MURID YANG MENGGODA GURU DEMI NILAI YANG BAGUS


Menurutku, penampilanku sendiri hanya tergolong biasa saja, ukuran bra 36A, tinggiku 167 cm dengan berat tubuh 55 kg. secara penampilan fisik tergolong biasa saja bukan? Mungkin yang menjadi daya tarikku ialah kelakuanku yang centil, apalagi saya termasuk aktif di ekstrakurikuler cheerleader (dimana di ekstrakurikuler inilah saya kehilangan keperawananku, tapi itu akan kuceritakan nanti).
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman seksku dengan guruku sendiri yaitu ketika ujian kenaikan kelas. Ya, waktu itu ialah ujian kenaikan kelas dari kelas X menuju kelas XI, saya sendiri mengambil jurusan IPA. Sebenarnya saya merasa cukup memiliki kemampuan dalam dominan pelajaran, hanya saja yang menjadi momokku ialah pelajaran Biologi. Aneh bukan? Aku ada di jurusan IPA tapi masih mendapat pelajaran Biologi. Ya itulah kebijakan kurikulum di sekolahku. Mau tak mau saya tetap harus mencar ilmu Biologi.

Yang menjadi momok utama dalam pelajaran Biologi ialah hafalannya. Bayangkan saja saya harus menghafalkan tahun perang-perang kemerdekaan, tokoh-tokohnya serta prosesnya. Oh My God ! itu ialah momok buatku. Walaupun bergotong-royong guru Biologi di sekolahku cukup kece. Namanya Pak Sendy gres berumur 26 tahun dan gres saja diangkat menjadi PNS. Orangnya mengajar Biologi dengan metode yang tepat, tapi alasannya ialah memang saya sendiri dari awal tidak suka Biologi, tetap saja saya ngeblank.

Kembali ke topik utama, ketika itu ialah hari Sabtu, hari terakhir ujian kenaikan kelas, dan tentunya menunya ialah mata pelajaran Biologi. Ujian sendiri dimulai pukul 09.30, kakak kelas XII sudah menyelesaikan UNAS nya. Sejak awal saya sudah merasa pasrah dengan ujian ini alasannya ialah seberapa keras pun saya belajar, tetap saja semua bahan tidak ada yang bisa kupahami, seakan ada tembok besar di otakku.

Merasa sudah tidak bisa berkompromi lagi dengan otakku, saya pun balasannya punya pikiran licik. Bagaimana bila menggunakan metode “gratifikasi seks”. Aku merasa metode ini memang beresiko, bagaimana bila ternyata Pak Sendy bukan tipe yang mudah termakan dan malah melaporkan saya ke kepala sekolah, bisa-bisa saya ditendang dari sekolah ini. Tapi bila saya tetap mengandalkan “otak dengan tembok besar” milikku, saya pun terancam tidak naik kelas yang menurutku tidak jauh beda artinya dengan drop out.

Akhirnya berbekal sebuah alamat, jam 7 pagi saya meluncur dengan mobilku menuju rumah Pak Sendy. Sesampainya disana, saya pun segera mengetuk pintu rumahnya.

“selamat pagi” sahutku sambil mengetuk pintu rumahnya.

“ya, siapa disana?” terdengar bunyi Pak Sendy menjawab.

“ini Nisa pak, saya ingin berkonsultasi sejenak problem bahan biologi” sahutku dengan alasan yang ku buat-buat dan penuh dengan strategi.

“oh ya, silakan masuk Nisa” Pak Sendy berkata sambil membuka pintu. Kulihat Pak Sendy sudah memakai seragam warna krem khas PNS.

“mohon maaf Pak, saya pagi-pagi kesini, saya ingin bertanya sedikit ihwal bahan biologi , saya masih bingung”

“oh ya silakan duduk dulu Nisa, bahan mana yang masih bingung?”

“ini pak, bahan ihwal perkembang biakan reptille , saya pun mulai berbasa-basi menjelaskan kebingunganku yang bergotong-royong kubuat-buat sembari saya mulai agak menaikkan rok seragam pramukaku sehingga menampakkan tato lumba-lumba di bab pahaku.

