sebagai motivasi buat Mas semoga giat bekerja!”

“Kamu jahat sayang.” Rajuknya.

Seperti biasanya kalau ia lagi ngambek, Suamiku akan memiringkan tubuhnya membelakangiku, tapi itu hanya sesaat tapi besok pasti baik lagi.

-Mas Anton
Ping
Baru sebentar udah kangeen ni…

Ya Tuhaan, Mas Anton bbm saya dan ia bilang kangen kepadaku.

-Aku
Baru juga tadi ketemunya.

-Anton
Brrti km gak kangen ya?

-Aku
Kasi tau gak ya….

-Anton
Ooo… jadi gitu ya… nanti cantiknya hilang loh.

Aku terkekeh pelan ketika membaca bbm terakhir darinya. Ada-ada saja Mas Anton ini…

-Aku
Biarin… Mas juga ya rugi

-Anto
Hahahaha…
Jadi kau kangen gak?

-Aku
Jujur… gak sabar nunggu hari besok

-Anton

Sama… Adek lagi apa?

-Aku
Lagi duduk aja ni, Mas Hasan lagi ngambek

-Anton
Ngambek, Hahaha….
Emang ngambek kenapa?

-Aku
Besok aja saya ceritaan Mas
Mas Anton lagi apa?

-Anton
Lagi mikirin kau bidadari syurgaku.

-Aku
Gombaaaal…

-Anton
Hahaha….
Gombal Maskan cuman buat kamu
Malam ini kau lagi pake apa?

-Aku
Ihk… Mas mesum  (Duh semenjak kapan saya jadi manja mirip ini.

-Anton
Gak boleh ya, habis kau ngegemesin sayang.

-Aku
Boleh kok Mas, malahan saya suka Mas gombalin.
Coba tebak saya pake apa? Kalau sayang pasti tau dong apa yang saya pake sekarang.

-Anton
Apa ya…
Kayaknya kau masi handukkan de?

Jleeek… tebakannya sangat tepat sekali, membuatku semakin mengaguminya.

-Aku
Kok bisa tau Mas (Kagetku)

-Anton
Hahaha….
Namanya juga cinta sayang
Btw, fotoin dong…

Deg… Aku terdiam sejenak, jujur saya memang sering memperlihatkan serpihan dadaku kepadanya, tapi lebih dari itu belum perna.

-Anton
Sayang….

Kulihat Suamiku masih memunggungiku, dengan perlahan saya turun dari pembaringan, kemudian berdiri di depan kaca besar yang menyatu dengan lemari pakaianku. Ayo Ina, ini demi orang yang kau sayangi….

Kuarahkan kamera kekaca lemariku yang memantulku lekuk tubuhku, lalu… Cekleek…

Fuuh… Kulihat hasilnya lumayan bagus, manis sangat seksi.

-Anton
Kamu murka sayang, kalau begitu tidak perlu. (Aku bukan murka Mas, tapi saya malu…)

Inayah Sipta Renata

Segera kukirimkan foto nakalku kepada dirinya, dan mengharapkan respon yang manis darinya, sebuah pujian darinya yang selama ini selalu membuatku melayang kelangit ke tujuh.

-Aku
Bukan murka Mas, tapi malu…

-Anton
Kenapa malu, kau seksi bidadari syurgaku.

Aku tersenyum membaca, Mas Anton memang paling cerdik memuji diriku.

Aku hendak kembali mengetikan sesuatu tanggapan untuknya, tapi tiba-tiba Suamiku sudah berada di belakangku. Buru-buru saya menyembunyikan hpku kebelakang punggungku. Bisa gawat kalau Mas Hasan hingga tau.

“Kamu bbman sama siapa sayang?” Tanyanya curiga kepadaku.

“Bukan siapa-siapa Mas, kini Mas tidur ya, ini sudah malam Mas.” Ujarku memerintahnya untuk segera tidur semoga saya bisa bebas berbbman dengan kekasih gelapku.

-Anton
Ping… (terdengar bunyi dari hpku)

“Coba Mas lihat.”

Aku menggeleng tegas. “Ini rahasi Mas, ngertiin saya ya Mas.”

“Kenapa si kok saya gak boleh lihat, ada yang kau rahasiain dari saya ya?” Katanya mulai emosi, saya meletakan hpku diatas meja kecil yang ada di samping lemari, kemudian saya menarik tangan Suamiku, mengajaknya duduk diatas daerah tidur.

Dia melengoskan wajahku, saya tau ia ngambek… Dan sumpah demi apapun, saya suka setiap kali ia merajuk alasannya adalah tidak mendapatkan apa yang ia mau dariku.

“Aku mau melihatnya.”

“Mas lagi emosi, saya gak mau ngomong sama Mas dulu, kini Mas tidur ya…” Perintahku kepadanya, ia bersungut kesal.

Lalu tanpa memperdulikan dia, saya mengambil hpku, dan membawanya keluar bersamaku dari dalam kamarku.

###

Elvina

Aku gres saja selesai memasak, dan ketika ini saya sedang menata kuliner diatas meja. Setelah semuanya siap, saya segera beranjak menuju kamar Mertuaku, hendak mengajak Mertuaku makan malam bersama.

Aku melangkah gontai menuju kamar Mertuaku, sesampainya di depan kamar Mertuaku, tiba-tiba saya tidak sengaja melihat Mertuaku yang sedang tiduran dalam keadaan telanjang bulat.

“Astaga…”

Mataku terbelalak, dadaku bergemuruh melihat tangan Mertuaku yang sedang turun naik memainkan penisnya, dan yang membuatku lebih kaget lagi, dan nyaris membuatku jantungan, dia… Mertuaku sedang menggenggam seutas kain berbentuk huruf V yang ia dekatkan kehidungnya.

Ternyata dugaanku selama ini benar, ia yang suka mencuri celana dalamku.

Mas… Tolong aku, apa yang harus kulakukan sekarang? Melabraknya… tidak… tidak… saya tak akan melakukannya, mungkin saya harus menunggu Suamiku pulang terlebih dahulu. Dan membicarakan duduk kasus ini dengannya.

“Eehmmpp… aroma memekmu yummy banget nduk, Oooohk…” Aku sangat tertegun melihat dirinya yang sedang menikmati celana dalamku.

