Cerita Sex - Kisahku ini berawal dari kenangan bersama seoarang gadis yang berjulukan Lia, yang berusia 23 tahun dan berstatus sebagai seorang mahasisiwi dari sebuah perguruan tinggi tinggi di Jakarta. Saat itu Lia yang sedang mengadakan liburan di sebuah tempat pariswisata yang terkenal dengan wisata pegunungan dan pantainya di sebelah timur pulau Bali, tanpa sengaja bertemu dengan diriku yang menjadi seorang pemain musik di cafe.
Pertemuan itu sendiri terjadi di internet cafe, yang kebetulan dikala itu saya sedang mengetik beberapa lagu-lagu karanganku sendiri yang sengaja saya simpan di folder mailku. Lia dikala itu sedang mencari isu wacana tujuan wisata yang ada di tempat itu, namun hingga beberapa dikala sepertinya Lia tidak menemukan apa yang beliau cari. Dengan sangat sopan dan ramah Lia memulai percakapan dengan menanyakan tempat-tempat yang bagus buat di kunjungi ke padaku.
"Maaf apakah anda tahu tempat-tempat wisata unggulan tempat ini?" tanya Lia tiba-tiba.
Aku yang dikala itu duduk berjarak 2 meja darinya terkejut oleh pertanyaan spontan itu.
"Anda bertanya kepada saya?" tanyaku kemudian.
"Iya, maaf kalau mengejutkan anda!" Ujarnya kemudian.
Dengan sedikit gugup, kemudian saya menjawab pertanyaan Lia, sebab dikala itu juga saya masih serius dengan file-file aku.
"Di tempat ini yang menjadi primadona wisatanya ialah pegunungannya, kedua wisata pantai yang menunjukkan pemandangan bawah air yang terkenal dengan karang birunya, setelah itu wisata budaya yang menampilkan objek rumah moral tempat ini," terangku kemudian.
Mungkin sebab penjelasan ku cukup menarik buat Lia, dengan raut muka yang ramah, kemudian beliau duduk di sebelah mejaku yang tanpa beliau sengaja juga beliau telah memandangi monitor di depanku yang dikala itu terpampang file dari lirik lagu-lagu karanganku yang dikala itu sedang saya print.
"Kamu mengarang lagu sendiri yah?" tanya Lia lagi.
"Iya, kebetulan aja saya pemain musik di cafe dan suka menulis lirik lagu," terangku lagi.
"Boleh saya baca lirik lagu-lagu kamu?" sahut Lia kemudian.
"Silakan, dengan senang hati," lanjutku dengan menarik dingklik di sebelahku dan menyodorkan kepada Lia, yang dikala itu sedang bangun di sampingku.
Setelah beberapa dikala Lia membaca semua lirik lagu-lagu saya dengan serius, tak lama Lia berkata, "Kamu menulis kisah pribadi kau menjadi lirik lagu yah?" tanya Lia lagi. Yang kemudian saya timpali dengan tersenyum kepada Lia.
"Semua lirik lagu-laguku memang dari pengalaman pribadi, sebab saya ingin apa yang menjadi kisah hidupku mampu saya rekam dalam bentuk sebuah seni dan akan menjadi kenangan yang sangat berharga bagiku nantinya," jelasku lebih jauh.
"Oh iya, kita sudah lama ngobrol nih tapi belum mengenal nama masing-masing diantara kita" sahut Lia spontan. Lia mengawalinya dengan menyodorkan tangannya..
"Lia.." ujarnya pendek. Yang kemudian giliran saya utuk melaksanakan hal yang sama.
"Adietya," sahutku juga.
Dari perkenalan yang singkat itu, kami sudah saling dekat menyerupai layaknya sahabat lama. Saat itu juga beliau memutuskan pergi besok paginya untuk mengisi program liburannya dengan snorkeling di sebuah pulau kecil yang sepi dan berpasir putih.