“wah kau punya tato lumba-lumba ya, ibarat Luna Maya aja” Pak Sendy nyeletuk ketika melihat tatoku.

“Pak Sendy doyan bokep juga ya, kok bisa tahu kalo Luna Maya punya tato lumba-lumba pak, hehehe” Aku berkata sambil nyengir, ternyata Pak Sendy sudah hampir terperangkap dalam strategiku.

“ah kau bisa-bisa aja Nis, pemuda mana sih yang ga suka bokep Luna Maya, beliau rupawan lagi kan”

“kalo sama Nisa rupawan mana pak? Pasti rupawan Nisa kan? Hehehe”

“emang apa untungnya bilang kau cantik?”

“bapak maunya apa dong? Apa maunya bapak pasti Nisa turuti, tapi Nisa juga pengen bonusnya ya pak”

“bonus apaan Nis? Kalo kau minta bonus saya juga minta bonus dong”

“hmm, Pak Sendy gak mau kalah ya, kalo saya sih cuma minta nilai Biologi saya bagus pak, saya bergotong-royong masih tidak paham problem Biologi”

“ooh, gampang kalo problem itu, sudah kau pulang saja dulu sekarang, nanti sehabis ujian kau ke ruang guru ya temui saya”

“oke pak”

Setelah itu, saya pun eksklusif pulang alasannya ialah waktu masih menunjukkan pukul 07.30, masih terlalu pagi bila ke sekolah. Sebenarnya dalam hatiku masih bertanya-tanya apa maksud Pak Sendy memanggilku setelah selesai ujian. Tapi ah biarlah, yang penting ujian Biologi ku bisa dapat nilai bagus.

Waktu pun dengan cepat berlalu, ujian Biologi yang amat sangat susah itu pun selesai. Jam menunjukkan pukul 11.30 ketika saya beranjak keluar dari ruang ujian. Tanpa menunggu lama, saya pun menuju ke ruang guru dan mencari Pak Sendy. Pak Sendy waktu itu terlihat sedang membaca koran di ruang guru alasannya ialah peraturan di sekolahku guru mata pelajaran yang bersangkutan dilarang menjaga ketika ujian. Mungkin dikhawatirkan terjadi “main empat mata”, misalnya dengan memberi kunci jawaban pada anak didik kesayangannya. Akhirnya tanpa basa-basi saya pun menghampiri Pak Sendy.

“maaf Pak Sendy, ada apa memanggil saya kesini setelah ujian”

“oh kau Nisa, lebih baik kita menyelesaikan problem ini di ruang BP saja biar enak tanpa gangguan” kata Pak Sendy sembari beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruang BP di sebelah ruang guru. Kebetulan ketika itu semua guru BP sudah pulang alasannya ialah lagi-lagi peraturan di sekolahku tidak mengizinkan guru BP untuk menjaga ketika ujian. Guru yang tersisa di ruang guru pun hanya sekitar 5 orang selain Pak Sendy dan mereka pun juga terlihat sedang bersiap-siap untuk segera pulang. Maklum hari ini ialah hari Sabtu dan sudah menjelang siang.

Pak Sendy tampak bergegas memasuki ruang BP dan saya pun segera memasuki ruangan tersebut. Dalam hatiku saya masih bingung, apakah Pak Sendy benar-benar sudah memasuki perangkapku atau Pak Sendy berniat menawarkan “wejangan khusus” kepadaku alasannya ialah perlakuanku yang “agak tidak sopan” ketika saya berkunjung ke rumahnya tadi. Tapi pikiran yang terbelah itu pun seakan semakin mengerucut ke satu hal ketika saya melihat Pak Sendy celingukan di luar kemudian mengunci pintu.

Yess, saya yakin Pak Sendy sudah masuk ke dalam perangkapku. Sebagai gambaran, ruang BP di sekolahku ini merupakan ruang tertutup tanpa jendela dengan dua buah ruang khusus yang sepertinya kedap bunyi di dalam ruang BP ini. Tentunya dua ruangan khusus itu digunakan para guru BP ketika menawarkan “wejangan khusus” terhadap anak didik yang perlu diberikan pembinaan.

