Cerita Sex - Kurasa tidak perlu saya ceritakan wacana nama dan asalku, serta tempat dan alamatku sekarang. Usiaku sekarang sudah mendekati empat puluh tahun, jika dipikir-pikir seharusnya saya sudah punya anak, sebab saya sudah menikah hampir lima belas tahun lamanya.
Walaupun saya tidak begitu ganteng, saya cukup beruntung sebab mendapat isteri yang menurutku sangat cantik.
Bahkan dapat dikatakan beliau yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menjadikan kecemburuan para tetanggaku.
Isteriku berjulukan Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu cita-cita sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang kala pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melaksanakan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin sebab belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.
Kegilaan ini dimulai ketika hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin sebab isteriku yang supel, sehingga cepat erat dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila yaitu bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.
Mereka pun sama menyerupai kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini sebab peran gres suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang gres membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami menyerupai saudara saja sebab hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.
Pada suatu malam, saya menyerupai biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya gres dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak sebab selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.
"Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!"
"Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak mampu dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian." katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya saya pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.
"Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?" kata isteriku ketika kuajak.
Akhirnya saya malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan eksklusif tidur saja semoga besok cepat bangun. Paginya saya tidak bertemu Agus, sebab sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya saya hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika saya lewat, beliau menanyaiku wacana yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga saya eksklusif saja tidur.
Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang semenjak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, saya kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya jika sudah begini saya eksklusif menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin sebab sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa yaitu pagi ini saya benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku menyerupai kesetanan. Kemaluan Resty kujilati hingga tuntas, bahkan kusedot hingga isteriku menjerit. Edan, kok saya hingga segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.
Isteriku hingga terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty eksklusif memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan ketika itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
"Mas.., sekarang Mas..!" pinta isteriku memelas.
Akhirnya saya mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.
Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, "Kok Mas tiba- tiba nafsu banget sih..?"
Aku membisu saja sebab malu mengatakan bahwa sesungguhnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.
Sorenya Agus datang ke rumahku, "Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?" tanyanya setelah kami berbasa-basi.
"Maksudmu apa Gus..?" tanyaku heran.
"Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi beliau melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya."
Loh, saya heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, gres kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Agus eksklusif menambahkan, "Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas." katanya tanpa malu- malu.
"Begini saja Mas," tanpa harus memahami perasaanku, Agus eksklusif melanjutkan, "Aku punya ide, gimana jika nanti malam kita bikin acara..?"
"Acara apa Gus..?" tanyaku penasaran.
"Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?"
"Pesta apaan..? Gila kamu."
"Pokoknya hening aja Mas, kau cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?"
Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol wacana masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak absurd kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.
Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, saya mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa menyerupai menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah mencicipi perasaan menyerupai ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan saya menelanjanginya. Sesaat saya merasa bersalah, kenapa saya melaksanakan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.
Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya saya sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.
Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
"Kegilaan apa lagi ini..?" batinku.
Seolah-olah Agus mengerti, sebab selalu saya perhatikan menyampaikan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan verbal terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seperti tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.
Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan tubuh yang sedikit gemetar sebab memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya saya lah yang melakukannya.
Perlahan-lahan jari- jemariku mendekati kawasan kemaluan Rini. Kuelus adegan itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan adegan tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati- hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi adegan yang berada di antara kedua paha Rini ini.
"Peluklah saya Mas, tolonglah Mas..!" erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.
Tetapi saya tidak melakukannya. Aku ingin menyampaikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh adegan tubuh Rini yang memang betul- betul sempurna. Biasanya saya hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.
Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, verbal kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
"Sshh.., akh..!" Rini menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis.
Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap adegan putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba- tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara saya berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan beliau mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.
Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir saya tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan menyerupai ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku menyerupai membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seperti melaksanakan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.
Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, beliau melenguh jago hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian saya sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku menyerupai terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang- panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah- engah dan kemudian menjerit tertahan meminta semoga saya segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.
Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar semoga saya dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan- lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini.
Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, "Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!"
Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika saya melakukannya. Mungkin sebab selama ini saya hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun menyerupai megap- megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat- kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seperti tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang yaitu sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.
Luar biasa kemaluan Rini ini, menyerupai ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya menyerupai lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat beliau berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, sebab selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat sebab membungkuk.
Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.
Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa saya menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.
Segera saya mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya saya menindihnya sambil menekuk kedua kakinya hingga kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.
Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang menyerupai akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari verbal Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat- kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.
Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat berpengaruh dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya.
Perlahan-lahan otot- ototku mengendur, dan alhasil kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan saya pun mencicipi kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu- malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.
