Cerita Sex - Namaku Evita dan Suamiku Edo. Kami gres satu tahun melangsungkan perkawinan, tapi belum ada menunjukan saya hamil. Sudah kucoba berdua periksa siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin sebab selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam ahad selama tiga tahun, selama masa pacaran berlangsung.
Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu ahad di luar kota, sebab rasa kasihannya terhadapku, maka ia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka kawasan kost supaya saya tidak merasa sendirian di rumah.
Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada sahabat untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan buah tangan supaya mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan saya merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel hingga larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan saya semakin iri pada mereka untuk kumpul gotong royong satu keluarga. Begitu suamiku datang dari luar kota, saya menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, kesannya kita putuskan untuk membubarkan kawasan kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost.
Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar eksklusif satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami eksklusif dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan sebab ia juga sering pulang malam.
Suatu hari suamiku datang dari luar kota, ia pulang membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.
Suamiku bertanya, “Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana.”
“Semua pada pulang sebab liburan nasional, tapi yang bule nggak, sebab perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target”, balasku mesra.
Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita kalem di ruang tamu, “Nich sekali-kali kita reuni ibarat di diskotik”, kata suamiku, “Aku juga membawa obat besar lengan berkuasa dan perangsang untuk pasangan suami istri, ntar kita coba ya..”
Sambil sedikit senyum, kujawab, “Kangen ya.. emang cuman kau yang kangen..”
Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.
“Nich minum dulu obatnya biar nanti seru..” kata suamiku.
Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.
“Lho kok empat sih.. nanti over lho”, kataku manja.
“Ach.. biar cepat reaksinya”, balas suamiku sambil tertawa kecil.
Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol kalem di ruang tamu sambil nonton film porno, kurasakan obat tadi eksklusif bereaksi. Aku cuma mengenakan baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang, ia mulai memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi. Buah dadaku yang masih semok dengan putingnya yang masih kecil dan merah diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut, perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.
“Auh..” erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga saya tambah terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak besar lengan berkuasa saya menahannya. “Ach.. Mas masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich..” sambil mencari posisi yang sempurna saya memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan, “Bless..”, batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. “Ach.. terus Mas.. saya kangen sekali..”, dengan penuh gairah entah kenapa tiba-tiba saya ibarat orang kesurupan, ibarat kuda liar, mutar sana mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.
Perasaanku gila sekali, saya seolah-olah ingin sekali diperkosa beberapa orang, seolah-olah semua lubang yang saya punya ingin sekali dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kita bertahan seolah-olah tidak mampu keluar air mani. Sampai perih tapi asik sekali. Sampai kesannya saya keluar terlebih dahulu, “Ach.. Mas saya keluar ya.. udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali Mas”, desahku mesra. “Aku juga ya.. ntar kau agak pelan goyangnya.. ach.. aduh.. keluar nich..” Mani kental yang hangat aneka macam masuk ke dalam liang kenikmatanku. Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, saya yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.
Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus kuoles-oleskan di verbal suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku hingga tetes terakhir. Kemudian kita saling berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa busana apapun, saya pun juga terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya terkunci sepertinya aman.
Ketika subuh saya terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang pun tetapi saya telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan suamiku. Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar ihwal permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi saya tidak bertanya ihwal kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi saya masih bertanya-tanya kenapa kok saya mampu pindah ke dalam sendirian.
Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks ibarat semalam, mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang. Aku pun disuruhnya minum lagi tapi saya cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang kuminum, tiba-tiba sahabat suamiku datang menghampiri sebab ada peran mendadak ke luar kota yang tidak mampu ditunda. Yah.. dengan terpaksa suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan jika obatnya sudah bereaksi kau harus tidur, dan saya pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.
Dengan daster putih saya kembali membenahi ruang makan, dapur dan kamar-kamar kost saya bersihkan. Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi saya harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.