Dengan tidak tabah Pak Sendy segera menarikku menuju salah satu ruangan kedap bunyi tersebut hingga saya merasa tanganku sedikit sakit.

“aduh pak, sakit pak, ada apa bapak kok tergesa-gesa begini?” saya berkata sambil agak meringis kesakitan. Pak Sendy terlihat mengunci pintu ruangan ini dari dalam tanpa menjawab pertanyaanku ini. Seketika kemudian, Pak Sendy segera meremas payudaraku.

“pak, ada apa ini?” saya berkata agak jual mahal.

“sudahlah Nisa jangan sok jual mahal, kau mau nilai Biologi kau bagus kan? Gampang, bisa saya kasih nilai sepuluh asalkan kau menemani saya tidur 3x. Yang pertama tentu sekarang, baiklah sayang?”

Aku pun hanya terdiam saja membiarkan tangannya mulai bergerilya. Satu tangannya meremas payudaraku dan satu tangan lainnya meremas kemaluanku dari luar. Aku rasa Pak Sendy ini orangnya sangat berpengalaman dalam urusan seks alasannya ialah gerilya tangannya amat terampil dalam merangsang hingga saya pun mulai melenguh mencicipi kenikmatan.

“ouuuchhh, pak teruskan pak, saya milikmu sekarang”

“hehe hening saja Nis, saya pasti memuaskanmu hari ini” Pak Sendy berkata sambil sesaat kemudian mencium bibirku dengan buas. Tangan Pak Sendy pun mulai bergerilya mencopoti kancing seragam pramukaku sementara saya pun tak tinggal diam, saya juga melepas kancing kemeja seragam PNS nya.

Ketika semua kancing bajuku sudah terlepas semua, Pak Sendy tidak melepaskannya, tetapi ia justru kembali merangsang kemaluanku dari luar dengan garang sehingga saya pun mulai melenguh lagi.

“aaaaah paaaaaak” saya pun berteriak ketika mencicipi kenikmatan luar biasa itu. Pak Sendy sungguh sangat terampil memancing nafsu seksku. Tak terasa vaginaku pun mulai berair oleh cairan cintaku.

Melihat saya yang mulai terangsang hebat, Pak Sendy mengarahkan tanganku untuk meremas kemaluannya yang terasa sudah tegang. Sepertinya kemaluannya cukup besar bila kuraba.

“gimana sayang, sudah gak tabah pengen dimasukin kontol kan?”

Melihat saya hanya membisu saja ketika ia bertanya ibarat itu, ia pun menawarkan sinyal supaya saya berbaring di meja. Meja di ruangan khusus itu cukup besar sehingga ketika saya berbaring disitu pun kakiku masih bisa selonjor dengan nyaman.

Ketika saya sudah berbaring, Pak Sendy pun mulai menyibakkan rokku ke atas dan mulai melepas celana dalamku yang berair oleh cairan cintaku.

“wow sayang, vaginamu sudah memanggil-manggil kontol bapak untuk segera dimasukkan” Pak Sendy berkata sambil melepas ikat pinggang, memelorotkan celanan kremnya hingga lutut dan mengeluarkan sang burung dari sangkarnya. Dan benar saja, kontol Pak Sendy tampak cukup besar.

kemudian Pak Sendy menyodorkan kontolnya di depan mukaku, sepertinya berharap saya akan melaksanakan blow job di kontolnya.

“ayo sayang dikulum dulu dong kontol papa, biar gampang masuk goanya”

“ih papa, Nisa gak pernah blow job, kontol kan sarang bakteri, nanti kalo masuk lisan Nisa jadi penyakit dong, Nisa ludahin aja ya terus dikocok.” Aku berkata dengan sehormat mungkin supaya Pak Sendy tetap merasa nyaman. Aku memang belum pernah melaksanakan blow job selama saya ML, baik itu dengan Ricky cowokku maupun dengan Anton, kakakku.

“iya deh sayang, tp harus sampe keluar precum ya sayang”

Aku pun mulai meludahi kontol Pak Sendy dan mulai mengocoknya. Aku memang tak pernah blow job, tapi problem mengocok kontol, saya cukup ahli. Ricky pun pernah hingga orgasme hanya dengan kukocok dengan metode meludahi ini. Terbukti tak berapa lama Pak Sendy mulai melenguh dan keluarlah cairan precum itu. Merasa kontolnya sudah terlayani dengan baik oleh tanganku dan sudah keluar precum, Pak Sendy mulai mengarahkan kontolnya menuju guaku.

