Cerita Sex: Menikmati Calon Pengantin – Tetangga belakang rumahku mau menikahkan anak gadisnya, namanya santi, umurnya 21 tahun. Karena rumah Pak Julius sempit dan di dalam gang sempit pula, maka Pak Julius meminjam rumahku yang sempurna berada di depan rumahnya untuk dijadikan daerah resepsi, sekaligus kamarku di lantai dua dijadikan kamar pengantin. Sedang rumah Pak Julius sendiri dijadikan dapur untuk memasak. Aku sih tidak keberatan, sebab Pak Julius sudah menyerupai saudara buatku, lagian saya pikir menolong orang akan mendatangkan rejeki. Eh ternyata benar saya sanggup rejeki nomplok.
Tiga hari sebelum pernikahan, rumahku sudah ditata, kamar pengantin juga sudah dipersiapkan. Dan Santi juga sudah diluluri sekujur tubuhnya, biar higienis dan harum. Wajah santi imut, tubuhnya padat berisi alias montok, toketnya seh tidak terlalu gedhe tapi kencang. Anaknya juga manja, maklum anak terakhir. Sebenarnya ijab kabul itu bukan maunya Santi, ia dipaksa sama orang tuanya untuk nikah sama Pak Jeremy yang umurnya sudah 45 tahun. Karena Pak Julius punya utang sama Jeremy, karenanya disepakati hutang pak Julius dihapus dan sebagai gantinya pak Jeremy kawin sama Santi.
Sehari sebelum ijab kabul suasana rumahku dan rumah pak Julius makin sibuk, saudara pak Julius dan para tetangga sudah berdatangan, membantu memasak dan mempersiapkan keperluan perkawinan. Santi sendiri sudah mulai tidur di kamar pengantin. Sore itu saya diminta sama Pak Julius untuk menasehati Santi, biar ia mau dinikahkan sama Jeremy, pak Julius khawatir Santi akan bertindak nekat.
Aku sanggupi saja usul itu, toh Santi sama saya sudah sangat akrab, ia menganggap saya pamannya sendiri. Tapi sebab kesibukan, usul pak Julius itu gres sanggup saya lakukan malam hari, sekitar jam 9 malam. Suasana rumahku sudah sepi, hanya rumah pak Julius yang masih terdengar ada kesibukan. Aku ajak istritku menemui Santi di kamar pengantin, tapi istriku menolak dengan alasan capek dan mau tidur.
Akhirnya saya naik sendiri ke lantai dua, ke kamar pengantin. Dari bawah saya dengar kecipak bunyi air, mungkin Santi lagi mandi, pikirku. Aku ketuk pintunya, tak usang kemudian Santi membukakan pintu kamar dengan berlilitkan handuk. Mataku melotot menyerupai mau copot melihat tubuh Santi yang masih agak basah, kulitnya yang kuning langsat semakin berkilat. Kupandangi Santi sejenak, melihat leher dan belahan dadanya yang sedikit menyembul, terus pandanganku turun memerhatikan pahanya yg licin mulus. Kontiku yang masih tersimpan dicelana tiba-tiba bergerak, semakin usang kupandang paha Santi, semakin tegak kontiku. Pikiran ngeres segera muncul, yummy kali ******* tubuh anak gadis yang masih ranum ini.
“Ehhh om Bernard, masuk om, maaf Santi gres selesai bilas abis luluran,” katanya.
Lamunanku buyar mendengar bunyi Santi. Dengan sedikit jaim saya masuk sambil mengunci pintu kamar, takut ada orang lain yang menguping pembicaraaan. Aku duduk di dingklik kecil dekat ranjang pengantin. Santi duduk di tepi ranjang, masih hanya dengan memakai handuk yang terlilit di tubuhnya.
“Ada apa om, kok tiba-tiba kemari?” tanyanya polos. Tidak ada nada keberatan dalam omongannya itu.
Aku jelaskan aja maksud kedatanganku, kalo saya disuruh sama bapaknya untuk menasehati ia supaya mau menikah dengan Jeremy. Aku bilang sebagai anak ia harus sanggup membalas kecerdikan baik orang tuanya.
Setelah kusampaikan semua nasehat yang sanggup saya sampaikan, Santi hanya membisu saja dengan muka menunduk. Kulihat ia mulai menangis. Dengan maksud menenangkan hatinya, saya pindah daerah dudukku di tepi ranjang, di samping Santi. Aku rangkul dia, dan saya bilang, “Jangan duka begitu, terima saja, toh ini semua sudah digariskan sama yang di Atas,” kataku menghibur.
“Santi tidak mau om, Santi ga mau nikah sama orang bau tanah yang sudah punya anak itu,” katanya terisak-isak. Aku rengkuh tubuh Santi supaya merapat ke tubuhku. Kupeluk ia lebih rapat, kepalanya melekat di dadaku. Kucium anyir harum lulur dan shampo. Kontiku yang tadi sudah tidur berdiri lagi.
