Cerita Sex: Perawani, Tapi Jangan Hamili Wina – Kisah ini bermula ketika tetangga di akrab kostku, Tante Lela, yg berstatus janda beranak satu, memintaku untuk menunjukkan private Matematika kepada Wina, anak perempuannya yang waktu itu duduk di kelas 3 SMP, alasannya katanya, anaknya mempunyai kelemahan di dalam mata pelajaran Matematika, ditambah lagi dengan kekhawatiran akan tidak lulus dalam ujian nasional.
Permintaan tersebut saya tanggapi dengan baik, dan lebih pada keinginan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari sebagai seorang mahasiswa yang hidup jauh dari keluarga. Apalagi pelajaran yang diminta juga memang sesuai dengan jurusan yang kuambil di kampus, jadi tidak jadi duduk kasus bagiku.
Sesuai dengan acara private yang telah disepakati, yaitu jam 08.00 malam, dua kali seminggu, saya tiba ke rumah tetanggaku tersebut. Karena jaraknya yang hanya terhalang oleh beberapa rumah saja dari kostku, maka saya hanya mendatanginya dengan jalan kaki, itung-itung ngirit bensin… Lumayan lah! dengan honor 50ribu – per pertemuan, saya bisa menghitung berapa penghasilanku per bulan.
Pada awalnya semua berjalan lancar, menyerupai layaknya private pada umumnya. Sekitar pukul 09.30 atau kadang molor hingga jam 10.00 malam, barulah saya minta izin pulang. Sampai pada suatu malam, sesuai dengan jadwal, saya tiba ke rumah tetanggaku tersebut, dengan maksud menunjukkan private pada anaknya, tetapi ternyata yang ada hanya Tante Lela. Katanya sih si Wina keluar dengan temannya alasannya suatu keperluan. Kata tante Lela, mungkin sebentar lagi juga pulang. Sementara menunggu, Tante Lela menyuguhkan secangkir teh hangat dan sedikit masakan kering kepadaku. Dalam selang waktu itu terjadi percakapan kecil antara saya dan tante Lela.
“Silahkan diminum airnya, nak Rey!” kata tante Lela.
“Iya, Tante!” jawabku sambil mengambil gelas berisi teh hangat yang ada di depanku.
“Sudah semester berapa sekarang?” tanya Tante Lela memulai percakapan.
“Sudah semester selesai sih, Tante! cuman… Skripsi saya belum selesai.” jawabku agak malu-malu sambil meletakkan kembali gelas teh ke atas meja.
“Wah… hampir selesai dong! Kalau sudah lulus, nggak ada lagi dong ngasih private buat Wina…” kata Tante Lela
“Ah, masih usang juga sih, Tante! Mungkin duluan Wina lulus ketimbang saya…” jawabku merendah
“Hahaha… kerasan kuliah ya? nggak kepingin merit?” Tanya Tante Lela yg tidak mengecewakan mengagetkanku.
“Hehehe… pingin sih, Tante! Tapi kerja aja belum, masa dah mikir merit…!?” Jawabku.
“Kamu itu gimana sih? ntar nyesel nunda-nunda kawin…” kata Tante Lela menggodaku. “nyesel kenapa, Tante?” tanyaku.
“Dasar anak muda! Kawin itu yummy lho…!!” kata tante Lela.
“Hahaha… kalau mikir gitu2nya aja sih memang enak, Tante! tapi tanggung jawabnya kan besar kan, Tante!?” Jawabku.
Tiba-tiba Tante berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di sampingku. Aku terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Tante Lela, tetapi tiba-tiba ia berbisik di telingaku…
“kalau kau mau, kau nggak perlu mikir duduk kasus tanggung jawab, nak Rey!” begitu bisik Tante Lela di telingaku.
Seketika itu juga, tiba-tiba tangannya menyentuh kemaluanku yang tidur di balik celana jeans yang ku kenakan.
“Tante! kalau Wina tiba gimana?” tanyaku akan gugup dengan agresi Tante Lela terhadapku. Mendengar pertanyaanku itu, Tante Lela mendorong tubuhku hingga terbaring di Sofa, dan menindih tubuhku kemudian kembali berbisik.
“Tenang saja! Semua sudah tante rencanakan. Wina tidak akan pulang ke rumah malam ini, alasannya ia sedang ada kegiatan Camping di sekolahnya. Tadi sore, Wina pesan sama tante, minta tolong memberikan ke kau bahwa private malam ini ditiadakan dulu…” Penjelasan tante itu cukup mengagetkanku. Dalam perasaan gugup bercampur birahi yang menggoda, tiba-tiba tante Lela yang duduk di atas tubuhku yang terbaring di sofa ruang tamu itu, tante melepaskan bajunya sehingga payudara putih besar yang tertampung dalam Bra putih menjadi pemandangan langka di hadapanku. Seterusnya tante Lela melepaskan rok panjang yang ia kenakan, sehingga sesosok badan perempuan yang hanya tertutup oleh BH dan CD menjadi pemandangan kasatmata di depan mata.
Sejujurnya, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini, tapi rasa gugup dan terkejut masih menyelimuti hatiku. Di dikala itulah, tiba-tiba tante Lela berusaha membuka kancing celanaku dan menurunkan reslitingku. Dia tersenyum padaku, kemudian berkata: “Burungmu niscaya sulit bernafas kalau tidak dikeluarkan….” katanya. Mendengar kata-kata itu, akupun berusaha melempar senyumku dan seketika itu juga ku turunkan celana jeansku dan ku biarkan tante Lela yang mengeluarkan penis dari celana dalamku.
Batang penisku yang sudah tegang, eksklusif menyembul keluar sehabis tante Lela menurunkan CDku. Beberapa dikala tante memandangi dan meremas batang penisku, kemudian ia menunduk dan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. sebuah kenikmatan yang tak tertahan dikala pengecap tante Lela membelai kepala penisku. Sepertinya, saya tidak bisa menahan punjak birahi yang sudah berada di ubun-ubun. Akibatnya, spermaku pun keluar dengan kencang mengisi verbal tante yang sedang asyik memainkan lidahnya di kepala penisku.
Melihat cepatnya saya mencapai puncak, tante Lela bukannya kecewa. Ia malah tersenyum dengan lelehan sperma di bibirnya. Tante Lela mengeluarkan sisa sperma yang masih berada di mulutnya dan meludahkannya ke batang penisku. Kemudian ia kembali mengulum penisku yang mulai melemah selama beberapa saat.
Dengan bibir yang masih berlumuran sperma, tante Lela kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, kemudian mencium bibirku. ku coba untuk membalas reaksinya dengan menyambut lidahnya yang masuk ke mulutku. Ku rasakan sebuah sensasi yang luar biasa ketika tante Lela seakan mengajak membuatkan sperma di mulutku. Aku tidak perduli dengan amis sperma yang kecut harus masuk ke tenggorokanku, yang ku pikirkan hanyalah bagaimana caranya semoga penisku bisa kembali berdiri dari kematiannya.
