Cerita Sex - Keperkasaanku VS Gairah Nafsu Tante Maya # Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang ibu rumah tangga, yang entah bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui nomor HPku.
“Iya.. iya Mbak..” kataku gugup.
“Hayo mikir siapa, lagi mikirin Via ya?” tanyanya menggodaku.
“Nggak kok, malahan mikirin Mbak Maya tuh” celetukku.
“Masa sih.. Kaprikornus GR nih” dengan bunyi yang menggoda.
“Dandy, boleh kan kalau saya mau ketemu kamu?” tanya Maya.
“Boleh aja Mbak.. Dengan senang hati” jawabku semangat.
“Oke deh, kita mau ketemuan dimana?” tanyanya semangat.
“Terserah Mbak deh, Dandy ngikut aja” jawabku pasrah.
“Oke deh, nanti sore saya tunggu kau di excelso di Tunjungan Plasa” katanya.
“Oke, hingga nanti Dandy.. Aku tunggu jan 18.00″ sambil berkata demikian, HP nya pribadi off.
Waktu memperlihatkan pukul 16.30, datang saatnya saya pulang kantor dan segera meluncur ke Tunjungan Plaza. Sebelumnya saya prepare di kantor, saya mandi dan membersihkan diri sesudah seharian saya bekerja. Untuk perlengkapan mandi, memang setiap hari saya membawa alasannya yakni memang saya sering olahraga sesudah jam kantor.
Tiba di TP, saya segera memarkir kendaraan beroda empat starletku yang butut di lantai 3. Jam ditanganku memperlihatkan pukul 18 kurang seperempat. Aku segera menuju ke excellso ibarat yang dikatakan Maya.
Cerita Sex - Aku segera mengambil kawasan duduk disisi pagar kaca, sehingga saya dapat melihat orang hilir pulang kampung di area pertokoan terbesar di Surabaya ini. Saat mataku melihat situasi di sekelilingku, bola mataku berhenti pada seorang perempuan setengah baya yang duduk sendirian. Menurut tebakan aku, perempuan ini berumur sekitar 35 tahun ke atas. Wajahnya yang tidak mengecewakan putih, menciptakan saya tertegun. Mataku yang mulai nakal, berusaha menjelajahi pemandangan yang sangat menggiurkan di depanku. Kakinya yang jenjang, ditambah dengan bagian pahanya yang putih di balik rok mininya, menciptakan semakin saya gemas. Dalam hatiku, wah betapa bahagianya saya kalau orang tersebut yakni Maya yang menghubungi saya siang tadi.
Disaat saya membayangkan sosok di depan mataku, tiba-tiba perempuan itu berdiri dan menghampiri kawasan dudukku. Dadaku berdegup kencang ketika beliau benar-benar mengambil kawasan duduk semeja dengan aku.
“Maaf, kau Dandy ya?” tanyanya sambil menatapku.
“Iy.. iyaa.. Kamu Maya?” tanyaku balik sambil berdiri.
Jarinya yang lentik menyentuh tanganku untuk bersalaman dan darahku terasa mendesir ketika tangannya yang halus meremas tanganku dengan halus.
“Silahkan duduk May” kataku sambil menarik satu dingklik di depanku.
“Terima kasih” kata Maya sambil tersenyum.
“Dari tadi anda duduk disitu kok tidak pribadi kesini?” tanyaku.
“Aku tadi sempat ragu, apakah kau memang Dandy” jelasnya.
“Aku tadi juga berpikir, apakah perempuan yang cakep ini kamu?” kataku sambil senyum.
Kami bercerita panjang lebar perihal apapun yang dapat diceritakan, kadang kala kami berdua saling canda, saling menarik hati dan sesekali bicara yang ‘nyerempet’ ke arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah tepat saja wajahnya yang semakin matan.
Dari pembicaraan tersebut, terungkaplah kalau Maya yakni seorang perempuan yang sedang kiprah di Surabaya. Maya yakni seorang pengusaha dan kebetulan selama 3 hari dinas di Surabaya.
“May, kau kenal Via dimana?” tanyaku mnyelidik.
“Via yakni sobat chattingku di YM, saya dan via sering online bersama. Dan kami terbuka satu sama lain dalam hal apapun. Begitu juga untuk kisah rumah tangga, bahkan duduk kasus sex sekalipun.” verbal mungil Maya menjelaskan dengan penuh semangat.