Hingga ketika ini peristiwa itu masih terang dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berafiliasi lewat telepon. Mungkin saya tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan saya tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja.
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/
![]() |
| Cerita Sex Selingkuh Dengan Tetangga Baruku |
Walaupun saya tidak begitu ganteng, saya cukup beruntung sebab mendapat isteri yang menurutku sangat cantik.
Bahkan dapat dikatakan beliau yang tercantik di lingkunganku, yang biasanya menjadikan kecemburuan para tetanggaku.
Isteriku berjulukan Resty. Ada satu kebiasaanku yang mungkin jarang orang lain miliki, yaitu cita-cita sex yang tinggi. Mungkin para pembaca tidak percaya, kadang kala pada siang hari selagi ada tamu pun sering saya mengajak isteri saya sebentar ke kamar untuk melaksanakan hal itu. Yang anehnya, ternyata isteriku pun sangat menikmatinya. Walaupun demikian saya tidak pernah berniat jajan untuk mengimbangi kegilaanku pada sex. Mungkin sebab belum punya anak, isteriku pun selalu siap setiap saat.
Kegilaan ini dimulai ketika hadirnya tetangga baruku, entah siapa yang mulai, kami sangat akrab. Atau mungkin sebab isteriku yang supel, sehingga cepat erat dengan mereka. Suaminya juga sangat baik, usianya kira-kira sebaya denganku. Hanya isterinya, woow busyet.., selain masih muda juga cantik dan yang membuatku gila yaitu bodynya yang wah, juga kulitnya sangat putih mulus.
Mereka pun sama menyerupai kami, belum mempunyai anak. Mereka pindah ke sini sebab peran gres suaminya yang ditempatkan perusahaannya yang gres membuka cabang di kota tempatku. Aku dan isteriku biasa memanggil mereka Mas Agus dan Mbak Rini. Selebihnya saya tidak tahu latar belakang mereka. Boleh dibilang kami menyerupai saudara saja sebab hampir setiap hari kami ngobrol, yang terkadang di teras rumahnya atau sebaliknya.
Pada suatu malam, saya menyerupai biasanya berkunjung ke rumahnya, setelah ngobrol panjang lebar, Agus menawariku nonton VCD blue yang katanya gres dipinjamnya dari temannya. Aku pun tidak menolak sebab selain belum jauh malam kegiatan lainnya pun tidak ada. Seperti biasanya, film blue tentu ceritanya itu-itu saja. Yang membuatku kaget, tiba-tiba isteri Agus ikut nonton bersama kami.
"Waduh, gimana ini Gus..? Nggak enak nih..!"
"Nggak apa-apalah Mas, toh itu tontonan kok, nggak mampu dipegang. Kalau Mas nggak keberatan, Mbak Res diajak sekalian." katanya menyebut isteriku.
Aku tersinggung juga waktu itu. Tapi setelah kupikir-pikir, apa salahnya? Akhirnya saya pamit sebentar untuk memanggil isteriku yang tinggal sendirian di rumah.
"Gila kamu..! Apa enaknya nonton gituan kok sama tetangga..?" kata isteriku ketika kuajak.
Akhirnya saya malu juga sama isteriku, kuputuskan untuk tidak kembali lagi ke rumah Agus. Mendingan eksklusif tidur saja semoga besok cepat bangun. Paginya saya tidak bertemu Agus, sebab sudah lebih dahulu berangkat. Di teras rumahnya saya hanya melihat isterinya sedang minum teh. Ketika saya lewat, beliau menanyaiku wacana yang tadi malam. Aku bilang Resty tidak mau kuajak sehingga saya eksklusif saja tidur.
Mataku jelalatan menatapinya. Busyet.., dasternya hampir transparan menampakkan lekuk tubuhnya yang semenjak dulu menggodaku. Tapi ah.., mereka kan tetanggaku. Tapi dasar memang pikiranku sudah tidak beres, kutunda keberangkatanku ke kantor, saya kembali ke rumah menemui isteriku. Seperti biasanya jika sudah begini saya eksklusif menarik isteriku ke tempat tidur. Mungkin sebab sudah biasa Resty tidak banyak protes. Yang luar biasa yaitu pagi ini saya benar-benar gila. Aku bergulat dengan isteriku menyerupai kesetanan. Kemaluan Resty kujilati hingga tuntas, bahkan kusedot hingga isteriku menjerit. Edan, kok saya hingga segila ini ya, padahal hari masih pagi.Tapi hal itu tidak terpikirkan olehku lagi.
