Sebut saja namaku Farel, Aku yakni mahasiswa tingkat simpulan di sebuah universitas di Surabaya. Di kampus saya mempunyai seorang dosen yang cantik dan lembut. Namanya Bu Fera. Berkenaan dengan Bu Fera, ada sesuatu yang membuat kehidupanku lebih rupawan dan menyenangkan selama hampir tiga bulan ini.
Bermula pada suatu siang ketika saya melaksanakan bimbingan suatu peran simpulan Di jurusanku sebelum masuk ke skripsi, seorang mahasiswa harus mengambil peran simpulan mengerjakan sebuah desain Bu Fera yakni pembimbingku untuk peran tersebut
Bimbingan berlangsung singkat saja, sebab Bu Fera ada peran lain di luar kampus ketika itu Ketika selesai, Bu Fera bilang padaku semoga datang ke rumahnya saja pada malam harinya untuk melanjutkan bimbingan Malamnya saya datang
Rumahnya ada di sebuah kompleks perumahan yang sepi dan damai Bu Fera sudah bercerai dari suaminya Ia berumur sekitar 27 tahun, dengan seorang anak yang masih bersekolah TK Meskipun sudah berumur 27 tahun, namun Bu Feramasih kelihatan menyerupai gres lepas ABG saja Kulitnya putih, bersih dan segar
Bodinya langsing, meskipun tidak terlalu tinggi Pada kaki dan tangannya ditumbuhi bulu-bulu halus, tapi cukup lebat, yang kontras dengan kulitnya yang putih itu Saat itu merupakan liburan TK-SD dan anaknya sedang berlibur di rumah sepupunya yang seumur dengan dia
Aku dan Bu Fera sesungguhnya memang sudah cukup dekat Dia pernah menjadi dosen waliku dan beberapa kali saya pernah datang ke rumahnya, sehingga saya tidak canggung lagi Apalagi dalam banyak hal selera kami sama, misalnya soal selera musik Setelah bimbingan selesai, kami hanya mengobrol ringan saja Kemudian Bu Fera minta tolong padaku
“Rel, slot lemari pakaian di kamarku rusak, bisa minta tolong diperbaiki?”, begitu katanya malam itu
Kemudian saya dibawa naik ke lantai dua, ke kamarnya Kamarnya wangi Penataan interiornya juga rupawan Kurasa wajar saja, semenjak semula saya tahu ia punya selera yang bagus Itu pula yang membuat kami akrab, kami juga sering memperbincangkan soal-soal menyerupai itu, selain soal-soal yang berkaitan dengan kampus Aku tersenyum ketika melihat sebagian isi lemari pakaiannya
Lingerie-nya didominasi warna hitam Aku juga menyukai warna menyerupai itu Warna menyerupai itu sering pula kusarankan pada Daren cewekku untuk dipakainya, sebab dengan pakaian dalam menyerupai itu membuatku lebih bernafsu Bu Fera hanya tersenyum melihatku “terkesan” menyaksikan tumpukan lingerie-nya
Dengan serius kuperbaiki slot pintu lemarinya yang rusak Ia keluar meninggalkanku sendirian di kamarnya Sesaat kemudian pekerjaanku selesai Saat itu Bu Fera masuk Tiba-tiba tanpa kusangka, ia melap peluh di dahiku dengan lembut. AC di kamarnya memang dimatikan, sehingga udara gerah
“Panas Rel? Biar AC-nya kuhidpkan”, begitu katanya sambil menghidupkan AC
Saat kekagetanku belum hilang, ia kembali melap keringat di dahiku Dan kali ini bahkan dengan lembut ia mendekatkan wajahnya ke wajahku Segera saya menyambar aroma wangi dari tubuhnya hingga membuat jantungku berdetak tidak menyerupai biasanya
Bahkan kemudian ia melanjutkan membuat detak jantungku semakin kencang dengan mendekatkan bibirnya ke bibirku Sesaat kemudian kusadari bibirnya dengan lembut telah melumat bibirku Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku dan semakin dalam pula aroma wangi tubuhnya terhirup napasku, yang bersama tindakannya melumat bibirku, kemudian mengalir dalam urat darahku sebagai sebuah sensasi yang indah
