Cerita Bokep Ngentot Istri Karyawan – Selamat bertemu sobat dengan blog delapan belas dan kali ini yakni sebuah dongeng panas yaitu dongeng ngentot istri karyawan sendiri mau tau ceritanya gimana baca hingga simpulan dongeng bokep khusus untuk sobat – Hari itu salah seorang eksekutif perusahaan, Pak Freddy, sedang mengadakan resepsi ijab kabul anaknya di sebuah hotel bintang lima di daerah Senayan. Tentu saja akupun diundang, dan malam itu akupun meluncur menuju tempat resepsi diadakan. Aku pergi bersama dengan Jason, temanku waktu kuliah di Amerika dahulu. Sesampainya di hotel tampak para permintaan sebagian besar membawa pasangannya masing-masing. Iri juga melihat mereka ditemani oleh istri dan anak mereka, sedangkan aku, sebab masih bujangan, ditemani oleh si bule ini.
“Selamat malam Pak..” sapa seseorang agak mengagetkanku. Aku menoleh, ternyata Lia sekretarisku yang menyapaku. Dia tiba bersama tunangannya. Tampak sexy dan manis sekali beliau malam itu, disamping juga anggun. Berbeda sekali kalau dibandingkan dikala saya sedang menikmati tubuhnya,.. Liar dan nakal. Dengan gaun malam yang berdada rendah, belahan buah dadanya yang besar tampak menggoda. “Malam Lia” balasku. Mata Jason tak henti-hentinya menatap Lia, dengan pandangan kagum. Lia hanya tersenyum manis saja dilihat dengan penuh nafsu menyerupai itu.
Tampak beliau menjaga tingkah lakunya, sebab tunangannya berada di sampingnya. Kamipun kemudian berbincang-bincang sekedarnya. Lalu akupun permisi hendak menyapa para permintaan lain yang datang, terutama para klienku. “Malam Pak Robert..” seorang perempuan manis tiba-tiba menyapaku. Dia yakni Santi, istri dari Pak Arief, manajer keuangan di kantorku. Mereka gres menikah sekitar tiga bulan yang lalu. “Oh Santi.. Malam” kataku “Pak Arief dimana?” “Sedang ke restroom.. Sendirian aja Pak?” tanyanya. “Sama teman” jawabku sambil memandangi beliau yang malam itu tampak manis dengan gaun malamnya dengan anggun. Belahan gaunnya yang tinggi memamerkan pahanya yang putih menggiurkan. Dadanya walaupun tak sebesar Lia, tampak membusung menantang. “Makanya, cari istri dong Pak.. Biar ada yang nemenin” katanya sambil tersenyum manis.
“Belum ada yang mau nih” “Ahh.. Bapak sanggup saja.. Pasti banyak banget cewek yang mau sama bapak.. Kalau belum married saya juga mau lho..” jawabnya menggoda. Memang Santi ini rasanya punya perasaan tertentu padaku. Tampak dari cara bicaranya dan cara beliau memandangku. “Oh.. Kalau saya sih mau lho sama kau biarpun kau sudah married” kataku sambil menatap wajahnya yang cantik. “Ah.. Pak Robert.. Bisa aja..” jawabnya sambil tersipu malu. “Bener lho mau saya buktiin?” godaku “Janganlah Pak.. Nanti kalau tertangkap berair suamiku sanggup gawat” jawabnya perlahan sambil tersenyum. “Kalau nggak tertangkap berair gimana.. Nggak apa khan?” rayuku lagi. Santi tampak tersipu malu.
Wah.. Aku menerima angin nih.. Memang saya semenjak berkenalan dengan Santi beberapa bulan yang kemudian sudah membayangkan nikmatnya menyetubuhi perempuan ini. Dengan kulit putih, khas orang Bandung, rambut sedikit ikal sebahu, bibir tipis, dan masih muda lagi. Dia gres berumur 24 tahunan. “Gimana nih sesudah kawin.. Enak nggak? Pasti masih hot y. “Godaku lagi. “Biasa aja kok Pak.. Kadang enak.. Kadang nggak.. Tergantung moodnya” jawabnya lirih. Dari jawabannya saya punya dugaan bahwa Pak Arief ini tidak begitu memuaskannya di atas tempat tidur. Mungkin sebab usia Pak Arief yang sudah berumur dibandingkan dengan dirinya yang masih penuh gejolak hasrat seksual perempuan muda. Pasti jarang sekali beliau mengalami orgasme. Uh.. Kasihan sekali pikirku.
