Kumpulan Cerita Sex 2018 - Aku adalah seorang penggemar masakan. Sudah banyak tempat yang kudatangi untuk mencicipi masakannya. Tetapi saya justru tertarik oleh sebuah warung yang kata teman-teman banyak menyediakan aneka macam menu, sebut saja warung plus (WP).
Seperti biasa, malam hari sekitar jam 19:00, sepulang kerja saya selalu mencari tempat untuk makan (maklum bujangan), dan saya teringat oleh kata temanku yang baru siang tadi makan di WP. Karena jarak antara kantor dan WP agak jauh maka saya segera buru-buru melarikan mobilku.
Sesampainya di sana saya agak bingung, alasannya begitu banyak kendaraan beroda empat dan motor yang parkir. Tanpa pikir panjang kuparkir di tempat yang agak jauh. Mobil yang parkir di situ rata-rata adalah kendaraan beroda empat luar kota, kebanyakan plat L dan W. Ketika memasuki WP, di sana ada banyak meja yang kosong, sempat saya berpikir, “Apakah saya salah tempat?”
“Ndhut..” kulihat seorang sahabat memanggil diriku. Aku biasa dipanggil Gendhut oleh sahabat alasannya perut yang agak menonjol, mungkin alasannya terlalu banyak makan.
“Den, ngapain di sini?” tanyaku ke Deny, alasannya kulihat di mejanya hanya ada sebotol Fanta dan gelas.
“Lagi nunggu,” sahutnya.
“Nunggu apa? Makanan?” tanyaku penasaran.
“Lagi nunggu servis,” balasnya yang membuatku penasaran.
“Servis apa? Mobil?” tanyaku semakin penasaran.
“Lha kau mau apa?” Deny balik bertanya.
“Makan,” jawabku polos.
“Wah kuno kamu, di sini ada servis selain makan dan minum,” balas Deny sambil menyeringai.
“Mas, mau pesan apa?” tanya seorang cewek yang sempat membuatku terkejut.
“Eh.. di sini ada apa aja?” jawabku.
“Di sini ada cewek,” sahut Deny seraya mengerlipkan sebelah mata kepada cewek tadi.
“Ah.. Mas Deny ini, genit ah.. kan pelanggan baru jikalau nggak mau bagaimana?” jawab si cewek agak manja.
“Saya pesan nasi campur dan es jeruk yang lainnya nanti saja,” jawabku sambil memperhatikan cewek yang alhasil kutahu namanya adalah Mina.
Mina adalah pegawai di warung itu, selain elok juga memiliki tubuh yang lumayan, tinggi; sekitar 170 cm, kulit; putih mulus, dada; sekitar 36, pinggul; seksi (apalagi jikalau berjalan). Sambil makan dan berbincang dengan Deny, baru kutahu jikalau si Deny ini sering ke sini, makanya ia berani menggoda Mina.
Selesai makan Deny mengajakku ke sebuah ruangan di dalam warung itu, ruangan itu tidak terlalu lebar tapi sangat panjang dan memiliki banyak kamar dan hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar. Kulihat Deny memasuki kamar pertama, dan ternyata di situ adalah tempat receptionis dan seorang wanita yang sedang menulis-nulis sebuah buku (sepertinya buku administrasi).
“Mbak, ada yang kosong?” tanya Deny.
“Ada, ehm.. mau dua atau satu Den, atau.. masing-masing dua?” sambil melihat ke arahku.
“Masing-masing satu aja, ini temanku baru pertama kali ke sini,” kata Deny.
“Oke, mau yang mana?” tanya wanita itu sambil menunjukkan foto-foto cewek lengkap dengan nama dan umur mereka di balik foto-foto itu.
“Eh.. kau mau yang mana?” tanya Deny kepadaku.
Kemudian saya melihat separuh foto-foto itu alasannya yang separuhnya sedang dilihat Deny. Tak lama sesudah kami bertukar foto, saya memilih sebuah foto yang dibaliknya ada nama Putri dan berumur 20 tahun.
“Oke, silakan tunggu di kamar 30 dan 31!” jawab wanita itu sambil menunjukkan kunci kamar nomor 30 kepadaku.
Sambil berjalan menuju kamar 30, saya sempat mendengar suara desahan nafas yang sangat kuhafal alasannya sering menonton film biru. Ketika saya hingga di depan pintu kamar seorang cewek elok berusia sekitar 18 tahun menghampiriku dan bertanya,
“Mau sama Mbak Putri ya Mas?” tanyanya.
“Iya..” jawabku sambil mengamati wajah dan tubuh yang hanya mengenakan kaos ketat tipis tanpa BH dan celana ketat pendek (sepertinya celana untuk senam).
“Mas baru pertama ya ke sini?” tanyanya menyelidik.
“Iya.. kok tahu?” sahutku.
“Iya, tahu dong kan yang masuk sini selalu saya perhatikan dan kebanyakan hanya om-om. Oh iya nama saya Nani. Situ siapa?” tanyanya.
“Aku Charles. Masuk yuk, di dalam kan lebih enak!” sambil membuka pintu kamar dan menutup sesudah Nani masuk.