Sambil meracau tak jelas, kulihat tangannya mengocok penisnya. Aku tau ia pasti sedang membayangkan tubuhku, menggagahiku mirip ia meniduri banyak pelacur. Tapi… Ahkk… Kenapa dengan diriku.

Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku semoga tak mengeluarkan suara.

Jujur saja, ukuran penis Bapak sangat besar, panjang dan gemuk, berbeda dengan milik Suamiku yang ternyata sangat kecil kalau mau di bandingkan dengan miliknya.

Aku jadi teringat dongeng sahabatku Aurel, ia memberikan semakin besar penis pasangan kita, maka rasanya akan jauh lebih nikmat, dan kita bisa mendapatkan orgasme berkali-kali dalam satu malam, dan lagi penis ukuran besar lebih tahan lama ketimbang yang berukuran kecil.

Apakah itu benar? Jujur saja saya tidak tau bagaimana rasanya orgasme, alasannya adalah setauku ketika Suamiku menyetubuhiku rasanya hanya geli dan sedikit nikmat.

Tapi kalau sekiranya benda sebesar itu masuk kedalam diriku, apakah bisa muat? Oh Tuhan… Apa yang telah kupikirkan, ini salah saya tak boleh membandingkan ukuran penis Suamiku dengan milik orang lain, apa lagi ini milik Mertuaku sendiri.

Aahkk… Kapan kau pulang Mas, Adek sudah gak tahan kau tinggal terus.

Kemudian mataku memicing ketika melihat tubuh Mertuaku bergetar, kemudian sedetik kemudian. “Aaaaarrr….” Creeeetss… Creetss…

Dari ujung kepala jamurnya, saya melihat lendir kental mirip susu keluar cukup tinggi dan sangat banyak sekali. Seumur-umur selama saya menikah gres kali ini saya melihat penis menembakan sperma hingga keatas dan sebanyak itu.

Milik Suamiku hanya meleleh keluar dan tak sebanyak milik Bapaknya.

Kulihat Mertuaku membersihkan spermanya dengan celana dalamku. Ooo… Tuhan, apakah diriku sebegitu cantiknya sehingga Bapak Mertuaku bisa menjadikanku sebagai objek onaninya.

Deg… Aku gres menyadari kesalahanku, ketika melihat Bapak Mertuaku berbalik dan mendapatkanku yang sedang mengentipnya bermasturbasi. Aku ingin lari tapi sudah terlambat, alasannya adalah Mertuaku sedang berjalan menghampiriku.

“Sudah lama nduk?” Tanyanya.

Aku mengangguk lemah. “Ma… Ma… Maaf… Eehmm… Anu…. itu… sudaah… sudah… siap!” Kataku gugup, sungguh saya tidak bisa mengendalikan diriku ketika ini.

Dia tersenyum hangat kepadaku. “Tidak perlu gugup mirip itu, tarik nafas, kemudian hembuskan.”

Aku diam sejenak kemudian menuruti perintahnya, tapi mataku tak bisa lipas memandangi benda besar yang ada di selangkangan. Sungguh luar biasa Bapak Mertuaku ini, padahal ia gres saja ejakulasi tapi penisnya tetap berdiri tegak.

“Makan malamnya sudah siap.” Kataku dengan satu tarikan nafas.

“Kebetulan Bapak sudah sangat lapar, oh iya… ini tolong kau letakan di keranjang kotor.” Deg… Nafasku tercekak ketika mendapatkan celana dalamku yang sudah ia nodai dengan spermanya.

Tanpa banyak bicara, saya segera pergi meninggalkan Mertuaku, sembari menahan malu dan sesak di dadaku.

####

Emi Sulia Salvina

“Ouughkk…”

Kepalaku mendongak keatas, ketika pengecap Irwan menari-nari di sekitar aurolaku. Sungguh sentuhan yang membuat seluruh sayrafku merespon, menghantarkan rasa nikmat di sekujur tubuhku, bahkan sedikit demi sedikit cairan cintaku meleleh membasahi celana dalamku.

Dengan lembut ia membuka mulutnya, memasukan payudarahku kedalam mulutnya sembari menatap mataku yang sayu.

Sulia Salvina

Tidaaaak… Aahkkk… ini namanya bukan nenen tapi ia mengulum dan menjilati payudarahku. Sial… Aku tidak tahan lagi, dia… Aahkk… puttingku di gigit kecil olehnya.

“Eehhmm… Wan! Eehkk….”

Aku mendesah lirih ketika ia menghisap puttingku dengan dangat kuat.

Tangan kananku melingkar di serpihan belakang kepalanya, sembari menjambak lembut kepalanya dan menekan wajahnya semoga mengulum payudarahku. Membuatku kini di landa berahi, apa lagi saya sudah lama di tinggal Suami.

“Waaa… Eehnmpp….”

Sluuupss…. Sluuppss…. Slupppss….

Dia menghisap puttingku, memainkan ujung lidahnya menyentil puttingku yang sentif, membuat puttingku mengeras nikmat.

Tubuhku melinting, cairan cintaku membanjir semakin banyak. Sungguh saya tidak menyangkah kuluman Irwan bisa membangkitkan birahiku, padahal ia masih remaja. Apa lagi ia berasal dari kampung terpencil, rasanya tidak mungkin kalau ia melakukannya dengan sengaja.

“Kenapa Bunda? sakit puttingnya saya hisap”

“Eh… gak apa-apa kok Wan cuman rasanya geli banget, Bunda gak tahan.

“Oooo,…”

“Tahan ya Bun!” Ujarnya, kemudian ia kembali mengulum puttingku. “Nenen Bunda enak, Irwan gak akan bosan kalau begini.” Celotehnya santai gak tau saya di sini sangat menderita.

Dekapan tanganku dikepalanya semakin kuat, membuat kulumannya terasa semakin nyata. Sementara tangan kanannya tanpa kusadari sudah berada diatas pahaku.

Dia menghisap putting payudarahku sembari memijit pahaku.

Lima menit kemudian Irwan berhenti mengulum payudarahku. Dia mengangkat kepalanya hingga mata kami berdua.

“Sudah selesai Wan?” Entah kenapa saya merasa sangat kehilangan.

Irwan menggeleng. “Boleh yang satunya lagi Bun? Biar adil….” Katanya, sembari menyingkap pakaianku yang menyembunyikan salah satu aset berharga milikku.