Ia terus melumat bibirku Lalu tangannya pelan-pelan membuka satu persatu kancing kemejaku Saat itu saya mulai bisa menguasai diriku Maka dengan pelan-pelan pula kubuka kancing blusnya Setelah kemejaku lepas, ia menarik resliting jeansku Begitu pula yang kulakukan dnegan roknya, kutarik resliting yang mengunci rokya Kemudian ia melepaskan bibirnya dari bibirku dan membuka matanya
Saat itu saya terbelalak melihat keindahan yang ada di depan mata Payudaranya sedang-sedang saja, tapi rupawan dan terlihat kencang dibungkus bra hitam bepotongan pendek berenda yang membuat barang rupawan itu tampak semakin indah
Payudaranya seolah “hanging wall” yang mengundang seorang climber untuk menaklukkannya dengan hasrat yang paling liar Dan menengok ke bawah, saya semakin dibuat terkesan serta jantungku juga semakin berdetak kencang
Di balik celana dalam dengan potongan yang pendek yang juga berwarna hitam berenda yang indah, tersembul bukit venus yang menggairahkan Di tepi renda celana itu, tampak rambut yang menyembul rupawan melengkapi keindahan yang sudah ada
Kulihat Bu Fera juga tersenyum menatap lonjoran tegang di balik celana dalamku Tangannya yang lembut mengelus pelan lonjoran itu Sensasi yang menjelajahi anutan darahku kemudian menggerakkan tanganku mengelus bukit venusnya Ia tampak memejam sesaat dengan erangan yang pelan ketika tanganku menyentuh daging kecil di tengah bukit venus itu
Ia kemudian melanjutkan tindakannya melumat bibirku dengan lembut Bibirnya yang lembut serta napasnya yang wangi kembali membuatku dialiri sensasi yang memabukkan Ia rupanya memang tabah dan tidak terburu-buru dengan libido nya untuk segera menuju ke puncak kenikmatan
Bibirnya kemudian ia lepaskan dari bibirku dan ia menyelusuri leherku dengan bibirnya Napasnya membelai kulit leherku sehingga terasa geli namun nikmat Kadang-kadang ia mengginggit leherku namun rupanya ia tidak ingin meninggalkan bekas Ia tahu bahwa saya punya pacar, sebab belum lama, Daren kuperkenalkan padanya ketika kami bertemu di sebuah toko buku
Ia kemudian turun ke dadaku dan mempermainkan puting susuku dengan mulutnya, yang membuat anutan darahku dialiri perasaan geli tapi nikmat Semakin ke bawah ia membisu sesaat menatap batang yang tersembunyi di balik celana dalamku, yang waktu itu juga berwarna hitam
Sesaat ia mempermainkannya dari luar Ia kemudian dengan lembut menarik celana dalamku Ia tersenyum ketika menyaksikan penisku yang tegak dan kencang, menyerupai mercu suar yang siap memandu pelayaran gairah libido kewanitaannya
Dengan lembut ia kemudian mengulum penisku Maka anutan hangat yang bermula dari permukaan syaraf penisku pelan-pelan menyusuri anutan darah menuju ke otakku Aku serasa diterbangkan ke awan pada ketinggian tak terukur Bu Fera terus mempermainkan lonjoran daging kenyal penisku itu dengan kelembutan yang menerbangkanku ke awang-awang
Caranya mempermainkan barang kejantananku itu sangat berbeda dengan Darencewekku Daren melakukannya dengan ganas dan panas, sedangkan Bu Fera sangat lembut seolah tak ingin melewatkan seluruh adegan syaraf yang ada di situ Cukup lama Bu Fera melaksanakan itu
Ketika perjalananku ke awang-awang kurasakan cukup, kutarik penisku dari dekapan ekspresi lembutnya Giliran saya yang ingin membuat ia terbang ke awang awang Maka kubuka bra yang menutupi payudara indahnya Semakin terperangahlah saya dengan keindahan yang ada di depan mataku
Di depanku bediri dengan tegak bukit kembar yang rupawan sekaligus menggairahkan Di sekitar puncak bukit itu, di sekitar putingnya yang merah kecoklatan, tumbuh bulu-bulu halus Menambah keindahan buah dadnya Tapi saya tidak memulainya dari situ Aku hanya mengelus putingnya sebentar Itupun saya sudah menangkap desah halus yang keluar dari bibir indahnya