Setelah berbincang dengan ia baru kutahu jikalau ia anak pemilik warung yang tidak diperhatikan oleh orangtuanya alasannya sibuk dengan urusan warung, makanya ia berada di ruangan itu tanpa sepengetahuan orangtuanya. Tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka, ternyata Putri yang kupesan tadi.
“Maaf, lama menunggu ya,” kata putri.
“Udah dulu ya Mas, Mbak putri sudah datang, silakan bersenang-senang,” kata Nani.
“Lho, Nani nanti jikalau ibu tahu kau sanggup dimarahi lho,” kata Putri.
“Cuek aja, yang penting sanggup happy (sambil keluar dari kamar),” kata Nani.
“Mas sudah lama nunggu ya?” tanya Nani.
“Ah enggak kok, lagian kan ada Nani,” kataku.
“Saya ke kamar mandi dulu ya, Mas buka saja dulu pakaiannya supaya lebih rileks,” kata Putri.
Setelah Putri masuk kamar mandi, kubuka baju dan celana hingga telanjang bulat. Sambil menunggu kuperhatikan kamar itu, ternyata itu adalah kamar Putri, di sana banyak foto Putri sedang in action. “Wah Mas kok nafsu banget, nggak pakai pemanasan?” tanya Putri menyadarkanku dari lamunan. Ternyata Putri sudah tidak memakai apa-apa kecuali handuk yang hanya sanggup menutupi dadanya yang jikalau dilihat ia berukuran 35D itu, dan tempat liang senggamanya hanya tertutupi oleh bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat.
“Mas, kok ngelamun?” tanya ia lagi.
“Wah tubuhmu bagus sekali,” jawabku.
Tanpa basa-basi kutarik tubuh itu dan kuciumi bibir tipis yang membuat wajahnya menjadi cantik. Putri tidak membalas ciuman pada menit pertama, tapi lama kelamaan ia mulai membalas ciumanku dengan sangat buas. “Mas rebahan di kasur ya! agar sanggup isep itu,” sambil menunjuk ke arah kemaluanku yang tak terasa sudah mulai menegang.
Aku langsung saja tiduran dan ia membuka handuk yang menempel tadi dan menjatuhkannya di lantai. Ternyata saya salah menilai susu yang besar itu, ternyata berukuran 36D. Setelah menaiki kasur ia langsung menciumi bibirku dan perlahan mulai turun dan alhasil ia mengulum batang kemaluanku yang berukuran sekitar 15 cm itu.
Aku pun menikmati permainan itu, secara perlahan ia mulai menaikiku dan mengarahkan batang kemaluanku yang sudah siap perang ke arah lubang kemaluannya. “Bless..” dan, “Ah..” Putri mendesah sambil memejamkan matanya. Agak lama ia terdiam dan saya mencicipi sesuatu yang memijit batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya. Dia mulai membuka mata dan menaik-turunkan pinggulnya.
“Ah.. ah.. ah.. Mass.. ah.. ennaaknyaa.. ah..” sambil terus menaik-turunkan pinggulnya. Sampai alhasil ia menjerit “Mass.. aku.. mauu.. keluuarr.. ah..” kurasakan ada cairan yang menyemprot kemaluanku dengan derasnya. Namun saya masih belum sanggup mendapatkan perlakuan ini, saya ganti posisi sehingga saya berada di atas dan ia membuka kakinya lebar-lebar seakan menyambut kedatangan kemaluanku. “Ayo Mas, puaskan Mas, basahi memek ini Mas.” Tanpa ba bi bu, saya langsung menggenjot ia sehingga ia mengalami klimaks yang kedua kalinya.
“Aaah.. aah.. aah.. Maass..”
“Puutt.. aku.. su.. dah.. nggak.. kuaat.. ah..”
Kuakhiri kata-kata terakhir sambil memuncratkan spermaku ke dalam lubang kemaluannya. “Mas ini berpengaruh sekali ya, saya belum pernah ibarat ini,” katanya sambil lubang kemaluannya memijit batang kemaluanku yang masih tegang di dalam.
“Aku juga Put, belum pernah mencicipi yang ibarat ini (hanya alasan supaya senang).” Dan kami melakukannya sekali lagi alasannya kemaluanku masih tegang dan dipijat terus oleh lubang kemaluannya, jadinya tidak sanggup tidur walau sudah keluar. Setelah selesai saya membersihkan diriku di kamar mandi.
Selesai mandi saya keluar kamar dan melihat Putri tertidur, saya langsung saja keluar kamar, eh.. ternyata Deny sudah lama menungguku dan ia sudah membayar ongkos service tadi. Aku pun pamit dan berterima kasih pada Deny alasannya sudah malam dan besok masih ada pekerjaan yang menunggu di kantor.
Pada hari Sabtu sore saya berjalan-jalan di sebuah pertokoan di bersahabat alun-alun. Kulihat jam sudah menerangkan pukul 18.00 dan perutku sudah mulai lapar. Ketika mencari sebuah rumah makan saya melihat ada seorang gadis yang duduk sendiri membelakangiku dan tampaknya gadis itu adalah Nani anak dari yang punya WP, dan kusapa dia.
“Hi, Nan..” sapaku.
“Oh, Mas Charles..” kata Nani.
“Sendiri?” tanyaku.
“Nggak, sama teman,” jawabnya.