Waktu menunjukan pukul 08.00 WITA, sesuai janjiku dengan Lia. Aku sudah bangun di depan kamarnya dan kemudian saya mengetuk pintunya. Tak lama ada sahutan dari dalam.
"Pagi Adiet.. Tunggu bentar yah, saya sudah siap kok," Dalam hitungan menit Lia sudah keluar dari kamarnya.
"Ayo kita berangkat!" katanya kemudian.
Dengan berjalan menyusuri pantai kita menuju ke perahu motor yang sudah saya pesan semalam. Sebelum naik ke atas perahu motor, saya mengambil peralatan snorkeling untuk kita berdua berupa dua pasang masker berikut finnya. Dalam perjalanan menuju pulau kecil yang hanya membutuhkan waktu 45 menit, saya menjelaskan pemandangan sekitar kita dikala itu. Di samping kiri ada pemandangan Gunung Agung dari kejauhan, namun cukup terang sebab cuaca begitu bagus pagi itu.
Sesampainya di tujuan saya dan Lia turun dari perahu motor dan kita lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri hamparan pasir putih. Aku sudah membuka kaos dikala di perahu motor tadi, dan hanya mengenakan celana renang ketika menuju lokasi snorkeling. Tak lama setelah hingga di bawah rindangnya pohon cemara, Lia membuka kaos nya dan terpampanglah suatau pemandangan yang membuat jantungku berdetak sesaat.
Saat itu Lia mengenakan bikini warna biru renta yang kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Mataku tertuju di tonjolan dadanya yang saya perkirakan berukuran 36b. Kemudian pandanganku beralih kebawah menuju pahanya yang mulus di topang oleh sepasang kaki jenjangnya, menjadikan pesona badan Lia semakin sempurna. Aku hanya mampu menelan ludah dikala itu dan berhayal seandainya saya mampu memeluk badan yang sexy itu betapa beruntungnya diriku.
"Hai.. Kenapa melamun?" tegurnya mengejutkanku.
"Aku sudah siap nih" sahut Lia melanjutkan.
"Baiklah kalau begitu" ujarku menimpali tegurannya.
Ini ialah pengalaman pertama bagi Lia untuk snorkeling, dan sebelumnya Lia minta di ajarin hingga bisa. Hal yang paling sulit ialah dikala bernafas melalui mulut, sebab seluruh wajah tertutup oleh masker, kecuali adegan mulut.
Dengan penuh kesabaran saya mengajari cara-cara snorkeling yang umum dilakukan. Pertama saya membantunya memasang masker yang mana dikala itu saya bangun begitu dekat dengan nya, aroma khas badan Lia tercium sesaat, ketika saya membetulkan anak rambut yang menutupi raut wajahnya.
Kemudian Lia memasang fin sendiri, tanpa saya bantu. Tak lama berselang badan kita berdua sudah masuk ke dalam air. Perlahan saya berenang beriringan dengan Lia menuju ke tengah, yang saya perhatikan gaya berenang Lia sangat bagus. Setelah pengenalan di air cukup, kesudahannya saya berenang agak menjauh, untuk menyampaikan kepercayan buat Lia melaksanakan snorkelingnya.
Dari dalam air, beberapa kali saya sempat memandangi bentuk badan Lia yang aduhai dari arah belakang dikala beliau berenang, mulai dari penggalan pantatnya yang ranum hingga ke tonjolan di dadanya yang menantang.
Kembali saya berenang beriringan dengan Lia untuk meyakinkan kalau beliau baik-baik aja. Saat sedang asyiknya kita berenang, tiba-tiba kaki Lia kram. Dengan tindakan spontan saya memeluknya, semoga tidak karam dan membawanya ke sebuah watu karang besar yang menonjol di tengah laut. Kita bangun di atas watu karang yang, masih menyisakan adegan leher kita yang tidak tenggelam.
"Thanks ya Diet.. Atas bantuannya," Ujar Lia sesaat setelah kejadian itu.