Kumulai dari lehernya Kulit lehernya yang halus licin menyerupai porselen dan wangi kususuri dengan bibirku yang hangat Ia mendesah terpatah-patah Apalagi ketika tanganku tak kubiarkan menganggur Jari-jariku memijit lembut bukit kenyal di dadanya dan adakala kupelintir pelan puting merah kecoklat-coklatan yang tumbuh matang di ujung buah dadanya itu
Kurasakan semakin lama puting itu pun semakin keras dan kencang Setelah puas menyusuri lehernya, saya turun ke dadanya Dan segera kulahap puting yang menonjol merah coklat itu Ia menjerit pelan Tapi tak kubiarkan jeritannya berhenti
Kusedot puting itu dengan lembut Ya, dengan libido yg lembut sebab saya yakin gaya menyerupai itulah yang diinginkan orang menyerupai Bu Fera Mulutku menyerupai lebah yang menghisap kemudian terbang berpindah ke buah dada satunya Tapi tak kubirakan buah dada yang tidak kunikmati dengan mulutku, tak tergarap Maka tangankulah yang melakukannya Kulakukan itu berganti-ganti dari buah dada satu ke buah dadanya yang lain
Setelah puas saya turun bukit dan kususuri setiap jengkal kulit wanginya Dan ketika saya semakin turun kucium aroma yang khas dari barang pribadi seorang perempuan Aroma dari vaginanya Semakin besarlah gairah libido yang mengalir ke otakku Tapi saya tidak ingin eksklusif menuju ke sasaran
Cara Bu Fera membuatku melayang rupanya mempengaruhiku untuk tenang, tabah dan pelan-pelan juga membawanya naik ke awang-awang Maka dari luar celana dalamnya, kunikmati lekuk bukit dan danau yang ada di situ dengan lidah, bibir dan adakala jari-jemariku Kusedot dengan nikmat anyir khas libido yang keluar dari sumur yang ada di situ
Setelah cukup puas, gres kutarik celana dalamnya pelan-pelan Aku tersentak menyaksikan apa yang kulihat Bukit venus yang rupawan itu ditumbuhi rambut yang lebat Tapi terkesan bahwa yang ada di situ terawat Meski lebat, rambut yang tumbuh di situ tidak berserakan tapi merunduk rupawan mengikuti kontur bukit venus itu Walaupun saya pernah membayangkan apa yang tumbuh di situ, tapi saya tidak menduga seindah itu
Ya, saya dan teman-temanku sering bergurau begini ketika melihat Bu Fera bila rambut di daerah yang terbuka saja subur, apalagi rambut di daerah yang tersembunyi Dan ternyata saya bisa menerangkan gurauan itu Ternyata rambut di daerah itu memang luar biasa
Bahkan saya yang semula berpikir rambut yang menghiasai vagina Daren luar biasa sebab subur dan indah, kemudian mendapatkan kenyataan bahwa ada yang lebih indah, yaitu milik Bu Fera ini Dari samping keadaan itu menyerupai taman gantung yang terawat saja.
Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan rupawan itu Maka saya segera menenggelamkan diri di daerah itu, di hutan itu Lidahku segera menyusuri taman rupawan itu dan kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya Maka Bu Fera menjerit kecil ketika lidahku menancap di lubang sumur itu
Di lubang vaginanya Bau khas vagina yang keluar dari lubang itu semakin melambungkan gairah libido ku Dan jeritan kecil itu kemudian di susul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan Dan kurasa ia memang kepanasan oleh gairah libido yang membakarnya
Aku menikmati jeritan libido itu sebagai sensasi lain yang membuatku semakin bernafsu pula menguras kenikmatan di lubang sumur vaginanya Lendir hangat khas yang keluar dari dinding vaginanya terasa hangat pula di lidahku Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas lubang vaginanya Di klitorisnya Maka semakin santerlah erangan-erangan libido Bu Fera yang mengikuti gerakan-gerakan menggelinjang Demikian kulakukan hal itu sekian lama