Isteriku hingga terengah-engah menikmati apa yang kulakukan terhadapnya. Resty eksklusif memegang kemaluanku dan mengulumnya, entah kenikmatan apa yang kurasakan ketika itu. Sungguh, tidak dapat kuceritakan.
"Mas.., sekarang Mas..!" pinta isteriku memelas.
Akhirnya saya mendekatkan kemaluanku ke lubang kemaluan Resty. Dan tempat tidur kami pun ikut bergoyang.
Setelah kami berdua sama-sama tergolek, tiba-tiba isteriku bertanya, "Kok Mas tiba- tiba nafsu banget sih..?"
Aku membisu saja sebab malu mengatakan bahwa sesungguhnya Rini lah yang menaikkan tensiku pagi ini.
Sorenya Agus datang ke rumahku, "Sepertinya Mas punya kelainan sepertiku ya..?" tanyanya setelah kami berbasa-basi.
"Maksudmu apa Gus..?" tanyaku heran.
"Isteriku tadi cerita, katanya tadi pagi beliau melihat Mas dan Mbak Resty bergulat setelah ngobrol dengannya."
Loh, saya heran, dari mana Rini nampak kami melakukannya? Oh iya, gres kusadari ternyata jendela kamar kami saling berhadapan.
Agus eksklusif menambahkan, "Nggak usah malu Mas, saya juga maniak Mas." katanya tanpa malu- malu.
"Begini saja Mas," tanpa harus memahami perasaanku, Agus eksklusif melanjutkan, "Aku punya ide, gimana jika nanti malam kita bikin acara..?"
"Acara apa Gus..?" tanyaku penasaran.
"Nanti malam kita bikin pesta di rumahmu, gimana..?"
"Pesta apaan..? Gila kamu."
"Pokoknya hening aja Mas, kau cuman nyediain makan dan musiknya aja Mas, nanti minumannya saya yang nyediain. Kita berempat aja, sekedar refresing ajalah Mas, kan Mas belum pernah mencobanya..?"
Malamnya, menjelang pukul 20.00, Agus bersama isterinya sudah ada di rumahku. Sambil makan dan minum, kami ngobrol wacana masa muda kami. Ternyata ada persamaan di antara kami, yaitu menyukai dan cenderung maniak pada sex. Diiringi musik yang disetel oleh isteriku, ada perasaan yang agak absurd kurasakan. Aku tidak dapat menjelaskan perasaan apa ini, mungkin pengaruh minuman yang dibawakan Agus dari rumahnya.
Tiba-tiba saja nafsuku bangkit, saya mendekati isteriku dan menariknya ke pangkuanku. Musik yang tidak begitu kencang terasa menyerupai menyelimuti pendengaranku. Kulihat Agus juga menarik isterinya dan menciumi bibirnya. Aku semakin terangsang, Resty juga semakin bergairah. Aku belum pernah mencicipi perasaan menyerupai ini. Tidak berapa lama Resty sudah telanjang bulat, entah kapan saya menelanjanginya. Sesaat saya merasa bersalah, kenapa saya melaksanakan hal ini di depan orang lain, tetapi kemudian hal itu tidak terpikirkan olehku lagi. Seolah-olah nafsuku sudah menggelegak mengalahkan pikiran normalku.
Kuperhatikan Agus perlahan-lahan mendudukkan Rini di meja yang ada di depan kami, mengangkat rok yang dikenakan isterinya, kemudian membukanya dengan cara mengangkatnya ke atas. Aku semakin tidak karuan memikirkan kenapa hal ini dapat terjadi di dalam rumahku. Tetapi itu hanya sepintas, berikutnya saya sudah menikmati permainan itu. Rini juga tinggal hanya mengenakan BH dan celana dalamnya saja, dan masih duduk di atas meja dengan lutut tertekuk dan terbuka menantang.
Perlahan-lahan Agus membuka BH Rini, tampak dua bukit putih mulus menantang menyembul setelah penutupnya terbuka.
"Kegilaan apa lagi ini..?" batinku.
Seolah-olah Agus mengerti, sebab selalu saya perhatikan menyampaikan bergantian denganku. Kulihat isteriku yang masih terbaring di sofa dengan verbal terbuka menantang dengan nafas tersengal menahan nafsu yang menggelora, seperti tidak keberatan bila posisiku digantikan oleh Agus.
Kemudian kudekati Rini yang kini tinggal hanya mengenakan celana dalam. Dengan tubuh yang sedikit gemetar sebab memang ini pengalaman pertamaku melakukannya dengan orang lain, kuraba pahanya yang putih mulus dengan lembut. Sementara Agus kulihat semakin beringas menciumi sekujur tubuh Resty yang biasanya saya lah yang melakukannya.
