Cerita ini bermula ketika saya sedang punya problem serius dengan calon suamiku lalu saya pergi ke tempat dukun untuk mencari solusi. Silahkan simak dongeng selengkapnya..
Dina tidak bisa mendapatkan sikap dan tindakan Dimas akhir-akhir ini yang ia lihat sudah melupakan dan membiarkan keluarganya. Tindakan ini dilihat Dina dikala Dimas akan pergi ke luar kota untuk meninjau perusahaannya di kota lain. Dina mengira pasti Dimas telah melaksanakan suatu perselingkuhan dan menyeleweng dikarenakan Dimas tidak lagi menunjukkan nafkah batin untuk Dina, sedangkan Dimas selalu pergi ke luar kota setiap ahad dengan begitu kekerabatan seks-nya dengan selingkuhannya pasti tersalur, sedang dikala ini Dimas telah lupa akan kewajibannya. Siapa wanita yang telah merebut Dimas dari tangannya, Dina tidak mengetahui. Oleh alasannya itu Dina sering merenung dan berpikir apakah selama ini ia tidak melayani kebutuhan dan kesenangan calon suaminya, namun semua itu ia rasa tidak mungkin dan sepengetahuannya ia selalu melayani dan melaksanakan kesenangan dan kesukaan calon suaminya. Sedang kalau ia lihat bentuk tubuhnya yang mungkin telah berubah? namun ia sadari tidak mungkin! juga, Dina menyadari ia dan Dimas telah berumah tangga kurang lebih 6 tahun dan dikaruniai 2 orang anak yang paling besar berumur 5 tahun, mustahil bentuk tubuhnya akan menimbulkan Dimas berpaling.
Di depan cermin sering Dina mengamati tubuhnya, ia pun rajin senam dan melangsingkan tubuhnya, namun apa gerangan Dimas berubah dan tidak mau menjamahnya? Secara fisik Dina memang seorang ibu rumah tangga yang telah beranak dua, namun kalau melihat badan dan kulitnya banyak membuat gadis lain iri karena bentuk tubuhnya amat serasi dan menggiurkan setiap lelaki yang menatapnya. Umur Dina gres 32 tahun, di dikala itu ia butuh pelampiasan birahi kalau malam hari menjelang, namun sikap Dimas telah membuatnya menjadi tidak percaya diri. Atas saran sobat karibnya yang juga ibu rumah tangga dan wanita karir, maka Dina disarankan untuk meminta tolong pada seorang dukun sakti yang bisa mengembalikan calon suami dan membuat Dimas bertekuk lutut kembali. Ini telah lama di coba Lely, dulunya calon suaminya ! juga menyeleweng. Namun atas tunjangan dukun itu calon suaminya telah melupakan wanita simpanannya.
Dengan saran dan nasehat dari karibnya itu Dina memberanikan diri untuk datang ke tempat dukun itu walaupun jaraknya agak jauh kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobilnya. Dengan tunjangan Lely, Dina mengemudikan Balenonya ke tempat dukun itu. Mereka berangkat pagi harinya. Sesampai di gubuk dukun yang memang terpencil di sebuah kampung itu, Dina memarkirkan mobilnya di samping gubuk itu. Lalu Lely mengetuk pintu gubuk itu dan dengan adanya sahutan dari dalam mempersilakan mereka berdua masuk, di dalam telah ada dukun itu yang duduk dengan sambil menghisap rokoknya.
“Ooo… Bu Lely? ada apa Bu? ada yang bisa saya bantu?” dukun itu berbasa basi.
“Eee… ini Mbah, sobat saya ini ada problem dengan calon suaminya, namun ia ingin calon suaminya menyerupai sedia kala lagi…” jawab Lely.