Belum sempat saya memberi jawaban, ia berpindah kesamping kiriku. Kemudian ia melaksanakan hal yang sama, memanjakan payudara kiriku dengan hisapan dan sapuan lidahnya di aurola dan puttingku.

Tubuhku semakin tak terkontrol, bahkan saya mengerang lebih keras. “Oohk… Wan, Aahkk… Aahkk… udah belum Wan?” Tanyaku mulai panik, alasannya adalah nafsuku yang semakin tidak bisa kukontrol.

Seakan mengabaikan ucapanku, ia semakin intens menghisap payudarahku, sementara tangan kirinya kini dengan lancang meraih payudarahku.

Dia meremas susuku, di barengi dengan sesekali memilin puttingku.

Aku berusaha menghentikan pergelangan tangannya, alasannya adalah saya tau ini sudah menjerumus kepelecehan seksual. Tapi sayang, saya mirip tak memiliki kekuatan untuk menyingkirkan tangan setannya yang sedang memilin puttingku.

Kedua kakiku semakin tidak tenang, kadang mengangkang kadang sangat merepat. “Aahkk… Waaaannn…. Aaaaaa….” Aku mulai histeris, rasanya sedikit lagi saya orgasme.

Kurasakan cairan cintaku sudah semakin tak terbentung, dan ketika orgasme itu hampir saja mendatangiku tiba-tiba dengan polosnya, tanpa merasa berdosa ia menghentikan kuluman dan remasannya di payudarahku secara bersamaan.

“Uda dulu Bun, makasi ya Bun…” Aku mengangah, kemudian ia pergi begitu saja.

Oh… Tuhan…..

###

Ema Salima Salsabila

ENAM
Trauma? Mungkinkah? Sepertinya tidak… saya sama sekali tidak merasakan stress berat sesudah apa yang menimpah diriku tadi pagi, malahan rasa itu… Aahkk… Kenapa Tuhan memberiku ujian yang begitu sangat berat, bahkan diiriku sendiri tak bisa melewatinya.

Tidak, saya salah! Bukankah Tuhan tidak akan memperlihatkan ujian yang melewati batas kapasitas umatnya? Apakah itu artinya saya bisa melewati ini semua? Entahlah…. semoga waktu yang menjawabnya.

“Kamu kenapa sayang?”

Aku menoleh kearah Suamiku. “Eh…” Hanya itu yang keluar dari bibir merahku.

Aku gres tersadar dari lamunanku sesudah orang yang paling kucintai di dunia ini menyentuh jemariku dengan tulus.

Aku harus besar lengan berkuasa menghadapi semua ini, bukan untuk diriku, melainkan untuk mereka yang saya cintai, Suamiku dan anak semata wayangku. Aku harus bisa tetap tersenyum bahagia di hadapan mereka seakan semuanya baik-baik saja.

“Umi lagi ngelamunin apa?” Tanya Putriku Asyifa.

Aku menggeleng pelan. “Gak ada sayang, kok makannya gak di habisin? Masakan Umi malam ini gak yummy ya?” Tanyaku sembari merenyitkan dahiku kepada mereka.

“Yang ada tu Umi, kenapa makannannya dari tadi cuman di sentuh doang tapi gak di makan?” Tembak Suamiku.

Kulihat isi di dalam piringku tak berkurang sedikitpun.

“Paling Umi kepikiran uang bulanan Bi?” Celetuk Putriku, nyaris membuatku tertawa. Bagaimana mungkin anak seusia dirinya mengerti uang bulanan. Sepertinya memang benar apa kata orang tempo dulu, anak zaman kini cepat gede.

“Hust… tau apa kau soal uang bulanan?” Sergah Suamiku, membuat Putriku tersenyum kecut.

“Udah ah… lanjut makan yuk.” Leraiku.

Tak terasa makan malam ini alhasil bisa kulalui mirip biasanya, walaupun jauh di lubuk hatiku ada sesuatu yang mengganjal perasaanku. Kejadian tadi pagi benar-benar banyak menyita pikiranku. Aku tidak menyangkah bisa mengalami hal mirip ini, di balik kesempurnaan yang kumiliki bersama keluarga kecilku.

Selesai makan, saya kembali kedapur sambil membawa piring kotor untuk di cuci.

Walaupun di rumah ini kami memiliki seorang pembantu rumah tangga, tapi untuk melayani keluargaku, saya jauh lebih suka melakukannya sendiri ketimbang meminta pinjaman Inem.

Dari wastafel tempatku mencuci ketika ini saya sanggup melihat Suami dan anakku yang sedang berebut menonton tv. Suamiku lebih suka menonton aktivitas informasi ketimbang sinetron, sementara anakku sebaliknya, ia menyui sinetron.

“Sibuk ya Bu?” Deg… “Jangan gugup, bersikaplah mirip biasanya semoga mereka tidak curiga.” Oh Tuhan, jangan lagi saya mohon.

Kurasakan sentuhan di pantatku dengan perlahan, jemari itu dengan nakalnya membelai pantatku, kemudian mencubit kecil pantatku, membuat panpatku bergetar nikmat. Kugigit bibirku menahan birahi yang tiba-tiba melanda diriku.

Stopp… Please… Don’t tuch Me… Aahkk… please, help me…

Kurasakan jemari tengahnya menekan selangkanganku, membuatku terpaksa menutup mulutku semoga tidak mengeluarkan bunyi erangan yang bisa di dengar mereka.

Baca Juga - Kumpulan Cerita Sex Nikmat Nya Ngentot Dengan Gadis Chinese

“Cukup, saya mohon!” Aku menoleh kebelakang kearah Ujang yang sedang menyeringai mesum kepadaku. Aahk… ia keterlaluan.

Tangan kirinya menyusup kepinggangku sementara tangan kanannya meremas pantat bulatku yang menggoda. “Sstt… di nikmatin aja ya Bu, jangan di lawan.” Gila… ia menyuruhku menikmati pelecehan ini.

“Jangan gila, di sini ada anak dan Suamiku.” Aku mendelik kesal.

Dia terkekeh mentertawakanku. “Lebih gila, lebih nikmat Bu.” Komentarnya enteng kepadaku. Apa ia menganggap saya sedang bercanda? Apa ia tidak mengerti kalau ketika ini saya sungguh sangat ketakutan.