“Sama pacar?” tanyaku lagi.
“Pacar? belum punya tuh,” katanya.
Tak lama kemudian ada sepasang muda-mudi yang bergandengan tangan ke arah kami.
“Mas kenalin ini sahabat saya Erika dan Budi,” kata Nani.
“Nama saya Charles,” kataku memperkenalkan diri.
“Saya Erika,” kata Erika.
“Budi,” kata Budi.
“Kok lama banget sih, kau lagi pesan atau buat masakan?” tanya Nani.
“Kan antri non,” kata Erika.
“Char, kau nggak pesan?” tanya Budi.
“Sudah tadi (ketika sedang berduaan),” kataku.
“Nan, kau nanti ikut kami nggak? Berempat kan asyik,” kata Erika.
“Tanya dulu dong, masa langsung angkut. Mas Charles ada jadwal nggak?” tanya Nani.
“Nggak ada,” kataku.
“Mau ikut kami?” tanya Nani.
“Ke mana?” tanyaku.
“Ada deh,” kata Nani.
“Boleh, lagian besok libur kantor, nganggur,” kataku.
Sambil makan saya memperhatikan Erika yang tak kalah elok dibanding Nani, tingginya sekitar 160 cm, dadanya sekitar 34, kulitnya coklat, pinggulnya agak kecil (lumayan). Setelah makan kami menuju ke areal parkir. Karena masing-masing bawa kendaraan beroda empat (aku dan Budi) maka saya satu kendaraan beroda empat sama Nani alasannya ia yang tahu mau ke mana. Saat di dalam kendaraan beroda empat ia banyak kisah tentang temannya yang alhasil kutahu jikalau mereka itu sedang berpacaran dan sudah bertunangan. Ketika akan melewati sebuah hotel Nani menyuruhku untuk masuk ke dalam hotel itu.
“Mau nginap?” tanyaku.
“Ya ke sini ini tujuan kita,” kata Nani.
Sambil mencari tempat parkir saya berpikir jikalau saya sedang mendapatkan kejutan akan berkencan dengan seorang gadis yang elok dan gratis alasannya ia yang mengajak. Setelah menemukan tempat yang aman dari sahabat sekantor, kami masuk ke dalam dan sahabat Nani sudah memesan sebuah kamar VIP.
Kami pun berjalan mengikuti belboy yang menunjukkan di mana kamar kami. Sesampainya di kamar, Budi memberi tip kepada belboy dan menutup pintu kamar. Kamar yang unik menurutku (karena belum pernah masuk), ada dua kasur besar di dalam dua ruangan tanpa pintu yang berseberangan, sebuah ruang tamu lengkap dengan TV, kulkas, AC dan sebuah meja kecil dengan telepon.
Kami berempat duduk berpasangan di ruang tamu, saya dengan Nani dan Budi dengan Erika. Tanpa menunggu kode Budi langsung menciumi Erika, dan kurasakan tangan Nani mulai membelai pahaku. Aku pun langsung memeluk Nani dan menciumi bibir sensualnya. Nani pun membalas ciuman itu dengan buas dan liar bagai singa sedang memakan mangsanya. Kemudian Erika bertanya,
“Nan, kau kamar yang mana?”
“Terserah deh, pokoknya ada kasurnya,” kata Nani.
“Aku masuk dulu ya,” kata Erika.
“Aku juga ah.. nggak yummy di sini,” kata Nani.
Sambil menarikku ke dalam kamar dan membaringkan saya dengan sedikit mendorong.
“Mas, saya akan servis kau lebih dari yang pernah kau alami,” kata Nani.
“Boleh aja, asal sanggup tahan lama,” kataku.
Nani membuka pakaiannya sambil melenggak-lenggokkan pinggul layaknya seorang penari striptease. Setelah pakaiannya habis ia berjongkok sambil menciumi batang kemaluanku yang sudah tegak di dalam celana. Sambil menciumi ia membuka celana dan saya membuka baju hingga telanjang bulat. Dia langsung menciumi dan menjilati kemaluanku yang sudah tegak berdiri dengan gagahnya.
“Mas besar sekali?” tanya Nani.
“Tapi enakkan..” kataku.
“Iya..” katanya.
Kemudian kutarik tubuhnya sehingga saya sanggup menciumi lubang kemaluannya dan ia tetap sanggup mengulum kemaluanku.
“Mas.. lidahnya.. nakal.. auw.. ah..” katanya sambil mendesah.
“Kamu juga berakal mainin lidah,” kataku.
“Mas.. masukin.. aja.. ya.. aku.. pingin.. ini..” kata Nani.
Sambil memutar tubuhnya, sayub-sayub saya mendengar jeritan nikmat dari kamar seberang.
“Ah.. Mas.. nikmat.. Mas.. ah..” katanya ketika batang kemaluanku masuk dan sambil menaik-turunkan pinggulnya saya mencicipi batang kemaluanku mendapatkan hisapan yang sangat kuat.
“Mas.. oh.. ah.. Mas.. enak.. ah..” desah Nani.
“Ka.. muu.. juga..” selang agak lama ia mulai mempercepat genjotannya dan alhasil ia orgasme.
“Ah.. Mas.. ah.. enak..”