"Sama-sama," timpalku kemudian.
Setelah program snorkeling yang melelahkan, kita bersepakat untuk istirahat di bawah pohon cemara yang ada di tepian pantai. Sambil ngobrol wacana pribadi kita masing-masing, Lia meluruskan kakinya yang jenjang di hamparan pasir putih. Lia bercerita wacana kisah asmaranya dengan mantan pacarnya yang berakhir, sebab cowoknya yang super sibuk sudah jarang lagi memperhatikannya.
Aku berusaha menghiburnya dengan mengatakan, kalau seandainya kalian nrimo saling mengasihi hal itu tidak akan terjadi dan yang lebih terpenting ialah kedewasaan pasangan itu sendiri dalam menentukan sikap. Sepertinya Lia sangat senang dengan pendapatku yang demikian, hal itu terlihat dari sikapnya yang terpancar lewat senyumnya yang mengembang.
"Makasih ya Diet.. Kamu sudah mau menjadi sahabat curhatku," sahut Lia kemudian.
Aku hanya tersenyum sambil mengatakan, "Saat ini saya sudah mampu membuat kau tersenyum, mungkin dikala lain kau yang akan membuatku tersenyum." timpalku pelan.
Tak terasa kedekatan ini membuat badan kita semakin dekat, saya mendahuluinya dengan merengkuh tubuhnya untuk merapat ke pelukanku. Lia hanya membisu sambil tersipu malu.
"Betapa bahagianya seorang perjaka bila mendapatkan dirimu Lia," lanjutku lagi.
"Kamu begitu baik, sabar, cantik dan memiliki badan yang sexy lagi," tambahku kemudian
Yang di jawab dengan senyumannya yang mempesona. Dengan sedikit keberanian saya mendekatkan bibirku ke bibir Lia yang terbuka berair yang kedua matanya juga sudah terpejam. Sangat beruntung sekali suasana pantai siang itu sepi dan yang lebih menguntungkan lagi, sebab memang lokasi kita duduk jauh berada di ujung. Dengan lembut saya mengulum bibir Lia yang ranum, dan terdengar desahan halus darinya.
"Ohh.. Diet," desahnya. Sembari membisikan kata-kata mesra saya melanjutkan ciumanku.
"Aku sayang kau Lia," bisikku pelan.
Tanganku juga tak tingal diam, dengan perlahan saya mengelus punggung Lia yang hanya di lapisi bikini tanpa bra di dalamnya. Sesaat tindakan ini membuat Lia semakin terangsang yang diiringi dengan sikap memelukku erat.
"Oh.. Diet teruskan," desahnya lagi.
Tanpa menghentikan tindakanku, tanganku yang satunya meremas payudara yang berukuran 36b itu dari luar bikini yang disambut dengan desahan berikutnya.
"Ohh.." desah Lia kembali.
Perlahan saya mulai membuka bikini Lia dari adegan atasnya dan berhenti sesaat hingga di pinggangnya, maka tersembulah payudara Lia yang ranum menggairahkan dengan di hiasi ujung nya yang merah dan mulai keras.
Sepertinya Lia mulai terangsang sekali. Tanpa menunggu lama lidahku pribadi mengecup permukaan payudar Lia dengan lembut dan pelan. Lidahku menelusuri setiap adegan payudaranya dengan lincah.
Putingya saya hisap dengan lembut, sesaat setelah Lia bergetar pelan. Beralaskan kain pantai warna biru, saya merebahkan badan Lia yang sexy pelan.
Aku melanjutkan kegiatanku dengan memegang telapak kaki Lia kemudian, sesaat setelah Lia menelentang dan mencumbui setiap jengkal kakinya. Di mulai dengan menjilati tepalak kakinya yang mulus dan jari-jari kakinya yang lentik. Lidahku juga menghisap ujung jari-jari kakinya, yang membuat Lia semakin menggelinjang lembut.