“OOo, begitu..” kataku sambil manggut-manggut.
“Ini yakni hari pertamaku di Surabaya dan saya berencana menginap 3 hari, hingga urusan kantorku selesai” jelasnya tanpa saya tanya.
“Sebenarny tadi Via juga mau dateng tetapi alasannya yakni ada program keluarga, mungkin besok gres dapat dateng” jelasnya kembali.
“Memang Mbak Maya nginap dimana?” tanyaku.
“Kebetulan sama perwakilan kantor disini, di bookingin di Hotel E..” jelasnya.
“Mmm, emang Mbak sama sapa sih?” tanyaku menyelidik.
“Ya sendirilah, Dandy.. Makanya ketika itu saya tanya Via” kata Maya.
“Tanya apa?” tanyaku mengejar.
“Apakah punya sobat yang dapat temanin saya selama di Surabaya” kata Maya.
“Dan dari situlah saya tahu nomor HP kamu” lanjutnya.
Tanpa terasa jam tanganku memperlihatkan pukul 21.15 wib, dan saya liat sekelilingku pertokoan mulai sepi alasannya yakni memang sudah mau tutup.
“Dan.. Kamu mau anter saya balik ke hotel?” tanya Maya.
“Boleh, masa iya saya tega biarin Mbak Maya sendirian balik ke hotel” kataku.
Setelah dialog singkat, kami segera menuju parkiran kendaraan beroda empat dan segera meluncur ke Hotel E.. Yang tidak jauh dari sentra pertokoan Tunjungan Plasa.
Aku dan Maya bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 3, dan sesampainya di kamar nomor 306, Maya mengatakan saya untuk masuk sejenak. Bau parfum yang menggugah syaraf kelaki-lakianku serasa berontak ketika saya berjalan di belakangnya.
“Silahkan duduk Dan, saya mau mandi dulu” kata Maya sambil melempar tas kecilnya, diatas ranjang.
Cerita Sex - Mataku menyelidik, apakah benar Maya sendirian dalam kamar. Dan memang benar kelihatannya beliau sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih rapi, nampak hanya beberapa helai gaun yang berada di atas ranjang. Saat mataku masih asyik menjelajahi ruangan kamar Maya, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi tubuhnya yang molek.
“Dandy, saya minta tolong nih buangan airnya di bathup nggak dapat dibuang” kata Maya sambil tetap berdiri di muka pintu kamar mandi.
Aku segera bangun dari dudukku dan berjalan menuju kamar mandi. Ketika saya melewati tubuh Maya, mataku yang badung sedikit mencuri pandang di bagian dada Maya yang terkesan menyembul keluar alasannya yakni terhimpit ketatnya handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux kuning merasuk menusuk hidungku, saya segera menuju bathup yang dimaksud oleh Maya.
Aku memakai tangkai sendok untuk mencungkil karet epilog bathup yang memang rapat sekali. Aku berusaha membuka secepatnya alasannya yakni pikiran kotor mulai menjejali otakku. Dan akhirnya”sswaasshh..” bunyi air pribadi keluar ketika karet penutupnya sudah terlepas.
“Oke May.. Sudah terbuka nih, silahkan lanjutin mandinya” kataku sambil masih membelakangi tubuh Maya yang sedang berdiri di belakangku. Ketika saya membalikkan badanku, betapa kagetnya saya dengan pemandangan di depan mataku. Tubuh Maya tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang menempel di tubuhnya tadi.
“Ma-Maaff.. Aku mau keluar May” kataku gugup.
Maya tidak menjawab dan bahkan tidak memberiku jalan. Wanita itu pribadi berhamburan memeluk tubuhku, dan merangkul leherku dengan erat.
“Dan, Via sudah ceritakan kehebatan permainan sex kamu” aroma anyir mulutnya yang segar, menciptakan jantungku semakin berdetak kencang.
“Mmm, anu Mbak.. Mungkin Via terlalu berlebihan” kataku.
“Berikan saya kenikmatan itu Dan..” sambil berkata demikian, bibir mungil Maya pribadi mendarat di bibirku. Lidahnya yang liar serasa menggeliat mencari lidahku.