“Om, Santi ga mau menyerahkan tubuh Santi yang masih perawan ini ke lelaki bau tanah lintah darat itu om, tolong Santi om,” katanya menghiba.
“Apa yang sanggup om lakukan, Santi?” tanyaku tidak mengerti maksudnya.
Tiba-tiba kepala Santi menengadah, dan bibirnya mengecup bibirku. Aku tidak berreaksi. Akal sehatku masih sanggup berjalan, saya tidak mau ada skandal di malam perkawinan. Tapi Santi sudah semakin nekat. Kecupan bibirnya di bibirku kini semakin liar, ia lumat bibirku dan tanngannya melepas handuk yang melilit tubuhnya. Kemudian tangan yang satu ia letakkan di kepalaku, membuatku tidak sanggup lepas dari ciuman panasnya. Mendapat serangan mendadak menyerupai itu, pertahanan logika sehatku mulai goyah. Kubalas juga ciumannya. Kami saling pagut, saling menghisap pengecap dan minum air ludah masing-masing. Kurasakan ludah Santi bercampur pasta gigi. Aku sudah ga sanggup lagi mengontrol logika sehat, pribadi tanganku bergerilya meremasi dua bukit kembarnya yang kencang, padat dan berisi, pentilnya sudah tegak, tanda ia sudah horny. Santi mendesah kenikmatan dikala jariku bermain di dua bukit kembarnya, dan memilin-milin putingnya.
“akhhhhhhhh ooommmm bantu Sannnntttiii iooooooommm” desahnya.
Mendengar desahan itu nafsuku pribadi on, saya ga peduli lagi pada amanat pak Julius atau kesetiaan istriku. Kepalaku pribadi nyosor ke payudaranya yang tegak menantang. Kuisep-isep bergantian payu dara yang semok itu, kugigit-gigit lembut putingnya yang sudah mengeras. Desahan Santi makin menggelora mencicipi permainan mulutku. Tangannya kini sibuk memereteli bajuku, kemudian dilepasnya celanaku, reflek saya berdiri supaya ia gampang melepas seluruh celanaku. Pertama celana pendekkku dilepasnya, kemudian celana dalamku. Kami sudah bugil tanpa sehelai benang melekat di tubuh. Kontolku yang sudah tegang dielus lembut oleh Santi. Tapi elusan itu sering bermetamorfosis tekanan dikala Santi mencicipi geli-geli nikmat waktu pentilnya saya isep dengan mulutku.
Kurebahkan Santi di daerah tidur, pantatnya sempurna di pinggir ranjang, kutekuk kakinya ke atas, dan terpampang jembut yang rapi sebab habis dicukur dan tempik yang masih rapat tapi sudah basah. Aku pribadi jongkok, kepalaku sempurna di muka memeknya. Aku cium anyir lendir khas perempuan. Kumainkan memeknya dengan jari-jariku, kupilin klitorisnya. Santi makin menggila, desahannya bermetamorfosis erangan….”Ohhhhh ommmmm saya mau dientottt saaamma ommmm ga mau dientot ama orang bau tanah jelekkkk itu….. puasin sanntiii ooooommmmm.”
Aku jilati memeknya yang harum itu, lidahku naik turun di sepanjang memeknya. Sesekali lidahku menusuk ke dalam memeknya. Sesekali saya isap clitnya. Terus berganti-ganti saya nikmati memek Santi yang perawan itu. Kujilat-jilat lagi clitnya, sedang jari telunjukku memainkan memek penggalan bawah. Santi semakin kelenjotan, tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan tak beraturan. Kutusukkan lidahku ke dalam memeknya, kuisap lendir kewanitaannya yang segar sruuuuuppppppp. Dan Santi memekik tertahan, “oooooooommmmmmmm Sannnnnntttttttttttttttttti keeeeeeeeeeeluuuuarrr,” dan pahanya menekan kepalaku, satu kakinya menekan kepalaku biar tidak lepas dari memeknya. Kubiarkan lidahku tetap di dalam memeknya hingga orgasme Santi selesai. Sambil kujilat habis cairan memek Santi.
Setelah jepitan paha dan dorongan telapak kakinya mengendur, saya mulai sanggup bernafas lega. Aku berdiri dan merebahkan tubuhku di samping Santi. “ouhhhh yummy sekali ommmm, makasih ya….” kata Santi sambil mencium keningku. Saat itu saya merasa bersyukur sebab sanggup memuaskan Santi tanpa harus membobol keperawanannya. Tapi rupanya Santi belum puas. Dia balikkan tubuhnya, dan kini tubuhnya menindih tubuhku. Santi maunya ****** om masuk ke memek Santi, Santi mau pejuh om di memek Santi.” Katanya sambil menciumi dadaku.