"Oh.. Diet.. Kamu cendekia menaikkan gairahku," desahnya pelan.
Berikutnya lidahku berpindah untuk menyampaikan kepuasan lagi ke adegan badan Lia yang lain. Kali ini ialah adegan lehernya yang saya mulai dengan mencumbu adegan belakang telinganya. Kembali Lia mendesah pelan..
"Ohh.. Teruskan Diet," desahnya.
Setelah cukup lama tangan Lia berdiam diri, kesudahannya tergerak juga untuk mengambil adegan di kesempatan ini. Tonjolan di celana renangku sudah begitu keras, setelah tangan Lia masuk membelai penisku dengan lembut.
"Oh.. Lia.. Sss.." desahku kemudian.
Kemudian saya lanjutkan untuk membuka sisa dari bikini Lia yang di pinggang dengan menariknya kebawah hingga ke pangkal kaki. Dengan lembut saya menjulurkan lidahku ke adegan perut Lia yang ternyata beliau sedikit kegelian.
"Hek.. Geli Diet," ujarnya.
Seketika saya menghentikan menjilati adegan perutnya, yang saya lanjutkan dengan menjlati pahanya adegan dalam yang berakhir di pangkalnya yang berbulu hitam dan sangat lebat, tapi tertata rapi dan beraroma khas.
Tak lama berselang saya menjulurkan lidahku ke bibir luar vagina Lia dengan lembut. Hal ini mengakibatkan sensasi tersendiri buat Lia.
"Ohh.. Diet.. Sss.." desahnya bergetar.
Kemudian saya lanjutkan dengan menjulurkan ujung lidahku di clitorisnya yang sudah menonjol dikit. Tubuh Lia semakin bergetar setelah mendapatkan perlakuan lidahku.
"Ohh.. Enak.. Sayang.." desahnya pelan. Lendir di lubang vagina Lia semakin deras keluar, menunjukan kalau Lia begitu terangsang hebat.
"Ohh.. Diet.. Masukin sekarang.. Sayang.." pintanya mesra.
Sambil merangkak saya kembali menciumi bibir Lia yang terbuka, sebab menahan rangsangan yang hebat. Dengan lembut saya memegang penisku dan mengarahkan nya ke lubang vagina Lia pelan. Tanpa kesulitan saya melesakan penisku ke dalam lubang vagina Lia, sebab lendir Lia cukup memudahkan bagi penisku untuk menyeruak ke adegan dalam vaginanya.
"Ohh.. Tekan lebih dalam.. Diet.." pintanya kemudian. Yang diiringi dengan bibirnya mendesis lirih.
"Ssshh.." desis Lia. Perlahan dan lembut saya memaju mundurkan pinggulku untuk menusukkan penisku lebih dalam lagi.
Sret.. Sret.., irama penisku beradu dengan vagina Lia. Setelah cukup lama bersentuhan, terasa badan Lia bergetar dan mendesirlah cairan di dalam vagina Lia dengan hangat, menyirami kepala penisku. Lia mencapai orgasmenya di barengi dengan jeritan nya yang menggairahkan.
"Diet.. Aku sampai.. Ohh.." teriaknya lembut.
Kemudian saya mengecup bibir Lia dengan lembut, dan kembali memaju mundurkan penisku. Dalam beberapa dikala saya mencicipi tanda-tanda akan mencapai puncak, seketika saya mempercepat kocokan ku ke dalam vagina Lia. Sret.. Sret.. Sret, suara penisku beradu dengan vagina Lia. Bergetar tubuhku dikala saya menyemprotkan spermaku ke dalam vagina Lia dengan deras, sambil memeluk erat badan Lia yang sexy.
"Ohh.. Sayang.. Enak.. Sekali.." jeritku sesaat setelah spermaku membasahi seluruh adegan dalam vagina Lia. Setelah itu saya kembali mengecup bibir Lia dengan lembut dan membisikkan kata-kata..
