Suami Tante Linda, sebut saja Oom Joko bekerja di ibukota, di suatu instansi pemerintah, dan mempunyai jabatan strategis. Setiap 2 ahad sekali, Oom Joko pulang ke kota A, saya sendiri cukup erat dengan Oom Joko, umurku dengannya tidak terlalu terpaut jauh.
Oom Joko saya taksir gres berumur sekitar 35 tahun, sedangkan Tante Linda justru lebih renta sedikit, 37 tahun. Aku menyebut mereka Oom dan Tante, alasannya ialah walaupun beda umur antara saya dan mereka sedikit, tetapi mereka sudah berkeluaga dan sudah punya seorang anak gadis.
Tante Linda merupakan seorang sekretaris di sebuah perusahaan otomotif di kota B yang jaraknya tidak begitu jauh dari kota A. Tante Linda berangkat pagi dan pulang malam, begitu seterusnya setiap harinya, sehingga saya kurang begitu dekat dengan Tante Linda. Justru kepada anak gadisnya yang masih SMP yang berjulukan Lia, saya merasa dekat. Sebab pada hari-hari kosongku, Lia lah yang menemaniku.
Selama tinggal serumah dengan Tante Linda dan anak gadisnya, yaitu Lia, saya tidak pernah berpikiran buruk, misalnya ingin menyetubuhi Tante Linda atau yang lainnya. Aku menganggapnya sudah ibarat kakak sendiri.
Dan kepada Lia, saya juga sudah menganggapnya sebagai keponakanku sendiri pula. Sampai karenanya ketika suatu hari, hujan gerimis rintik-rintik, pekerjaan kantor telah selesai saya kerjakan, dan ketika itu hari masih agak siang. Aku malas sekali ingin pulang, lalu saya berpikir berbuat apa di hari ibarat ini sendirian.
Akhirnya saya putuskan meminjam kaset VCD Blue Film yang berjudul Tarzan X ke rekan kerjaku. Kebetulan beliau selalu membawanya, saya pinjam ke dia, lalu saya cepat-cepat pulang. Keadaan rumah masih sangat sepi, alasannya ialah Lia masih sekolah, dan Tante Linda bekerja.
Karena saya kost sudah cukup lama, maka saya dipercaya oleh Oom Joko dan Tante Linda untuk membuat kunci duplikat. Jika sewaktu-waktu ada perlu di rumah, jadi tidak harus repot menunggu Lia pulang ataupun Tante Linda pulang.
Aku sebetulnya ingin menyaksikan film tersebut di kamar, entah karena masih sepi, maka saya menyaksikannya di ruang keluarga yang kebetulan tempatnya di lantai atas. Ah.. lama juga saya tidak menyaksikan film ibarat ini, dan memang lama juga saya tidak ML (making love) dengan wanita malam yang biasa kupakai akhir stres karena kerjaan yang tidak ada habis-habisnya.
Aku mulai memutar film tersebut, dengan ukuran TV Sony Kirara Baso, seakan saya menyaksikan film bioskop, cuilan demi cuilan syur membuatku mulai garang dan membuat batang kemaluanku berontak dari dalam celanaku.
Aku kasihan pada adik kecilku itu, maka kulepaskan saja celanaku, kulepaskan juga bajuku, sehingga saya hanya menggunakan kaos singlet ketat saja. Celana panjang dan celana dalamku sudah kulepaskan, maka mulai bangkit dengan kencang dan kokohnya batang kemaluanku yang hitam, panjang, besar dan berdenyut-denyut.
Aku menikmatinya sesaat, hingga karenanya kupegangi sendiri batang kemaluanku itu dengan tangan kananku. Mataku tetap konsentrasi kepada layar TV, melihat adegan-adegan yang sudah sedemikian panasnya. Tarzan yang terbelakang itu sedang diajari oleh wanitanya untuk memasukkan batang kemaluannya itu ke lubang kemaluan si wanita.
Batang kemaluan yang dari tadi kupegangi, kini telah kukocok-kocok, lambat dan cepat silih berganti gerakanku dalam mengocok. Setelah sekian lama, saya merasa sudah tidak berpengaruh lagi menahan cairan mani yang ingin keluar.
Lalu, “Ahh… crrrottt.. cccroottt…,” saya sudah menyiapkan handuk kecil untuk menampung cairan mani yang keluar dari lubang kencing kemaluanku. Sehingga cairan itu tidak muncrat kemana-mana.
Ternyata tanpa sepengetahuanku, ada sepasang mata melihat ke arahku dengan tidak berkedip, sepasang mata itu rupanya melihat semua yang kulakukan tadi. Aku gres saja membersihkan batang kemaluanku dengan handuk, lalu sepasang mata itu keluar dari persembunyiannya, sambil berkata kecil.
“Oom Agus, lagi ngapain sih, kok main-main titit begitu, emang kenapa sih?” kata bunyi kecil mungil yang biasa kudengar.
Bagaikan disambar geledek di siang hari, saya kaget, ternyata Lia sudah ada di belakangku. Aku gugup akan bilang apa, kupikir anak ini pasti sudah melihat apa yang kulakukan dari tadi.
“Eh, Llliiiiaaa.. gres pulang?” sahutku sekenanya.
“Iya nih Oom, ngga ada pelajaran.” tukas Lia, lalu Lia melanjutkan perkataannya, “Oom Agus, Lia tadi kan nanya, Oom lagi ngapain sih, kok mainin titit gitu?”
“Oohh ini..,” saya sudah sedikit bisa mengontrol diri, “Ini.. Oom habis melaksanakan olahraga , Lia.”
“Ooohh.. habis olahraga yaaa..?” Lia sedikit heran.
“Iya kok.. olahraga Oom, ya begini, sama juga dengan olahraga papanya Lia.” jawabku ingin meyakinkan Lia.
“Kalo olahraga Lia di sekolah pasti sama pak guru Lia disuruh lari.” Lia menimpali.
“Itu karena Lia kan masih sekolah, jadi olahraganya harus sesuai dengan petunjuk pak guru.” jawabku lagi.
“Oom, Lia pernah lihat papa juga mainin titit persis ibarat yang Oom Agus lakukan tadi, cuma bedanya papa mainin tititnya sama mama.” Lia dengan polosnya mengatakan hal itu.
“Eh, Lia pernah lihat papa dan mama olahraga begituan?” saya balik bertanya karena penasaran.
“Sering lihat Oom, kalo papa pulang, kalo malem pasti melakukannya sama mama.” ujar Lia masih dengan polosnya menerangkan apa yang sering dilihatnya.
“Seperti ini yaa..?” sambil saya menunjuk ke cover gambar film Tarzan X, gambar Tarzan dengan memasukkan batang kemaluannya ke lubang kelamin wanitanya.
“Iya Oom, ibarat apa yang di film itu lho!” jawab Lia, “Eh.. Oom, bagus lho filmnya, boleh ngga nih Lia nonton, mumpung ngga ada mama?”
“Boleh kok, cuma dengan syarat, Lia tidak boleh mengatakan hal ini sama papa dan mama, oke?” saya memberi syarat dengan perasaan kuatir kalau hingga Lia dongeng pada mama dan papanya.
“Ntar Oom beliin coklat yang banyak deh.” janjiku.
“Beres Oom, Lia ngga bakalan dongeng ke mama dan papa.” dengan kalem Lia menjawab perkataanku, rupanya Lia eksklusif duduk di sofa menghadap ke TV.
Kuputar ulang lagi film Tarzan X tersebut, dan Lia menontonnya dengan sepenuh hati, cuilan demi cuilan dilihatnya dengan penuh perhatian. Aku sendiri termenung menyaksikan bahwa di depanku ada seorang gadis kecil yang periang dan pintar sedang menonton blue film dengan tenangnya.
Sedangkan saya sendiri masih belum memakai celanaku, ikut melihat lagi adegan-adegan film Tarzan X itu, membuat batang kemaluanku tegang dan bangkit kembali, kubiarkan saja. Lama kelamaan, saya tidak melihat ke arah film Tarzan X itu, pandanganku beralih ke sosok hidup yang sedang menontonnya, yaitu Lia.