Aku tahu ia sudah lemas, maka saya membalikkan tubuhnya sambil batang kemaluanku tetap di dalam dan mulai menggenjot tubuhnya.
“Oh.. Mas.. yang keras.. Mas.. ah..” ia berkata sambil mengangkat kedua kakinya sehingga saya sanggup menciumi betisnya.
Tak berapa lama, “Mas.. aku.. mau kegh.. luar.. ah.. Mas.. nggak.. kuat..” teriaknya.
“Ta.. han.. sebentar ya.. aku.. juga.. hmmff,” saya mempercepat gerakan dan akhirnya..
“Mas.. ah.. aku.. keluar.. Mas.. aagh.. hmmff.. hmmff..”
“Ah.. ah.. oh..”
Kami mengeluarkan secara bersamaan dan saya mencium keningnya dan ia pun membalas mencium dadaku sambil sedikit menggenjot secara halus untuk mengeluarkan sisa sperma yang belum keluar. “Plok, plok, wah andal bener hingga Nani harus dua kali keluar,” kata Erika yang sedang memperhatikan kami, ternyata ia dan Budi sudah lama menonton pertandingan kami dan kami tidak menyadarinya.
Setelah membersihkan diri kami berkumpul di ruang tamu sambil berbincang tanpa sehelai benang yang menempel.
“Gimana Nan enak?” tanya Erika.
“Luar biasa Er, saya belum pernah ibarat ini,” kata Erika.
“Kalau sama aku?” tanya Budi.
“Kamu sih nggak ada apa-apanya sama dia?” kata Nani sambil menyandarkan kepalanya di dadaku.
“Masa?” tanya Budi.
“Iya, punya ia kan lebih besar dan lebih lama,” kata Nani.
“Kalau lama saya mungkin sanggup kan biasanya melayani kalian berdua jadinya capek kan,” kata Budi.
“Gimana jikalau nanti kita tukar, saya sama Charles dan kau (Nani) sama Budi,” kata Erika.
“Wah rugi saya sanggup Budi,” kata Nani.
“Menghina ya,” kata Budi.
“Nggak pa-pa Nan, saya kan juga pingin ngerasain,” kata Erika.
“Kamu mau nggak Mas?” tanya Nani kepadaku.
“Boleh, tapi biasanya yang kedua lebih lama,” kataku.
“Waduh, rugi dua kali nih,” kata Nani.
“Kamu kan kapan-kapan sanggup berduaan lagi, jikalau saya kan mau menikah,” kata Erika.
“Iya deh,” kata Nani.
Setelah itu Erika dan Nani bertukar tempat dan sekarang Erika berada dalam pelukanku sedangkan Nani bersama Budi. Selang agak lama berbincang-bincang Erika mulai meraba-raba dadaku dan menunjukkan ciuman kecil pada pentilku. Aku pun membalas dengan membelai lembut buah dada yang tampak menggairahkan itu.
Tak lama kemudian Budi menggendong Nani dan membawanya memasuki kamar tempat Erika dan Budi bermain pada mulanya. Sedangkan Erika semakin buas dan segera mengulum batang kejantananku yang masih tidur dengan nyenyaknya.
Aku pun menikmati perlakuan yang diberikan Erika kepada batang kejantanan yang sekarang setengah tiang itu. Tampaknya Erika sangat jago dalam hal mengulum, buktinya tidak lama kemudian adik kesayanganku itu terbangun dalam keadaan siap tempur. Aku menjadi tidak sabar dengan keadaan itu maka dengan nafsu yang besar kugendong tubuh Erika menuju ke kamar yang satunya lagi.
Di dalam kamar langsung kulempar tubuh itu ke atas kasur dan saya pun mulai menciumi tempat liang senggama Erika yang sudah terlihat sangat merangsang. “Emh.. emh.. ahh..” tampaknya Erika mulai mencicipi rangsangan yang saya berikan. “Mas.. aku.. pingin.. Mas.. ah..” sesudah berkata, ia langsung membalikkan badannya dan sekarang posisi kami saling berhadapan dengan ia di atas dan saya di bawah.
Dia mulai mengarahkan batang kemaluanku ke arah kemaluannya dan.. “Ahh..” amblaslah batang kemaluan yang tidak mengecewakan besar itu. Tanganku pun tak mau tinggal diam, meremas-remas buah dada yang sedang mengayun-ayun di atas dadaku.
“Emh.. ah..” ia pun mulai memainkan pantatnya. Tak berapa lama ia mengejang dan menurunkan pantatnya hingga batang kemaluanku amblas tak terlihat, rupanya ia sudah orgasme, tapi ia tidak ibarat habis orgasme tetap menaik-turunkan pantatnya malah semakin cepat. Aku pun merasa nikmat dan dalam waktu singkat saya pun orgasme. Kami pun tertidur kecapaian sambil kemaluanku tetap di dalam liang senggamanya dan kepalanya berada di dadaku.
Keesokan harinya kami pulang ke rumah masing-masing, dan sejak insiden itu saya tidak pernah bertemu dengan Erika lagi, begitu juga Nani, entah kemana mereka, seolah hilang ditelan bumi. Maka saya pun hanya sanggup membayangkan tidur bersama mereka berdua. Dan saya semakin sering tiba ke warung barangkali sanggup bertemu Nani, kalaupun tidak bertemu masih ada keistimewaan dari warung itu, makan sambil ngeseks.