Ku ku coba meremas-remas payudara besar yang masih terbungkus BH, sebuah hal yang luar biasa yang tidak pernah ku mimpikan sebelumnya. Ternyata menjadi guru private anak tetangga merupakan awal hilangnya keperjakaanku. Tante Lela telah merencanakan ini secara tepat tanpa ku ketahui sebelumnya. Mungkin sebagai seorang janda, ia juga merindukan nikmatnya dikala melaksanakan hubungan dengan suaminya yang telah meninggal dunia sekitar setahun yang lalu.
Setelah puas berciuman mesra di sofa, Tante Lela berdiri dari tubuhku. Ia kemudian menarik celana Jeans dan CDku hingga terlepas dan memintaku untuk melepaskan baju juga. ku turuti saja keinginannya, hingga saya menjadi sesosok pria bugil dengan penis yang mati tergantung.
Tante Lela memegang tanganku dan menarikku menuju sebuah kamar yang bisa dipastikan ialah kamar tidurnya. Setelah berada di dalam kamar, tante Lela melepaskan BH dan CD putih yang ia kenakan. Kemudian ia berdiri di hadapanku dengan badan bugil. Dalam posisi berdiri, kami kembali berciuman. Lalu ia berkata padaku:
“Rey! kalau kau sudah siap, lakukan saja yang ingin kau lakukan dengan tante…. Tante akan menunggu…” demikian perkataannya yang dipenuhi dengan birahi indah. Ia kemudian berjalan meninggalkanku dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur empuk yang ada di kamarnya itu. Ajakan itu tak ingin ku sia-siakan dan hilang begitu saja. Sesosok badan perempuan yang siap untuk dinikmati, kenapa tidak ku manfaatkan…!?
Tanpa pikir panjang, ku dekati badan tante Lela yang telah terhidang siap saji untuk disantap. Lalu ku mulai aksiku dari menaiki badan tante Lela dan mencium bibirnya. Bibir dan pengecap kami saling beradu dalam suasana yang penuh birahi. Sambil terus berciuman, ku remas salah satu payudara Tante Lela yang tidak mengecewakan besar dan lembek, dengan salah satu tangan menopang berat tubuhku semoga tidak menindih tepat badan tante Lela.
Aktivitas itu terus ku lakukan, hingga kesudahannya batang penisku kembali terjaga dari tidurnya. Dalam suasana penuh nafsu yang tak tertahan, ku sentuh selangkangan tante Lela yang ditumbuhi oleh bulu yang lebat. Ku coba untuk merayap dan memasukkan jariku ke kepingan di pangkal paha tante Lela. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya, hingga dalam beberapa detik, saya telah berhasil menenggelamkan jari tengahku di lobang vagina tante Lela. Sesaat kemudian, ku mainkan jariku di lobang yang lembap itu, sehingga menciptakan tante Lela mendesah. Sepertinya ia mulai mencicipi kenikmatan bercinta denganku.
Sebagai seorang yang tidak pernah melaksanakan hubungan seks layaknya suami istri, saya tidak begitu mengerti apa yang harus ku lakukan pada badan bugil yang dikala itu telah siap untuk ku nikmati. Yang ada dalam pikiranku hanyalah menikmati, dan bukan memberi kenikmatan.
Tanpa terlalu usang bermain dengan benda yang juga gres pertama kali ku sentuh, saya mulai berpikir untuk memasukkan penisku yang sudah cukup keras ke dalam lobang vagina tante Lela yang kenyal dan dikelilingi oleh bulu yang lebat. Aku merubah posisi ku, kemudian mengarahkan kepala penisku ke kepingan di sela paha tante dengan tanganku. Mungkin alasannya statusnya yang janda beranak satu, alias sudah bukan perawan, batang penisku tidak terlalu sulit untuk menerobos masuk ke vagina tante Lela.
Rasa yang ku dapatkan dikala menggenjot lobang vagina tante Lela yang lembat sungguh tidak bisa ku lukiskan dengan kata-kata. Batang penisku yang terjepit oleh dinding vagina yang kenyal benar-benar memaksaku untuk menuju puncak birahi. Tidak seberapa usang saya melaksanakan hal tersebut, sanggup ku rasakan bahwa desiran darahku seakan berkumpul di pangkal penisku. Saat itulah, saya semakin meningkatkan tempo permainanku, hingga kesudahannya saya tidak tahan lagi. Ku hentakkan pantatku sekeras mungkin, sehingga penisku karam tepat di dalam lobang vagina tante Lela dan ku rasakan spermaku keluar dan mengisi lobang vagina tante Lela.
Aku sama sekali tidak berpikir akan jawaban yang mungkin terjadi dengan tertanamnya sperma di rahim tante Lela, kecuali sehabis batang penisku kembali melemah dan ku jatuhkan tubuhku di samping badan tante Lela yang lembap bermandikan keringat. Tante Lela tersenyum padaku, kemudian berkata:
“Nggak perlu berguru lama, ya?” kata tante sambil berdiri dari posisinya. Entah apa yang akan ia lakukan, ia berdiri di atas tempat tidur kemudian ia duduk di atas dadaku sambil mengarahkan vaginanya yang masih lembap tersebut ke tempat wajahku.
“Mainkan lidahmu, Rey!” Kata tante kemudian.
Tanpa pikir panjang dan banyak tanya, ku turuti saja keinginannya, ku jilati kepingan vagina tante Lela yang duduk di atas wajahku. Dengan pertolongan jariku, ku buka kepingan vagina tante yang kenyal itu kemudian ku masukkan lidahku sedalam-dalamnya ke lobang vagina tante Lela. Tiba-tiba ku rasakan cairan putih kental yang tidak lain ialah spermaku keluar dari lobang vagina tante Lela dan masuk ke mulutku. Meskipun agak jijik, tapi saya tidak berani memuntahkannya dari mulutku. Aku hanya menahannya di mulutku sambil terus memainkan lidahku di lobang vagina yang terbuka lebar itu.
Beberapa dikala sehabis acara menjilat itu ku lakukan untuk tante Lela, ku coba untuk kembali menjatuhkan badan tante Lela ke tempat tidur. Saat itulah, kembali ku cium bibir tante Lela sambil mengeluarkan sperma yang ada di mulutku dan memasukkannya ke verbal tante Lela. Tante Lela bukannya menolak, ia malah mendapatkan dan bahkan menelat sperma yang ku keluarkan di mulutnya.
Malam itu, saya tidak pulang ke kostku. Aku tidak bisa meninggalkan indahnya bercinta dengan tante Lela, Ibu dari siswa privateku, alasannya ia ialah perempuan yang telah merampas keperjakaanku, sekaligus orang yang pertama memberiku kenikmatan bercinta. Malam itu, saya tidak sanggup tertidur. Meskipun saya tahu tante begitu lelah dan mengantuk, tetapi saya terus mengulangi hubungan seks dengan tante. Beberapa kali ku paksakan untuk memasukkan penisku ke vagina tante Lela dikala ia tertidur, tetapi goresan batang penisku di dinding vaginanya selalu membuatnya terbangun dan kembali menunjukkan respon untuk agresi ajakanku.