Lia ialah yang tergolong imut dan manis untuk gadis seusianya. Entah kenapa, saya ingin sekali bersetubuh dengan Lia, saya ingin menikmati rasanya lubang kelamin Lia, yang kubayangkan pastilah masih sangat sempit.
Ahhh.. nafsuku kian membara karena memikirkan hal itu. Aku mencoba mencari akal, bagaimana caranya semoga keperawanan Lia bisa kudapatkan dan kurasakan. Kutunggu saja waktu tepatnya dengan sabar. Tidak terasa, selesailah film tersebut. Suara Lia karenanya memecahkan keheningan.
“Oom, tuh tititnya bangkit lagi.” kata Lia sambil menunjuk ke arah batang kemaluanku yang memang sedang tegang.
“Iya nih Lia, tapi biarin saja deh, gimana dengan filmnya?” jawabku santai.
“Bagus kok Oom, persis ibarat apa yang papa dan mama lakukan, dan Lia ada beberapa pertanyaan buat Oom nih.” Lia sepertinya ingin menanyakan sesuatu.
“Pertanyaannya apa?” tanyaku.
“Kenapa sih, kalo olahraga gituan harus masukin titit ke… apa tuh, Lia ngga ngerti?” tanya Lia.
“Oh itu.., itu namanya titit dimasukkan ke lubang kencing atau disebut juga lubang memek, pasti papa Lia juga melaksanakan hal itu ke mama kan?” jawabku menerangkan.
“Iya benar Oom, papa pasti masukin tititnya ke lubang yang ada pada memek mama.” Lia membenarkan jawabanku.
“Itulah seninya olahraga beginian Lia, bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berdua, olahraga ini khusus untuk dewasa.” kataku memberi penjelasan ke Lia.
“Lia sudah boleh ngga Oom.. melaksanakan olahraga ibarat itu?” tanya Lia lagi.
Ouw.. inilah yang saya tunggu.. dasar rejeki.. selalu saja datang sendiri.
“Boleh sih, dengan satu syarat jangan bilang sama mama dan papa.” jelasku.
Terang saja saya membolehkan, alasannya ialah itulah yang kuharapkan.
“Lia harus tahu, kalau Lia melaksanakan olahraga beginian akan merasa lelah sekali tetapi juga akan mencicipi enak.” tambahku.
“Masa sih Oom? Tapi kayaknya ada benarnya juga sih, Lia lihat sendiri mama juga sepertinya merasa lelah tapi juga merasa keenakan, hingga menjerit-jerit lho Oom, malahan kadang ibarat mau nangis.” Lia yang polos rupanya sudah mulai tertarik dan sepertinya ingin tahu bagaimana rasanya.
“Emang gitu kok. Ee…, mumpung masih siang nich, mama Lia juga masih lama pulangnya, kalo Lia memang ingin olahraga beginian, sekarang saja gimana?” saya sudah tidak tabah ingin melihat pesona kemaluannya Lia, pastilah luar biasa.
“Ayolah!” Lia mengiyakan.
Memang rasa ingin tahu anak gadis seusia Lia sangatlah besar. Ini ialah hal gres bagi Lia. Segera saja kusiapkan segala sesuatunya di otakku. Aku ingin Lia mencicipi apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Kaos singlet yang menempel di tubuhku telah kulepas. Aku sudah telanjang lingkaran dengan batang kejantananku mengacung-ngacung keras dan tegang. Baru pernah seumur hidupku, saya telanjang di hadapan seorang gadis belia berumur 12 tahun.
Lia hanya tersenyum-senyum memandangi batang kemaluanku yang bangkit dengan megahnya. Mungkin karena kebiasaan melihat papa dan mamanya telanjang bulat, sehingga melihatku telanjang lingkaran merupakan hal yang tidak abnormal lagi bagi Lia.
Kusuruh Lia untuk membuka seluruh pakaiannya. Awalnya Lia protes, tetapi setelah kuberitahu dan kucontohkan kenapa mama Lia telanjang bulat, dan kenapa ceweknya Tarzan juga telanjang bulat, alasannya ialah memang sudah begitu seharusnya.
Akhirnya Lia mau melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat Lia melepaskan pakaiannya dengan mata tidak berkedip. Pertama sekali, lepaslah pakaian sekolah yang dikenakannya, lalu rok biru dilepaskan juga. Sekarang Lia tinggal mengenakan kaos dalam dan celana dalam saja.
Di balik kaos dalamnya yang cukup tebal itu, saya sudah melihat dua benjolan kecil yang mencuat, pastilah puting susunya Lia yang gres tumbuh. Baru saja saya berpikiran ibarat itu, Lia sudah membuka kaos dalamnya itu dan ibarat apa yang kubayangkan, puting susu Lia yang masih kuncup, membenjol terlihat dengan terperinci di kedua mataku.
Puting susu itu begitu indahnya. Lain sekali dengan yang biasa kulihat dan kurasakan dari wanita malam langgananku, rata-rata puting susu mereka sudah merekah dan matang, sedangkan ini, saya hanya bisa menelan ludah.
Payudara Lia memang belum nampak, alasannya ialah karena faktor usia. Akan tetapi puting susunya sudah mulai menampakkan hasilnya. Membenjol cukup besar dan mencuat menantang untuk dinikmati. Warna puting susu Lia coklat kemerahan, saya melihat puting susu itu menegang tanpa Lia menyadarinya. Lalu Lia melepaskan juga celana dalamnya.
Kembali saya dibuatnya sangat bernafsu, kemaluan Lia masih berupa garis lurus, ibarat kebanyakan milik belum dewasa gadis yang sering kulihat mandi di sungai. Vagina yang belum ditumbuhi bulu rambut satu pun, masih gundul. Aku sungguh-sungguh melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Terbengong-bengong saya dibuatnya.
“Oom, udah semua nih, udah siap nih Oom.”
Aku tersentak dari lamunan begitu mendengar Lia berbicara.
“Oke, sekarang dimulai yaaa…?”
Kuberi tanda ke Lia supaya tiduran di sofa. Pertama sekali saya meminta ijin ke Lia untuk menciuminya, Lia mengijinkan, rupanya karena sangat ingin atau karena Lia memang sudah mulai menuruti nafsunya sendiri, saya kurang tahu. Yang penting bagiku, saya mencicipi liang perawannya dan menyetubuhinya siang ini.
Aku ciumi kening, pipi, hidung, bibir dan lehernya. Kupagut dengan mesra sekali. Kubuat seromantis mungkin. Lia hanya membisu seribu bahasa, menikmati sekali apa yang kulakukan kepadanya.
Setelah puas saya menciuminya, “Lia, boleh ngga Oom netek ke Lia?” tanyaku meminta.
“Tapi Oom, tetek Lia kan belon sebesar ibarat punya mama.” kata Lia sedikit protes.
“Ngga apa-apa kok Lia, tetek segini malahan lebih enak.” kilahku meyakinkan Lia.
“Ya deh, terserah Oom saja, asalkan ngga sakit aja.” jawab Lia karenanya memperbolehkan.
“Dijamin deh ngga sakit, malahan Lia akan mencicipi enak dan nikmat yang tiada tara.” jawabku lagi.
Segera saja kuciumi puting susu Lia yang kiri, Lia merasa geli dan menggelinjang-gelinjang keenakan, saya mencicipi puting susu Lia mulai mengalami penegangan total. Selanjutnya, saya hisap kedua puting susu tersebut bergantian. Lia melenguh menahan geli dan nikmat, saya terus menyusu dengan rakusnya, kusedot sekuat-kuatnya, kutarik-tarik, sedangkan puting susu yang satunya lagi kupelintir-pelintir.
“Oom, kok enak banget nihhh… oohhh… enakkk…” desah Lia keenakan.