Seperti biasa, malam hari sekitar jam 19:00, sepulang kerja saya selalu mencari tempat untuk makan (maklum bujangan), dan saya teringat oleh kata temanku yang baru siang tadi makan di WP. Karena jarak antara kantor dan WP agak jauh maka saya segera buru-buru melarikan mobilku.
Sesampainya di sana saya agak bingung, alasannya begitu banyak kendaraan beroda empat dan motor yang parkir. Tanpa pikir panjang kuparkir di tempat yang agak jauh. Mobil yang parkir di situ rata-rata adalah kendaraan beroda empat luar kota, kebanyakan plat L dan W. Ketika memasuki WP, di sana ada banyak meja yang kosong, sempat saya berpikir, “Apakah saya salah tempat?”
“Ndhut..” kulihat seorang sahabat memanggil diriku. Aku biasa dipanggil Gendhut oleh sahabat alasannya perut yang agak menonjol, mungkin alasannya terlalu banyak makan.
“Den, ngapain di sini?” tanyaku ke Deny, alasannya kulihat di mejanya hanya ada sebotol Fanta dan gelas.
“Lagi nunggu,” sahutnya.
“Nunggu apa? Makanan?” tanyaku penasaran.
“Lagi nunggu servis,” balasnya yang membuatku penasaran.
“Servis apa? Mobil?” tanyaku semakin penasaran.
“Lha kau mau apa?” Deny balik bertanya.
“Makan,” jawabku polos.
“Wah kuno kamu, di sini ada servis selain makan dan minum,” balas Deny sambil menyeringai.
“Mas, mau pesan apa?” tanya seorang cewek yang sempat membuatku terkejut.
“Eh.. di sini ada apa aja?” jawabku.
“Di sini ada cewek,” sahut Deny seraya mengerlipkan sebelah mata kepada cewek tadi.
“Ah.. Mas Deny ini, genit ah.. kan pelanggan baru jikalau nggak mau bagaimana?” jawab si cewek agak manja.
“Saya pesan nasi campur dan es jeruk yang lainnya nanti saja,” jawabku sambil memperhatikan cewek yang alhasil kutahu namanya adalah Mina.
Mina adalah pegawai di warung itu, selain elok juga memiliki tubuh yang lumayan, tinggi; sekitar 170 cm, kulit; putih mulus, dada; sekitar 36, pinggul; seksi (apalagi jikalau berjalan). Sambil makan dan berbincang dengan Deny, baru kutahu jikalau si Deny ini sering ke sini, makanya ia berani menggoda Mina.
Selesai makan Deny mengajakku ke sebuah ruangan di dalam warung itu, ruangan itu tidak terlalu lebar tapi sangat panjang dan memiliki banyak kamar dan hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar. Kulihat Deny memasuki kamar pertama, dan ternyata di situ adalah tempat receptionis dan seorang wanita yang sedang menulis-nulis sebuah buku (sepertinya buku administrasi).
“Mbak, ada yang kosong?” tanya Deny.
“Ada, ehm.. mau dua atau satu Den, atau.. masing-masing dua?” sambil melihat ke arahku.
“Masing-masing satu aja, ini temanku baru pertama kali ke sini,” kata Deny.
“Oke, mau yang mana?” tanya wanita itu sambil menunjukkan foto-foto cewek lengkap dengan nama dan umur mereka di balik foto-foto itu.
“Eh.. kau mau yang mana?” tanya Deny kepadaku.
Kemudian saya melihat separuh foto-foto itu alasannya yang separuhnya sedang dilihat Deny. Tak lama sesudah kami bertukar foto, saya memilih sebuah foto yang dibaliknya ada nama Putri dan berumur 20 tahun.
“Oke, silakan tunggu di kamar 30 dan 31!” jawab wanita itu sambil menunjukkan kunci kamar nomor 30 kepadaku.
Sambil berjalan menuju kamar 30, saya sempat mendengar suara desahan nafas yang sangat kuhafal alasannya sering menonton film biru. Ketika saya hingga di depan pintu kamar seorang cewek elok berusia sekitar 18 tahun menghampiriku dan bertanya,
“Mau sama Mbak Putri ya Mas?” tanyanya.
“Iya..” jawabku sambil mengamati wajah dan tubuh yang hanya mengenakan kaos ketat tipis tanpa BH dan celana ketat pendek (sepertinya celana untuk senam).
“Mas baru pertama ya ke sini?” tanyanya menyelidik.
“Iya.. kok tahu?” sahutku.
“Iya, tahu dong kan yang masuk sini selalu saya perhatikan dan kebanyakan hanya om-om. Oh iya nama saya Nani. Situ siapa?” tanyanya.
“Aku Charles. Masuk yuk, di dalam kan lebih enak!” sambil membuka pintu kamar dan menutup sesudah Nani masuk.
Setelah berbincang dengan ia baru kutahu jikalau ia anak pemilik warung yang tidak diperhatikan oleh orangtuanya alasannya sibuk dengan urusan warung, makanya ia berada di ruangan itu tanpa sepengetahuan orangtuanya. Tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka, ternyata Putri yang kupesan tadi.