Aku kaget mendengar kata-kata jorok yang keluar dari lisan Santi, dan saya tak habis pikir kenapa Santi senekat itu. Tanpa mempedulikan keherananku, ciuman Santi terus melorot hingga ke kontolku yang masih tegang. Precum yang ada diujung ****** diusap pakai lidahnya. Ada rasa geli dikontolku. Dan menyerupai anak kecil yang dikasih permen, Santi pribadi mengemut kontolku. Dimasukkannya kontolku ke dalam mulutnya, kemudian dikeluarkan lagi, dimasukan lagi begitu seterusnya. Tangannya meremas-remas lembut biji kontolku. Oughhhhhhh luar biasa. Aku tidak tau darimana Santi berguru nyepong seenak itu. Aku Cuma sanggup merem melek keenakan, dan tanganku menjambak rambutnya.
Karena sudah ga tahan, saya tarik Santi ke atas, dan kubalik tubuhnya, ia kini menengadah, dan tubuhku menindih tubuhnya yang ramping itu. Tangan Santi menuntun kontolku masuk dalam liang kenikmatannya. Karena masih perawan, memek Santi sangat sempit, dan kontolku yang tidak mengecewakan besar sulit masuk. Saat itu logika sehatku bekerja. Aku akan berikan lagi kenikmatan pada Santi, tanpa harus menjebol keperawannya. Pelan-pelan kumasukkan kontolku, hingga kepalanya sanggup masuk, kemudian kutarik keluar, kumasukkan lagi, kukeluarkan lagi, inci demi inci kontolku masuk.
Dan kurasakan betul sentuhan kulit-kulit sensitif itu. Waktu kepala kontolku mencicipi ada benda tumpul yang menahan, segera kuhentikan sodokan kontolku. Aku tahu benda itu selaput dara, saya tidak mau mengoyaknya. Irama permainan mulai berubah cepat. Santi yang gres pertama kali mencicipi senggama menggelinjang-gelinjang menyerupai kuda binal. Kupompakan kontolku maju mundur ke dalam memeknya, meski tetap menahan diri supaya tidak menerobos keperawanannya. Hanya penggalan pangkal kontolku yang sanggup keluar masuk ke memek Santi. Itupun sudah mengalirkan kenikmatan yang luar biasa buatku. Dan santi tampaknya juga menikmati permainan itu.
“Akkkkkhhhhh ommmmmmm trrrrruuuuuussss ommmm ennnnnaaaakkkk….. enttttttootttt aaakk ooomm, puuuuaaassssinnn aaaaakkkku ssssaaayyyyyaaaaanggg” Santi terus mendesah dan tubuhnya menggelinjang ga karuan. Desahan Santi menyerupai minyak yang menyulut api nafsuku. Kugenjot santi dengan kecepatan tingggi. Akhhhhh oughhhhhh ssshhhhh Cuma itu yang keluar dari mulutku. “oooooooooooommmmmmmmmmm ssssaaannnnttttttiiiiiiiiiiiiii nggggeeeeccccoooooottttt” kata Santi. Tubuhnya bergetar hebat, tanda ia mengalami orgasme yang ketiga kalinya. Dan jepitan dikontolku makin kuat, ditambah omongan jorok Santi, serta gelinjang tubuhnya, menciptakan saya ga berpengaruh lagi menahan dorongan air mani. “santttttiiiiiii aaakuuuuu mau kellllllluuuuuuarrrrrrrrr.”
Langsung kucabut kontolku dari memeknya, dan kusemprotkan pejuhku di dada Santi. Crrrrrrooooottttt crooooottt crottt. Lima kali pejuhku menyemprot di tubuh Santi, itung-itung sebagai embel-embel lulur di tubuh pengantin. Setelah keluar semua pejuhku badanku rebah di samping Santi. “oughhhh yummy banget memek kau Santi, makasih ya….” kataku, sambil menatap langit-langit kamar.
Sesaat kemudian terdengar isak tangis Santi. Deggg jantungku deg-degan. Mungkin Santi menyesal sudah bersetubuh denganku. Akal sehat dan rasa berdosa mengganggu pikiranku. “Kenapa kok kau menangis Santi?” tanyaku.
“Om jahat….. om ga mau membantu Santi,” katanya sambil menangis. Aku makin bingung, apa maunya anak ini.
“Lho bukannya tadi sudah saya bantu, kau juga sudah empat kali orgasme?” tanyaku.
“Iya… tapi om nggak mau menjebol keperawananku. Kata orang kalo keperawanan dijebol itu sakit, tapi tadi Santi ga ngerasa sakit, artinya Santi masih perawan.”
“Iya, kau masih perawan, om pikir biarlah suamimu yang menjebol keperawananmu, bukan aku.” Kataku menghibur.
“Nggak mau, saya mau om yang menjebol keperawananku. Aku mau pejuh om di memek Santi. Aku mau kasih si bau tanah buruk itu sisa-sia aja. Om ga tau kalo dari dulu Santi tertarik ama om, Santi cinta ama om…..” tangisnya makin tersedu-sedu.
Mendengar pengakuannya itu saya jadi makin bingung. Aku ga tau harus bagaimana. Akhirnya saya berpikir lebih baik menuruti kemauannya, daripada ia besok menolak dikawinkan sama Jeremy. “Okelah Santi, om kabulkan kemauan Santi, tapi kau akad besok kau mau nikah sama Jeremy,” kataku. Santi mengangguk.