Lalu Lely memperkenalkan sang dukun yang berjulukan Mbah Dudu itu kepada Dina. Sambil berjabat tangan Mbah ! Dudu mempersilakan kedua wanita itu untuk duduk bersila di lantai gubuknya itu. Sepintas Dina merasa agak risih dari mulai ia memasuki gubuk itu. Ada perasaan tidak enak namun karena keinginannya mengembalikan calon suaminya ia tidak mengambil pusing semuanya. Tanpa ia sadari dari dikala ia masuk dan bersalaman dengan Dina mata mbah dukun itu tidak henti-hentinya memandang ke arah Dina. Lalu ia memanggil Dina untuk maju selangkah ke arahnya, dan Dina diperintahkan untuk memasukkan tangannya ke dalam wajan yang berisi air kembang, lalu Mbah Dudu memperabukan menyan dan membaca mantranya.
Tidak berapa lama kemudian ia buka matanya dan berkata bahwa mata hati calon suaminya telah dipengaruhi oleh wanita simpanan Dimas dan membuat Dimas melupakan keluarganya. Atas saran mbah dukun supaya Dimas kembali maka Dina harus memakai jimat yang akan dibuatkannya, asal Dina mau menjalani syarat-syaratnya dan itu semua terpulang kepada Dina. Karena besarnya cita-cita biar Dimas kembali, maka Dina menyanggupi segala syarat-syaratnya. Setelah itu sang dukun berkata bahwa besoknya Dina akan mendapatkan jimat itu dan akan dipasangkan ke badan Dina dan akan dibuatkan malam ini. Mbah Dudu ialah lelaki asal Nias yang telah lama memiliki ilmu yang amat sakti. Tidak sedikit orang yang telah dibantunya. Mbah Dudu tinggal seorang diri di gubuk itu dan tidak memiliki istri. Umurnya telah beranjak bau tanah yaitu 70 tahun namun fisik dan sosoknya tidak menggambarkan ketuaan. Selanjutnya Dina minta diri dan menitipkan amlop untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan berjanji besok akan datang. Lalu Lely minta diri kepada Mbah Dudu, lalu mereka pulang ke rumah dan besok Dina harus mengambil jimatnya.
Besok hari yang telah ditentukan, Dina minta Lely membantu menemaninya ke tempat dukun itu, namun karena adanya kesibukan di kantornya maka Lely tidak dapat menemani. Dan berangkatlah Dina mengendarai Balenonya seorang diri ke tempat dukun itu. Lebih kurang 1,5 jam perjalanan Dina, sampailah di gubuk! itu dan memarkirkan mobilnya di samping gubuk, sedangkan hari dikala itu telah mendung dan berangin sepertinya hari akan hujan. Lalu Dina mengetuk pintu gubuk dan kemudian pintu itu dibuka Dudu dari dalam dan mempersilakan masuk. Lalu Dina masuk ke gubuk dan duduk di lantai. Lalu Mbah Dudu meminta Dina untuk pribadi ke depan dan mendapatkan saran dan cara-cara memakai jimat itu. Dina diharuskan untuk berbaring dan memakai kain sarung lalu menelentangkan diri, karena jimat itu akan dipasangkan pada badan Dina yang biasa di sentuh calon suaminya. Lalu Dina minta ijin untuk memakai sarung yang dipinjamkan sang dukun di kamar yang telah tersedia.
Dalam kamar itu, hanya ada satu dipan kayu yang telah bau tanah dan dikala itu Dina membuka seluruh pakaiannya, sedang BH dan CD-nya tetap terpasang pada tubuhnya. Sesaat kemudian sang dukun memasuki kamar itu dan minta Dina berbaring di dipan itu. Dina menuruti kata dukun itu, lalu Mbah Dudu memulai melaksanakan aktifitasnya dengan memasangkan cairan! jimat itu mula-mula ke kulit muka Dina lalu turun ke leher jenjang dan ke dada yang masih tertutup BH. Sesampai pada dada Dina sang dukun menyadari adanya getaran birahinya mulai datang dan lalu di sekitar dada Dina ia oleskan cairan itu, tangan sang dukun masuk ke dalam dada yang terbungkus BH. Di dalam BH itu tangan Dudu memilin dan memelintir puting susu Dina, dengan cara itu Dina secara naluri seksnya terbangkit dan membiarkan tindakan sang dukun yang memang kelewatan dari tugasnya itu, Dina hanya diam. Lalu sang dukun membuka pengait BH Dina dan melemparkan BH itu ke sudut kaki dipan itu dan terpampanglah sepasang dada molek yang putih mulus kemerahan karena gairah yang dipancing Mbah Dudu itu.