Lia terus merancau keenakan, saya sangat senang sekali. Setelah sekian lama saya menyusu, saya lepaskan puting susu tersebut. Puting susu itu sudah memerah dan sangat tegangnya. Lia sudah merasa mabuk oleh kenikmatan. Aku bimbing tangannya ke batang kemaluanku.
“Lia, kocok dong tititnya Oom Agus.” saya meminta Lia untuk mengocok batang kemaluanku.
Lia mematuhi apa yang kuminta, mengocok-ngocok dengan tidak beraturan. Aku memakluminya, karena Lia masih amatir, hingga karenanya saya justru merasa sakit sendiri dengan kocokan Lia tersebut, maka kuminta Lia untuk menghentikannya.
Selanjutnya, kuminta Lia untuk mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, tanpa bertanya Lia eksklusif saja mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, saya terpana sesaat melihat vagina Lia yang merekah.
Tadinya kemaluan itu hanya semacam garis lurus, sekarang di hadapanku terlihat dengan jelas, buah klitoris kecil Lia yang sebesar kacang kedelai, vaginanya merah tanpa ditumbuhi rambut sedikit pun, dan yang terutama, lubang kemaluan Lia yang masih sangat sempitnya. Jika kuukur, hanya seukuran jari kelingking lubangnya.
Aku lakukan sex dengan mulut, kuciumi dan hisap kemaluan Lia dengan lembut, Lia kembali melenguh. Lenguhan yang sangat erotis. Meram melek kulihat mata Lia menahan enaknya hisapanku di kemaluannya. Kusedot klitorisnya. Lia menjerit kecil keenakan, hingga tidak berapa lama.
“Oom, enak banget sih, Lia senang sekali, terussinnn…” pinta Lia.
Aku meneruskan menghisap-hisap vagina Lia, dan Lia semakin mendesah tidak karuan. Aku yakin Lia hampir mencapai puncak orgasme pertamanya selama hidup.
“Oommm… ssshhh… Lia mau pipis nich..”
Lia mencicipi ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, ibarat ingin kencing.
“Tahan dikit Lia… tahan yaaa…” sambil saya terus menjilati, dan menghisap-hisap kemaluannya.
“Udah ngga tahan nich Oommm… aahhh…”
Tubuh Lia mengejang, tangan Lia berpegangan ke sofa dengan erat sekali, kakinya menjepit kepalaku yang masih berada di antara selangkangannya.
Lia ternyata sudah hingga pada klimaks orgasme pertamanya. Aku senang sekali, kulihat dari bibir lubang perawannya merembes keluar cairan cukup banyak. Itulah cairan mani nikmatnya Lia.
“Oohhh… Oom Agus… Lia merasa lemes dan enak sekali… apa sih yang barusan Lia alami, Oom…?” tanya Lia antara sadar dan tidak.
“Itulah puncaknya Lia.., Lia telah mencapainya, pingin lagi ngga?” tanyaku.
“Iya.. iya.. pingin Oom…” jawabnya langsung.
Aku mencicipi kalau Lia ingin merasakannya lagi. Aku tidak eksklusif mengiyakan, kusuruh Lia istirahat sebentar, kuambilkan semacam obat dari dompetku, obat dopping dan kusuruh Lia untuk meminumnya. Karena sebentar lagi, saya akan menembus lubang perwannya yang sempit itu, jadi saya ingin Lia dalam keadaan segar bugar.
Tidak berapa lama, Lia kulihat telah kembali fit.
“Lia… tadi Lia sudah mencapai puncak pertama, dan masih ada satu puncak lagi, Lia ingin mencapainya lagi kan..?” bujukku.
“Iya Oom, mau dong…” Lia mengiyakan sambil manggut-manggut.
“Ini nanti bukan puncak Lia saja, tetapi juga puncak Oom Agus, ini finalnya Lia” kataku lagi menjelaskan.
“Final?” Lia mengernyitkan dahinya karena tidak paham maksudku.
“Iya, final.., Oom ingin memasukan titit Oom ke lubang memek Lia, Oom jamin Lia akan mencicipi sesuatu yang lebih enak lagi dibandingkan yang tadi.” karenanya saya katakan final yang saya maksudkan.
“Ooh ya, tapi.. Oom.. apa titit Oom bisa masuk tuh? Lubang memek Lia kan sempit begini sedangkan tititnya Oom.. gede banget gitu…” Lia sambil menunjuk lubang nikmatnya.
“Pelan-pelan dong, ntar pasti bisa masuk kok.. cobain ya..?” pintaku lagi.
“Iya deh Oom…” Lia secara otomatis telah mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya.
Kuarahkan kepala kemaluanku ke lubang vagina Lia yang masih super sempit tersebut. Begitu menyentuh lubang nikmatnya, saya merasa ibarat ada yang menggigit dan menyedot kepala kemaluanku, memang sangat sulit untuk memasukkannya.
Sebenarnya bisa saja kupaksakan, tetapi saya tidak ingin Lia mencicipi kesakitan. Kutekan sedikit demi sedikit, kepala kemaluanku bisa masuk, Lia mengaduh dan menjerit karena merasa perih. Aku menyuruhnya menahan. Efek dari obat dopping itu tadi ialah untuk sedikit meredam rasa perih, selanjutnya kutekan kuat-kuat.
“Blusss…”
Lia menjerit cukup keras, “Ooommm… tititnya sudaaahhh masuk… kkaahhh?”
“Udah sayang… tahan ya…” kataku sambil mengelus-ngelus rambut Lia.
Aku mundurkan batang kemaluanku. Karena sangat sempitnya, ternyata bibir kemaluan Lia ikut menggembung karena tertarik. Kumajukan lagi, kemudian mundur lagi perlahan tetapi pasti. Beberapa waktu, Lia pun sepertinya sudah mencicipi enak.
Setelah cairan mani Lia yang ada di lubang perawannya semakin membanjir, maka lubang kenikmatan itu sudah sedikit merekah. Aku menggenjot maju mundur dengan cepat.
Ahhh.. inikah kemaluan perawan gadis imut. Enak sekali ternyata. Hisapannya memang tiada duanya. Aku merasa keringat telah membasahi tubuhku, kulihat juga keringat Lia pun sudah sedemikian banyaknya.
Sambil kuterus berpacu, puting susu Lia kumainkan, kupelintir-pelintir dengan gemas, bibir Lia saya pagut, kumainkan lidahku dengan lidahnya. Aku mencicipi Lia sudah keluar beberapa kali, alasannya ialah saya merasa kepala batang kemaluanku ibarat tersiram oleh cairan hangat beberapa kali dari dalam lubang surga Lia.
Aku ganti posisi. Jika tadi saya yang di atas dan Lia yang di bawah, sekarang berbalik, saya yang di bawah dan Lia yang di atas. Lia ibarat kesetanan, bagaikan cowboy menunggang kuda, oh enak sekali rasanya di batang kemaluanku. Naik turun di dalam lubang surga Lia.
Sekian lama waktu berlalu, saya merasa puncak orgasmeku sudah dekat. Kubalik lagi posisinya, saya di atas dan Lia di bawah, kupercepat gerakan maju mundurku. Lalu saya peluk erat sekali tubuh kecil dalam dekapanku, kubenamkan seluruh batang kemaluanku. Aku menegang hebat.
“Crruttt… crruttt…”
Cairan maniku keluar aneka macam di dalam lubang kemaluan Lia, sedangkan Lia sudah mencicipi kelelahan yang amat sangat. Aku cabut batang kemaluanku yang masih tegang dari lubang kemaluan Lia.
Lia kubiarkan terbaring di sofa. Tanpa terasa, Lia eksklusif tertidur, saya bersihkan lubang kelaminnya dari cairan mani yang perlahan merembes keluar, kukenakan kembali semua pakaiannya, lalu kubopong gadis kecilku itu ke kamarnya.
Aku rebahkan tubuh mungil yang terkulai lelah dan sedang tertidur di daerah tidurnya sendiri, kemudian kucium keningnya. Terima kasih Lia atas kenikmatannya tadi. Malam pun tiba.