Seingatku, malam itu saya melaksanakan hubungan seks dengan tante Lela lebih dari 10 kali. Karena setiap kali penisku bangun, saya eksklusif memasukkan ke lobang vagina tante. Dari pelajaran malam itu, yang ada di pikiranku hanyalah keinginan untuk terus bisa mencicipi vagina, hingga kesudahannya saya berhasil merenggut keperawanan Wina, putri tante Lela sendiri.
Karena seringnya bercinta dengan Tante Lela, Ibu dari siswa privateku, Wina, hubungan gelap tanpa janji yang selama ini terjalin antara kami, tercium oleh Wina. Hal ini terjadi ketika suatu malam, sehabis saya menunjukkan private di rumah Wina, hujan turun dengan lebatnya. Tante Lela menyarankan, semoga saya tidak usah pulang dulu sebelum hujan reda. Tetapi ternyata hujan tidak berhenti hingga lewat jam 11 malam. Tante Lela menyarankan untuk bermalam saja.
Meskipun dengan sedikit basa-basi penolakan, tetapi ajuan itu ku terima dengan bahagia hati, dan memang itu harapanku, berharap dinginnya malam dengan suasana hujan lebat, akan menambah indah nuansa pencapaian puncak birahi dalam bercinta dengan janda beranak satu itu.
Malam itu, saya hanya tidur di sofa ruang tamu, alasannya memang hanya ada 2 kamar di rumah tante Lela. Mungkin hanya sekedar mengelabui Wina yang belum tahu hubungan gelap yang ku jalin dengan Ibunya. Di sofa itu, saya terus memainkan jariku di HPku yang hanya bergetar kalau ada SMS atau panggilan masuk, alasannya memang saya sedang SMSan dengan tante Lela yang ada di kamarnya. Saling merayu di udara dengan bahasa yang mengoda birahi.
Setelah memastikan Wina tertidur di kamarnya, sekitar pukul 12.30 malam, tante Lela mengirinkan SMS yang berbunyi:
“Rey! kKmr Tante dong skrg, Tante dah pngin bgt nch!”
Menerima SMS itu, dengan penuh semangat, saya keluar dari selimutku dan berdiri dari sofa kemudian melangkah perlahan ke kamar tante Lela. Suasana hujan yang masih sangat lebat menunjukkan keleluasaan bagiku, alasannya bunyi langkahku tidak akan memecah heningnya malam.
Saat saya membuka pintu kamar tante Lela, tiba-tiba Wina keluar dari kamarnya. Hal tersebut tentu saja sangat mengejutkanku. Apalagi melihat ekspresi keterkejutan Wina melihat gelagatku.
“Kaka! itu kamar Mama! Kaka mau apa?” begitulah kata yang terucap dari gadis muda berusia 15 tahun, utri tunggal tante Wina. Aku yang terkejut alasannya nyaris tertangkap tangan dengan dorongan birahiku, eksklusif berusaha mencari alasan yang tepat untuk jawaban untuk pertanyaannya tersebut.
“Eeee….” jawabku seraya tanganku melepas gagang pintu kamar tante Lela yang kebetulan telah terlanjur terbuka, sambil terus berpikir keras untuk mencari alasan.
“Begini Win! tadi Kaka kira ini kamar kamu… Kata Mama kamu, Kaka disuruh membangunkan kamu. Kamu disuruh Mama kau tidur dengan Mama, Kaka di suruh tidur di kamar kamu… Gitu, Win! Jawabku dengan bahasa yang semoga berbelit-belit. Wina mengerutkan keningnya beberapa saat, kemudian kemudian melempar senyumnya.
“Oo Iya, Kak! Kamar Wina di sini… Kakak tidur aja di sini…. biar Wina tidur di kamar Mama” begitu jawab Wina sambil masuk kembali ke kamarnya dengan maksud mungkin mengambil keperluan tidurnya.
Ku tutup kembali pintu kamar tante Lela dengan segudang kekecewaan, alasannya hasrat yang memuncak tidak bisa terlampiaskan di malam yang begitu mendukung ini. Dengan langkah lemas, ku beranjak ke kamar Wina, dan ku lihat Wina telah siap meninggalkan kamarnya menuju kamar Mamanya.
“Silahkan, Ka!” sapa Wina mempersilahkan saya untuk tidur di kamarnya.
“Makasih, ya Win!” sapaku dikala ia ke luar dari kamarnya. Wina hanya melempar senyum dikala berlalu dari hadapanku. Ku lihat dengan selimut di tangannya, ia membuka kamar Mamanya, kemudian masuk dan menutup pintu kamar Mamanya tersebut. Dengan tertutupnya pintu kamar tante Lela, maka pupuslah cita-cita untuk bisa kembali bercinta dengan tante Lela.
Malam terus berlalu, tetapi saya tetap tidak bisa tertidur alasannya gagalnya mencuri kesempatan indah untuk bercinta. jam 1 malam, hujan telah berhenti, tiba-tiba HPku bergetar, dan ku lihat ada SMS masuk. ku buka dan ku baca, ternyata tante Lela yg mengirimnya.
“Rey! kmu psti blm tdur kn?” itulah bunyi SMSnya. dengan masuknya SMS itu, saya merasa ada secercah cita-cita gres untuk kembali bisa melepas hasrat yang tertunda. eksklusif ku balas SMS tante Lela:
“blm, tnte? gimana nih? sy udah gak tahan mo nancepin lgi.” jawabku via SMS. tak seberapa lama, masuk lagi jawaban dari tante Lela. “iya, tnte jg nch” begitu jawab tante Lela singkat. Dengan gesit ku mainkan jariku merangkai SMS balasan, dengan maksud menyusun seni administrasi untuk bisa memadu hasrat tanpa diketahui Wina, anak perempuannya. “Wina dah bobo ya tante?” bgitu isi SMSku. “Iya!” jawab tante Lela dengan singkat.
“Tnte, kontolku dah bngun nch, tnte! udh ga thn mo ngntot memek tnte!” bgitu rayuanku dalam SMS berusaha mengajak tante Lela untuk kembali melaksanakan hubungan seks denganku. “Rey! kmu tljg dlu, ya! nnti tnte ksana” bgitulah jawaban tante. dengan girang ku balas SMS tante Lela dengan dua kata “OK!” Dengan semangat menggebu, ku lepaskan sluruh pakaianku dan ku baringkan tubuhku di atas tempat tidur di kamar Wina, putri semata wayangnya. Dengan rasa tidak sabar, kembali ku berniat untuk mengirim SMS ke tante Lela, tetapi tiba-tiba ku dengar pintu kamar di buka dengan hati-hati, dan ku dengan bunyi pintu itu kembali di tutup dengan hati-hati. Dalam senyapnya malam yang di hiasi bunyi titik-titik air sisa hujan lebat, tak ku dengar adanya langkah yang tiba menuju kamar dimana saya terbaring menunggu saat-saat indah menikmati vagina tante Lela yang lembek dan basah.
