Showing posts sorted by relevance for query kumpulan-cerita-seks-ayah-tiriku-yang. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query kumpulan-cerita-seks-ayah-tiriku-yang. Sort by date Show all posts

Kumpulan Cerita Seks Ayah Tiriku Yang Bejat

Kumpulan Cerita Seks 2019 - Ayahku sudah sekitar 3 tahun meninggal dunia, meninggalkan ibu dan anak-anak, saya dan adikku Charles yang masih kecil. Kini Charles sudah duduk di kelas 8 SD sedang saya sudah tamat SMU, mulai kuliah di Akademi Pariwisata dan Perhotelan. Meski mendapatkan dana pensiun tetapi amat kecil jumlahnya.

Maklum, ayahku hanya pegawai kecil di Pemda KMS. Untuk menyambung hidup dan membiayai sekolahku dan Charles, ibuku terpaksa membuka toko jamu di samping rumah. Lumayan, sebab yaitu selain jualan jamu ibu juga menjual rokok, permen, alat-alat tulis, pakaian belum dewasa dan sebagainya. Tentu saja, saya membantu ibu dengan sekuat tenaga. Siapa lagi yang sanggup membantu ia selain aku?

Charles masih terlalu kecil untuk sanggup membantu dan mengerti ihwal kesulitan hidup. Meski usia ibu sudah berkepala empat tetapi masih anggun dan bentuk tubuhnya masih molek dan menarik. Maklum ibu memang suka memelihara tubuhnya dengan jamu Jawa. Selain itu, sejak muda ibu memang cantik. Ibuku blasteran, ayahnya belanda dan Ibu Sunda. Ayahku sendiri dari suku Ambon tetapi kelahiran Banyumas. Ia lebih Jawa ketimbang Ambon, meski namanya Ambon. Selama hidup sampai meninggal ayah bahkan belum pernah melihat Ambon.

Ayah meninggal karena kecelakaan bus ketika bertugas di Jakarta. Bus yang ditumpanginya ngebut dan nabrak truk tangki yang memuat materi bakar bensin. Truk dan bus sama-sama terbakar dan tak ada seorang penumpangpun yang selamat termasuk ayahku.

Sejak itu, ibuku menjanda sampai tiga tahun lamanya. Baru setahun yang kemudian rahasia ibu pacaran dengan duda tanpa anak, sobat sekantor ayahku dulu. Namanya Sutoyo, usianya sama dengan ibuku, 42 tahun. Sebenarnya saya sudah curiga, sebab yaitu Pak Toyo (aku memanggil-nya “Pak” karena sobat ayahku) yang rumahnya jauh sering tiba minum jamu dan ngobrol dengan ibuku. Lama-lama mereka jadi akrab dan lebih banyak ngobrolnya daripada minum jamu. Kecurigaanku terbukti ketika pada suatu hari. ibu memanggilku dan diajaknya bicara secara khusus.
“Begini Cyn”, kata ibu waktu itu.
“Ayahmu kan sudah tiga tahun meninggalkan kita, sehingga ibu sudah cukup lama menjanda.”

Aku langsung sanggup menebak apa yang akan dikatakan ibu selanjutnya. Aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui betapa sepinya ibu ditinggal ayah. Ibu masih muda dan cantik, tentunya ia butuh seseorang untuk mendampinginya, melanjutkan kehidupan. Aku sadar sebab yaitu saya juga perempuan meski belum pernah menikah.

“Ibu tak sanggup terus menerus hidup sendiri. Ibu butuh seseorang untuk mendampingi ibu dan merawat kalian berdua, kamu dan adikmu masih butuh perlindungan, masih butuh kasih sayang dan tentu saja butuh biaya untuk melanjutkan studi, kalian demi ibu sudi menikah kembali dengan Pak Toyo dengan harapan masa depan kalian lebih terjamin.
Kamu mengerti?” begitu kata ibu.
“Ibu mau menikah dengan Pak Toyo?” saya langsung saja memotongnya.
“Tidak apa-apa kok Bu, Pak Toyo kan orang baik, duda lagi. Apalagi beliau kan bekas sobat ayah dulu!”.
“Rupanya kamu sudah cukup dewasa untuk sanggup membaca segala sesuatu yang terjadi sekelilingmu, Cyn”, ibu tersenyum. “Kamu benar-benar mirip ayahmu.”

Tak berapa lama kemudian ibu menikah dengan Pak Toyo dengan sangat sederhana dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat. Sesudah itu ibu diboyong ke rumah Pak Toyo, dan rumah kami, kios dan segala isinya menjadi tanggung jawabku. Ibu tiba pagi hari sehabis kios saya buka dan pulang sore hari dijemput Pak Toyo sepulangnya dari kantor.

Kehidupan kami senang dan biasa-biasa saja sampai pada suatu hari, sekitar empat bulan sehabis ibu menikah, suatu peristiwa di rumah tangga terjadi tanpa setahu ibuku. Aku memang sengaja diam dan tidak membicarakan insiden itu kepada ibuku, saya tidak ingin melukai perasaannya. Aku terlalu sayang pada ibu dan biarlah kutanggung sendiri.

Kejadian itu bermula ketika saya sedang berada di rumah ibuku (rumah Pak Toyo) mengambil beberapa barang dagangan atas suruhan ibu. Hal tersebut biasa kulakukan apabila saya sedang tidak kuliah. Bahkan saya juga sering tidur di rumah ibuku bersama adik. Tak jarang sehari penuh saya berada di rumah ibu ketika ibu berada di rumah kami menjaga kios jamu.

Kadangkala saya memang butuh ketenangan berguru ketika sedang menghadapi ujian semester. Rumah ibu Sepi di siang hari sebab yaitu Pak Toyo bekerja dan ibu menjaga kios, sementara di rumah itu tidak ada pembantu. Siang itu ibu menyuruhku mengambil beberapa barang di rumah Pak Toyo karena persediaan di kios habis. Ibu memberiku kunci semoga saya sanggup masuk rumah dengan leluasa. Tetapi ketika saya tiba ternyata rumah tidak dikunci sebab yaitu Pak Toyo ada di rumah. Aku sedikit heran, kenapa Pak Toyo pulang kantor begitu awal, apakah sakit?
“Lho, Bapak kok sudah pulang?” tanyaku dengan sedikit heran. “Sakit ya Pak?”.
“Ah tidak”, jawab Pak Toyo.” Ada beberapa surat ketinggalan. kamu sendiri kenapa kemari? Disuruh ibumu ya?”.
“Iya Pak, ambil beberapa barang dagangan”, jawabku biasa-biasa saja. Seperti biasa saya terus saja nyelonong masuk ke ruang dalam untuk mengambil barang yang kuperlukan.

Tak kusangka, Pak Toyo mengikutiku dari belakang. Ketika saya sudah mengambil barang dan hendak berbalik, Pak Toyo berdiri begitu akrab dengan diriku sehingga hampir saja kami bertubrukan. Aku kaget dan lebih kaget lagi ketika tiba-tiba Pak Toyo memeluk pinggangku. Belum sempat saya protes, Pak Toyo sudah mencium bibirku, dengan lekatnya.

Barang dagangan terjatuh dari tanganku ketika saya berusaha mendorong tubuh Pak Toyo semoga melepaskan tubuhku yang dipeluknya erat sekali. Tetapi ternyata Pak Toyo sudah kerasukan setan jahanam. Ia sama sekali tak menghiraukan doronganku dan bahkan semakin mempererat pelukannya. Aku tak berhasil melepaskan diri. Pak Toyo menekan tubuhku dengan tubuhnya yang besar dan berat. Aku mau berteriak tetapi tiba-tiba ajudan Pak Toyo menutup mulutku.
“Kalau kamu berteriak, semua tetangga akan berdatangan dan ibumu akan sangat malu”, katanya dengan bunyi serak.
Nafasnya terengah-engah menahan nafsu. “Berteriaklah semoga kita semua malu!”

Aku jadi ketakutan dan tak berani berteriak. Rasa takut dan kasihan kepada ibu membuat saya luluh. Pikirku, bagaimana jikalau sampai orang lain tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang diperbuat suami ibuku terhadapku.

Belum lagi saya jernih berpikir Pak Toyo menyeretku masuk ke kamar tidur dan mendorongku sampai jatuh telentang di tempat tidur. Dengan garangnya Pak Toyo menindih tubuhku dan menciumi wajahku. Sementara tangannya yang kanan tetap mendekap mulutku, tangan kirinya mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Benda kecil licin segera dipaksakan masuk ke dalam mulutku. Benda kecil yang ternyata kapsul lunak itu pecah di dalam lisan dan terpaksa tertelan. Setelah menelan kapsul itu mataku jadi berkunang-kunang, kepalaku jadi berat sekali dan anehnya, gairah seksku timbul secara tiba-tiba. Jantungku berdebar keras sekali dan fatwa darahku terasa amat cepat. Entah bagaimana, saya pasrah saja dan bahkan begitu mendambakan sentuhan seorang lelaki. Gairah itu begitu memuncak dan menggebu-gebu itu tiba secara tiba-tiba menyerang seluruh tubuhku.

Samar-samar kulihat wajah Pak Toyo menyeringai di atasku. Perlahan-lahan ia berdiri dan melepaskan seluruh pakaianku. Kemudian ia membuka pakaiannya sendiri. Aku tak sanggup menolak. Diriku mirip terbang di awang-awang dan meski tahu apa yang sedang terjadi, tetapi sama sekali tak ada niat untuk melawan.

Begitu juga ketika Pak Toyo yang sudah tak berpakaian menindih tubuhku dan menggerayangi seluruh badanku, saya pasrah saja. Bahkan ketika saya merasakan suatu benda asing memasuki tubuhku, saya tak sanggup berbuat apa-apa. Tak kuasa untuk menolak, karena saya merasakan kenikmatan luar biasa dari benda asing yang mulai menembus dan bergerak-gerak di dalam liang kewanitaanku. Kesadaranku entah berada di mana. Hanya saja saya tahu, apa yang sedang terjadi pada diriku, Aku telah diperkosa Pak Toyo!

Ketika siuman, kudapati diriku telentang di ranjang Pak Toyo (yang juga ranjang ibuku) tanpa busana. Pakaianku acak-acakan di bawah ranjang. Sprei morat-marit dan kulihat bercak darah di sprel itu. Aku menangis…, saya sudah tidak perawan lagi! Aku sudah kehi1angan apa yang paling bernilai dalam hidup seorang wanita. Aku merasa jijik dan kotor. Aku berdiri dan cuilan bawah tubuhku terasa sakit sekali…, nyeri! Tetapi saya tetap berusaha berdiri dan dengan tertatih-tatih berjalan ke kamar mandi. Kulihat jam dinding, Wah…, Sudah tiga jam saya berada di rumah itu. Aku harus segera pulang semoga ibu tidak menunggu-nunggu. Aku segera mandi dan membersihkan diri serta berdandan dengan cepat.

Kuambil barang dagangan yang tercecer di lantai dan segera pulang. Pak Toyo sudah tidak kelihatan lagi, mungkin sudah kembali ke kantor. Kubiarkan ranjang morat-marit dan sprei berdarah itu tetap berada di sana. Aku tak peduli. Hatiku sungguh hancur lebur. Kebencianku kepada Pak Toyo begitu dalam. Pada suatu saat, saya akan membalasnya.
“Kok lama sekali?” tanya ibu ketika saya datang.
“Bannya kempes Bu, nambal dulu!” jawabku sambil mencoba menutupi perubahan wajahku yang tentu saja pucat dan malu. Kuletakkan barang dagangan di meja dan rasanya ingin sekali saya memeluk ibu dan memohon maaf serta menceritakan apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku.

Tetapi hati kecilku melarang. Aku tak ingin membuat ibu murung dan kecewa. Aku tak ingin ibuku kehilangan kebahagiaan yang baru saja didapatnya. Aku tak kuasa membayangkan bagaimana hancurnya hati Ibu bila mengetahui apa yang telah dilakukan suaminya kepadaku. Biarlah Untuk sementara kusimpan sendiri kepedihan hati ini.