Keesokan harinya, Lia mengeluh karena masih merasa perih di vaginanya, untungnya Tante Linda tidak tahu. Hari berlalu terus. Sering kali saya melaksanakan olahraga senggama dengan Lia, tentunya tanpa sepengetahuan Oom Joko dan Tante Linda.
Kira-kira sudah berjalan setengah tahun lamanya, Lia sudah sangat pintar untuk ukuran gadis seusianya dalam melaksanakan olahraga senggama. Aku pun sangat memanjakannya, uang yang biasa kuhamburkan untuk membayar wanita malam, kuberikan ke Lia. Untuk menghindari kecurigaan orang tuanya, uang itu kubelikan hal-hal yang Lia suka, ibarat makanan, mainan dan masih banyak lagi.
Sekarang Lia sudah kelas 2 SMP, naik kelas dengan nilai yang bagus, apa yang kulakukan dengan Lia tidak menghipnotis belajarnya. Inilah yang membuat saya semakin sayang, dan hingga suatu saat, Tante Linda diharuskan pergi beberapa hari lamanya ke ibu kota untuk menemani Oom Joko menghadiri resepsi-resepsi ijab kabul dari rekan-rekan kerja Oom Joko yang kebetulan berurutan tanggalnya.
Aku ditinggal berdua di rumah dengan Lia, memang sudah terlalu biasa, sedikit bedanya ialah sekarang sudah super bebas, tidak mengkhawatirkan kalau-kalau Tante Linda pulang dari kerja.
Lia pernah menjanjikan kepadaku akan membawa teman-teman akrabnya main ke rumah untuk diajarkan olahraga senggama. Dan ketika yang sempurna ialah sekarang, dimana Tante Linda tidak akan ada di rumah untuk beberapa hari, dan Lia juga mulai libur karena kelasnya dipakai untuk testing uji coba siswa kelas 3.
Sangat kebetulan sekali kalau hari ini sabtu, sekolah Lia pulang sangat awal dikarenakan guru-guru sibuk menyiapkan materi untuk testing uji coba siswa kelas 3. Lia telpon ke kantorku, menanyakan apakah saya bisa pulang cepat atau tidak. Lia juga mengatakan kalau beliau membawa teman-temannya ibarat yang telah dijanjikannya.
Kontan saja mendengar kabar itu, saya eksklusif ijin pulang. Sebelum pulang ke rumah kusempatkan mampir ke apotik untuk membeli sejumlah obat-obatan yang kuperlukan nantinya, saya ingin penantian yang begitu lamanya, di hari ini akan terlaksana.
Sesampainya di rumah, benar saja, ada tiga gadis sobat erat Lia, mereka semua cantik-cantik. Tidak kalah cantik dengan Lia. Gadis pertama berjulukan Anna, wajahnya cantik, hidungnya mancung, rambutnya lurus potongan pendek, tubuhnya tidak terlalu kurus, senyumnya selalu menghiasi bibirnya yang sensual, payudaranya kelihatan belum tumbuh akan tetapi satu yang membuat saya heran, dari benjolan bajunya, kutahu kalau itu puting susunya Anna, sepertinya lumayan besar.
Tetapi masa bodo, yang penting miliknya bisa dinikmati. Anna ini sepertinya tomboy, wow, berpengaruh juga nih senggamanya, pikiran kotorku muncul mendadak.
Lalu gadis kedua berjulukan Indah, wajahnya ibarat Lia, hidungnya mancung, rambutnya lurus panjang sebahu, agaknya lumayan pendiam, tubuhnya sedikit lebih besar dibandingkan dengan Lia dan Anna, payudaranya sudah sedikit tumbuh, terlihat dari permukaan bajunya yang sedikit membukit, lumayan bisa buat diremas-remas, alasannya ialah tanganku sudah lama tidak meremas payudara montok.
Gadis yang ketiga, inilah yang membuatku terpana, namanya Devi. Ternyata Devi ini masih keturunan India, cantik sekali, rambutnya pendek, hidungnya sangat mancung, dan sepertinya sedikit cerewet. Tubuhnya sama dengan Lia, kecil dan imut, payudaranya kurasa juga belum tumbuh. Sekilas, puting susunya saja belum terlihat.
Aku pulang tidak lupa dengan membawa buah tangan yang sengaja kubeli, saya manjakan mereka semua sesuai dengan pesan Lia. Teman-temannya ingin melihat olahraga senggama yang sering Lia lakukan. Lia memang sedikit ceroboh, membocorkan hal-hal ibarat ini, tetapi Lia menjamin, karena ketiga gadis itu ialah sahabat sejatinya.
Singkat waktu, malam pun tiba. Ketiga gadis sobat Lia itu sudah berencana untuk menginap di rumah Lia, alasannya ialah besoknya ialah minggu, alias libur, seninnya juga masih libur dan lagi mereka pun sudah ijin kepada orang tuanya masing-masing untuk menginap di tempatnya Lia, alasannya menemani Lia yang ditinggal mamanya ke luar kota.
Pertama sekali, saya diperkenalkan Lia kepada ketiga temannya, dan tidak ada basa-basi ibarat apa yang kulakukan kepada Lia dulu. Aku meminta Lia memutarkan film Tarzan X kesukaannya kepada ketiga temannya itu.
Gadis-gadis kecil itu rupanya sudah menantikan. Menonton pun dengan konsentrasi tinggi layaknya sedang ujian. Aku takjub melihat mereka, dan justru cekikikan sendiri melihat cuilan demi adegan, sepertinya ketiga sobat Lia itu sudah pernah melihat yang sesungguhnya atau pemandangan yang nyata.
Setelah film usai, saya lalu beranikan diri bertanya ke mereka. Pertama sekali ialah ke Anna yang saya nilai paling berani.
“Anna, Oom penasaran, kayaknya Anna sering lihat olahraga begituan?” tanyaku penuh selidik.
“Iya benar kok Oom… Anna sering lihat olahraga begitu, terlebih kakak Anna sama pacarnya, mereka selalu berbuat begituan di rumah” jawab Anna jujur menjelaskan dan membenarkan.
“Hah? Masak sih di rumah..” tanyaku lagi dengan heran.
“Iya, bener kok Oom, alasannya ialah papa dan mama Anna kan ngga tinggal di sini” Anna menjawab keherananku.
“Oohhh…” saya hanya bisa manggut-manggut.
“Emang sih, Anna lihatnya dengan sembunyi-sembunyi, alasannya ialah merasa penasaran bersama-sama apa sih yang kakak Anna lakukan bersama pacarnya? Ternyata ibarat di film Tarzan itu Oom…” Anna menjawab dengan menerangkan tanpa merasa abnormal atau bahkan malu.
Lalu saya selanjutnya bertanya kepada Indah. Indah sedikit tergagap sewaktu kutanya, ternyata Indah sendiri sudah mengetahui hal begituan secara tidak sengaja sewaktu sedang menjemur pakaian di loteng rumahnya.
Indah bercerita, tanpa sengaja beliau melihat di halaman belakang tetangganya, ada yang sedang bermain ibarat yang dilakukan di dalam film Tarzan X tersebut. Intinya Indah tahu kalau titit itu bisa dimasukkan ke lubang wanita.
Terakhir saya bertanya ke Devi, dengan polosnya Devi mengungkapkan kalau beliau mengetahui hal-hal begituan dari melihat apa yang papa dan mamanya lakukan ketika malam hari. Sama ibarat dengan pengalaman Lia pertama kali melihat hal itu.
Setelah saya mendengar dongeng mereka, saya menawarkan, apakah mereka ingin melihat langsung, kompak sekali mereka bertiga menjawab ya. Lalu saya bertanya sekali lagi, apakah mereka ingin merasakannya juga, sekali lagi dengan kompaknya, mereka bertiga menjawab ya.
“Kalo begitu… Oom mulai sekarang ya…?” jantungku berdegup kencang karena girang yang tiada tara, saya tidak menduga akan semulus ini.