Tiba-tiba gagang pintu kamar mulai bergerak dan pintupun mulai terbuka perlahan. Tetapi saya sangat terkejut, alasannya yang tiba bukan tante Lela, melainkan Wina, putrinya yang gres kelas 3 SMP. Wina meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai arahan semoga saya tidak bicara. Aku yang sudah terlanjur telanjang, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menutupi batang penisku yang sudah keras dengan guling yang ada di sampingku.
Setelah kembali menutup pintu kamar dengan hati-hati, Wina melangkah ke arahku, dan duduk di sampingku kemudian menarik guling yang menutup kemaluanku. Ia kemudian menggenggam batang penisku dengan kencang, sehingga hampir membuatku berteriak. Wina mendekatkan wajahnya ke hadapanku dan dengan nada berbisik, Wina berkata:
“Jadi selama ini, Kaka dibayar bukan hanya untuk ngasih private saya ya?”“Maaf, Win! Kaka… bukan begitu! kau tidak mengerti…” “Kaka nggak usah bohong! Wina sudah baca semua SMS Kaka di HP Mama…”
“Apa? jadi yang…..”
“Iya! yang balas SMS Kaka itu Wina, Ka!”
“Maafkan Kaka, Win! Kaka nggak ada maksud begitu…”
“Udah deh! Kaka nggak usah bohong… Kenapa Kaka melaksanakan ini dengan
Mamaku!?”
“Win! bukan kemauan Kaka, Win! Kaka juga nggak tahu kenapa ini hingga terjadi…!!” “Kak! Mulai hri ini, Wina nggak mau private lagi sama Kaka… Wina kecewa sama Kaka!”
Mendengar kekecewaan Wina itu, ku peluk badan Wina dan ku ciumi bibirnya, tetapi Wina tidak bereaksi melawan, apalagi berteriak. Ku jatuhkan tubuhnya ke tempat tidur sambil terus ku ciumi bibirnya. Ku tahan gerakan kedua tangannya dengan kedua tanganku, dan ku tindih tubuhnya semoga ia tidak lagi bisa bergerak.
Merasakan Wina yang tidak bereaksi melawan terhadap aksiku, dan cenderung pasrah, saya menghentikan ciumanku dan ku tatap wajah Wina. Tetapi yang terlihat dari wajahnya bukan kekecewaan. Wina justru melemparkan senyumannya kepadaku. “Ada apa ini?” pikirku dalam hati…
“Perawani Wina, Ka! tapi jangan hamili Wina!” itulah kalimat yang terucap dibalik senyumnya. Aku pun bahagia mendengar kalimat itu. Tanpa pikir panjang, ku lepaskan seluruh pakaian yang menutup tubuhnya, mulai dari babydol yang dikenakannya, hingga BH dan CDnya. Tampak dihadapanku sesosok badan kecil yang tidak mengecewakan eksklusif dengan buah dada kecil yang montok. Selangkangan Wina yang cembung dengan rambut keriting tipis yang tumbuh dipermukaannya, merupakan sebuah pemadangan gres yang sangat indah bagiku.
Aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencicipi bagaimana nikmatnya vagina seorang perawan berusia 15 tahun. Tanpa menunggu lebih lama, eksklusif ku angkat kedua kakinya, sehingga selangkangannya terbuka lebar. Terlihat terang kepingan vagina Wina yang hanya menyerupai lipatan kulit berbentuk garis lurus. Tidak terlihat disana ada lobang untuk masuknya penisku yang sudah siap tempur.
Tanpa pikir panjang, eksklusif ku arahkan kepala penisku ke kepingan yang masih sangat rapat itu. Dengan kedua tangannya, Wina memegang kakinya yang terbuka lebar ke atas. Dengan bantuannya itu, saya bisa memakai jariku untuk membuka kepingan vagina Wina. Bisa ku lihat di dalamnya daging yang agak lembap berwarna merah muda, dan eksklusif ku tancapkan kepala penisku di sela kepingan yang terbuka itu. Dengan sedikit memaksa, kepala penisku berhasil menerobos lobang vaginanya yang terasa sangat sempit.
Aku terus menekan semoga penisku bisa masuk tepat ke dalam vagina Wina, namun perjuangan itu harus ku lakukan dengan perlahan. Aku harus tarik ulur semoga cairan vaginanya membasahi seluruh batang penisku. Tanpa cara itu, Penisku tidak bisa dipaksa masuk.
Sedikit demi sedikit, batang penisku semakin dalam masuk ke lobang vagina Wina yang sangat sempit, hingga kesudahannya setengah batang penisku telah berhasil masuk. Dalam posisi penis yang setengah menancap di selangkangannya, ku jatuhkan tubuhku di dadanya. Ku raih bibirnya dan mencoba menciuminya, ku remas payudara bahenol yang masih ranum itu, sesekali ku jilati pipi, kuping, leher dan terkadang turun ke payudaranya.
Wina terpejam dan sesekali berdesis, tampaknya ia menikmati sentuhan yang lidahku di leher dan payudaranya.
Bahkan mungkin ia melupakan bahwa penisku gres setengah masuk ke lobang vaginanya. Melihat keadaan itu, ku tumpukan tubuhku di atas siku yang berada di kedua sisi tubuhnya dan ku pegang erat bahunya. Dengan terus menjilati payudaranya dan sesekali mengecup puting susunya, kembali ku genjot lobang vaginanya yang sangat rapat dan kesat. Terus ku coba dan ku coba, meski kedua bahunya telah ku pegang erat, tetapi tetap saja genjotan yang ku lakukan untuk menerobos lobang vaginanya hanya bisa masuk dengan perlahan.
Akhirnya ku putuskan untuk fokus pada perjuangan untuk memasukkan penis ke lobang vaginanya. Aku turun dari tempat tidur, dan menarik badan Wina ke sisi tempat tidur itu. Dengan posisi berdiri di sisi tempat tidur, kembali ku arahkan penisku yang sedikit ku basahi dengan air liurku ke lobang vaginanya. Penisku kembali hanya bisa masuk setengah ke dalam lobang vagina Wina, namun dengan posisi berdiri, saya bisa menahan kedua pahanya semoga tubuhnya tidak bergerak mengikuti tiap genjotanku. Usahaku kesudahannya tidak sia-sia, alasannya dengan posisi itu, saya bisa lebih cepat menerobos lobang vagina Wina dengan sempurna.
Dalam posisi karam sempurna, saya mjatuhkan tubuhku ke dada Wina dan berguling semoga posisi Wina di atas. Ku peluk badan Wina dan ku coba menarik keluar penisku dari lobang sempit yang lembap itu, kemudian mendorongnya masuk kembali. Beberapa kali ku lakukan itu, saya mebali berguling, sehingga posisiku mebali di atas. Saat itulah permainan bekerjsama di mulai. Vagina Wina tampaknya telah bisa menyesuaikan diri dengan benda tumpul yang menerobos lobang vaginanya.
Rapatnya lobang vagina Wina menunjukkan kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah ku rasakan dikala bercinta dengan tante Lela. dinding vagina Wina seakan mencengkram erat batang penisku, persis menyerupai dikala pertama Wina mencengkar penisku dengan tangannya.
