Deasy yang masih berumur 24 tahun tidak menyadari bahayanya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ada di Jakarta. Dengan semangat dan keinginan untuk berdikari membuat dirinya tidak mempedulikan nasehat orang tuanya yang merasa risau melihat putriya sering mendapat giliran jaga dari malam hingga pagi. Deasy lebih memilih bekerja pada shift tersebut, alasannya ialah dari dikala tengah malam hingga pagi, jarang sekali ada pembeli, sehingga Deasy mampu mencar ilmu untuk kuliahnya siang nanti.
“Keluarin uangnya!” perintah si Kribo , sementara si Kriting memutuskan semua kabel video dan telepon yang ada di toko itu. Tangan Deasy gemetar berusaha membuka laci kasir yang ada di depannya, saking takutnya kunci itu hingga terjatuh beberapa kali. Setelah beberapa saat, Deasy berhasil membuka laci itu dan memerikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Kribo , Deasy tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 100 ribu di laci tersebut.
Karena itu setiap kelebihannya pribadi dimasukan ke lemari besi. Setelah si Kribo merampas uang itu, Deasy pribadi mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.
“Masa cuma segini?!” hardik si Kribo .
“Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Deasy masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh berlutut di hadapan lemari besi. Deasy mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.
“Cepat!” hardik si Kriting , Deasy mencicipi pistol menempel di belakang kepalanya. Deasy berusaha untuk menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Deasy yang ketakutan, mereka berdua percaya. “Brengsek! Nggak sebanding sama resikonya! Iket dia, biar beliau nggak mampu manggil polisi!” Deasy di dudukkan di dingklik manajernya dengan tangan diikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Deasy juga diikat ke kaki dingklik yang ia duduki. si Kriting kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke lisan Deasy .
“Beres! Ayo cabut!”
“Tunggu! Tunggu dulu cing! Liat dia, beliau boleh juga ya?!”.
“Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapet 100 ribu, cepetan!”.
“Gue pengen liat bentar aja!”.
Mata Deasy terbelalak ketika si Kribo mendekat dan menarik t-shirt merah muda yang ia kenakan. Dengan satu tarikan keras, t-shirt itu robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Deasy yang berukuran sedang, bergoyang-goyang alasannya ialah Deasy meronta-ronta dalam ikatannya.
“Wow, setuju banget!” si Kribo berseru kagum.
“Oke, sekarang kita pergi!” ajak si Kriting , tidak begitu tertarik pada Deasy alasannya ialah sibuk mengawasi keadaan depan toko.
Tapi si Kribo tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting susu Deasy lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan jarinya ke cuilan payudara Deasy . Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Deasy ditariknya, tubuh Deasy ikut tertarik ke depan, tapi kesannya tali BH Deasy terputus dan sekarang payudara Deasy bergoyang bebas tanpa ditutupi selembar benangpun.
“Jangan!” teriak Deasy . Tapi yang tedengar cuma bunyi gumaman. Terasa oleh Deasy lisan si Kribo menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Deasy menjerit ketika si Kribo mengigit puting susunya.
“Diem! Jangan berisik!” si Kribo menampar Deasy , hingga berkunang-kunang. Deasy hanya mampu menangis.
“Gue bilang diem!”, sembari berkata itu si Kribo menampar buah dada Deasy , hingga sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Deasy . Kemudian si Kribo bergeser dan menampar uang sebelah kanan. Deasy terus menjerit-jerit dengan lisan diplester, sementara si Kribo terus memukuli buah dada Deasy hingga kesannya bulatan buah dada Deasy berwarna merah.
“Ayo, cepetan cing!”, si Kriting menarik tangan si Kribo .
“Kita musti cepet minggat dari sini!” Deasy bersyukur ketika melihat si Kribo diseret keluar ruangan oleh si Kriting . Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Deasy bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Deasy berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak mampu bergerak sama sekali.
“Hey, Rio ! Tokonya kosong!”.
“Masa, cepetan ambil permen!”.
“Goblok lo, ambil bir tolol!”.
Tubuh Deasy menegang, mendengar bunyi beberapa belum dewasa di bab depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu ialah belum dewasa cecunguk yang ada di lingkungan itu. Mereka gres berusia sekitar 12 hingga 15 tahun. Deasy mengeluarkan bunyi minta tolong.
“sstt! Lo denger nggak?!”.
“Cepet kembaliin semua!”.
“Lari, lari! Kita ketauan!”.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Deasy , terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.
“Buset!” cecunguk itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.
“Hei, liat nih! Ada kejutan!”
Deasy berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya gres saja dirampok. Ia berusaha minta tolong biar mereka memanggil polisi. Ia berusaha memohon biar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya bunyi gumanan alasannya ialah mulutnya masih tertutup plester. Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima! Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Deasy , yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.