Aku karenanya melepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sesuai dengan rencana, saya akan memamerkan olahraga senggama itu berpasangan dengan Lia, dan sebetulnya Lia yang mempunyai wangsit merencanakan itu semua.
Anna, Indah dan Devi memandangi terus ke cuilan bawah tubuhku, apalagi kalau bukan batang kemaluanku yang sangat kubanggakan, hitam, panjang, besar, berotot, dan berdenyut-denyut. Lia sendiri sudah melepaskan seluruh pakaiannya.
Puting susu Lia sudah membenjol cukup besar karena sering kali kuhisap, dan oleh Lia sendiri sering ditarik-tarik ketika menjelang tidur. Payudaranya masih belum nampak mulai menumbuh. Untuk cuilan bawah, vagina Lia sudah sedikit berubah.
Dulunya hanya ibarat garis membujur, sekarang dari kemaluan Lia sudah mencuat bibir bibir berdaging, hal ini dikarenakan sudah sering kumasuki dengan batang kemaluanku tentunya, tetapi itu semua tidak mengurangi keindahan dan kemampuan empotnya (hisapan dan pijatan vagina).
Aku main tembak eksklusif saja kepada Lia, alasannya ialah saya tahu Lia sudah sangat berpengalaman sekali untuk hal beginian. Kupagut bibir Lia, tanganku memainkan puting susu dan liang nikmatnya, Lia sudah cepat sekali terangsang, kulepaskan pagutanku, lalu kuciumi puting susunya.
Kuhisap bergantian, kiri dan kanan. Anna, Indah dan Devi melihat caraku memainkan tubuh telanjang Lia, napas mereka bertiga mulai memburu, rupanya nafsu ingin ikut mencicipi telah menghinggapi mereka.
Sekian lama kuciumi dan hisap puting susu mungil yang sudah lumayan membenjol besar itu, saya memang sangat suka sekali menetek dan menghisap puting susu, terlebih bila melihat ibu muda sedang menyusui bayinya, ouw, pasti saya eksklusif terangsang hebat.
Setelah puas kuberkutat di puting susu Lia dengan ciuman dan hisapan mulutku, kualihkan ke liang senggama Lia, kalau dahulu Lia tidak bisa menahan puncak orgasmenya, sekarang sudah sedikit ada kemajuan.
Kuhisap dan kuciumi liangnya, Lia masih bisa menahan semoga tidak jebol, tidak lama saya mencicipi Lia sudah bergetar, kupikir kalau saya terlalu lama menghisap lubang senggamanya, Lia pasti tidak akan berpengaruh lagi menahan cairan maninya keluar, maka eksklusif saja kumasukkan batang kemaluanku yang sudah sangat tegang itu ke lubang kenikmatan Lia.
Aku tidak merasa kesulitan lagi untuk memasuki lubang vagina Lia, sudah begitu hapal, maka semua batang kemaluanku amblas ke dalam lubang senggama Lia.
Anna, Indah dan Devi melihat dengan sedikit melotot seolah tidak percaya batang kejantananku yang hitam, panjang dan sedemikian besarnya bisa masuk ke lubang senggama sobat mereka, yaitu Lia. Mereka bertiga mendesah-desah saya merasa mereka sudah ingin sekali mencicipi lubang kenikmatan mereka juga diterobos batang kejantananku.
Aku menggerakan maju mundur, mulai dari perlahan lalu bertambah cepat, kemudian berganti posisi, berulang kali sekitar 15 menit. Aku sudah mencicipi Lia akan mencapai puncak orgasmenya. Betul saja, tidak lama kemudian, Lia memelukku erat dan dari dalam lubang surganya saya mencicipi ada semprotan yang keras menerpa kepala kejantananku yang berada di dalam lubang vaginanya.
Banyak sekali Lia mengeluarkan cairan mani, Lia terkulai lemas, batang kejantananku masih gagah dan kokoh, memang saya sengaja untuk tidak menguras tenagaku berlebihan, target tiga vagina perawan yang menanti harus tercapai.
Lia kusuruh istirahat, Lia eksklusif menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh sekaligus beristirahat, selanjutnya kutawarkan ke Anna, Indah, dan Devi, siapa yang mau duluan. Sejenak mereka bertiga sepertinya ragu, lalu karenanya Anna yang mengajukan diri untuk mencoba.
“Bagus Anna, kau berani deh.” pujiku kepada Anna.
Tanpa berlama-lama, kusuruh Anna untuk membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, eksklusif saja Anna melaksanakan apa yang kusuruh, saya memandangi Anna yang mulai melepas pakaiannya satu persatu, hingga karenanya telanjang bulat.
Tubuh Anna putih bersih, apa yang tadi membuatku penasaran sudah terobati, puting susu Anna kunilai aneh, payudaranya memang belum tumbuh, akan tetapi puting susunya itu membenjol lumayan besar. Bentuknya unik dan gres kali ini saya melihatnya, bentuknya mengerucut tumpul, puting susu dan lingkaran hitam kecoklatannya menyatu dan meninggi.
Kata kamus ilmiah, puting susu berbentuk ibarat ini langka sekali dan kualitas sensitifnya sangat tinggi, bisa dikatakan sangat perasa sekali. Sedangkan vaginanya masih berupa garis, dengan cuilan sisinya sedikit membukit. Sepertinya vagina ini kenyal sekali dan super enak. Tidak tabah rasanya kuingin segera merasakannnya.
Aku eksklusif menciumi bibir Anna yang sensual itu, kupagut dengan mesra. Tanganku bergerak mengusap puting susu unik milik Anna. Benar saja, begitu telapak tanganku mengusap puting susunya, Anna merasa sangat terangsang.
“Ouwww… Oommm… enak sekali Oom..” Anna mengomentari apa yang dirasakannya.
Aku mencicipi puting susu Anna mulai menegang. Segera saja kulepaskan pagutanku di bibir Anna, saya merasa senang, rupanya Anna telah tanggap dengan apa yang kumau, dengan tangannya sendiri menjepit puting susunya dan menyodorkan kepadaku.
Maka dengan rakusnya, mulailah kuciumi dan kuhisap, Anna berkali-kali menjerit kecil. Rupanya puting susu Anna sangat perasa, tanganku tanpa sadar menyentuh kemaluan Anna, ternyata vagina Anna sudah berair dan banyak juga cairan maninya yang merembes keluar. Aku terus saja menyusu dan mengempot puting susu Anna, kiri dan kanan bergantian.
“Oomm… Anna kok ibarat mau pipis nih… Ada sesuatu yang mau keluar dari memek Anna nih…” Anna mengungkapkan apa yang akan terjadi.
“Tahan dikit dong…” jawabku.
Mendengar hal ini, kulepaskan hisapanku dari puting susu Anna, lalu mulutku beralih ke liang senggama Anna. Secara otomatis, Anna sudah mengangkangkan kedua kakinya, saya mencium aroma dahsyat dari liangnya Anna. Sungguh legit. Vagina Anna merah sekali dan sudah mengkilap, kujilati kemaluan yang berair itu, selanjutnya kuhisap dalam-dalam. Anna rupanya mengelinjang liar karena merasa nikmat.
“Oomm… Anna udah ngga berpengaruh lagi nihhh… aahhh…” jerit Anna seiring dengan tubunnya yang menegang.
Saat itu, mulutku masih menghisap lubang kemaluan Anna, saya mencicipi ada sesuatu yang menyemprot, rasanya asih dan gurih. Inikah cairan mani Anna karena sudah mencapai orgame pertamanya, tanpa pikir panjang kutelan saja cairan mani itu, kujilati dengan rakus. Kulihat juga buah klitoris Anna yang kecil mencuat berdenyut-denyut. Aku sendiri mencicipi sudah akan mencapai puncak orgasmeku.
“Anna.. Oom mau masukin titit Oom ke lubang memek Anna nih..” saya meminta ijin kepada Anna.
“Ya Oom, masukin saja, ayo dong cepat…” Anna rupanya sudah tidak tabah lagi ingin mencicipi batang kejantananku memasuki lubang surganya.