"Makasih yah sayang.. Kamu sudah membahagiakan aku," bisikku lembut.
Begitulah seterusnya kisah cinta antara saya dan Lia yang berujung relasi lebih serius sepulang nya Lia Ke Jakarta. tamat
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
![]() |
| Cerita Seks Ngewe Gadis ABG Mahasiswi Cantik |
Pertemuan itu sendiri terjadi di internet cafe, yang kebetulan dikala itu saya sedang mengetik beberapa lagu-lagu karanganku sendiri yang sengaja saya simpan di folder mailku. Lia dikala itu sedang mencari isu wacana tujuan wisata yang ada di tempat itu, namun hingga beberapa dikala sepertinya Lia tidak menemukan apa yang beliau cari. Dengan sangat sopan dan ramah Lia memulai percakapan dengan menanyakan tempat-tempat yang bagus buat di kunjungi ke padaku.
"Maaf apakah anda tahu tempat-tempat wisata unggulan tempat ini?" tanya Lia tiba-tiba.
Aku yang dikala itu duduk berjarak 2 meja darinya terkejut oleh pertanyaan spontan itu.
"Anda bertanya kepada saya?" tanyaku kemudian.
"Iya, maaf kalau mengejutkan anda!" Ujarnya kemudian.
Dengan sedikit gugup, kemudian saya menjawab pertanyaan Lia, sebab dikala itu juga saya masih serius dengan file-file aku.
"Di tempat ini yang menjadi primadona wisatanya ialah pegunungannya, kedua wisata pantai yang menunjukkan pemandangan bawah air yang terkenal dengan karang birunya, setelah itu wisata budaya yang menampilkan objek rumah moral tempat ini," terangku kemudian.
Mungkin sebab penjelasan ku cukup menarik buat Lia, dengan raut muka yang ramah, kemudian beliau duduk di sebelah mejaku yang tanpa beliau sengaja juga beliau telah memandangi monitor di depanku yang dikala itu terpampang file dari lirik lagu-lagu karanganku yang dikala itu sedang saya print.
"Kamu mengarang lagu sendiri yah?" tanya Lia lagi.
"Iya, kebetulan aja saya pemain musik di cafe dan suka menulis lirik lagu," terangku lagi.
"Boleh saya baca lirik lagu-lagu kamu?" sahut Lia kemudian.
"Silakan, dengan senang hati," lanjutku dengan menarik dingklik di sebelahku dan menyodorkan kepada Lia, yang dikala itu sedang bangun di sampingku.
Setelah beberapa dikala Lia membaca semua lirik lagu-lagu saya dengan serius, tak lama Lia berkata, "Kamu menulis kisah pribadi kau menjadi lirik lagu yah?" tanya Lia lagi. Yang kemudian saya timpali dengan tersenyum kepada Lia.
"Semua lirik lagu-laguku memang dari pengalaman pribadi, sebab saya ingin apa yang menjadi kisah hidupku mampu saya rekam dalam bentuk sebuah seni dan akan menjadi kenangan yang sangat berharga bagiku nantinya," jelasku lebih jauh.
"Oh iya, kita sudah lama ngobrol nih tapi belum mengenal nama masing-masing diantara kita" sahut Lia spontan. Lia mengawalinya dengan menyodorkan tangannya..
"Lia.." ujarnya pendek. Yang kemudian giliran saya utuk melaksanakan hal yang sama.
"Adietya," sahutku juga.
Dari perkenalan yang singkat itu, kami sudah saling dekat menyerupai layaknya sahabat lama. Saat itu juga beliau memutuskan pergi besok paginya untuk mengisi program liburannya dengan snorkeling di sebuah pulau kecil yang sepi dan berpasir putih.
Waktu menunjukan pukul 08.00 WITA, sesuai janjiku dengan Lia. Aku sudah bangun di depan kamarnya dan kemudian saya mengetuk pintunya. Tak lama ada sahutan dari dalam.