“Maaf, lama menunggu ya,” kata putri.
“Udah dulu ya Mas, Mbak putri sudah datang, silakan bersenang-senang,” kata Nani.
“Lho, Nani nanti jikalau ibu tahu kau sanggup dimarahi lho,” kata Putri.
“Cuek aja, yang penting sanggup happy (sambil keluar dari kamar),” kata Nani.
“Mas sudah lama nunggu ya?” tanya Nani.
“Ah enggak kok, lagian kan ada Nani,” kataku.
“Saya ke kamar mandi dulu ya, Mas buka saja dulu pakaiannya supaya lebih rileks,” kata Putri.
Setelah Putri masuk kamar mandi, kubuka baju dan celana hingga telanjang bulat. Sambil menunggu kuperhatikan kamar itu, ternyata itu adalah kamar Putri, di sana banyak foto Putri sedang in action. “Wah Mas kok nafsu banget, nggak pakai pemanasan?” tanya Putri menyadarkanku dari lamunan. Ternyata Putri sudah tidak memakai apa-apa kecuali handuk yang hanya sanggup menutupi dadanya yang jikalau dilihat ia berukuran 35D itu, dan tempat liang senggamanya hanya tertutupi oleh bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat.
“Mas, kok ngelamun?” tanya ia lagi.
“Wah tubuhmu bagus sekali,” jawabku.
Tanpa basa-basi kutarik tubuh itu dan kuciumi bibir tipis yang membuat wajahnya menjadi cantik. Putri tidak membalas ciuman pada menit pertama, tapi lama kelamaan ia mulai membalas ciumanku dengan sangat buas. “Mas rebahan di kasur ya! agar sanggup isep itu,” sambil menunjuk ke arah kemaluanku yang tak terasa sudah mulai menegang.
Aku langsung saja tiduran dan ia membuka handuk yang menempel tadi dan menjatuhkannya di lantai. Ternyata saya salah menilai susu yang besar itu, ternyata berukuran 36D. Setelah menaiki kasur ia langsung menciumi bibirku dan perlahan mulai turun dan alhasil ia mengulum batang kemaluanku yang berukuran sekitar 15 cm itu.
Aku pun menikmati permainan itu, secara perlahan ia mulai menaikiku dan mengarahkan batang kemaluanku yang sudah siap perang ke arah lubang kemaluannya. “Bless..” dan, “Ah..” Putri mendesah sambil memejamkan matanya. Agak lama ia terdiam dan saya mencicipi sesuatu yang memijit batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya. Dia mulai membuka mata dan menaik-turunkan pinggulnya.
“Ah.. ah.. ah.. Mass.. ah.. ennaaknyaa.. ah..” sambil terus menaik-turunkan pinggulnya. Sampai alhasil ia menjerit “Mass.. aku.. mauu.. keluuarr.. ah..” kurasakan ada cairan yang menyemprot kemaluanku dengan derasnya. Namun saya masih belum sanggup mendapatkan perlakuan ini, saya ganti posisi sehingga saya berada di atas dan ia membuka kakinya lebar-lebar seakan menyambut kedatangan kemaluanku. “Ayo Mas, puaskan Mas, basahi memek ini Mas.” Tanpa ba bi bu, saya langsung menggenjot ia sehingga ia mengalami klimaks yang kedua kalinya.
“Aaah.. aah.. aah.. Maass..”
“Puutt.. aku.. su.. dah.. nggak.. kuaat.. ah..”
Kuakhiri kata-kata terakhir sambil memuncratkan spermaku ke dalam lubang kemaluannya. “Mas ini berpengaruh sekali ya, saya belum pernah ibarat ini,” katanya sambil lubang kemaluannya memijit batang kemaluanku yang masih tegang di dalam.
“Aku juga Put, belum pernah mencicipi yang ibarat ini (hanya alasan supaya senang).” Dan kami melakukannya sekali lagi alasannya kemaluanku masih tegang dan dipijat terus oleh lubang kemaluannya, jadinya tidak sanggup tidur walau sudah keluar. Setelah selesai saya membersihkan diriku di kamar mandi.
Selesai mandi saya keluar kamar dan melihat Putri tertidur, saya langsung saja keluar kamar, eh.. ternyata Deny sudah lama menungguku dan ia sudah membayar ongkos service tadi. Aku pun pamit dan berterima kasih pada Deny alasannya sudah malam dan besok masih ada pekerjaan yang menunggu di kantor.
Pada hari Sabtu sore saya berjalan-jalan di sebuah pertokoan di bersahabat alun-alun. Kulihat jam sudah menerangkan pukul 18.00 dan perutku sudah mulai lapar. Ketika mencari sebuah rumah makan saya melihat ada seorang gadis yang duduk sendiri membelakangiku dan tampaknya gadis itu adalah Nani anak dari yang punya WP, dan kusapa dia.
“Hi, Nan..” sapaku.
“Oh, Mas Charles..” kata Nani.
“Sendiri?” tanyaku.
“Nggak, sama teman,” jawabnya.
“Sama pacar?” tanyaku lagi.
“Pacar? belum punya tuh,” katanya.
Tak lama kemudian ada sepasang muda-mudi yang bergandengan tangan ke arah kami.