Cerita Sex - Lidahku yang sudah mulai terpancing birahi, pribadi menyambut keliaran pengecap Maya. Tanganku yang tadi hanya berdiam diri, kini saya beranikan memeluk tubuhnya yang sexy bagaikan Britney Spears. Aku mencicipi dadanya yang molek mendesak dadaku yang bidang. Sesekali tanganku mulai semakin berani menjelajahi pinggul Maya, pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah menginjak 35 tahun. Aku meremas pantatnya berkali-kali sehingga hal itu menciptakan nafsu Maya semakin naik.
Bibirku yang sudah mulai marah dan terbawa birahiku yang mulai merangkak ke kepalaku. Lehernya yang jenjang menjadi sasaran empuk bibirku yang mulai menari-nari di atasnya.
“Ooohh.. Dandy.. Geelli..” desah Maya.
Serangan bibirku semakin menjadi di leher Maya, sehingga beliau hanya dapat merem melek mengikuti jilatan lidahku.
Setelah saya puas dilehernya, saya mulai menurunkan tubuhkan sehingga bibirku kini berhadapan dengan 2 buat bukit kembarnya yang masih ketat dan kencang. Aku semakin terbawa dalam fatwa birahi yang meledak-ledak, bibir Maya yang mulai terasuki nafsu birahinya sendiri mulai ganas melahap bibriku.
Jari jemarinya yang lentik, tampaknya terlatih untuk membuka semua kancing yang menempel di hem yang saya kenakan.
Disaat saya mulai telanjang dada, bibirnya mulai menjalar ke arah leherku dan sesaat kemudian bibirnya sudah mendarat pada dadaku. Jilatan lidahnya yang semakin liar, tampaknya tidak ingin menyisakan sedikitpun dada bidangku.
Darahku mendesir hebat hingga menciptakan saya terangsang hebat, ketika lidahnya menari di puntingku. Daerah yang paling sensitif di tubuhku, yang dapat menggugah nafsu birahiku secara sepontan.
“Ohh.. May.. Aaakh” saya merintih sambil menekan tengkuknya ke dada bidangku.
Maya benar-benar sudah di kuasai oleh birahi yang tinggi, dan tanpa saya sadari ketika saya sudah mencicipi kaki sudah dingin. Ternyata Maya sudah melepas jeans yang saya pakai sebelumnya, sehingga kini saya hanya menganakan celana dalam saja.
Lidahnya semakin usang semakin ke bawah dan sampailah lidahnya memainkan pusarku. Tangannya meremas kedua pantatku sehingga saya benar-benar terangsang hebat.
Dengan gaya yang sudah fasih, giginya berusaha menarik celana dalamku dari depan. Kedua tanganya dengan gampang menarik CD ku dari belakang.
“Gila.. Pantes Via puas, habis penismu gede ibarat ini” kata Maya memuji.
Adik kecilku yang tadi sudah ingin melepaskan diri dari belenggu CD yang membatasinya kesannya dapat lepas. Aku melihat kebawah dan melihat Maya yang sedang tertegun dengan besarnya penisku. Penisku berdiri tegak sekali dan sesaat kemudian.
“Mmm.. Srup.. Srupp” verbal Maya yang mungil mulai mengulum batang penisku.
“Aakhh.. May.. Nikmmaat.. Sekkalii” rintihku.
Tanganku menekan dalam-dalam kepala belakang Maya, utnuk memudahkan bergerak maju mundur dan ketika penisku benar-benar terlean dalam verbal Maya, kenikmatan yang luar biasa saya rasakan ketika ujung penisku menthok pada dasar verbal Maya.
“Sss.. Maayy.. Uhh” saya mendesah kenikamatan.
Maya tidak mempedulikan desahan, rintihan dan eranganku, perempuan itu denagn buasnya mengulum, menjilat, mengocok dan mengoral batang kemaluanku.
Sampai saya tidak berpengaruh berdiri.
Cerita Sex - Setelah Maya puas dengan aksinya, Maya bangun dari posisi pertama yang sebelumnya jongkok di bawah selangkangan aku. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk mendorong tubuhnya sehinga tubuh Maya terduduk di kloset. Aku pribadi jongkok dan membuka kedua pahanya yang putih. Lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi rambut-rambut yang begitu lebat. Aroma wangi dari lubang kewanitaannya, menciptakan tubuhku berdesir hebat. Tanpa menunggu usang lagi, lidahku pribadi saya julurkan ke permukaan bibir vagina.