Aku ajak Santi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar, kubersihkan tubuh dan memeknya, kubersihkan juga kontolku. Setelah higienis kutuntun ia ke ranjang pengantin. Di situ kami kembali saling berpagut. Bahkan kini ciuman Santi lebih liar dari sebelumnya. Aku juga ga mau ketinggalan, saya lepaskan semua beban pikiran yang menghambat nafsuku. Aku pengen ******* Santi hingga saya puas. Pikiranku sudah benar-benar dikuasai nafsu.
Ciumanku turun ke payudaranya yang sudah mengeras lagi, dan tanganku menari-nari di paha Santi yang licin dan bening. Lalu ciumanku bergeser ke perut, kujilati tali pusarnya. Santi menggelinjang, geli dan nikmat. Setelah pengecap puas menari-nari di pusar, lidahku menyusur ke bawah, menjilati dan menciumi pahanya. Lalu mulai menyerang memeknya, tanganku ganti ke atas, meremas-remas payudara yang montok. Kontolku semakin tegang mendengar lenguhan Santi. “Ommmm entot santi om, puasin santi malam ini…”
“Iya sayang, malam ini kau punya om…..”
Permainan lidahku di memek santi lebih berani. Lidahku berani menusuk lebih dalam memek santi. Kugigit-gigit pelan clit Santi. Dan dari lisan santi Cuma terdengar lenguhan. “oooooughhhhhhh ssshhhhhhhh aaaaakhhhhhh aaakhhhhhhhh” Kurasakan memek Santi makin banjir lendir, menciptakan saya semakin garang menyedot semua cairan lendirnya. Dan kurang dari lima menit tubuh Santi kembali menegang, pahanya kembali menjepit kepalaku, dari mulutnya terdengar desahan. “aaaakkkkhhhhhhh aakkkkkkkuuuuuuu kkkkkkkeeeelrrruuuuaarrr.” Lendir semakin banjir di memeknya dan kusedot semua hingga habis. Lendir perawan memang yummy dan sedap.
“ayo oooommmm entot santiiii.” Katanya.
Lalu saya berdiri dan kuarahkan kontolku ke memeknya. Kumasukkan pelan-pelan kontolku ke memeknya yang sempit. Masih butuh usaha biar kepala kontolku sanggup masuk ke memeknya. Dengan beberapa kali maju mundur karenanya kepala kontolku berhasil menerobos memeknya. Tubuhku kurebahkan menindih Santi, kucium bibirnya dengan penuh nafsu. Lalu saya berbisik, “Kalo kau kesakitan bilang aja, nanti om tahan.” Santi Cuma mengangguk. Pantatku mulai maju mundur mendorong kontolku mmenerobos pertahanan anak perawan yang besok pagi mau dinikahkan itu. Pelan-pelan kumaju-mundurkan kontolku. Inci demi inci kontolku masuk ke memeknya. Sampai saya merasa selaput dara menahan laju kontolku.
Dan kini saya tak ambil pusing lagi, dengan pelan-pelan kutekan kontolku biar sanggup menerobos keperawanan Santi. Dan kulihat mata Santi terbelalak menahan sakit. Biar ia ga berteriak, kulumat bibirnya dengan rakus. Pantatku masih terus bekerja maju mundur berusaha menjebol gawang Santi. Dan tangan Santi memegang pinggangku menyerupai ingin menahan. Aku tahu ia menahan sakit, tapi sudah terlanjur. Selaput dara Santi sudah mulai robek, kontolku sudah mulai sanggup masuk tanpa halangan lagi. Semakin cepat kupompa kontolku ke delam memeknya, biar Santi ga terlalu usang mencicipi sakit. Beberapa dikala kemudian rasa sakit sudah hilang digantikan rasa nikmat. Santi kembali meracau keenakan.
“ommmm trruuuusssssss yakhhhhhhh…. eeeennnnnnnaaaakkkkk ommmmmmmmmmmmm”
“Ouuuughhhhhhh yeaaahhhhhhh ommmm jugaaa ennnnakkkkk, memekmu peret banggggeeettt”
Semakin cepat sodokan kontolku dimemek Santi, semakin rasa desahannya.
“Akhhhhsssshh ommmmm Santi mooo kellurrraarrrr”
“Sammmma ommmmm jjjuggga. Keluarin dimana??”
“Di dalem ajahhhh ooommmmm”
Semakin kupercepat sodokanku, dan Santi mengimbangi dengan memaju mundurkan pantatnya. Sampai kemudian kami bersamaan ngecrot. “Ommmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm”.
“Akkkkkkkkkkkkkkkkhhhhhssss Saaaannnnnnnnnnnnnnn”
Croooooooot crooorrrr croooooorrrr. 8 kali pejuhku nyemprot di memek Santi. Dan tampaknya Santi juga banyak keluar lendirnya..