"Pagi Adiet.. Tunggu bentar yah, saya sudah siap kok," Dalam hitungan menit Lia sudah keluar dari kamarnya.
"Ayo kita berangkat!" katanya kemudian.
Dengan berjalan menyusuri pantai kita menuju ke perahu motor yang sudah saya pesan semalam. Sebelum naik ke atas perahu motor, saya mengambil peralatan snorkeling untuk kita berdua berupa dua pasang masker berikut finnya. Dalam perjalanan menuju pulau kecil yang hanya membutuhkan waktu 45 menit, saya menjelaskan pemandangan sekitar kita dikala itu. Di samping kiri ada pemandangan Gunung Agung dari kejauhan, namun cukup terang sebab cuaca begitu bagus pagi itu.
Sesampainya di tujuan saya dan Lia turun dari perahu motor dan kita lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri hamparan pasir putih. Aku sudah membuka kaos dikala di perahu motor tadi, dan hanya mengenakan celana renang ketika menuju lokasi snorkeling. Tak lama setelah hingga di bawah rindangnya pohon cemara, Lia membuka kaos nya dan terpampanglah suatau pemandangan yang membuat jantungku berdetak sesaat.
Saat itu Lia mengenakan bikini warna biru renta yang kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Mataku tertuju di tonjolan dadanya yang saya perkirakan berukuran 36b. Kemudian pandanganku beralih kebawah menuju pahanya yang mulus di topang oleh sepasang kaki jenjangnya, menjadikan pesona badan Lia semakin sempurna. Aku hanya mampu menelan ludah dikala itu dan berhayal seandainya saya mampu memeluk badan yang sexy itu betapa beruntungnya diriku.
"Hai.. Kenapa melamun?" tegurnya mengejutkanku.
"Aku sudah siap nih" sahut Lia melanjutkan.
"Baiklah kalau begitu" ujarku menimpali tegurannya.
Ini ialah pengalaman pertama bagi Lia untuk snorkeling, dan sebelumnya Lia minta di ajarin hingga bisa. Hal yang paling sulit ialah dikala bernafas melalui mulut, sebab seluruh wajah tertutup oleh masker, kecuali adegan mulut.
Dengan penuh kesabaran saya mengajari cara-cara snorkeling yang umum dilakukan. Pertama saya membantunya memasang masker yang mana dikala itu saya bangun begitu dekat dengan nya, aroma khas badan Lia tercium sesaat, ketika saya membetulkan anak rambut yang menutupi raut wajahnya.
Kemudian Lia memasang fin sendiri, tanpa saya bantu. Tak lama berselang badan kita berdua sudah masuk ke dalam air. Perlahan saya berenang beriringan dengan Lia menuju ke tengah, yang saya perhatikan gaya berenang Lia sangat bagus. Setelah pengenalan di air cukup, kesudahannya saya berenang agak menjauh, untuk menyampaikan kepercayan buat Lia melaksanakan snorkelingnya.
Dari dalam air, beberapa kali saya sempat memandangi bentuk badan Lia yang aduhai dari arah belakang dikala beliau berenang, mulai dari penggalan pantatnya yang ranum hingga ke tonjolan di dadanya yang menantang.
Kembali saya berenang beriringan dengan Lia untuk meyakinkan kalau beliau baik-baik aja. Saat sedang asyiknya kita berenang, tiba-tiba kaki Lia kram. Dengan tindakan spontan saya memeluknya, semoga tidak karam dan membawanya ke sebuah watu karang besar yang menonjol di tengah laut. Kita bangun di atas watu karang yang, masih menyisakan adegan leher kita yang tidak tenggelam.
"Thanks ya Diet.. Atas bantuannya," Ujar Lia sesaat setelah kejadian itu.
"Sama-sama," timpalku kemudian.