Kuarahkan kepala senjataku ke lubang senggamanya Anna, Anna tanpa diminta memegang batang kemaluanku dan membimbingnya memasuki lubang kemaluannya. Surprise, insting Anna jago juga nih pikirku, tanpa kesulitan, lubang vagina yang sudah banjir dengan cairan mani itu mendapatkan kepala kemaluan dan batang kemaluanku.
Lumayan sempit juga, untungnya tertolong oleh cairan mani dan pengertian Anna membimbing masuk batang kemaluanku sehingga saya tidak kerepotan ketika memasukannya.
“Blusss…” kutekan sepenuhnya, saya maju mundurkan dengan segera, perlahan, lalu cepat.
Aku merasa akan mencapai klimaksku, hisapan vagina Anna sungguh dahsyat. Ini yang membuatku tidak berpengaruh menahan cairan maniku untuk lama keluar. Anna memang berpengaruh sekali, saya mencicipi Anna berkali-kali menyemprotkan cairan maninya, mungkin ada lima kali lebih, akan tetapi Anna masih bisa mengimbangi gerakanku, hebatnya lagi, goyangan pantatnya. Oh edan, karenanya saya merasa tidak berpengaruh menahan lagi, kulihat Anna pun sudah akan mencapai orgasme puncaknya.
“Anna.. kita sama-sama keluarkan yaaa.. please sayang..” pintaku sambil sekuat tenaga menahan.
“Iiiiyaaa.. Oommm.. sekarang yaaa…” Anna berkata dengan bergetar.
Aku mengeram, tubuhku menegang, tubuh kecil Anna yang kutindih, kupeluk erat sekali.
“Crottt… crrruttt… aaahhh.. seerrr…” kukeluarkan cairan mani puncak orgasmeku di dalam lubang kemaluan Anna yang sempit itu.
Karena banyaknya cairan mani di dalam lubang senggama Anna, lubang kelamin itu tidak bisa menampung semua, maka merembes dengan derasnya cairan mani itu keluar dari lubang senggama, cairan maniku yang bercampur dengan cairan mani Anna. Kucabut batang kemaluanku yang masih cukup tegang dari lubang kemaluan Anna, batang kejantananku sangat mengkilap, ibarat habis di pernis.
Indah dan Devi, tanpa sepengetahuanku ternyata telah telanjang bulat, rupanya mereka berdua tidak tahan melihat pergulatanku yang cukup lama dengan Anna. Memang kuakui Anna sangat kuat, cewek tomboy ternyata benar-benar jago permainan senggamanya.
Apa yang dikatakan orang memang bukan isapan jempol, saya sudah membuktikannya hari ini lewat gadis kecil berjulukan Anna. Kupikir kalau gadis tomboy yang sudah matang pasti akan lebih berpengaruh lagi.
Kulihat juga Lia sudah selesai membersihkan tubuh dan sekarang dengan penuh pengertian sibuk di dapur untuk membuat makanan. Anna yang masih terkulai lemas, kusuruh untuk mandi dulu dan istirahat, lalu setelah itu kusuruh juga untuk membantu Lia di dapur.
Indah dan Devi dengan telanjang lingkaran telah menghampiriku, dari pandangan mata mereka seolah meminta giliran. Aku bersama-sama merasa kasihan, saya masih cukup lelah untuk memulainya lagi. Kupikir kalau kubiarkan mereka terlalu lama menanti, pastilah akan membuat mereka kehilangan gairah nantinya, karenanya kuminum obat yang kubeli tadi di apotik.
Kuminum 6 pil sekaligus, reaksi obat ini sangat cepat, badanku merasa panas. Melihat tubuh-tubuh kecil telanjang lingkaran milik Indah dan Devi, batang kemaluanku yang tadinya loyo sekarang tegang dan mengacung-ngacung, gairahku lebih membara lagi.
Indah seingatku tadi masih menggunakan pakaian lengkapnya, sekarang sudah telanjang bulat, sungguh saya mengagumi tubuhnya, payudaranya sedikit menumbuh dan membukit, puting susunya kecil, mungil, coklat kehitaman telah menegang sehingga meruncing, lubang kemaluannya pun kulihat sudah berair menunggu penantian.
Lalu Devi, yang juga tadi masih kulihat berpakaian lengkap, sekarang telah telanjang lingkaran pula. Devi memang lain sendiri dibandingkan Anna, Lia dan Indah, mungkin karena masih keturunan India, akan tetapi Devi juga yang paling muda sendiri.
Usianya selisih satu tahun lebih muda dibandingkan Anna, Indah maupun Lia. Jelas sekali dengan kurun usia relatif sangat muda, pertumbuhan payudaranya belum ada sama sekali, puting susunya juga belum menampakkan benjolan yang berarti, masih rata dengan dada.
Tetapi karena terangsang, rupanya menjadi sedikit meruncing. Lalu vaginanya pun masih biasa saja, kesimpulanku Devi masih imut sekali. Mungkin satu tahun ke depan gres ada perubahan, saya bersama-sama tidak tega untuk menerobos keperawanannya sekarang, tetapi apa komentarnya nanti, pastilah dikatakan olehnya tidak adil, bahkan yang kukuatirkan ialah Devi nantinya akan marah dan dongeng wacana hal ini kepada orang lain.
Dalam waktu yang bersamaan, kurengkuh dua gadis kecil itu sekaligus. Kupagut bibir Devi, kuciumi leher dahi dan tengkuknya. Devi merasa enak dan geli, sedangkan Indah, puting susu dan payudaranya kuusap-usap dengan tanganku, payudaranya yang sudah cukup membukit menjadikan tanganku bisa meremasnya.
Indah mendesah keenakan. Aku minta ke Indah untuk memijat-mijat batang kemaluanku, ternyata Indah pandai juga memijat. Batang kejantananku semakin menegang. Pijatan Indah sungguh enak sekali, apalagi remasan tangganya di buah kejantananku.
Selanjutnya, kulepaskan pagutanku di bibir Devi, kulanjutkan dengan menghisap puting susu Devi yang meruncing kecil. Devi menggelinjang keenakan, kujilati dan kubuat cupang aneka macam di dada Devi, hingga karenanya saya beralih ke liangnya Devi yang sangat imut, kemaluan ini sama ibarat kepunyaan belum dewasa kecil yang sering kulihat mandi di sungai.
Tetapi, ah masa bodo. Devi kegelian ketika kumulai menciumi, menjilat dan menghisap vaginanya itu. Kukangkangkan kedua kaki Devi, maka terkuaklah belahan kemaluan dengan lubang yang sangat sempit. Jika kuukur, lubang kemaluan itu hanya seukuran pulpen kecil. Aku sempat gundah, apakah batang kejantananku bisa masuk? Tetapi akan kucoba, kuyakin lubang surga itu kan elastis, jadi bisa menampung batang kemaluan sebesar apapun.
Devi merasa sangat keenakan ketika kumainkan kemaluannya, berkali-kali Devi orgasme. Cairan maninya sungguh wangi. Setelah puas memainkan vagina Devi, kuminta Devi bersiap, sedangkan Indah kusuruh berhenti memainkan buah zakar dan batang kemaluanku.
Lalu kupagut bibir Indah sebentar, kemudian kuciumi leher dan tengkuknya. Indah mendesah, tidak berapa lama, kuberalih ke payudara dan puting susu Indah. Kuciumi dan hisap dengan penuh nafsu, payudara yang gres membukit itu kuremas-remas dengan gemas.
Puting susunya yang kecil itu kuhisap dan kusedot. Aku menyusu cukup lama, vagina Indah yang sudah berair pun tidak luput dari hisapanku. Devi sudah menunggu-nunggu, menantikan batang kemaluanku memasuki lubang nikmat kecilnya.
Segera saja kuselesaikan hisapanku di lubang kemaluan Indah. Kurasa dengan lubang kemaluan Indah, saya tidak akan merasa kesulitan, lubang kemaluan Indah kunilai sama dengan punya Anna dan Lia waktu pertama kali dimasuki batang kejantananku. Yang kupikir, kesulitannya ialah lubang vagina Devi, selanjutnya kusuruh Indah untuk berkemas-kemas juga.