“Gila! Cewek nih!”.
“Dia telanjang!”.
“Tu liat susunya! susu!”.
“Mana, mana gue pengen liat!”.
“Gue pengen pegang!”.
“Pasti alus tuh!”.
“Bawahnya kayak apa ya?!”.
Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Deasy yang sudah terikat erat. Kelima cecunguk itu maju dan merubung Deasy , tangan-tangan meraih tubuh Deasy . Deasy tidak tahu lagi, milik siapa tanga-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting susunya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang indera pendengaran Deasy .
“Ayo, kita lepasin beliau dari kursi!” Mereka melepaskan ikatan pada kaki Deasy , tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Deasy . Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Deasy keluar menuju bab depan toko. Deasy meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya. Mereka menarik-narik jeans Deasy hingga kesannya turun hingga ke lutut.
Deasy terus meronta-ronta, dan kesannya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai. Sebelum Deasy sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar bunyi lecutan, dan sesaat kemudian Deasy mencicipi sakit yang amat sangat di pantatnya. Deasy melihat salah seorang cecunguk tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan berkemas-kemas mengayunkannya lagi ke pantatnya!
“Bangun! Bangun!” ia berteriak, kemudian mengayunkan lagi ikat pinggangnya. Sebuah garis merah timbul di pantat Deasy . Deasy berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi cecunguk tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Deasy .
“Bangun! naik ke sini!” cecunguk tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Deasy berusaha bangkit tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Deasy berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri. Berandal tadi memperlihatkan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo beliau gerak, pukul aja!”
Langsung saja Deasy mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya. Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Deasy hingga berbaring telentang di atas meja. Pertama ia melepaskan tangan Deasy kemudian pribadi mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Deasy sekarang terikat erat dengan plester hingga ke kaki meja. Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Deasy dan mengikatkan kaki-kaki Deasy ke kaki-kaki meja lainnya.
Sekarang Deasy berbaring telentang, telanjang lingkaran dengan tangan dan kaki terbuka lebar ibarat aksara X.
“Waktu Pesta!” cecunguk tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. gairahsex.com Mata Deasy terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 20 senti. Berandal tadi memegang pinggul Deasy dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang.
“Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke vagina Deasy . Deasy melolong kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara cecunguk tadi mulai bergerak keluar masuk. Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Deasy , membuat Deasy sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di lisan Deasy ditariknya hingga lepas. Deasy berusaha berteriak, tapi mulutnya pribadi dimasuki oleh penis cecunguk yang ada di atasnya. Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di lisan Deasy .
Pandangan Deasy berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit. Semprotan demi semprotan masuk, tanpa mampu dimuntahkan oleh Deasy . Deasy terus menelan cairan tadi biar mampu terus mengambil nafas.
Berandal yang duduk di atas dada Deasy turun ketika kemudian, cecunguk yang sedang meperkosanya di pinggir meja bergerak makin cepat. Ia memukuli perut Deasy , membuat Deasy mengejang dan vaginanya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Deasy sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks. Tangannya meremas dan menarik buah dada Deasy ketika tubuhnya bergetar dan sperma pun menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di vagina Deasy . Sementara itu cecunguk yang lainnya berdiri di samping meja dan melaksanakan masturbasi, ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Deasy .
Deasy tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jikalau ada orang lewat di depan tokonya. Deasy meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Deasy berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi.
“Wah, wah, wah!” terdengar bunyi laki-laki di pintu depan. Deasy terkejut dan berusaha menutupi dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.
“Tolong saya!” ratap Deasy .
“Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa! Tolong saya Pak, panggilkan polisi!”
“Nama lu Deasy kan?” tanya laki-laki tadi.
“Bagaimana bapak tahu nama saya?” Deasy galau dan takut.
“Gue Rio . Orang yang kerjaannya di toko ini lo rebut!”.
“Saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahu dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolong saya pak!”.
“Gara-gara lo ngelamar ke sini gue jadi dipecat! Gue nggak heran lo diterima kalo liat bodi lo”.
Deasy kembali merasa ketakutan melihat Rio , seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Deasy kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Raoy naik pitam. Ia menyambar tangan Deasy dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan hingga mengikat ke bahu, hingga Deasy betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Deasy kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.
“Lepaskan! Sakit! aduuhh! Saya tidak memecat bapak! Kenapa saya diikat?”
“Gue tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya gue udah keduluan. Kaprikornus gue rusak aja deh nih toko”.Cerpen Sex
Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Deasy sehingga sekarang Deasy duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Kemudian diikatnya lagi dengan plester.
Kemudian Rio mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Kemudian Rio mulai menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Deasy . Es krim beterbangan dilempar oleh Rio . Beberapa di antaranya mengenai tubuh Deasy , kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke cuilan pantatnya. Di depan, es tadi mengalir melalui cuilan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke vagina Deasy . Rasa cuek juga menempel di buah dada Deasy , membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Rio selesai, tubuh Deasy bergetar kedinginan dan lengket alasannya ialah es krim yang meleleh.