Tanganku bereaksi untuk menyibak rambut yang tubuh disekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya.
Cerita Sex - Beberapa ketika kemudian Maya ibarat orang kesurupan dan ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku berusaha mempermainkan birahinya, disaat Maya semakin liar. Tempo yang semula tinggi dengan impulsif saya kurangi hingga ibarat gerakan lambat, sehingga centi demi centi batang kemaluanku terasa sekali mengoyak dinding vagina Maya.
“Danddy.. Terus.. Sayangg.. Jangan berhenti..” Maya meminta.
Permainanku tersebut benar-benar memancing birahi Maya untuk mencapai kepuasan birahinya. Sesaat kemudian, Maya benar-benar tidak dapat mengontrol birahinya. Tubuhnya bergetar hebat.
“Danddyy.. Aakuu.. Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang sayang” rintih Maya.
Gerakan penisku ibarat goyangan anisa bahar yang patah-patah, menciptakan birahi Maya semakin tak terkendali.
“Dann.. Ddy.. Aaammppunn” rintih Maya panjang.
Bersamaan dengan rintihan tersebut, saya menekan penisku dengan dalam hingga mentok dilangit-langit vagina Maya. Aku mencicipi semburan cairan membasahi seluruh batang kemaluanku.
“Creek.. Crek.. Crek..” bunyi penisku masih bergerak keluar masuk di lubang vagina Maya. Aku semakin tidak peduli dengan Maya yang sudah mendapat kedua orgasmenya, alasannya yakni saya sendiri lagi berusaha untuk mencari kepuasan birahiku. Perlahan, saya turunkan kaki kanan Maya yang pada posisi pertama saya naikkan ke atas wastafel.
Posisi Maya, kini sedikit menungging dengan posisi berdiri. Penisku yang masih tertancap pada lubang vaginanya pribadi saya hujamkan kembali ke lubang vagina Maya.
“Ohh.. Dandyy.. kamu.. memang.. ahli..” kata Maya sambil merintih.
Kedua telapak tanganku mencengkeram pinggul Maya dan menekan tubuhnya supaya penisku dapat lebih menusuk ke dalam lubang vaginanya.
“May.. vagina kau memang asyik banget” pujiku.
“Kamu suka minum jamu ya kok masih seret?” tanyaku.
Maya hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati bacokan penisku yang tiada hentinya. Batang kemaluanku terasa dipijat oleh vagina Maya dan hal tersebut menjadikan kenikmatan yang luar biasa. Permainan sexku benar-benar dapat diterima Maya alasannya yakni ternyata perempuan tersebut dapat mengimbangi permainan aku.
Sampai kesannya saya tidak dapat menahan kenikmatan yang mulai tadi sudah mengoyak birahiku.
“May.. Aku mau.. Keluuar..” kataku mendesah.
“Aku juga sayang.. Oooh.. Nikmat terus.. Terus..” Maya merintih.
“Dandyy.. Keluarin didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu..” pinta Maya.
“Iya May.. Ooogh.. Akakhh..” rintihku.
Selamat membaca, semoga terhibur dengan Cerita Sex di atas. Jangan lupa bookmark web Video Hot, Video Sex, Video Seks, Video Mesum, Video 17, Video Porno, Video Bugil, Video Ngentot, Video Bokep, Video Dewasa, Video ABG, Film Bokep, Film Porno, Film Dewasa, Cerita Sex , Cerita 17 Tahun, Cerita Bokep, Cerita Dewasa, Cerita Hot, Cerita Hot, Cerita Kenikmatan, Cerita Ngentot, Cerita Porno, Cerita Artis, Cerita Tante, Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Sex Dewasa, Tante Girang, Cerita Seks Tante, Ngentot Memek, Cersex, Cerita Ngentot, Cerita Janda, Cerita ABG, Cerita 17, Cerita Mesum
Sumber : Internet, Pornografi
Next
« Prev Post
« Prev Post
Previous
Next Post »
Next Post »
0 Komentar