Di sekitar dada itu sang dukun mengoleskan jimatnya berulang-ulang hingga Dina merasa tidak berpengaruh menahan nafsunya. Lalu sang dukun tangannya turun ke perut dan ke selangkangan Dina. Di situ tangan sang dukun memasuki selangkangan Dina, tindakan ini membuat Dina protes,
! “Jangan! saya mau diapakan Mbah?” tanyanya.
“Ooo… ini ialah pengobatannya, Lely pun dulunya begini juga,” jawab mbah dukun sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak menahan gejolak nafsu. Di lubang kemaluan Dina, jari tangan sang dukun terus mengorek-ngorek isi kemaluan Dina sehingga Dina mencicipi ia akan menumpahkan air surgawinya dikala itu. Sambil membuka kain sarung yang melilit badan Dina sang dukun lalu menurunkan CD yang menutup lubang kemaluan Dina itu. Lalu ia letakkan CD Dina di samping dipan yang beralaskan bludu usang itu. Sesaat kemudian Dina telah telanjang lingkaran dan jari tangan sang dukun tidak henti-hentinya beraksi di sekitar tempat sensitif badan Dina. Sedang jimatnya telah dioleskan pada seluruh bagian-bagian badan Dina.
Lalu tibalah dikala untuk memasukkan keampuhan jimatnya, maka sang dukun minta kepada Dina untuk mau bersengggama karena jimat itu tidak akan bisa dipakai kalau Dina tidak melaksanakan senggama dengan dukun itu. Karena Dina telah merasa kepalang lembap dan ingin niatnya kesampaian maka ia ijinkan sang dukun melaksanakan persenggamaan. Lalu tangan sang dukun membuka paha Dina yang mulus terawat itu. Lalu ia buka lubang kemaluan Dina dengan tangannya dan memainkan klitoris Dina dan kembali Dina histeris ingin dituntaskan nafsu yang telah hingga di kepalanya, ditambah telah beberapa bulan tidak bekerjasama seks dengan calon suaminya. Mbah dukun yang telah sama-sama-sama bugil dengan Dina lalu memasukkan batang kemaluannya yang cukup besar itu dan berpengaruh ke dalam lubang kemaluan Dina yang telah dibasahi air kewanitaan Dina yang tampaknya siap untuk melaksanakan penetrasi ke dalam lubang kemaluan yang telah lembap itu. Setelah dipaksakan agak keras lalu batang kemaluan yang tegak menantang masuk seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Dina, dan Mbah Dudu melaksanakan gerakan maju mundur, sedang tangannya tidak henti-hentinya memilin dan menekan pinggul padat Dina itu. Buah dada Dina tidak luput dari jelajahan tangan sang dukun.
Lebih kurang 30 menit lubang kemaluan Dina digenjot dengan paksa lalu sang dukun barulah hingga klimaks dengan menumpahkan air maninya ke dalam lubang kemaluan itu sebanyak-banyaknya. Sedangkan air yang keluar dari lubang kemaluan Dina itu ia oleskan ke pengecap Dina untuk kasiat bahwa Dina tidak bisa dilupakan calon suaminya. Dalam persenggamaan itu Dina sempat orgasme 3 kali, itu pun dikala ia terengah-engah di dikala batang kemaluan sang dukun mengaduk-aduk isi kemaluanya tadi. Sejam kemudian barulah permainan itu selesai setelah sang dukun minta permainan dilakukan 2 kali. Setelah itu Dina minta diri pulang dan membawa yang akan ia pakaikan di rumahnya dikala mandi. Mbah dukun mengatakan ada jimat yang akan dipasang di dalam kamar Dina namun belum siap, dan mbah dukun berjanji akan mengantarkannya ke rumah Dina 2 hari lagi.