Kemudian pada suatu ketika ia berusaha membebaskan vaginanya dari sergapan mulutku Ia menarik sebuah kursi rias kecil yang tadi menjadi ganjal kakinya untuk mengangkang Aku dimintanya duduk di kursi itu Begitu saya duduk, ia kembali memagut penisku dengan mulutnya secara lembut Tapi itu tidak lama, sebab ia kemudian memegang penisku yang sudah tidak tabah mencari pasangannya itu
Bu Fera membimbing daging kenyal yang melonjor tegang dan keras itu masuk ke dalam vaginanya dan ia duduk di atas pangkuanku Maka begitu penisku amblas ke dalam vaginanya, terdengar jeritan kecil yang menandai kenikmatan yang ia dapatkan
Aku juga mencicipi kehangatan mengalir mulai ujung penisku dan mengalir ke setiap anutan darah Ia memegangi pundakku dan menggerakkan pinggulnya yang rupawan dengan gerakan serupa spiral Naik turun dan memutar dengan pelan tapi bertenaga
Suara ukiran pemukaan penisku dengan selaput lendir vaginanya mengakibatkan bunyi kerenyit-kerenyit yang rupawan sehingga menimbukan sensasi komplemen ke otakku Demikian juga dengan ukiran rambut kemaluannya yang lebat dengan rambut kemaluanku yang juga lebat
Suara-suara erangan dan desahan napasnya yang terpatah-patah, bunyi ukiran penis dan selaput lendir vaginanya serta bunyi ukiran rambut kemaluan kami berbaur dengan bunyi lagu mistis Sarah Brightman dari CD yang diputarnya
Barangkali ia memang sengaja ingin mengiringi permainan cinta kami dengan lagu-lagu menyerupai itu Ia tahu saya menyukai musik demikian Dan memang terasa luar biasa indah, pada suasana menyerupai itu Apalagi lampu di kamar itu juga remang-remang setelah Bu Fera tadi mematikan lampu yang terang
Dengan suasana menyerupai itu, rasanya saya tidak ingin membiarkan setiap hal yang mengakibatkan kenikmatan menjadi sia-sia Maka saya tidak membiarkan payudaranya yang ikut bergerak sesuai dengan gerakan tubuhnya menggodaku begitu saja Kulahap buah dadanya itu Semakin lengkaplah jeritannya
Matanya yang terpejam adakala terbuka dan tampak sorot mata yang saya hapal menyerupai sorot yang keluar dari mata Daren ketika bercinta denganku Sorot matanya menyerupai itu Sorot mata nikmat yang membungkus perasaan libido nya. Sekian lama kemudian ia menjerit panjang sambil meracau
“Ah Aku Aku orgasme, Rel”
Sesaat ia bengong sambil menengadahkan wajahnya ke atas, tapi matanya masih terpejam Kemudian ia melanjutkan gerakannya Barangkali ia ingin mengulanginya dan saya tidak keberatan sebab saya sama sekali belum mencicipi akan hingga ke puncak kenikmatan itu
Sebisa mungkin saya juga menggoyangkan pinggulku semoga ia mencicipi kenikmatan yang maksimal Jika tanganku tidak aktif di buah dadanya, kususupkan di selangkangannya dan mencari daging kecil di atas lubang vaginanya, yang dipenuhi oleh penisku
Meskipun Bu Fera seorang janda dan sudah punya anak, saya merasa lubang vaginanya, menyerupai seorang ABG saja Tetap rapat dan singset Otot vaginanya seakan mencengkeram dengan berpengaruh otot penisku Maka gerakan pinggulnya untuk menaik turunkan bukit venus vaginanya mengakibatkan kenikmatan libido yang luar biasa Dan sejauh ini saya tidak mencicipi tanda-tanda lahar panasku akan meledak
Bu Fera memang luar biasa, ia menyerupai tahu menjaga tempo permainannya semoga saya bisa mengikuti caranya bermain Ia menyerupai tahu menjaga tempo semoga saya tidak cepat-cepat meledak Memang sama sekali tidak ada gerakan liar
Yang dilakukannya yakni gerakan-gerakan lembut, tapi justru mengakibatkan kenikmatan yang luar biasa, terutama sebab saya jarang bercinta dengan perempuan lembut menyerupai itu Sekian lama kemudian saya mendengar lagi ia meracau
“Ah Ah Ini yang kedua Rel saya orgasme Uhh!” Di susul jeritan panjang melepas kenikmatan itu