Dengan alasan hendak ke rumah teman, saya mandi dan membersihkan diriku (lagi). Di kamar mandi saya menangis sendiri, menggosok seluruh tubuhku dengan sabun berkali-kali. Jijik rasanya saya terhadap tubuhku sendiri. Begitu keluar dan kamar mandi saya langsung dandan dan pamit untuk ke rumah teman. Padahal saya tidak ke rumah siapa-siapa. Aku larikan motorku keluar kota dan memarkirnya di tambak yang sepi. Aku duduk menyepi sendiri di sana sambil menguras air mataku.
“Ya Tuhan, ampunilah segala dosa-dosaku” ratapku seorang diri.

Baru sore menjelang magrib saya pulang. Ibu sudah dijemput Pak Toyo pulang ke rumahnya sehingga saya tak perlu bertemu dengan lelaki bejat itu. Kios masih buka dan adik yang menjaganya. Ketika saya pulang, saya yang menggantikan menjaga kios dan adik masuk untuk belajar.

Untuk beberapa hari lamanya saya sengaja tidak ingin bertemu Pak Toyo. Malu, benci dan takut bercampur aduk dalam hatiku. Aku sengaja menyibukkan diri di belakang apabila pagi-pagi Pak Toyo tiba mengantar ibu ke kios. Sorenya saya sengaja pergi dengan banyak sekali alasan ketika Pak Toyo menjemput ibu pulang.

Namun meski saya sudah berusaha untuk terus menghindar, insiden itu toh terulang lagi. Peristiwa kedua itu sengaja diciptakan Pak Toyo dengan nalar liciknya. Ketika sore hari menjemput ibu, Pak Toyo memberikan bahwa ia baru saja membeli sebuah sepeda kecil untuk adikku, Charles. Sepeda itu ada di rumah Pak Toyo dan adik harus diambil nya sendiri.

Tentu saja adikku amat besar hati dan ketika Pak Toyo menyarankan semoga adik tidur di rumahnya, adik oke dan bahkan ibu dengan senang hati mendorongnya. Bertiga mereka naik mobil dinas Pak Toyo pulang ke rumah mereka. Karena tidak ada orang lain di rumah, sebelum Pukul sembilan kios sudah kututup.

Rupanya, sehabis sampai di rumah dan menyerahkan sepeda kecil kepada adik, Pak Toyo beralasan harus kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya malam itu juga. Ibu tidak curiga dan sama sekali tidak mengira kelau kepergian suaminya sebetulnya tidak ke kantor, melainkan kembali ke kios untuk nemperkosaku.

Waktu itu sudah pukul sepuluh malam dan kios sudah lama saya tutup. Tiba-tiba saja Pak Toyo sudah ada di dalam rumah. Rupanya Ia punya kunci milik ibu sehinga ia sanggup bebas keluar masuk rumah kami. Aku amat kaget dan ingin mendampratnya, tetapi kembali dengan hening dan wajah menyeringai, Pak Toyo mengancamku “Ayo, berteriaklah semoga semua tetangga tiba dan tahu apa yang sudah saya lakukan terhadapmu!” ancamnya serius. “Ayo berteriaklah semoga ibumu malu dan seluruh keluargamu tercoreng!” tambahnya dengan bunyi serak.

Sekali lagi saya terperangah. Mulutku sudah mau berteriak tetapi kata-kata Pak Toyo sekali mengusik hatiku. Perasaan takut akan terdengar tetangga, ketakutan nama ibuku akan menjadi tercoreng, kecemasan bahwa tetangga akan mengetahui insiden perkosaanku, saya hanya berdiri terpaku memandang wajah penuh nafsu yang siap menerkamku. Aku tak sanggup berpikir jernih tagi. Hanya perasaan takut dan takut yang terus mendesak naluriku.

Sebelum saya sanggup mengambil keputusan apa yang akan kulakukan, Pak Toyo sudah maju dan mendekap tubuhku. Sekali lagi saya ingin berteriak tetapi suaraku tersendat di tenggorokan. Entah bagaimana awalnya namun yang saya tahu lelaki itu sudah menindih tubuhku dengan tanpa busana. Yang jelas, malam itu saya terpaksa melayani nafsu suami ibuku yang menggebu-gebu.

Dengan ganas ayah tiriku itu memperlakukan saya mirip pelacur. Ia memperkosaku berkali-kali tanpa belas kasihan. Dengus nafasnya yang berat dan tubuhnya yang menindih tubuhku apalagi ketika ada sesuatu benda keras mulai masuk menyeruak membelah cuilan sensitif dan paling terhormat bagi kewanitaanku membuat saya merintih kesakitan. Aku benar-benar dijadikannya pemuas nafsu yang benar-benar tak berdaya.

Pak-Toyo kuat sekali. Ia memaksaku berbalik kesana kemari berganti posisi berkali-kali dan saya terpaksa menurut saja. Hampir dua jam Pak Toyo menjadikan tubuhku sebagai bulan-bulanan nafsu seksnya. Bukan main! Begitu ia akan selesai kulihat Pak Toyo mencabut batangannya dari kemaluanku dengan gerakan cepat ia mengocok-ngocokkan batangannya yang keras itu dengan sebelah tangannya dan dalam hitungan beberapa detik kulihat cairan putih kental menyemprot dengan banyak dan derasnya keluar dari batang kejantanannya, cairan putih kental itu dengan hangatnya menyemprot membasahi wajah dan tubuhku, ada rasa jijik di hatiku selain kurasakan amis dan asin yang kurasakan ketika cairan itu meleleh menuju bibirku, sehabis itu ia lunglai dan terkapar di samping tubuhku, tubuhku sendiri bagai hancur dan tak bertenaga.

Seluruh tubuhku terasa amat sakit, dan air mata bercucunan di pipiku. Namun terus terang saja, saya juga mencapai orgasme. Sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya. Entah apa yang membuat ada sedikit perasaan senang di dalam hatiku. Rasa puas dan kenikmatan yang sama sekali tak sanggup saya pahami. Aku sendiri tidak tahu bagaimana sanggup terjadi, tetapi kadangkala saya justru rindu dengan perlakuan Pak Toyo terhadapku itu. Aku sudah berusaha berkali-kali menepis perasaan itu, tetapi selalu saja muncul di benakku. Bahkan kadangkala saya menginginkan lagi dan lagi! Gila bukan?

Dan memang, ketika pada suatu sore ibu sedang pergi ke luar kota dan Pak Toyo mandatangiku lagi, saya tak menolaknya. Ketika ia sudah berada di atas tubuhku yang telanjang, saya justru menikmati dan mengimbanginya dengan penuh semangat. Rupanya apa yang dilakukan Pak Toyo terhadapku telah menjadi semacam candu yang membuatku menjadi kecanduan dan ketagihan. Aku kini mulai menikmati seluruh permainan dan gairah yang luar biasa yang tak sanggup kuceritakan ketika ini dengan kata-kata.

Pak Toyo begitu kasar dan menikmati seluruh lekuk-lekuk tubuhku dengan liarnya, akupun mulai berani mencoba untuk merasakan bagian-bagian tubuh seorang lelaki, akupun kini mulai berani untuk balas mencumbui, membelai seluruh cuilan tubuhnya dan mulai berani untuk menjamah batang kejantanan ayah tiriku ini, begitu keras, panjang dan hangat. Aku menikmati dengan sungguh-sungguh, Luar Biasa!

Pada simpulan permainan Pak Toyo terlihat amat puas dan begitu juga aku. Namun karena malu, saya tak berkata apa-apa ketika Pak Toyo meninggalkan kamarku. Aku sengaja diam saja, semoga tak memberikan bahwa saya juga puas dengan permainan itu. Bagaimanapun juga saya yaitu seorang perempuan yeng masih punya rasa malu. Akan tetapi, ketika Pak Toyo sudah pergi ada rasa sesal di dalam hati. Ada perasaan malu dan takut. Bagaimanapun Pak Toyo yaitu suami ibuku. Pak Toyo telah menikahi ibuku secara sah sehingga ia menjadi ayah tiriku, pengganti ayah kandungku.

Adalah dosa besar melakukan korelasi tak senonoh antara anak dan ayah tiri. Haruskah kulanjutkan pertemuan dan korelasi penuh nafsu dan maksiat ini?

Di saat-saat sepi sediri saya termenung dan memutuskan untuk menjauh dan Pak Toyo, serta tidak melakukan korelasi gelap itu lagi. Namun di saat-saat ada kesempatan dan Pak Toyo mendatangiku serta mengajak “bermain” saya tak pernah kuasa menolaknya. Bahkan kadangkala bila dua atau tiga hari saja Pak Toyo tidak tiba menjengukku, saya merasa kangen dan ingin sekali merasakan jamahan-jamahan hangat darinya.

Perasaan itulah yang kemudian membuat saya semakin tersesat dan semakin tergila-gila oleh “permainan” Pak Toyo yang luar biasa hebat. Dengan penuh kesadaran akibatnya saya menjadi perempuan simpanan Pak Toyo di luar pengetahuan ibuku.

Sampai kini rahasia kami masih tertutup rapat dan pertemuan kami sudah tidak terjadi di rumah lagi, tetapi lebih banyak di losmen, hotel-hotel kecil dan di tempat-tempat peristirahatan. Yah, disana saya dan Pak Toyo sanggup bermain cinta dengan penuh rasa sensasi yang tinggi dan tidak kuatir akan kepergok oleh ibuku, kini saya dan ayah tiriku sudah mirip menjadi suami istri.

Untuk mencegah hal-hal yang sangat mungkin terjadi, dalam melakukan korelasi seks Pak Toyo selalu memakai kondom dan saya pun rajin minum jamu terlambat bulan. Semua itu tentu saja di luar sepengetahuan ibu. Aku memang puas dan senang dalam soal pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi sebetulnya jauh di dalam lubuk hati-aku sungguh terguncang. Bagaimana tidak? Aku telah merebut suami ibuku sendiri dan ‘memakannya’ secara bergantian.

Kadangkala saya juga merasa kasihan kepada ibu yang sangat mencintaiku. Kalau saja sampai ibu tahu korelasi gelapku dengan Pak Toyo, Ibu pasti akan murung sekali. Hatinya bakal hancur dan jiwanya tercabik-cabik. Bagaimana mungkin anak yang amat disayanginya sanggup tidur dengan suaminya? Sampai kapan saya akan menjalani hidup yang tak senonoh dan penuh dengan maksiat ini?

Entahlah, kini ini saya masih kuliah. Mungkin bila nanti sudah lulus dan jadi sarjana saya sanggup keluar dan lingkugan rumah dan bekerja di kota lain. Saat ini mungkin saya belum punya kekuatan untuk pergi, tetapi suatu ketika nanti saya pasti akan pergi jauh dan mencari lelaki yang benar-benar sesuai dan sanggup kuandalkan sebagai suami yang baik, dan tentunya kuharapkan lebih perkasa dari yang kudapatkan dan kurasakan sekarang.
Mungkin dengan cara itu saya sanggup melupakan Pak Toyo dan melupakan peristiwa-peristiwa yang sangat memalukan itu.

3

Baca Kumpulan Kisah Seks Menjadi Pemgantin Muridku

Cerita Memek, Memek Basah, Ceritah Becek, Cerita Basah, Cerita Bokep, Cerita Hot, Gambar Toket, Cewe Montok, Gambar Panas, Gambar Sex, Kisah Ngentot,
Baca Kumpulan Cerita Seks - Aku menghela nafas sejenak sambil berpikir menimbang-nimbang undangan Rendy. Sebenarnya saya tidak begitu rugi apabila saya menginap di rumah bu Diana. Aku mampu menghemat uang kosku selama setengah bulan jikalau saya menginap di rumah bu Diana. Lagipula saya akan lebih mampu mengawasi Rendy untuk berguru menghadapi ujian semesternya yang kian mendekat, dengan begitu, saya mampu mendapatkan kesempatan untuk mengamankan pekerjaanku. Sebenarnya yang perlu kulakukan hanyalah memastikan jikalau Rendy tidak “mengerjaiku” lebih parah dari kemarin.