Dengan sangat perlahan saya mengambil cucian di bersahabat si bule sambil melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata benar ibarat di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah sebab sangatlah keheranan, saya mengambil cucian itu.
Tiba-tiba si bule itu bangkit dan terkejut seketika ketika melihat saya ada di kamarnya. Langsung saya seolah-olah tidak tahu harus berkata apa.
“Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor”, kataku dengan sedikit gugup.
“Suamimu sudah berangkat lagi?” jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan pertanyaan ibarat itu saya sangat kaget. Dan kujawab, “Kenapa?”.
Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di episode vitalnya, si bule itu berkata, “Sebelumnya saya minta maaf sebab tadi malam saya sangat lancang. Aku datang jam dua malam, saya lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kau pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, dengan sangat penuh nafsu saya telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka saya eksklusif memindahkan kau ke kamar, tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencoba kamu. Mula-mula saya hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan amis khas sperma lelaki. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya saya meniduri kamu.”
Dengan rasa kaget saya mau marah tapi memang posisi yang salah memang diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa saya mampu pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit
“Trus saya.. kau apain”, tanyaku dengan sedikit penasaran
“Kutidurin kau dengan penuh nafsu, hingga mani yang keluar pertama kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang kewanitaanmu hingga kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di dalam liang kewanitaanmu”, jawab si bule.
“Oic.. ancaman nich, ntar kalo hamil gimana nich”, tanyaku cemas.
“Ya.. nggak pa-pa dong”, jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku dan menciumku.
Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku. “Ach.. jangan dong.. saya masih capek semalaman”, kataku tapi tetap saja ia meneruskan niatnya, saya ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan ia pun mulai manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bergairah sebab pengaruh obat yang telah saya minum sewaktu ada suamiku.
“Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh”. Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku. Akhirnya lembap juga aku, sebab masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, saya mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.
“Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon”, desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, saya berusaha berdiri tapi tidak mampu sebab tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya, “Bless..” masuk semua satu telapak ajun Jhon ke dalam liang kewanitaanku, saya menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku, tangan kirinya meremas payudaraku yang semok hingga rasa sakitnya hilang. Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, ia memutar posisi jadi enam sembilan, ia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya hingga saya menerima kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.
“Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan aja”, ucapku tapi ia masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit sebab bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama hingga kesannya saya keluar.
“Jhon.. saya nggak tahan.. auch.. aouh.. saya keluar Jhon auch, aug.. keluar lagi Jhon..” desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.
“Aku juga mau keluar.. auh..” balasnya sambil mendesah.
Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan ia memutar berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan melihat peristiwa itu. Aku tidak mampu berbuat apa-apa, kupikir sudah ketahuan, telanjur basah, saya takut jika saya berhenti lalu si bule tahu dan kesannya bertengkar, tapi saya akal-akalan tidak ada sesuatu hal pun, si bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut jika ia marah.
Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini semenjak tadi. Dan kesannya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit. Tapi suamiku berkata, “Terusin aja nggak pa-pa kok, saya sayang sama istriku.. jika istriku suka begini.. ya terpaksa saya juga suka.. ayo kita main bareng”. Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut sedikit pun kesannya si bule disuruh tidur telentang, saya tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku eksklusif memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan kesannya ia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa kali kesannya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan.. “Bless..”, batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. “Aduh.. pelan-palan Mas..”, seruku.
Kira-kira hampir setengah jam posisi ibarat ini berlangsung dan kesannya suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, ia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih cepat dan saya pun mengerang keenakan dan sedikit sakit sebab mentok, kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku. Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh.. auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon..”
Akhirnya si bule pun keluar, “Auch.. keluar nich..” ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu. Kedua lelaki itu kesannya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas. Sesudah itu saya menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu ketika saya ingin sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak. “Kalau kau mau dan senang, ya nggak apa-apa asal kau jangan hingga disakiti olehnya”. Sejak ketika itupun bila saya ditinggal suamiku, saya tidak pernah merasa kesepian. Dan selalu dikerjain oleh si bule
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
![]() |
| Cerita Ngentot Sama Cowok Bule Saat Suami Pergi |
Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu ahad di luar kota, sebab rasa kasihannya terhadapku, maka ia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka kawasan kost supaya saya tidak merasa sendirian di rumah.
Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada sahabat untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan buah tangan supaya mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan saya merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel hingga larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan saya semakin iri pada mereka untuk kumpul gotong royong satu keluarga. Begitu suamiku datang dari luar kota, saya menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, kesannya kita putuskan untuk membubarkan kawasan kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost.
Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar eksklusif satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami eksklusif dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan sebab ia juga sering pulang malam.
Suatu hari suamiku datang dari luar kota, ia pulang membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk suami istri.
Suamiku bertanya, “Lho kok sepi-sepi aja, pada ke mana.”
“Semua pada pulang sebab liburan nasional, tapi yang bule nggak, sebab perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target”, balasku mesra.
Kemudian suamiku mengambil minumannya dan cerita-cerita kalem di ruang tamu, “Nich sekali-kali kita reuni ibarat di diskotik”, kata suamiku, “Aku juga membawa obat besar lengan berkuasa dan perangsang untuk pasangan suami istri, ntar kita coba ya..”
Sambil sedikit senyum, kujawab, “Kangen ya.. emang cuman kau yang kangen..”
Lalu kamipun bercanda sambil nonton film porno.
“Nich minum dulu obatnya biar nanti seru..” kata suamiku.
Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.
“Lho kok empat sih.. nanti over lho”, kataku manja.
“Ach.. biar cepat reaksinya”, balas suamiku sambil tertawa kecil.
Satu jam berlangsung ngobrol-ngobrol kalem di ruang tamu sambil nonton film porno, kurasakan obat tadi eksklusif bereaksi. Aku cuma mengenakan baju putih tanpa BH dan CD. Kita berdua duduk di sofa sambil kaki kita diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang, ia mulai memegang lututku lalu meraba naik ke pahaku yang mulus, putih dan seksi. Buah dadaku yang masih semok dengan putingnya yang masih kecil dan merah diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut, perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu persatu dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.
“Auh..” erangku, kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya, semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga saya tambah terangsang dan penuh gairah, mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan sudah tidak besar lengan berkuasa saya menahannya. “Ach.. Mas masukin yuk.. cepat Mas.. udah pingin nich..” sambil mencari posisi yang sempurna saya memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan dan, “Bless..”, batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. “Ach.. terus Mas.. saya kangen sekali..”, dengan penuh gairah entah kenapa tiba-tiba saya ibarat orang kesurupan, ibarat kuda liar, mutar sana mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.
Perasaanku gila sekali, saya seolah-olah ingin sekali diperkosa beberapa orang, seolah-olah semua lubang yang saya punya ingin sekali dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana, goyang sini sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kita bertahan seolah-olah tidak mampu keluar air mani. Sampai perih tapi asik sekali. Sampai kesannya saya keluar terlebih dahulu, “Ach.. Mas saya keluar ya.. udah nggak tahan nich.. aduh.. aduh.. adu..h.. keluar tiga kali Mas”, desahku mesra. “Aku juga ya.. ntar kau agak pelan goyangnya.. ach.. aduh.. keluar nich..” Mani kental yang hangat aneka macam masuk ke dalam liang kenikmatanku. Dan kini kita berada dalam posisi terbalik, saya yang di atas tapi masih bersatu dalam dekapan.
Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku terus kuoles-oleskan di verbal suamiku, dan suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku hingga tetes terakhir. Kemudian kita saling berpelukan dan lemas, tanpa disadari suamiku tidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa busana apapun, saya pun juga terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang, bahkan film porno pun lupa dimatikan tapi semuanya terkunci sepertinya aman.