“sayang, papa masukin ke gua ya”

Aku pun hanya membisu saja sambil memejamkan mata hingga mulai terasa kontol Pak Sendy mulai berpenetrasi memasuki liang kenikmatanku. Memang saya sudah tidak perawan dan sudah sekitar 5x ML, tapi vaginaku masih cukup seret sehingga kontol Pak Sendy masih cukup kesulitan untuk memasuki liang kenikmatanku.


“uh sempit banget lubang guanya sayang, papa suka ini”

Dengan beberapa kali percobaan, mulailah kontol Pak Sendy masuk ke dalam gua milikku.

“uuggghh pak, pelan-pelan pak, terasa agak sakit”

“iya sayang, tabah ya, gua milikmu sempit banget sayang, kontol papa terasa diperes”

Dengan penuh kesabaran, Pak Sendy melaksanakan penetrasi hingga semua batang kejantanannya masuk ke dalam vaginaku. Setelah semua batang penisnya masuk, Pak Sendy membisu sejenak.



“sayang, masih terasa sakit nggak? Kalo sudah nggak papa mulai goyang nih”

“uuugh, udah gak begitu sakit pak, cuma terasa penuh aja vaginaku”

“ya udah, papa genjot sekarang ya”

Tanpa menunggu jawaban dariku, Pak Sendy mulai menggoyang pantatnya naik turun hingga batang penisnya keluar masuk dari liang kenikmatanku. Sungguh ketika itu rasanya ibarat terbang ke langit ketujuh. Apalagi Pak Sendy menggoyang dengan sangat lembut, membuat saya mencicipi kenikmatan berlapis.


“uuugghh, paaak, enaak bangeeet”


“sayaaang, memekmuu sereet bangeeet, kontol papaa kayaaak dipijaaat” Pak Sendy berkata sambil terbata-bata, sepertinya ia juga mencicipi kenikmatan yang luar biasa.

Sekitar sepuluh menit Pak Sendy menggoyang, saya pun mulai mencicipi orgasme pertamaku dan berteriak dengan keras.

“aaaaaah paaaak, saya sampeeeeek”

“keluarkaan ajaa sayaaang”

Sejurus kemudian saya mencicipi pipis, bukan sekedar pipis biasa, tapi disertai dengan rasa nikmat yang luar biasa.

Melihat saya mencapai orgasme pertamaku, Pak Sendy pun berhenti dan mencabut kontolnya dari vaginaku.

“lho kok udahan pak?”

“sebentar sayang, papa mulai kegerahan meladeni kebinalan kamu, papa nyalakan AC dulu ya”

Terlihat Pak Sendy memang berkeringat, hingga kemeja kremnya agak sedikit basah. Aku pun heran melihat Pak Sendy melaksanakan acara seks tanpa telanjang. Hanya membuka kancing kemeja dan memelorotkan celana panjangnya hingga selutut. Bahkan ia masih memakai sepatunya.

“pak, kok bajunya gak dilepas aja sih? Kan lebih enak kalo telanjang”

“papa habis ini buru-buru pulang sayang, ditunggu teman”

Setelah menyalakan AC, Pak Sendy pun mulai melanjutkan acara seksnya. Kali ini ia mulai dengan membuka braku dan melemparkannya. Dari tadi memang braku masih berada di tempatnya, hanya kancing kemejaku terbuka dan rokku tersingkap ke atas. Celana dalamku memang daritadi sudah dilepas oleh Pak Sendy.

Setelah membuka braku, Pak Sendy mulai menyusu dengan tak tabah di payudara kiriku, sementara payudara kananku diremas-remas oleh tangannya. Hal ini membuat saya kembali terangsang hebat.

“aaaaah paaaaak” saya hanya berteriak. Aku tak tahan dengan rangsangannya. Memang patut kuacungi jempol. Ia bisa membuat nafsu seksku bangun dengan segera.