“Baiklah, kakak setuju. Tapi kamu juga harus berjanji, kamu harus berguru yang rajin selama kakak tinggal di rumahmu.” Anggukku sambil memberinya penawaran.

“Berees, kak! Asal kakak mau menurutiku selama itu, saya pasti belajar!” jawabnya dengan bersemangat.

“Iya, iya..” balasku dengan perasaan agak lega.

Kami kemudian segera beranjak ke kamar Rendy dan saya pun mulai mengajarinya. Tapi hari ini ada yang berbeda dari Rendy. Ia tampak lebih serius dan bersemangat dalam menyimak penjelasanku. Kurasa ia sudah cukup senang dikala mendengar saya akan menginap di rumahnya 2 hari lagi. Tak lama kemudian, kudengar bunyi bu Diana di lantai bawah.

“Nah, Mami sudah pulang! Kakak tunggu sebentar ya! Aku mau bicara dulu dengan Mami!”

Rendy segera beranjak dari kursinya dan keluar dari kamarnya tanpa menghiraukanku. Sayup-sayup kudengar bunyi percakapan Rendy dengan bu Diana, namun saya tidak mampu mendengar dengan terperinci apa yang mereka katakan. Sambil menunggu Rendy, saya mempersiapkan soal-soal latihan yang akan kuberikan untuknya nanti. Sekitar 5 menit kemudian, Rendy kembali ke kamarnya bersama bu Diana.

“Halo, Erina. Rendy meminta saya untuk mengizinkanmu tinggal di rumah ini selama saya tidak di rumah.”

“Eh? I.. iya, bu Diana! Rendy memberitahu saya jikalau ia ingin mendapatkan les tambahan dari saya selama bu Diana tidak dirumah.. Katanya.. untuk persiapan ujian semester..” ujarku dengan agak gugup.

“Wah, kebetulan sekali jikalau begitu! Soalnya tante Rendy juga akan ikut ke Jerman. Makanya tadi saya sempat mengajak Rendy untuk ikut. Tapi karena ada ulangannya yang penting, Saya jadi ragu-ragu.”

“Jadi?” tanyaku

“Kalau kamu mau, Saya memperbolehkan kamu tinggal disini selama saya tidak dirumah. Tapi saya juga meminta kamu untuk mengurus Rendy selama itu. Sebagai gantinya, saya akan berikan tambahan bonus untukmu di tamat bulan ini. Bagaimana?” Jawab bu Diana menyampaikan tawaran.

“Baik, bu Diana. Saya setuju!” anggukku sambil tersenyum. Sekarang saya mendapatkan tambahan keuntungan dengan mendapatkan tawaran Rendy. Dengan bonus yang disediakan bu Diana dan penghematan uang kosku selama setengah bulan, saya mampu menambah uang tabunganku sekaligus membiayai sebagian keperluanku bulan depan.

“Baguslah! Kalau begitu, Erina, tolong kamu siapkan barang-barangmu yang akan kamu bawa untuk tinggal disini. Lusa nanti saya akan menjemputmu sebelum kamu mengajar Rendy.” Ujar bu Diana.

“Iya, bu Diana!” saya mengiyakan undangan bu Diana.

Setelah merampungkan tugasku hari itu, saya segera bergegas pulang untuk mulai mengemas barang-barangku. Untunglah saya tidak memiliki banyak barang selain pakaian dan perlengkapan-perlengkapan kecil milikku. Aku juga memberitahu pemilik rumah kosku bahwa saya akan pindah selama setengah bulan. Syukurlah mereka mau mengerti dan bersedia menyimpankan kamar bagiku apabila saya kembali.

2 hari kemudian, bu Diana dan Rendy pun tiba menjemputku sebelum saya mengajar Rendy. Aku kemudian diantar ke rumah mereka. Aku diizinkan untuk tidur di kamar tamu di lantai bawah. Malam harinya, saya diberitahu bu Diana tugas-tugasku di rumah itu selama bu Diana di luar negeri. Aku diminta untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga mirip memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Aku sudah terbiasa memasak dan mencuci sendiri sejak kecil, maka peran ini tidak lagi sesulit yang kubayangkan. Lagipula untuk keperluan sehari-hari, bu Diana sudah menyuruh anak buahnya untuk mengantar materi kuliner dan supir studio untuk mengantar-jemput kami. Apabila ada hal lainnya yang diperlukan, saya hanya perlu menelepon studio untuk meminta santunan mereka. Esok harinya, bu Diana sudah berangkat dikala saya pulang dari kuliah.

Sehingga hanya ada saya dan Rendy sendiri di rumah. Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Seusai mandi, saya benar-benar terkejut dikala melihat semua pakaian milikku menghilang. Hanya ada satu pelaku yang mampu melakukan hal ini! Aku kemudian menutupi tubuhku dengan selembar handuk yang untungnya, tidak sempat diambil oleh “pencuri” itu. Aku segera naik ke lantai atas untuk mengambil kembali pakaian milikku.

“Rendy! Reendyy!! Buka pintunya!” Seruku sambil menggedor kamar Rendy. Pintu kamar itu sedikit dibuka dan wajah Rendy muncul dari sela-sela pintu kamar itu.

“Ya, ada apa kak?!” tanyanya padaku. Namun matanya segera melirik tubuhku yang hanya berbalutkan sebuah handuk dan ia tersenyum cengengesan melihat keadaanku.

“Wah, waah.. Kakak sudah tidak sabaran ya?” tanyanya sambil tertawa kecil.

“Huuh! Dasar usiil!! Ayo, kembalikan baju kakak!!” gerutuku.

“Lhooo.. memangnya baju kakak kuambil? Apa ada buktinya?”

“Kalau bukan kamu siapa lagii? Sudah, ayo cepat kembalikan baju kakak!”

“Kak, jikalau menuduh orang tanpa bukti itu tidak baik lho! Hukumannya, saya tidak mau memberitahu dimana kusembunyikan baju kakak, Hehehe..” Rendy tersenyum mengejekku dan menutup dan mengunci pintu kamarnya dihadapanku.

“Aah! Hei, Rendy! Tunggu duluu..” protesku, tapi Rendy sudah keburu menutup pintu kamarnya sambil mengejekku dibalik pintu.

Aku pun terpaksa menggigil kedinginan, suhu di rumah itu hirau taacuh sekali karena dipasangi AC, ditambah lagi saya gres saja mandi dan kini tubuhku hanya ditutupi oleh selembar handuk saja. Selama beberapa menit saya terus menggedor pintu kamar Rendy dan berusaha membujuknya, namun ia sama sekali tidak menggubrisku.

“HATSYII..!!!” Karena tidak biasa, saya pun bersin tamat pilek karena suhu hirau taacuh itu.

“Kak! Kakak pilek, ya?” tiba-tiba terdengar bunyi Rendy dari balik pintu.

“I.. iya.. Rendy, tolong… kembalikan pakaian kakak.. disini hirau taacuh sekali.. kakak tidak tahan..”

“Oke deh, tapi kakak harus mau menggunakan pakaian yang kuberikan ya!”

“Iya.. iya.. cepat doong… Kakak kedinginan disini..” pintaku pada Rendy

Rendy kembali keluar dari kamarnya. Ia melihat sekujur tubuhku yang menggigil kedinginan. Anehnya, raut wajahnya tampak berubah, ia tidak lagi tampak senang ataupun puas mengerjaiku. Kini ia tampak agak gelisah.

“Haa.. HATSYII!!!” kembali saya bersin dihadapannya. Kulihat raut wajahnya semakin cemas saja melihat keadaanku.

“Ayo Kak, ikut denganku!” pinta Rendy padaku yang segera kuturuti saja.

Rendy menuntunku ke ruang disebelah kamarnya. Pintu ruang itu dikunci, namun Rendy segera membuka pintu itu dengan sebuah kunci di tangannya. Begitu saya masuk, saya takjub melihat puluhan helai gaun pengantin putih dalam berbagai ukuran dan model yang tergantung rapi di kamar itu. Berbagai aksesoris pengantin perempuan juga tertata rapi bersama gaun-gaun itu. Rupanya kamar itu yakni kamar desain bu Diana sekaligus tempatnya menyimpan hasil rancangannya yang belum dikirim ke studio.

“Kak, saya minta kakak menggunakan baju itu.” ujar Rendy seraya menunjuk ke arah sehelai gaun pengantin putih yang dipasang di sebuah mannequin.

“Apaa?! Kenapa kakak harus menggunakan baju mirip itu? Memangnya kakak mau menikah, apa?!” jawabku setengah tak percaya, setengah kebingungan.

“Ya, sudah! Kalau kakak tidak mau, kakak boleh menggunakan handuk itu saja kok!” balas Rendy.

“Iyaa! Dasar!! Kamu mintanya yang aneh-aneh saja!!” ujarku agak kesal. Terpaksa kuturuti undangan Rendy, daripada pilekku semakin parah.

“Oh iya Kak!”

“Apa lagii?”

“Pakaiannya yang lengkap ya, Kak! Soalnya baju itu sudah 1 set dengan aksesorisnya!” pinta Rendy.

“Jangan lupa juga untuk merias diri dengan kosmetik Mami ya Kak! Sudah kusiapkan lhoo..” imbuhnya.

Aku menghela nafas dan menutup pintu kamar itu. Memang kulihat gaun itu dilengkapi dengan mahkota, sarung tangan, bahkan stocking dan sepatu yang semuanya berwarna putih susu. Luar biasa! Sejenak saya kagum dengan kepandaian bu Diana dalam merancang gaun itu, komposisi yang disusunnya benar-benar serasi. Aku kemudian menuruti perintah Rendy untuk menggunakan semua pakaian itu dengan lengkap. Berat bagiku memang, karena saya belum pernah menggunakan gaun pengantin sebelumnya. Setelahnya, saya pun merias diriku dengan kosmetik milik bu Diana. Kulihat semua kosmetik itu buatan luar negeri.

Aku sendiri agak canggung untuk menggunakan kosmetik-kosmetik itu, mengingat harganya yang selangit bagi mahasiswi sepertiku. Tapi setidaknya, saya mendapatkan sebuah kesempatan untuk mencoba kosmetik-kosmetik itu, maka saya berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah beberapa lama, saya kesannya selesai mempengantinkan diriku. Kubuka pintu kamar itu dan mirip yang sudah kuduga, Rendy sedari tadi sudah menungguku di depan pintu.

Ia tampak amat terpana melihatku yang berbusana pengantin itu. Busana pengantinku berupa sebuah gaun pengantin putih yang indah sekali. Atasan gaun memiliki sepasang puff pundak yang terikat dengan sepasang sarung tangan satin dengan panjang selengan di kedua tanganku yang kini menutupi jari-jariku yang lentik. Di kepingan perut dan dada gaunku bertaburan kristal-kristal imitasi yang kurang terang membentuk sebuah referensi hati.

Bagian pinggang gaun itu memiliki hiasan kembang-kembang sutra yang melingkari kepingan pinggang gaun itu mirip sebuah ikat pinggang yang seolah menghubungkan atasan gaunku dengan rok gaun polos yang dihiasi manik-manik membentuk hiasan bunga-bunga yang bertebaran disekeliling rok gaunku. Pinggulku dipasangi pita putih besar. Aku juga memakaikan rok petticoat di pinggangku supaya rok gaunku tampak mengembang. Rendy sendiri tampak kagum melihat cantiknya wajahku yang sudah kurias sendiri; kelopak mataku kurias dengan eye-shadow berwarna pink dan alsiku yang kurapikan dengan eye-pencil. Sementara lipstick yang berwarna pink lembut kupilih untuk melapisi bibirku yang tampak serasi dengan riasan bedak make-upku.