Nonton Film Bokep DISINI
Kenikmatan itu pulalah yang mungkin membuatku tidak bertahan lebih usang untuk menahan muncratnya sperma. Karena pertimbangan tidak untuk menghamili, tetapi hanya memerawai, maka penisku ku cabut dan spermaku pun hanya membuahi bulu-bulu lembut yang tumbuh di atas permukaan vagina Wina.
Sesuai dengan acara private yang telah disepakati, yaitu jam 08.00 malam, dua kali seminggu, saya tiba ke rumah tetanggaku tersebut. Karena jaraknya yang hanya terhalang oleh beberapa rumah saja dari kostku, maka saya hanya mendatanginya dengan jalan kaki, itung-itung ngirit bensin… Lumayan lah! dengan honor 50ribu – per pertemuan, saya bisa menghitung berapa penghasilanku per bulan.
Pada awalnya semua berjalan lancar, menyerupai layaknya private pada umumnya. Sekitar pukul 09.30 atau kadang molor hingga jam 10.00 malam, barulah saya minta izin pulang. Sampai pada suatu malam, sesuai dengan jadwal, saya tiba ke rumah tetanggaku tersebut, dengan maksud menunjukkan private pada anaknya, tetapi ternyata yang ada hanya Tante Lela. Katanya sih si Wina keluar dengan temannya alasannya suatu keperluan. Kata tante Lela, mungkin sebentar lagi juga pulang. Sementara menunggu, Tante Lela menyuguhkan secangkir teh hangat dan sedikit masakan kering kepadaku. Dalam selang waktu itu terjadi percakapan kecil antara saya dan tante Lela.
“Silahkan diminum airnya, nak Rey!” kata tante Lela.
“Iya, Tante!” jawabku sambil mengambil gelas berisi teh hangat yang ada di depanku.
“Sudah semester berapa sekarang?” tanya Tante Lela memulai percakapan.
“Sudah semester selesai sih, Tante! cuman… Skripsi saya belum selesai.” jawabku agak malu-malu sambil meletakkan kembali gelas teh ke atas meja.
“Wah… hampir selesai dong! Kalau sudah lulus, nggak ada lagi dong ngasih private buat Wina…” kata Tante Lela
“Ah, masih usang juga sih, Tante! Mungkin duluan Wina lulus ketimbang saya…” jawabku merendah
“Hahaha… kerasan kuliah ya? nggak kepingin merit?” Tanya Tante Lela yg tidak mengecewakan mengagetkanku.
“Hehehe… pingin sih, Tante! Tapi kerja aja belum, masa dah mikir merit…!?” Jawabku.
“Kamu itu gimana sih? ntar nyesel nunda-nunda kawin…” kata Tante Lela menggodaku. “nyesel kenapa, Tante?” tanyaku.
“Dasar anak muda! Kawin itu yummy lho…!!” kata tante Lela.
“Hahaha… kalau mikir gitu2nya aja sih memang enak, Tante! tapi tanggung jawabnya kan besar kan, Tante!?” Jawabku.
Tiba-tiba Tante berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di sampingku. Aku terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Tante Lela, tetapi tiba-tiba ia berbisik di telingaku…
“kalau kau mau, kau nggak perlu mikir duduk kasus tanggung jawab, nak Rey!” begitu bisik Tante Lela di telingaku.
Seketika itu juga, tiba-tiba tangannya menyentuh kemaluanku yang tidur di balik celana jeans yang ku kenakan.
“Tante! kalau Wina tiba gimana?” tanyaku akan gugup dengan agresi Tante Lela terhadapku. Mendengar pertanyaanku itu, Tante Lela mendorong tubuhku hingga terbaring di Sofa, dan menindih tubuhku kemudian kembali berbisik.
“Tenang saja! Semua sudah tante rencanakan. Wina tidak akan pulang ke rumah malam ini, alasannya ia sedang ada kegiatan Camping di sekolahnya. Tadi sore, Wina pesan sama tante, minta tolong memberikan ke kau bahwa private malam ini ditiadakan dulu…” Penjelasan tante itu cukup mengagetkanku. Dalam perasaan gugup bercampur birahi yang menggoda, tiba-tiba tante Lela yang duduk di atas tubuhku yang terbaring di sofa ruang tamu itu, tante melepaskan bajunya sehingga payudara putih besar yang tertampung dalam Bra putih menjadi pemandangan langka di hadapanku. Seterusnya tante Lela melepaskan rok panjang yang ia kenakan, sehingga sesosok badan perempuan yang hanya tertutup oleh BH dan CD menjadi pemandangan kasatmata di depan mata.
Sejujurnya, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini, tapi rasa gugup dan terkejut masih menyelimuti hatiku. Di dikala itulah, tiba-tiba tante Lela berusaha membuka kancing celanaku dan menurunkan reslitingku. Dia tersenyum padaku, kemudian berkata: “Burungmu niscaya sulit bernafas kalau tidak dikeluarkan….” katanya. Mendengar kata-kata itu, akupun berusaha melempar senyumku dan seketika itu juga ku turunkan celana jeansku dan ku biarkan tante Lela yang mengeluarkan penis dari celana dalamku.
Batang penisku yang sudah tegang, eksklusif menyembul keluar sehabis tante Lela menurunkan CDku. Beberapa dikala tante memandangi dan meremas batang penisku, kemudian ia menunduk dan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. sebuah kenikmatan yang tak tertahan dikala pengecap tante Lela membelai kepala penisku. Sepertinya, saya tidak bisa menahan punjak birahi yang sudah berada di ubun-ubun. Akibatnya, spermaku pun keluar dengan kencang mengisi verbal tante yang sedang asyik memainkan lidahnya di kepala penisku.
Melihat cepatnya saya mencapai puncak, tante Lela bukannya kecewa. Ia malah tersenyum dengan lelehan sperma di bibirnya. Tante Lela mengeluarkan sisa sperma yang masih berada di mulutnya dan meludahkannya ke batang penisku. Kemudian ia kembali mengulum penisku yang mulai melemah selama beberapa saat.
Dengan bibir yang masih berlumuran sperma, tante Lela kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, kemudian mencium bibirku. ku coba untuk membalas reaksinya dengan menyambut lidahnya yang masuk ke mulutku. Ku rasakan sebuah sensasi yang luar biasa ketika tante Lela seakan mengajak membuatkan sperma di mulutku. Aku tidak perduli dengan amis sperma yang kecut harus masuk ke tenggorokanku, yang ku pikirkan hanyalah bagaimana caranya semoga penisku bisa kembali berdiri dari kematiannya.
Ku ku coba meremas-remas payudara besar yang masih terbungkus BH, sebuah hal yang luar biasa yang tidak pernah ku mimpikan sebelumnya. Ternyata menjadi guru private anak tetangga merupakan awal hilangnya keperjakaanku. Tante Lela telah merencanakan ini secara tepat tanpa ku ketahui sebelumnya. Mungkin sebagai seorang janda, ia juga merindukan nikmatnya dikala melaksanakan hubungan dengan suaminya yang telah meninggal dunia sekitar setahun yang lalu.