Kulirik jam dinding sudah jam 2 malam. Segera kucabut kontolku dari memek Santi. Dan kukecum keningnya. Santi terpejam sebentar dan mengucapkan terima kasih. “Santi puasssssss banget ******* sama om, om hebat. Santi juga puas ngerjain si bau tanah bangka itu. Kapan-kapan ******* lagi ya om.” Kujawab dalam hati, siapa yang nolak diajak ******* sama gadis seliar Santi?
Dan esoknya, di pelaminan kulihat Santi duduk sambil senyum-senyum memandangku. Senyum kemenangan dan kepuasan. Sedang Jeremy yang sudah penuh uban itu, duduk dengan jaim. Kadang muncul rasa kasihan dalam diriku pada Jeremy, sebab keperawanan istri diberikan padaku. Aku yang mendahului malam pertamanya. Tapi apa boleh buat, Santi yang menentukan.
Sehari sebelum ijab kabul suasana rumahku dan rumah pak Julius makin sibuk, saudara pak Julius dan para tetangga sudah berdatangan, membantu memasak dan mempersiapkan keperluan perkawinan. Santi sendiri sudah mulai tidur di kamar pengantin. Sore itu saya diminta sama Pak Julius untuk menasehati Santi, biar ia mau dinikahkan sama Jeremy, pak Julius khawatir Santi akan bertindak nekat.
Aku sanggupi saja usul itu, toh Santi sama saya sudah sangat akrab, ia menganggap saya pamannya sendiri. Tapi sebab kesibukan, usul pak Julius itu gres sanggup saya lakukan malam hari, sekitar jam 9 malam. Suasana rumahku sudah sepi, hanya rumah pak Julius yang masih terdengar ada kesibukan. Aku ajak istritku menemui Santi di kamar pengantin, tapi istriku menolak dengan alasan capek dan mau tidur.
Akhirnya saya naik sendiri ke lantai dua, ke kamar pengantin. Dari bawah saya dengar kecipak bunyi air, mungkin Santi lagi mandi, pikirku. Aku ketuk pintunya, tak usang kemudian Santi membukakan pintu kamar dengan berlilitkan handuk. Mataku melotot menyerupai mau copot melihat tubuh Santi yang masih agak basah, kulitnya yang kuning langsat semakin berkilat. Kupandangi Santi sejenak, melihat leher dan belahan dadanya yang sedikit menyembul, terus pandanganku turun memerhatikan pahanya yg licin mulus. Kontiku yang masih tersimpan dicelana tiba-tiba bergerak, semakin usang kupandang paha Santi, semakin tegak kontiku. Pikiran ngeres segera muncul, yummy kali ******* tubuh anak gadis yang masih ranum ini.
“Ehhh om Bernard, masuk om, maaf Santi gres selesai bilas abis luluran,” katanya.
Lamunanku buyar mendengar bunyi Santi. Dengan sedikit jaim saya masuk sambil mengunci pintu kamar, takut ada orang lain yang menguping pembicaraaan. Aku duduk di dingklik kecil dekat ranjang pengantin. Santi duduk di tepi ranjang, masih hanya dengan memakai handuk yang terlilit di tubuhnya.
“Ada apa om, kok tiba-tiba kemari?” tanyanya polos. Tidak ada nada keberatan dalam omongannya itu.
Aku jelaskan aja maksud kedatanganku, kalo saya disuruh sama bapaknya untuk menasehati ia supaya mau menikah dengan Jeremy. Aku bilang sebagai anak ia harus sanggup membalas kecerdikan baik orang tuanya.
Setelah kusampaikan semua nasehat yang sanggup saya sampaikan, Santi hanya membisu saja dengan muka menunduk. Kulihat ia mulai menangis. Dengan maksud menenangkan hatinya, saya pindah daerah dudukku di tepi ranjang, di samping Santi. Aku rangkul dia, dan saya bilang, “Jangan duka begitu, terima saja, toh ini semua sudah digariskan sama yang di Atas,” kataku menghibur.
“Santi tidak mau om, Santi ga mau nikah sama orang bau tanah yang sudah punya anak itu,” katanya terisak-isak. Aku rengkuh tubuh Santi supaya merapat ke tubuhku. Kupeluk ia lebih rapat, kepalanya melekat di dadaku. Kucium anyir harum lulur dan shampo. Kontiku yang tadi sudah tidur berdiri lagi.
“Om, Santi ga mau menyerahkan tubuh Santi yang masih perawan ini ke lelaki bau tanah lintah darat itu om, tolong Santi om,” katanya menghiba.
“Apa yang sanggup om lakukan, Santi?” tanyaku tidak mengerti maksudnya.
