Kumpulan Dongeng Sex Nikmat Nya Ngentot Dengan Gadis Chinese

Kumpulan Cerita Sex 2018 - Kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang Staff Hotel berbintang di kota “S”. Pria Ini bernama Danang, pada saat itu saat danang menghuni kos barunya, dia mendapat kenalan seorang janda beranak satu keturunan Chinese. Singkat kisah hari demi hari mereka pun semakin dekat dan pada akhirnya. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik kisah cukup umur ini.
Perkenalkan namaku Danang, usiaku saat ini 19 tahun dan masih single. Aku adalah seorang staf disalah satu hotel berbintang diaerah kota “S”.
Okey saat ini saya akan menceritakan wacana kisah sexku yang terbilang sangat cepat, nikmat, dan instan sekali layaknya mie instan. hhe. Oke langsung ke alur kisah saja. Kejadian ini berawal saat saya sedang mencari tempat kos di kota “S”. Nampaknya untuk mencari kos di kota “S” itu sangatlah simpel didapat, tidak perlu hingga berhari-hari untuk mendapat kost.
Sampai pada hasilnya aku-pun mendaptkan tempat kost, dan saya mulai menempati kost-ku yang baru. Karena saya di Kost itu anak baru, maka saya mulai berkenalan dengan penghuni kost lainya, namun saya memulai dengan seorang wanita yang kamar kosnya tepat berada disampingku. Panggil saja nama wanita itu Olivia, saat berkenalan denganku, umur Olivia sekitar 30.
Oh iya guest, di usianya yang tergolong masih muda itu, Olivia sudah menyandang status janda beranak satu dan dia adalah keturunan chinese. Singkat kisah perkenalanku dengan Olivia berlanjut dan hari-demi hari kamipun semakin dekat saja. Sampai pada hari itu, saat saya gres selesai mandi sore, saat saya keluar kamar saya melihat Olivia sedang duduk di kamarnya sembari menonton televisi.
Seperti yang kukatakan tadi, alasannya adalah kamar kami berdekatan, hal ini memudahkanku untuk mengetahui apa yang dilakukanya pada setiap harinya. Pada saat itu keadaanku masih mengenakan handuk, saya iseng dengan menarik hati Olivia. Dengan Expresi wajah yang terkejut, Olivia balik menggodaku, dan aku-pun semakin berani untuk menarik hati Olivia.
Ketika itu diapun mengejarku alasannya adalah saya menggodanya tadi. Pada saat Olivia mengejarku aku-pun berpura-pura untuk berusaha menghindar dan mencoba masuk ke kamarku. Tidak kusangka, sesampainya saya masuk kekamarku Olivia-pun berani masuk hingga kamarku, dan dia tidak menghentikan niatnya untuk mengejarku.
“ Danang awas kamu yah kalau hingga kena, saya perkosa kamu nanti semoga tahu rasa “, ucapnya sembari terus menangkapku.
“ Perkosa? coaba aja kalau kamu berani weeeekkk “, ucapku menantang dengan penuh cita-cita bahwa dia akan benar-benar memperkosaku.
Saat itu saya berhenti berlari, dan saya mulau menatap kedua matanya, saya melihat mata Olivia saat itu nampak ada sebuah hasrat dan kerinduan yang selama ini terpendam alasannya adalah dia sudah lama tidak dijama oleh Pria. Tidak kusangka ternyata Olivia saat itu menutup pintu kamarku. Tanpa banyak bicara, aku-pun saya tahu maksud Olivia, lalu akupun meladeni olivia dengan penuh gairah.
Mulailah saya meraih tangan Olivia, tanpa perlawanan Olivia, lalu kami-pun saling berciuman. Benar-benar bernafsu dan liar wanita manis ini. Belum lagi saya sanggup berbuat lebih banyak, ternyata dia menyambar handuk yang kukenakan. Setelah handukuku terbuka, Olivia-pun melihat Penisku yang sudah setengah berdiri itu. Tanpa basa-basi, dia menyambar Penisku serta meremas-remasnya.

“ Ssss… Aghhh… nikmat sekali Liv… terus Liv… Aghhh… “, desahku.