Tak usang Pak Ariefpun tiba dari kejauhan. “Wah.. Pak Arief.. Punya istri manis begini kok ditinggal sendiri” kataku menggoda. Santi tampak senang saya puji menyerupai itu. Tampak dari tatapan matanya yang haus akan kehangatan pria tulen menyerupai saya ini. “Iya Pak.. Habis dari belakang nih” jawabnya. Tatapan matanya tampak curiga melihat saya sedang mengobrol dengan istrinya yang jelita itu. Mungkin beliau sudah dengar kabar akan ke- playboyanku di kantor. “Ok saya tinggal dulu ya Pak Arief..
Santi” kataku lagi sambil ngeloyor pergi menuju tempat hidangan. Akupun mengambil hidangan dan menyantapnya nikmat. Maklum perutku sudah keroncongan, terlalu banyak basa- busuk dengan para tamu permintaan tadi. Kulihat si Jason masih ngobrol dengan Lia dan tunangannya. Ketika saya mencari Santi dengan pandanganku, beliau juga sedang mencuri pandang padaku sambil tersenyum. Pak Arief tampak sedang mengobrol dengan tamu yang lain. Memang payah juga bapak yang satu ini, tidak sanggup membahagiakan istrinya. Santi kemudian berjalan mengambil hidangan, dan akupun akal-akalan menambah hidanganku. “San.. Kita terusin ngobrolnya di luar yuk” ajakku berbisik padanya “Nanti saya dicari suami saya gimana Pak..” “Bilang aja kau sakit perut.. Perlu ke toilet.
Aku tunggu di luar ya”. “Kataku sambil menahan nafsu melihat lehernya yang putih jenjang, dan lengannya yang berbulu halus Tak usang Santipun keluar ruangan resepsi menyusulku. Kamipun pergi ke lantai di atas, dan menuju toilet. Aku berencana untuk bermesraan dengan beliau di sana. Kebetulan saya tahu suasananya niscaya sepi. Sebelum hingga di toilet, ada sebuah ruangan kosong, sebuah meeting room, yang terbuka. Wah kebetulan nih, pikirku. Kutarik Santi ke dalam dan kututup pintunya. Tanpa basa-basi lagi, saya cium bibirnya yang indah itu. Santipun membalas bergairah. Tangankupun bergerak merambahi buah dadanya, sedangkan tanganku yang satu mencari kaitan retsleting di belakang tubuhnya.
Kulepas gaunnya sebagian sehingga tampak buah dadanya yang ranum hanya tertutup BH mungil berwarna krem. Kuciumi leher Santi yang jenjang itu, dan kusibakkan cup BHnya kebawah sehingga buah dadanya mencuat keluar. Langsung kujilati dengan rakus buah dada itu, saya hisap dan saya permainkan putingnya yang sudah mengeras dengan lidahku. “Oh.. Pak Robertt..” desah Santi sambil menggeliat. “Enak San..” “Enak Pak.. Terus Pak..” desahnya lirih. Tangankupun meraba pahanya yang mulus, dan hingga pada celana dalamnya. Tampak Santi sudah begitu agresif sehingga celananya sudah lembab oleh cairan kewanitaannya. Santipun kemudian tak sabar dan membuka kancing kemeja batikku. Dicium dan dijilatinya putingku.. Lalu terus ke bawah ke perutku.
Kemudian beliau berlutut dan dibukanya retsleting celanaku, dan tangannya yang lentik berbulu halus itu merogoh ke dalam mengeluarkan kemaluanku dari celana dalamnya. Memang kami sengaja tidak mau telanjang bundar sebab kondisi yang tidak memungkinkan. “Ohh.. Besar sekali Pak Robert.. Santi suka..” katanya sambil mengagumi kemaluanku dari dekat. “Memang punya suamimu seberapa?” tanyaku tersenyum menggoda. “Mungkin cuma separuhnya Pak Robert.. Oh.. Santi suka..” katanya tak melanjutkan lagi jawabannya sebab mulutnya yang mungil itu sudah mengulum kemaluanku.