Kurasakan perlahan gaun tidurku diangkat keatas, di sangkutkan di pinggangku.

“Ternyata Umi Ema cuman di luarnya saja alim, dan di dalamnya sungguh sangat nakal!” Komentarnya membuatku tersinggung.

Oh Tuhan, saya gres sadar kalau malam ini saya sengaja mengenakan g-string yang gres saja kubeli beberapa hari yang kemudian untuk menarik hati Suamiku malam ini. Bukannya sebaik-baik wanita adalah seorang wanita yang mau tampil seksi di hadapan Suaminya. Karena itulah alasannya malam ini saya berpenampilan sedikit nakal.

Tapi siapa yang menyangkah, tampilan nakalku malah kupersembahkan untuk laki-laki lain. Ohk… Maafkan saya Mas.

Aku tertunduk malu, tatkalah pembantuku dengan sengaja menarik g-striku keatas hingga talinya tenggelam diantara lipatan bibir vaginaku dan anusku. Parahnya lagi ia menggesek-gesekkan g-stringku, membuatku benar-benar tidak tahan.

Apa lagi ketika tali g-string itu menggesek clitoriskua, Ahkk… rasanya saya ingin segera di setubuhi olehnya.

“Memek Ibu sangat basah, sudah gak tahan ya.” Ledekan itu sangat menggangguku.

“Jangan di lanjutkan!” Aku memohon.

“Yakin?” Tanyanya.

Aku terdiam, entah kenapa mulutku terasa keluh. Ayolah Ema… hanya satu kalimat yang terdiri dari lima huruf, apa itu begitu sulit bagimu?

Satuku kakiku mundur kebelakang, dan di ikuti oleh kakiku yang lain, hingga saya tampak sedang menungging memamerkan keindahan pantat dan vaginaku di hadapan pembantuku.

Kamu sudah gila Ema, benar-benar sangat tidak waras… Lihat Suami ada di depanmu ketika ini.

“Indah sekali Bu.” Dia memujiku sambil mencubit pantat montokku.

Perlahan kurasakan ia membuka lipatan pantatku, menyibak tali g-stringku kesamping, sehingga anus dan lobang vaginaku menjadi tontonan yang sangat menarik baginya.

“Oughjkk…” Aku mendesah lirih.

Kurasakan ujung lidahnya menyapu vaginaku, kemudian naik keanusku, dan dari anusku turun kembali menuju vaginaku. Di sana lidahnya menggelitik lobang vaginaku, menghisap clitorisku, membuat tubuhku menggelinjang nikmat.

Sluuppss… Sluuuppss… Sluuppp… Slupps…. Sluppss…. Sluuppss….

Lidahnya kembali naik menuju anus, menjilati anusku, diringi dengan tusukan lembut di anusku.

“Aaaahkk… Jangaaaan…!” Erangku.

Cengkramanku di wastafel semakin erat, tatkala kurasakan kedua jarinya menyelusup masuk kedalam rongga vaginaku. “Aaaayyy…” Aku memekik dalam diam.

Ploppss… Plooppsd… Sluppss… Sluppss… Plooppss… Sluupps…. Sluups….

Kocokan yang di kombinasikan dengan jilatan di anusku, mengantarkanku terbang semakin tinggi, saya sudah tidak sanggup lagi menahan shawat syetan yang bersemayam di diriku, yang sedari tadi terus menggodaku.

Hoosstt…. Hoossstt…. Hoosstt…
Nafasku mulai memburu, kurasakan nikmat di seluruh tubuhkum

Sedikit lagi… Ya… hanya butuh waktu sedikit lagi sebelum saya benar-benar meledak. Orgasme yang selalu kunantikan sebentar lagi akan kudapatkan. “Aahkk….” Aku mengangkat wajahku.

Dan di ketika bersamaan, kulihat Suamiku beranjak dari sofa dan ia berjalan kearahku.

Kearahku? Oh tidak…

Please… jangan kesini Mas saya mohon, Aahkk… Aahkk… Jangaaaan Mas… kembalilah, Oohkk… Aku mohooon….

Dan ia semakin mendekatiku, semakin erat dan terus semakin dekat, hanya tinggal beberapa langkah lagi ia tiba di hadapanku, melihatku, Istrinya di cumbu oleh pembantunya… Aahkk…. Aku keluaaaar….

Crrrreerrss…. Creeeettss…. Crreettss… Crreeettss… Seeeeeeerrrrrr…. Seeeeeeeerrrrrr…..

###

Elvina

Aku berlari kecil menuju kamarku, kemudian kuhempaskan tubuhku diatas daerah tidurku.

“Mas kapan kau pulang? Adek udah gak tahan lagi Mas….!” Bisikku lirih, menatap kosong langit-langit kamarku.

Terlintas kembali bayangan Mertuaku yang sedang onani dengan celana dalamku. Kulihat kembali celana dalam merahku yang tampak sangat lengket di kulit tanganku. Sperma Mertuaku terlihat begitu jelas, sanking banyaknya.

Aku sadar betul kalau Mertuaku bukanlah Bapak yang baik untuk kami anaknya, tapi kalau hingga terobsesi terhadap menantunya sendiri, itu sungguh di luar dugaanku.

Aku sungguh tidak menyangkah kalau diriku bisa menjadi obyek onaninya.

Kucoba melaksanakan hal yang sama mirip yang di lakukan Mertuaku. Kudekatkan celana dalam itu kehidungku, kemudian kuhiruf dalam-dalam aroma sperma Mertuaku yang menyengat, menusuk hidungku. “Aaahkk…” Apakah saya terangsang? Ehhmm… Mas saya kangen kamu.

Tangan kananku reflek membelai payudarahku sendiri, meremasnya dengan lembut sambil membayangkan kehadiran Suamiku.

Tidak… Aku bohong! Bukan Suamiku tapi Bapaknya, ya… bayangan Mertuaku yang sedang mengocok penisnya yang besar di depan mataku dengan eksprenya penuh gairah. Oohh… Enaak sekali Pak…

Kubuka satu persatu kancing piyamaku hingga kedua payudaraku menyembul keluar. Sambil menghirup celana dalamku bekas tumpahan sperma Mertuaku, saya megeplotasi payudarahku dengan remasan dan pilinan.

“Ouughkk Pak….!” Tubuhku mengejang.