Setelah program snorkeling yang melelahkan, kita bersepakat untuk istirahat di bawah pohon cemara yang ada di tepian pantai. Sambil ngobrol wacana pribadi kita masing-masing, Lia meluruskan kakinya yang jenjang di hamparan pasir putih. Lia bercerita wacana kisah asmaranya dengan mantan pacarnya yang berakhir, sebab cowoknya yang super sibuk sudah jarang lagi memperhatikannya.
Aku berusaha menghiburnya dengan mengatakan, kalau seandainya kalian nrimo saling mengasihi hal itu tidak akan terjadi dan yang lebih terpenting ialah kedewasaan pasangan itu sendiri dalam menentukan sikap. Sepertinya Lia sangat senang dengan pendapatku yang demikian, hal itu terlihat dari sikapnya yang terpancar lewat senyumnya yang mengembang.
"Makasih ya Diet.. Kamu sudah mau menjadi sahabat curhatku," sahut Lia kemudian.
Aku hanya tersenyum sambil mengatakan, "Saat ini saya sudah mampu membuat kau tersenyum, mungkin dikala lain kau yang akan membuatku tersenyum." timpalku pelan.
Tak terasa kedekatan ini membuat badan kita semakin dekat, saya mendahuluinya dengan merengkuh tubuhnya untuk merapat ke pelukanku. Lia hanya membisu sambil tersipu malu.
"Betapa bahagianya seorang perjaka bila mendapatkan dirimu Lia," lanjutku lagi.
"Kamu begitu baik, sabar, cantik dan memiliki badan yang sexy lagi," tambahku kemudian
Yang di jawab dengan senyumannya yang mempesona. Dengan sedikit keberanian saya mendekatkan bibirku ke bibir Lia yang terbuka berair yang kedua matanya juga sudah terpejam. Sangat beruntung sekali suasana pantai siang itu sepi dan yang lebih menguntungkan lagi, sebab memang lokasi kita duduk jauh berada di ujung. Dengan lembut saya mengulum bibir Lia yang ranum, dan terdengar desahan halus darinya.
"Ohh.. Diet," desahnya. Sembari membisikan kata-kata mesra saya melanjutkan ciumanku.
"Aku sayang kau Lia," bisikku pelan.
Tanganku juga tak tingal diam, dengan perlahan saya mengelus punggung Lia yang hanya di lapisi bikini tanpa bra di dalamnya. Sesaat tindakan ini membuat Lia semakin terangsang yang diiringi dengan sikap memelukku erat.
"Oh.. Diet teruskan," desahnya lagi.
Tanpa menghentikan tindakanku, tanganku yang satunya meremas payudara yang berukuran 36b itu dari luar bikini yang disambut dengan desahan berikutnya.
"Ohh.." desah Lia kembali.
Perlahan saya mulai membuka bikini Lia dari adegan atasnya dan berhenti sesaat hingga di pinggangnya, maka tersembulah payudara Lia yang ranum menggairahkan dengan di hiasi ujung nya yang merah dan mulai keras.
Sepertinya Lia mulai terangsang sekali. Tanpa menunggu lama lidahku pribadi mengecup permukaan payudar Lia dengan lembut dan pelan. Lidahku menelusuri setiap adegan payudaranya dengan lincah.
Putingya saya hisap dengan lembut, sesaat setelah Lia bergetar pelan. Beralaskan kain pantai warna biru, saya merebahkan badan Lia yang sexy pelan.
Aku melanjutkan kegiatanku dengan memegang telapak kaki Lia kemudian, sesaat setelah Lia menelentang dan mencumbui setiap jengkal kakinya. Di mulai dengan menjilati tepalak kakinya yang mulus dan jari-jari kakinya yang lentik. Lidahku juga menghisap ujung jari-jari kakinya, yang membuat Lia semakin menggelinjang lembut.
"Oh.. Diet.. Kamu cendekia menaikkan gairahku," desahnya pelan.
Berikutnya lidahku berpindah untuk menyampaikan kepuasan lagi ke adegan badan Lia yang lain. Kali ini ialah adegan lehernya yang saya mulai dengan mencumbu adegan belakang telinganya. Kembali Lia mendesah pelan..