Ternyata desahanku itu mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh dan lebih liar lagi. Lalu tiba-tiba dia berjongkok, dan melumat Penisku begitu saja,
“ Oughhh… Ssss… Aghhh….. … Nikmmaat… “, desahku lagi.
Olivia sangat jago sekali melakukan itu, dia mirip tidak menawarkan kesempatan kepada untuk berbuat tanya. Dengan semangat, dia terus mengulum dan mengocok Penisku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulutnya terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.
“ Oughhh… aduhh… ”,
Akhirnya hampir 12 menit saya merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari Penisku.
“ Oughhh… tahann… Ssss… Aghhh… saya mau kkeluaar… Liv… Aghhhh…. ”, rintihku menuju klimaks.
Karena memang kuluman Olivia sangatlah jago dan liar, tidak lama sesudah itu,
“ Crottt… Crottt… Crottt… ”
Tersemburlah spermaku ke dalam mulutnya. Sambil terus mengocok dan mengulum kepala Penisku, Olivia berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Olivia tersenyum. Lalu saya mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.
Perlahan-lahan Penisku berdiri kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Olivia melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya. Mataku tak berkedip.
Buah payudaranya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin bengkak.
“ Oughhhh… Teruss Nang… Teruss… “, desahnya.
Kuhisap-hisap pentilnya yang mengeras, sementara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya saya berhasil meraih cuilan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur.
Tanpa diperintah, kusibakkan pahanya. Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal. Dengan penuh nafsu, saya menciumi Vaginanya dan kujilati seluruh bibir Vaginanya.
“ Oughhh… teruss… Nang… Aduhh… Nikmat…”, ucap Olivia menikmati jilatanku.
Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentitnya mirip cacing kepanasan,
“ Nang… Oughhh… terus sayang… Ssss… Aghhh… “,
Desah kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan pengecap dan sedotanku beraksi.
“ Sruppp…Sruppp… “, , suara sedotaku di Vaginanya.
Seiring dengan liarnya lidahku memainkan Klitorisnya, dia,
“ Oughhh… Nikmat… Teruss… Teruss…”, teriakannya semakin merintih.
Tiba-tiba dia menekankan kepalaku ke Vaginanya, kuhisap besar lengan berkuasa lubang Vaginanya. Ia mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari Vaginanya semakin banyak.
“ Ughhh… Ssss… Aghhh… A… aa… aku… keluuaarr… sayang… oughhh… “, , ucapku menuju klimaks.
“ Crottt… Crottt… Crottt… “,
Ternyata Olivia mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang dia lakukan kepadaku, saya juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari Vaginanya. Aku menelan semua cairan yang keluar dari Vaginanya. Terasa sedikit asin tapi nikmat. Olivia masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, saya memasukkan Penisku ke dalam Vaginanya yang basah.
“ Blesss…. Oughhh… yeahhh… nikmat sekali… “, , ucapku.
Tanpa mengalami hambatan, Penisku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Olivia.
“ Oughhh… Oliviaa… sayang… nikmat “, , ucapku.
Batang Penisku sepeti dipilin-pilin. Olivia yang mulai bernafsu kembali terus menggoyangkan pinggulnya.
“ Oughhh… Nang… Terus… Sayang… Eumm… Aghhh…”,
Penisku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit saya menindih Olivia… Lalu ia meminta semoga saya berada di bawah.
“ Kamu di bawah ya, sayang… “, bisiknya penuh nikmat.
Ketika itu saya hanya pasrah, tanpa melepaskan Penisku dari Vaginanya, kami merubah posisi. Dengan semangat menggelora, Penisku terus digoyangnya. Olivia dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan Penisku ke liang Vaginanya.
“ Oughhh… Remas payudaraku… Sayangg…. Terus sayang… Oughhh… “, erangan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
“ Oughhh… Olivia… terus goyang sayang… “, teriakku memancing nafsunya.
Benar saja. Kira-kira 15 menit lalu goyang pinggulnya semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan besar lengan berkuasa ke arah payudaraku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku semoga Penisku menghujam lebih dalam.