Riasan mahkota bunga putih tampak serasi dengan rambut hitam-sebahuku yang kubiarkan tergerai bebas. Aku telah memasang stocking sutra berwarna putih yang lembut di kakiku yang dilengkapi dengan sepasang sepatu hak tinggi berwarna putih yang tampak serasi mirip gaun pengantinku. Tubuhku juga kuberi parfum melati milik bu Diana sehingga sekujur tubuhku memancarkan aroma melati yang amat wangi.

“Nah, bagaimana?” ujarku pada Rendy yang masih melamun melihat penampilanku.

“Hei! Kok malah termenung sih?!” seruku, yang segera menyadarkan Rendy dari lamunannya.

“E.. eh.. ccantik sekali Kak!” jawab Rendy tergagap-gagap, saya tertawa kecil melihat tingkahnya yang kebingungan.

“Kak, ini.. buat kakak..” Rendy mengulurkan setangkai mawar merah kepadaku. Mawar merah yang indah itu tampak segar berkilauan.

“Waah, terima kasih ya!!” otomatis saya mencium bunga itu untuk menghirup aromanya. Sejenak aroma yang menyengat memasuki hidungku saya pun langsung merasa pandanganku tiba-tiba kabur dan tubuhku terasa lemas.

Aku pun ambruk tidak sadarkan diri. Sayup-sayup kulihat senyuman Rendy, saya berusaha untuk tetap sadarkan diri, namun mataku terasa berat sekali dan kesannya saya menutup kelopak mataku. Entah apa yang terjadi pada tubuhku, namun dikala saya sadar, saya melihat diriku sudah terbaring mengangkang di sebuah ranjang canopy dalam keadaan berbusana pengantin lengkap.

Kedua tanganku terikat di belakang punggungku sementara kakiku terikat erat di sisi kanan-kiri tiang ranjang itu sehingga posisi tubuhku mengangkang lebar. Aku merasa amat geli di tempat kewanitaanku, mirip ada sebuah daging lunak hangat yang menyapu-nyapu tempat kewanitaanku, terkadang daging itu menusuk-nusuk seolah hendak membuka bibir kewanitaanku melewati celah vaginaku. Aku juga merasa tempat disekitar vaginaku amat becek tamat gerakan daging itu.

“Aahh.. oohhh..” Aku pun mendesah pelan menikmati sensasi di kewanitaanku itu. Rasanya vaginaku seolah diceboki, namun gerakan daging itu yang seolah berputar-putar mempermainkan vaginaku menyebabkan sensasi nikmat disekujur tubuhku. Aku merasa tubuhku diairi listrik tegangan rendah dikala daging itu membelah bibir kewanitaanku dan menyentuh lubang pipisku.

“Eh! Kakak sudah bangun rupanya!!” tiba-tiba kudengar bunyi Rendy dibalik gaunku. Aku berusaha mendongak dan kulihat wajah Rendy sedang berada sempurna di depan selangkanganku yang terbuka lebar. Sadarlah saya jikalau “daging” tadi tak lain yakni pengecap Rendy yang sedang menjilati vaginaku. Aku berusaha berontak, namun untuk menutup kedua pahaku yang sedang terbuka lebar saja amat sulit. Tubuhku terasa amat lemas tanpa tenaga. Saat saya melihat sekitarku, saya gres sadar jikalau saya kini berada di dalam kamar bu Diana.

“Badan kakak masih belum mampu digerakkan, soalnya efek obat tidur Mami masih tersisa.” Jelas Rendy sambil berjalan ke sampingku.

Sekejap saya merasa amat panik dan berusaha mengerahkan seluruh tenagaku untuk kabur, tapi sia-sia saja. Tubuhku tidak mau bergerak sedikitpun. Astaga! Bagaimana saya mampu sebodoh itu mencium aroma bunga yang ditaburi obat bius?! Niatku untuk menjaga jarak dari Rendy kini sia-sia saja. Sekarang malah kesucianku terpampang terperinci di hadapannya, saya dalam keadaan terjepit dan tidak mampu kabur lagi.

“Kakak hening saja, dijamin yummy kok! Hehehe..” tawa Rendy terkekeh-kekeh.

“Jangan, Rendy.. Jangan.. kakak mohon!!” pintaku berderai air mata dikala melihat Rendy berbalik berjalan menuju arah selangkanganku.

Namun sia-sia saja, Rendy sama sekali tidak mau mendengar permohonanku. Aku pun semakin panik dan cemas. Air mataku kembali meleleh membasahi mataku, namun apa dayaku? Tubuhku kini amat sulit digerakkan karena ikatan itu ditambah rasa lemas disekujur tubuhku karena efek obat bius yang tersisa. Kini saya hanya mampu pasrah membiarkan Rendy menyantap kewanitaanku. Jantungku berdegup semakin kencang dan wajahku merah merona dikala Rendy semakin mendekati selangkanganku. Rendy kemudian memegang kedua pahaku yang mulus. Ia mulai mengendusi paha kananku sementara paha kiriku dibelai-belai dengan tangannya.

“Essh..” saya mendesis sesaat sehabis bibir Rendy mencium bibir kemaluanku. Hembusan nafas Rendy di pahaku membuat tubuhku sedikit mengigil kegelian. Saat bibir kemaluanku bertemu dengan bibir Rendy, Rendy mulai menjulurkan lidahnya. Seperti pengecap ular yang menari-nari, bibir kemaluanku dijilati olehnya. Kembali bibir kewanitaanku dibelah oleh pengecap Rendy, yang kembali menarikan lidahnya menceboki liang vaginaku perlahan-lahan. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan gejolak birahi yang kini mulai melanda diriku, namun tetap saja bunyi desahan-desahanku yang tertahan sesekali terdengar keluar dari bibirku karena rasa nikmat yang menjuluri tubuhku apalagi belaian lembut Rendy di pahaku semakin terasa geli tamat stocking sutra yang kupakai.

“Haaa?! Aakh..!!” Sontak saya menjerit terkejut dikala mencicipi sensasi rasa geli dan nikmat yang tiba-tiba melanda tubuhku. Rupanya Rendy menjilati klitorisku. Sesekali ia menyentil klitorisku dengan lembut sehingga sekujur tubuhku mirip dialiri listrik dan bulu kudukku berdiri. Rendy menyadari bahwa saya mulai dikuasai oleh gejolak birahiku. Ia terus melancarkan serangannya ke klitorisku. Berulang kali permohonanku yang disertai dengan desahan kusampaikan ke Rendy, namun ia malah tampak kian bersemangat mengerjaiku. Kesadaranku pun semakin menghilang tergantikan dengan rasa nikmat dan hasrat seksual yang semakin merasuki tubuhku.

“Bagaimana kak? Enak tidak?” tanya Rendy padaku.

“Rendyy.. stoop.. auhhh.. jangaan..”

“Ah masaa? Bukannya kakak mendesah keenakan tuh? Yakin nih, nggak mau lagi?” ejeknya sambil menjauhkan wajahnya dari kemaluanku. Namun secara refleks, saya malah mengangkat pinggangku kehadapan wajah Rendy, seolah menawarkannya untuk kembali mencicipi liang vaginaku.

“Tuh, kan?! Malu-malu mau, nih cewek!” kembali Rendy menghinaku. Dipeganginya kedua bongkahan pantatku dengan telapak tangannya dan dtegadahkannya tangannya, sehingga kini pinggangku ikut terangkat sempurna dihadapan wajah Rendy.

“Aww.. aww.. aaahh..” kembali saya merintih dikala Rendy mengecup dan mengisap-isap daging klitorisku. Sesekali saya merasa sentuhan giginya pada klitorisku dan hisapannya membuatku kini hanya berusaha untuk mengejar kenikmatan seksualku semata.

SLURP.. SLURP.. Sesekali terdengar bunyi Rendy yang menyeruput cairan cintaku yang sudah banyak keluar dari vaginaku, seolah hendak melepas dahaganya dengan cairan cintaku.

“AAHH.. AAHHH.. AAA..” Desahanku semakin keras. Aku merasa ada sebuah tekanan luar biasa di vaginaku yang sebentar lagi hendak meledak dari dalam tubuhku. Otot-otot tubuhku secara otomatis mulai menegang sendirinya.

“HYAA.. AAAKH!!!” jeritku bersamaan dengan meledaknya tekanan dalam tubuhku. Tanpa mampu kutahan, pinggangku menggelepar liar, bahkan Rendy terlontar mundur tamat dorongan tubuhku. Aku mampu mencicipi vaginaku memuncratkan cairan cintaku dalam jumlah yang banyak. Seluruh simpul sarafku terasa tegang dan kaku dikala sensasi geli dan nikmat yang luar biasa itu menjalari tubuhku, dan kesannya muncul perasaan lega yang nyaman setelahnya. Aku pun terkapar kelelahan, nafasku tersengal-sengal. Tenaga di tubuhku seolah lenyap seketika. Aku sadar, gres saja saya mengalami orgasme yang luar biasa!

“Wah, waah.. Rupanya galak juga nih, jikalau orgasme!” ejek Rendy yang kini terduduk di hadapan selagkanganku.

Ia mendekati vaginaku dan kembali ia menyeruput cairan cintaku yang masih tersaji di vaginaku sehabis ledakan orgasmeku barusan. Aku pun hanya mendesah kecil tanpa memberontak. Kepalaku serasa kosong dan saya membiarkan Rendy menikmati cairan cintaku sesuka hatinya. Setelah puas meminum cairan cintaku, Rendy berdiri di hadapanku dan melepas pakaiannya sehingga ia telanjang bulat dihadapanku. Bisa kulihat penisnya yang panjangnya sekitar 14 cm sudah menegang keras melihat keadaanku yang mengangkang lebar, memamerkan kewanitaanku di depannya. Rendy berjalan melewati tubuhku hingga kesannya ia tiba didepan kepalaku. Rendy kemudian berlutut di hadapan wajahku sambil mengocok penisnya.

“Kak, tadi rasa memek kakak yummy sekali loh! Nah kini giliran kakak ya, ngerasain punya Rendy?” seloroh Rendy. Aku yang menyadari jikalau Rendy akan mengoral penisnya dengan mulutku, mulai menjerit meminta pertolongan.

“TOL.. uumph!!” jeritanku terhenti karena Rendy langsung menyumpalkan penisnya didalam mulutku. Walaupun ukuran penisnya tidak begitu besar, namun batang penisnya sudah cukup memenuhi rongga mulutku yang mungil.

“Hhmmphh.. hmph..” suaraku teredam oleh penis Rendy.

Aku berusaha memuntahkan penis itu, namun Rendy memajukan pantatnya sehingga penisnya tetap masuk didalam mulutku hingga menyentuh kerongkonganku. Rendy menjambak poni rambutku dan mulai menggerakkan kepalaku maju mundur. Rasa sakit di ubun-ubunku karena poni rambutku dijambak sudah cukup untuk membuatku tidak berontak lebih jauh, saya mengikuti gerakan tangan Rendy yang sedang memaksaku mengulum dan mempermainkan penisnya dalam mulutku.

“Aahh.. Enaak..” desah Rendy dikala penisnya keluar masuk dari mulutku.

“Hmmp.. mpp.. phh..” saya berusaha mengambil nafas untuk menyesuaikan gerakan penis Rendy dalam mulutku. Kocokan mulutku masih belum berhenti, namun saya merasa agak mual karena rasa dalam mulutku dikala ini. Sementara leherku juga pegal karena dipaksa naik-turun oleh Rendy.

Beberapa dikala kemudian, Rendy berhenti manjambak poniku, saya pun segera merebahkan kepalaku yang pegal-pegal keatas bantal yang lembut untuk melepas penat. Namun rupanya penderitaanku belum juga berakhir. Rendy belum mau melepaskan kenikmatannya dioral olehku.