"Ohh.. Teruskan Diet," desahnya.
Setelah cukup lama tangan Lia berdiam diri, kesudahannya tergerak juga untuk mengambil adegan di kesempatan ini. Tonjolan di celana renangku sudah begitu keras, setelah tangan Lia masuk membelai penisku dengan lembut.
"Oh.. Lia.. Sss.." desahku kemudian.
Kemudian saya lanjutkan untuk membuka sisa dari bikini Lia yang di pinggang dengan menariknya kebawah hingga ke pangkal kaki. Dengan lembut saya menjulurkan lidahku ke adegan perut Lia yang ternyata beliau sedikit kegelian.
"Hek.. Geli Diet," ujarnya.
Seketika saya menghentikan menjilati adegan perutnya, yang saya lanjutkan dengan menjlati pahanya adegan dalam yang berakhir di pangkalnya yang berbulu hitam dan sangat lebat, tapi tertata rapi dan beraroma khas.
Tak lama berselang saya menjulurkan lidahku ke bibir luar vagina Lia dengan lembut. Hal ini mengakibatkan sensasi tersendiri buat Lia.
"Ohh.. Diet.. Sss.." desahnya bergetar.
Kemudian saya lanjutkan dengan menjulurkan ujung lidahku di clitorisnya yang sudah menonjol dikit. Tubuh Lia semakin bergetar setelah mendapatkan perlakuan lidahku.
"Ohh.. Enak.. Sayang.." desahnya pelan. Lendir di lubang vagina Lia semakin deras keluar, menunjukan kalau Lia begitu terangsang hebat.
"Ohh.. Diet.. Masukin sekarang.. Sayang.." pintanya mesra.
Sambil merangkak saya kembali menciumi bibir Lia yang terbuka, sebab menahan rangsangan yang hebat. Dengan lembut saya memegang penisku dan mengarahkan nya ke lubang vagina Lia pelan. Tanpa kesulitan saya melesakan penisku ke dalam lubang vagina Lia, sebab lendir Lia cukup memudahkan bagi penisku untuk menyeruak ke adegan dalam vaginanya.
"Ohh.. Tekan lebih dalam.. Diet.." pintanya kemudian. Yang diiringi dengan bibirnya mendesis lirih.
"Ssshh.." desis Lia. Perlahan dan lembut saya memaju mundurkan pinggulku untuk menusukkan penisku lebih dalam lagi.
Sret.. Sret.., irama penisku beradu dengan vagina Lia. Setelah cukup lama bersentuhan, terasa badan Lia bergetar dan mendesirlah cairan di dalam vagina Lia dengan hangat, menyirami kepala penisku. Lia mencapai orgasmenya di barengi dengan jeritan nya yang menggairahkan.
"Diet.. Aku sampai.. Ohh.." teriaknya lembut.
Kemudian saya mengecup bibir Lia dengan lembut, dan kembali memaju mundurkan penisku. Dalam beberapa dikala saya mencicipi tanda-tanda akan mencapai puncak, seketika saya mempercepat kocokan ku ke dalam vagina Lia. Sret.. Sret.. Sret, suara penisku beradu dengan vagina Lia. Bergetar tubuhku dikala saya menyemprotkan spermaku ke dalam vagina Lia dengan deras, sambil memeluk erat badan Lia yang sexy.
"Ohh.. Sayang.. Enak.. Sekali.." jeritku sesaat setelah spermaku membasahi seluruh adegan dalam vagina Lia. Setelah itu saya kembali mengecup bibir Lia dengan lembut dan membisikkan kata-kata..
"Makasih yah sayang.. Kamu sudah membahagiakan aku," bisikku lembut.
Begitulah seterusnya kisah cinta antara saya dan Lia yang berujung relasi lebih serius sepulang nya Lia Ke Jakarta. tamat
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/

0 Komentar