Kujatuhkan celana dalam itu diatas wajahku, sementara tangan kananku kini ikut meremas payudarahku, memilin puttingku yang terasa semakin gatal.

Kontol itu… Aaahkk… Oohhkk… ia besaaar dan saya menginginkannya.

“Paak… Aahkk… Pak…!” Aku merengek nikmat.

Tangan kananku kini turun menuju selangkanganku, menyelusup masuk kedalam celana tidurku, kemudian kubelai bibir vaginaku dari luar celana dalamku yang ternyata sudah sangat basah, menerangkan kalau saya begitu terangsang.

Tubuhku menggeliat seiring dengan gosokan jemariku di clitorisku.

“Oouhhkk… Pakkk… Kotol Bapak besaaar… saya mau kontol Bapak… Aahkk… Aahkk…” Bayangan Mertuaku terasa semakin tajam, menghantuiku hingga saya hanya bisa mengerang.

Tak tahan, saya langsung melepas celanaku dan kemudian kembali kubelai bibir vaginaku, jemariku dengan mudahnya mencari cela lobang vaginaku yang licin. Dengan perlahan, kedua jariku menusuk masuk kedalam vaginaku.

Tubuhku tersentak tatkala kedua jariku bekerjasama mengocok vaginaku, sementara tangan kiriku kembali memegangi celana dalamku, menghirup dan menikmati aroma sperma Mertuaku yang sangat nikmat.

Kucoba memberanikan diri menjilati sperma Mertuaku yang ada di celana dalamku, dan ternyata rasanya asin dan gurih, saya menyukainya…

Semakin lama tubuhku semakin menggelinjang tak tertahankan, dan sedetik kemudian.

“Paaaak… Aku dapaaaaat!” Aku memekik diiringi dengan squirt yang kuraih.

“Hossstt… Hosstt… Hosstt…” Nafasku memburu.

Perlahan kubuka kedua bola mataku yang indah, kemudian kudapatkan sesosok laki-laki yang berdiri di ambang pintu kamarku sembari tersenyum.

Ooo ternyata ia Mertuaku….

Deg… Oh Tuhaan….

Aku pasti salah lihatkan? Tapi… Ah… Dia memang ada, dan sangat nyata…

“Udah selesai Nduk?” Dia menggodaku. “Tidurnya.” Sambungnya lagi.

Aku terdiam membisu, sungguh saya sangat malu sekaligus takut… Aku takut ia masuk dan memperkosaku mirip dongeng remaja yang perna kubaca di salah satu forum dewasa. Tapi apa ia benar-benar ingin memperkosaku.

“Loh kok malah bengong? Bapak lapar ni nduk, dari tadi Bapak nungguin kamu, ternyata kau malah mau tidur, sampe ngigaunya keras banget.” Jelasnya, membuat wajahku memerah menahan rasa malu.

“Iya maaf Pak! Aku ketiduran…” Oh ya… Tidur yang sangat yummy sepertinya.

Dia menyeringai tersenyum. “Ya udah yuk, temenin Bapak makan dulu, kau juga pasti belum makankan?” Ajaknya lagi, mirip sedang membujuk anak gadisnya.

Aku segera turun dari atas daerah tidurku dan buru-buru mengenakan kembali celanaku. Aku menghampirnya dengan wajah tertunduk, alasannya adalah rasa malu itu sangat menyiksa diriku, apa lagi melihat respon Mertuaku yang seakan tidak terjadi apapun barusan.

Aku berjalan mendahuluinya sementara ia melangkah di belakangku.

Sesampainya di meja makan, kulihat piringku sudah terisi nasi berikut dengan lauk pauknya. Memang harus kuakui Mertuaku ini sangat baik dan perhatian, tapi sayang… kelakuannya yang suka menyewa wanita penghibur dan berjudi terkadang membuatku kesal.

“Itu celana dalamnya gak mau kau letakin dulu Nduk?” Tegur Mertuaku. “Nanti susah megang sendoknya loh…” Lanjutnya membuatku nyaris mengalami gagal jantung.

Astagaa… bagaimana mungkin sedari tadi saya selalu menggenggam, membawa celana dalam bekas sperma Mertuaku ini.

###

Anayah Sipta Renata

Kugelengkan kepalaku dengan perlahan melihat kelakuan sahabatku Rini. Gadis itu melambaikan tangannya kepada seorang laki-laki yang sedang melaju pelan dengan mobilnya.

Kulihat jam di hpku sudah mengambarkan pukul dua dini hari. Jam segini teman prianya gres pulang.

Sebenarnya saya bukan tipe wanita yang suka ikut campur, tapi untuk urusan maksiat saya tidak bisa tinggal diam, walaupun saya tidak bisa mencegahnya dengan kedua tanganku, tapi setidaknya saya bisa menegurnya dan memberinya na yang bijak untuknya.

“Assalamualaikum Rin!”

“Loh belom tidur Bu Ustadza?” Dia memang paling suka memanggilku dengan kalimat Bu Ustadza, mungkin alasannya adalah saya terlalu sering menceramahi dirinya sehingga ia menjulukiku sebagai Ustadza.

Aku mendesah lirih. “Kebiasaan… Jawab salam dulu Rini yang cantik, gres nanya…” Jelasku, sembari tersenyum kecut.

“Hehehe… Walaikumsalam!” Huh… Aku menggeleng pelan.

“Aku gres bangun, mau ibadah malam! Siapa ia Rin? Ngapain ia kesini? Kok ia pulangnya malam banget Rin?” Cercaku dengan berbagai pertanyaan.

“Iihkk Ana nanyanya satu-satu dong.”

“Oke… Itu siapa?” Kataku mulai mengintrogasinya.

“Dia itu tamu sekaligus mucikariku yang baru. Namanya Anton, orangnya tajir habis.” Jawabnya enteng, sambil berlalu masuk kedalam kamarnya, saya mengikuti dirinya.

Lagi-lagi saya di suguhi pemandangan yang menjijikan, kulihat beberapa jenis dildo tergeletak di dalam kamarnya, dan bau yang menyengat tercium di hidungku.

Aku duduk dilantai kamarnya, sembari memperhatikan kamarnya yang berantakan.

“Kalian tadi habis ngapain?”

Dia nyengir kuda. “Masak kau tidak tau si Na!” Jawabnya, dengan mengulum senyumnya. Duh… anak ini benar-benar keterlaluan.