Tapi kemudian ia memintaku mengangkatnya ke ranjang, tanpa melepaskan penisku yang masih menancap di lubang vaginanya Ia memintaku menidurkannya di ranjang tapi tak ingin melepaskan vaginanya dari penisku, yang sejauh ini menyerupai mendekap sangat erat Kulakukan pemintaannya itu Maka begitu ia telentang di ranjang, saya masih ada di atasnya Penisku pun masih masuk penuh di dalam vaginanya
Kami melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas dengan libido itu. Kini saya berada di atas, maka saya lebih bebas bermanuver Maka dengan gerakan menyerupai yang sering kulakukan bila saya bekerjasama seks dengan Daren, cepat dan bertenaga, kulakukan juga hal itu pada Bu Fera Tapi sesaat kemudian ia berbisik dengan mata yang masih terpejam
“Pelan-pelan saja, RelAku masih ingin orgasme”
Aku tersadar apa yang telah kulakukan Maka kini gerakanku pelan dan lembut menyerupai undangan Bu Fera Kini erangan dan desahan patah-patahnya kembali terdengar Ia menarik punggungku semoga saya lebih dekat ke badannya Aku maklum Tentu ia ingin mendapatkan kenikmatan yang maksimal dari gesekan-gesekan adegan tubuh kami yang lain
Dan Bu Fera memang benar, begitu dadaku bergesekan dengan buah dadanya, semakin besarlah sensasi kenikmatan yang kudapat Kurasa demikian juga dengannya, sebab jeritannya berubah semakin santer Apalagi ketika saya juga melumat bibir merahnya yang menganga, menyerupai bibir vaginanya sebelum saya menusukkan penisku di situ
Meskipun jeritannya agak bekurang sebab kini mulutnya sibuk saling melumat bersama mulutku, tapi saya semakin sering mendengar ia mengerang dan terengah-engah kenikmatan Hingga beberapa ketika kemudian saya mendengar ia meracau menyerupai sebelumnya
“Aku Ah Aku Uh Yang ketiga Aku orgasme, RelAhh”
Setelah jeritan panjang itu, matanya terbuka Tampak sorot matanya puas dan bangga Kemudian ia berbisik terengah-engah
“Aku Aku Sudah cukup, Rel Saatnya untuk kamu”
Aku tahu yang ia maksudkan, maka kemudian pelan-pelan semakin kugenjot gerakanku dengan libido dan semakin bertenaga pula Ia kini membiarkanku melaksanakan itu Kurasa Bu Fera memang sudah puas mendapatkan orgasme hingga tiga kali Sekian lama kemudian kurasakan lahar panasku ingin meledak
Penisku berdenyut-denyut enak, menandai bahwa sebentar lagi akan ada ledakan dahsyat libido yang akan melambungkanku ke awang-awang Maka saya berusaha menarik penisku dari lubang vaginanya yang nikmat itu Tapi Bu Fera menahan penisku dengan tangan lembutnya
“Biarkan. Biarkan Saja di vaginaku, Rel Aku ingin mencicipi sensasi cairan hangat itu Di vaginaku Uhh Uhh”
Maka ketika lahar panas dari penisku benar-benar meledak, kubiarkan ia mengendap di sumur vagina milik Bu Fera, dengan diiringi teriakan nikmat libido ku. Setelah itu, Bu Fera memintaku untuk tetap berada di atas tubuhnya barang sesaat
Dengan lembut ia menciumi bibirku dan tangannya mengusap-usap puting susuku Aku juga melaksanakan hal yang sama dengan mengusap-usap buah dadanya yang ketika itu berair sebab keringat Dan memang sensasi libido yang kurasakan luar biasa
Cooling down yang diinginkan Bu Fera itu membuatku merasa seperti saya sudah sangat dekat dengan Bu Fera Aku merasa ia menyerupai kekasihku yang sudah sering dan sangat lama bermain cinta bersama Aku merasa sangat dekat Maka begitu saya merasa sudah cukup, saya menarik penisku yang sesungguhnya masih sedikit tegang dari lubang vaginanya
Tampak air muka Bu Fera sedikit kacau Wajahnya berkeringat dan anak rambutnya satu dua menempel di dahinya Kami kemudian pergi ke kamar mandi pribadinya di kamar itu Kamar mandinya juga wangi Sambil bergurau, saya menggodanya