Setelah puas berciuman mesra di sofa, Tante Lela berdiri dari tubuhku. Ia kemudian menarik celana Jeans dan CDku hingga terlepas dan memintaku untuk melepaskan baju juga. ku turuti saja keinginannya, hingga saya menjadi sesosok pria bugil dengan penis yang mati tergantung.
Tante Lela memegang tanganku dan menarikku menuju sebuah kamar yang bisa dipastikan ialah kamar tidurnya. Setelah berada di dalam kamar, tante Lela melepaskan BH dan CD putih yang ia kenakan. Kemudian ia berdiri di hadapanku dengan badan bugil. Dalam posisi berdiri, kami kembali berciuman. Lalu ia berkata padaku:
“Rey! kalau kau sudah siap, lakukan saja yang ingin kau lakukan dengan tante…. Tante akan menunggu…” demikian perkataannya yang dipenuhi dengan birahi indah. Ia kemudian berjalan meninggalkanku dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur empuk yang ada di kamarnya itu. Ajakan itu tak ingin ku sia-siakan dan hilang begitu saja. Sesosok badan perempuan yang siap untuk dinikmati, kenapa tidak ku manfaatkan…!?
Tanpa pikir panjang, ku dekati badan tante Lela yang telah terhidang siap saji untuk disantap. Lalu ku mulai aksiku dari menaiki badan tante Lela dan mencium bibirnya. Bibir dan pengecap kami saling beradu dalam suasana yang penuh birahi. Sambil terus berciuman, ku remas salah satu payudara Tante Lela yang tidak mengecewakan besar dan lembek, dengan salah satu tangan menopang berat tubuhku semoga tidak menindih tepat badan tante Lela.
Aktivitas itu terus ku lakukan, hingga kesudahannya batang penisku kembali terjaga dari tidurnya. Dalam suasana penuh nafsu yang tak tertahan, ku sentuh selangkangan tante Lela yang ditumbuhi oleh bulu yang lebat. Ku coba untuk merayap dan memasukkan jariku ke kepingan di pangkal paha tante Lela. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya, hingga dalam beberapa detik, saya telah berhasil menenggelamkan jari tengahku di lobang vagina tante Lela. Sesaat kemudian, ku mainkan jariku di lobang yang lembap itu, sehingga menciptakan tante Lela mendesah. Sepertinya ia mulai mencicipi kenikmatan bercinta denganku.
Sebagai seorang yang tidak pernah melaksanakan hubungan seks layaknya suami istri, saya tidak begitu mengerti apa yang harus ku lakukan pada badan bugil yang dikala itu telah siap untuk ku nikmati. Yang ada dalam pikiranku hanyalah menikmati, dan bukan memberi kenikmatan.
Tanpa terlalu usang bermain dengan benda yang juga gres pertama kali ku sentuh, saya mulai berpikir untuk memasukkan penisku yang sudah cukup keras ke dalam lobang vagina tante Lela yang kenyal dan dikelilingi oleh bulu yang lebat. Aku merubah posisi ku, kemudian mengarahkan kepala penisku ke kepingan di sela paha tante dengan tanganku. Mungkin alasannya statusnya yang janda beranak satu, alias sudah bukan perawan, batang penisku tidak terlalu sulit untuk menerobos masuk ke vagina tante Lela.
Rasa yang ku dapatkan dikala menggenjot lobang vagina tante Lela yang lembat sungguh tidak bisa ku lukiskan dengan kata-kata. Batang penisku yang terjepit oleh dinding vagina yang kenyal benar-benar memaksaku untuk menuju puncak birahi. Tidak seberapa usang saya melaksanakan hal tersebut, sanggup ku rasakan bahwa desiran darahku seakan berkumpul di pangkal penisku. Saat itulah, saya semakin meningkatkan tempo permainanku, hingga kesudahannya saya tidak tahan lagi. Ku hentakkan pantatku sekeras mungkin, sehingga penisku karam tepat di dalam lobang vagina tante Lela dan ku rasakan spermaku keluar dan mengisi lobang vagina tante Lela.
Aku sama sekali tidak berpikir akan jawaban yang mungkin terjadi dengan tertanamnya sperma di rahim tante Lela, kecuali sehabis batang penisku kembali melemah dan ku jatuhkan tubuhku di samping badan tante Lela yang lembap bermandikan keringat. Tante Lela tersenyum padaku, kemudian berkata:
“Nggak perlu berguru lama, ya?” kata tante sambil berdiri dari posisinya. Entah apa yang akan ia lakukan, ia berdiri di atas tempat tidur kemudian ia duduk di atas dadaku sambil mengarahkan vaginanya yang masih lembap tersebut ke tempat wajahku.
“Mainkan lidahmu, Rey!” Kata tante kemudian.
Tanpa pikir panjang dan banyak tanya, ku turuti saja keinginannya, ku jilati kepingan vagina tante Lela yang duduk di atas wajahku. Dengan pertolongan jariku, ku buka kepingan vagina tante yang kenyal itu kemudian ku masukkan lidahku sedalam-dalamnya ke lobang vagina tante Lela. Tiba-tiba ku rasakan cairan putih kental yang tidak lain ialah spermaku keluar dari lobang vagina tante Lela dan masuk ke mulutku. Meskipun agak jijik, tapi saya tidak berani memuntahkannya dari mulutku. Aku hanya menahannya di mulutku sambil terus memainkan lidahku di lobang vagina yang terbuka lebar itu.
Beberapa dikala sehabis acara menjilat itu ku lakukan untuk tante Lela, ku coba untuk kembali menjatuhkan badan tante Lela ke tempat tidur. Saat itulah, kembali ku cium bibir tante Lela sambil mengeluarkan sperma yang ada di mulutku dan memasukkannya ke verbal tante Lela. Tante Lela bukannya menolak, ia malah mendapatkan dan bahkan menelat sperma yang ku keluarkan di mulutnya.
Malam itu, saya tidak pulang ke kostku. Aku tidak bisa meninggalkan indahnya bercinta dengan tante Lela, Ibu dari siswa privateku, alasannya ia ialah perempuan yang telah merampas keperjakaanku, sekaligus orang yang pertama memberiku kenikmatan bercinta. Malam itu, saya tidak sanggup tertidur. Meskipun saya tahu tante begitu lelah dan mengantuk, tetapi saya terus mengulangi hubungan seks dengan tante. Beberapa kali ku paksakan untuk memasukkan penisku ke vagina tante Lela dikala ia tertidur, tetapi goresan batang penisku di dinding vaginanya selalu membuatnya terbangun dan kembali menunjukkan respon untuk agresi ajakanku.
Seingatku, malam itu saya melaksanakan hubungan seks dengan tante Lela lebih dari 10 kali. Karena setiap kali penisku bangun, saya eksklusif memasukkan ke lobang vagina tante. Dari pelajaran malam itu, yang ada di pikiranku hanyalah keinginan untuk terus bisa mencicipi vagina, hingga kesudahannya saya berhasil merenggut keperawanan Wina, putri tante Lela sendiri.