Tentu saja saya tau, alasannya adalah kamarku berdampingan dengan kamarnya.

“Mau hingga kapan kau kayak gini Rin?”

“Aku tidak tau Ana, tapi… kau taukan, saya tidak punya uang.” Lagi-lagi alasannya finansial, kenapa uang selalu menjadi alasan untuk berbuat dosa.

“Dengerin aku, Tuhan tidak akan membiarkan hambanya berada dalam kesulitan, asalkan hambanya mau berusaha, pasti akan ia beri jalan fasilitas untuk hambanya. Kamu bisa mencari uang dengan cara yang lebih halal.” Sebisa mungkin saya mencoba menainya.

“Kita berbeda Ana!”

“Apa bedanya Rin, kita sama-sama anak yatim piatu? Hanya saja saya mencari uang dengan cara yang halal, tapi kau malah memilih untuk melacurkan diri.” Kataku dengan nada tinggi, sungguh saya sangat kesal dengannya.

Seandainya saja kau tau Rin, sudah dari dulu saya ingin pergi dari rumah ini, mencari kontrakan gres yang lebih Agamis.

Tapi amanah Ibumu sebelum meninggal, membuatku terpaksa harus selalu berada di sampingmu, menjagamu semoga kembali kejalan yang benar, tapi kau selalu mengecewakanku.

“Sudalah Na, saya tidak mau berdebat… Tapi saya berharap kau masih mau menganggapku sebagai saudaramu.” Mohonnya.

“Tentu… selamanya akan tetap begitu.”

“Terimakasi Na… Maaf saya selalu membuatmu kecewa, tapi percayalah ketika ini saya belum bisa berhenti….” Dia memelukku dengan sangat erat, saya tau ini sangat berat baginya.

“Aku akan menunggumu!”

“Kamu teman yang baik, ah tidak… kau saudara yang baik, saya begitu beruntung memiliki teman mirip dirimu.” Dia tersenyum, dan senyuman itu selalu membuat hatiku luluh.

Suatu hari nanti, saya berharap kau mau berubah menjadi gadis yang polos mirip dulu.

####

Tamat ..........


Nantikan kisah selanjutnya yang akan membuat kau penasaran hingga tidak bisa tidur...

3

Kumpulan Cerita Seks Menikmati Tubuh Istri Karyawanku Di Kantor

Kumpulan Cerita Seks  - Hari itu salah seorang eksekutif perusahaan, Pak Freddy, sedang mengadakan resepsi pernikahan anaknya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan. Tentu saja akupun diundang, dan malam itu akupun meluncur menuju kawasan resepsi diadakan. Aku pergi bersama dengan Jason, temanku waktu kuliah di Amerika dahulu. Sesampainya di hotel tampak para permintaan sebagian besar membawa pasangannya masing-masing. Iri juga melihat mereka ditemani oleh istri dan anak mereka, sedangkan aku, lantaran masih bujangan, ditemani oleh si bule ini.

"Selamat malam Pak.." sapa seseorang agak mengagetkanku. Aku menoleh, ternyata Lia sekretarisku yang menyapaku. Dia tiba bersama tunangannya. Tampak sexy dan anggun sekali ia malam itu, disamping juga anggun.
Berbeda sekali jikalau dibandingkan ketika saya sedang menikmati tubuhnya,.. Liar dan nakal. Dengan gaun malam yang berdada rendah, belahan buah dadanya yang besar tampak menggoda. "Malam Lia" balasku. Mata Jason tak henti-hentinya menatap Lia, dengan pandangan kagum.

Lia hanya tersenyum manis saja dilihat dengan penuh nafsu ibarat itu. Tampak ia menjaga tingkah lakunya, lantaran tunangannya berada di sampingnya. Kamipun kemudian berbincang-bincang sekedarnya. Lalu akupun permisi hendak menyapa para permintaan lain yang datang, terutama para klienku. "Malam Pak Robert.." seorang perempuan anggun tiba-tiba menyapaku. Dia yaitu Santi, istri dari Pak Arief, manajer keuangan di kantorku. Mereka gres menikah sekitar tiga bulan yang lalu. "Oh Santi.. Malam" kataku "Pak Arief dimana?" "Sedang ke restroom.. Sendirian aja Pak?" tanyanya. "Sama teman" jawabku sambil memandangi ia yang malam itu tampak anggun dengan gaun malamnya dengan anggun. Belahan gaunnya yang tinggi memamerkan pahanya yang putih menggiurkan. Dadanya walaupun tak sebesar Lia, tampak membusung menantang.

"Makanya, cari istri dong Pak.. Biar ada yang nemenin" katanya sambil tersenyum manis. "Belum ada yang mau nih" "Ahh.. Bapak mampu saja.. Pasti banyak banget cewek yang mau sama bapak.. Kalau belum married saya juga mau lho.." jawabnya menggoda. Memang Santi ini rasanya punya perasaan tertentu padaku. Tampak dari cara bicaranya dan cara ia memandangku. "Oh.. Kalau saya sih mau lho sama kamu biarpun kamu sudah married" kataku sambil menatap wajahnya yang cantik. "Ah.. Pak Robert.. Bisa aja.." jawabnya sambil tersipu malu.

"Bener lho mau saya buktiin?" godaku "Janganlah Pak.. Nanti kalau ketahuan suamiku mampu gawat" jawabnya perlahan sambil tersenyum. "Kalau nggak ketahuan gimana.. Nggak apa khan?" rayuku lagi. Santi tampak tersipu malu. Wah.. Aku mendapatkan angin nih.. Memang saya sejak berkenalan dengan Santi beberapa bulan yang kemudian sudah membayangkan nikmatnya menyetubuhi perempuan ini. Dengan kulit putih, khas orang Bandung, rambut sedikit ikal sebahu, bibir tipis, dan masih muda lagi.

Dia gres berumur 24 tahunan."Gimana nih setelah kawin.. Enak nggak? Pasti masih hot y. "Godaku lagi. "Biasa aja kok Pak.. Kadang enak.. Kadang nggak.. Tergantung moodnya" jawabnya lirih. Dari jawabannya saya punya dugaan bahwa Pak Arief ini tidak begitu memuaskannya di atas kawasan tidur. Mungkin lantaran usia Pak Arief yang sudah berumur dibandingkan dengan dirinya yang masih penuh gejolak hasrat seksual perempuan muda. Pasti jarang sekali ia mengalami orgasme. Uh.. Kasihan sekali pikirku.