“paaaak, buruaaan masukiiin lagiii paaak”

Melihat saya merengek, Pak Sendy pun segera memegang penisnya dan mulai mengarahkan ke vaginaku. Kali ini cukup lancar masuk alasannya ialah vaginaku sangat berair oleh cairan orgasme pertamaku.

“aaah, paaak, goyaaang teruuuuss”

Pak Sendy pun di ronde kedua ini tampak bersemangat sekali. Sepertinya tak tabah ingin segera menuntaskan permainan cinta ini. Aku pun merem melek mencicipi kenikmatan. Kontol Pak Sendy yang besar membuat ukiran antara batangnya dengan klitorisku terasa sangat sensasional. Hingga sekitar lima menit kemudian, saya pun mulai mencicipi akan orgasme untuk kedua kalinya.

“paaaak, Nisa keluar lagiiiiii” saya berteriak diiringi keluarnya cairan cintaku untuk yang kedua kalinya.

Tapi kali ini Pak Sendy tidak menghentikan goyangannya, justru ia makin garang menggoyang hingga beberapa ketika kemudian vaginaku terasa disiram oleh cairan hangat.

“aaaaah papaaa keluaaaaaar” Pak Sendy berteriak sambil meremas-remas payudaraku. Terasa penisnya berkedut-kedut dan menyemprotkan cairan hangat berkali-kali.

Aku pun segera tersadar. Pak Sendy rupanya mengeluarkan spermanya di dalam vaginaku.

“paaak, kok dikeluarin di dalem siiih? Kalo Nisa hamil gimana?” saya berteriak protes kepada Pak Sendy yang ambruk di atasku. Aku sendiri tidak yakin apakah sekarang ialah masa suburku. Tetapi tetap saja sperma yang dikeluarkan di dalam vaginaku berpotensi membuahi sel telur.

“maaf sayang, papa hilang kesadaran, habisnya memek kau seret banget” Pak Sendy berkata dengan lembut dan dengan segera melumat bibirku. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya berharap spermanya mati semua sebelum bisa membuahi sel telur.

Setelah beberapa saat, Pak Sendy beranjak sambil mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Ketika saya melongok ke bawah, terlihat cairan putih keluar dari vaginaku dengan lumayan deras. Rupanya itulah kombinasi cairan cinta kami berdua. Melihat itu, Pak Sendy segera mengambil celana dalamku dan mengusapkannya di lelehan cairan itu.

“paak, kok CD nya Nisa yang dipake bersihin?”

“gak papa sayang, buat kenang-kenangan aja, CD kau papa ambil ya. Kamu pake CD papa aja nih, daripada memek kau kedinginan” Pak Sendy berkata sambil memelorotkan sepenuhnya CD nya dan melemparkannya ke arahku. CD ku ia pakai untuk mengelap kontolnya hingga bersih, kemudian ia pun memakai kembali celana panjangnya sambil merapikan kemejanya.

“lho pak, gak pake CD?”

“iya sayang, gakpapa kok, habis ini dipakai tempur lagi kontol bapak. Untuk seks yang bab kedua dan ketiga, nanti papa hubungi kau lewat HP ya”

Aku masih agak tidak tersadar dengan ucapan Pak Sendy. Aku pun segera bangun, memakai CD Pak Sendy yang tentu saja kebesaran dan merapikan seragamku. Tak apalah CD nya agak kebesaran, yang penting vaginaku tidak kedinginan, hehehe.

Setelah merapikan diri masing-masing, kami pun segera keluar dari ruang BP, tentu saja dengan hati-hati supaya tidak ketahuan. Untungnya sekolah sudah sepi. Kami pun berpisah di gerbang sekolah. Aku beranjak menuju parkir di samping gedung dan Pak Sendy keluar dari gerbang menuju jalan raya.

Sepintas saya lihat sesosok wanita berseragam PNS dihampiri oleh Pak Sendy. Ah rupanya itu Bu Vonny. Aku pun mulai tersadar akan ucapan Pak Sendy tadi. Sepertinya Pak Sendy akan melanjutkan kegiatan percintaannya dengan Bu Vonny. Ah sudahlah, yang penting saya dapat bab yang pertama.
Previous
Next Post »
0 Komentar