Karena seringnya bercinta dengan Tante Lela, Ibu dari siswa privateku, Wina, hubungan gelap tanpa janji yang selama ini terjalin antara kami, tercium oleh Wina. Hal ini terjadi ketika suatu malam, sehabis saya menunjukkan private di rumah Wina, hujan turun dengan lebatnya. Tante Lela menyarankan, semoga saya tidak usah pulang dulu sebelum hujan reda. Tetapi ternyata hujan tidak berhenti hingga lewat jam 11 malam. Tante Lela menyarankan untuk bermalam saja.
Meskipun dengan sedikit basa-basi penolakan, tetapi ajuan itu ku terima dengan bahagia hati, dan memang itu harapanku, berharap dinginnya malam dengan suasana hujan lebat, akan menambah indah nuansa pencapaian puncak birahi dalam bercinta dengan janda beranak satu itu.
Malam itu, saya hanya tidur di sofa ruang tamu, alasannya memang hanya ada 2 kamar di rumah tante Lela. Mungkin hanya sekedar mengelabui Wina yang belum tahu hubungan gelap yang ku jalin dengan Ibunya. Di sofa itu, saya terus memainkan jariku di HPku yang hanya bergetar kalau ada SMS atau panggilan masuk, alasannya memang saya sedang SMSan dengan tante Lela yang ada di kamarnya. Saling merayu di udara dengan bahasa yang mengoda birahi.
Setelah memastikan Wina tertidur di kamarnya, sekitar pukul 12.30 malam, tante Lela mengirinkan SMS yang berbunyi:
“Rey! kKmr Tante dong skrg, Tante dah pngin bgt nch!”
Menerima SMS itu, dengan penuh semangat, saya keluar dari selimutku dan berdiri dari sofa kemudian melangkah perlahan ke kamar tante Lela. Suasana hujan yang masih sangat lebat menunjukkan keleluasaan bagiku, alasannya bunyi langkahku tidak akan memecah heningnya malam.
Saat saya membuka pintu kamar tante Lela, tiba-tiba Wina keluar dari kamarnya. Hal tersebut tentu saja sangat mengejutkanku. Apalagi melihat ekspresi keterkejutan Wina melihat gelagatku.
“Kaka! itu kamar Mama! Kaka mau apa?” begitulah kata yang terucap dari gadis muda berusia 15 tahun, utri tunggal tante Wina. Aku yang terkejut alasannya nyaris tertangkap tangan dengan dorongan birahiku, eksklusif berusaha mencari alasan yang tepat untuk jawaban untuk pertanyaannya tersebut.
“Eeee….” jawabku seraya tanganku melepas gagang pintu kamar tante Lela yang kebetulan telah terlanjur terbuka, sambil terus berpikir keras untuk mencari alasan.
“Begini Win! tadi Kaka kira ini kamar kamu… Kata Mama kamu, Kaka disuruh membangunkan kamu. Kamu disuruh Mama kau tidur dengan Mama, Kaka di suruh tidur di kamar kamu… Gitu, Win! Jawabku dengan bahasa yang semoga berbelit-belit. Wina mengerutkan keningnya beberapa saat, kemudian kemudian melempar senyumnya.
“Oo Iya, Kak! Kamar Wina di sini… Kakak tidur aja di sini…. biar Wina tidur di kamar Mama” begitu jawab Wina sambil masuk kembali ke kamarnya dengan maksud mungkin mengambil keperluan tidurnya.
Ku tutup kembali pintu kamar tante Lela dengan segudang kekecewaan, alasannya hasrat yang memuncak tidak bisa terlampiaskan di malam yang begitu mendukung ini. Dengan langkah lemas, ku beranjak ke kamar Wina, dan ku lihat Wina telah siap meninggalkan kamarnya menuju kamar Mamanya.
“Silahkan, Ka!” sapa Wina mempersilahkan saya untuk tidur di kamarnya.
“Makasih, ya Win!” sapaku dikala ia ke luar dari kamarnya. Wina hanya melempar senyum dikala berlalu dari hadapanku. Ku lihat dengan selimut di tangannya, ia membuka kamar Mamanya, kemudian masuk dan menutup pintu kamar Mamanya tersebut. Dengan tertutupnya pintu kamar tante Lela, maka pupuslah cita-cita untuk bisa kembali bercinta dengan tante Lela.
Malam terus berlalu, tetapi saya tetap tidak bisa tertidur alasannya gagalnya mencuri kesempatan indah untuk bercinta. jam 1 malam, hujan telah berhenti, tiba-tiba HPku bergetar, dan ku lihat ada SMS masuk. ku buka dan ku baca, ternyata tante Lela yg mengirimnya.
“Rey! kmu psti blm tdur kn?” itulah bunyi SMSnya. dengan masuknya SMS itu, saya merasa ada secercah cita-cita gres untuk kembali bisa melepas hasrat yang tertunda. eksklusif ku balas SMS tante Lela:
“blm, tnte? gimana nih? sy udah gak tahan mo nancepin lgi.” jawabku via SMS. tak seberapa lama, masuk lagi jawaban dari tante Lela. “iya, tnte jg nch” begitu jawab tante Lela singkat. Dengan gesit ku mainkan jariku merangkai SMS balasan, dengan maksud menyusun seni administrasi untuk bisa memadu hasrat tanpa diketahui Wina, anak perempuannya. “Wina dah bobo ya tante?” bgitu isi SMSku. “Iya!” jawab tante Lela dengan singkat.
“Tnte, kontolku dah bngun nch, tnte! udh ga thn mo ngntot memek tnte!” bgitu rayuanku dalam SMS berusaha mengajak tante Lela untuk kembali melaksanakan hubungan seks denganku. “Rey! kmu tljg dlu, ya! nnti tnte ksana” bgitulah jawaban tante. dengan girang ku balas SMS tante Lela dengan dua kata “OK!” Dengan semangat menggebu, ku lepaskan sluruh pakaianku dan ku baringkan tubuhku di atas tempat tidur di kamar Wina, putri semata wayangnya. Dengan rasa tidak sabar, kembali ku berniat untuk mengirim SMS ke tante Lela, tetapi tiba-tiba ku dengar pintu kamar di buka dengan hati-hati, dan ku dengan bunyi pintu itu kembali di tutup dengan hati-hati. Dalam senyapnya malam yang di hiasi bunyi titik-titik air sisa hujan lebat, tak ku dengar adanya langkah yang tiba menuju kamar dimana saya terbaring menunggu saat-saat indah menikmati vagina tante Lela yang lembek dan basah.
Tiba-tiba gagang pintu kamar mulai bergerak dan pintupun mulai terbuka perlahan. Tetapi saya sangat terkejut, alasannya yang tiba bukan tante Lela, melainkan Wina, putrinya yang gres kelas 3 SMP. Wina meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai arahan semoga saya tidak bicara. Aku yang sudah terlanjur telanjang, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menutupi batang penisku yang sudah keras dengan guling yang ada di sampingku.