Perlahan-lahan jari- jemariku mendekati kawasan kemaluan Rini. Kuelus adegan itu, walau masih tertutup celana dalam, tetapi aroma khas kemaluan wanita sudah terasa, dan adegan tersebut sudah mulai basah. Perlahan-lahan kulepas celana dalamnya dengan hati- hati sambil merebahkan badannya di atas meja. Nampak bulu-bulu yang belum begitu panjang menghiasi adegan yang berada di antara kedua paha Rini ini.
"Peluklah saya Mas, tolonglah Mas..!" erang Rini seolah sudah siap untuk melakukannya.
Tetapi saya tidak melakukannya. Aku ingin menyampaikan kenikmatan yang betul-betul kenikmatan kepadanya malam ini. Kutatapi seluruh adegan tubuh Rini yang memang betul- betul sempurna. Biasanya saya hanya dapat melihatnya dari kejauhan, itu pun dengan terhalang pakaian. Berbeda kini bukan hanya melihat, tapi dapat menikmati. Sungguh, ini suatu yang tidak pernah terduga olehku. Seperti ingin melahapnya saja.
Kemudian kujilati seluruhnya tanpa sisa, sementara tangan kiriku meraba kemaluannya yang ditumbuhi bulu hitam halus yang tidak begitu tebal. Bagian ini terasa sangat lembut sekali, verbal kemaluannya sudah mulai basah. Perlahan kumasukkan jari telunjukku ke dalam.
"Sshh.., akh..!" Rini menggelinjang nikmat.
Kuteruskan melakukannya, kini lebih dalam dan menggunakan dua jari, Rini mendesis.
Kini mulutku menuju dua bukit menonjol di dada Rini, kuhisap adegan putingnya, tubuh Rini bergetar panas. Tiba- tiba tangannya meraih kemaluanku, menggenggam dengan kedua telapaknya seolah takut lepas. Posisi Rini sekarang berbaring miring, sementara saya berlutut, sehingga kemaluanku tepat ke mulutnya. Perlahan beliau mulai menjilati kemaluanku. Gantian badanku sekarang yang bergetar hebat.
Rini memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Ya ampun, hampir saya tidak sanggup menikmatinya. Luar biasa enaknya, sungguh..! Belum pernah kurasakan menyerupai ini. Sementara di atas Sofa Agus dan isteriku menyerupai membentuk angka 69. Resty ada di bawah sambil mengulum kemaluan Agus, sementara Agus menjilati kemaluan Resty. Napas kami berempat saling berkejaran, seperti melaksanakan perjalanan panjang yang melelahkan. Bunyi Music yang entah sudah beberapa lagu seolah menambah semangat kami.
Kini tiga jari kumasukkan ke dalam kemaluan Rini, beliau melenguh jago hingga kemaluanku terlepas dari mulutnya. Gantian saya sekarang yang menciumi kemaluannya. Kepalaku menyerupai terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Kujulurkan lidahku sepanjang- panjangnya dan kumasukkan ke dalam kemaluannya sambil kupermainkan di dalamnya. Aroma dan rasanya semakin memuncakkan nafsuku. Sekarang Rini terengah- engah dan kemudian menjerit tertahan meminta semoga saya segera memasukkan kemaluanku ke lubangnya.
Cepat-cepat kurengkuh kedua pahanya dan menariknya ke bibir meja, kutekuk lututnya dan kubuka pahanya lebar-lebar semoga saya dapat memasukkan kemaluanku sambil berjongkok. Perlahan- lahan kuarahkan senjataku menuju lubang milik Rini.
Ketika kepala kemaluanku memasuki lubang itu, Rini mendesis, "Ssshh.., aahhk.., aduh enaknya..! Terus Mas, masukkan lagi akhh..!"
Dengan pasti kumasukkan lebih dalam sambil sesekali menarik sedikit dan mendorongnya lagi. Ada kenikmatan luar biasa yang kurasakan ketika saya melakukannya. Mungkin sebab selama ini saya hanya melakukannya dengan isteriku, kali ini ada sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Tanganku sekarang sudah meremas payudara Rini dengan lembut sambil mengusapnya. Mulut Rini pun menyerupai megap- megap kenikmatan, segera kulumat bibir itu hingga Rini nyaris tidak dapat bernapas, kutindih dan kudekap sekuat- kuatnya hingga Rini berontak. Pelukanku semakin kuperketat, seperti tidak akan lepas lagi. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh kami. Agus dan isteriku tidak kuperhatikan lagi. Yang kurasakan sekarang yaitu sebuah petualangan yang belum pernah kulalui sebelumnya. Pantatku masih naik turun di antara kedua paha Rini.