Tepat 2 hari kemudian sang dukun mendatangi rumah Dina yang megah. Saat itu calon suami Dina belum pulang dari luar kota dan di rumah dikala itu hanya ada ia dan seorang pembantunya yang sedang menjaga anak-anaknya. Sang dukun berkata, “Bu Dina, jimat ini akan saya pasangkan pada kamar Ibu nanti malam,” sedangkan Dina merasa khawatir, bagaimana kalau calon suaminya pulang. Namun karena kesaktiannya, sang dukun berkata, “Bu Dina nggak usah khawatir, calon suami Ibu pulang lusa, sedang ia sekarang menurut penglihatan saya sedang di Lampung,” kata sang dukun. Lalu bagaimana ia menunjukan kepada pembantunya karena adanya kehadiran dukun bau tanah itu? Lalu ia hanya berkata bahwa familinya dari kampung dan menumpang barang 1 hari di rumahnya. Lalu Dina mempersilakan sang dukun untuk istirahat di sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk tamu. Lalu sang dukun memasuki kamar yang telah disediakan.
Malam harinya dikala akan memasangkan jimat di kamar Dina, dilakukan pada pukul 9.00 malam, sedang pembantunya telah tidur di kamar belakang, tempat kamar tidur pembantu memang jauh di belakang dan tidak mengganggu ke rumah induk tempat kamar Dina berada. Di dalam kamar itu sang dukun melaksanakan ritualnya dengan membaca mantera, lalu ia memperabukan menyan, sedang Dina duduk membisu melihat apa yang dilakukan sang dukun dari atas tempat tidurnya. Lalu sang dukun berkata, “Sebaiknya jimat ini kita pasangkan pada dikala tepat jam 12.00 malam nanti, berarti masih ada waktu 3 jam lagi, Bu Dina…” katanya. “Sekarang sebaiknya kita ngomong-ngomong saja dulu menunggu waktu,” kata sang dukun. “Baiklah Mbah,” lalu Dina mempersilakan sang dukun keluar kamar. Bagaimanapun ia merasa berat hati untuk membawa dukun itu ke dalam kamar pribadinya. Sang dukun berkata, “Tidak usah keluar… Bu Dina… di sini saja.” Lalu sang dukun berdiri dari duduknya dan menuju ke arah Dina duduk dan mbah dukun itu juga duduk di samping Dina. Lalu tangannya menggapai tangan Dina dan berkata, “Sebaiknya kita berdua melaksanakan menyerupai dikala Ibu di gubuk saya, alasannya kalau tidak para jin yang membantu saya akan lari dan tidak mau menolong Ibu,” kata mbah dukun. Dina hanya bergidik! , bulu kuduknya merinding. Haruskah ia mengulangi kesalahan dikala ia harus bersenggama dengan dukun itu di gubuknya? Namun karena adanya pengaruh dan cita-cita Dina maka ia biarkan sang dukun mengulangi perbuatan maksiat itu di kamarnya, dikala itu Dina memang merasa menjadi seorang wanita tepat karena ia telah mendapatkan siraman batin dari dukun bau tanah itu meskipun tidak ia dapatkan dari calon suaminya.