“ Nang… Ah… aku… Keluar sayang… Oughhh… “,
Ternyata Olivia telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma. Kemudian saya membalikkan tubuh Olivia, sehingga posisinya di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku mirip biduan dangdut,
“ Oughhh… Olivia… Nikmatnya… Aku keluuarr… “,
“ Crottt… Crottt… Crottt… “,
Aku tidak besar lengan berkuasa lagi mempertahankan sepermaku… Dan langsung saja memenuhi liang vagina Olivia.
“ Oughhh… Nang… kamu begitu perkasa.”,
Telah lama saya menantikan hal ini. Ujarnya sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Olivia memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas Penisku. Kemudian, tanpa kukomando, Olivia berusaha mencabut Penisku yang tampak mengkilat alasannya adalah cairan spermaku dan cairan Vaginanya.
Dengan posisi 69, lalu ia meneduhi saya dan langsung mulutnya bergerak ke kepala Penisku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lubang Vaginanya. Olivia terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala Penisku. Tangan kanannya terus mengocok-ngocok batang Penisku. Sesekali dia menghisap dengan keras lubang Penisku. Aku merasa nikmat dan geli.
“ Oughhhh… Olivia… Geli… “, desahku lirih.
Namun Olivia tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok Penisku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina Olivia membuatku bernafsu kembali. Aku lalu mengecup dan menjilati lubang Vaginanya. Kelentitnya yang berada di sebelah atas tidak pernah saya lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.
“ Oughhh… Nang… nikmat… ya… Oughhh… “, desahnya.
Olivia menghentikan sejenak aksinya alasannya adalah tidak besar lengan berkuasa menahan kenikmatan yang kuberikan.
“ Oughhh… Terus… Ssss… Aghhh… “, desahnya sembari kepalanya berdiri tegak.
Kini Vaginanya memenuhi mulutku. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya.
“ Oughhhh… Yaahh. Teruss… Oughhh… OoOughhhh”, saya menyedot besar lengan berkuasa vaginanya.
“ Sayang… Oughhhh… aku… keluar… aghhh…. “, , ucap Olivia menuju klimaksnya lagi.
Lalu Olivia-pun menghentikan gerakannya, tapi saya terus menyedot-nyedot lubang Vaginanya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku.
Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, Penisku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Olivia merupakan wanita yang sangat terpelajar membahagiakan pasangannya.
Olivia terus menghisap dan menyedoti Penisku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.
“ Oughhh… Olivia… Teruss… Teruss… “, rintihku menahan sejuta kenikmatan.
Olivia terus mempercepat gerakan mulutnya dengfan liarnya,
“ Oughhh… Olivia… Aku… Keluuarr… Oughhh… “,
“ Crottt… Crottt… Crottt… “,
Spermaku tumpah ke dalam mulutnya. Sementara Olivia seakan tidak merelakan setetespun spermaku meleleh keluar.
“ Terimakasih sayang… “, ucapku pada Olivia.
Saat itu aku-pun merasa sangat puas lalu Olivia-pun mengecup bibirku, dan,
“ Nang… mungkinkah selamanya kita sanggup mirip ini. Aku sangat puas dengan pelayananmu. Aku tidak ingin perbuatan ini kamu lakukan dengan wanita lain.
Aku sangat puas. Biarlah saya saja yang mendapat kepuasan ini.”, ucapnya puas kepadaku.
Saat itu saya mengangguk, dan memeluk Olivia saat dia bertanya hal itu padaku. Singkat kisah semenjak tragedi itu, kami sering melakukan kekerabatan sexs di kamarnya maupun dikamarku. Terkadang, kami tidur saling tumpang tindih, membentuk posisi 69, saya tertidur dengan menghirup aroma segar kemaluannya, sedangkan Olivia mengulum penisku.
Tak jarang di kala pagi hari saat penisku ereksi, Olivia sering mengkulum penisku yang ereksi itu, sementara saya dengan cueknya tetap tidur sambil menikmati oralnya, terkadang saya jilat Vaginanya alasannya adalah gemas. Intinya kami lakukan sesuai mood kami. Hubungan ini kami lakukan secara belakang layar tanpa ada sepengetahuan penghuni kos lainnya. Sungguh indah sekali tinggal di kost itu, jikalau ereksi tinggal panggil lalu beraksi.hhe.
bahkan hingga kini pun disela waktu luang saya masih bercinta sama olivia, thanks sayang.


Previous
Next Post »
0 Komentar