“Lo keliatan kedinginan!” ejek Rio sambil menyentil puting susu Deasy yang mengeras kaku.
“Gue musti kasih lo sesuatu yang anget.”
Rio kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Deasy melihat Rio mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap. “Jangaann!” Deasy berteriak ketika Rio membuka bibir vaginanya dan memasukan satu sosis ke dalam vaginanya yang terasa cuek alasannya ialah es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga. Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. Vagina Deasy sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Deasy menangis kesakitan kerena panas yang dirasakannya.
“Keliatannya nikmat!” Rio tertawa.
“Tapi gue lebih suka dengan mustard!” Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu. Cairan mustard keluar menyemprot ke vagina Deasy . Deasy menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.
Sambil tertawa Rio melanjutkan usahanya menghancurkan isi toko itu. Deasy berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya tersengal-sengal, ia tidak berpengaruh menahan semua ini. Tubuh Deasy bergerak lunglai jatuh.”
“Hei! Kalo kerja jangan tidur!” hardik Rio sambil menampar pipi Deasy .
“Lo tau nggak, kawasan sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”
Deasy meronta ketakutan melihat Rio memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya keras sekali. Rio mendekatkan satu jepitan ke puting susu kanan Deasy , menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting susu Deasy . Deasy menjerit dan melolong kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting susunya. Kemudian Rio juga menjepit puting susu yang ada di sebelah kiri. Air mata Deasy bercucuran di pipi.
Kemudian Rio mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Rio hingga membuka keluar, Deasy merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.
“Nah, udah jadi. Lo tau kan pintu depan ini mampu buka ke dalem ama keluar, tapi mampu juga disetel cuma mampu dibuka dengan cara ditarik bukan didorong. Kaprikornus gue sekarang pergi dulu, terus nanti gue pasang biar pintu itu cuma mampu dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas beliau dorong pintu kan nggak bisa, pasti beliau coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”
“Jangan! saya mohoon! mohon! jangan! jangan! ampun!”
Rio tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya mampu dibuka dengan ditarik. Deasy menangis ketakutan, puting susunya sudah hampir rata, dijepit. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Deasy berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil. Lama kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Deasy melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta. Gelandangan itu melihat tubuh Deasy , telanjang dengan buah dada mengacung.
Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Kemudian ia meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.
Deasy berusaha menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting susunya. Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting susunya tertarik, merobek puting susunya. Deasy menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan.
Deasy tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir. Sedangkan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting susunya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara cuek saja membuat puting susunya mengacung tegang. Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Deasy mencicipi sepasang tangan berusaha membuka cuilan pantatnya dari belakang. Sesuatu yang cuek dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Deasy menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.
“Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”
“Tapi Mbak, pantat Mbak kan belon.” gelandangan itu berkata tidak jelas.
“Jangan!” Deasy meronta, ketika penis gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya. Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak mampu masuk ke dalam anus Deasy . Lalu ia berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Deasy .
Deasy menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Deasy tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan impian liang anus Deasy mampu membesar.
Setelah beberapa saat, gelandangan tadi mencabut botol tadi. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Deasy , tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus Deasy yang sekarang sudah membesar alasannya ialah dimasuki botol bir. Gelandang tadi mulai bergerak kesenangan, sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Deasy merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju. Deasy terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin, tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Deasy , membuat Deasy menjerit alasannya ialah puting susunya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilin. Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Deasy merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, hingga gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Deasy .
“Makasih ya Mbak! Saya puas sekali! Makasih.” gelandangan tadi melepaskan ikatan Deasy . Kemudian ia mendorong Deasy duduk dan kembali mengikat tangan Deasy ke belakang, kemudian mengikat kaki Deasy erat-erat. Kemudian tubuh Deasy didorongnya ke bawah meja kasir hingga tidak terlihat dari luar.
Sambi terus mengumam terima kasih gelandangan tadi berjalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol bir keluar dari toko. Deasy terus menangis, merintih mencicipi sperma gelandangan tadi mengalir keluar dari anusnya. Lama kemudian Deasy jatuh pingsan kelelahan dan shock. Ia gres tersadar ketika ditemukan oleh rekan kerjanya yang masuk pukul 6 pagi.
Cerita Ngentot Terbaru, Cerita Sex Penuh Nafsu, Cerita Perselingkuhan, Cerita Sex Remaja, Cerita Ngentot Tante, Cerita Sex Tante, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Pemerkosaan Gadis SPG, Cerita Sex Tante, Cerita Sex Dibawah Umur, Cerita Mesum Orang Pacaran.

0 Komentar