“Enak Pak?” tanyanya sambil melirik badung kepadaku. Tangannya sibuk meremas-remas buah zakarku sementara lidahnya menjilati batang kemaluanku. “Enak sayang.. Ayo isap lagi” jawabku menahan rasa nikmat yang menjalar hebat. Dikulumnya lagi kemaluanku, sementara kedua tangannya meremas-remas pantatku. Sangat sexy sekali melihat pemandangan itu. Seorang perempuan manis yang sudah bersuami, bertubuh padat, sedang berlutut didepanku dengan pipi yang menggelembung menghisap kemaluanku. Terlebih ketika kemaluanku keluar dari mulutnya, tanpa memakai tangannya dan hanya menggerakkan kepalanya mengikuti gerak kemaluanku, Santi mengulumnya kembali. “Hm.. Kontol bapak yummy banget.. Santi suka kontol yang besar begini” desahnya. Tiba-tiba terdengar suara handphone. Santipun menghentikan isapannya. “Iya Mas.. Ada apa?” jawabnya.
“Lho Mas udah pikun ya.. Khan Santi tadi usah bilang.. Santi mau ke toilet.. Sakit perut.. Gimana sih” Santi berbicara kepada suaminya yang tak sabar menunggu. Sementara tangan Santi yang satu tetap meraba dan mengocok kemaluan atasan suaminya ini. “Iya Mas.. Mungkin salah makan nih.. Sebentar lagi Mas.. Sabar ya..” Kemudian tampak suaminya berbicara agak panjang di telpon, sehingga waktu tersebut dipakai Santi untuk kembali mengulum kemaluanku sementara tangannya masih memegang handphonenya. “Iya Mas.. Santi juga cinta sama Mas..” katanya sambil menutup telponnya.
“Suamiku sudah nunggu. Tapi biarin aja deh beliau nunggu agak lama, soalnya Santi pengin puas dulu”. Sambil tersenyum badung Santi kembali menjilati kemaluanku. Aku sudah ingin menikmati kehangatan tubuh perempuan istri bawahanku ini. Kutarik tangannya biar berdiri, dan akupun tiduran di atas meja meeting di ruangan itu. Tanpa perlu dikomando lagi Santi menaiki tubuhku dan menyibak gaun dan celana dalamnya sehingga vaginanya sempurna berada di atas kemaluanku yang sudah menjulang menahan gairah. Santi kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kemaluankupun menerobos liang vaginanya yang masih sempit itu. “Oh.. My god..” jeritnya tertahan. Kupegang pinggangnya dan kemudian aku
naik-turunkan sehingga kemaluanku maju mundur menjelajahi liang nikmat istri manis Pak Arief ini. Kemudian tanganku bergerak meremas buah dadanya yang bergoyang dikala Santi bergerak naik turun di atas tubuhku. Sesekali kutarik badannya sehingga buah dadanya bergerak ke depan wajahku untuk kemudian saya hisap dengan gemas. “Ohh Pak Robertt.. Bapak memang jantan..” desahnya “Ayo Pak.. Puaskan Santi Pak..” Santi berkata sambil menggoyang-goyangkan badannya maju mundur di atas kemaluanku. Setelah itu beliau kembali menggerakkan badannya naik turun mengejar kepuasan bercinta yang tak didapatkan dari suaminya. Setelah beberapa menit saya turunkan tubuhnya dan saya suruh beliau menungging sambil berpegangan pada tepian meja.
Aku sibakkan gaunnya, dan tampak pantatnya yang putih menggairahkan hanya tertutup oleh celana dalam yang sudah tersibak kesamping. Kuarahkan kemaluanku ke vaginanya, dan eksklusif kugenjot dia, sambil tanganku meremas- remas rambutnya yang ikal itu. “Kamu suka San?” kataku sambil menarik rambutnya ke belakang. “Suka Pak.. Robert.. Suka..” “Suamimu memang nggak sanggup ya” “Dia lemah Pak.. Oh.. God.. Enak Pak.. Ohh” “Ayo bilang.. Kamu lebih suka ngentotin suamimu atau aku” tanyaku sambil mencium wajahnya yang mendongak ke belakang sebab rambutnya saya tarik. “Santi lebih suka dientotin Pak Robert.. Pak Robert jantan.. Suamiku lemah.. Ohh.. God..” jawabnya. “Kamu suka kontol besar ya?” tanyaku lagi “Iya Pak.. Oh.. Terus Pak.. Punya suamiku kecil Pak.. Oh yeah.. Pak Robert besar.. Ohh yeah oh.. God. Suamiku jelek.. Pak Robert ganteng. Oh god. Enakhh..”