Belum sempat penisnya keluar dari mulutku, kini ia malah menekan selangkangannya ke wajahku dan menggoyang-goyangkan pantatnya sehingga penisnya kembali masuk kedalam rongga mulutku. Aku mampu mencicipi buah zakarnya yang tergantung menampar-nampar daguku berulang kali bersamaan dengan gerakan pantatnya yang maju mundur dihadapan wajahku yang kini tertekan oleh bantal, saya pun berulang kali tersedak karena penis Rendy dalam mulutku bergerak dengan amat cepat.

“Oke, kak! Sekarang giliran kakak yang main! Ayo kulum dan mainin pakai pengecap kakak!” perintah Rendy sambil menghentikan gerakannya. Aku sendiri sudah mati kutu, kepalaku terjepit diantara selangkangan Rendy dan bantalku, sehingga saya tidak mampu bergerak bebas.

“Ayo, Kak! Atau mau kugerakkan sendiri dimulut kakak mirip barusan?” ancamnya padaku. Aku pun tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Rendy, setidaknya saya akan lebih leluasa bernafas apabila saya yang bergerak sendiri. Aku pun menggerakkan lidahku membelai-belai batang penisnya yang masuk hingga rongga mulutku. Sesekali lidahku juga bersentuhan dengan kepala penisnya. Sebenarnya saya agak jijik juga karena tercium bau agak pesing dari ujung penis Rendy, namun apa dayaku? Lebih baik kuturuti perintah anak ini supaya siksaanku cepat selesai. Aku pun berusaha untuk tidak begitu mempedulikan bau itu. Penis Rendy kuanggap saja mirip permen yang luar biasa tidak enak. Aku pun terus mengemut penis Rendy itu.

“Ayo, kak! Terus! Jago juga nih, nyepongnya! Enak bangeet!”

“Mmphh..” erangku.

“Isapin juga kak! Seperti ngisap permen!” kembali Rendy memberi perintah padaku, yang langsung saja kuturuti.

Kuhisap penisnya dengan pelan dan lembut dengan keinginan anak ini mampu segera menghentikan aksinya dan saya mampu terbebas dari siksaan ini. Herannya, selama beberapa menit kuoral, Rendy masih saja tidak puas. Aku pun mulai kelelahan mempermainkan penisnya dalam mulutku, walaupun saya mulai terbiasa dengan situasiku sekarang.

Entah setan apa yang merasukiku, namun dikala saya mengingat bahwa saya sedang mengoral penis anak kecil yang tak lain yakni muridku, saya merasa hasrat seksualku kembali meninggi dalam tubuhku. Aku ingin sekali mencapai orgasme sekali lagi dan saya ingin mencoba sesuatu yang lebih jago lagi bersama Rendy. Pikiran itupun membuatku memainkan penis Rendy sebaik mungkin dalam mulutku supaya Rendy mencapai kepuasannya.

“Ookh..” Aku mendengar bunyi erangan panjang keluar dari verbal Rendy dan dikala itulah, saya merasa mulutku disembur oleh cairan kental berbau amis. Aku menyadari bahwa Rendy gres saja berejakulasi dalam mulutku, dan kini mulutku dipenuhi spermanya. Rendy kembali menekankan selangkangannya ke wajahku.

“Telan kak! Jangan hingga bersisa!”

Aku pun menuruti perintah Rendy, kutelan semua sperma dalam mulutku, sekaligus kuhisap-hisap penis Rendy supaya spermanya tidak bersisa. Rendy hanya mengerang keenakan dikala penisnya kubersihkan dengan mulutku.

“Woow.. enaak.. lebih yummy dari onanii…” seloroh Rendy. Namun saya tidak peduli, saya terus menghisap-hisap penisnya itu hingga saya yakin tidak ada lagi sperma yang tersisa. Setelah selesai, Rendy mengeluarkan penisnya dari dalam mulutku.

“Waah.. Kakak jago banget lho! Enak sekali kak!”

“Rendy, kamu jahaat..” protesku.

“Lho kenapa? Bukannya kakak kini sudah jadi pengantinku?” balasnya.

“You may kiss your briide!!” sorak Rendy tiba-tiba.

Tanpa basa-basi, Rendy segera mencium bibirku. Bibirku diemut-emut dengan lembut dan sesekali bibirku juga dijilati oleh lidahnya. Aku hanya membiarkannya mempermainkan bibirku sesuka hatinya. Pelan-pelan pengecap Rendy membelah bibirku dan lidahnya menyusup kedalam rongga mulutku. Aku pun merespon dengan menghisap pengecap Rendy dengan lembut. Sesekali juga kujulurkan lidahku, sehingga giliran Rendy yang menghisap air ludahku yang menyelimuti lidahku. Gairah seksualku kini benar-benar menguasai tubuhku, semakin kuingat bahwa Rendy yang dikala ini sedang bercinta denganku, semakin saya tenggelam dalam hasratku. Selama beberapa menit kami terlibat dalam French kiss itu, sebelum kesannya Rendy menghentikan ciumannya di bibirku. Aku pun tampak kecewa dikala Rendy menjauhkan wajahnya.

“Kenapa kak? Enak kan rasanya? Masih mau lagi?” tanyanya.

Pertanyaan Rendy itu seketika memancing gairah seksualku yang meningkat. Aku merasa ini yakni sebuah kesempatan bagiku, namun sebelum saya sempat menjawab, tiba-tiba Rendy mengambil sehelai celana dalam putih berenda yang tadi kupakai dan menjejalkannya ke mulutku hingga celana dalamku memenuhi seluruh rongga mulutku. Belum puas, Rendy juga melakban mulutku sehingga celana dalamku itu tersumpal sempurna di dalam mulutku.

“Mmfff…” Protesku pada Rendy. Namun suaraku terhalang oleh celana dalam yang menyumbat mulutku.

Baca Juga - Kumpulan Cerita Seks Ayah Tiriku yang Bejat

“Jangan dijawab dulu, Kak. Nanti ya, Rendy mau istirahat dulu!”

“Oh, Kakak juga boleh istirahat kok! Nah, daripada bosan, bagaimana jikalau kakak nonton saja dulu?” lanjut Rendy. Aku mampu mendengar bunyi televisi yang dinyalakan dan bunyi pemutar DVD yang dibuka oleh Rendy. Setelah selesai, Rendy kemudian mendatangiku yang masih terbaring mengangkang di ranjang.

“Jangan berontak ya, Kak! Kalau macam-macam, video kakak kusebarkan!” ancamnya. Rendy kemudian melepaskan ikatan kakiku di kedua tiang ranjang itu. Aku disandarkan ke kepala ranjang dan Rendy menyandarkan sebuah bantal di punggungku dan juga sebuah bantal kecil di pantatku untuk kududuki supaya saya merasa nyaman. Tali yang tadi dipakai untuk mengikat kakiku kini dipakai untuk mengikat sikut tanganku yang masih terikat di punggungku pada kedua tiang kepingan atas ranjang canopy itu supaya saya tidak kabur.

“Oke deh! Rasanya sudah cukup!! Nah, kakak santai saja ya? Nikmati saja filmnya!” Rendy kemudian memutar DVD itu.

“Mmff!!” Aku berteriak terkejut dikala melihat adegan percintaan seorang perempuan berambut pirang di layar televisi itu, rupanya Rendy menyetelkan DVD porno untuk kutonton..

“Kakak pelajari gayanya dulu, ya! Supaya nanti siap main dengan Rendy! OK?!” Rendy tersenyum dan beranjak pergi, meninggalkanku sendiri terikat di ranjang sambil berusaha menahan gejolak birahiku yang semakin mendera karena suguhan adegan panas dihadapanku.

Aku pun terpaksa menonton film porno itu sekitar 2 jam. Yah, saya memang pernah melihat sekilas film porno di handphone teman-teman SMUku, namun mungkin karena ini pengalaman pertamaku melihat film porno selama itu, muncul keinginanku supaya vaginaku dimasuki oleh penis mirip perempuan bule yang ada di film porno itu. Pikiranku bergejolak, saya sadar bahwa saya akan kehilangan keperawananku apabila vaginaku dimasuki penis Rendy, namun di sisi lain, saya penasaran akan rasa nikmat yang tampaknya melanda perempuan di film itu dikala vaginanya dimasuki oleh penis. Aku juga ingin mencicipi kenikmatan itu. Apakah saya juga akan merasa senikmat itu apabila vaginaku dimasuki oleh penis? Aku masih mampu mengingat dengan terperinci rasa nikmat dikala vaginaku dijilati dan dipermainkan oleh Rendy sebelumnya. Tentunya saya akan merasa lebih nikmat lagi apabila vaginaku dipermainkan oleh penis Rendy. Lagipula, setidaknya saya tidak perlu khawatir akan hamil karena yakni masa suburku gres saja terlewati minggu lalu. Akhirnya rasa penasaran dan gairah seksualku mengalahkan perasaanku. Sudah kuputuskan, saya akan melayani Rendy sepenuh hatiku. Aku sudah tidak peduli lagi akan statusku sebagai gurunya ataupun perbedaan usia kami, yang kini kuinginkan hanyalah mengejar kenikmatan seksualku semata. Bahkan status dan perbedaan usia kami malah menjadi sumber gejolak gairah seksualku. Detik dan menit berlalu, namun bagiku yang kini dikuasai gairah seksualku, serasa menunggu selama berhari-hari. Cairan cintaku sudah semakin banyak keluar dari vaginaku sehingga saya mampu mencicipi bantal yang kududuki semakin basah. Akhirnya, pintu kamar itu terbuka juga dan masuklah Rendy kedalam kamar itu.

“Bagaimana kak? Sudah puas nontonnya?”

“Sudah tahu kan bagaimana gaya-gayanya?” lanjutnya. Aku hanya mengangguk pelan dengan wajah memelas.

“Bagus, bagus!! Kakak emang pintar!” ujarnya sambil membelai kepalaku dengan pelan, seolah memuji anak kecil.

“Hff..” jawabku.

“Nah, jikalau begitu kakak mau tidak jikalau saya setubuhi mirip di film?” muncullah pertanyaan yang sedari tadi kutunggu. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengangguk sambil melihat wajah Rendy. Namun Rendy malah pura-pura tidak melihat sambil mematikan DVD playernya.

“Apaa? Rendy nggak mampu dengar nih!”

“Mmff!!” Aku berusaha untuk meminta Rendy melepaskan sumbatan mulutku supaya saya mampu berbicara, namun Rendy malah melepas ikatan di kedua sikutku sehingga saya terbebas dari ranjang canopy itu. namun tanganku masih terikat kencang di punggungku. Aku kemudian dituntun turun dari ranjang. Rendy tidak lagi mengawasiku dengan ketat. Ia tahu bahwa saya kini sudah tidak ingin kabur lagi.

“Waah, udah gede masih ngompol yah, Kak?” ejek Rendy dikala melihat bekas cairan cintaku di bantal yang tadi kududuki.

Aku hanya menggeleng pelan, namun kurasa Rendy juga tahu bahwa itu yakni cairan cintaku yang meluber karena saya terangsang sedari tadi. Rendy kemudian menarikku kehadapan sebuah papan tulis putih di kamar itu yang ditempeli berbagai rancangan bu Diana. Rendy melepas semua rancangan itu supaya papan tulis itu bersih. Rendy juga memposisikan tubuhku supaya terjepit diantara sebuah meja dihadapanku dan papan tulis itu dibelakangku. Aku terkejut dikala Rendy dengan sigap menundukkan tubuhku di meja itu sehingga posisiku kini menungging kearah papan tulis itu. Rendy juga menaikkan rok gaun dan petticoatku kepingan belakang dan mengaitkannya di pita putih gaunku yang ada di pinggangku, sehingga kini pantatku terpampang terperinci menungging didepan papan tulis itu.

“Nah, gimana jikalau kakak tulis saja apa yang kakak mau? Soalnya kakak nggak mampu ngomong sekarang” ujarnya dari belakang. Aku pun semakin heran, bagaimana caraku menulis dengan tangan terikat dan posisi tubuh menungging mirip ini? Aku hendak berdiri, namun punggungku ditekan ke meja itu oleh Rendy.