“Ibu Justru kelihatan cantik setelah bercinta” Ia hanya tertawa mendengar gurauanku
“Memang setelah bercinta denganmu tadi, seluruh pori-poriku menyerupai terbuka Aku sedikit capai tapi merasa segar”, jawabnya dengan berbinar-binar
Ia tampaknya memang puas dengan permainan cinta kami Di bawah shower, kami membersihkan diri dengan mandi tolong-menolong Kadang-kadang kami saling membersihkan satu sama lain Ia membersihkan penisku dengan sabun dan saya membersihkan sekitar vaginanya juga Ia tertawa geli ketika saya dengan halus mengusap-usap vaginanya dan rambut kemaluannya yang lebat itu
Setelah itu, kami duduk-duduk saja di sofa di depan TV Kami menonton TV, sambil mengobrol dan menikmati kopi panas yang ia buat Tapi ia masih membiarkan pemutar CD-nya hidup Kali ini bunyi Deep Forest yang juga mistis mengisi suasana ruangan itu
“Kamu tadi luar biasa, Rel ” katanya memujiku
“Meskipun masih muda, kau bisa bercinta dengan tabah Aku hingga mendapat orgasme tiga kali” Ia tersenyum Matanya berbinar-binar
“Ah, itu juga sebab Ibu. Gerakan Ibu yang tabah dan lembut membuat saya juga terpengaruh ”
Kami mengobrol hingga malam
Ia kemudian berkata, “Menginap di sini saja, Rel Ini sudah malam Besok pagi-pagi sekali kau bisa pulang ” Setelah berpikir sejenak saya mengiyakan sarannya
“Kalau begitu masukkan saja motormu di garasi” katanya sambil menawarkan kunci garasi
Maka saya turun untuk memasukkan motor ku ke garasi menyerupai yang di sarankan Bu Fera Ketika saya naik kembali ke atas, ia sudah berganti pakaian dengan gaun tidur susukan yang tipis dan halus, sehingga potongan tubuhnya tampak
“Kopinya tambah lagi, Rel?” tanyanya
Aku mengiyakan saja Saat ia meraih cangkir kopi di meja, saya menangkap pemandangan rupawan di balik pakaiannya yang tali pinggangnya tidak diikat dengan ketat Ia tidak memakai bra-nya, sehingga buah dadanya yang tadi kunikmati, tampak dengan jelas
Mulus dan rupawan Pemandangan itu membuat anutan darahku berdesir kembali Apalagi ketika saya mencium aroma parfum dari tubuhnya, lembut dan menggairahkan Beda dengan aroma yang ia pakai sebelum kami bekerjasama seks tadi
Sesaat kemudian ia telah kembali sambil membawa dua cangkir kopi Tali pinggang pakaiannya yang semakin longgar membuat pemandangan rupawan di baliknya semakin tampak Apalagi ketika ia duduk, pakaiannya yang tersingkap menampakkan paha putih mulusnya, yang ditumbuhi bulu-bulu halus Serta sedikit bukit venus yang di pinggir celana dalamnya tersembul rambut yang menggairahkan Kami kembali mengobrol
Ia kemudian menatapku lama, sambil bertanya,
“Kau tidak capek, Rel?”
“Tidak”, jawabku
Sekali lagi ia menatapku lama lalu tangannya merangkul leherku dan sesaat kemudian ia telah melumat bibirku kembali dengan lembut Kali ini tanganku segera meraba buah dada di balik pakaiannya yang longgar yang semenjak tadi sudah menggodaku Ia masih melumat bibirku ketika tangannya pelan-pelan membuka kancing kemejaku dan kemudian melanjutkannya dengan menarik resliting celanaku
Begitu saya tinggal mengenakan celana dalam, ia juga melepas gaun tidurnya Tinggallah kami berdua hanya memakai celana dalam Kemudian saya menyambar buah dadanya Maka semakin lama, seiring dengan jeritan kecilnya yang terpatah-patah, buah dadanya semakin kenyal dan mengeras Ia menarik payudaranya dari mulutku Kemudian tangannya menarik celana dalamku Sejenak kemudian ia telah mengulum penisku yang semenjak tadi juga sudah tegang dan keras Tapi yang dilakukannya tidak lama
Ia memintaku untuk tidur telentang di sofa Lalu ia melepas celana dalamnya dan telungkup di atasku Ia membelakangiku Vaginanya yang sudah mulai berair berlendir dan kelihatan merah didekatkannya di atas mulutku Sedangkan ia segera menangkap penisku yang berdiri tegak dan mengulumnya