Tak lama Pak Ariefpun tiba dari kejauhan. "Wah.. Pak Arief.. Punya istri anggun begini kok ditinggal sendiri" kataku menggoda. Santi tampak senang saya puji ibarat itu. Tampak dari tatapan matanya yang haus akan kehangatan laki-laki tulen ibarat saya ini. "Iya Pak.. Habis dari belakang nih" jawabnya. Tatapan matanya tampak curiga melihat saya sedang mengobrol dengan istrinya yang jelita itu. Mungkin ia sudah dengar kabar akan ke-playboyanku di kantor. "Ok saya tinggal dulu ya Pak Arief.. Santi" kataku lagi sambil ngeloyor pergi menuju kawasan hidangan.

Aq punmenyantapnya nikmat. Maklum perutku sudah keroncongan, terlalu banyak basa-basi dengan para tamu permintaan tadi. Kulihat si Jason masih ngobrol dengan Lia dan tunangannya. Ketika saya mencari Santi dengan pandanganku, ia juga sedang mencuri pandang padaku sambil tersenyum. Pak Arief tampak sedang mengobrol dengan tamu yang lain.

Memang payah juga bapak yang satu ini, tidak mampu membahagiakan istrinya. Santi kemudian berjalan mengambil hidangan, dan akupun pura-pura menambah hidanganku. "San.. Kita terusin ngobrolnya di luar yuk" ajakku berbisik padanya "Nanti saya dicari suami saya gimana Pak.." "Bilang aja kamu sakit perut.. Perlu ke toilet. Aku tunggu di luar"Kataku sambil menahan nafsu melihat lehernya yang putih jenjang, dan lengannya yang berbulu halus Tak lama Santipun keluar ruangan resepsi menyusulku.

Kamipun pergi ke lantai di atas, dan menuju toilet. Aku berencana untuk bermesraan dengan ia di sana. Kebetulan saya tahu suasananya pasti sepi. Sebelum hingga di toilet, ada sebuah ruangan kOsong,, sebuah meeting room, yang terbuka. Wah kebetulan nih, pikirku. Kutarik Santi ke dalam dan kututup pintunya. Tanpa basa-basi lagi, saya cium bibirnya yang indah itu.

Santipun membalas bergairah. Tangankupun bergerak merambahi buah dadanya, sedangkan tanganku yang satu mencari kaitan retsleting di belakang tubuhnya. Kulepas gaunnya sebagian sehingga tampak buah dadanya yang ranum hanya tertutup BH mungil berwarna krem. Kuciumi leher Santi yang jenjang itu, dan kusibakkan cup BHnya kebawah sehingga buah dadanya mencuat keluar.

Langsung kujilati dengan rakus buah dada itu, saya hisap dan saya permainkan putingnya yang sudah mengeras dengan lidahku. "Oh.. Pak Robertt.." desah Santi sambil menggeliat. "Enak San.." "Enak Pak.. Terus Pak.." desahnya lirih. Tangankupun meraba pahanya yang mulus, dan hingga pada celana dalamnya. Tampak Santi sudah begitu kasar sehingga celananya sudah lembab oleh cairan kewanitaannya. Santipun kemudian tak sabar dan membuka kancing kemeja batikku. Dicium dan dijilatinya putingku..

Lalu terus ke bawah ke perutku. Kemudian ia berlutut dan dibukanya retsleting celanaku, dan tangannya yang lentik berbulu halus itu merogoh ke dalam mengeluarkan kemaluanku dari celana dalamnya. Memang kami sengaja tidak mau telanjang lingkaran lantaran kondisi yang tidak memungkinkan. "Ohh.. Besar sekali Pak Robert.. Santi suka.." katanya sambil mengagumi kemaluanku dari dekat. "Memang punya suamimu seberapa?" tanyaku tersenyum menggoda. "Mungkin cuma separuhnya Pak Robert.. Oh.. Santi suka.." katanya tak melanjutkan lagi jawabannya lantaran mulutnya yang mungil itu sudah mengulum kemaluanku.

"Enak Pak?" tanyanya sambil melirik badung kepadaku. Tangannya sibuk meremas-remas buah zakarku sementara lidahnya menjilati batang kemaluanku. "Enak sayang.. Ayo isap lagi" jawabku menahan rasa nikmat yang menjalar hebat. sementara kedua tangannya meremas-remas pantatku. Sangat sexy sekali melihat pemandangan itu. Seorang perempuan anggun yang sudah bersuami, bertubuh padat, sedang berlutut didepanku dengan pipi yang menggelembung menghisap kemaluanku. Terlebih ketika kemaluanku keluar dari mulutnya, tanpa menggunakan tangannya dan hanya menggerakkan kepalanya mengikuti gerak kemaluanku, Santi mengulumnya kembali.

"Hm.. tongkol bapak enak banget.. Santi suka tongkol yang besar begini" desahnya. Tiba-tiba terdengar bunyi handphone. Santipun menghentikan isapannya. "Iya Mas.. Ada apa?" jawabnya. "Lho Mas udah pikun ya.. Khan Santi tadi usah bilang.. Santi mau ke toilet.. Sakit perut.. Gimana sih" Santi berbicara kepada suaminya yang tak sabar menunggu. Sementara tangan Santi yang satu tetap meraba dan mengocok kemaluan atasan suaminya ini. "Iya Mas.. Mungkin salah makan nih.. Sebentar lagi Mas.. Sabar ya.." Kemudian tampak suaminya berbicara agak panjang di telpon, sehingga waktu tersebut digunakan Santi untuk kembali mengulum kemaluanku sementara tangannya masih memegang handphonenya.

"Iya Mas.. Santi juga cinta sama Mas.." katanya sambil menutup telponnya. "Suamiku sudah nunggu. Tapi biarin aja deh ia nunggu agak lama, soalnya Santi pengin puas dulu". Sambil tersenyum badung Santi kembali menjilati kemaluanku. Aku sudah ingin menikmati kehangatan tubuh perempuan istri bawahanku ini. Kutarik tangannya semoga berdiri, dan akupun tiduran di atas meja meeting di ruangan itu. Tanpa perlu dikomando lagi Santi menaiki tubuhku dan menyibak gaun dan celana dalamnya sehingga vaginanya tepat berada di atas kemaluanku yang sudah menjulang menahan gairah.