Lebih kurang 2 jam mereka berdua mengayuh samudera kenikmatan bersama sang dukun dan membuat Dina orgasme berulang-ulang dan membuat lubang kemaluannya hingga lecet karena kebuasan batang kemaluan dukun yang sangat besar itu. Lalu tepat pada jam 12 malam barulah jimat itu terpasang pada bawah ranjang Dina dan menjelang pagi mereka terus melaksanakan kekerabatan seksual dengan menggebu-gebu. Lalu Dina tertidur dan tidak menyadari hari telah pagi dan sang dukun telah pergi, sedang Dina merasa tubuhnya pegal-pegal dan tulangnya serasa mau lolos. Sejak dikala itu memang jimat pemberian sang dukun ada perubahan pada diri calon suami Dina dan ia sangat berterima kasih dan lalu ia mendatangi sang dukun. Sedang sang dukun cuma minta Dina tidak melupakannya, dengan cara Dina harus 2 kali dalam sebulan datang untuk menunjukkan jatah kekerabatan seks kepada sang dukun menyerupai Lely juga melaksanakan hal yang sama. Memang setelah itu Dina selalu rajin mendatangi sang dukun dan terkadang sang dukun yang datang ke rumah Dina untuk minta jatah senggamanya. Memang sebagai dukun ilmu hitam, Mbah Dudu harus mensenggamai pasiennya, karena dengan demikian si pasien akan bisa disembuhkan dan ilmu sang dukun dapat dipelihara.
Di depan cermin sering Dina mengamati tubuhnya, ia pun rajin senam dan melangsingkan tubuhnya, namun apa gerangan Dimas berubah dan tidak mau menjamahnya? Secara fisik Dina memang seorang ibu rumah tangga yang telah beranak dua, namun kalau melihat badan dan kulitnya banyak membuat gadis lain iri karena bentuk tubuhnya amat serasi dan menggiurkan setiap lelaki yang menatapnya. Umur Dina gres 32 tahun, di dikala itu ia butuh pelampiasan birahi kalau malam hari menjelang, namun sikap Dimas telah membuatnya menjadi tidak percaya diri. Atas saran sobat karibnya yang juga ibu rumah tangga dan wanita karir, maka Dina disarankan untuk meminta tolong pada seorang dukun sakti yang bisa mengembalikan calon suami dan membuat Dimas bertekuk lutut kembali. Ini telah lama di coba Lely, dulunya calon suaminya ! juga menyeleweng. Namun atas tunjangan dukun itu calon suaminya telah melupakan wanita simpanannya.
Dengan saran dan nasehat dari karibnya itu Dina memberanikan diri untuk datang ke tempat dukun itu walaupun jaraknya agak jauh kurang lebih 2 jam perjalanan dengan mobilnya. Dengan tunjangan Lely, Dina mengemudikan Balenonya ke tempat dukun itu. Mereka berangkat pagi harinya. Sesampai di gubuk dukun yang memang terpencil di sebuah kampung itu, Dina memarkirkan mobilnya di samping gubuk itu. Lalu Lely mengetuk pintu gubuk itu dan dengan adanya sahutan dari dalam mempersilakan mereka berdua masuk, di dalam telah ada dukun itu yang duduk dengan sambil menghisap rokoknya.
“Ooo… Bu Lely? ada apa Bu? ada yang bisa saya bantu?” dukun itu berbasa basi.
“Eee… ini Mbah, sobat saya ini ada problem dengan calon suaminya, namun ia ingin calon suaminya menyerupai sedia kala lagi…” jawab Lely.
Lalu Lely memperkenalkan sang dukun yang berjulukan Mbah Dudu itu kepada Dina. Sambil berjabat tangan Mbah ! Dudu mempersilakan kedua wanita itu untuk duduk bersila di lantai gubuknya itu. Sepintas Dina merasa agak risih dari mulai ia memasuki gubuk itu. Ada perasaan tidak enak namun karena keinginannya mengembalikan calon suaminya ia tidak mengambil pusing semuanya. Tanpa ia sadari dari dikala ia masuk dan bersalaman dengan Dina mata mbah dukun itu tidak henti-hentinya memandang ke arah Dina. Lalu ia memanggil Dina untuk maju selangkah ke arahnya, dan Dina diperintahkan untuk memasukkan tangannya ke dalam wajan yang berisi air kembang, lalu Mbah Dudu memperabukan menyan dan membaca mantranya.