Setelah kembali menutup pintu kamar dengan hati-hati, Wina melangkah ke arahku, dan duduk di sampingku kemudian menarik guling yang menutup kemaluanku. Ia kemudian menggenggam batang penisku dengan kencang, sehingga hampir membuatku berteriak. Wina mendekatkan wajahnya ke hadapanku dan dengan nada berbisik, Wina berkata:
“Jadi selama ini, Kaka dibayar bukan hanya untuk ngasih private saya ya?”“Maaf, Win! Kaka… bukan begitu! kau tidak mengerti…” “Kaka nggak usah bohong! Wina sudah baca semua SMS Kaka di HP Mama…”
“Apa? jadi yang…..”
“Iya! yang balas SMS Kaka itu Wina, Ka!”
“Maafkan Kaka, Win! Kaka nggak ada maksud begitu…”
“Udah deh! Kaka nggak usah bohong… Kenapa Kaka melaksanakan ini dengan
Mamaku!?”
“Win! bukan kemauan Kaka, Win! Kaka juga nggak tahu kenapa ini hingga terjadi…!!” “Kak! Mulai hri ini, Wina nggak mau private lagi sama Kaka… Wina kecewa sama Kaka!”
Mendengar kekecewaan Wina itu, ku peluk badan Wina dan ku ciumi bibirnya, tetapi Wina tidak bereaksi melawan, apalagi berteriak. Ku jatuhkan tubuhnya ke tempat tidur sambil terus ku ciumi bibirnya. Ku tahan gerakan kedua tangannya dengan kedua tanganku, dan ku tindih tubuhnya semoga ia tidak lagi bisa bergerak.
Merasakan Wina yang tidak bereaksi melawan terhadap aksiku, dan cenderung pasrah, saya menghentikan ciumanku dan ku tatap wajah Wina. Tetapi yang terlihat dari wajahnya bukan kekecewaan. Wina justru melemparkan senyumannya kepadaku. “Ada apa ini?” pikirku dalam hati…
“Perawani Wina, Ka! tapi jangan hamili Wina!” itulah kalimat yang terucap dibalik senyumnya. Aku pun bahagia mendengar kalimat itu. Tanpa pikir panjang, ku lepaskan seluruh pakaian yang menutup tubuhnya, mulai dari babydol yang dikenakannya, hingga BH dan CDnya. Tampak dihadapanku sesosok badan kecil yang tidak mengecewakan eksklusif dengan buah dada kecil yang montok. Selangkangan Wina yang cembung dengan rambut keriting tipis yang tumbuh dipermukaannya, merupakan sebuah pemadangan gres yang sangat indah bagiku.
Aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk mencicipi bagaimana nikmatnya vagina seorang perawan berusia 15 tahun. Tanpa menunggu lebih lama, eksklusif ku angkat kedua kakinya, sehingga selangkangannya terbuka lebar. Terlihat terang kepingan vagina Wina yang hanya menyerupai lipatan kulit berbentuk garis lurus. Tidak terlihat disana ada lobang untuk masuknya penisku yang sudah siap tempur.
Tanpa pikir panjang, eksklusif ku arahkan kepala penisku ke kepingan yang masih sangat rapat itu. Dengan kedua tangannya, Wina memegang kakinya yang terbuka lebar ke atas. Dengan bantuannya itu, saya bisa memakai jariku untuk membuka kepingan vagina Wina. Bisa ku lihat di dalamnya daging yang agak lembap berwarna merah muda, dan eksklusif ku tancapkan kepala penisku di sela kepingan yang terbuka itu. Dengan sedikit memaksa, kepala penisku berhasil menerobos lobang vaginanya yang terasa sangat sempit.
Aku terus menekan semoga penisku bisa masuk tepat ke dalam vagina Wina, namun perjuangan itu harus ku lakukan dengan perlahan. Aku harus tarik ulur semoga cairan vaginanya membasahi seluruh batang penisku. Tanpa cara itu, Penisku tidak bisa dipaksa masuk.
Sedikit demi sedikit, batang penisku semakin dalam masuk ke lobang vagina Wina yang sangat sempit, hingga kesudahannya setengah batang penisku telah berhasil masuk. Dalam posisi penis yang setengah menancap di selangkangannya, ku jatuhkan tubuhku di dadanya. Ku raih bibirnya dan mencoba menciuminya, ku remas payudara bahenol yang masih ranum itu, sesekali ku jilati pipi, kuping, leher dan terkadang turun ke payudaranya.
Wina terpejam dan sesekali berdesis, tampaknya ia menikmati sentuhan yang lidahku di leher dan payudaranya.
Bahkan mungkin ia melupakan bahwa penisku gres setengah masuk ke lobang vaginanya. Melihat keadaan itu, ku tumpukan tubuhku di atas siku yang berada di kedua sisi tubuhnya dan ku pegang erat bahunya. Dengan terus menjilati payudaranya dan sesekali mengecup puting susunya, kembali ku genjot lobang vaginanya yang sangat rapat dan kesat. Terus ku coba dan ku coba, meski kedua bahunya telah ku pegang erat, tetapi tetap saja genjotan yang ku lakukan untuk menerobos lobang vaginanya hanya bisa masuk dengan perlahan.
Akhirnya ku putuskan untuk fokus pada perjuangan untuk memasukkan penis ke lobang vaginanya. Aku turun dari tempat tidur, dan menarik badan Wina ke sisi tempat tidur itu. Dengan posisi berdiri di sisi tempat tidur, kembali ku arahkan penisku yang sedikit ku basahi dengan air liurku ke lobang vaginanya. Penisku kembali hanya bisa masuk setengah ke dalam lobang vagina Wina, namun dengan posisi berdiri, saya bisa menahan kedua pahanya semoga tubuhnya tidak bergerak mengikuti tiap genjotanku. Usahaku kesudahannya tidak sia-sia, alasannya dengan posisi itu, saya bisa lebih cepat menerobos lobang vagina Wina dengan sempurna.
Dalam posisi karam sempurna, saya mjatuhkan tubuhku ke dada Wina dan berguling semoga posisi Wina di atas. Ku peluk badan Wina dan ku coba menarik keluar penisku dari lobang sempit yang lembap itu, kemudian mendorongnya masuk kembali. Beberapa kali ku lakukan itu, saya mebali berguling, sehingga posisiku mebali di atas. Saat itulah permainan bekerjsama di mulai. Vagina Wina tampaknya telah bisa menyesuaikan diri dengan benda tumpul yang menerobos lobang vaginanya.
Rapatnya lobang vagina Wina menunjukkan kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah ku rasakan dikala bercinta dengan tante Lela. dinding vagina Wina seakan mencengkram erat batang penisku, persis menyerupai dikala pertama Wina mencengkar penisku dengan tangannya.
Nonton Film Bokep DISINI
Kenikmatan itu pulalah yang mungkin membuatku tidak bertahan lebih usang untuk menahan muncratnya sperma. Karena pertimbangan tidak untuk menghamili, tetapi hanya memerawai, maka penisku ku cabut dan spermaku pun hanya membuahi bulu-bulu lembut yang tumbuh di atas permukaan vagina Wina.
0 Komentar