“Tahan sebentar ya, Kak” ujar Rendy sambil membuka celah pantatku. Rendy kemudian menuangkan lotion ke jari telunjuknya dan mengusapkan lotion itu ke lubang pantatku. Sesaat saya mencicipi jari Rendy yang menempel dilubang pantatku bergerak pelan mengoleskan lotion itu dan saya mampu mencicipi rasa hirau taacuh dan licin tamat lotion itu di pantatku.

Setelah lubang pantatku selesai dilumuri lotion, saya merasa ada sesuatu di lubang pantatku, saya tahu benda itu bukanlah jari Rendy karena benda itu terasa lebih besar dan keras dari jari Rendy.

“HMMFF!!” jeritku dikala tiba-tiba saya mencicipi rasa sakit yang luar biasa di lubang pantatku. Suatu benda yang panjang dan keras menekan memasuki lubang pantatku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Rendy memaksakan untuk memasukkan benda itu ke dalam anusku. Benda itu diputarnya perlahan masuk ke dalam pantatku mirip sekrup. Air mataku meleleh dikala mencicipi rasa perih yang amat sangat dikala Rendy memperawani anusku dengan benda itu. Lubang pantatku serasa tersayat-sayat dan rasa perihnya tak terkira.

“Wuiih.. lubang pantatnya seret banget! Padahal sudah dikasih lotion! Pasti masih perawan, nih!” komentar Rendy yang terus memutar benda itu masuk kedalam anusku. Aku hanya mampu menggeleng-geleng keras memohon supaya Rendy menghentikan aksinya itu. Namun Rendy terus memaksakan benda itu untuk masuk kedalam pantatku.

“Oke! Selesai deh!” seru Rendy. Aku menoleh kebelakang, saya amat panik dikala menyadari sebuah spidol berukuran besar kini tertanam didalam pantatku. Spidol itu tampak mengacung tegak kearah papan tulis karena posisi tubuhku yang menungging.

“Oops, hening saja, Kak! Spidolnya sudah kumasukkan dengan baik, kok! Kakak tahan saja spidolnya dengan otot pantat kakak supaya tidak jatuh!” ujar Rendy. Kata-kata Rendy sama sekali tidak menenangkanku apalagi dikala mencicipi spidol besar yang sedang tertanam dalam pantatku.

“Nah, ayo tulis apa yang kakak mau!”

“MMFF!!” saya menggeleng memprotes Rendy. Ide anak ini benar-benar gila! Aku yakin ia pasti mempelajari cara ini lewat film-film pornonya untuk mempermalukanku.

“Ayoo, jikalau tidak, kakak nanti kubiarkan mirip ini, lho! Spidolnya tidak akan kucabut jikalau kakak tidak mau menurut!” ancamnya.

“Mmm..” saya memelas mendengar ancaman Rendy. Aku tahu jikalau sedari awal saya tidak memiliki posisi menawar melawan Rendy dengan kondisi mirip ini.

“Nah! Ayo, tulis di papan tulis kak! Seperti waktu kita belajar! Sekarang, saya mau kakak mengajariku menulis!” ujar Rendy sambil beranjak duduk dihadapanku, seolah sedang mendengarkan pelajaran di kelas.

Aku berusaha tetap hening dan mulai menggerakkan pantatku di papan tulis itu.

“Mmf!” saya menjerit kecil dan mataku membelalak dikala ujung spidol di pantatku menyentuh permukaan papan tulis.

Pantatku terasa geli dan sedikit perih tamat tekanan spidol itu. Rendy tampak senang melihat ekspresi wajahku yang dipenuhi rasa panik, malu dan resah akan keadaanku sekarang. Perlahan-lahan saya berusaha untuk menulis dengan pantatku di papan tulis itu. Kaki dan pahaku ikut bergerak menaik-turunkan tubuhku yang menungging. Aku selalu merintih setiap kali satu tabrakan kutulis di papan tulis itu karena sensasi yang ditimbulkan spidol itu dalam pantatku, yang entah bagaimana semakin membangkitkan gairah seksualku.

“Hati-hati lho, kak. Kalau terlalu ditekan, spidolnya mampu tergelincir masuk kedalam pantat kakak. Nanti tidak mampu keluar lagi lhoo..” sorak Rendy.

Dasar badung! Pikirku. Memangnya salah siapa jikalau nanti spidol ini malah terselip masuk kedalam pantatku?! Malah kini saya yang harus berusaha keras menangkal resiko yang diciptakan oleh anak ini untuk tubuhku! Aku pun mulai kehilangan ketenanganku tamat sorakan Rendy itu. Apalagi sesekali saya merasa spidol itu semakin masuk kedalam pantatku dikala saya menulis. Namun saya tetap berusaha keras dan hasilnya, 5 huruf yang acak-acakan tertulis di papan tulis itu. Aku menghela nafas lega dikala saya melihat hasil tulisanku itu. Sulit untuk dibaca memang, bahkan saya yakin ukiran pena anak SD pasti jauh lebih simpel dibaca dari tulisanku; namun saya yakin telah menulis huruf P-E-N-I-S di papan tulis itu.

3

Gejolak Birahi Mamang Si Tukang Sayur

Cerita Dewasa, Cerita Memek Basah, Certa remaja, Buat Anak, Cerita Malam Jumat, Bandarjudi303, Memek Basah, Cerita Hasrat, Cerita Nafsu, 
- Aku Sintia, setelah lulus smu saya dinikahkan ortu ke temen ortu, dah agak berumur si, tapi suamiku itu tampan, tajir kerna meiliki beberapa perusahaan yang berhasil dalam bisnisnya, dan juga sangat workaholik. Aku sangat menikmati kehidupan suami istri ketika berbulan madu. Suamiku menggarap saya setiap ketika dia bernapsu, tetapi begitu kembali ke dunia nyata, diapun kembali ke kebiasaannya ialah workaholik, dia sangat sibuk ngurusi semua perusahaan. Aku secara materi berkecukupan, tapi secara batin sangat kesepian. Apalagi saya menikah masi umur belasan dan ini tahun pernikahanku yang kedua.

Aku memang nurut aja apa kata ortu sehingga ketika dijodohkan ya iya aja. Kebetulan saya sejak kecil suka ikut masak ma ibuku sehingga kebiasaan itu terbawa sampe sekarang walaupun saya masak hanya untuk diriku sendiri kerna suami gak pernah makan dirumah. Pulang selalu dah larut malem sehingga dah cape dianya dan gak ada niat menyentuh aku. Kalo weekend dan dia ada dirumah, kami selalu makan diluar. Itupun jarang kami bermesraan kerna abis makan malem biasanya dia tenggelem ma kerjaannya sampe saya tertidur duluan dan dia nyusul karna dah ngantuk berat.

Aku suka masakan segar sehingga bahannya juga kudu segar, kalo beli di supermarket itu sudah tidak segar kerna dah lama dipetiknya, makanya saya nunggu tukang sayur aja kalo mau masak. Aku si gak punya langganan tukang sayur yang tetep, tapi suatu pagi kuliat ada tukang sayur yang gi berdiri depan rumahku, dia menghadap ke rumahku, rupanya dia lagi kencing. Aku kaget banget liat kon tolnya, item besar panjang padahal lagi gak ngaceng. Palagi kalo gi ngaceng tu, kaya apa gedenya. membayangkan itu memekku jadi basah.

Kerna gak mo mempermalukan si tukang sayur, ku nunggu dia slesai pipis baru kluar rumah. Tu bapak tampangnya kaya orang timteng, pantes kon tolnya gede panjang gitu, tapi logat ngomongnya sunda pisan. Ku panggil ja mamang. “Mang orang sunda ya, atau orang arab”. “Bapak saya arab tapi ibu sunda pisan neng, kenapa nanya gitu”. “Gak apa, iseng ja nanya mang”. Aku beli beberapa sayuran dan dia nawarain nanas jualannya. Kubilang saya males ngupasnya, trus dia jawab nti dia kupasin, cuma setelah dia dagang nti dia balik lagi.

Wah kesempatan ni, pikirku. Kali2 mampu nikmati kon tol jumbonya, saya jadi ngeres kerna masih terbayang terus kon tolnya yang besar panjang dalam keadaan lemes gitu. “Ya boleh deh mang, nanasnya saya ambil semua, tapi bener ya nanti mamang balik lagi buat ngupasin nanasnya”.

Transaksi selesai dan dia pergi sementara saya masuk dan mulai mengolah sayur yang kubeli ditambah beberapa materi laen dari lemari es, sehingga tersajilah beberapa lauk untuk saya makan siang dan makan malem, nasi masi ada sisa kemaren sehingga cukup diangetin aja.

Makan siang selesai, dia blon dateng juga, saya ngantuk dan tertidur, sampe saya bangun rasanya gak ngedenger ada orang ngetok pintu pager. Aku mandi, ketika ditengah kegiatan cuci rambut terdengar ada bel berbunyi, wah nanggung ni, cuci rambut lon beres dia dah datang.

Ya dah ku balut tubuhku pake jas kamar dan membungkus rambutku dengan anduk, Aku gak pake apa2 dibawah jas kamar, ikat pinggang ku ikatkan asal aja sehingga kepingan dada tersingkap jikalau ku bergerak. Aku keluar membukakan pintu pagar dan segera kembali masuk rumah. Kuminta dia ngunci pintu pager dan kupersilah kan dia masuk pribadi ke dapur daerah saya meletakkan nanas2 yang tadi kubeli.

Ku liat dia rapi gak acak2an kaya waktu dagang tadi, rambutnya juga rapi disisirnya, kayanya dia dah mandi dulu seblon ke tempatku. Biat tukang sayur dia cukup kerenlah sebagai lelaki. Matanya membelalak meliat saya yang cuma terbungkus jas kamar yang mini banget. Dadaku tersingkap cukup lebar kerna ikatan dipinggang longgar aja, sehingga belahan toketku nampak. Biar aja deh dia napsu ma aku, kali ja dia mau garap saya setelah beres kupas nanasnya. saya balik ke kemar mandi untuk menyelesaikan kegiatan keramasku. Aku jadi horny sendiri, sambil mandi saya menggosok2 toketku sampe pentilku mengeras. saya ngilik itilku sendiri sampe saya nyampe.

Aku kaget karena cukup lama saya berswalayan, sampe lupa si tukang sayur gi motongin nanas. Segera saya memakai daster tanpa daleman sama sekali dan keluar. “Sori ya mang, lama ya, sekalian nyuci sih”, kataku. “Nyuci apaan neng, kan ada mesin cuci”. “nyuci yang gak mampu pake mesin cuci. Dah beres ya mang ngupasnya”, kataku. “Udah neng, tinggal dipotong kecil2 aja kalo mo dimakan.

Mo sekalian dipotong2”. “Gak usah deh mang, biar nanti ku potong sendiri kalo mo dimakan”. “Prempuan kan gak bole makan nanas banyak2 neng”. “Mangnya kenapa mang”. “Bisa becek”, jawabnya sambil nyengir. “becek apanya mang”, tanyaku pura2 gak ngerti. “Itunya neng, jadi gak seret lagi kan kalo becek”. “apanya yang becek dan seret si”, saya masi terus bersandiwara. Dia mandangi dadaku terus, emang si dasternya tipis jadi pentilku membayang jelas di dasterku. saya hanya mengenakan daster mini, sehingga paha mulusku menjadi tersingkap, matanya bergantian menelusuri dada dan pahaku. “Ih mamang matanya jelalatan gitu”. “Bisnya neng ngasi liat gitu si”. Wah dah konak ni, itu yang kutunggu2, ku jadi nunggu aja ni apa tindakan dia lebi lanjut.