Kuludahi batang kemaluanku semoga licin, lalu kuarahkan perlahan kepala kemaluanku itu ke lubang surganya Devi. Kutekan sedikit, meleset, kuposisikan lagi, tekan lagi, tetap saja meleset, tidak mau masuk. Untunglah Anna dan Lia datang, mereka berdua tanggap dengan kesulitan yang kuhadapi. Lia dengan sigap menepiskan kedua sisi vagina Devi dengan kedua sisi telapak tangannya.
Lubang senggama Devi bisa terkuak, kucoba masukkan lagi, ternyata masih meleset juga, Anna yang melihat hal itu tanpa ragu-ragu juga ikut turun membantuku. Anna mengulurkan jari tanggannya, memijat cuilan atas dan bawah lubang senggama Devi, sehingga secara elastis lubang kemaluan Devi bisa lebih terkuak sedikit. Aku berkonsentrasi memasukkan kepala kejantananku ke lubang senggama Devi itu.
Kepala kemaluanku dengan sedikit kupaksakan, bisa masuk ke lubang surganya Devi, kutahu Devi merasa kesakitan. Devi hanya meringis dan dari sudut matanya meleleh air matanya. Indah yang dari tadi menunggu giliran lubang senggamanya ditembus batang kejantananku, karena mengetahui bahwa saya mengalami kesulitan, karenanya ikutan pula membantuku memuaskan Devi.
Tanpa malu-malu, Indah menyodorkan puting susunya ke lisan Devi, layaknya ibu kepada bayinya yang minta susu. Devi mengulum puting susu Indah dengan kuat. Indah mencicipi kalau puting susunya digigit oleh Devi, Indah membisu saja, hanya sedikit menyeringai, menahan sakit tentunya.
Aku menekan terus, sehingga sudah separuh batang kejantananku masuk ke dalam lubang senggama Devi. Kepala kemaluanku bagaikan disetrum dan dihisap oleh suatu tenaga yang luar biasa mengenakan. Kutekan sekuat tenaga, dan “Blusss…”
Masuknya seluruh batang kejantananku ke dalam lubang kemaluan Devi diiringi dengan dua jeritan. Yang pertama ialah jeritan Devi sendiri karena merasa sakit dan enak, matanya hingga meram melek, kadang membelalak. Satunya lagi ialah jeritan Indah, alasannya ialah tanpa Devi sadari, Devi telah menggigit keras puting susu Indah yang masih dikulumnya itu.
Anna dan Lia hanya tersenyum-senyum saja, kubiarkan batang kejantananku membenam di dalam lubang senggama Devi. Kurasakan empotan-empotan vagina Devi. Setelah sekian lama saya menikmati, kumundurkan pantatku, ternyata bibir kemaluan Devi ikut tertarik.
Bibir kemaluan Devi mengikuti gerakan pantatku, begitu saya mundurkan maka bibir kemaluan Devi akan mencuat ke atas karena ikut tertarik. Sebaliknya, kalau kumajukan lagi pantatku, maka bibir kemaluan Devi pun ikut mencuat ke bawah dan terbenam. Sungguh fantastis, saya tidak menyesal mencicipi enaknya yang luar biasa.
Kupercepat gerakan maju mundurku, semakin lama saya mencicipi lubang senggama Devi membasah dan membanjir. Lorong lubang vagina Devi pun semakin licin, tetapi tetap saja sempit, hingga karenanya Devi terkuras tenaganya dan tidak bisa mengimbangiku mencapai puncak kenikmatan. Tubuh Devi berkali-kali menegang.
“Oommm… Devi pipis lagi… ahhh…” desahnya.
Cairan mani putih dan hangat milik Devi merembes deras keluar dari celah-celah lubang kemaluannya yang masih disumpal oleh batang kejantananku.
Devi sudah lelah sekali, saya pun sudah mulai bergetar menerangkan puncakku pun sudah dekat, maka kucabut saja batang kemaluanku dari lubang senggama Devi.
Begitu kucabut, terdengar bunyi, “Ploppp…” ibarat bunyi batang pompa dikeluarkan dari pipanya.
Devi kusuruh istirahat, ternyata Devi suka menyusu juga, karena puting susu Indah ternyata masih dikulumnya. Devi manja tidak mau melepaskan, hingga akhirnya, Anna yang sedang duduk-duduk berkata.
Situs poker online
“Eh Vi… udah dong neteknya, kasihan tuh Indah, kan sekarang gilirannya dia.” Anna mengingatkan,
“Besok-besok kan masih bisa lagi…” tambah Anna.
“Iya-iya… saya tahu kok…” Devi karenanya menyadari, lalu melepaskan puting susu Indah dari mulutnya.
“Vi… nih kalo mau… puting susuku juga boleh kau isepin sepuasnya…” ujar Anna sambil memijat-mijat sendiri puting susunya yang membenjol paling besar sendiri.
Devi mau saja memenuhi permintaan Anna, maka kulihat Devi begitu rakusnya mengulum dan menyedot puting susu Anna. Kadang Devi nakal, menggigit puting susunya Anna, sehingga Anna menjerit kecil dan marah-marah.
Setelah lepas dari Devi, Indah kemudian menempatkan diri dan bersiap-siap. Indah mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, sehingga terkuaklah lubang senggamanya yang sudah cukup berair karena cairan mani yang meleleh dari dinding di lubang vaginanya.
Betul juga, saya berusaha tanpa melalui kesulitan, berhasil memasuki lubang senggama Indah, ibarat halnya saya pertama kali menerobos lubang kemaluan Lia dan Anna. Kumasukkan batang kejantananku seluruhnya ke dalam lubang kenikmatan Indah.
Indah menahan perih, karena keperawanannya gres saja kutembus. Tetapi karena sudah sangat bernafsunya, maka rasa perih itu tidak dirasakannya lagi, yang ada hanyalah rasa enak, geli dan nikmat. Indah meram melek mencicipi adanya batang kejantananku di dalam lubang senggamanya.
“Oom Agus, gerakin dong…” Indah memintaku untuk segera memulai.
“Baik Indah, Oom minta Indah imbangi Oom ya…!” Indah tidak menjawab tetapi hanya manggut-manggut.
Kumulai saja gerakan maju mundur pantatku, batang kemaluanku masuk dan keluar dengan leluasanya, pertama dengan perlahan dan kemudian kupercepat. Indah sudah banyak berguru dari melihat eksklusif permainanku tadi dengan Lia, Anna, maupun dengan Devi. Indah memutar-mutar pantatnya sedemikian rupa. Aku merasa kalau Indah yang pendiam ternyata mempunyai nafsu yang besar. Kurasa Indah akan lebih berpengaruh mengimbangiku.
Betul juga dugaanku Indah memang berpengaruh juga, setelah hampir seperempat jam kuberpacu, Indah masih belun juga mengeluarkan cairan maninya, sedangkan saya sendiri memang masih bisa menahan puncak orgasmeku, disebabkan saya telah minum obat dopping 6 pil sekaligus.
“Ayoooo Oomm… Indah merasa enakkk… terusiiinnn…” Indah kembali meracau.
Kuteruskan memacu, saya heran, kenapa Indah bisa selama ini, padahal Indah gres pertama kali mencicipi nikmatnya senggama.
“Indah… kau kok berpengaruh sekali sih…?” tanyaku sambil terus memacu.
“Ini berkat obat Oom lhoooo…” jawab Indah bersemangat sambil memutar-mutarkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, sedangkan kedua tangannya meremas-remas payudaranya sendiri dan sesekali menarik-narik puting susunya yang masih menegang.
Aku kaget juga mendengar legalisasi Indah, hingga saya berhenti melaksanakan gerakan. Ternyata Indah meminum obatku juga, terperinci saja.
“Kok berhenti Oom… gantian Indah yang di atas ya?” kata Indah lagi.