Maka kami bedua saling mengulum, saling menjilati dan saling menyedot Kadang-kadang ia berhenti melaksanakan aksinya Barangkali sebab ia lebih dikuasai oleh perasaan nikmat sebab lubang vaginanya yang merah segar serta klitorisnya kupermainkan dengan ekspresi dan lidahku Ia mendesah mengerang terpatah-patah
Setelah ia puas dan ingin segera memulai agresi puncak, ia menggeser pinggulnya menjauh dari mulutku, menuju penisku yang semakin lama kurasakan semakin keras Tangannya menangkap penisku dan membimbingnya memasuki vaginanya Dengan masih membelakangiku, ia menggoyang pinggulnya dengan lembut Tapi sesaat kemudian, ia berbalik menghadapku
Gerakannya ketika ia berbalik menimbukan ukiran pada penisku yang luar biasa Membuat sensasi yang semakin nikmat Maka dengan menghadapku ia melanjutkan gerakan spiral pinggulnya tetap dengan halus Naik turun, maju mundur dan memutar Aku juga berusaha menggerakkan pinggulku semoga mengakibatkan sensasi yang lebih nikmat Maka semakin santerlah erangan dan desahan dari mulutnya yang terbuka, sambil matanya terpejam
Suara-suara itu beriringan dengan lagu Deep Forest dari CD yang terus mengalun mistis Tanganku yang semula memegangi pinggulnya di bawanya naik ke atas semoga mempermainkan buah dadanya yang bergoyang-goyang mengikuti gerakan pinggulnya Maka kemudian tanganku mempermainkan buah dadanya itu Kuelus dan kupelintir kedua putingnya yang coklat kemerahan Sekian lama kemudian ia menjerit sambil meracau.
“Uhh Uhh Aku orgasme Aku orgasme, Rel Ah Ahh ”
Setelah ia menjerit panjang menandai orgasmenya, ia membuka mata Kemudian ia tidur menelungkup dengan beralaskan bantal sofa, dengan kedua kaki mengangkang terbuka, sehingga belahan vaginanya yang indah, merah dan berair berlendir tampak sangat menggairahkan Ia memintaku juga untuk menelungkup di atasnya
Dengan kedua tanganku yang memegangi kedua buah dadanya sekaligus sebagai penahan berat badanku, saya menelungkup di atasnya Dan kusodokkan dengan lembut penisku yang masih tegang dan keras ke lubang vaginanya dari arah belakang Kini saya yang harus lebih aktif, maka kugerakkan pinggulku maju mundur, naik turun
Bu Fera masih terus mengerang dan mendesah terpatah-patah dengan mata yang terpejam Tanganku juga tetap aktif mempermainkan buah dada dan puting susunya Sedangkan mulutku kupakai untuk menelusuri lehernya yang jenjang dan halus Sekian lama kemudian terasa lahar panasku akan meledak
“Uhh Ahh sebentar lagi Sebentar lagi hampir !”, kataku terbata-bata
“Uhh Uhh Aku juga, Rel Jangan kau cabut penismu Kita sama-sama Ahh Ahh”
Sesaat kemudian kami sama-sama menjerit kecil, menandai puncak kenikmatan yang kami capai bersamaan Seperti sebelumnya, Bu Fera memintaku tidak segera mencabut penisku Matanya masih terpejam, tapi wajahnya tersenyum Aku juga masih mempermainkan buah dadanya dengan lembut Ia dengan lembut berkata
“Aku bahagia sekali malam ini, Rel ”, yang kemudian kujawab dengan kalimat yang sama
Ia kemudian memintaku mencabut penisku dari lubang vaginanya Lalu ia telentang dan mencium bibirku dengan lembut Ia seterusnya meneguk kopi yang sudah mulai masbodoh Tampak bahwa ia kehausan setelah permainan seks yang rupawan itu
Dengan masih bertelanjang bulat, ia berjalan ke luar ruangan itu dan sesaat kemudian membawa sebuah lap dan semprotan air untuk membersihkan spermaku dan lendir vaginanya yang tumpah di atas sofa Aku membantunya membersihkan noda itu