Aku memasukkan nanas yang sudah dikupas ke lemari es, kemudian menarik tangannya untuk duduk di sofa. Ketika duduk dasterku naik keatas. Aku membiarkan ketika tangannya diletakkan perlahan didengkulku. Dia mulai mengelus2 pahaku. Makin lama elusannya makin keatas, dasterku disingkapnya sehingga pahaku terkespose semuanya.

Elusannya mengarah ke selangkanganku, saya mengangkangkan pahaku secara otomatis. Ketika jarinya mulai mengelus memek dari luar cdku, saya melenguh nikmat, “maaang”. “Napa neng”, katanya sambil mencium pipiku. “Geli mang”. Elusannya menjadi gerakan mencongkel, memekku lembap dengan sendirinya dan nyerep ke cdku. itilku menjadi sasaran berikutnya. “Neng dah lembap gini, kamu dah napsu ya”, kembali dia mencium pipiku. “Mamang bandel sih tangannya”, jawabku manja. Akhirnya dia menghadapkan tubuhnya ke arahku. kurasakan bibirnya sudah menyentuh leherku, terus menyusur ke pipiku.

Tubuhnya bergeser merapat, bibirku dilumatnya dengan penuh napsu. Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangan besarnya membuka kancing daster ku dan kemudian menyelusup kedalam dan meremas toketku. toketku tercakup seluruhnya dalam tangannya. saya rasanya sudah tidak kuat menahan gejolak napsuku, padahal baru awal pemanasan. Bibirnya mulai meneruskan jelajahannya, sambil melepaskan dasterku, leherku dikecup, dijilat kadang digigitnya.

Aku mengangkat tanganku keatas untuk mempermudah dia melepaskan dasterku. Sambil tangannya terus meremas-remas toketku. Bibirnya terus menelusur di permukaan kulitku. Dan mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan.

Kadang-kadang seolah seluruh toketku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli tapi nikmat, napsuku makin berkobar karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah selangkanganku. memekku yang pasti sudah lembap sekali. Dibelainya celah memekku lagi dengan perlahan. Sesekali jarinya kembali menyentuh itilku. Bergetar semua rasanya tubuhku, kemudian CD ku yang sudah lembap itu dilepaskannya.

Aku mengangkat pantatku semoga dia mampu melepas pembungkus tubuhku yang terakhir. Jarinya mulai sengaja memainkan itilku. Dan balasannya jari besar itu masuk ke dalam memekku. Oh, nikmatnya, bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan balasannya sampailah ke memekku. Kali ini diciumnya jembutkudan saya rasakan bibir memekku dibuka dengan dua jari.

Dan balasannya kembali memekku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang bibirnya dihisap, kadang itilku, namun yang membuat saya tak tahan ialah ketika lidahnya masuk di antara kedua bibir memekku sambil menghisap itilku. Dia benar benar mahir memainkan memekku. Hanya dalam beberapa menit saya benar-benar tak tahan.

Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya saya berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan itilku dengan mulutnya, kuremas-remas rambutnya. Dia terus mencumbu memekku, rasanya belum puas dia memainkan memekku hingga napsuku bangun kembali dengan cepat. “Mamang pinter banget ngerangsang aku. Biasanya sama siapa mang maennya. Aku sudah pengen dientot.” kataku memohon sambil kubuka pahaku lebih lebar.

Dia tidak menjawab, bangun dan mengangkat badanku yang sudah lemes dan dibawanya ke kamarku. Aku dibaringkan di ranjang dan dia mulai membuka bajunya, kemudian celananya. Aku terkejut melihat kon tolnya yang besar dan panjang nongol dari kepingan atas CDnya. Kemudian dia juga melepas CD nya.

Sementara itu saya dengan berdebar terbaring menunggu dengan semakin berharap. kon tolnya yang besar dan panjang dan sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut. Aku merinding apakah muat kon tol segitu besarnya di memekku. Dan ketika dia pelan-pelan menindihku, saya membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar memekku menunggu masuknya kon tol extra gede itu. Aku pejamkan mata.

Dia mulai mendekapku sambil terus mencium bibirku, kurasakan bibir memekku mulai tersentuh ujung kon tolnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir memekku terdesak menyamping. Terdesak kepala kon tolnya yang besar itu. Ohh, benar benar kurasakan penuh dan sesak liang memekku dimasuki kon tolnya. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Mili per mili. Pelan sekali terus masuk kon tolnya. Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus.. Akhirnya ujung kon tol itu menyentuh kepingan dalam memekku. Terasa sangat mengganjal sekali rasanya, besar, keras dan panjang. Dia terus menciumi bibir dan leherku.

Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas toketku. Tapi konsentrasi kenikmatanku tetap pada kon tol besar yang mulai dienjotkan halus dan pelan. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat yang belum pernah kualami. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan kon tol besar itu. Maka hanya dalam waktu yang singkat saya makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa saya semakin hanyut. Maka makin gencar dia melumat bibirku, leherku dan remasan tangannya di toketku makin kuat.

Dengan tusukan kon tolnya yang agak kuat dan dipepetnya itilku dengan menggoyang goyangnya, saya menggelepar, tubuhku mengejang, tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. memekku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang luar biasa. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan. “Maang, saya nyampe maang”, Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku. Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas.

Setelah dua kali saya nyampe dalam waktu relatif singkat, namun terasa nyaman sekali, Dia membelai rambutku yang lembap keringat. Kubuka mataku, Dia tersenyum dan menciumku penuh napsu, tak henti hentinya toketku diremas-remas pelan. Tiba tiba, serangan cepat bibirnya melumat bibirku kuat dan diteruskan ke leher serta tangannya meremas-remas toketku lebih kuat.

Napsuku naik lagi dengan cepat, ketika kembali dia mengenjotkan kon tolnya semakin cepat. Uhh, sekali lagi saya nyampe, yang hanya selang beberapa menit, dan kembali saya berteriak lebih keras lagi. Dia terus mengenjotkan kon tolnya dan kali ini dia ikut menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram lenganku dan satunya menekan toketku. Aku makin meronta-ronta tak karuan. Puncak kenikmatan diikuti semburan peju yang kuat di dalam memekku, menyembur berulang kali.

Oh, terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi memekku, hangat sekali dan terasa sekali peju yang keluar seolah menyembur menyerupai air yang memancar kuat. Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya tetap meremas lembut toketku sambil mencium wajahku. “Neng luar biasa, memeknya peret dan nikmat sekali. Gak apa kan saya ngecret didalem”, pujinya sambil membelai dadaku. “Gak apa kok mang, lebih nikmat lagi kesemprot peju anget. Mamang juga hebat. Bisa membuat saya nyampe beberapa kali, dan baru kali ini akubisa nyampe dan merasakan kon tol raksasa. Hihi..” “Jadi neng suka dengan kon tolku?” godanya sambil menggerakkan kon tolnya dan membelai belai wajahku. “Ya mang, kon tol mamang nikmat, besar , panjang dan keras banget” jawabku jujur. Dia memang sangat bakir memperlakukan wanita. Dia tidak pribadi mencabut kontolnya, tapi malah mengajak mengobrol sembari kon tolnya makin mengecil.

Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai rambutku dan paling suka membelai toketku. Aku merasakan pejunya yang bercampur dengan cairan memekku mengalir keluar. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, pelan-pelan kon tol yang telah menghantarkan saya ke awang awang itu dicabut sambil dia menciumku. Tak lama kemudian tertidurlah saya dalam pelukannya, merasa nyaman dan benar-benar saya terpuaskan dan merasakan apa yang selama ini hanya kubayangkan saja.

Aku bangun masih dalam pelukannya. Katanya saya tidur nyenyak sekali, sambil membelai rambutku. Hari dah menjelang sore. Kurang lebih setengah jam kami berbaring berdampingan. Ia kemudian mengajakku mandi. Dibimbingnya saya ke kamar mandi, ketika berjalan rasanya masih ada yang mengganjal memekku dan ternyata masih ada peju yang mengalir di pahaku, mungkin saking banyaknya dia mengecretkan pejunya di dalam memekku. Dalam bathtub yang berisi air hangat, saya duduk di atas pahanya. Dia mengusap-usap menyabuni punggungku, dan akupun menyabuni punggungnya. Dia memelukku sangat akrab hingga dadanya menekan toketku.

Sesekali saya menggeliatkan badanku sehingga pentilku bergesekan dengan dadanya yang berbulu dan dipenuhi busa sabun. Pentilku semakin mengeras. Pangkal pahaku yang terendam air hangat tersenggol2 kontolnya. Hal itu menyebabkan napsuku mulai berkobar kembali. Aku di tariknya sehingga menempel lebih akrab ke tubuhnya. Dia menyabuni punggungku. Sambil mengusap-usapkan busa sabun, tangannya terus menyusur hingga tenggelam ke dalam air. Dia mengusap-usap pantatku dan diremasnya. kon tolnya pun mulai ngaceng ketika menyentuh memekku. Terasa bibir luar memekku bergesekan dengan kon tolnya. Dengan usapan lembut, tapak tangannya terus menyusuri pantatku. Dia mengusap beberapa kali hingga ujung jarinya menyentuh lipatan daging antara lubang pantat dan memekku. “mamang nakal!” desahku sambil menggeliat mengangkat pinggulku.

Walau tengkukku basah, saya merasa bulu roma di tengkukku meremang tamat nikmat dan geli yang mengalir dari memekku. Aku menggeliatkan pinggulku. Ia mengecup leherku berulang kali sambil menyentuh kepingan bawah bibir memekku. Tak lama kemudian, tangannya semakin jauh menyusur hingga balasannya kurasakan lipatan bibir luar memekku diusap-usap. Dia berulang kali mengecup leherku. Sesekali lidahnya menjilat, sesekali menggigit dengan gemas. ”Aarrgghh.. Sstt.Sstt..” rintihku berulang kali. Lalu saya bangun dari pangkuannya. Aku tak ingin nyampe hanya karena jari yang terasa kesat di memekku.

Tapi ketika berdiri, kedua lututku terasa goyah. Dengan cepat dia pun bangun berdiri dan segera membalikkan tubuhku. Dia tak ingin saya terjatuh. Dia menyangga punggungku dengan dadanya. Lalu diusapkannya kembali cairan sabun ke perutku. Dia menggerakkan tangannya keatas, meremas dengan lembut kedua toketku dan pentil ku dijepit2 dengan jempol dan telunjuknya. Pentil kiri dan kanan diremas bersamaan.

Lalu dia mengusap semakin ke atas dan berhenti di leherku. “Mang, lama amat menyabuninya” rintihku sambil menggeliatkan pinggulku. Aku merasakan kon tolnya semakin keras dan besar. Hal itu mampu kurasakan karena kon tolnya makin dalam terselip di pantatku. Tangan kiriku segera meluncur ke bawah, kemudian meremas biji pelernya dengan gemas. Dia menggerakkan telapak kanannya ke arah pangkal pahaku.

Sesaat dia mengusap usap jembutku, kemudian mengusap memekku berulang kali. Jari tengahnya terselip di antara kedua bibir luar memekku. Dia mengusap berulang kali. itilku pun menjadi sasaran usapannya. “Aarrgghh..!” rintihku ketika merasakan kon tolnya makin kuat menekan pantatku. Aku merasa lendir membanjiri memekku. Aku jongkok semoga memekku terendam ke dalam air. Kubersihkan celah diantara bibir memekku dengan mengusapkan 2 jariku.

Ketika menengadah kulihat kon tolnya telah berada persis didepanku. kon tolnya telah ngaceng berat. “Mang, kuat banget sih, baru aja ngecret di memekku sekarang sudah ngaceng lagi”, kataku sambil meremas kon tolnya, kemudian kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala kon tolnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika saya menjilati kepala kon tolnya. Dia meraih bahuku karena tak mampu lagi menahan napsunya.