Tiba-tiba kepala Santi menengadah, dan bibirnya mengecup bibirku. Aku tidak berreaksi. Akal sehatku masih sanggup berjalan, saya tidak mau ada skandal di malam perkawinan. Tapi Santi sudah semakin nekat. Kecupan bibirnya di bibirku kini semakin liar, ia lumat bibirku dan tanngannya melepas handuk yang melilit tubuhnya. Kemudian tangan yang satu ia letakkan di kepalaku, membuatku tidak sanggup lepas dari ciuman panasnya. Mendapat serangan mendadak menyerupai itu, pertahanan logika sehatku mulai goyah. Kubalas juga ciumannya. Kami saling pagut, saling menghisap pengecap dan minum air ludah masing-masing. Kurasakan ludah Santi bercampur pasta gigi. Aku sudah ga sanggup lagi mengontrol logika sehat, pribadi tanganku bergerilya meremasi dua bukit kembarnya yang kencang, padat dan berisi, pentilnya sudah tegak, tanda ia sudah horny. Santi mendesah kenikmatan dikala jariku bermain di dua bukit kembarnya, dan memilin-milin putingnya.
“akhhhhhhhh ooommmm bantu Sannnntttiii iooooooommm” desahnya.
Mendengar desahan itu nafsuku pribadi on, saya ga peduli lagi pada amanat pak Julius atau kesetiaan istriku. Kepalaku pribadi nyosor ke payudaranya yang tegak menantang. Kuisep-isep bergantian payu dara yang semok itu, kugigit-gigit lembut putingnya yang sudah mengeras. Desahan Santi makin menggelora mencicipi permainan mulutku. Tangannya kini sibuk memereteli bajuku, kemudian dilepasnya celanaku, reflek saya berdiri supaya ia gampang melepas seluruh celanaku. Pertama celana pendekkku dilepasnya, kemudian celana dalamku. Kami sudah bugil tanpa sehelai benang melekat di tubuh. Kontolku yang sudah tegang dielus lembut oleh Santi. Tapi elusan itu sering bermetamorfosis tekanan dikala Santi mencicipi geli-geli nikmat waktu pentilnya saya isep dengan mulutku.
Kurebahkan Santi di daerah tidur, pantatnya sempurna di pinggir ranjang, kutekuk kakinya ke atas, dan terpampang jembut yang rapi sebab habis dicukur dan tempik yang masih rapat tapi sudah basah. Aku pribadi jongkok, kepalaku sempurna di muka memeknya. Aku cium anyir lendir khas perempuan. Kumainkan memeknya dengan jari-jariku, kupilin klitorisnya. Santi makin menggila, desahannya bermetamorfosis erangan….”Ohhhhh ommmmm saya mau dientottt saaamma ommmm ga mau dientot ama orang bau tanah jelekkkk itu….. puasin sanntiii ooooommmmm.”
Aku jilati memeknya yang harum itu, lidahku naik turun di sepanjang memeknya. Sesekali lidahku menusuk ke dalam memeknya. Sesekali saya isap clitnya. Terus berganti-ganti saya nikmati memek Santi yang perawan itu. Kujilat-jilat lagi clitnya, sedang jari telunjukku memainkan memek penggalan bawah. Santi semakin kelenjotan, tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan tak beraturan. Kutusukkan lidahku ke dalam memeknya, kuisap lendir kewanitaannya yang segar sruuuuuppppppp. Dan Santi memekik tertahan, “oooooooommmmmmmm Sannnnnntttttttttttttttttti keeeeeeeeeeeluuuuarrr,” dan pahanya menekan kepalaku, satu kakinya menekan kepalaku biar tidak lepas dari memeknya. Kubiarkan lidahku tetap di dalam memeknya hingga orgasme Santi selesai. Sambil kujilat habis cairan memek Santi.
Setelah jepitan paha dan dorongan telapak kakinya mengendur, saya mulai sanggup bernafas lega. Aku berdiri dan merebahkan tubuhku di samping Santi. “ouhhhh yummy sekali ommmm, makasih ya….” kata Santi sambil mencium keningku. Saat itu saya merasa bersyukur sebab sanggup memuaskan Santi tanpa harus membobol keperawanannya. Tapi rupanya Santi belum puas. Dia balikkan tubuhnya, dan kini tubuhnya menindih tubuhku. Santi maunya ****** om masuk ke memek Santi, Santi mau pejuh om di memek Santi.” Katanya sambil menciumi dadaku.
Aku kaget mendengar kata-kata jorok yang keluar dari lisan Santi, dan saya tak habis pikir kenapa Santi senekat itu. Tanpa mempedulikan keherananku, ciuman Santi terus melorot hingga ke kontolku yang masih tegang. Precum yang ada diujung ****** diusap pakai lidahnya. Ada rasa geli dikontolku. Dan menyerupai anak kecil yang dikasih permen, Santi pribadi mengemut kontolku. Dimasukkannya kontolku ke dalam mulutnya, kemudian dikeluarkan lagi, dimasukan lagi begitu seterusnya. Tangannya meremas-remas lembut biji kontolku. Oughhhhhhh luar biasa. Aku tidak tau darimana Santi berguru nyepong seenak itu. Aku Cuma sanggup merem melek keenakan, dan tanganku menjambak rambutnya.