Tidak berapa lama kemudian ia buka matanya dan berkata bahwa mata hati calon suaminya telah dipengaruhi oleh wanita simpanan Dimas dan membuat Dimas melupakan keluarganya. Atas saran mbah dukun supaya Dimas kembali maka Dina harus memakai jimat yang akan dibuatkannya, asal Dina mau menjalani syarat-syaratnya dan itu semua terpulang kepada Dina. Karena besarnya cita-cita biar Dimas kembali, maka Dina menyanggupi segala syarat-syaratnya. Setelah itu sang dukun berkata bahwa besoknya Dina akan mendapatkan jimat itu dan akan dipasangkan ke badan Dina dan akan dibuatkan malam ini. Mbah Dudu ialah lelaki asal Nias yang telah lama memiliki ilmu yang amat sakti. Tidak sedikit orang yang telah dibantunya. Mbah Dudu tinggal seorang diri di gubuk itu dan tidak memiliki istri. Umurnya telah beranjak bau tanah yaitu 70 tahun namun fisik dan sosoknya tidak menggambarkan ketuaan. Selanjutnya Dina minta diri dan menitipkan amlop untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan berjanji besok akan datang. Lalu Lely minta diri kepada Mbah Dudu, lalu mereka pulang ke rumah dan besok Dina harus mengambil jimatnya.
Besok hari yang telah ditentukan, Dina minta Lely membantu menemaninya ke tempat dukun itu, namun karena adanya kesibukan di kantornya maka Lely tidak dapat menemani. Dan berangkatlah Dina mengendarai Balenonya seorang diri ke tempat dukun itu. Lebih kurang 1,5 jam perjalanan Dina, sampailah di gubuk! itu dan memarkirkan mobilnya di samping gubuk, sedangkan hari dikala itu telah mendung dan berangin sepertinya hari akan hujan. Lalu Dina mengetuk pintu gubuk dan kemudian pintu itu dibuka Dudu dari dalam dan mempersilakan masuk. Lalu Dina masuk ke gubuk dan duduk di lantai. Lalu Mbah Dudu meminta Dina untuk pribadi ke depan dan mendapatkan saran dan cara-cara memakai jimat itu. Dina diharuskan untuk berbaring dan memakai kain sarung lalu menelentangkan diri, karena jimat itu akan dipasangkan pada badan Dina yang biasa di sentuh calon suaminya. Lalu Dina minta ijin untuk memakai sarung yang dipinjamkan sang dukun di kamar yang telah tersedia.
Dalam kamar itu, hanya ada satu dipan kayu yang telah bau tanah dan dikala itu Dina membuka seluruh pakaiannya, sedang BH dan CD-nya tetap terpasang pada tubuhnya. Sesaat kemudian sang dukun memasuki kamar itu dan minta Dina berbaring di dipan itu. Dina menuruti kata dukun itu, lalu Mbah Dudu memulai melaksanakan aktifitasnya dengan memasangkan cairan! jimat itu mula-mula ke kulit muka Dina lalu turun ke leher jenjang dan ke dada yang masih tertutup BH. Sesampai pada dada Dina sang dukun menyadari adanya getaran birahinya mulai datang dan lalu di sekitar dada Dina ia oleskan cairan itu, tangan sang dukun masuk ke dalam dada yang terbungkus BH. Di dalam BH itu tangan Dudu memilin dan memelintir puting susu Dina, dengan cara itu Dina secara naluri seksnya terbangkit dan membiarkan tindakan sang dukun yang memang kelewatan dari tugasnya itu, Dina hanya diam. Lalu sang dukun membuka pengait BH Dina dan melemparkan BH itu ke sudut kaki dipan itu dan terpampanglah sepasang dada molek yang putih mulus kemerahan karena gairah yang dipancing Mbah Dudu itu.
Di sekitar dada itu sang dukun mengoleskan jimatnya berulang-ulang hingga Dina merasa tidak berpengaruh menahan nafsunya. Lalu sang dukun tangannya turun ke perut dan ke selangkangan Dina. Di situ tangan sang dukun memasuki selangkangan Dina, tindakan ini membuat Dina protes,
! “Jangan! saya mau diapakan Mbah?” tanyanya.