Santi mulai meracau kenikmatan. “Oh.. Pak.. Santi hampir hingga Pak.. Ayo Pak puaskan Santi Pak..” jeritnya. “Tentu sayang.. Aku bukan suamimu yang lemah itu..” jawabku sambil terus mengenjot beliau dari belakang. Tangankupun sibuk meremas-remas buah dadanya yang bergoyang menggemaskan. “Ahh.. Santi hingga Pak..” Santi melenguh ketika gelombang orgasme menerpanya. Akupun hampir sampai. Kemaluanku sudah berdenyut-denyut ingin mengeluarkan laharnya. Kutarik tubuh Santi hingga beliau kembali berlutut di depanku. Kukocok-kocok kemaluanku dan tak usang tersemburlah spermaku ke wajahnya yang cantik. Kuoles-oleskan sisa-sisa cairan dari kemaluanku ke seluruh wajahnya. Kemudian Santipun mengulum dan menjilati kemaluanku hingga bersih. “Terimakasih Pak Robert.. Santi puas sekali” katanya dikala beliau membersihkan wajahnya dengan tisu.
“Sama-sama Santi. Saya hanya berniat membantu kok” jawabku sambil bergegas membetulkan pakaianku kembali. “Ngomong-ngomong, kau berilmu sekali blowjob ya? Sering latihan?” tanyaku. “Santi sering lihat di VCD aja Pak. Kalau sama suami sih jarang Santi mau begitu. Habis nggak nafsu sih lihatnya” Wah.. Kasihan juga Pak Arief, pikirku geli. Malah saya yang sanggup menikmati enaknya dioral oleh istrinya yang manis jelita itu. “Kapan kita sanggup melaksanakan lagi Pak” kata Santi mengharap ketika kami keluar ruangan meeting itu. “Gimana kalau ahad depan saya suruh suamimu ke luar kota jadi kita sanggup bebas bersama?” “Hihihi.. Ide bagus tuh Pak..
Janji ya” Santi tampak bangga mendengarnya. Kamipun kembali ke ruangan resepsi. Santi saya suruh turun terlebih dahulu, gres saya menyusul beberapa menit kemudian. Sesampai di ruang resepsi tampak Jason sedang mencari aku. “Hey man.. Where have you been? I’ve been looking for you” “Sorry man.., I had to go to the restroom. I had stomachache” jawabku. Tak usang Santi tiba bersama Pak Arief suaminya. “Pak Robert, kami mau pamit dahulu.. Ini Santi nggak yummy badan.. Sakit perut katanya” “Oh ya Pak Arief, silakan saja. Istri bapak manis harus benar-benar dirawat lho..” Santi tampak tersenyum mendengar perkataanku itu, sementara wajah Pak Arief menunjukkan rasa curiga. He.. He.. Kasihan, pikirku. Mungkin beliau akan stress berat berat bila tahu saya gres saja menyetubuhi istrinya yang manis itu. Tak usang saya dan Jason pun pulang. Sebelum pulang saya berpapasan dengan Lia, sekretarisku.
Aku suruh beliau untuk mendaftarkan Pak Arief untuk pelatihan di Singapore. Memang baru-baru ini saya menerima proposal pelatihan ke Singapore dari salah satu perusahaan. Lebih baik Pak Arief saja yang pergi, pikirku. Toh memang beliau yang mengerjakan pekerjaan itu di kantor, sedangkan saya hanya akan menolong istrinya yang manis mengarungi lautan birahi selama beliau pergi nanti. Tak sabar saya menanti ahad depan datang. Nanti akan saya ceritakan lagi pengalamanku bersama Santi bila saatnya tiba. Dengan tidak adanya batas waktu sebab terburu-buru, tentu saya akan lebih sanggup menikmati dirinya. Tamat

0 Komentar