Karena sudah ga tahan, saya tarik Santi ke atas, dan kubalik tubuhnya, ia kini menengadah, dan tubuhku menindih tubuhnya yang ramping itu. Tangan Santi menuntun kontolku masuk dalam liang kenikmatannya. Karena masih perawan, memek Santi sangat sempit, dan kontolku yang tidak mengecewakan besar sulit masuk. Saat itu logika sehatku bekerja. Aku akan berikan lagi kenikmatan pada Santi, tanpa harus menjebol keperawannya. Pelan-pelan kumasukkan kontolku, hingga kepalanya sanggup masuk, kemudian kutarik keluar, kumasukkan lagi, kukeluarkan lagi, inci demi inci kontolku masuk.
Dan kurasakan betul sentuhan kulit-kulit sensitif itu. Waktu kepala kontolku mencicipi ada benda tumpul yang menahan, segera kuhentikan sodokan kontolku. Aku tahu benda itu selaput dara, saya tidak mau mengoyaknya. Irama permainan mulai berubah cepat. Santi yang gres pertama kali mencicipi senggama menggelinjang-gelinjang menyerupai kuda binal. Kupompakan kontolku maju mundur ke dalam memeknya, meski tetap menahan diri supaya tidak menerobos keperawanannya. Hanya penggalan pangkal kontolku yang sanggup keluar masuk ke memek Santi. Itupun sudah mengalirkan kenikmatan yang luar biasa buatku. Dan santi tampaknya juga menikmati permainan itu.
“Akkkkkhhhhh ommmmmmm trrrrruuuuuussss ommmm ennnnnaaaakkkk….. enttttttootttt aaakk ooomm, puuuuaaassssinnn aaaaakkkku ssssaaayyyyyaaaaanggg” Santi terus mendesah dan tubuhnya menggelinjang ga karuan. Desahan Santi menyerupai minyak yang menyulut api nafsuku. Kugenjot santi dengan kecepatan tingggi. Akhhhhh oughhhhhh ssshhhhh Cuma itu yang keluar dari mulutku. “oooooooooooommmmmmmmmmm ssssaaannnnttttttiiiiiiiiiiiiii nggggeeeeccccoooooottttt” kata Santi. Tubuhnya bergetar hebat, tanda ia mengalami orgasme yang ketiga kalinya. Dan jepitan dikontolku makin kuat, ditambah omongan jorok Santi, serta gelinjang tubuhnya, menciptakan saya ga berpengaruh lagi menahan dorongan air mani. “santttttiiiiiii aaakuuuuu mau kellllllluuuuuuarrrrrrrrr.”
Langsung kucabut kontolku dari memeknya, dan kusemprotkan pejuhku di dada Santi. Crrrrrrooooottttt crooooottt crottt. Lima kali pejuhku menyemprot di tubuh Santi, itung-itung sebagai embel-embel lulur di tubuh pengantin. Setelah keluar semua pejuhku badanku rebah di samping Santi. “oughhhh yummy banget memek kau Santi, makasih ya….” kataku, sambil menatap langit-langit kamar.
Sesaat kemudian terdengar isak tangis Santi. Deggg jantungku deg-degan. Mungkin Santi menyesal sudah bersetubuh denganku. Akal sehat dan rasa berdosa mengganggu pikiranku. “Kenapa kok kau menangis Santi?” tanyaku.
“Om jahat….. om ga mau membantu Santi,” katanya sambil menangis. Aku makin bingung, apa maunya anak ini.
“Lho bukannya tadi sudah saya bantu, kau juga sudah empat kali orgasme?” tanyaku.
“Iya… tapi om nggak mau menjebol keperawananku. Kata orang kalo keperawanan dijebol itu sakit, tapi tadi Santi ga ngerasa sakit, artinya Santi masih perawan.”
“Iya, kau masih perawan, om pikir biarlah suamimu yang menjebol keperawananmu, bukan aku.” Kataku menghibur.
“Nggak mau, saya mau om yang menjebol keperawananku. Aku mau pejuh om di memek Santi. Aku mau kasih si bau tanah buruk itu sisa-sia aja. Om ga tau kalo dari dulu Santi tertarik ama om, Santi cinta ama om…..” tangisnya makin tersedu-sedu.
Mendengar pengakuannya itu saya jadi makin bingung. Aku ga tau harus bagaimana. Akhirnya saya berpikir lebih baik menuruti kemauannya, daripada ia besok menolak dikawinkan sama Jeremy. “Okelah Santi, om kabulkan kemauan Santi, tapi kau akad besok kau mau nikah sama Jeremy,” kataku. Santi mengangguk.
Aku ajak Santi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar, kubersihkan tubuh dan memeknya, kubersihkan juga kontolku. Setelah higienis kutuntun ia ke ranjang pengantin. Di situ kami kembali saling berpagut. Bahkan kini ciuman Santi lebih liar dari sebelumnya. Aku juga ga mau ketinggalan, saya lepaskan semua beban pikiran yang menghambat nafsuku. Aku pengen ******* Santi hingga saya puas. Pikiranku sudah benar-benar dikuasai nafsu.