“Ooo… ini ialah pengobatannya, Lely pun dulunya begini juga,” jawab mbah dukun sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak menahan gejolak nafsu. Di lubang kemaluan Dina, jari tangan sang dukun terus mengorek-ngorek isi kemaluan Dina sehingga Dina mencicipi ia akan menumpahkan air surgawinya dikala itu. Sambil membuka kain sarung yang melilit badan Dina sang dukun lalu menurunkan CD yang menutup lubang kemaluan Dina itu. Lalu ia letakkan CD Dina di samping dipan yang beralaskan bludu usang itu. Sesaat kemudian Dina telah telanjang lingkaran dan jari tangan sang dukun tidak henti-hentinya beraksi di sekitar tempat sensitif badan Dina. Sedang jimatnya telah dioleskan pada seluruh bagian-bagian badan Dina.
Lalu tibalah dikala untuk memasukkan keampuhan jimatnya, maka sang dukun minta kepada Dina untuk mau bersengggama karena jimat itu tidak akan bisa dipakai kalau Dina tidak melaksanakan senggama dengan dukun itu. Karena Dina telah merasa kepalang lembap dan ingin niatnya kesampaian maka ia ijinkan sang dukun melaksanakan persenggamaan. Lalu tangan sang dukun membuka paha Dina yang mulus terawat itu. Lalu ia buka lubang kemaluan Dina dengan tangannya dan memainkan klitoris Dina dan kembali Dina histeris ingin dituntaskan nafsu yang telah hingga di kepalanya, ditambah telah beberapa bulan tidak bekerjasama seks dengan calon suaminya. Mbah dukun yang telah sama-sama-sama bugil dengan Dina lalu memasukkan batang kemaluannya yang cukup besar itu dan berpengaruh ke dalam lubang kemaluan Dina yang telah dibasahi air kewanitaan Dina yang tampaknya siap untuk melaksanakan penetrasi ke dalam lubang kemaluan yang telah lembap itu. Setelah dipaksakan agak keras lalu batang kemaluan yang tegak menantang masuk seluruhnya ke dalam lubang kemaluan Dina, dan Mbah Dudu melaksanakan gerakan maju mundur, sedang tangannya tidak henti-hentinya memilin dan menekan pinggul padat Dina itu. Buah dada Dina tidak luput dari jelajahan tangan sang dukun.
Lebih kurang 30 menit lubang kemaluan Dina digenjot dengan paksa lalu sang dukun barulah hingga klimaks dengan menumpahkan air maninya ke dalam lubang kemaluan itu sebanyak-banyaknya. Sedangkan air yang keluar dari lubang kemaluan Dina itu ia oleskan ke pengecap Dina untuk kasiat bahwa Dina tidak bisa dilupakan calon suaminya. Dalam persenggamaan itu Dina sempat orgasme 3 kali, itu pun dikala ia terengah-engah di dikala batang kemaluan sang dukun mengaduk-aduk isi kemaluanya tadi. Sejam kemudian barulah permainan itu selesai setelah sang dukun minta permainan dilakukan 2 kali. Setelah itu Dina minta diri pulang dan membawa yang akan ia pakaikan di rumahnya dikala mandi. Mbah dukun mengatakan ada jimat yang akan dipasang di dalam kamar Dina namun belum siap, dan mbah dukun berjanji akan mengantarkannya ke rumah Dina 2 hari lagi.
Tepat 2 hari kemudian sang dukun mendatangi rumah Dina yang megah. Saat itu calon suami Dina belum pulang dari luar kota dan di rumah dikala itu hanya ada ia dan seorang pembantunya yang sedang menjaga anak-anaknya. Sang dukun berkata, “Bu Dina, jimat ini akan saya pasangkan pada kamar Ibu nanti malam,” sedangkan Dina merasa khawatir, bagaimana kalau calon suaminya pulang. Namun karena kesaktiannya, sang dukun berkata, “Bu Dina nggak usah khawatir, calon suami Ibu pulang lusa, sedang ia sekarang menurut penglihatan saya sedang di Lampung,” kata sang dukun. Lalu bagaimana ia menunjukan kepada pembantunya karena adanya kehadiran dukun bau tanah itu? Lalu ia hanya berkata bahwa familinya dari kampung dan menumpang barang 1 hari di rumahnya. Lalu Dina mempersilakan sang dukun untuk istirahat di sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk tamu. Lalu sang dukun memasuki kamar yang telah disediakan.