Santi kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kemaluankupun menerobos liang vaginanya yang masih sempit itu. "Oh.. My god.." jeritnya tertahan. Kupegang pinggangnya dan kemudian saya naik-turunkan sehingga kemaluanku maju mundur menjelajahi liang nikmat istri anggun Pak Arief ini. Kemudian tanganku bergerak meremas buah dadanya yang bergoyang ketika Santi bergerak naik turun di atas tubuhku. Sesekali kutarik badannya sehingga buah dadanya bergerak ke depan wajahku untuk kemudian saya hisap dengan gemas.

"Ohh Pak Robertt.. Bapak memang jantan.." desahnya "Ayo Pak.. Puaskan Santi Pak.." Santi berkata sambil menggoyang-goyangkan badannya maju mundur di atas kemaluanku.Setelah itu ia kembali menggerakkan badannya naik turun mengejar kepuasan bercinta yang tak didapatkan dari suaminya. Setelah beberapa menit saya turunkan tubuhnya dan saya suruh ia menungging sambil berpegangan pada tepian meja.

Aku sibakkan gaunnya, dan tampak pantatnya yang putih menggairahkan hanya tertutup oleh celana dalam yang sudah tersibak kesamping. Kuarahkan kemaluanku ke vaginanya, dan langsung kugenjot dia, sambil tanganku meremas-remas rambutnya yang ikal itu. "Kamu suka San?" kataku sambil menarik rambutnya ke belakang. "Suka Pak.. Robert.. Suka..""Suamimu memang nggak mampu ya" "Dia lemah Pak.. Oh.. God.. Enak Pak.. Ohh" "Ayo bilang.. Kamu lebih suka ngent*tin suamimu atau aku" tanyaku sambil mencium wajahnya yang mendongak ke belakang lantaran rambutnya saya tarik. "Santi lebih suka dient*tin Pak Robert.. Pak Robert jantan..

Suamiku lemah.. Ohh.. God.." jawabnya. "Kamu suka tongkol besar ya?" tanyaku lagi "Iya Pak.. Oh.. Terus Pak.. Punya suamiku kecil Pak.. Oh yeah.. Pak Robert besar.. Ohh yeah oh.. God. Suamiku jelek.. Pak Robert ganteng. Oh god. Enakhh.." Santi mulai meracau kenikmatan. "Oh.. Pak.. Santi hampir hingga Pak.. Ayo Pak puaskan Santi Pak.." jeritnya. "Tentu sayang.. Aku bukan suamimu yang lemah itu.." jawabku sambil terus mengenjot ia dari belakang. Tangankupun sibuk meremas-remas buah dadanya yang bergoyang menggemaskan. "Ahh.. Santi hingga Pak.." Santi melenguh ketika gelombang orgasme menerpanya. Akupun hampir sampai. Kemaluanku sudah berdenyut- denyut ingin mengeluarkan laharnya.

Kutarik tubuh Santi hingga ia kembali berlutut di depanku. Kukocok-kocok kemaluanku dan tak lama tersemburlah spermaku ke wajahnya yang cantik. Kuoles- oleskan sisa-sisa cairan dari kemaluanku ke seluruh wajahnya. Kemudian Santipun mengulum dan menjilati kemaluanku hingga bersih. "Terimakasih Pak Robert.. Santi puas sekali" katanya ketika ia membersihkan wajahnya dengan tisu. "Sama-sama Santi. Saya hanya berniat membantu kok" jawabku sambil bergegas membetulkan pakaianku kembali. "Ngomong-ngomong, kamu bakir sekali blowjob ya? Sering latihan?" tanyaku. "Santi sering lihat di VCD aja Pak.

Kalau sama suami sih jarang Santi mau begitu. Habis nggak nafsu sih lihatnya" Wah.. Kasihan juga Pak Arief, pikirku geli. Malah saya yang mampu menikmati enaknya dioral oleh istrinya yang anggun jelita itu. "Kapan kita mampu melakukan lagi Pak" kata Santi mengharap ketika kami keluar ruangan meeting itu. "Gimana kalau minggu depan saya suruh suamimu ke luar kota jadi kita mampu bebas bersama?""Hihihi.. Ide bagus tuh Pak.. Janji ya" Santi tampak bangga mendengarnya. Kamipun kembali ke ruangan resepsi.

Santi saya suruh turun terlebih dahulu, gres saya menyusul beberapa menit kemudian. Sesampai di ruang resepsi tampak Jason sedang mencari aku. "Hey man.. Where have you been? I've been looking for you" "Sorry man.., I had to go to the restroom. I had stomachache" jawabku. Tak lama Santi tiba bersama Pak Arief suaminya. "Pak Robert, kami mau pamit dahulu.. Ini Santi nggak enak badan.. Sakit perut katanya" "Oh ya Pak Arief, silakan saja. Istri bapak anggun harus benar- benar dirawat lho.."

Santi tampak tersenyum mendengar perkataanku itu, sementara wajah Pak Arief menyampaikan rasa curiga. He.. He.. Kasihan, pikirku. Mungkin ia akan stress berat berat bila tahu saya gres saja menyetubuhi istrinya yang anggun itu. Tak lama saya dan Jason pun pulang. Sebelum pulang saya berpapasan dengan Lia, sekretarisku. Aku suruh ia untuk mendaftarkan Pak Arief Untk pembinaan ke singapura. Memang baru-baru ini saya mendapatkan tawaran pembinaan ke Singapore dari salah satu perusahaan. Lebih baik Pak Arief saja yang pergi, pikirku.

Toh memang ia yang mengerjakan pekerjaan itu di kantor, sedangkan saya hanya akan menolong istrinya yang anggun mengarungi lautan birahi selama ia pergi nanti. Tak sabar saya menanti minggu depan datang. Nanti akan saya ceritakan lagi pengalamanku bersama Santi bila saatnya tiba. Dengan tidak adanya batas waktu lantaran terburu-buru, tentu saya akan lebih mampu menikmati dirinya.


Cerita Dewasa, Kumpulan Crot, Bersetubuh Dengan Selingkuh, Kumpulan Curatan Rahasia, Cerita Malam Jumat, Cerita selingkuh dengan Teman,
3