“Mas kenalin ini sahabat saya Erika dan Budi,” kata Nani.
“Nama saya Charles,” kataku memperkenalkan diri.
“Saya Erika,” kata Erika.
“Budi,” kata Budi.
“Kok lama banget sih, kau lagi pesan atau buat masakan?” tanya Nani.
“Kan antri non,” kata Erika.
“Char, kau nggak pesan?” tanya Budi.
“Sudah tadi (ketika sedang berduaan),” kataku.
“Nan, kau nanti ikut kami nggak? Berempat kan asyik,” kata Erika.
“Tanya dulu dong, masa langsung angkut. Mas Charles ada jadwal nggak?” tanya Nani.
“Nggak ada,” kataku.
“Mau ikut kami?” tanya Nani.
“Ke mana?” tanyaku.
“Ada deh,” kata Nani.
“Boleh, lagian besok libur kantor, nganggur,” kataku.
Sambil makan saya memperhatikan Erika yang tak kalah elok dibanding Nani, tingginya sekitar 160 cm, dadanya sekitar 34, kulitnya coklat, pinggulnya agak kecil (lumayan). Setelah makan kami menuju ke areal parkir. Karena masing-masing bawa kendaraan beroda empat (aku dan Budi) maka saya satu kendaraan beroda empat sama Nani alasannya ia yang tahu mau ke mana. Saat di dalam kendaraan beroda empat ia banyak kisah tentang temannya yang alhasil kutahu jikalau mereka itu sedang berpacaran dan sudah bertunangan. Ketika akan melewati sebuah hotel Nani menyuruhku untuk masuk ke dalam hotel itu.
“Mau nginap?” tanyaku.
“Ya ke sini ini tujuan kita,” kata Nani.
Sambil mencari tempat parkir saya berpikir jikalau saya sedang mendapatkan kejutan akan berkencan dengan seorang gadis yang elok dan gratis alasannya ia yang mengajak. Setelah menemukan tempat yang aman dari sahabat sekantor, kami masuk ke dalam dan sahabat Nani sudah memesan sebuah kamar VIP.
Kami pun berjalan mengikuti belboy yang menunjukkan di mana kamar kami. Sesampainya di kamar, Budi memberi tip kepada belboy dan menutup pintu kamar. Kamar yang unik menurutku (karena belum pernah masuk), ada dua kasur besar di dalam dua ruangan tanpa pintu yang berseberangan, sebuah ruang tamu lengkap dengan TV, kulkas, AC dan sebuah meja kecil dengan telepon.
Kami berempat duduk berpasangan di ruang tamu, saya dengan Nani dan Budi dengan Erika. Tanpa menunggu kode Budi langsung menciumi Erika, dan kurasakan tangan Nani mulai membelai pahaku. Aku pun langsung memeluk Nani dan menciumi bibir sensualnya. Nani pun membalas ciuman itu dengan buas dan liar bagai singa sedang memakan mangsanya. Kemudian Erika bertanya,
“Nan, kau kamar yang mana?”
“Terserah deh, pokoknya ada kasurnya,” kata Nani.
“Aku masuk dulu ya,” kata Erika.
“Aku juga ah.. nggak yummy di sini,” kata Nani.
Sambil menarikku ke dalam kamar dan membaringkan saya dengan sedikit mendorong.
“Mas, saya akan servis kau lebih dari yang pernah kau alami,” kata Nani.
“Boleh aja, asal sanggup tahan lama,” kataku.
Nani membuka pakaiannya sambil melenggak-lenggokkan pinggul layaknya seorang penari striptease. Setelah pakaiannya habis ia berjongkok sambil menciumi batang kemaluanku yang sudah tegak di dalam celana. Sambil menciumi ia membuka celana dan saya membuka baju hingga telanjang bulat. Dia langsung menciumi dan menjilati kemaluanku yang sudah tegak berdiri dengan gagahnya.
“Mas besar sekali?” tanya Nani.
“Tapi enakkan..” kataku.
“Iya..” katanya.
Kemudian kutarik tubuhnya sehingga saya sanggup menciumi lubang kemaluannya dan ia tetap sanggup mengulum kemaluanku.
“Mas.. lidahnya.. nakal.. auw.. ah..” katanya sambil mendesah.
“Kamu juga berakal mainin lidah,” kataku.
“Mas.. masukin.. aja.. ya.. aku.. pingin.. ini..” kata Nani.
Sambil memutar tubuhnya, sayub-sayub saya mendengar jeritan nikmat dari kamar seberang.
“Ah.. Mas.. nikmat.. Mas.. ah..” katanya ketika batang kemaluanku masuk dan sambil menaik-turunkan pinggulnya saya mencicipi batang kemaluanku mendapatkan hisapan yang sangat kuat.
“Mas.. oh.. ah.. Mas.. enak.. ah..” desah Nani.
“Ka.. muu.. juga..” selang agak lama ia mulai mempercepat genjotannya dan alhasil ia orgasme.
“Ah.. Mas.. ah.. enak..”
Aku tahu ia sudah lemas, maka saya membalikkan tubuhnya sambil batang kemaluanku tetap di dalam dan mulai menggenjot tubuhnya.