Setelah itu, menyerupai seorang cukup umur yang sedang jatuh cinta, ia menuntunku menuju kamar mandi pribadinya untuk tolong-menolong membersihkan diri Karena kecapaian dan memang sudah cukup malam, kami kemudian memutuskan untuk tidur Saat saya kebingungan sebab saya memakai jeans dan kemeja yang tentu saja tidak nyaman, Bu Fera menyarankanku untuk tidur dengan celana dalam saja
“Sudah, pakai celana dalam saja, biar suhu AC-nya kuminimalkan”, demikian katanya
Aku menyetujuinya Ia memintaku tidur di ranjangnya Kulihat Bu Fera juga hanya memakai gaun tidur halus dan tipis saja serta celana dalam tanpa mengenakan bra
“Aku memang biasa begini, Rel Rasanya lebih nyaman dan bebas bernapas”, katanya
Di balik selimut, Bu Fera memelukku dan menyandarkan wajahnya di dadaku Maka saya tersenyum saja ketika buah dadanya yang hangat dan lembut, yang menyembul keluar dari gaun tidurnya yang tidak ditalikan dengan erat, sering terasa bergesekan dengan dadaku Demikian juga dengan Bu Fera
Esoknya, pagi-pagi sekali HP-ku sudah berbunyi Daren menghubungiku Memang begitu kebiasaannya, yang membuatku sering jengkel Tapi bila kutegur, ia hanya akan tertawa-tawa saja Kangen katanya Begitu saya selesai bicara, Bu Fera bertanya
“Siapa, Rel? Pacarmu, ya?”
Ia hanya tersenyum ketika saya mengiyakan pertanyaannya Kemudian ia bangun dari ranjang Tali gaun tidurnya yang terlepas memperlihatkan payudaranya yang mulus putih, serta bukit venusnya yang menonjol rupawan mengundang gairah Ia membenahinya dengan tenang, sambil tersenyum melihatku terpana melihat pemandangan itu
Kemudian ia ke kamar mandi Segera terdengar bunyi yang mendesis, mengalahkan bunyi kran yang mengalir lambat Bu Fera sedang pipis rupanya Mendengar bunyi menyerupai itu timbul gairahku Sesaat kemudian ia keluar dari kamar mandi Kemudian ia berbisik kepadaku
“Kau tidak ingin mengulang kenikmatan libido semalam, Rel?” Aku tersenyum memahami yang ia maksudkan
“Sebentar, Bu ”, jawabku sambil menuju ke kamar mandi, sebab ingin kencing
Setelah itu kami mengulangi percintaan kami semalam Badanku yang segar sebab tidur yang nyenyak semalam, membuatku bersemangat melayani gairah libido Bu Fera yang juga tampak segar Aku mencicipi vaginanya lebih hangat dan justru beraroma lebih menggairahkan pada pagi setelah bangun tidur menyerupai itu Dan anyir badannya juga lebih natural
Kami bercinta hingga Bu Fera mendapat orgasme tiga kali Kaprikornus selama bercinta denganku, Bu Fera menikmati orgasme sebanyak delapan kali Maka siangnya, ketika saya bertemu dengannya di kampus ia tampak sangat bangga Wajahnya berbinar dan kelihatan sangat bernafsu menjalani aktivitasnya hari itu
Begitulah, kini hampir setiap simpulan pekan saya selalu mendapat SMS dari Bu Fera yang bunyinya begini: “Kau tidak sibuk malam nanti kan, Rel? Bisa datang ke rumah?” Maka setiap mendapat SMS menyerupai itu segera selalu terbayang sesuatu yang menyenangkan yang akan kami lakukan bersama
Setiap simpulan pekan anaknya selalu bermalam di rumah sepupunya di luar kota sehingga Bu Fera sendirian di rumah Dan pembantunya juga pulang sebab hanya datang pada siang hari saja Setiap saya mendapat SMS itu, saya juga segera menghapusnya semoga tidak terbaca oleh Daren Di kampus saya juga berusaha bersikap biasa saja dengan Bu Fera.
Ia dosen yang baik dan dihormati oleh semua orang di kampus Aku sedikitpun tidak ingin merusak citranya Dan ia pun seorang yang professional, meskipun di luar kami sering bercinta dengan libido, ia tetap menghargaiku sebagai mahasiswanya dan ia tetap membimbing tugasku dengan serius Sesuatu yang sangat saya sukai
Bercinta dengannya bukan sekedar mendapat kepuasan libido, saya mencicipi sesuatu yang lain. Entah apa itu

0 Komentar