Cerita Sex Sedarah Mulusnya Kulit Sepupuku




Cerita ini terjadi pada tahun 2008. Ini merupakan ceritaku nyata. Pada dikala saya masih kuliah di semester 2, ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya saya tinggal di kota L. Cukup jauh sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya saya undangan kepada ibuku jikalau sepupuku yang ada di kota lain menginap di sini (di rumahku). Dan inspirasi itu pun disetujui. Maka datanglah sepupuku tadi. Sepupuku (selanjutnya saya panggil Anita) orangnya sih tidak terlalu cantik, tingginya sekitar 160 cm, dadanya masih kecil (tidak nampak semok menyerupai sekarang). Tetapi ia itu erat sekali dengan aku. Aku dianggapnya menyerupai kakak sendiri. Nah kejadiannya itu waktu saya lagi liburan semester. Waktu liburan itu saya banyak menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong saya banyak menghabiskan waktu dengan Anita. Mula-mulanya sih biasa- biasa saja, layaknya relasi kami sebagai sepupu. Suatu malam, kami (aku, Anita, dan adik-adikku ) sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang saya yang suka menonton TV, memilih tidur di depan TV. Nah, ketika sedang menonton TV, datang Anita dan nonton bersamaku, rupanya Anita belum tidur juga. Sambil nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan, perihal diri kami masing-masing dan teman- sahabat kami. Nah, ketika kami sedang nonton TV, dimana film di TV ada episode ciuman antara laki-laki dan perempuan (sorry udah lupa tuh judul filmnya). Eh, Anita itu merespon dan bicara padaku, “Wah temenku sih biasa begituan (ciuman). ” Terus saya jawab, “Eh.. Kok tau..?” Rupanya sahabat Anita yang pacaran itu suka kisah ke Anita jikalau ia waktu pacaran pernah ciuman bahkan hingga ‘anu’ sahabat Anita itu sering dimasuki jari pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan hingga dua jarinya masuk. Setelah kukomentari lebih lanjut, saya menebak bahwa Anita nih ingin juga kali. Terus saya bertanya padanya, “Eh, kau mau juga nggak..?” Tanpa kuduga, ternyata ia mau. Wah kebetulan nih. Dia bahkan bertanya, “Sakit nggak sih..?” Ya kujawab saja, “Ya nggak tahu lah, wong belum pernah… Gimana.., mau nggak..?” Anita berkata, “Iya deh, tapi pelan- pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, ‘anunya’ jadi sakit. ” “Iya deh..!”, jawabku. Kami berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai. Kudekati ia dan eksklusif tanganku menuju selangkangannya (to the point bok..!) . Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus dengan lembutnya. Anita tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, saya menyerupai memegang pembalut, dan setelah kutanyakan ternyata memang semenjak lima hari lalu ia sedang menstruasi. Aku tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut jikalau tertangkap lembap sama adik- adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba kawasan di atas kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak menyerupai bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum hingga menyentuh ‘anunya’, dan terdengar bunyi desisan walau tidak keras. Kemudian kurasakan sekarang ia berusaha mengangkat pantatnya biar jari-jariku segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu. Waktu pertama kusentuh kemaluannya, ia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir kewanitaannya sekitar lima menit, dan balasannya kumasukkan jari tengahku ke liang senggamanya. “Auw. .,” begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku. Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, “Eeessshhh ..” , desisnya. Lalu kutanya, “Gimana.. ? Sakit..?” Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku. Sambil terus kukeluar-masukkan jariku, Anita juga tampak meram serta mendesis-desis keenakan. Sementara terasa di dalam CD-ku , batang kemaluanku juga bangun, tapi saya belum berani untuk meminta Anita memegang rudalku (padahal saya sudah ingin sekali). Sekitar 10 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat ia tambah keras desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya ia telah mengalami klimaks, dan kami balasannya tidur di kamar masing- masing. Hari berikutnya, saya dan Anita siap- siap membuka warung, adikku pada berangkat sekolah, sehingga hanya ada saya dan Anita di warung. Hari itu Anita jadi lebih berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk ia berani memegang tanganku dan menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu ia memakai hem dan rok di atas lutut, hingga saya eksklusif bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung. “Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi”, katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan. “Lha kalo ada pembeli gimana nanti.. ?”, tanyaku. “Ya udahan dulu, gres setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?”, jawabnya. Dengan terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara saya mengelus selangkangannya, Anita mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali, sehingga celana pendekku eksklusif terlihat menonjol yang bertanda batang kejantananku ingin berontak. “Lho Mas, anunya Mas kok ngaceng..?” , katanya. Ternyata ia melihatku, kujawab, “Iya ini sih tandanya saya masih normal…” Aku terus melanjuntukan pekerjaanku. Tanpa kusadari ia pun mengelus-elus celanaku, sempurna di bab batang kemaluanku. Kadang ia juga menggenggam kemaluanku sehingga saya juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba saya melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku. Kubisiki dia, “Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?” Aku menghentikan elusanku, ia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja, untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe nanti. Sehabis melayani anak itu, ia balik lagi duduk di sebelahku dan kami memulai lagi kegiatan kami yang terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi saya tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Makara kami seharian hanya saling mengelus di bab luar saja. Malam harinya kami melaksanakan lagi. Aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua sudah tidur. Tiba-tiba ia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba ia memegang tanganku dan dituntun ke selangkangannya. Aku yang eksklusif diperlakukan demikian merasa mengerti dan eksklusif saya masuk ke dalam CD-nya, dan eksklusif memasukkan jariku ke kemaluannya. Sedangkan ia juga eksklusif memegang batang kejantananku. “Aku copot ya CD kamu, biar lebih enakan”, kataku. Dia mengangguk dan saya eksklusif mencopot CD-nya. Saat itu ia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah saya mencopotnya dan eksklusif tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku , sehingga ia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan ia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya ia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh ia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena ia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih. “Eehhhsssttt… Eehhhsssttt… Ouw.., eehhhsssttt… Eehhhsssttt… Eehhhssstt..” Begitu erangannya dikala kukeluar- masukkan jariku. Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan ia mendesis lebih keras, saya suruh ia biar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun. “Kocokkannya lebih pelan dong.. !”, kataku yang merasa kocokkannya terhenti. Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan ia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan ia lagi menggauli jariku. Dan akhirnya, “Oh. ., oohhh.. Oohhh. . Ohhh..” Rupanya ia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku. Kucabut jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena saya belum puas, saya eksklusif pergi ke kamar mandi dan kutuntun Anita. Di kamar mandi saya minta ia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dia mau. Aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku eksklusif berdiri tegap. Kusuruh ia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh biar tangannya waktu mengocok itu jangan hingga lepas dari batangku. Setelah lima menit, balasannya saya klimaks juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya. Seperti pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi. Tidak ada yang dapat kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, menyerupai biasa, saya sendirian nonton TV. Anita datang, sambil tiduran ia nonton TV. Tapi saya yakin tujuannya bukan untuk nonton, ia sepertia ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia eksklusif menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi ada yang lain. Kini ia tidak memakai pembalut lagi. “Eh, kau udah selesai mens- nya..?”, tanyaku. “Iya, tadi sore khan saya udah kramas, masa nggak tau.. ?”, katanya. Aku memang tidak tahu. Karena memang saya kurang peduli dengan hal-hal menyerupai itu. Aku jadi membayangkan yang jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich. Kuraba-raba CD-nya. Tepat di lubang kemaluannya, saya agak menusukkan jariku, dan ia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah sebatas lutut. Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena sudah sering kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena ia masih memakai rok mini lagi, jadi tidak tertangkap lembap jikalau ia sekarang bugil di bab bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke lubang senggamanya. “Uhhh.. Essshhh.. Eessshhh.. Essshhh..” , begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku ke lubang senggamanya. Sementara ia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek- korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, saya khan belum melihat eksklusif bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xxx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga saya dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, saya berusaha membuka bibir kemaluannya. Tapi, “Auw. . Diapaain Mas..? Eshhh.. Uuhhh. ”, desisannya tambah mengeras. “Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!”, sambil terus kukocokkan jariku. Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak. “Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kau genggam itu ya..?” , pancingku. Dia membisu saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat ia memaju- mundurkan pantatnya. “Eh, tolong-menolong yang enak ini mananya sich..?” , tanyaku. Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya. “Ini nich.. , kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel- gatel tapi enak gitu.” “Mana.., mana.., oh ini ya..?” , kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui berjulukan klitoris) dan ia makin berpengaruh menggenggam batang kemaluanku. “Ahhh. Auu.. Enakkkk Maaasss… Eeehhh… Aaahhh.. Truusss Masss, terusiinn.. Ohhh..!” Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan saya terus menggosok benda itu. Dan akhirnya, “Uhh.. Uhhh.. Uuhhh.. Ahhh.. Aahhh.” , ia mencapai klimaks. Aku terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang menyerupai cacing kepanasan. Lalu kubertanya, “Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini…? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!” Dia hanya mengangguk pelan dan saya segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga ia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, ia sudah mendesis- desis. Kudorong lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga saya tidak mempedulikan erangannya lagi. Kutekan lagi dan, “Auuuwww.. Ehhssaaakkkiittt..!” Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku membisu sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras. “Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?” , tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya. Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar menyerupai orang menjerit, tapi tanpa suara. Karena ia tetap diam, maka kulanjuntukan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi ia menyerupai menjerit tapi tanpa suara. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah di batangku. Aku jadi kaget, “Wah saya memperawaninya nih.” “Gimana.. , sakit nggak.. , kalo nggak lanjut ya.. ?”, tanyaku. “Uhhh.. Tadi sakiiittt sich… Uhhh. Geeelii.” Begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan. Setelah itu kumajukan lagi batang kejantananku, Anita tampak menutup matanya sambil berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film- film yang kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang senggama wanita, tapi saya disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang kejantananku di liang keperawanannya. Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung, sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini ia berada di bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu kukecup puting buah dadanya dengan muluntuku. Dia semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 10 menitan, kaki Anita berada di pantatku dan menekan dengan keras pantatku. Kurasa ia sudah orangasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya terhadap anuku bertambah berpengaruh juga. Dan karena saya tidak tahan dengan cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, “Crot.. Crot.. Crot..” , air maniku tumpah di vaginanya. Serasa saya puas dan juga letih. Kami berdua bersimbah keringat. Lalu segera kutuntun ia menuju kamar mandi dan kusuruh ia untuk membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan saya mencuci senjataku. Setelah itu kami kembali ke tempat semula. Kulihat tidak ada noda darah di karpet tempat kami melaksanakan kejadian itu. Dan untung adik-adikku tidak bangun, alasannya menuruntuku desisan dan bunyi ia agak keras. Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing- masing. Sebelum tidur saya sempat berfikir, “Wah, saya telah memperawani sepupuku sendiri nich..!” Sewaktu saya sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), ia masih suka menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan ia ingin mengulanginya lagi. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo gini. Aku jadi ingat bahwa waktu itu saya keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya. “Wah, bisa hamil nich anak..!”, pikirku. Hari-hariku jadi tidak tenang, karena jikalau tertangkap lembap ia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon ia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata ia dapat mens- nya lagi dua hari yang lalu. Lega saya dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula. Begitulah ceritaku dikala menggauli sepupu sendiri, tapi dasar memang sepupuku yang agak “horny” . Tapi hingga dikala ini kami tidak pernah melaksanakan perbuatan itu lagi.

Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, erita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.
Previous
Next Post »
0 Komentar