Setelah berdiri, kaki kiriku diangkat dan letakkan di pinggir bath tub. Aku dibuatnya menungging sambil memegang dinding di depanku dan dia menyelipkan kepala kon tolnya ke celah di antara bibir memekku. ”Argh, aarrgghh..,!” rintihku. Dia menarik kon tolnya perlahan-lahan, kemudian mendorongnya kembali perlahan-lahan pula. Bibir luar memekku ikut terdorong bersama kon tolnya. Perlahan-lahan menarik kembali kon tolnya sambil berkata “Enak neng?”. ”Enaak banget mang”, jawabku!” Dia mengenjotkan kon tolnya dengan cepat sambil meremas bongkah pantat ku dan tangan satunya meremas toketku. “Aarrgghh..!” rintihku ketika kurasakan kon tolnya kembali menghunjam memekku. Aku terpaksa berjinjit karena kon tol itu terasa seolah membelah memekku karena besarnya. Terasa memekku sesek kemasukan kon tol besar dan panjang itu.

Kedua tangannya dengan akrab memegang pinggulku dan dia mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Terdengar ‘cepak-cepak’ setiap kali pangkal pahanya berbenturan dengan pantatku. “Aarrgghh.., aarrgghh..!Mang.., saya nyampe..!” Aku lemas ketika nyampe lagi untuk kesekian kalinya.

Rupanya dia juga tidak mampu menahan pejunya lebih lama lagi. “Aarrgghh.., neng”, kata nya sambil menghunjamkan kon tolnya sedalam-dalamnya. “Mang.., sstt, sstt..” kataku karena berulangkali ketika merasa tembakan pejunya dimemekku. “Aarrgghh.., neng, enaknya!” bisiknya ditelingaku. “Mang.., sstt.., sstt..! Nikmat sekali ya dien tot mamamng”, jawabku karena nikmatnya nyampe. Dia masih mencengkeram pantatku sementara kon tolnya masih nancep dimemekku. Beberapa ketika kami diam di daerah dengan kon tolnya yang masih menancap di memekku. Kemudian dia membimbingku ke shower,menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat.

Setelah selesai saya keluar duluan, sedang dia masih menikmati shower. Selesai dengan rambut yang masih lembap dan masih bertelanjang bulat, saya keluar dari kamar mandi. Hari dah mulai gelap. Aku menyiapkan makan malem sambil tetep bertelanjang bulat. Masakanku tadi siang kuangetin lagi, demikian juga nasinya. Diapun keluar kamar bertelanjang lingkaran juga, sepertinya dia masih mau sekali lagi. Kami nyantap masakan sambil ngobrolin kenikmatan yang baru kami nikmati. “Mamang pengalaman sekali ngegarap tubuhku, sampe saya klojotan berkali2, biasanya garap siapa mang?. “Iya neng, biasanya saya suka maen ma pembantu2 aja yang pengen kugarap, baru sekali ini maen ma yang punya rumah. jau lebi nikmat lah ma neng, neng mana cantik, putih, mulus lagi”.

Setelah makan, saya ngajak duduk di sofa. dia memintaku duduk di pangkuannya. Aku menurut saja. Sambil mengobrol, saya dimanja dengan belaiannya. Diraihnya daguku, dan diciumnya bibirku dengan hangatnya, saya mengimbangi ciumannya. Dan selanjutnya kurasakan tangannya mulai meremas gemes toketku, kemudian tangannya menelusuri antara dada dan pahaku. Nikmat sekali rasanya, tapi saya sadar bahwa sesuatu yang saya duduki terasa mulai agak mengeras. Ohh, pribadi saya bangkit.

Aku bersimpuh di depannya dan ternyata kon tolnya sudah mulai ngaceng, walau masih belum begitu mengeras. Kepala kon tolnya ku raih, ku belai dan sebelum penuh ngacengnya pribadi saya kulum kon tolnya. Tapi hanya mampu sesaat, alasannya dengan cepatnya kon tolnya makin membengkak dan dia mulai menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh. “Mamang hebat ya sudah ngaceng lagi, kita lanjut yuk mang”, kataku yang juga sudah terangsang. Rupanya dia makin tak tahan mendapat rangsangan lidahku. Maka saya ditarik dan diajak ke kamar.

Baca Juga - Kumpulan Cerita Seks Ayah Tiriku yang Bejat

Aku berbaring diranjang yang masih awut-awutan sisa pertempuran seru tadi. Kakiku ditahannya sambil tersenyum, diteruskan dengan membuka kakiku dan dia pribadi menelungkup di antara pahaku. “Aku suka melihat memek neng” ujarnya sambil membelai bulu jembutku. Aku merasakan dia terus membelai jembutku dan bibir memekku.

Kadang-kadang dicubit pelan, ditarik-tarik menyerupai mainan. Aku suka memekku dimainkan berlama-lama, saya terkadang melirik apa yang dilakukannya. Seterusnya dengan dua jarinya membuka bibir memekku, saya makin terangsang dan saya merasakan makin banyak keluar cairan dari memekku. Dia terus memainkan memekku seolah tak puas-puas memperhatikan memekku, kadang kadang disentuh sedikit itilku, membuat saya penasaran. Tak sadar pinggulku mulai menggeliat, menahan rasa penasaran.

Maka ketika saya mengangkat pinggulku, pribadi disambut dengan bibirnya. Terasa dia menghisap lubang memekku yang sudah penuh cairan. Lidahnya ikut menari kesana kemari menjelajah seluruh lekuk memekku, dan ketika dihisapnya it ilku dengan ujung lidahnya, cepat sekali menggelitik ujung itilku, benar benar saya tersentak. Terkejut kenikmatan, membuat saya tak sadar berteriak..“Aauuhh!!”. Benar benar hebat dia merangsangku, dan saya sudah tak tahan lagi. “Ayo dong mang, saya pingin dientot lagi” ujarku.

Dia pribadi menempatkan tubuhnya makin ke atas dan mengarahkan kon tol gedenya ke arah memekku. Aku masih sempat melirik ketika dia memegang kon tolnya untuk diarahkan dan diselipkan di antara bibir memekku. Kembali saya berdebar karena berharap. Dan ketika kepala kon tolnya telah menyentuh di antara bibir memekku, saya menahan nafas untuk menikmatinya. Dan dilepasnya dari pegangan ketika kepala kon tolnya mulai menyelinap di antara bibir memekku dan menyelusup lubang memekku hingga saya berdebar nikmat. Pelan-pelan ditekannya dan dia mulai mencium bibirku lembut. Kali ini saya lebih mampu menikmatinya. Makin ke dalam.. Oh, nikmat sekali. kon tolnya semakin masuk. Belum semuanya masuk, Dia menarik kembali seolah akan dicabut hingga tak sadar pinggulku naik mencegahnya semoga tidak lepas.

Beberapa kali dilakukannya hingga balasannya saya ingin tau dan berteriak-teriak sendiri. Setelah dia puas menggodaku, tiba tiba dengan hentakan agak keras, dipercepat gerakan mengenjotnya hingga saya kewalahan. Dan dengan hentakan keras serta digoyang goyangkan, tangan satunya meremas toketku, bibirnya dahsyat menciumi leherku. Akhirnya saya mengelepar-gelepar. Dan sampailah saya kepuncak.

Tak tahan saya berteriak, terus Dia menyerangku dengan dahsyatnya, rasanya tak habis-habisnya saya melewati puncak kenikmatan. Lama sekali. Tak kuat saya meneruskannya. Aku memohon, tak kuat mendapat rangsangan lagi, benar benar terkuras tenagaku dengan orgasme berkepanjangan. Akhirnya dia pelan-pelan mengakhiri serangan dahsyatnya. Aku terkulai lemas sekali, keringatku bercucuran. Hampir pingsan saya mendapat kenikmatan yang berkepanjangan. Benar-benar saya tidak menyesal ngen tot dengan dia, dia memang benar-benar hebat dan mahir dalam ngen tot, dia mampu mengolah tubuhku menuju kenikmatan yang tiada tara.

Lamunanku lepas ketika pahanya mulai kembali menjepit kedua pahaku dan dirapatkan, tubuhnya menindihku serta leherku kembali dicumbu. Kupeluk tubuhnya yang besar dan tangannya kembali meremas toketku. Pelan-pelan mulai dienjotkan kon tolnya. Kali ini saya ingin lebih menikmati seluruh rangsangan yang terjadi di seluruh kepingan tubuhku. Tangannya terus menelusuri permukaan tubuhku. Dadanya merangsang dadaku setiap kali bergeseran mengenai pentilku. Dan kon tolnya dipompakan dengan penuh napsu, bibirnya menjelajah leher dan bibirku. Ohh, luar biasa. Lama kelamaan tubuhku yang semula lemas, mulai terbakar lagi. Aku berusaha menggeliat, tapi tubuhku dipeluk cukup kuat, hanya tanganku yang mulai menggapai apa saja yang kudapat.

Dia makin meningkatkan cumbuannya dan memompakan kon tolnya makin cepat. Gesekan di dinding memekku makin terasa. Dan kenikmatan makin memuncak. Maka kali ini leherku digigitnya agak kuat dan dimasukkan seluruh batang kon tolnya serta digoyang-goyang untuk meningkatkan rangsangan di itilku. Maka jebol lah bendungan, saya mencapai puncak kembali. tiba tiba dia dengan cepat mengenjot lagi. Kembali saya berteriak sekuatku menikmati ledakan orgasme yang lebih kuat, saya meronta sekenaku. Gila, batinku, dia benar-benar membuat saya kewalahan. Kugigit pundaknya ketika saya dihujani dengan kenikmatan yang bertingkat-tingkat.

Sesaat dia menurunkan gerakannya, tapi ketika itu dibaliknya tubuhku hingga saya di atas tubuhnya. Aku terkulai di atas tubuhnya. Dengan sisa tenagaku saya keluarkan kon tolnya dari memekku. Dan kuraih batang kon tolnya. Tanpa pikir panjang, kon tol yang masih berlumuran cairan memekku sendiri kukulum dan kukocok. Dan pinggulku diraihnya hingga balasannya saya telungkup di atasnya lagi dengan posisi terbalik. Kembali memekku yang berlumuran cairan jadi mainannya, saya makin bersemangat mengulum dan menghisap sebagian kon tolnya.


Dipeluknya pinggulku hingga sekali lagi saya orgasme. Dihisapnya it ilku sambil ujung lidahnya menari cepat sekali. Tubuhku mengejang dan kujepit kepalanya dengan kedua pahaku dan kurapatkan pinggulku semoga bibir memekku merapat ke bibirnya. Ingin saya berteriak tapi tak mampu karena mulutku penuh, dan tanpa sadar saya menggigit agak kuat kon tolnya dan kucengkeram kuat dengan tanganku ketika saya masih menikmati orgasme.

“Neng, saya mau ngecret di dalam memek neng ya”, katanya sambil menelentangkan aku. “Ya, mang”, jawabku. Dia menaiki saya dan dengan satu hentakan keras, kon tolnya yang besar sudah kembali menyesaki memekku. Dia pribadi mengenjot kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dalam beberapa enjotan saja tubuhnyapun mengejang. Pantat kuhentakkan ke atas dengan kuat sehingga kon tolnya nancap semuanya ke dalam memekku dan balasannya crot .. crot ..crot, pejunya muncrat dalam beberapa kali semburan kuat.

Herannya, ngecretnya yang ketiga masih saja pejunya keluar banyak, memang luar biasa staminanya. Dia menelungkup diatasku sambil memelukku erat2. “Neng, nikmat sekali ngen tot sama neng, memek neng kuat sekali cengkeramannya ke kon tolku”, bisiknya di telingaku. “Ya mang, saya juga nikmat sekali, tentu saja cengkeraman memekku terasa kuat karena kon tol mamang kan gede banget. Rasanya sesek deh memekku jikalau mamang neken kon tolnya masuk semua”. “Sayangnya saya kudu balikl neng, kudu nyiapin dagangan sayur buat besok lagi. Suaminya blon pulang ya neng”. “Ah dia kalo dah kerja ya lupa ma saya mang. Kalau ada kesempatan, saya dientot lagi ya mang”, jawabku.

3