Ketika subuh saya terbangun dan kaget, posisiku bugil tanpa sehelai benang pun tetapi saya telah pindah di kamar dalam, tetapi suamiku masih di ruang tamu. Akhirnya perlahan-lahan kupakai celana pendek dan kubangunkan suamiku. Akhirnya kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi saya buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar ihwal permainan seks yang telah kami lakukan tadi malam. Tapi saya tidak bertanya ihwal kepindahan posisi tidurku di dalam kamar, tapi saya masih bertanya-tanya kenapa kok saya mampu pindah ke dalam sendirian.
Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permaina seks ibarat semalam, mungkin pengaruh obatnya belum juga hilang. Aku pun disuruhnya minum lagi tapi saya cuma mau minum satu kapsul saja. Belum juga terasa obat yang kuminum, tiba-tiba sahabat suamiku datang menghampiri sebab ada peran mendadak ke luar kota yang tidak mampu ditunda. Yah.. dengan terpaksa suamiku pergi lagi dengan sebuah pesan jika obatnya sudah bereaksi kau harus tidur, dan saya pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Maka pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.
Dengan daster putih saya kembali membenahi ruang makan, dapur dan kamar-kamar kost saya bersihkan. Tapi kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir kost-ku yang bersebelahan dengan kamar tidurku, ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun sehingga kelihatan sekali batang kemaluan si bule yang sebesar tanganku. Tapi saya harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor yang akan kucuci.
Dengan sangat perlahan saya mengambil cucian di bersahabat si bule sambil melihat batang kemaluan yang belum pernah kulihat secara dekat. Ternyata benar ibarat di film-film porno bahwa batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah sebab sangatlah keheranan, saya mengambil cucian itu.
Tiba-tiba si bule itu bangkit dan terkejut seketika ketika melihat saya ada di kamarnya. Langsung saya seolah-olah tidak tahu harus berkata apa.
“Maaf tuan saya mau mengambil cucian yang kotor”, kataku dengan sedikit gugup.
“Suamimu sudah berangkat lagi?” jawabnya dengan pelan dan pasti. Dengan pertanyaan ibarat itu saya sangat kaget. Dan kujawab, “Kenapa?”.
Sambil mengambil bantal yang ditutupkan di episode vitalnya, si bule itu berkata, “Sebelumnya saya minta maaf sebab tadi malam saya sangat lancang. Aku datang jam dua malam, saya lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kau pun tidur telanjang di sofa ruang tamu, dengan sangat penuh nafsu saya telah melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka saya eksklusif memindahkan kau ke kamar, tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencoba kamu. Mula-mula saya hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan amis khas sperma lelaki. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya saya meniduri kamu.”
Dengan rasa kaget saya mau marah tapi memang posisi yang salah memang diriku sendiri, dan kini terjawablah sudah pertanyaan dalam benakku kenapa saya mampu pindah ke ruang kamar tidurku dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit
“Trus saya.. kau apain”, tanyaku dengan sedikit penasaran
“Kutidurin kau dengan penuh nafsu, hingga mani yang keluar pertama kutumpahkan di perut kamu, dan kutancapkan lagi batanganku ke liang kewanitaanmu hingga kira-kira setengah jam keluar lagi dan kukeluarkan di dalam liang kewanitaanmu”, jawab si bule.
“Oic.. ancaman nich, ntar kalo hamil gimana nich”, tanyaku cemas.
“Ya.. nggak pa-pa dong”, jawab si bule sambil menggandengku, mendekapku dan menciumku.
Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku. “Ach.. jangan dong.. saya masih capek semalaman”, kataku tapi tetap saja ia meneruskan niatnya, saya ditidurkan di pinggir kasurnya dan diangkat kakiku hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan ia pun mulai manjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bergairah sebab pengaruh obat yang telah saya minum sewaktu ada suamiku.