Ciumanku turun ke payudaranya yang sudah mengeras lagi, dan tanganku menari-nari di paha Santi yang licin dan bening. Lalu ciumanku bergeser ke perut, kujilati tali pusarnya. Santi menggelinjang, geli dan nikmat. Setelah pengecap puas menari-nari di pusar, lidahku menyusur ke bawah, menjilati dan menciumi pahanya. Lalu mulai menyerang memeknya, tanganku ganti ke atas, meremas-remas payudara yang montok. Kontolku semakin tegang mendengar lenguhan Santi. “Ommmm entot santi om, puasin santi malam ini…”
“Iya sayang, malam ini kau punya om…..”
Permainan lidahku di memek santi lebih berani. Lidahku berani menusuk lebih dalam memek santi. Kugigit-gigit pelan clit Santi. Dan dari lisan santi Cuma terdengar lenguhan. “oooooughhhhhhh ssshhhhhhhh aaaaakhhhhhh aaakhhhhhhhh” Kurasakan memek Santi makin banjir lendir, menciptakan saya semakin garang menyedot semua cairan lendirnya. Dan kurang dari lima menit tubuh Santi kembali menegang, pahanya kembali menjepit kepalaku, dari mulutnya terdengar desahan. “aaaakkkkhhhhhhh aakkkkkkkuuuuuuu kkkkkkkeeeelrrruuuuaarrr.” Lendir semakin banjir di memeknya dan kusedot semua hingga habis. Lendir perawan memang yummy dan sedap.
“ayo oooommmm entot santiiii.” Katanya.
Lalu saya berdiri dan kuarahkan kontolku ke memeknya. Kumasukkan pelan-pelan kontolku ke memeknya yang sempit. Masih butuh usaha biar kepala kontolku sanggup masuk ke memeknya. Dengan beberapa kali maju mundur karenanya kepala kontolku berhasil menerobos memeknya. Tubuhku kurebahkan menindih Santi, kucium bibirnya dengan penuh nafsu. Lalu saya berbisik, “Kalo kau kesakitan bilang aja, nanti om tahan.” Santi Cuma mengangguk. Pantatku mulai maju mundur mendorong kontolku mmenerobos pertahanan anak perawan yang besok pagi mau dinikahkan itu. Pelan-pelan kumaju-mundurkan kontolku. Inci demi inci kontolku masuk ke memeknya. Sampai saya merasa selaput dara menahan laju kontolku.
Dan kini saya tak ambil pusing lagi, dengan pelan-pelan kutekan kontolku biar sanggup menerobos keperawanan Santi. Dan kulihat mata Santi terbelalak menahan sakit. Biar ia ga berteriak, kulumat bibirnya dengan rakus. Pantatku masih terus bekerja maju mundur berusaha menjebol gawang Santi. Dan tangan Santi memegang pinggangku menyerupai ingin menahan. Aku tahu ia menahan sakit, tapi sudah terlanjur. Selaput dara Santi sudah mulai robek, kontolku sudah mulai sanggup masuk tanpa halangan lagi. Semakin cepat kupompa kontolku ke delam memeknya, biar Santi ga terlalu usang mencicipi sakit. Beberapa dikala kemudian rasa sakit sudah hilang digantikan rasa nikmat. Santi kembali meracau keenakan.
“ommmm trruuuusssssss yakhhhhhhh…. eeeennnnnnnaaaakkkkk ommmmmmmmmmmmm”
“Ouuuughhhhhhh yeaaahhhhhhh ommmm jugaaa ennnnakkkkk, memekmu peret banggggeeettt”
Semakin cepat sodokan kontolku dimemek Santi, semakin rasa desahannya.
“Akhhhhsssshh ommmmm Santi mooo kellurrraarrrr”
“Sammmma ommmmm jjjuggga. Keluarin dimana??”
“Di dalem ajahhhh ooommmmm”
Semakin kupercepat sodokanku, dan Santi mengimbangi dengan memaju mundurkan pantatnya. Sampai kemudian kami bersamaan ngecrot. “Ommmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm”.
“Akkkkkkkkkkkkkkkkhhhhhssss Saaaannnnnnnnnnnnnnn”
Croooooooot crooorrrr croooooorrrr. 8 kali pejuhku nyemprot di memek Santi. Dan tampaknya Santi juga banyak keluar lendirnya..
Kulirik jam dinding sudah jam 2 malam. Segera kucabut kontolku dari memek Santi. Dan kukecum keningnya. Santi terpejam sebentar dan mengucapkan terima kasih. “Santi puasssssss banget ******* sama om, om hebat. Santi juga puas ngerjain si bau tanah bangka itu. Kapan-kapan ******* lagi ya om.” Kujawab dalam hati, siapa yang nolak diajak ******* sama gadis seliar Santi?
Dan esoknya, di pelaminan kulihat Santi duduk sambil senyum-senyum memandangku. Senyum kemenangan dan kepuasan. Sedang Jeremy yang sudah penuh uban itu, duduk dengan jaim. Kadang muncul rasa kasihan dalam diriku pada Jeremy, sebab keperawanan istri diberikan padaku. Aku yang mendahului malam pertamanya. Tapi apa boleh buat, Santi yang menentukan.
0 Komentar