Luar biasa kemaluan Rini ini, menyerupai ada penyedot saja di dalamnya. Kemaluanku seolah tertarik ke dalam. Dinding-dindingnya menyerupai lingkaran magnet saja. Mata Rini merem melek menikmati permainan ini. Erangannya tidak pernah putus, sementara helaan napasnya memburu terengah-engah.Posisi sekarang berubah, Rini sekarang membungkuk menghadap meja sambil memegang kedua sisi meja yang tadi tempat beliau berbaring, sementara saya dari belakangnya dengan berdiri memasukkan kemaluanku. Hal ini cukup sulit, sebab selain ukuran kemaluanku lumayan besar, lubang kemaluan Rini juga semakin ketat sebab membungkuk.
Kukangkangkan kaki Rini dengan cara melebarkan jarak antara kedua kakinya. Perlahan kucoba memasukkan senjataku. Kali ini berhasil, tapi Rini melenguh nyaring, perlahan-lahan kudorong kemaluanku sambil sesekali menariknya. Lubangnya terasa sempit sekali. Beberapa saat, tiba-tiba ada cairan milik Rini membasahi lubang dan kemaluanku hingga terasa nikmat sekarang. Kembali kudorong senjataku dan kutarik sedikit. Goyanganku semakin lincah, pantatku maju mundur beraturan. Sepertinya Rini pun menikmati gaya ini.
Buah dada Rini bergoyang-goyang juga maju-mundur mengikuti irama yang berasal dari pantatku. Kuremas buah dada itu, kulihat Rini sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang tidak kumengerti apa itu. Erangannya semakin panjang. Kecepatan pun kutambah, goyangan pinggul Rini semakin kuat. Tubuhku terasa semakin panas. Ada sesuatu yang terdorong dari dalam yang tidak kuasa saya menahannya. Sepertinya menjalar menuju kemaluanku. Aku masih berusaha menahannya.
Segera saya mencabut kemaluanku dan membopong tubuh Rini ke tempat yang lebih luas dan menyuruh Rini telentang di bentangan karpet. Secepatnya saya menindihnya sambil menekuk kedua kakinya hingga kedua ujung lututnya menempel ke perut, sehingga kini tampak kemaluan Rini menyembul mendongak ke atas menantangku. Segera kumasukkan senjataku kembali ke dalam lubang kemaluan Rini.
Pantatku kembali naik turun berirama, tapi kali ini lebih kencang menyerupai akan mencapai finis saja. Suara yang terdengar dari verbal Rini semakin tidak karuan, seolah menikmati setiap sesuatu yang kulakukan padanya. Tiba-tiba Rini memelukku sekuat- kuatnya. Goyanganku pun semakin menjadi. Aku pun berteriak sejadinya, terasa ada sesuatu keluar dari kemaluanku. Rini menggigit leherku sekuat-kuatnya, segera kurebut bibirnya dan menggigitnya sekuatnya, Rini menjerit kesakitan sambil bergetar hebat.
Mulutku terasa asin, ternyata bibir Rini berdarah, tapi seolah kami tidak memperdulikannya, kami seolah terikat berpengaruh dan berguling-guling di lantai. Di atas sofa Agus dan isteriku ternyata juga sudah mencapai puncaknya. Kulihat Resty tersenyum puas. Sementara Rini tidak mau melepaskan kemaluanku dari dalam kemaluannya, kedua ujung tumit kakinya masih menekan kedua pantatku. Tidak kusadari seluruh cairan yang keluar dari kemaluanku masuk ke liang milik Rini. Kulihat Rini tidak memperdulikannya.
Perlahan-lahan otot- ototku mengendur, dan alhasil kemaluanku terlepas dari kemaluan Rini. Rini tersenyum puas, walau kelelahan saya pun mencicipi kenikmatan tiada tara. Resty juga tersenyum, hanya nampak malu- malu. Kemudian memunguti pakaiannya dan menuju kamar mandi.
Hingga ketika ini peristiwa itu masih terang dalam ingatanku. Agus dan Rini sekarang sudah pindah dan kembali ke Jakarta. Sesekali kami masih berafiliasi lewat telepon. Mungkin saya tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Pernah suatu waktu Rini berkunjung ke rumah kami, kebetulan saya tidak ada di rumah. Dia hanya ketemu dengan isteriku. Seandainya saja.
End by Cerita Sex Bergambar - Kumpulan Cerita Dewasa, Cerita Mesum, ABG Bugil, Cerita Ngentot Tante, Kisah Janda Hot dan Cerita Seks Terbaru 2017. Sumber http://www.ceritasex2017.com/

0 Komentar