Aku membisu saja, kami berganti posisi. Kalau tadi Indah dalam posisi saya tindih, sekarang Indah yang berada di atas dan menindihku. Indah menaik-turunkan pantatnya, maju mundur, perlahan dan cepat, kadang berposisi ibarat menunggang kuda, liar dan binal.
Permainan dalam posisi Indah di atas dan saya di bawah, ternyata menarik perhatian Lia. Dari tadi Lia memang hanya melihat pergulatanku dengan Indah.
“Oom Agus… masa sih kalah sama Indah…” sindir Lia kepadaku.
“Ngga dong… damai saja Lia…” jawabku membela diri.
Kulihat juga Devi rupanya menyudahi acara menyusunya dari puting susu Anna. Mereka bertiga rupanya tertarik menontonku. Kadang berkomentar yang membuatku tersenyum.
“Yaccchhh… Oom Agus ngga adil… Oom Agus curang, sama Indah bisa selama ini, sama Anna kok cepet sekali.” Anna memprotes.
“Lho, kan Anna tadi sudah kecapean, maka Oom suruh istirahat, dan cuma Indah sendiri yang belon capek nih…” lanjutku.
Indah sudah berkeringat banyak sekali, saya mencicipi ada cairan hangat yang merembes di batang kejantananku. Aku sendiri mulai merasa adanya desakan-desakan dari pangkal kemaluanku.
“Oomm… Indah udah ngga berpengaruh nahannya nih… sshh heehh…” kata Indah sepertinya menahan.
Mendengar ini, eksklusif saja kuganti posisi lagi. Aku kembali di atas dan Indah di bawah, kupercepat gerakanku hingga maksimal.
“Oommmm… Indahhh… aaakkkhhhh… hekkksss aahhh…” Indah menjerit histeris.
Tubuhnya menegang dan memelukku dengan erat, rupanya Indah telah mencapai puncak nikmatnya, dari dalam lubang senggamanya menyemprot berkali-kali cairan maninya yang hangat menyiram kepala kejantananku yang masih berada di dalam lubang vaginanya.
Lubang kemaluan Indah dibanjiri oleh cairan maninya sendiri, becek sekali vagina Indah. Batang kejantananku hingga terasa licin, sehingga menjadikan bunyi berdecak. Indah sudah tidak bisa mengimbangiku, padahal saya dalam keadaan hampir sampai, katakanlah menggantung.
Kucabut saja batang kemaluanku dari lubang senggama Indah, lalu kutarik Devi yang sedang duduk bengong, kusuruh Devi tidur telentang dengan kaki di kangkangkan. Devi tahu maksudku. Segera saja Devi melaksanakan apa yang kusuruh. Anna dan Lia eksklusif riuh berkomentar.
“Yacchhh Oom Agus, kok Devi sih yang dipilih…” rungut Anna.
Sedangkan Lia hanya tersenyum kecut sambil berkata, “Ayoooo Oomm… cepetan dong… habis ini kita makan… Lia udah buat capek-capek tadi.” sambil menyuruhku menyelesaikan finalnya.
Aku ibarat terhenyak. Segera saja kumasukkan batang kejantananku ke lubang senggamanya Devi yang masih merah. Beruntung sekali, lubang senggama itu masih berair oleh cairan mani, sehingga hanya dengan kupaksakan sekali saja eksklusif masuk.
Lubang kemaluan Devi yang begitu sempit memijat jago dan menghisap batang kejantananku. Aku ingin menyelesaikan puncak orgasmeku secepatnya. Makin kupacu gerakanku. Devi yang tadinya sudah hirau taacuh dan kurang garang eksklusif terangsang lagi. Tidak hingga lima menit, saya memeluk erat tubuh kecil Devi dan kumuncratkan cairan maniku di dalam lubang senggama Devi.
“Aaahhh… hiaaahhh… Cruuutttt… Crottt…”
Cairan maniku banyak sekali. Aku eksklusif lemas seketika. Batang keperkasaanku pun sudah mulai loyo, sungguh pergulatan yang hebat. Aku dikeroyok oleh empat gadis kecil dengan hisapan lisan senggamanya yang luar biasa.
Kucabut batang kejantananku dari lubang nikmatnya Devi. Kemudian kuajak Devi dan Indah mandi sekalian denganku. Habis mandi kami makan bersama, lumayan enak makanan buatan Anna dan Lia.
Setelah makan, saya mengevaluasi dan bercakap-cakap dengan gadis-gadis kecil itu. Ternyata Anna, Lia, Indah dan Devi masih bersemangat dan mereka mengajakku melakukannya lagi. Aku terpaksa menolak, kelihatan sekali mereka kecewa.
Untuk mengobati rasa kecewa mereka, kuberikan kepada mereka kaset BF wacana lesbian untuk ditonton. Isi ceritanya wacana kekerabatan tubuh wanita dengan wanita yang saling memberi rangsangan. Aku hanya mengawasi saja, hingga karenanya mereka mempraktekkan apa yang gres saja mereka tonton.
Aku dikelilingi oleh gadis-gadis kecil yang haus sex. Besok harinya, kebetulan ialah hari minggu, saya memuaskan gadis-gadis kecil itu dalam berolahraga senggama, hingga saya merasa sangat kelelahan, sehari ahad itu saya bercinta dengan gadis-gadis kecil. Betul-betul enak.
Kejadian ini berlangsung lama. Aku lah yang membatasi diri terhadap mereka, hingga karenanya mereka mengalami yang namanya masa datang bulan, dan mereka juga mengerti kalau apa yang kusebut olahraga ternyata ialah kekerabatan sex yang bisa untuk membuat adik bayi, tetapi mereka tidak menyesal. Makara kalau akan melaksanakan senggama, kutanyakan dulu jadwal mereka. Aku tidak ingin mereka hamil. Anna, Lia, Indah maupun Devi karenanya mengetahui kapan masing-masing akan mendapatkan jatahnya.
Setelah mereka berempat duduk di dingklik SMU kelas 2, bisa dikatakan telah beranjak berilmu balig cukup akal dan matang, begitu juga umurku sudah menjadi 36 tahun. Aku sudah menjalin kekerabatan serius dengan wanita rekan sekerjaku, lalu saya menikahinya dan saya membeli rumah sendiri, tidak lagi kost di daerah Lia. Anna, Lia, Indah dan Devi pun sudah mempunyai pacar, tetapi mereka tidak mau melaksanakan kekerabatan senggama dengan pacarnya. Mereka hanya mau berbuat begitu denganku saja.
Karena saya sudah beristri, mereka pun memahami posisiku. Hubunganku dengan mereka tetap terjalin baik. Istriku juga menganggap mereka gadis-gadis yang baik pula, saya pun berterus terang kepada istriku mengenai apa yang sudah kualami bersama gadis-gadis itu.
Istriku memakluminya, saya sangat mencintai istriku. Akan tetapi istriku kurang bisa memenuhi kebutuhan seksku yang memang sangat tinggi. Karena istriku mengetahui kekurangannya, lalu istriku yang bijaksana mengijinkan Anna, Lia, Indah, dan Devi untuk tetap bermain seks denganku.
Pernah dalam semalam, saya melayani lima wanita sekaligus, Anna, Lia, Indah, Devi dan istriku sendiri. Dari keempat gadis kecil itu, yang paling sering menemaniku dan istriku bersenggama hanyalah Anna dan Lia. Untuk Anna, disebabkan selain orang renta dan kakak Anna tidak tinggal di kota ini, Anna takut tinggal sendiri di rumah besarnya.
Hampir tiap hari Anna menginap di tempatku. Untunglah para tetanggaku menduga kalau Anna ialah keponakan istriku. Sedangkan Lia, masih tetap ibarat dahulu, papanya bekerja di ibukota dan mamanya masih bekerja di otomotif, kadang justru tidak pulang, jadi kalau begitu, Lia ikut pula menginap di rumahku. Tante Linda masih percaya penuh kepadaku. Walaupun sepertinya mengetahui hubunganku dengan anak gadisnya, saya kalem saja.