Malam harinya dikala akan memasangkan jimat di kamar Dina, dilakukan pada pukul 9.00 malam, sedang pembantunya telah tidur di kamar belakang, tempat kamar tidur pembantu memang jauh di belakang dan tidak mengganggu ke rumah induk tempat kamar Dina berada. Di dalam kamar itu sang dukun melaksanakan ritualnya dengan membaca mantera, lalu ia memperabukan menyan, sedang Dina duduk membisu melihat apa yang dilakukan sang dukun dari atas tempat tidurnya. Lalu sang dukun berkata, “Sebaiknya jimat ini kita pasangkan pada dikala tepat jam 12.00 malam nanti, berarti masih ada waktu 3 jam lagi, Bu Dina…” katanya. “Sekarang sebaiknya kita ngomong-ngomong saja dulu menunggu waktu,” kata sang dukun. “Baiklah Mbah,” lalu Dina mempersilakan sang dukun keluar kamar. Bagaimanapun ia merasa berat hati untuk membawa dukun itu ke dalam kamar pribadinya. Sang dukun berkata, “Tidak usah keluar… Bu Dina… di sini saja.” Lalu sang dukun berdiri dari duduknya dan menuju ke arah Dina duduk dan mbah dukun itu juga duduk di samping Dina. Lalu tangannya menggapai tangan Dina dan berkata, “Sebaiknya kita berdua melaksanakan menyerupai dikala Ibu di gubuk saya, alasannya kalau tidak para jin yang membantu saya akan lari dan tidak mau menolong Ibu,” kata mbah dukun. Dina hanya bergidik! , bulu kuduknya merinding. Haruskah ia mengulangi kesalahan dikala ia harus bersenggama dengan dukun itu di gubuknya? Namun karena adanya pengaruh dan cita-cita Dina maka ia biarkan sang dukun mengulangi perbuatan maksiat itu di kamarnya, dikala itu Dina memang merasa menjadi seorang wanita tepat karena ia telah mendapatkan siraman batin dari dukun bau tanah itu meskipun tidak ia dapatkan dari calon suaminya.
Lebih kurang 2 jam mereka berdua mengayuh samudera kenikmatan bersama sang dukun dan membuat Dina orgasme berulang-ulang dan membuat lubang kemaluannya hingga lecet karena kebuasan batang kemaluan dukun yang sangat besar itu. Lalu tepat pada jam 12 malam barulah jimat itu terpasang pada bawah ranjang Dina dan menjelang pagi mereka terus melaksanakan kekerabatan seksual dengan menggebu-gebu. Lalu Dina tertidur dan tidak menyadari hari telah pagi dan sang dukun telah pergi, sedang Dina merasa tubuhnya pegal-pegal dan tulangnya serasa mau lolos. Sejak dikala itu memang jimat pemberian sang dukun ada perubahan pada diri calon suami Dina dan ia sangat berterima kasih dan lalu ia mendatangi sang dukun. Sedang sang dukun cuma minta Dina tidak melupakannya, dengan cara Dina harus 2 kali dalam sebulan datang untuk menunjukkan jatah kekerabatan seks kepada sang dukun menyerupai Lely juga melaksanakan hal yang sama. Memang setelah itu Dina selalu rajin mendatangi sang dukun dan terkadang sang dukun yang datang ke rumah Dina untuk minta jatah senggamanya. Memang sebagai dukun ilmu hitam, Mbah Dudu harus mensenggamai pasiennya, karena dengan demikian si pasien akan bisa disembuhkan dan ilmu sang dukun dapat dipelihara.

0 Komentar