“Auh.. Jhon.. good.. teruskan Jhon.. auh”. Satu buah jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, terus jadi dua jari yang masuk, ditarik, didorong di liang kewanitaanku. Akhirnya lembap juga aku, sebab masih penasaran Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sedangkan jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku. Dengan nafsunya jari ke empatnya dimasukkan pula, saya mengeliat enak. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari terakhir dimasukkan pula.
“Aduh.. sakit Jhon.. jangan Jhon.. ntar sobek.. Jhon.. jangan Jhon”, desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya, saya berusaha berdiri tapi tidak mampu sebab tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya, “Bless..” masuk semua satu telapak ajun Jhon ke dalam liang kewanitaanku, saya menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikan jeritanku, tangan kirinya meremas payudaraku yang semok hingga rasa sakitnya hilang. Akhirnya si bule itu tambah menggila, didorong, tarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya, ia memutar posisi jadi enam sembilan, ia menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya hingga saya menerima kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.
“Auch.. Jhon punyamu terlalu panjang hingga masuk di tenggorokanku.. pelan-pelan aja”, ucapku tapi ia masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya mengelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak dan agak sakit sebab bulu-bulu tangannya menggesek-gesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama hingga kesannya saya keluar.
“Jhon.. saya nggak tahan.. auch.. aouh.. saya keluar Jhon auch, aug.. keluar lagi Jhon..” desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.
“Aku juga mau keluar.. auh..” balasnya sambil mendesah.
Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan ia memutar berdiri di tepi kasur dan menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar. Dengan sangat kaget dan merasa takut, kulihat di depan pintu kamar ternyata suamiku datang lagi, sepertinya suamiku tidak jadi pergi dan melihat peristiwa itu. Aku tidak mampu berbuat apa-apa, kupikir sudah ketahuan, telanjur basah, saya takut jika saya berhenti lalu si bule tahu dan kesannya bertengkar, tapi saya akal-akalan tidak ada sesuatu hal pun, si bule tetap kukulum sambil melirik suamiku, takut jika ia marah.
Tapi ternyata malah suamiku melepas celana dan mendekati kami berdua yang sudah tengang sekali, mungkin sudah menyaksikan kejadian ini semenjak tadi. Dan kesannya si bule kaget sekali, wajahnya pucat dan kelihatan grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mudur sedikit. Tapi suamiku berkata, “Terusin aja nggak pa-pa kok, saya sayang sama istriku.. jika istriku suka begini.. ya terpaksa saya juga suka.. ayo kita main bareng”. Akhirnya semua pada tersenyum merdeka, dan tanpa rasa takut sedikit pun kesannya si bule disuruh tidur telentang, saya tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya di anusku, yang sama sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku eksklusif memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan kesannya ia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas, suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, di goyang beberapa kali kesannya ikut basah, dan dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku dan.. “Bless..”, batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku. “Aduh.. pelan-palan Mas..”, seruku.
Kira-kira hampir setengah jam posisi ibarat ini berlangsung dan kesannya suamiku keluar duluan, duburku terasa hangat kena cairan mani suamiku, ia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pun pindah atas dan memompaku lebih cepat dan saya pun mengerang keenakan dan sedikit sakit sebab mentok, kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku, ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku. Suamiku pun ikut tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah dan panjang. Aku pun terus mengerang keasyikan, “Auh.. auh.. terus Jhon.. auh, keluarin ya Jhon..”
Akhirnya si bule pun keluar, “Auch.. keluar nich..” ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku dan menyembur juga lahar kental yang panas, kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu. Kedua lelaki itu kesannya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas. Sesudah itu saya menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta ijin bila suatu ketika saya ingin sekali bersetubuh dengan si bule boleh atau tidak. “Kalau kau mau dan senang, ya nggak apa-apa asal kau jangan hingga disakiti olehnya”. Sejak ketika itupun bila saya ditinggal suamiku, saya tidak pernah merasa kesepian. Dan selalu dikerjain oleh si bule
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/

0 Komentar