“Oh.. Mas.. yang keras.. Mas.. ah..” ia berkata sambil mengangkat kedua kakinya sehingga saya sanggup menciumi betisnya.
Tak berapa lama, “Mas.. aku.. mau kegh.. luar.. ah.. Mas.. nggak.. kuat..” teriaknya.
“Ta.. han.. sebentar ya.. aku.. juga.. hmmff,” saya mempercepat gerakan dan akhirnya..
“Mas.. ah.. aku.. keluar.. Mas.. aagh.. hmmff.. hmmff..”
“Ah.. ah.. oh..”
Kami mengeluarkan secara bersamaan dan saya mencium keningnya dan ia pun membalas mencium dadaku sambil sedikit menggenjot secara halus untuk mengeluarkan sisa sperma yang belum keluar. “Plok, plok, wah andal bener hingga Nani harus dua kali keluar,” kata Erika yang sedang memperhatikan kami, ternyata ia dan Budi sudah lama menonton pertandingan kami dan kami tidak menyadarinya.
Setelah membersihkan diri kami berkumpul di ruang tamu sambil berbincang tanpa sehelai benang yang menempel.
“Gimana Nan enak?” tanya Erika.
“Luar biasa Er, saya belum pernah ibarat ini,” kata Erika.
“Kalau sama aku?” tanya Budi.
“Kamu sih nggak ada apa-apanya sama dia?” kata Nani sambil menyandarkan kepalanya di dadaku.
“Masa?” tanya Budi.
“Iya, punya ia kan lebih besar dan lebih lama,” kata Nani.
“Kalau lama saya mungkin sanggup kan biasanya melayani kalian berdua jadinya capek kan,” kata Budi.
“Gimana jikalau nanti kita tukar, saya sama Charles dan kau (Nani) sama Budi,” kata Erika.
“Wah rugi saya sanggup Budi,” kata Nani.
“Menghina ya,” kata Budi.
“Nggak pa-pa Nan, saya kan juga pingin ngerasain,” kata Erika.
“Kamu mau nggak Mas?” tanya Nani kepadaku.
“Boleh, tapi biasanya yang kedua lebih lama,” kataku.
“Waduh, rugi dua kali nih,” kata Nani.
“Kamu kan kapan-kapan sanggup berduaan lagi, jikalau saya kan mau menikah,” kata Erika.
“Iya deh,” kata Nani.
Setelah itu Erika dan Nani bertukar tempat dan sekarang Erika berada dalam pelukanku sedangkan Nani bersama Budi. Selang agak lama berbincang-bincang Erika mulai meraba-raba dadaku dan menunjukkan ciuman kecil pada pentilku. Aku pun membalas dengan membelai lembut buah dada yang tampak menggairahkan itu.
Tak lama kemudian Budi menggendong Nani dan membawanya memasuki kamar tempat Erika dan Budi bermain pada mulanya. Sedangkan Erika semakin buas dan segera mengulum batang kejantananku yang masih tidur dengan nyenyaknya.
Aku pun menikmati perlakuan yang diberikan Erika kepada batang kejantanan yang sekarang setengah tiang itu. Tampaknya Erika sangat jago dalam hal mengulum, buktinya tidak lama kemudian adik kesayanganku itu terbangun dalam keadaan siap tempur. Aku menjadi tidak sabar dengan keadaan itu maka dengan nafsu yang besar kugendong tubuh Erika menuju ke kamar yang satunya lagi.
Di dalam kamar langsung kulempar tubuh itu ke atas kasur dan saya pun mulai menciumi tempat liang senggama Erika yang sudah terlihat sangat merangsang. “Emh.. emh.. ahh..” tampaknya Erika mulai mencicipi rangsangan yang saya berikan. “Mas.. aku.. pingin.. Mas.. ah..” sesudah berkata, ia langsung membalikkan badannya dan sekarang posisi kami saling berhadapan dengan ia di atas dan saya di bawah.
Dia mulai mengarahkan batang kemaluanku ke arah kemaluannya dan.. “Ahh..” amblaslah batang kemaluan yang tidak mengecewakan besar itu. Tanganku pun tak mau tinggal diam, meremas-remas buah dada yang sedang mengayun-ayun di atas dadaku.
“Emh.. ah..” ia pun mulai memainkan pantatnya. Tak berapa lama ia mengejang dan menurunkan pantatnya hingga batang kemaluanku amblas tak terlihat, rupanya ia sudah orgasme, tapi ia tidak ibarat habis orgasme tetap menaik-turunkan pantatnya malah semakin cepat. Aku pun merasa nikmat dan dalam waktu singkat saya pun orgasme. Kami pun tertidur kecapaian sambil kemaluanku tetap di dalam liang senggamanya dan kepalanya berada di dadaku.
Keesokan harinya kami pulang ke rumah masing-masing, dan sejak insiden itu saya tidak pernah bertemu dengan Erika lagi, begitu juga Nani, entah kemana mereka, seolah hilang ditelan bumi. Maka saya pun hanya sanggup membayangkan tidur bersama mereka berdua. Dan saya semakin sering tiba ke warung barangkali sanggup bertemu Nani, kalaupun tidak bertemu masih ada keistimewaan dari warung itu, makan sambil ngeseks.

0 Komentar